Beranda blog Halaman 1926

Meski Takut, Tiyas Tetap Melintasi Jembatan Gantung Desa Jurang yang Heboh di Instagram

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Jembatan gantung terlihat bergerak-gerak terhembus angin di atas aliran Sungai Gelis Dukuh Karangrejo, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Jembatan dengan panjang 35 meter di atas ketinggian 18 meter tersebut berbahan kawat baja dengan papan kayu di atasnya. Beberapa bambu juga terlihat diikatkan di setiap ujung jembatan untuk pegangan para penyeberang yang melintasi jembatan.

Jembatan Desa Jurang
Jembatan Desa Jurang. Foto: Imam Arwindra

Jembatan yang membelah aliran sungai Gelis tersebut, menurut warga Desa Jurang Cahyaningtyas (21), sering didatangi para remaja dari luar desa. Mereka ingin berkunjung dan sekaligus berselfie, karena pemandangannya yang indah serta terlihat ekstrem. Dia mengakui saat melewati jembatan gantung merasa merinding dan kedua kakinya gemetar. “Tinggi banget, rasanya merinding,” ungkapnya saat berada di jembatan gantung, beberapa hari lalu.

Menurutnya, saat musim hujan dirinya tidak berani melewati jembatan tersebut. Dirinya takut karena kayu yang digunakan untuk pijakan licin. Tiyas, sapaan Cahyaningtyas melanjutkan, diakui memang tempat tersebut cukup ramai dibicarakan di media sosial, terutama di Instagram. Banyak foto-foto yang diunggah. Dan hasilnya pun memang mengagumkan. “Foto sama aslinya lebih bagus fotonya,” tuturnya yang juga aktif di organisasi Karang Taruna Desa Jurang.

Rudi Setiawan (30) yang juga pengurus Karang Taruna Desa Jurang menuturkan, bersama pemuda Desa Jurang dirinya ingin mengelola tempat tersebut menjadi tempat pariwisata khas Desa Jurang. Menurutnya, tempat tersebut cukup indah namun dari segi keamanan sangatlah kurang. “Jembatan gantung tersebut sering sekali dikunjungi orang. Dan itu artinya potensi menjadi tempat pariwisata sangat bagus,” tambahnya.

Selain itu dia mengungkapkan, selain jembatan gantung pihaknya juga ingin membuat wisata sungai. Rudi menamainya Susur Sungai. Menurutnya, Desa Jurang dilewati jalur aliran sungai Kaligelis. Potensi tersebut sangat bagus untuk pariwisata Desa Jurang. Dia menjelaskan, jalur yang akan dilalui nanti dari Dukuh Sungging hingga Jembatan Gringging atau bisa sampai Bendungan Karang Gayam. “Kira-kira jaraknya nanti sekitar dua meter,” terangnya.

Miftahul Huda Kepala Desa Jurang yang ditemui Seputarkudus.com di kantornya mengungkapkan, dirinya sepakat dengan usulan yang dibuat Karang Taruna. Dia mengaku akan mendukung penuh asal ditata dengan baik. Menurunya, jika progam Susur Sungai tersebut berjalan dengan baik, otomatis sampah-sampah yang berada di sungai pun akan bersih. “Silahkan ditata dengan baik,” tuturnya.

Miftahul Huda juga menuturkan jembatan gantung yang berada di Dukuh Karang Rejo Rt 2, Rw 2 tersebut akan diganti dengan yang baru. Menurutnya jembatan tersebut kondisinya sudah menghawatirkan. Pihaknya akan membangun jembatan gantung serupa namun dengan konstruksi yang lebih kuat dan keamanan yang lebih baik. Dia mengaku sudah menganggarkan sekitar Rp 28 juta dan akan langsung diselesaikan di tahun 2017. “Tahun 2017 akan jadi,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Sudah Renta, Sadino Rela Keliling Kudus Menjual Mainan Bambu, Agar Mampu Membiayai Sekolah Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Seorang pria renta memakai kaus lengan panjang dan memakai topi terlihat  sedang menyusuri jalan sambil memikul dua buah karung kecil. Setelah lama berjalan pria itu memutuskan berhenti, dan membuka apa yang dia pikul di depan TK Pembina Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Pria tersebut bernama Sadino (66) penjual keliling mainan tembakan dari bambu.

Penjual mainan bambu
Penjual mainan bambu. Foto: Rabu Sipan

Sambil duduk dan menunggu para siswa TK keluar, Sadino sudi berbagi kisah tentang hidupnya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan sudah berjualan keliling di Kudus sekitar 21 tahun, tepatnya mulai tahun 1995. Di usia senjanya dia mengaku terpaksa harus tetap berjualan meski penghasilan yang didapatkan tidak menentu.

 
“Di usia yang sudah tua ini, aku harus tetap berjualan, karena hanya hal tersebut yang bisa aku lakukan dan menghasilkan uang. Karena di usiaku sekarang, untuk menjadi kuli bangunan rasanya tenagaku sudah tidak memungkinkan. Sedangkan aku masih harus membiayai sekolah putra bungsuku yang masih duduk di kelas satu SMK,” ujar Sadino yang mengaku punya lima anak tersebut.

Pria yang berasal dari Madiun itu mengatakan, empat anaknya yang lain sudah menikah semua, dan semuanya tinggal di lain daerah. Dia bertekad dengan cara apapun anak bungsunya harus tetap bersekolah, minimal lulus SMK. Karena, dia mengaku semua anaknya yang lain disekolahkan sampai lulus sekolah menengah atas (SMA).

 
“Sebagai orang tua aku berusaha adil, karena aku tidak mampu membekali harta benda. Setidaknya mereka aku sekolahkan, yang sekiranya ijazah serta ketrampilan yang dia dapat dari sekolah bisa mereka buat untuk mencari kerja. Setelah mereka kerja aku juga tidak ingin merepotkan dengan minta uang kepada mereka. Karena menurutku tugas orang tua adalah membesarkan dan memberikan pendidikan semampunya. Setelah itu biarkan mereka menentukan jalan hidupnya,” ujarnya.

Dia mengatakan, karena alasan tidak mau merepotkan anaknya tersebut, di usia senjanya dia harus berjualan keliling di Kudus. Sehari berjualan keliling dia mengaku saat ramai bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu. Sedangkan saat sepi pembeli paling dia hanya mampu mengantongi uang sekitar Rp 40 ribu.

“Pengahasilan tersebut masih kotor, karena belum terpotong untuk kebutuhan makan sehari-sehari selama di Kudus. Kalau di rata-rata aku bisa mendapatkan pengahsilan bersih sekitar Rp 30 ribu sehari,” ungkap Sadino yang mengaku pulang ke Madiun setiap 10 hari sekali.

Sadino mengungkapkan, selama di Kudus dia tinggal di rumah kenalanya warga Desa Ploso, Kecamatan Jati, yang sudah menganggapnya seperti saudara. Dia mengaku beruntung ada orang yang mau menampungnya, jika tidak ada orang tersebut selama di Kudus mungkin dia akan bermalam di SPBU.

