Beranda blog Halaman 1929

Kiss, Perempuan Asal Cluwak Pati Ini Coba Peruntungan di Kota Kretek Jual Batik Tulis Bakaran Khas Pati

0

SEPUTARKUDUS.COM. JEPANG PAKIS – Di tepi Jalan Pattimura, tepatnya di komplek ruko Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sejumlah batik tertata rapi menghiasi ruangan ruko. Di atas ruko, terdapat papan berukuran sedang tertera tulisan Batik Tulis Bakaran Gading Tjokro. Pemilik usaha tersebut di ketahui Kiss Devi (36), seorang wanita yang mantab menjual batik khas Pati di Kudus.

batik bakaran pati
Kiss menunjukkan kreasi Bakaran Pati di toko miliknya, di Desa Jepang Pakis, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad 

Kepada Seputarkudus.com, Kiss begitu dia akrab disapa, menjelaskan, menekuni usaha batik tulis sudah lebih dari satu tahun empat bulan. Menurutnya, batik tulis bakaran memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam proses pengerjaan. Sewaktu pertama kali melihat, dia mengaku kagum dan seketika itu ingin membuka usaha batik tulis bakaran asal Pati di Kota Kretek.

“Awalnya saya tertarik dengan apa yang namanya seni. Batik tulis bakaran pengerjaannya kan begitu luar biasa. Bagi orang yang cinta terhadap seni, berapapun harga yang ditawarkan pasti akan dikejar,” ungkap Kiss yang tercatat sebagai warga di Desa Ngawen RT 3 RW 2, Kecamatan Cluwak, Pati.

Wanita yang sudah dikaruniai satu orang anak ini mengatakan, selain menjual kain potongan batik tulis, dia juga menjual berbagai macam pakaian batik tulis siap pakai untuk semua umur. Produk yang di jual berbeda-beda,  ada yang berupa kemeja, sarung, kerudung, atasan wanita, dan ada pula pakaian untuk anak-anak. “Mulai dari pakaian orang tua hingga anak-anak semua ada, harga dan kualitas selalu menjadi nomer satu bagi saya,” unjarnya.

Dia menjelaskan, batik yang dijual tidak hasil pembuatannya sendiri, melainkan dia beli dari Batik Tjokro asal Pati. Kain tersebut kemudian dia kreasikan sesuai desain yang dia inginkan. Pemasaran yang dilakukan hanya menunggu pembeli yang datang di ruko miliknya. Sesekali dia juga mengikuti sebuah pameran. “Saya lebih suka (pemasaran) dari mulut ke mulut, lebih jelas untuk menjelaskannya,” ungkapnya.

Harga yang di tawarkan Gading Tjokro sangat beragam, berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 1,5 Juta, tergantung proses pembuatan dan kain yang digunakan. Misalnya kemeja, dia jual seharga Rp 225 ribu hingga Rp 1 juta, atasan wanita dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta, sarung Rp 175 ribu, kerudung mulai harga Rp 60 ribu dan untuk pakaian anak-anak mulai harga Rp 150 ribu.

“Kain potongan harganya antara Rp 100 ribu hingga 120 ribu, tapi tergantung kainnya, soalnya kain sutra itu lebih mahal. Untuk modal awal, kurang lebih Rp 100 juta, omzet tidak bisa dipastikan. Kadang ada pembeli, kadang juga seharian tidak ada, tidak seperti di mall. Sedangkan pembeli, kebanyakan masyarakat Kudus,” tambahnya.

- advertisement -

Stasiun (1), Bangunan Pasar Wergu, Saksi Bisu Kemajuan Moda Transportasi di Kudus Kala Itu

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Kerlap-kerlip lampu kuning  di pertigaan depan Stasiun Wergu Kudus, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota,
Kudus. Letak stasiun yang kini menjadi pasar tepat berada di pertigaan, pertemuan Jalan
Johar dan Jalan Letkol Tit Sudono. Bangunan yang memilik
luas 20 x 60 meter dibangun tanggal 15 Maret 1884 pada masa penjajahan Belanda.

stasiun wergu kudus
Sejumlah kendaraan melintas di depan Stasiun Wergu Kudus, yang kini menjadi pasar. Foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno, stasiun tersebut yang menjadi pasar sejak tahun 1993. Dulu Stasiun Wergu Kudus menjadi simbol kemajuan Kabupaten Kudus dan sekitarnya sejak akhir abad ke-19. Selain itu sebagai penanda majunya peradaban dalam moda transportasi. 

Edy
mengungkapkan, kehadiran kereta api di Kudus melalui perusahaan Semarang Joana Stomtram Maatschappij
(SJS) membuat Kudus lebih maju. “Terutama masyarakat Kudus yang sebagian
besar pedagang. Tentu keberadaan stasiun dan kereta mempunyai makna penting,”
ungkap Edy saat memaparkan materi pada kegiatan Seminar Konservasi Kesejarahan
yang digelar mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) di
SMA 1 Mejobo Kudus, Sabtu (17/12/2016).

sejarawan kudus edy supratno
Sejarawan Kudus, Edy Supratno (paling kanan). Foto: Imam Arwindra

Diceritakan, sebelum ada kereta api, menurutnya
transportasi yang digunakan masyarakat yakni kereta sapi atau kerbau untuk
mengakut komoditas beras, kapuk, kayu bakar dan hasil bumi lainnya. Sampai-sampai
Menteri Jean Pemerintah Belanda Chretien Baud pada tahun 1840 memesan khusus 40 ekor unta
dan 200 ekor keledai dari Afrika. 

“Saat itu juga ada peraturan melarang masyarakat menyembelih kerbau. Selain kereta bertenaga hewan, juga ada transportasi yang
menggunakan jalur sungai,” tambahnya.

Tahun demi tahun berjalan, para pengusaha terutama pemilik
pabrik gula mengeluh karena merugi pada musim hujan. Banyak jalan rusak, membuat kereta lembu atau kerbau sering terjebak lumpur. Mereka
harus berhari-hari, bahkan berpekan-pekan untuk menuju pelabuhan Semarang guna
mengirim hasil bumi yang akan dibawa ke Belanda. “Akibat persoalan tersebut perusahaan merugi,” jelasnya.

Kondisi Stasiun Wergu Kudus saat ini yang dimanfaatkan menjadi pasar. 

Menyadari kebijakan Beud yang belum membuahkan hasil, Kopiist, majalah pertama yang terbit di
Hindia-Belanda memberikan sebuah solusi modern. Edy menjelaskan, dalam artikel
majalah Kopiist nomor 11 tahun 1842
tertulis sudah saatnya di Hindia-Belanda dibangun jalur kereta api. Menurut Kopiist  tahun tersebut belum ada
satupun negara di Asia yang memiliki jalur kereta api seperti yang ada di
Eropa.
Gagasan tersebut, kata Edy, didukung kondisi tanah di Hindia-Belanda
datar sehingga memudahkan pembuatan rel kereta api. Melalui sebuah dekrit, Raja Willem I
memerintahkan untuk membangun jalur kereta di Hindia-Belanda. Pertama
kali diusulkan jalur kereta dari Kedu ke Semarang. 

“Pemerintah Hindia-Belanda
sangat berkepentingan karena hasil bumi dari wilayah Temanggung, Wonosobo,
Magelang, Bagelen dan sekitarnya sangat melimpah. Hasil-hasil bumi tersebut
akan diangkut pelabuhan untuk dibawa ke Nederland,” tuturnya.

Setelah 20 tahun mengalami kendala, akhirnya tahun 1962 pemerintah Hindia-Belanda
menjalankan pembangunan proyek kereta api pertama. Namun pembangunan tersebut
dilakukan oleh perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische
Spoorweg-maatschappij (NIS). Jalur yang dibangun yakni Semarang-Surakarta-Yogjakarta. Perusahaan
NIS memulai proyek tersebut dimulai tanggal 17 Juni 1864 dan baru selesai 21
Mei 1873. Setelah NIS berhasil membangun jalur penting tersebut, barulah
perusahaan negara SS mengerjakan rel kereta api jalur Surabaya-Malang pada
1875.

Komoditas
Hasil Bumi
Menurut data dari peneliti bernama Endang yang disampaikan Edy
Supartno, selama masa 1884 hingga 1889, gula merupakan komoditas tertinggi yang
diangkut menggunakan kereta api. Jumlahnya melampaui beras, kapuk dan hasil
bumi lainnya. Disebutkan, tahun 1884 SJS mengangkut gula dari wilayah Kudus
mencapai 1.443 ton. Tahun berikutnya 2.458 ton dan tahun 1886 mengalami
kenaikan 2.577 ton. 

“Tiga tahun berikutnya, gula yang diangkut juga dari pabrik
gula Mayong Jepara, jumlahnya mencapai 3.174 ton, 3.097 ton dan 2.638 ton. Di
Kudus ada tiga pabrik gula yakni Rendeng, pabrik gula yang ada di
Tanjungmojo, Jekulo dan Besito yang masuk distrik Cendono. Bersama pabrik gula
ini, Belanda juga mempunyai perkebunan kopi di Dawe,” terangnya.

Edy mengungkapkan, selain gula kereta api juga mengangkut batu bara dan kayu jati dari Blora untuk pabrik gula di Kudus. Selain itu juga diangkut keramik dari Mayong dan minyak dari Cepu. Jalur kereta api yang dibuat tidak sampai Gresik, Jawa
Timur, karena perusahaan SJS mempertimbangkan
jalur tersebut tidak prospektif. Sementara itu pemerintah Belanda menginginkan Jawa Tengah dan Jawa Timur terhubung “Tetap SJS tetap menolak,” tambahnya.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, kereta api tidak hanya membawa hasil bumi, melainkan juga digunakan untuk transportasi umum. Dari data yang Edy miliki, penumpang dibagi menjadi
dua kelas, yakni kelas satu dan dua. Tahun 1884 kelas satu 3.807 orang dan
kelas dua 209.789. Begitu juga setahun kemudian jumlah meningkat menjadi 6.886 orang untuk kelas
satu dan 349.446 orang untuk kelas dua. 

“Jumlahnya meningkat tajam pada tahun 1889. Penumpang
kelas satu sebanyak 11.850 dan kelas dua 451.157 orang. Kelas dua memang
penumpangnya lebih banyak karena untuk menengah ke bawah,” tuturnya.

- advertisement -

Niat Awal Berjualan Martabak Telur Puyuh untuk Membantu Suami Cukupi Kebutuhan, Kini Justru Sebaliknya

0
SEPUTARKUDUS, LANGGAR DALEM – Seorang pria tampak sedang
memasukan martabak telur puyuh ke dalam kantong plastik di Jalan Menara Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota. Seorang pembeli berdiri di depannya menunggu pesanan. Di sebelah pria tersebut
terlihat seorang perempuan berjilbab sedang sibuk memasukan telur puyuh ke
dalam penggorengan. Perempuan tersebut bernama Selamet Siti
Yuana (32), penjual martabak telur puyuh di sebelah utara Masjid Menara Kudus.

martabak telur
Yuana sedang membuat martabak telur puyuh pesanan pembeli, tak jauh dari Masjid Menara Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, perempuan yang akrab disapa
Yuana itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan mulai
berjualan martabak telur puyuh sejak tujuh tahun silam, tepatnya pada tahun
2009. Sebelum berjualan martabak telur puyuh dia mengaku
hanya menjadi ibu rumah tangga.
“Aku dulunya menganggur dan hanya menjadi ibu rumah tangga.
Namun sejak melihat ramainya pembeli martabak telur puyuh yang dijual
orang Bandung di depan sekolah Banat, aku tertarik untuk menjual
dagangan serupa di rumah. Selain mudah dan modalnya kecil, jajanan ini mampu menarik siswa untuk membeli,” ujarnya.

Dia mengaku bersyukur dengan hasil berjualan maratabak telur puyuh tersebut. Dulu awalnya sekadar untuk mambantu suami. Kini justru hasilnya bisa buat memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan suaminya sekarang ikut membantu berjualan. “Semoga saja ke depanya berjualanku selalu lancar,” Harap Yuana. 

jual martabak telur puyuh di kudus

Perempuan yang tercatat sebagai Warga Desa Ploso, Kecamatan
Jati, mengatakan, pertama berjualan martabak telur puyuh di depan rumahnya
dengan modal sekitar Rp 100 ribu. Selang setahun berjualan di rumahnya, dia ditawari seseorang untuk berjualan di dekat Masjid Menara.

Selama berjualan di utara Masjid Menara hingga saat ini, daganganya tersebut sangat diminati pembeli. Saat sepi dia mengaku bisa
menjual sekitar 350 sampai 400 martabak telur puyuh. Sedangkan saat ramai dia
bisa mendapatkan lebih banyak penghasilan dengan mampu menjual sekitar 500
martabak. “Biasanya saat ramai pembeli itu hari Kamis hingga
malam Jumat,” jelasnya.

Perempuan yang mengaku sudah dikaruniai dua anak itu
mengatakan, menjual martabak telur puyuh seharga Rp 1.500. Untuk dua martabak dijual seharga Rp
2500. Sehari berjualan mulai pukul 10.00 WIB
sampai 20.00 WIB dia mengaku mendapatkan uang sekitar Rp 550 ribu.
Dia mengatakan, mendapatkan telur puyuh dari peternak
dari Desa Jurang, Kecamatan Dawe. Setiap telur puyuh yang akan dibuat martabak
tinggal sedikit biasanya dia lalu menelepon dan telur puyuh yang dia pesan akan
dikirim ke tempat dia berjualan. Telur puyuh dia beli Rp 95 ribu per kardus, berisi 75 butir.
- advertisement -

Inilah Sejarah Munculnya Maulidan Jawiyan Khas Desa Padurenan Pada Perayaan Maulid

0
SEPUTARKUDUS.COM, PADURENAN – Suara bacaan Albarzanji
terdengar keras dari arah Masjid Asy-Syarif I Desa Padurenan, Kecamatan Gebog,
Kudus. Di masjid itu empat orang berbaju koko putih terlihat sedang membaca kitab Albarzanji
di depan ratusan warga yang hadir pada kegiatan Gebyar Maulidan Jawiyan. Nada yang dilantunkan terdengar menggunakan aksen Jawa.

maulidan jawiyyan kudus
Masyarakat Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, membaca Selawat Albarzanji menggunakan aksen Jawa pada Maulidan Jawiyan. Foto Imam Arwindra

Menurut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa
Padurenan Ahmad Wafiy Baq, pembacaan Albarzanji di Desa Padurenan, nadanya
berbeda dengan pada umumnya. Nadanya yang dilantunkan lebih tinggi, lantang
dan menggunakan aksen Jawa. “Kalau orang awam memang cukup sulit, coba
dengarkan pasti berbeda. Ada syair (aksen) Jawanya. Sangat jelas kalimat Rahim
jadi Rahem,” jelasnya kepada Seputarkudus.com, Minggu (11/12/2016).

Wafiy menuturkan, muncul pertama kali syair Maulidan Jawiyan
di Desa Padurenan dipelopori oleh Raden Muhammad Syarif. Menurutnya, dia sosok
ulama atau wali bukan kelahiran Desa Padurenan melainkan pendatang dari luar
Kabupaten Kudus. Dia konon mendirikan masjid untuk beribadah dan penyebaran
agama islam di Desa Padurenan. “Masjid tersebut sekarang bernama Masjid
Asy-Syarif I Desa Padurenan. Dan makam Raden Muhammad Syarif tepat dibelakang
masjid,” jelasnya.
Ulwan Hakim tokoh masyarakat Padurenan yang juga anggota Komisi
A DPRD Kudus Fraksi Persatuan Bintang Pembangunan (FPBP) menambahkan, konon Raden
Muhammad Syarif datang dari Madura sekitar 400an tahun yang lalu. Dia datang ke
Kudus setelah menyebrangi lautan menggunakan gentong dan turun di Jepara. “Makanya
di Jepara ada desa yang bernama Saripan. Itu kemungkinan dari nama Raden
Muhammad Syarif,” tuturnya.
Menurut Ulwan, untuk membaca Albarzanji dengan Maulidan Jawiyan khas Padurenan tidak semudah yang bayangkan orang-orang. Syair lagunya dengan
aksen Jawa, nada tinggi dengan cengkok naik turun. Karena saking sulitnya, dulu
dikhawatirkan tidak ada yang meneruskan. Dikarenakan, angkatan 1980an sejumlah
13 orang yang mewarisi bakat tersebut sudah banyak yang meninggal. “Itu
angkatannya Yi Taufiq yang sudah sepuh,” tambahnya.
Namun sekarang sudah ada generasi muda yang mau belajar
tentang nada tersebut yang tergabung dalam Al-Ansor. Proses belajar mereka
tidaklah mudah,  sepekan mereka belajar dua
kali. Saat sudah berjalan satu bulan mereka belum bisa menguasainya. “Jumlahnya
ada 10 orang, satu tidak cukup,” jelasnya.

Selain itu mereka
harus gurah supaya suara tingginya kuat. Sekitar setengah tahun dengan maraton akhirnya
Al-Ansor menguasai, namun belum sempurna. Menurutnya, nada Maulidan Jawiyan khas
Paduran sudah menyebar ke desa-desa di Kabupaten Kudus. Namun lagi-lagi belum
seperti orang-orang angkatan 1980an. “Coba tunggu sampai Asroqol  nanti terdengar
tinggi dan rumit,” pintanya.

- advertisement -

Sambil Menuggu Musim Rambutan, Lelaki Tua Asal Mayong Ini Berjualan Rujak di Kudus Meski Sepi Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAKALANKRAPYAK – Sebuah payung berwarna-warni terlihat di atas grobak berisi buah-buahan di tepi Jalan KHR Asnawi, Desa Bakalankrapyak, Kaliwungu, Kudus. Terlihat seorang lelaki tua mengupas buah yang kemudian dimasukan kedalam mika. Pria itu adalah Sujak (60), yang baru dua bulan ini berjualan rujak menggantikan putranya yang saat ini sedang bekerja menjadi kuli bangunan.

jual rujak di kudus
Sujak sedang mengupas buah untuk dibuat rujak di Jalan KHR Asnawi, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Saat menunggu pembeli di tepi jalan itu, Sujak sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang pekerjaan yang baru saja dijalaninya itu. Dia mengatakan berjualan rujak karena sedang tidak memiliki pekerjaan. Dia sebenarnya biasa menjual rambutan, namun saat ini belum memasuki musim panen. 

“Pekerjaan menjual rujak ini sementara, sambil menunggu musim rambutan. Ketebulan anak saya punya usaha penjualan rujak, tapi saat ini dia kerja bangunan,” ungkap pria enam anak itu.

Sujak mengungkapkan lebih senang berjualan rambutan, karena untungnya lebih banyak. Tetapi pekerjaan itu hanya bisa dia lakukan saat musim rambutan saja. Saat musimnya dia membeli rambutan di Desa Lebuawu, Pecangaan, Jepara, kemudian dia jual lagi ke Semarang.

Sambil memasukkan bumbu rujak ke dalam plastik, Sujak merinci tujuh jenis buah-buahan rujaknya yang dia beli di Pasar Mayong. Ada nanas, timun, papaya, dondong, melon, bengkoang, mangga, dan pir. Dia biasanya menjual rujak jambu air, namun saat ini susah dicari.

Dia mulai berjualan di samping pintu masuk pabrik Polytron pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tiap bungkus rujaknya dia jual seharga Rp 6 ribu. Tetapi saat ada pembeli yang menginginkan buah tertentu dia jual seharga Rp 7 ribu per bungkus. Sujak bisa menjual rujaknya per hari sekitar 30 hingga 35 bungkus, dan mendapat keuntungan sekitar Rp 50 ribu.

“Gerobak saya titipkan dan saya pulang naik motor. Per hari paling laku sekitar 30 higga 35 bungkus, kemudian sisanya saya bawa pulang untuk saya jual lagi besok,” jelas warga Mayong, Jepara itu.

- advertisement -

Ini Rahasia Shakti Motor Kudus Bisa Dongkrak Penjualan Motor Roda Tiga Viar di 3 Kabupaten

0
SEPUTARKUDUS.COM, PERAMBATAN LOR – Di tepi utara Jalan Raya
Kudus – Jepara, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tampak ruko
dengan pintu terbuka. Di tengah bangunan tersebut
terlihat dua wanita berjilbab sibuk di depan laptopnya.
Di dalam ruko puluhan kendaraan roda tiga berjajar rapi. Tempat tersebut yakni Shakti Motor, dealer resmi
Viar
Motor Kudus yang menjual kendaraan roda tiga.

dealer resmi viar kudus
Karyawan Shakti Motor menunjukkan motor roda tiga produk Viar Motor Indonesia. Foto: Rabu Sipan

Pimpinan cabang dealer Shakti Motor Kudus Edy Sumaryono (40) mengatakan, penjualan produk motor Viar menjelang akhir tahun ini, atau semester dua mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut di dominasi
kendaraan untuk muatan barang beroda tiga. Menurutnya kenaikan penjualan
kendaraan roda tiga tersebut sekitar 20 persen dari penjualan semester pertama.
“Kenaikan tersebut tidak terlepas dari usaha kami yang
selalu mengadakan promo dengan istilah gebrak pasar. Dengan gebrak pasar kami
melakukan pameran di beberapa pasar yang berada di Kudus, Demak, dan Jepara.
Dan hasilnya memang sangat bisa dilihat,” ujarnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Edy, pada semester
pertama dealernya hanya mampu menjual sekitar 60 unit. Sedangkan pada semester dua dealernya mampu menjual tidak kurang dari 80 unit kendaraan roda tiga.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Loram Wetan, Kecamatan
Jati, mengatakan, dengan gebrak
pasar para calon pembeli bisa melihat langsung produk-produk andalan Viar Motor.
Selain itu mereka bisa memilih tipe kendaraan roda tiga yang
sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. “Dan tentu juga disesuaikan dengan
anggaran belanja mereka masing-masing,” tutur Edy.

promo motor viar

Dia merinci empat jenis kendaraan roda tiga merek Viar
yang selalu diikutsertakan dalam promosi. Di antaranya, Viar Beat
Matic 100 cc yang dijual seharga Rp 20 jutaan, untuk tipe 150 long 150 cc,
dengan panjang bak 1,8 meter dijual Rp 24 jutaan. Sedangkan tipe 200 Long 200
cc dengan panjang bak dua meter dibanderol Rp 26 jutaan dan yang terakhir 300 long special edition 300 cc double gardan dijual dengan harga Rp 31 juataan.    
“Dari empat jenis tipe kendaraan roda tiga tersebut,  jenis tipe kendaraan roda tiga yang disebut
terkahir kurang begitu diminati. Karena selain harga jualnya tinggi, jika
dibeli secara kredit angsuranya juga lumayan tinggi,” ujarnya.
Pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu mengatakan, selain
menjual kendaraan produk Viar secara tunai, di Shakti Motor juga menjual
kendaraan bermotor merek Viar secara kredit. Uang DP yang harus disetor 20 persen dari harga
jual kendaraan yang akan dibeli. Menurutnya selain kendaraan roda tiga, Shakti
Motor juga menjual motor trail dewasa dan motor trail mini merek Viar.
“Perusahaan kami telah bekerja sama dengan BRI KUR, Adira
Finance, CSF Finance. Jadi para pembeli produk Viar secara kredit bisa
mengangsur tiap bula di tiga perusahaan tersebut. Semua pembeli
kendaraan dengan merek Viar juga berhak atas layanan after sales, yakni geratis
servis tiga kali serta ganti oli sekali,” jelasnya.

- advertisement -

Seniman Grafiti Asal Purworejo Ini Lampiaskan Kegalauan Melalui Cat dan Tembok di Dekat JHK Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Tangan kanan pria bertopi hitam terlihat menyemprotkan pilok kea rah tembok dekat Gedung Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK) Jalan R Agil Kusumadya, Kudus. Dia terlihat sangat fokus membuat
bayang-bayang wajah pada gambar seorang laki-laki. Sesekali dia mudur
kebelakang untuk melihat keseluruhan gambar grafitinya. 

seni grafiti karakter realis
Seniman grafiti asal Purworejo membuat gambar di tembok tak jauh dari Gedung JHK Kudus. Foto: Imam Arwindra

Pria tersebut yakni Rizal (23), seniman grafiti asal Purworejo yang mengikuti kegiatan Youth Line IV yang diadakan Komunitas Kudus Street Art, Minggu (18/12/2016). Dia mengatakan, karya yang dibuatnya jenis realis. Jenis grafit karakter ini
menurutnya disukai karena hasilnya lebih hidup. 

“Selain itu, saat suasana hati sedang
tidak enak dan pusing, saya meluapkannya dengan menggambar grafiti jenis realis. Saat
selesai menggambar, rasanya lega,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com yang datang sendirian ke Kudus
untuk mengikuti kegiatan.

Menurutnya, saat dirinya sedang galau, dia biasanya membuat
karakter wajah sedih. Saat tidak ada media tembok untuk pelampiasan, dia menggunakan
kertas. Saat membuat grafiti di tembok, dia mengaku menghabiskan uang Rp 200 ribu untuk sekali
menggambar. “Saya membuat grafiti tidak hanya di Purworejo saja. Biasanya saya
keliling ke Solo, Semarang, Wonosobo dan Kudus,” tambahnya yang mengenakan kaos
hitam.

seni grafiti

Saat membuat grafiti di Kudus kali ini, dia tidak menentukan tema tertentu. Menurutnya, Rizal hanya
berimajinasi dan muncullah hasil karya tersebut. Kepada Seputarkudus.com dia
mengatakan mulai menekuni dunia grafiti sejak tahun 2012. Dia hanya fokus pada
jenis realis saja. Untuk grafiti yang jenis font atau yang lainnya belum
dikuasainya. “Ini juga masih proses belajar. jadi harus fokus. Untuk jenis yang
lainnya saya belum bisa,” tambahnya.
Dalam membuat grafiti, hal yang cukup sulit saat membuat ukuran
kecil. Menurutnya, harus mempunyai cap tertentu supaya cairan pilok yang keluar
tidak besar. Selain itu penyemprotan cat harus lebih hati-hati. “Jika ukuran besar
ya pasti lebih mudah,” jelasnya.

Danang (22), panitia kegiatan tersebut mengungkapkan, kegiatan yang
dilakukan Kudus Street Art yakni bertajuk Youth Line IV. Menurutnya, seniman grafiti yang hadir diberikan kebebasan untuk menggambar sesuai dengan
karakternya masing-masing. Peserta yang hadir sebanyak 22 orang, baik dari Kudus maupun luar kota. “Ada dari Yogjakarta, Purworejo, Semarang, Jepara, dan
Purwodadi,” tuturnya.

grafiti font karakter

Dia menjelaskan, kebanyakan yang digambar jenis grafiti font dan
karakter. Menurutnya, kali ini yang hadir tidak lagi seorang pemula, melainkan sudah
terbiasa dalam membuat grafiti. Dalam setahun, kata Danang, komunitasnya membuat
kegiatan dua kali, yakni Kudus Street Art Tack bulan Juni di Kopi Cilik dan
Youth Line yang sedang berjalan. 

Pada waktu mendatang, Danang berharap, seni grafiti dapat lebih dikenal oleh
masyarakat. Pihaknya juga siap jika dari instansi Pemerintah memberikan
kesempatan membuat grafiti atau mural untuk menghias Kabupaten Kudus terutama terkait dunia
pariwisata. “Jika itu murni untuk dunia pariwisata kami bersedia. Kelihatannya
indah seperti ada di Semarang dan perkampungan di Brazil,” terangnya.

- advertisement -

Dua Hari Dibawa Ke Kudus, 5.000 Terompet Berbagai Bentuk Buatan Yono Diserbu Pembeli

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat jalan desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, terlihat ratusan terompet dengan
aneka warna serta bentuk tergantung di bambu. Tidak jauh dari ratusan terompet
tersebut tampak seorang pria memakai kaus kuning sedang sibuk mengobrol
melalui telepon genggamnya. Pria tersebut bernama Suyono (50) pembuat sekaligus
penjual terompet untuk menyambut pergantian tahun 2017.

Suyono sedang menjual terompet buatannya di jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai berbicara melalui telepon, pria yang akrab disapa Yono
sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan terompetnya
tersebut. Dia mengatakan, dia baru saja menerima telepon dari pelangganya yang
membeli terompetnya secara grosir untuk dijual lagi. Sepekan sebelum
ke Kudus, dia memberi kabar kepada para pelangganya tahun lalu melalui handpone bahwa terompet yang dia produksi sudah jadi semua dan
sudah siap dijual.
“Semua pedagang terompet eceran yang biasanya membeli secar
grosir terompet buatanku. Mereka sangat antusias setelah aku kabari ribuan terompet beraneka bentuk sudah bisa dipesan maupun dibeli secara langsung. Mereka yang aku
kabari biasanya langsung tanya harga dan langsung memesan. Bahkan baru dua hari
di Kudus satu di antara puluhan pelangganku ada yang datang dan membeli 50
terompet,” ujar Yono.

Baca juga: Jelang Tahun Baru, Tukang Becak Asal Grobogan Ini Siapkan 5.000 Terompet untuk Dijual di Kudus

Pria yang berasal dari Grobogan tersebut mengungkapkan tidak
mengutangkan terompetnya tersebut kepada para pelangganya. Setiap pelangganya
yang datang membeli secara grosir maupun ecer harus membayarnya dengan tunai.
 “Aku menjual semua
terompetku dengan sistem tunai, dan aku tidak menerima sistem uutang. Jika bayarnya dibelakang kalau tidak kurang uang pembayanya, kadang juga malah
orangnya kabur,” ungkapnya 
Pria yang sudah dikaruniai dua anak dan satu cucu tersebut
mengatakan untuk menyambut pergantian tahun 2017 dia membuat sekitar 5.000
terompet dengan aneka bentuk. Yono lalu merinci bentuk terompet yang dia bawa
serta harga jual ecer maupun grosir.
Terompet corong dia jual ecer dengan harga Rp 3 ribu per pcs
dan harga Rp 1500 per pcs untuk harga grosir. Terompet bentuk naga spons dan
bentuk ayam dia jual ecer dengan harga Rp 30 ribu per pcs dan Rp 10 ribu per
pcs untuk harga grosir. Sedangkan terompet bentuk gitar dan naga kertas dia
jual ecer dengan harga Rp 20 ribu per pcs dan Rp 8 ribu per pcs untuk harga
grosir.
Dia mengatakan untuk memproduksi semua terompet yang
berjumlah lima ribu tersebut dia mengeluarkan modal sekitar Rp 8 juta. Dia
mengungkapkan membeli kertas bahan terompet di Kudus, sedangkan untuk kepala
tiupan dan kepala naga, ayam dan bentuk hewan lainya dia beli di Wonogiri.
“Aku berharap semua pedagang yang sudah memesan jadi membeli
terompet buatanku dan tidak membeli buatan orang lain. Dan untuk semua orang
yang ingin menjual terompet menjelang pergantian tahun, bisa membeli terompet
buatanku secara grosir dengan menghubungi nomer handpone-ku 0857 2689 8571,” ungkapnya.

            

- advertisement -

Demi Keluarga, Jek Tak Malu Setiap Hari Berjalan Kaki dengan Dandanan Wayang Orang Menjadi Pengamen

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di atas trotoar Jalan H M Subchan ZE, tampak seorang pria sedang duduk di samping pengeras suara, sambil menghitung uang receh. Dia mengenakan pakaian tradisional Jawa, warna biru lengkap dengan belangkon di kepala. Setelah menghitung, pria renta itu melangkahkan kedua kakinya menuju satu per satu pemukiman rumah warga. Pria tersebut yakni Suhadi (74), seorang pria setiap hari menjadi pengamen wayang orang.

Suhadi beristirahat di trotoar Jalan HM Subchan ZE setelah berkeliling untuk mengamen dengan dandanan wayang orang. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela aktivitas mengamen, Jek begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait pekerjaannya tersebut. Dia menceritakan, menjadi pengamen wayang orang sudah berlangsung sekitar 24 tahun, tepatnya sejak 1992. Menurutnya, pekerjaan itu dilakukan semata-mata untuk menafkahi keluarga sekaligus melestarikan budaya agar dikenal oleh masyarakat.

“Sebelum jadi pengamen, dulu saya sempat menjual bakso dan menjual nasi goreng di Menara (Menara Kudus). Berhubung waktu itu ada relokasi, saya beralih pekerjaan menjadi pengamen wayang orang. Setiap hari berpakaian seperti ini, saya tidak pernah malu, mengapa harus malu. Saya tidak mencuri, tidak menyakiti hati orang lain, apa yang saya kerjakan semata-mata hanya ingin melestarikan budaya,” ungkap Jek waktu ditemui di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus.

Pria yang tercatat sebagai warga Dukuh Ngelo, Desa Karangrowo RT 6 RW 6, Kecamatan Undaan, Kudus, ini menjelaskan, dia tidak pernah memberikan tarif berapapun kepada warga setiap kali berlenggak lenggok menjadi pengamen wayang orang. Dia mengaku tetap bersyukur meski terkadang ada warga yang tidak memberikan uang ketika sedang mengamen. “Dikasih ya diterima, tidak tidak apa-apa, tetap bersyukur saja,” ujarnya.

Menurut pria yang sudah dikaruniai empat orang anak dan sebelas cucu ini, dia menjadi pengamen setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Seharian mengamen, hasil yang didapatkan tidak bisa dipastikan, berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu. “Tidak pasti, kadang Rp 60 ribu, Rp 70 ribu, kadang juga Rp 40 ribu per hari,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tempat dia mengamen tidak hanya di Kudus, terkadang di wilayah Demak, Pati serta Jepara. Selain menjadi pengamen, dia juga tercatat sebagai anggota yang bernama Singa Jaya di desa tempat dia tinggal. Pertunjukkan yang ditampilkan meliputi kesenian barongan dan reog.

“Meski sudah tua, saya masih aktif sebagai anggota kesenian barongan dan reog. Terkadang saya beserta anggota yang lain juga disuruh tampil didalam sebuah acara. Untuk tarif tergantung lokasi yang ditempuh, barongan setengah hari Rp 2,5 juta, Rp 3 juta kalau seharian tampil. Sedangkan kesenian reog, Rp 3,5 juta tampil setengah hari, Rp 4 Juta untuk seharian,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Mata Kanannya Tak Melihat, Mbah Sukinah Tetap Bekerja Karena Tak Mau Merepotkan Anak-Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, BACIN – Di tepi Jalan Sosrokartono, Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat seorang wanita renta sedang berjalan sempoyongan. Dia menggendong karung berwarna putih dan kantong plastik berawana putih ditangan kirinya. Sesekali langkahnya terhenti saat melihat botol plastik yang ada di tepi jalan. Wanita itu yakni Mbah Sukinah (60). Meski raganya tak lagi kuat, dia harus tetap bekerja menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mbah Sukinah melangkahkan kaki menyusuri jalan untuk mengais sampah. Foto: Ahmad Rosyidi

Langkahnya terhenti di tepi jalan, untuk sedikit menghela nafas dan istirahat. Saat itulah, Mbah Sukinah sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaan yang dia jalani. Dia mengatakan dirinya menjadi pemulung karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya. 

“Mata sebelah kanan saya sakit dan tidak bisa melihat sejak 10 tahun yang lalu. Tapi saya tidak mau berdiam diri dan bergantung kepada anak-anak yang bekerja menjadi buruh,” ujar Mbah Sukinah.

Dia mengaku tidak tau penyakit yang membuat mata kanannya hingga tidak bisa digunakan untuk melihat lagi. Awalnya terasa panas dan sakit pada mata kanannya. Setelah berobat dan menjalani oprasi tiga kali, tidak ada pengaruh hingga akhirnya dia mengalami kebutaan hingga saat ini.

“Mata saya sudah tidak bisa melihat sejak 10 tahun yang lalu. Kalau menjadi pemulung saya sudah tiga tahun, karena saya tidak ingin merepotkan anak-anak saya yang sudah berkluarga. Saya tidak tau mau bekerja apa lagi, ini yang bisa saya lakukan jadi saya syukuri saja,” ungkap wanita dua anak itu.

Mbah Sukinah mulai berangkat memulung pukul 7.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Biasanya dia berjalan di sekitar Desa Panjang, Desa Bacin, dan Desa Kaliputu. Karena dirinya berjalan kaki dan merasa sudah tua, dia tidak mencari sampah ketempat yang jauh dari rumahnya di Desa Bacin RT 2, RW 1, Kecamatan Bae, Kudus.

Dari hasil memulung, dia mengaku mendapat uang sekitar kurang lebih Rp 50 ribu per tiga hari. Setelah mencari sampah mbah Sukinah tidak langsung menjualnya, tetapi dia bawa pulang dan dikumpulkan di rumah. Dan setiap tiga hari sekali ada pembeli yang datang kerumahnya.

“Biasanya saya kumpulkan dulu di rumah. Setiap tiga hari sekali biasanya ada yang datang mengambil ke rumah. Dari hasil saya mengumpulkan sampah tiga hari biasanya mendapat uang Rp 50 ribu,” jelas mbah Sukinah sambil mengusap mata kanannya.

- advertisement -

Meski Sering Dengar Namanya, Aska Baru Tahu Wajah Gus Dur Saat Lomba Mewarnai Karikatur

0
SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Di atas meja lipat sejumlah anak terlihat sibuk mewarnai gambar Presiden Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid. Dengan menggunakan krayon, mereka mewarnai sketsa Gus Dur lengkap dengan kacamata. Mereka adalah siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul
Athfal (RA), yang sedang mengikuti lomba mewarnai pada kegiatan
Haul Gus Dur ketujuh, Kamis (15/12/2016).

Siswa siswi TK dan RA mengikuti lomba mewarnai karikatur Gus Dur pada Haul Gus Dur ketujuh di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di antara peserta yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan yang diadakan Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU Kecamatan Gebog, Kudus, yakni Aska Ainun Naim (5). Anak
laki-laki berpeci bergambar Angry Birds tersebut mengaku
baru pertama kali melihat sosok Gus Dur. Menurutnya dia mengetahui Gus Dur
pernah menjadi Presiden Republik Indonesia dan seorang kiai yang tersohor,
namun belum pernah melihat sosoknya. “Saya baru ini lihat gambar Gus Dur,”
ungkapnya setelah selesai menggambar di ruang kelas MI Al-Khurriyah, Desa Besito,
Kecamatan Gebog, Kudus.
Siswa RA Al- Khurriyah 1 Besito terlihat
mewarnai karikatur muka Gus Dur dengan warna coklat, rambutnya dengan warna hitam dan
kaca mata dengan warna biru. Sedangkan pakaiannya diwarnai hijau dengan
kerah warna kuning. Uniknya bibir Gus Dur diberi warna merah. Saat ditanya, mengapa bibirnya diberi warna merah, dia hanya membalas dengan
senyuman.

Kordinator lomba Malihatul Isnaini (22) mengungkapkan,
kegiatan lomba mewarnai dan menggambar diikuti siswa TK, RA dan MI di Kecamatan
Gebog. Menurutnya ada 130 peserta yang mengikuti dengan pembagian 80 peserta
lomba mewarnai dan 50 peserta lomba menggambar. “Untuk mewarnai dibagi menjadi
dua kategori. TK dan RA sejumlah 30 peserta dan MI kelas satu, dua dan tiga sejumlah
50 peserta,” jelasnya.
Tema yang digunakan untuk mewarnai dan menggambar yakni sosok
Gus Dur. Menurutnya, selain memperingati Haul Gus Dur ketujuh, pihaknya ingin
memperkenalkan sejak dini sosok Gus Dur kepada anak-anak. Diakui, siswa-siswa
yang mengikuti lomba terutama yang mewarnai tidak melihat saat Gus Dur masih hidup. Mereka hanya pernah mendengar Gus Dur pernah menjadi
Presiden Indonesia, Bapak Pruralisme dan pemersatu umat. 

Namun, katanya, beberapa peserta masih
ada yang belum pernah melihat sosoknya secara visual. “Sosok Gus Dur harus
diperkenalkan sejak dini. Kami memperkenalkan melalui lomba mewarnai dan menggambar.
Untuk menggambar diperuntukkan siswa MI kelas empat, lima dan enam,” tuturnya.

Selain kegiatan lomba mewarnai dan menggambar sosok Gus Dur,
Panitia kegiatan bersama juga menyelenggarakan lomba menulis surat
untuk Gus Dur dan menulis esai yang bertema semua tentang Gus Dur. Menurutnya, surat-surat
yang ditulis siswa MTs dan SMP tersebut tentang isi hati, pandangan dan
kekaguman dengan sosok Gus Dur. “Nanti surat-surat tersebut akan kita kirim ke
keluarga Gus Dur,” tambah Qomarul Adib, Ketua Steering Commite (SC) Panitia
Pelaksana Haul Gus Dur ketujuh.

Menurut Qomarul Adib, dalam rangkaian kegiatan juga ada bedah
buku Peci Miring yang langsung dibedah penulisnya Aguk Irawan tanggal 18
Desember 2016. Selain itu, terakhir ada Ansor Loyal Club (ALC) tanggal 29
Desember 2016 di balai desa Besito. “Tema untuk ALC nanti tentang sosok Gus Dur,”
tambahnya.

- advertisement -

Dua Mahasiswi Asal Afrika Selatan Ini Diminta Mengulek Bumbu Rujak Saat Berkunjung ke MTs Ibtidaul Falah

0
SEPUTARKUDUS.COM, SAMIREJO – Dua perempuan berkulit
coklat terlihat mengulek kacang, gula merah beserta cabai di atas cobek menggunakan ulekan.
Mereka baru sekali mencoba membuat bumbu rujak. Mereka berasal dari Madagaskar, Afrika Selatan, datang ke Kudus dalam progam bahasa bertajuk Having Fun With English” di MTs Ibtidaul
Falah, Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kudus.

Dua mahasiswa asal Madagaskar, Afrika Selatan, sedang mencoba membuat bumbu rujak di MTs Ibtidaul Falah, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sahutan tawa dari peserta kegiatan terdengar ketika satu
di antara mahasiswa asing tersebut menghaluskan bumbu rujak hanya dengan
memukulkan bahan bumbu. Wanita bernama Mendrika Randrianaivo (16)
tersebut mengaku baru sekali melihat rujak dan proses pembuatannya. 

Menurutnya,
cara membuat rujak prosesnya cukup sulit namun jika dipelajari dengan serius
akan menjadi mudah. “Baru pertama kali melihat proses pembuatan rujak. Jadi ya
sebisanya,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com menggunakan Bahasa Inggris usai kegiatan.

Sejumlah siswi yang sebelumnya tampil mempraktikkan cara
membuat rujak mengajari dua perempuan asing tersebut cara mengulek bumbu
yang benar. Saat siswi berkerudung hitam selesai, tiba-tiba teman Mendrika, yakni Cynthioumi Cynthia (17) mengambil
ulekan untuk mencoba menghaluskan bumbu di atas cobek. Siswa yang hadir
terlihat bersorak gembira diiringi tepuk tangan saat melihat cara mengulek yang
benar. “Lah itu baru benar,” cetus Roudhotul Jannah siswi MTs Ibtidaul Falah.

Cynthia, sapaan akrab Cynthioumi
Cynthia mengungkapkan, dia senang bisa melihat kebudayaan dan tradisi
masyarakat Kudus melalui penampilan dari siswa MTs Ibtidaul Falah. Menurutnya,
pakaian adat, makanan dan bangunan yang ada di Kudus sangat indah, begitu juga
dengan masyarakatnya yang ramah. Menurutnya, makanan Indonesia yang disukainya
yakni nasi goreng dan capcai. 

“Jika sate kerbau dan soto kerbau, saya belum
pernah makan. Mungkin nanti saya akan coba,” jelas dia yang masih kuliah di
Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang, melalui progam Darma Siswa
Kedutaan Indonesia yang berada di Madagaskar.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Alif Nurrohman (33)
mengungkapkan, progam yang sedang berlanjut yakni progam bahasa yang diadakan MTs
Ibtidaul Falah. Bahasa yang dipelajari yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.
Menurutnya, pembelajaran bahasa sangat penting untuk bekal siswa dalam
melanjutkan sampai jenjang perguruan tinggi. 

Selain itu, Bahasa Inggris yakni
bahasa international. Jadi perlu diajarkan secara intensif supaya anak didik
mempunyai wawasan lebih terkait perkembangan zaman. “Ini kami datangkan mahasiswa
asing dari Madagaskar. Selain belajar Bahasa Arab, kami berharap mereka dapat
memotivasi siswa ,” jelasnya.

Sekolah yang dinaungi Yayasan Ibtidaul Falah yang juga
memiliki Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyyah (MI), MTs dan Madrasah Aliyyah
(MA) menurutnya tahun sebelumnya siswa diajak untuk study tour ke Borobudur. Saat itu siswa diminta untuk mempraktekkan
langsung speakingnya dengan turis. 

Selanjutnya, tahun ini pihaknya mendatangkan
langsung pembica asing untuk dapat berkomunikasi dengan siswa. “Selain
berkomunikasi, siswa juga menampilkan pakaian, makanan dan bangunan-bangunan
bersejarah di Kudus. Untuk jumlah keseluran siswa yakni 779 anak” tambahnya.

- advertisement -

Kakek Tiga Cucu Asal Pati Ini Setiap Hari Bawa Garam dari Juwana Pakai Motor Butut ke Kudus untuk Dijual

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Seorang pria berkaus lengan
panjang memarkirkan sepeda motor usang di Jalan Johar, Kelurahan
Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus, tidak jauh dari Pasar Johar. Di jok motornya terlihat bojok dipenuhi ratusan bungkus garam beryodium. Pria pemilik
motor itu bernama Sahlan (53), pemasok garam beryodium kepada
para pedagang pasar di Kudus.

jual garam beryodium
Sahlan menawarkan garam beryodium di Jalan Johar, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai memarkir motor bututnya itu, Sahlan mengangakat beberapa garam untuk diantar ke pedagang langgananya di Pasar
Johar. Setelah selesai Sahlan Sudi berbagi kisah
tentang penjualan garam beryodium tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan mulai
berjualan garam beryodium di Kudus
sejak 15 tahun silam. 

Selama waktu tersebut, setiap berangkat dia berusaha mengangkut garam sebanyak mungkin. Itu dilakukan agar penghasilan yang didapat bisa maksimal. Namun beberapa kali
rangka motor yang dikendarainya patah.
“Meski beberapa kali rangka besi motorku patah aku tidak
pernah kapok untuk memenuhi bojok dengan garam beryodium, untuk aku antar kepada
para pedagang di beberapa pasar di Kudus. Karena jika aku mengurangi jumlah
garam yang aku bawa, penghasilanku juga berkurang,” ujar
Sahlan, beberapa waktu lalu.

Pria yang berasal dari Wedarijaksa, Pati, mengaku selama memasok
garam beryodium ke Kudus dirianya sudah empat kali mengganti motor. Menurutnya motor yang dia bawa sekarang paling awet,
karena bertahan hingga lima tahun. Meski begitu, motor itu pernah beberapa kali patah rangka. Setiap kali patah, dia langsung membawanya ke bengkel untuk dilas. Keesokan harinya, motor tersebut langsung
digunakan lagi tanpa rasa waswas.

Sahlan mengatakan, dengan sepeda motornya itu, dirinya maksimal hanya
mampu mengangkut sekitar tiga kwintal garam beryodium. Garam itu dia beli dari pabrik di Juwana, Pati. Dia mengatakan, sebenarnya
ingin sekali bisa membawa garam lebih banyak agar penghasilanya bertambah.
Bahkan untuk merealisasikan keinginanya tersebut dia pernah membeli motor roda tiga.
“Agar bisa membawa
garam beryodium lebih banyak ke Kudus, aku pernah menggunakan Tosa. Dengan Tosa
aku bisa mengangkut tiga kali lebih banyak garam dari pada menggunakan sepeda
motor. Namun karena aku kurang mahir mengoperasikan kendaraan roda tiga, sering hampir nabrak dan menyerempet kendaraan lain. Akhirnya Tosa
tersebut aku jual kembali,” ujarnya.

Pria yang sudah dikarunai tiga cucu itu mengatakan, menjual
garam beryodium kepada para pelangganya dengan harga Rp 1.500 sebungkus. Harga tersebut untuk
jenis garam batu. Sedangkan garam beryodium jenis bubuk dia jual seharga Rp 7500 per bungkus.
Dia mengaku sudah mempunyai sekitar 70 pelanggan yang merupakan para pedagang
di beberapa pasar di Kudus.

“Dari menjual habis garam beryodium kepada para
pelanggan, aku mendapatkan penghasilan sekitar Rp 200 ribu sehari. Dan aku bersyukur dengan memasok garam beryodium ke Kudus kebutuhan keluargaku selalu tercukupi,” ujarnya.

- advertisement -

Meski Punya Pekerjaan Tetap, Eko Tak Keberatan Nyambi Jualan Es Pelangi di Loram Expo 2016

0
SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Puluhan stan berjajar di
sepanjang jalan antara Masjid Wali Attaqwa dan Balai Desa Loram Kulon, Kecamatan
Jati, Kudus. Di antara puluhan stan itu tampak Seorang pria memakai kaus oblong sibuk membuat es pelangi yang sedang ditunggui
pembelinya. Pria tersebut bernama Eko Wahyu Utomo (25), yang mengaku kerja
berjualan es pelangi di Loram Expo hanya untuk sambilan.

Eko, penjual es pelangi sedang melayani pembeli di Loram Expo. Foto: Rabu Sipan 

Seusai melayani pembeli, pria yang akrab disapa Eko itu
sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan es pelangi
yang dia jual itu milik bosnya, warga Desa Loram Kulon. Dia juga
mengaku bekerja menjual es tersebut hanya untuk sambilan. Dia memiliki usaha bengkel sepeda motor.
“Aku sebenarnya memiliki usaha bengkel sepeda motor yang buka Senin sampai Sabtu mulai pukul 09.00 WIB sampai 15.30 WIB. Dan
setelah selesai aktivitas di bengkel, aku pergi ke Loram Expo untuk kerja
berjualan es pelangi milik bosku,” ujarnya.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Getas Pejaten, Jati, itu mengatakan, bosnya tidak menjajakan es pelangi mangkal atau menetap
di satu tempat. Produk es pelangi hanya jual saat ada pameran. Bahkan katanya,
bosnya sudah sering ikut berjualan di acara expo serupa yang diadakan di
beberapa kota di Jawa.  

“Meskipun bosku sering ikut membuka stan setiap ada acara pameran di kabupaten maupun kota yang ada di Jawa, tapi aku
selalu menolak saat ditawari untuk menjaga stannya. Aku hanya ikut saat bosku
buka stan acara pameran di Kudus. Karena kalau di Kudus setiap hari aku
bisa pulang. Aku juga masih bisa membuka bengkelku pada pagi harinya,” ujar Eko
Pria yang menanti kelahiran anak pertamanya itu mengatakan, di
Loram Expo 2016, bosnya membuka dua stan untuk menjual es pelangi. Dua stan tersebut bosnya membayar uang sewa sebesar Rp 600 ribu selama acara berlangsung.
Dia mengatakan, menjual es pelangi dengan harga Rp 15 ribu
seporsi. Selama berjualan es pelangi di Loram Expo dia mengaku bisa mendapatkan
omzet sekitar Rp 1 juta saat ramai. Sedangkan saat sepi atau turun hujan, hanya mendapat omzet Rp 300 ribu sehari.
Dia menambahkan, tidak tahu upah yang akan dia terima selama
kerja berjualan di Loram Expo. Karena menurutnya hitungan upahnya tergantung
omzet yang dia dapat. “Dulu saat aku berjualan es pelangi di Kudus Expo aku
dibayar Rp 100 ribu sehari. Tapi omzet sehari yang didapatkan pada acara
tersebut  tiga kali di acara Loram Expo. Meskipun omzet turun semoga saja besaran upah yang aku
terima masih tetap sama,” harap Eko sambil tersenyum.
- advertisement -

Safitri Baru Tahu Di Loram Ada Produksi Pembuatan Baju dan Boneka Setelah Lihat Festival Ampyang Maulid

0
SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Wanita berkerudung oranye terlihat ikut berdesak-desakan untuk melihat Festival Ampyang Maulid
depan Masjid Wali At-Taqwa Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Sesekali
wanita yang mengenakan masker hijau tersebut berjinjit untuk melihat jelas
puluhan gunungan yang lewat berisi hasil Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
masyarakat di Kecamatan Jati, Senin (12/12/2016).

Peserta Festival Ampyang Maulid membawa boneka hasil produksi warga Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com pada acara tersebut, Perempuan bernama Safitri (20) mengaku baru tahu bahwa di Loram terdapat industri rumahan pembuatan baju jadi dan boneka. Menurutnya, dia hanya tahu di Loram terdapat industri
rumahan yang membuat bandeng presto dan tas. “Saya baru tahu kalau disini
(Loram) ada yang membuat baju jadi dan boneka,” ungkap Safitri yang berasal dari
Semarang.
Dia yang mengaku sengaja datang melihat Festival Ampyang
Maulid karena kebetulan sedang berkunjung ke rumah temannya di
Kudus. Menurutnya, Festival Ampyang yang diselenggarakan cukup unik karena
peserta membawa hasil produksi UMKM khas Desa Loram. “Eh, bukan khas Loram saja
ternyata. Tadi saya tanya (UMKM) sekecamatan Jati. Tadi saya lihat ada bandeng
presto, tas, boneka, pakaian jadi anak-anak dan dewasa, juga ada makanan
tradisional dan jebakan tikus,” terangnya.
Afroh Awaludin (48) Juru pelihara Masjid Wali At-Taqwa Loram
Kulon dan Panitia Kegiatan Festival menuturkan, terdapat 30 kontingen peserta
yang mengikuti kegiatan Festival Ampyang Maulid. Dari ke-30 peserta tersebut
terdapat 19 UMKM yang mengikuti prosesi festival. 

Menurutnya, diikutkannya
produsen UMKM di kecamatan Jati, untuk memperkenalkan di Kecamatan Jati
terdapat UMKM yang unggul. Di antaranya produsen boneka, tas, pakaian jadi
anak-anak dan dewasa, pisau, dan bandeng presto. “Selain untuk menjaga tradisi,
juga sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan produksi UMKM yang ada di
Jati,” jelasnya.

Ketua Panitia kegiatan Anis Aminudin menambahkan, kegiatan
peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sangat berbeda disbanding tahun-tahun
sebelumnya. Menurutnya, ada empat rentetan kegiatan yang berlangsung, yakni
Loram Expo, Loram Bersolawat, Pentas Seni dan ditutup dengan Festival Ampyang
Maulid. “Untuk Loram Expo sudah diadakan sepekan sebelum hari Festival
Ampyang. Tepatnya tanggal 6-12 Desember 2016,” tuturnya.

Dikatakan Anis, terdapat sekitar 300 UMKM yang berada di Kecamatan Jati.
Menurutnya, diantaranya akan ditampilkan lewat gunungan pada Festival Ampyang
Maulid. Gunungan tersebut dibuat dari produk-produk UMKM. “Maulid Nabi kali ini
sangat istimewa. Semoga dimasa akan datang mendapatkan berkah,” tambahnya.

- advertisement -