31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

221 Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan MBG, Begini Tanggapan Bupati Sam’ani

BETANEWS.ID, KUDUS – Korban diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA 2 Kudus terus bertambah. Hingga saat ini total korban mencapai 221 siswa baik yang dirawat di rumah sakit maupun yang observasi 

Data yang dihimpun oleh Betanews.id, korban diduga keracunan MBG yang dirujuk ke rumah sakit ada 117 siswa. Sementara yang diobservasi termasuk yang tidak berangkat sekolah ada 104 siswa.

Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa SMAN 2 Kudus Dilarikan ke Rumah Sakit

-Advertisement-

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris langsung meninjau lokasi kejadian. Ia menyampaikan, ikut ptihatin dan turut merasakan duka untuk para siswa yang diduga keracunan MBG.

“Kita gerak cepat untuk melakukan penanganan agar para korban segera dapat perawatan yang semestinya. Tim medis hingga ambulance kita siagakan,” ujar Sam’ani di SMA 2 Kudus, Kamis (29/1/2026).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus berkoordinasi dengan TNI maupun Polri dalam penanganan kasus keracunan. Fasilitas kesehatan disiapkan semua, baik yang milik pemerintah daerah maupun swasta. 

Dinas Kesehatan sudah mendata semua siswa yang keracunan. Termasuk rumah sakit mana saja yang merawat siswa keracunan yang diduga karena MBG. 

“Total ada sekitar 50 ambulan yang dikerahkan untuk mengangkut para siswa yang keracunan,” ungkapnya. 

Terkiat biaya perawatan korban keracunan, lanjut Sam’ani, semua ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Jadi keluarga korban tak perlu khawatir. 

Dia menambahkan, bahwa Kabupaten Kudus sudah Universal Health Coverage (UHC). Jadi perawatan seluruh korban bisa ditanggung dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Saya sudah intruksikan kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial untuk mengurus biaya perawatan siswa yang keracunan. Bagi mereka yang belum punya BPJS bisa segera diaktifkan,” tandasnya. 

Baca Juga: Sambangi Kementerian UMKM, Wabup Bellinda Kenalkan Produk Lokal

Ia juga meminta pihak sekolah untuk membuat posko. Hal tersebut sebagai antisipasi jika ada korban lanjutan, sekaligus sebagai pusat informasi ketika ada orang tua yang mencari informasi anaknya yang keracunan.

“Untuk aktifitas kegiatan belajar mengajar, nanti kita koordinasikan dengan pihak sekolah. Kalau memang dirasa masih perlu perawatan, siswa keracunan bisa libur. Tetapi siswa yang sehat bisa tetap masuk,” imbaunya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER