Beranda blog Halaman 1861

Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang Kedua Sudah Dibuka

0
Beberapa warga mendaftar Kartu Prakerja pada gelombang pertama beberapa waktu lalu. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah sudha membuka pendaftaran Kartu Prakerja pada Senin (20/04/2020) di laman resmi Prakerja.go.id. Pendaftaran dibuka sampai dengan Kamis, 23 April, pukul 16.00 WIB.

Apabila warga yang melakukan pendaftaran gelombang pertama belum diterima, maka calon peserta bisa bergabung di pendaftaran gelombang kedua tanpa perlu mengulang proses pendaftaran dari awal.

Sejumlah warga Kudus yang ikut mendaftar Kartu Prakerja gelombang pertama mengaku belum bisa lolos pada gelombang pertama dan akan mengikuti gelombang selanjutnya.

Baca juga : Disnakerperinkopukm Kudus Siap Fasilitasi Warga untuk Daftar Kartu Pra Kerja

Satu diantara sejumlah warga tersebut adalah Friska Silfiana Sari (18). Dirinya sudah mendapat pengumuman hasil pendaftaran Kartu Prakerja gelombang pertama. Perempuan yang akrab disapa Friska itu mengungkapkan, jika dia belum lolos pada gelombang pertama.

“Kemarin saya cek di websitenya. Sudah keluar informasi kalau saya belum lolos. Setidaknya saya sudah tahu cara mendaftarnya, jadi besok saya mau coba lagi,” terang warga Desa Puyoh, RT 04 RW 08, Kecamatan Dawe, Kudus itu, Sabtu (18/4/2020).

Sama halnya dengan Zulia Ulfah (24), warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, yang belum lolos pada gelombang pertama. Lily sapaan akrabnya, mengaku tidak kecewa dengan hasil tersebut. Dia menyadari banyaknya pendaftar gelombang pertama dan tidak diambil semua.

Baca juga : Simak Langkah Daftar Kartu Pra Kerja di Situs Prakerja.go.id

“Lagian masih banyak gelombang selanjutnya. Setahu saya yang lolos gelombang pertama 200.000 orang. Sedangkan yang mendaftar sekitar 5,9 juta orang,” jelasnya kepada betanews.id.

Warga Kudus lainnya yakni Ulil Abshor (39), Warga Loram Kulon. “Sebelumnya saya bekerja di BTPN Kudus, tetapi sekarang sudah di PHK. Jadi saat ini ya kerja serabutan. Harapan saya bisa lolos dan mendapat ilmu untuk bekal saya bekerja kedepannya,” ungkap Ulil sapaan akrabnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sambil Gowes, Pati Kolektif Bagikan Sembako dan Masker

0
Anggota komunitas Pati Kolektif saat memberikan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan, Jumat (17/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Gedung Juang 45 yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Ngarus, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, sore itu tampak ramai oleh pesepeda. Mereka terlihat berduyun-duyun datang dari berbagai arah menuju tempat nongkrong hits kawula muda Pati tersebut.

Di sebuah kedai yang terletak di dekat pintu masuk, ada banyak pemuda yang sedang membungkus berbagai kebutuhan pokok. Rupanya, sembako yang sudah dibungkus plastik itu hendak dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Anggota komunitas Pati Kolektif saat memberikan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan, Jumat (17/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Setelah semua anggota komunitas berkumpul, mereka secara gotong royong mengangkut santunan itu ke becak dan sebagian lain diangkut dengan sepeda. Tepat pukul 15.00 WIB, rombongan kemudian berpencar untuk memberikan santunan.

Salah satu pencetus gerakan, Kukuh Septama (29) menyampaikan, kegiatan pembagian sembako ini merupakan gerakan sosial yang diinisiasi beberapa komunitas di Pati dalam upaya membantu masyarakat selama pandemi Covid-19. Sasarannya adalah tukang becak, tukang ojek, penyapu jalan, dan warga yang membutuhkan lain.

“Kegiatan ini sudah terlaksana dua kali. Untuk kali ini, kami membagikan sekitar 500 kilogram beras, 500 masker, dan beberapa sembako lain kepada masyarakat sekitar Pati yang dirasa layak untuk mendapatkannya,” ungkap pengelola Kedai Tjoklat Djoeang, saat ditemui, Jumat (17/4/2020).

Hal yang sama juga diutarakan anggota Rumah Goegah Dimas Ting (27). Menurutnya, salah satu sumber donasi santunan ini berasal dari program donasi 10 kilogram beras dengan membeli kaos di Toko Dadiwae. Selama program ini berlangsung, pihaknya akan menyalurkan bantuan secara berkala di lain hari.

Baca juga: Bantu Jaga Daya Tahan Tubuh, Polres Kudus Sumbang Madu untuk Tenaga Medis

“Dengan kondisi wabah semacam ini, kami mengedepankan bantuan kepada masyarakat yang memang secara ekonomi terdampak langsung. Juga mereka yang belum memakai masker saat bekerja dan beraktivitas,” kata Dimas.

Di sisi lain, salah satu penerima bantuan, Bun Sholeh (37) mengaku senang sekali dengan adanya bantuan tersebut. Ia lantas mengucapkan terima kasih kepada Pati Kolektif atas sembako yang diterimanya.

Baca juga: Yayasan Arwaniyyah Bagikan Sembako dan Santuni Anak Yatim

“Selama ada wabah ini sudah memakai masker. Ini nanti insya Allah akan pakai masker terus,” tutup tukang parkir yang sudah bekerja sejak 1997 itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Petugas Sanggongi Alun-Alun Kudus dan Balai Jagong Hingga Pagi

0
Beberapa petugas tampak menghentikan pengendara mobil yang hendak melewati Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus. Sabtu (18/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID – KUDUS – Kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus tampak sepi, Sabtu (18/4/2020) malam. Di beberapa sudut pusat Kota Kretek itu terlihat anggota polisi, TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sedang berjaga-jaga di dekat water barrier yang ditaruh di tengah jalan.

Saat ada kendaraan roda dua dan empat mencoba masuk kawasan alun-alun, petugas langsung sigap menghadang dan memberikan arahan untuk kembali atau memilih alternatif jalan lain.

Papan pengumuman pemberlakuan jam malam di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra.

Akitivitas jaga-jaga ini sebagai bagian dari pemberlakuan jam malam yang diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus) yang berlaku pukul 20.00 hingga 06.00 WIB dan efektif berjalan mulai 18 April 2020 sampai pandemi Covid-19 berakhir.

Salah satu petugas jaga, Bripka Adi Rahmad mengatakan, sebelum penutupan, dia bersama petugas lain sudah mengimbau para Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk menutup dagangannya dan juga toko-toko di kawasan alun-alun.

“Semua sudah steril. Tidak ada warga yang berkerumun di sini,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat dan khususnya pedagang sudah mengerti tentang pemberlakuan pembatasan jam malam yang diberlakukan untuk memutus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus. Selain itu, semua petugas juga akan berjaga di pos-pos penutupan jalan yang sudah ditentukan.

“Kami akan berjaga di pos sampai pagi secara bergantian,” tambah Bripka Adi.

Dia menjelaskan, sesuai dengan instruksi Pemkab Kudus, penutupan jalan menuju alun-alun ini berlaku di jalur dari arah Semarang yakni Jalan dr Ramelan, perempatan Pura. Kemudian dari arah berlawanan, yaitu Jalan Jendral Ahmad Yani di perempatan BNI.

Selanjutnya dari arah barat yakni Jalan Sunan Kudus, perempatan Kojan dan dari arah timur yakni perempatan Sleko dan SMP 2 Kudus. Sedangkan dari utara ada di perempatan SMP 1 Kudus dan pertigaan utara Masjid Agung Kudus.

Baca juga: Hartopo: ‘Kelayapan saat Jam Malam, Siap-Siap Dikarantina di Polres’

Untuk Balai Jagong, penutupan jalan hanya di jalur masuk kawasan saja, lantaran jalan depan Taman Lampion masih ramai lalu lalang kendaraan.

Sebelumnya, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, pemberlakuan jam malam ini akan berlaku sampai Covid-19 benar-benar hilang. Menurutnya, para pedagang dan masyarakat harus mengikuti kebijakan ini, karena hal tersebut untuk memutus penyebaran Covid-19.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di Kudus Tambah Satu, Pulang dari Jakarta

Untuk sementara, pemberlakuan jam malam hanya berlaku di dua tempat yang sering digunakan untuk berkerumun, yakni Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong Kudus.

“Terus jaga kesehatan, makan makanan bergizi, lakukan physical distancing dan ketika keluar rumah pakai masker,” tutup Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar : Saya Titip Nasib Karyawan, Tolong Jangan Ada PHK

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menerima bantuan APD dari perwakilan para pengusaha asal Taiwan. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Di tengah pukulan telak dunia ekonomi akibat wabah Covid-19, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tetap berharap perusahaan-perusahaan yang ada di Jawa Tengah tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Saya titip nasib para karyawan. Kalau bisa jangan ada PHK. Meskipun kondisi sekarang seperti ini, semua harus dikomunikasikan baik-baik antara perusahaan dan karyawan. Boleh mengurangi jam kerja, tapi tolong jangan ada PHK,” kata Ganjar kepada para pengusaha asal Taiwan yang bergabung dalam Taiwan Business Club Central Java, saat menyerahkan bantuan APD dan alat kesehatan lain kepada Pemprov Jateng, Senin (20/4/2020).

Sejumlah perusahaan lanjut Ganjar diminta membuka ruang komunikasi dengan para karyawan tentang kondisi masing-masing. Perusahan yang masih bagus dan bisa berjalan, diharapkan tetap mempertahankan karyawan.

Baca juga : Kisah Bocah di Semarang, Sumbangkan Tabungan Hasil Jualan Stiker untuk Tenaga Medis

“Namun bagi mereka yang sudah merugi, maka harus ada pembicaraan dan duduk bersama dengan karyawan untuk menyelesaikan. Semua harus dibicarakan baik-baik, tidak ada yang saling memaksakan,” tegasnya.

Menurut dia, banyak cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk tetap eksis di tengah gempuran wabah Covid-19. Salah satunya adalah menangkap peluang untuk beralih produksi dari garmen menjadi APD.

“Misalnya perusahaan garment, di Jateng ini kan banyak. Maka saya dorong untuk mengubah strategi bisnisnya dengan cara membuat APD sebanyak-banyaknya, karena semua negara sekarang butuh itu,” ucapnya.

Selain dapat membantu misi kemanusiaan, peralihan itu bisa membuat roda perusahaan tetap bergerak. Sehingga, nasib karyawan yang ada juga menjadi terjamin.

“Itu cara agar perusahaan garment di Jateng ini bisa terus survive. Kami akan terus mendorong itu,” tegasnya.

Setali tiga uang, harapan Ganjar itu disambut baik oleh salah satu perusahaan garment di Semarang, PT Glory Industrial Semarang. Kepada Ganjar, perusahaan tersebut mengatakan bahwa saat ini selain memproduksi pakaian, juga memproduksi APD untuk penanganan covid-19.

“Kami juga sudah memproduksi APD sesuai arahan pak Gubernur, beberapa kami sumbangkan untuk para tenaga medis termasuk yang hari ini kami serahkan,” kata Presiden Direktur PT Glory Industrial Semarang, Michael Song.

Baca juga : Banyak yang Kesengsem, Kini Kaus Corona Ganjar jadi Donasi Warga

Song menerangkan, sejak berdiri 2003 lalu, pihaknya telah memiliki empat pabrik garmen di Kota Semarang. Totalnya, sebanyak 13.000 karyawan yang bekerja di perusahaannya.

“Sampai sekarang kami belum melakukan PHK, masih jalan terus. Memang kami sudah merasakan dampaknya, banyak orderan yang cancel. Tapi kami berusaya untuk tetap mempertahankan karyawan,” tegasnya.

Pihaknya belum dapat memastikan sampai kapan akan terus bertahan. Meski begitu, nasib karyawan menurutnya akan tetap menjadi prioritas.

“Kami tidak tahu nanti kedepan seperti apa, tapi kami akan cari solusi terbaik untuk bantu karyawan. Sampai sekarang kami masih jalan, meskipun banyak perusahaan lain yang tutup,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Serasa Kendarai Moge, Yamaha All New NMAX Digemari Anak Muda

0
Yamana All New NMAX yang banyak digemari anak muda. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Selasa (14/4/2020), cuaca di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus terasa terik. Namun, sinar menyengat dari sang surya tak menghalangi niat seorang pria berbaju biru untuk mengendarai sepeda motor Yamaha All New NMAX 2020. Setelah berkeliling, pria tersebut pun memarkir skutik gambot itu di Yamaha Harpindo Jaya Kudus, sambil berucap nyaman serasa naik motor gede (moge).

“Sensasi mengendarai Yamaha All New NMAX itu memang serasa naik moge. Suspensi nyaman serta akselerasinya gesit,” kata Moh Arief (45) Supervisor Yamaha Harpindo Jaya Kudus kepada betanews.id.

Yamaha All News NMAX. Foto : Rabu Sipan

Pria yang akrab disapa Ayik itu mengungkapkan, karena alasan tersebut, Yamaha All New NMAX 2020 digemari kalangan anak muda dan para papa muda. Dengan bodi bongsor yang sporty, tuturnya, motor berbekal mesin 155 cc itu memang cocok untuk kalangan muda yang ingin bergaya.

Baca juga : Nabila Vespa Kudus, Showroom Vespa Second yang Bisa Jadi Jujugan Penggemar Skuter

Sedangkan untuk para papa muda lanjutnya, selain untuk bergaya, Yamaha All New NMAX 2020 juga bisa menopang untuk kegiatan keluarga. Bagasi yang luas bisa tempat wadah perlatan anak. Kalau punya dua momongan, anak yang satunya bisa duduk nyaman di atas tangki bahan bakar.

“Yamaha All New NMAX 2020 juga sangat nyaman untuk berkendara jarak dekat maupun jarak jauh. Dengan teknologi variable valve actuation (VVA) menjaga torsi tetap stabil,” jelas pria yang sudah bekerja di Harpindo Jaya Kudus sejak 2014.

Skutik bongsor itu tambahnya, dibekali mesin 155 cc. Serta disempurnakan dengan teknologi blue core sehingga irit bahan bakar.  Lampunya pun sudah hazard, sedangkan lampu belakangnya juga didesain mirip milik Yamaha XMAX. 

“Di Yamaha All New NMAX 2020 juga sudah ada colokan chargenya. Jadi para pengendara tidak usah kuatir smartphonenya kehabisan batere,” papar pria yang dikaruniai empat orang anak itu.

Teknologi tercanggih yang hadir pada All New NMAX 2020 yakni konsep connected yang merupakan pertama di Indonesia. Konsep itu diwujudkan melalui teknologi communication control unit (CCU) yang terkoneksi dengan aplikasi Y-Conect.

Baca juga : BMW R2, Motor Langka Koleksi Sekaligus Maskot Rajawali Bursa Motor, Tidak Dijual Meski Ditawar Rp 1 Miliar

Dengan teknologi tersebut, jelasnya, Yamaha All New NMAX 2020 bisa terkoneksi dengan smartphone pemilik, yang akan memberikan banyak informasi. Di antaranya, bisa untuk melihat kecepatan RPM kendaraan. Bisa untuk melihat rata – rata pemakaian bahan bakar setiap hari. Serta bisa untuk melihat posisi terakhir kendaraan tersebut berada.

“Dengan teknologi itu, kita juga bisa dapat notif di layar speedometer, saat ada WA dan panggilan telpon,” ungkap Ayik.

Dengan fitur canggih tersebut kata dia, sangat pantas Yamaha All New NMAX 2020 dibanderol Rp 30.075.000. sedangkan All New NMAX ABS dipasarkan dengan harga Rp 33.970.000.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Peringati Harlah ke-60, PMII Kudus Bagikan Ribuan Masker di Pasar

0
PMII Kudus membagikan masker kepada pedagang di pasar, Senin (20/4/2020). Ini bagian dari kegiatan peringatan Harlah ke-60 PMII. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua perempuan mengenakan jas berwarna biru membagikan terlihat sedang menyambangi pedagang di Pasar Bae, Kudus. Mereka yakni anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus yang sedang berbagi masker kepada pedagang, dalam rangka memperingati Harlah ke-60 PMII.

Setelah membagikan masker, Riska Andriani (21) mengungkapkan, membagikan kurang lebih sekitar 1.200 masker. Di Pasar Bae, perempuan yang akrab disapa Pariska itu membagikan 200 masker. Selain Pasar Bae, anggota yang lain juga membagikan di Pasar Jetak, Pasar Brayung, Pasar Mejobo dan Pasar Karang Bener.

Pembagian masker oleh PMII Kudus kepada pedagang di pasar. Foto : Ahmad Rosyidi

“Tanggal 17 April 2020 lalu merupakan harlah organisasi kami yang ke 60 tahun. Jadi kegiatan PMII Kudus peduli pandemi Covid-19 ini dalam rangka memperingatin harlah,” ungkap Ketua Korps PMII Putri Cabang Kudus kepada betanews.id.

Baca juga : Yayasan Arwaniyyah Bagikan Sembako dan Santuni Anak Yatim

Pariska juga menambahkan, kegiatan tersebut dimulai pukul 09.00 WIB. Di Pasar Bae, dia bersama empat rekannya yang bertugas membagikan masker. Karena masker yang dibawanya ke Pasar Bae masih tersisa, dia berkoordinasi dan mengirim ke pasar yang lain.

“Ini masih ada sisa sekitar 50 masker. Jadi ini mau saya kirim ke pasar yang masih kurang,” tambah mahasiswa UMK itu, Senin (20/4/2020) pagi.

Sedangkan Sifa (35), pedagang empon-empon di pasar tersebut, mengaku senang. Dia meminta dua masker, karena akan diberikan kepada anaknya. Warga Dawe, Kudus itu juga berterima kasih atas kepedulian mahasiswa kepada pedagang pasar.

Baca juga : Kisah Bocah di Semarang, Sumbangkan Tabungan Hasil Jualan Stiker untuk Tenaga Medis

Sama halnya dengan Muhammad Ashari (72), penjual aneka bubur itu juga mengaku bangga kepada mereka. Menurutnya, masker sangat bermanfaat bagi para pedagang. Dia dan istrinya akan menggunakan masker itu nanti.

“Saya berterima kasih atas perhatian anak-anak PMII. Saya mengapresiasi, generasi muda yang memiliki jiwa sosial tinggi,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Kembali Putar Arah Sepedanya ke Kerumunan Warga, ‘Mas, Kok Masih Ngeyel’

0
Ganjar Pranowo saat gowes keliling Kota Semarang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa geram melihat di jalanan, warung makan, kafe hingga perkampungan, masyarakat di Kota Semarang masih banyak yang berkerumun dan duduk berdekatan tanpa memakai masker. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan physical distancing dan memakai masker ternyata masih rendah. Padahal, Kota Semarang sudah masuk zona merah Covid-19.

Ganjar yang setiap hari berkeliling dengan sepeda, melihat jelas kondisi itu. Tak hanya sekadar mengingatkan, Ganjar mulai tegas mengingatkan kepada masyarakat untuk mematuhi anjuran itu.

Seperti saat sepedaan Minggu (19/4/2020) pagi di Kota Semarang, Ganjar tak segan mengingatkan warga yang ngeyel tetap berkerumun dengan nada tinggi. Pasalnya, imbauan Ganjar melalui pengeras suara yang nyantol di sepeda, tidak diindahkan.

Bahkan, Ganjar sempat memutar arah sepedanya dan kembali menghampiri warga yang nekat berkerumun. Ia meminta masyarakat sadar, bahwa virus Covid-19 tidak bisa diremehkan.

Baca juga : Semarang Zona Merah, Walikota Diminta Tak Ragu Terapkan PSBB

“Mas kok ijeh ngeyel (mas kok masih bandel), tadi saya bilang jaga jarak, sampeyan masih saja bergerombol. Ayo saiki geser (ayo sekarang geser),” teriak Ganjar.

Beberapa anak muda yang sedang nongkrong di Jl MT Haryono Kota Semarang itu kemudian mau bergeser. Tak lelah, Ganjar mengingatkan mereka untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

“Njenengan masih muda, tolong jadi contoh yang baik bagi masyarakat. Bantu pemerintah untuk sosialisasi ini. Ini serius lho, jangan anggap sepele,” tegasnya.

Peristiwa serupa terjadi daerah Pedurungan Kota Semarang. Saat melintas di depan warung soto, Ganjar mengingatkan para pembeli yang sedang makan soto untuk tidak berkerumun.

Karena imbauan tidak diindahkan dan para pembeli terkesan cuek, Ganjar langsung memarkirkan kendaraannya. Ia turun dan menghampiri warganya yang sedang sarapan itu.

“Tolong jaga jarak, kalau bisa jangan makan di sini, pesan terus dibawa pulang. Ingat, ini serius. Kota Semarang sudah zona merah, sekarang yang positif covid-19 tertinggi ada di Kota Semarang. Ayo jangan ngeyel,” pintanya.

Ganjar meminta semua masyarakat menjaga diri. Sebagai garda terdepan untuk memutus mata rantai wabah covid-19, masyarakat harus peka dan sadar diri.

Baca juga : Begini Kondisi Terkini 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang yang Positif Covid-19

“Saya tidak mau warga saya banyak yang terkena virus ini. Aku pengen wargaku sehat kabeh (saya ingin warga saya semuanya sehat). Tolong saya didengarkan, Semarang ini sudah bahaya,” tegasnya.

Salah satu warga yang sedang berkerumun, Danis,45, mengatakan sebenarnya paham dengan himbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing. Namun kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

“Sebenarnya tahu tentang jaga jarak, tapi mau bagaimana lagi. Ini tadi mampir sarapan, kebetulan pas ramai dan tempatnya sempit, jadi berdesakan,” kata dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Yayasan Arwaniyyah Bagikan Sembako dan Santuni Anak Yatim

0
Pengurus Yayasan Arwaniyyah sedang menata paket sembako yang akan diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin di Kabupaten Kudus, Minggu (19/4/2020). Foto: AHmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan sembako terlihat memenuhi gudang bekas PT Buya Barokah Divisi Offset, Minggu (19/4/2020) pagi. Sejumlah mobil bergiliran datang mengangkut sembako yang sudah dibungkus plastik putih itu. Mobil-mobil tersebut kemudian berpencar untuk membagikan bantuan dari Yayasan Arwaniyyah Kudus kepada warga sekitar pesantren.

Ditemui di sela-sela kegiatan, koordinator tim relawan HM Izzuna menyampaikan, program pembagian sembako ini menjadi bagian dari gerakan Arwaniyyah Peduli yang memberikan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin terdampak Covid-19.

Ketua RT di Desa Kajeksan Kudus saat memberikan santunan dari Yayasan Arwaniyyah kepada warga yang membutuhkan, Minggu (19/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Kami memprioritaskan fakir miskin dan duafa di sekitar unit-unit yang di kelola Yayasan Arwaniyyah Kudus. Selain itu juga ada yang dibagikan kepada Ikatan Haji Yayasan Arwaniyyah. Kali ini ada 1.000 sembako dan 400 anak yatim yang mendapat santunan,” ungkap Izzuna.

Sambil menunggu antrian mobil pengangkut selanjutnya, dirinya merinci isi sembako yang dibagikan. Paket tersebut berisi 5 kilogram beras, 1 liter minyak goreng, 3 mi kemasan cup, 4 mi instan dan 5 masker. Sedangkan besaran santunan kepada anak yatim adalah Rp 250 ribu per anak.

“Kegiatan ini memang terkesan mendadak, tetapi semua berjalan lancar. Tentu tidak lepas dari kekompakan para pengurus. Sembako kami beli dari daerah Demak dan Kudus sendiri,” tambahnya.

Izzuna menambahakan, sembako tersebut akan didistribusikan selama dua hari, mulai Minggu hingga Senin. Teknisnya, pihak Arwaniyyah Peduli bekerja sama dengan ketua RT setempat untuk memastikan sembako yang dibagikan tepat sasaran.

Baca juga: Parman Kaget Dapat Bingkisan dari Istri Gubernur

“Kami melibatkan ketua RT agar tepat sasaran. Selain itu, situasi saat ini juga harus menghindari kerumunan, jadi kami minta bantuan RT untuk mendistribusikan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Agus Riyadi (52) menambahkan, pihaknya tidak keberatan dan merasa senang bisa ikut membantu. Apalagi ada 40 warganya yang mendapatkan santunan.

Baca juga: SMK Duta Karya Bagikan Seribu Hand Soap untuk Jemaah Masjid

“Kebetulan ini habis bersih-bersih masjid, jadi sekalian saya antar ke rumah warga. Saya senang dan sangat mendukung, karena ini bisa membantu warga sini,” pungkas Agus.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kisah Bocah di Semarang, Sumbangkan Tabungan Hasil Jualan Stiker untuk Tenaga Medis

0
Olivia (8) dan Regina (6), menyumbangkan tabungannya untuk penanganan Covid-19. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Olivia (8) dan Regina (6), dua bocah asal Semarang, Jawa Tengah, rela memberikan seluruh uang di celengannya untuk membantu petugas medis dalam menangani Covid-19. Keduanya berharap, uang hasil jualan stiker yang telah ditabung lebih dari setahun itu bisa sedikit membantu keperluan para petugas medis.

Tabungan itu, diserahkan secara langsung oleh kedua bocah tersebut kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Minggu (18/4/2020) sore. Keduanya datang diantar orangtuanya pasangan Bimo Triwicaksono dan Angela Desi. Dengan malu-malu Olivia mengatakan, celengan berbentuk kaleng berwarna pink itu telah berusia satu tahun lebih.

Setiap hari ia memasukkan uang dari recehan hingga sepuluh ribu rupiah ke dalamnya. Uang itu bukan pemberian orang tuanya. Melainkan hasil dari menjual stiker selama di sekolah. “Mama beli stiker di toko, saya guntingin satu-satu, saya jual ke teman-teman seribu, dua ribu, lima ribu. trus saya tabungin,” katanya.

Baca juga : Banyak yang Kesengsem, Kini Kaus Corona Ganjar jadi Donasi Warga

“Semula nabung mau buat beli alat sekolah, sekarang nyumbang buat pak dokter saja untuk beli masker,” katanya.

Olivia yang tinggal bersama orangtuanya di Jalan Gunung Gebyok, Bendungan, Gajahmungkur, Kota Semarang ini ingin pagebluk Corona lekas rampung. Ia mengaku banyak mengetahui tentang virus itu dari televisi.

“Kemarin lihat berita tentang Corona, penyakit itu lho pak yang bikin orang meninggal kalau ketularan,” kata siswa kelas 2 SD Theresiana Semarang itu.

Baca juga : Parman Kaget Dapat Bingkisan dari Istri Gubernur

Selain membantu dokter, Olivia menyumbangkan uang agar virus cepat dibasmi sehingga ia segera sekolah lagi. Ia mengaku sudah bosan di rumah dan ingin berangkat sekolah untuk belajar dan bermain dengan teman-temannya.

“Bosan banget sudah satu bulan di rumah, pingin sekolah lagi,” katanya.

Bagi Ganjar, Oliv dan Regina telah melakukan hal yang luar biasa. Merelakan tabungannya selama satu tahun dari hasil dia jualan stiker, sampai kepeduliannya kepada tenaga medis.

“Ini tabungannya diterima pak Gubernur, buat beli masker. Besok nabung lagi ya,” kata Ganjar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Laboratorium Aprogakob, Ujung Tombak Produksi Garam di Pati

0
Emiwati Wijayanti sedang mengecek kadar yodium di Laboratorium Aprogakob, Jumat (3/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Siang itu, Emiwati Wijayanti (30) tampak serius berkutat dengan buku-buku administrasi di sebuah ruangan bercat kuning. Di depannya ada beberapa sampel garam yang menunggu antrian untuk diperiksa kadar yodiumnya.

Sehari-hari, Emi memang bertugas mengecek kadar yodium di Laboratorium Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakob), dari pabrik-pabrik pengolahan garam di Kabupaten Pati. Laboratorium ini menjadi bagian dari PT Niaga Garam Cemerlang yang pemiliknya menjadi ketua asosiasi pengusaha garam di Pati Bumi Mina Tani.

Emiwati Wijayanti sedang mengecek kadar yodium di Laboratorium Aprogakob, Jumat (3/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Emi menjelaskan, laboratorium yang berada di Desa Jembangan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati ini sudah beroperasi selama empat tahun. Di kurun waktu tersebut, pihaknya mengetes kadar yodium garam konsumsi, seperti garam briket dan garam halus atau garam meja.

“Kadar yodium yang aman dikonsumsi itu antara 30-100 ppm,” beber Emi saat ditemui, Jumat (3/4/2020).

Untuk mengecek kadar yodium tersebut, laboratorium menggunakan timbangan, gelas kimia, alat suntik, garam yang akan dites, akuades, dan pelarut martorius yang isinya ada reagen A, reagen B dan larutan standar.

Langkah pertama, garam ditimbang seberat 25 gram. Kemudian dilarutkan dengan akuades. Saat sudah larut, lalu ditambah reagen A lima tetes dan reagen B lima tetes. Setelah itu dikocok dan ditunggu sampai berubah menjadi ungu pekat.

“Kalau nggak ungu pekat, berarti kadar yodiumnya kurang memenuhi syarat,” ungkapnya sambil menunjukkan langkah-langkah pengecekan.

Baca juga: Mesin Pengolah Garam Ciptaan Pak Simin Siap Bersaing dengan Buatan Pabrik

Sedangkan untuk mengetahui besaran kadar yodiumnya, Emi melanjutkan, formula tadi ditambah larutan standar dan dikocok lagi sampai warnanya kembali ke semula.

“Nanti dihitung kadarnya dari jumlah larutan standar yang diambil dikali dengan angka di label larutannya,” papar wanita yang siang itu menggunakan kerudung motif bunga-bunga.

Baca juga: Terdampak Corona, Pabrik Garam Talenta Raya Bertekad Terus Produksi

Sebelumnya, hampir semua produsen garam di Pati mengecek kadar yodium di tempat tersebut. Namun, pihaknya mulai membebaskan mereka untuk melakukan tes secara mandiri dengan terlebih dahulu memberikan perbekalan.

“Sekarang sudah banyak yang mengambil pelarut martorius dengan harga Rp 115 ribu per boks yang dibeli dari sini. Martorius itu bisa dipakai hingga 15 kali. Jadi, produsen bisa mengecek kadar yodium di pabrik mereka sendiri,” pungkas Emi.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Diklaim Banyak Khasiat, Suyatno Buka Resto Olahan Kalkun

0
Ahmad Suyatno saat memperlihatkan ayam kalkun piaraannya di kandang miliknya, Jumat (10/4/2020). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID KUDUS – Siang itu, Ahmad Suyatno (47) tampak berkeliling di kandang ayam kalkun miliknya. Sambil memberi makan, ia kemudian memilih beberapa ayam untuk diolah di Rumah Makan Raos Eco yang ia dirikan di Kawasan Ruko Lentog Tanjung, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Usaha rumah makan yang dirintis beberapa bulan lalu itu memang jadi usaha lanjutan setelah pria asli Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus sukses berternak ayam kalkun.

Ahmad Suyatno sedang memberi makan ayam kalkun di kandang miliknya, Jumat (10/4/2020). Foto: Rabu Sipan

Saat ditemui di rumahnya, Suyatno menceritakan awal mula merintis bisnis kuliner yang ternyata berasal dari rasa penasaran warga akan rasa daging ayam kalkun.

“Sekian tahun budi daya ayam kalkun, saya memang menjualnya saat ayam itu masih hidup. Karena banyak masyarakat yang penasaran dan ingin merasakan daging kalkun matang, maka saya berinisiatif buka resto khusus menyajikan olahan daging ayam kalkun,” ungkapnya, Kamis (10/4/2020).

Rumah makan tersebut, kata dia, menyajikan menu garang asem, sate, rica-rica, ayam bakar dan ayam goreng yang kesemuanya menggunakan daging ayam kalkun sebagai bahan utama.

“Respon masyarakat terhadap berbagai menu olahan daging ayam kalkun sangat bagus. Dalam sehari, Resto Raos Eco bisa menghabiskan sekitar 21 kilogram daging ayam kalkun,” ungkapnya.

Baca juga: Harga Sentuh Rp 5 juta per Ekor, Suyatno Bagikan Tips Sukses Ternak Ayam Kalkun

Suyatno lantas mengklaim, daging kalkun mempunyai berbagai macam manfaat, mulai dari meningkatkan sistem daya tahan tubuh, mencegah kanker, rendah kolesterol, aman bagi penderita diabetes, mengobati insomnia, menurunkan berat badan, dan bagus untuk pertumbuhan anak.

“Jadi selain enak, menyantap daging kalkun juga bisa mendapat banyak manfaat,” ujar pria yang saat ditemui menggunakan kaos warna hitam itu.

Baca juga: Aris Buka Rahasia Agar Ikan Cupang Menang Kontes

Suyatno juga mengajak siapa saja yang berminat ternak ayam kalkun agar bisa belajar kepadanya. Dia menjanjikan untuk menyuplai bibit serta dibimbing cara merawat dan akan dibantu pemasarannya.

Saat ini, dia mempunyai sekitar 150 ekor ayam kalkun dengan berbagai jenis serta kelamin. Dari 150 ekor tersebut, sebulan bisa menghasilkan telur sekitar 500 sampai 600 butir. Namun, telur ini tidak untuk dijual, karena untuk bibit.

“Dari jumlah tersebut, biasanya yang bisa menetas sempurna sekitar 400 butir,” tandas Suyatno.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kisah Aji, Pernah Dicemooh saat Awal Rintis Usaha Servis Jok Karena Penghasilan Kecil

0
Aji Purnomo, pemilik servis jok Arema Jaya. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan busa dan kulit jok motor bergelantungan terlihat di sebuah ruko tepi Jalan Johar Nomor 122 Desa Wergu Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dua orang pria mengenakan seragam berwarna merah hati tampak sibuk menyervis jok motor. Satu di antaranya yakni Muhammad Aji Purnomo (50), pemilik Arema Jaya Servis Jok.

Dengan mata berkaca-kaca, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang awal merintis usaha servis jok itu. Pria yang akrab disapa Aji itu mengaku pernah dicemooh karena pekerjaan dengan penghasilan kecil. Berbeda dengan kebanyakan pemuda di desanya yang merantau.

“Waktu itu memang penghasilan saya kecil karena baru merintis. Saya sempat dihina dan dipandang sebelah mata jika dibandingkan penghasilan orang-orang yang pulang merantau. Tapi saya sabar saja, saya tetap menekuni usaha ini,” ungkapnya, Sabtu (11/4/2020).

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Saat ini dia sudah membuktikan hasil dari usahanya yang dirintis sejak 1991 itu. Dari hasil usaha servis jok, Aji saat ini sudah berangkat haji dan membeli ruko sendiri. Selain itu, dirinya juga bersyukur sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya.

“Alhamdulillah sekarang sudah bisa berangkat haji, ruko ini juga sudah bisa saya beli. Anak-anak juga sudah sukses, yang pertama sudah jadi guru dan yang terakhir jadi tentara. Ini yang nomor dua ikut servis jok,” jelas bapak tiga anak itu.

Di samping Aji, seorang pemuda mengenakan seragam yang sama, mengaku sudah lama ikut membantu servis jok. “Saya ikut membantu bapak sejak masih SMP. Kasihan bapak yang sudah lama merintis usaha ini,” Muhammad Amin Syaifullah (25), putra pemilik Arema Jaya Servis Jok itu.

Baca juga : Aji Hanya Bermodal Rp 100 Ribu saat Rintis Servis Jok

Amin begitu sapaan akrabnya, sejak tahun 2009 dia sudah tertarik membantu orang tuanya. Dia mangaku jika hal itu dari keinginannya sendiri. Amin menyayangkan kalau usaha yang sudah puluhan tahun dirintis orang tuanya tidak ada yang melanjutkan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Banyak yang Kesengsem, Kini Kaus Corona Ganjar jadi Donasi Warga

0
Ganjar Pranowo menunjukkan kaus dengan desaign unik terkait Corona. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Cara unik dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam menyosialisasikan bahaya virus Corona. Di antaranya dengan membuat kaos yang didesain bertema Covid-19. Kaus tersebut bertuliskan kalimat sederhana berisi pesan lawan Corona, seperti, “Bersama Lawan Corona”, “Cuci Tangan Terus Biar Gak Kena Corona Virus”.

Ada juga yang berbahasa Jawa yakni “Nyedak Keplak” (ditampar kalau mendekat), “Lagi Wabah Becik Ning Omah” (Sedang Wabah Lebih Baik di Rumah).

Untuk sosialisasi warga menggunakan masker, ada kaus bertulis “Maskeran Keren”. Desainnya unik, karena jika dilihat dari jauh, orang akan membacanya sebagai “Mas Keren”. Selain itu ada kaus tema mudik, yakni “No Mudik No Cry” dengan gambar wajah Ganjar mengenakan wig ala Bob Marley.

Baca juga : dr Tirta Sumbang APD untuk Bantu Jateng Berantas Corona

Ganjar selalu mengenakan kaus tersebut dalam berbagai kesempatan. Tiap hari ia berkeliling penjuru daerah dengan sepeda atau sepeda motor. Ia mengedukasi warga tentang penggunaan masker, cuci tangan, dan pentingnya phisical distancing. Ganjar juga mengunjungi posko Corona dan balai karantina di desa-desa.

Bahkan saat sesi wawancara, kaus itu juga dikenakannya. Walhasil banyak warga dan netizen yang salfok (salah fokus) dengan kaos. Mereka menyukainya dan berminat memesan.

“Karena yang pengen punya banyak, saya bilang ke temen-temen untuk dibuka pre order saja. Semua bisa pesan dengan sekalian donasi, jadi harganya ditinggiin, keuntungan semua untuk donasi,” kata Ganjar.

Hanya kurun tiga hari, tercatat ada pemesanan sekitar 2.500 kaus. Order datang dari penjuru Nusantara. Bahkan ada yang memesan dari Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Taiwan.

Baca juga : DPC Gerindra Kudus Bantu APD untuk Tenaga Medis

“Ini adalah bentuk kerja sama kepedulian terhadap sesama, wujud gotong royong masyarakat,” ujar Ganjar.

Saat ini dari penjualan kaus itu telah terkumpul donasi sebanyak 170 juta. Sebagian telah digunakan untuk membuat masker kain sebanyak 20 ribu buah. Dalam proses produksi kaus dan masker, Ganjar sengaja melibatkan sejumlah konveksi-konveksi berskala kecil di berbagai daerah sebagai upaya untuk kembali menghidupkan ekonomi kerakyatan bagi kalangan yang terdampak wabah COVID-19.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Aji Hanya Bermodal Rp 100 Ribu saat Rintis Usaha Servis Jok

0
Aji Purnomo sedang melayani servis jok di bengkelnya. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Terik matahari terasa menyengat di depan ruko Jalan Johar Nomor 122 Desa Wergu Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Halaman ruko yang tertulis Arema Jaya Servis Jok itu terlihat penuh dengan kendaraan roda dua. Sejumlah kendaraan di sana sudah dilepas joknya. Ada yang dijemur dan dilepas busanya.

Seorang pria mengenakan peci dan masker menutup mulutnya tampak sedang melepas sebuah jok motor. Dia adalah Muhammad Aji Purnomo (50). Sambil memegang jok motor di tangannya, dia menjelaskan jika usaha servis jok itu dirintis dengan modal Rp 100 ribu.

“Dengan modal itu saya membuka usaha servis jok ini. Awal memulai usaha pada tahun 1991. Tapi sebelumnya, tahun 1982 saya sudah pindah-pindah ikut orang servis jok,” terang pemilik Arema Jaya Servis Jok.

Baca juga : Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda

Pria yang lahir di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu juga menambahkan, saat ini dia sudah merasakan hasil jerih payahnya. Dia sudah bisa pergi haji dan membeli ruko sendiri. Selain itu, anak-anaknya juga sudah selesai sekolah.

Aji begitu dia akrab disapa, membeberkan tentang perkembangan usahanya. Saat ini selain menerima jasa servis jok motor, juga menerima servis kursi. Untuk kursi dia kerjakan di rumah. Karena kursi lebih memakan tempat dan tidak bisa langsung jadi.

“Kalau saya, kerja itu yang penting jujur dan niat membantu. Sering juga ada orang utang dan tidak membayar di sini. Saya ikhlaskan saja, nanti juga Allah yang membalas rezeki lebih banyak,” jelas warga Burikan, Kecamatan Kota, Kudus itu.

Harga servis jok dia kenakan biaya mulai Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Sedangkan kulit jok yang disediakan mulai kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 125 ribu. Untuk harga servis kursi dia menyesuaikan tingkat kesulitan dan bahan yang digunakan.

“Rata-rata pelanggan di sini sekitar 10 hingga 15 orang per hari. Prinsip saya yang penting pelanggan tidak kecewa. Jadi bisa berkelanjutan,” ungkapnya.

Baca juga : Dirikan Usaha, Marwoto Ingin Ajarkan Filosofi Gusjigang pada Santri

Satu di antara sejumlah pelanggan di sana yakni Solichin Kadar Muhammad (53), yang sudah tiga kali ke Arema Jaya. Menurutnya, hasil pekerjaan Aji membuatnya puas. Sehingga dia berlangganan di sana.

“Ini yang ke tiga kalinya, karena hasilnya bagus. Menurut saya di sini yang paling bagus pekerjaan lakukan tiga dimensinya,” pungkas warga Pringsewu, Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemda Harus Sediakan Pemakaman Khusus Covid

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah daerah diminta untuk menyediakan tanah pemakaman bagi jenazah korban Covid-19. Hal itu untuk mengantisipasi jika penolakan penguburan jenazah yang terinfeksi virus Corona kembali terulang.

Instruksi itu, dituangkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Surat Edaran Gubernur Jateng Nomor 443.5/0007521, bertarikh Kamis 17 April 2020. Edaran itu bertujuan untuk memastikan kesediaan lahan pemakaman bagi jenazah korban Covid-19.

“Perlu ketersediaan lahan untuk jenazah korban akibat Corona Virus Disease (Covid-19), termasuk tenaga kesehatan yang meninggal dunia,” tulis Ganjar.

Baca juga : Semarang Zona Merah, Walikota Diminta Tak Ragu Terapkan PSBB

Dalam surat tersebut, gubernur mendesak bupati/ wali kota untuk mengambil langkah strategis menyediakan tanah pemakaman korban Covid-19 dengan mempertimbangkan kondisi mendesak. Penyediaan lahan dengan mengoptimalkan penggunaan aset tanah milik pemerintah kabupaten/ kota, sesuai ketentuan yang berlaku.

Aturan dimaksud di antaranya, PP Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah, Permendagri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah. Ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan, dan Perpres Nomor 71 Tahun 2012, tentang Penyelenggaraan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum Perubahannya.

Baca juga : Antisipasi Penolakan, Pemkab Kudus Siapkan Makam Khusus Jenazah Covid-19

Pengadaan tanah untuk pemakaman itu, juga berpedoman pada Pasal 60 tahun 2013, terkait teknis pelaksanaan persiapan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Terakhir, adalah pasal 49 undang-undang nomor 2 tahun 2012.

“Hal tersebut agar tidak terulang kembali timbulnya kekhawatiran warga masyarakat, terhadap penularan Covid-19, yang berujung pada penolakan pemakaman jenazah korban virus dimaksud,” jelas Ganjar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -