Di bawah pohon yang rindang, tampak sebuah gerobak berwarna hijau bertuliskan “Pisang Molen” di Jalan Tanjung, Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Lapak sederhana ini nyaris tak pernah sepi pembeli. Beberapa pisang molen yang baru saja digoreng terlihat tertata rapi di sana.
Seorang pria paruh baya tampak cekatan memasukkan pisang molen ke dalam bungkus, lalu diberikan kepada para pelanggan yang datang silih berganti. Pria itu adalah Abdullah Hasan (55). Ia menceritakan bahwa usaha yang ia jalankan saat ini merupakan generasi kedua dari bisnis pisang molen milik keluarganya. Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh sang kakak sekitar 40 tahun yang lalu.
“Mulai usaha sejak tahun 1986. Dulu awalnya ini ide kakak saya. Dia yang mulai duluan, jualan di belakang SMP 2 Kudus waktu itu. Lalu saya belajar dari dia, sampai akhirnya sekarang saya yang meneruskannya,” tutur pria yang akrab disapa Hasan itu.
Baca juga: Nikmatnya Pisang Kembung Mbah Ismi, Cuma Rp3.000 Per Porsi
Pisang molen yang dijual Hasan bukan sekadar jajanan biasa. Resep khas yang diwariskan keluarganya tetap dijaga hingga kini. Perpaduan kulit yang renyah dengan pisang yang manis legit di dalamnya menjadi ciri rasa yang tak berubah sejak dulu.
“Kuncinya di adonan, harus pas takarannya, terus minyaknya harus bersih. Kakak saya yang ngajarin semua, dari cara memilih pisang sampai menggoreng dengan suhu yang tepat,” jelasnya saat ditemui benerapa waktu lalu.
Dalam sehari, Hasan mampu menghabiskan adonan molen dari 5 hingga 10 kilogram, bahkan bisa lebih ketika lapaknya sedang ramai. Harga yang sangat terjangkau, yakni Rp1.000 per biji, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli.
Baca juga: Berkat Bumbu yang Khas, Bakso Bakar Akbar Tak Pernah Sepi Pembeli
“Di sini bukanya setiap hari, kecuali Minggu libur. Biasanya dari pagi sampai sore, mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB. Kalau omzet per hari kadang bisa Rp300 ribu, kadang Rp400 ribu, kadang sampai Rp500 ribu, tergantung ramai atau tidaknya pembeli,” bebernya.
Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

