31 C
Kudus
Kamis, Juni 19, 2025

Perajin Bata Merah di Jepang Wetan Ini Risau Saat Musim Hujan Tak Memiliki Banyak Modal dan Stok

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Asap tampak mengepul di atas atap bangunan di tepi Jalan Lingkar Selatan Desa Jepang Wetan, kecamatan Mejobo, Kudus. Di tempat tersebut tampak seorang pria menggunakan alat untuk meratakan sekam padi yang menutupi tumpukan bata yang sedang dibakar. Tak jauh dari tempat tersebut terlihat dua orang sedang sibuk mencetak bata mentah. Di sudut lain tampak seorang pria beristirihat di bawah gubuk. Pria tersebut bernama Kadari, pembuat bata merah yang tengah risau karena intensitas hujan tinggi.

Perajin Bata Merah di Kudus
Perajin Bata Merah di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil beristirahat, kepada Seputarkudus.com, Kadari sudi berbagi keluh keluh-kesahnya. Dia mengatakan, saat musim hujan seperti sekarang, dia berharap memiliki banyak stok bata kering. Sehingga meskipun turun hujan dia masih bisa membakar bata merah lalu menjualnya. Namun dia mengakui hal tersebut tidaklah mungkin terjadi, karena ketiadaan uang untuk membeli bahan tanah liat, serta membayar pekerja untuk menyetok bata mentah saat musim kemarau.

“Aku sebenarnya setiap musim kemarau selalu menyetok bata kering yang akan aku bakar pada waktu musim hujan. Namun karena modalku tak seberapa, aku hanya mampu mempekerjakan dua orang untuk menyetok bata mentah lalu menjemurnya.  Dua orang tersebut selama musim kemarau bisa menghasilkan stok bata kering sekitar 75 ribu bata. Dan sudah aku bakar dan aku jual beberapa pekan lalu,” ujar Kardi saat ditemui beberapa waktu lalu.

-Advertisement-

Pria yang dikaruniai tiga orang anak tersebut mengatakan, jumlah tersebut masih jauh dari harapan untuk stok bata di musim hujan. Karena menurutnya, jumlah itu hanya memerlukan dua kali pembakaran. Dia menuturkan, untuk normalnya seorang pemilik usaha pembuatan bata merah memiliki stok bata mentah sekitar 300 ribu bata.

Kadari mengungkapkan, dengan memiliki stok bata kering berlimpah dia tidak akan kehabisan stok bata di musim hujan. Dan tentu dirinya masih mempunyai penghasilan saat stok bata merah tersebut sudah jadi dan dijual saat musim hujan. Menurutnya, pada musim hujan para pemilik usaha pembuatan bata kekurangan stok bata merah dan sering kehabisan. Hal itu mengakibatkan harga bata merah yang dijual pada musim hujan lebih mahal dibanding saat dijual pada musim kemarau.

“Di musim hujan aku menjual bata merah seharga Rp 600 ribu, terkadang juga Rp 650 ribu per seribu bata. Sedangkan di musim kemarau harga tersebut bisa berkurang karena stok bata yang berlimpah,” ujar Kadari yang mengaku, andai punya modal ingin nyetok bata sebanyak mungkin dimusim kemarau lalu dijual pada musim hujan, karena lebih laris meski dijual dengan harga lebih mahal.

Menurutnya untuk bisa menyetok bata merah hingga ratusan ribu batang membutuhkan biaya yang tak sedikit, bisa sampai puluhan juta rupiah. Dia menuturkan, usaha pembuatan bata merah bahan yang digunakan hampir semuanya beli. Tanah liat bahan baku pembuatan bata merah, dibeli dari Pati atau Jepara dengan harga Rp 250 ribu untuk satu truk.

Sedangkan untuk alat pembakaran dia mengaku menggunakan kayu dan sekam padi. Kayu, kata dia, beli satu truk dengan harga Rp 1 juta dan mampu membakar sekitar 15 ribu bata. Sedangkan sekam padi dia beli dengan harga Rp 800 ribu per truk serta mampu mematangkan 10 ribu bata merah. Sedangkan tenaga pencetak bata dibayar secara borong dengan harga Rp 150 ribu per seribu bata.

“Aku bersama tiga orang rekanku perajin bata merah dengan modal terbatas. Kami mempekerjakan orang hanya saat musim kemarau saja untuk menyetok bata, itupun hasil stok bata mentahnya tak seberapa. Dan saat musim hujan semua kami kerjakan sendiri dan saling membantu satu sama lainya,” ujar Kadari yang diiyakan tiga orang rekanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER