30 Tahun Gonta-ganti Dagangan, Yanto Akhirnya Berlabuh di Pentol Muria

Siang itu, di tepi jalan, tepatnya samping Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) N 1 Kudus yang berlokasi di Jalan Ganesha II, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sejumlah pedagang yang berjejer di sana. Satu di antaranya adalah lapak penthol muria milik Yanto (60). Sebuah kendaraan roda tiga berwarna biru bertuliskan Penthol Muria Roso Echo.

Usai melayani pembeli, Yanto berbagi cerita tentang perjalanan usahanya. Ia menjelaskan, bahwa sebelum memutuskan untuk mantap berjualan penthol muria, dirinya sempat 

mencoba berbagai usaha jajanan kurang kebih selama 30 tahun. Tapi, menurutnya baru kali ini merasa usahanya stabil dan diminati masyarakat.

-Advertisement-

Baca juga: Tawarkan Sensasi Beda, Martabak Endog Wawan Laris Manis

“Kalau jualan penthol ini sudah sekitar 10 tahun. Tapi dulu gonta ganti gitu selama 30 tahun. Dulu sempat jualan bakso bakar, es, martabak, buka angkringan juga pernah. Tapi sejak saya pegang usaha pentol ini, akhirnya bisa menetap, karena banyak peminatnya” katanya.

Menurut Yanto, alasan ia lebih memilih berjualan penthol karena bahannya yang mudah didapat dan bisa diawetkan kembali untuk keesokkannya. Karena hal itu juga, dapat memudahkannya dalam berdagang.

“Sesuai kategori yang saya amati sejak dulu, kalau jualan ini kan nggak ada masalah, untuk bahannya sendiri itu hemat, seandainya ini masih ya bisa disimpan, dibekuin. Kalau yang masih beku ini masih bisa dipakai lagi buat besok, Alhamdulillah sejak pegang bakso ini nggak ada kendala,” ujarnya, saat ditemui benerapa waktu lalu.

Yanto juga menjelaskan, bahwa penthol buatannya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet. Menurutnya, hal itu yang membuat pentholnya digemari oleh semua kalangan, termasuk anak-anak hingga orang tua.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

Karena banyaknya pelanggan, setiap hari Yanto memproduksi sebanyak 27 kilogram. Dari produksi tersebut, ia bisa menghasilkan omzet sekitar Rp2 juta per hari.

“Biasanya saya berjualan mulai dari pukul 08.30 hingga 13.30 WIB, di samping SMK N1 Kudus. Setelah itu baru ia pindah berjualan ke MAN1 Kudus,” tambah pria asli Desa Singocandi, Kudus itu.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER