Beranda blog Halaman 1884

Rela Tinggalkan Gaji Gede di Pelayaran, Imam Pilih Rintis Usaha Pembuatan Dandang Agar Dekat Keluarga

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Tangan seorang pria tua bertelanjang dada tampak sedang memegang sebuah alumunium, yang kemudian terlihat dipukul menggunakan martil lonjong dan beberapa kali diputar.Sesekali martil tersebut digosok – gosokkan pada sebuah karet. Pria tersebut adalah Imam (72), perajin dandang di Desa Undaan Tengah Gang 12, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Kepada betanews.id, Imam mengisahkan jika dirinya nekat untuk memutuskan mendirikan usaha kerajinan dandang setelah sekian tahun kerja di pelayaran. Nama usaha dandangnya sendiri diberi lebel Cap Rante Emas.

Dia mengungkapkan, usaha pembuatan dandang tersebut dimulai pada tahun 1974. Sebelumnya, Imam bekerja di kapal pesiar skala internasional selama dua tahun. Menurutnya, kerja di pelayaran gajinya memang lumayan besar. Bahkan hampir tiga kali lipat dari gaji pegawai negeri pada saat itu. Namun hal itu tak lantas membuatnya betah, karena jauh dari keluarga dan jadi buruh orang lain.

“Gaji pelayaran memang lumayan gede, saat itu gajiku Rp 8.500 sebulan. Padahal gaji pegawai negeri pada masa itu hanya Rp 3.000 per bulan. Tapi saya berpikir, gaji memang gede, namun saya akan jauh dari keluarga terus. Apalagi saat itu saya sudah beristri dan sudah dikaruniai dua orang anak,” ungkap pria yang dikaruniai delapan anak tersebut.

Imam mengatakan, setelah berhenti kerja di pelayaran. Dirinya tidak langsung membuka usaha pembuatan dandang. Tapi belajar dulu cara pembuatan dandang dengan ikut pamannya di Jepara selama tujuh bulan. Setelah dirasa mampu membuat aneka dandang dan perabotan rumah tangga yang terbuat dari aluminium, Imam pun mantap buka usaha sendiri di Desa Undaan Tengah Gang 12, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Perabotan yang diproduksi lanjutnya, antara lain dandang berbagai ukuran, wajan, kuali, oven roti, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk harga, dia banderol bervariasi. Untuk dandang dijual antara Rp 85 ribu hingga Rp 1,3 juta per pcs, wajan dihargai kisaran Rp 45 ribu sampai Rp 350 ribu per pcs. Sedangkan kuali ditawarkan antara Rp 850 ribu hingga Rp 1,5 juta per pcs. Semua produknya tersebut diberi merk atau cap Rante Emas.

Pria berkumis tebal itu mengungkapkan, usaha pembuatan dandangnya tersebut pernah mengalami masa jaya pada tahun 1986 hingga tahun 2010. Saat itu, dirinya mempekerjakan sembilan orang. Dan sepekannya dia mampu mengirim puluhan dandang dan aneka perabotan rumah tangga lainnya ke semua pelanggan di Kudus, Pati, Rembang, Semarang dan Pekalongan.

“Pada saat masih jaya, dalam sepekan saya bisa ngirim aneka perabotan rumah tangga yang terbuat dari aluminium sebanyak dua truk. Dan pelanggan saya tidak hanya dari Kudus saja, melainkan juga dari daerah sekitar,” jelasnya.

Dia mengaku, saat ini usaha yang ditekuninya tidak seramai dulu. Walaupun begitu, Imam tetap bersyukur, karena usaha yang ditekuninya puluhan tahun tersebut, dirinya bisa menyekolahkan hingga menguliahkan anaknya. Dan sekarang delapan anaknya tersebut sudah mandiri semua dan punya tempat tinggal serta pekerjaan. Dari delapan anaknya itu, yang tinggal di Kudus hanya empat dan lainnya ada yang buka usaha di Jakarta dan Bali.

“Mungkin karena alasan tersebut, sampai saat ini anak – anakku belum ada yang bersedia meneruskan usahaku ini. Tapi saya tidak tahu nanti dikemudian waktu. Karena sebenarnya, semua anak saya sudah mahir membuat kerajinan dari aluminium,” tutur pria yang sudah dikaruniai 15 cucu tersebut.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Selain Grogi, Ini Penjelasan Finalis Miss Indonesia yang Salah Ucap Soal Menara Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tampak seorang wanita dengan wajah tegang menjawab pertanyaan dari Roby Purba, host acara Miss Indonesia yang disiarkan secara langsung di RCTI pada Kamis (20/2/2020) malam. Wanita itu yakni Alivia Bunga Kurniawan, Finalis Miss Indonesia 2020 yang merupakan wakil dari Provinsi Jawa Tengah. Bunga, begitu dia akrab disapa, berbagi cerita kepada betanews.id melalui voice note tentang kejadian malam itu, terkait dengan Menara Kudus yang disebutnya adalah peninggalan Sunan Kalijaga. Hal ini kemudian menjadi viral, karena Bunga dinilai melakukan kesalahan.

Alivia Bunga Kurniawan. Foto : Instagram Bunga

Sebelumnya, Bunga sudah membuat klarifikasi melalui instastorynya. “Halo semuanya! Terkait pada saat malam puncak, saya benar-benar minta maaf atas kesalahan pengucapan yang saya lakukan. Saya di atas panggung pun tidak menyadari bahwa yg terucap tersebut salah, dan baru menyadarinya setelah saya melihat ulang siarannya, karena maksud hati dan pikiran saya ingin mengucap “WALISONGO”. Dengan segala kerendahan hati, saya meminta maaf atas jawaban yang saya ucapkan, khususnya untuk warga Kudus. Ucapan yang saya ucapkan salah, karena sedang berada di dalam keadaan nervous, sehingga saya tidak menyadarinya. Saya pribadi tetap bangga sudah mewakili JAWA TENGAH di ajang Miss Indonesia, dan lagi saya sudah dapat membawa nama Kudus di hadapan masyarakat Indonesia dan dapat masuk ke dalam 16 besar.Sekali lagi terima kasih atas support dan doanya yang telah diberikan pada saya selama ini, Alivia Bunga”

Pada tahun 2018, Bunga mengikuti ajang Mbak dan Mas Kudus. Setelah terpilih menjadi Mbak Kudus, kemudian dia mewakili Kudus ikut maju ke tingkat Jawa Tengah dan mendapat juara harapan tiga. Kemudian pada bulan Oktober 2019, dia ikut audisi Miss Indonesia.

“Awalnya coba-coba, alhamdulillah dipercaya lagi untuk membawa nama Jawa Tengah,” terang anak pertama dari tiga bersaudara itu, pada Minggu (23/2/2020) malam.

Terkait hal yang ramai dibicarakan, Bunga salah mengatakan Menara Kudus peninggalan Sunan Kalijaga. Dia mengaku grogi. Pikiran Bunga saat itu lebih fokus dengan pertanyan utama. Menurutnya, dia sudah jadi Duta Wisata Kudus dan sudah diberikan pembekalan dasar mengenai Menara Kudus.

“Apalagi setelah itu, saya maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pasti saya lebih digembleng lagi untuk mengenal pariwisata yang ada di Kudus. Jadi nggak mungkin kalau saya tidak tahu Menara Kudus itu peninggalan siapa,” jelas wanita kelahiran Semarang itu.

Bunga juga menceritakan, jika dirinya lahir dan besar di Semarang. Tetapi eyang dari ibunya adalah warga Desa Melati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Buyut Bunga adalah pemilik Rumah Makan Ayam Goreng Kasmini. Dirinya juga sudah lama menjadi Warga Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tempat Sampah Limbah Tali Peti Kemas Nor Laris Manis, Sebulan Bisa Terjual Ribuan

0


BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebelah utara Graha Mustika tepatnya di seberang jalan Pabrik Mulyatex yang berada di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bangunan rumah semi permanen. Di sudut ruangan rumah tersebut terlihat beberapa karung limbah tali peti kemas. Di lantai bangunan tampak potongan tali kemas yang sudah disusun rapi.


Di antara limbah tali peti kemas itu, terlihat seorang pria sedang duduk sambil menganyam untuk dijadikan sebuah keranjang belanjaan. Tempat tersebut yakni sentra kerajinan tali peti kemas bernama ULIK. Usaha ini setiap bulannya mampu menjual ribuan aneka produk anyaman.

Nor Santoso (36), selaku pemilik usaha mengatakan, tempat usahanya tersebut diberi nama ULIK yang merupakan akronim dari Usaha Limbah Ide Kreatif. Dengan memanfaatkan limbah tali peti kemas, dirinya membuat aneka perabotan rumah tangga. Aneka hasil karyanya tersebut diminati banyak orang. Dalam sebulan, dirinya mampu menjual sekitar 1.500 buah produknya. Total itu hanya berupa tempat sampah, belum hasil karya yang lain.

“Selama ini, memang yang paling laris dari produk anyaman tali peti kemas saya ya tempat sampah. Biasanya satu pelanggan sekali pesan tempat sampah itu sampai ratusan buah. Itu satu pelanggan saja, belum pelanggan yang lainnya. Bahkan dua bulan terakhir ini, saya bisa menjual lebih dari 3 ribu buah tempat sampah,” ungkap pria yang akrab disapa Nor kepada betanews.id.

Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu mengatakan, selain para suplier, tempat sampahnya itu juga dipesan oleh pemerintah desa untuk dibagikan kepada warga desa setempat. Hampir desa – desa di Kudus, katanya, pesan tempat sampah terbuat tali peti kemas di tempatnya.

“Saat ini pemerintah itu sedang mengadakan program lingkungan sehat bebas sampah. Alhamdulillah, dengan adanya program tersebut, saya selaku perajin tempat sampah dari limbah peti kemas kebanjiran order, ” kata Nor yang mengaku menjual tempat sampah dengan kisaran harga mulai Rp 25 ribu hingga 50 ribu per buah.

Menurutnya, aneka hasil kerajinan yang terbuat dari limbah peti kemas itu sangat berkualitas, awet bisa sampai 10 tahun. Karena itu, hasil kerajinannya diminati banyak orang. Pemesan tidak hanya dari Kudus saja melainkan juga dari daerah sekitar bahkan sampai luar Jawa. Di antaranya Semarang, Jakarta, Banten, Kalimantan dan Sorong, Papua.

Pria yang sudah dikaruniai dua orang putri itu menuturkan, Selain tempat sampah, dirinya juga memproduksi tas belanja yang dibanderol dengan harga antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Keranjang untuk sepeda motor dijual Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Pot kecil dan pengki dihargai Rp 15 ribu sampai Rp 25 per buah. Selain barang yang disebutnya, Nor juga menerima pesanan untuk meja kursi dan kepang yang terbuat dari tali peti kemas.

“Khusus untuk meja kursi, kepang maupun kerai saya tidak berani nyetok. Karena belum tentu ada peminatnya. Jadi untuk ketiga barang tersebut, saya kerjakan setelah ada pesanannya. Untuk meja kursi, satu set saya banderol Rp 1,7 juta. Sedangkan kepang dan kerai harganya dihitung per meter,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tiongkok Terwabah Corona, Jateng Genjot Promosi Wisata ke Australia dan Eropa

0

BETANEWS.ID, BALI – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan akan menggenjot promosi pariwisata ke Australia dan Eropa. Promosi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan potensi kunjungan wisatawan mancanegara ke Jateng, selain wisatawan dari Tiongkok. Mewabahnya virus corona di Negeri Tirai Bambu tersebut memberi dampak cukup signifikan terhadap kunjungan wisata.

Selain mengoptimalkan wisatawan lokal, kata Ganjar, pencarian pangsa pasar ke negara lain selain Tiongkok memang harus dilakukan. Potensi wisatawan dari negara lain yang selema ini belum digarap harus segera digenjot.

Gubernur Jateng Ganjar Pronowo memberikan pemaparan pada acara pelantikan Pengurus Kagama Bali di Kantor Gubernur Bali, Minggu (23/2). Foto: IST

“Promosi wisata ke eropa, australia dan negara-negara lain harus segera digarap. Potensi-potensi yang selama ini belum digarap serius, memang harus mulai digenjot,” ujar Ganjar saat menghadiri acara pelantikan Pengurus Kagama Bali di Kantor Gubernur Bali, Minggu (23/2).

Promosi wisata ke Autralia dan sejumlah negara di Eropa, kata gubernur dua periode tersebut, bagian dari upaya untuk menjadikan Jateng sebagai Bali baru di Indonesia. Presiden Jokowi telah meminta ada Bali baru di Indonesia, dan Jawa Tengah menjadi salah satu yang ditunjuk, yakni Borobudur.

Penjelasan Gubernur Jateng Ganjar Pronowo tentang sister destinasi.

Selain menggenjot potensi wisata melalui promosi itu, kedatangan Ganjar ke Bali juga merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan Borobudur sebagai destinasi wisata kelas dunia seperti Bali. Ganjar ingin menjadikan Bali sebagai sister destinasi wisata Jateng.

Ganjar menjelaskan, sister destinasi dapat dijadikan panduan antara kedua daerah mengelola pariwisata. “Bali sebagai pusat wisata Indonesia, tentu memiliki banyak ilmu dan pengalaman yang bisa diterapkan di Jateng,” ujar pria berambut putih itu kepada para wartawan.

Sister destinasi akan diwujudkan, lanjut Ganjar, dengan paket-paket kerjasama pariwisata antara kedua daerah. Paket ini selain memudahkan masyarakat mengakses pariwisata, juga bisa menjadi alat promosi efektif untuk menarik wisatawan.

Terlebih lagi, kata Ganjar, di tengah maraknya isu virus corona yang sekarang membuat pariwisata sepi. Pihaknya menawarkan membuat kerjasama pariwisata, Jateng dengan Bali. paket kerjasama antar daerah ini, misalnya Bali dengan Jateng buat paket bersama untuk mengoptimalkan wisatawan lokal.

“Kalau hanya diam dengan kondisi ini sambil menunggu isu corona selesai, mau sampai kapan?” jelas Ganjar.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, selain paket tersebut, kedua pihak bisa bisa memberikan diskon untuk mendongkrak ekonomi agar pariwisata bergeliat. Misalnya Bali dikenal bagus tempat menyelamnya, di Jateng ada Karimunjawa.

“Atau bisa melalui even pariwisata apa yang ada di Bali, bisa diterapkan di Jawa Tengah,” terangnya.

Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra menyambut baik usulan Ganjar. Menurutnya, pengelolaan pariwisata memang harus bersinergi dengan daerah-daerah lain.

- advertisement -

Agar Punya Nilai Jual Lebih, BPP Gembong Pati Adakan Latihan Buat Dodol dari Jeruk Pamelo

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Puluhan, bahkan ratusan Jeruk Pamelo tampak bergelayut pada pohonnya di halaman Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Di dalam balai tampak beberapa orang sedang memperhatikan dua perempuan sedang mengaduk adonan di wajan. Sesekali mereka juga mengabadikan momen tersebut dengan gawai mereka. Kegiatan tersebut merupakan pelatihan membuat dodol dengan bahan dasar kekayaan lokal yakni buah Jeruk Pamelo.

Peserta pelatihan sedang membuat dodol dari Jeruk Pamelo. Foto: Rabu Sipan

Sri Ratnawati (52) selaku Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gembong menuturkan, setiap dua pekan sekali instansinya tersebut mengadakan pelatihan. Entah itu latihan bercocok tanam, merawat tanaman bahkan mengolah hasil pertanian. Dan khusus hari Jumat (14/2/2020) lalu, dirinya bersama temannya mengadakan pelatihan membuat dodol dari Jeruk Pamelo. Karena di Kecamatan Gembong merupakan penghasil Jeruk Pamelo terbaik di Indonesia.

“Menurut saya sih sayang saja ya. Bila Jeruk Pamelo terbaik di Indonesia itu dijual begitu saja di pasaran. Karena itu, kami berinovasi membuat dodol dari Jeruk Pamelo agar bisa menambah nilai jual. Dan otomatis nanti bisa meningkatkan pendapatan bagi para petani Jeruk Pamelo itu sendiri,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ratna kepada betanews.id.

Selain menambah nilai jual, lanjutnya, dengan diolah menjadi dodol masa kedaluwarsanya itu bisa lebih lama. Menurutnya, Jeruk Pamelo jika dijual berupa buah hanya akan bertahan sekitar sebulan. Namun saat diolah menjadi dodol bisa bertahan sampai enam bulan. Oleh sebab itu, dia bersama rekannya mengadakan pelatihan pembuatan dodol dari Jeruk Pamelo. Dengan mengundang nara sumber yang pernah memproduksi Dodol Jeruk Pamelo.

Dia mengatakan, Kecamatan Gembong itu terdapat lebih kurang 37 ribu pohon Jeruk Pamelo. Bila dijaga penyiramannya, maka akan berbuah terus menerus tanpa mengenal musim. Jadi sangat disayangkan jika Jeruk Pamelo tersebut tidak dimanfaatkan agar bisa mempunyai nilai jual lebih. Setelah pelatihan, tuturnya, ilmu tersebut akan diajarkan kepada warga Kecamatan Gembong agar sudi membuat dodol dari Jeruk Pamelo.

“Harapan kami selanjutnya itu semoga masyarakat setempat sudi memproduksi Dodol Jeruk Pamelo. Kemudian Dodol Jeruk Pamelo diminati banyak orang dan syukur – syukur bisa go Internasional,” harap ibu dua anak tersebut.

Kholistiono, selaku nara sumber pelatihan pembuatan Dodol Jeruk Pamelo menambahkan, sebenarnya potensi pasar dodol dari Jeruk Pamelo sangat besar. Itu terbukti saat dirinya memproduksi Dodol Jeruk Pamelo permintaan sangat banyak bahkan sampai kewalahan. Dodol Pamelo produksinya yang dijajakan lewat online itu diminati tidak hanya orang Pati saja, melainkan juga warga daerah luar Pati. Bahkan ada seorang teman yang di Negeri Jiran dan Korea juga ikut pesan.

“Untuk nilai jualnya juga tentu lebih mahal saat sudah jadi dodol. Karena saat berupa buah Jeruk Pamelo harga dari petani di kisaran Rp 17 ribu per kilogram. Tapi saat sudah jadi dodol harganya jadi Rp 60 ribu satu kilogram,” ungkap pria yang akrab disapa Cak Kholis ini.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sangkar Motif Kejawen Paling Diburu Penghobi Perkutut

0

BETANEWS.COM,KUDUS – Segelas kopi terlihat di samping seorang pria yang sedang merakit sangkar burung. Pria itu tak lain adalah Nur Afif (25) perajin sangkar burung anggungan dengan tema Kejawen. Sambil merakit sangkar, pria yang akrab disapa Kinung itu menjelaskan, bahwa sangkar burung bertema Kejawen paling diburu penghobi perkutut.Perbedaan sangkar burung tema Kejawen dengan lainnya adalah terletak pada tiangnya yang bermotif keris.

Kinung sedang menganyam rotan untuk dibuat menjadi sangkar burung. Foto : Ahmad Rosyidi

Selain itu, ada juga motif bambu petuk. Kinung mengungkapkan, jika proses pembuatan produk khusus bertemakan Kejawen ini lebih rumit. Sehingga, dia mematok harga lebih mahal dibandingkan produk-produk biasa.

“Karena ini produk khusus limited edition, jadi saya buat lebih baik dari produk biasanya. Motif Kejawen ini sangat diminati dan diburu penghobi perkutut. Meski saya patok harga jauh lebih mahal, tetap saja ada peminatnya,” terang warga Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu.

Kinung sedang mengerjakan pembuatan sangkar burung anggungan. Foto : Ahmad Rosyidi

Saat membuat sangkar, bagian yang sulit katanya adalah ketika membuat lengkung kubah bagian atas. Ada juga bagian yang paling menjenuhkan, yakni saat merajut rotan, karena butuh ketelitian dan kesabaran. Meski dikerjakan dengan senang hati, menurutnya tetap saja ada saat-saat jenuh. Untuk mengatasinya, biasanya ditinggal sejenak untuk bermain dulu dengan hewan peliharaannya.

Untuk saat ini, sangkar buatannya dijual di daerah Kudus, Jepara, Demak dan Semarang. Dia masih terkendala proses pengiriman jika memasarkan secara online, karena kena berat volume sehingga ongkos kirimnya mahal. Sementara ini, media sosial yang digunakan baru Facebook saja, dan pembelinya orang sekitar daerah Kudus.

Perajin sangkar itu, mengaku sejak kecil memang sudah suka memelihara hewan. Ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan hewan, dia akan merasa senang. Saat ini, selain memelihara burung perkutut, dia juga memelihara luwak. Menurutnya, bermain dengan hewan bisa membuat pikiran menjadi segar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Turyati Khawatir dan Cemas Lihat Ketinggian Air Sungai Wulan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Air Sungai Wulan yang melintasi Kecamatan Undaan terlihat hampir memenuhi tanggul. Puluhan warga terlihat berdiri di atas tanggul untuk melihat debit air. Di antara mereka yakni Turyati (32), warga Undaan Lor Gang 18 yang merasa cemas dengan meningginya air Sungai Wulan.

Warga bergotong royong mengangkut tanah untuk meninggikan tanggul. Foto: Rabu Sipan

Turyati mengatakan, dirinya sangat was – was dan cemas. Dia khawatir, ketinggian air Sungai Wulan terus meninggi sehingga bisa melimpas atau bahkan menjebol tanggul. Soalnya, jika melimpas atau tanggul Sungai Wulan jebol, otomatis rumahnya dan seluruh warga Undaan Lor akan kebanjiran. Apalagi saat ini juga masih gerimis terus.

Kondisi debit air di Bendungan Wilalung pada Sabtu (20/02/2020) sore. Foto : Rabu Sipan

“Situasi saat ini hampir sama dengan tahun 2007. Saat itu air Sungai Wulan juga meninggi dan menjebol tanggul yang berada di Desa Undaan Kidul, hingga berakibat banjir. Semoga air Sungai Wulan segera surut,” ujar perempuan yang akrab disapa Yati.

Tak jauh dari tempat Turyati berdiri, tampak puluhan warga sedang memasukkan tanah ke dalam karung. Setelah karung terisi setengah, kemudian tanah tersebut diangkut menggunakan motor untuk meninggikan tanggul Sungai Wulan.
Mengenai kegiatan warga tersebut, Rifa’i (53), selaku Camat Undaan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kerja bakti untuk meninggikan tanggul Sungai Wulan.

Menurutnya, kerja bakti tersebut dimulai sejak pagi sampai sore, Sabtu (22/02/2020), dan diikuti oleh lintas inti kecamatan. Juga ada P3A Desa Undaan Lor dan Desa Wates. Seluruh lapisan masyarakat dan beberapa relawan dari Banser dan lainnya. Untuk meninggikan tanggul, lanjutnya, sudah menghabiskan tanah sebanyak tujuh dam truk dan 700 karung sak.

“Tanggul Sungai Wulan sudah kami anggap rawan jebol. Namun karena tanggul Sungai Wulan merupakan kewenangan BBWS Juana, jadi kami beserta lapisan masyarakat mencoba meninggikan tanggul dengan cara tradisional,” ujar Rifa’i.

Sedangkan pantauan di Bendungan Wilalung, tampak debit air sudah hampir rata dengan tanggul. Tapi menurut data dari Rumah Jaga Pintu Banjir Wilalung, saat ini ketinggian debit air turun dari pada kemarin. Dari data tertulis, pada Jumat (21/02/2020), ketinggian air Bendungan Wilalung di angka 833 ribu meter kubik per detik. Sedangkan hari ini, Sabtu ( 22/ 02/2020), ketinggian air di 596 ribu meter kubik per detik.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Rumah Rusak Akibat Banjir, Paini Berharap Secepatnya Dapat Bantuan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Setelah dua hari paska bencana banjir di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tampak beberapa warga sibuk membersihkan rumah. Beberapa dari mereka terlihat menjemur kasur yang basah terendam banjir. Ada juga yang menjemur sofa, pakaian, buku – buku pelajaran dan perabotan lainnya. Tak jauh dari tanggul jebol, tampak rumah warna hijau tanpa teras. Di belakang rumah terlihat perempuan renta sedang mencuci. Perempuan tersebut yakni Paini (64), yang rumahnya rusak akibat terjangan banjir.

Beberapa warga Desa Kesambi terlihat sedang menjemur kasur usai rumahnya diterjang banjir. Foto: Rabu Sipan

Paini mengungkapkan, banjir yang melanda desanya pada Kamis (20/02/2020) lalu telah mengakibatkan rumahnya rusak. Kerusakan rumahnya lumayan parah, yakni teras hampir roboh dan lantai terasnya rusak parah. Menurutnya, dari pada roboh, akhirnya atap teras rumah Paini dibongkar. Paini berharap secepatnya mendapatkan bantuan untuk perbaikan rumah.

Alat berat dikerahkan untuk memperbaiki tanggul sementara. Foto : Rabu Sipan

“Rumah saya rusak parah akibat terjangan arus banjir. Saya berharap dapat bantuan agar bisa membangun teras lagi,” harap Paini, warga RT 01 RW 05, Desa Kesambi, kepada betanews.id.

Senada dengan Paini, Agus Mintoyo (34) warga RT 03 RW 01, Desa Kesambi mengaku, rumahnya juga rusak akibat banjir yang melanda desanya. Dia juga berharap dapat bantuan dari pemerintah atau dinas terkait untuk perbaikan rumahnya. Menurutnya, rumahnya itu berhadapan langsung dengan tanggul yang jebol. Akibatnya arus air bah dari Sungai Piji membuat dinding rumahnya retak di beberapa bagian.

“Akibat terjangan air bah dari tanggul Sungai Piji yang jebol, dinding rumah saya pada retak. Retaknya cukup lebar dan panjang. Terutama rumah bagian atas. Kalau memang ada bantuan, saya berharap dapat bantuan agar secepatnya bisa memperbaiki bagian yang rusak tersebut. Ngeri takutnya roboh, kalau ada hujan disertai angin kencang,” harap pria yang akrab disapa Agus.

Ditemui terpisah, Muhammad Masri selaku Kepala Desa Kesambi mengatakan, pihaknya tetap memikirkan warganya yang rumahnya rusak akibat banjir. Dia berharap sumbangan untuk warganya bisa dibackup dengan dana desa. Tapi kalau tidak bisa, dia bersama jajarannya akan mencarikan sumbangan, kemungkinan ke Dinas Sosial.

“Intinya saya memikirkan warga saya yang rumahnya rusak. Dan berniat mecarikan sumbangan. Saya juga mohon maaf kalau sumbangan itu tidak bisa secepatnya,” ujar pria yang akrab disapa Masri.

Dia menambahkan, sedang untuk tanggul yang jebol, yang sementara ditutup karung berisi tanah itu akan secepatnya dibangun. “Kemarin Pak Gubernur juga datang meninjau. Beliau berkata secepatnya tanggul yang jebol akan segera dibangun lagi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Harus Inden untuk Bisa Miliki Sangkar Burung Anggungan Buatan Kinung

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Tumpukan bambu tampak berserakan di sebuah rumah di Desa Jepang Wetan RT 04, RW 05, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Terlihat seorang pria sedang menghaluskan bambu yang digunakan untuk membuat sangkar burung. Dia adalah Nur Afif (25), seorang perajin sangkar burung anggungan. Sambil membuat sangkar, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya.

Nur Afif sedang membuat kerajinan sangkar burung anggungan dari bambu. Foto : Ahmad Rosyidi

Pria yang akrab disapa Kinung itu mengungkapkan, bahwa konsumen perlu inden dua pekan terlebih dahulu jika ingin memiliki sangkar buatannya. Selain karena proses pembuatan yang membutuhkan waktu tiga hari, dia juga harus memenuhi pesanan dari pengepul dari Semarang yang rutin memesan sangkar buatannya.

“Dalam satu bulan, saya bisa memproduksi sekitar 10 hingga 15 sangkar. Untuk membuat satu sangkar ini butuh waktu lebih kurang tiga hari. Tapi karena mengerjakannya bertahap dan langsung beberapa sangkar, jadi biasanya saya minta waktu dua pekan,” terang pria kelahiran Demak itu.

Sangkar buatan Kinung dijual dengan harga mulai Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Sebelumnya, pada 2016 dia mengawali usaha memproduksi sangkar kicauan. Karena bahan baku yang sulit didapat, akhirnya pada 2018 dia beralih ke produk sangkar anggungan.

Menurutnya, sangkar kicauan lebih mudah dibuat, satu hari minimal dua sangkar. Karena menggunakan bahan berkualitas dari kayu jati membuatnya kesulitan mencari bahan. Berbeda dengan sangkar anggungan, bahan dasarnya dari bambu wulung yang mudah didapat.

“Meski bahan dasarnya lebih mudah didapat, tapi proses pembuatannya lebih rumit. Terutama membuat bagian kubah atasnya, membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Jika lengkungnya miring, saya harus membongkar dan mengulang dari awal,” jelasnya.

Untuk aksesoris sangkar anggungan buatanya, dia hanya menambah manik-manik tasbih dan rajutan rotan yang menjadi ciri khasnya. Ada juga sangkar yang dia jadikan produk khusus dengan tema kejawen, dengan motif keris dan bambu petuk. “Khusus sangkar tema kejawen, ini sengaja saya buat limited edition, tentu saya buat lebih maksimal karena harganya juga lebih mahal,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Warga Kesambi ke Ganjar, ‘Banjirnya Sedada Pak, Kami Tidak Bisa Tidur di Rumah’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi korban banjir di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus.

BETANEWS.ID, KUDUS – Hiruk-pikuk warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, mulai tampak sejak pagi, Jumat (21/2/2020). Sebagian di antara warga terlihat sibuk menambal tanggul Sungai Piji menggunakan bambu. Sebagian yang lain tampak membersihkan sampah.

Sehari sebelumnya, tanggul di Desa Kesambi jebol akibat diterjang banjir. Hujan yang turun semalaman hingga keesokan harinya membuat debit air sungai meningkat hingga melimpas ke jalan dan perkampungan. Hal itu juga diperburuk adanya sampah yang menumpuk di bawah jembatan menghambat laju aliran sungai.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berbinjang dengan warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo. Foto: IST

Baca juga: Tanggul Sungai Piji Jebol Akibat Banjir, Warga Kesambi Kudus Tak Sempat Selamatkan Barang Berharga

Namun tak sedikit warga yang tetap di posko pengungsian karena rumah mereka masih tergenang. Mendengar kabar jebolnya tanggul Sungai Piji, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo segera datang ke lokasi pengungsian, kemarin. Selain melihat lokasi jebolnya tanggul dan berkeliling desa menggunakan sepeda motor, pria berambut putih itu menyempatkan dahulu menyambangi warga di posko pengungsian.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama rombongan mengecek jebolnya tanggul Sungai Piji. Foto: IST

“Semua sehat?ada yang sakit tidak. Semua sudah makan kan?” sapa Ganjar pertama kali saat melihat para pengungsi.

Kedatangan Ganjar seperti obat bagi 69 warga yang mengungsi. Kepada pria berambut putih itu, warga bercerita bagaimana saat limpasan air Sungai Piji membanjiri rumah mereka.

“Sedada pak, semua basah. Tidak bisa tidur di rumah. Alhamdulillah sekarang sudah surut,” kata Sukini,47, salah satu warga.

Tanggul Sungai Piji jebol, rumah warga Desa Kesambi tergenang.

Menurut Sukini, Banjir terjadi mendadak karena tanggul sungai jebol. Ia bersama warga lain langsung dilarikan untuk mengungsi. “Takut, soalnya sebelumnya tidak pernah banjir seperti ini,” terangnya.

Ganjar dengan telaten mendengarkan cerita para pengungsi. Ia pun sesekali menghibur mereka dengan candaan-candaan yang membuat ger-geran.

“Yang penting sehat. Tanggulnya nanti segera diperbaiki. Kalau ada yang sakit, langsung minta diperiksa,” pinta Ganjar.

Usai melihat pengungsi, Ganjar melihat kondisi tanggul yang jebol menggunakan sepeda motor. Di lokasi, ia senang karena warga bergotong royong bersama TNI/Polri, BPBD serta relawan untuk membuat tanggul darurat dari kantong sak.

“Alhamdulillah tanggul darurat sudah dibuat, nanti kami segera permanenkan. Yang penting pengungsinya dulu. Kedatangan saya ke sini untuk memastikan pengungsi aman, logistik ada, obat-obatan ada, dapur umum ada dan sebagainya,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, sedimentasi di sungai Piji memang sudah tinggi. Untuk itu, pihaknya meminta agar BBWS segera melakukan pengerukan sedimentasi.

Baca juga: Sampah dan Pendangkalan Sungai Disebut Jadi Penyebab Banjir di Kesambi

Saat ditanya upaya normalisasi sungai, Ganjar mengatakan itu hal yang bisa dilakukan. Namun untuk jangka panjang, hal yang harus dilakukan adalah reboisasi, mengembalikan fungsi kawasan hulu agar lebih baik.

“Normalisasi, pengerukan sedimentasi itu hanya jangka pendek. Kita harus bicara jangka panjang, dengan menanam di kawasan atas. Mau bicara normalisasi tidak akan pernah cukup kalau hulunya rusak,” pungkasnya.

Selain di Kudus, Ganjar juga memantau beberapa titik banjir lainnya. Diantaranya di Pemalang, Pekalongan dan Batang.

Editor: Suwoko

- advertisement -

David Wujudkan Impian jadi Superhero Lewat Usaha Pembuatan Cosplay

0


BETANEWS.ID,KUDUS – Sejumlah potongan busa terlihat di sebuah ruang tamu, tampak seorang pria sedang menempel busa di bagian dada kaus. Dia adalah David Setya Pambudi (27) seorang pembuat cosplay, yang merupakan warga Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. David sapaan akrabnya sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usaha produksi cosplaynya.

David bersama temannya sedang membuat cosplay. Foto : Ahmad Rosyidi

Usaha yang dirintis sejak tahun 2014 itu sudah dipasarkan hingga luar negeri. Dia juga menjelaskan jika produknya itu sudah dikirim ke berbagai negara seperti Inggris, Amerika, Brazil, Malaysia, dan Singapura. David juga mengungkapkan, hal tersebut tidak selalu berjalan lancar, ada juga pengalaman kehilangan barang saat mengirim ke Brazil.

“Cosplay yang saya kirim ke luar negeri juga pernah hilang tidak sampai tujuan. Saat itu, saya kirim ke Brazil, kemudian kita ambil jalan tengah dengan pengembalian uang 30 persen. Pengalaman tersebut tidak membuat saya lantas kapok dan itu buat pembelajaran. Kemudian, saya mencari jasa pengiriman lain yang lebih baik,” terangnya, Kamis (6/2/2020).

Sambil merapikan potongan busa, David melanjutkan ceritanya tentang awal dimulai usaha membuat cosplay itu. Sejak kecil dia memang mengidolakan tokoh-tokoh superhero di film. Hal tersebut membuatnya termotivasi untuk membuat kostum untuk dipakainya.

“Berawal dari masa kecil kurang bahagia, saya ingin bertemu superhero yang saya idolakan sejak kecil. Akhirnya sekarang saya malah bisa menjadi superhero seperti tokoh idola saya. Saya belajar membuat cosplay secara autodidak mulai tahun 2013. Selain itu juga ikut belajar dari teman-teman komunitas cosplay di Jakarta, Jogja, Tegal dan Solo,” ungkapnya.

Untuk membuat satu cosplay, David membutuhkan waktu sekitar dua pekan hingga satu bulan. Harga cosplaynya mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta, menyesuaikan tingkat kerumitan dan bahan yang dibutuhkan. Dia mematok harga setelah pemesan mengirim gambar dan ukuran, kemudian dia baru membuat perkiraan harga.

Bahan dasar cosplaynya adalah spon ati dan busa kasur, kemudian dilapisi latex atau silikon. “Proses yang paling lama di bagian pembuatan detailnya. Saat ini saya sedang membuat cosplay untuk persiapan lomba Indonesia Cosplay Grand Prix (ICGP) bulan Maret 2020 mendatang. Saya membuat tokoh kartun Dragon Ball, yaitu Son Goku dan Frieza,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Utamakan Rasa, Puluhan Tahun Zumrotun Pertahankan Tempe Bungkus Daun Jati

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Di dalam sebuah rumah berdinding bata merah tampak beberapa orang sedang sibuk. Terlihat dua orang paruh baya, pria dan wanita sedang memasukan kedelai ke dalam cetakan yang dialasi daun pohon Jati. Di sudut lain, tampak seorang perempuan tua sedang duduk merapikan sekaligus memotong pangkal daun jati. Di ruangan lain, terlihat seorang perempuan mengenakan jilbab sedang mengecek stok kedelai. Perempuan tersebut yakni Zumrotun (44), pemilik usaha pembuatan tempe.

Produksi tempe di tempat Zumrotun yang menggunakan bungkus daun jati. Foto : Rabu Sipan

Dia mengungkapkan, mulai usaha pembuatan tempe pada tahun 1997. Dari dulu sampai sekarang, dirinya lebih memilih mempertahankan produk tempe miliknya dengan bungkus daun Jati. Karena, menurutnya itu merupakan warisan leluhurnya.

Mulai eyang dan orang tuanya, dulunya merupakan pembuat tempe dengan bungkus daun jati. Selain itu, tempe bungkus daun jati lebih diminati banyak orang karena rasanya lebih gurih dibanding tempe dengan bungkus lainnya.

Lembaran-lembaran daun jati yang bakal digunakan untuk membungkus tempe. Foto : Rabu Sipan

“Saya membuat tempe itu sudah puluhan tahun. Sejak awal membuat tempe saya memang menggunakan daun jati sebagai bungkusnya. Itu saya lakukan agar bisa menjaga cita rasa tempe yang gurih dan sekaligus menjaga resep warisan leluhur. Bahwa tempe buatan keluarga kami ya dibungkus daun jati,” jelas perempuan yang akrab disapa Jum kepada betanews.id

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengatakan, sebenarnya sebelum memutuskan memproduksi tempe sendiri, dirinya terlebih dahulu berjualan tempe di pasar selama tiga tahun. Saat berjualan, dia mengaku masih lajang. Setelah menikah, orang tuanya menyarankan agar memproduksi tempe sendiri agar bisa mendapatkan keuntungan lebih. Saran orang tuanya pun diiyakan sama Jum.

“Setelah mendapat nasihat dari orang tua, saya mantap mulai usaha pembuatan tempe bungkus daun jati. Kemudian, saya pun ikut koperasi desa dan mendapatkan pinjaman beberapa karung kedelai impor dari Amerika,” katanya.

Perempuan yang telah dikaruniai tiga orang putri itu menceritakan, pada awal mulai usaha pembuatan tempe lancar – lancar saja. Tempa hasil karyanya bagus dan diminati banyak orang. Tapi setelah usahanya berjalan lima tahun, tepatnya setelah anak keduanya lahir, tempe yang diproduksinya mengalami masalah. Bahkan bisa dibilang gagal produksi, karena tempe yang dibuatnya tidak layak jual.

Saat itu, lanjutnya, dia dan suami sangat kebingungan karena kedelai yang digunakan juga sama. Tapi kenapa tempe yang diproduksinya tetap gagal dan hasilnya pun dibuang. Dan hal itu berulang sampai 15 hari. Sampai orang tua Jum memberi nasihat untuk berhenti produksi dulu dan bersantai sejenak menenangkan pikiran.

“Ternyata manjur nasihat orang tua saya. Setelah istirahat tiga hari bersantai dan menenangkan pikiran, kami pun mulai membuat tempe bungkus daun jati dan hasilnya bagus sesuai harapan. Aku pun menyimpulkan, mungkin membuat tempe itu tidak boleh kemrungsung,”ungkapnya sambil tersenyum.

Jum mengatakan, setelah kejadian tersebut, sampai sekarang usaha pembuatan tempe bungkus daun jati berjalan lancar. Tempe yang diproduksinya pun beragam ukuran serta dijual mulai Rp 3 ribu sampai Rp 20 ribu.

Menurutnya, tempe bungkus daun jati miliknya lumayan diminati dan dia pun mengaku saat ini sudah punya banyak pelanggan. Sedangkan untuk memasarkan tempe hasil produksinya, Jum bersama suaminya berjualan di Pasar.

“Saat ini, untuk produksi kami percayakan pada karyawan yang berjumlah lima orang. Sedang saya dan suami memasarkan hasil produksi tempe daun jati di Pasar Wates, Pasar Wage, dan Pasar Babalan Kalirejo,” jelas Jum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Produk Genting Jumiati Ngembalrejo Beri Garansi Sepuluh Tahun

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan paruh baya mengenakan kaus sebuah partai terlihat sedang mengambil tanah liat di sebuah tempat pembuatan genting yang berada di Dukuh Ngetuk, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.Tanah tersebut kemudian ditaruhnya di tatakan alat pres.

Tak berapa lama, datang perempuan seusianya menaiki sepeda dengan mengenakan kerudung dan membawa kantong plastik. Saat turun, dia membagikan bungkusan nasi kepada beberapa orang yang berada di lokasi tersebut. Perempuan itu adalah Jumiati, pemilik usaha genting yang ia rintis puluhan tahun lalu.

Jumiati menunjukkan genting yang diproduksinya. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Jumiati menuturkan, kisah perjuangannya bersama sang suami merintis usaha genting tersebut. Usaha genting miliknya, katanya dirintis sejak awal nikah, tepatnya pada tahun 1984. Karena sebelum menikah dia dan suami masih kerja jadi kuli pembuat genting milik warga keturunan Tionghoa.

Tumpukan genting di tempat usaha milik Jumiati di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Foto : Rabu Sipan

“Sebelum nikah, aku sama calon suamiku nguli di tempatnya orang Cina. Dan itu lumayan lama. Karena ingin kehidupan yang lebih baik lagi setelah menikah, maka kami memutuskan untuk buka usaha pembuatan genting sendiri,” ungkap ibu dari tiga anak.

Menurutnya, untuk mengawali usaha produksi genting, Jumiati dan suaminya mengeluarkan modal sekitar Rp 5 juta. Uang tersebut dia gunakan untuk membeli tanah pekarangan dan bahan untuk pembuatan genting. Dia bersyukur, genting hasil produksinya diminati banyak orang, sehingga usahanya bisa berkembang.

Jumiati menjelaskan, di tempat pembuatan genting miliknya tersebut, bisa memproduksi ribuan genting setiap harinya. Tempatnya sendiri mampu menampung genting basah sekitar 50 ribu genting. Sedangkan untuk jenis genting yang diproduksi ada tiga macam, yakni mantili, kodokan dan mantili kecil.

“Untuk harga genting, kami jual dengan harga bervariasi. Untuk genting mantili besarkami jual Rp 2 juta per 1.000 buah, sedangkan kodokan dan mantili kecil kami jual Rp 1,5 juta per 1.000 buah,” ungkapnya.

Dirinya menegaskan, genting yang diproduksinya bergaransi. Untuk durasi garansinya adalah selama sepuluh tahun. Sedangkan klaim kerusakan, jumlahnya harus di atas sepuluh.

“Setiap orang yang membeli genting, jumlahnya kami lebihi 10 genting. Jadi klaim kerusakan, jumlahnya juga harus lebih dari sepuluh dan masa lamanya jangan lebih dari 10 tahun,” jelas Jumiati.

Jumiati mengatakan, genting yang diproduksinya itu diminati banyak orang. Bahkan pelanggannya tidak hanya dari Kudus saja, melainkan juga dari kabupaten tetangga. Dia pun bersyukur, usaha yang dirintis puluhan tahun itu sekarang sudah ada hasilnya.

“Saya bersyukur, usaha genting yang kami rintis puluhan tahun sudah ada hasilnya. Kami bisa menguliahkan anak, beli beberapa bidang tanah, dan yang paling kami syukuri, Insya Allah pada 2024 nanti, saya dan suamiku berangkat ke tanah suci,” ucapnya sambil tersenyum sumringah.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Industri Pandai Besi yang Kian Ditinggalkan Generasi Muda

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Seorang pria tampak menyeka keringat sambil beristirahat di sebuah tempat produksi kunci besi dan linggis. Dia adalah Runji Hartono (49), seorang pandai besi warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Saat bersistirahat, pria yang akrab disapa Runji itu berbagi cerita kepada betanesw.id tentang usaha pandai besi yang kini sudah tidak diminati generasi muda.

Menurutnya, generasi muda kini lebih memilih kerja di pabrik dari pada mengikuti jejak orang tuanya menjadi pandai besi. Dia mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar, tetapi saudara-saudaranya enggan diajak untuk ikut membuat kunci besi dan linggis.

Runji Hartono sedang membuat kunci besi. Foto:Ahmad Rosyidi

“Saudara-saudara saya sudah tidak berminat untuk saya ajak. Sedangkan kedua anak saya semuanya adalah perempuan, jadi ya tidak bisa mengikuti jejak saya. Bapak saya dulu juga tukang pandai besi, memproduksi palu,” ungkapnya, Senin (3/1/2020).

Sebelum membuka usaha sendiri, Runji pernah menjadi karyawan pandai besi. Dia juga pernah menjadi kuli bangunan dan kuli panggul, tetapi menurutnya pekerjaan yang paling bisa dinikmati adalah menjadi tukang pandai besi.

“Sudah mencoba beberapa pekerjaan, tetapi saya lebih bahagia menjadi tukang pandai besi. Pekerjaan ini cukup berat, tetapi saya merasa cocok dan bahagia mengerjakannya,” pungkasnya.

Sulaeman Slamet, Kepala Desa Hadipolo juga menambahkan, jika pekerjaan menjadi tukang pandai besi kurang diminati para pemuda di desanya. Meski jenis produk yang dibuat terus ada inovasi, tetapi ada sejumlah pengusaha yang tutup. Dalam hal ini, pihaknya akan terus mendukung usaha industri rumahan itu, apalagi sudah menjadi ciri khas Desa Hadipolo.

“Secara produk, di sini ada inovasi, tetapi untuk menghadapi persaingan pasar dengan barang-barang ekspor, kami merasa kesulitan. Seperti gunting, harga di sini kisaran Rp 30 ribu hingga 100 ribu, sedangkan gunting dari luar hanya belasan ribu saja,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sampah dan Pendangkalan Sungai Disebut Jadi Penyebab Banjir di Kesambi

0


BETANEWS.ID,KUDUS – Hujan mengguyur Kota Kretek beberapa hari ini. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Kudus. Satu di antaranya di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo. Sungai Piji yang membelah Desa Kesambi terlihat airnya meluap pada Kamis (20/02/2020). Beberapa jembatan penghubung juga tampak terendam. Di jembatan tiga, tampak tumpukan sampah sepanjang 20 meter. Sampah tersebutlah yang dianggap biang kerok terjadinya banjir.

Warga sedang membersihkan tumpukan sampah di Sungai Piji. Foto :Rabu Sipan

Sutedjo, Anggota DPRD Kudus dan juga warga Desa Kesambi mengaku sampah memang menjadi satu di antara penyebab banjir. Tapi selain sampah hal yang perlu diperhatikan juga adalah Sungai Piji yang mengalami pendangkalan. Curah hujan juga terlalu tinggi serta beberapa jembatan yang kontruksinya itu kuno, karena masih menggunakan tiang penyangga di tengah. Akibatnya, hal itu menghambat laju air sungai mengalir dan menjadi bertumpuknya sampah.

Air Sungai Piji melimpas ke permukiman warga Desa Kesambi. Foto : Rabu Sipan

“Sebenarnya masalah banjir di desa kami itu sudah sangat kompleks ya. Ada sampah, pendangkalan sungai, serta tiang penyangga jembatan. Sehingga kalau curah hujan tinggi, air Sungai Piji bisa meluap serta menjebol tanggul sungai. Ya seperti sekarang ini, tanggul Sungai Piji Jebol dan banjir. Dan ini terjadi setiap tahun,” jelas Suteja kepada betanews.id

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Kudus bersedia untuk melakukan normalisasi Sungai Piji, serta merenovasi jembatan penyeberangan sungai. Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Kepala Desa Kesambi Muhammad Masri menambahkan, sebenarnya untuk urusan sampah itu bukan dari warganya. Melainkan sampah kiriman dari daerah atas. Soalnya, dia bersama jajarannya selalu mengimbau warganya untuk tidak buang sampah sembarangan. Terutama jangan buang sampah ke sungai.

“Bisa dicek kok, sampah yang menumpuk itukan bambu dan kayu banyak menumpuk di jembatan tiga. Itu sampah kiriman semua,” ujar pria yang akrab disapa Masri tersebut.

Dia mengatakan, warga Kesambi yang menjadi korban banjir sementara ini ada seribu kepala keluarga atau sekitar 300 rumah. Sedangkan saat ini jajaran pemerintah desa dibantu dinas terkait sudah mengevakuasi para warga yang kebanjiran untuk diungsikan di tempat yang telah ditentukan.

“Saat ini rumah yang kebanjiran kurang lebih 300 rumah. Tapi lihat nanti ya soalnya banjirnya ini makin meluas. Tapi kami sebagai pemerintah desa sudah menyiapkan posko banjir, menyediakan obat – obatan, serta sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk warga semua,” ungkap Masri yang masih mengenakan jas hujan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -