Pagi itu, di tepi Jalan Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di sebelah JNT Express Barongan, tampak sebuah gerobak bertulisan “Pisang Kembung”. Di balik gerobak itu berdiri seorang kakek berusia 65 tahun. Kakek bernama Ismi itu terlihat sibuk menggoreng pisang, sesekali menoleh ke arah jalan, menanti pelanggan yang datang.
Sembari meniriskan gorengan yang baru matang, Ismi bercerita, meski lapaknya terbilang belum lama buka, namun respon pembeli cukup baik. Awalnya, ia hanya ingin mencoba berjualan untuk menambah pemasukan. Dari situlah muncul ide membuka usaha pisang kembung, yang menurutnya belum banyak dijual di Kudus.
“Di Kudus belum ada yang jual pisang kembung, jadi saya coba jual. Awalnya memang kesulitan, tapi pelan-pelan tetap harus sabar,” ungkap Ismi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY
Pisang kembung yang ia jual dibanderol dengan harga terjangkau, yaitu mulai Rp5.000 per porsi isi tujuh dan Rp3.000 isi empat. Dalam sehari, pisang kembung buatannya bisa terjual 25 porsi.
Ia juga membeberakan, diberi nama pisang kembung karena bentuknya yang mengembang saat digoreng. Proses pembuatannya pun terbilang sederhana.
“Bahannya cukup sederhana, ada pisang, tepung terigu, maizena, tepung beras, soda kue atau baking powder, vanili, gula, sama garam sedikit. Semua dicampur jadi satu adonan, diaduk dulu, baru digoreng sampai mengembang. Setelah matang, di atasnya ditaburi meses cokelat sama keju,” jelasnya.
Menurutnya, pisang kembung cocok menjadi camilan saat berkumpul bersama keluarga, terlebih di musim penghujan. Perpaduan rasa manis dan gurih, ditambah varian topping yang menarik, menjadi daya tarik tersendiri.
Baca juga: Laris Manis, Cireng Kuah Creamy di Tayu Ini Ludes Setiap Hari
“Kalau mau pesan juga bisa lewat WhatsApp di 089666768059 atau datang langsung ke sini. Biasanya saya buka setiap hari pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB,” tambahnya.
Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

