BETANEWS.ID, JEPARA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja memperkenalkan bahan bakar minyak (BBM) alternatif berbahan dasar limbah plastik bernama petasol kepada nelayan di Kabupaten Jepara.
Perkenalan dan uji coba penggunaan petasol pada perahu nelayan dilakukan di Desa Bumiharjo, Kecamatan Donorojo pada Jumat (24/4/2026).
Salah satu nelayan di Desa Bumiharjo, Sugeng Haryanto (45), mengatakan dirinya sebelumnya sudah mengetahui adanya inovasi penciptaan petasol sebagai BBM alternatif pengganti solar.
Sebagai nelayan, ia tidak menolak dan bersedia untuk beralih dari penggunaan solar ke petasol.
“Kalau saya bagus lah (penggunaan petasol), kalau kita bisa dikasih pembelajaran untuk pembuatan, tapi kalau beli rasanya masih mahal,” kata Sugeng saat dihubungi Betanews.id pada Sabtu (25/4/2026).
Sugeng menjelaskan, pembelajaran tersebut dibutuhkan agar nelayan di desanya bisa memproduksi secara mandiri. Terlebih, penggunaan petasol saat ini belum diperjualbelikan secara bebas.
Kabupaten Jepara sebenarnya sudah memiliki mesin pembuat petasol bernama fast pyrolysis (faspol) dengan kapasitas produksi sebesar 50 kg. Namun, mesin tersebut berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karimunjawa.
“Harapannya juga kita bisa dikasih bantuan alat, sehingga kita bisa produksi mandiri,” ujarnya.
Meskipun belum diperjualbelikan secara luas, beberapa daerah yang sudah memiliki mesin faspol berkapasitas produksi besar diketahui telah menjual petasol dengan harga Rp10 ribu per liter.
Bagi Sugeng, harga tersebut masih lebih mahal dibandingkan harga solar subsidi yang hanya Rp6.800 per liter.
“Kalau dijual, harganya juga kalau bisa di bawah solar subsidi, karena kan belum pernah pakai. Kalau harganya sama, saya kira nelayan akan lebih memilih solar,” ucapnya.
Terpisah, Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan penggunaan petasol saat ini sudah diuji coba, terutama pada perahu nelayan dan alat pertanian.
Kandungan emisi yang dihasilkan juga sudah diuji dan hasilnya sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Dengan bahan baku yang terbuat dari limbah plastik, secara ekonomi Arif mengatakan petasol memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Secara ekonomi (prospeknya) luar biasa. Ini kan dari limbah, dari nol menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan ini bisa menyelesaikan persoalan sampah, karena bapak presiden sangat konsen terkait bagaimana mengatasi persoalan sampah,” katanya saat ditemui di Desa Bumiharjo.
Editor: Kholistiono

