Beranda blog Halaman 13

SMK Muhammadiyah Kudus Go Internasional, 15 Siswa dan Alumni Magang ke Jepang

0

BETANEWS ID, KUDUS – SMK Muhammadiyah Kudus menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan lulusan unggul dan siap bersaing di bursa kerja global. Sebanyak 15 siswa dan alumni sekolah tersebut berhasil lolos program magang ke Jepang, menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan vokasi yang terarah dan berorientasi masa depan.

Keberhasilan itu diumumkan dalam acara pelepasan siswa kelas XII tahun ajaran 2025/2026 di Crystal Building Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), Sabtu (25/4/2026). Total sebanyak 314 siswa resmi dilepas setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun.

Kepala SMK Muhammadiyah Kudus, Purwanta Agung, mengatakan sekolah terus membangun jejaring kerja sama dengan lembaga penyalur tenaga kerja terpercaya agar para lulusan memiliki akses luas ke dunia kerja, termasuk peluang internasional.

“Mayoritas lulusan kami langsung bekerja. Sekitar 95 persen siswa lulusan tahun ini memilih masuk dunia kerja, sedangkan sisanya melanjutkan kuliah,” ujarnya.

Menurutnya, peluang kerja luar negeri menjadi salah satu fokus sekolah dalam meningkatkan kualitas lulusan. Dari total peserta yang lolos program magang ke Jepang, terdiri atas 11 siswa kelas XII dan empat alumni.

Sebelum diberangkatkan, para peserta mendapat pembinaan intensif dari Dr Marlock melalui lembaga Arka Learn. Pembekalan itu meliputi penguatan karakter, kesiapan mental, disiplin kerja, hingga nilai spiritual agar siap menghadapi tantangan kerja di luar negeri.

Tak hanya Jepang, SMK Muhammadiyah Kudus juga membuka peluang ke Eropa melalui program Double Track kuliah dan kerja ke Jerman. Program tersebut digelar bekerja sama dengan Matahari Global Edu dan Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah.

Purwanta berharap para lulusan terus meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif.

“Kami ingin lulusan SMK Muhammadiyah Kudus tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap bersaing di level internasional dengan tetap membawa nilai-nilai karakter yang baik,” ungkapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Bapelkum Semarang Akselerasi Transformasi Digital, dari Konsultasi Online hingga Portal Terpadu

0

BETANEWS.ID, SEMARANG — Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang di bawah Kementerian Hukum terus memperkuat reformasi birokrasi berbasis pelayanan publik melalui transformasi digital. Upaya ini ditunjukkan dalam desk evaluasi menuju predikat Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) yang digelar pada Jumat (24/4/2026).

Evaluasi yang berlangsung di auditorium lantai 2 Gedung A tersebut menghadirkan Tim Penilai Internal dari Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum yang dipimpin Dr. Morina Harahap. Proses penilaian dilakukan secara dialogis dengan menitikberatkan pada dampak nyata inovasi terhadap kualitas layanan publik.

Kepala Bapelkum Semarang, Rinto Gunawan Sitorus, mengatakan pihaknya mengembangkan portal terpadu “One Bapelkum Semarang” sebagai fondasi digital layanan. Sistem ini mengintegrasikan berbagai program pengembangan kompetensi dalam satu platform yang mudah diakses dan responsif.

“Melalui portal ini, seluruh layanan menjadi lebih efisien dan terintegrasi, sehingga mampu menjawab kebutuhan pengguna secara cepat,” ujarnya.

Selain itu, Bapelkum juga menghadirkan inovasi “Konsultasi Widyaiswara Digital” yang digagas Dr. Muh Khamdan. Layanan ini memungkinkan aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat memperoleh konsultasi secara daring tanpa batas ruang dan waktu.

Baca juga : Otonomi Daerah Berjalan 30 Tahun, Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Kemandirian Fiskal

Konsep layanan tersebut mengadopsi pendekatan platform digital seperti Halodoc, namun diterapkan dalam konteks pengembangan kompetensi. Widyaiswara tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga melakukan pendampingan dan coaching sesuai kebutuhan pengguna.

Transformasi ini turut mengubah peran widyaiswara menjadi lebih strategis, tidak sekadar pengajar, tetapi juga fasilitator, mentor, dan penggerak kolaborasi pembelajaran.

Bapelkum juga memanfaatkan data hasil konsultasi untuk membentuk community of interest (CoI), yakni kelompok belajar berbasis minat yang memperkuat kolaborasi antarindividu. Seluruh proses ini didukung sistem manajemen pengetahuan yang mendokumentasikan praktik terbaik sebagai sumber pembelajaran berkelanjutan.

Sebelumnya, Bapelkum Semarang telah meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2020 saat masih bernama Badiklat Hukum Jawa Tengah. Kini, peningkatan kualitas layanan menjadi fokus utama dalam meraih predikat WBBM.

Dengan dukungan teknologi, layanan Bapelkum kini menjangkau 11 provinsi dengan sasaran lebih dari 1.400 ASN, meski hanya didukung sekitar 20 pegawai. Capaian ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi tidak lagi bergantung pada ruang fisik, melainkan pada inovasi dan kolaborasi digital.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Terima 150 Ton Sampah per Hari, Pembayaran Retribusi di TPA Jepara Bakal Dialihkan ke Sistem Digital

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara sedang menggencarkan peralihan pembayaran retribusi yang masuk ke kas daerah menggunakan sistem digital.

Salah satunya adalah pembayaran retribusi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan, Jepara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini, mengatakan seluruh layanan yang berkaitan dengan retribusi persampahan nantinya akan dialihkan ke sistem digital.

“Segala sesuatu yang berkaitan dengan retribusi persampahan nanti akan dilakukan elektronisasi melalui digitalisasi, seperti pelayanan jemput sampah maupun pembayaran sampah dari pelaku usaha,” kata Rini, Sabtu (25/4/2026).

Penerapan sistem tersebut nantinya akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, Rini mengatakan akan difokuskan terlebih dahulu di TPA Bandengan karena lebih mudah dalam pelaksanaannya.

“Sasaran pertama di TPA dulu karena kami nilai lebih mudah, kemudian lanjut ke rumah-rumah, pelaku usaha, maupun sumber sampah lainnya,” jelasnya.

Baca juga : Masuk Lahan Kritis, 300 Bibit Pohon Ditanam di Somosari Jepara

Terkait mekanisme pembayaran, ia mengaku saat ini masih menyusun peta proses bisnis (probis). Targetnya direncanakan rampung tahun ini.

Sebab, kata Rini, sistem ini baru pertama kali diterapkan dan perlu disesuaikan dengan pihak perbankan yang akan memfasilitasi.

“Pembayarannya nanti kami susun proses bisnisnya karena ini baru pertama kali, menyesuaikan dengan bank yang memfasilitasi. Gambarannya mungkin memakai QRIS,” tambahnya.

Selama ini, Rini mengatakan pembayaran retribusi sampah masih dilakukan secara manual maupun melalui transfer langsung ke rekening kas umum daerah (RKUD).

Untuk meningkatkan transparansi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta menindaklanjuti arahan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pihaknya melakukan digitalisasi layanan persampahan.

“Arahan dari KPK, semua yang berkaitan dengan penerimaan retribusi maupun pajak diharapkan menggunakan elektronisasi,” ungkapnya.

Adapun volume sampah yang masuk ke TPA Bandengan, Jepara, setiap hari rata-rata mencapai sekitar 150 ton. Jumlah tersebut dapat meningkat pada momen tertentu, seperti saat perayaan hari besar keagamaan, termasuk Lebaran.

Besaran tarif retribusi yaitu untuk kendaraan roda tiga Rp10 ribu, roda empat Rp20 ribu, dan roda enam Rp40 ribu. Tarif tersebut dibebankan setiap kali datang atau membuang sampah di TPA.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Otonomi Daerah Berjalan 30 Tahun, Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Kemandirian Fiskal

0

BETANEWS ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan, peringatan Hari Otonomi Daerah harus menjadi momentum penting untuk semakin menguatkan kemandirian fiskal di wilayahnya.

Hal itu disampaikan usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 Tingkat Provinsi Jateng Tahun 2026 di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin, 27 April 2026.

Menurut Luthfi, kemandirian fiskal tidak dapat dicapai jika daerah berjalan sendiri-sendiri. Namun, butuh upaya-upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Karenanya, ia meminta pemerintah kabupaten/kota membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru sesuai potensi wilayah masing-masing. Beberapa kawasan aglomerasi seperti Solo Raya, Pekalongan Raya, Banyumas Raya, Muria Raya, dan Semarang Raya dapat menjadi simpul penguatan ekonomi daerah.

Luthfi menegaskan, dalam membangun ekonomi wilayah, daerah tidak boleh terjebak ego sektoral. Pemerintah provinsi akan mengambil peran sebagai koordinator dalam pengawasan wilayah, agar pemerataan pembangunan dapat berjalan lebih baik.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan agar pelaksanaan otonomi daerah harus makin berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. Pelayanan publik tidak boleh lagi sekadar administratif, tetapi harus menjawab kebutuhan warga. Menurutnya, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan birokrasi pada dasarnya hadir untuk melayani masyarakat.

“Pelayanan publik kita tidak lagi berorientasi kepada administrasi. Pelayanan kita harus berorientasi kepada kemanfaatan bagi masyarakat. Karena sejatinya ASN atau kita birokrasi adalah melayani masyarakat,” ujarnya.

Baca juga : Progresif Dalam Penanganan Stunting, Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Luthfi juga mengingatkan pentingnya efisiensi anggaran. Dalam semangat otonomi daerah, setiap kegiatan pemerintah harus tepat guna, tidak boros, dan benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat.

“Tidak boleh ada pemborosan, kemudian harus tepat guna dan tidak boleh segala kegiatan tidak bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Dalam peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30, lanjut dia, juga menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. Hal itu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, terutama dalam fungsi koordinasi dan pengawasan.

Menurut Luthfi, perlu ada sinkronisasi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Sinkronisasi itu harus dimulai dari perencanaan dan penganggaran agar program pembangunan dapat berjalan searah.

Sebelumnya, saat upacara, Ahmad Luthfi menyampaikan amanat Menteri Dalam Negeri. Dalam amanat tersebut, Mendagri menekankan bahwa otonomi daerah harus menjadi instrumen untuk mempercepat pemerataan pembangunan, memperkuat pelayanan publik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Peringatan Hari Otonomi Daerah merupakan momentum bagi kita semua untuk memperkokoh komitmen dan peran kita dalam memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ucapnya.

Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 tahun ini mengusung tema “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita”. Tema tersebut menegaskan pentingnya kemandirian dan tanggung jawab daerah dalam mengelola potensi lokal, sekaligus memperkuat sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dalam rangkaian upacara tersebut, Pemprov Jateng juga menyerahkan piagam penghargaan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada sejumlah kabupaten/kota berprestasi.

Untuk kategori LPPD kabupaten, penghargaan diberikan kepada Kabupaten Klaten, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Wonogiri. Sementara kategori LPPD kota diberikan kepada Kota Surakarta dan Kota Salatiga.

Adapun untuk kategori SPM kabupaten, penghargaan diberikan kepada Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Kebumen. Sedangkan kategori SPM kota diberikan kepada Kota Magelang dan Kota Semarang.

Upacara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, jajaran Forkopimda, kepala daerah penerima penghargaan, Sekda Provinsi Jawa Tengah, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pimpinan BUMD, serta ASN di lingkungan Pemprov Jateng.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Es Doger Sedjati, Minuman Tradisional Rasa Kekinian yang Laris di Kudus

0
Es Doger Sedjati di Jalan Gribik, Purwosari, Kabupaten Kudus. Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Tampak di pinggir Jalan Gribik, Purwosari, Kabupaten Kudus, terlihat kedai yang bernuansa pink yang bertuliskan Es Doger Sedjati milik Krisna Fazari (30), Faza sapaan akrabnya.

Saat siang, lapak milik Faza itu selalu ramai oleh warga yang ingin menikmati kesegaran es asal Bumi Pasundan itu. Es dengan berbagai isian itu bisa jadi penolong saat tenggorokan kering setelah terpapar panas yang begitu menyengat.

“Es dogernya berisi es serut yang sudah dicampur santan dan sirup strawberry, roti, sagu mutiara, kacang hijau, tape singkong, dan susu putih. Es doger ini harganya mulai Rp3 ribu hingga Rp8 ribu,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Setiap Hari Diserbu Pembeli, Ganesha Snack Jadi Andalan Berbagai Acara

Menurut Faza, sejak buka kedainya cukup ramai pembeli, apalagi saat musim panas. Dalam sehari di jam buka mulai pukul 10.00–17.00 WIB, ia bisa membawa pulang penghasilan Rp150–200 ribu.

Faza mengatakan, sebelum kembali ke Kudus, dulunya dia berkuliah dan bekerja di Jakarta. Namun, usaha sampingan yang ia rintis di Kudus ternyata ramai peminat, akhirnya ia memutuskan untuk fokus ke usahanya yang ada di Kudus.

“Setelah lulus kuliah saya langsung melanjutkan kerja di Jakarta karena kuliah saya dulu di Jakarta. Kemarin niatnya ke Kudus hanya silaturahmi, tapi karena usaha di Kudus ramai akhirnya saya memutuskan untuk menetap dan fokus ke usaha yang ada di Kudus ini,” ungkap warga Pasuruan Kidul itu.

Sebelum menekuni jualan es doger, Faza sempat buka usaha yang keduanya yaitu pisang goreng tanduk. Karena pisang tanduk kurang diminati pembeli, akhirnya Faza memutuskan untuk memulai usaha keduanya yang baru yaitu Es Doger Sedjati.

“Usaha pertama saya itu mie jebew yang berada di Wergu. Karena saya sudah memantapkan diri di Kudus akhirnya saya memutuskan untuk buka usaha kedua. Awalnya saya buka usaha pisang tanduk, tapi kurang diminati akhirnya saya buka usaha es doger ini,” tambahnya.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

Meski usia Es Doger Sedjati baru tujuh hari, namun banyak warga yang minat untuk menikmati es doger sedjati itu, bahkan Faza bisa menjajakan puluhan porsi per harinya.

“Alasan saya memilih es doger karena saya ingin menaikkan eksistensi minuman tradisional di zaman sekarang, meski kendalanya waktu musim hujan, tapi saya tetap konsisten agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Gunakan Kuah Susu, Soto Betawi Jadi Favorit Baru di Warung Mubarok

0
Soto Betawi Jalan Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah: Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di sebuah warung makan yang terletak di Jalan Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terlihat beberapa pengendara motor yang membelokkan kendaraannya ke depan Warung Mubarok. Warung itu tak lain adalah milik Sukarni (72).

Saat ditemui beberapa waktu lalu, Sukarni menjelaskan, bahwa ia memilih untuk menambah menu soto Betawi karena jarang ditemui di Kudus. Alhasil menu tersebut banyak diminati warga Kudus.

Warung Mubarok milik Sukarni itu menawarkan dua jenis soto, yakni soto Kudus dan soto Betawi. Namun, banyak pembeli yang lebih memilih makanan khas Jakarta itu. Ia menjelaskan, bahwa soto Betawi terbilang menu baru yang ia tawarkan.

Baca juga: Setiap Hari Diserbu Pembeli, Ganesha Snack Jadi Andalan Berbagai Acara

“Soto Betawi terbilang menu baru, tapi ya Alhamdulillah peminatnya banyak” ujar warga asli Wonogiri itu.

Soto Betawi memiliki perbedaan dengan soto lainnya. Bumbu dan kuah dari soto Betawi berbeda. Kuahnya terbilang unik karena terbuat dari susu, tidak terbuat dari santan.

“Kalau soto Betawi kuahnya itu pakai susu, tidak pakai santan. Rempahnya soto Betawi pakai pala dan kayu manis, beda dengan soto lainnya,” ujar Sukarni.

Dengan merogoh kocek Rp15 ribu, pembeli sudah bisa merasakan soto Betawi yang dijual Sukarni dengan isian daging sapi, tomat, mlinjo, kentang, daun bawang serta bawang goreng. Hal ini menjadi salah satu daya tarik dari menu yang ditawarkan oleh pemilik Warung Mubarok.

“Biasanya soto Betawi menggunakan isian jeroan sapi, seperti babat, paru, dan hati. Tapi di sini saya memilih daging sapi karena menyesuaikan lidah para pembeli,” bebernya.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

Selain soto Betawi, Warung Mubarok juga menyediakan lodeh, pecel, rames, dan cemeding. Namun, banyak pembeli yang lebih memilih untuk menikmati soto Betawi karena rasanya yang khas.

Sukarni mengaku, bisa menjual kisaran dua puluh porsi soto Betawi tiap harinya. Ia membuka warung makannya itu dari pukul 06.00–14.00 WIB, kecuali hari Jumat.

“Alhamdulillah banyak pelanggan yang kembali lagi. Ini saya dibantu oleh dua karyawannya,” tambahnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Es Mie Jelly Ceplok, Sajian Anti-Mainstream di Kudus

0
Es Mie Jelly di Jalan KH Noor Hadi, Purwosari, Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di tepi Jalan KH Noor Hadi, Purwosari, Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak kedai berwarna putih yang tepat di depan MI Muhammadiyah. Sebelah kanan kedai nampak dua orang anak muda yang duduk ngobrol sambil menunggu pesanan. Sedangkan di dalam tampak perempuan sedang sibuk menyiapkan pesanan para pembeli. Perempuan itu tak lain adalah Rohmayanti (40), penjual es mie jelly ceplok.

Di sela kesibukannya yang melayani pembeli, Maya begitu ia akrab disapa, sudi berbagi cerita soal salah satu menu di kedainya itu. Dia mengatakan, sebelum berjualan es mie jelly ceplok, ia sebenarnya karyawan pabrik yang sudah ditekuninya selama tujuh tahun.

“Dulu tahun 2017 saya sudah jualan es mie jelly ceplok, tapi hanya sebentar, karena kalau jualan pakai gerobak kan harus dorong kalau sudah selesai mangkal, dari itu saya merasa kesulitan. Lalu saya memutuskan untuk kerja menjadi karyawan pabrik,” ujar warga Purwosari itu.

Baca juga: Setiap Hari Diserbu Pembeli, Ganesha Snack Jadi Andalan Berbagai Acara

Ia menjelaskan, Ide awal membuat es dengan tampilan yang unik karena terinspirasi es mie jelly ceplok yang ditemuinya waktu di luar Kota Kudus. Ia berfikir bahwa belum ada yang jualan es tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk mulai membuat dan menjajakan minuman es mie jelly ceplok itu.

“Karena basic saya kan di jelly, jadi saya coba buat, apalagi di sini juga belum ada yang jualan seperti itu,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Es mie jelly ceplok itu berisi jelly berbentuk mie, jelly telur ceplok, dan jelly telur puyuh. Ketiga jelly tersebut kemudian ditambahkan biji selasih, susu, dan sirup aneka pilihan. Untuk menambah kesegarannya tentu tak ketinggalan esnya.

“Aneka jelly-nya saya buat sendiri dan mempunyai rasa yang berbeda-beda. Jadi dijamin aman untuk dikonsumsi karena homemade atau buatan sendiri,” ungkap Maya.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

Dengan cita rasa dan kesegarannya, Maya mampu menjual puluhan porsi per harinya dengan harga per porsinya yang dibanderol seharga Rp7 ribu. Tak hanya mie jelly ceplok, Maya juga menjajakan aneka pop ice dan berbagai varian teh.

“Kalau buka biasanya mulai pukul 08.00–22.00 WIB. Harapannya ya semoga usaha ini semakin lancar dan berkembang, bisa buka cabang,” tambahnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Minat Puisi Lesu, Jaker Kudus Ajak Anak Muda Temukan Makna Lewat Karya

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Minat generasi muda terhadap puisi dinilai masih belum maksimal. Padahal, puisi dianggap sebagai bentuk ekspresi tertinggi dalam dunia sastra yang lahir dari pengalaman, perasaan, dan kepekaan seseorang terhadap lingkungan sekitar.

Pandangan tersebut mengemuka dalam talkshow bertema “Menemukan Makna dalam Setiap Karya” yang digelar Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kabupaten Kudus dalam rangka memperingati Hari Bulan Puisi 2026 di Sidji Coffee, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan itu menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya pegiat teater Asa Jatmiko, penulis novel AJ Susmana, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Wahyu Kristanto.

Pemateri, Asa Jatmiko, menilai puisi memiliki posisi penting dalam khazanah sastra. Namun, ia menyayangkan karya sastra tersebut belum sepenuhnya diminati kalangan muda.

“Puisi itu penting, tapi kehadirannya belum sepenuhnya diminati anak muda. Padahal, puisi adalah hasil endapan pengalaman dan perasaan manusia,” ujarnya.

Baca juga : Peringati Bulan Puisi 2026, Jaker Kudus Gelar Talkshow

Menurut Asa, karya puisi yang baik lahir dari kepekaan penulis terhadap fenomena sosial maupun pengalaman pribadi yang dirasakan sehari-hari.

“Puisi lahir dari pengalaman, dari apa yang kita lihat dan rasakan. Itu yang menjadi kekuatan dalam karya sastra,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan AJ Susmana, penulis novel Menghadang Kubilai Khan. Ia menilai puisi bukan sekadar luapan kegelisahan, melainkan juga ruang pengetahuan dan sarana memahami kehidupan.

“Puisi adalah seni paling tinggi, hasil olah rasa dan rasio manusia. Di dalamnya ada nilai-nilai perjuangan yang menarik untuk diulik dan disampaikan,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong generasi muda agar tidak takut memulai menulis. Menurutnya, keberanian mengekspresikan diri menjadi langkah awal lahirnya sebuah karya sastra.

“Jangan terlalu dikontrol. Tulis saja apa yang menjadi kegelisahan. Dari situ nanti akan berkembang, bisa jadi puisi, cerpen, atau karya lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah yang juga menjadi pemateri dalam talkshow, Wahyu Kristanto, menilai kebiasaan anak muda menuangkan gagasan di media sosial bisa menjadi pintu masuk dalam berkarya sastra. Sehingga tinggal pengembangan imajinasi agar melahirkan karya.

“Apa yang dilakukan di media sosial itu bisa menjadi cikal bakal karya sastra. Tinggal bagaimana dikembangkan dengan imajinasi untuk melahirkan nilai-nilai dalam puisi,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hasilkan Sapi Premium, Peternakan Sapi di Purworejo Ini Bisa Jadi Percontohan

0

BETANEWS.ID, PURWOREJO — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meninjau peternakan sapi Berkah Setia Farm di Kabupaten Purworejo, Sabtu, 25 April 2026.

Berkah Setia Farm Purworejo dikelola oleh generasi milenial bernama Setyo Hermawan sejak tahun 2016. Peternakan tersebut dikelola secara modern dengan memanfaatkan teknologi. Model pengelolaannya antara lain kandang bersih dan modern, pusat penggemukan dan peningkatan kualitas genetik, peternakan berkelanjutan, serta pemanfaatan pakan berbasis limbah pertanian lokal.

“Awalnya cuma dua ekor. Kami pakai metode pengelolaan modern, pakan komposisi sendiri,” ujar Setyo saat ditemui di lokasi.

Melalui model pengelolaan tersebut, Berkah Setia Farm mampu menghasilkan sapi berukuran besar. Hal itu karena menerapkan manajemen pakan intensif, sehingga pertumbuhannya bisa optimal. Keunggulan lainnya adalah memproduksi sapi dengan segmentasi pasar premium, khusus sapi kontes dan kurban kelas atas.

“Fokusnya untuk penggemukan dan kurban. Jenisnya sapi PO (Peranakan Ongole) atau sapi lokal,” jelasnya.

Untuk pemasaran, Setyo mengatakan ia memanfaatkan media sosial sehingga jangkauan pasarnya bisa luas.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan praktik yang dilakukan oleh Berkah Setia Farm bisa menjadi contoh bagi peternak lainnya. Berawal dari dua ekor sapi, kini jumlahnya sudah mencapai ratusan ekor.

Baca juga : Saat Ahmad Luthfi Berbagi Ilmu Kepemimpinan kepada Para Wali Kota di Sumatera

Bibit yang digunakan di peternakan tersebut merupakan jenis sapi PO Kebumen atau biasa disebut Majapahitan, salah satu sapi unggulan yang selalu dikawinkan dengan betina dan menghasilkan anakan dengan nilai jual tinggi.

“Jadi beternak sapi itu sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, menggairahkan, dan tentu saja menguntungkan. Mas Hermawan ini contoh bagaimana anak muda bisa berkreasi, bekerja keras, berinovasi, dan bisa menghasilkan sesuatu. Ini inspirasi bagi kita semua,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan Jawa Tengah telah memiliki peta jalan pembangunan sebagai salah satu daerah penopang pangan nasional. Peternakan dengan hasil ternak berkualitas harus diperbanyak karena bisa menjadi kunci agar Jawa Tengah menjadi lumbung ternak nasional.

“Tahun ini roadmap (peta jalan) kita adalah swasembada pangan. Produktivitas hasil pertanian dan peternakan harus kita dorong agar bisa mencukupi kebutuhan sendiri dan daerah lain di Indonesia,” katanya.

Di Jawa Tengah juga sedang disiapkan proyek Mega Farm di Kabupaten Brebes. Adanya peternakan dengan metode modern dan kualitas yang bagus dapat menjadi percontohan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Guyang Cekathak Resmi Jadi WBTb, Tradisi Warisan Sunan Muria Kian Dilestarikan di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) untuk tradisi Guyang Cekathak. Penyerahan tersebut dilakukan di Wujil Resort & Convention, Semarang, Selasa (21/4/2026).

Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono.

Plt Kepala Disbudpar Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto, menyampaikan bahwa penetapan Guyang Cekathak sebagai WBTb menjadi langkah penting dalam menjaga warisan budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Ini merupakan komitmen Pemkab Kudus untuk terus melestarikan kebudayaan yang ada di masyarakat. Harapannya, budaya ini tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu mengedukasi generasi muda agar mengenali jati diri daerahnya,” ujarnya.

Guyang Cekathak merupakan tradisi yang erat kaitannya dengan Sunan Muria. Tradisi ini telah ada sejak masa beliau hidup, ketika masyarakat memohon hujan saat musim kemarau.

Baca juga : Kawasan Pecinan di Welahan Jepara Bakal Dihidupkan Kembali Mulai Tahun Depan

Kala itu, Sunan Muria memandikan kudanya di sumber mata air yang dikenal sebagai Sendang Rejoso sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Seiring waktu, karena kuda tersebut telah tiada, tradisi beralih menggunakan cekathak atau pelana kuda sebagai simbol agar tradisi tetap dilestarikan.

Secara etimologi, “guyang” berarti memandikan, sedangkan “cekathak” merujuk pada pelana atau tapak kuda peninggalan Sunan Muria.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Colo dengan rangkaian prosesi yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan. Prosesi diawali pada malam hari setelah salat Magrib dengan pengambilan cekathak dari tempat penyimpanan, dilanjutkan pembacaan manaqib dan tahlil sebagai bentuk penghormatan.

Keesokan harinya, masyarakat dan peziarah berkumpul di area Masjid Sunan Muria untuk doa bersama. Setelah itu, cekathak diarak menuju Sendang Rejoso dengan iringan selawat dan tabuhan terbang papat.

Di lokasi sendang, cekathak dimandikan menggunakan air dari sumber Rejenu dengan gayung batok kelapa. Air bekas guyuran kemudian dipercikkan kepada peserta sebagai simbol harapan turunnya hujan.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama dan bancakan atau makan bersama, di mana masyarakat membawa hidangan masing-masing seperti nasi dan ingkung, serta menikmati sajian dari pihak yayasan.

Menurut Teguh, pengakuan sebagai WBTB tidak hanya sebatas penghargaan, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur.

“Pemajuan kebudayaan menjadi tugas kami agar tradisi seperti Guyang Cekathak tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat kepribadian dan jati diri warga Kudus,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masih Lebih Murah Solar Subsidi, Ini Harapan Nelayan Jepara soal Inovasi Petasol

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja memperkenalkan bahan bakar minyak (BBM) alternatif berbahan dasar limbah plastik bernama petasol kepada nelayan di Kabupaten Jepara.

Perkenalan dan uji coba penggunaan petasol pada perahu nelayan dilakukan di Desa Bumiharjo, Kecamatan Donorojo pada Jumat (24/4/2026).

Salah satu nelayan di Desa Bumiharjo, Sugeng Haryanto (45), mengatakan dirinya sebelumnya sudah mengetahui adanya inovasi penciptaan petasol sebagai BBM alternatif pengganti solar.

Sebagai nelayan, ia tidak menolak dan bersedia untuk beralih dari penggunaan solar ke petasol.

“Kalau saya bagus lah (penggunaan petasol), kalau kita bisa dikasih pembelajaran untuk pembuatan, tapi kalau beli rasanya masih mahal,” kata Sugeng saat dihubungi Betanews.id pada Sabtu (25/4/2026).

Sugeng menjelaskan, pembelajaran tersebut dibutuhkan agar nelayan di desanya bisa memproduksi secara mandiri. Terlebih, penggunaan petasol saat ini belum diperjualbelikan secara bebas.

Kabupaten Jepara sebenarnya sudah memiliki mesin pembuat petasol bernama fast pyrolysis (faspol) dengan kapasitas produksi sebesar 50 kg. Namun, mesin tersebut berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karimunjawa.

“Harapannya juga kita bisa dikasih bantuan alat, sehingga kita bisa produksi mandiri,” ujarnya.

Meskipun belum diperjualbelikan secara luas, beberapa daerah yang sudah memiliki mesin faspol berkapasitas produksi besar diketahui telah menjual petasol dengan harga Rp10 ribu per liter.

Bagi Sugeng, harga tersebut masih lebih mahal dibandingkan harga solar subsidi yang hanya Rp6.800 per liter.

“Kalau dijual, harganya juga kalau bisa di bawah solar subsidi, karena kan belum pernah pakai. Kalau harganya sama, saya kira nelayan akan lebih memilih solar,” ucapnya.

Terpisah, Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan penggunaan petasol saat ini sudah diuji coba, terutama pada perahu nelayan dan alat pertanian.

Kandungan emisi yang dihasilkan juga sudah diuji dan hasilnya sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).

Dengan bahan baku yang terbuat dari limbah plastik, secara ekonomi Arif mengatakan petasol memiliki potensi untuk dikembangkan.

“Secara ekonomi (prospeknya) luar biasa. Ini kan dari limbah, dari nol menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan ini bisa menyelesaikan persoalan sampah, karena bapak presiden sangat konsen terkait bagaimana mengatasi persoalan sampah,” katanya saat ditemui di Desa Bumiharjo.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jumlah UMKM Kudus Tembus 18.600, Didominasi Usaha Makanan dan Minuman

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kudus terus menunjukkan peningkatan. Hingga akhir tahun 2025, total UMKM tercatat mencapai sekitar 18.600 unit usaha.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Disnakerperinkop UKM Kudus, Muhammad Faiz Anwari, mengatakan jumlah tersebut naik dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, jumlah UMKM di Kudus masih berada di kisaran 18.277 unit.

Menurutnya, pertumbuhan UMKM di Kudus bersifat dinamis dan tidak selalu stabil. Hal ini karena banyak pelaku usaha mikro yang kerap berganti jenis usaha mengikuti tren pasar.

Ia mencontohkan, saat tren minuman kopi meningkat, banyak pelaku UMKM beralih menjual kopi. Namun, ketika tren bergeser ke minuman lain atau makanan pedas, pelaku usaha pun ikut menyesuaikan.

“UMKM ini memang pasang surut, karena pelaku usaha kecil biasanya mengikuti apa yang sedang laku di pasaran,” ujar Faiz di ruang kerjanya belum lama ini.

Baca juga : Kunjungan Wisatawan Kudus di Triwulan I Capai 911.259, Peringkat 5 di Provinsi Jateng

Dari total UMKM yang ada, ungkapnya, sektor makanan dan minuman masih menjadi yang paling dominan. Bahkan, kontribusinya mencapai sekitar 95 persen dari keseluruhan pelaku usaha.

Faiz menjelaskan, sektor kuliner dipilih karena relatif mudah dijalankan dan tidak membutuhkan modal besar. Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap makanan dan minuman juga cenderung stabil.

“Kalau makanan minuman itu bisa dikerjakan sendiri dan bahan bakunya juga lebih mudah didapat,” jelasnya.

Ia menilai prospek UMKM di Kudus masih cukup menjanjikan meski persaingan semakin ketat. Fenomena menjamurnya pelaku usaha, terutama di sektor kuliner, menjadi bukti tingginya minat masyarakat untuk berwirausaha.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kudus tetap berupaya memberikan dukungan melalui program bantuan modal. Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk hibah kepada kelompok pelaku UMKM yang memenuhi kriteria.

“Pada 2025, tercatat sebanyak 20 kelompok menerima bantuan dengan masing-masing kelompok beranggotakan lima orang. Pada 2026, jumlahnya dikurangi menjadi 10 kelompok karena keterbatasan anggaran daerah,” bebernya.

Dia menuturkan, setiap kelompok tetap mendapatkan bantuan sebesar Rp25 juta yang digunakan untuk penguatan modal usaha. Program ini diharapkan mampu membantu pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan permodalan agar tetap berkembang.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Valerie Soroti Kasus Pemerasan PKL, Dorong Penegakan Perda yang Humanis di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kudus sekaligus Ketua Fraksi Gerindra, Valerie Yudistira Pramudya, menyoroti viralnya kasus dugaan pemerasan terhadap pedagang kaki lima (PKL) di Kabupaten Kudus. Ia menyayangkan peristiwa tersebut dan menegaskan pentingnya penanganan yang humanis serta berkeadilan.

“Pertama, kami sangat menyayangkan kejadian tersebut terjadi di Kudus. Kedua, kami mengapresiasi langkah cepat pihak kepolisian yang sigap sehingga memberikan rasa aman kepada masyarakat bahwa aksi premanisme tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan PKL tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan kepastian regulasi. Ia menyebut para PKL membutuhkan kejelasan terkait aturan, khususnya mengenai ruas jalan atau zona yang diperbolehkan untuk aktivitas berdagang.

“PKL hari ini butuh kepastian. Perda maupun perbup tentang ruas jalan yang bisa digunakan untuk berdagang harus jelas. Ini penting agar tidak terjadi lagi hal-hal seperti ini,” jelasnya.

Valerie menilai, salah satu persoalan utama adalah minimnya pemahaman masyarakat terhadap aturan yang berlaku. Ia mendorong agar pemerintah daerah lebih masif melakukan sosialisasi peraturan daerah (perda) kepada masyarakat, khususnya PKL.

“Saya melihat dari beberapa wawancara, ternyata PKL juga ingin tahu sebenarnya aturan itu seperti apa, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Maka, sosialisasi perda ini harus diperkuat,” katanya.

Baca juga : Wujudkan Wajah Kota Rapi dan Ekosistem Kreatif, Valerie Dorong Percepatan Perda Kabel FO dan Ekraf di Kudus

Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat akan menciptakan kenyamanan dalam berusaha sekaligus menjaga ketertiban umum.

Meski menekankan pentingnya penegakan aturan, Valerie mengingatkan agar pendekatan yang dilakukan tidak kaku. Ia menilai kondisi ekonomi saat ini perlu menjadi pertimbangan dalam kebijakan penertiban.

“Kita tidak saklek. Di satu sisi perda harus ditegakkan, tapi di sisi lain kita juga harus melihat kondisi ekonomi masyarakat. Harus ada pendekatan yang humanis dan edukatif,” tegasnya.

Menurutnya, penertiban di zona merah memang perlu dilakukan, terutama di ruas-ruas strategis dan vital. Namun, pemerintah juga harus memberikan solusi alternatif bagi PKL agar tetap bisa menjalankan usaha.

“Pemkab harus punya solusi. Kalau memang tidak boleh berjualan di zona tertentu, harus disiapkan tempat lain yang layak dan tetap mendukung aktivitas ekonomi mereka,” terangnya.

Lebih lanjut, Valerie menilai, penataan kota di Kudus, termasuk pengaturan PKL dan infrastruktur seperti jaringan kabel, perlu dilakukan secara terpadu. Ia juga membuka peluang adanya evaluasi terhadap kebijakan yang ada, termasuk kemungkinan penyesuaian zona.

“Perda yang ada perlu dirapikan dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Penataan kota harus terintegrasi, termasuk penataan PKL agar lebih tertib dan nyaman,” katanya.

Ia berharap, ke depan tidak hanya penegakan aturan yang dikedepankan, tetapi juga solusi yang berpihak pada masyarakat kecil.

“Harapannya, Kudus bisa lebih tertata, kondusif, dan tetap mendukung kegiatan ekonomi kerakyatan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dokter Gigi di Kudus Main Tenis Berkebaya, Rayakan Hari Kartini dan HUT Djarum

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah dokter gigi di Kabupaten Kudus menggelar pertandingan tenis berkebaya dalam rangka memperingati Hari Kartini. Kegiatan tersebut juga sekaligus memeriahkan ulang tahun ke-75 PT Djarum.

Pertandingan digelar di GOR Djarum Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus pada Jumat (24/4/2026). Suasana berlangsung meriah dengan para peserta yang tampil mengenakan kebaya di lapangan tenis.

Koordinator kegiatan, drg. Wenni Kannis Qorinna, mengatakan acara ini menjadi ajang silaturahmi antarkomunitas. Selain itu, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran di tengah kesibukan profesi.

Menurutnya, pertandingan tersebut mempertemukan klub tenis dokter gigi dengan klub tenis dokter dari PT Djarum. Seluruh peserta yang terlibat merupakan perempuan yang antusias mengikuti kegiatan.

“Ini tanding persahabatan sekaligus memperingati Hari Kartini. Karena itu, peserta diwajibkan mengenakan kebaya,” ujar Wenni melalui sambungan telepon, Sabtu (25/4/2026).

Ia menjelaskan, pertandingan berlangsung selama dua jam mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Tercatat ada delapan putaran pertandingan dengan sistem bergantian pasangan.

Baca juga : Bantu Entaskan Kemiskinan, PT Djarum dan Polytron Salurkan 128 Rumah Layak Huni di Kudus

Sebanyak 10 peserta ambil bagian dalam pertandingan kategori ganda tersebut. Mereka berasal dari komunitas dokter gigi, PDGI, serta kelompok dokter di lingkungan PT Djarum yang tergabung dalam Djarum Closed Group (DCG).

“Meski untuk seru-seruan, tetap ada hadiahnya. Para pemenang mendapatkan hadiah berupa perlengkapan olahraga tenis senilai jutaan rupiah,” bebernya.

Wenni menuturkan, klub tenis dokter gigi di Kudus belum genap satu tahun terbentuk. Meski demikian, latihan rutin sudah dilakukan sebanyak tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Ia menyebut tenis dipilih karena memiliki unsur permainan yang menyenangkan. Olahraga ini juga menjadi sarana melepas penat dari rutinitas praktik yang cukup padat.

“Semoga momentum Hari Kartini dapat memperkuat semangat emansipasi perempuan. Bagi kami, perempuan tetap bisa berkarya dan berprestasi tanpa terhalang oleh perbedaan gender, serta tidak melupakan kodratnya, memiliki kasih sayang dan kelembutan,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Atasi Masalah Lingkungan, BRIN Kenalkan BBM Berbahan Plastik di Jepara

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenalkan bahan bakar minyak (BBM) alternatif pengganti solar bernama petasol kepada nelayan di Kabupaten Jepara.

Petasol merupakan bahan bakar alternatif dari limbah plastik rumah tangga yang sudah tidak bisa didaur ulang.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan inovasi itu merupakan hasil riset dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) yang berada di bawah naungan BRIN.

“Petasol ini sebagai respons terhadap situasi saat ini, di tengah ancaman krisis energi, dengan mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar,” kata Arif saat mengenalkan petasol kepada nelayan di Desa Bumiharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jumat (24/4/2026).

Arif mengatakan penggunaan petasol sudah diuji coba sebagai bahan bakar untuk perahu nelayan, mesin alat pertanian, hingga mesin kendaraan.

“Kami sudah melakukan uji coba dan insyaallah (kualitasnya) tidak jauh berbeda dengan yang biasa digunakan oleh nelayan menggunakan solar,” ujarnya.

Satu kilogram plastik, menurutnya, bisa menghasilkan sekitar 0,8 liter petasol yang diolah menggunakan mesin fast pyrolysis (faspol).

Baca juga : Masuk Lahan Kritis, 300 Bibit Pohon Ditanam di Somosari Jepara

Semua jenis limbah plastik memang bisa dijadikan bahan baku pembuatan petasol. Namun, untuk menghasilkan kadar minyak yang lebih banyak, terdapat jenis plastik yang dihindari, yaitu plastik berjenis non-PVC dan non-PET.

Di Indonesia, Arif menyebut total terdapat 84 kabupaten/kota yang sudah memiliki alat pengolahan faspol. Salah satunya Kabupaten Banyumas.

Dengan biaya pokok produksi sekitar Rp6 ribu per liter, petasol dijual dengan harga Rp10 ribu per liter.

“Harapannya, produksi petasol bisa menyebar lebih luas lagi, karena lebih murah dan lebih hemat,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan Kabupaten Jepara sebenarnya juga sudah memiliki mesin produksi petasol dengan kapasitas 50 kilogram. Mesin itu berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karimunjawa.

“Jepara sudah ada mesin faspol di Karimunjawa. Kalau memang progresnya bagus, kita akan masifkan penggunaan petasol di Jepara,” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -