Sore itu, di dekat gapura jetak tepatnya di Dukuh Jetak Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak kedai berwarna biru bertuliskan Martabak Endog. Di sana terlihat pasangan suami istri tengah sibuk melayani pesanan pelanggan. Dengan cekatan dan penuh semangat ia menuangkan telur dan isiannya kedalam cetakan, setelah dituangkannya adonan martabak kedalam cetakan lalu di masak sekitar tiga menit hingga martabak telur puyuh siap dihidangkan.
Pasangan itu adalah Wawan ( 33 ) yang di bantu sang istri jualan martabak telur. Ditengah kesibukannya, pria yang berasal dari Jetak Kedungdowo kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus Kota itu menyempatkan diri berbagi cerita dengan betanews.id. Sebelum memutuskan berjualan martabak telur ia sempat jualan es dawet, karena kurang manjanjikan akhirnya ia banting stir jualan martabak telur di bantu sang istri.
“Awal mula jualan martabak karena gak kenal musim kalau panas laris kalau hujan tambah laris. Sebelumnya jualan es dawet tapi hanya musiman saja kalau musim hujan sering libur, akhirnya jualan martabak alhamdulillah berjalan sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY
Martabak telur yang dijual berbeda dari yang lainnya, dengan berbagai varian seperti isian bakso, sosis dan mie. Martabak telur isian sosis dan bakso yang paling diminati pelanggan. Harganya yang sangat terjangkau hanya Rp.1000. Karena harga yang murah, sehari Wawan bisa menghabiskan enam hingga tujuh kilogram adonan.
“Disini isian variannya banyak, bahan bahannya sederhana saja seperti tepung terigu, telur, penyedap rasa, daun bawang dan garam. Martabak digoreng dadakan jadi selalu panas,” bebernya.
Wawan membuka kedainya dari sore hingga malam hari. Sehari ia mampu menjual hingga 400 biji dan berhasil maraup omzet Rp400 ribu.
“Kedai kami buka dari hari selasa sampai minggu, dari pukul 14.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Semoga lancar terus mudah-mudahan bisa segera buka cabang baru,” tambahnya.
Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

