Beranda blog Halaman 1930

Safari Bersyukur, Usahanya Isi Ulang Korek Gas Bisa Hidupi Keluarga, Meski Sehari Kadang Hanya Dapat Rp 10 Ribu

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi selatan Jalan Pemuda, tepatnya di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, terlihat seorang pria tua
mengenakan kupluk merah mengisi gas ke dalam korek api. Pria tersebut bernama
Safari (67), pengisi ulang korek api gas. Meski sekarang sudah sedikit orang mengisi ulang korek gas, Safari bersyukur bisa tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

isi ulang korek api gas
Safari sedang mengisi ulang korek api gas di Jalan Pemuda, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, Safari sudi berbagi kisah
tentang pekerjaanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai menekuni pekerjaanya sebagai pengisi ulang korek api gas sekitar tiga tahun lalu. Di
usia senjanya Safari mengaku harus tetap menekuni usahanya tersebut, meski
terkadang hasilnya tidak cukup untuk menghidupi istri, cucu dan mertuanya.
“Di usia uzurku aku harus menjadi tulang punggung keluargaku
karena anak tunggalku sudah meninggal. Aku pun bekerja sesuai kemampuanku
sebagai pengisi ulang korek gas. Meski jika sepi pelanggan, aku harus mencari utangan agar keluargaku bisa makan dan memberi uang saku sekolah pada cucuku,”
kata Safari.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Pasuruan Lor,
Kecamatan Kaliwungu, itu mengatakan, setiap pengisian ulang korek gas dia
kenakan tarif Rp 1.000 per korek. Menurutnya upah tersebut sudah termasuk jika
korek para pelanggan ada yang rusak ataupun perlu ada yang diganti. Misalnya mengganti batu
korek, roda pemantik api dan lain sebagainya.
“Harga Rp 1.000 seribu itu
pelanggan sudah terima jadi. Pokoknya korek pelanggan yang dibawa padaku dalam
keadaan rusak dan kosong gas, langsung aku ganti dengan korek gas normal yang
bisa mengeluarkan api,” ujar pria yang mengaku tidak pernah sekolah tersebut.

Menurutnya, saat ramai pelanggan dia bisa menghabiskan dua botol gas. Kata dia, dua botol gas tersebut bisa untuk mengisi sekitar 80 korek api
gas dan dari semua pengisian tersebut dia mengaku mendapatkan uang Rp 80 ribu.
Namun jumlah uang tersebut belum dipotong modal sebesar Rp 50 ribu,
harga dari dua botol gas  dan batu korek.
“Saat ramai pelanggan aku bisa mendapatkan penghasilan
bersih sekitar Rp 30 ribu sehari. Tapi saat sepi atau pas lagi turun hujan aku paling
hanya bisa mendapatkan pengahasilan bersih sekitar Rp 10 ribu sehari,” ujarnya.
Pria buta huruf tersebut mengatakan, saat sepi pelanggan dan
hanya mendapatkan penghasilan sedikit terjadi beberapa hari, dia mengaku kelimpungan. Karena uang tersebut hanya
cukup untuk uang saku cucunya. Sedangkan untuk kebutuhan makan keluarganya,
istrinya harus mengutang di toko.
“Karena ragaku yang sudah renta dan tidak memungkinkan untuk
kerja yang mengandalkan tenaga, aku berharap usaha kecilku sebagai pengisi gas
korek api selalu ramai pelanggan. Supaya aku bisa mencukupi kebutuhan
keluargaku dan kelak bisa menyekolahkan cucuku setinggi – tingginya, agar tak
bernasib seperti diriku yang buta huruf,” harap Safari.

- advertisement -

Enak Ya, Cuma Tukar Baju, Buku Bekas dan Nulis Status Dapat Pertalite Gratis dari Pertamina

0
SEPUTARKUDUS.COM, KEDUNGDOWO – Perempuan berkerudung hitam mewadahi pakaian bekas ke plastik di SPBU Jalan
Kudus-Jepara, Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus. Dia menata pakaian itu di atas meja. Pakai-pakaian bekas layak pakai tersebut
menurut perempuan bernama Riche Dwi Prastyawati (18) itu, akan ditukarkan kupon gratis
dua liter Pertalite pada promo peringatan ulang tahun Pertamina ke-59.

SPBU Kedungdowo Kudus
Petugas SPBU Kedungdowo Kudus, menunjukkan kupon Pertalite gratis hasil penukaran pakaian layak pakai. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Riche mengaku mengetahui promo Bebagi Tak Pernah
Rugi melalui sosial media. Menurutnya, kesempatan tersebut tidak akan
dilewatkan karena dirinya akan mendapatkan Pertalite gratis dengan hanya menukarkan
lima pakaian bekas atau lima buku bacaan saja. 

“Beramal sekaligus mendapat
Pertalite cuma-cuma. Ini saya datang dengan mbak saya dan membawa 10 baju bekas.
Jadi kami dapat empat liter Pertalite,” ungkapnya saat ditemui setelah
mencatatkan namanya di daftar penerima kupon.

Riche yang masih kuliah semester satu Jurusan Usuludin STAIN
Kudus menuturkan, dia memilih pakaian bekas karena banyak pakaian yang tidak
terpakai di rumahnya. Menurutnya, pakaian-pakaian tersebut akan disumbangkan ke yayasan, panti asuhan, dan yang membutuhkan sesuai ketentuan progam dari Pertamina. Dia
tidak menukarkan buku untuk mendapatkan kupon karena buku yang ditukarkan
harus berupa buku cerita dan buku pengetahuan. Buku pelajaran tidak
diperbolehkan. 

“Selain menukarkan buku dan pakaian bekas layak pakai sebenarnya
juga ada promo Cerita Cinta Pertamina. Saya hanya membuat status melalui sosial
media setelah itu dapat Pertalite dua liter. Enak ya,” jelasnya sambil
tersenyum.

Pengawas SPBU 44.593.13 Kedungdowo, Ahmad Shiddiq menuturkan
promo Berbagi Tak Pernah Rugi dan Cerita Cinta Pertamina memang diadakan untuk
memperingati hari ulang tahun Pertamina yang ke-59. Masyarakat yang ingin
mengikuti promo gratis dua liter hanya diminta menukarkan lima buku bekas dan
lima pakaian bekas layak pakai. Selain itu, juga bisa dengan membuat status di
akun sosial media tentang kecintaan atau pengalaman menyenangkan menggunakan
produk Pertamina.
Menurutnya, promo ini diadakan di seluruh SPBU Pertalite di
Indonesia yang bertanda khusus. Namun sayang progam ini hanya diberikan hanya
satu hari pada 10 Desember 2016. Waktunya pun dibatasi hanya pukul 08.00
– 10.00 dan 16.00 – 18.00 saja. “Jadi hanya empat jam dalam sehari saja,”
tuturnya.
Di SPBU yang diawasinya, sampai waktu yang ditentukan hanya
ada 40 peserta yang mengikuti promo tersebut. Menurutnya, setiap SPBU diberikan
kuota 200 kupon dengan rincian promo Berbagi Tak Pernah Rugi 100 kupon dan Cerita
Cinta Pertamina 100 kupon. Menurutnya, jika setiap kuponnya ditukarkan dua
liter Pertalite, terdapat 400 liter Pertalite yang disediakan. “Kalau
hanya 40 kupon yang dipergunakan, berarti ya masih sisa 320 liter,” jelasnya.
Sedikitnya masyarakat yang mengikuti promo gratis dua liter
Pertalite menurutnya karena informasi yang diberikan kurang. Dikatakan, pihaknya
mendapatkan informasi tersebut dari Pertamina memang mendadak, yakni sepekan sebelum hari pelaksanaan. Menurutnya, dirinya sudah berupaya menginformasikan
lewat sosial media dan memasang mengumuman di SPBU. 

“Namun lagi-lagi yang mengetahui
masih sedikit. Untuk di SPBU di Kudus yang mengikuti promo ini hanya sembilan SPBU
dari 18 SPBU yang ada,” tambahnya.

Dia membandingkan, promo Pertalite dari Pertamina yang ramai
ketika 17 Agustus 2016 lalu. Menurutnya, saat itu masyarakat diminta
menghafalkan teks proklamasi, pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dan Pancasila.
Setiap poinnya mendapatkan satu liter Pertalite. Waktu yang diberikan pun
seharian penuh. “200 liter Pertalite habis dengan cepat,” terangnya.

- advertisement -

Jelang Tahun Baru, Tukang Becak Asal Grobogan Ini Siapkan 5.000 Terompet untuk Dijual di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Ratusan terompet warna-warni beraneka bentuk tampak tergantung pada bilah bambu di
tepi Jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di sampingnya tampak seorang pria
memakai kaus lengan pendek warna kuning sedang sibuk merangkai terompet
berbentuk naga. Pria tersebut bernama Suyono, pembuat sekaligus penjual terompet
untuk menyambut tahun baru 2017. Tahun ini dia telah menyiapkan 5.000 terompet untuk dijual.

penjual terompet
Suyono sedang menata terompet yang dijual di Jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil menata barang dagangannya, pria yang akrab disapa Yono tersebut
sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebelum bisa membuat
terompet dengan aneka bentuk, dia terlebih dulu berjualan terompet di Kudus selama empat kali pergantian tahun. Dia mengaku pada waktu itu
mendapatkan terompet dengan aneka bentuk dari teman baiknya dari
Wonogiri.
“Temanku itu bisa membuat terompet berbagai bentuk. Karena selama empat kali memesan terompet darinya selalu mendapatkan jumlah
yang lebih sedikit dari yang aku pesan, aku akhirnya memaksa dirinya agar mau
mengajariku membuat terompet. Setelah aku diajari
dan bisa membuat terompet dengan aneka bentuk hewan, aku lalu memproduksi terompet di setiap pergantian tahun,” ujar Yono.
Pria yang berasal dari Grobogan tersebut mengaku berjualan
terompet semenjak 10 tahun yang lalu. Namun dia mulai memproduksi terompet yang dia jual sejak enam tahun silam, tepatnya menjelang pergantian
tahun 2011.
“Menjelang pergantian tahun 2011 itulah aku pertama kali
memasarkan terompet aneka bentuk hasil buatanku. Meskipun pada waktu
itu bentuknya belum sempurna, 300 terompet buatanku terjual habis,” ujar
Yono.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengatakan,
seiring berjalanya waktu, dia sekarang sudah mahir membuat terompet berbagai bentuk dengan jumlah ribuan. Menurutnya, dia menjual terompet dengan total
ratusan hanya dua tahun saja. Setelahnya dia mengaku bisa membuat dan menjual
sekitar empat ribu sampai lima ribu terompet.
Yono mengatakan, untuk menyambut pergantian tahun ini dia
sudah membuat sekitar 5.000 terompet beraneka bentuk. Dia mengatakan, untuk
membuat semua terompet tersebut dia menghabiskan modal sekitar Rp 8 juta.
Untuk membuat semua aneka bentuk terompet tersebut dia
mengaku mengerjakan sendiri bersama istri dan dua anaknya di Grobogan. Dan
untuk menyelesaikan lima ribu terompet tersebut, katanya membutuhkan waktu
sekitar satu setengah bulan.
“Setelah semua terompet sempurna bentuknya, aku membawanya
ke Kudus untuk aku jual secara ecer maupun grosir. Aku berharap semua terompet
buatanku habis terjual agar aku bisa mendapatkan omzet Rp 22 juta ,” ujar pria
yang keseharianya tukang tambal ban dan menarik becak tersebut.

- advertisement -

Penjual Samurai Asal Bandung Ini Berjalan Kaki Pindah-Pindah Kota, Sehari Bisa Kantongi Uang Rp 1 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG –  Di tepi Jalan Sosrokartono, tepatnya di depan pos satpam CV Mulyorahardjo, terlihat seorang pria mengenakan kaus putih berjaket, sedang duduk di antara beberapa samuari. Tampak sesekali karyawan yang lewat di depannya tertarik kemudian melihat-lihat produk yang dijualnya. Pria itu bernama Vicky (23), penjual samurai asal Bandung.

Vicky sedang duduk di depan pos satpam CV Mulyoharjo menawarkan samurai kepada karyawan perusahaan setempat. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari berbincang-bincang dengan calon pembeli, kepada Seputarkudus.com, Vicky sudi berbagi kisah tentang usaha yang dijalaninya saat ini. Dia menjelaskan, menjadi penjual pedang samurai keliling sudah berlangsung sekitar enam tahun, tepatnya sejak tahun 2010. Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh ayahnya. Karena kondisi ayahnya tidak lagi memungkinkan untuk berjualan, dia yang meneruskan usaha itu.

“Sebenarnya ini usaha ayah saya. Berhubung ayah sudah tidak kuat berjualan lagi, jadi saya yang melanjutkan. Ini pertama kalinya saya berjualan di Kudus. Saya berjualan pindah-pindah tempat. Kadang hari ini di Kudus, besok bisa berjualan di Pati, Juwana, Rembang, Lasem, Lamongan, Tuban, kadang juga di Jakarta,” ungkap Vicky waktu ditemui di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus.

Dia menjelaskan, yang setiap hari dirinya membawa beban 50 kilogram berjalan kaki berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berjualan. Dia bersama tiga orang temannya dari Bandung. Selama berjualan, dia mengaku menyewa rumah di Desa Tanggulangin, Kecamatan Jati, Kudus, sebagai tempat untuk istirahat. 

jual samurai

“Tiga bulan sekali saya pulang ke Bandung, sementara sekarang saya tinggal di Tanggulangin bersama tiga orang teman saya,” ungkapnya.

Pria yang mengaku belum berkeluarga ini mengatakan, selain menjual pedang samurai, dia juga menjual beberapa produk sejenis. Di antara barang yang dia jual yakni pisau, golok, dobel stik, keris maupun kujang, yang semuanya dia peroleh dari produsen di Bandung. “Benda-benda yang saya jual semua dari Bandung dan asli buatan orang Bandung,” ujarnya.

Dia menambahkan, harga produk yang dijual berbeda-beda, tergantung besar, kecil maupun bahan yang digunakan. Untuk pedang samurai dia jual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 900 ribu. Sedangkan kujang, keris, dobel stik seharga Rp 90 ribu, golok Rp 250 ribu dan pisau Rp 50 ribu. 

“Bahan ada yang dari baja putih, kuningan, baja hitam, ada pula yang dari bahan pegas mobil. Saya berjualan mulai pukul 8.00 WIB hingga 17.00 WIB. Kadang sehari mendapat Rp 500 ribu, kadang lebih dari Rp 1 juta. Hari ini, baru Rp 900 ribu yang bisa saya dapatkan,” tambahnya.

Untuk modal awal memulai usaha, dia mengaku mengeluarkan uang sekitar Rp 100 juta untuk membeli produk benda tajam tersbeut. Omzet per bulan tidak bisa dia pastikan. Untuk keuntungan bersih bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per bulan.

- advertisement -

Aidil Sempat Tak Sabar Ikuti Kirab 1.000 Obor Desa Padurenan Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

0
SEPUTARKUDUS.COM, PADURENAN – Suara rebana terdengar di
jalan Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus, Minggu (11/12/2016). Sejumlah orang membawa obor, replika masjid dan gunungan yang terbuat
dari jajanan tradisional khas Desa setempat. Terlihat pula anak-anak membawa obor tampak riang mengikuti Kirab 1.000 Obor pada kegiatan Gebyar
Maulid Jawiyan dan Festival Terbang Papat. Acara itu digelar merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kudus
Peserta Kirab 1.000 Obor berjalan mengelilingi Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus, merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu (12/12/2016). Foto: Imam Arwindra

Satu di antara anak-anak yang mengikuti kirab yakni
Muhammad Sofa Aidil Akbar (7). Dia tampak ceria saat berjalan bersama peserta lainnya membawa obor bambu di tangannya. Sesekali dia mengumbar senyuman kepada
warga yang melihat. Walau gerimis, dia mengaku senang. “Kalau nanti
hujan deras saya tetap ikut sampai selesai,” ungkapnya yang masih sekolah di MI
NU Al Huda Padurenan.
Soleh (35), ayah Aidil yang turut serta dalam kirab tersebut menuturkan, sejak siang anaknya
sudah memintanya untuk membuatkan obor. Dia sudah tidak sabar ingin ikut
kegiatan yang diselenggarakan tiap tahun itu. “Dia
anaknya aktif. Dia juga sering ikut kegiatan sekolah. Karena sudah terbiasa
saya tidak khawatir. Yang penting kami (orang tua) terus memantau,” jelasnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepada Desa Padurenan Achsanudin
Ismanto menuturkan, kegiatan Kirab 1.000 Obor itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Gebyar
Maulid Jawiyan dan Festival Terbang Papat yang diselenggarakan Pengurus Kelompok Sadar
Wisata Desa Padurenan. Menurutnya, kegiatan itu diselenggarakan setiap tahun pada 12 Rabiul Awal. 

“Sebelum
Kirab 1.000 obor ada Festival Terbang Papat dan nantinya diakhiri dengan
Maulidan Jawiyan di Masjid Asy-Syarif I Padurenan,” tuturnya.

Kegiatan Kirab 1.000 Obor, menurutnya diikuti sekitar 400 warga
Desa Padurenan dari berbagai unsur. Ada anak-anak yang ikut dalam
pelaksanaan kirab. Dia mengatakan, peserta kirab membawa replika Masjid Asy-Syarif I
Padurenan dan gunungan berisi jajanan tradisional khas Desa Padurenan. Jajanan khas itu di antaranya ada geblak sari, gapit, dan rengginang. 

“Jajanan tersebut dibuat
warga Padurenan. Sebenarnya yang paling khas geplak sari. Desa Padurenan selain terkenal bordir dan
konveksinya juga dikenal memiliki jajanan tradisional,” jelasnya.

- advertisement -

Terpuruk Karena Kemalingan dan Tanggung Utang Rp 1,5 M, Pemilik Extreme Cell Bangkit Berkat Dukungan Istri

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Sejumlah karyawan toko ponsel Extreme Cell terlihat sibuk melayani calon pembeli yang datang di Jalan Pemuda, Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus. Beberapa
ponsel keluaran terbaru berbagai merek juga nampak menghiasi etalase. Toko yang berjarak sepelemparan batu dari Perempatan Sleko itu, menyimpan kenangan panjang bagi pemiliknya, Roy Kristiyanto (39). 

pemilik extreme cell kudus
Pemilik Extreme Cell Kudus, Roy Kristiyanto bersama istrinya. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Roy sudi berbagi kisah tentang toko yang banyak menjadi rujukan pembeli ponsel di Kudus tersebut. Satu di antara kenangan yang tak bisa dilupakan, kata Roy, yakni pada tahun 2012. Saat itu toko miliknya
pernah dibobol maling dan dirinya harus menanggung utang Rp 1,5 miliar.

Saat itu dia mengaku sangat putus asa karena kejadian tersebut. Dia bahkan sempat kapok menjalankan bisnis lagi. Nyali berbisnisnya hilang saat harus menanggung utang
Rp 1,5 miliar dan barang yang dijual di toko hampir ludes. Ibarat jatuh ketiban tangga, setelah peristiwa pembobolan toko itu, teman yang biasa membantunya di toko juga mencuri barang yang masih tersisa di toko. “Saat itu aku putus asa,” ungkapnya saat ditemui
Seputarkudus.com di Extreme Cell.
Roy mengungkapkan, saat itu dia sudah menikah dengan Evi Rosalina (32). Menurutnya, istrinyalah yang tetap semangat dan terus mendorongnya untuk bangkit. Dia memulai usaha penjualan ponsel kembali dari nol. “Dia (istri) hebat. Saya kalah mental,” ungkapnya sambil
mengacungkan jempol ke arah istrinya dan dibalas senyuman.

Cik Evi, panggilan akrab Evi Rosalina, yang duduk dekat meja
kasir mengungkapkan, suami dan dirinya harus bangkit karena harus menanggung utang
dengan jumlah yang besar. Setelah kejadian pembobolan toko, dia mendatangi
distributor ponsel untuk menego supaya mendapatkan barang. 

“Saya benar-benar
minta tolong kepada distributor sambil membawa sertifikat rumah, mobil dan lainnya, supaya dapat dipercaya. Tahun 2013 saya mulai dari nol,” tambah Evi bercerita penuh semangat.

Sedikit demi sedikit, kata Evi, penjualan ponsel berjalan lancar dan
bisa mengangsur utangnya. Menurutnya saat ini semua utang tertanggung sudah lunas dibayar dan Extreme semakin berkembang. Dikatakan Evi,
dirinya sudah terbiasa fight di
lapangan dan terbentur dengan hal-hal yang rumit. Selain itu, Evi tidak mau
pesaingnya senang akan kejadian yang menimpanya. 

“Saya tidak mau ditertawakan
rival, kan mereka senang dengan
bilang ‘rasakke‘,” tambah perempuan satu anak tersebut.

Roy menambahkan, untuk manajemen semua
diserahkan kepada istrinya. Dirinya hanya membantu penjualan dan servis. Menurutnya,
sekarang toko yang dirintis  sejak tahun
1997 sudah mampu menjual puluhan ponsel dalam seharinya. Untuk smartphone
merek Xiaomi dapat dijualnya 25-40 unit dalam sehari. begitu juga dengan
brand-brand lainnya.
Kepada Seputarkudus.com diceritakan, saat masih kuliah di Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (YKPN) Yogjakarta tahun
1997. Saat itu Roy sudah menjalankan bisnis voucer pulsa Telkomsel. Tahun 1998, dia juga
menambah layanan servis perbaikan handphone. “Saat itu saya masih kuliah di
Yogjakarta dan bolak-balik Kudus Yogjakarta,” ungkapnya.

Selanjutnya, pada tahun 2005 dirinya mempunyai toko di ruko
Wahid Hasyim nomor 70 di dekat SMA Masehi. Saat itu, dirinya menjual HP bekas,
aksesoris HP, perdana, voucer pulsa, voucer elektrik, service hp, dan lampu
warna yang biasa dipasang di LCD HP. Berjalan dua tahun, dirinya sudah menjual HP baru Nokia, Motorola, dan LG. 

“Akhirnya pada tahun 2010, muncullah HP Blackberry dan merek Tiongkok yang ramai diburu orang. Hingga pada tahun
2012, insiden kemalingan terjadi dan memulai lagi dari nol setahun kemudian,” jelasnya.

- advertisement -

Marvin Rela Tak Lanjut Sekolah untuk Magang di Kudus Demi Cita-Cita Dirikan Usaha Pembuatan Stempel di Blora

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Puluhan kendaraan terlihat berhenti di lampu merah Prima Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Tak jauh dari timur lampu merah, terlihat seorang pria mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu dengan celana kolor berwarna merah sedang menjemur plat nomor di atas jok motor. Pria itu bernama Elga Marvin Santoso (21), dia mengaku sudah empat tahun ikut saudaranya di Kudus untuk belajar berwirausaha.

buat plat nomor di kudus
Marbin sedang menjemur plat nomor pesanan pelanggan. Foto: Ahmad Rosyidi

Marvin, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya sebagai pembuat plat nomor. Dia menceritakan, dirinya hanya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Kemudia dirinya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah dan ikut saudara di Kudus yang memiliki usaha pembuatan plat nomor dan stempel.

“Sejak tahun 2012 saya ikut saudara di Kudus, saya ingin belajar berwirausaha. Rencana usai Lebaran tahun depan saya pulang dan membuka usaha seperti ini di Blora. Saya sengaja tidak melanjutkan sekolah karena lulusan SMA susah cari kerja, jadi saya ikut saudara saja belajar wirausaha,” ungkap anak pertama dari empat bersaudara itu.

Marvin mengungkapkan dirinya jarang pulang ke Blora, dia hanya pulang saat ada acara tertentu. Meski jarang bertemu keluarga, Marvin sudah merasa terbiasa jauh dari keluarga karena sejak lulus sekolah dasar (SD) dirinya ikut saudaranya di Rembang dan sekolah SMP di sana.

Dia membuka lapak jasa pembuatan plat nomor, setempel, dan papan nama mulai pukul 7.30 WIB hingga pukul 15.30 WIB. Pelanggan yang datang tiap hari rata-rata sekitar dua hingga tiga orang. Karena dirinya sendirian, Marvin mengaku tidak bisa melayani banyak pelanggan.

Marvin merinci harga dan waktu pembuatan plat nomor yang dibuatnya. Untuk harga jasa permak plat nomor mulai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Untuk pembuatan plat nomor sementara seharga Rp 25 ribu, dan waktu yang dibutuhkan kurang lebih satu hari. Setempel warna mulai harga Rp 50 ribu hingga hingga Rp 100 ribu. Sedangkan setempel dari kayu mulai harga Rp 15 ribu hingga Rp 70 ribu, dan bisa jadi dalam sehari.

“Papan nama dari mika harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 80 ribu, dan yang paling laris papan nama ruangan yang harganya Rp 25 ribu. Biasanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Tetapi bisa mundur saat musim hujan, karena proses pengeringan membutuhkan sinar matahari,” jelas anak petani itu.

Meski dirinya berniat membantu saudaranya sambil belajar, Marvin mengungkapkan mendapat gaji bersih Rp 500 ribu per bulan. Karena untuk makan dan uang bensin dia sudah dicukupi saudaranya.

“Meski saya membantu saudara tetapi masih mendapat gaji bersih Rp 500 ribu per bulan. Selain itu untuk bensin dan makan sudah dicukupi saudara saya. Jadi lumayan bisa saya tabung,” katanya.

- advertisement -

Santoso Pilih Tak Lanjut Sekolah untuk Jual Bakso Rindu Demi Biayai Pendidikan Dua Adiknya di Sukoharjo

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGARDALEM – Di tepi Perempatan Sucen, tepatnya di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tampak  beberapa siswi sekolah mengerumuni gerobak. Di atas gerobak terlihat puluhan tusuk bakso di atas alat
pemanggangan. Di samping gerobak tampak seorang pria muda yang begitu cekatan
memasukan beberapa bakso ke dalam kantong plastik. Pria tersebut bernama
Ratno Santoso (19), yang menjual bakso bakar untuk biaya sekolah adiknya.

kisah penjual bakso bakar
Santoso melayani sejumlah siswa Banat NU Kudus yang membeli bakso bakar. Foto: Rabu Sipan

Pria yang akrab disapa Santoso itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya berjualan Bakso Rindu. Dia mengatakan, mulai bekerja ikut tetangganya menjual bakso
bakar dan kuah selama tiga tahun. Dia bekerja setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP). Dirinya mengaku tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.  
“Sekolah di SMP saja aku sering nunggak iuran buku, seragam dan lainya. Bahkan aku hampir putus sekolah dan tidak lulus. Padahal waktu itu aku sudah mendapatkan beasiswa bebas SPP
selama tiga tahun. Setelah lulus aku bekerja agar bisa membantu membiayai sekolah adikku,” ujarnya.

