Beranda blog Halaman 32

Diminati Warga Kudus, 2 Kilogram Serabi Asmoro Ludes Setiap Hari

0
Serabi Asmoro, di Jalan K.H Wahid Hasyim, Demaan, Kota, Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah kedai berwarna kuning bertukiskan Serabi Asmoro, terlihat di sebrang Jalan K.H Wahid Hasyim, Demaan, Kota, Kudus. Seorang perempuan berkerudung coklat tampak sedang sibuk membersihkan kedai tersebut. Ia tak laian adalah Juningsih (42), pemilik kedai Serabi Asmoro itu.

Setelah membersihkan kedai, Juningsih bersedia berbgai cerita tentang usahanya. Ia mengaku, sudah lebih dari tujuh tahun berjualan serabi. Sebelumnya, ia bekerja sebagai penjahit. Namun, keinginannya untuk memiliki usaha sendiri mendorongnya untuk memulai bisnis kuliner tradisional ini. 

“Dari dulu pengen punya usaha sendiri, karena serabi ini sudah langka jadi saya mulai tertarik buka usaha ini. Alhamdulillah tercapai sudah 7 tahun lebih kalu sampai sekarang,” ungkap warga Papringan, Kaliwungu, Kudus itu.

Baca juga: Hadir di Tengah Kota Kudus, Grit Coffee & Chill Tawarkan Cita Rasa Muria

Dengan modal tepung beras, santan, dan gula, Juningsih memulai usahanya dari nol. Setiap harinya, ia mampu menghabiskan 2 kilogram adonan untuk menghasilkan serabi. Kedai Serabi Asmoro buka setiap hari sejak pagi hingga malam.

“Kami membuka kedai dari pukul 07.00 WIB hingga 21.00 WIB. Sehari bisa menghabiskan sekitar 2 kilogram adonan serabi,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Harga seporsi serabi buatan Juningsih dibanderol Rp25.000. Rata-rata, ia mampu menjual hingga 20 porsi setiap harinya. Dari penjualan tersebut, dia bisa mengantongi omzet sekitar Rp500 ribu sehari.

Baca juga: Obong Satay, Sate Ayam Khas Kudus yang Tak Pernah Sepi Pembeli

“Saya memilih bisnis serabi karena ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Jajanan tradisional seperti serabi ini memiliki penggemarnya sendiri,” tambah Juningsih.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Laris Manis, Gultik Mantan Pertama di Kudus Setiap Hari Ludes

0
Gultik Mantan, di tepi jalan HM Subchan ZE No 22, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Malam itu, di tepi jalan HM Subchan ZE No 22, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus tepatnya depan Cafe Soho, terdapat sebuah lapak yang sedang dipadati oleh beberapa pelanggan. Di sana tampak sejumlah orang yang duduk di bangku plastik, sesekali mengobrol sambil menunggu pesanan datang.

Sementara itu, tampak tiga orang yang sedang sibuk menyiapkan pesanan. Satu di antaranya adalah Elok (48), pemilik lapak Gultik Mantan.

Di tengah kesibukannya, Elok sudi bercerita tentang usaha tersebut. Ia menjelaskan, bahwa Gultik (Gulai Tikungan) Mantan, adalah salah satu kuliner khas Jakarta yang kerap diserbu banyak pembeli di mana pun berada. Dan Gultik Mantan milik Elok juga mendapat antusias yang sama. Tidak butuh waktu lama untuk mendapat pelanggan.

Baca juga: Mencicipi Pindang Serani, Makanan Khas Jepara yang Cocok Jadi Menu Berbuka Puasa

“Mulai jualan sejak 1 September 2024. Sebelum jualan gultik ini dulu pernah jualan bakso kakap di dekat sini. Saya sebenarnya punya bisnis konveksi baju, jadi jualan gultik ini sampingan,” terangnya saat ditenui beberapa waktu lalu.

Elok melanjutkan, bahwa gultik identik dengan porsi kecilnya yang pas untuk dinikmati malam hari. Setiap porsi terdiri dari nasi putih, irisan daging sapi atau ayam,  dan kuah gulai yang gurih. Harganya cukup terjangkau, yaitu Rp12.000 per porsi, baik gultik ayam ataupun gultik sapi.

“Kalau pertama dulu yang suka banyak anak-anak muda ya, tapi kalau sekarang campur, sampai orang tua juga pada suka,” katanya.

Dalam sehari, Gulik Mantan yang buka mulai pukul 17.30 WIB hingga 23.00 WIB itu, bisa menjual hingga sekitar 200 porsi. Dari penjualan tersebut, ia bisa meraup omzet hingga Rp2 juta.

Baca juga: Dari Hobi Jajan, Nadia Kini Sukses Dagang Sempolan di Gor Kudus

“Yang khas itu kuahnya, kental dan kaya bumbu. Jadi kita masak dengan cara tradisional, rempah-rempahnya harus pas, biar rasanya tetap konsisten,” tambahnya.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berkat Hobi Masak, Yuli Sukses Buka Nasi Liwet Solo di Kudus

0
Nasi Liwet Bu Yuli di Taman Makam Pahlawan, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sejumlah pembeli tampak duduk berjejer di bangku panjang sebuah warung di depan Taman Makam Pahlawan, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Meski tak penuh sesak, namun pembeli terlihat tak henti datang dan pergi silih berganti ke warung Nasi Liwet Solo Bu Yulie itu.

Di sana, seorang perempuan terlihat sedang sibuk melayani satu per satu pelanggan yang datang. Dengan cekatan ia menyendokkan nasi putih atau nasi uduk, memasukkan berbagai lauk pauk seperti sayur labu siyam, suwiran ayam, telur bacem, tahu, dan sambal goreng rambak yang menjadi ciri khasnya.

Perempuan itu tak lain adalah Yuli (51), pemilik warung tersebut. Ketika ditemui disela-sela kesibukannya, Yuli dengan senang hati berbagai cerita tentang usaha yang sudah berjalan sejak 2023 itu.

Baca juga: Mencicipi Pindang Serani, Makanan Khas Jepara yang Cocok Jadi Menu Berbuka Puasa

Ia mengaku memang sejak lama memiliki hobi memasak. Kemudian ia mencoba eksplor berbagai masakan untuk dijual. Setelah mencoba berbagai menu, ia akhirnya memutuskan untuk menekuni masakan Nasi Liwet Khas Solo.

“Dulu awalnya suka masak, terus coba-coba lah pengen mengeksplor. Di sini yang kayanya belum begitu banyak yang jual, terus akhirnya memutuskan jualan nasi liwet ini,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, bahwa kunci kelezatan dari nasi liwet ini terletak pada areh dan santan, yang dapat membedakan adalah rasanya yang khas dari nasi liwet lainnya. Selain itu, juga dibutuhkan ketelitian dalam pemilihan bahan yang segar dan teknik memasak yang konsisten.

“Dari yang sudah ada, mungkin yang membedakan dari segi rasanya yang agak beda dari yang lain. Kalau disini itu ada areh putihnya, terus dimodifikasi dari permintaan pembeli, ada kuah opornya juga,” bebernya.

Baca juga: Kopi Khas Turki Kini Hadir di Kudus, Sensasi Kopi Ala Timur Tengah yang Jadi Idaman Baru

Harga nasi liwet yang ia jual cukup terjangkau, mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi. Untuk harga Rp10.000 isiannya tidak pakai telur, hanya ayam suwir, tahu, dan labu siyam. Sedangkan yang Rp12.000 isiannya telur, ayam suwir, tahu dan labu siyam. Dan untuk Rp15.000 isiannya komplit ditambah sambal goreng rambak. 

“Kalau bukanya mulai pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB. Alhamdulillah ramai dan dapat berkembang dengan baik hingga sekarang,” tambah warga Desa Kaliputu itu.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kisah Wiji, Pria Asal Cikarang yang Sukses Berjualan Kue Pancong di Kudus

0
Wiji Rokhmat Tris Yulianto, pemilik jajanan kue pocong di Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sore itu, outlet yang berada di Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat cukup ramai pembeli. Di balik outlet bertuliskan Kue Pancong Lumer itu tampak seorang pria mengenakan baju kotak-kotak sedang mengoleskan topping sesuai pesanan pembeli. Setelah selesai, ia lantas memberikannya pada pemesan yang telah menunggu.

Ia tak lain adalah Wiji Rokhmat Tris Yulianto (26), seorang perantau asal Kebumen yang kini berjualan kue pancong di Kudus. Siapa sangka, usaha yang kini diminati warga Kudus itu merupakan pengalaman pertamanya dalam berjualan.

Menurut Wiji, perjalanan usahanya bermula ketika ia pindah dari Cikarang, Jawa Barat, ke Kudus karena sang istri melahirkan. Di tengah adaptasi lingkungan baru, ia merasakan kerinduan akan kue pancong lumer yang banyak dijumpai di Cikarang.

Baca juga: Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

“Di Kudus tidak ada yang jual kue pancong seperti di Cikarang. Akhirnya, saya berpikir untuk mencoba membuka usaha di sini,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bermodal resep yang ia pelajari dari berbagai video di YouTube, Wiji memodifikasi hingga menemukan formula yang pas. Ia kemudian memulai usaha kue pancongnya di depan Kelurahan Mlati Kidul pada 2023.

Awalnya, perjalanan Wiji tidak mudah. Minimnya lahan parkir, lokasi yang belum dikenal, dan kendala musim hujan menjadi tantangan besar. Namun, berkat kreativitasnya dalam menawarkan topping yang melimpah dan promosi melalui media sosial, usahanya perlahan dikenal masyarakat.

“Biasanya itu ada pembeli yang datang kesini, terus bilang mas ini boleh saya video? Nah alhasil videonya di upload di tiktok alhamdulillah fyp semua, orang-orang mungkin juga taunya dari tiktok,” bebernya.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

Setiap hari, gerai ini mampu menjual 40 hingga 60 porsi kue pancong, bahkan mencapai 100 porsi di akhir pekan. Harga kue pancong buatannya dijual berkisar antara Rp6.000 hingga Rp15.000. Dalam sehari Wiji mengaku mendapatkan omset sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.

“Saya ingin usaha ini terus berkembang. Harapan saya ke depan, bisa membuka banyak cabang supaya orang dari luar desa tidak perlu jauh-jauh datang ke sini,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Andalkan Resep Warisan, Kue Leker Langgeng Sukses Raup Jutaan Rupiah Sehari

0
Jajanan Kue Leker Langgeng di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah outlet berteluskan Kue Leker Langgeng di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di depan Museum Kretek tampak ramai pembeli. Di sana, terlihat sepasang pria dan wanita tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Mereka adalah Zaenul Arifin dan Yanti, pemilik outlet tersebut.

Usai melayani pembeli, Yanti (38) bersedia berbagi cerita kepada Betanews.id tentang usahanya. Ia menjelaskan, bahwa usaha yang dirintis selama 20 tahun itu adalah usaha turun temurun dari sang ayah, yang kemudian diteruskan oleh dirinya bersama sang suami.

Yanti biasanya buka mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB. Namun khusus hari minggu ia buka lebih pagi sejak pukul 06.30 WIB.

Baca juga: Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

“Awalnya dulu jualan keliling terus, pernah jualan di Ronggolawe pas malam, terus akhirnya pindah ke sini. Dulu awalnya bapak pernah jualan ini juga, jadi turun temurun gitu, tapi dulu bapak jualannya di Gor,” jelasnya.

Ia mengatakan, jajanan jadul tersebut menjadi buruan banyak orang mulai dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Menurutnya, selain karena harganya yang terjangkau, tekstur renyah dengan rasa manisnya yang menjadikan jajan tersebut disukai.

Yanti menjual kue leker dengan harga Rp1.000 hingga Rp3.000 per biji. Untuk varian pisang coklat ia jual seharga Rp1.000, pisang coklat keju Rp2.000, pisang coklat kacang Rp2.000, sedangkan varian pisang coklat kacang keju Rp3.000.

Dalam sehari, mereka mampu menjual sekitar 800 kue leker. Dari penjualan tersebut, pasangan suami istri itu bisa meraup omzet sekitar Rp1 juta per hari.

“Kalau di sini, menu best sellernya itu pisang coklat, kebanyakan dari pembeli banyak yang suka varian itu. Dari anak-anak, remaja, sampai orang tua pada suka,” bebernya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

Menurut Yanti, kunci kesuksesan kue lekernya adalah mempertahankan resep tradisional yang diwariskan dari sang Ayah.

“Bahan dasarnya sederhana, ada tepung terigu, tepung tapioka, tepung beras. Untuk isian, ada isian seperti pisang, coklat atau keju. Untuk cara mengolahnya harus tepat supaya leker tetap renyah dan enak. Biasanya kalau sehari bisa menghabiskan tiga hingga empat kilogram adonan,” tambah warga Desa Wergu Wetan, Kota, Kudus itu.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Aneka Bakaran Mbak Dar, Murah Meriah dan Banyak Varian

0
Jagung Bakar dan Aneka Ragam tusukan Mbak Dar di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah lapak  lesehan bertuliskan Jagung Bakar dan Aneka Ragam tusukan Mbak Dar tampak di sebrang jalan  Pecangaan Demaran Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus. Terlihat seorang pria ber kaus putih dengan corak hitam sedang sibuk membakar jagung.

Dengan penuh semangat ia mengupas beberapa jagung dan menyalakan api arangnya, jagung di bakar hingga matang, kemudian di olesi saus dan dibakar kembali hingga jagung bakar Mbak Dar siap dinikmati.

Ia adalah Muhammad Umar Buni (38). Di tengah kesibukannya membakar jagung, pria yang akrab di sapa Umar itu bersedia berbagi cerita kepada Betanews.id tentang usahanya.

Baca juga: Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

Bermula dari melihat makanan di Gor Kudus yang rata-rata berjualan jagung bakar, ia kemudian terinspirasi jualan bakaran yang lokasinga dekat dengan rumah. Sebelum berjualan bakaran, Umar juga mengaku pernah berjualan es.

Di kedai Mbak Dar tak hanya menjual jagung bakar, di sana banyak juga aneka sosis bakaran dan gorengan. Menurut Umar, yang paling di cari pelanggan adalah jagung bakar manis.

Dengan varian rasa di antaranaya pedas manis, pedas nampol, blueband manis, blueband  coklat, dan bluband asin yang membuat jagung manis umar berbeda dengan lainnya.

“di sini kita menggunakan jenis jagung manis dengan bumbu bakar racikan rahasia yang bervariasi. Tapi yang paling dicari orang itu yang rasa pedas manis,” kata warga Mijen RT 08 RW 01, Kaliwungu, Kudus itu saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

Ia juga merinci harga dagangannya. Satu porsi jagung bakar dengan harga Rp 5.000. Sedangkan per tusuk jagung bakar dijual Rp2.500, sosis 3.000 , tahu Rp2.000, bakso bakar Rp3.000. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 5 kilogram jagung bakar.

“Jualan setiap hari, mulai sore pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Tantangan paling besar nungguin pembeli datang, ya harus sabar. Karena peminat di sini agak kurang, harapannya semoga makin maju, banyak pelanggan,” tambahnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Coba-Coba Jadi Cuan, Es Teler Sultan Dek Diva Terjual 200 Cup Sehari

0
Outlet Es Teler Sultan Kuah Ceramy Dek Diva di Jalan Menara Kudus, Kauman, Kota, Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah stan berwarna merah muda bertuliskan Es Teler Sultan Kuah Ceramy Dek Diva tampak di Jalan Menara Kudus. Seorang wanita berbaju coklat terlihat sibuk memotong buah-buahan segar. Dia tak lain adalah Dian (28), pemilik kedai es teler tersebut. 

Di tengah kesibukannya, perempuan asal Undaan Lor, Gang 3, Kecamatan Undaan, Kudus itu menyampatkan diri berbagi cerita kepada Betanews.id. Berawal iseng-iseng lihat di aplikasi TikTok, ia kemudian tertarik jualan es teler. Ternyata, selain usaha es teler, ia juga punya dua usaha lain, yaitu Angkringan dan Seblak Prasmanan yang semuanya berlokasi di Jalan Menara Kudus. 

“Pertama kali bisnis jualan sembako. Setelah omszet menurun buka bisnis baru angkringan dan seblak sudah berjalan 1 tahunan. Nah kebetulan es teler sultan sedang viral ya, saya coba-coba saja, alhamdulillah banyak yang suka,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

Es teler Sultan Dek Diva ini memiliki banyak isian, di antaranya seperti cincau, agar-agar, melon, alpukat,  pepaya, nangka, kuweni, keju, biji selasih, dan mutiara. Dengan kuah creamy yang kental di tambah taburan keju melimpah di atasnya, membuat Es Teler Sultan Diva diminati banyak pembeli. 

“Di sini saya menambahkan banyak varian biar tambah menarik, kuahnya juga kental buat sendiri terbuat dari gula asli tanpa campuran pemanis. Isian dan topingnya juga gak pelit,” ujarnya.

Biasanya ia membuka kedai setiap hari mulai siang hingga malam hari. Harga Es Teler Sultan Dek Diva dijual dengan harga Rp10 ribu untuk ukuran sedang, sedangkan untuk ukuran besar Rp13 ribu. Dalam sehari Dian bisa menghabiskan sekitar 200 cup. 

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

“Kedai buka setiap hari, mulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Biasanya juga ada varian durian dengan harga Rp18 ribu per cup. Semoga bisnis-bisnis saya tambah maju, sukses, dikenal banyak orang dan viral selamanya,” harapnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Mengenal Sosok Mbah Daeng, Prajurit Asal Bugis yang Berjuang Melawan Portugis di Jepara

0
Komplek Makam Mbah Daeng yang berada di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA– Berjarak sekitar 2,7 kilometer dari Alun-Alun Kota Jepara, terdapat komplek Makam Mbah Daeng yang berada di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Suasana teduh begitu terasa saat memasuki gerbang kompleks pemakaman tersebut. Di dalam area makam, terdapat bangunan berbentuk rumah joglo. Di belakangnya terdapat pohon pule berukuran besar yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Juru Kunci Makam Mbah Daeng, Abdul Qadir Al-Fasiri bercerita, komplek makam tersebut pertama kali diketahui pada tahun 1965. Namun, karena saat itu terjadi Peristiwa G30/SPKI, komplek makam tersebut sempat tidak terawat.

Hingga akhirnya, Qadir bersama sejumlah warga membersihkan dan menata ulang komplek makam itu pada tahun 2004.

Qadir mengatakan, komplek makam itu dinamakan Makam Mbah Daeng karena banyak Daeng, yaitu sebutan bagi tokoh asal Bugis, Makassar yang dimakamkan di komplek pemakaman tersebut.

Salah satunya yaitu Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya, seorang ulama keturunan Rasulullah SAW yang datang dari Bugis dan berdakwah di Jepara pada masa kerajaan Islam.

Beliau di makamkan di area utama yang berada di dalam rumah joglo. Di sisi selatan dan timur makamnya, juga terdapat makam lain yang juga mendapat sebutan Daeng.

Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga

“Daeng itu sebutan, bagi tokoh dari Bugis Makassar yang kemudian berdakwah sampai ke Jepara, sehingga makam ini disebut Makam Mbah Daeng,” katanya saat ditemui di kompleks Makam Mbah Daeng, Sabtu (14/3/2026).

Kemudian terkait sosok Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya yang kemudian dikenal dengan nama Mbah Daeng, Qodir menyampaikan, beliau bukan hanya pendakwah, tetapi juga pejuang. Ia turut memimpin pasukan perang melawan Portugis yang kala itu berupaya menguasai wilayah Jepara.

Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan di pesisir utara Jawa.

“Ia termasuk prajurit perang setelah masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat saat melawan bangsa Portugis di wilayah utara Jepara (Donorojo),” bebernya.

Lebih lanjut Qadir menjelaskan, terdapat sekitar 70-80 wali bergelar Daeng yang makamnya berada di komplek pemakaman tersebut. Sehingga oleh masyarakat komplek pemakaman tersebut dipandang sebagai lokasi yang memiliki kemuliaan.

Ukuran makam mbah daeng pun tidak seperti makam pada umumnya. Tampak beberapa makam memiliki panjang sekitar empat meter.

Qodir menyebut ukuran tersebut masih belum diketahui secara pasti apakah karena ukuran badannya yang memang tinggi atau karena makamnya sengaja dipanjang agar tidak dilangkahi oleh para peziarah.

“Makamnya memang panjang-panjang, bisa jadi ini sengaja dipanjangkan, bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi. Namun ada cerita bahwa salah satu peziarah pernah ditemui makhluk setinggi pohon,” tuturnya.

Makam Mbah Daeng saat ini menjadi salah satu tujuan utama ziarah, termasuk dalam agenda kunjungan Bupati Jepara bersama jajaran pemerintah daerah saat menelusuri jejak para tokoh dan pejuang di Bumi Kartini. Khususnya saat rangkaian hari jadi Kota Jepara.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Lomban Jepara Tahun Ini Digelar Berbeda, Pemkab Target PAD Sektor Wisata Capai Rp2 Miliar Selama Libur Lebaran

0
Kemeriahan tradisi lomban Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir, Kabupaten Jepara juga memiliki banyak destinasi wisata yang menjadi favorit pengunjung terutama saat momen libur panjang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Muh Ali Hidayat mentarget selama momen libur panjang lebaran Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata bisa mencapai hampir Rp2 Miliar.

“Tahun kemarin itu dia angka Rp 1,4 miliar, harapan kami di tahun ini paling tidak mendekati Rp2 miliar,” sebut Ali saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (18/3/2026).

Muh Ali melanjutkan di momen lebaran Idulfitri, Kabupaten Jepara memiliki tradisi bernama Pesta Lomban. Ia berharap, pelaksanaan tradisi itu mampu menarik kunjungan wisatawan ke Kabupaten Jepara. Sehingga target PAD yang ditetapkan bisa tercapai.

“Ketua PHRI juga sudah kita berikan surat himbauan, agar semua tamu hotel di Jepara, baik mancanegara maupun domestik kami harapkan untuk datang dan menyaksikan rangkaian acara Pesta Lomban,” ujarnya.

Baca juga: Wiwit Bakal Perluas Penerima Kartu Sarjana, Mahasiswa Tak Bisa Bayar UKT Tak Perlu Khawatir

Adapun rangkaian acara pelaksanaan tradisi Pesta Lomban akan dimulai pada Jumat, (27/3/2026) berupa arak-arakan kerbau yang akan disemebelih dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Ujungbatu sampai ke RPH (Rumah Potong Hewan) di Jobokuto. Acara itu dimulai pukul 06.00 – 07.00 WIB.

“Rangkaian ini menjadi hal baru supaya ada pembeda untuk menarik wisatawan dan membuktikan bahwa ada kerbau yang disembelih. Tidak dikira hanya membeli kepala kerbau untuk dilarung,” jelas Muh Ali.

Kerbau yang akan diarak yaitu jenis Kerbau Bule milik salah satu kepala desa di Kecamatan Kedung. Kegiatan kemudian dilanjut dengan ziarah ke Makam Cik Lanang di Kelurahan Bulu dan Makam Mbah Ronggo di Kelurahan Ujungbatu pada Jumat sore.

“Malam, itu ada wayangan semalam suntuk dengan lakon Wahyu Sandang Pangan di TPI Ujungbatu,” sebut Muh Ali.

Kemudian acara puncak tradisi pesta lomban yaitu pada Sabtu, (28/3/2026) berupa kirab pelarungan kepala kerbau dari TPI Ujungbatu ke tengah laut mulai pukul 06.00 WIB. Pelaksanaan tahun ini, menurut Muh Ali juga mengusung konsep berbeda yaitu lesehan. Dengan tujuan agar bisa berbaur dengan masyarakat.

“Apapun lebarannya, kemarin sudah dipastikan pelaksanaannya hari Sabtu, karena waktunya lebih longgar,” kata Muh Ali.

Setelah larungan kepala kerbau selesai, kegiatan akan dilanjut dengan Festival Kupat Lepet yang menghadirkan 1.447 buah lepet dan kupat di Pantai Kartini Jepara.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Trip Kapal Ditambah, Ribuan Wisatawan Bakal Padati Karimunjawa Jepara Selama Libur Lebaran

0
Sejumlah penumpang akan menaiki kapal untuk menuju Karimunjawa. Foto: Umi Nurfaizahh.

BETANEWS.ID, JEPARA– Ribuan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara bakal memadati Pulau Karimunjawa Jepara selama momen libur lebaran Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Di momen libur lebaran tahun ini, jadwal penyeberangan kapal ke Pulau Karimunjawa Jepara juga ditambah.

Petugas Kesyahbandaran pada Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Jepara, Dedi Agus Triyanto mengatakan, puncak momen arus mudik di Pelabuhan Jepara justru terjadi setelah Hari Raya Idulfitri.

“Sebelum Idulfitri, jumlah penumpang ini masih landai. Puncaknya memang nanti setelah lebaran, ada penambahan jadwal trip kapal,” kata Dedy saat ditemui di Pelabuhan Penyebrangan Jepara, Selasa (17/3/2026).

Penambahan jadwal trip penyeberangan yaitu pada Kapal Express Bahari. Untuk memastikan keamanan penumpang selama libur lebaran nanti, Dedy mengatakan sudah dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Meliputi TNI AL Jepara, Sat Polairud Jepara, Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara, TIM SAR, serta Tim Kesehatan baik dari PMI Maupun Dinas Kesehatan.

“Ambulance juga kita standby kan selama di momen arus mudik ini,” ujarnya.

Baca juga : Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas Jalan Tol, Jateng Siapkan One Way Lokal

Sementara itu, Kepala Cabang PT Pelayaran Sakti Inti Makmur Jepara yang mengelola Kapal Express Bahari, Jeffri Putra Rukmana mengatakan jadwal penyebrangan ke Pulau Karimunjawa Jepara di momen libur lebaran Idulfitri sudah penuh mulai tanggal 18-20 dan 22-25 Maret 2026.

Pada tanggal 22-24 Maret, pihaknya juga menambah trip kapal penyeberangan, baik dari Pelabuhan Penyebrangan Jepara maupun dari Karimunjawa.

“Saat ini sudah ada jadwal kapal yang penuh. Rata-rata dari wisatawan, campur antara lokal dan domestik,” ungkap Jefri.

Selama momen libur lebaran, pihaknya juga menambah kapal penyebrangan. Jika di hari biasa, hanya satu kapal yang diberangkatkan, di momen libur lebaran nanti, tiga kapal Express Bahari akan diberangkatkan semuanya.

Yaitu Kapal Express Bahari 1C dengan kapasitas 349 penumpang, Express Bahari 8F dengan kapasitas 390 penumpang, dan Express Bahari 3C dengan kapasitas 220 penumpang.

Berdasarkan jadwal trip penyeberangan yang sudah dirilis oleh Dishub Jepara, ada tiga tambahan jadwal penyebrangan. Yaitu pada tanggal 22 Maret yang tadinya empat trip menjadi lima trip, 23 Maret yang tadinya tiga trip menjadi empat trip, dan tanggal 24 Maret yang tadinya empat trip menjadi lima trip.

“Jumlah penumpang yang sudah pesan tiket ada ribuan. Karena kalau hari biasa per minggu kita hanya ada delapan trip, ini nanti bisa 12-13 trip,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

0
Outlet jajanan kue pocong di Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di tepi Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tampak sebuah outlet kue pancong. Outlet tersebut tampak ramai oleh pelanggan yang ingin membeli kuliner khas Jawa Barat itu.

Menurut Wiji Rokhmat Tris Yulianto (26), pemilik usaha kue pancong lumer, di outlet itu menawarkan kue pancong khas Jawa Barat dengan berbagai varian topping. Topping yang tersedia beragam, mulai dari cokelat, original, keju, Milo, Taro, tiramisu dan masih banyak lagi. Dari berbagai varian itu, cokelat oreo dan cokelat keju yaang menjadi best seller-nya.

“Topping di sini terkenal melimpah dan banyak pilihannya, itu yang bikin beda dari yang lain, sementara, untuk porsi terdapat dua pilihan, yakni dengan isi enam kue pancong dan 12 kue pancong, tingkat kematangannya juga bisa request tergantung pembeli,” jelas Wiji sapaan akrabnya.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

Ia juga menjelaskan, bahan-bahan untuk membuat kue pancong ini terdiri dari telur, gula, tepung terigu, margarin, air susu, baking soda, baking powder, garam, dan vanili. Proses pembuatannya dimulai dengan mencampur telur dan gula yang kemudian dimixer, ditambahkan soda kue, baking powder, garam, vanili, margarin, dan terakhir air serta tepung.

“Untuk menjaga kualitas rasa tentu dari menjaga kualitas bahan pembuat adonannya. Seperti telur pilih yang bagus, dan usahakan selalu baru, gula usahakan jangan gula yang kuning harus yang putih bersih dan adonan setiap hari selalu fresh,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Setiap hari, gerai ini mampu menjual antara 40 hingga 60 porsi, bahkan mencapai 100 porsi di akhir pekan. Harga kue pancong berkisar antara Rp6.000 hingga Rp15.000. Mayoritas pembelinya adalah pelajar, mahasiswa, dan anak muda.

“Saya buka setiap hari, mulai pukul 15.00 WIB hingga 22.00 WIB,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

30 Tahun Gonta-ganti Dagangan, Yanto Akhirnya Berlabuh di Pentol Muria

0
Yanto, penjual pentol muria di depan SMK N 1 Kudus yang berlokasi di Jalan Ganesha II, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Siang itu, di tepi jalan, tepatnya samping Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) N 1 Kudus yang berlokasi di Jalan Ganesha II, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sejumlah pedagang yang berjejer di sana. Satu di antaranya adalah lapak penthol muria milik Yanto (60). Sebuah kendaraan roda tiga berwarna biru bertuliskan Penthol Muria Roso Echo.

Usai melayani pembeli, Yanto berbagi cerita tentang perjalanan usahanya. Ia menjelaskan, bahwa sebelum memutuskan untuk mantap berjualan penthol muria, dirinya sempat 

mencoba berbagai usaha jajanan kurang kebih selama 30 tahun. Tapi, menurutnya baru kali ini merasa usahanya stabil dan diminati masyarakat.

Baca juga: Tawarkan Sensasi Beda, Martabak Endog Wawan Laris Manis

“Kalau jualan penthol ini sudah sekitar 10 tahun. Tapi dulu gonta ganti gitu selama 30 tahun. Dulu sempat jualan bakso bakar, es, martabak, buka angkringan juga pernah. Tapi sejak saya pegang usaha pentol ini, akhirnya bisa menetap, karena banyak peminatnya” katanya.

Menurut Yanto, alasan ia lebih memilih berjualan penthol karena bahannya yang mudah didapat dan bisa diawetkan kembali untuk keesokkannya. Karena hal itu juga, dapat memudahkannya dalam berdagang.

“Sesuai kategori yang saya amati sejak dulu, kalau jualan ini kan nggak ada masalah, untuk bahannya sendiri itu hemat, seandainya ini masih ya bisa disimpan, dibekuin. Kalau yang masih beku ini masih bisa dipakai lagi buat besok, Alhamdulillah sejak pegang bakso ini nggak ada kendala,” ujarnya, saat ditemui benerapa waktu lalu.

Yanto juga menjelaskan, bahwa penthol buatannya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet. Menurutnya, hal itu yang membuat pentholnya digemari oleh semua kalangan, termasuk anak-anak hingga orang tua.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

Karena banyaknya pelanggan, setiap hari Yanto memproduksi sebanyak 27 kilogram. Dari produksi tersebut, ia bisa menghasilkan omzet sekitar Rp2 juta per hari.

“Biasanya saya berjualan mulai dari pukul 08.30 hingga 13.30 WIB, di samping SMK N1 Kudus. Setelah itu baru ia pindah berjualan ke MAN1 Kudus,” tambah pria asli Desa Singocandi, Kudus itu.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

- advertisement -

Tawarkan Sensasi Beda, Martabak Endog Wawan Laris Manis

0
Wawan bersama istrinya sedang melayani pembeli martabak telur di lapaknya, di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungku, Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sore itu, di dekat gapura jetak tepatnya di Dukuh Jetak Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak kedai berwarna biru bertuliskan Martabak Endog. Di sana terlihat pasangan suami istri tengah sibuk melayani pesanan pelanggan. Dengan cekatan dan penuh semangat ia menuangkan telur dan isiannya kedalam cetakan, setelah dituangkannya adonan martabak kedalam cetakan lalu di masak sekitar tiga menit hingga martabak telur puyuh siap dihidangkan. 

Pasangan itu adalah Wawan ( 33 ) yang di bantu sang istri jualan martabak telur. Ditengah kesibukannya, pria yang berasal dari Jetak Kedungdowo kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus Kota  itu menyempatkan diri berbagi cerita dengan betanews.id. Sebelum memutuskan berjualan martabak telur ia sempat jualan es dawet, karena kurang manjanjikan akhirnya ia banting stir jualan martabak telur di bantu sang istri.

“Awal mula jualan martabak karena gak kenal musim kalau panas laris kalau hujan tambah laris. Sebelumnya  jualan es dawet tapi hanya musiman saja kalau musim hujan sering libur, akhirnya jualan martabak alhamdulillah berjalan sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

Martabak telur yang dijual berbeda dari yang lainnya, dengan berbagai varian seperti isian bakso, sosis dan mie. Martabak telur isian sosis dan bakso yang paling diminati pelanggan. Harganya yang sangat terjangkau hanya Rp.1000. Karena harga yang murah, sehari Wawan bisa  menghabiskan enam hingga tujuh kilogram adonan.

 “Disini isian variannya banyak, bahan bahannya sederhana saja seperti tepung terigu, telur, penyedap rasa, daun bawang dan garam. Martabak digoreng dadakan jadi selalu panas,” bebernya.

Wawan membuka kedainya dari sore hingga malam hari. Sehari ia mampu menjual hingga 400 biji dan berhasil maraup omzet Rp400 ribu.

“Kedai kami buka dari hari selasa sampai minggu, dari pukul 14.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Semoga lancar terus mudah-mudahan bisa segera buka cabang baru,” tambahnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

- advertisement -

Dapat Kuota Tambahan, Stok BBM dan LPG 3 Kg di Jepara Aman Hingga Lebaran

0
Seorang petugas terlihat sedang memeriksa tabung gas elpiji. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JEPARA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG 3 Kg di Jepara aman selama momen Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Hal itu dipastikan pada saat Bupati Jepara bersama sejumlah perangkat daerah terkait melakukan monitoring ke SPBU dan SPBE Mulyoharjo, Jepara pada Selasa, (17/3/2026).

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, di momen libur lebaran ini nanti, alokasi kuota LPG 3 Kg di Jepara ditambah menjadi 70 ribu tabung. Sehingga, ia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu panic buying dengan menyetok LPG 3 Kg.

“Harga LPG-nya tetap, sesuai ketentuan, dari agen Rp15.520 dan dari pangkalan ke pengecer sesuai HET Rp18.000,” jelasnya.

Kemudian untuk stok BBM menurutnya juga aman. Walaupun menjelang Lebaran Idulfitri terjadi kenaikan konsumsi sebesar 30 persen.

Baca juga: Mudik Tenang Tanpa Waswas, Polres Kudus Sediakan Penitipan Kendaraan Gratis

“BBM stok juga InsyaAllah aman, meskipun ada kenaikan konsumsi 30 persen, tapi stoknya setiap hari datang terus, jadi aman untuk lebaran,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Himpunan Pengusaha Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jepara Atet Budiono mengatakan, alokasi tambahan LPG 3 Kg tersebut dibagi untuk Kamis (19/3/2026) sebanyak 35 ribu tabung.

Kemudian Sabtu dan Minggu, (22&23/3/2025) sebanyak 35 ribu tabung. Alokasi ini secara perhitungan menurutnya sudah mencukupi tingginya kebutuhan LPG 3 Kg oleh masyarakat saat momentum lebaran.

“Ini akan didistribusikan secara merata untuk seluruh masyarakat. Bahkan, kami tidak ada hari libur. Minggu, Nyepi, maupun Idul Fitri nanti produksi maupun distribusi tetap jalan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jelang Tes Kemampuan Akademik, Disdikpora Kudus Sebut Hasil Uji Coba Belum Sesuai Harapan

0
Sejumlah siswa saat mengikuti try out. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus mengimbau siswa kelas akhir SD dan SMP untuk memaksimalkan waktu belajar jelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Diketahui tes tersebut bakal diselenggarakan awal April 2026.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar pada Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho menyampaikan, pelaksanaan TKA untuk jenjang SMP dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 16 April 2026. Sementara untuk jenjang SD akan digelar pada 20 hingga 30 April 2026.

“Khusus kelas 6 SD dan kelas 9 SMP kami juga mengimbau orang tua agar tetap mendampingi anak belajar selama libur Lebaran. Soal latihan sudah diberikan oleh guru,” katanya.

Ia menuturkan, para siswa sebelumnya telah mengikuti try out atau uji coba sebagai bagian dari persiapan menghadapi TKA. Untuk tingkat SD, try out dilaksanakan secara serentak pada 4 dan 5 Maret 2026.

Namun, hasil try out tersebut dinilai masih belum sesuai harapan. Banyak siswa yang memperoleh nilai relatif rendah.

Baca juga: Punya Beragam Inovasi, Desa Piji Kudus Siap Menangkan Lomba Posyandu

“Kalau penilaiannya skala 1 sampai 10, rata-rata mereka dapat nilai 5 atau 6. Itu masih jauh dari harapan. Namun ada juga yang mendapat nilai 10,” jelasnya.

Selain capaian nilai yang belum optimal, pelaksanaan tryout juga diwarnai sejumlah kendala teknis. Di antaranya gangguan server dari kementerian serta pemadaman listrik saat gladi bersih di wilayah Kudus.

“Server sempat down (try out), kemudian saat gladi bersih ada pemadaman listrik. Karena itu gladi bersih akan diulang pada 30 Maret,” ungkapnya.

Untuk materi ujian TKA sendiri mencakup Bahasa Indonesia dan Matematika, serta terintegrasi dengan Asesmen Nasional. Pada hari pertama, siswa akan mengerjakan soal Bahasa Indonesia disertai survei karakter. Sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan ujian Matematika dan survei lingkungan belajar.

Dengan berbagai persiapan tersebut, Disdikpora Kudus berharap siswa dapat lebih siap menghadapi TKA. Selain itu, momentum Ramadan dan libur Lebaran juga diharapkan tetap dimanfaatkan secara positif, khususnya untuk memperkuat kesiapan akademik siswa.

Editor: Kholistiono

- advertisement -