Beranda blog Halaman 1928

Stasiun (3-Habis), Tiga Kali Datang ke Kudus, Bung Karno Naik Kereta dan Turun di Stasiun Wergu

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Papan putih bertuliskan “Kudus” masih bergelantung di rangka besi sisi tengah bangunan Stasiun Wergu Kudus, Jalan
Johar Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus. Di sebelah selatan tulisan
Kudus juga terdapat papan bertulisan angka satu, begitu juga angka dua di sebelah
utara. Bangunan tersebut berukuran 20×60 meter dengan satu ruang terbuka
untuk penumpang dan dua ruang tertutup untuk kantor. 

presiden soekarno ke kudus
Presiden Soekarno dalam kunjungannya ke Kudus pada awal kemerdekaan. Foto: Repro 

Bangunan stasiun yang sekarang menjadi pasar, menurut sejarahwan Kudus
Edy Supratno, dulu pernah dikunjungi presiden Indonesia Soekarno hingga
tiga kali. Dia menuturkan, kunjungan pertama Soekarno tanggal 15 Januari 1946.
Presiden datang tidak sendiri. Dia bersama tokoh penting lainnya, di antaranya dengan Wakil Presiden Moh Hatta, Sri
Susuhunan Paku Buwono XII, dan Mr Wongsonegoro. “Saat itu Soekarno naik kereta.
Jadi Kudus memang hanya ada satu stasiun kereta yang dulunya dinamakan Kud,”
jelas Edy.

Baca juga: Stasiun (2), Saksi Keganasan Agresi Militer Belanda 1, yang Lain Hancur, Stasiun Wergu Tetap Berdiri Kokoh 

Selanjutnya, kata Edy, kunjungan kedua Soekarno terjadi pada 1948, atau selang dua tahun
dari kunjungan pertama. Edy Supratno yang mengutip dari sejarahwan Kudus
Solichin Salam mengungkapkan, kunjungan kedua ke Kudus untuk meng-counter safari politik Amir Syarifudin.
Karena saat itu menjelang peristiwa Madiun. Kunjungan ketiga terjadi tahun 1952.
Terlihat dari foto yang ditunjukkan Edy, Presiden di damping Mentri Dalam
Negeri Mr. Mohammad Roem. “Foto tersebut diambil oleh Tee Song Liang. Seorang
jurnalis keturunan Tionghoa,” tambahnya.

Selain Soekarno juga ada pejabat penting yang pernah ke Kudus
menggunakan kereta api. Menurut Edy, mereka di antaranya Penjabat Presiden Mr M Assaat yang pernah
berkunjung ke Kudus saat melakukan tugas ke Pati tahun 1950. Juga ada tokoh Front
Demokrasi Rakyat (FDR) Amir Syarifudin yang dibawa ke Kudus sebelum menuju
Jogjakarta. Sebelumnya, tokoh kiri tersebut tertangkap di Klambu, Grobogan. Dan
kemudian menginap tiga malam di Kudus untuk selanjutnya menerima hukuman mati
di Jogjakarta 18 Desember 1948. 


“Jika tamu-tamu yang datang kepada orang tua
Kartini di Jepara ikut kita masukkan dalam catatan, maka sudah pasti tak
terhitung lagi berapa jumlah orang penting yang pernah menginjakkan kaki di
Stasiun Kudus. Itu artinya, Stasiun Kudus memiliki kisah yang panjang dan
sangat berarti dalam khasanah sejarah Indonesia,” tulis edy dalam sebuah
materi.

Baca juga: Stasiun (1), Bangunan Pasar Wergu, Saksi Bisu Kemajuan Moda Transportasi di Kudus Kala Itu

Kepada Seputarkudus.com, Edy mengungkapkan penasaran dengan
kedatangan Soekarno pertama kali di Kudus tanggal 15 Januari 1946. Menurutnya, selisih
beberapa hari sebelum kedatangan Soekarno di Kudus, Soekarno bersembunyi agar selamat dari pasukan Belanda di Jakarta. Soekarno
bersembunyi di gerbong kereta yang letaknya berada di depan rumahnya.
Diceritakan Edy, gerbong tersebut selain penuh dengan kertas koran juga
bergerak maju dan mundur. Hal tersebut dilakukan agar bisa mengelabuhi pasukan
Belanda.

“Akhirnya bisa selamat menuju Yogjakarta dan tanggal 15 Januari
1946 sampai di Kudus. Ada apa Soekarno saat itu pergi ke Kudus? apakah minta
doa ataukah minta duit? tidak ada yang tahu. Karena saat itu masih ada orang
kaya di Kudus,” jelasnya.

- advertisement -

Berjualan Ayam Goreng Crispy di Perempatan Sucen, Wahyu Bisa Meraup Omzet Rp 2 Juta Sehari

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Sebuah gerobak tanpa roda
berisi ratusan ayam goreng crispy tampak di tepi Jalan Menara, Desa Langgar
Dalem, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya sebelah selatan Perempatan Sucen. Di samping
gerobak terlihat seorang pria memakai peci sedang memasukan beberapa
ayam goreng ke dalam kantong plastik. Pria tersebut bernama Wahyu Mujahidin
(30), penjual ayam goreng crispy beromzet Rp 2 juta sehari.

Wahyu sedang melayani pembeli ayam goreng crispy di Jalan Menara, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com dia mengatakan, berjualan ayam
goreng sekitar tujuh tahun tepatnya pada tahun 2009. Pada
hari pertama berjualan dia mengaku mencoba menjajakan sekitar lima kilogram ayam
goreng crispy. Dan menurutnya pada waktu itu daganganya tersebut terjual habis
dalam tempo beberapa jam saja.
“Karena melihat antusiasme pembeli, pada hari kedua
aku menambah daganganku dua kali lipatnya. Dan seperti hari pertama ayam
goreng daganganku juga ludes terjual. 
Pada hari ketiga dan keempat pun sama, meski sudah aku tambah lima kilogram ayam setiap harinya. Mulai hari kelima dan seterusnya aku
mampu menjual sekitar  25 kilogram ayam
sehari,” ujarnya.

Baca juga: Sukses Berjualan Ayam Goreng Crispy, Wahyu Tak Pernah Lupa Jasa Baik Bu Nyai yang Membawanya Hijrah ke Kudus   

Dia mengatakan, dengan
mampu menjual ayam goreng sebanyak 25 kilogram sehari dirinya mampu meraup omzet
sekitar Rp 800 ribu sehari. Penjualan tersebut saat tidak ada pesanan. Saat ada pesanan dirinya bisa menjual sekitar 40 kilogram ayam goreng dan bisa mendapatkan omzet lebih banyak yakni sekitar Rp 2 juta sehari.
Pria yang berasal dari Purworejo dan sudah menikah dengan
warga Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, itu mengatakan, selama
berjualan, ada saja orang yang memesan daganganya tersebut dalam
jumlah banyak. Karena untuk pesanan, dia mengaku minimal harus 50 potong ayam
goreng.
“Meski tidak setiap hari, hampir setiap dua hari sekali pasti ada
pesanan. Dan terkadang sehari aku bisa mendapatkan pesanan dari tiga bahkan
empat orang yang berbeda,” ujar pria berjenggot serta murah senyum tersebut.
Pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut mengatakan, menjual ayam goreng dengan harga Rp 3500 per potong. Namun jika
membeli tiga potong dia beri harga Rp 10 ribu. Dia mengatakan berjualan setiap
hari mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB.

“Berjualan sampai sore itu jarang sekali, biasanya pada
pukul 14.00 WIB daganganku sudah habis terjual,” ujar Wahyu yang mengaku
mendapatkan ayam dari
seorang peternak di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo.

- advertisement -

Sukses Berjualan Ayam Goreng Crispy, Wahyu Tak Pernah Lupa Jasa Baik Bu Nyai yang Membawanya Hijrah ke Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Di tepi Jalan Menara, Desa
Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di sebelah selatan Perempatan Sucen, tampak sebuah gerobak tanpa roda. Di dalam gerobak terlihat ratusan
ayam goreng crispy siap jual. Di samping gerobak tampak seorang pria memakai
kaus motif belang sedang duduk menunggu pembeli. Pria tersebut bernama Wahyu
Mujahid (30) penjual ayam goreng crispy asal Purworejo.

jual ayam goreng crispy
Wahyu, penjual ayam groeng crispy melayani pembeli di depan gerobak miliknya. Foto: Rabu Sipan 

Sambil menunggu
pembeli, pria yang akrab disapa Wahyu tersebut sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan pertama hijrah ke Kudus sekitar tahun 1995. Saat itu dirinya diajak Hj Qomariyah Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Putri Asy’ ariyah. 

Pada Saat itu dia mengaku berusia sekitar 10 tahun, duduk di kelas lima
Sekolah Dasar yang ada di Purworejo. Namun sesampainya di Kudus dan dimasukan
ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) Qudsiyyah dia diturunkan menjadi kelas dua.

“Selama di Kudus semua kebutuhanku, dari makan, pakaian,
pendidikan semua ditanggung oleh bu Qomariah Hasan atau aku biasa memanggil
beliau dengan sebutan Bu Nyai. Aku juga sudah dianggap sebagai anggota keluarga
beliau. Meski sekarang aku sudah berkeluarga dan memiliki usaha aku tetap meluangkan waktu saat
diperintah oleh Bu Nyai atau keluarga beliau,” ujarnya.
Pria yang menikah dengan perempuan warga Desa Langgar Dalem,
Kota, itu mengatakan, selama ikut Bu Nyai dia mengaku pernah beberapa kali
dimintai untuk mengelola usaha. Dia mengisahkan pada
tahun 2001 keluarga Bu Nyai mendirikan Wartel. Dia dimeminta untuk mengelola Wartel tersebut sebagai kegiatan sepulang dia dari
sekolah.
Dirinya menjaga Wartel milik Bu nyai itu selama
tujuh tahun. Pada tahun 2008 usaha tersebut ditutup karena jarang
pengunjung. Menurutnya sejak banyak orang memiliki handphone, usaha Wartel
banyak yang tutup termasuk milik Bu Nyai.
“Sejak Wartel ditutup aku menjadi pengangguran, karena pada
tahun tersebut aku juga sudah lulus sekolah Madrasah Aliyyah (MA). Karena
melihatku nganggur dan tak punya penghasilan lalu Bu Nyai mengangkatku menjadi
sopir pribadi,” ujarnya.

Saat menjadi sopir pribadi tersebutlah awal aku menemukan
resep membuat ayam goreng crispy. Dia menceritakan saat itu dia mengantarkan Bu
Nyai ke rumah kerabatnya yang berada di Bogor. Dan kebetulan di depan rumah
tersebut ada pedagang ayam goreng crispy yang sangat laris. Karena tertarik
ingin mendirikan usaha sama di Kudus, dia minta resep pedagang tersebut.
Pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut mengatakan,
pedagang tersebut tidak hanya memberi resep saja tetapi juga mengajarinya
hingga berhasil membuat ayam goreng crispy tersebut. Sesampai di Kudus dia
mengaku minta ijin kepada Bu Nyai untuk berjualan. “Dan Bu
Nyai mengizinkan, bahkan menawariku modal,” ujarnya
Dia mengatakan pada tahun 2009 dia mulai berjualan ayam
goreng dengan modal Rp 1,4 juta. Menurutnya daganganya tersebut
lumayan laris bahkan sejak berjualan ayam goreng crispy tersebut dia mampu
membeli tiga motor, menyekolahkan dua adiknya yang ada di Purworejo, serta bisa
buat biaya menikah. Saat ini, dari hasil usaha tersebut dia mampu menghidupi
keluarga kecilnya.
“Meski aku sudah memiliki usaha sendiri, aku juga masih
mengurusi usaha depo isi ulang air minum milik Bu Nyai. Dan aku juga selalu
siap jika diperintah atau dimintai tolong sebagai sopir untuk mengantar Bu Nyai
dan keluarga ke suatu tempat. Karena Menurutku dari ridho dan doanya bu Nyai
daganganku selalu laris, dan berkah hasilnya” ujarnya.  

- advertisement -

Iksab TBS Lakukan Pendataan dan Pemetaan Potensi Alumni

0
SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Puluhan laki-laki bersarung masih berdiri di depan panggung utama berkarpet merah. Mereka menghadap panggung untuk menerima surat keputusan (SK) pengurus anak cabang Ikatan
Siswa Arbituren (Iksab) tingkat kecamatan se-Kabupaten Kudus di gedung Madrasah
Aliyah (MA) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, Jumat (30/12/2016).
Selain itu, mereka juga menerima tugas untuk mendata santri-santri yang pernah
bersekolah di madrasah TBS.

Para masyayikh TBS menghadiri peluncuran logo dan pelantikan pengurus Iksab tingkat kecamatan di Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

Nur Said, ketua pusat Iksab yang telah melantik
kepengurusan Iksab di tingkat kecamatan.  Selain melantik organisasi alumni madrasah TBS
ditingkat kecamatan, pihaknya juga memberikan tugas kepada pengurus baru untuk
melakukan pendataan santri-santri atau alumni yang pernah bersekolah di madrasah
TBS. 

“Progam ini kami beri nama Pasti TBS, kepanjangan dari pendataan santri
TBS,” tuturnya saat ditemui selepas acara launcing Pasti TBS, logo Iksab dan
pelantikan pengurus anak cabang se-Kabupaten Kudus yang dihadiri KH Choirozyad,
KH Muhammad Ulil Albab Arwani. KH Muhammad Arifin Fanani dan KH Musthofa Imron.

Menurut Nur Said, pendataan alumni TBS tersebut akan langsung
dimulai di awal tahun 2017 dengan diawali di Kudus. Setelah Kudus, pihaknya juga
akan melakukan pendataan di kabupaten sekitar Kudus, di antaranya Demak, Jepara,
Pati, Blora dan kabupaten-kabupaten lainnya. “Ini Kudus dulu. Target kami satu
bulan selesai,” tambahnya.
Kepada Seputarkudus.com dia menjelaskan, pihaknya sudah melatih
264 orang untuk diterjunkan di 132 desa di Kabupaten Kudus. Menurutnya,
nantinya setiap desa akan diisi 2-3 orang. Pendataan dilakukan langsung
dilapangan secara online, setelah itu data akan dimasukkan kedalam software yang sudah dipersiapkan untuk
mengelola database

Dia menjelaskan, progam Pasti TBS dilakukan oleh alumni
TBS yang sudah ahli dibidangnya. “Ini ada alumni yang bekerja di Badan Pusat
Statistik (BPS) yang sudah terbiasa melakukan pendataan dan riset. Alhamdulillah beliau mau membantu,”
terangnya.

Selain mendata biodata alumni TBS pihaknya juga memetakkan latar
belakang profesi, keaktifan organisasi kelembagaan di masyarakat, kompetensi
bidang dan potensi yang dimiliki alumni. Menurutnya, hal tersebut sangatlah
penting untuk membantu berkembangnya Iksab dan tentunya madrasah TBS. 

“Jumlah
alumni TBS pasti ribuan. Nanti juga di lembaran kuesioner disuruh untuk
mencantumkan nama dan nomor telepon teman yang berada di luar Kudus. Terutama yang
berasal dari luar Jawa. Karena santri TBS juga banyak dari luar Jawa,”
ungkapnya sambil menunjukkan metode pelaksanaan pendataan.

KH Muhammad Ulil Albab Arwani yang hadir dalam kegiatan
mengungkapkan alumni-alumni TBS harus di data. Menurutnya, selain untuk
menjalin silaturahim, progam yang dijalankan bisa saling mengenal kembali antar
alumni dengan berbagai macam profesi. 

Hal tersebut menurut Gus Bab panggilan
akrab KH Muhammad Ulil Albab Arwani, bisa berefek pada berkembangnya Iksab dan
Madrasah TBS. “(Alumni) harus bersatu. Utamanya untuk madrasah dan Ahlusunnah
Waljamaah (Aswaja). Karena sekarang banyak golongan yang memusuhinya,”
tuturnya.

- advertisement -

Supriyanto Lega, Tempat Karaoke di Kudus Akhirnya Ditutup

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Lelaki berpeci hitam tersebut
terlihat sumringah saat selesai mengikuti aksi damai Menagih Janji Kang Mus Menutup
Karaoke di Kudus, Jumat (30/12/2016) di depan kantor bupati Kudus. Pria berjas biru itu tampak memampang kertas karton yang bertuliskan “Karaoke
Rusak Moral” juga terlihat berfoto bersama dengan peserta aksi yang lain. 

demo karaoke kudus
Peserta aksi memanjatkan doa di depan kantor bupati Kudus saat menuntut penutupan tempat karaoke. Foto: Imam Arwindra

Pria tersebut yakni Muhammad Supriyanto. Dia mengaku senang karena karaoke di Kudus
benar-benar ditutup. Menurutnya pernyataan tersebut telah dilontarkan Bupati
Kudus Musthofa yang hadir saat menemui masa aksi damai. 

Supriyanto yang berasal
dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kudus mengungkapkan,
seharusnya karaoke di Kudus memang harus ditutup. Karena selain menjadi pintu
masuk minuman keras dan narkoba, juga banyak madhorotnya dibanding manfaatnya. “Semoga ini akan membawa kebaikan,” tuturnya yang masih kuliah di Universitas Muria Kudus (UMK).

Sementara itu, Ketua GP Ansor Kudus Sarmanto Hasyim yang
memimpin aksi damai menuturkan, aksi damai yang dilakukan dalam rangka menagih
janji Bupati Kudus Musthofa terkait penutupan karaoke di Kudus yang sudah
diputuskan dalam peraturan daerah nomor 10 tahun 2015. Menurutnya peraturan
daerah tersebut mengatur tentang usaha hiburan diskotik, kelab malam, pub, dan
penataan hiburan karaoke. 

“Kami menginginkan komitmen penegakan Perda nomor 10
tahun 2015,” tuturnya yang mengenakan jas hijau bertuliskan Ansor.

Dia mengatakan, Pihaknya ingin Kudus menjadi daerah yang kondusif,
aman, tentram dan nyaman. Menurutnya, dengan adanya karaoke masyarakat di Kudus
akan terganggu. Juga nantinya akan menjadi sarang minuman keras, narkoba dan
obat terlarang lainnya. 

Dalam aksi tersebut pihaknya melakukan aksi damai
bersama IPNU, PMII, Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) dan banom NU lainnya.
Sarmanto mengancam akan melaporkan ke pihak berwenang jika ada karaoke yang
masih berani buka di Kudus. “Nanti kami akan laporkan (pemilik karaoke) ke
pihak berwenang jika ada yang masih buka,” 
ungkapnya saat ditemui selepas aksi.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir menemui masa aksi mengaku telah
menutup seluruh karaoke di kudus. Menurut ceritanya, malam hari sebelum
pelaksanaan aksi, dirinya bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)
telah menyegel semua karaoke yang ada di Kudus. Dia juga mengaku geram dengan pemilik
karaoke yang dirasa umpet-umpetan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol
PP).

Menurutnya, saat Satpol PP sudah menutup tempat karaoke,
besoknya dibuka kembali oleh pengelola. Musthofa juga mengibaratkan mereka
seperti keran yang setiap waktu ditutup dan dibuka. Karena sudah dianggap
melelahkan, dirinya mengancam akan membongkar bangunan karaoke jika ada yang
berani beroprasi. 

“Karaoke di Kudus sudah tidak boleh. Begitu Siapapun yang
membuka segel. Akan saya bongkar bangunan itu. Sepakat ya,” tuturnya yang
disambut tepuk tangan masa aksi.

- advertisement -

Anisa, Tukang Pijat Tunanetra yang Tetap Sabar Meski Sering Dilecehkan Pelanggan ‘Nakal’

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Seorang wanita mengenakan kaus abu-abu lengan hitam keluar dari kamar di Panti Pijat Tunanetra Anisa Desa Rendeng RT 5, RW 2, Kecamatan Kota, Kudus. Dia adalah Churriyah Anisa (39), seorang wanita tunanetra yang sudah menekuni usaha pijat kurang lebih sekitar 19 tahun.

panti pijat kudus
Anisa (kiri bawah) bersama rekan-rekannya di Panti Pijat Tunanetra Anisa, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi 

Kepada Seputarkudus.com, Anisa sudi berbagi kisah tentang panti pijat yang ia dirikan. Dia mengatakan, tak jarang dirinya mengalami perlecehan dan prilaku tidak sopan dari pasiennya. Saat menemui pasien “nakal”, dia mengaku keluar ruangan. Kemudian ada penjaga yang biasa disana untuk memberi nasihat kepada pasien tersebut.

“Banyak pasien yang tidak sopan, mintanya pijat plus-plus. Saya kesal dan saya tinggal keluar. Saya biarkan dia di dalam nanti juga keluar sendiri. Biasanya ada pak Paimo yang jaga di sini memberi nasihat. Saya berusaha sabar daripada saya ribut lebih baik saya tinggal saja,” uangkap wanita tiga anak itu.

Baca juga: Setelah Pijat di Panti Pijat Tunanetra Anisa, Joko Merasa Fresh dan Ingin Datang Lagi Setiap Kali Capai Kerja

Anisa mengaku sudah tujuh kali berpindah-pindah tempat membuka usaha pijat. Sejak dirinya selesai sekolah pijat pada awal tahun 1997, dia bekerja sebagi tukang pijat di Kaliputu, Kecamatan Bae, Kudus selama enam bulan. Setelah itu dia membuka jasa pijat di rumahnya Desa Bae, Kecamatan Bae Kudus selama satu tahun.

“Kemudian saya ikut suami dan membuka jasa pijat di Dukuh Pucangkerep, Desa Keramat, Kota Kudus, selama dua tahun, waktu itu dibantu tiga orang. Kemudian pindah ke Jalan Menur selama dua tahun. Pindah lagi ke Desa Melati Lor selama tujuh tahun, waktu itu dibantu enam orang. Masih pindah lagi ke Desa Melati Kidul selama tiga tahun, dan dibantu satu orang waktu itu. Terakhir di sini sudah sekitar tiga tahun,” jelasnya.

Dia mengaku berpindah-pindah tempat karena saat itu masih mengontrak. Dan saat ini Anisa mengaku bersyukur karena sudah bisa membeli rumah meski belum lunas angsurannya. Dan setiap pindah tempat dia mengaku banyak pasien yang tidak datang kembali karena kehilangan jejak.

Anisa mengungkapkan pandangannya mulai kabur sejak kelas satu sekolah tinggi pertama (SMP). Sampai saat ini dia tidak tahu penyakit apa yang membuatnya tidak bisa melihat, karena dokter hanya mengatakan kepada ayahnya dan dia tidak diberitahu. Dia tidak bisa melihat total setelah melahirkan anak kedua pada tahun 2001.

Meski tidak bisa meihat, dia mengaku bisa melakukan sendiri aktivitas sehari-hari di rumah. Misalnya menyamu, ngepel, nyuci, dan menyetrika pakaian, masih bisa dia lakukan karena sudah terbiasa. Tetapi untuk aktivitas di luar rumah biasanya dia mengajak anaknya untuk menemani.

- advertisement -

Rodiah, Warga Mayong 25 Tahun Berjualan Durian di Kudus Karena Lebih Menguntungkan

0
SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Kendaraan roda tiga terlihat terparkir di tepi Jalan Diponegoro, Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus. Di atas bak kendaraan terlihat beberapa buah
durian. Di samping kendaraan tampak seorang wanita memakai jilbab sedang duduk menunggu pembeli datang. Wanita tersebut bernama Rodiah
(50) penjual durian.

jual durian di kudus
Rodiah, penjual durian di Jalan Diponegoro Kudus asal Mayong. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu datangnya pembeli, Rodiah sudi berbagi kisah
tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai berjualan buah
durian di tepi Jalan Pangeran Diponegoro Kudus sekitar 25 tahun yang lalu. Dia
mengaku berjualan buah dengan ciri khas kulitnya yang dipenuhi duri itu saat
musim panen durian di daerah Mayong, Jepara dan juga di Dawe Kudus.
“Setiap hari aku sebenarnya berjualan aneka buah – buahan
di antaranya, apel, pir, pepaya, semangka, pisang, anggur, kelengkeng, buah
naga, dan lainya. Namun pada saat musim durian, aku rela meninggalkan berjualan
aneka buah tersebut dan memilih berjualan durian di Kudus, karena lebih
menguntungkan,” ujar Rodiah yang mengaku rutinitas berjualan aneka buah
tersebut di Pasar Mayong, Jepara.
Perempuan berasal dari Mayong Jepara itu mengungkapkan
alasan dia lebih memilih berjualan buah durian. Menurutnya buah durian itu
lebih disukai pembeli karena musim panennya setahun sekali. Dan kebetulan saat
musim panen durian di wilayah Mayong Jepara dan Dawe Kudus itu biasanya pada
musim hujan.

“Saat musim hujan seperti sekarang ini berjualan aneka buah
di Pasar Mayong kurang begitu laku. Karena sebab itu meskipun sekarang di Dawe
maupun Mayong Jepara baru memasuki  awal musim
panen durian, dan stok buah durian di dua daerah tersebut masih agak sedikit,
aku tetap lebih memilih berjualan durian,” ungkapnya.
Dia mengaku setiap hari berjualan di Kudus membawa sekitar
100 sampai 200 biji buah durian. Saat ramai pembeli dia mengatakan bisa menjual
semua buah berkulit duri dalam sehari. Namun saat sepi sehari paling dia hanya
mampu menjual separuhnya saja. “Biasanya saat ramai pembeli itu pada hari
Kamis, Jumat, Sabtu serta Minggu,” jelasnya.
Perempuan yang sudah dikaruniai enam anak dan lima cucu itu
mengatakan, menjual buah yang terkenal memiliki aroma khas tersebut dengan tiga
harga berbeda sesuai dengan besar dan kecil buah tersebut. Dia lalu merincinya,
buah durian paling besar satunya dia jual dengan harga Rp 100 ribu, ukuran
sedang dia banderol Rp 50 ribu sedangkan yang paling kecil dia jual Rp 20 ribu
satu.  

“Durian – durian dia
atas bajai itu durian jenis biasa, kalau untuk jenis petruk dan durian montong
belum ada. Wah, kalau sudah ada dua jenis durian tersebut dan stok buah durian
di Mayong dan Dawe sudah banyak, sehari aku biasa membawa sekitar 500 buah Durian,
dan tentunya sehari aku bisa menjual buah durian bisa lebih banyak ,” jelasnya.
  
- advertisement -

Stasiun (2), Saksi Keganasan Agresi Militer Belanda 1, yang Lain Hancur, Stasiun Wergu Tetap Berdiri Kokoh

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Cahaya matahari terlihat menerobos sela-sela atap Stasiun Wergu Kudus yang terbuat dari seng. Kaca warna-warni di bagian atas juga terlihat beberapa lubang berdiameter sekitar
2 sentimeter di bangunan masa penjajahan Belanda tersebut.
Retakan-retakan juga terlihat jelas pada bangunan
berukuran 20×60 meter yang sekarang menjadi pasar di Jalan Johar, Kelurahan
Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus.

Bagian Dalam Stasiun Kereta Api Kudus
Bagian dalam Stasiun Wergu Kudus yang dialihfungsikan menjadi pasar. Foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno, lubang-lubang yang
terdapat pada bangunan stasiun tersebut, merupakan bekas peluru pesawat tentara Belanda
saat terjadi agresi militer pertama pada 21 Juli 1947. Menurutnya, ketika itu
Belanda membombardir wilayah Kudus, Jepara dan sekitarnya menggunakan
pesawat Mustang alias cocor merah P-15. 

“Saat kejadian tersebut tidak ada
korban tewas. Selain menyerang Stasiun Wergu pesawat tersebut juga menyerang
Muriatex dan rumah paseban bupati Kudus,” ungkapnya saat memaparkan materi pada
kegiatan Seminar Konservasi Kesejarahan yang digelar mahasiswa Jurusan Sejarah
Universitas Negeri Semarang (Unnes) di SMA 1 Mejobo Kudus, Sabtu (17/12/2016).

Danu Suyugi (81) yang hadir sebagai saksi mata pada kejadian
tersebut mengungkapkan, ketika itu Belanda datang untuk membombardir Kudus dan
sekitar melalui jalur udara. Menurutnya, saat itu tidak melalui jalur darat
karena tentara Belanda sudah tahu bahwa pejuang-pejuang sudah bersiap untuk
menyerang. Di antaranya mereka bersiap di Jembatan Tanggul Angin. “Banyak
pemuda-pemuda bersiap menyerang. Mereka bersembunyi di bawah dan di sekitar jembatan,”
ungkap dia yang ikut menyerang.

Oleh karena itu dikirimlah pesawat untuk melakukan
penyerangan dari udara. Menurutnya, salah satu target penyerangan yakni Stasiun
Kudus. Belanda menyangka, Stasiun Wergu digunakan untuk berkumpulnya para
pejuang. Namun yang ada hanyalah masyarakat sipil saja. Para pemuda yang
berjuang menyebar untuk melawan pasukan Belanda. “Tidak ada korban tewas dalam
penyerangan di stasiun tersebut. Bekas pelurunya masih bisa dilihat sampai
sekarang,” jelasnya yang akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia.

Edy menambahkan, pada agresi militer pertama tersebut hanya Stasiun
Kudus saja yang masih utuh berdiri. Menurutnya, tempat lain pabrik Muriatex
dan rumah paseban Bupati Kudus sudah hancur karena serangan pasukan Belanda.
Bangunan tersebut satu-satunya prasasti dari keganasan serangan Belanda. “Dari
sekian tempat yang menjadi sasaran peluru, semuanya tak ada yang tersisa
kecuali Stasiun Kudus,” jelasnya.

- advertisement -

Demi Bisa Menjual Habis Dagangannya, Penjual Siwalan Asal Ngemplak Ini Harus Berjualan Sejak Pagi Hingga Sore

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Seorang perempuan renta mengenakan
baju warna putih tampak duduk sambil mengupas buah lontar, atau sering disebut siwalan, di satu sudut Pasar
Bitingan, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus. Di depannya, terlihat tampah yang dipenuhi puluhan bungkus siwalan siap jual. Saat mengupas mengupas buah tersebut, seorang perempuan berkerudung datang untuk membeli daganganya. 

jual buah lontar di kudus
Rumiah sedang melayani pembeli siwalan yang dia jual di depan Pasar Bitingan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, perempuan renta bernama
Rumiah (69) itu sudi berbagi kisah tentang penjualan siwalan. Dia
mengaku lupa kapan tepatnya dia mulai berjualan. Dia
mengatakan saat musim siwalan, dia mengaku berjualan di dua
pasar yang berbeda di Kudus.

“Untuk menjual habis siwalanyang aku bawa, setiap hari
aku harus menjualnya di dua lokasi pasar yang berbeda. Saat pagi aku menjualnya di Pasar Wates, Undaan. Sedangkan mulai pukul 10.00 WIB aku berangkat naik bus untuk menjajakan daganganku di Pasar Bitingan hingga pukul 16.00 WIB,” ujarnya.
Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Ngemplak,
Kecamatan Undaan, mengatakan, setiap hari dirinya membawa sekitar 80 bungkus siwalan.  Dagangan yang dibawa itu tidak pernah bisa habis terjual di Pasar Wates. Namun, daganganya habis saat berjualan di Pasar Bitingan.

Dia mengatakan, menjual siwalannya tersebut dengan harga
Rp 5 ribu sebungkus berisi lima siwalan. Tapi saat ada yang menawar dia mengaku tak keberatan dan menurunkan harga. Meskipun mengurangi keuntungan, hal tersebut harus dilakukan agar daganganya cepat habis.
“Agar cepat habis aku harus rela keuntunganku berkurang.
kalau aku mempertahankan dengan harga Rp 5 ribu sebungkus, sehari daganganku
bisa saja tidak terjual habis,” ungkap Rumiah yang mengaku bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp
40 ribu sehari.
Perempuan yang mempunyai delapan anak dan sepuluh cucu
tersebut mengatakan, berjualan siwalan musiman. Dia mengatakan mendapatkan siwalan dari seorang warga Rembang, yang setiap hari
mengiriminya puluhan siwalan yang sudah dikupas serta sudah terbungkus.

“Aku berharap di Rembang serta di Tuban setiap bulan selalu
musim panen siwalan. Biar aku juga bisa setiap hari berjualan, agar aku
tidak menganggur dan merepotkan anak-anaku. Kalau berjualan aku kan punya
penghasilan, jadi aku bisa memberi uang saku saat cucu-cucuku berkunjung,”
ujarnya.
- advertisement -

Tak Ingin Membebani Keluarga, Mahasiswa Tingkat Akhir STAIN Kudus Ini Rela Berjualan Kerang Setiap Malam

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Sejumlah kendaran roda dua terlihat berlalu lalang di area parkir Alfamart, Jalan Pattimura, Desa Loram, Kecamatan Jati, Kudus. Tampak di sudut Alfamart, seorang pria mengenakan kaus biru sedang berdiri memegang sodet sambil menggoreng sejumlah kerang. Pria tersebut diketahui bernama Samsul Hilal (23), Mahasiswa aktif semester sembilan Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus.

mahasiswa stain kudus jual kerang
Gacung sedang menggoreng kerang pesanan pembeli. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pelanggan yang datang membeli, Gacung begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha berjualan kerang setiap malam tersebut. Dia menceritakan, usaha kerang yang diberi nama Dalang Kerang itu bukan miliknya, melainkan milik alumni STAIN. Dia Setiap hari bekerja mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB  menjadi penjual kerang karena tidak ingin membebani keluarganya.

“Sebenarnya ini usaha teman saya, Hamim namanya. Saya hanya membantu berjualan, ya hitung-hitung saya bisa mencari uang sendiri, berusaha mandiri. Setidaknya saya bisa meringankan beban keluarga dengan upah saya Rp 25 ribu per malam,” ungkap Gacung yang bekerja sejak awal bulan ini, bertepatan dengan pendirian Dalang Kerang.

Pria yang tercatat sebagai warga di Desa Wates RT 2 RW 3, Kecamatan Undaan, Kudus, ini menjelaskan, untuk sementara kerang yang dijual hanya kerang original yang sudah matang lalu di masak kembali. Bahan yang digunakan bermacam-macam, meliputi sambal, garam, gula, penyedap masakan, air yang di masak bersama sejumlah kerang.

Selain di depan Alfamart Desa Loram Kulon, pemilik usaha juga masih mempunyai dua cabang lainnya. Diantaranya, di depan Alfamart Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus dan depan Alfamart dekan dengan STAIN. “Lokasi kami memang berada di depan Alfamart semua, soalnya berada ditempat keramaian,” ungkap Gacung sembari memainkan handphone.

Sementara itu, Ainnur Rohmat Hadi S. (21), rekan kerja Gacung selama berjualan kerang mengatakan, untuk berjualan di depan Alfamart, pihaknya harus membanyar uang sewa sebesar Rp 550 ribu per bulan untuk setiap lokasi yang ditempati dalam berjualan. Terkait dengan harga per porsi kerang yang dijual tidak bisa di pastikan, tergantung dengan naik turunya harga pokok kerang sewaktu membeli di Kabupaten Demak.

“Harga kami menyesuaikan, awal berjualan dulu Rp 8 ribu, tapi sekarang sudah Rp 10 ribu per porsi. Kalau penjualan, rata-rata per malam sekitar 8 sampai 9 porsi yang terjual. Misal ramai ya bisa sampai 15 porsi per malam,” ungkap Rohmat,  mahasiswa semester tujuh Jurusan Syariah Fakultas Ahwal Syasiyah STAIN Kudus.

- advertisement -

Bengkel Enggal Motor, Bengkel Khusus Motor Roda Tiga Pertama dan Satu-Satunya di Kudus

0
SEPUTAR KUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi barat Jalan Kiai
Telingsing Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tidak jauh dari perempatan Menara
Kudus tampak tiga kendaraan roda tiga terparkir di depan ruko. Di
samping dua dari tiga kendaraan tersebut tampak dua orang sedang membongkar
mesin kendaraan bermotor itu. Di dalam ruko tampak meja etalase yang dipenuhi
dengan onderdil motor. Ruko tersebut yakni bengkel Enggal Motor.

bengkel motor roda tiga
Bengkel Enggal Motor, bengkel yang khusus melayani perbaikan motor roda tiga di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Dany Arieyanto (35) selaku pengelola bengkel
tersebut menuturkan, bengkel Enggal Motor didirikan bosnya pada 25 tahun silam
untuk begkel motor roda dua. Namun 15 tahun terkahir tepatnya sekitar  tahun 2000 bengkel tersebut beralih fungsi
menjadi bengkel khusus untuk perbaikan kendaraan roda tiga.
“Sebenarnya Enggal
Motor merupakan bengkel motor kendaraan roda dua. Namun sejak ada kendaraan
roda tiga dengan bak terbuka masuk Kudus, bosku lalu memutuskan untuk mengubah
Enggal Motor sebagai bengkel Khusus kendaraan roda tiga. Karena selain
prospeknya lebih menjanjikan, bengkel milik bosku merupakan bengkel kendaraan
roda tiga pertama di Kudus,” ujar pria yang akrab disapa Arie kepada Seputarkudus.com
Pria yang tercatat sebagi warga Desa Burikan itu mengatakan,
karena bengkel bosnya tersebut merupakan bengkel pertama di Kudus, sekarang
sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan pelangganya tidak hanya dari Kudus,
melainkan dari daerah di sekitarnya, di antaranya, Jepara, Demak serta Pati.

“Biasanya mereka yang datang dari daerah tetangga, kendaraan
roda tiga atau biasa disebut bajai dulunya membelinya dari diler milik bosku.
Karena memang bosku bertujuan mengalih fungsikan bengkel Enggal Motor dari
perbaikan motor roda dua ke kendaraan roda tiga, karena selain masih minim
pesaing juga sebagai penunjang layanan servis bagi pembeli kendaraan roda tiga
dari dilernya,” ujarnya
Dia menuturkan, para pemilik kendaraan roda tiga yang sudah
pernah memperbaiki kendaraanya di bengkel Enggal Motor,  biasanya mereka langsung cocok dengan servis
serta pelayanan yang diberikan. Karena
menurutnya kepuasan para pelanggan adalah motto dari bengkel Enggal Motor.
Pria yang sudah ikut kerja dengan pemilik bengkel Enggal
Motor selama belasan tahun itu mengatakan, saat ramai bengkel Enggal Motor bisa
memperbaiki kendaraan roda tiga lebih dari sepuluh unit sehari. Namun saat sepi
kata dia, sehari paling hanya ada lima unit yang perlu diperbaiki.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengaku selain
servis dan bongkar mesin. Di bengkel Enggal Motor juga menjual aneka onderdil
untuk kendaraan roda tiga. Dia mengatakan, bengkel Enggal motor buka dari hari
Senin sampai Sabtu mulai pukul 8.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB.
“Di bengkel Enggal Motor hanya melayani servis dan perbaikan
mesin serta kelistrikan motor.  Tidak
menerima perbaikan kerusakan bak, dan bodi dari kendaraan tersebut. Dan untuk
menunjang aktifitas servis dan perbaikan mesin, Enggal Motor mempekerjakan dua
mekanik mesin yang sudah berpengalaman,” ujarnya.

- advertisement -

Saking Larisnya, Toko ARS sering Kehabisan Stok Klakson Telolet, Banyak Pembeli Pulang dengan Tangan Hampa

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Beberapa karyawan tampak sibuk
melayani pembeli yang datang ke Toko ARS, Jalan Lingkar
Utara, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Di dalam toko terlihat berbagai
macam sparepart mobil terpajang di etalase.
Selain itu, Toko ARS juga menjual klakson “Om
Telolet Om”
yang sedang ngetren saat ini, tidak hanya di Indonesia namun juga di beberapa negara lain.

klakson om telolet om
Karyawan Toko ARS melayani calon pembeli klakson ‘om telolet om’, Foto: Rabu Sipan

Endang Winarti ( 37), penanggung jawab Toko ARS mengatakan, tokonya menjual klakson
telolet baru beberapa bulan terakhir, tepatnya pada bulan Juli 2016. Menurutnya
pada saat itu demam telolet sudah mulai ramai di Jepara, meskipun belum
se-booming saat ini. Namun katanya, sejak tersedia klakson telolet, setiap hari ada saja
para sopir dan pemilik mobil yang membeli barang tersebut.
“Klakson telolet beberapa bulan terakhir memang sedang booming
dan diminati. Bahkan saking larisnya toko kami sering kehabisan stok
klakson dengan bunyi telolet itu. Tidak hanya di toko ARS, toko di Semarang
yang selalu menyetr klakson tersebut juga sering kehabisan persediaan,”
kata perempuan yang akrab disapa Endang kepada Seputarkudus.com.
Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Margorejo,
Kecamatan Dawe, mengatakan setiap hari rata-rata di toko ARS bisa menjual
sekitar tiga klakson. Menurutnya, di toko dia bekerja sebenarnya bisa menjual lebih
banyak klakson telolet. Namun berhubung sering kehabisan stok, toko ARS
hanya mampu menjual di bawah lima pcs sehari.

klakson_telolet

“Karena sering kehabisan stok para pelanggan sering kecewa
dan pulang tanpa membawa klakson telolet. Meski kecewa mereka biasanya
meninggalkan nomor HP serta berpesan agar dikabari jika di toko ARS
sudah ada klakson telolet,” jelas perempuan yang sudah kerja di toko tersebut
sekitar 11 tahun.
Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, saat
ini di toko ARS tersedia tiga jenis klakson telolet. Dia merinci ketiga jenis klakson tersebut beserta harganya. Klakson telolet tiga jenis suara dijual seharga Rp 400 ribu, untuk jenis lima suara dibanderol Rp
725 ribu. Sedangkan klakson telolet enam suara dilepas dengan harga Rp 750 ribu. 

“Harga tersebut belum berikut ongkos pasang, kalau mau sekalian pasang
pembeli dikenakan tambah ongkos Rp 50 ribu,” jelasnya.

Dari tiga jenis klakson telolet itu, Endang mengatakan klakson
dengan enam suara yang paling diminati serta paling laris dibeli.
Menurutnya meskipun lebih mahal dibanding jenis lainya, pembeli menganggap klakson telolet enam suara lebih mantap.

“Penjualan klakson telolet jika dikalkulasi sebulan, penjualan klakson telolet enam suara mendominasi sebanyak 50 persen. Sedangkan
50 persenya lagi dibagi antara klakson jenis tiga suara dan jenis klakson lima
suara,” ungkapnya.

- advertisement -

Setelah Pijat di Panti Pijat Tunanetra Anisa, Joko Merasa Fresh dan Ingin Datang Lagi Setiap Kali Capai Kerja

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Sebuah rumah di Desa Rendeng RT 5, RW 2, Kecamatan Kota, Kudus, tertulis Panti Pijat Tunanetra Anisa di bagian depannya. Terlihat tiga pria di ruang tamu, dua di antaranya tunanetra yang menjadi tukang pijat di panti tersebut. Tak lama keluar seorang pria dari ruang pijat. Dia yakni Joko Susanto (40). Dia mengaku cocok pijat di panti itu, karena setelah pijat badannya dirasa lebih ringan.

tukang pijat
Pemijat di Panti Pijat Tunanetra Anisa medang memijat kaki pasien. Foto: Ahmad Rosyidi

Joko begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com, selama pijat di panti tersebut. Dirinya mengaku rutin pijat di Panti Pijat Tunanetra Anisa. Dia mengungkapkan hampir satu pekan sekali datang untuk pijat. Joko yang bekerja di percetakan, mengaku badannya terasa capai setelah bekerja selama satu pekan dan merasa butuh pijat untuk menjaga kebugaran.

“Ini kelima kalinya saya pijat di sini. Biasanya satu pekan seklai saya datang ke sini. Saya bekerja dipercetakan, jadi saya merasa butuh menjaga kebugaran dengan dipijat. Karena setelah pijat di sini saya merasa cocok, badan saya terasa lebih ringan dan fresh kembali,” ungkap warga Rendeng itu.

Paimo (49) yang sehari-hari menjadi penjaga disana mengungkapkan, Panti Pijat Tunanetra Anisa pemijatnya memang tunanetra semua. Paimo mengaku sudah mendampingi Anisa sejak tahun 1999. Berawal dari dia berlangganan pijat waktu itu, kemudian dia menawarkan diri menjadi penjaga.

Dia menjelaskan bahwa Panti Pijat Tunanetra Anisa buka mulai pukul 8.00 WIB, hingga pukul 21.00 WIB. Sedangkan pijat perut, pasien bisa datang lebih pagi, karena lebih baik dipijat setelah bangun tidur sebelum makan dan minum keadaan perut kosong. Dan tutup hanya satu bulan sekali, pada hari minggu di minggu kedua.

“Saya sudah lama ikut di sini, sejak masih buka di Kecamatan Kota sekitar tahun 1999 waktu itu. Kami buka hampir setiap hari, kecuali Minggu di pekan kami libur satu kali setiap bulan,” jelas pria tiga anak itu.

Paimo juga merinci paket harga di Panti Pijat Tunanetra Anisa, untuk pijat biasa Rp 35 ribu, pijat lulur Rp 50 ribu, dan pijat panggilan Rp 60 ribu. Dan pasien biasanya pesan lewat telepon terlebih dahulu, jadi tidak perlu menyantri. Dia mengatakan, setiap hari pasti ada pasien yang datang, dan saat pasien tidak mau dipijat wanita biasanya dirinya menjemput tukang pijat tunanetra pria yang sudah kerjasama dengannya.

“Biasanya pasien pesan dulu, tapi kadang ada yang sudah telepon tetapi tidak jadi datang, baru melayani pasien yang belum memesan. Saya juga biasa antar jemput tukang pijat tunanetra yang biasa membantu di sini, ada sekitar lima tukang pijat tunanetra yang sudah kerjasama saat pelanggan terlalu banyak atau butuh tukang pijat pria,” tambah Paimo.

Selain dari Kudus, Paimo juga merinci pasien yang adari luar kota. Ada pasien yang datang dari Demak, Jepara, Pati, Semarang, Kendal, Purwodadi, dan pasien dari Madura juga ada. Tetapi sebagian besar pasien datang dari Kudus sendiri.

- advertisement -

Masyarakat Kudus yang Ingin Punya Uang Desain Baru Sabar Dulu, Pekan Depan Bisa Diburu

0
SEPUTARKUDUS, NGANGUK – Beberapa orang tampak berdiri mengantre di lobi gedung Bank BRI Cabang Pusat Kabupaten Kudus, di tepi
selatan Jalan Jenderal Sudirman, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Satu persatu mereka menuju meja teller untuk bertransaksi. Tampak beberapa nasabah bertransaksi untuk menyetor maupun menarik uang. Dari
sekian banyak transaksi, tak satu lembar pun uang cetakan baru terlihat.

uang baru 2016
Sejumlah nasabah bertransaksi di meja teller Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pusat Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Asisten Manajer Operasional
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pusat Kudus Maryatun (55), peredaran pecahan uang baru belum sampai di di Kudus. Masyarakat Kudus yang penasaran dengan desain
dan bentuk uang kertas keluaran terbaru agar bersabar untuk memiliki uang baru tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat Kudus bersabar untuk
memiliki uang dengan desain terbaru tersebut. Karena baru di-launching oleh
Bank Indonesia dan diresmikan oleh presiden RI bapak Joko Widodo  pada hari Senin (20/12/2016). Peredaran
uang baru tersebut juga masih dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat luas,”
tuturnya.

Perempuan yang tinggal di Perumahan Kudus Permai, Desa
Garung Lor, Kaliwungu mengatakan, masyarakat yang ingin
memiliki pecahan uang terbaru bisa menukar langsung ke Bank BI Semarang. Karena
menurutnya setiap Kamis Bank BI melayani penukaran uang untuk masyarakat
umum.

Perempuan yang sudah mengabdi selama 34 tahun di BRI
itu mengatakan, peredaran uang baru tersebut baru sampai di bank koordinator
BRI Semarang di Jalan Patimura. Namun menurutnya, kabar jumlah uang baru yang
diterima pihak bank koordinator BRI Semarang juga masih terbatas, karena memang
masih dalam tahap pengenalan.

Maryatun, Asisten Manajer Operasional BRI Cabang Pusat Kudus

Dia memberitahukan, pekan depan di Bank BRI Cabang Pusat Kudus dimungkinkan sudah ada uang baru. Karena menurutnya, pekan
depan BRI Kudus mau tambah kas ke Bank Koordinator BRI Semarang sekaligus
minta uang desain baru. “Semoga saja pekan depan di Bank BRI Cabang Kudus sudah
ada uang desain baru,” harapnya.
Serupa dengan Bank BRI Cabang Kudus,  Bank Mandiri
Kudus juga belum menerima uang kertas desain baru. Wahyu Sudarsono (35), Brand Operational Manager Bank Mandiri
Kudus mengatakan, sebenarnya Bank Mandiri sudah mengajukan ke BI untuk distribusi uang baru ke Bank Mandiri
Wilayah Semarang.

Sejumlah nasabah bertransaksi di Bank Mandiri Cabang Kudus. Foto: Rabu Sipan

Bahkan menurutnya, pengajuan tersebut pada Selasa (21/12/2016) yang berarti sehari setelah acara launching
uang kertas baru. Namun sampai pekan ini Bank Mandiri Wilayah
Semarang belum ada uang baru. “Apalagi di Bank Mandiri Kudus,” ujar pria yang
akrab disapa Wahyu sambil tersenyum.
Pria yang sudah bekerja di Bank Mandiri selama 11 tahun itu
mengatakan, belum tahu kapan persisnya uang baru tersebut distribusinya sampai
di bank Mandiri Kudus yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Rendeng,
Kecamatan Kota, tepatnya di pojok Penthol itu.
“Aku tidak bisa memastikan pekan depan di Bank Mandiri Kudus
sudah tersedia aneka pecahan uang kertas baru atau belum. Tapi kalau dua pekan
setelah lounching aku pastikan di
Bank Mandiri Kudus sudah ada berbagai macam uang kertas desain baru tersebut,”
ujarnya.
   
- advertisement -

Smartphone Xiaomi Tidak Mengenal Quartal Penjualan, Hingga Akhir 2016 Produknya Tetap Diburu

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Tumpukan kardus berisi smartphone terlihat tertata di dalam lemari kaca toko Extreme Cell, Jalan Pemuda Kelurahan
Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus. Sebagian di antaranya diletakkan di atas setelah dipergunakan pegawai toko untuk dilihatkan kepada calon pembeli. pada akhir tahun 2016 ini, sebagian besar penjualan ponsel pintar di Extreme Cell didominasi merek Xiaomi.

harga xiaomi di kudus
Karyawan Extreme Cell menunjukkan produk Xiaomi yang menjadi produk terlaris di akhir 2016. Foto: Imam Arwindra

Penuturan tersebut diungkapkan owner Extreme Cell Roy
Kristianto (39) saat ditemui Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, dalam sehari tokonya mampu menjual 25-40 unit ponsel Xiaomi.
Seri Xiaomi yang sedang ramai diburu pembeli di antaranya Xiaomi Redme 3S, Xiaomi Redme Pro dan
Xiaomi Redme 3X. “Ditambah lagi Xiaomi Redme 4 dan Redmi 4A,” tambahnya.

Dia membeberkan, harga yang ditawarkan Xiaomi Redme 3S yakni
Rp 1,5 Juta, Xiaomi Redme Pro Rp 1,8 Juta, Xiaomi Redme 3X Rp 1,6 Juta, Xiaomi
Redme 4 Rp 1,8 Juta dan Redmi 4A Rp 1,4 Juta.  Roy menuturkan, ponsel pintar tersebut mempunyai spesifikasi tinggi namun dibandrol dengan harga murah. Hal tersebut
diperkirakan Roy menjadi daya tarik sendiri masyarakat untuk membelinya. 

“Contoh
(Xiaomi) Redmi 3S, dengan harga segitu (Rp 1,5 juta) bisa dapat Android dengan
ram 2 gigabyte, internal 16 gigabyte dan external mencapai 256 gigabyte serta
mempunyai dua slot sim. Selain itu, kamera belakangnya 13 megapixel dan depan
lima megapixel,” jelasnya.

Menurutnya, penjualan Xiaomi tidak mengenal quartal
penjualan. Walau saat Lebaran Haji penjualannya tidak menurun, justru naik.
Sampai menjelang akhir tahun 2016 penjualan Xiaomi diprediksi stabil diangka
25-40 unit per hari dan berpotensi juga akan naik. Dia juga menuturkan, untuk
brand lainnya misalnya Samsung, Oppo dan Vivo juga penjualannya bagus namun
tidak bisa menandingi Xiaomi.
Dikatakan Roy, dalam sebulan all series Samsung dapat terjual
400 unit. Oppo 5-10 unit perhari dan terakhir Vivo dengan 2-5 unit perhari. Untuk
Samsung yang sedang ramai yakni Samsung G Series. Sedangkan Oppo dengan F1s-nya
dan Vivo dengan keluaran barunya Vivo V5. “Vivo dengan selfi kamera 20 mega
pixel kami jual Rp 3,5 juta,” ungkapnya.

- advertisement -