Beranda blog Halaman 1927

Cewek Asal Jepang Pakis Ini Awalnya Mulai Usaha Olshop Kecil-Kecilan, 2 Tahun Kemudian Punya Butik

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di dalam sebuah butik pakaian di Jalan Diponegoro 58, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak seorang perempuan muda berjilbab terlihat sibuk dengan smartpone di tanganya. Perempuan tersebut juga tampak sibuk memotret beberapa pakaian wanita lalu diunggah ke media sosial Instagram. Perempuan muda tersebut bernama Yunita Indah Lestari (23), pemilik butik Dressy Galery. Dia memulai usaha butik tersebut hanya bermodal Rp 500 ribu.

Tren Fashion Remaja Kudus - Dressy Gallery
Dressy Gallery Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang biasa disapa Yunita itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya di bidang fashion tersebut. Dia mengisahkan, sebelum memiliki butik, dia mengaku berjualan pakaian wanita secara daring (online). Menurutnya berjualan secara online dia mulai pada bulan Desember 2014, saat dirinya semester enam jurusan Administrasi Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

“Karena saat waktu itu aku ingin mandiri dan memiliki penghasilan saat masih kuliah, maka aku beranikan diri untuk membuka usaha Butik. Lalu aku mulai berjualan busana wanita dengan modal Rp 500 ribu. Pakaian perempuan aku pasarkan melalui mendia sosial Intagram dengan id @Dressy_Galelery,” ujar Yunita sambil melihatkan beberapa foto busana yang dia tawarkan di Instagram miliknya.

Perempuan yang tercatat sebagai Warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati itu menuturkan, saat pertama berjualan dia mengaku tertipu dan uang modal melayang. Barang yang dikirim supplier jelek dan rusak. Meski begitu, dia tak ingin larut dalam kesedihan. Untuk tetap bisa berjualan, dia memutuskan untuk menjadi reseller menjual busana milik orang lain dan tanpa modal.

Dia mengatakan, sepekan menjadi reseller dirinya setiap hari mampu menjual pakaian setidaknya satu pcs. Lalu dalam waktu sebulan keuntungan yang dia kumpulkan, mampu dipergunakan untuk modal berbelanja busana wanita dan dia jual kembali secara online. Sejak saat itu, dia mengaku mulai menjual barang daganganya sendiri, selain tetap menjual barang orang lain. Karena menurutnya modalnya belumlah seberapa.

“Sejak aku menjual busana milikku sendiri, aku sangat bersemangat menawarkan berbagai macam busana wanita lewat Instagram miliku. Agar barang daganganku makin dikenal dan diminati, aku ikut beberapa komunitas online shop di Instagaram. Tak lupa aku juga aktif endorse,” ungkap Yunita yang mengaku memiliki 99,8K follower itu.

Menurutnya sejak ikut beberapa komunitas online shop dan aktif endorse di Instagram, penjualan busananya meningkat. Sehari, dia mengaku mampu menjual tak kurang dari 10 pcs, dari berbagai model busana wanita yang dia tawarkan. Sejak itu dia mengaku mulai memiliki beberapa pelanggan dari berbagai daerah. Tidak hanya dari pulau Jawa, namun juga di beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan pernah mengirim pakaian ke Negeri Jiran, Malaysia.

Dia menuturkan, setelah usaha online shop-nya mulai dikenal, Yunita punya keinginan membuka butik di Kudus. “Alhamdulillah keinginanku tersebut sekarang sudah terlaksana. Kini aku sudah memiliki butik yang aku beri nama Dressy Galeri. Modal membuka butik murni dari jualan Pakaian secara online. Dari hasil tersebut pula, aku membiayai kuliahku serta biaya hidup di Semarang, ” ujar Yunita yang mengaku kuliahnya hanya menunggu sekripsi tersebut.

- advertisement -

Akhir Bulan Ini Fasbuk Hadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang di Auditorium UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Bagunan megah tampak di bagian depan kampus umum terkemuka di Kabupaten Kudus, Universitas Muria Kudus (UMK). Gedung tersebut sering digunakan untuk gelaran acara-acara kemahasiswaan dan lain sebagainya. Gedung tersebut yakni Auditorium. Dalam waktu dekat, gedung itu akan digunakan untuk menggelar acara Apresiasi Sastra Dan Diskusi bertajuk “Kreatif Itu Keren”.

Dalam pers rilis yang dikirim ke redaksi Seputarkudus.com, disebutkan, acara ini akan diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Acara yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan KSR PMI UMK akan diselenggarakan pada hari Selasa, 31 Januari 2017, pukul 19.30 WIB.

Dalam rilis juga ditulis, acara kali ini akan menghadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang, selain diskusi akan ada pertunjukan pembacaan puisi dari penyair-penyair muda Kudus. Mustafa Ismail dan Iwan Gunadi, merupakan dua sosok sastrawan yang mempunyai ciri  khas dalam karyanya. Keduanya mempunyai bekal pengalaman perjalanan yang hampir sebanding dalam hal menulis.

Fasbuk - Apresiasi Sastra danDijelaskan, Mustafa Ismail seorang penulis kelahiran Aceh, sekarang tinggal di Jakarta aktif  di majalah Tempo sebagai rektur seni dan budaya, banyak karyanya yang dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Dan Iwan Gunadi  seorang penulis yang mempunyai  pengalaman menjadi pendidik, dan sejak tahun 2008 dia merupakan seorang penulis dan penyunting lepas bagi organisasi dan perusahaan. Dengan kejujuran dan semangat berkarya membuat keduanya hingga sekarang  masih bertahan di dunia seni dan menjadi penyair.

Ditambahkan, proses kreatif seorang penulis dihadapkan pada imajinasi dan observatif di kehidupan sekelilingnya, hal tersebut ada kaitannya pada suatu hubungan dari daya ungkap yang dapat membentuk karakter, nilai estetika serta naluri yang sering dijumpai pada ruang penciptaan karya. Puisi, cerpen, esai maupun novel tak lepas dari nilai kekuatan sumber referensi bagi siapapun guna untuk memperluas serta memperdalam perenungan diri demi membentuk cipta karya seorang kreator.

- advertisement -

Sejak Sajikan Menu Bakso Beranak, Warung Bakso di Garung Lor Ini Kewalahan, 500 Porsi Ludes Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di tepi jalan Kudus – Jepara, tepatnya di selatan lampu merah tampak warung bakso ramai pembeli. Di sudut lain terlihat seorang perempuan berambut pirang tampak sibuk menyiapkan bakso sebesar bola tenis untuk dihidangkan kepada para pengunjung.  Tampak pula para pembeli silih berganti datang dan memesan bakso dan seolah tanpa henti. Warung tersebut yakni warung Bakso King, yang kini memiliki menu spesial bakso beranak yang diburu para penikmat bakso di Kudus.

Bakso beranak

Menurut Resa Desiana (31), pemilik warung Bakso King, beberapa pekan yang lalu di Bogor sedang heboh bakso beranak. Dia menjelaskan, bakso beranak yakni bakso berukuran besar yang di dalamnya berisi bakso kecil-kecil, telur serta irisan tahu. Bakso tersebut sangat laris dan diminati pembeli, bahkan juga diberitakan televisi nasional. Karena alasan tersebut dia mengatakan, beberapa temanya menyarankan untuk membuat dan menjual bakso beranak.

“Sebenarnya saat menonton berita di televisi tentang bakso beranak aku sudah ingin membuat lalu aku jual diwarung baksoku. Namun karena pertimbangan harga jualnya yang lumayan mahal, saat itu aku urungkan dulu niatku,” kata perempuan yang akrab disapa Resa di warung miliknya, kepada Seputarkudus.com.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota itu mengatakan, bakso beranak di Bogor dijual dengan harga Rp 45 ribu untuk satu porsi. Karena alasan harga jual dia mengaku ragu, apa laku masyarakat Kudus ditawari bakso dengan harga tersebut. Namun karena para sahabatnya selalu memeberi saran dan masukan, dan karena suaminya mendukung penuh, akhirnya dia mulai menjual bakso beranak.

“Empat hari yang lalu aku mulai menambah menu bakso di warungku yakni bakso beranak. Dan setelah dikalkulasi, aku tidak mematok harga semahal bakso beranak yang dijual di Bogor. Aku menjual lebih murah yakni Rp 25 ribu seporsi,” ujar Resa.

Saat berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com, sering sekali terganggu karena banyaknya penikmat bakso beranak yang datang ke warung Bakso King. Terlihat Resa menyambut dan menyapa ramah para calon pembeli, serta tak lupa menawarkan bakso beranak produk andalanya. Tak lupa saat para penikmat baksonya hendak keluar dari warung, selalu dia sempatkan untuk ucapkan terima kasih.

Perempuan yang memiliki enam anak itu mengatakan, sejak ada menu bakso beranak warungnya semakin ramai pembeli. Bahkan belum dibuka sudah ada beberapa orang yang mengantre. Dia mengaku sejak menjual bakso beranak warung Bakso King bisa menjual antara 400 sampai 500 porsi bakso sehari.

“Sebenarnya sebelum ada menu bakso beranak warung baksoku juga sudah ramai. Namun sejak menjual bakso beranak jumlah pembeli meningkat, bahkan aku sampai kewalahan melayani. Semoga ke depan warung baksoku selalu laris dan aku bisa membuat menu bakso baru yang diminati para pembeli,” harapnya

Nia Kurnia (25), perempuan asal Jepara yang datang ke warung Bakso King, mengaku bakso beranak di tempat tersebut rasanya sangat enak. Rasa dagingnya sangat terasa dan asin serta sedapnya juga pas. Dan irisan cabai yang ada di dalam bakso menambah lahap dirinya untuk menyantap.

- advertisement -

Ngasiran Jatuh Bangun Kembangkan Usaha Produksi Sangkar Burung, Kini Punya Banyak Pelanggan di Luar Jawa

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Di rumah bercat kuning di Dukuh Kencono Wungu RT 2/ RW 1 Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, tampak seorang pria mengenakan topi sibuk menata ratusan sangkar burung. Pria tersebut merupakan pemilik rumah, Ngasiran (31) namanya. Di rumahnya itu dia memproduksi sangkar burung yang dinamainya Pembuatan Sangkar Burung (PSB) Naila Putri.

jual sangkar burung kudus
Ngasiran menunjukkan sangkar burung hasil kerajinan yang dia buat di rumahnya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang lebih dikenal sebagai Rian itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, usaha yang dirintis sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP) tersebut sekarang sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan dia mengaku sangkar hasil produksinya mampu menjangkau pasar pulau luar Jawa.
“Sangkar burung hasil produksiku tidak hanya diminati para pedagang sangkar di Karisedanan Pati. Namun aku juga memiliki pelanggan di beberapa daerah di Jawa Timur, serta beberapa pelanggan yang berada di beberapa daerah di luar Jawa, di antaranya, Sampit, Ketapang, dan Palembang,” ujarnya.

Namun menurutnya untuk membuat usahanya memiliki pelanggan sampai Jawa tidaklah mudah, dirinya harus melalui proses yang panjang. Bahkan dia mengaku usaha yang dirintisnya tersebut pernah tutup dan dia bangkrut karena sepi order. Rian mengisahkan, sebelum membuka usaha secara mandiri, dia terlebih dulu bekerja ikut tetangganya yang memiliki usaha pembuatan sangkar burung.
“Sejak lulus Sekolah Dasar (SD) selain aku sekolah SMP, aku menggunakan waktu luangku untuk bekerja menjadi pengrajin sangkar burung. Hal tersebut aku lakukan untuk membantu biaya sekolah agar sekolahku tak putus di tengah jalan. Tak jarang waktu itu aku lembur sampai malam saat garapan sedang ramai,” katanya.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, setelah lulus SMP tepatnya tahun 2001 dia mengaku membuka sendiri usaha pembuatan sangkar burung dengan modal dan alat seadanya. “Pertama buka usaha aku kerjakan sendiri pembuatan sangkar burung. Dan untuk penjualan aku titipkan pada tetangga yang memiliki usaha yang lebih besar,” tutur Rian yang mengaku saat itu dia mampu memproduksi 30 sampai 50 set sangkar sebulan. Satu setnya berisi tiga sangkar.

Dengan berjalanya waktu, dia mengatakan mendapatkan order pembuatan sangkar sendiri dari para pedagang burung di Pasar Johar Kudus. Saat itu dia sempat memiliki tiga pekerja untuk membantunya membuat sangkar burung. Setelah berjalan dua tahun tepatnya pada tahun 2003 dia harus menerima kenyataan usaha pembuatan sangkar burungnya sepi order, dan dia bangkrut.
Setelah usahanya tutup, dia ikut kerja pada orang lain. Namun sayangnya tidak berselang lama, karena tempat kerjanya juga mengalami sepi order dan tutup. Karena menganggur dan waktu itu istrinya juga baru melahirkan anak pertamanya, dia memutuskan untuk kerja di tempat pembuatan paving blok.
“Meski pekerjaan tersebut lebih berat tapi aku semangat mengerjakanya karena aku baru saja memiliki anak. Aku kerja di tempat tersebut juga bertahan sampai satu setengah tahun,” Tutur Rian yang mengaku keluar kerja di tempat tersebut karena dia menerima tawaran temannya kerja menjadi kernet truk ekspedisi.

Menurutnya karena menjadi kernet truk ekspedisi tidak berangkat setiap hari, dia memanfaatkan waktu luang dengan mengambil garapan membuat sangkar burung. Hingga pada tahun 2008 saat burung kicau booming, usaha pembuatan sangkar yang dia geluti kembali berkembang.
“Pada tahun tersebut burung kicau nge-hit, dan usaha pembuatan sangkar milik saya ikut kebanjiran order. Karena aku tidak ingin melewatkan momen tersebut, aku nekat mendirikan kembali usaha pembuatan burung sangkar dan alhamdulillah pemasaranya bisa sampai pulau seberang,” ujarnya.

- advertisement -

Alumni UMK Ini Pernah Dikontrak 2 Tahun Label Ternama di Indonesia, dan Awal Tahun Ini Luncurkan Single Kedua

0
SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Petikan suara gitar terdengar dari dalam Kedai Muria Jalan Kudus-Colo, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus. Tampak laki-laki berambut lurus sedang memainkan gitar dan menyanyikan lagu berjudul “Andai Kau Mengerti”. Laki-laki tersebut yakni Anton Ferdinan, pemuda asal Desa Jurang, Dawe, Kudus yang menciptakan lagu pertamanya di bawah naungan label Warner Music Indonesia.

Anton Ferdinan. Foto: Istimewa

 

Saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini, lagu tersebut menurutnya sudah diciptakan pada 2011 sejak masih kuliah di Universitas Muria Kudus (UMK).  Lagu itu menceritakan kisah kasih yang terinspirasi dari teman-temannya sewaktu kuliah di Fakultas Psikologi UMK.“Jadi ada seseorang laki-laki yang suka dengan perempuan atau sebaliknya, namun tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dengan kejadian hal tersebut muncullah lagu andai kau mengerti,” jelasnya yang lulus dari Fakultas Psikologi UMK tahun 2014.

Dia melanjutkan, kejadian tersebut tidak dialami satu dua orang saja, melainkan hampir keseluruhan temannya. Menurutnya, dia juga sering dijadikan tempat curhat dari teman-temannya yang suka dengan seseorang namun tidak berani mengungkapkannya. “Itu bukan pengalaman pribadi saya loh ya. La wong sudah bertahun-tahun saya tidak punya pacar. Alias jomblo akut,” ungkapnya sambil tertawa. 

 

Pemuda yang terlahir dengan nama Anton Noor Ferdi mengungkapkan, lagu tersebut pernah dimainkan bersama bandnya sewaktu kuliah dulu, bernama Black Shadows. Menurutnya, saat itu dirinya bersama band yang anggotanya mahasiswa UMK memiliki tiga lagu, Biar Ku Sendiri, Kisahku dan terakhir Andai Kau Mengerti.“Saya dulu pegang gitar dan backing vokal. Namun karena memiliki kesibukan masing-masing akhirnya saya melanjutkan sendiri dengan solo karir sebagai penyanyi,” tutur Anton yang sering menjuarai perlombaan musik di Kudus.

Laki-laki kelahiran Kudus, 11 Januari 1991 tersebut melanjutkan, setelah lulus dari UMK tahun 2014 dia mulai melakukan rekaman lagu di Pati dan di Semarang. Dan pada akhirnya dirinya nekat ke Jakarta untuk menyodorkan hasil karyanya di Warner Music Indonesia. “Saya nekat ke Jakarta. Kebetulan di sana ada teman untuk tempat menginap,” ungkapnya.
Pada akhirnya lagu Andai Kau Mengerti diterima dan sekaligus mendapatkan kontrak dua tahun dari Warner Music Indonesia tahun 2015 sampai 2017. Menurutnya, lagu keduanya sudah dipersiapkan berjudul “Kisahku”. Alasan dia memilih genre pop karena banyak diminati masyarakat.”Untuk lagu kedua berkisah tentang penantian seseorang yang ditinggal kekasihnya entah kemana, namun dia masih setia menunggu. Lagu ini dirilis awal tahun 2017 oleh Joker Group Indonesia,” tambahnya.

 

- advertisement -

Ratemi Sempat Diminta Pergi Satpol PP dari Tempatnya Berjualan, Tapi Kini Dia Mendapatkan Hikmahnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO –  Seorang perempuan renta memakai jilbab merah tampak sibuk melayani para pembeli di samping pagar pembatas Pasar Bitingan dengan Cafe Lunatik. Perempuan tersebut bernama Ratemi (60), seorang pedagang sayur, bumbu serta buah. Di meski sudah renta, dia harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

pedagang sayur pasar bitingan'
Ratemi melayani pembeli tak jauh dari Pasar Bitingan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani para pembeli Ratemi sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku sudah berjualan sekitar tiga tahun. Namun menurutnya sebelum berjualan di tempatnya sekarang dia dulu berdagang di atas trotoar samping pintu keluar pabrik rokok yang berada di Jalan KH Wachid Hasyim.

“Dulu aku berjualan di atas trotoar samping pintu keluar pabrik rokok. Karena di sana diminta pergi Satpol PP, aku memilih pindah di tempat sekarang,” ujar perempuan yang saat berjalan sudah membungkuk tersebut.

Perempuan warga Desa Gajah, Demak, itu mengatakan, berjualan hanya sampai pukul 13.00 WIB. Karena menurutnya setiap karyawan pabrik sudah pulang dagangan aneka bumbu dan sayurnya sepi pembeli.

“Aku berjualan menyesuaikan waktu dengan karyawan pabrik rokok. Saat karyawan sudah pulang tak lama berselang aku juga menutup daganganku, meskipun daganganku belum habis terjual,” ujar Ratemi.

Dia mengatakan sisa barang daganganya tersebut biasanya dia titipkan di tempat titipan sepeda disebelah Pasar Bitingan. Lalu esok harinya barang daganya tersebut dia ambil dan dia jual kembali.

“Meski aktivitas berjualanku aku sesuaikan dengan karyawan pabrik rokok, namun tak jarang para pengunjung pasar yang membeli kebutuhan dapurnya di lapakku. Ternyata dari pengusiran petugas sekarang ada hikmahnya. Karena berjualan di tempat sekarang lebih laris,” ujar Ratemi yang mengaku dapat meraup omzet sekitar Rp 400 ribu sehari.

Perempuan yang sudah dikaruniai tujuh anak tersebut mengatakan, di usia senjanya dia tetap harus berjualan. Hal tersebut harus dia lakukan karena di antara ketujuh anaknya ada yang belum menikah.

“Dua di antara tujuh anakku itu belum menikah. Jadi aku harus tetap menanggung beban hidup mereka,” bebernya.

Dengan berjualan menurut dia, hasilnya selain bisa mencukupi kebutuhan keluarga juga buat persiapan saat sewaktu – sewaktu dua anaknya tersebut menikah. Karena menurutnya dua anaknya hanya bekerja serabutan.

- advertisement -

Ayam Cemani Milik Pak Kumis Dijual Rp 1 Juta per Ekor, Tapi Tak Pernah Ada Pembeli yang Menawar

0
SEPUTAR KUDUS.COM, WERGU KULON – Di tepi utara Jalan KH Agus
Salim, Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, tepatnya seberang Pasar Johar Kudus, terlihat sebuah rumah bercat hijau. Di halaman rumah terlihat kandang besi
bersusun yang dalamnya berisi belasan ayam yang dari paruh, bulu, kaki, serta
kukunya berwarna hitam pekat. Di samping kandang terlihat pria tua dengan
peci putih serta berkumis tebal, sedang menyiapkan makan untuk belasan ayam
tersebut. Pria itu bernama  Suhardi (65)
peternak dan penjual ayam cemani.

jual ayam cemani
Pak Kumis sedang menunjukkan ayam cemani yang dibudi dayakan di rumahnya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang lebih dikenal
dengan sebutan Pak Kumis itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan mulai budi daya ayam cemani dan berjualan sejak tahun 1993. Dia saat itu mengaku tergiur berjualan
ayam cemani karena harganya yang lebih mahal dari ayam pada umumnya.
“Ayam hitam itu harganya lebih mahal dari ayam biasa, karena
ayam tersebut jarang ada di pasar. Satu ekor ayam hitam jantan aku bisa
menjualnya dengan harga Rp 1 juta,” ujar Pak kumis sambil menunjukan ayam
sesuai harga yang dia sebut.
Menurutnya para calon pembeli ayam cemani biasanya jarang
sekali menawar. Apalagi kalau ayam yang pembeli pilih harganya di bawah Rp 1
juta. Dia mengatakan, selain harga Rp 1 juta per ekor, dia juga menyediakan ayam
cemani dengan harga Rp 200 ribu, serta Rp 500 ribu per ekor.

budi daya ayam cemani
Ayam cemani

“Meski aku menyediakan ayam cemani seharga Rp 200 ribu
per ekor, namun ayam tersebut kurang diminati pembeli karena masih terlalu
kecil. Biasanya para pembeli lebih memilih ayam dengan harga lebih dari Rp 500 ribu karena menurut mereka ayam hitam dengan harga tersebut baru pantas dibuat
ingkung,” tuturnya.
Pria tua yang sudah dikaruniai empat anak serta delapan cucu
itu mengatakan, para pelangganya tidak hanya datang dari Kudus saja. Melainkan
meliputi daerah tetangga diantaranya, Demak, Pati, Jepara, Purwodadi, Rembang.
Bahkan tak jarang ada orang Surabaya datang untuk membeli ayam hitam miliknya.
Dia mengatakan pada waktu penjual binatang kaki dua belum
pindah dari Pasar Johar Kudus ke pasar hewan di Jati, dia bisa menjual sekitar
25 ekor ayam hitam sebulan. Namun setelah para pedagang hewan pindah dia
mengaku kena dampaknya dan hanya mampu menjual 15 ekor ayam cemani dalam kurun
waktu yang sama.

Meski kini penghasilanya kini menurun, dia mengaku tetap bersyukur. Karena dengan menjual
ayam cemani serta istrinya membuka warung makan kecil-kecilan di rumah, dia mampu
mengantarkan empat anaknya meraih cita-cita mereka dan hidup mandiri bersama
keluarga kecilnya.
“Kini setelah anakku semua menikah dan mempunyai keluarga
sendiri. Bahkan ada yang tinggal dan punya usah di Bali. Aku seperti pengantin
baru, karena hidup berdua menempati rumah bersama istriku,” ujar Pak Kumis
sambil mengalihkan pandangan ke istrinya dan dibalas dengan senyuman sama istri
tercintanya.

- advertisement -

Cerdik, Mbah Yo Pasang Papan Tertulis Durian Harga Rp 10 Ribu, Pembelipun Akhirnya Berdatangan

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi timur Jalan Agil
Kusumadya, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, tepatnya di seberang jalan kantor
PLN Kudus, tampak puluhan buah durian tergantung tali rafia. Di bawah puluhan
buah tersebut tampak papan dengan tulisan “Duren di Atas Rp 10
ribu Mbah Yo”. Di samping tulisan tersebut seorang pria memakai topi sedang
menunggu pembeli. Pria tersebut bernama Suyoto (62), penjual durian.

jual durian di kudus
Pembeli membawa pulang durian yang dijual Mbahyo, di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Foto: Rabu Sipan


Saat sedang menunggu pembeli, pria yang akrab disapa Mbah Yo
itu sudi berbagi kisah tentang jualanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku
sudah berjualan buah durian di seberang kantor PLN selama sebulan. Menurutnya
untuk menarik minat pembeli di lapaknya dia pasangi tulisan di papan.

“Tulisan tersebut memang sengaja aku pasang untuk menarik
minat pembeli. Dan karena tulisan tersebut tak jarang para calon pembeli yang
menanyakan, mana durian yang harganya Rp 10 ribu,” ujarnya.

Dia mengatakan, dari sekian banyak pembeli, dia yakin
sebenarnya para pembeli paham durian dengan harga Rp 10 ribu itu
pasti rasanya kurang cocok di lidah mereka. Namun begitu para pembeli bertanya
dia selalu menunjukan buah berduri dengan harga yang diucapkan
para pembeli.


“Aku itu penjual durian yang sudah sangat berpengalaman,
karena aku tahu rasa durian itu hanya dari aroma luarnya saja. Sebab itulah aku menjual durian sesuai rasa selain ukuran buah tersebut,” ungkapnya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Megawon, Kecamatan
Jati itu mengatakan, berkat tulisan tersebut banyak calon pembeli yang penasaran
dan akhirnya membeli durian yang dia jual. Dia mengatakan, selain
harga Rp 10 ribu per buah, Mbah Yo juga menjual durian dengan harga Rp 25 ribu,
Rp 50 ribu bahkan ada juga yang dia jual dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 170
ribu per buah.

“Di hari biasa aku bisa menjual sekitar 75 buah sehari didominasi penjualan paling laris durian dengan harga Rp 50 ribu
per buah. Sedangkan untuk Sabtu dan Minggu aku bisa menjual lebih banyak
yakni 200 buah sehari,” ujar Mbah Yo yang mengaku dari berjualan durian bisa
meraup omzet Rp 2,5 juta di hari biasa.


Di sela obrolan, datang seorang pria berkaca mata yang turun
dari mobil dengan plat G menepi, dan menanyakan durian yang harganya Rp 10 ribu
per buah. Dengan sigap Mbah Yo lalu menunjukan buah yang dimaksud. Tak lupa dia
juga memberitahukan durian dengan harga tersebut rasanya kurang manis.

Setelah diberitahu
rasa buah yang dia maksud kurang manis, pria yang diketahui bernama Andika Rio
(33) itu lalu memilih durian dengan harga Rp 35 ribu per buah. Tak beda denga
Rio pembeli lain yang bernama Asriyani (40) yang berasal dari Karang Tengah,
Demak, mengaku penasaran dengan durian dengan harga Rp 10 ribu per buah.

“Semula aku penasaran dengan durian dengan harga Rp 10 ribu
per buah. Namun setelah mencicipi dua durian dengan harga yang berbeda antara
harga Rp 10 ribu dan Rp 35 ribu per buah. Lalu aku memutuskan membeli empat buah
durian dengan harga Rp 35 ribu perbuah untuk aku bawa pulang ke rumah,”
ungkapnya.

- advertisement -

Anas: Full Day School di SMA Negeri 1 Kudus Melelahkan, Seperti Orang Kerja, Seharian di Sekolah

0

SEPUTAR KUDUS.COM, MLATI LOR – Laki-laki tersebut masih mengenakan sepatu di depan ruang OSIS SMA 1 Kudus. Dengan seragam lengkap putih biru, dia bergegas menuju kelas setelah beristirahat di jam terakhir istirahat pada uji coba pelaksanaan full days school di SMA 1 Kudus.

full day school sma 1 kudus
Sejumlah siswa SMA Negeri 1 Kudus keluar ruang kelas saat istirahat. Foto Imam Arwindra

Sebelum sampai kelas, laki-laki bernama Anas Zakiyudin, siswa kelas 11 IPA 8 tersebut sudi berbagi cerita tentang pelaksanaan belajar sehari penuh yang dilakukan di sekolahnya. Menurutnya pembelajaran full days school yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB melelahkan. “Melelahkan dan belum bisa menyesuaikan. Seolah-olah kayak orang kerja. Seharian di sekolah,” tuturnya.

Ditambahkan, dirinya juga tidak fokus saat menjelang pukul 14.00 WIB. Menurutnya itu dikarenakan rasa mengantuk dan bosan saat mengikuti proses belajaran. “Ini baru masa percobaan selama sepekan. Kalau saya pribadi kurang sepakat full days school. Lebih enak seperti hari-hari biasa,” jelasnya yang beralamat di Gebog.

Anas juga mengkhawatirkan, jika full days diterapkan akan mengurangi waktu ekstra kulikuler sekolah, dan tentu siswa yang aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) atau organisasi siswa lainnya akan terganggu. Dia membayangkan, jika pulang sekolah pukul 16.00 WIB dan dilanjutkan ekstra kurikuler, maka kemungkinan pulang dari sekolah magrib. Belum nanti ada yang masih les dan mengaji. Tentu sangatlah menguras tenaga dan otak. 

“Yang cukup membingungkan nanti OSIS. Jika membuat kegiatan bisanya dihari libur sekolah,” tambah dia yang juga wakil ketua OSIS SMA 1 Kudus.

Namun, Anas mengatakan full days school tetap memiliki keuntungan, karena libur sekolah menjadi dua hari yakni Sabtu dan Minggu. Mata pelajaran pada hari Sabtu diratakan di hari Senin hingga Jumat. “Ya enaknya cuma libur panjang dua hari,” ungkapnya.

Wakil Kepala SMA 1 Kudus bidang kesiswaan Nurkhamid yang ditemui di ruangannya mengungkapkan, pelaksanaan full days di SMA 1 Kudus masih tahap uji coba. Selama sepekan dari tanggal 9 Januari 2017 dilaksanakan pembelajaran dari pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB. 

“Setelah itu akan dibuatkan sebuah instrumen di antaranya masukan dari siswa serta guru untuk dilanjutkan atau tidaknya sistem tersebut. Nanti diambil sampel. Siswa kami ikutkan dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.

Diakuinya selama masa percobaan, siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar hingga pukul 16.00 WIB. Namun setelah dirinya datang ke kelas-kelas dan menanyakan langsung kepada siswa dikatakan mereka mau menjalaninya. “Secara umum dari siswa tidak masalah. Pertama-tama memang belum bisa beradaptasi. Tapi kata mereka (siswa) bisalah pak,” ungkapnya yang mengutip pernyataan siswa.

Dikatakannya, hari-hari biasa siswa masuk pukul 07.00 WIB dan pulang pukul 14.00 WIB. Jika menerapkan full days hanya tambah dua jam pulang pukul 16.00 WIB. Menurutnya, waktu tersebut masih efektif untuk belajar. Selain juga memperkenalkan dunia kerja yang pulangnya juga pukul 16.00 WIB. 

“Nanti liburnya kan bisa dua hari Sabtu dan Minggu. Jadi bisa kumpul dengan keluarga selama dua hari,” tuturnya.

Nurkhamid juga menambahkan, waktu istirahat juga ditambah. Yang sebelumnya sehari 30 menit menjadi 60 menit. Waktu istirahat tersebut dilakukan dua kali dalam satu hari pelajaran. Dikatakan untuk hari Jumat waktu istirahat dari mulai pukul 11.00 hingga 13.30. 

“Keseluruhan murid di SMA 1 Kudus kelas X 382, kelas XI 394 dan kelas XII 364. Jika gurunya ada 70 dan tambahan lima guru baru,” jelasnya.

- advertisement -

Orang Singocandi Ini Tak Akan Melepas Yamaha 75 Butut Miliknya Meski Ditawar dengan Harga Selangit

0
SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Sepeda motor Yamaha 75
butut berwarna merah tampak tersandar di dinding rumah di
Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Sepeda motor tersebut milik Sadiman
(42), pengusaha bakso bakar yang kini bisa dibilang sukses. Meski sudah ditawar puluhan orang dengan harga tinggi, Sadiman tidak melepas sepeda motor butut itu ke orang lain karena bagian dari perjalanan hidupnya.

Yamaha 75 milik pengusaha bakso bakar
Sadiman menunjukkan Yamaha 75 butut miliknya dengan kondisi jok yang telah rusak dan cat bodi yang telah kusam dan banyak mengelupas. Foto: Rabu Sipan 

Menurut pria yang akrab disapa Pak Rindu itu sudi berbagi
kisah tentang sepeda motornya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, motor
tersebut merupakan saksi perjuanganya dalam merintis usaha bakso kojek
kuah dan bakso bakar. Menurutnya motor berwarna merah itulah yang
menemaninya siang malam selama berkeliling menjajakan daganganya.
“Bila aku total lebih dari sepuluh orang yang ingin membeli
motorku ini. Ada yang menawar Rp 2 juta, ada juga yang menawar sampai Rp 3
juta. Tapi aku menjawabnya motor butut ini tidak dijual. Meskipun
butut tapi menjadi belahan jiwaku selain istri tercinta. Jangankan
baru jutaan, dibeli puluhan juta pun motor butut ini tidak akan aku lepas,”
ujarnya.

Baca juga: Pria Tak Lulus SD Ini Bisa Bangun Rumah Bertingkat dan Beli Mobil Hasil Berjualan Bakso Bakar

Pria berasal dari Sukoharjo itu mengatakan, mungkin orang
lain menganggapnya aneh karena tak melepas motor itu. “Karena aku berfikir,
mungkin aku bisa menjual motor butut itu lalu membeli motor baru yang lebih
bagus dan lebih keren. Tapi apa mungkin aku bisa membeli sejarah hidupku bersama
motor berwarna merah tersebut, jika motor itu dibeli orang lain,” ungkap pria
yang tak lulus sekolah dasar (SD) tersebut.
Dia menuturkan pertama kali berjualan sebenarnya tidak
menggunakan sepeda motor itu, namun menggunakan sepeda ontel. Tapi menurutnya
selain sepeda ontel tersebut sudah tidak ada bangkainya, dia juga mengaku lebih
lama berjualan keliling menggunakan motor Yamaha 75 dibanding sepeda ontel. “Jadi
motor butut inilah satu – satunya kenangan aku berjualan keliling,” ujarnya
sambil memegangi setang motor tersebut
Dia mengaku lebih lama berjualan keliling menggunakan sepeda
motor Yamaha 75 dari pada menggunakan sepeda ontel. Menurutnya dia berjualan
menggunakan sepeda ontel dari tahun 2001 sampai 2004, sedangkan menggunakan
sepeda motor Yamaha 75 berwarna merah itu dari tahun 2004 sampai 2011. Setelah
memiliki motor tersebut, kata dia, hampir setiap hari dia bersama motor itu.
Dari Subuh ke pasar belanja lalu berjualan sampai pukul 20.00 WIB dirinya ditemani
oleh motor itu.
Pria yang sudah dikaruniai empat anak itu mengatakan,
setelah selesai berjualan itulah baru ada waktu luang untuk bercengkerama
bersama istri serta anak – anaknya. Dia juga mengatakan, meskipun bekas serta
mesinya juga tua, motor tersebut selama digunakan berdagang tidak pernah rusak
serta mogok.
“Aku berencana membawa motor Yamaha 75 itu ke bengkel untuk
aku perbaiki serta aku percantik lalu akan aku pajang di rumah. Agar setiap aku
melihat motor itu aku akan selalu ingat perjuanganku menjajakan bakso kojek
keliling. Karena berawal dari sepeda ontel serta motor butut itulah, kini aku
memiliki dua tempat penjualan bakso kojek dan bakar, yang mampu menjual ribuan
bakso sehari. 

- advertisement -

Toko Sandal Lucu di Kudus Tiga Tahun Dirintis Kini Memiliki 80 Reseller dengan Omzet Rp 20 Juta Sebulan

0

SEPPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi selatan Jalan Sunan Kudus, Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak toko yang di dalamnya terlihat ratusan sandal dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sandal itu memiliki gambar beberapa tokoh kartun dan hewan, yang tertata rapi pada rak kaca. Toko tersebut merupakan agen sandal lucu yang bernama Toko Sancu.

Ineke Diani Yusnita memperlihatkan koleksi Toko Sancu yang dia kelola. Foto: Rabu Sipan

Menurut, Ineke Diani Yusnita (24) yang menjadi pengelola toko tersebut mengatakan, agen sandal lucu yang dia kelola tersebut milik warga Mayong, Jepara. Setelah tiga tahun dirintis, saat ini agen sandal lucu memiliki sekitar 80 reseller.

“Jumlah reseller tersebut tidak hanya di Kudus, melainkan juga meliputi daerah sekitarnya, di antaranya, Pati, Jepara, serta Demak bahkan ada juga dari Salatiga,” ujar perempuan yg akrab disapa Ineke kepada Seputarkudus.com

Meskipun sudah merambah beberapa daerah, Ineke mengatakan jumlah reseller didominasi orang Kudus. Bahkan di Kudus hampir di setiap pasar dan kecamatan ada reseller sandal lucu. Banyaknya reseller membuat pihaknya bisa menjual sekitar 300 pcs sepekan.

“Setiap sepekan sekali bosku mendatangkan sandal lucu dari pabrik yang ada di Surabaya. Biasanya sekali datang sekitar dua karung besar yang berisi sekitar 300 pcs. Dan semua jumlah tersebut biasanya terjual habis selama sepekan,” bebernya.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, itu mengatakan, dari penjualan tersebut dalam sebulan pihaknya bisa meraup omzet antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Untuk menjadi reseller dan mendapatkan harga khusus pembelian pertama minimal selusin.

Dia lalu merinci harga khusus untuk reseller. Untuk pembelian 12 pasang sampai 30 pasang sandal lucu ukuran 21-24 dihargai Rp 17.500. Ukuran 28-32 dibanderol Rp 18.650, serta ukuran 34-36 harganya Rp 20.150. Sedangkan ukuran 38-42 diharga Rp 21.600 sepasang.

“Harga tersebut untuk golongan reseller satu. Sedangkan untuk reseller dua dengan pembelian 31 pasang sampai 100 pasang sandal lucu harganya lebih murah Rp 500 dari harga reseller satu. Begitu juga untuk reseller tiga dengan pembelian diatas 100 pasang, harga masing-masing sandal lebih murah Rp 500 dari reseller dua,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, selain menjual secara borongan, di agen sandal lucu juga menjual secara ecer dengan harga Rp 25 ribu sampai Rp 32 ribu sepasang. Dia mengungkapkan para reseller biasanya datang langsung ke toko agen Sancu, kecuali reseller Salatiga pemesanan lewat online.

“Untuk retur atau penukaran dibatasi waktu sampai sepekan dari hari pembelian dan sandal yang ditukar tidak lebih dari tiga pasang dari satu nota pembelian,” jelas wanita yang mengaku toko agen Sancu buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB.

- advertisement -

Pria Tak Lulus SD Ini Bisa Bangun Rumah Bertingkat dan Beli Mobil Hasil Berjualan Bakso Bakar

0
SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Di garasi rumah berlantai dua di Desa
Singocandi RT 5 RW 3, Kecamatan Kota, Kudus, tampak terparkir mobil Honda Mobilio dan sepeda motor Yamaha Nmax. Di dalam ruang tamu rumah tersebut terlihat seorang pria
memakai kaus singlet sedang menikmati sebatang rokok kretek. Dia bernama Sadiman (42), pria yang tak lulus sekolah dasar (SD) itu yang kini sukses mengembangkan usaha bakso kojek dan bakso bakar
rindu.

Pengusaha bakso sukses di kudus
Sadiman sedang berpose di depan mobil Honda Jazz Mobililo hasil kerja kerasnya berjualan Bakso Rindu. Foto: Rabu Sipan

Sambil menikmati rokoknya pria yang akrab disapa Pak Rindu
itu sudi berbagi kisah kepada seputarkudus.com. Pria asal Sukoharjo itu mengatakan mulai datang ke
Kudus dan berjualan bakso kojek keliling pada tahun 2001. Menurutnya saat itu
dia hanya bermodal sisa ongkos sebesar Rp 100 ribu serta sepeda ontel butut
yang dia bawa dari kampung halamannya.
“Aku bersyukur usaha yang aku rintis dengan modal Rp 100 ribu
serta tetesan keringat sekarang sudah terlihat hasilnya. Dari usaha tersebut
aku bisa membeli tanah dan membangun rumah lantai dua, membeli mobil Honda
Mobilio. Aku juga memiliki lima sepeda motor satu diantaranya Yamaha Nmax,”
ujar pria yang tergabung dalam komunitas Yamaha Nmax Club Indonesia.
Menurutnya pada waktu itu dia datang sendiri ke Kudus, belum
bersama istri serta dua anaknya. Dia mengaku pada waktu ikut menumpang di kos milik temannya. Dan karena dia hanya memiliki uang sisa ongkos perjalanan, semua
perabotan untuk berjualan bakso kojek kuah keliling dipinjami temannya.

Pria yang sudah dikaruniai empat anak itu mengatakan, selama
berjualan bakso kojek keliling dengan menggunakan sepeda ontel, daganganya
tersebut sangat laris. Karena itu dia bersemangat berjualan hingga sehari dia
bisa berjualan dua kali. Setiap pagi dia berjualan di sekolah – sekolah.
Sedangkan sore hari dia berjualan di depan madrasah.
“Pada waktu itu bakso kojek kuahku lumayan laris. Setiap
bakso kojek yang aku jajakan pasti selalu terjual habis. Tidak hanya waktu
berjualan pagi, berdagang bakso kojek kuah sore hari juga selalu habis terbeli.
Karena berjualanku sudah setabil serta aku juga lumayan kerepotan. Selang lima
bulan istri serta dua anaku, aku boyong ke Kudus,” tuturnya.
Sejak istri dan anaknya dia bawa ke Kudus, dia mengaku
tinggal di kontrakan bersama keluarga kecilnya tersebut di Desa Singocandi,
Kecamatan Kota dengan harga sewa Rp 70 ribu sebulan. Sejak ada istrinya dia
mengungkapkan sangat terbantu karena ada orang yang membantunya membuat bakso
kojek yang akan dia jual.

Pada tahun 2004, dia mengaku membeli motor bekas yakni Yamaha
75 dengan harga Rp 1 juta. Dia mengungkapkan membeli motor tersebut dia gunakan
untuk berdagang keliling agar tidak terlalu capek. Setelah sekitar empat tahun
berjualan keliling menggunakan motor, dan karena makin banyak peminat dia
berinisiatif menjual bakso kojek menggunakan gerobak.
“Pada tahun 2008 aku merekrut dua orang pekerja untuk mangkal di tepi Perempatan Sucen yang menjual bakso bakar. Sedangkan satunya di depan Sekolah Taman Siswa. Bakso kuah yang aku jual kuberi nama Bakso Bakar
dan Bakso Bakar Rindu. Dan aku tetap memutuskan berjualan secara keliling,”
jelasnya.
Sejak memiliki dua tempat untuk menjual bakso kuah serta
bakso bakar, dan dia juga masih berjulaan keliling. Dia mengaku
penghasilanya langsung meningkat. Bahkan setahun berselang menurutnya di dua
tempat tersebut mampu menjual sebanyak 7.000 tusuk bakso bakar sehari.
Dia mengatakan, dari dulu sampai sekarang  menjual satu tusuk bakso bakar dengan harga Rp
1 ribu. Pada waktu itu dari dua tempat tersebut bisa menghasilkan omzet sekitar
Rp 7 juta sehari. Bahkan saat itu dia mengaku memiliki delapan orang pekerja
yang kebanyakan dari daerah asalnya.
Hingga pada tahun 2013 dia megatakan mampu membeli tanah
lalu dia bangun rumah bertingkat. Setahun kemudian dia juga membeli mobil Honda
Mobilio. Dan meski sudah memiliki empat sepeda motor dia membeli satu lagi
Yamaha Nmax.
“Meski tak selaris dulu karena sekarang banyak pesaing yang
menjual dagangan serupa, namun aku tetap bersyukur, aku yang tidak lulus Sekolah
Dasar (SD) bisa memiliki usaha yang mampu untuk menghidupi keluarga serta bisa
menciptakan lapangan kerja untuk orang lain,”ujar pria yang mengaku berhenti
sekolah sejak kelas lima SD itu.
- advertisement -

Warga Blora Ini Berharap Daerahnya Punya Taman Lampion yang Indah Seperti di Kudus

0

SEPUTAR KUDUS.COM, WERGU WETAN – Kamera telepon pintarnya terlihat mengarah ke seseorang yang berpose di depan gerbang masuk bertuliskan Taman Lampion. Dengan mengenakan kerudung warna biru, dia berulang kali berpose layaknya model. Sementara, lalu lalang pengunjung yang datang nampak memadati tempat yang masih satu kawasan dengan Taman Krida, GOR Wergu Kudus Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus.

taman lampion kudus
Pengunjung memadati Taman Lampion Taman Krida Kudus. Foto: Imam Arwindra

Wanita tersebut yakni Ina, warga Blora yang sedang berlibur di Kudus bersama suaminya, Mudasir. Ina mengaku penasaran dengan Taman Lampion yang belum lama ini dibuka untuk umum. Dia mengetahui Taman Lampion dari temannya di Kudus. “Saya tahunya baru tadi. Akhirnya saya langsung ajak suami lihat Taman Lampion,” ungkapnya setelah selesai berfoto di depan tulisan Taman Lampion, Sabtu (7/1/2017).

Dia mengakui Taman Lampion di Kudus memang indah dan nyaman untuk dikunjungi. Menurutnya keindahan terletak pada perpaduan warna-warni lampu yang dipasang di pohon, patung, dan aksesoris taman lainnya. “Kira-kira di (Kabupaten) Blora bisa tidak ya membuat seperti ini?” tuturnya sambil berjalan menuju patung Doraemon.

Alumni Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Muria Kudus (UMK) mengatakan, dulu ketika masih kuliah taman-taman di Kudus masih terbilang sedikit. Sekarang sudah ada Taman Lampion, Taman Tanggulangin di dekat Gerbang Kudus Kota Kretek, Taman Bambu di Jepang dan Taman di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus yang tidak kalah memesona. “Semoga di Blora juga di sediakan taman seperti di Kudus,” tambahnya.

Mudasir yang belum lama menikahi Ina, mengaku sengaja berlibur ke Kudus karena sekaligus menghadiri acara keluarga. Selain itu juga untuk refreshing setelah lama tidak berlibur bersama. “Ya untuk nyenengin istri. Alhamdulillah mintanya tidak aneh-aneh,” ungkapnya sambil tersenyum kepada istrinya.

Menurutnya taman memang tempat yang bagus untuk liburan keluarga. Selain murah, taman yang disediakan juga indah. Apalagi Taman Lampion di malam hari, tambah indah. “Tadi saya masuk perorangnya membayar Rp 3 ribu,” jelasnya.

- advertisement -

35 Tahun Berjalan Kaki Menjual Kerupuk, Dalhar Tetap Bersyukur Meski Tak Jarang Dipalak Orang

0
SEPUTARKUDUS.COM, LAMBANGAN – Seorang pria bertopi dan berbaju batik tampak berjalan di jalan perbatasan Desa Lambangan dan Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Pria tersebut berjalan sambil memikul dua kantong plastik besar berisi kerupuk. Pria tersebut bernama Muhamad Dalhar (50), puluhan tahun berjualan kerupuk keliling berjalan kaki.

Lek Dalhar Penjual Kerupuk
Dalhar berjalan kaki dari satu desa ke desa lain di Undaan untuk menjajakan kerupuk. Foto: Rabu Sipan

Setelah beberapa kali melangkah, terlihat dirinya berhenti dan duduk
berteduh di bawah pohon dan mengibaskan topi ke arah wajahnya. Di sela
istirahatnya tersebut, pria yang akrab disapa Dalhar itu sudi berbagi kisah selama berjualan kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan sudah
berjualan kerupuk keliling dengan berjalan kaki selama 35 tahun. Dan untuk
menghabiskan daganganya tersebut dia mengaku harus berjalan kaki puluhan kilometer.
“Untuk menjual habis semua kerupuk yang aku bawa, setiap
hari aku harus berjalan dari kampung satu ke kampung lainya. Bahkan sehari aku
harus melintasi semua desa yang berada di perbatasan tiga kabupaten sekaligus
yakni, Kudus, Pati, serta Purwodadi. Dan untuk mencapai desa-desa tersebut
aku harus berjalan puluhan kilometer,” ujarnya.
Pria yang sekarang hidup numpang di rumah kakaknya di Desa Ploso, Kecamatan Jati, itu mengatakan, setiap hari harus menempuh
jarak puluhan kilometer, karena para pelangganya ada di perbatasan tiga kabupaten. Dia lalu merinci
desa yang ada para pelangganya di antaranya, Desa Kalirejo, Lambangan, Berugenjang, Wonosoco (Kudus), Prawoto (Pati), serta Dukuh
Taban, Desa Jenengan (Purwodadi).
“Untuk mencapai rumah para pelangganku yang berada di desa –
desa tersebut aku memerlukan waktu sehari. Tidak jarang sesampai di Desa
Jenengan, Purwodadi, sudah pukul 17.00 WIB. Itu berarti aku terlalu sore,
hingga sudah tidak ada lagi bus lewat,” tutur pria yang tidak punya anak serta
istri tersebut.
Pria yang mengaku pernah berumah tangga lalu bercerai itu
mengatakan, setiap sore biasanya dia nebeng truk sampai Proliman Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati. Dan setelah itu
dia berjalan kaki lagi sampai rumah kakaknya. Sehari berjualan katanya
dia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 40 ribu.
Dalhar yang terlahir di Gajah, Kabupaten Demak menuturkan, berjualan kerupuk karena himpitan keadaan. Menurutnya pada waktu
itu dia harus putus sekolah saat dia di duduk di bangku kelas dua SMP karena
tidak ada biaya. Ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga
meninggal dunia.
Karena alasan tersebut dia mengaku harus kerja menjadi penjual
kerupuk untuk membantu kebutuhan keluarga serta empat adiknya agar tetap bisa
sekolah. Dia juga mengaku selama berjualan kerupuk keliling tidak jarang dirinya dipalak orang, dimintai uangnya untuk minum – minuman
keras.
“Pada waktu dulu aku sering dimintai uang dijalan sama orang, katanya buat tambah beli minuman. Karena aku takut
biasanya aku beri sesuai yang mereka minta. Tapi aku tetap bersyukur karena
mereka tidak meminta semua uangku,” ujarnya.
Dia mengatakan, kejadian tersebut terjadi puluhan tahun yang
lalu. Menurutnya sekarang sudah aman. Orang-orang baik padanya.
Bahkan tidak jarang dia diberi tumpangan ke jalan raya Kudus – Purwodadi saat
daganganya sudah habis terjual.
“Aku bersyukur dari hasil berdagang kerupuk, keempat adiku
sekarang sudah menikah dan punya keluarga. Meskipun aku hidup sendiri, masih
ada saudaraku yang mau menampungku. Dan agar tak terlalu merepotkanya setiap
hari aku tetap berjualan kerupuk,” ujarnya.

- advertisement -

Aris Buka Jasa Perbaikan Lampu Hemat Energi Siang Hari di Pasar Bitingan Karena Sedikit Saingan

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di pojok tenggara Pasar Bitingan, tepatnya di sebelah kios yang digunakan sebagai kantor BRI teras, Desa Ploso,
Kecamatan Jati, terlihat sebuah meja. Di atas meja tampak beberapa lampu nyala
maupun lampu dalam keadaan padam. Di samping meja terlihat seorang pria memakai
baju kotak-kotak sedang menyolder sebuah rangkaian komponen. Pria tersebut
bernama Aris Darmawan (37) tukang ahli servis lampu hemat enenrgi (LHE).

Jasa Servis lampu hemat energi
Aris sedang memperbaiki lampu hemat energi di lantai dasar Pasar Bitingan. Foto: Rabu Sipan

Disela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Aris itu
sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya. Dia mengatakan, sudah menekuni
pekerjaan sebagai tukang servis lampu sekitar empat tahun terakhir. Berbeda
dengan kebanyakan orang yang memilih membuka usaha jasa serupa pada malam hari,
dia mengaku tertarik membuka jasa servis lampu pada waktu siang karena punya
lapak di pasar.
“Aku sengaja membuka jasa servis lampu pada waktu siang. Karena
selain punya lapak di Pasar Bitingan, buka jasa servis lampu pada siang hari
juga minim saingan. Serta aku berharap orang yang akan pergi ke pasar dan
memiliki lampu rusak di rumah bisa sekalian dibawa untuk diperbaiki di lapaku,”
ujarnya
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Peganjaran, Kecamatan
Dawe itu mengatakan, pada dasarnya usaha jasa servis lampu itu merupakan pekerjaan sambilan. Dia mengaku selain memperbaiki lampu dia juga menerima servis
televisi yang dia kerjakan di rumahnya.

Menurutnya Pekerjaan sebagai tukang servis televisi itu dia
tekuni selama 10 tahun. Namun karena pekerjaan servis televisi pernah sangat
sepi lalu dia mencari alternatif sebagai tukang servis lampu hemat energi. “Sekarang
kedua pekerjaan itu tetap aku jalankan, pada waktu siang tepatnya pukul 10.00
WIB sampai 15.30 WIB aku melayani jasa servis lampu di Pasar Bitingan. Sedangkan
saaat malam aku gunakan untuk memperbaiki televisi,” jelasnya.
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengungkapkan,
sehari bisa memperbaiki sekitar 10 sampai 15 lampu. Untuk biaya perbaikan dia
mengaku mematok harga Rp 7 ribu sampai Rp 15 ribu untuk kerusakan komponen. Sedangkan
kerusakan kaca dia hargai Rp 12 ribu untuk lampu kecil dan Rp 15 ribu untuk
lampu besar.
Dia menuturkan selain memperbaiki dia juga menjual lampu
baru. Kata dia, lampu baru satunya dia jual dengan harga Rp 15 ribu lampu kecil
dengan daya sekitar lima sampai 15 watt. Sedangkan lampu besar dengan daya 18
sampai 24 watt dia banderol dengan harga Rp 15 ribu per pcs.
“Semua lampu yang aku jual merupakan lampu dengan merk bagus
dan terkenal awet diantaranya, Philip, Sinyoku, Osram, dan Panasonic. Dan semua
lampu hasil perbaikan serta lampu baru yang aku jual bergaransi tiga bulan.
Untuk perbaikan garansi sesuai kerusakan yang diperbaiki, sedangkan beli lampu
baru garansi berlaku untuk semua kerusakan,” jelasnya.    

- advertisement -