Dia menuturkan, berangkat berjualan keliling selepas salat Subuh dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB. Selama berkeliling dia mengaku akan berhenti dan menjajakan mainanya di depan selah dasar (SD) maupun di depan TK yang dia lewati.

“Aku berharap selalu diberi kesehatan dan jualanku laris, hingga aku mampu membiayai sekolahnya putra bungsuku sampai lulus. Dan semoga saja dalam waktu dekat aku juga bisa membelikan anaku tersebut sepeda motor meski bekas,” harap Sadino yang mengaku anaknya berangkat dan pulang sekolah masih ngontel dengan jarak sekitar 10 kilometer.

- advertisement -

Santi: Bakso Soloensis Sangat Sehat, Tanpa Bahan Kimia dan Micin, Rasa Daging Sapinya Terasa

0
Bakso Soloensis
Bakso Soloensis

SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN – Seorang perempuan berjilbab hitam terlihat duduk di Warung Bakso Soloensis, Jalan Wahidin Surohusodo, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus. Sesekali dirinya tampak membantu melayani para pembeli yang datang. Perempuan tersebut bernama Elisa Erisanti (41), yang tak lain pemilik warung tersebut. Dia menyatakan ingin menjadi pelopor bakso sehat di Kudus.

Pemilik Bakso Soloensis
Santi, pemilik Bakso Soloensis. Foto: Rabu Sipan

Siang itu, warung Bakso Soloensis terlihat ramai pengunjung. Dua orang pelayan tampak sibuk sibuk menyiapkan bakso yang dipesan oleh para pengunjung. Terlihat juga ada beberapa kali para pengunjung yang membeli bakso namun dibungkus untuk dibawa pulang. Sesekali Santi, begitu Elisa Erisanti biasa disapa, membantu karyawannya.

Disela aktivitasnya tersebut, Santi sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan memulai membuka warung Bakso Soloensis dua tahun lalu, tepatnya tahun 2014. Menurutnya, dulu warung bakso tersebut milik orang Solo yang sudah berjualan bakso selama enam tahun di Kudus. Namun karena dia dan suaminya ingin menjadi pelopor berjualan bakso sehat di Kudus, warung bakso tersebut dia beli.

“Karena aku ingin memasarkan bakso sehat di Kudus, lalu aku bersama suami sepakat untuk membeli warung bakso ini. Dengan memiliki warung bakso sendiri, aku bisa menyajikan bakso yang  sehat karena tanpa bahan kimia. Bakso Soloensis milikku juga memiliki citra rasa yang khas, enak serta lezat,” jelas Santi.

Baca juga: Setiap Jumat, Pemilik Bakso Soloensis Selalu Membagi Bakso Gratis, Ramadan Nanti Gratis

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota itu mengatakan, Bakso Soloensis sangat sehat karena untuk pembuatan pentol bakso tidak menggunakan bahan kimia. “Jangankan pengawet, micin saja tidak aku campurkan dalam adonan untuk membuat pentol Bakso Soloensis,” terang perempuan yang sudah dikaruniai tiga anak itu.

Selain sehat, kata Santi, Bakso Soloensis juga sudah dikenal pelanggan memiliki cita rasa yang khas, enak serta kenyalnya khas daging sapi. Campuran bakso yang dia jual itu lebih banyak daging daripada tepungnya. Perbandingan setiap menggiling daging sapi sebanyak 10 kilogram hanya mencampuri tiga kilogram tepung.

“Biasanya di warung bakso orang lain perbandinganya itu 50 banding 50, dan menurut mereka itu sudah enak. Tapi Bakso Soloensis daging sapinya lebih banyak dengan perbandingan 70 persen daging sapi dan tepung hanya 30 persen,” ungkapnya.

Dia mengatakan, demi memopulerkan bakso sehat produksinya, Santi rela tak meraup untung banyak di setiap penjualan bakso miliknya. Karena dia berharap bakso sehat dikenal dan diminati orang lebih banyak lagi. Agar baksonya makin dikenal. Dia bersama suami serta sahabat maupun dermawan lainya sering mengadakan sodakoh bakso Soloensis pada hari Jumat.

Santi mengaku, warung baksonya tersebut buka setiap hari mulai pukul 10:00 WIB  sampai pukul 21:00 WIB. Dan setiap harinya kata dia, mampu menjual antara 125 porsi sampai 150 porsi dengan harga jual Rp 10 ribu seporsi.

“Aku berharap, semoga bakso sehat Soloensisku makin dikenal masyarakat luas. Karena, dengan makin dikenal dan diminati masyarakat luas, aku bersama suamiku berencana membuka resto bakso sehat di Kudus atau di daerah sekitar,” harap Santi.

- advertisement -

Setiap Jumat, Pemilik Bakso Soloensis Selalu Membagi Bakso Gratis, Ramadan Nanti Gratis

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN – Di tepi selatan Jalan Dr wahidin Sudirohusodo, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat beberapa sepeda motor terparkir di depan warung bakso. Di dalam warung terlihat seorang perempuan sibuk melayani para pembeli yang datang. Sebagian pengunjung tersebut ada yang sudah menyantap bakso yang dihidangkan. Tempat tersebut yakni Warung Bakso Soloensis, yang sudah beberapa bulan ini menyelenggarakan Sodaqoh Bakso setiap Jumat.

Sodaqoh Bakso Soloensis
Sodaqoh Bakso Soloensis. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, pemilik Bakso Soloensis Indarto Ariwibowo (43) mengatakan, Program Sodaqoh Bakso diprakarsai oleh teman sewaktu SMA, yang sekarang sukses di jakarta. Dia menuturkan, temannya tersebut awalnya melihat posting-an di Facebook yang memuat sebuah warung kecil namun selalu bersedekah pada hari tertentu.

“Karena melihat itu (posting-an di Facebook), temanku terpanggil untuk bersedekah. Dan kebetulan dia juga ingat, aku mempunyai warung bakso. Lalu temanku tersebut menitipkan uang Rp 1 juta pada warung Bakso Soloensis untuk dibuatkan bakso dan meminta agar bakso tersebut dibagikan selama empat kali pada hari Jumat,” ujar pria yang akrab disapa Indra itu, Jumat (3/2/2017).

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, karena harga bakso di Bakso Soloensis Rp 10 ribu seporsi, setiap Jum’at dirinya menggratiskan sebanyak 25 porsi pada para pengunjung.  Sejak acara sodakoh bakso empat kali berjalan lancar,  dan antusiasme pengunjung bagus. Lalu temannya yang lain dan sudah sukses juga antusias untuk ikut bersedekah dengan cara yang sama.

Menurutnya, biasanya Sodaqoh Bakso Soloensis dilakukan pada hari Jumat. Namun, tak jarang pula seorang donatur yang ingin Sodaqoh Bakso dilakukan pada hari lainya. Dia menuturkan program itu diperuntukkan bagi siapa saja yang datang ke Bakso Soloensis.

Elisa Erisanti (41), istri Indra, kegiatan Sodaqoh Bakso ini untuk mengajak sesama untuk saling berbagi. Karena menurutnya, bersedekah tidak harus menunggu kaya, dan uang yang dibuat bersedekah pasti akan diganti oleh Allah. Dia juga ingin mempelopori gerakan berantai bersedekah, dan menggugah nurani orang mampu secara ekonomi untuk berbagi.

Perempuan yang akrab disapa Elisa itu mengatakan, karena tidak adanya donatur pada hari Jumat kemarin, Sodaqoh Bakso ditanggung Bakso Soloensis. “Aku bersama suami sudah lama ingin selalu bisa bersedekoh setiap hari Jumat. Dan aku juga punya rencana, saat bulan Ramadan nanti semoga aku bisa menggratiskan baksoku pada orang yang buka puasa,” ungkap Elisa yang diiyakan oleh suaminya.

- advertisement -

Witono dan Istrinya Tak Menyangka, Tengah Malam Didatangi Empat Pemuda dan Memberikan Bungkusan

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Waktu menunjukan pukul 23.30 WIB, di sebrang jalan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus mulai sepi. Terlihat dua orang tua renta duduk di emperan Mall Ramayana Kudus. Tak lama datang empat pemuda memberikan nasi bungkus kepada mereka. Dua orang tua itu yakni Witono (66) dan istrinya, Ranem (55). Mereka merasa senang dan bersyukur mendapat nasi bungkus dari orang yang tidak dikenalnya.

Witono dan Istrinya
Witono dan Istrinya. Foto: Ahmad Rosyidi

Witono berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, dirinya merasa sangat senang dan bersyukur masih ada pemuda yang mau berbagi seperti komunitas Sedekah Tiap Malam Jumat (STMJ). Dia tidak kenal dengan pemuda yang memberinya nasi, dia hanya bisa mendoakan semoga mereka mendapat balasan dari Tuhan atas kebaikan mereka.

“Saya merasa senang dan bersyukur, meski saya tidak kenal tapi saya senang masih ada pemuda yang mau memberi. Saya cuma bisa mendoakan semoga Tuhan yang membalas kebaikannya. Alhamdulillah dapat rezeki, jadi bisa saya buat sarapan sama istri saya besok pagi”, ungkap pria asal Jepara itu.

Witono megungkapkan, makanan yang dia dapat akan dimakan pagi hari untuk sarapan bersama istrinya. Dia juga mengaku mengemis di Kudus karena merasa sudah renta dan tidak bisa bekerja. Dia tidak merasa malu, karena dia tidak mencuri dan melakukan kejahatan.

Andri Fitriyanto (27) satu diantara anggota STMJ, mengaku baru pertama melakukan aktivitas berbagi nasi bungkus kepada pekerja malam dan orang-orang yang dinilai kurang mampu. Dia juga menjelaskan komunitas STMJ masih baru di Kudus, anggotanya saat ini baru empat orang. Meski sudah ada komunitas berbagi nasi, mereka memilih membentuk STMJ karena semua anggotanya bekerja dan merasa luang saat malam hari.

“Ini baru pertama kali kami berkumpul dan berbagi nasi, sebelumnya kami hanya berkomunikasi melalui media sosial. STMJ sudah ada di beberapa kota, seperti Jogja dan Semarang ada, kami juga sering berkomunikasi dengan teman-teman di sana,” ungkap Andri sapaan akrabnya.

Andri juga menjelaskan komunitas STMJ sangat terbuka untuk teman-teman yang ingin berbagi. Tidak ada syarat, tidak perlu mengisi formulir, menyerahkan foto copy kartu identitas atau membayar uang kas. Dia mempersilahkan semua orang yang ingin berbagi boleh bergabung dengan komunitasnya. Untuk sementara STMJ berkumpul setiap malam jumat di Taman Bojana pukul 22.00 WIB.

“ Asalkan ingin berbagi, sedekah, semua boleh gabung dengan kami. Tidak ada syarat tertentu, seperti mengisi formulir, menyerahkan foto copy kartu identidas atau bayar uang kas. Uang untuk beli nasi juga iuran, jadi ya seikhlasnya teman-teman saja”, jelas pria warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu.

- advertisement -

Siswa TBS Ini Rela Pisah dari Teman-Temannya di Acara Pengajian, Demi Acara Sastra di UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan orang berkerumun di depan panggung pementasan acara Apresiasi Sastra dan Diskusi bertajuk “Kreatif Itu Keren”, di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), (31/1/2017) malam. Di baris kedua di depan panggung, terlihat seorang pria ngenakan sarung, jaket, dan peci hitam sedang khidmat menyaksikan pementasan dan mengikuti jalannya diskusi. Pria itu Muhammad Faizul Kamal (16). Dia mengaku rela terpisah dengan rombongan teman-temannya untuk mengikuti acara yang diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk).

Faizul Reza, Siswa TBS
Faizul Reza. Foto: Ahmad Rosyidi

Faizul, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, dirinya berangkat bersama teman-teman dari rumah. Karena teman-temannya memilih untuk ikut pengajian di Desa Pedawang, Bae, Kudus, dan tidak ada yang mau diajak akhirnya dia memisah dari rombongan teman-temannya demi keinginannya mendalami sastra.

“Tadinya saya berangkat sama teman-teman dari rumah, karena tidak ada yang mau saya ajak ke sini akhirnya saya memisahkan sendiri. Teman-teman saya memilih datang di pengajian di Desa Pedawang, tapi saya ingin kesini untuk belajar satra. Saya baru pertama kali ikut acara Fasbuk, tau acara ini dari pamflet di jalan,” ungkap warga Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus itu.

Faizul mengaku senang dengan acara sastra, dan sudah beberapa kali ikut seminar sastra. Faizul juga mengapresiasi Fasbuk yang sudah menyelenggarakan acara-acara kesenian dan kesusastraan di Kudus. Menurutnya penting untuk para pemula seperti dirinya yang ingin belajar dan membutuhkan banyak ruang berdiskusi agar bisa terus berkembang.

Baca juga: Video: Sastrawan Aceh Mustafa Ismail ‘Meliuk-liuk’ Saat Membaca Puisi di Audit UMK

Dia juga mengungkapkan mulai suka sastra sejak masuk Madrasah Aliyah (MA) NU TBS Kudus. Minatnya pada sastra berawal dari diberi tugas menulis oleh guru, kemudian diberi kepercayaan menjadi ketua kegiatan pelatihan menulis di sekolah. Akhirnya dia mulai menyukai satra dan karyanya juga pernah dimuat di antologi puisi sekolahnya. Sampai saat ini dia suka menulis dan hampir setiap hari dia menulis cerpen atau puisi.

Karena ingin menjadi sastrawan, Faizul berencana setelah lulus dari MA NU TBS ingin melanjutkan kuliahnya di Jogja. Selain kuliah dia juga ingin belajar di pondok pesantren Hasyim Asy’ari Jogja, yang katanya pondok khusus penulis.

“Saya suka menulis belum lama, mulai masuk MA dan sekarang saya baru kelas dua. Saat ini saya baru mendalami satra, karena saya ingin jadi sastrawan. Setelah lulus MA saya ingin melanjutkan kuliah sastra di Jogja, dan belajar di pondok pesantren Hasyim Asy’ari Jogja, yang katanya pondok khusus penulis,”jelas anak terakhir dari lima bersaudara itu.

Faizul mengaku mengidolakan Buya Hamka, dia baru membaca satu buku karya Buya Hamka karena kesulitan mencari bukunya. “Saya kesulitan mencari bukunya, saya sudah keliling-keliling baru dapat satu buku di Gramedia. Kalau di Kudus sudah saya kelilingi juga tidak ada,” keluhnya.

- advertisement -

Mesin Buatan PT Pura Barutama Ini Bisa Memanen Padi 1 Hektare Lahan Hanya Dalam 90 Menit

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Mesin berukuran besar terlihat di tepi persawahan di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Mesin tersebut yakni alat untuk digunakan memamen padi. Mesin itu juga lazim disebut combine harvester. Dengan mesin itu petani bisa memamen padi satu hektare lahan dalam waktu hanya sekitar 90 menit atau satu setengah jam. Alat itu bukan buatan luar negeri, melainkan dibuat PT Pura Barutama, Kudus.

Mesin Pemanen Padi PT Pura
Mesin Pemanen Padi PT Pura. Foto: Imam Arwindra

Menurut Bambang Wijonarko Plan Manager PT Pura Barutama, mesin berwarna putih ungu itu memiliki dimensi keseluruhan 5250 x 2840 x 2780 milimeter. Selain memanen padi, mesin tersebut juga merontokkan padi yang bisa langsung terwadahi di dalam karung. Mesin ini digerakkan dengan daya maksimum motor penggerak 65 kilowatt.

Saat ditemui belum lama ini di panen raya Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, dirinya menjelaskan alat combine harvester yang digunakan tipe besar. Menurutnya dalam hasil uji  yang dilakukan, satu jam mesin tersebut bisa memanen lahan 0,6 hektar pada kecepatan normal. Berarti, untuk satu hektare lahan diperkirakan memerlukan waktu hingga 90 menit. “Itu dalam kecepatan normal dan lahan yang rata,” ungkapnya.

Keunggulan lain dari mesin tersebut disebutkan, tingkat kebersihannya tinggi mencapai 94,41 persen dan efisien perontokan 99,96 persen.  Menurutnya, hasil susut panen yang dihasilkan dari mesin pemanen padi tersebut yakni 0,7 persen. Bambang mengatakan, dengan memanen cara manual hasil gabah yang susut dalam satu hektarnya mencapai  15-20 persen. Jika dikira-kira satu hektare sekitar 10 kilogram yang hilang. Dengan menggunakan mesin buatan Pura ini susut hanya 0,7 persen. “Jika dikira-kira hanya sekitar dua kilogram gabah saja,” tambahnya.

Bambang menambahkan, bahan bakar yang digunakan untuk mesin ini yakni solar dengan konsumsi 6,12 liter setiap jam dengan kecepatan permanen 4,28 kilometer per jam. Bambang memberitahukan harga yang dipatok untuk satu mesin ukuran besar yakni Rp 390 juta. Diakuinya, perusahaannya telah mengirim alat tersebut kebeberapa luar pulau Jawa. Di antaranya, Kalimantan dan Sulawesi. “Untuk di Kudus belum,” ungkapnya.

Dia juga memberikan pilihan lain dengan juga memproduksi combine harvester yang ukuran mini dan medium. Untuk mesin mini dengan dimensi 2690 x 1950 x 2300 milimeter dibanderol dengan harga Rp 110 juta. Sementara itu untuk combine medium dengan dimensi 3820 x 1950 x 2300 milimeter dilepasnya dengan harga Rp 130 juta.  “Kami sudah merakitnya sendiri di Kudus. Ada beberapa bagian alat yang kami sudah bisa produksi sendiri, namun ada juga beberapa yang harus diimport karena kesediaan bahan baku,” terangnya.

- advertisement -

Sepi Order, Rian Nekat Beli Mobil Pikup untuk Jual Sangkar Burung dan Raup Omzet Rp 40 Juta Sebulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Sebuah bangunan berdinding kayu di Dukuh Kencono Wungu, Desa Megawon, Kecamatan Jati, tampak dipenuhi kayu jati. Di samping bangunan dua orang terlihat sibuk membelah papan kayu jati. Di dalam bangunan beberapa orang sedang merangkai hasil belahan kayu menjadi sangkar burung. Tempat tersebut merupakan pembuatan sangkar burung (PSB) Naila Putri milik Ngasiran (31). Suatu ketika saat dirinya sepi order, dia nekat membeli mobil pikap untuk menjual sangkar burung keliling. Hasilnya, dalam sebulan dia mampu meraup omzet hingga Rp 40 juta.

Pengusaha sangkar burung Desa Megawon Kudus
Pengusaha sangkar burung Desa Megawon Kudus. Foto: Rabu Sipan

Saat ditemui di kediamanya yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat pembuatan sangkar, pria yang lebih dkenal dengan sapaan Rian itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan dari tempat usahanya itulah dia bisa melayani order ratusan sangkar burung dalam sebulan.

“Dalam kurun waktu sebulan di Pembuatan Sangkar Burung (PSB) Naila Putri bisa mengirim antara 230 sampai 260 set sangkar burung. Harga Rp 150 ribu per set berisi tiga sangkar,” ujar Rian yang mengaku nama tempat produksi sangkarnya dia ambil dari nama buah hatinya.

Baca juga: Ngasiran Jatuh Bangun Kembangkan Usaha Produksi Sangkar Burung, Kini Punya Banyak Pelanggan di Luar Jawa

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, sangkar produksinya tersebut dia rintis sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP). Namun dirinya pernah bangkrut dan bahkan dia juga pernah beralih pekerjaan. Lalu pada tahun 2008 saat burung kicau menjadi tren, dia mulai nekat membuka usahanya kembali.

Pada tahun tersebut dia langsung mempekerjakan sekitar enam orang dan sebulan baru bisa mendapatkan order sekitar 100 set sangkar burung. Namun menurutnya meski order masih belum seberapa tapi saat itu harga sangkar lebih tinggi dari sekarang yakni 160 ribu per set.

Menurutnya saat itu distribusi sangkarnya tidak hanya di Kudus saja namun sudah merambah daerah sekitar diantaranya Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, Blora dan Semarang. Namun yang namanya usaha pasti ada saja rintangannya, hingga pada tahun 2011 usahanya tersebut sepi order sedangkan setok produksinya melimpah.

“Padahal waktu itu burung kicau masih nge-hit tapi aku heran, kok usahaku sepi order. Lalu aku spekulasi kredit mobil pikap untuk menawarkan keliling sangkar burung yang aku produksi kepada para pedagang sangkar dan menghampiri para mantan pelangganku,” ujarnya.

Menurutnya hal tersebut berdampak positif terhadap penjualan produksi sangkarnya. Dia mengaku karena hal tersebut penjualan sangkar burungnya meningkat. Lalu untuk memperlebar pasar dia berinisiatif membawa keliling produksi sangkarnya ke Jawa Timur, di antaranya Jombang, Nganjuk, serta Kediri.

“Aku bersyukur dari keliling menawarkan sangkar produksiku, aku bisa mendapatkan order 80 set sangkar per dua pekan di tiga daerah tersebut,” ujarnya. Setahun kemudian, katanya, tanpa diduga dia mengaku mendapatkan order pembuatan sangkar dari orang di Kudus yang berjualan sangkar di Kalimantan, yang minta dikirim 80 set per dua pekan.

Pada tahun 2014 dia mengaku mendapatkan tambahan order dari Palembang yang minta dikirim 20 set sepekan. Namun satu setnya berisi empat sangkar dan dengan harga lebih mahal. Dan pada tahun 2016 dia menuturkan mendapatkan order dari Ketapang, Kalimantan yang minta dikirim sangkar 50 sampai 60 set sebulan. Dia mengatakan semua order dia layani asal pembayaranya di awal.

Dia mengatakan untuk melayani dan memenuhi semua order yang bertotal ratusan set tersebut dia mempekerjakan sekitar tujuh orang dengan sistem upah borongan. Dia mengaku bersyukur inisiatifnya untuk kredit mobil pikap membawa berkah untuk usahanya.

“Aku bersyukur kredit mobil pikap tersebut sudah lunas tiga tahun yang lalu. Dan sejak tiga tahun pula aku mulai kredit truk untuk usaha pengiriman pasir dan sesekali aku gunakan untuk mengirim sangkar ke Jawa Timur,” ungkapnya.

- advertisement -

Dongkrak Penjualan Rumah, Graha Kastara Peganjaran Beri Bonus Asuransi 15 Tahun Pada Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Sejumlah spanduk berukuran sekitar 2 meter terpampang di bahu-bahu Jalan Lingkar Utara Peganjaran Kudus. Tampak dalam spanduk tersebut bertuliskan kata promo spesial bonus asuransi 15 tahun uang kembali. Promo itu diketahui bagian dari fasilitas yang diberikan Agung Citra Khasthara (ACK) dalam memasarkan sejumlah unit rumah yang bernama Graha Kasthara.

Perumahan Graha Kastara
Perumahan Graha Kastara. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Marketing Manager, Rizky Okta Guniva (22), Agung Citra Khastara berdiri sejak 2012, tepatnya lebih dari empat tahun. Dia menjelaskan, Promo ini diterapkan untuk mendongkrak pemasaran perumahan Graha Kasthara. Promo yang  tersedia berupa bonus asuransi, bonus yang bisa diambil oleh pemilik rumah setelah 15 tahun dia membeli.

“Ini sebenarnya bagian dari fasilitas yang kami berikan kepada konsumen. Konsumen akan mendapatkan uangnya kembali sesuai nominal yang dikeluarkan setelah jangka waktu 15 tahun. Pemilik rumah juga tidak perlu membayar asuransi, itu sudah menjadi tanggung jawab kami,” ungkap Rizky waktu di temui di kantor pemasaran Agung Citra Khasthara, Graha Kasthara Peganjaran, Kecamatan Bae Kudus.

Pria yang tercatat sebagai warga di desa Rendeng RT 3 RW 4, Kecamatan Kota, Kudus, ini mengatakan, tipe rumah yang mendapatkan promo minimal di atas tipe 60. Ukuran maupun tipe yang disediakan Graha Kasthara beragam, mulai dari tipe 45, 60, 100 hingga tipe 300 untuk ukuran rumah yang lebih besar. “Semua desain kami minimalis, mulai dari lantai satu hingga lantai tiga,” ujar Rizky.

Dia menjelaskan, luas perumahan Graha Kasthara Peganjaran berukuran tiga hektare, dengan jumlah unit rumah sebanyak 95 unit. Fasilitas yang diberikan sementara ada dua, berupa masjid dan lapangan olahraga. Tapi untuk selanjutnya, dia akan memberikan fasilitas berupa waterboom serta club house untuk memanjakan konsumen.

Pria yang sudah dikaruniai satu orang anak ini menjelaskan, untuk bahan, pihaknya selalu mengedepankan mutu dan kualitas bangunan. Misalnya pasir, menggunakan bahan muntilan, dinding dari bahan batu merah dan atap rumah yang menggunakan baja ringan. “Kami selalu menggunakan bahan-bahan yang berkualitas dalam membuat rumah,” ungkapnya.

Dia menambahkan,  selain di Graha Kasthara Peganjaran, Agung Citra Khastara juga mempunyai satu cabang perumahan yang bernama Graha Kasthara Bacin. Perumahan yang bertempat di samping timur Djarum Oasis dengan jumlah rumah sebanyak 48 unit.

“Untuk pembayaran, bisa dengan cara tunai, kredit perumahan rakyat (KRP) dengan uang muka cuma 15 juta. Sedangkan harga yang kami tawarkan cukup terjangkau, hubungi saja nomor kami, 0853-1990-0036,” tambahnya.

- advertisement -

Perajin Bata Merah di Jepang Wetan Ini Risau Saat Musim Hujan Tak Memiliki Banyak Modal dan Stok

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Asap tampak mengepul di atas atap bangunan di tepi Jalan Lingkar Selatan Desa Jepang Wetan, kecamatan Mejobo, Kudus. Di tempat tersebut tampak seorang pria menggunakan alat untuk meratakan sekam padi yang menutupi tumpukan bata yang sedang dibakar. Tak jauh dari tempat tersebut terlihat dua orang sedang sibuk mencetak bata mentah. Di sudut lain tampak seorang pria beristirihat di bawah gubuk. Pria tersebut bernama Kadari, pembuat bata merah yang tengah risau karena intensitas hujan tinggi.

Perajin Bata Merah di Kudus
Perajin Bata Merah di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil beristirahat, kepada Seputarkudus.com, Kadari sudi berbagi keluh keluh-kesahnya. Dia mengatakan, saat musim hujan seperti sekarang, dia berharap memiliki banyak stok bata kering. Sehingga meskipun turun hujan dia masih bisa membakar bata merah lalu menjualnya. Namun dia mengakui hal tersebut tidaklah mungkin terjadi, karena ketiadaan uang untuk membeli bahan tanah liat, serta membayar pekerja untuk menyetok bata mentah saat musim kemarau.

“Aku sebenarnya setiap musim kemarau selalu menyetok bata kering yang akan aku bakar pada waktu musim hujan. Namun karena modalku tak seberapa, aku hanya mampu mempekerjakan dua orang untuk menyetok bata mentah lalu menjemurnya.  Dua orang tersebut selama musim kemarau bisa menghasilkan stok bata kering sekitar 75 ribu bata. Dan sudah aku bakar dan aku jual beberapa pekan lalu,” ujar Kardi saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang dikaruniai tiga orang anak tersebut mengatakan, jumlah tersebut masih jauh dari harapan untuk stok bata di musim hujan. Karena menurutnya, jumlah itu hanya memerlukan dua kali pembakaran. Dia menuturkan, untuk normalnya seorang pemilik usaha pembuatan bata merah memiliki stok bata mentah sekitar 300 ribu bata.

Kadari mengungkapkan, dengan memiliki stok bata kering berlimpah dia tidak akan kehabisan stok bata di musim hujan. Dan tentu dirinya masih mempunyai penghasilan saat stok bata merah tersebut sudah jadi dan dijual saat musim hujan. Menurutnya, pada musim hujan para pemilik usaha pembuatan bata kekurangan stok bata merah dan sering kehabisan. Hal itu mengakibatkan harga bata merah yang dijual pada musim hujan lebih mahal dibanding saat dijual pada musim kemarau.

“Di musim hujan aku menjual bata merah seharga Rp 600 ribu, terkadang juga Rp 650 ribu per seribu bata. Sedangkan di musim kemarau harga tersebut bisa berkurang karena stok bata yang berlimpah,” ujar Kadari yang mengaku, andai punya modal ingin nyetok bata sebanyak mungkin dimusim kemarau lalu dijual pada musim hujan, karena lebih laris meski dijual dengan harga lebih mahal.

Menurutnya untuk bisa menyetok bata merah hingga ratusan ribu batang membutuhkan biaya yang tak sedikit, bisa sampai puluhan juta rupiah. Dia menuturkan, usaha pembuatan bata merah bahan yang digunakan hampir semuanya beli. Tanah liat bahan baku pembuatan bata merah, dibeli dari Pati atau Jepara dengan harga Rp 250 ribu untuk satu truk.

Sedangkan untuk alat pembakaran dia mengaku menggunakan kayu dan sekam padi. Kayu, kata dia, beli satu truk dengan harga Rp 1 juta dan mampu membakar sekitar 15 ribu bata. Sedangkan sekam padi dia beli dengan harga Rp 800 ribu per truk serta mampu mematangkan 10 ribu bata merah. Sedangkan tenaga pencetak bata dibayar secara borong dengan harga Rp 150 ribu per seribu bata.

“Aku bersama tiga orang rekanku perajin bata merah dengan modal terbatas. Kami mempekerjakan orang hanya saat musim kemarau saja untuk menyetok bata, itupun hasil stok bata mentahnya tak seberapa. Dan saat musim hujan semua kami kerjakan sendiri dan saling membantu satu sama lainya,” ujar Kadari yang diiyakan tiga orang rekanya.

- advertisement -

Video: Sastrawan Aceh Mustafa Ismail ‘Meliuk-liuk’ Saat Membaca Puisi di Audit UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan orang terdiam saat seorang pria bertopi hitam berdiri di atas panggung. Bait demi bait puisi kemudian dibacanya, seraya menggoyangkan tubuh dan tangannya seirama dengan lantunan puisi. Dia adalah Mustafa Ismail (45), sastrawan dari Aceh yang tampil membawakan puisi dalam Apresiasi Sastra Dan Diskusi bertajuk “Kreatif Itu Keren”, di gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (31/1/2017) malam.

Sastrawan Aceh Mustafa Ismail di UMK
Sastrawan Aceh Mustafa Ismail di UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Mustafa, begitu dirinya akrab disapa, menjadi bintang tamu dalam acara yang diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Redaktur Budaya Koran tempo tersebut mendapat apresiasi yang baik dari ratusan penonton yang hadir. Gaya Mustafa yang “meliuk-liuk” menjadikan penampilannya sangat khas dibanding penampil yang lain. Tepuk tangan bergemuruh setelah Mustafa menyudahi penampilannya.

Usai acara, Mustafa sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang dunia kesusastraan. Dirinya tak menyangka bisa menjadi sastrawan seperti saat ini. Awalnya Mustafa hanya iseng menulis dan dikirim ke salah satu media di Aceh. Karena karyanya dimuat dan mendapat honor, dia ingin terus menulis agar mendapat uang.

“Saya mulai tekun menulis sejak SMA. Saya pernah mengirim karya ke media di Aceh dan dimuat. Nah sejak itu saya merasa menulis bisa mendapatkan uang ya. Lalu saya mulai tekun menulis. Kalau suka menulis sudah sejak SMP, tapi belum menekuni”, ungkap Mustafa.

Dia berharap di Kudus lebih sering membuat forum diskusi sastra seperti yang telah diselenggarakan Fasbuk. Bisa diskusi-diskusi kecil satu pekan sekali, tujuh atau delapan orang berkumpul berdiskusi dengan membawa karyanya untuk saling evaluasi. Tidak hanya di Kudus, Mustafa juga berharap di setiap daerah ada forum-forum diskusi dan apresiasi sastra.

“Penting forum-forum diskusi seperti ini, karena teman-teman butuh masukan dan perbandingan untuk terus berkembang. Seperti di Jogja, sudah banyak forum-forum diskusi, sehingga bermunculan generasi-generasi sastrawan muda,” jelasnya pria kelahiran Aceh itu.

Iwan Gunadi (48) yang juga menjadi narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan usai pembacaan puisi, sangat mengapresiasi penampilan penyair muda di Kudus. Menurutnya, sudah berani tampil saja sudah bagus, karena itu modal penting untuk menjadi seorang penyair. Selain keberanian, dia juga berpesan untuk terus menulis dan terus membaca, dua hal itu harus dilakukan jika ingin pandai menulis.

“Penampilan adik-adik tadi sudah bagus, yang penting berani tampil dulu. Dan jangan lupa, jika ingin pandai menulis harus terus menulis dan terus membaca. Karena tulisan yang bagus membutuhkan diksi yang kuat dan bahasa yang padat”, ujar pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat itu.

Jumari HS, sastrawan Kudus yang menjadi moderator diskusi, ingin selalu memotivasi penyair-penyair muda Kudus agar muncul generasi-generasi baru. Dia juga berpesan kepada sastrawan muda Kudus untuk terus berjejaring, dengan jaringan akan membantu seorang sastrawan untuk lebih berkembang.

“Saya berharap generasi-generasi penyair muda di Kudus akan muncul dan berkembang. Saya ingin terus memberi motivasi, belajar bersama dan berdiskusi. Terus berjejaring, karena butuh jaringan untuk seorang sastrawan agar dapat terus berkembang,” tuturnya.

- advertisement -

Kepala SMA Negeri 1 Kudus: Secara Pribadi Saya Ingin Bahasa Jawa Masuk Dalam Ujian Sekolah

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Laki-laki berkopiah hitam terlihat duduk di atas sofa coklat di ruangan tamu SMA 1 Kudus. Dia yang mengenakan seragam dinas didampingi seorang guru yang mengenakan seragam sama. Laki-laki tersebut yakni Kepala Sekolah SMA 1 Kudus, Shodiqun. Kepada Seputarkudus.com, dia menuturkan secara pribadi ingin mata pelajaran Bahasa Jawa masuk dalam Ujian Sekolah (US) kelas XII tahun ini.

Kepala SMA Negeri 1 Kudus Shodiqun
Kepala SMA Negeri 1 Kudus Shodiqun

Hal tersebut diungkapkan saat ditemui di ruangannya, Senin (30/1/2017). Keinginan itu diungkapkan menanggapi hasil rapat koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah tahun 2017 tanggal 22 Desember 2016 di Jakarta. Menurutnya hasil koordinasi tersebut menyatakan mata pelajaran Bahasa Jawa tidak diujikan dalam US atau USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional).

“Masuk atau tidak (Bahasa Jawa) nanti menunggu hasil rapat. Namun secara pribadi saya menginginnkan Bahasa Jawa masuk dalam US,” ungkap Shodiqun.

Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, mata pelajaran yang diujikan dalam UN 2017 antara lain Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan satu mata pelajaran sesuai dengan jurusan/peminatan siswa (SMA/MA).  Sedangkan sekolah menengah kejuruan (SMK) ditambahkan uji teori kejuruan sesuai dengan bidangnya. Sementara untuk US mata pelajaran yang diujikan antara lain Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Sejarah dan tiga mapel sesuai program studi untuk SMA/MA. Sedangkan SMK, Pendidikan Agama, PPKn dan Keterampilan Komputer.

Shodiqun menuturkan, Bahasa Jawa memiliki peran sangat penting untuk siswa, terutama dalam membentuk karakter budaya Jawa yang terkait budi pekerti dan kesantunan. Selain itu, Bahasa Jawa juga menjadi ciri kedaerahan yang sudah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa dan Implementasinya. Selain itu juga termaktub dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 19 Tahun 2014.

“Di SMA 1 Kudus Bahasa Jawa sudah masuk mulok (muatan lokal). wakturnya satu pekan dua jam (pelajaran),” jelasnya.

Sementara itu, siswi kelas XII MIPA 8 SMA 1 Kudus illyyun Nafida berharap Bahasa Jawa tetap diujikan di sekolahnya. Menurutnya, Bahasa Jawa sama pentingnya dengan mata pelajaran yang lain. Menurutnya di dalamnya banyak mengandung banyak pelajaran yang biasa dilakukan sehari-hari. Misalnya, unggah-ungguh, penggunaan bahasa krama dengan orang yang lebih tua dan tentunya tentang kebudayaan. “Sepakat (diujikan). Lumayan bisa menambah nilai (US),” ungkapnya sambil tertawa.

Dia mengaku khawatir, jika Bahasa Jawa tidak diikutkan dalam US, dan lama-lama tidak akan diajarkan di sekolah. Saat hal tersebut terjadi, menuurutnya nanti akan berpengaruh hilangnya identitas generasi sebagai orang Jawa.

- advertisement -

Panen di Desa Berugenjang Sudah Gunakan Mesin, Operatornya Didatangkan Langsung dari Lampung

0

SEPUTAR KUDUS.COM, BERUGENJANG – Laki-laki berkaus ungu terlihat serius mengemudikan mesin pemanen padi di area persawahan Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Dia mengenakan helm dan tangannya mengoperasikan kemudi mesin combine harvester tersebut. Laki-laki itu bernama Perli, pemuda asal Lampung yang mengaku didatangkan khusus untuk memanen padi lengkap berserta mesin yang dikemudikannya.

Mesin Pemanen Padi di Desa Berugenjang - Kudus
Pekerja memanen padi di Desa Berugenjang. Foto: Imam Arwindra

Perli mengungkapkan, dirinya sebelum panen musim tanam satu (MT 1) di Kudus sudah dikontrak para penebas untuk memanen padi, utamanya di daerah Desa Berugenjang. Menurutnya, mesin pemanen padi merk Yanmar AW70V, diklaim dapat memanen lahan padi satu hektare hanya dengan waktu sekitar 90 menit. “Untuk mengemudikan alat ini butuh mental tangguh” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com saat dirinya istirahat, Selasa (31/1/2017).

Menurutnya, untuk mengemudikan mesin pemanen padi dirinya perlu belajar intensif satu pekan. Terlebih, saat memanen pada tanah yang tidak rata, seperti di tanah Desa Berugenjang. Kalau tidak berhati-hati dan fokus, katanya hasilnya akan fatal.

Perli melanjutkan, selain bisa lebih cepat, padi yang dihasilkan lebih bersih dan tidak tersisa. Menurutnya, dari Lampung dirinya membawa tiga mesin pemanen padi berukuran besar. Dia menjelaskan, setiap satu alat combine harvester dapat dijalankan dua orang. Satu sebagai pengemudi dan satu orang lagi sebagai helper. Tugas helper di antaranya mewadahi buliran padi yang keluar dari mesin. “Namun jika sendirian saya juga bisa,” ungkapnya.

Untuk bahan bakarnya, Perli menyebutkan menggunakan solar. Menurutnya, mesin perontok padi yang dikemudikannya tergolong irit. Satu hektare sawah membutuhkan 12 liter solar. Untuk isi keseluruhan tangki kurang lebih 100 liter. Dirinya mengaku sudah berada di Desa Berugenjang selama sepekan. Dan kemungkinan akan selesai hingga satu bulan kedepan.

Saat ditanya, berapa harga sewa alat perontok padi tersebut, dia mengaku tidak tahu detail karena yang tahu antara penebas dan bos pemilik alat. Menurutnya, dia hanya dibayar Rp 200 ribu per hektare.

Suyoto, petani dan sekaligus penebas padi di Desa Berugenjang menuturkan, oprasional menggunakan mesin pemanen padi itu yakni Rp 2.200.000 per hektare. Menurutnya, oprasional tersebut jauh lebih murah ketimbang menggunakan jasa pengedos. Dia mengatakan, memanen secara manual setiap hektare membutuhkan biaya hingga Rp 3 juta. “Ini harga gabah turun Rp 3.200 per kilogram. Jadi bisa memangkas biaya operasional,” jelasnya.

- advertisement -

Belum Matang Saja Jeruk Pamelo Japan Jadi ‘Incaran’ Tengkulak, Dua Pohon Dijual Rp 2,8 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, JAPAN – Laki-laki berkaus merah tampak melihat-lihat buah jeruk pamelo yang dipanen di depan rumahnya. Sesekali dia membantu mengumpulkan buah tersebut untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Laki-laki tersebut yakni Noor Fuad (40), warga Desa Japan, Kecamatan Dawe, pemilik pohon jeruk pamelo yang ditanam di depan rumahnya.

Jeruk Pamelo Desa Japan Kudus
Warga Desa Japan, Dawe, memanen jeruk pamelo. Foto: Imam Arwindra

Saat sedang melihat buah yang sedang dipanen, Fuad mengaku telah menjual jeruk pamelo sejak masih berbentuk bunga. Menurutnya penjualan dilakukan dengan sistem tebas, bukan per buah. “Pengepulnya yang datang banyak. Jadi mereka rebutan mencari pohon jeruk pamelo sejak masih berbunga,” ungkapnya beberapa hari lalu.

Fuad melanjutkan, tengkulak yang datang tidak hanya dari Desa Japan saja, melainkan juga banyak dari luar Kudus. Dua pohon miliknya dijual dengan harga Rp 2,8 juta kepada tengkulak. “Kalau sudah dibeli tengkulak, banyak atau tidaknya hasil buah yang menanggung tengkulak. Begitu juga dengan perawatan pohonnya,” tambahnya.

Suparman (36), pengepul sekaligus pedagang dari Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati, membenarkan hal tersebut. Dia mengaku sengaja membeli buah pamelo sejak masih bunga. Hal tersebut dikarenakan para pedagang berebut mencari stok buah untuk dijual. Menurutnya dalam satu pohon terdapat sekitar 450 buah. “Jeruk pamelo dapat dipanen dua kali dalam setahun, sekitar Januari dan Juni,” terangnya.

Namun, menurutnya panen dilakukan tidak sekaligus seperti buah rambutan. Setiap pohon yang diambil sekitar 20 buah saja. Itu dilakukan untuk memastikan buah harus matang. “Ini saya bawa keranjang. Satu keranjangnya diisi 50-60 buah. Makanya pedagang seperti saya harus mencari banyak pohon. Supaya bisa sekali angkut,” tambahnya.

Pedagang yang sudah bertahun-tahun khusus menjual jeruk pamelo tersebut menuturkan, selain menjual di sekitar Kudus dan Pati, dirinya juga menjual buah tersebut ke Jakarta, Surabaya dan Malang. Dia menjual Rp 15 ribu per kilogram untuk buah pamelo kualitas super. Jika dijual per buah, harganya Rp 20 ribu. “Beratnya 1,3 kilogram lebih. Bentuknya mulus tidak berlubang,” terangnya.

Selanjutnya, untuk buah yang memiliki berat di bawah 1,3 kilogram, dirinya menjual seharga Rp 10 – 15 ribu per buah. Menurutnya, berat jeruk pamelo ada yang mencapai 4-5 kilogram. “Buah yang layak diambil yang sudah tua. Setelah terkumpul nanti langsung saya kirim,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Japan Sigit Tri Harso saat ditemui di kediamannya menuturkan, panen jeruk pamelo tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Menurutnya, hal tersebut terlihat dari banyaknya tengkulak yang datang untuk memanen buah. Secara detail dia mengaku belum mengetahui berapa jumlah buah yang dipanen. Namun menurutnya sudah ada lima truk yang mengangkut buah pamelo. Satu truk bisa mengangkut sekitar 2 ribu lebih. “Kalau satu truknya kira-kira 2 ribu. Lima truk bisa 10 ribu,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, 90 persen warga Desa Japan mempunyai tanaman jeruk pamelo yang ditanam di sekitar rumahnya. Selain bisa menjaga tanah supaya tidak longsor, juga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat. “Jumlah warga Desa Japan sekitar 5 ribu an,” jelasnya.

- advertisement -

Meski Sudah Punya Usaha Beromzet Rp 60 Juta Sebulan, Yunita Masih Ingin Tetap Kerja Kantoran

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Beberapa motor terlihat terparkir di depan toko pakaian di tepi utara Jalan Diponegoro, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. Di dalam toko tampak beberapa perempuan sedang asyik memilah serta memilih koleksi baju yang dipajang. Sesekali mereka terlihat secara bergantian masuk ruang pas untuk mencoba baju yang mereka sukai. Toko tersebut bernama Butik Dressy Gallery yang menjual pakaian dan aksesoris khusus perempuan.

Yunita Pemilik Dressy Galley Kudus
Yunita, Pemilik Dressy Galley Kudus. Foto: Rabu Sipan

Yunita Indah Lestari (23), adalah pemilik butik tersebut. Dia mengungkapkan mulai membuka butik sejak Mei 216, dengan modal sekitar Rp 60 juta. Usaha penjualan pakaian perempuan itu sebenarnya sudah dimulai sejak akhir 2014, namun hanya melalui penjualan secara online. Dan Kini omzet yang dia dapat mencapai Rp 60 juta dalam sebulan.

Meski telah memiliki usaha yang menjanjikan, perempuan asal Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, itu masih memiliki keinginan untuk bekerja kantoran. Niat tersebut tak terlepas dari keinginan orang tuanya yang berharap dirinya bekerja kantoran.

Baca juga: Cewek Asal Jepang Pakis Ini Awalnya Mulai Usaha Olshop Kecil-Kecilan, 2 Tahun Kemudian Punya Butik

“Saya sampai sekarang masih kuliah di Undip (Universitas Diponegoro) Jurusan Administrasi Bisnis. Orang tua ingin agar saya segera lulus dan bekerja sesuai bidang pendidikan yang saya tempuh di universitas. Katanya, di kuliahkan mahal-mahal kok tidak digunakan untuk kerja,” ujar Yunita kepada Seputarkudus.com.

Meski demikian, dirinya tetap ingin mengembangkan usaha yang sudah ditekuni beberapa tahun terakhir. Usaha penjualan pakaian perempuan tersebut tepatnya dia mulai sejak Desember 2014. Setelah berkembang, dia membuka butik dengan modal yang telah dia kumpulkan.

Menurut Yunita, modal tersebut bukan dari pemberian orang tuanya, atau hutang dari bank. Modal tersebut dia dia dapatkan dari hasil jerih payah berjualan baju secara online sejak Desember 2014.

“Modal Rp 60 juta itu aku gunakan untuk menyewa tempat selama dua tahun dengan harga Rp 20 juta. Lalu untuk mendesain ruangan aku harus mengeluarkan biaya Rp 10 juta. Sedangkan sisa uang, aku gunakan untuk berbelanja ratusan baju yang aku pajang di butik,” ujar perempuan yang akrab disapa Yunita kepada Seputarkudus.com

Dia mengatakan, sejak memiliki butik ia bisa lebih banyak menjual daganganya dibanding saat dia masih berjualan lewat online. Menurutnya, saat berjualan online dia mampu menjual baju 10 pcs sehari. Sekarang dia mampu menjual sekitar 50 pcs dalam waktu yang sama. Dari penjualan tersebut dia mengaku mendapatkan omzet sekitar 60 juta dalam sebulan.

Dengan memiliki butik, kata dia, para pelanggan online-nya yang berada di Kudus, Pati, Demak serta Jepara, sering datang dan melihat langsung koleksi baju dan aksesoris yang dia pajang di butik. Menurutnya, mereka yang datang ke butik biasanya pasti membeli. Jika tidak ada model atau warna yang cocok, biasanya mereka memesan.  Setelah ada stok, dia memberikan konfirmasi dan transaksi secara online.

“Meski sudah memiliki butik, aku tetap aktif menawarkan daganganku di instagram dengan Id @Dressy_Gallery. Karena keduanya saling berkaitan. Online untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sedangkan butik untuk meyakinkan para pelanggan sekitar,  yang mungkin ingin mengecek dan melihat semua koleksi baju yang aku jual,” ujar perempuan lajang tersebut.

Yunita menuturkan, di butiknya tersebut menyediakan aneka baju perempuan di antaranya, baju atasan, dres, rok pendek maupun panjang, celana, serta tas. Aneka jenis baju perempuan itu dia datangkan dari Jakarta. Dia mengaku, menjual baju tersebut dengan harga antara Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu per pcs.

Dia mengungkapkan butiknya tersebut buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB sampai 20.00 WIB. Sedangkan untuk aktivitas jual beli di butik maupun online, dia dibantu satu orang karyawannya. Dia berharap usahanya tersebut terus berkembang dan kelak dia bisa memiliki modal untuk memproduksi baju sendiri.

“Itu harapan jangka panjangku, untuk saat ini aku ingin memiliki website untuk transaksi jual beli online shop miliku, serta secepatnya bisa menyelesaikan sekripsi dan lulus. Setelah itu, aku ingin kerja di kantor sesuai ilmu yang aku dapatkan semasa kuliah, untuk menyenangkan hati kedua orang tuaku,” ungkap Yunita.

- advertisement -