Anak pertama dari empat bersaudara itu mengatakan, dari tiga
adiknya, hanya dua orang yang kini masih sekolah. Satu adiknya lebih tidak
beruntung, karena hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Karena gagal
menyelematkan pendidikan satu adiknya, dia mengaku akan lebih giat kerja agar
bisa membantu menyekolahkan dua adiknya agar bisa mengenyam pendidikan lebih
tinggi darinya.

Pria yang berasal dari Sukoharjo itu mengatakan, dirinya berjualan bakso bakar dan kuah di Kudus ikut tetangganya yang sudah lama tinggal di Desa Singocandi, Kota. Menurutnya bosnya tersebut
membuat sendiri ribuan pentol bakso. Dia dibayar Rp 1,5 juta sebulan. “Besaran gaji tersebut
merupakan penghasilan bersih, karena makan, pulsa, semua ditanggung oleh
bosku,” jelas Santoso.

Dia mengatakan menjual bakso kuah mulai harga Rp 2 ribu
dan bakso bakar dijual seharga Rp 1 ribu satu tusuk. Dia mengaku berjualan
setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 20.30 WIB. Dalam sehari dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 1,1 juta saat sepi, dan Rp 1,9
juta sehari bila sedang ramai.
“Semoga dengan aku selalu mengirimkan sebagian gajiku kepada
ayahku, harapanku dua adiku bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dariku
bisa terwujud. Dan aku juga selalu menabung gajiku yang sebagianya agar kelak
aku bisa mendirikan usaha sendiri,” harap Santoso.
- advertisement -

Salim Waswas Saat Terdengar Teriakan dari Ruangan Khitan Masal yang Diselenggarakan YM3SK

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ratusan anak mengenakan sarung
batik, kopiah dan koko putih duduk berbaris di dalam Gedung Yayasan Masjid,
Menara, Makam Sunan Kudus (YM3SK) Jalan Sunan Kudus, Sabtu (10/11/2016). Mereka terlihat was-was saat
menunggu giliran untuk dikhitan pada kegiatan Khitanan Umum yang diadakan
YM3SK dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

khitan masal
Dokter sedang mengkhitan peserta khitan umum yang diselenggarakan YM3SK. Foto: Imam Arwindra

Sesekali teriakan dan tangisan terdengar keras dari ruangan
khitan. Tampak orang tua wali yang menunggu di balik gerbang tampak
was-was saat pelaksanaan khitan sedang berlangsung. Di antaranya Salim (33), warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, yang sedang menunggu ponakannya bernama
Mahda Assakhih Gustian. 

Dia mengaku khawatir ponakannya yang masih sekolah
di MI Qudsiyyah merasa kesakitan saat disunat. “Khawatir jika dia
kesakitan saat disunat,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com diluar gedung
Ex-Manggala tersebut.

Menurutnya, dia sengaja mengantar ponakannya karena ayahnya
sudah meninggal empat tahun lalu. Sedangkan ibunya masih depresi akibat
ditinggal suaminya. Ketika mendengar ada pendaftaran khitan masal di Menara
Kudus, dirinya langsung menawari ponakannya. Dan ponakannya mau untuk
ikut sunat masal. “Ikut sunat masal selain ngalap berkah Sunan Kudus juga untuk
mengurangi beban ekonomi sunat,” jelas dia yang mengenakan baju koko putih.

Sementara itu, Humas YM3SK Deni Nur Hakim menuturkan,
acara khitanan umum ini diikuti 280 peserta yang dibagi dalam dua kelompok. Pertama sejumlah 143 anak dan kedua 137 anak. Selain berasal dari
Kabupaten Kudus, juga ada beberapa dari Jepara, Demak, Pati dan Grobogan. “Khitan
masal tahun ini sangat membludak. Pada hari pertama pembukaan saja sudah 276 anak
yang mendaftar,” tuturnya.
Melihat pendaftar pertama yang membludak, pihaknya
langsung menutup pendaftaran. Sebenarnya kuota yang akan diberikan sekitar 200 peserta. Karena melihat antusiasme masyarakat yang banyak, akhirnya
ditambah. Dikatakan Deni, tahun-tahun sebelumnya peserta khitan masal tidak lebih
dari 250 peserta. Tahun 2015, pesertanya hanya 240 anak. 

Dia menambahkan, sebenarnya
masih banyak yang ingin mendaftar namun pihaknya mengalihkan peserta ke Masjid
Agung Kudus dan Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK) karena overload. “Saya tidak habis fikir pesertanya membludak. Faktornya
mungkin ingin mendapatkan berkah dari Sunan Kudus,” jelasnya.

Menurut Deni, tenaga medis berasal dari dokter-dokter yang bekerja
di rumah sakit-rumah sakit di Kudus. Dokter tersebut yakni dokter bedah, anak
dan penyakit dalam. Pembagiannya, untuk yang khitan ada 14 tim. Setiap timnya
terdapat dua orang, yang bertugas memberikan suntikan bius ada lima orang dan
empat orang memberikan obat. 

“Kami sengaja memilih dokter yang sudah ahlinya
untuk menjaga jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, peserta yang mengikuti khitanan umum
tidak dipungut biaya sama sekali. Selain gratis, peserta mendapatkan kopiah, baju koko, sarung batik dan celana dalam dari panitia pelaksana. Menurutnya, panitia
hanya tidak menyediakan transportasi bagi para peserta khitan.

Setelah khitan, menurutnya panitia menyediakan kontrol
gratis yang bertempat di Gedung YM3SK dua hari setelah pelaksanaan khitan,
Senin (12/12/2016). Kegiatan yang di lakukan YM3SK diakuinya mendapatkan
bantuan dari perusahaan-perusahaan di Kudus. Di antaranya, Djarum, Sukun dan lainnya. Menurutnya, kegiatan ini akan terus
berlanjut setiap tahun. “Tradisi (khitan masal) ini sudah ada sejak
puluhan tahun yang lalu, dan akan terus berlanjut menjadi tradisi,”
terangnya. 

- advertisement -

Tidak Ingin Terus Jadi Kuli Serabutan, Suntoro Beranikan Diri Berjualan Helm di Tepi Jalan dengan Modal Pinjaman

0
SEPUTARKUDUS, PEGANJARAN – Di tepi Jalan Lingkar Utara
tampak puluhan helm berjajar rapi di atas kardus dan sebagian lainnya tertata rapi
di atas gerobak warna biru. Di antara gerobak dan kardus tersebut terlihat
seorang pria memakai kaus lengan pendek warna merah, sedang melayani pembeli. Pria tersebut bernama Suntoro (30), yang mencoba peruntungan berjualan helm di tepi jalan, karena tidak ingin terus
menjadi pekerja serabutan.

jual helm di kudus
Suntoro sedang melayani calon pembeli helm di Jalan Lingkar Utara, Peganjaran, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan 

Seusai melayani pembeli, Suntoro sudi berbagi
kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan mulai
berjualan helm sejak enam bulan lalu. Sebelum berjualan helm dia mengaku
menjadi kuli bongkar muat pasir, tapi sesekali dia juga menjadi sopir jika
mendapat orderan pengiriman pasir.
“Karena musim hujan seperti sekarang ini jarang ada
orang yang bangun rumah, orderan pengiriman dan bongkar muat pasir sangat sepi. Karena keadaan yang tidak menentu tersebut dan karena aku juga tidak ingin menjadi kuli serabutan terus, aku mencoba
peruntungan menjual helm di tepi Jalan,” ujar Suntoro.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Gribig, Kecamatan
Gebog tersebut mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 8 juta untuk berbelanja
aneka helm dengan berbagai merk dan model. Dia mengatakan uang modal
tersebut dia dapatkan dari pinjaman tanpa bunga dari seorang temanya.
“Aku bersyukur masih ada teman yang percaya dan sudi memberi
pinjaman modal tanpa bunga hingga aku bisa berjualan helm. Seandainya tidak
ada pinjaman atau pinjaman tersebut berbunga mungkin aku tidak akan berani
memulai berjualan helm. Karena berjualan helm di tepi jalan hasilnya tidak
menentu juga,” ungkapnya.

Menurutnya berjualan
helm di tepi jalan harga yang dia tawarkan selalu ditawar oleh calon pembeli. Bahkan calon banyak calon pembeli menawar secara kebangetan.
Menurutnya butuh kesabaran untuk melayani calon pembeli yang menawar harga terlalu besar. Karena sering ditawar tersebut dia mengaku untung
yang dia dapatkan tidaklah banyak.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengatakan, selain menjual helm di tepi utara Jalan Lingkar Utara,
terkadang dia juga berjualan di tepi Jalan Sunan Muria, sebelah utara perempatan
lampu merah Desa Panjang, Dawe. Katanya, dia berjualan di dua tempat tersebut
secara bergantian setiap dua hari.
“Selama berjualan di tepi jalan untung yang aku dapatkan
tidak banyak karena sering ditawar. Aku juga belum bisa menjual helm
daganganku dalam jumlah yang banyak. Sehari bisa menjual tiga helm itu termasuk
sudah bagus. Bahkan juga terkadang sehari tanpa ada pembeli,” ujarnya 
Suntoro merinci merk helm yang dia jual beserta harganya. Helm merk BXP dia jual Rp 120 ribu, merk GSP dia hargai Rp 100 ribu,
untuk JP Helmet model Bogo dia banderol Rp 190 ribu. Sedangkan helm INK dia
jual dengan harga Rp 320 ribu.
“Aku menyadari merintis usaha tidaklah mudah, mungkin saat
ini aku hanya bisa menjual tiga helm sehari, bahkan terkadang juga tidak laku
sama sekali. Tapi aku tidak akan putus asa, aku akan semangat berjualan dan berharap
helm yang aku jual diminati para pembeli hingga aku bisa mengembalikan modal
dan kelak bisa menyewa tempat untuk berjualan,” harap Suntoro.
- advertisement -

Pak Hasim Sudah 50 Tahun Mempertunjukan Topeng Monyet, Berjalan Kaki dari Jepara Hingga ke Aceh

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Suara gendang kecil yang dipukul dengan kayu terdengar “dung dung dung” dari arah barat Gang Mawar, Desa Dersalam, Bae, Kudus. Nampak seorang pria berjalan sambil menggendong monyet dan perlengkapan pertunjukan. Pria itu tak lain adalah Hasim Parno (63), dia mengaku sudah sekitar 50 tahun menjalani pekerjaannya mempertunjukkan topeng monyet keliling.

Hasim berjalan kaki keliling menawarkan pertunjukan topeng monyet di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi 

Hasim, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya. Di menceritakan, dirinya sudah 50 tahun menghibur siapa saja dengan pertunjukan topeng monyet. Bahkan dirinya pernah sampai ke Aceh. Saat masih muda dia mengaku jarang pulang karena berkeliling di daerah-daerah yang jauh. Tetapi karena saat ini usainya tidak muda lagi dia hanya berkeliling di Kudus, Jepara, Pati, dan Semarang.

“Saya sudah sekitar 50 tahun bekerja seperti ini, sudah sejak kecil. Dulu waktu saya masih muda sampai jarang pulang, keliling pindah-pindah daerah. Aceh, Tanjungpinang, Batam, Pekanbaru, Palembang, Jakarta juga pernah. Pokoknya saya keliling sampai daerah jauh hingga jarang pulang,” ungkap warga Desa Singorojo, Mayong, Jepara itu.

Selama 50 tahun, Hasim mengaku sudah enam kali ganti monyet. Dia membeli monyet dari pasar Wergu Kudus, kemudian dia latih agar bisa melakukan hal-hal yang akan dipertunjukan. Saat melatih dia juga mengaku ada beberapa yang susah, ada juga yang gampang dan cepat bisa. Selain monyet, dia juga membawa ular untuk pertunjukannya.

“Monyet juga ada yang pintar dan yang bodoh seperti manusia, kalau bodoh ya lama dilatihnya. Ular saya tidak beli, lihat dijalan saya pegang saja,” jelas Hasim.

Saat berjalan tiba-tiba langkah Hasim terhenti, terdengar suara triakan anak kecil memanggilnya. Setelah beberapa menit menuggu di dekat rumah, akhirnya dia berjalan lagi karena orang tua anak itu tidak mau keluar rumah. Hasim menjelaskan bahwa pertunjukan topeng monyet saat ini sudah sepi peminat.

Dia mempertunjukan topeng monyet mulai harga Rp 100 hingga sekarag menjadi Rp 10 ribu untuk sekali pertunjukan. Hasim merasa pertunjukan topeng monyet saat ini sudah jarang diminati. Terkadang ada anak yang ingin melihat pertunjukan monyet, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Meski begitu dirinya merasa tidak ada pilihan lain karena sudah terbiasa dengan pekerjaannya itu.

“Ya seperti ini, sekarang sering sepi. Dari pagi hingga siang ini baru dua kali yang mempertunjukkan topeng monyet, lumayan saya bisa beli makan. Biasanya saya berangkat pukul 7.30 WIB dan nanti pulang pukul 17.00 WIB,” katanya.

- advertisement -

Inilah Daftar Laptop Terlaris di Xoxo Computer Kudus hingga Akhir Tahun 2016

0
SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Laptop hitam tampak diutak-atik perempuan berkerudung coklat di meja kaca Xoxo Computer
Kudus, Jalan Sunan Muria. Di depannya, seorang laki-laki berkaus merah terlihat sedang memaparkan keunggulan laptop hitam itu. Laptop tersebut bermerk Lenovo, yang menurut Harto, Sales
Front Liner Xoxo Computer Kudus, penjualannya sampai akhir tahun 2016 merupakan yang tertinggi
dari brand lainnya.

Karyawan Xoxo Computer Kudus sedang menjelaskan spek laptop kepada calon pembeli. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com di Xoxo Computer Kudus, Harto mengungkapkan dalam setiap quartal atau per tiga bulan sekitar
200 unit laptop Lenovo terjual di toko tersebut. Disusul HP 125 unit, Accer 100
unit, Asus 50 unit dan Dell 25 unit. “Untuk per bulannya keseluruhan kami
menjual lebih dari 100 unit komputer,” jelasnya.
Dia menambahkan, seri laptop Lenovo yang banyak diburu yakni
Lenovo Ideapad 300s. Menurutnya, laptop tersebut tergolong laptop yang tidak
high-end namun masih sesuai dengan kebutuhan konsumen sehari-hari, misalnya, membuka Microsoft Office dan mengakses internet. “Jadi harganya terjangkau dan
sesuai dengan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Dikutip dari laman shopap.lenovo.com,
Lenovo Ideapad 300s mempunyai berat 1,3 kilogram, tebal 21,8 milimeter dan
layar 11.6″ HD (1366 x 768). Laptop tersebut juga dilengkapi dengan dengan
teknologi Dolby dan speaker stereo untuk hiburan digital serta WiFi 802.11 a/c.
Untuk kapasitas penyimpanan besar dengan kapasitas HDD atau SSHD hingga 1 terabyte.

Harto mengungkapkan, masuk pada quartal empat (Oktober,
November, Desember) laptop yang banyak diburu konsumen low-end. Untuk
laptop yang high-end penjualannya anjlok. Hal tersebut menurutnya dipengaruhi
dari kebutuhan konsumen yang tidak memerlukan spesifikasi laptop tinggi. Selain
itu, pada quartal tiga (Juli, Agustus, September) dan empat yakni musim anak
sekolah. “Jadi untuk laptop high-end atau spesifikasi tinggi akhir tahun 2016
anjelok,” jelasnya.
Adanya telepon pintar yang terus berkembang di masyarakat, menurutnya tidak mempengaruhi penjualan komputer dan laptop.  Dia menuturkan, laptop memiliki fungsi dan
kegunaan tersendiri. Hal tersebut menjadikan laptop mempunyai pasar berbeda dengan
smartphone. “Adanya smartphone tidak
mempengaruhi pasar laptop,” tambahnya.  

- advertisement -

Tak Kapok Gagal Usaha Jual Gorengan di Tangerang, Pria Asal Cirebon Ini Mantap Buka Usaha Batu Alam di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Tumpukan batu alam terlihat tertata rapi di tepi Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak Seorang pria mengenakan kaus warna abu-abu sedang berbincang-bincang dengan calon pembeli. Pria tersebut yakni Gian Ginanjar Suryana (18), pria asal Cirebon yang kini mantap berjualan batu alam di Kudus, setelah gagal membuka usaha gorengan di Tanggerang.

penjual batu alam di kudus
Gian sedang menata batu alam di depan tokonya, Jalan Jendral Sudirman, Desa Rendeng, Kota, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pelanggan, Gian begitu akrab disapa, Sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha penjualan batu alam miliknya. Dia menjelaskan, usaha yang dia tekuni sudah berlangsung sekitar enam tahun, tepatnya pada tahun 2010. Sebelum membuka usaha batu alam, dulu dia sempat berjualan gorengan, namun usahanya tidak berkembang sesuai yang dia harapkan.

“Awalnya dulu saya usaha menjual gorengan di Tanggerang. Setelah setengah tahun berjualan hanya cukup untuk biaya hidup, saya mulai berhenti berjualan dan berfikir membuka usaha lain. Berhubung adik dari kakak ipar saya punya usaha batu alam, saya mulai coba-coba untuk berjualan batu alam di Kudus,” ungkap Gian waktu ditemui di ruko tempat dia berjualan.

Pria yang mengaku lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini mengatakan, usaha batu alam miliknya bernama Mulia Stone, yang menjual berbagai jenis dan motif batu alam. Selain itu, tempatnya juga menyediakan tukang borong pemasangan batu alam bagi setiap pelanggan yang membutuhkan jasanya tersebut. 

“Usaha saya tidak menjual batu alam saja, tapi saya juga menerima jasa pasang batu alam dan pembuatan taman minimalis,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sejumlah batu alam yang dijual dia dapatkan dari tempat dia tinggal, Cirebon. Batu alam yang dia jual meliputi, batu alam jenis andesit, palimanan, batu candi, batu lempeng, koral sikat serta cat kolting batu alam. Untuk cat kolting, dia mengaku membeli dari sales asal Surabaya dan Tanggerang.

Dia menambahkan, untuk harga yang ditawarkan Mulia Stone berbeda-beda, tergantung jenis, ukuran dan motif dari produk yang dijual.  Batu alam jenis andesit dengan ukuran 20×40 sentimeter dijual seharga Rp 120 ribu, palimanan serta candi seharga Rp 95 ribu untuk polos dan Rp 120 ribu untuk batu alam yang bermotif. Sedangkan koral sikat per pak dia jual seharga Rp 25 ribu dan Rp 60 ribu per karung. Sedangkan batu lempeng, dia jual seharga Rp 50 ribu per meter.

“Untuk pelanggan yang membeli kebanyakan semua dari wilayah Kudus, Pati, Demak serta Jepara. Biasanya mereka membeli batu alam jenis andesit polos, soalnya jenis tersebut minimalis dan elegan. Kalau modal awal, saya tidak pernah menghitung, tapi kalau omzet pada saat sepi pembeli paling Rp 15 Juta, kalau ramai bisa mencapai Rp 50 juta per bulan,” tambahnya.

- advertisement -

Saat Mendapat Pesanan Dalam Jumlah Banyak, Herman Tak Ragu Tekan Harga Bordir Hingga ‘Mepet’

0
SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di tepi Jalan Sosrokartono, tepatnya pojok tenggara lampu merah Proliman Desa Barongan, Kecamatan Kota, tampak kios berwarna kuning. Di dalamnya terlihat dua pria sedang
mengoperasikan mesin jahit. Satu
diantara pria tersebut bernama Agus Suherman
(41), pemilik usaha Sido Bordir. Dia selalu kebanjiran order
saat memasuki tahun ajaran baru sekolah. Pesanan dalam jumlah banyak, dia berani banting harga hingga “mepet“. 

jasa bordir di kudus
Herman sedang membordir pesanan pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Herman
tersebut sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan mulai
membuka usaha bordirnya tersebut saat dirinya belum menikah, tepatnya pada tahun
1999. Seingat Herman, sejak dulu setiap masuk ajaran baru dia mendapat order untuk
bordir nama siswa dari beberapa sekolah di Kudus.
“Setiap masuk ajaran baru aku bisa mendapatkan orderan
bordir nama siswa pada bet seragam dari beberapa sekolah di Kudus. Bahkan total
orderanya bisa di atas 2.000 bet yang semua harus dibordir sesuai nama siswa dan
siswi beberapa sekolah. Karena orderan bet nama begitu banyak,
harga bordir nama yang biasanya aku tarif Rp 5 ribu, aku beri harga khusus Rp 1500
per pcs,” ujarnya.
Pria dari Tasikmalaya tersebut mengatakan,
selain menerima bordir tulisan pada bet, setiap hari dia mengaku menerima
pesanan bordir pada berbagai macam bahan kain, di antaranya, topi, kaus, jaket,
handuk dan lain sebagainya. Dia juga mengatakan, untuk ongkos bordir dia tarif
Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu untuk bordir tulisan. Sedangkan bordir gambar dia
hargai Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu.
Bersama adiknya, Herman mengaku bisa mengerjakan
15 border pada kaus dan jaket, 50 bordir pada handuk. Jika ada, dia mengaku
bisa mengerjakan ratusan bordir pada bet seragam. Selain menerima bordir, kata
dia juga menjual topi dengan bonus bordir sesuai keinginan para pembeli.
“Di kios Sido Bordir miliku, selain menerima pesanan
berbagai macam bordir aku juga menjual aneka model topi yang aku jual dengan
harga Rp 15 per pcs untuk jenis topi anak. Dan Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu
untuk topi dewasa. Semua harga tersebut sudah termasuk bonus bordir sesuai
keinginan para pembeli topi,” kata pria yang memperistri wanita warga Desa
Kaliputu, Kecamatan Kota.
Dia menuturkan, kiosnya tersebut buka setiap Senin
hingga Sabtu mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Dia juga mengatakan, kios yang dia tempati tersebut bukan miliknya, dia mengontrak dengan harga Rp 6 juta
setahun.   
- advertisement -

Demi Passion di Bidang Fashion, Amel Rela Tinggalkan Jabatan Brand Manager dan Gaji Belasan Juta

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN –  Di tepi selatan Jalan
Letkol Sudomo, tepatnya di Gang Empat Kelurahan Panjunan, Kecamtan Kota, Kudus, tampak rumah berlantai dua bercat abu-abu. Di lantai dua rumah
tersebut tampak seorang wanita sedang mendesain gaun serta
sesekali menerima panggilan telepon. Perempuan tersebut bernama Amelia Eka Sari
(33), yang mendirikan Caramells Fashion karena ingin melepas
kenyamanan kerja di kantor.

amel pendiri Caramells Fashion Kudus
Amel sedang membuat desain gaun koleksi Caramells Fashion. Foto: Rabu Sipan

Disela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Amel itu sudi berbagi kisahnya kepada Seputarkudus.com. Menurutnya, dia baru setahun
merintis Caramells Fashion yang mendesain, membuat serta menjual gaun
pesta. Sebelum merintis usahanya itu, Amel bekerja di
perusahan obat ternama Indonesia selama empat setengah tahun dan menjabat
sebagai brand manajer di Jakarta.
“Aku melihat pemilik usaha fashion yang menyediakan
gaun pesta untuk kelas premium di Kudus masih jarang. Aku juga ingin
lepas dari kenyamanan kerja di kantor dan ingin memiliki usaha sendiri, lalu
aku memutuskan keluar kerja serta melepas jabatan brand manajer dengan gaji belasan juta sebulan dan mendirikan Caramells Fashion di Kudus,” ujarnya.

Baca juga: Baru Merintis Produksi Gaun Pesta, Amel Ketagihan Ikuti Pameran Serupa Kudus Trade Show 2016

Perempuan lulusan S 2 Universitas Prasetiya Mulya Busines School
(PMBS) Jurusan Manajemen tersebut mengatakan, sengaja memilih merintis usaha
membuat gaun pesta karena sudah lama menyukai fashion. Selain itu dirinya mengaku suka mendesain gaun
sejak kuliah. Setelah kuliah untuk memperdalam pengetahuanya tentang desain dan gaun pesta, dia ikut kursus desain dan rancang gaun di sela
kesibukanya sebagai brand manajer perusahaan obat di Jakarta.

Setelah keluar
bekerja dan merintis usaha di bidang fashion, Amel mengaku tetap melanjutkan
kursus di Semarang untuk lebih mendalami tipe tubuh wanita. Karena menurutnya untuk
mendesain gaun pesta wanita, harus paham secara detail antara bentuk
pinggul, perut dan lengan. Itu agar gaun pesta yang diproduksi pas sesuai badan
wanita pada umumnya. Dia juga mengatakan mendesain model dan merancang sendiri
gaun pesta produk Caramells Fashion miliknya itu.
“Aku sengaja mendesain model dan merancang sendiri gaun
pesta produk Caramells miliku. Karena menurutku mendesain model dan merancang
busana itu membutuhkan seni dan kreatifitas, agar tercipta gaun yang cantik dan
elegan, serta terdapat ciri khas sentuhan dari sang perancang yakni diriku
sendiri. Agar kelak jika produk gaun pesta buatanku sudah familiar, orang mudah mengenali busana rancanganku hanya dengan melihat
ciri khas yang aku sematkan pada gaun tersebut,” ujarnya
Dia mangatakan, produk gaun pesta rancanganya tersebut
lumayan diminati. Selain di Kudus banyak teman atau koleganya yang di
Jakarta membeli atau memesan gaun produk Caramells Fashion yang dia pasarkan
melalui Instagram miliknya dengan id mycaramells. Menurutnya sebulan
dia bisa menjual sekitar 15 pcs gaun pesta dengan harga mulai Rp 500 ribu untuk
gaun pesta simpel dan harga Rp 1 juta untuk gaun culture.

Selain menjual produk gaun jadi yang selalu mengikuti model
dan tren kekinian, wanita bermata sipit itu mengaku menerima pesanan pembuatan gaun
pesta sesuai model dan bahan sesuai keinginan dari para pelanggan. Dan untuk
membantunya membuat aneka model gaun pesta produk Caramells Fashion, katanya, dia mempekerjakan sekitar empat orang tenaga penjahit.
“Aku berharap gaun pesta produk Caramells fashion miliku
yang aku pasarkan sacara online makin dikenal dan diminati. Dan sebelum membuka
boutiqe, aku informasikan untuk semua orang yang ingin melihat secara langsung  aneka gaun pesta yang anggun nan elegan, atau
bagi siapa saja yang ingin memesan sesuai ukuran dan bentuk badanya bisa datang
langsung ke rumahku dengan terlebih dulu menghubungi nomer HP 08179527877,” ungkap Amel.
- advertisement -