Beranda blog Halaman 52

Dishub Kudus Bakal Perkuat Fasilitas Lalulintas di Jalur Rawan hingga Wisata

0
CCTV, salah satu fasilitas lalu lintas yang ada di salah satu ruas jalan di Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus terus berupaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Pada tahun 2026 ini, sejumlah program mulai dari pemasangan cermin cekung, rambu, hingga marka jalan disiapkan untuk mendukung kelancaran lalu lintas, khususnya di jalur wisata dan titik rawan.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kudus, Muchlisin menjelaskan, terdapat 48 titik cermin cekung yang mengalami kerusakan dan bakal diganti di tahun ini. Menurutnya, penggantian cermin cekung masih dalam tahap perencanaan.

“Penggantian cermin cekung saat ini tahapannya masih perencanaan. Nanti fokusnya mengganti yang rusak, biasanya karena terkena kerikil dan materialnya mudah rapuh,” katanya.

Baca juga: Dialokasikan Anggaran Rp 84 Juta, 26 Unit CCTV di Persimpangan Kudus Bakal Diganti

Selain itu, Dishub juga memasang fasilitas keselamatan atau headrail utamanya di kawasan wisata, salah satunya di Rahtawu. Pada 2025 lalu, fasilitas itu telah dipasang sepanjang 250 meter, sedangkan pada 2026 direncanakan penambahan hingga 400 meter.

Tak hanya itu, perlengkapan rambu skala kecil juga akan ditambah sebanyak 50 unit. Termasuk di antaranya jalur penunjuk masjid, mengingat Kudus juga dikenal sebagai Kota Santri.

Untuk rambu pendahulu penunjuk jurusan (RPPJ), Dishub menyiapkan 17 unit baru yang difokuskan di kawasan wisata Logung. Penambahan ini dilakukan setelah adanya permohonan dari masyarakat dan pelaku wisata setempat.

Sementara itu, peningkatan keselamatan juga dilakukan melalui pengecatan marka jalan seluas sekitar 3.200 meter persegi di sejumlah ruas.

Baca juga: Jelang Mudik 2026, Gubernur Luthfi Tuntaskan Preservasi Dua Jalur Strategis Penggerak Ekonomi dan Wisata Jateng

Di sisi manajemen lalu lintas berbasis teknologi, Dishub juga menambah sistem traffic ATCS (Area Traffic Control System) di satu simpang, yakni Simpang Jember pada tahun ini.

Muchlisin berharap, berbagai penambahan fasilitas ini dapat meningkatkan keselamatan serta mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan di Kudus.

“Harapannya tentu untuk keselamatan pengguna jalan dan mendukung akses menuju kawasan wisata agar lebih tertata dan aman,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Canda dan Tawa Kehangatan Gubernur Ahmad Luthfi Bersama Warga

0
Kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi ke Desa Tawang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Selasa (24/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi ke Desa Tawang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Selasa, 24 Februari 2026, disambut antusiasme warga.

Cuaca mendung tak menyurutkan semangat masyarakat yang sejak pagi telah berkumpul untuk bertemu dan bersalaman langsung dengan orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Momentum hangat itu terjadi saat Gubernur Luthfi meninjau rumah penerima bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Selama peninjauan, warga dengan sabar menanti di depan rumah penerima bantuan.

Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Minta KONI Jateng Lindungi Atlet

Saat hendak berpamitan, warga langsung bergegas mengerumuni Gubernur. Di antara mereka, seorang lanjut usia bernama Mudin Kasdi tampak malu-malu mendekat. Dengan wajah sumringah, Gubernur menggandeng tangannya. Saat itulah Mbah Mudin—sapaan akrabnya—melantunkan parikan khas Jawa yang spontan mengundang tepuk tangan warga.

Wes suwe ora jamu, Jamu pisan nang Cianjur. Wes suwe ora ketemu, ketemu pisan karo Pak Gubernur,” ucap Mudin lantang.

Warga pun tertawa dan bertepuk tangan. Gubernur tersenyum lebar sembari merangkul Mudin Kasdi yang terlihat begitu bahagia.

Tak berhenti di situ, Mudin kembali melanjutkan parikannya. “Repote dadi gubernur, Tumindake kudu seng jujur, Masyarakat gen melu Makmur,”.

Baca juga: Dinamika dan Capaian 1 Tahun Kinerja Ahmad Luthfi-Taj Yasin Memimpin Jawa Tengah

Parikan tersebut kembali disambut riuh tepuk tangan dan gelak tawa. Gubernur pun mengapresiasi spontanitas sekaligus doa yang disampaikan lansia tersebut.

“Maturnuwun, nggih. Doanya luar biasa. Sehat-sehat semuanya,” jawab Luthfi.

Interaksi hangat itu menjadi momen yang mencairkan suasana. Warga berebut bersalaman dan berswafoto. Kunjungan yang semula berlangsung formal pun berubah menjadi penuh keakraban, mencerminkan kedekatan pemimpin dengan masyarakatnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Harga Cabai Tembus Rp95 Ribu Per Kilogram, Pasar Subsidi Pangan di Jepara Diserbu Warga

0
Lapak Penyaluran Subsidi Pangan dari Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah yang dibuka di Alun-Alun Jepara 1 pada Selasa, (24/2/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA– Lapak Penyaluran Subsidi Pangan dari Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah yang dibuka di Alun-Alun Jepara 1 pada Selasa, (24/2/2026) diserbu masyarakat.

Salah satu komoditas bahan pokok yang laris dibeli masyarakat yaitu cabai setan. Sebab di pasar tradisional, harganya saat ini mencapai Rp95 ribu per kg. Sedangkan di lapak tersebut dijual dengan harga Rp65 ribu per kg karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Bagian Operasional dari PT Jateng Agro Berdikari (JTAB), Dodi Sedianto mengatakan, kegiatan penyaluran subsidi pangan ini sengaja diadakan untuk membantu masyarakat serta sebagai upaya intervensi ditengah harga cabai yang sedang naik.

“Cabai ini kan lagi inflasi, sehingga dari Pemprov Jateng memberikan harga subsidi, kegiatannya kita selenggarakan hanya di hari ini,” katanya saat ditemui di Alun-Alun Jepara 1.

Baca juga: Hari Ketiga Ramadan, Harga Cabai hingga Bawang Masih Tinggi, Sedangkan Telur Berangsur Turun

Selain cabai, juga terdapat komoditas bahan pokok lain yang dijual dengan harga subsidi. Yaitu Beras Organik Mentik Wangi yang semula Rp22.936 per kg, menjadi Rp15 ribu per kg.

Kemudian Beras Singkong yang semula Rp23.830 per kg menjadi Rp14 ribu per kg. Mie Mocaf Low Glutten yang semula Rp5.580 per bungkus menjadi Rp3 ribu per bungkus. Mie Mocaf 100% yang semula Rp11.820 per bungkus menjadi Rp5 ribu per bungkus. Dan Tepung Mocaf yang semula Rp13.950 per 500 gram menjadi Rp6 ribu.

Dodi menjelaskan, komoditas bahan pokok yang ikut dijual tersebut semuanya merupakan produk asli dari petani di daerah Jawa Tengah. Seperti Tepung Mocaf atau tepung singkong yang merupakan produksi dari Kabupaten Banjarnegara. Beras organik dari Kabupaten Boyolali dan Beras Sorgum dari Kabupaten Blora.

“Kita juga sekalian memperkenalkan produk lokal yang mungkin masyarakat masih awam. Kita juga memperkenalkan karena produknya sehat, tidak pakai bahan kimia,” ujarnya.

Dodi mengatakan sejak awal lapak dibuka pukul 14.00 WIB, banyak masyarakat yang datang untuk membeli. Beberapa komoditas yang langsung habis yaitu mie mocaf.

Baca juga: Upaya Pemprov Jateng Intervensi Kenaikan Harga Pangan Pokok, dari GPM hingga Operasi Pasar

“Antusias masyarakat bagus sih, ramai. Kita buka jam 2 siang, seharusnya jam 4, tapi dari dinas bilangnya disuruh buka lebih awal,” bebernya.

Salah Satu Pembeli, Barokatus, Warga Kelurahan Kauman, Kecamatan/Kabupaten Jepara mengaku senang dengan adanya subsidi pangan. Sebab harga bahan pokok saat ini masih tinggi.

“Tadi beli beras organik, pengen nyoba sih. Seneng kalau ada kegiatan kayak gini,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Jateng Salurkan Bantuan Usaha Rp5,25 Miliar untuk 1.750 Mustahik

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, menyalurkan bantuan modal usaha mustahik produktif dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) . Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SALATIGA – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, menyalurkan bantuan modal usaha mustahik produktif dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat tahap II tahun 2025, kepada 1.750 orang penerima di Kota Salatiga, Selasa (24/2/2026).

Nilai bantuan yang disalurkan itu mencapai Rp5,25 miliar. Sebab, masing-masing orang penerima mendapatkan sebanyak Rp3 juta.

Dalam acara itu, Gubernur Luthfi secara simbolis menyerahkan bantuan kepada perwakilan mustahik (penerima zakat) dari Kota Salatiga, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Boyolali. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pembekalan dan pendampingan usaha bagi para penerima manfaat.

Ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Darodji menyampaikan bantuan tersebut merupakan stimulus untuk memperkuat usaha mikro masyarakat agar berkembang dan mandiri.

“Bantuan ini bukan untuk konsumsi, tetapi untuk diputar sebagai modal usaha. Kami juga melakukan pendampingan agar usaha mereka berkembang. Harapannya, dari mustahik bisa menjadi muzaki (pemberi zakat),” ujarnya.

Baca juga: Indikator Makro Pembangunan Jawa Tengah Lampaui Target, Ekonomi Tumbuh Progresif

Ia menambahkan, pada 2026 Baznas Jateng merencanakan penyaluran modal usaha bagi 3.500 mustahik. Selain itu, juga terdapat dukungan program bantuan paket dari Baznas RI sebanyak 1.500 paket.

Selain penguatan ekonomi, Baznas Jateng juga menyalurkan bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tahun 2026 sebanyak 750 unit dengan total nilai Rp15 miliar, bekerja sama dengan Disperakim Provinsi Jawa Tengah.

“Secara kumulatif, total bantuan RTLH yang telah disalurkan Baznas mencapai 2.874 unit dengan total nominal sekitar Rp47,015 miliar,” ucapnya.

Di bidang pendidikan, Baznas Jateng telah menyalurkan beasiswa kepada 4.434 mahasiswa melalui 15 perguruan tinggi senilai Rp15,88 miliar, dan beasiswa 96.042 siswa SMA/SMK/SLB melalui UPZ senilai Rp31,6 miliar.

Sementara dalam program pemberdayaan ekonomi, Baznas telah menggelar 21 jenis pelatihan kerja dengan total peserta 13.816 orang.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Yang utama adalah memastikan masyarakat cukup sandang, pangan, dan papan,” tegasnya.

Ia menyebut bantuan modal usaha ini sebagai stimulus untuk menggerakkan ekonomi mikro yang jumlahnya mencapai sekitar 4,2 juta pelaku usaha di Jawa Tengah.

“Modal ini sebagai stimulus. Diputer. Jangan dikonsumsi. (Penerima bantuan) Harus naik kelas. Dari mikro jadi kecil, dari kecil jadi menengah. Jangan setelah dibantu malah stagnan,” tegas Luthfi.

Baca juga: Dinamika dan Capaian 1 Tahun Kinerja Ahmad Luthfi-Taj Yasin Memimpin Jawa Tengah

Melalui pembinaan yang dilakukan, diharapkan usaha masyarakat berkembang, omzet meningkat, serta mampu menyerap tenaga kerja.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga menyampaikan, penanganan kemiskinan di wilayahnya perlu dilakukan secara terintegrasi. Mulai dari perbaikan rumah, peningkatan pendapatan, akses kesehatan, hingga pendidikan.

“Rumahnya harus layak, kesehatannya dijaga, anaknya harus sekolah. Intervensi kita tidak boleh parsial, harus menyeluruh,” ujarnya.

Luthfi menyebut kerja kolaboratif antara provinsi, kabupaten/kota, dan Baznas mulai menunjukkan hasil. Angka kemiskinan Jawa Tengah turun ke kisaran 9,39% persen dari 9,48%, dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 5,37 persen, berada di atas rata-rata nasional.

“Kita keroyok kemiskinan dari desa sampai provinsi. Harus naik kelas. Tidak boleh terus berada di kategori miskin atau miskin ekstrem,” tegasnya.

Salah satu penerima bantuan, Kholidah mengaku senang mendapatkan bantuan. Ia berharap dapat berkembang, mandiri, dan suatu saat menjadi pemberi manfaat bagi masyarakat lainnya.

“Alhamdulillah bersyukur banget dengan bantuan dari Baznas. Harapannya usaha lebih maju dan bantuan ini untuk modal,” ucap perempuan yang berjualan bubur ini.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Bupati Kudus Tanggapi Warga Karangrowo yang Iuran untuk Tinggikan Jalan

0
Warga melakukan pengurugan untuk peninggian jalan dengan biaya sendiri. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Dukuh Krajan, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kompak melakukan iuran untuk meninggikan jalan utama desa dengan menggunakan tanah padas. Langkah swadaya tersebut dilakukan karena akses itu kerap terendam banjir setiap tahun.

Aksi gotong royong warga ini mendapat perhatian dari Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat yang berinisiatif memperbaiki akses lingkungan mereka.

“Kami atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengucapkan terima kasih apabila masyarakat melakukan perbaikan. Namun, tolong berkoordinasi dengan dinas terkait agar tidak salah secara teknis,” ujar Sam’ani saat ditemui di Pendopo Kudus, belum lama ini.

Ia mengaku telah menerima laporan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus terkait aktivitas warga Desa Karangrowo tersebut. Bahkan, alat berat telah dikirim ke lokasi untuk membantu proses penanganan.

Baca juga: Soal Pengurugan Jalan dengan Uang Pribadi, Kades Karangrowo: “Yang Diurug Warga Itu Jalan Kabupaten”

Ia menegaskan, secara konstruksi jalan tersebut sebenarnya tidak dalam kondisi rusak karena sudah menggunakan beton. Keinginan warga adalah meninggikan badan jalan agar tidak lagi tergenang air saat banjir datang.

“Perlu dicatat ya. Jalan itu tidak rusak, karena sudah beton. Masyarakat hanya ingin meninggikan supaya tidak banjir,” tandasnya

Meski demikian, Sam’ani mengingatkan adanya potensi dampak lanjutan apabila peninggian dilakukan tanpa perhitungan matang. Ia khawatir air justru akan mengalir masuk ke rumah warga jika posisi jalan menjadi lebih tinggi dari permukiman.

“Kalau jalan dinaikkan, bisa saja air masuk ke rumah. Jika timbunannya tinggi tanpa talut di kanan dan kiri, bisa terjadi longsor,” katanya.

Ia juga menyoroti aspek kesenjangan sosial. Tidak semua warga memiliki kemampuan ekonomi untuk meninggikan rumah apabila elevasi jalan berubah.

“Kalau yang mampu mungkin bisa ikut meninggikan rumah. Tapi yang tidak mampu tentu akan kesulitan,” tambahnya.

Terkait harapan warga agar jalan yang sudah ditimbun tanah padas itu nantinya diaspal oleh Pemkab Kudus, Sam’ani menjelaskan bahwa proses pembangunan harus melalui tahapan perencanaan resmi.

Baca juga: Kesal Tiap Tahun Kebanjiran, Warga Karangrowo Kudus Patungan Tinggikan Jalan

Usulan pembangunan harus dibahas melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), kemudian masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Setelah itu disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Setelah APBD disahkan, barulah dibuat Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) untuk kemudian dilaksanakan. Apabila nilai pekerjaan di atas Rp 400 juta rupiah, pelaksanaannya wajib melalui proses lelang sesuai ketentuan.

“Kalau tanpa penganggaran resmi, kami bisa bermasalah secara hukum dalam pengelolaan keuangan daerah,” tegasnya.

Sam’ani menuturkan, bahwa wilayah Karangrowo memang memiliki karakteristik langganan banjir sejak dahulu. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ketinggian air disebut meningkat hingga sekitar satu meter akibat perubahan tata guna lahan dan siklus banjir berkala.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Terinspirasi Kasus BBM Oplosan, Film Confessio Garapan Sineas Kudus Raih Prestasi Internasional

0
Proses syuting Film Confessio digarap GsT Production. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Film pendek berjudul Confessio garapan sineas Kudus menorehkan prestasi mentereng di tingkat Internasional. Film yang bercerita tentang pengakuan dosa seorang koruptor tersebut mampu masuk tiga besar dalam festival film pendek internasional di Italia, Mirabile Dictu, yang diumumkan pada 30 Januari 2026.

Film Confessio digarap GsT Production, rumah produksi yang beralamat di Jalan Kelapa Sawit, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Film tersebut ditulis oleh Asa Jatmiko dan disutradari oleh anaknya yang bernama Cornel Innos.

Asa Jatmiko menyampaikan, rasa syukur atas raihan karyanya tersebut. Pembuatan film Confessio ini terinspirasi dari kasus pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang di tangani oleh Kejaksaan Agung pada Februari 2025.

“Dari kasus oplosan BBM tersebut mobil saya rusak. Karena selama ini, saya selalu isi Pertamax, tapi ternyata oplosan. Kemudian terinspirasilah untuk membuat film dan diberi judul Confessio,” ujar Asa kepada Betanews.id, Selasa (24/2/2026).

Dalam cerita film Confessio, lanjut Asa, pengakuan dosa tokoh utama tidak terkait pengoplosan BBM. Namun, diganti dengan beras oplosan.

“Tetapi ketika film Confessio sudah jadi, muncul kasus beras bantuan yang dioplos juga,” ucap Asa tertawa.

Baca juga: Dari Kolong Imajinasi, Teater 9,9 Lahir di Desa Megawon Kudus

Sinopsis film Confessio, Dwijo (tokoh utama) nampak sebagai orang sukses dan dermawan di mata masyarakat. Pun ia baik di mata umat lingkungan gereja.

Di mata Tuhan, Dwijo menyadari dia termasuk biang keresahan rakyat karena beras oplosannya. Usahanya lancar dengan menyogok para pejabat pemerintah.

Dwijo juga mengkhianati kesetiaan istrinya, berselingkuh dengan anak buahnya di yayasan “Dia Foundation” yang ia dirikan.

Kemudian, memilih hidup jujur dan memulai hidup yang baru, butuh pengorbanan dan keberanian. Sebuah pertarungan batin Dwijo yang berat untuk jujur mengakui, bertobat dan berkomitmen tidak akan mengulangi perbuatan (dosa) itu.

Asa mengungkapkan, sempat mengirimkan film Confessio untuk ikut di dua ajang festival film di dalam negeri. Antara lain, Festival Film Indonesia (FFI) dan Anti Corruption Film Festival (ACFFEST) programnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2025, tapi kalah.

“Tetapi puji tuhan, film Confessio bisa masuk tiga besar pada Festival Film Pendek Internasional di Italia, Mirabile Dictu. Tentu sangat membanggakan,” ungkapnya.

Sutradara, Cornel Innos mengatakan, film Confessio berdurasi 21 menit. Penggarapan film tersebut melibatkan kurang lebih 60 orang. Terdiri dari 50 pemain dan 10 kru. Pembuatan film dilakukan pada 23-25 Maret 2025 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

“Kita pilih Ambarawa, karena film ini tentang pengakuan dosa. Jadi kita ambil setting gereja yang masih otentik. Di Ambarawa gerejanya masih ada sentuhan ornamen Belanda,” ujar Innos.

Terkait kesulitan memproduksi film Confessio, menurut Innos, tak ada kendala yang begitu signifikan. Kesulitan terbesarnya, mengarahkan teman-teman pemain yang baru pertama akting.

“Apalagi di film ini banyak gundah-gulananya. Aktor harus bisa mengekspresikan kesedihan secara natural. Ekspresinya itu tidak hanya di mimik wajah saja, tetapi harus dari hati, supaya akting sedihnya sampai ke penonton,” bebernya.

Baca juga: Pentas Tahunan ke-18, Widyas Budaya Suguhkan Sendratari Ramayana

Untuk rencana selanjutnya, kata Innos, belum ada kepikiran untuk ikut festival lagi. Pihaknya akan melakukan pemutaran film Confessio di beberapa lokasi, di antaranya di Kudus dan Ambarawa.

“Di Ambarawa khususnya, kita ingin banget skrining film di sana. Pasalnya, dari proses awal pembuatan hingga saat ini, teman-teman kru itu belum ada yang pernah nonton film Confessio,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Confessio merupakan film pertama garapan GsT Production dan ternyata sukses bisa masuk tiga besar fetival film pendek Internasional di Italia, Mirabile Dictu. Tentu ini sangat membanggakan.

“Dalam film Confessio ini kita ingin menyampaikan, bahwa sebagai manusia kita harus punya rasa maaf seluas samudra. Sebenci dan sedendam apapun, kunci utamanya adalah memaafkan,” imbuh pria yang juga penyanyi sekaligus penulis lagu tersebut.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Di Tengah Isu Boikot Bayar PKB 2026, Realisasi Pajak Kendaraan Kudus Capai 8,24 Persen

0
epala Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus, Djati Solechah. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Isu kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2026 masih menjadi polemik. Pro dan kontra terjadi di tengah masyarakat, termasuk di Kabupaten Kudus. Bahkan juga ada seruan agar menunda dulu membayar pajak kendaraan.

Di tengah berbagai isu, animo warga Kota Kretek untuk membayar pajak kendaraan masih terbilang bagus. Hingga akhir Januari 2026, realisasi penerimaan opsen PKB Kudus tercapai 8,24 persen.

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus, Djati Solechah mengatakan, target opsen PKB Kabupaten Kudus pada tahun ini kurang lebih sebesar Rp 79,3 miliar. Target tersebut naik dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 75 miliar.

“Target opsen PKB Kabupaten Kudus memang naik dibanding tahun lalu. Kenaikan sekira Rp 4,3 miliar,” ujar Djati di ruang kerjanya belum lama ini.

Baca juga: Soal Parkir di Pasar Kliwon yang Tarifnya Mendadak Jadi Rp10 Ribu, Pemenang Lelang Angkat Bicara

Kenaikan tersebut, ungkap Djati, sudah berdasarkan penyusunan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) 2026. Sehingga sudah disetujui juga oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus.

Ia menambahkan, dari target tersebut, hingga akhir Januari 2026 sudah ada realisasi penerimaan kurang lebih sebesar Rp 6,53 miliar. Nominal tersebut setara 8,24 persen.

“Melihat realisasi tersebut masuk lah. Semoga nanti di akhir tahun, target tersebut bisa tercapai,” bebernya.

Berbeda dengan opsen PKB yang mengalami kenaikan, tuturnya, target opsen BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) justru mengalami penurunan dibanding target tahun lalu. Pada tahun ini (2026) target opsen BBNKB Kabupaten Kudus kurang lebih sebesar Rp 39,58 miliar. Nominal tersebut turun dibanding target pada tahun lalu yang sebesar Rp 42,66 miliar.

Baca juga: Memprihatinkan, Rutan Kudus Alami Over Kapasitas Hampir Dua Kali Lipat

“Penurunan target tersebut dikarenakan daya beli masyarakat terhadap kendaraan memang lagi lesu. Masyarakat juga jarang melakukan bea balik nama ketika membeli kendaraan bekas,” imbuhnya.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat Kudus agar tetap membayar pajak kendaraannya tepat waktu. Uang pajak kendaraan tersebut nantinya juga bakal kembali ke masyarakat melalui berbagai pembangunan infrastruktur.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tangani Persoalan Sampah, Bupati Jepara Siapkan Tiga Langkah Strategis

0
Bupati Jepara Witiarso Utomo melakukan penanaman pohon di Kawasan Pantai Tirta Samudera Bandengan, Jepara pada Selasa, (24/2/2026). Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID,JEPARA– Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 menjadi momen penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara untuk menyelesaikan persoalan sampah yang masih menjadi persolaan krusial di Jepara.

Kegiatan yang digelar di Kawasan Pantai Tirta Samudera Bandengan, Jepara pada Selasa, (24/2/2026) itu, tidak hanya diisi dengan membersihkan sampah secara serentak.

Di awal kegiatan, total terdapat 20 bibit pohon yang ditanam di kawasan pesisir Pantai Bandengan. Terdiri dari 10 bibit pohon cemara kembar dan 10 bibit pohon ketapang. Penanaman itu juga menjadi bagian untuk menjaga lingkungan Jepara agar Aman, Sehat, Resik dan Indah (ASRI) seusai arahan dari pemerintah pusat.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, berdasarkan data Neraca Pengelolaan Sampah Kabupaten Jepara dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah pada tahun 2025 mencapai 168.085 ton per tahun atau meningkat 6,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, persentase sampah terkelola mencapai 54,76 persen, namun masih terdapat 45,24 persen atau lebih dari 76 ribu ton per tahun yang belum tertangani secara optimal.

“Artinya hampir separuh sampah kita berpotensi mencemari tanah, sungai, dan laut. Jika tidak bergerak bersama, dampaknya adalah banjir, pencemaran, gangguan kesehatan, hingga rusaknya ekosistem pesisir,” kata Wiwit usai kegiatan peringatan HPSN 2026.

Sehingga, Wiwit mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan tiga langkah strategis untuk menangani persoalan sampah di Kabupaten Jepara.

Baca juga: Hasil Pendapatan Pajak Kendaraan di Jepara Bakal Dialokasikan Seluruhnya untuk Perbaikan Jalan

Pertama, yaitu dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) yang rencananya berlokasi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bandengan.

Dari hasil koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU), Jepara menurutnya menjadi salah satu daerah yang akan menerima bantuan TPST RDF.

“TPST RDF sudah kita ajukan ke pemerintah pusat. Jika ini terealisasi, nanti mampu mengolah sampah dengan kapasitas 100 ton per hari,” sebutnya.

Kemudian, langkah kedua yaitu membangun Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Berdasarkan data pada tahun 2023-2024, total sudah terdapat 14 TPS3R yang berhasil dibangun.

Langkah ketiga, yaitu dengan menggandeng investor. Ia mengaku sudah bertemu dengan investor asal Tiongkok yang bergerak di bidang teknologi lingkungan. Kerjasama itu nantinya akan diarahkan untuk mengolah residu menjadi energi terbarukan.

“Ke depan residu tidak lagi hanya ditimbun. Residu akan diproses dengan teknologi,” katanya.

Namun ia menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi yang digunakan, kunci keberhasilan pengelolaan sampah tetap terletak pada perubahan perilaku masyarakat.

“Ini adalah langkah strategis. Tapi saya tegaskan, bahwa teknologi tidak akan berhasil tanpa perubahan perilaku,” ujarnya.

Melalui peringatan Hari Peduli Sampah di Pantai Tirta Samudera Bandengan, Pemkab Jepara berharap kesadaran kolektif masyarakat untuk memilah, mengurangi, dan mengelola sampah dari rumah tangga semakin meningkat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

0
Pengunjung sedang menikmati menu yang ada di Rumah Makan Putra Nelayan. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Momen berbuka puasa selalu menjadi waktu yang dinantikan untuk melepaskan dahaga dan lapar setelah seharian penuh menjaga hawa nafsu. Bagi pecinta kuliner, tak jarang yang memanfaatkan momen ini untuk berburu makanan lezat.

Di tengah semarak Ramadan, ada satu sajian yang tengah naik daun dan sukses mencuri perhatian para penikmat seafood, yakni ikan Barramundi. Ikan laut yang dikenal kaya nutrisi ini tak hanya menyehatkan, tetapi juga memanjakan lidah. Disajikan dengan balutan bumbu khas Nusantara, cita rasanya kian terasa “nyamleng” dan menggoda sejak suapan pertama.

Kini, untuk mencicipi hidangan istimewa tersebut, para pecinta kuliner tak perlu lagi harus jauh-jauh ke kota besar seperti Semarang. Di Kabupaten Pati, tepatnya di rumah makan Putra Nelayan, menu Barramundi telah menjadi primadona baru yang menggugah selera.

Baca juga: Laris Manis, Cireng Kuah Creamy di Tayu Ini Ludes Setiap Hari

Tak ayal, menu itu banyak diburu oleh para pengunjung. Rasa daging ikan barramundi dengan tekstur kenyal, berserat sedang itu memiliki karakter yang lembut dan sedikit manis sehingga pas untuk menu berbuka.

Pengunjung pun dimanjakan dengan beragam pilihan bumbu yang bisa dipadukan dengan ikan Barramundi tersebut. Mulai dari bumbu Jimbaran yang khas dengan sentuhan manis-gurih, rica Sulawesi yang pedas menggigit, Woku yang kaya rempah, Padang yang sarat cita rasa, hingga Bakar Solo, Bakar Toba, Balado, maupun racikan bumbu khas andalan rumah makan tersebut.

Tak hanya Barramundi, tersedia pula beragam pilihan ikan laut segar lainnya seperti Baronang, Kerapu, Kakap Merah, Kuwe Badong, Kaci-Kaci hingga Ekor Kuning. Berbagai pilihan sambal juga siap melengkapi sensasi bersantap, menambah kelezatan dalam setiap suapan.

Salah satu pengunjung asal Kecamatan Gabus, Nurul Laily Fuaziah mengaku tertarik untuk mencoba ikan Barramundi karena masih jarang ada di Kabupaten Pati. Sehingga dia sengaja datang bersama teman-temannya untuk mencobanya.

“Tadi pesan Barramundi dengan bumbu khas Putra Nelayan. Kebetulan di Pati belum pernah menemukan dan ini baru pertama kalinya. Tekstur ikannya lembut, fresh, ada manisnya, dan rempahnya juga terasa. Cocok banget untuk buka puasa,” ucapnya.

Pemilik rumah makan Putra Nelayan, Joko Setiawan mengatakan, menu ikan Barramundi memang tengah menjadi trend lantaran masih jarang ada di Pati. Terutama bagi masyarakat yang ingin berbuka puasa saat Ramadan ini.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

“Kebetulan yang paling disukai itu ikan Barramundi yang memang menjadi khas. Setau kami memang baru di rumah makan ini yang menyediakan ikan tersebut di Pati,” kata pemilik rumah makan di Jalan Kolonel Soegiyono tersebut.

Dia menyebut, tarif ikan itu di kelas medium, sehingga lebih ekonomis bila dibandingkan di kota-kota besar.

“Per pack ada yang Rp 50 ribu ke bawah sampai Rp 50 hingga 70 ribu. Selain ikan ada juga menu lainnya. Untuk anak-anak juga ada jadi pas juga jika ingin berbuka puasa bersama keluarga atau rekan kerja,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Dijual Rp200 Ribu per Kilogram, Bisnis Serbuk Petasan Terendus Patroli Siber Polres Kudus

0
Polisi mengamankan barang bukti serbuk petasan. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Peredaran bahan baku petasan di Kabupaten Kudus terbongkar lewat patroli siber yang dilakukan jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kudus. Dari pengungkapan tersebut, polisi menyita total 15,5 kilogram serbuk petasan dan mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam jaringan penjualan.

Kasus ini terungkap setelah petugas memantau aktivitas mencurigakan di media sosial. Dalam patroli di ruang digital, ditemukan indikasi transaksi bahan petasan dengan metode cash on delivery (COD) atau bayar di tempat, yang dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan masyarakat.

Menindaklanjuti temuan itu, tim operasional Satreskrim Polres Kudus bergerak melakukan penyelidikan. Polisi memetakan pola distribusi sekaligus mengendus rencana transaksi yang diduga akan dilakukan di wilayah Kudus.

Baca juga: Kasus Sudewo Terus Bergulir, KPK Hari Ini Kembali Periksa Plt Bupati hingga Ketua DPRD Pati

Penindakan dilakukan di kawasan Taman OASIS Djarum, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae. Di lokasi tersebut, petugas mengamankan seorang remaja berinisial MRA (16) yang kedapatan membawa satu kilogram serbuk petasan siap pakai.

Dari hasil pemeriksaan awal, MRA mengaku mendapatkan bahan berbahaya tersebut dari seorang pria berinisial FA (21). Keterangan itu langsung dikembangkan untuk menelusuri asal-usul pasokan.

Pengembangan penyelidikan mengarah kepada MAS (52), yang diduga sebagai pemasok utama. Polisi kemudian menangkap MAS di rumahnya di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Dari lokasi penangkapan, petugas menyita 14,5 kilogram bahan baku petasan siap edar. Selain itu, turut diamankan satu unit timbangan yang diduga digunakan untuk menakar serbuk sebelum dipasarkan kepada pembeli.

Diketahui, MAS bukan kali pertama berurusan dengan hukum. Ia tercatat sebagai residivis dalam kasus serupa terkait pembuatan dan penjualan bahan petasan.

Dalam pemeriksaan, MAS mengakui memproduksi sendiri serbuk tersebut dengan mencampurkan sejumlah bahan kimia tertentu. Produk itu kemudian dijual melalui media sosial dengan harga sekitar Rp200 ribu per kilogram.

Pelaksana Harian Kepala Satuan Reserse Kriminal, AKP Kanzi Fathan menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir peredaran bahan peledak ilegal di wilayah hukumnya.

“Bahan petasan ini sangat berisiko menimbulkan ledakan yang dapat menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan lingkungan,” ujar Kanzi melalui siaran tertulisnya, Selasa (24/2/2026).

Baca juga: Soal Parkir di Pasar Kliwon yang Tarifnya Mendadak Jadi Rp10 Ribu, Pemenang Lelang Angkat Bicara

Ia menambahkan, kepolisian akan terus mengintensifkan patroli siber untuk menekan peredaran bahan berbahaya di ruang digital.

“Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku yang mencoba mencari keuntungan dengan membahayakan keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Selain menindak pelaku, kepolisian juga mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Produksi, penyimpanan, maupun penggunaan petasan tanpa izin dinilai berpotensi memicu kecelakaan serius.

“Ketiga tersangka kini dijerat Pasal 306 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pengungkapan ini sekaligus menjadi bukti keseriusan aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dari ancaman bahan peledak ilegal yang dapat membahayakan nyawa,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Terima Sampah 150 Ton Per Hari, Usia TPA Bandengan Jepara Diprediksi Tinggal 2 Tahun Lagi

0
Aktivitas di TPA Bandengan Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bandengan yang berada di Desa Bandengan, Kecamatan/Kabupaten Jepara kondisinya kini sudah overload.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, dengan kondisi saat ini, satu-satunya TPA yang berada di Jepara itu diprediksi hanya mampu menerima sampah tidak sampai dua tahun ke depan.

“TPA Bandengan ini diprediksi usianya tidak sampai dua tahun,” katanya saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (NPSN) di Pantai Tirta Samudera Bandengan pada Selasa, (24/2/2026).

Wiwit menyebutkan, terdapat delapan daerah yang menjadi penyumbang sampah terbesar di Kabupaten Jepara. Rinciannya, Kecamatan Kalinyamat dengan produksi sampah sekitar 535,3 ton per bulan, Kecamatan Jepara 130,1 ton per bulan, Kecamatan Welahan 115,8 ton per bulan, Kecamatan Mayong 98,1 ton per bulan, Kecamatan Tahunan 87,5 ton per bulan, Kecamatan Pecangaan 86,9 ton per bulan, Kecamatan Bangsri 36,5 ton per bulan, dan Kecamatan Kedung 22,9 ton per bulan.

Penanganan nantinya, akan dilakukan dari daerah hulu yaitu dengan mencari darimana sumber sampah tersebut berasal.

“Kita urus dari hulunya, yaitu dari sumber-sumber sampahnya. Kemarin kita rapatkan, ini sedang kita mitigasi sumber-sumbernya,” ujarnya.

Setelah diketahui darimana sumber sampah tersebut berasal, baru nantinya ia akan mengambil kebijakan untuk penanganan sampah.

Baca juga: Peringati HPSN 2026, Pemkab Kudus Gelar Aksi Bersih Sampah Serentak di Balai Jagong

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini mengatakan, dalam sehari jumlah sampah yang masuk ke TPA Bandengan sekitar 150 ton per hari. Sampah itu berasal dari seluruh wilayah di Kabupaten Jepara.

Luas TPA Bandengan saat ini yaitu sekitar 7,6 hektare. Akan tetapi, hanya 1,4 hektare yang masih aktif untuk menampung sampah.

“Kondisinya ini memang mendekati sudah hampir penuh, sehingga memang harus ada langkah-langkah masif untuk menekan laju sampah yang masuk ke TPA,” katanya.

Selain upaya penanganan dari pemerintah, Rini berharap masyarakat juga memiliki kesadaran untuk mengolah sampah.

“Kami berharap masyarakat bisa sadar juga bahwa sampah adalah tanggung jawabmu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi ayo kesadaran mengolah sampah dimulai dari diri kita masing-masing,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Lewat Aksi Bersih Sampah, Ahmad Luthfi Bersama Ribuan Orang Canangkan Gerakan Jawa Tengah ASRI

0
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi bersama wakil Gubernur Taj Yasin mencanangkan Gerakan Jawa Tengah ASRI (Aman, Sehat, Resik & Indah), melalui aksi bersama bersih-bersih sampah di Pantai Jodo, Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Selasa (24/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, BATANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi bersama wakil Gubernur Taj Yasin mencanangkan Gerakan Jawa Tengah ASRI (Aman, Sehat, Resik & Indah), melalui aksi bersama bersih-bersih sampah di Pantai Jodo, Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Selasa (24/2/2026).

Kegiatan yang melibatkan lebih dari 1.000 orang ini bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Kegiatan yang dipusatkan di lokasi tersebut juga dilaksanakan serentak di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Pada kegiatan bersih-bersih sampah tersebut, Ahmad Luthfi nempak menaiki alat berat jenis loader dan mengeruk tumpukan sampah ke atas dump truck. Didampingi Taj Yasin, Ia tampak lihai menggerakkan bucket alat berat, menyerok campuran sampah plastik, kayu, dan limbah rumah tangga yang menumpuk di pesisir pantai.

Beberapa kali bucket terangkat penuh, lalu ditumpahkan ke bak truk yang sudah siaga di sisi pantai. Aksi itu sontak menarik perhatian para peserta yang mengikuti kegiatan bersih sampah serentak tersebut.

Baca juga: Jelang Mudik 2026, Gubernur Luthfi Tuntaskan Preservasi Dua Jalur Strategis Penggerak Ekonomi dan Wisata Jateng

Dalam kesempatan itu, Luthfi mengatakan, persoalan sampah di Jawa Tengah sudah masuk kategori darurat, sehingga membutuhkan langkah konkret.

“Sampah di Jawa Tengah hampir 6,36 juta ton per tahun. Yang bisa diproses baru sekitar 60 persen, sisanya belum tertangani optimal. Ini harus menjadi perhatian serius kita semua,” tegasnya dalam sambutan.

Ia mengingatkan, Presiden telah menargetkan Indonesia menuju zero waste pada 2029. Karenanya, Gerakan Jateng ASRI harus menjadi gerakan nyata. Ia meminta seluruh bupati dan wali kota segera menyerahkan data konkret penanganan sampah di wilayahnya.

“Besok akan saya bawa dalam rapat di tingkat pusat,” ujar Luthfi.

Selain persoalan sampah, Luthfi juga menyoroti pentingnya menjaga garis pantai Jawa Tengah yang mencapai sekitar 920 kilometer. Di tempat yang sama, Luthfi juga meminta program penghijauan pesisir, termasuk Gerakan Mageri Segoro, kembali digencarkan di 17 kabupaten/kota yang memiliki garis pantai.

Penanaman mangrove dan tanaman pesisir dinilai sebagai langkah preventif untuk mencegah abrasi dan bencana lingkungan. Pada Desember 2025 lalu, penanaman hampir mencapai dua juta bibit dan diharapkan terus ditingkatkan pada tahun ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto menyampaikan, aksi bersih sampah tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Gubernur tentang Gerakan Jawa Tengah ASRI.

“Pada hari ini aksi bersih sampah dan penanaman pohon dilaksanakan secara serentak di 35 kabupaten/kota pada waktu yang sama, dan sebagian besar bupati/wali kota memimpin langsung kegiatan di daerah masing-masing,” ujarnya.

Ia juga melaporkan perkembangan pengelolaan sampah di Jawa Tengah. Saat ini, pengolahan sampah berbasis RDF telah berjalan di Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan Magelang. Sementara pengolahan sampah menjadi energi listrik telah beroperasi di Kota Surakarta.

Baca juga: Embung Geblog Temanggung Mulai Operasional, Jadi Harapan Besar Bagi Petani di Musim Kemarau

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menginisiasi kolaborasi antar daerah dalam transformasi TPA menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu, termasuk kerja sama penyediaan dan pemanfaatan RDF dengan industri semen di sejumlah kabupaten/kota,” kata Widi.

Melalui Gerakan Jateng ASRI, Pemprov Jawa Tengah mendorong percepatan transformasi pengelolaan sampah sekaligus membangun partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, jajaran Forkopimda Jawa Tengah, serta Bupati Batang bersama Forkopimda Kabupaten Batang. Adapun kepala daerah di 35 kabupaten/kota mengikuti secara daring.

Selain menggunakan alat berat untuk membersihkan tumpukan sampah dalam jumlah besar, para peserta juga menyisir garis pantai secara manual, memunguti dan memilah sampah sebelum dimasukkan ke karung-karung untuk diangkut.

Para peserta yang juga terlibat acara itu berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, perguruan tinggi, badan usaha, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, relawan, mahasiswa hingga masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Beri Nilai 71 Atas Kinerjanya, Ini PR Sam’ani–Bellinda

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton meninjau pelasanaan program pemutihan pajak kendaraan di Kantor Samsat Kudus, Kamis (24/4/2025). Foto Beta News: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di balik sejumlah capaian positif selama satu tahun kepemimpinan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Bellinda Birton, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang menjadi fokus evaluasi pemerintah daerah.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kudus tercatat sebesar 2,79 persen. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

Tingkat pengangguran justru mengalami kenaikan tipis dari 3,19 persen menjadi 3,23 persen. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Selain itu, usia harapan hidup warga Kudus turun dari 77,27 tahun menjadi 77,21 tahun. Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dikaji lebih lanjut.

Penanganan sampah juga belum maksimal dengan cakupan layanan sekitar 60 hingga 65 persen. Pemerintah daerah masih berupaya meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah.

“Kami beri nilai 71 untuk satu tahun ini. Masih ada yang perlu kita tingkatkan,” kata Sam’ani di Pendopo Kudus, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Rapor Setahun Sam’ani–Bellinda Pimpin Kudus: Kemiskinan dan Stunting Turun, IPM Naik

Ia menyebut tantangan ke depan semakin kompleks, terutama dengan adanya pengurangan dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pembangunan infrastruktur.

“Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Kudus menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Digitalisasi sistem dan penataan potensi pendapatan menjadi strategi utama,” bebernya.

Ia mengungkapkan, PAD Kudus yang sebelumnya berada di kisaran Rp500 miliar kini telah meningkat menjadi Rp700 miliar. Pemerintah daerah menargetkan nantinya pendapatan tersebut dapat menembus Rp1 triliun.

Selain penguatan fiskal, lanjutnya, percepatan perizinan investasi menjadi prioritas. Kemudahan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) diharapkan mampu menarik investor.

“Langkah tersebut bertujuan membuka lapangan kerja baru, terutama bagi lulusan angkatan kerja muda. Pemerintah daerah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada masyarakat,” sebutnya.

Pemkab Kudus, tuturnya, juga terus mendorong penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya generasi muda. Pelatihan dan bantuan permodalan menjadi bagian dari strategi pengurangan pengangguran.

“Tahun kedua kepemimpinan Sam’ani–Bellinda akan menjadi momentum konsolidasi. Pemerintah daerah berupaya menjaga tren pertumbuhan sekaligus menyelesaikan berbagai tantangan yang masih tersisa,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Peringati HPSN 2026, Pemkab Kudus Gelar Aksi Bersih Sampah Serentak di Balai Jagong

0
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris saat memimpin aksi bersih-bersih di Balai Jagong, Selasa (24/2/2026). Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menggelar aksi bersih sampah serentak dalam memperingati Hari Peduli Sampah (HPSN) 2026. Kegiatan itu juga sebagai tindak lanjut instruksi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mengimbau seluruh kabupaten/kota melaksanakan korve (kerja bakti) secara bersama.

Aksi bersih sampah serentak tersebut, dipusatkan di Balai Jagong, Selasa (24/2/2026), dengan melibatkan ratusan orang dari berbagai lintas instansi. Di antaranya meliputi TNI, Polri, ASN di lingkungan Pemkab Kudus, komunitas, perguruan tinggi.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris mengatakan, kegiatan korve tersebut merupakan instruksi dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi dalam rangka mengkampayekan gerakan aksi bersih sampah serentak. Menurutnya, kegiatan itu bisa menjadi contoh kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap adanya sampah di lingkungannya.

Baca juga: Bupati dan Wabup Kudus Akan Turun Langsung Pimpin Aksi Bersih Serentak HPSN 2026

“Ini instruksi dari Bapak Gubernur Jawa Tengah untuk melakukan gerakan aksi bersih sampah serentak agar lingkungan tetap aman, sehat, resik, dan indah,” bebernya usai kegiatan, Selasa (24/2/2026).

Ia menegaskan, gerakan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diharapkan menjadi budaya masyarakat, terutama aparatur sipil negara (ASN), dalam menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing. Hal itu bagus, terutama untuk mencipatakan lingkungan yang asri, indah, dan sejuk.

“Kami ingin ASN menjadi contoh bagi masyarakat, termasuk dalam memilah sampah di lingkungan masing-masing,” katanya.

Menurutnya, gerakan ini juga sejalan dengan arahan nasional terkait kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

“Ini bagian dari instruksi korve dari pemerintah pusat, termasuk dari Presiden Prabowo Subianto, yang kita sikapi dengan bijak karena kebersihan menyangkut kesehatan, keindahan, dan lingkungan hidup,” jelasnya.

Sam’ani menambahkan, sasaran kegiatan mencakup seluruh wilayah Kabupaten Kudus, mulai dari pusat kota hingga daerah pinggiran.

Baca juga: Rapor Setahun Sam’ani–Bellinda Pimpin Kudus: Kemiskinan dan Stunting Turun, IPM Naik

“Sasarannya seluruh wilayah Kudus, dari pojok, tengah, sampai pinggir, semuanya menjadi target,” tegasnya.

Dalam kegiatan itu, melibatkan sekitar 220 orang dari berbagai instansi dan komunitas. Peserta diminta membawa peralatan kebersihan masing-masing serta mengenakan atribut institusi.

Pemerintah berharap aksi tersebut menjadi langkah awal gerakan yang berkelanjutan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Indikator Makro Pembangunan Jawa Tengah Lampaui Target, Ekonomi Tumbuh Progresif

0
Forum diskusi yang digelar Forum Wartawan Pemprov-DPRD Jateng (FWPJT) di Kompleks Kantor Gubernur, Senin (23/2/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, capaian indikator pembangunan Jawa Tengah menunjukkan performa yang positif.

Berdasarkan evaluasi delapan alat ukur kepemimpinan, mayoritas target pembangunan berhasil dipenuhi, bahkan beberapa di antaranya melampaui target nasional.

Hal itu terungkap dalam forum diskusi yang digelar Forum Wartawan Pemprov-DPRD Jateng (FWPJT) di Kompleks Kantor Gubernur, Senin (23/2/2025).

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli menjelaskan, stabilitas kinerja birokrasi dan ekonomi menjadi kunci utama satu tahun terakhir.

Salah satu capaian paling mencolok adalah Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,37%, melampaui target yang ditetapkan sebesar 4,8%. Sejalan dengan itu, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan hingga ke angka 4,66%, berada di dalam rentang target sasaran.

Baca juga: Dinamika dan Capaian 1 Tahun Kinerja Ahmad Luthfi-Taj Yasin Memimpin Jawa Tengah

Sektor reformasi birokrasi juga mencatatkan nilai gemilang. Indeks Reformasi Birokrasi Jawa Tengah kini berada di angka 94,06, jauh melampaui target awal sebesar 91,5. Hal ini menunjukkan komitmen kuat kepemimpinan Luthfi-Yasin dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif dan efisien.

Di sektor kesejahteraan, Tingkat Kemiskinan saat ini berada di angka 9,39%. Angka ini dinilai stabil dan berhasil masuk dalam range target pembangunan (9,00% – 9,66%).

Kinerja Luthfi-Yasin dalam menjaga kedaulatan fiskal juga membanggakan, dimana Otonomi Fiskal Daerah mencapai 63,01%, yang menandakan kemandirian ekonomi daerah yang makin kuat.

Sementara itu, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tetap terjaga di angka 85,84 (2024) dan Indeks Modal Manusia masih 0,59 (2024) karena data terbaru belum rilis.

Menurut Zulkifli, dalam satu tahun kepemimpinannya, Ahmad Luthfi-Taj Yasin, telah berhasil melakukan perubahan atau transformasi di tiga sektor penting, yakni ekonomi, sosial, dan birokrasi atau tata kelola pemerintahan.

“Transformasi sosial dibuktikan dengan tingkat pengangguran terbuka dan angka kemiskinan yang terus menurun. Sementara transformasi tata kelola pemerintahan juga menguat dengan tingginya indeks integritas nasional, otonomi fiskal daerah, indeks demokrasi, dan indeks reformasi birokrasi,” kata dia.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh menilai, capaian kinerja pemerintahan Luthfi–Yasin secara umum memuaskan jika merujuk pada indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Secara indikator, mayoritas target terpenuhi. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan capaian pembangunan. Ini yang nanti akan kami dalami melalui rapat-rapat komisi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” ujarnya.

Saleh juga menyoroti perlunya penguatan kreativitas birokrasi, khususnya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia berpandangan bahwa strategi peningkatan pendapatan tidak bisa hanya mengandalkan sektor pajak, melainkan harus dibarengi optimalisasi aset milik pemerintah daerah maupun BUMD.

“Kita tidak bisa hanya bertumpu pada pajak. Optimalisasi aset daerah dan BUMD harus dimaksimalkan agar memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah,” tegasnya.

Di sisi lain, Saleh turut menekankan pentingnya kualitas investasi. Dengan realisasi investasi yang mencapai Rp88 triliun, ia berharap dampaknya tidak semata terlihat pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Menurutnya, investasi yang inklusif akan memberikan efek ganda, yakni memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus berkontribusi pada penurunan tingkat kemiskinan.

Baca juga: Berkat Kerja-Kerja Kolaboratif, Pembangunan Jawa Tengah Menunjukkan Tren Positif

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini menyebut, filosofi Jawa “rame ing gawe, sepi ing pamrih” tercermin dalam gaya kepemimpinan Luthfi–Yasin pada tahun pertama pemerintahan Luthfi-Yasin.

“Filosofi itu menggambarkan bahwa pemimpin sebaiknya banyak bekerja, ramai dalam pengabdian, tetapi minimal dalam pamrih dan pencitraan. Ini penting agar seorang pemimpin tetap empan papan dan memberi teladan,” ujar Nur Hidayat.

Menurutnya, filosofi tersebut bersifat adiluhung dan relevan dengan konteks kepemimpinan saat ini. Namun demikian, ia menegaskan bahwa sepi ing pamrih bukan berarti meniadakan publikasi kinerja sama sekali. Publikasi tetap diperlukan dalam kerangka kepentingan deliberatif dan akuntabilitas demokrasi.

“Pejabat publik adalah pemilik otoritas yang bersumber dari kedaulatan rakyat. Karena itu, publik berhak mengetahui apa yang dikerjakan pemimpinnya. Ini penting agar pembayar pajak tahu bahwa mandat yang mereka berikan digunakan dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Ia menilai capaian kinerja Luthfi-Yasin dalam periode tersebut masih relatif singkat. Namun demikian, capaian awal dinilai penting sebagai modal dasar bagi Luthfi–Yasin untuk melangkah lebih jauh.

“Satu tahun memang pendek, masih ada empat tahun ke depan. Tapi capaian ini penting sebagai fondasi. Tinggal bagaimana ke depan pendekatan kualitatif diperkuat agar persepsi publik sebanding dengan capaian kuantitatifnya,” katanya

Editor: Kholistiono

- advertisement -