BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebelah utara Graha Mustika tepatnya di seberang jalan Pabrik Mulyatex yang berada di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bangunan rumah semi permanen. Di sudut ruangan rumah tersebut terlihat beberapa karung limbah tali peti kemas. Di lantai bangunan tampak potongan tali kemas yang sudah disusun rapi.

Nur Santoso sedang mengayam tali peti kemas untuk dibuat tempat sampah. Foto:Rabu Sipan 
Produk tempat sampah dari tali peti kemas buatan Nur Santoso. Foto:Rabu Sipan
Di antara limbah tali peti kemas itu, terlihat seorang pria sedang duduk sambil menganyam untuk dijadikan sebuah keranjang belanjaan. Tempat tersebut yakni sentra kerajinan tali peti kemas bernama ULIK. Usaha ini setiap bulannya mampu menjual ribuan aneka produk anyaman.
Nor Santoso (36), selaku pemilik usaha mengatakan, tempat usahanya tersebut diberi nama ULIK yang merupakan akronim dari Usaha Limbah Ide Kreatif. Dengan memanfaatkan limbah tali peti kemas, dirinya membuat aneka perabotan rumah tangga. Aneka hasil karyanya tersebut diminati banyak orang. Dalam sebulan, dirinya mampu menjual sekitar 1.500 buah produknya. Total itu hanya berupa tempat sampah, belum hasil karya yang lain.
“Selama ini, memang yang paling laris dari produk anyaman tali peti kemas saya ya tempat sampah. Biasanya satu pelanggan sekali pesan tempat sampah itu sampai ratusan buah. Itu satu pelanggan saja, belum pelanggan yang lainnya. Bahkan dua bulan terakhir ini, saya bisa menjual lebih dari 3 ribu buah tempat sampah,” ungkap pria yang akrab disapa Nor kepada betanews.id.
Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu mengatakan, selain para suplier, tempat sampahnya itu juga dipesan oleh pemerintah desa untuk dibagikan kepada warga desa setempat. Hampir desa – desa di Kudus, katanya, pesan tempat sampah terbuat tali peti kemas di tempatnya.
“Saat ini pemerintah itu sedang mengadakan program lingkungan sehat bebas sampah. Alhamdulillah, dengan adanya program tersebut, saya selaku perajin tempat sampah dari limbah peti kemas kebanjiran order, ” kata Nor yang mengaku menjual tempat sampah dengan kisaran harga mulai Rp 25 ribu hingga 50 ribu per buah.
Menurutnya, aneka hasil kerajinan yang terbuat dari limbah peti kemas itu sangat berkualitas, awet bisa sampai 10 tahun. Karena itu, hasil kerajinannya diminati banyak orang. Pemesan tidak hanya dari Kudus saja melainkan juga dari daerah sekitar bahkan sampai luar Jawa. Di antaranya Semarang, Jakarta, Banten, Kalimantan dan Sorong, Papua.
Pria yang sudah dikaruniai dua orang putri itu menuturkan, Selain tempat sampah, dirinya juga memproduksi tas belanja yang dibanderol dengan harga antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Keranjang untuk sepeda motor dijual Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Pot kecil dan pengki dihargai Rp 15 ribu sampai Rp 25 per buah. Selain barang yang disebutnya, Nor juga menerima pesanan untuk meja kursi dan kepang yang terbuat dari tali peti kemas.
“Khusus untuk meja kursi, kepang maupun kerai saya tidak berani nyetok. Karena belum tentu ada peminatnya. Jadi untuk ketiga barang tersebut, saya kerjakan setelah ada pesanannya. Untuk meja kursi, satu set saya banderol Rp 1,7 juta. Sedangkan kepang dan kerai harganya dihitung per meter,” jelasnya.
Editor : Kholistiono

