Beranda blog Halaman 1886

Kisah Sukses Lulusan SD Usaha Gipsum, Kini Bisa Beli Mobil Dan Rumah Mewah

0
Sukaelan, pemilik usaha pembuatan gipsum di Kudus
Sukaelan, pemilik usaha pembuatan gipsum di Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di tepi Jalan Kiai Mojo Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus tampak sebuah bangunan beratap seng. Di dalam bangunan terlihat puluhan lis gipsum tergantung. Tampak pula seorang pria mengenakan kemeja biru sedang mengamati dua orang sedang mencetak gipsum. Pria tersebut bernama Sukaelan (45) pemilik usaha gipsum tersebut.

Kepada Seputarkudus.com, Sukaelan yang mengaku hanya lulusan sekolah dasar (SD) itu merintis usaha pembuatan gipsun dari nol. Saat itu dirinya tak punya apa-apa, bahkan sepeda ontel pun tak punya. Tapi kini dirinya mampu membeli beberapa mobil dan rumah.

Pria yang akrab disapa Jaelan itu sudi berbagi kisahnya tentang usahanya tersebut. Dia mengisahkan, sebelum menikah dirinya bekerja jadi sopir truk dan memuat pasir sejak tahun 1992. Tiga tahun menjadi sopir kemudian dia memutuskan menikah. Namun, di tahun ketiga usia pernikahannya dia mengalami kecelakaan dan truk yang dikendarainya hancur.

“Padahal saat itu aku sudah dikaruniai dua orang anak. Akibat dari kecelekaan tersebut, aku harus memperbaiki truk tersebut dan aku juga harus berhenti dari pekerjaan sopirku,” ujarnya saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Warga Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus itu mengungkapkan, pada waktu itu dirinya merasa sangat terpuruk. Tidak punya penghasilan hingga tidak mampu membelikan susu putrinya yang masih kecil. Saat itu kata dia untuk menggantikan susu, istrinya mencampur air dengan gula. Karena tidak ingin pasrah dengan keadaan, dia mengaku saat itu kerja apa saja yang penting halal dan mampu menghasilkan uang.

Menurutnya, karena tidak punya sepeda ontel dirinya pun meminjam sepeda tetangganya dan pergi ke Pasar Johar. Di pasar tersebut order pekerjaan apa saja ditermianya dari makelar sepeda hingga bekerja bangunan pun dilakukannya. Hingga dia bertemu dengan temannya yang memiliki usaha gipsum dan Jaelan pun bicara pada temannya tersebut agar diperbolehkan ikut bekerja.

“Temanku tersebut menerimaku bekerja. Kata temanku kalau mau kerja besok berangkat saja. Saking senangnya semalaman aku sampai tidak bisa tidur. Karena aku bisa menyetir mobil aku pun diminta temanku membawa mobil untuk mengirim gipsum kepada para pelanggan,” bebernya.

Pria yang sekarang dikaruniai tiga orang anak itu menuturkan, bekerja ikut temannya tidak lama, hanya beberapa bulan saja. Setelah melihat proses pembuatan gipsum yang dianggapnya gampang tersebut Jaelan kemudian memutuskan mendirikan usaha pembuatan gipsum sendiri dengan modal menjual kalung emas milik putrinya.

“Dari menjual kalung putriku itu aku mendapatkan uang Rp 450 ribu. Sebagian aku gunakan belanja bahan pembuatan gipsum dan sisanya aku gunakan menyewa sepeda motor untuk mencari orderan,” ungkapnya.

Pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar tersebut mengungkapkan, karena modanya terbatas dirinya tidak berani menyetok gipsum. Yang dilakukannya saat itu yakni setiap hari keliling mencari order dan setelah mendapatkan order baru dia membuat gipsum sesuai pesanan pelanggan. Kata dia, setiap hari keliling, Kudus, Demak, Jepara, Pati Hingga Rembang untuk mencari orderan.

Menurutnya, dari hasil kelilingnya tersebut beberapa kali mendapatkan order. Dan setiap order dia bersukur pelanggannya selalu percaya hingga bersedia memberikan DP. Dia bersyukur sekarang usaha pembuatan gipsumnya sudah berkembang dan sudah lumayan hasilnya.

“Alhamdulillah dari usaha pembuatan dan penjualan gipsum tersebut kini aku mampu beli tanah, rumah bertingkat dan mobil. Rumah ada dua dan mobil ada tiga, yang dua untuk operasional usaha. Kini selain gipsum aku juga merambah usaha bengkel las,” tuturnya.

- advertisement -

Neno: Ini Cara Sederhana Kami Menyerukan Pesan Perdamaian

0
Fasbuk hari perdamaian_2017_7_21
Tabita dan Vika saat tampil di acara Fasbuk memperingati Hari Perdamaian Dunia. Foto: Ahmad Rosyidi

SEPUTARKUDUS, UMK – Kain berwarna warni menghiasi sebuah panggung di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu, (20/9/2017) malam. Ratusan penonton terlihat antusias mengikuti acara rutin yang digelar Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk), bekerjasama dengan HMP SI UMK dan didukung Djarum Foundation Bakti Budaya.

Acara bertajuk Lantunan Kedamaian tersebut digelar memperingati Hari Perdamaian Dunia 21 September. Usai acara pementasan dan diskusi, terlihat seorang pria berkaus hitam dengan tulisan Fasbuk di bagian dada, terlihat sedang mengambil gambar untuk dokumentasi. Pria tersebut yakni Edi Sukirno (31), penanggung jawab acara yang digerlar Fasbuk.

Menurutnya, acara ini menjadi cara sederhana untuk menyerukan perdamaian. Neno, begitu Edi Sukirno akrab disapa, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang kegiatan tersebut. Dia mengatakan, ingin mengajak generasi muda untuk menciptakan perdamaian dengan hal-hal sederhana, dengan berkarya.

“Karena kami bergerak di bidang seni, jadi kami tidak harus turun ke jalan. Saya dan teman-teman Fasbuk memilih untuk melakukan aksi sesuai dengan passion kami, dengan kesenian dan berkarya,” terang pria yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Dia mengaku puas, dengan pementasan adik-adik yang sudah berkarya dan menyerukan tentang perdamaian melalui kesenian. Neno juga merinci seluruh pengisi acara pada malam itu, di antaranya yakni Teater Oncor dari Madrasah TBS Kudus, MuthiaharlikaHani dari SMKN 1 Kudus, Rika Dea Ariati dari SMAN 2 Kudus, Tabita Nathasya Nugroho dari SMAN 1 Kudus, dan Vika Amartya dari SMAN 1 Kudus.

Aditya Idris (24), satu di antara ratusan penonton yang hadi pada acara tersebut, mengaku tertarik hadir karena ada pementasan musik dalam Fasbuk edisi bulan September. Dia sudah tiga kali hadir di acara Fasbuk, dan semua ada pementasan musiknya. “saya memang lebih suka seni musik, kalau yang lain kurang begitu suka,” terang warga Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus itu.

Adit sapaan akrabnya, meski dirinya kurang suka dengan sastra, dia cukup mengapresiasi kegiatan Fasbuk. Adit juga berharap acara Fasbuk terus berkembang dan lebih kreatif lagi. Menurutnya, saat ini sastra memang kurang diminati, maka dari itu perlu terus diserukan agar generasi muda seperti dirinya juga bisa mulai menyukai sastra.

“Meski saya kurang begitu suka kesenian selainmusik, tetapi saya cukup mengapresiasi acara ini. saya juga berharap Fasbuk bisa lebih berkembang dan lebih baik lagi kedepannya,” ungkapnya sebelum pulang.

- advertisement -

Saking Larisnya, Solikhin Tak Bisa Menyetok Kasur di Tokonya

0
Sholikin, produsen kasur dan bantal berbahan kapuk di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus
Sholikin, produsen kasur dan bantal berbahan kapuk di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Di tepi barat Jalan KH Muhammad Arwani Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di sebelah barat SMP 4 Kudus, tampak sebuah rumah. Di bagian depan rumah tersebut dijadikan toko untuk menjual kasur, bantal dan guling. Tempat tersebut yakni UD barokah. Saking banyaknya pesanan di toko tersebut, pemilik toko yang sekaligus produsen itu tak pernah ada memiliki stok kasur.

Sholikin, produsen kasur dan bantal berbahan kapuk di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus
Sholikin, produsen kasur dan bantal berbahan kapuk di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Solikhin (46), selaku pemilik usaha pembuatan kasur tersebut, menuturkan, meski memiliki toko untuk menyetok kasur dan bantal yang mereka produksi, namun selama ini dia tidak pernah punya setok kasur untuk dipajang di tokonya. Hal tersebut dikarenakan banyaknya order pembuatan kasur yang dia terima.

Alhamdulillah selama ini order lancar dan selalu berdatangan. Saking banyaknya kami tidak bisa menyetok kasur untuk di pajang di toko kami. Bahkan satu kasur yang ada itu juga pesanan orang dan tinggal menunggu diambil yang pesan,” ungkap Solikhin saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Pria yang sudah dikaruniai dua orang anak itu mengungkapkan, selain tidak bisa menyetok kasur  dirinya juga harus pintar memberi tenggat waktu kepada para pemesan agar mereka tidak kecewa. Menurutnya, biasanya dia minta waktu pengerjaan sekitar sepekan hingga dua pekan. Namun, seandaianya kasur bisa jadi lebih cepat maka si pemesan akan dikabarinya.

Dia menuturkan, membuat kasur sesuai permintaan pelanggan. Selama ini ada beberapa macam unkuran yang dipesan yakni ukuran 1×1,9 meter yang dihargai Rp 530 ribu. Untuk ukuran 1,2×1,9 meter dibandrol Rp 650 ribu, ukuran 1,4×1,9 meter dihargai Rp 710 ribu. Sedangkan ukuran 1,6×2 meter dan 1,8×2 meter dibanderol masing-masing Rp 820 ribu dan Rp 950 ribu.

“Harga tersebut tidaklah baku, bisa lebih mahal atau juga bisa lebih murah. Karena sebenarnya harga ditentukan oleh berat kapuk yang diisikan, dengan harga kapuk Rp 27 ribu per kilogram. Khusus untuk ukuran lebar 1,6 dan 1,8 jika pemesan minta dijadikan model kupu tarung, maka si pemesan harus menambah ongkos Rp 30 ribu,” jelasnya.

Sedangkan untuk harga bantal, tuturnya, dijual mulai Rp 20 ribu per pcs hingga Rp 35ribu. Sedangkan bantal guling dijualnya Rp 35ribu sampai 55 ribu. “Dalam sebulan kami bisa menjual ratusan bantal serta guling. Sedangkan kasur kami hanya mampu mengerjakan sekitar 20 kasur saja sebulan meski pesanannya jauh lebih banyak,” ungkapnya.

Pria berkaca mata itu mengatakan, berbeda dengan kasur yang tak mampu menyetok, di tokonya tersebut masih bisa memajang beberapa bantal dan guling. Itu dikarenakan pembuatan bantal dan guling bisa lebih cepat serta istrinya juga bisa ikut mengisi kapuk untuk bantal dan guling. Sedangkan pembuatan kasur hanya dirinya saja yang mengerjakan.

- advertisement -

Hampir Putus Asa, Arif Bangkit Pasarkan Handmade Rajutan Usai Ikut Reuni

0
Arif Afroni bersama istri membuat produk rajutan hand made_2017_8
Arif Afroni bersama istri membuat produk rajutan hand made. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Di tepi selatan Jalan Bakti tepatnya di pojok lampu merah perempatan Desa Burikan, Kecamatan Kota Kudus, tampak sebuah rumah berwarna putih. Di dalam sebuah rumah terlihat seorang pria mengenakan topi putih sedang sibuk membantu istrinya yang sedang merajut. Pria tersebut yakni Arif Afroni (45) yang semangat memasarkan handmade rajutan istrinya setelah ikut reuni Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Arif itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai memasarkan handmade rajutan istrinya sejak Februari tahun ini. Namun selama dua bulan memasarkan aneka rajutan yang dibuat istrinya tersebut hanya laku satu pcs dan hampir membuatnya putus asa.

Baca berita selengkapnya: Essa Collection Buat Produk Handmade Rajutan dengan Berbagai Karakter Kartun

Selain hampir putus asa dia mengaku mulai pesimis. Hingga pada Bulan April dia mendapatkan undangan reuni MTs N lulusan 1987. Saat itu dirinya berniat tidak datang ke acara reuni dikarenakan minder karena banyak temannya yang sudah sukses. Namun teman-temannya tersebut meyakinkannya untuk datang. “Sekalian beritahukan kepada mereka kalau kamu punya usaha handmade rajutan,” ujarnya menirukan ucapan temannya.

Pria berkaca mata tersebut melanjutkan, ternyata saat di acara reuni tersebut dan setelah dirinya memberi tahukan kepada teman-temannya tentang handmade rajutannya. Para teman-temanya itu banyak yang support, memberi masukan, ada juga yang bantu memasarkan serta di acara reuni tersebut banyak pula temannya yang memesan aneka handmade rajutan buatan istrinya.

Seusai pulang dari acara reuni tersebut dia mengaku senang dan timbul semangat untuk memasarkan aneka handmade rajutan istrinya. Istrinya juga diminta olehnya untuk terus berinovasi agar aneka handmade rajutan buatannya makin inovasi banyak pilihan hingga mematik minat orang untuk memilikinya.

Dia mengatakan, istrinya bisa membuat aneka handmade rajutan sesuai pesanan di antaranya, tas ransel rajut berkarakter yang dijual dengan harga mulai Rp 300 ribu. Untuk yang tidak ada karakternya dihargai Rp 250 ribu per pcs.  Ada juga slim bag yag dibanderol mulai Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu, dompet dijualnya Rp 100 ribu.

“Selain tas dan dompet istriku juga bisa membuat rok rajutan, syal rajut dan bungkus tempat minum berkarakter yang kami jual mulai Rp 75 ribu per pcs. Gantungan kunci serta kami juga bisa membuat sepatu serta topi bayi rajut yang kami bandrol sepaket Rp 100 ribu,” jelasnya.

Selama ini pemesan tidak hanya orang Kudus saja melainkan juga lain daerah di antaranya, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pekalongan, Demak, dan daerah lainnya.”Aku berharap usaha handmade rajutan yang kami rintis bisa berkembang dan aneka handmade rajutan istriku makin diminati banyak orang,” harap pria yang dikaruniai satu anak tersebut.

- advertisement -

Essa Collection Buat Produk Handmade Rajutan dengan Berbagai Karakter Kartun

0
Arif Afroni bersama istri menunjukkan produk Essa Collection_2017_8
Arif Afroni bersama istri menunjukkan produk Essa Collection. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Seorang wanita dan pria bertopi putih tampak sibuk di lantai sebuah rumah yang berada di Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat tangan perempuan tersebut dengan cekatan merajut benang. Di sampingnya tampak beberapa prakartya hasil rajutannya dipajang di pintu rumahnya. Tempat tersebut yakni Essa Collection, usaha handmade rajutan satu-satunya di Kudus yang memiliki karakter.

Kepada Seputarkudus.com, Arif Afroni, pemilik Essa Collection sudi berbagi penjelasan tentang klaim tersebut. Dia menegaskan, bahwa usaha handmade rajutan miliknya satu-satunya di Kudus yang memiliki karakter. Menurutnya, membuat rajutan tidak semua orang bisa karena terbilang rumit, apalagi yang ada karakternya atau motif gambarnya.

“Silahkan cek, handmade rajutan di Kudus yang ada karakternya pasti hanya di Essa Collection. Soalnya kami sudah mengecek produk serupa di Kudus dan hanya kami yang membuat aneka handmade berkarakter,” ujar pria yang akrab disapa Arif saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Pria warga Desa Burikan, Kota, Kudus tersebut menuturkan, Essa Collection menyediakan aneka produk rajutan dengan aneka bentuk, ada yang polos maupun berkarakter. Di antaranya, tas, dompet, topi dan sepatu bayi, syal, gantungan kunci, rok bawahan dan lain sebagainya. Sedangkan aneka barang tersebut ada yang berkarakter misal Doraemon, Spiderman, Mickey Mouse, Hello Kitty dan lainnya.

“Selain karakter tokoh yang aku sebutkan tadi, kami juga siap melayani pembuatan aneka handmade rajutan dengan tokoh karakter yang diinginkan pelanggan. Kami pastikan tidak mengecewakan dan dijamin handmade dari Essa Collection sangat berkualitas,” tegasnya dengan mantab.

Pria yang dikaruniai satu anak tersebut mengungkapkan, membuat handmade rajutan selain butuh kejelian, kesabaran juga tergantung suasana hati. Karena merajut itu termasuk seni, sama dengan melukis saat sang pelukis lagi suasana hati yang tidak baik, maka lukisannya tidak bakalan jadi. Begitu juga dengan merajut, untuk menghasilkan rajutan yang berkualitas, mood sang perajut harus selalu terjaga.

Oleh sebab itu tidak semua orang bisa merajut, tapi tentu bisa dipelajari. Bahkan dia berharap bisa kerjasama dengan beberapa ibu rumah tangga yang ingin bisa merajut, dia bersama istrinya siap mengajari sampai bisa. “Kerjasama tersebut rencananya untuk jangka panjang. Para ibu-ibu tersebut yang memproduksi dan kami siap memasarkannya,” ungkapnya.

Dia mengaku, selama ini belum menemukan orang yang bisa diajak kerja sama. Beberapa kali ada orang yang belajar merajut, tapi kebanyakan mereka tidak sabar dan akhirnya keluar sebelum mereka bisa merajut. Dia berharap dalam waktu dekat bisa menemukan beberapa orang yang ingin serius bisa merajut dan bisa diajak kerjasama, hingga saat ada order dalam partai banyak, dia berani menerimanya.

- advertisement -

Pasangan Ini Rintis Kedai Bakso Hitam untuk Biaya Menikah

0
Alif dan tunangannya, pemilik Kedai Bakso Hitam di Kudus_2017_8
Alif dan tunangannya, pemilik Kedai Bakso Hitam di Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Seorang pria berkaus oblong terlihat sibuk menyediakan bakso pesanan para pembeli yang datang. Kedua tangannya cekatan memasukan bihun, kol, tauge ke dalam mangkuk, kemudian dimasukan pula beberapa butir bakso. Pria tersebut yakni Muhammad Alif Rizky (24), yang merintis usaha bareng tunangannya dan hasilnya akan digunakan untuk menikah.

Saat ditemui di kedainya beberapa waktu lalu, pria yang akrab disapa Alif tersebut sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, bertunangan dengan keksaihnya beberapa bulan yang lalu. Agar nanti tak terlalu memberatkan orang tua, dia dan calon istrinya tersebut merintis usaha. Dan hasilnya nanti bisa digunakan untuk menikah.

Baca juga: Warung Ini Sediakan Bakso Hitam, yang Punya Masalah Pencernaan Silakan Coba

“Kami berdua sepakat saat menikah nanti tidak ingin terlalu merepotkan apalagi membebani orang tua kami dengan biaya menikah. Karena itu kami iuran untuk membuka usaha bersama. Aku mengambil uang tabungan dari hasil kerjaku dan tunanganku modal dari dapat arisan. Semoga niat baik kami bisa terwujud,” ujarnya sambil menengok melihat tunangannya yang sedang melayani pembeli.

Warga Kelurahan Wergu Wetan, Kota, Kudus itu mengungkapkan, sebelumnya dirinya dan keksaih hatinya tersebut sempat bingung mau mrintis usaha apa yang di Kudus belum ada dan modalnya tidak terlalu besar. Karena diakuinya, modal mereka sangat terbatas. Setelah banyak mencari refrensi dari internet kemudian dia mantab membuka warung bakso hitam yang terbuat dari daging sapi.

Menurutnya, berjualan bakso tidak membutuhkan terlalu banyak modal, sedangkan bakso hitam di Kudus sebelumnya belum ada yang menjualnya. “Mungkin penjual bakso betebaran di Kota Kretek, namun yang menjual bakso hitam saat ini hanya kami. Dan karena usaha ini kami rintis berdua jadi nama kedainya gabungan antara namaku dan nama tunanganku, yakni Ek Alif,” jelasnya sambil tersenyum.

Dia mengaku di kedainya tersebut saat ini hanya menyediakan menu bakso hitam yang dijualnya dengan harga Rp 10 ribu per porsi. Sedangkan minumannya ada jus aneka buah di antaranya, nanas, mangga, buah Naga, alpukat dan lainnya yang dijual dengan harga Rp 4 ribu per gelas. Selain itu juga ada sop buah yang dihargai Rp 6 ribu per porsi.

Menurutnya, sepekan berjualan respon para pembeli terhadap bakso hitamnya sangat bagus, dan lumayan laris. Dalam sehari dia mengaku mampu menjual antara 30 sampai 50 porsi sehari. Begitu juga dengan jus buahnya dia mampu menjual dengan total yang sama dengan bakso hitam dalam sehari. Sedangkan sop buah kedai Ak Alif mampu menjual tak kurang dari 20 porsi sehari.

“Aku berharap bakso hitam yang kami jual diminati banyak orang dan makin laris. Karena sebenarnya selain rasanya yang enak, bakso hitam juga banyak khasiatnya untuk tubuh. Semoga juga usaha kami ini bisa makin berkembang dan hasilnya dalam waktu dekat bisa untuk biaya menikah dan jangka panjangnya kelak bisa buka cabang serta mampu untuk meanafkahi keluarga kami,” harap Alif.

- advertisement -

Mbah Parwan, Perajin Layangan Beraneka Bentuk Sejak Puluhan Tahun Silam

0
Mbah Parwan menunjukkan layangan yang dia buat
Mbah Parwan menunjukkan layangan yang dia buat. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Seorang pria renta dengan rambut yang penuh uban tampak duduk di pelataran rumah di Desa Ploso RT 1, RW 4, Kecamatan Jati, Kudus. Sambil duduk dia terlihat memegang pisau untuk meraut bambu. Di sebelahnya tampak beberapa layangan berbagai bentuk. Pria tersebut yakni Parwan (75), serang perajin dan penjual layangan berbagai bentuk.

Di sela aktivitasnya, Parwan sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang kerajinan layangan yang ia buat. Dia mengungkapkan, menekuni pembuatan layangan beraneka bentuk selama satu dasawarsa. Dia menjadi pembuat layangan karena tak sengaja, karena sebelumnya, ia berjualan kayu bakar dan istrinya membuka warung makan.

“Aku berjualan kayu bakar sudah puluhan tahun, dan pada tahun 2007 aku membuat layangan. Namun bukan layangan pada umumnya, karena aku membuat layangan dengan bentuk vespa. Dan sejak itu banyak tetangga yang minta dibuatkan layangan dengan bentuk yang mereka inginkan,” ujarnya saat di temui beberapa waktu lalu.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak dan empat cucu itu mengatakan, saat itu layangan yang dia buat masih menggunakan bahan plastik. Suatu ketika, ada orang Jakarta yang punya kerabat di Kudus dan pesan layangan dengan bentuk burung, namun bahannya terbuat dari kain dan bisa dilipat. Menurutnya, pesanan itu diseutujuinya dan orang Jakarta itu sangat senang melihat hasilnya.

Sejak saat itu, dia mengaku mulai menyetok layangan dengan aneka bentuk dan mulai buka toko kecil di rumahnya. Selain layangan bentuk burung yang dijualnya dengan harga mulai Rp 30 ribu ukuran paling kecil hingga Rp 60 ribu. Sedangkan untuk bentuk kelelawar dijual Rp 50 ribu. Ada juga bentuk Batman dibaderol Rp 60 ribu, kupu-kupu dan ikan dijual seharga Rp 25 ribu serta Rp 40 ribu.

“Selain layangan dengan aneka bentuk, aku juga membuat layangan biasa berbentuk ikan petek dengan harga Rp 16 ribu per kodi dan aku jual ecer dengan harga Rp 1 ribu per pcs,” ungkapnya sambil menyalakan rokok kretek di tangannya.

Dia kemudian melanjutkan, saat ini layangan hasil karyanya dibeli para pedagang yang berada di Kudus, Jepara, Demak serta Purwodadi. Saat musim kemarau layangan besar dengan berbagai bentuk miliknya sedang laris. Kata dia, pada bulan Juni, Juli dan Agustus dia mampu menjual layangannya dengan aneka bentuk tersebut sekitar 100 pcs per bulan.

“Itu untuk layangan besar dengan berbagai macam bentuk, sedangkan layangan kecil petekan larisnya pada Januari hingga Mei. Saat bulan-bulan tersebut aku mampu menjual sekitar 8 ribu pcs layangan petekan,” jelasnya.

Selain menjual layangan, dia juga menjual benang dengan harga mulai RP 1500 ribu sampai Rp 10 ribu per rol. Sedangkan untuk layangan besar disediakannya kalar khusus yang dijualnya dengan harga Rp 10 ribu per rol.

“Di usia senjaku ini aku bersukur masih bisa berkarya meski hanya membuat layangan. Setidaknya bisa untuk menyambung umur, seperti toko ku ini yang aku beri nama Toko Nyambung Umur dengan harapan bisa menghasilkan agar tidak merepotkan anak-anaku, dan bisa untuk mengisi umur tuaku,” ujarnya.

- advertisement -

Warung Ini Sediakan Bakso Hitam, yang Punya Masalah Pencernaan Silakan Coba

0
Bakso Hitam Kudus _Agustus_2017
Bakso Hitam, sajian kuliner di warung bakso Ek Alif, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi utara Jalan Lingkar Utara, tepatnya di depan United Futsal Stadium, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus tampak deretan kios beratap seng. Di dalam satu kios tersebut tampak beberapa orang sedang duduk dan mengobrol sambil minum es yang mereka pesan. Ada pula yang asyik menyantap semangkuk bakso. Namun ada yang tak lazim dengan bakso yang dihidangkan, karena bakso yang mereka makan berwarna hitam.

Tempat tersebut yakni kedai Eka Alif, yang menyediakan sajian bakso hitam yang konon banyak manfaatnya untuk tubuh. Kepada seputarkudus.com Muhamad Alif Rizky (24) selaku pemilik kedai mengungkapkan, selain lebih enak bakso hitam memang ada khasiatnya tersendiri untuk tubuh. Karena bakso hitam buatannya tersebut, selain terbuat dari daging sapi, juga terbuat dari arang bambu khusus untuk makanan.

“Arang bambu yang aku campurkan ke dalam adonan bakso hitamku tersebut punya khasiat untuk menghilangkan racun dalam pencernaan. Mampu memperbaiki sistem pencernaan. selain itu juga mampu meregenerasi sel organ pencernaan agar tetap sehat,” ungkap pria yang akrab disapa Alif saat ditemui di kedainya beberapa waktu lalu.

Pria Warga Wegu Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu menegaskan, bakso hitam yang dijualnya tersebut selain enak dan lezat juga sangat baik bagi kesehatan tubuh. Khususnya bagi mereka yang memiliki pencernaan sedang bermasalah. Dengan rutin menyantap bakso hitam, mereka yang memiliki gangguan pencernaana akan berangsur-angsur sehat kembali. “ Ya jadi semacam kayak terapi,” ujarnya.

Dia melanjutkan, saat ini dirinya menjadi satu-satunya penjual bakso hitam di Kota Kretek. Menurutnya, bakso yang dia buat tanpa pewarna kimia, bahan pengawet atau pun zat kimia lain.

Pria yang sudah bertunangan tersebut mengatakan, berjualan bakso hitam belum lama dan masih hitungan hari. Meski begitu, kata dia, respon masyarakat terhadap bakso hitam miliknya sangat bagus. Apalagi bagi mereka yang tahu khasiatnya pasti akan sering datang ke kedainya.

Menurut Nuryadi, pembeli yang datang ke kedai Ek Alif mengungkapkan, rasa bakso hitam sangat enak, dan beda dengan bakso pada umunya yang pernah dia santap. Diungkapkannya, daging sapi dalam bakso tersebut sangat terasa, selain itu sensasi arang hitamnya menambah nikmat rasa bakso tersebut.

“Aku pribadi sebenarnya sudah tahu kalau bakso hitam itu banyak manfaatnya untuk tubuh kita. Karena sebelumnya aku juga membaca di internet tentang bakso hitam. Kebetulan sekarang di Kudus ada, karena kepanasaran dengan rasanya. Ternyata benar enak, campuaran arang hitamnya pas jadi tidak mengganggu rasa bakso aslinya,” ujar warga Jepang tersebut.

- advertisement -

Terkena PHK, Riyanto Sukses Merintis Usaha Jual Beli Televisi Tabung dengan Modal Hutang

0
20171101_RS_Slamet Riyanto, tukang servis televisi di Kudus
Slamet Riyanto, tukang servis televisi di Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Puluhan televisi tabung baru dan bekas terpajang di atas rak besi serta terjajar rapi di lantai bangunan  di tepi barat Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Di antara puluhan televisi tersebut tampak seorang pria mengenakan kaus oblong coklat duduk sambil menonton acara televisi. Pria tersebut yakni Slamet Riyanto (32) yang sukses menekuni usaha jual beli televisi tabung setelahkontrak kerjanya tak diperpanjang.

Sambil menonton televisi pria yang akrab disapa Riyanto itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, sudah 10 tahun merintis usaha jual beli televisi tabung. Tepatnya pada tahun 2007, sejak kontrak kerjanya di perusahaan elektronik terbesar di Kudus tak diperpanjang.  Selama lima tahun bekerja di perusahaan tersebut dirinya juga mulai berjualan televisi barang sortiran (BS).

“Setelah kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku tidak bisa berjualan televis BS-an pabrik. Karena memang peraturannya yang bisa membeli dan menjual harus orang dalam. Karena tidak ingin menganggur setelah keluar kerja, aku pun nekat membuka usaha jual beli televisi tabung bekas,” ungkapnya.

Pria warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus itu menuturkan, pada saat itu dirinya membeli televisi bekas maupun rusak dari masyarakat maupun pemulung. Kemudian televisi bekas tersebut diperbaikinya dan kemudian dijualnya kembali dan bergaransi. Dengan kualitas televisi bekas yang dijualnya Riyanto pun mampu menarik kepercayaan para pedagang televisi bekas di Pasar Kliwon Kudus.

“Sebelum pasar terbakar yang terakhir itu hampir semua pedagang televisi bekas di Pasar Kliwon mengambil televisi di tempatku. Dalam sebulan aku bisa mengirim sekitar 90 unit televisi tabung bekas kepada para pedagang di Pasar Kliwon,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, tapi sayangnya setelah Pasar Kliwon terbakar usaha jual beli televisinya juga terkena imbasnya. Bahkan para pedagang televisi di pasar tersebut tidak mengambil lagi televisi darinya sampai sekarang. Namun setiap kejadian pasti ada hikmahnya, karena tidak lama berselang dirinya mendapat tawaran membeli spare part televisi komplit.

“Saat mendapatkan tawaran itu aku tidak berfikir panjang dan langsung menyanggupi membelinya meski tidak punya uang. Karena dengan spare part televisi lengkap tersebut, di pikiranku terlintas aku bisa merangkai televisi baru,” bebernya.

Dia mengatakan, karena tidak punya uang dirinya pun meminjam ke temannya sebesar Rp 100 juta dengan perjanjian bagi hasil saat televisi laku terjual. Setelah semua spare part televisi tersebut terbeli dirinya pun mempekerjakan tiga orang teknisi perakit televisi. Dan Ahamdulillahnya, setelah beberapa televisi terakit ada pasanan dari toko di Semarang yang meminta setiap bulan dikirim sebanyak 100 unit televisi baru.

“Alhamdulillah order dari Semarang itu masih bertahan hingga sekarang. Dengan order tersebut dalam sebulan aku sudah mampu mengembalikan modal plus uang bagi hasilnya. Sekarang aku sudah buka cabang penjualan baru. Dari hasil penjualan televisi baru yang kami rakit itu, aku sudah mampu membeli dua mobil halus,” ujarnya.

- advertisement -

Setelah Ganti Merek Gabungan Nama Anaknya, Usaha Tas Milik Ngatman Berkembang Pesat

0
Tas Chosagie, produk Desa Loram Wetan
Tas Chosagie, produk Desa Loram Wetan. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Beberapa orang tampak sedang sibuk di dalam rumah yang berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka tampak berbagi tugas, ada yang menjahit, ada yang menggambar pola tas serta memotongnya. Di ruangan lain terlihat tumpukan tas sesuai bentuk. Tas tersebut yakni tas merek Chosagie, yang namanya merupakan singkatan nama depan empat anak Ngatman (51), pemilik usaha pembuatan tas tersebut.

Amin Sutanto, (35) pengelola usaha, yang juga menatu Ngatman, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang merek Chosagie. Anto, begitu dia akrab disapa, menuturkan, kata Chosagie diambil dari nama keempat anak mertuanya.

Baca juga: Tas Chosagie, Tas Sekolah Legendaris dari Loram Wetan yang Dikenal di Jateng dan Jatim

“Chosagie itu diambil dari nama kesemua anak mertuaku. Cho itu Cholik nama anak pertama mertuaku. Kemudian Sa itu dari nama istriku dan adiknya yakni Dwi Purnama Sari dan adiknya Febriana Permata Sari. Jadi Sa itu aslinya Sari. Sedangkan Gie itu dari kata Ragiel anak bungsu bapak Ngatman,” jelasnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang masih tinggal bersama mertuanya itu mengatakan, sebelum diberi merek Chosagie, tas produksi usaha yang dia kelola beberapa kali sudah berganti-ganti merek. Hal tersebut tak lepas dari lika-liku perjalanan merintis usaha. Selain itu juga terkadang ada sebuah kejadian yang merugikan usaha bapak dari istrinya tersebut dan terpaksa harus mengganti merk agar lebih hoki.

Dia menuturkan, bahkan sebelum diberi merek Chosagie pernah mertuanya beberapa kali ditipu orang. Tak jarang pula uang pembayaran tas dibawa lari sales yang memasarkan tas hasil produksi mertuanya. Setelah keempat anaknya, lahir kemudian Ngatman berinisiatif memberikan merek tas hasil produksinya dengan Chosagie.

“Dari cerita mertuaku, Alhamdulillah sejak diberi merk Chosagie yang merupakan berasal dari nama keempat anaknya tersebut, usaha mertuku lumayan berkembang. Selain anugrah, keempat anaknya tersebut seolah hoki bagi usaha mertuaku,” ungkapnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu menuturkan, kini untuk pemasaran tas Chosagie tidak dipercayakan pihak ketiga ataupun sales. Jadi sekarang semua pemasaran dihandel oleh mertuanya sendiri dan mertuanya tersebut mendatangi langsung para pedagang yang berada di pasar. Begitu juga dengan pembayarannya. Semua pembayaran langsung diurusi sama mertuanya dengan sistem cash, ada barang ada uang.

Dia menuturkan, Tas Chosagie hasil produksi mertuanya kini sudah didistribusikan ke beberapa pasar di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk Jawa Tengah, Selain di Kudus, Semarang, Solo juga didistribusikan ke Pekalongan dan sekitarnya. Sedangkan di Jawa Timur, Tas Chosagie sudah terdistribusi ke Surabaya, Gresik, Malang, Bojonegoro, dan beberapa daerah lainnya.

Menurutnya, sekali pengiriman kesatu daerah bisa sampai ratusan  lusin. “Semoga saja kedepannya Tas Chosagie bisa merambah pasar lebih luas lagi. Tidak hanya di Jawa melainkan juga diminati hingga pulau seberang,” harapnya.

- advertisement -

Madrasah TBS Bangun Gedung PAUD TBS, Februari 2018 Siap Digunakan

0
KH Arifin Fanani memasukkan cor semen ke dalam tanah sebagai tanda peletakan batu pertama pembangunan Paud TBS
KH Arifin Fanani memasukkan cor semen ke dalam tanah sebagai tanda peletakan batu pertama pembangunan PAUD TBS

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Alat berat back hoe tampak berada di lahan pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, Jalan KH M Arwani, Desa Krandon Kecamatan Kota, Kudus, Minggu (17/9/2017). Di depan alat berat tersebut terlihat sudah tertancap patok kayu dengan beberapa cangkul yang akan digunakan untuk menandai dimulainya pembangunan gedung sekolahan.

Tampak beberapa pimpinan Yayasan TBS Kudus, di antaranya KH Choirudzyat Tadjussyarof, KH M Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi dan KH Musthofa Imron terlihat duduk beralaskan tikar. Mereka melakukan doa, setelah itu memulai proses peletakan batu pertama pembangunan sekolah tersebut.

KH Choirudzyat Tadjussyarof dengan dibantu seorang panitia pembangunan berjalan menuju tempat tak jauh dari alat berat. Dia terlihat mengayunkan cangkul ke tanah sebanyak tiga kali. Selanjutnya, sejumlah masyayikh TBS melakukan hal yang sama.

Menurut Kepala Yayasan Madrasah TBS Kudus KH Choirudzyat Tadjussyarof, tanah yang digunakan untuk gedung PAUD TBS bukan tanah wakaf. Tanah itu dibeli Yayasan TBS.  Dia menceritakan, tanah yang digunakan untuk membangun gedung PAUD merupakan tanah yang tidak laku, bahkan harganya murah.

“Saya jelaskan tanah ini bukan tanah wakaf melainkan tanah pembelian. Mau diwariskan bisa, dijual juga bisa. Namun jika tanah wakaf tidak bisa diapa-apakan. Hanya bisa dimanfaatkan,” jelasnya dengan Bahasa Jawa.

Sementara itu, Ketua Pembangunan Muhammad Jamaluddin menuturkan, pembangunan gedung PAUD tersebut diperkirakan membutuhkan biaya Rp 865 juta. Pembangunan gedung diperkirakan selesai Februari 2018 mendatang. Menurutnya, setelah pembangunan selesai, pihaknya akan segera membuka pendaftaran peserta didik.

“Februari 2018 sudah jadi. Nanti kami langsung membuka pendaftaran untuk peserta didik baru,” ungkapnya selepas kegiatan peletakan batu pertama tersebut.

Dia menjelaskan, di atas tanah seluas 288 meter persegi itu akan dibangun gedung dua lantai di bangunan depan dan satu lantai di bagian belakang. Setiap kelas akan dibuat ukuran 7×6 meter, dan akan ada tujuh kelas. “Untuk pembukaan pertama kapasitas kelas yang kami miliki hanya 80 siswa putra dan putri,” tambahnya.

Jamal melanjutkan, dari kelas yang dibangun nantinya akan dibagi menjadi kelas Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK). KB untuk anak usia dua sampai empat tahun dan TK usia lima sampai enam tahun. Untuk KB setiap kelas akan ada sembilan siswa dan TK 20 siswa.

Pihaknya juga mengaku sudah menyiapkan tenaga didik yang sesuai dengan keilmuannya. “Tujuan kami mendirian PAUD TBS yakni memberikan pemahaman dan pengenalan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan akhlaq Islami lebih dini kepada anak. Selain itu juga memberikan keterampilan dasar yang perlu dikuasai oleh anak dengan cara yang menyenangkan,” terangnya.

- advertisement -

Tas Chosagie, Tas Sekolah Legendaris dari Loram Wetan yang Dikenal di Jateng dan Jatim

0
Tas sekolah merek Chasogi produksi Kudus, 2017_7_25
Tas sekolah merek Chasogi produksi Kudus

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di dalam rumah yang berada di Desa Loram Wetan gang Sopo Royo, Kecamatan Jati, Kudus tampak beberapa perempuan sedang mengoperasikan mesin jahit. Di ruangan lain terlihat seorang pria sedang mengemas beberapa tas lalu mengemas tas tersebut. Rumah tersebut merupakan tempat produksi tas bermerek Chosagie, milik Ngatman (51).

Menurut Amin Sutanto (35), menantu Ngatman, meceritakan, mertuanya merintis usaha pembuatan tas sudah sekitar 23 tahun. Namun sebelum mulai berani merintis usaha, mertuanya pernah ikut bekerja kepada orang lain sejak remaja hingga menikah sebagai tenaga jahit.

“Setelah menikah, mertuaku membawa pulang semua garapan menjahit tas dan dikerjakan di rumah. Tujuannya agar selain menjahit mertuaku juga bisa mengerjakan sesuatu lainnya yang menghasilkan uang. Pokoknya dulu selain menjahit mertuaku juga kerja serabutan,” ungkap pria yang akrab disapa Anto kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Pria yang sudah dikaruniai satu putri itu mengatakan, yang dilakukan mertuanya itu bertujuan agar bisa mendapatkan uang lebih dan bisa untuk modal merintis usaha produksi tas secara mandiri. Menjahit dan kerja serabutan itu dilakukan oleh mertuanya selama kurang lebih lima tahun. Saat dirasa sudah cukup modal, sekitar tahun 1994 mertuanya tersebut memberanikan diri memproduksi tas.

Amin menuturka, saat itu mertuanya menjahit tas yang diproduksinya. Saat sudah ada beberapa lusin produk tas, kemudian mertuanya menawarkannya ke beberapa peadagang di beberapa pasar di Jawa Tengah. “Dan Alhamdulillah responnya bagus. Bahkan sekarang pedagang langganan tas Chosagie sudah ada puluhan pedagang yang tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ungkap Anto.

Pria yang menikahi anak kedua Ngatman itu menuturkan, permintaan Tas Chosagie meningkat tajam saat masuk tahun ajaran baru. Untuk satu pedagang saja di Jawa Tengah ada yang meminta dikirim Tas Chosagie sebanyak 120 lusin, itu belum termasuk pedagang lainnya. Sedangkan untuk daerah Jawa Timur, di antaranya, Surabaya, Gresik, Malang, Bojonegoro, dan sejumlah daerah lainnya, meminta sebanyak-banyaknya Chosagie.

“Untuk ajaran baru masuk sekolah memang permintaan tas kami meningkat tajam. Sedangkan di luar waktu tersebut, satu mobil boks berisi 120 lusin itu dibagi ke beberapa pedagang di satu daerah Kabupaten,” ungkapnya.

Dia mengatakan, tas yang diproduksi mertuanya yakni tas punggung untuk sekolah, dengan berbagai ukuran dan harga. A da yang seharga Rp 240 ribu per lusin, hingga Rp 500 ribuan per lusin. Selain menjual dalam partai besar, mertuanya juga melayani pembelian ecer.

Alhamdulillah sekarang produk tas Chosagi mulai dikenal tidak hanya di Jawa Tengah melainkan juga Jawa Timur. Dan bahkan hasilnya mertuaku mampu membeli tanah dan bangun rumah serta mampu membeli mobil untuk operasional. Ke depannya semoga usaha mertuaku makin maju lagi,” harapnya.

- advertisement -

Penjual Motor Mini di Undaan Lor Ini Sumbangkan Hasil Penjualan ke Yatim Piatu

0
Fauzi, pemilik Hilmy Mini Showroom yang menjual motor mini di Kudus 2017_7
Fauzi, pemilik Hilmy Mini Showroom yang menjual motor mini di Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Di tepi Jalan Kudus-Purwodadi tepatnya di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus tampak sebuah bangunan berwarna putih. Di dalam bangunan terlihat beberapa motor mini berjajar rapi sesuai model dan bentuk motor tersebut. Tempat tersebut yakni Hilmy Mini Showroom yang menjual aneka sepeda motor mini dan sebagian uang penjualan tersebut disodakohkan pada anak yatim.

Kepada seputarkudus.com Fauzi (42) selaku pemilik showroom tersebut sudi memberi penjelasan tentang sodakoh tersebut. Dia menuturkan, memang benar hasil dari penjualan aneka sepeda motor mini di showroomnya itu sebagian disumbangkan ke anak yatim. Menurutnya, hal tesebut sebagai pemenuhan nadzar yang diucapkannya kepada gurunya yang seorang kiyai sekaligus pengasuh pondok pesantren di Madura.

“Aku itu aslinya orang Madura dan saat ingin membuka showroom yang khusus menjual sepeda motor mini, aku sowan ke kiyai sekaligus guru ngajiku dulu untuk meminta restu. Saat itu aku juga bernadzar pada kiyai jika usaha penjualan motor mini laris maka sebagian hasilnya aku sisihkan dan aku sumbangkan kepada anak yatim,” ujarnya dengan khas logat Madura.

Pria yang kini sudah menetap di Dempet, Demak itu menuturkan, pada waktu itu kiyainya menyetujui dan berkata bagus itu dan beliau juga mendoakan usaha penjualan motor mini Fauzi bisa lancar. Dia mengaku, setiap Hilmy Mini Showroom mampu menjual per unit sepeda motor mini maka ada hak untuk anak yatim sebesar Rp 50 ribu.

“Uang tersebut kemudian kami masukan ke dalam kotak kaca dan akan kami berikan ke anak yatim di pondok pesatren kiyaiku yang berada di Madura tiga bulan sekali. Aku berharap penjualan motor miniku bisa meningkat tajam agar uang yang didapatkan para anak yatim juga lebih besar,” harapnya.

Pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu menuturkan, mulai membuka showroom motor mini pada tahun 2014. Dan dia menamai Showroomnya itu sama dengan nama putra bungsunya yakni Hilmy. Karena menurutnya, ide menjual aneka sepeda motor mini awal mulanya dari putra bungsunya tersebut.

Dia menuturkan, aneka motor mini yang dijualnya tersebut menggunakan mesin bubut dengan bahan bakar bensin. Selain menjual motor dia mengaku, juga menjual aneka onderdil sepeda motor mini. Menurutnya, hal itu sebagai pelayanan kepada konsumen agar saat motor mini tersebut rusak dan butuh onderdil, pelanggannya tersebut tidak bingung membelinya.

Oleh sebab itu, kata dia onderdil yang disediakan dan diprioritaskan untuk mereka yang membeli sepeda motor mini di Hilmy Mini Showroom. “Yang aku prioritaskan memang pelanggan kami, namun kami juga melayani pembelian ataupun pemesanan aneka onderdil sepeda motor mini untuk masyarakat luas. ” ujarnya.

Dia menuturkan, setiap pembelian aneka motor mini di Hilmy Mini Showroom mendapatkan fasilitas servis geratis selama tiga bulan. Begitu juga saat ada kerusakan onderdil di dalam waktu yang disebutkannya tadi, pelanggan juga berhak menadapatkan ganti onderdil secara cuma-cuma. “Layana gratis tersebut untuk pembelian segala tipe motor mini,  tipe GP, trail maupun scoopy,” jelasnya.

- advertisement -

Mahasiswi STAIN Ini Rela Nyambi Kerja untuk Biayai Kuliahnya

0
Atik Dina Zulfa, penjual di toko Aziz Putra Kudus 2017_7
Atik Dina Zulfa, penjual di toko Aziz Putra Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Di tepi Jalan Menara Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah toko bernama Toko Aziz Putra. Di dalam toko tampak seorang perempuan mengenakan jilbab warna biru sedang melayani pembeli. Perempuan tersebut bernama Atik Dina Zulfa (22) seorang Mahasiswi yang rela menyambi kerja untuk biaya kuliahnya.

Seusai melayani pembeli perempuan yang akrab disapa Dina itu sudi berbagi penjelasan tentang pekerjaannya tersebut. Dia mengungkapkan, selain bekerja, saat ini dirinya juga terdaftar sebagai Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus semester delapan jurusan Hukum Syariah.

Baca juga: Efri Beli Kurma di Toko Aziz Putra untuk Takjil Buka Puasa

“Aku kerja di Toko Aziz Putra sejak awal kuliah. Dan hasil dari bekerja di toko aku buat biaya kuliah hingga sekarang. Alhamdulillah selama ini cukup dan aku tidak pernah meminta uang saku atau uang semester kepada orang tuaku,” ungkapnya.

Perempuan yang berasal dari Demak itu mengaku sengaja kuliah sambil kerja agar tidak membebani orang tuanya dengan biaya kuliah yang ditempuhnya. Karena dia berharap dengan dibiayai sendiri kuliahnya tersebut orang tuanya bisa fokus untuk biaya pendidikan adiknya.

Anak kelima dari enam bersaudara itu mengatakan, agar bisa kuliah sambil kerja dirinya sengaja mengambil kuliah ekstensi lintas khusus (ELK) yang berangkatnya hari Kamis dan Jum’ at saja. Sedangkan selain dua hari tersebut digunakannya untuk bekerja di Toko Aziz Putra.

“Alhamdulillah bosku orangnya pengertian dan baik hingga memberiku libur dua hari untuk kuliah. Sedangkan selain dua hari tersebut aku bekerja mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, Toko Aziz Putra menjual aneka makanan oleh-oleh diantaranya jenang, kurma serta madumongso. Nama terakhir merupakan hidangan khas warga Kudus saat menjelang lebaran selain jenang tentunya. Diakuinya, menjelang lebaran penjualan aneka dagangan di Toko Aziz Putra meningkat.

“Sama dengan aneka jajan oleh-oleh lainnya, menjelang lebaran madu mongso penjualannya juga naik. Karena memang Madumongso termasuk satu di antara hidangan yang jangan terlewatkan bagi masyarakat Kudus,” ujarnya.

Dia mengatakan, berbeda dengan jenang yang terbuat dari beras ketan, madumongso terbuat dari tape ketan hitam. Oleh sebab itu madu monso mempunyai rasa manis-manis dengan sensasi asam di dalamnya. Namun justru itu ciri khas dari madumongso.

“Madumongso di Toko Aziz Putra di jual perkap. Untuk kap ukuran kecil dihargai Rp 15 ribu perkap. Sedangkan yang ukuran besar dibandeol Rp 25 ribu perkap ukuran sedang. Di Toko Aziz putra selain melayani pembelian ecer juga melayani pembelian dalam partai banyak,” ungkapnya.

- advertisement -

Kios di Pasar Kliwon Ini Menjual Puluhan Jenis Jajanan, Dirintis Sejak 1997

0
Arraudhotu Aliyatul Ula, penjual jajan di Pasar Kliwon 2017_7
Arraudhotu Aliyatul Ula, penjual jajan di Pasar Kliwon

SEPUTARKUDUS.COM, PASAR KLIWON – Puluhan jenis jajanan tertata rapi di dalam rak kayu di kios lantai dua Blok D Pasar Kliwon, Kudus. Jajanan juga tampak memenuhi meja di kios tersebut. Begitu juga jalan pasar yang berada di depan kios juga sebagian digunakan untuk menaruh beberapa kardus dan kantong plastik berisi jajanan. Kios yakni toko Mbak Giarti, yang menjual lebih dari 50 jenis jajanan.

Menurut Arraudhotu Aliyatul Ula (20), yang tak lain putri pemilik kios, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha ibunya tersebut. Dia mengungkapkan, ibunya mulai berjualan sejak tahun 1997. Awalnya ibunya berjualan sembako, namun karena kurang begitu lancar, kemudian baralih berjualan aneka jajanan.

“Ibuku berjualan sembako sekitar dua tahun, karena tidak begitu lancar kemudian ibuku berjualan aneka jajanan. Dan alhamdulillah sejak berjualan jajanan pembeli mulai berdatangan. Bahkan saat ini di kios ibuku tersedia lebih dari 50 jenis jajanan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ula beberapa waktu lalu saat ditemui di kios.

Warga Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, kios Mbak Giarti menyediakan aneka jajanan kering dari produksi rumahan maupun pabrik. Dia pun kemudian merinci aneka jajanan tersebut, di antaranya, kerupuk tengiri, bakso, tahu, bawang, makaroni, singkong bakar, widaran, keciput, sumpia udang, hingga kerupuk rambak kerbau dan sapi pun ada serta masih banyak lagi jenisnya.

Selain itu, katanya, ada juga aneka olahan kacang di antaranya, kacang ayu bawang, kacang atom, kacang kapri tepung, bahkan kacang mete juga ada. Selain itu ada juga aneka kue nastar, madu mongso, aneka olahan coklat, permen dan agar-agar. “Pokoknya jenisnya banyak dan lebih dari 50 jenis jajanan. Dari sekian banyak jenis jajanan tersebut, yang paling laris kerupuk tengiri,” ujarnya.

Dia menuturkan, kerupuk yang dijual Rp 18 ribu seperempat kilogram tersebut  selama 20 hari bisa terjual 100 bos. Satu bos berisi 3 kilogram kerupuk tengiri. Begitu juga dengan keripik singkong bakar yang mampu terjual 100 kardus dalam waktu yang sama. Bedanya satu kardus keripik singkong bakar berisi 2,5 kilogram.

Anak pertama dari tiga bersaudara tersebut mengungkapkan, untuk harga keripik singkong bakar dijual Rp 28 ribu per setengah kilogram. Selain dua jajanan tersebut ada juga sumpia udang yang mampu terjual sekitar 70 kardus. Satu kardus berisi 3 kilogram sumpia udang dan harga jajanan tersebut yakni Rp 35 ribu per setengah kilogram.

Dia menuturkan, di kios Mbak Giarti juga ada kerupuk setan yang lumayan diminati pembeli. Sama dengan mi setan yang digandrungi karena punya rasa pedas, kerupuk setan juga begitu banyak diminati karena punya rasa ekstra pedas. Selama Ramadan ini tuturnya, kios Mbak Giarti mampu menjual sekitar 50 bos  dengan isi per bosnya dua kilogram.

“Sebenarnya semua aneka jajanan yang dijual di Kios Mbak Giarti laris semua. Kacang mete dan kerupuk rambak kerbau yang harganya relatif mahal juga lumayan laris,” ujarnya.

Dia menuturkan, peminat aneka jajanan yang dijual di Kios Giarti tidak hanya orang Kudus melainkan juga datang dari daerah sekitar, diantaranya Pati, Jepara, Purwodadi, Demak, Blora dan lainnya. “Bahkan beberapa dari mereka sudah menjadi pelanggan tetap Kios Mbak Giarti,” ungkapnya.

- advertisement -