Beranda blog Halaman 70

Dukuhwaringin Kembangkan UMKM Berbasis Wisata Alam 

0
Kepala Desa Dukuhwaringin, Aris Istiyanto. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, saat ini tengah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbasis wisata alam. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk meningkatkan daya saing produk sekaligus memperkuat daerah sebagai destinasi wisata penyangga kawasan Muria.

Kepala Desa Dukuhwaringin, Aris Istiyanto menyampaikan, di era modernisasi teknologi yang berkembang pesat saat ini menjadi salah satu stategi utama dalam memasarkan produk UMKM di desa tersebut. Melalui media online, penjualan produk yang dihasilkan dari tangan masyarakat dinilai cukup menjanjikan.

“Di era digital seperti ini, kami juga memasarkan UMKM lewat media online. Dan Alhamdulillah penjualannya bagus,” bebernya belum lama ini.

Baca juga: Atasi Persoalan Sampah, Pemkab Kudus Rencanakan Penambahan Tiga RDF

Ia menyebut, perkembangan UMKM di Desa Dukuhwaringin tak lepas dari adanya sektor pariwisata. Desa di kawasan lereng Pegunungan Muria tersebut mengandalkan wisata alam sebagai daya tarik utama. Sehingga UMKM tumbuh seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan.

“UMKM di Dukuhwaringin cukup bagus dan itu menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi di bidang wisata. Karena wisata yang kita jual adalah wisata alam, maka ketika orang berwisata biasanya mereka juga mencari oleh-oleh. Di situlah kami menangkap potensi agar UMKM bisa dikembangkan,” ungkapnya.

Dalam upaya peningkatan kualitas dan daya saing UMKM, pihaknya juga memberikan edukasi kepada masyarakat, baik melalui pelatihan maupun studi banding ke daerah lain sebagai percontohan dalam mengembangkan potensi desanya.

“Kita ada semacam pelatihan dan studi banding. Jadi masyarakat maupun pelaku UMKM kita ajak melihat potensi daerah lain yang sudah berkembang dalam sisi pengelolaan UMKM, lalu kita sesuaikan dengan potensi yang ada di desa kami,” ujarnya.

Aris mengatakan, ada beberapa destinasi wisata yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung di desa tersebut. Di antaranya Air Terjun Kedung Gender sebagai ikon utama, lalu ada wisata glamping, dan wisata jeep.

“Karena salah satu jalur trip wisata di Muria adalah Desa Dukuhwaringin. Sehingga desakami berperan sebagai desa penyangga wisata Muria,” terangnya.

Tak hanya wisata alam, lanjut Aris, desa tersebut juga mengembangkan wisata edukasi, seperti wisata ternak lebah madu dan potensi wisata lainnya yang berbasis kearifan lokal. Menurutnya, tingkat antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke Desa Wisata Dukuhwaringin tergolong cukup baik.

Baca juga: Sambut HPN 2026, PWI Plat K Gelar Lomba Menembak Antar Wartawan 

“Hanya saja kendalanya adalah soal lahan dan lokasi. Untuk pengembangan, kitaa butuh lahan, sementara sebagian besar lahan di sekitar merupakan milik warga setempat,” tuturnya.

Meski begitu, pihaknya optimis wisata alam desa sangat menjanjikan. Tantangan ke depan, terletak pada pengemasan konsep wisata dan strategi pengembangan yang berkelanjutan.

Untuk itu, Pemdes Dukuhwaringin berharap adanya dukungan pemerintah daerah, agar pengembangan wisata dan UMKM dapat berjalan optimal. “Dukungan dari pemerintah, terutama Disbudpar, sangat kami harapkan untuk mendorong kemajuan wisata dan UMKM di Dukuhwaringin,” imbuhnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sepanjang 2025, Sebanyak 34 Usaha di Kudus ‘Akali’ Pajak

0
Plt Kepala Bidang Pendapatan BPPKAD Kudus, Rama Rizkika. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mencatat sebanyak 34 pelaku usaha terindikasi mengakali kewajiban pajak daerah sepanjang tahun 2025. Temuan tersebut diperoleh dari hasil pengawasan terpadu yang dilakukan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Pengawasan dilakukan dengan menyasar sektor usaha yang memiliki potensi pajak tinggi, seperti hotel, restoran, dan kos-kosan. Dari hasil pemantauan di lapangan, ditemukan sejumlah usaha yang belum melaporkan pajaknya secara rutin.

Selain tidak melaporkan pajak, petugas juga mendapati adanya selisih antara laporan pendapatan yang disampaikan wajib pajak dengan data transaksi yang terekam melalui alat tapping box. Selisih tersebut mengindikasikan potensi kebocoran pajak daerah.

Baca juga: Realisasi Pajak Kudus 2025 Capai Rp308 M, 9 Warga Dapat Hadiah Motor

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pendapatan BPPKAD Kudus, Rama Rizkika, mengatakan pengawasan lapangan dilakukan untuk memastikan kepatuhan wajib pajak. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).

“Kami bersama Satpol PP turun langsung ke hotel, restoran, dan kos-kosan. Dari hasil pengawasan, ada yang belum melaporkan pajaknya dan ada juga yang datanya tidak sesuai dengan tapping box,” ujar Rama.

Ia menjelaskan, saat ini Pemkab Kudus telah memiliki 110 unit tapping box, namun yang terpasang dan aktif sebanyak 109 unit karena satu unit mengalami kerusakan. Tidak semua usaha telah terpasang alat tersebut, sehingga pengawasan belum sepenuhnya optimal.

Menurut Rama, jumlah usaha yang berpotensi pajak di Kabupaten Kudus tergolong besar. Hotel dan restoran jumlahnya mencapai ratusan unit, bahkan jika digabung dengan usaha katering bisa mencapai ribuan.

Baca juga: Meski Terima Rp 42 T di 2025, Bea Cukai Kudus Ternyata Tak Capai Target

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kudus berencana menambah jumlah tapping box pada tahun 2026. Penambahan ini diharapkan mampu memperluas pengawasan digital terhadap transaksi usaha.

Selain penguatan digitalisasi, Pemkab Kudus juga menyiapkan sanksi administratif bagi usaha yang menunggak pajak. Salah satunya berupa pemasangan stiker sebagai bentuk peringatan agar pelaku usaha segera melunasi kewajibannya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Dapat Anggaran Rp7,5 M, KONI Kudus Target Lima Besar di Porprov Jateng 2026

0
Ilustrasi KONI Kudus. Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, KUDUS – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus tetap memasang target ambisius pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Meski hanya mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 7,5 miliar, KONI Kudus membidik posisi lima besar dalam klasemen akhir.

Target tersebut disampaikan Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, di tengah keterbatasan anggaran yang diterima pada tahun ini. Menurutnya, capaian itu menjadi tantangan besar sekaligus dorongan untuk meningkatkan kinerja pembinaan olahraga di daerah.

Sulis mengakui bahwa pada Porprov sebelumnya, prestasi kontingen Kudus mengalami penurunan signifikan hingga berada di peringkat ke-10. Kondisi itu menjadi evaluasi serius bagi KONI Kudus dalam menyusun strategi menuju Porprov 2026.

Baca juga: Meski Terima Rp 42 T di 2025, Bea Cukai Kudus Ternyata Tak Capai Target

“Kami menargetkan lima besar. Itu artinya Kudus harus mampu mengumpulkan sekitar 40 sampai 50 medali,” ujar Sulis beberapa waktu lalu di gedung DPRD Kudus.

Ia menjelaskan, Porprov Jawa Tengah 2026 dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Waktu persiapan yang tersisa akan dimanfaatkan untuk menata ulang pembinaan seluruh pengurus cabang (Pengcab) olahraga di bawah naungan KONI Kudus.

Menurutnya, KONI akan mendorong pengcab agar lebih konsisten dan berkomitmen dalam membina atlet, khususnya atlet asli daerah Kudus yang dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat provinsi.

Dengan anggaran yang terbatas, KONI Kudus akan menerapkan kebijakan selektif dalam penyaluran dana. Cabang olahraga yang dinilai memiliki peluang medali dan pembinaan berkelanjutan akan menjadi prioritas.

Baca juga: Singkong Keju Partini, Jajanan Malam Lintas Generasi

“Anggaran ini harus digunakan seefektif mungkin. Tidak bisa dibagi rata, tapi berdasarkan kesiapan dan prestasi,” tegas Sulis.

Ia berharap, dengan manajemen yang lebih terukur dan dukungan seluruh pihak, target lima besar pada Porprov Jawa Tengah 2026 tetap dapat diwujudkan meski dengan keterbatasan anggaran.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Bawa Tumpeng, AMPB Gelar Doa Bersama di PN Pati untuk Kebebasan Botok Cs

0
Para pendukung Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto di Pengadilan Negeri (PN) Pati pada Senin (2/2/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Suasana khidmat menyelimuti kerumunan warga yang tergabung dalam  Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di tengah proses hukum yang menjerat dua aktivis Pati, yaitu Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto di Pengadilan Negeri (PN) Pati pada Senin (2/2/2026). Sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual, warga menggelar aksi doa bersama halaman PN dengan membawa simbol tradisi, yaitu sembilan tumpeng.

Sesepuh AMPB Nur Cahyo, mengungkapkan, bahwa kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan “senjata” terakhir rakyat kecil dalam mengetuk pintu langit.

Dalam kegiatan tersebut, sembilan tumpeng yang dibawa merupakan sumbangan sukarela dari warga berbagai daerah, mulai dari Juwana, Batangan, Tayu, hingga Pati Kota. Mbah Nur menjelaskan, bahwa jumlah sembilan memiliki makna filosofis mendalam.

Baca juga: Hampir Tiga Jam, Istri Botok Adang Mobil Tahanan Kejari Pati

“Sembilan tumpeng ini adalah sarana atau penghormatan kami kepada Wali Songo, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai penjaga paku bumi di tanah Jawa. Kami memohon wasilah agar Allah SWT memberikan keselamatan bagi Pati Bumi Mina Tani,” ujar Mbah Nur Cahyo.

Menurutnya, aksi doa ini sedianya mengiringi jalannya persidangan. Namun, antusiasme warga yang datang dari berbagai kota, termasuk Kudus hingga Yogyakarta, harus berujung pada kekecewaan. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menunda persidangan karena saksi ahli yang merupakan seorang akademisi berhalangan hadir.

“Kami sangat kecewa. Warga sudah jauh-jauh datang dengan semangat tinggi, tapi persidangan ditunda hanya karena saksi ahli tidak bisa hadir,” tambah Mbah Nur dengan nada menyesal.

Menariknya, warga juga secara serempak melantunkan Selawat Asyghil. Menurut Mbah Nur, selawat ini dipilih karena maknanya yang spesifik untuk memohon perlindungan dari orang-orang yang berbuat dzalim.

“Pejabat punya aparat, tapi rakyat hanya punya doa. Doa adalah senjata orang mukmin. Melalui Selawat Asyghil, kami memohon agar pihak-pihak yang mendzhalimi Mas Botok dan Mas Teguh disibukkan dengan urusan mereka sendiri, sehingga pejuang kami bisa segera dibebaskan,” tegasnya.

Baca juga: KPK Geledah Rumah Dinas dan Kantor Bupati Pati

Sementara itu, Pengadilan Negeri Pati memastikan penundaan sidang murni disebabkan ketidakhadiran saksi ahli dari Penuntut Umum.

Juru Bicara PN Pati, Retno Lastiani, menyebut majelis hakim telah memeriksa relaas pemanggilan dan memberikan kesempatan terakhir kepada JPU.

“Sidang ditunda hingga Senin, 9 Februari 2026. Itu kesempatan terakhir bagi Penuntut Umum untuk menghadirkan saksi ahli,” kata Retno.

Jika kembali absen, persidangan akan langsung berlanjut ke tahap pembuktian dari pihak terdakwa.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Hari Ini KPK Kembali Periksa Tiga Orang Terkait Perkara Sudewo, Salah Satunya Camat Gabus

0
Ilustrasi OTT KPK. Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, PATI – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak terkait dengan perkara dugaan tindak pidana pemerasan pengisian perangkat desa (perades) yang menjerat Bupati Pati Nonaktif Sudewo.

Pemeriksaan kepada sejumlah saksi itu dilakukan di Mapolda Jawa Tengah, pada hari ini Senin (2/2/2026).

“Hari ini, Senin (2/2), KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi dalam dugaan TPK berupa pemerasan dalam pengisian formasi jabatan perangkat desa di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, ” ujar udi Prasetyo, Juru Bicara KPK melalui WhastAps, Senin (2/2/2026).

Baca juga: KPK Ungkap Ada Pengepul yang Sudah Kembalikan Uang ke Calon Perangkat Desa

Budi menyampaikan, ada tiga orang saksi yang hari diperiksa oleh penyidik KPK di Mapolda Jateng tersebut. Yakni, RUK, perangkat Desa Sukorukun, kemudian KAR atau Karyadi, Kepala Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa dan SUR atau Suranta, Camat Gabus.

Seperti diketahui, sebelumnya, pada Kamis (29/1/2026), penyidik KPK juga memeriksa sejumlah pihak, yang jumlahnya sebanyak 14 saksi. Pemeriksaan tersebut dilakukan di Mapolresta Pati.

Dari 14 orang yang diperiksa itu, semuanya berasal dari wilayah Kecamatan Jaken. Tujuh di antaranya merupakan kepala desa yang ada di wilayah tersebut. Sedangkan tujuh lainnya adalah dari pihak perangkat desa dan swasta.

Kemudian, pada hari sebelumnya, yakni, Rabu (28/1/2026), ada KPK juga memeriksa 10 orang saksi. 10 orang. Dari jumlah itu, terdiri dari pihak swasta, kepala desa, camat hingga Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Pati.

Kepala Dispermades Pati Tri Hariyama diperiksa penyidik KPK sejak pukul 10.00 WIB dan tampak keluar dari ruang penyidikan sekitar pukul 16.25 WIB. Dirinya diperiksa lebih dari enam jam.

Baca juga: Geger! Bupati Pati Sudewo dan Camat Jaken Dikabarkan Diperiksa KPK

Tri mengaku ditanya penyidik sejumlah hal terkait pengisian perangkat desa. Namun dirinya lupa berapa pertanyaan yang dilontarkan penyidik kepada dirinya.

”Banyak. Berkaitan pengisian perangkat desa. Tadi didampingi staf saya,” ucapnya.

Kemudian, terkait jumlah tersangka, katanya hingga saat ini KPK belum menetapkan tersangka tambahan. Artinya, sampai sekarang baru 4 orang yang sudah tersangka dalam kasus ini. Yakni, Sudewo dan tiga orang kepala desa.

Sedangkan untuk barang bukti yang dikumpulkan,   menurutnya ada tambahan. “Barang bukti di antaranya surat, dokumen, dan barang bukti elektronik, ” ucap Budi. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Meski Terima Rp 42 T di 2025, Bea Cukai Kudus Ternyata Tak Capai Target

0
Kepala Kantor Bea Cukai Kudus, Lenni Ika Wahyudiasti. Foto Beta News: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Kantor Bea Cukai Kudus berhasil mengumpulkan penerimaan negara dari hasil cukai sebesar Rp42,85 triliun sepanjang tahun 2025. Meski begitu, capaian tersebut tak memenuhi target yang dicanangkan sebesar Rp50,24 triliun, atau nilai capaiannya hanya sebesar 85,29 persen.

Kepala Kantor Bea Cukai Kudus, Lenni Ika Wahyudiasti menyampaikan, bahwa tak terpenuhinya realisasi target di 2025 tersebut utamanya disebabkan karena ekonomi secara global yang saat ini sedang menurun. Menurutnya, faktor tersebut membuat capaian realisasi tak mampu mencapai target.

Ia mengungkapkan, dengan total capaian di tahun 2025 tersebut, berhasil berkontribusi pada 70,58 persen dari total realisasi penerimaan Kanwil Bea Cukai Jawa Tengah dan DIY. Sedangkan secara realisasi penerimaan Bea Cukai secara nasional, jumlah realisasi tersebut berhasil menyumbang sebesar 14,27 persen.

Baca Juga: Atasi Persoalan Sampah, Pemkab Kudus Rencanakan Penambahan Tiga RDF

“Di bidang penidakan, Kantor Bea Cukai Kudus dengan wilayah kerjanya di Paku Jembara (Pati, Kudus, Jepara, Rembang, dan Blora), berhasil menindak 181 kasus dengan jumlah barang bukti rokok ilegal sebanyak 23,30 juta barang atau nilai perkiraan Rp35,53 miliar dan potensi kerugian negara Rp22,32 miliar,” ungkapnya di kegiatan Jagongan Beceku dalam rangka memperingati Hari Pabean Internasional dan HPN 2026 di Aula Kantor Bea Cukai Kudus, Senin (2/2/2026).

Kemudian dalam penyidikan, katanya, terdapat delapan kasus tindak pidana yang telah dilakukan. Atas kasus itu, delapan berkas penyidikan telah dinyatakan sesuai dengan P21 oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari).

Ia menyebut, dalam upaya pemulihan potensi kerugian negara akibat adanya pelanggaran, diterbitkan keputusan Restorative Justice (RJ) atau Ultimum Remidium (UR) dengan nilai pemulihan sebesar R4,39 miliar atas 16 perkara.

“Pengenaan UR telah diatur dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) Nomor 7 Tahun 2021 yaitu pasal 40B dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK 237/PMK.04/2022 pasal 14 tentang Penelitian Dugaan Pelanggaran di Bidang Cukai.

Lenni menegaskan dalam penegakkan hukum di bidang cukai, khususnya pemberantasan peredaran rokok ilegal, Bea Cukai Kudus tak tebang pilih. Penindakan selalu diarahkan kepada pelaku, baik perannya sebagai kurir, sopir, maupun pemilik usaha. Setiap pelaku diberikan alternatif penyelesaian pelanggaran melalui mekanisme UR atau dilanjutkan ke tahap penyidikan.

“Dari sini dapat dipahami bersama, bahwa UR bukanlah biaya jual beli hukum antara pelaku dengan Bea Cukai,” tegasnya.

Ia menuturkan, rokok-rokok ilegal hasil penindakan yang sudah diamankan, telah ditetapkan sebagai barang yang Menjadi Milik Negara (BMMN). Sepanjang 2025, Kantor Bea Cukai Kudus telah melakukan tiga kali kegiatan pemusnahan. Pertama, 17 Juni 2025 sebanyak 6 juta batang rokok ilegal senilai Rp8,31 miliar.

Kedua pada 22 Oktober 2025 ada sebanyak 10,8 juta batang senilai Rp15,98 miliar, dan terakhir pada 17 Desember 2025, ada sebanyak 9,5 juta batang dengan nilai Rp14 miliar. Ia menyebut, pemusnahan rokok ilegal itu menjadi salah satu bukti komitmen Bea Cukai Kudus bersama jajaran penegak hukum serta pemerintah daerah dalam upaya pemberantasan rokok ilegal hingga optimalisasi penerimaan negara di bidang cukai.

Baca juga: Sekda Bakal Purna April 2026, Pemkab Kudus Segera Laksanakan Selter

“Capaian ini tak lepas dari dukungan dan saran kritik para mitra kerja kami. Untuk itu kami sampaikan terimakasih karena secara Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) kami mendapat nilai rata-rata 3,61 dari skala 4 (sangat puas),” terangnya.

Lenni menmabahkan, untuk Tahun Anggaran 2026 ini, pihaknya ditarget mengumpulkan penerimaan negara sebesar Rp44,09 triliun. Nilai tersebut menurun dari tahun sebelumnya sebesar Rp50,24 triliun, mengingat capaian angka realisasinya tak memenuhi target.

“Capaian penerimaan ini nantinya menjadi komponen utama perhitungan dana Transfer ke Daerah (TKD) melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Di mana DBHCHT ini dkelola pemerintah kabupaten/kota untuk membiayai tiga bidng uatma, yakni kesejahteraan masyarakat, bidang kesehatan, dan bidang penegakan hukum,” imbuhnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sejumlah Kades jadi Tersangka KPK, Pj Sekda Pati Tegaskan Pemerintahan Desa Tak Lumpuh

0
Pj Sekda Pati, Teguh Widiatmoko. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Selain Sudewo, Bupati Pati Nonaktif yang ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dugaan kasus jual beli jabatan perangkat desa di Kabupaten Pati, ada tiga kepala desa yang juga jadi tersangka.

Tiga kepala desa tersebut, yakni Kepala Desa Karangrowo (Jakenan), Abdul Suyono (YON) Kades Arumanis (Jaken), Sumarjiono (JION) dan Kades Sukorukun (Jaken), Karjan.

Terkait adanya sejumlah kepala desa yang jadi tersangka oleh KPK ini, Pj Sekertaris Daerah (Sekda) Pati, Teguh Widiatmoko menegaskan, bahwa pemerintah desa (pemdes) yang kadesnya terjerat kasus tersebut tetap berjalan.

“Saya harap, pemerintahan di desa-desa yang kemarin tertangkap tetap berjalan,” ujarnya, Senin (2/2/2026).

Baca juga: KPK Ungkap Ada Pengepul yang Sudah Kembalikan Uang ke Calon Perangkat Desa

Ia menjelaskan, roda pemerintahan desa yang kadesnya jadi tersangka KPK tersebut, dapat dijalankan sementara oleh bawahannya. Baik itu sekretaris desa maupun perangkat desa.

“Ada sekdes, perangkat desa yang lain.Dikoordinir camat di masing-masing wilayah. Tetap berjalan. Tidak masalah,” imbuhnya.

Meskipun begitu, Teguh menyebut belum ada pengganti sementara kursi kades di tiga desa itu. Namun pemdes tersebut dapat dipimpin oleh pelaksanaan harian (Plh).

“Belum ada (penunjukan PJ atupun PLT kades). Plh saja,” katanya singkat. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Operasional SPPG Purwosari Dibekukan, Imbas Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Keracunan

0
Ilustrasi SPPG. Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Gizi Nasional (BGN) memberhentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari 1, Kabupaten Kudus. Langkah ini diambil menyusul kasus ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Diketahui, distribusi MBG di SMA 2 Kudus selama ini disuplai oleh SPPG Purwosari 1. Pemberhentian operasional dilakukan pada hari yang sama dengan kejadian dugaan keracunan massal, yakni Kamis (29/1/2026), saat ratusan siswa harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit maupun menjalani observasi.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat BGN Nomor 229/D.TWS/01/2026 tentang pemberhentian sementara operasional SPPG Purwosari 1 Kudus. Dalam surat itu, BGN menyampaikan adanya dua dasar pertimbangan utama.

Baca juga: Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa SMAN 2 Kudus Dilarikan ke Rumah Sakit

Pertama, adanya laporan khusus dari Kepala SPPG Purwosari 1 tertanggal 29 Januari 2026 mengenai Dugaan Kejadian Menonjol (KM) berupa gangguan pencernaan yang dialami penerima manfaat setelah mengonsumsi MBG.

Kedua, pertimbangan pimpinan BGN terkait terjadinya Kejadian Menonjol gangguan pencernaan pada penerima manfaat program MBG yang dinilai memerlukan penanganan serius dan menyeluruh.

BGN menegaskan, pemberhentian sementara operasional SPPG Purwosari 1 akan berlaku hingga hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) keluar dan dinyatakan memenuhi ketentuan.

Langkah ini mengacu pada Surat Edaran Kepala BGN Nomor 4 Tahun 2025 tertanggal 29 September 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan pada SPPG, sebagai upaya memastikan keamanan dan keselamatan penerima manfaat program MBG.

Dihubungi terpisah, kepala sekolah SMA 2 Kudus Nur Afifuddin menyampaikan, sejak kejadian ratusan siswa keracuanan tak ada distribusi MBG ke sekolahnya. Pasalnya, para siswa masih trauma.

“Sejak Kamis sudah tak ada distribusi MBG ke SMA 2 Kudus. Para siswa masih trauma,” ujar Afif melalui sambungan telepon belum lama ini.

Sementara itu, Kepala SPPG Purwosari Kudus, Nasihul Umam, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden tersebut. Ia menyebut menu yang dikonsumsi siswa saat kejadian adalah soto ayam suwir dengan topping tempe.

Baca juga: 221 Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan MBG, Begini Tanggapan Bupati Sam’ani

Nasihul menegaskan pihaknya bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan para korban, baik yang menjalani rawat jalan maupun yang dirujuk ke Unit Gawat Darurat (UGD).

“Kami sudah meminta maaf dan berkomitmen bertanggung jawab. Untuk yang sakit diare kami sediakan obat, dan untuk yang sampai dirujuk ke rumah sakit, kami akan mengganti seluruh biaya pengobatannya,” kata Nasihul belum lama ini.

Data dari Dinas Kesehatan, total ada 600 siswa SMA 2 Kudus yang diduga keracunan MBG. Dari total tersebut ada 121 yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Mayoritas mereka sudah sehat dan sudah diperbolehkan pulang. Hingga saat ini, masih ada dua siswa yang dirawat, satu di Rumah Sakit Mardi Rahayu dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi.

Editor: Suwoko

- advertisement -

IDI Cabang Pati Salurkan Bantuan dan Layanan Kesehatan Bagi Korban Banjir

0
IDI Cabang Pati menyalurkan bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir di sejumlah tempat. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pati menyalurkan bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Selama tiga pekan terakhir, organisasi profesi tersebut terjun langsung ke lokasi bencana untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi warga.

IDI Cabang Pati mendatangi sejumlah posko dan desa terdampak banjir, di antaranya Kantor Kecamatan Dukuhseti, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, dapur umum Kecamatan Tayu, Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Desa Ngastorejo, Kecamatan Jakenan, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati dan Desa Widorokandang, Kecamatan Pati.

Selanjutnya ke dapur umum Kantor Kecamatan Juwana, Desa Bumirejo Kecamatan Juwana, Desa Jepuro, Kecamatan Juwana, Desa Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Desa Pasuruhan, Kecamatan Kayen, Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, serta Desa Poncomulyo, Kecamatan Sukolilo.

Baca juga: Polresta Pati Bakal Gelar Operasi Keselamatan Candi Mulai Hari Ini

Bantuan yang disalurkan meliputi beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, telur, biskuit, dan makanan ringan. Selain itu, IDI Cabang Pati juga menggelar bakti sosial berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis di sejumlah desa yang terdampak banjir.

“Dalam memberikan bantuan, kita survei dulu kebutuhan mereka apa. Kita juga melayani dengan bakti sosial pemeriksaan dan pengobatan gratis. Selain memberikan bantuan, pengobatan massal ini kami lakukan di sejumlah desa yang terkena banjir,” ujar Ketua IDI Cabang Pati, Widi Antono, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, bantuan bahan pokok yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban masyarakat di tengah menipisnya persediaan pangan akibat banjir. Sementara layanan kesehatan gratis membantu warga mendapatkan penanganan tanpa harus mendatangi fasilitas kesehatan yang jaraknya cukup jauh.

“Sesudah menerima bantuan, kami yakin bantuan meringankan kesusahan mereka dari bahan pokok. Dan mereka mudah mengakses pelayanan kesehatan, tidak perlu menjangkau ke tempat dengan datang langsung ke puskesmas atau klink, itu membantu mendekatkan pelayanan ke masyarakat,” ungkapnya.

Dalam proses penyaluran bantuan, tim IDI Cabang Pati harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi medan yang sulit akibat genangan banjir. Untuk mencapai beberapa lokasi terisolir, relawan bahkan menggunakan perahu dengan bantuan perangkat desa setempat.

“Kami mencapai lokasi terpaksa menggunakan perahu dengan bantuan dari perangkat desa dan kadang menyewa perahu. Ke depan kita mungkin perlu membeli semacam boat karet untuk menyalurkan bantuan supaya kita tidak pinjam atau kesulutan di daerah yang terisolir, agar semua lancar,” tuturnya.

IDI Cabang Pati juga melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam setiap kegiatan kemanusiaan. Seluruh aksi sosial dilaporkan dan disinergikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati serta puskesmas setempat.

“Kami selalu berkomunikasi dengan DKK Pati, kami melaporkan dulu kalau mau mengadakan baksos dari IDI. Dengan senang hati pemerintah merasa terbantu, sehingga kita langsung terjun ke masyarakat melalui puskesmas setempat karena kita punya anggota di seluruh Pati, ada dokter-dokternya, kita koordinasi dengan mereka,” jelasnya.

Baca juga: KPK Ungkap Ada Pengepul yang Sudah Kembalikan Uang ke Calon Perangkat Desa

Sebelum turun ke lapangan, IDI Cabang Pati terlebih dahulu melakukan survei untuk menentukan lokasi yang paling membutuhkan bantuan melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat.

“Kita menentukan titik mana yang paling membutuhkan. Setelah ada kepastian, kita koordinasi dengan kades, kita pastikan waktu kes ana, setelah itu kita ke sana,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Widi Antono menyampaikan apresiasi kepada para dokter yang terlibat aktif dalam kegiatan bakti sosial, serta kepada masyarakat yang telah menerima dan menyambut baik kehadiran IDI Cabang Pati.

“Saya berterima kasih kepada para dokter yang membantu menyalurkan bantuan dan membantu penyediaan tenaga, fasilitas, dan armada. Saya berterimakasih kepada masyarakat yang menerima dengan baik bantuan yang kami berikan,” ucapnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Hampir Tiga Jam, Istri Botok Adang Mobil Tahanan Kejari Pati

0
Anik Sriningsih, istri dari Supriyono alias Botok bersama para pendukung di depan PN Pati pada Senin (2/2/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Anik Sriningsih, istri dari Supriyono alias Botok berdiri kaku di depan bus tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati hampir tiga jam lamanya.

Meski di bawah terik matahari, tak menggoyahkan Anik untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Bujukan aparat juga tak mempan. Dirinya memilih bertahan mengorbankan keselamatan dirinya sendiri demi satu tuntutan, yaitu keadilan untuk sang suami.

Aksi nekat yang dilakukan Anik itu terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Pati pada Senin (2/2/2026). Hal ini usai majelis hakim kembali menunda persidangan perkara blokade Jalan Pantura yang menjerat Botok dan Teguh Istiyanto.

Baca juga: KPK Ungkap Ada Pengepul yang Sudah Kembalikan Uang ke Calon Perangkat Desa

Sejak pukul 10.25 WIB, Anik mematung tepat di depan kendaraan tahanan yang hendak membawa suaminya kembali ke Lembaga Pemasyastakatan (Lapas) Pati.

Waktu berjalan pelan. Menit berganti jam. Namun tubuh Anik tak bergeser sedikit pun hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

“Aku mati dilindes ora opo-opo, Pak! Saya mati dilindas tidak apa-apa!” teriak Anik dengan suara parau dan mata berkaca-kaca di hadapan Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Pati, Tri Yulianto.

Tangannya mengepal, tubuhnya gemetar, tetapi sorot matanya tak goyah. Di hadapan aparat, ia menegaskan bahwa penundaan demi penundaan persidangan telah mengikis harapannya sebagai seorang istri.

“Saya dari kecil sudah ditinggal mati bapak, masih bisa hidup. Kalau hari ini harus mati demi suami saya, saya siap,” lanjutnya emosional.

Petugas kejaksaan dan kepolisian berulang kali mencoba membujuk Anik agar menjauh dari kendaraan.

Beberapa kali pula keluarga dan simpatisan menarik lengannya dengan pelan. Namun setiap kali itu terjadi, Anik kembali berdiri tepat di depan bus tahanan.

Di sisi lain halaman pengadilan, istri Teguh Istiyanto, Siti Khodijah, dan ibunda Teguh, Rusmiyati, hanya bisa menyaksikan dengan air mata yang terus mengalir.

Kekecewaan mereka sama, sidang kembali ditunda karena Jaksa Penuntut Umum gagal menghadirkan tiga orang saksi ahli.

“Kami ini sudah siap saksi dari pihak terdakwa, saksi yang ada di lokasi kejadian. Tapi sidangnya malah diundur lagi,” ujar Anik di sela aksinya.

Situasi semakin emosional ketika massa pendukung Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) mulai menyuarakan protes.

Orasi bergema di halaman PN Pati, mengingatkan aparat agar tidak bertindak sewenang-wenang.

“Aja sak geleme dewe. Punya seragam, punya pangkat, jangan semaunya sendiri!” teriak salah satu orator.

Di tengah ketegangan, sebagian simpatisan memilih menggelar doa bersama. Lantunan doa dan selawat asyghil menggema, memohon agar proses hukum dibuka seterang-terangnya.

Suasana haru memuncak saat Rusmiyati, ibunda Teguh, jatuh pingsan usai menangis dan berdoa.

Baca juga: Polresta Pati Bakal Gelar Operasi Keselamatan Candi Mulai Hari Ini

“Ya Allah, bebaskan anak hamba dan Pak Botok,” ucapnya terbata-bata sebelum tubuhnya ambruk ke pelukan kerabat.

Sementara itu, Pengadilan Negeri Pati memastikan penundaan sidang murni disebabkan ketidakhadiran saksi ahli dari Penuntut Umum.

Juru Bicara PN Pati, Retno Lastiani, menyebut majelis hakim telah memeriksa relaas pemanggilan dan memberikan kesempatan terakhir kepada JPU.

“Sidang ditunda hingga Senin, 9 Februari 2026. Itu kesempatan terakhir bagi Penuntut Umum untuk menghadirkan saksi ahli,” kata Retno.

Jika kembali absen, persidangan akan langsung berlanjut ke tahap pembuktian dari pihak terdakwa. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Polresta Pati Bakal Gelar Operasi Keselamatan Candi Mulai Hari Ini

0
Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi memimpin Pelatuihan Pra Operasi Keselamatan Candi 2026. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Polresta Pati bakal menggelar Operasi Keselamatan Candi 2026. Kegiatan ini disebut-sebut untuk menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas menjelang arus mudik Lebaran.

Dijadwalkan, Operasi Keselamatan Candi ini akan dilaksanakan selama 14 hari, yakni mulai 2 hingga 15 Februari 2026. Sedangkan untuk sasaran utama, yakni menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di seluruh wilayah Kabupaten Pati.

Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi mengatakan, operasi tersebut melibatkan 74 personel gabungan lintas fungsi yang disiagakan di titik-titik rawan pelanggaran, kecelakaan, dan kemacetan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.

Baca juga: KPK Ungkap Ada Pengepul yang Sudah Kembalikan Uang ke Calon Perangkat Desa

“Sebanyak 74 personel kami turunkan dalam satu kesatuan operasi terpadu agar potensi gangguan lalu lintas dapat ditangani secara cepat dan terukur,” ujar Jaka Wahyudi, Sabtu (31/1/2026).

Ia menegaskan, Ops Keselamatan Candi 2026 tidak semata berorientasi pada penindakan hukum, melainkan mengedepankan langkah preemtif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.

“Fokus utama kami adalah membangun kesadaran berlalulintas. Keselamatan harus dimulai dari kepatuhan dan kesadaran pengendara,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, Polresta Pati melakukan pemetaan dan survei jalur rawan kecelakaan, kawasan dengan kepadatan tinggi, serta lokasi wisata yang diperkirakan mengalami lonjakan kendaraan menjelang Lebaran. Sosialisasi keselamatan berlalu lintas juga digencarkan melalui berbagai media informasi.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa keselamatan di jalan merupakan tanggung jawab bersama,” kata Jaka Wahyudi.

Operasi ini turut disertai kegiatan ramp check terhadap angkutan umum dan bus pariwisata. Pemeriksaan meliputi kelengkapan administrasi, kelayakan teknis kendaraan, serta kondisi kesehatan pengemudi yang dilakukan bersama instansi terkait.

“Keselamatan penumpang menjadi prioritas. Kendaraan yang beroperasi harus benar-benar memenuhi standar keselamatan,” ungkapnya.

Dari sisi penegakan hukum, polisi menargetkan pelanggaran berisiko tinggi seperti melawan arus, tidak menggunakan helm SNI, menggunakan telepon genggam saat berkendara, pengendara di bawah umur, serta penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi. Katanya, penindakan dilakukan secara manual maupun melalui tilang elektronik.

“Penegakan hukum kami lakukan secara profesional dan proporsional untuk menekan potensi kecelakaan fatal,” ucapnya.

Baca juga: Pemkab Pati Rancang Sodetan Sungai Juwana untuk Penanganan Banjir Jangka Panjang

Selain itu, pengelolaan informasi publik juga menjadi perhatian dalam operasi ini. Satgas humas akan aktif menyampaikan perkembangan situasi lalu lintas dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

“Kami berkomitmen menghadirkan informasi yang cepat dan transparan agar masyarakat merasa aman dan nyaman saat beraktivitas di jalan,” ungkapnya.

Dengan pola operasi yang terencana dan dukungan 74 personel di lapangan, Polresta Pati optimistis Operasi Keselamatan Candi 2026 mampu menciptakan kondisi lalu lintas yang lebih tertib dan aman menjelang puncak arus mudik Lebaran.

“Harapan kami, angka kecelakaan dapat ditekan semaksimal mungkin dan masyarakat dapat sampai di tujuan dengan selamat,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Singkong Keju Partini, Jajanan Malam Lintas Generasi

0
Singkong Keju Partini. Foto: Nania Rizka

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah hiruk pikuk suasana malam di Jalan KH Agus Salim, Kudus, aroma gurih singkong goreng berpadu keju tercium dari sebuah gerobak. Kepulan uap hangat dari lapak itu kerap menjadi magnet bagi para pencinta jajanan malam. Di sanalah Partini setia berjualan Singkong Keju, usaha kecil yang telah bertahan sejak masa pandemi COVID-19.

Usaha ini dirintis Partini sekitar lima tahun lalu, tepat saat pandemi membuatnya kehilangan pekerjaan. Dari situ, ia memilih bangkit dengan memulai usaha kuliner sederhana agar tetap produktif.

Baca Juga: Corndog, Makanan Khas Korea Selatan yang Laris Manis di Kudus

“Waktu itu karena Corona. Saya nganggur, terus mulai jualan biar ada kegiatan,” ujar Partini saat ditemui di lapaknya beberapa waktu lalu.

Singkong Keju Partini hanya menawarkan satu produk utama, namun dengan beragam pilihan rasa. Pelanggan bisa memilih varian original atau tambahan topping seperti keju, balado, tiramisu, hingga cokelat.

“Yang paling banyak dicari itu biasanya yang original, soalnya rasanya lebih gurih,” kata Partini.

Untuk harga, Singkong Keju varian original dibanderol Rp15 ribu per porsi, sedangkan varian topping dijual Rp18 ribu. Setiap porsi berisi delapan potong singkong goreng.

“Untuk singkongnya saya ambil dari Dawe,” ujarnya.

Lapak Singkong Keju ini buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang tua.

“Macam-macam, anak muda sampai mbah-mbah juga ada,” tuturnya.

Baca Juga: Lezat dan Lembut, Donat Kentang Soffi Jadi Favorit Warga Kudus

Meski belum memanfaatkan platform penjualan daring, Partini tetap melayani pembelian dengan sistem COD (cash on delivery) untuk pelanggan tertentu di sekitar lokasi.

“Harapannya semoga laris terus dan makin maju,” tambahnya.

Penulis: Nania Rizka Apriliyani, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bakso Ngock, Bakso Unik di Kudus yang Selalu Ludes Tak Tersisa

0
Bakso Ngokk di depan MI Miftahul Falah Cendono, Kudus. Foto: Luthfia Himma

BETANEWS.ID, KUDUS – Setiap sore, suasana di depan MI Miftahul Falah Cendono, Kudus, selalu berubah ramai. Asap kuah bakso mengepul, bunyi ketukan mangkuk bersahut-sahutan, dan antrean pembeli tampak ramai di satu titik. Pusat keramaian itu datang dari sebuah gerobak dengan nama yang unik, yaitu Bakso Ngock.

Nama unik itu bukan sekadar gimmick. Nama itu datang dari suara khas sepeda motor milik sang penjual yang berbunyi “ngock ngock” setiap kali melintas. Dari situlah, warga sekitar mulai menyebutnya Bakso Ngock, nama yang akhirnya melekat.

Baca Juga: Corndog, Makanan Khas Korea Selatan yang Laris Manis di Kudus

Edi Kurniawan (33), sang penjual bakso mengaku berjualan setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Namun, jam tutup sering kali hanya formalitas. Dagangannya kerap habis sebelum malam benar-benar larut.

“Kadang belum jam sembilan sudah habis,” ujar Edi sapaan akrabnya.

Tingginya minat pelanggan membuat Edi memperluas usahanya. Kini, Bakso Ngock juga bisa ditemui di cabang depan Masjid Cendono, sebagai solusi bagi pembeli yang tak kebagian di lokasi utama.

Bukan hanya namanya yang mudah diingat, cita rasa Bakso Ngock juga punya ciri khas kuat. Andalannya adalah bakso urat dengan tekstur kenyal namun empuk, serat uratnya terasa jelas di setiap gigitan. Dintambah kuahnya yang gurih, cocok dinikmati kapan saja.

“Banyak pelanggan bilang bakso uratnya beda. Kuahnya juga gurih,” ungkap Edi saat ditemui benerapa waktu lalu.

Baca Juga: Lezat dan Lembut, Donat Kentang Soffi Jadi Favorit Warga Kudus

Soal harga, Bakso Ngock tergolong ramah di kantong. Dengan harga mulai Rp3 ribu per mangkok, bakso ini menjadi favorit pelajar hingga keluarga.

“Alhamdulillah banyak yang suka dan laris,” tambahnya.

Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Murah Meriah Cuma Rp500, Bolang-baling Udin Kudus Banjir Pesanan

0
Usaha kue bolang-baling, Donat kentang, dan Cakwe milik Udin. Foto: Nania Rizka

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang mengantre di samping etalase di sebuah lapak depan rumah di tepi Jalan Pabrik Djarum Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Di antara mereka, terlihat seorang laki-laki berbaju hitam dengan sigap memasukkan kue berbentuk kotak berwarna cokelat ke dalam wadah. Pria tersebut adalah Udin (40), pemilik usaha kue bolang-baling, Donat kentang, dan Cakwe.

Ia mengungkapkan, lebih dari satu tahun memproduksi kue bolang-baling. Menurutnya, kue buatannya tetap digemari oleh banyak orang karena rasanya yang lezat dan harganya yang terjangkau.

Baca Juga: Corndog, Makanan Khas Korea Selatan yang Laris Manis di Kudus

“Usaha ini sudah berjalan setahun setengah mungkin. Semua varian saya jual dengan harga Rp500, jadi sangat murah meriah. Dalam sehari bisa menjual ribuah bolang-bolang,” ujarnya.

Banyaknya peminat bulang-balingnya, dalam sehari Udin bisa membuat adonan sekitar 10 kilogram. Ia juga menjelaskan, bahwa kue bolang-baling dibuat dari campuran tepung terigu, margarine dan gula. Kue ini memiliki ciri khas rasa manis dengan tekstur yang kenyal.

“Penjualan yang paling laris itu tergantung pembelinya, biasanya donat disukai anak-anak, bolang-baling untuk orang tua, sedangkan cakwe biasanya dibeli untuk campuran,” bebernya saat ditenui beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Lezat dan Lembut, Donat Kentang Soffi Jadi Favorit Warga Kudus

Menurutnya, sejak memproduksi kue bolang-baling, pelanggannya semakin ramai. Bahkan biasanya, pesanan datang untuk keperluan hajatan atau acara pengajian.

“Kalau buka bisanya mulai pukul 06.00 hingha 10.00 WIB. Semoga usahaku makin laris. Harapannya ya punya cabang di mana-mana,” tambahnya.

Penulis: Nania Rizka Apriliyani, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hadir di Tengah Kota Kudus, Grit Coffee & Chill Tawarkan Cita Rasa Muria

0
Grit Coffee and Chill . Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Kopi Muria Wilhelmina menghadirkan pengalaman ngopi yang berbeda di tengah Kota, Kabupaten Kudus. Grit Coffee & Chill milik Hikmawati Inaya (44) ini mengedepankan kopi robusta dengan sajian tradisional Muria sebagai menu utama.

Resmi dibuka pada 31 Desember 2025, Grit Coffee and Chill langsung mendapat respons positif dari pengunjung. Dalam sehari, kedai ini mampu menjual sekitar 100–150 porsi kopi dan menu pendamping lainnya.

Baca Juga: Corndog, Makanan Khas Korea Selatan yang Laris Manis di Kudus

“Awal pembukaan lumayan ramai. Alhamdulillah, responnya bagus,” katanya.

Berbeda dari kebanyakan coffee shop yang mengandalkan kopi luar daerah, Kopi Muria Wilhelmina justru memprioritaskan robusta Muria. Menu Americano menjadi salah satu yang paling diminati pelanggan.

“Penjualan Americano cukup kencang. Kami memang lebih memprioritaskan robusta Muria. Karena menurut saya kopi robusta Muria mampu bersanding dengan kopi-kopi berasal dari daerah lain,” ujarnya.

Tak hanya kopi, kedai ini juga menyajikan kuliner khas Muria seperti pecel pakis dan getuk nyimut. Sehingga masyarakat tak perlu jauh-jauh naik ke Colo untuk menikmati hidangan tradisional tersebut.

“Ingin makan pecel pakis atau getuk nyimut hingga kopi Wihelmina tidak harus ke atas, karena sekarang sudah ada di tengah kota,” tambahnya.

Dari sisi inovasi, coffe shop yang buka di depan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus itu menghadirkan sejumlah menu yang disebut belum banyak ditemui di Kota Kretek, seperti kopsu cotton candy, kopsu popcorn, hingga sea salt butterscotch yang disebut pengunjung sebagai menu paling enak dan sedang tren.

Baca Juga: Lezat dan Lembut, Donat Kentang Soffi Jadi Favorit Warga Kudus

“Harga kami mulai dari Rp8 ribu sampai Rp24 ribu, dengan menu favorit seperti Americano, kopsu butterscotch, dan kopsu cotton candy,” jelasnya.

Dengan hadirnya coffee shop di tengah kota, utamanya hadirnya kopi lokal Muria, supaya kopi Muria lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan ia berharap, kopi Muria sejajar dengan kopi-kopi populer di Indonesia seperti Gayo dan Temanggung.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -