Beranda blog Halaman 1885

Tanggul Sungai Piji Jebol Akibat Banjir, Warga Kesambi Kudus Tak Sempat Selamatkan Barang Berharga

0
Bencana banjir yang melanda Desa Kesambi, Februari lalu. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID,KUDUS – Beberapa warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus bersama tim rescue BPBD Kudus bahu membahu mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Beberapa di antaranya gotong royong menyelamatkan harta benda ke tempat yang lebih tinggi yakni masjid. Di samping masjid tampak seorang pria memakai kaus bersandar sambil bermuram durja. Pria tersebut bernama Nor Adianto satu di antara korban banjir yang tidak sempat menyelamatkan harta bendanya.

Banjir meluap ke permukiman warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Nor Adianto menceritakan musibah yang menimpanya tersebut. Di mengatakan, banjir yang melanda Desa Kesambi terjadi begitu cepat. Hujan deras sejak malam mengakibatkan Sungai Piji yang melintasi desanya meluap dan menjebol tanggul sungai. Karena kejadiannya sangat cepat, beberapa warga termasuk dirinya tidak sempat menyelamatkan harta bendanya.

Warga yang terjebak banjir dievakuasi menggunakan perahu. Foto : Rabu Sipan

“Kejadiannya sangat cepat kok. Dan air itu begitu cepat menenggelamkan rumah saya dan warga lain. Saya juga tidak sempat menyelamatkan barang – barang di rumah. Termasuk barang – barang elektronik, seperti televisi dan kulkas, kipas dan lainnya. Semuanya basah terendam banjir,” ungkap Nor Adianto yang juga Ketua RT 1 RW 5 Desa Kesambi.

Nor menambahkan, selain barang elektronik, perabotan rumah tangga tidak terselamatkan. Pakaian, ranjang, peralatan dapur, semua terendam. Tapi dia tetap bersyukur semua anggota keluarganya selamat semua dan berharapa banjir saat ini tidak ada korban jiwa.

Dia berharap, pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten mencari solusi, agar banjir tidak menimpa desanya terus menerus. Soalnya, banjir ini yang kedua kali pada tahun ini, sehingga bisa dibilang desanya itu langganan banjir.

Senada dengan Nor Adianto, Mahmudi korban banjir lainnya mengatakan, rumahnya terendam sekitar 1,2 meter. Kira – kira sedada orang dewasa. Dirinya juga mengaku tidak sempat menyelamatkan beberapa barang berharganya. Karena kejadiannya yang sangat cepat.

“Kalau televisi masih bisa terselamatkan, tapi kulkas dan barang – barang lainnya tidak terselamatkan. Semoga saja lekas surut banjirnya,” harap Mahmudi sambil berjalan ke rumahnya mau menunjukan ketinggian air di rumahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Andalkan Medsos, Kerajinan Batok Kelapa Milik Warga Ngemplak Mendunia

1
Tiar Bahroni sedang memamerkan hasil kreasi kerajinan batok kelapa. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID,KUDUS – Di tepi selatan jalan sebuah gang di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tampak sebuah rumah dengan dinding bata ringan. Di dalam rumah itu,tampak ratusan batuk kelapa terjajar di lantai, dan sebagian yang lainnya berada dalam karung. Di ruangan lain rumah tersebut terlihat beberapa celengan berkarakter aneka hewan dan hiasan lampu yang terbuat dari batok kelapa. Tempat tersebut diketahui merupakan Oni Made Batok Craft yang hasil kerajinannya mampu menembus pasar internasional.

Tiar Bahroni (25), pemilik dari Oni Made Batok Craft mengungkapkan, hasil kerajinan yang terbuat dari batok miliknya itu memang beberapa kali diminati orang luar negeri. Bahkan dia mengakui sudah sudah beberapa kali bertransaksi dan melakukan pengiriman. Yakni ke Philipina satu kali dan ke Negeri Ratu Elisabeth sebanyak tiga kali.

“Saya mendapatkan order ke Philipina itu pada tahun 2018 tepatnya Desember. Sedangkan ke Inggris tahun 2019 dan pengiriman terakhir kemarin yaitu Januari 2020. Setiap pengiriman itu minimal 200 pcs,” kata pria yang akrab disapa Oni kepada betanews.id.

Sebenarnya, lanjut Oni, selain dua Negara yang disebutnya tadi, ada beberapa Negara yang berminat dengan hasil karyanya tersebut. Di antaranya Jerman, India dan lainnya. Namun, karena mahalnya ongkos pengiriman barang, transaksi dengan beberapa Negara tersebut belum terealisasikan.

“Orang luar sana sebenarnya tidak masalah dengan harga yang saya tawarkan. Tapi mereka tidak jadi pesan karena mahalnya ongkos kirim. Mereka enggan membayar ongkos kirim yang mahalnya melebihi harga barang yang akan dibeli,” ungkap pria lajang tersebut.

Sebelum produk kerajinan dari batok kelapa miliknya itu diminati orang Manca Negara, kata dia, sudah memiliki pelanggan dalam negeri. Dan sekarang secara rutin mengirim ke berbagai pulau di Indonesia. Tidak hanya Jawa, tapi juga Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggar Timur (NTT).

“Pelanggan saya sudah lumayan banyak, selain mengirim rutin ke Museum Jenang Kudus, saya juga sering dapat pesanan dari Sragen, Jombang, Denpasar, serta Lombok,” terang Oni.

Dia mengungkapkan, dari batok kelapa, dirinya bisa membuat berbagai hasil kerajinan yang punya nilai jual. Antara lain, peralatan rumah tangga berupa sendok, garpu, piring, cangkir, mangkok dan lain sebagainya.
Selain peralatan rumah tangga, dia juga memproduksi lampu hias dari batok kelapa, miniatur mobil dan motor, serta celengan dengan berbagai karakter. Tak lupa juga gantungan kunci dan berbagai aksesoris pun dia produksi.

Sedangkan untuk pemasaran produk kerajinannya, selama ini Oni hanya mengandalkan media sosial. Ada Instagram dan beberapa lapak di marketplace. Menurutnya, dengan perkembangan zaman yang sudah serba milenial, semua orang bisa menjajakan produknya lewat online. Dan pangsa pasarnya itu seluruh dunia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Usaha Pembuatan Gebyok Khas Kudus Dirintis Malikan Sejak Masih Lajang

0
20171102_RS_Malikan, pembuat gebyok khas Kudus
Malikan, pembuat gebyok khas Kudus

SEPUTARKUDUS.COM, JETIS KAPUAN – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah bangunan beratap seng. Di dalam bangunan tersebut terlihat sebuah gebyok melintang serta dua pintu gapura yang dipenuhi ukiran. Tempat itu yakni Gong Sekaten tempat pembuatan rumah adat Kudusan.

Kepada Seputarkudus.com Malikan (52) selaku pemilik Gong Sekaten sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, merintis usaha pembuatan rumah adat pada tahun 1993. Namun sebelum memulai usahanya tersebut dirinya bekerja sebagai tenaga ukir di tempat usaha serupa di Kecamatan Kota, Kudus, selama dua tahun.

Baca juga: Gebyok Khas Kudus Buatan Warga Undaan Tengah Ini Dijual Ratusan Juta

“Setelah dua tahun kerja ikut orang aku memutuskan keluar. Karena aku ingin membuka usaha sendiri agar bisa berdikari dan mandiri. Aku akui saat itu agak nekat karena pada waktu merintis usaha itu aku masih lajang,” ujar pria yang akrab disapa Malik saat ditemui di Gong Sekaten beberapa waktu lalu.

Pria warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus itu menuturkan, merintis usaha saat masih lajang agar nanti saat berkeluarga dirinya sudah mapan. Sejak mulai merintis usaha dan diberi nama Gong Sekaten yang memproduksi rumah adat Kudusan, joglo, gebyok, pintu gapura dan lainnya order selalu berdatangan. Pesanan di antaranya datang dari Bali, Jakarta, Semarang, Jepara hingga Sumatra.

Bahkan kata dia, pelanggannya yang berasal dari Bali merupakan penjual aneka barang antik. Orang Bali tersebut membeli aneka produk dari Gong Sekaten dan kemudian diekspor ke luar negeri. Menurutnya, hampir sebulan sekali dirinya rutin mengirim aneka produk ukiran Gong Sekaten Ke Bali, dan puncaknya saat ada krisis moneter.

“Krismon yang sebagian orang dianggap bencana tapi bagi diriku saat itu malah sebuah berkah. Karena selain permintaan aneka produk ukiran meningkat, harganya juga ikut melambung karena terimbas dengan nilai tukar Dollar terhadap Rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, saat itu dirinya secara rutin mengirim tiga set produk ukiran sebulan. Namun, kata dia, semua perjalanan usaha tidaklah selalu mulus dan pasti ada kendalanya. Pesanan menurun drastis saat Bali ditimpa musibah adanya bom Bali pada tahun 2004. Sejak ada bencana bom tersebut permintaan aneka produk ukiran ke Bali menurun bahkan sangat jarang.

Karena pelanggannya yang dari Bali sudah jarang minta pesanan produk ukiran, kini Malik pun mengandalkan pesanan dari perorangan. Meskipun tidak selancar dulu namun dia tetap bersyukur usahanya masih berjalan dan masih tetap ada order meskipun tidak banyak. Karena menurutnya, banyak temannya yang punya usaha serupa sudah gulung tikar.

“Aku akui keadaan sekarang order turun dan peminat aneka produk ukiran turun drastis. Aku berharap keadaan sulit ini cepat berlalu agar usahaku makin maju, dan mendapatkan banyak pesanan pembuatan produk ukiran,” harapnya.

- advertisement -

Pria Asal Mayong Ini Berjualan Durian di Kudus, Keuntungan Bersih Rp 2 Juta Sehari

0
20171104_RS_Supeno melayani pembeli durian yang datang
Supeno (telanjang dada) melayani pembeli durian yang datang. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat jalan tepatnya di depan Graha Mustika Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, kudus tampak sebuah mobil bak terbuka warna hitam yang dipenuhi buah durian. Di sisi bak mobil tersebut terlihat seorang pria tambun bertelanjang dada sedang melayani beberapa pembeli. Pria tersebut yakni Supeno (42), yang berjualan durian ditemani istrinya.

Di sela melayani pembeli, pria yang akrab disapa Peno itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, sudah sekitar 20 tahun berjualan durian. Menurutnya, berjualan buah durian lumayan menguntungkan. Sayangnya, lanjut dia, berjualan buah dengan aroma yang menggugah selera itu tidak bisa dilakukannya setiap hari sepanjang tahun. Oleh sebab itu selain berjualan durian, dia juga merintis usaha lainnya, yakni giling padi serta pembuatan bata merah.

“Sekarang kedua usahaku itu juga masih bertahan, hasilnya juga lumayan. Meski hasilnya lumayan, setiap musim durian datang aku pasti berjualan durian dan kedua usahaku itu dikelola oleh anakku. Karena berjualan durian itu sangat laris dan menguntungkan. Dalam sehari saja aku bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 2 juta sehari,” ujarnya sambil mengikat durian yang mulai pecah menggunakan rafia.

Pria yang asal Mayong, Jepara, itu mengungkapkan, mulai berjualan durian di Kudus sekitar lima tahun yang lalu. Sedangkan sebelumnya, dia dan istrinya menjajakan durian di Jepara. Dia mengatakan, selama berjualan di Kudus setiap hari dirinya membawa sekitar 500 buah durian dari berbagai jenis dan ukuran, dan jumlah tersebut pasti habis dalam sehari. Bahkan saat akhir pekan penjualannya bisa lebih laris karena durian dengan jumlah yang sama bisa habis terjual setengah hari.

Dia menuturkan, durian yang dijualnya tersebut lumayan murah dibanding yang lainnya. Bahkan ada beberapa para pedagang durian di Kudus yang membeli darinya untuk dijual kembali. Kemudian Peno pun merinci harga durian yang dijualnya. Untuk buah durian jenis biasa dijualnya Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu perbuah. Durian jenis sukun dihargai Rp 50 ribu per buah serta Durian Petruk dijualnya Rp 100 ribu per buah.

“Selain murah, durian yang kami jual dijamin manis dan sudah matang serta bergaransi. Jika ada pembeli durianku dan rasanya tidak manis, atau mungkin juga kurang matang silahkan bawa kesini lagi pasti akan kami ganti dengan durian yang baru,” ungkap pria yang sudah dikaruniai empat anak tersebut.

- advertisement -

Gebyok Khas Kudus Buatan Warga Undaan Tengah Ini Dijual Ratusan Juta

0
20171102_RS_Malikan, pemilik usaha ukir gebyok di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto Rabu Sipan
Malikan, pemilik usaha ukir gebyok di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, JETIS KAPUAN – Tiga orang tampak sedang sibuk di dalam tempat usaha pembuatan gebyok ukir bernama Gong Sekaten, di tepi Jalan Kudus–Purwodadi, Desa Jetis kapuan, Kecamatan Jati, Kudus. Terlihat dua orang sedang menempel ukiran pada balok kayu, sedangkan lainnya mengamplas ukiran. Satu di antara tiga orang tersebut yakni Malikan (52), pemilik Gong Sekaten. Gebyok hasil produksinya dijual hingga ratusan juta rupiah.

Sambil tetap melanjutkan aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Malik itu sudi memberi penjelasan kepada Seputarkudus.com, tentang usahanya itu. Dia mengungkapkan, di Gong Sekaten miliknya dia memproduksi berbagai macam produk ukir, di antaranya, gebyok, pintu gapura, jendela ukir dan lainnya.

Dia menuturkan, menekuni usaha ukiran sudah puluhan tahun. Pria Warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, dirinya selalu berinovasi dengan bentuk dan jenis ukiran yang dijualnya. Hal tersebut dilakukannya untuk mematik minat calon pembeli, jika dulu semua produk ukirannya berhiaskan ukir Kudusan, sekarang dimodifikasi dengan ukiran Tiongkok.

“Dulu aneka produk ukiran di Gong Sekaten murni menggunakan ukir Kudusan. Namun sekarang aku modifikasi dengan menggabungkan ukiran Kudusan dan ukiran Tiongkok dengan menambah ornamen ukir naga, killin, dan burung. Dan Ahamdulillah sejak aku memodifikasi ukiran tersebut ada saja pembeli aneka produk ukiranku,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, Gong Sekaten membuat aneka produk ukir di antaranya pintu gapuro penuh ukir dengan ukuran 2,2×3 meter dihargai Rp 35 juta. Gasebo dibanderol mulai Rp 20 juta hingga Rp 60 juta. Untuk jendela ukir di jual dengan harga Rp 3 juta hingga Rp 18 juta, harga ditentukan kualitas kayu serta kerumitan ukiran.

Selain itu, tambah dia, Gong Sekaten juga menyediakan gebyok penuh ukir berukuran panjang 10,5×3 meter yang dijualnya dengan harga Rp 350 juta. Ada juga joglo yang dihargai Rp 200 juta hingga Rp 600 juta. Serta rumah adat kudusan ukiran penuh semua yang harganya bisa sampai Rp 2,5 milyar.

“Semua produk ukiran di Gong Sekaten bahannya dari kayu jati tua yang umurnya sudah puluhan tahun dan kuat bertahan hingga ratusan tahun. hasil ukirannya juga sangat rapi dan halus. Dijamin semua produk ukir di Gong Sekaten sangat istimewa dan pasti tidak mengecewakan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini dirinya sedang sepi pesanan pembuatan produk ukiran, bahkan bisa dikatakan tidak ada pesanan. Meski begitu dirinya memutuskan untuk tetap membuat produk ukiran, karena dia yakin, pembeli akan datang.

“Calon pembeli bisa tahu kayu jati yang kami gunakan hampir semuanya kayu jati tua. Tidak hanya melihat hasil karya kami dari foto saja. Oleh karena itu setok itu bagiku sangat penting, dan aku yakin semua setok itu akan terjual semua” ungkapnya.

- advertisement -

Tak Ingin Lama Berdamai dengan Keputusasaan karena Bercerai, Zun Bangkit Dirikan Annisa Collection

0
20171030_RS_Pemilik Annisa Collection Kudus 1
Siti Zuniah, Pemilik Annisa Collection Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Suara bising mesin jahit terdengar saat memasuki pelataran rumah tembok bercat hijau di tepi Gang Kresna, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam rumah, seorang perempuan paruh baya mengenakan kerudung terlihat menjahit baju. Dia bernama Siti Zuniah (66) pemilik Annisa Collection.

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Zun itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang kisah mendirikan Annisa Collection. Zun menceritakan, dirinya menguasai ketrampilan menjahit dan obras sejak masih duduk di SMA. Karena selain sekolah, saat itu dia juga ikut kursus menjahit dan bordir di satu pemilik usaha konveksi di Kudus. Sehingga saat lulus, selain mendapatkan ilmu pendidikan dirinya juga mempunyai ketrampilan menjahit maupun bordir.

“Ketika lulus SMA aku langsung dipersunting seorang pria yang kebetulan seorang penjahit. Oleh karena itu saat membangun biduk rumah tangga kami memutuskan membuka usaha tailor. Suamiku melayani jahitan dan aku melayani order obras. Selain itu aku juga menerima pelatihan obras,” ungkapnya sambil mengenang masa lalunya, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang asal dari Desa Prawoto, Pati, itu menuturkan, usaha yang dirintis bersama suaminya tersebut lumayan berkembang. Bahkan saat itu usaha tailornya mampu mempekerjakan 15 orang. Begitu juga dengan usaha obrasnya sering mendapatkan order dari beberapa pemilik usaha konveksi. Dari usaha tersebut kata dia, hasilnya mampu buat bangun rumah bertingkat.

Tapi sayangnya, lajut dia, tidak lama setelah membangun rumah, biduk rumah tangganya terkena prahara yang membuatnya bercerai dengan suaminya. Saat itu dia merasa terpukul, dan putus asa yang mengakibatkannya malas untuk bekerja dan usaha.

“Bagaimana tidak terpukul dan putus asa, rumah tangga yang saya bina selama 20 tahun hancur, bangun rumah tingkat tidak bisa ikut nempatin, dan usaha dipegang mantan suamiku,” kata Zun.

Perempuan yang dikaruniai tiga anak dari pernikahannya terdahulu itu mengungkapkan, selama dua tahun dirinya hidup sebatang kara. Hidup mengontrak serta dipenuhi keputusasaan. Hingga kemudian dia menyadari bahwa berlama-lama berdamai dengan keputusasaan tidak baik dan akan membuatnya makin terpuruk. Berbekal mesin jahit usang dia bertekad bangkit dan memulai usaha jahit yang diberi nama Annisa Colection.

Annisa Colection tuturnya, menerima pembuatan pakaian jadi wanita maupun pria, di antaranya, gamis rompi, rok panjang, celana begi, blouse, hem pria dan wanita, baju untuk acara kartininan, jaket sweater pria wanita, kaus katun kombat, baju PDL, dan lain sebagainya.

Dia mengatakan, saat ini Annisa Colection sudah lumayan memiliki banyak pelanggan. Selain perorangan beberapa kali dirinya mendapatkan pesanan dari beberapa instansi pemerintahan kecamatan maupun desa di Kudus dan Pati.

“Annisa Colection sekarang sudah memiliki banyak pelanggan dan bekerjasama dengan sepuluh tenaga jahit. Aku bersukur setidaknya dengan usahaku ini aku mampu mencukupi kebutuhan,” ujarnya yang mengaku selain usaha Annisa Colection  juga punya usaha salon.

- advertisement -

Jahitan Rapi dan Nyaman Saat Dipakai, Annisa Collection Sering Dapatkan Order dari Pemerintahan

0
20171031_RS_Kisah Penjahit Siti Zuniah
Siti Zuniah, pemilik Annisa Collection. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi utara jalan gang Kresna Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus tampak sebuah rumah bercat hijau. Di ruang depan rumah tersebut, tampak beberapa maneken yang dipasangi beberapa aneka baju perempuan. Di sampin dinding sebelah timur tampak tergatung beberapa baju dan celana pria hasil jahitan. Sedagkan di sudut lain terlihat seorang perempuan berkerudung sedang sibuk menggunakan mesin jahit. Tempat tersebut yakni Annisa Colection.

Menurut Siti Zuniah (66), pemilik Annisa Collection, mengungkapkan, usaha itu dirintisnya pada tahun 2007. Dia menerima pesanan pembuatan aneka pakaian untuk pria maupun wanita. Menurutnya, keunggulan pakaian produksi Annisa Collection jahitannya rapi, dan tentu sangat nyaman saat dipakai bagi para pemesan.

Baca juga: Tak Ingin Lama Berdamai dengan Keputusasaan karena Bercerai, Zun Bangkit Dirikan Annisa Collection

“Untuk aneka pakaian produksi Annisa Collection memang diutamakan kenyamanan saat dipakai, dan jahitannya juga harus rapi. Karena sebagus dan semahal apapun kain bahan baju tersebut jika tidak nyaman saat dipakai dan tidak rapi, pelanggan otomatis komplain dan kapok untuk memesan lagi,” ujar perempuan yang akrab disapa Zuni kepada seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Perempuan yang dikaruniai tiga anak itu mengungkapkan, Annisa Collection mampu mendapatkan banyak order dan pelanggan tidak hanya dari perorangan melainkan dari instansi pemerintahan kecamatan dan desa di Kudus dan Pati. Beberapa pemerintahan Kecamatan yang berlangganan dan sering memesan pakaian dari Annisa Collection di antaranya, Kecamatan Jati, Kota, Undaan dan lainnya. Sering juga mendapatkan order dari Kecematan Gembong Pati.

Bahkan sekali order lanjutnya, biasanya pesanan sampai puluhan setel pakaian dan nilainya hingga Rp 100 juta. Selain kualitas, tuturnya, produk pakaian dari Annisa Collection harganya juga sangat terjangkau. Untuk pembuatan gamis rompi dikenakan biaya Rp 150 ribu per pcs, rok panjang Rp 150 ribu celana begi kain di tarif Rp 125 ribu per pcs. Sedangkan blouse dan hem dibandrol dengan harga masing –masing Rp 100 ribu dan Rp 150 ribu per pcs.

Dia melanjutkan, untuk baju acara Kartinian dibandrol Rp 200 ribu, dan jaket sweater Rp 100 ribu per pcs. Selain memabuat aneka baju perempuan, Annisa Colection juga menerima pembuatan pakaian pria di antaranya, kaus berbahan katun combatan di bandrol Rp 60 ribu per pcs. Baju PDL ditarif Rp 300 ribu per setel. Kemeja batik dikenakan biaya Rp 150 ribu per pcs.

“Harga tersebut sudah termasuk kain, jadi para pemesan tinggal terima beres. Harga itu juga untuk pesanan satuan dan bisa berkurang jika pesanan dalam partai banyak. Aku berharap dengan kualitas dan harga yang terjangkau Annsia Collection bisa makin berkembang dan makin banyak order ,” ungkapnya.

- advertisement -

Kisah Berliku Pemilik Usaha Sate Surimi, Jualan Keliling Hingga Dagangan Tumpah

0
20171028_RS_Nandar Hidayat Sate Surimi
Nandar Hidayat Sate Surimi (paling kanan), pemilik Sate Surimi. Foto Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Seorang perempuan berjilbab merah hati tampak sedang sibuk memanggang Sate Surimi di depan Alfamart Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus. Setelah matang kemudian dia membaluri sate tersebut dibubuhi saus dan aneka rasa sesuai pesanan pembeli. Di sampingnya terlihat seorang pria berkalung tasbih sedang mengamati semua aktivitas tersebut. Pria itu tak lain Nandar Hidayat (27), pria dibalik populernya Sate Surimi.

Kepada seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Nandar itu sudi berbagi kisah suka duka merintis usaha Sate Surimi. Dia mengungkapkan, merintis usaha memang tidak lah semudah membalikan telapak tangan. Dia pernah mengalami jualannya tidak laku dan memutuskan pindah tempat, pernah juga berjualan keliling kehujanan dan semua dagangannya tumpah. Bahkan pernah produknya tersebut dibajak orang.

Baca juga: Lulusan STAIN Kudus Ini Buat Sate Surimi, Buka Franchise di Beberapa Kota

Dia mengungkapkan, awal berjualan Sate Surimi sekitar tiga tahun lalu mulai dari even-even yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Kudus dan buka stan di Car Free Day. Namun karena ada pelanggan yang ingin agar dirinya buka setiap hari, dia pun menyewa tempat di depan SMP Masehi Kudus untuk berjualan. Tapi sayangnya di tempat tersebut dia tidak beruntung, karena dagangannya tidak laku. Dia lalu berinisiatif mencari tempat baru di depan Alfamart Desa Loram Wetan.

Alhamdulillah di tempat baru Sate Surimi sangat diminati dan sangat laris. Kemudian aku pun semangat untuk membuka cabang-cabang baru dan kini aku sudah punya beberapa tempat penjualan di Kudus,” ungkapnya.

Sukses mempopulerkan Sate Surimi di Kudus, membuatnya berinisiatif memasarkannya di daerah lain. Dia mulai berkeliling berjualan Sate Surimi menggunakan sepeda motor. Saat berjualan tersebut dirinya harus pulang pergi dari Kudus ke daerah tujuan untuk menjual Sate Surimi. Bahkan saat berjualan di Juana Pati dia pernah kehujanan dan semua dagangannya tumpah.

“Karean kejadian tersebut malah memacu tekadku agar secepatnya mampu membeli mobil untuk berjualan. Ahamdulillah, harapan itu kini sudah tercapai bahkan aku pernah gonta-ganti mobil tiga kali,” ungkapnya sambil tersenyum.

Pria lajang yang rajin puasa Senin dan Kamis tersebut mengungkapkan, berkat kegigihannya memasarkan Sate Surimi ke daerah lain, kini dirinya punya 10 cabang penjualan yang tersebar di Jepara, Pati, Rembang, Semarang, serta Purwodadi dengan sistem franchise. Saking populernya Sate Surimi pernah dibajak orang di Rembang.

Karena tidak merasa ada kerjasama dengan orang tersebut dia kemudian mendatanginya dan menanyakan legalitas dan paten merk yang digunakannya. Karena menurutnya, Sate Surimi miliknya sudah dipatenkan juga SIUP, TDp, IUMKM, serta Hak Paten Kekayaan Intelektual. “Jadi Sate Surimi itu sudah paten miliku Nandar Hidayat,” ujarnya tersenyum.

Dia menuturkan, menjual Sate Surimi dengan harga Rp 5 ribu untuk harga original dan Rp 7 ribu untuk Sate Surimi varian rasa di antaranya, lada hitam, bolognese, balado pedas, saus mayo, sambal ijo, serta BBQ. Sate Surimi terbuat dari bahan alami yakni Ikan Swangi dan tanpa bahan pengawet serta pewarna buatan. Untuk warna hijau Surimi menggunakan bayam dan oranye menggunakan wortel.

Dia juga menawarkan untuk semua orang, bagi siapa saja yang minat berjualan Sate Surimi bisa kerjasama dengannya dan bisa menghubunginya di nomer 0858 7821 5788. Mereka cukup membayar Rp 7 juta dan mendapatkan gerobak, freezer, bahan paku dan peralatan lengkap.  “Dijamin menguntungkan, mereka bisa mendapatkan keuntungan 40 sampai 50 persen,” ujarnya.

- advertisement -

Lulusan STAIN Kudus Ini Buat Sate Surimi, Buka Franchise di Beberapa Kota

0
20171027_RS_Sate Surimi 1
Sate Surimi. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Di tepi Jalan PR Sukun, tepatnya di halaman Alfamart seberang lapangan tenis Sukun Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus, tampak gerobak lengkap dengan etalasenya. Di samping gerobak terlihat seorang pria mengenakan kaus oblong putih sedang menaruh beberapa sate di atas alat pemanggang. Pria tersebut yakni Nandar Hidayat (27), pemilik usaha Sate Surimi. Dia merintis usahanya dengan modal kepercayaan, hingga kini mampu meraup omzet Rp 35 juta sebulan.

Di sela ativitasnya, pria yang akrab disapa Nandar itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha sejak masih duduk di bangku kuliah. Saat itu dirinya kuliah di STAIN Kudus melalui jalur beasiswa tidak mampu. Namun karena beasiswa tersebut hanya berlaku satu tahun, dia kemudian mencari beasiswa dari lembaga lain, dan berhasil mendapat beasiswa dari Djarum.

“Tapi beasiswa tersebut juga hanya berlaku satu tahun saja. Oleh sebab itu, setelah beasiswa berakhir dan untuk bisa membiayai kuliah aku memutuskan kerja di PT Indo Lautan Makmur Cabang Kudus yang memproduksi surimi ikan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Warga Gondosari, Gebog, Kudus itu menuturkan, tempat kerjanya tersebut memproduksi aneka olahan yang terbuat dari Ikan Swangi, tidak menggunakan bahan pengawet maupun pewarna buatan. Namun sayangnya, aneka olahan tersebut tidak laku dan kurang diminati di pasaran. Karena tidak laku tersebut dia berfikir mungkin ada yang salah dengan cara pemasarannya.

Saat itu dia mengaku curiga, kenapa olahan makanan seenak dan sebagus itu yang tidak mengandung kimia, kurang diminati. Hingga kemudian dia berinisiatif memasarkannya dengan cara yang berbeda, yakni dengan menjual aneka olahan produk Surimi dalam keadaan matang.

“Aku ingat tepat pada Natal tahun 2014 aku mulai menjual olahan produk Sarimi dalam keadaan matang di Taman Krida Kudus. Saat itu aku diperbolehkan membawa dulu aneka produk olahan Surimi untuk aku jual dalam keadaan matang. Begitu juga dengan perabotannya semua dipinjami perusahaan, dari freezer, meja dan lainnya,” jelasnya.

Pria lajang itu mengatakan, menjual aneka produk olahan Surimi dengan cara dibikin sate dan dibakar. Karena itu diberi nama Sate Surimi. Pertama berjualan lumayan laris karena dalam waktu satu jam bisa menjual 100 tusuk. Karena melihat antusias pembeli, muncul dibenaknya untuk menseriusi berjualan Sate Surimi dalam keadaan matang.

Saat itu Nandar pun mulai ikut berjualan di even-even yang diadakan pemerintah Kabupaten Kudus. Selain itu dia juga ikut buka stand di Car Free Day. Meski setiap berjualan selalu laris dia mengaku belum berani menyewa tempat untuk berjualan setiap hari. Hingga suatu ketika ada satu pelanggan yang memintanya untuk berjualan setiap hari, agar para penikmat Sate Surimi yang ingin membeli bisa langsung datang ke lokasi dan tidak menunggu sepekan sekali.

“Karena ada pelanggan yang memintanya aku pun nekat membuka tempat untuk berjualan Sate Surimi setiap hari dan alhamdulillah laris. Kini aku sudah punya sepuluh tempat penjualan yang tersebar di beberapa daerah, Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Purwodadi, serta Semarang. Dari sepuluh tempat itu aku mampu meraup omzet Rp 35 juta sebulan,” ujarnya.

- advertisement -

Sejak Gunakan Nama Anaknya, Tahu Milik Martono Laris Manis

0
20171026_RS_Usaha pembuatan tahu2
Usaha pembuatan tahu di Desa Karang Bener, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGBENER – Di tepi jalan sebuah gang di Dukuh Kemang, Desa Karangbener, Kecamatan Bae Kudus tampak sebuah bangunan bata merah. Dari luar bangunan suara mesin disel terdengar bergemuruh. Di dalam bangunan tampak beberapa orang sibuk membuat tahu. Usaha pembuatan tahu bernama AD Putra itu milik Martono. Nama usaha tersebut dipilih karena rekomendasi dari anak pertamanya.

Kepada Seputarkudus.com, Martono (32) sudi memberi penjelasan tentang nama usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, tiga bulan pertama berjualan tahu keliling, merupakan saat terberat dalam ekonomi keluarga Martono. Karena menurutnya, saat itu tahu yang dijual sering tidak laku. Dia bahkan harus bekerja serabutan. Mulai dari berjualan, mocok jadi buruh pembuat tahu serta mencari rumput untuk pakan ternak.

Baca juga: Pria Asal Rembang Ini Sukses Produksi Tahu di Kudus, Berikut Ini Kisahnya . . .

“Saat itu ekonomi keluargaku memang sangat sulit, setelah tiga bulan berjualan dan kurang laku, entah kenapa aku berinisiatif memberi nama tahu yang aku jual. Sebenarnya saat itu aku akan menuliskan namaku. Namun tiba-tiba anak pertamaku nyeletuk, kasih namaku aja pak nanti tahu bapak pasti laris,” ujar Martono menirukan celetukan anaknya.

Pria asli Rembang itu menuturkan, saat itu dirinya spontan percaya dengan omongan anaknya tersebut. Karena anaknya bernama lengkap Rahmad Aditya Pratama, jeriken untuk dia menjual tahu diberi tulisan AD Putra. Diakuinya, sejak diberi tulisan tersebut tahu jualannya laris dan sekarang sudah memiliki banyak pelanggan serta bisa mendirikan usaha pembuatan tahu sendiri.

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2013 dirinya mendirikan usaha pembuatan tahu secara mandiri. Saat ini usahanya tersebut terbilang terus berkembang. Tahu AD Putra lumayan dikenal di daerah sekitar Kecamatan Dawe, Bae, dan Pasar Jekulo, Kudus. Dalam sehari dia mampu menghabiskan sekitar empat hingga lima kwintal kedelai. “Jumlah tersebut akan naik saat musim orang punya hajatan,” ungkapnya.

Pria yang kini sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, kelebihan tahu produksinya diakui pelanggannya lebih kenyal serta lebih tebal. Sedangkan untuk harga, dia dan pemilik usaha tahu yang berada di desa setempat sudah sepakat untuk menjual seharga Rp 250 sampai Rp 500 per kotak, atau Rp 60 ribu hingga Rp 66 ribu per tong.

“Aku berharap tahu hasil produksiku makin diminati masyarakat, serta usahaku bisa makin berkembang lagi. Dan semoga harapanku untuk membuka cabang pembuatan tahu lagi bisa terlaksana, karena aku akan merambah penjualan hingga ke Purwodadi, Grobogan,” harap Martono.

- advertisement -

Guru TPQ TBS Ini Nyambi Berjualan Es, Omzet Sehari Rp 4,5 Juta

0
20171025_RS_Qurrotu Ainy, pemililk Syafa Ice2
Qurrotu Ainy, pemililk Syafa Ice. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di tepi Jalan KH Turaichan Adjhuri Kelurahan kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak beberapa motor terparkir di depan sebuah kios. Di dalamnya terlihat ramai pembeli sedang mengantre. Di sudut lain tampak seorang perempuan berjilbab abu-abu senantiasa menyapa orang datang ke warungnya. Perempuan tersebut bernama Qurrotu Ainy (34), pemilik Syafa Ice.

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa Eny itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, Syafa Ice menjual aneka macam minuman es. Dan sejak ada menu baru sekitar dua bulan lalu, yakni Mangow Wow, omzetnya naik. Sebelum ada Mango Wow, dia hanya mampu mendapatkan omzet sekitar Rp 2,5 juta sehari, sekarang omzetnya naik menjadi Rp 4,5 juta sehari.

Baca juga: Wow, Beli Minuman di Warung Ini Bisa Dapat Samsung Galaxy J2 Prime

“Kalau aku hitung-hitung, sejak ada menu Mangow Wow omzetnya naik sekitar 80 persen. Dan dua pekan lalu kami juga menyediakan menu baru yakni Sop Duren yang juga sangat diminati banyak pembeli,” ungkap perempuan yang berprofesi jadi guru tersebut.

Perempuan warga Kelurahan kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus itu menuturkan, menjadi guru sejak tahun 2004. Kini dirinya mengajar di tiga tempat, yakni Ponpes Yanbu’ul Qur’an, SD Nawakartika, dan Madrasah TPQ TBS.

Eny mulai membuka Syafa Ice sejak tahun 2013. Menurutnya, ide tersebut muncul karena dirinya gemar minum es jus buah. Karena kegemarannya tersebut, terlintas dibenaknya untuk membuka usaha sampingan, yakni berjualan aneka jenis es.

“Saat itu memang pikirku daripada membeli es jus terus, kan mending berjualan sekalian. Karena saat itu aku juga seorang guru jadi aku mengerjakan satu orang karyawan untuk melayani pembeli. Dan nama Syafa yang berarti pertolongan aku pilih untuk nama usahaku, dengan harapan agar senantiasa diberi pertolongan oleh Allah SWT,” terangnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua orang anak tersebut bersyukur, Syafa Ice kini sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan menurutnya, sejak ada dua menu minuman baru, pelanggannya tidak hanya datang dari Kudus, tapi juga ada juga yang datang dari daerah tetangga yakni, Semarang, Jepara, Pati, serta Demak.

“Sejak ada Mangow dan sop duren memang pelangganku makin banyak. Sekarang karyawanku ada lima orang yang aku bagi menjadi dua sift kerja. Warung saya buka mulai pukul 07.00 WIB hingga 21.00 WIB. Selain itu di Sayafa Ice juga ada fasilitas wifi gratis, jadi para pembeli bisa satai minum es sambil ngenet,” ungkapnya.

- advertisement -

Pria Asal Rembang Ini Sukses Produksi Tahu di Kudus, Berikut Ini Kisahnya . . .

0
20171026_RS_Martono pengusaha tahu di Kudus
Martono, pengusaha tahu di Desa Karang Bener, Kecamatan Jekulo, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGBENER – Beberapa orang pria dan perempuan tampak sibuk mengolah kedelai menjadi tahu dalam sebuah bangunan beratap seng yang berada di Dukuh Kemang, Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus. Tak jauh dari para pekerja, tampak seorang pria berkemeja dan bertopi sedang mengamati. Pria itu yakni Martono (32), pemilik usaha pembuatan tahu AD Putra. Dia merintis usahanya dari nol.

Di sela aktivitasnya tersebut Martono sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia bercerita, merintis usaha pembuatan tahu sejak tahun 2013. Usahanya tersebut dirintis dari bawah. Karena memang sebenarnya dirinya berasal dari Rembang dan merantau ke Kudus hanya bermodal “dengkul” untuk bekerja di perusahan produksi tahu yang ada di Kota Kretek.

“Karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, sejak lulus SMP pada tahun 2000 aku memutuskan merantau ke Kudus untuk bekerja di tempat pembuatan tahu. Aku bekerja selama 10 tahun dan menikah pada tahun 2006 dengan warga Karangbener, Bae, Kudus,” ujar Martono saat ditemui di tempat usahanya, belum lama ini.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Karangbener, Bae, Kudus itu menuturkan, setelah menikah kebutuhan makin banyak. Namun statusnya sebagai buruh hasilnya tidak ada peningkatan. Karena alasan tersebut pada tahun 2010, Martono memutuskan untuk berdagang tahu keliling. Meskipun dia sadar, pilihannya tersebut bukan tanpa risiko. Karena jika tahu yang dijual tidak laku, tidak ada penghasilan yang akan dia dapat.

“Benar saja tiga bulan awal berjualan saat itulah masa terberatnya, karena memang agak susah mencari pembeli, apalagi pelanggan. Tahunya sering tidak laku, bahkan sehari bisa mendapatkan uang untuk makan itu saja sudah sangat beruntung,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, karena sering tidak laku, selain berjualan tahu dirinya juga jualan ampas tahu. Selain itu juga terkadang bekerja paruh waktu membuat tahu. Dia mengaku salut dengan istrinya, yang selalu mendukungnya. Hingga pada suatu hari, ada seorang pedagang tahu di Pasar Dawe yang membeli tahu yang dijualnya dan kemudian berlangganan.

Menurutnya, dari itulah titik balik perjalanan hidupnya. Karena berawal dari satu pelanggan itu kemudian pedagang tahu lainnya banyak yang berlangganan kepadanya. Hingga lambat laun banyak pemilik warung makan di Kecamatan Dawe, Bae, serta para pedagang di Pasar Jekulo berlanggan tahu yang dijual Martono. Karena banyaknya pelanggan, tempat produksi tahu tempat dia belanja tak mampu memenuhi semua permintaan.

“Dengan sangat terpaksa dan dengan modal hasil berjualan tahu yang selama ini aku tabung, aku mendirikan usaha produksi tahu. Dan aku bersyukur kini pelangganku semakin banyak dan hasilnya kini aku mampu membeli beberapa kavling tanah dan mobil untuk operasional,” ujarnya.

- advertisement -

Wow, Beli Minuman di Warung Ini Bisa Dapat Samsung Galaxy J2 Prime

0
20171025_RS_Sya Ice Mango Wow_1
Mango Wow, menu minuman di Syafa Ice . Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Beberapa orang tampak mengantre di sebuah kios di tepi utara Jalan KH Turaichan Adjuri Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka ada yang berdiri, dan beberapa di antaranya duduk di kursi yang disediakan. Sementara di sisi etalase tampak tiga orang perempuan sedang sibuk membuat aneka sajian minuman es. Tempat tersebut yakni Syafa Ice.

Kedai minuman tersebut saat ini tengah melakukan promo. Bagi para pembeli yang adatang membeli sajian minuman es di kedai tersebut, berkesempatan mendapat hadiah smartphone, Samsung Galaxy J2 Prime.

Kepada Seputarkudus.com, pemilik Syafa Ice sudi  Qurrotu Ainy (34) memberi penjelasan terkait program promonya tersebut. Dia mengungkapkan, promo itu sudah dimulai sejak tanggal 15 Oktober dan berakhir pada tanggal 30 November 2017. Menurutnya, promo tersebut sangat mampu meningkatkan penjualan di Syafa Ice.

“Kami menjual aneka minuman es, di antaranya ada aneka jus, es buah, es teler, es campur, es cappucino dan lainnya. Namun yang berpeluang mendapatkan Samsung Galaxy J2 Prime,  mereka yang membeli es dengan menu baru kami, yakni Mango Wow dan Sop Duren,” ungkap perempuan yang akrab disapa Eni, saat ditemui di Kedai Syafa Ice belum lama ini.

Perempuan warga Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus itu menuturkan, para pembeli Mango Wow dan Sop Duren tersebut setiap membeli satu porsi akan mendapatkan satu kupon undian. Dan kupon tersebut akan diundi pada tanggal 30 November 2017.

Dia menambahkan, selain smartphone sebagai hadiah utama, disediakan pula berbagai macam hadiah lainnya, di antaranya, kaus, payung, mug dan hadiah menarik lainnya. Dia mengungkapkan Mango Wow dan Sop Duren merupakan minuman kekinian yang sedang banyak diminati. Menurutnya, untuk membuat dua minuman tersebut, khususnya Mango Wow lumayan susah. Diperlukan waktu sepekan untuk menguji ulang Mango Wow buatannya hingga layak untuk dijual.

“Aku itu orangnya selalu berharap hasil yang sempurna, apalagi untuk sesuatu hal yang akan aku perdagangkan. Meski resep pembuatan Mango Wow aku dapatkan dari Google, namun dengan kerja keras dan harus belajar membuat Mango Wow selama sepekan, kini aku bersukur Mango Wow buatanku diminati banyak orang,” ungkap perempuan yang berprofesi jadi guru tersebut.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu menambahkan, Syafa Ice menjual minuman Mangow sejak dua bulan yang lalu dan Sop Duren sekitar dua pekan lalu. Dua menu barunya tersebut, katanya lumayan laris. “Sekarang kupon yang terkumpul sudah ada sekitar 1.000 lembar. Dan akan bertambah lagi karena tanggal pengundiannya masih sekitar sebulan,” ujarnya.

- advertisement -

Cuaca Panas, Posko Es Raup Omzet Rp 30 Juta Sebulan

0
20171024_RS_Warung Posko Es Kudus 1
Warung Posko Es Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN TENGAH – Di tepi timur Jalan Kudus – Purwodadi Desa Undaan Tengah gang tiga, Kecamatan Undaan, terlihat tratak beratap esbes berdiri tegak. Di dalamnya tampak dua perempuan berjilbab sibuk menyiapkan es yang dipesan para pembeli. Beberapa pelajar dan pengunjung lain tampak mengantre, menanti pesanan. Tempat tersebut yakni Posko Es, yang musim kemarau ini sangat laris, dan mampu menjual ratusan gelas sehari.

Menurut Haryanto (30) pemilik Posko Es menuturkan, seperti pedagang es lainnya, pada musim kemarau aneka es yang dijualnya sangat laris. Dalam sehari dirinya mengaku mampu menjual lebih dari seratus gelas untuk tiap jenis es yang dijualnya. Posko Es menjual beberapa jenis es, di antaranya, es campur, es degan, serta aneka es jus buah.

“Selama musim kemarau ini penjualan kami meningkat. Dalam sehari kami mampu menjual sekitar 150 gelas. Sedangkan es degan kami mampu menjual 100 gelas begitu juga dengan es jus buahnya. Sedangkan kelapa muda  kami mampu menjual sekitar 50 buah,” jelasnya beberapa waktu lalu, saat ditemui dikedainya.

Pria warga Undaan Tengah, Undaan, Kudus itu mengungkapkan, jumlah penjualan aneka es tersebut untuk hari biasa. Sedangkan pada hari libur dan akhir pekan jumlah penjualan tersebut akan meningkat dan Posko Es lebih ramai pembeli. Diakui Har, Berjualan minuman, apalagi es, sangat bergantung pada musim.

“Begitu juga di Posko Es, di musim hujan penjualan akan menurun dan tentu omzet juga berkurang. Jika saat ini omzet yang kami dapatkan antara Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta sehari, atau sekitar Rp 24 juta sampai Rp 30 juta sebulan. Pada musim penghujan omzet yang kami dapatkan tak bisa lebih dari Rp 500 ribu sehari,” bebernya.

Pria yang sudah dikaruniai dua orang anak itu menuturkan, menjual aneka minuman dagangannya dengan harga berbeda. Untuk es campur dijualnya dengan harga Rp 4.500 tiap gelas. Es degan dijualnya Rp 3 ribu per gelas. Sedangkan kelapa muda dibanderol Rp 9 ribu per buah.

“Untuk penyajian minuman es yang kami jual, para pembeli bisa memilih menggunakan sirup ataupun gula cair. Dan keduanya kami bikin sendiri dijamin rasa gulanya lebih cocok di lidah, aman dan tidak bikin batuk maupun serak,” ungkapnya serius.

- advertisement -

Isna Segera Peluk Ibunya yang Baru Tiba dari Tanah Suci

0
Isna (tengah) memeluk ibundanya yang baru saja tiba dari Tanah Suci_2017_7_24
Isna (tengah) memeluk ibundanya yang baru saja tiba dari Tanah Suci. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Perempuan berbaju motif bunga dan krudung warna merah, tampak bergegas merangsek ke dalam gedung Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK), beberapa waktu lalu. Perempuan bernama Isnaini Permata Hati itu ingin segera menemui kedua orang tuanya yang baru tiba Tanah Suci.

Bersama ratusan orang, dia tampak serius mencari keberadaan orang tuanya. Isna terlihat berlari-lari kecil dan langsung memeluk erat kedua orang tuanya saat bertemu. Dia kemudian mencium kedua pipi ibunya dan mencium tangan ayahnya.

Ibunda Isna, Siti Mutmainah (52) tanpa basa-basi terlihat membalas pelukan Isna. Mereka tampak emosional dan hanyut dalam suasana haru. Kepada Seputarkudus.com, Isna mengaku tak bisa membendung emosinya saat bertemu ayah dan ibunya. Dia mengaku bersyukur orang tuanya bisa kembali dari ibadah dengan selamat. “Saya bersyukur bisa bertemu lagi,” tuturnya sambil terus memeluk ibunya.

Bapak Isna, Joko Sugianto (53) yang masih menunggu Isna dan istrinya berpelukan, mengungkapkan, ibadah haji yang dilakukan berjalan dengan lancar. Dia menceritakan, selama menjalankan ibadah merasakan bahagia saat menjalankan tawaf. Sampai-sampai ketika masih berada di Kakbah dia tidak ingin kembali ke pemondokan. “Rasanya senang, bahagia,” tuturnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Bambang Sutejo, bersama 13 anggota keluarganya juga datang ke JHK untuk menjemput keluarganya yang baru saja tiba dari Tanah Suci. Menurut Bambang, jemaah yang dijemput yakni kedua mertuanya. “Ini ada dua mobil yang ikut. Tapi di rumah keluarga besar dan tetangga juga sudah menunggu,” ungkapnya warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Bambang mengaku sangat senang kedua mertuanya bisa selamat hingga kembali sampai Kudus. Menurutnya, perjuangan mereka untuk bisa berangkat haji sangat menginspirasi. Kedua mertuanya bernama Sudiono dan Rumisih harus menyisihkan hasil panen padinya untuk ditabung. Selain itu, mertua perempuannya masih harus berdagang krupuk supaya bisa menabung untuk berangkat haji. “Daftarnya tahun 2009, berangkatnya tahun ini (2017),” jelasnya.

Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus Noor Badi mengungkapkan, jemaah yang tiba di Kudus yakni Kelompok Terbang (kloter) 37 sejumlah 355 orang. Menurutnya dari jumlah awal 257 orang, ada dua jemaah yang meninggal. “Untuk keseluruhan jamaah asal Kudus ada empat yang meninggal. Untuk  yang dua  dari kloter ini (37),” ungkapnya.

Menurutnya, nama jemaah yang meninggal yakni Sulti Sanaji Ngadiman asal Desa  Temulus  Kecamatan Mejobo  dan  H Sipan Kamto Marwi Sirin berasal dari Pasuruan Lor Kecamatan. Mereka meninggal karena sakit saat menjalani proses ibadah haji.  Menurut  Noor Badi, jemaah yang meninggal akan mendapatkan asuransi senilah Rp15 juta hingga Rp 16 Juta. “Uang akan langsung kami kirim ke rekening jemaah,” jelasnya.

Selanjutnya, jemaah asal Kudus lainnya dengan kloter  85,86 dan  87 dijadwalkan tiba di Kudus  tanggal  3 Oktober 2017 mendatang.

- advertisement -