Mengenal Sosok Mbah Daeng, Prajurit Asal Bugis yang Berjuang Melawan Portugis di Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA– Berjarak sekitar 2,7 kilometer dari Alun-Alun Kota Jepara, terdapat komplek Makam Mbah Daeng yang berada di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Suasana teduh begitu terasa saat memasuki gerbang kompleks pemakaman tersebut. Di dalam area makam, terdapat bangunan berbentuk rumah joglo. Di belakangnya terdapat pohon pule berukuran besar yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Juru Kunci Makam Mbah Daeng, Abdul Qadir Al-Fasiri bercerita, komplek makam tersebut pertama kali diketahui pada tahun 1965. Namun, karena saat itu terjadi Peristiwa G30/SPKI, komplek makam tersebut sempat tidak terawat.

-Advertisement-

Hingga akhirnya, Qadir bersama sejumlah warga membersihkan dan menata ulang komplek makam itu pada tahun 2004.

Qadir mengatakan, komplek makam itu dinamakan Makam Mbah Daeng karena banyak Daeng, yaitu sebutan bagi tokoh asal Bugis, Makassar yang dimakamkan di komplek pemakaman tersebut.

Salah satunya yaitu Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya, seorang ulama keturunan Rasulullah SAW yang datang dari Bugis dan berdakwah di Jepara pada masa kerajaan Islam.

Beliau di makamkan di area utama yang berada di dalam rumah joglo. Di sisi selatan dan timur makamnya, juga terdapat makam lain yang juga mendapat sebutan Daeng.

Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga

“Daeng itu sebutan, bagi tokoh dari Bugis Makassar yang kemudian berdakwah sampai ke Jepara, sehingga makam ini disebut Makam Mbah Daeng,” katanya saat ditemui di kompleks Makam Mbah Daeng, Sabtu (14/3/2026).

Kemudian terkait sosok Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya yang kemudian dikenal dengan nama Mbah Daeng, Qodir menyampaikan, beliau bukan hanya pendakwah, tetapi juga pejuang. Ia turut memimpin pasukan perang melawan Portugis yang kala itu berupaya menguasai wilayah Jepara.

Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan di pesisir utara Jawa.

“Ia termasuk prajurit perang setelah masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat saat melawan bangsa Portugis di wilayah utara Jepara (Donorojo),” bebernya.

Lebih lanjut Qadir menjelaskan, terdapat sekitar 70-80 wali bergelar Daeng yang makamnya berada di komplek pemakaman tersebut. Sehingga oleh masyarakat komplek pemakaman tersebut dipandang sebagai lokasi yang memiliki kemuliaan.

Ukuran makam mbah daeng pun tidak seperti makam pada umumnya. Tampak beberapa makam memiliki panjang sekitar empat meter.

Qodir menyebut ukuran tersebut masih belum diketahui secara pasti apakah karena ukuran badannya yang memang tinggi atau karena makamnya sengaja dipanjang agar tidak dilangkahi oleh para peziarah.

“Makamnya memang panjang-panjang, bisa jadi ini sengaja dipanjangkan, bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi. Namun ada cerita bahwa salah satu peziarah pernah ditemui makhluk setinggi pohon,” tuturnya.

Makam Mbah Daeng saat ini menjadi salah satu tujuan utama ziarah, termasuk dalam agenda kunjungan Bupati Jepara bersama jajaran pemerintah daerah saat menelusuri jejak para tokoh dan pejuang di Bumi Kartini. Khususnya saat rangkaian hari jadi Kota Jepara.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER