Kolaborasi Eksekutif dan Legislatif Perkuat Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Kudus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah daerah dan DPRD. Kolaborasi ini diwujudkan melalui peninjauan langsung ke warga penerima bantuan sosial pada Rabu (6/5/2026).

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kudus, Valerie Yudistira Pramudya, bersama Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton turun langsung ke lapangan. Mereka sekaligus menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada warga yang masuk kategori sangat miskin.

Kegiatan tersebut tidak hanya sebatas penyaluran bantuan, tetapi juga untuk melihat kondisi riil masyarakat. Fokus utama peninjauan adalah memastikan validitas data desil 1, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

-Advertisement-

Valerie menyampaikan bahwa dari hasil tinjauan masih ditemukan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya terkait sinkronisasi data kemiskinan agar bantuan pemerintah benar-benar tepat sasaran.

“DPRD Kudus dan pemerintah daerah mendorong evaluasi ulang data tersebut. Penyelarasan akan dilakukan dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial RI,” ujarnya.

Valerie menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan ekstrem tidak cukup dilakukan secara administratif. Menurutnya, kebijakan harus berbasis kondisi nyata di lapangan.

“Kami ingin memastikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak terlewat dari program bantuan pemerintah. Karena itu, sinkronisasi data menjadi sangat penting agar kebijakan tepat sasaran,” tegasnya.

Baca juga : Miris, Satu Keluarga di Kudus Bertahan Hidup di Emperan Sempit dan Bau

Sementara itu, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Penanganan kemiskinan ekstrem dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Ia menyebut bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar angka statistik, tetapi juga menyangkut kualitas hidup masyarakat yang harus diperjuangkan bersama.

“Selain mendengarkan keluhan warga, tim juga melakukan identifikasi berbagai persoalan sosial, mulai dari kondisi tempat tinggal, akses layanan kesehatan, hingga keberlanjutan bantuan sosial,” ujar Bellinda.

Sinergi antara eksekutif dan legislatif diharapkan mampu mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem. Pemerintah daerah pun optimistis target pengurangan kemiskinan ekstrem di Kudus dapat tercapai secara maksimal.

Diberitakan sebelumnya, satu keluarga di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terpaksa tinggal di emperan rumah tetangga dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Selain sempit, tempat tinggal tersebut juga terdapat kubangan air bekas cucian yang mengeluarkan bau tidak sedap.

Keluarga tersebut terdiri atas Sutinah (49), suaminya Sulatin, serta anak semata wayang mereka yang masih duduk di bangku SMP.

Bau menyengat langsung tercium saat memasuki tempat tinggal mereka. Emperan tersebut disulap seadanya agar dapat digunakan sebagai tempat berteduh.

Ukuran tempat tinggal itu hanya sekitar 1 x 6 meter. Dindingnya terbuat dari terpal, sementara atapnya sederhana dan kerap bocor saat hujan turun.

Lantainya masih berupa tanah. Tepat di pintu masuk terdapat kubangan air berwarna hitam pekat yang berasal dari sisa cucian.

Kondisi di dalamnya sempit dan pengap. Perabotan sangat terbatas, dengan tempat tidur seadanya yang digunakan bersama.

Sutinah mengaku sudah enam tahun tinggal di lokasi tersebut. Kondisi itu terjadi sejak suaminya jatuh sakit dan tidak lagi bisa bekerja.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER