Beranda blog Halaman 31

Pemudik Rasakan Hasil Geliat Pembangunan di Jateng

0
Kondisi infrastruktur jalan di salah satu ruas jalan di Jawa Tengah. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KENDAL – Sejumlah pemudik Lebaran 2026 yang pulang ke Jawa Tengah mengaku merasakan hasil geliat pembangunan yang ada di provinsi ini.

Secara umum, para pemudik mengapresiasi kondisi infrastruktur jalan yang dinilai makin baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, termasuk destinasi wisata yang tumbuh, hingga geliat ekonomi lokal yang mulai terasa.

Kiki Rizki Fauzi (37), pemudik asal Kabupaten Magelang yang hendak kembali ke Depok, merasakan betul perubahan di daerahnya selama sepekan mudik. Ia menilai, kemajuan paling terlihat dari sektor infrastruktur dan pariwisata.

“Sekarang sudah banyak kemajuan. Jalan-jalannya lebih rapi, tempat rekreasi juga bertambah,” ujarnya saat beristirahat di Rest Area KM 389 Tol Semarang-Batang, tepatnya di Weleri, Kabupaten Kendal, Rabu (25/3/2026).

Selama di kampung halaman, ia sempat mengunjungi wisata Ketep Pass untuk menikmati keindahan Gunung Merapi dan Merbabu dari dekat.
.
Pengalaman serupa juga dirasakan Yuni Susilowati (32), pemudik asal Pekalongan yang merantau di Bandung. Dalam perjalanan mudiknya, ia menyempatkan diri berkeliling ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, termasuk Purworejo dan Purwodadi Groboban.

Menurutnya, kehadiran ruas tol baru turut memberikan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan.

Baca juga: Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas Jalan Tol, Jateng Siapkan One Way Lokal

“Senang banget, jalannya enak, nggak terlalu menegangkan. Infrastruktur sekarang terasa lebih baik,” katanya.

Tak hanya soal jalan, Yuni juga menyoroti pelayanan di sejumlah titik persinggahan, termasuk rest area. Ia mengaku terkesan dengan kebersihan fasilitas dan keramahan masyarakat.

“Rest area bersih, orang-orangnya juga santun. Itu yang bikin nyaman selama perjalanan,” ujarnya yang menikmati sejumlah fasilitas Posko Mudik di Rest Area saat hendak kembali ke Bandung.

Cerita lain datang dari M. Hikari Aslam (19), pemudik asal Pemalang. Ia mengakui, sebagai kota kecil, fasilitas di daerahnya memang belum sebanding dengan kota besar. Namun, ia melihat adanya perbaikan, terutama pada kondisi jalan.

“Sekarang lebih bagus dari tahun kemarin, walaupun di daerah pinggiran masih perlu perbaikan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti hadirnya ruang publik baru berupa City Walk di Pemalang yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal. Kawasan tersebut kini dipenuhi pelaku UMKM, kafe, dan menjadi tempat favorit anak muda.

“Enak buat nongkrong, apalagi malam hari. Pelayanannya juga nyaman,” katanya.

Sementara itu, Joko Taryono (50), pemudik asal Kebumen, melihat pembangunan di Jawa Tengah dari sudut pandang yang lebih luas.

Ia mengakui, kondisi infrastruktur jalan terutama jalan provinsi cenderung baik, terlebih karena rutin diperbaiki menjelang Lebaran.

Ia melihat sektor swasta justru cukup aktif mendorong perkembangan, terutama di bidang pariwisata dan usaha komersial. Hal itu terlihat dari munculnya berbagai tempat wisata dan kuliner baru.

Saat mudik, Joko memilih berwisata ke Pantai Kembar di Kebumen, destinasi yang relatif belum ramai dibanding pantai populer lainnya. Baginya, pengalaman berwisata di tempat yang tidak terlalu padat justru lebih nyaman.

Baca juga: Aksi Sigap Taj Yasin Fasilitasi Pemudik Hidrosefalus, Pastikan Dapat Pelayanan Khusus

“Pelayanannya ramah, tarifnya juga masih wajar. Bahkan ada yang tiketnya seikhlasnya. Itu sangat membantu pengunjung,” tutur pria yang hendak kembali ke Jakarta itu.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu prioritas pemerintah provinsi Jateng, karena berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jalan ini kita bangun bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan juga menjadi bagian dari upaya membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Harapan itu bukan isapan jempol belaka. Sebagai informasi, Jawa Tengah mencatatkan performa ekonomi gemilang pada selama 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai 5,37% (y-on-y) pada triwulan IV-2025. Capaian itu memosisikan provinsi ini di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11%.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Berkah Lebaran Ketupat, Penjual Janur di Kudus Kantongi Cuan Jutaan per Hari

0
Salah satu penjual janur di depan Pasar Bitingan Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Penjualan janur di  depan Pasar Bitingan Kudus menjelang Lebaran Ketupat 2026 laris manis diburu pembeli. Penjual janur yang berada di depan Pasar Bitingan itu, tak hanya dari Kudus saja, melainkan datang dari luar daerah seperti Jepara. Mereka mengaku dapat menghasilkan cuan banyak dalam momen seperti ini.

Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Reza, warga Pecangaan, Jepara yang ikut berjualan janur. Pria berusia 25 tahun itu mengakui bisa menghasilkan jutaan rupiah dari penjualan janur per harinya.

“Seperti Rabu (25/3/2025) kemarin, bisa menjual hingga 6.000 janur, sementara hari ini baru terjual sekitar 5.000 janur. Sedangkan untuk harga janur berbeda, karena ada dua jenis warna, yaitu hijau dan kuning. Untuk janur hijau harga Rp2-3 ribu per ikat yang berisi 10 biji janur dan Rp4-6 ribu per ikat untuk janur kuning,” ungkapnya, saat ditemui di lokasi, Kamis (26/3/2026).

Meski penjualan lumayan bagus, hal itu menurutnya tak seramai tahun lalu. Sebelumnya, di puncak jelang Lebaran Ketupat, ia bisa menjual hingga 10.000 janur dalam sehari.

Baca juga: Buket Kemayu, Tawarkan Fresh Flower Cuma Rp10 Ribu

“Tahun ini menurun karena faktor cuaca. Seperti hari ini hujan mengguyur Kudus, sehingga mengakibatkan penjualan agak berkurang,” ujarnya.

Reza menuturkan, mulai berjualan janur di Kudus baru dua tahun terakhir ini. Sementara tahun ini, ia mulai berjulan sejak Selasa (24/3/2026) dan akan berjualan hingga Jumat (27/3/2026) besok.

“Jualan janur sebenanrnya sudah bertahun-tahun di Jepara. Tapi di Kudus baru dua tahun ini, karena harga jual di sini (Kudus) jauh lebih bagus. Selisih harga sampai Rp1-3 ribu per ikatnya,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rohmad. Hari ini bahkan ia bisa menjual sampai 4.000 biji untuk penjualan janur miliknya.

“Tapi memang agak sepi, beda dengan tahun sebelumnya karena jam 9 biasanya sudah habis dan bisa pulang. Soalnya hasil dari janur ini bisa buat liburan dengan anak dan istri,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dinas PUPR Kudus Bakal Perketat Izin Galian Fiber Optik

0
Kepala Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus mulai memperketat pengawasan dan perizinan proyek galian untuk jaringan fiber optik (FO). Langkah ini dilakukan agar pekerjaan di lapangan lebih tertib sekaligus mengantisipasi potensi wanprestasi dari pihak pelaksana.

Kepala Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo mengatakan, sebagian besar pekerjaan galian sebenarnya sudah hampir selesai. Namun, masih ada beberapa kendala teknis yang membuat prosesnya belum sepenuhnya rampung hingga saat ini.

“Sebagian besar sudah selesai. Kemarin tinggal menunggu kotak sentral. Selain itu juga sempat terkendala stok kabel fiber optik yang belum tersedia, jadi pelaksanaannya sedikit tertunda,” ujar Harry belum lama ini.

Ia menjelaskan, keterlambatan material menjadi faktor utama yang memengaruhi progres pekerjaan di lapangan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat target penyelesaian proyek ikut bergeser dari rencana awal.

Lebih lanjut Harry menjelaskan, proyek ini sudah mulai dikerjakan sejak sebelum Lebaran. Namun, distribusi material yang terlambat membuat pengerjaan di lapangan berjalan lebih lambat dari jadwal yang ditentukan.

Baca juga: Mengenal Sosok Mbah Daeng, Prajurit Asal Bugis yang Berjuang Melawan Portugis di Jepara

Ke depan, Dinas PUPR Kudus akan melakukan evaluasi, terutama terkait sistem perizinan dan jaminan proyek. Evaluasi ini dilakukan untuk memperbaiki pengawasan sekaligus mencegah kendala serupa terulang.

“Selama ini banyak yang pakai bank umum. Nanti akan kami arahkan ke bank pemerintah, seperti Bank Jateng, supaya lebih mudah dikontrol kalau terjadi wanprestasi,” jelasnya.

Harry menilai, penggunaan bank pemerintah akan mempermudah pengawasan terhadap pelaksanaan kerja sama proyek. Dengan sistem yang lebih terkontrol, potensi pelanggaran kontrak dapat ditekan.

Ia menambahkan, penguatan sistem jaminan tersebut penting agar setiap proyek berjalan sesuai kontrak yang telah disepakati. Dengan begitu, risiko kerugian bagi pemerintah daerah maupun masyarakat dapat diminimalisir.

Di sisi lain, proses perizinan tetap dilakukan secara bertahap sesuai aturan yang berlaku. Hal ini untuk memastikan setiap pekerjaan memiliki dasar hukum yang jelas dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Adapun pembangunan jaringan fiber optik ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas layanan internet di Kabupaten Kudus. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital di daerah,” ungkapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tertekan di Pabrik, Indah Putuskan Buka Banana Quensa yang Hasilnya Menjanjikan

0
Banana Quensa di Jalan Raya Melati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Tri Indah Kumalasari, yang lebih akrab disapa Indah, terlihat sibuk menggoreng pisang cokelat (piscok) caramel di tepi Jalan Raya Melati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Setiap hari, ratusan piscok dijual dimasukkan ke dalam kotak dus dan siap untuk dikirim ke pelanggan.

Di tengah kesibukannya, wanita berusia 25 tahun ini berbagi kisah perjalanan usahanya. Ia menjelaskan, sebelumnya ia adalah buruh pabrik di Jepara yang merasa tertekan dengan tuntutan pekerjaan. Akhirnya, ia memutuskan untuk merintis usaha jajanan.

“Sebelum berjualan, saya bekerja di perusahaan di Jepara selama satu tahun. Lama-lama saya merasa tertekan dengan tuntutan kerjanya. Saya ingin mencoba usaha sendiri, karena merasa lebih leluasa dan bisa mengatur waktu dengan lebih fleksibel,” ungkap Indah sapaan akrabnya.

Baca juga: Buket Kemayu, Tawarkan Fresh Flower Cuma Rp10 Ribu

Meski mengaku belum lama berjualan, Indah mampu meraup penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan saat bekerja di pabrik. Setiap hari, ia bisa menjual sekitar 200 buah piscok, terutama piscok caramel yang menjadi primadona di kalangan pelanggan.

“Kalau penjualan setiap harinya bisa terjual 200 buah, tergantung ramai dan sepinya sih. Piscok caramel biasanya yang paling dicari,” tuturnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Namun, perjalanan Indah dalam berwirausaha tidak semulus yang terlihat. Selain harus bersaing dengan pedagang lain di sepanjang jalan, ia juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas produk.

“Tantangan terbesar adalah menjaga kualitas produk dan daya tarik pelanggan. Apalagi, jualan di pinggir jalan, cuaca sangat memengaruhi. Kadang panas, kadang hujan, tapi kita tetap harus bisa menjaga kualitas dan servis agar pembeli tetap datang,” jelasnya.

Baca juga: Ramadan Bawa Berkah, Pesanan Produk Ecoprint Kudus Melejit hingga Tembus Pasar Malaysia

Meski begitu, Indah tidak menyerah. Ia terus belajar dan mencari cara untuk meningkatkan kualitas dan layanan, bahkan hingga memutuskan untuk membuka usaha baru. Di sebelah outlet Banana Quensa, ia sedang mempersiapkan usaha baso aci, yang tak lama lagi akan diluncurkan.

“Di sebelah kanan outlet Banana ini juga sebentar lagi akan launching baso aci. Standnya sudah ada, tinggal mulai proses bukanya saja,” tambahnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Buket Kemayu, Tawarkan Fresh Flower Cuma Rp10 Ribu

0
Lapak Buket Kemayu di Jalan Raya GOR Wergu Wetan, Kota Kudus. Foto: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di seberang Jalan Raya GOR Wergu Wetan, Kota Kudus, tampak seorang perempuan dengan ramah menyapa pelanggan yang membeli buket di tempatnya. Ia menyediakan aneka jenis buket fresh flower. Perempuan itu adalah Devi Elviana (24), owner Buket Kemayu.

Perempuan yang akrab disapa Devi itu menjelaskan, dirinya mulai mendirikan usaha buket bunga sejak 2024. Dia memilih bisnis tersebut karena banyak kalangan yang membutuhkan.

Menurutnya, tak hanya momen wisuda, hari-hari biasa juga banyak yang mencari buket sesekali untuk self reward atau untuk diberikan pada yang terkasih. Ia menjual berbagai macam varian bunga, ada sekitar 7 sampai 8 varian yang dijualnya.

Baca juga: Ramadan Bawa Berkah, Pesanan Produk Ecoprint Kudus Melejit hingga Tembus Pasar Malaysia

“Di sini saya menjual berbagai macam bunga, biasanya hingga 10 varian bunga yang ada di sini. Tetapi ini hanya ambil 8 varian saja, ada bunga lolipop, bunga krisan, bunga asoka, bunga matahari, dan varian lainnya. Untuk ketahanan bunganya untuk fresh flower ini bisa 3 hingga 4 hari,” tuturnya.

Biasanya, Devi memasarkan buket bunga melalui media sosial. Dari sejumlah akun media sosial Buket Kemayu, yang paling ramai mendapat pesanan yakni TikTok.

“Sebenarnya ramai tidaknya itu tergantung FYP TikTok, karena yang paling banyak menjangkau semua kalangan saat ini melalui TikTok. Kebanyakan orang tahu Buket Kemayu dari TikTok, sering update postingan juga hingga ramai saat ini,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Devi menjual buket fresh flower dan bunga mati. Ia menjual semuanya sama rata Rp10 ribu. Menurutnya, hal itu agar dapat menjangkau semua kalangan.

Baca juga: Pesanan Jajanan Keciput Meningkat Tajam, Tri Food Jaya Produksi Hingga 50 Kg per Hari

Ia mengaku, tidak hanya berjualan di depan Taman Krida saja, tapi juga di event CFD, GOR, Museum Kretek, dan Taman Ganesha. Devi tidak menentukan jadwal untuk setiap lokasi, karena lokasi dipilih sesuka hati.

“Biasanya saya jualan tergantung mood mangkalnya di mana, jadi harinya tidak menentu. Di rumah menerima pesanan, tapi tidak bisa request bunganya. Kadang kalau ada yang sudah request biasanya malah dibatalkan, akhirnya ada dampak sendiri apalagi untuk fresh flower,” imbuhnya.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berkat Dorongan Sang Anak, Elok Sukses Buka Gultik Mantan Pertama di Kudus

0
Salah satu menu di Gultik Mantan, di Jalan HM Subchan ZE Nomor 22, Janggalan, Kudus. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Dari seberang Jalan HM Subchan ZE Nomor 22, Janggalan, Kudus, terlihat beberapa orang sedang menyantap nasi dengan sayur gulai di kedai “Gulai Tikungan Mantan”. Mereka terlihat sangat menikmati hidangan yang tersaji. Sementara dari depan, karyawan kedai tampak sibuk melayani pelanggan lain yang datang silih berganti.

Kedai gulai tikungan (gultik) ini adalah pelopor gultik pertama di Kudus. Meski terbilang belum lama, kedai ini tidak pernah sepi pelanggan. Bahkan beberapa dari mereka rela datang dari luar kota sekadar hanya untuk mencicipi kuliner tersebut.

Elok Nur Azizah (48), pemilik kedai, mengaku memulai usaha berkat dorongan dari putrinya, Yusrina Eva Nabila, yang saat ini sedang menempuh pendidikan kedokteran gigi di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Melihat peluang karena di Kudus belum ada, akhirnya ia mantap membuka kedai gultik mantan di Kudus.

Baca juga: Ramadan Bawa Berkah, Pesanan Produk Ecoprint Kudus Melejit hingga Tembus Pasar Malaysia

“Alhamdulillah dalam semalam bisa habis hingga 100 porsi lebih,” ungkap Elok sapaan akrabnya.

Berbeda dengan kedai gultik pada umumnya yang hanya menggunakan daging sapi, Elok juga menyediakan gultik dengan daging ayam di kedainya. Hal ini didasari dari permintaan pelanggan yang memintanya untuk menyediakan gultik dengan daging ayam.

“Kalau di Blok M kan hanya daging sapi ya. Kemarin ada yang tanya daging ayam, jadi sekarang kami sediakan,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Satu porsi gultik mantan dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp12.000. Pelanggan juga dibebaskan mengambil kerupuk sesukanya dari yang disediakan. Selain itu, gultik yang identik dengan porsi sedikit tidak berlaku di kedai gultik mantan milik Elok.

“Sering dikomen porsinya kebanyakan, katanya tidak seperti gultik pada umumnya. Tapi saya tidak tega jika harus memberi porsi sedikit. Jadi ya tidak apa-apa saya beri porsi segitu, biar kenyang,” terang ibu empat anak itu.

Baca juga: Pesanan Jajanan Keciput Meningkat Tajam, Tri Food Jaya Produksi Hingga 50 Kg per Hari

Selain menyediakan menu gulai, kedai gultik mantan juga menyediakan aneka sate-satean yang dibanderol dengan harga Rp3.000 setiap tusuknya. Di sana juga memyediakan mochi dan aneka dimsum yang juga dibuat anak sulung Elok sendiri.

“Dulu sempat ada menu soto juga, tapi yang banyak dicari gultik. Akhirnya stop bikin soto, ribet juga kalau ada ternyata,” tambahnya.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Laku Keras, 8 Kilogram Kue Gandos dan Pukis Tiga Putra Ludes Setiap Hari

0
Heru Wahyudi sedang menunggu pembeli di lapak kue gandos dan pukis, di dekat Lapangan Desa Rendeng, Kota, Kudus. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di sebuah lapak, sejumlah kue gandos tampak tersusun rapi di atas nampan berwarna merah. Di sampingnya, terlihat juga beberapa pukis yang sudah dimasukkan ke mika plastik. Lapak Kue Gandos dan Pukis Tiga Putra itu adalah milik Heru Wahyudi.

Heru begitu ia akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha tersebut. Ia menjelaskan, bahwa dulu dirinya adalah seorang guru honorer di salah satu SMK di Kudus.

Pada tahun 2019, kondisi perekonomian Heru bisa dikatakan tidak baik. Karena desakan ekonomi itulah, ia akhirnya memutuskan untuk berjualan kue gandos dan pukis.

Baca juga: Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik

“Saya memulai ini ya karena desakan ekonomi. Akhirnya saya putar haluan jualan gandos sama pukis,” ungkap salah satu alumnus Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu.

Meski sempat menyelesaikan pendidikan sampai dengan sarjana, Heru mengaku tidak keberatan jika saat ini harus berjualan. Menurutnya, asalkan rupiah yang ia dapatkan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, ia akan kerjakan.

“Awalnya ya malu. Tapi seiring berjalannya waktu, lihat uangnya, lama-lama malu itu hilang sendiri. Karena kalau tetap jadi guru, gajinya cuma cukup untuk dua minggu,” bebernya.

Sebenarnya, Heru memutuskan berhenti mengajar pada tahun 2016. Sebelum merintis usahanya, pria yang berdomisili di Pasuruan Lor, Jati Kudus itu pernah bekerja pada orang lain sebagai penjual kelapa. Karena dirasa kurang cocok, akhirnya ia mantap memulai berjualan kue gandos dan pukis di depan Lapangan Rendeng.

“Kalau buka setiap hari, mulai pagi pukul 07.00 hingga sore pukul 16.00 WIB. Untuk kue gandos saya jual dengan harga Rp6.000 per porsi, sedangkan pukis harganya Rp1.000 per biji,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dalam sehari, Heru mampu menghabiskan dua sampai dengan empat termos adonan. Setiap termosnya berisi 2 kilogram adonan. Dari setiap termosnya, ia bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp150.000 ribu.

Baca juga: Lima Motif Tenun Troso Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis 

“Dulu waktu pertama buka, hanya bawa setengah termos. Makin hari kok makin ramai, akhirnya saya tambah bawanya,” terangnya.

Saat ini, Heru sudah memiliki dua lapak. Ia sendiri mengelola lapak pertamanya. Sedangkan untuk lapak kedua ia serahkan ke anak sulungnya yang kini juga sedang menempuh pendidikan sekolah menengah.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Cuma Rp500 Per Biji, Omzet Gethuk Goreng Kandar Tembus Rp2,5 Juta Sehari

0
Sukandar sedang melayani pembeli gethuk di lapaknya di di Jalan Mayor Kusmanto No 15, Rendeng, Kota Kudus, Kudus. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Seorang pria dengan kaus berwarna hijau tampak sibuk membentuk adonan menjadi bulat-bulat. Setelah itu, adonan tersebut dimasukkan ke dalam minyak goreng yang sudah panas. Tidak lupa ia juga membolak-balik gorengan agar matang merata.

Pria itu tak lain adalah Sukandar, pemilik usaha gethuk goreng yang berlokasi di Jalan Mayor Kusmanto No 15, Rendeng, Kota Kudus, Kudus. Dari cerita yang ia sampaikan, pria yang akrab disapa Kandar itu menggeluti usaha gethuk goreng semenjak 2019. Saat ini, Kandar mengaku sudah memiliki dua lapak.

“Satunya ini, satunya lagi dekat lapangan Gribik Gang 19,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Panen Cuan, Pengrajin Ecoprint Jati Semi Kudus Kebanjiran Order Hampers Lebaran

Lapak pertama Kandar buka dari pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB. Sedangkan untuk lapak keduanya, buka dari pukul 14.00 WIB hingga magrib. Tapi saat ramai pelanggan, Kandar bisa tutup lebih awal.

Sebelumnya, Kandar sudah pernah mencoba usaha gorengan lain seperti mendoan, bakwan, klepon, dan aneka jajanan tradisional lain. Namun karena dirasa prosesnya terlalu rumit dan panjang, akhirnya ia memutuskan untuk memulai usaha gethuk goreng.

“Kalau gethuk goreng ini prosesnya lebih simpel, tidak serumit dulu waktu jualan klepon,” bebernya.

Gethuk goreng Kandar hanya dibanderol Rp500 untuk per bijinya. Meskipun begitu, omset yang didapatkan dari usahanya tidak main-main. Dalam sehari, Kandar mampu meraup omset sekitar dua juta lebih dari dua lapak tersebut.

“Kalau yang ini sehari sekitar Rp1,5 juta. Sedangkan untuk lapak satunya mungkin hanya sejutaan karena tutupnya lebih awal,” ujar Kandar.

Meski memiliki omset jutaan dalam sehari, Kandar juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan yang berkualitas. Ia mengungkapkan, bahwa cuaca yang terjadi mempengaruhi kualitas singkong yang tersedia. Saat musim penghujan, kualitas singkong yang ia dapat kurang bagus sehingga berpengaruh pada proses penggorengan.

Baca juga: Pesanan Jajanan Keciput Meningkat Tajam, Tri Food Jaya Produksi Hingga 50 Kg per Hari

Setiap hari, Kandar biasanya menghabiskan sekitar 2.500 biji di lapak pertama. Sedangkan untuk lapak kedua, ia bisa menghabiskan sekitar 1.000 biji.

“Berapapun pemasukannya ya disyukuri. Semua butuh proses, saya juga tidak langsung punya banyak pelanggan seperti saat ini,” tambahnya.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Tanpa Toko Online , Toko Buku Barokah Semarang Tetap Diburu Pelanggan

0
Toko buku Barokah di Jalan Stadion Barat, Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di Jalan Stadion Barat, Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, terlihat sebuah toko bertuliskan “Toko Buku Barokah”. Beragam buku tampak tersusun rapi di atas rak. Beberapa di antaranya masih baru dan bersampul plastik, sedangkan yang lainnya adalah buku bekas tanpa sampul.

Buku-buku itu terdiri dari genre yang berbeda-beda. Terdapat buku pendidikan formal dari jenjang TK hingga mahasiswa, kumpulan novel, majalah-majalah bekas, dan aneka buku lainnya.

Baca juga: Panen Cuan, Pengrajin Ecoprint Jati Semi Kudus Kebanjiran Order Hampers Lebaran

Dariono (47), pemilik toko tersebut, bercerita bahwasannya ia sudah merintis usaha bukunya sejak tahun 2000. Awalnya, ia adalah salah satu karyawan di Toko Buku Anugrah Ilmu. Namun, berkat keuletan serta konsistensinya bekerja sambil belajar, ia berhasil membuka toko buku miliknya sendiri.

“Dulu kerja di toko Anugrah sekitar empat kalau tidak lima tahun, setelah itu ada yang nawarin modal, akhirnya buka toko buku sendiri,” ujar Dariono.

Bapak dua anak itu mengaku sebelumnya tidak menyangka bisa berkecimpung di dunia perbukuan. Hal itu bukan tanpa alasan, ia merasa insecure karena hanya lulusan SMP. Tapi berkat dukungan dari saudara dan rekan-rekannya, toko buku miliknya berhasil beroperasi hingga sekarang.

Buku-buku di toko Dariono didapat dari tempat yang berbeda-beda. Ada yang langsung dari penerbit, ada juga buku prelove bekas mahasiswa-mahasiswa yang berkampus di Semarang dan sekitarnya.

“Awalnya hanya menyediakan sedikit buku, tapi saya konsisten hingga bisa menyediakan buku sebanyak ini. Meskipun ini saja belum sesuai harapan banyak pelanggan,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Saat ini, Dariono sudah memiliki dua toko buku. Toko buku pertamanya bernama “Toko Buku Barokah” berada di Jalan Stadion Barat, Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, tepatnya dekat Stadion Diponegoro, Semarang. Sedangkan toko keduanya bernama “Putra Barokah” yang berada di Jalan W.R. Supratman, Genuk, Genuk Sari, Semarang.

“Kebetulan toko keduanya dijaga istri, sekalian istri jualan sembako,” beber Dariono.

Baca juga: Pesanan Jajanan Keciput Meningkat Tajam, Tri Food Jaya Produksi Hingga 50 Kg per Hari

Meski kini marak penjual buku yang menawarkan buku tiruan atau KW dengan harga dua kali lipat lebih murah, Dariono akan tetap menjual buku dengan kualitas yang baik atau original. Selain itu, ia juga menolak memasarkan bukunya di toko-toko online seperti Shopee.

“Kalau saya jual online saya harus mematok harga lebih murah. Tidak balance dengan modal yang saya keluarkan. Jadi ya biar begini saja,” ungkapnya.

Meski kini minat baca turun, ditambah keberadaan toko buku online yang semakin banyak, ia akan tetap optimis dengan usaha yang ia geluti. Dari penuturannya, pelanggan banyak yang dari luar kota, seperti Kudus, Demak, Jepara, dan lainnya.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Laris Manis, Wedang Ronde di Pedawang Ini Laku Puluhan Porsi Dalam Hitungan Jam

0
Wedang Ronde milik Sinta di Jalan Mayor Kusmanto, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Malam itu, di tepi Jalan Mayor Kusmanto, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sebuah warung kecil yang di dalamnya terdapat sebuah gerobak bertuliskan W. Ronde. Di dalamnya, seorang pria dan wanita terlihat sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Sinta (35), pemilik warung wedang ronde bersama suaminya, dengan cekatan menuangkan kuah jahe panas ke dalam mangkuk-mangkuk kecil. Usai melayani pelanggannya, Sinta sudi berbagi cerita tentang usahanya. Ia menjelaskan bahwa usaha yang ia rintis bersama suaminya itu sudah berjalan sejak tahun 2014.

Ia juga menambahkan, sebelum mantap berjualan di rumah sendiri, Sinta mengaku sempat jualan keliling dan berpindah-pindah tempat. Setelah itu ia memutuskan untuk menetap berjualan di rumahnya. Ia menetap agar pelanggannya lebih mudah ketika ingin menikmati wedang rondenya.

Baca juga: Nikmatnya Pisang Kembung Mbah Ismi, Cuma Rp3.000 Per Porsi

“Awalnya dulu itu jualan keliling, terus mangkal di emperan, stay di pinggir jalan gitu kemudian pindah-pindah tempat. Terus tahun 2018 baru menetap jualan di rumah, karena dirasa kayak tenaganya sudah lelah jadi jualan di rumah aja,” jelasnya.

“Alasannya itu, waktu dulu di sini masih sepi orangnya, rumah-rumahnya gitu pada masih sepi. 

Ia juga bercerita, saat pertama kali buka di rumah dagangannya sepi. Tapi setelah berjalan beberapa waktu, pelanggan mulai datang.

Alhamdulillah sekarang pelanggan sudah banyak,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Sinta menjelaskan bahwa bahan dasar wedang ronde cukup sederhana. Untuk isiannya ada bola-bola ketan yang kenyal dan lembutan, terbuat dari tepung ketan, yang di dalamnya berisi gula merah serta kacang. Selain itu, dilengkapi dengan kolang-kaling dan kacang sangrai.

Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli

Wedang ronde yang dia jual dibanderol dengan harga Rp6.000 per porsi. Selain wedang ronde, Sinta juga menjual wedang roti yang dibanderol Rp5.000 per porsi. Dalam sehari ia dapat menjual sekitar 60 porsi.

“Di sini bukanya setiap hari, mulai habis magrib sekitar pukul 18.00 WIB sampai habis, atau paling lama biasanya ya sampai pukul 22.00 WIB,” tambahnya.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kisah Ning, Jual Cilor Demi Lanjutkan Usaha Sang Anak yang Kecelakaan

0
Ning sedang menjual cilor di di Jalan Gor, Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Malam itu di Jalan Gor, Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, tampak seorang perempuan tengah sibuk melayani pelanggan. Dengan gerobak kecil di atas motor, ia terlihat cekatan dalam membuat cilor.

Perempuan itu adalah Ning (50). Setelah melayani pelanggan, warga Desa Bacin, RT 3, RW 7, Kecamatan Bae, Kudus itu berbagi cerita tentang usaha cilir tersebut. Perjalanan itu dimulai dari upaya melanjutkan usaha anaknya yang terpaksa berhenti karena kecelakaan.

“Awalnya ini jualan anak saya yang pertama, karena kecelakaan dan mengalami kebutaan jadi dilanjutkan anak saya yang kedua dan sekarang saya yang melanjutkan jualan cilor,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Nikmatnya Pisang Kembung Mbah Ismi, Cuma Rp3.000 Per Porsi

Ia juga menjelaskan, bahwa sekitar delapan tahun terakhir selalu konsisten berjualan cilor dengan menggunakan bahan dasar tepung pati dan gandum. Setiap harinya, ia mampu menghabiskan 1,5 kilogram adonan untuk menghasilkan berbagai macam cilor dan maklor dengan varian rasa yang beragam. Di antaranya rasa jagung manis, asin, dan pedas.

Dengan harga yang terjangkau, yaitu hanya Rp1.000 per cetakan, cilor buatan buatan Ning sangat digemari oleh pelanggannya. Jadwal jualannya pun cukup fleksibel, ia membuka lapaknya mulai siang hingga malam hari. Khusus pada hari Minggu, Ning membuka lapaknya sejak pagi hari.

“Buka setiap hari mulai dari pukul 14.00 hingga 22.00 WIB. Tapi khusus hari Minggu lebih awal, pukul 07.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu itu paling ramai sih. Kebanyakan yang beli anak muda,” ujarnya.

Dari hasil penjualan cilor, Ning mampu meraup omzet hingga Rp700 ribu per hari. Ia bersyukur, berkat meneruskan usaha anak sulungnya, kini ia bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli

“Semoga dagangan saya selalu ramai terus, dan banyak pelanggan,” tambahnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kisah Ali, Merantau Sejak Kecil Hingga Jualan Bakso Goreng di Kudus

0
Ali sedang menjajakan basgor di depan SD Negeri 7 Gondosari, Gebog, Kudus. Foto: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Siang itu, sebuah gerobak berwarna biru di depan SD 7 Gondosari, Kudus tampak ramai pembeli. Seorang pria mengenakan kaus biru tetlihat cekatan dan penuh semangat, ia menuangkan minyak, menggoreng basreng hingga matang, lalu di taburi saus kacang dan bakso goreng siap di sajikan.

Pria itu adalah Ali (35), warga Brebes yang merantau di Kudus. Ia mengaku, bahwa sejak usia muda telah terbiasa merantau. Ali sudah terbiasa pindah-pindah ke berbagai kota besar di Indonesia.

Dari pengalaman berpindah-pindah merantau inilah yang kemudian membawanya ke Kudus. Selama di Kudus, Ali tinggal di Desa Jurang dan ikut orang berbisnis jajanan jadul. 

Baca juga: Inovasi Resep Warisan Keluarga, Ulil Sukses Bisnis Es Cendol Tape Ketan

“Sejak lulus SD, saya sudah terbiasa hidup mandiri di luar kota. Selain ikut orang jualan bakso goreng jadul, saya juga pernah kerja di proyek bangunan,” ungkap Ali saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menurut Ali, bakso goreng dagangannya memiliki cita rasa yang khas berkat perpaduan bumbu kacang, balado, dan jagung manis. Dengan harga yang sangat terjangkau, hanya Rp500 per tusuk, bakso goreng buatan Ali sangat diminati.

Setiap harinya, ia berkeliling dengan gerobak. Rute yang dilalui cukup panjang, mulai dari depan SD 7 Gondosari, hingga ke daerah Dawe.

“Biasanya saya mulai berjualan sekitar pukul 12.00 WIB. Kalau dagangan belum habis, saya terus keliling sampai sore,” jelasnya.

Meskipun bisnisnya berjalan lancar, Ali juga menghadapi beberapa tantangan. Cuaca menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penjualan.

Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli

“Kalau hujan, pasti sepi pembeli. Tapi saya tetap semangat,” ujarnya.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Pisang Molen Hasan, Laris Manis Berkat Resep Warisan

0
Pisang molen milik Abdullah Hasan di Jalan Tanjung, Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di bawah pohon yang rindang, tampak sebuah gerobak berwarna hijau bertuliskan “Pisang Molen” di Jalan Tanjung, Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Lapak sederhana ini nyaris tak pernah sepi pembeli. Beberapa pisang molen yang baru saja digoreng terlihat tertata rapi di sana.

Seorang pria paruh baya tampak cekatan memasukkan pisang molen ke dalam bungkus, lalu diberikan kepada para pelanggan yang datang silih berganti. Pria itu adalah Abdullah Hasan (55). Ia menceritakan bahwa usaha yang ia jalankan saat ini merupakan generasi kedua dari bisnis pisang molen milik keluarganya. Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh sang kakak sekitar 40 tahun yang lalu.

“Mulai usaha sejak tahun 1986. Dulu awalnya ini ide kakak saya. Dia yang mulai duluan, jualan di belakang SMP 2 Kudus waktu itu. Lalu saya belajar dari dia, sampai akhirnya sekarang saya yang meneruskannya,” tutur pria yang akrab disapa Hasan itu.

Baca juga: Nikmatnya Pisang Kembung Mbah Ismi, Cuma Rp3.000 Per Porsi

Pisang molen yang dijual Hasan bukan sekadar jajanan biasa. Resep khas yang diwariskan keluarganya tetap dijaga hingga kini. Perpaduan kulit yang renyah dengan pisang yang manis legit di dalamnya menjadi ciri rasa yang tak berubah sejak dulu.

“Kuncinya di adonan, harus pas takarannya, terus minyaknya harus bersih. Kakak saya yang ngajarin semua, dari cara memilih pisang sampai menggoreng dengan suhu yang tepat,” jelasnya saat ditemui benerapa waktu lalu.

Dalam sehari, Hasan mampu menghabiskan adonan molen dari 5 hingga 10 kilogram, bahkan bisa lebih ketika lapaknya sedang ramai. Harga yang sangat terjangkau, yakni Rp1.000 per biji, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli.

Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli

“Di sini bukanya setiap hari, kecuali Minggu libur. Biasanya dari pagi sampai sore, mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB. Kalau omzet per hari kadang bisa Rp300 ribu, kadang Rp400 ribu, kadang sampai Rp500 ribu, tergantung ramai atau tidaknya pembeli,” bebernya.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Demi Keluarga, Warga Brebes Ini Rela Jual Basgor Keliling Kudus

0
Ali Supriyadi sedang melayani pembeli basgor jadul di depan SMP 1 Gebog, Kudus. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di depan pagar SMP 1 Gebog, aroma gurih tercium dari tusuk-tusuk bakso goreng (Basgor). Seorang pria berbaju putih, dengan cekatan sedang menggoreng dan melayani pembeli. Pria ini adalah Ali Supriyadi (35), seorang penjual basgor jadul, asal kota Brebes. Sosoknya yang ramah dan murah senyum membuat para pelanggan rela antre di sana.

Basgor yang dijual Ali sapaan akrabnya, dikenal bukan hanya karena harganya yang ramah di kantong, tetapi juga karena cita rasa khasnya. Ia menjelaskan, bahwa Basgor merupakan jajanan khas daerah Brebes.

“Saya gunakan saus kacang sebagai pelengkap utama. Ini yang membuat pembeli datang lagi. Bagi anak-anak yang tidak menyukai rasa pedas, saya juga menyediakan bumbu jagung manis sebagai pilihan,” terangnya.

Baca juga: Mbah Temon, Kakek 70 Tahun yang Masih Semangat Jual Bakso Goreng

Dengan harga jual Rp500, per tusuk. Tak heran, setiap hari Ali bisa menjual sekitar 600 tusuk basgor dalam waktu singkat.

“Biasanya mulai jualan pukul 12.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Seringnya jam segitu dagangan sudah habis. Jualan setiap hari berkeliling Kudus, di antaranya kawasan Gebog, Jurang, Dawe, hingga Menawan,” beber Ali saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ali memulai perjalanan sebagai pedagang setelah lulus SD. Awalnya, ia mencoba peruntungan di Banyuwangi, Madura dan Bondowoso. Namun, beberapa tahun terakhir ia menetap di Kudus karena biaya hidup dan ongkos perjalanan yang lebih terjangkau.

“Kalau harus bolak-balik Jawa Timur, biayanya mahal. Jadi, saya pilih merantau di Kudus, karena biayanya lebih murah,” tutur Ali.

Sebelum terjun menjadi pedagang, Ali sempat bekerja sebagai buruh proyek di Jakarta, termasuk di proyek MRT kereta api Gelora Bung Karno, Senayan. Selama bertahun-tahun menjadi tukang gali, ia merasakan kerasnya hidup.

Ketika proyek mulai sulit, ia menerima ajakan seorang teman untuk berjualan. Hingga saat ini, ia sudah berjualan sekitar enam tahun lebih.

Ali mengaku tidak memiliki rencana untuk membuka usaha sendiri. Menurutnya, mendirikan bisnis membutuhkan modal dan keahlian khusus yang tidak ia miliki.

Baca juga: Hadir di Tengah Kota Kudus, Grit Coffee & Chill Tawarkan Cita Rasa Muria

Baginya, yang terpenting lanjar dalam berjualan dan mendapat oenghasilan cukup. Dengan begitu, ia bisa pulang ke rumah setiap dua bulan sekali untuk bertemu keluarga.

“Yang penting saya bisa terus jualan dan menabung sedikit demi sedikit. Karena saya kan sudah menikah jadi ada yang menunggu pulang,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Mbah Temon, Kakek 70 Tahun yang Masih Semangat Jual Bakso Goreng

0
Mbah Temon sedang membuat bakso goreng di tepi jalan depan SMP 1 Gebog, Kudus. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Siang itu, seorang pria paruh baya mengenakan baju perpaduan warna putih-biru tampak sibuk menusuk bakso menggunakan tusuk sate. Setelah ditusuk dan dibalut dengan telur, bakso-bakso tersebut kemudian di goreng. Dia adalah Temon (70), penjual Bakso Goreng.

Ternyata, bakso goreng buatan Temon cukup dikenal warga Gebog. Saat ditemui beberapa waktu yang lalu, Temon sudi bercerita tentang usahanya. Ia menjelaskan, bahwa usaha ini awalnya dimulai sejak tahun 2009.

“Awalnya ya jualan di Kidangan, dekat pabrik Sukun. Terus pindah tempat karena Kidangnya di pindah ke timur, mau jualan di sana tapi tidak ada tempatnya, jadinya sekarang jualan di depan SMP 1 Gebog,” jelasnya.

Baca juga: Hadir di Tengah Kota Kudus, Grit Coffee & Chill Tawarkan Cita Rasa Muria

Berbeda dari kebanyakan pedagang, Temon menciptakan resep bakso gorengnya sendiri tanpa terinspirasi dari siapapun. Ia hanya menggunakan bahan dasar ikan dan tepung. Proses pembuatannya pun cukup memakan waktu, adonan dibentuk dengan tangan, lalu direbus sebelum akhirnya siap untuk dijual.

“Buka setiap hari, dari pukul 09.00 WIB hingga 16.30 WIB. Sehari bisa laku 500 tusuk bakso goreng, kalau adonan bisa habis 15 kilogram. Harganya murah, hanya Rp1.000 per tusuk, pembelinya biasa dari berbagai kalangan, terutama pelajar dan warga sekitar,” ujar Temon.

Perjalanan usaha Temon tidak selalu mulus. Sebelum menjual bakso goreng, Temon sempat mencoba berjualan sosis goreng. Sayangnya, kenaikan harga sosis memaksanya berinovasi. Ia kemudian beralih menjual bakso goreng karena bahan-bahannya lebih mudah didapat dan terjangkau.

Baca juga: Obong Satay, Sate Ayam Khas Kudus yang Tak Pernah Sepi Pembeli

“Yang jadi tantangan itu proses pembuatannya, lama sekali. Tapi kalau lihat orang-orang suka dan datang lagi, capeknya terus hilang,” bebernya sambil tersenyum.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -