Beranda blog Halaman 1931

Sodik Nekat Menggadaikan Sertifikat Tanah untuk Mendapatkan Modal Usaha Cucian Helm

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Di dalam sebuah rumah yang di tepi utara Jalan Gedung Olah Raga (GOR) Bung Karno, Keluarahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, tampak seorang pria memakai celana
pendek sedang meletakan beberapa helm di atas mesin pengering. Pria tersebut
bernama Noor Sodik (47), pemilik usaha tempat cuci helm Ilman. Untuk mendirikan usaha tersebut dia harus menggadaikan sertifikat tanah.

cuci helm di kudus
Noor Sodik sedang mengeringkan helm usai proses pencucian. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Sodik
itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, memulai
usaha tempat cuci helm sekitar lima tahun yang lalu. Namun menurutnya sebelum di timur GOR Kudus, dulu dia harus mengontrak tempat di
tepi jalan yang berada di Kelurahan Wergu Kulon, Kota.
“Karena harus mengontrak tempat dan membeli mesin cuci serta
mesin pengering helm, aku nekat menggadaikan sertifikat tanah di bank untuk
mendapatkan uang sekitar Rp 15 juta untuk modal. Pada waktu itu aku yakin
hasil dari usaha cucian helm ku pasti bisa buat menebus sertifikat tanah yang
aku gadaikan. Karena pada saat itu di Kudus masih jarang yang mendirikan usaha
serupa bahkan bisa dibilang belum ada,” ujar Sodik.
Pria yang menjadikan rumah sekaligus tempat usaha tersebut
mengaku terpaksa menggadaikan sertifikat tanah karena tidak punya uang
tabungan sebagai modal. Sedangkan pengetahuan dan cara mencuci helm sudah sangat
dia kuasai. Karena sebelumnya, dia bekerja selama dua tahun di cucian
helm yang berada di Jakarta.
Sodik mengatakan, menyediakan layanan cucian helm kilat selama 30 menit kering dan bisa
ditunggui. Setelah kering, kata dia, helm tersebut dipoles dan diberi pewangi.
Dia mengaku untuk jasa cuci helm tersebut dia tarif dengan harga Rp 12 ribu
untuk semua jenis dan model helm.

“Setiap orang yang mencucikan helm selalu aku berikan kupon
sebagai bukti pelanggan. Dan bagi setiap pelanggan yang sudah mencuci sebanyak
lima kali mendapatkan geratis sekali cuci helm. Tapi aku juga menghimbau para
pelanggan untuk helm yang tidak diambil selama tiga bulan kami tidak
bertanggung jawab untuk kerusakan dan kehilangan atas helm tersebut,” jelasnya.
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak tersebut mengatakan, di
hari biasa dia biasanya mendapatkan orderan mencuci helm sekitar 10 helm
sehari. Tapi disaat ramai atau biasanya pas sering hujan dia mengaku bisa
mendapatkan order sampai 40 helm sehari.
Pria yang menamai tempat usahanya tersebut dengan nama satu
diantara anaknya itu mengatakan, proses pencucian helm dia kerjakan sendiri
bersama istrinya. Dia memberitahukan tempat cucian Ilham miliknya tersebut buka
setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai 22.00 WIB.
“Aku bersukur usaha yang aku rintis dengan modal
menggadaikan sertifikat tanah sudah kelihatan hasilnya. Aku sudah bisa menebus
sertifikat tanah yang aku gadaikan, bisa buat mencukupi kebutuhan keluarga sehari
– hari dan bisa untuk biaya sekolah tiga anaku,” ujar Sodik

- advertisement -

Dalam Sehari Omzet Terminal Es Mencapai Rp 6 Juta

0
 SEPUTAR KUDUS.COM, PEGANJARAN – Puluhan sepeda motor serta
mobil tampak terparkir di depan warung Terminal Es di tepi Selatan
Jalan Lingkar Utara, di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae. Di dalam warung terlihat beberapa orang mengantre membayar kepada seorang wanita memakai baju kuning dan berjilbab ungu. Perempuan itu bernama Winarti (37), anak kedua dari almarhum Suparlan, pendiri Terminal Es. Omzet warung tersebut Rp 6 juta sehari.

omzet terminal es kudus
Winarti sedang duduk di meja kasir Terminal Es. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pembeli yang akan membayar,
perempuan yang akrab disapa Wiwin tersebut sudi berbagi cerita tentang usahanya
tersebut kepada Seputarkudu.com. Dia mengaku dipercaya almarhum ayahnya untuk
mengelola satu di antara beberapa warung Terminal Es sejak 2012. Dan sejak
ayahnya meninggal dua tahun lalu, dia menambah menu makanan yang dia jual, agar
Warung Terminal Es yang dia kelola tetap ramai dikunjungi pembeli.
“Aku hanya memperbanyak menu makanan saja karena menurutku
menu minuman peninggalan almarhum ayahku sudah sangat lengkap. Karena aku
berfikir dengan diperbanyak menu makanan para pembeli punya banyak pilihan
saat singgah di warung Terminal Es. Dan aku bersyukur dengan aku perbanyak menu,
Warung Terminal Es yang aku kelola makin ramai pembeli,” ujarnya.
Perempuan yang
tercatat sebagai Warga Kelurahan Mlati Norowito tersebut mengatakan, dari
penjualan semua aneka menu makanan serta minuman di warung Terminal Es bisa
mendapatkan omzet sekitar Rp 6 juta sehari pada saat ramai. Dan pada waktu sepi
misalnya saat turun hujan Warung Terminal es yang dia kelola hanya mendapatkan
omzet sekitar Rp 2 juta sehari.
“Omset tersebut untuk hari biasa dan akan bertambah pada
hari Sabtu dan Minggu maupun tanggal merah. Bahkan pada hari – hari tersebut
aku bisa menambah dua sampai tiga karyawan dengan sistem kerja pocokan untuk melayani para pembeli,”
ujar anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Perempuan yang sudah dikaruniai dua orang anak tersebut
mengaku, di warungnya tersebut mempunyai pekerja tetap sekitar 10 orang, yang
bekerja setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Dia
mengatakan pekerjanya tersebut berbagi tugas antara pelayan dan pembuat aneka
menu makanan dan minuman.
Perempuan yang selalu memakai kaca mata tersebut mengaku,
selain menambah menu makanan agar warungya tetap ramai dikunjungi pembeli, dia
juga menjaga harga agar tetap sesuai dengan saku anak sekolah. Lalu dia merinci
aneka menu makanan dan minuman yang dijual di Warung Terminal Es yang dia
kelola beserta harga, diantaranya, bakso dan Nasgor – teplok dijual Rp 10 ribu,
mi ayam Rp 6 ribu, mi ayam bakso Rp 12 ribu, mi ayam jamur, sup jamur, mi
rebus, nasi goreng, dan gado – gado masing – masing dihargai Rp 8 ribu, semua
harga tersebut dalam hitungan seporsi
Sedangkan siomay dan mi jamur dijual sama yakni Rp 7 ribu
seporsi. Untuk minuman diantaranya, es campur, sup buah, es teler, es soda
gembira dan aneka jenis jus buah, dia jual dengan harga sama yakni Rp 5 ribu
seporsi.
“Aku mewakili saudaraku yang lain sebagai anak almarhum
Suparlan bersukur bisa menjaga serta mengelola semua warung peninggalanya agar
tetap ramai dikunjungi pembeli. Kami juga berharap kelak bisa membuka cabang
warung Terminal Es lebih banyak lagi,” harap Wiwin yang mengaku saat ini
Terminal Es sudah ada empat cabang yang masing- masing dikelola oleh saudara
kandungnya.

- advertisement -

Sempat Jatuh Karena Terimbas Isu Bakso Berformalin, Pak Lan Bangkit dan Sukses dengan Terminal Es

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi selatan Jalan Lingkar
Utara tampak sebuah warung berangka baja, beratap seng dan berdinding bambu. Di
depan warung tersebut tampak puluhan sepeda motor serta beberapa mobil
terparkir rapi. Di dalam warung terlihat puluhan orang sedang menikmati
hidangan. Tempat tersebut
yakni Warung  Terminal Es, yang
sebelum punya usaha tersebut pemiliknya terlebih dulu memiliki usaha mi ayam
dan bakso.

terminal es kudus
Puluhan pembeli menikmati sajian kuliner di Terminal Es, Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Winarti (37) satu diantara anak almarhum Suparlan
pendiri usaha terminal es tersebut mengatakan, sebelum ayahnya mendirikan
warung Terminal Es, terlebih dulu membuka warung yang menjual mi ayam dan
bakso pada tahun 2000. Bahkan menurutnya, saat itu mi ayam dan bakso ayahnya
sangat laris hingga mempunyai empat cabang. Warung tersebut diberi nama Mie dan Bakso Pak Lan, sesuai panggilan nama ayahnya.
“Pada waktu itu mi dan bakso almarhum ayahku banyak
diminati para pembeli, hingga bisa membuka empat cabang, di antaranya di depan
SMA 1 Kudus, depan RS Aisiyah, di Pasar Kliwon Kudus dan yang terakhir buka di
tepi Jalan Lingkar utara pada tahun 2006,” kenang perempuan yang akrab disapa Wiwin kepada SeputarKudus.com.

Namun, katanya, beberapa bulan membuka cabang
di tepi jalan di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae tersebut, berhembus
isu formalin yang mengakibatkan penjualan mi dan bakso ayahnya menurun
derastis. Perempuan yang tercatat sebagai warga Kelurahan Mlati Lor,
Kecamatan Kota tersebut mengatakan, padahal menurutnya mi ayam dan bakso
ayahnya tidak pernah dicampuri dengan bahan kimia, termasuk formalin atau pun
borak. 

“Namun karena isu tersebut diberitakan media televisi nasional jadi
berimbas ke semua pedagang mi dan bakso seluruh indonesia termasuk daganganya
almarhum ayahku,” katanya.

Dia mengatakan, sebelum ada isu tersebut di setiap warung
milik ayahnya bisa menjual sekitar 15 kilogram mi dan 15 kilogram bakso sehari. Tapi sejak
ada terpaan isu bahan kimia tersebut penjualanya menurun menjadi lima kilo gram
sehari.
“Akibat isu formalin pada mie dan bakso, yang mengakibatkan
penjualan di empat warung ayahku menurun derastis. Ayahku terpaksa
menutup satu per satu warungnya, dan menyisakan satu warung yang berada di
seberang  SPBU yang berada di Jalan
Lingkar utara,” ujarnya.
Menurutnya meski mengalami nasib sama dengan warung ayahnya
yang lain, warung mi ayam dan bakso yang berada di tepi Jalan Lingkar Utara
tersebut tetap dipertahankan ayahnya. Dengan harapan dengan fokus pada satu
warung, ayahnya berharap penjualan mi ayam dan baksonya bisa meningkat.

“Setelah ditekuni selama sekitar lima tahun, penjualan mi ayam dan bakso warung ayahku meningkat meski belum bisa menjual sebanyak
seperti dulu sebelum ada isu formalin. Di saat penjualan sudah ada peningkatan,
timbul ide dari ayahku untuk menambah menu makanan dan minuman serta mengganti
nama warung menjadi Terminal Es,” ungkap Wiwin.
Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak tersebut
mengatakan, sejak berganti nama serta menambah menu makanan, di antaranya mie
ayam, mi goreng, mi rebus, dan nasi goreng. Selain itu menu minumanya juga di
perbanyak, tadinya hanya menyediakan es teh dan es jeruk sekarang di terminal
es menyediakan aneka juice buah, es campur, sup buah dan lain sebagainya
Alhamdulillah sejak nama warung diganti dengan Terminal
Es  aneka masakan serta minuman di warung
ayahnya tersebut banyak diminati para pembeli. Bahkan ayahku bisa mendapatkan
uang sekitar Rp 3 sampai Rp 4 juta sehari. dan sebelum meninggal dua tahun
lalu, ayahku sudah mempunyai empat warung Terminal Es di Kudus yang sekarang
dikelola anak – anaknya” ujar Wiwin      
- advertisement -

Warga Solo Ini Tak Patah Arang, Jual Bubur Kacang Hijau Tak Laris Ganti Jual Rujak, Tak Laku Ganti Wedang Ronde

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah orang terlihat duduk di atas trotoar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, beberapa malam lalu. Mereka tampak asyik mengobrol sambil menikmati wedang ronde. Terlihat seorang pria mengenakan baju warna abu-abu sedang melayani pembeli wedang ronde di dekat gerobaknya. Dia adalah Agus (35), warga Solo yang sudah sejak tahun 1999 berjualan di Kudus.

penjual wedang ronde di kudus
Agus sedang melayani pembeli wedang ronde di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai melayani beberapa pembeli, Agus sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya berjualan wedang ronde di Kudus. Dia mengatakan dia baru satu bulan berjualan wedang ronde. Sebelumnya dia berjualan bubur kacang hijau, karena bahan bakunya yang naik terus akhirnya dia beralih untuk berjualan rujak. Dan saat musim hujan rujaknya kurang laris, dia ganti berjualan wedang ronde.

Agus mengungkapkan bahwa dirinya lebih senang berjualan wedang ronde karena lebih banyak peminatnya jika dibanding bubur kacang hijau dan rujak. Setiap hari dia berjualan keliling sekitar kosnya di Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Kemudian dia berjualan di Alun-alun Kudus hingga pukul 23.00 WIB.

“Biasanya saya membawa 100 porsi wedang ronde setiap hari, dan satu porsi saya jual Rp 5 ribu. Meski kadang membawa pulang, tetapi lebih sering habis tak tersisa. Sepertinya peminatnya lebih bagus dari pada berjualan bubur atau rujak, jadi saya akan fokus berjualan wedang ronde saja,” ungkap warga Sukoharjo, Solo itu.

Dia di Kudus diajak saudaranya, jadi saat ini Agus di Kudus bersama dua saudaranya. Yang satu berjualan wedang ronde seperti dirinya, dan yang satunya lagi berjualan mi ayam. Selama di Kudus mereka tinggal bersama di kos.

“Awalnya saya diajak saudara saya, karena sudah 17 tahun di Kudus jadi saya sudah terbiasa di sini. Saya pulang ke Solo saat ada acara tertentu saja, biasanya sih 3 bulan sekali. Paling sepekan atau paling lama 10 hari di sana,” ungkap anak terakhir dari empat bersaudara itu.

Agus merinci bahan yang dibuat wedang ronde, yakni tepung ketan, kacang tanah, kolang-kaling, agar-agar, jahe, dan gula pasir. Setiap pagi dia ke Pasar Kliwon untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Kemudian siang hari dia memasak, dan sore harinya dia beranagkat berjulan.

“Setiap hari aktivitas saya ya belanja ke pasar, memasak, kemudian berjualan. Kalau dagangan saya tidak habis ya saya buang. Pernah sepi hanya laku 50 porsi, kemudia saya buang sisanya karena tidak bisa saya jual lagi,” jelasnya.

- advertisement -

Gawik Bangga, Meski Bekerja Sebagai Juru Parkir, 6 Anaknya Tak Ada yang Putus Sekolah

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di Tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus, terlihat seorang pria mengenakan rompi abu-abu sedang memakirkan kendaraan depan toko. Sesekelai, pria tersebut terlihat duduk sambil menunggui sejumlah kendaraan. Pria itu bernama Gawik Wibowo (60), pria yang setiap hari bekerja sebagai tukang parkir demi tiga dari enam anaknya yang masih sekolah.

tukang parkir di kudus
Gawik sedang memarkir kendaraan di depan toko, di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela-sela aktivitas memakirkan kendaraan, Gawik, begitu begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya tersebut. Dia menceritakan, menjadi tukang parkir sudah berlangsung sekitar 12 tahun, lebih tepatnya sejak 2004. Sebelum menjadi tukang parkir, dia mengaku bekerja sebagai sopir truk ekspedisi antar provinsi.

“Sebelum jadi tukang parkir, dulu saya bekerja sebagai sopir truk ekspedisi antar provinsi di Jawa. Berhubung masih ada tiga anak saya yang masih sekolah, saya harus bekerja meski saya berhenti menjadi sopir. Jadi tukang parkir tidak masalah, ini demi biayai kebutuhan mereka,” ungkap Gawik waktu dijumpai di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, sekaligus tempat dia bekerja.

Warga Dukuh Mbandungan, Desa Tumpang Krasak RT 3 RW 2, Kecamatan Jati, Kudus, ini menjelaskan, dia dikarunia enam orang anak, lima perempuan dan satu anak laki-laki. Dua anaknya kini sudah berkeluarga, sementara anak ketiga kini bekerja di salah satu ruko Matahari mall plaza Kudus. 

Allhamdulilah, anak ketiga saya sudah bekerja, tapi saya tidak pernah menuntut, biar upah yang didapat untuk kebutuhannya saja,” ujarnya.

Sedangkan anak keempatnya sekarang masih duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kristen Nusantara. Sedangkan anak kelima, kini duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Mejobo serta anak terakhir duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Bae, Kudus. “Walaupun saya hanya tukang parkir, bukan mau sombong, anak saya tidak ada yang putus sekolah,” terangnya.

Dia menambahkan, mendapat pekerjaan sebagai tukang parkir dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kudus. Uang parkir yang didapat dipotong Rp 5 ribu setiap hari. Setiap hari bekerja mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, dia mengaku mendapatkan uang paling banyak Rp 30 ribu per hari.

“Setiap hari saya berjalan kaki ketika mau berangkat kerja. Sehari bekerja, hasil yang saya dapatkan  maksimal Rp 30 ribu, kadang Rp 10 ribu, kadang juga Rp 5 ribu. Untuk biaya tarif kendaraan, saya tidak pernah membanderol dengan harga tertentu. Sesuai dengan aturan yang berlaku, tarif parkir motor Rp 1 ribu dan mobil Rp 2 ribu,” tambahnya.

- advertisement -

Saat Sepi Order, Sopir Ekspedisi Lintas Provinsi Asal Gembong Ini Jual Nanas Madu di Kudus

0
SEPUTARKUDUDS.COM, PEGANJARAN – Mobil pikap bak terbuka tampak terparkir di tepi utara Jalan Lingkar Utara, di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Di atas bak mobil terlihat dua orang pria di antara ratusan buah nanas sedang mengelupas kulit kasar buah tersebut. Satu pria di antaranya bernama Sulistiono (26), sopir ekspedisi lintas provinsi yang kini memilih menjual nanas madu.

jual nanas madu
Sulistiono melayani pembeli nanas madu yang dia jajakan di Jalan Lingkar Utara Desa Peganjaran. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani para pembelinya, pria yang akrab disapa Sulis tersebut sudi berbagi penjelasan tentang pekerjaannya kepada Seputarkudu.com. Dia mengatakan berjualan nanas madu sejak setengah tahun yang lalu. Sebelum menjadi pengepul buah nanas sekaligus menjualnya di Kudus dia terlebih dulu menekuni pekerjaan menjadi sopir ekspedisi lintas provinsi.
“Saat masih menjadi sopir ekspedisi aku mendapatkan orderan mengambil telur ayam di Blitar. Dan saat di sana aku melihat masyarakat setempat sedang panen buah nanas madu. Berawal dari itu aku mencoba peruntungan menjadi pengepul sekaligus menjual nanas madu di saat orderan ekspedisi sedang sepi,” ujar Sulis.
Warga Gembong, Pati, itu mengatakan meski saat ini menjual nanas madu, dia tetap menerima jika ada orderan ekspedisi. Karena menurutnya hasil upah mengambil dan mengirim barang ke daerah tertentu masih sangat menggiurkan. “Jadi sayang jika ditolak,” tuturnya.

nanas madu

Pria yang saat ini sedang menantikan kelahiran anak pertamanya tersebut mengaku, saat tidak ada orderan ekspedisi dia ikut berjualan bersama rekanya dengan membawa 200 buah nanas madu ke Kudus. Menurutnya nanas tersebut dia jual dengan harga Rp 10 ribu untuk nanas yang paling besar dan Rp 20 ribu untuk tiga nanas kecil.
Sedangkan nanas yang sudah dikupas dan dikemas dalam mika dan siap untuk disantap dia jual seharga Rp 7 ribu per kemasan. “Setiap hari aku selalu bisa menjual habis 200 nanas yang aku jual di Kudus, dan setiap menjual habis ratusan nanas tersebut aku bisa mendapatkan uang sekitar Rp 1 juta,” ujarnya.
Sulis mengatakan, saat ini dia memiliki stok sekitar 5.000 buah nanas di rumahnya. Buah itu dia beli secara grosir langsung dari Blitar dengan modal sekitar Rp 8 juta. Dan semua nanas tersebut dia jual lagi setiap hari bersama temanya. Selain dia bersama temanya yang berjualan nanas madu di Kudus, ada beberapa rekan lainnya yang ikut berjualan nanas madu miliknya di Pati serta di dekat Menara Kudus.

“Selama berjualan di Kudus nanas yang aku jual selalu laris manis, karena menurut para pembeli nanas madu yang aku jual mempunyai rasa yang manis. Aku juga bersyukur, di saat orderan ekspedisi tidak menentu aku mendapatkan sampingan berjualan nanas madu yang diminati para pembeli,” ungkapnya.
Yusrul Hana (27), pembeli nanas madu yang Sulis jual, mengaku sering membeli nanas madu yang dijual Sulis. Dia mengatakan memang suka dengan buah berkulit kasar tersebut. Nanas madu yang dijual Sulis, menurutnya rasanya manis.
- advertisement -

Muhaimin Tak Perlu Persiapan Khusus Hadapi Legenda Kejuaraan Bulutangkis Antar Media 2016

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI – Sejumlah peserta dari 12 media di Indonesia berkumpul di Ruang Serbaguna GOR Djarum Jati, Kudus (30/11/2016) siang. Diskusi yang penuh canda tawa menunjukan keakraban antar peserta yang lolos masuk grand final Kejuaraan Bulutangkis Antar Media (KBAM) 2016. Satu peserta di antaranya Ahmad Muhaimin (48), mengaku tidak ada persiapan khusus pada tahun ini, meski yang akan dia hadapi legenda KBAM.

Konferensi pers Kejuaraan Bulutangkis Antar Media Djarum Foundation Bakti Olahraga. Foto: Ahmad Rosyidi 

Muhaimin, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam even tersebut. Menurutnya, KBAM tahun 2016 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena rival terberatnya Sumarjo dari TVRI pusat sedang dalam kondisi yang kurang baik. Di tiga laga sebelumnya dia penuh persiapan saat hendak melawan Sumarjo yang sebelumnya pernah menjadi juara bertahan dan terkenal permainannya bagus, atraktif dengan teknik tinggi.

“Tahun ini saya tidak ada persiapan khusus, karena lawan saya Pak Sumarjo dalam kondisi yang kurang baik. Beliau sekitar empat bulan yang lalu terkena serangan jantung, saya juga heran beliau masih bisa ikut kejuaraan ini. Berbeda dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya yang selalu sengit. Melawan beliau yang pernah menjadi juara bertahan tentu saya penuh persiapan untuk mengalahkannya waktu itu,” ungkap pria yang bekerja di Suara Merdeka itu.

Dia juga mengaku sudah pernah bertanding tiga kali dengan Sumarjo, single maupun ganda dia menang semua. Muhaimin selalu menunggu bertanding dengan Sumarjo, tetapi kali ini dia merasa haru dengan kondisi lawan tangguhnya itu. meski dengan kondisi yag kurang baik masih bisa melaju hingga grand final dan bertemu dengan dirinya lagi.

“Saya merasa senang bisa bertanding dengan pak Sumarjo lagi, memang melawan beliau yang saya tunggu-tunggu. Tetapi kali ini dengan kondisi yang berbeda, dan saya prihatin atas hal yang menimpa bliau,” ungkap pria empat anak itu.

Muhaimin sebelumnya memang pernah menjadi atlet bulutangkis tingkat Jawa Tengah. Saat itu dirinya masih sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA) tahun 1983 hingga tahun 1988. Selama menjadi atlet dia mengaku pernah tiga kali juara tingkat Jawa Tengah.

“Saya memang pernah jadi atlet waktu masih SMP hingga SMA, dan pernah tiga kali saya juara tingkat Jawa Tengah. Jadi waktu pertama ikut KBAM nama Sumarjo sudah sangat dikenal dengan permainan yang bagus, atraktif dengan teknik tinggi. Saya pendatang baru yang sangat tertantang dan ingin mengalahkannya waktu itu,” jelas pria asli Kalinyamat, Jepara itu.

Budi Darmawan perwakilan Djarum Foundation mengungkapkan, KBAM yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali itu sebagai ajang silaturahim antar media. Karena media menjadi ujung tombak pemberitaan kepada masyarakat, dia berharap pemberitaan bulutangkis ke depan semakin berkualitas. Agar bulutangkis Indonesia semakin berprestasi kedepannya.

Kegiatan KBAM yang didukung Djarum Foundation Bakti Olahraga diikuti sekitar 90 media yang terdiri dari tiga zona. Yaitu zona Indonesia barat, Sumatra, DKI Jakarta, Jabar serta Banten, yang dimainkan di GOR Gelanggang Remaja Pasar Minggu, Jakarta, 10-11 November lalu.

Zona Indonesia Tengah, Jateng Jogja dan Kalimantan di GOR USM Semarang 16-17 November 2016. Dan zona Indonesia Timur ada Jatim, Bali, Nusa tenggara, Sulawesi, Maluku serta Papua yang dimainkan di GOR Sudirman Surabaya Jatim, 23-24 November 2016.

12 media dengan tiga kategori yang lolos ke grand final KBAM 2016, Kategori di atas 45 tahun, yaitu Tatang/Dani dari Koran Pikiran Rakyat Bandung, A Muhaimin/ M Bilal dari Koran Suara Merdeka Semarang, Hardi/Rohmat dari Memorandum Surabaya dan Sumarjo/Slamet dari TVRI Pusat.

Kategori usia 35tahun hingga 45 tahun, ada Ben Jufri/Ahmad dari Bulutangkis.com Jakarta, Franky/Muh Setiono dari Majalah Prosekutor Semarang, Hartono/Irawan dari Tabloid Posmo Surabaya dan Arif A/Nasrun A dari Majalah Fokus Surabaya.

Dan kategori di bawah 35, ada Adi Mangun/Ervin dari NET TV Jakarta, Hardy Andrian/Radian Afdal dari Radio USM Jaya Semarang, Catur Prasetyo/Edo dari kanalsatu.com Surabaya dan Fenti Susilo/Hargo Widagdo dari TVRI Jateng Semarang. Kegiatan grand final dilaksanakan 30 November hingga 1 Desember di GOR Djarum Jati, Kudus dengan total hadiah mencapai Rp 141 juta.

- advertisement -

Soleh: Selain untuk Tolak Balak, Air Salamun Memiliki Keistimewaan Tetap Segar Meski Disimpan Lama

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di sisi
utara Masjid Wali Al-Makmur (Masjid Wali), Desa Jepang, Kecamatan, ribuan warga mengantre di dalam dan luar masjid Rebo Wekasan, Selasa (29/11/2016). Mereka hendak meminta air dari masjid tersebut, yakni Air Salamun.  Air itu diyakini warga dapat menjadi perantara tolak balak dan obat kesembuhan.

air salamun
Ribuan warga mengambil Air Salamun di Masjid 

Di antara warga yang datang untuk mengambil air yakni Soleh, selain
dipercaya menjadi perantara kesembuhan dan tolak balak, menurutnya air tersebut
terasa lebih segar ketimbang air pada umumnya. Dia mengaku pernah membuktikan,
saat air Salamun disimpan beberapa minggu, rasa segar air tersebut masih terasa
seperti ketika baru diambil. 

“Entah kenapa ya, air tersebut terasa segar
walau saya simpan beberapa pekan. Rasanya berbeda dengan air-air yang pernah
saya minum,” ungkapnya saat ditemui di Masjid Wali Al-Makmur Desa Jepang,
Kecamatan Mejobo, Kudus.

Selain mempunyai rasa berbeda, dia mempercayai air tersebut
bisa menjadi perantara kesembuhan bagi orang yang meminumnya. Menurutnya, saat
malam rabu akhir di bulan Safar atau Rebo Wekasan, banyak warga dari Kudus
maupun luar Kudus berbondong-bondong berdatangan untuk mendapatkan
air tersebut. ” Ini soal kepercayaan saja,” tambahnya yang beralamat
di Desa Jepang.
Senada dengan Soleh, warga Ngembal yang datang untuk mengambil air, Sri, juga
mempunyai kepercayaan serupa. Dia nampak membawa lima plastik besar berisi air
yang menurutnya akan diberikan kepada keluarga dan tetanggnya. Menurutnya,
sejak pukul 17.00 WIB dia sudah berada di Masjid Wali Jepang untuk mengantri mendapatkan
air Salamun. Dia menuturkan, Air Salamun tersebut dipercayanya dapat menjadi
obat mujarab bagi segala penyakit. “Namun yang menentukan sembuh tidaknya
Allah. Saya hanya berikhtiar,” jelasnya.

Nadhir Masjid Wali Al-Makmur Muhammad Ridwan menuturkan,
saat Rabu akhir Safar memang banyak warga berdatangan untuk
mendapatkan air Salamun. Menurutnya, pada hari tersebut Allah menurunkan 320
ribu balak dan musibah. Sebagai manusia sepatutnya berikhtiyar supaya tidak
mendapatkan balak maupun musibah. “Tradisi ini sudah ada sejak zaman Wali
Songo. Kita diamanahi untuk menjaga tradisi tersebut,” tuturnya.
Dia menerangkan, air Salamun yang diberikan warga bersumber
dari mata air sumur yang berada di kawasan Masjid Wali Jepang. Air sumur
tersebut dicampur air khataman Al-Quran Bil Ghoib dan Bin Nadhor, serta rajah Rebo
Wekasan. “Nanti juga dibacakan lafald Salamun, Salamun Qoulam mir Robbir Rohim
tujuh kali dan doa tolak balak,” jelasnya.

Dalam pembagiannya, terdapat delapan ribu plastik yang diisi
air Salamun lima liter setiap plastiknya. Menurutnya, antrian panjang akan
berlanjut sampai pukul 10.00 malam. Setelah itu biasanya ada orang-orang yang
membawa galon sendiri untuk mengambil air Salamun. “Ini hanya perantara saja.
Jika ingin selamat banyak-banyak berdoa dan beramal,” tambahnya.

- advertisement -

Anak Pekerja Proyek Drainase di Kudus Ini Tak Mau Pisah dengan Ayahnya Sejak Ibunya Meninggal

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di sepanjang Jalan Mayor Basuno, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terlihat tumpukan material
memenuhi separuh badan jalan. Tampak seorang
pria bertopi putih sedang membengkokan besi
as. Di depan pria tersebut terlihat seorang anak kecil duduk sambil memandangi
aktivitasnya. Pria tersebut bernama Kusno (57), tukang bangunan
yang setiap kerja terpaksa mengajak anak bungsunya.

proyek jalan dan drainase kudus
Kusno sedang merancang besi untuk konstruksi drainase di Jalan Mayor Basuno, Kudus. Foto; Rabu Sipan

Di sela aktivitas kerjanya, Kusno sudi berbagi kisah
tentang hidupnya kepada Seputarkudus.com. dia mengatakan sudah sekitar sebulan
bekerja sebagai tukang di proyek pembangunan serta rehabilitasi saluran
drainase dan trotoar  Jalan Mayor Basuno. Selama bekerja di proyek tersebut dirinya selalu mengajak anak
bungsunya, Muhamad Irfanda (10), karena tidak mau sekolah sejak
bundanya meninggal.
“Istriku sudah meninggal sejak setahun yang lalu dan sejak ibunya
meninggal, anak bungsuku tidak mau sekolah. Dia tidak mau aku tinggal sendiri di
rumah, bahkan aku titipkan di rumah anakku yang lain yang sudah berkeluarga juga
tidak mau. Inginnya selalu ikut, bahkan saat
aku kerja proyek seperti dia juga ikut,” ujar Kusno.
Warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, itu mengatakan, sebenarnya dia tidak enak hati sama mandornya, karena bekerja
sambil mengasuh anak. Namun karena tidak ada pilihan lain,
sedangkan dia juga harus tetap bekerja untuk menghasilkan uang sebagai biaya hidup
mereka berdua, hal tersebut terpaksa dia lakukan.

Pria yang mengaku kerja proyek sejak umur 20 tahun tersebut
mengaku mendapatkan upah Rp 75 ribu sehari sebagai tenaga tukang di proyek tersebut.
Dia bekerja mulai kerja dari pukul 07.00 WIB hingga pukul
16.00 WIB.
“Sebenarnya upah tersebut bisa bertambah menjadi dua kali
lipatnya jika aku mau lembur sampai pukul 22.00 WIB. Namun, karena anakku selalu
ikut menungguiku saat aku bekerja, aku sering tidak ikut lembur sampai malam,”
jelas pria yang megaku tidak pernah sekolah tersebut.
Berdasarkan papan informasi, proyek tersebut merupakan
agenda Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Cipta Karya Dan
Tata Ruang. Anggaran dana pryek tersebut sebesar Rp 3,8 miliar dan harus diselesaikan dalam kurun waktu sekitar dua bulan. Proyek itu dimulai pada 18 Oktober 2016 sampai tanggal 16 Desember 2016.

Menurut Mustain (77), selaku koordinator pekerja di proyek
tersebut, tidak mempermasalahkan Kusno yang bekerja sambil mengasuh
anaknya tersebut. Namun dia harus tetap bekerja layaknya tukang lainya. Dia mengaku
merasa iba dengan keadaan yang dialami Kusno seperti itu. Jika dia tidak
diperbolehkan ikut bekerja bagaimana Kusno bisa menghidupi anaknya tersebut.
Pria yang tercatat sebagai Warga Desa Peganjaran, Kecamatan
Bae itu mengungkapkan, total semua pekerja yang dia pimpin berjumlah sekitar 70
orang, yang terbagi antara tukang dan helper. 
“Semua pekerja itu aku
intruksikan untuk selalu lembur sampai pukul 22.00 WIB, karena selain untuk
menambah penghasilan para pekerja, lembur juga untuk mempercepat bangunan agar
selesai tepat waktu yang telah ditentukan,” jelas pria yang bekerja di bawah
naungan PT Mega Karya Jaya selaku kontraktor di proyek tersebut.
- advertisement -

Demi Keluarganya di Tasikmalaya, Totok Rela Bekerja Menjadi Penjaga WC Umum dan Tidur di Musala

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di kamar mandi umum yang bersanding dengan musala di Taman Bojana, Kota, Kudus, terlihat seorang pria mengenakan kaus singlet sedang duduk melamun sambil menghisap rokok. Pria beruban itu bernama Totok (52), warga Tasikmalaya yang rela menjadi penjaga WC umum demi menghidupi keluarganya di kampung halaman.

Totok sedang menjaga WC Umum di Taman Bojana, Kudus. Foto: Ahamad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Totok sudi berbagi kisah hidupnya di Kudus sebagai penjaga WC umum. Dia menceritakan, dirinya baru sektar satu setengah bulan menjaga WC umum di Taman Bojana. Tetapi dia merantau dan bekerja srabutan di Kudus sejak 1997. Dia menjaga WC umum bergantian dengan satu temannya yang juga orang Tasikmalaya. Mereka bergantian selama satu bulan sekali menjaga WC umum milik orang Bandung itu.

“Mencari pekerjaan sekarang susah, inginnya ya bekerja yang lebih baik. Saya baru satu setengah bulan menjaga WC umum, gantian sama teman saya orang Tasikmalaya juga. Jadi kalau bulan ini saya, bulan depan ganti dia, dan saya pulang ke Tasikmalaya satu bulan sekali,” ungkap pria tiga anak itu.

Dari hasil menjaga WC umum Totok, hanya mendapat uang sekitar Rp 30 ribu per hari. Dia mengaku kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di Tasikmalaya. Dia masih memiliki tiga anak yang masih sekolah. Anak pertamanya masih di sekolah menengah atas (SMA), anak keduanya masih di sekolah menengah pertama (SMP), dan yang terakhir masih belajar di pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Penghasilan saya di sini ya saya cukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat bergantian jaga WC dan libur di rumah satu bulan kadang saya ikut jadi kuli bangunan juga. Apa saja yang bisa saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan,” jelasnya sambil menghisab rokok.

Totok membuka WC umumnya mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 22.0 WIB. Selain itu dia juga mengaku membersihkan WC setiap saat setiap WC umum terlihat kotor. Dan untuk menghemat biaya Totok memilih tidur di muaola dekat WC umum yang dijaganya.

“Setiap waktu saya bersihkan saat terliat kotor, agar pengguna juga nyaman kalau WC-nya bersih. Saya tidur di musala ini, selain untuk menghemat biaya juga biar pagi-pagi bisa langsung saya buka WC-nya,” tuturnya.

- advertisement -

Sulikin, Warga Desa Kutuk Lumpuh Sejak Kecil Berterima Kasih Mendapat Kursi Roda dan Alat Potong Rambut

0

SEPUTARKUDUS.COM, KUTUK – Kiriman gambar kursi roda dan mesin potong rambut terlihat di akun Facebook bernama Gus Dul. Tampak dalam kiriman tersebut pesan ucapan terima kasih kepada kepala Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, bernama Supardiyono. Ucapan itu karena bantuan yang diberikan kepada warganya. Penerima bantuan tersebut yakni Sulikin (20), anak seorang buruh tani yang harus duduk di atas kursi roda karena lumpuh.

Sulikin mendapat bantuan kursi roda dan alat potong rambut dari dermawan.

Kepada Seputarkudus.com, Ulix begitu dia akrab disapa, menyampaikan beribu terima kasih kepada para dermawan atas bantuan yang diberikan untuk keluarganya. Menurutnya, bantuan yang didapatkan tidak hanya berupa kursi roda dan mesin potong rambut. Tetapi juga ada yang berupa uang serta sembako pemberian dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kudus dan sejumlah dermawan yang datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan.

 “Syukur alhamdulilah, mungkin ini jawaban doaku kepada Tuhan. Saya beserta keluarga mengucap terima kasih untuk kepala Desa Kutuk, Ketua DPRD Kudus dan sejumlah dermawan atas bantuan yang diberikan. Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan dimudahkan dalam mencari rizeki,” ungkap Ulix waktu dikonfirmasi via send text messages (SMS).

Baca juga: Buruh Tani di Kutuk Ini Hidupi Suami dan Anaknya yang Lumpuh Menahun, Berharap Bantuan Dermawan

Warga Desa Kutuk RT 4 RW 4, ini menjelaskan, awalnya dia tidak tahu menahu Ketua DPRD dan kepala Desa Kutuk datang ke rumahnya. Mereka menanyakan kondisi kelurga, keperluan apa yang dia butuhkan serta melihat kalau kursi roda dia sudah rusak. “Berawal dari itu, saya dikasih uang, dibelikan kursi roda  serta mesin potong rambut. Saya ingin usaha potong rambut, kalau lukis saya masih belajar dan belajar,” ujarnya.

Dia menambahkan, uang yang diterima dari sejumlah dermawan berjumlah Rp 2 juta ditambah dengan sembako. Menurutnya, uang tersebut tidak hanya dari satu orang dermawan saja, melainkan gabungan dari para simpatisan meliputi tetangga yang melihat kondisi keluarga dia. Dia mengaku berencana menggunakan uang yang didapatkan untuk keperluan makan sehari-hari keluarga dan membeli obat untuk ayahnya yang sudah lama lumpuh menahun.

“Kalau uang, saya berencana untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya untuk berobat ayah saya. Untuk akun Facebook bernama Gus Dul, itu tetangga saya. Mungkin karena bersimpati dengan kondisi keluarga saya. Dia juga yang membantu saya mencari donasi, tapi rekening yang tercantum atas nama Kadus ” tambahnya.

- advertisement -

Karyawan Inova Printer: Canon Paling Laris, Tapi untuk Jangka Panjang Epson, Brother, Fuji Xerox, Lebih Oke

0
SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di tepi selatan Jalan Veteran
tepatnya  di Desa Glantengan, Kecamatan
Kota tampak sebuah toko dengan cat berwarna krem. Di dalamnya terlihat seorang
pria memakai baju warna hitam sedang sibuk mengecek kondisi printer yang
dibawa oleh pelangganya. Pria tersebut bernama Furqon (26), karyawan toko Inova sekaligus penanggung jawab toko. Di toko Inova melayani jasa servis dan penjualan printer berbagai merek.

servis printer di kudus
Karyawan Inova Printer mengecek komponen printer milik pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Menurut Furqon, toko tempat dia bekerja tersebut mulai buka
sekitar tiga tahun lalu dengan menjual aneka printer dengan berbagai merek. Printer yang dijual tersebut di antaranya, Canon, Epson, Brother, Fuji Ferox. Di antara merek ternama itu, kata Furqon, printer dengan merek Canon lebih diminati pembeli karena harganya
yang lebih ekonomis.
“Karena harganya lebih murah, Canon lebih
diminati pembeli. Dalam sebulan kami bisa menjual sekitar lima unit dari enam printer yang terjual dengan berbagai merek,” kata Furqon kepada Seputarkudus.com.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Klumpit, Kecamatan
Gebog itu mengatakan, meskipun Canon terbilang lebih ekonomis, untuk pemakaian jangka panjang menurutnya lebih hemat
dengan membeli printer merek Epson, Brother, Fuji Xerox, karena jarang terkena masalah.

Menurutnya dengan jarang terkena masalah, tiga merek tersebut dalam
pemakaian jangka panjang akan menghemat biaya servis serta bisa lebih
diandalkan bila digunakan untuk usaha. Dia mengklaim printer tiga merek tersebut
bisa bertahan di atas satu tahun tanpa servis dengan pemakaian secara normal.
Pria yang mengaku masih lajang tersebut lalu merinci harga
printer dengan berbagai merek yang dijual di Toko Inova. Printer
Canon dijual dengan harga Rp 750 ribu hingga Rp 1,2 juta, Epson dijual Rp 1,6 juta hingga Rp 2,2 juta, Brother dijual Rp 950 ribu hingga Rp 2,9
juta. Sedangkan merek Fuji Ferox dijual dengan harga Rp 2,3 juta.
“Selain printer tersebut yang merupakan printer warna, di
Toko Inova tersebut juga menjual printer toner laser jet hitam putih yang
dibanderol dengan harga Rp 950 ribu sampai Rp 2,5 juta per pcs,” jelasnya.

Menurutnya, setiap pembelian printer baru dari Toko Inova
mendapatkan geratis servis selama tiga bulan tapi tidak termasuk kerusakan
spare part. Selain mejual printer di toko Inova juga melayani servis printer
dengan biaya sekitar Rp 35 ribu untuk servis ringan dan Rp 100 ribu sampai Rp
200 ribu untuk servis berat.
“Servis
printer di toko Inova juga mendapatkan garansi selama sepekan. Seandainya dalam
masa garansi printer tersebut rusak kami akan servis ulang tanpa dipungut biaya,”
jelasnya.
Furqon mengatakan, di toko tempatnya bekerja tersebut juga
menjual tinta printer dengan merek Inova. Dia mengatakan tinta printer tersebut
dijual dengan harga Rp 35 ribu per 100 Mililiter untuk jenis dye ink. Dan tinta jenis art paper serta sublime dijual masing – masing dengan harga Rp 85 ribu. Sedangkan
tinta bubuk untuk printer toner dijual Rp 1 ribu segram.
“Selain di Kudus sekarang pelanggan Toko Inova ada yang
berasal dari Jepara serta Demak, karena di daerah tersebut belum ada cabang
penjualan tinta printer dengan merek tersebut. Di toko Inova bisa menjual tinta
printer sebanyak 10 botol dengan kemasan 100 mililiter sehari,” ungkapnya.

- advertisement -

Tak Ingin Hanya Mengandalkan Gaji Bulanan Suami, Santi Berjualan Cilok di Pertigaan Jalan Veteran

0
SEPUTARKUDU.COM, DEMAAN – Gerobak dengan gambar dua
tokoh kartun Negeri Jiran terlihat terparkir di tepi Jalan Veteran,
tepatnya di pertigaan Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tak jauh dari sekolah Taman
Siswa. Di samping gerobak terlihat seorang perempuan memakai baju
kotak-kotak tampak cekatan
melayani pembeli. Peremuan tersebut bernama Susanti (26) yang berjualan cilok karena tak ingin hanya mengandalkan gaji bulanan suami.

jual cilok di kudus
Santi melayani pembeli cilok yang dia jual di Jalan Veteran, tak jauh dari sekolah Taman Siswa, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Santi
tersebut sudi berbagi kisah tentang daganganya kepada Seputarkudus.com. Dia
mengatakan, mulai berjualan cilok sekitar delapan bulan lalu. Hal tersebut
dilakukan karena bosan di rumah serta ingin membantu suami agar ada pemasukan selain dari gaji bulanan suaminya.
“Aku tidak ingin hanya mengandalkan gaji bulanan suamiku
untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilku. Karena kami juga sudah dikaruniai
momongan yang berarti kebutuhan keluarga pasti bertambah. Karena pertimbangan
tersebut aku mengajukan Franchise
untuk ikut berjualan Cilok Cita Rasa,” ujar Santi beberapa waktu lalu.

Perempuan yang baru dikaruniai satu anak tersebut mengatakan, menjual cilok dengan harga Rp 500 per butir. Dalam sehari berjualan dia mengaku bisa menjual sekitar 600 butir cilok. Dari total uang penjualan tersebut dia biasanya mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 70 ribu sehari.

Santi mengatakan, pendapatanya tersebut menurun jika dibandingkan pada awal dia berjualan. Dia menilai itu mungkin terjadi karena saay ini sudah banyak penjual cilok seperti dirinya. Menurutnya sekitar lima bulan awal dia berjualan bisa menjual sekitar 1.000 butir cilok sehari.

Dua setiap hari berjualan mulai pukul 10.30 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Selama berjualan, katanya, menitipkan anaknya yang masih balita pada saudaranya dengan membayar Rp 20 ribu sehari. “Hal tersebut terpaksa aku lakukan agar anakku ada yang mengasuh selama aku berjualan dan aku juga tenang sewaktu berjualan di tepi jalan,”ungkap Santi

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Singocandi,
Kecamatan Kota, menjelaskan, untuk mengajukan Franchise agar bisa berjualan Cilok Cita Rasa dia harus menyerahkan
Kartu Keluarga (KK). Selain itu dirinya juga menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) kepada pemilik usaha cilok
tersebut. Setelah data diserahkan, tidak berselang lama ada
perwakilan dari Cilok Cita Rasa untuk menyurvei rumah serta
menanyakan keseriusannya.
Menurutnya hal tersebut wajar dilakukan oleh pemilik usaha
cilok, karena untuk bisa bejualan Cilok Cita Rasa secara franchise tidak dipungut biaya sama
sekali alias gratis. Sehingga orang yang mengajukan franchise seperti dirinya
dituntut untuk serius dan semangat berjualan agar saling menguntungkan.  
“Modalku berjualan Cilok Cita Rasa dengan cara franchise itu
hanya serius dan semangat berjualan. Karena selain tidak mengeluarkan modal
uang, aku malah mendapatkan cilok yang aku jual setiap harinya dengan
jumlah sesuai permintaanku. Serta mendapat pinjaman gerobak beserta perlengkapan
untuk berjualan,” ujar Santi.
- advertisement -

Yogi: Harga Bensin Pertamini Sama dengan Bensin Eceran, yang Membedakan Alatnya Lebih Keren

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Di tepi Jalan PR Sukun Raya, tepatnya di utara kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Gebog, terlihat bangunan ruko yang di depannya terdapat Pertamini digital. Seorang pria mengenakan peci warna hitam bersarung, terlihat melayani pembeli bensin menggunakan alat mirip di SPBU. Pria tersebut yakni Febri Yogi Ananto (15), santri pondok pesantren Apida PIP asal Magelang yang setiap hari membantu berjualan bensin.

Yogi melayani pembeli bensin di Jalan Sukun Raya, Gondosari, Gebog, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pembeli, Yogi begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang sedang dia jaga bersama temannya. Dia menjelaskan, Pertamini Maya Mulya Jaya merupakan milik guru pondoknya. Usaha itu berdiri sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Oktober 2016.

Dia mengatakan, harga dua alat Pertamini digital di tempat dia berjualan seharga Rp 25 juta. Bahan bakar untuk kendaraan yang dia jual hanya dua jenis, berupa Pertalite dan Pertamax. Harga Pertalite dijual Rp 7.500 dan Pertamax Rp 8.200 per liter. “Harga sama dengan bensin eceran yang ada di pinggir jalan. Yang membedakan cuma alatnya saja yang lebih keren,” ujarnya.

Usaha tersebut, katanya, milik kiai tempat dirinya mondok. Dia hanya bertugas untuk menjaga bersama temannya. Biasanya setiap hari dia diberi upah Rp 10 ribu. “Saya mau berjualan bukan karena upahnya, yang saya cari hanya ridho dari kiai,” ungkap Yogi waktu dijumpai di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus sekaligus tempat dia berjualan.

Selain berjualan di Kudus, pemilik usaha juga memiliki satu cabang yang bertempat tidak jauh dari Pasar Daren.  Menurutnya, dia berjualan bensin setiap hari mulai pukul 5.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.  Setelah itu, dia harus pulang ke pondok untuk mengaji, karena sudah ada yang menggantikan dia untuk berjualan.

“Biasanya sampai Pukul 14.00 WIB, soalnya saya harus pulang ke pondok untuk mengaji.  Untuk pendapatan, sehari rata-rata mendapatkan hasil Rp 2 juta, tapi kalau sedang ramai pembeli bisa mencapai Rp 4 juta per hari, dengan penjualan tidak kurang dari 300 liter per hari,” tambahnya. 

Anak pertama dari beberapa saudara ini mengatakan, tepat pondok dia mengaji berlokasi di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Sudah sekitar empat bulan dia menjadi santri di Apida PIP, tepatnya sejak awal Agustus. Dia mengaku mengetahui pondok tersebut dari pamannya yang sudah terlebih dahulu menjadi santri.

- advertisement -

Komunitas Penggila HP Jadul di Kudus Ini Tiap Anggotanya Koleksi Minimal 10 HP Keluaran Lama

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Di sudut timur laut Alun-alun Kudus, tampak sejumlah orang mengenakan kaus warna hitam sedang berkumpul. Terlihat puluhan handphone (HP) keluaran lama dipajang berjejer rapi di depannya. Mereka adalah anggota Komunitas HP Jadul Kudus (Hajaku). Tiap anggota komunitas tersebut, minimal mengoleksi 10 HP keluaran lama.

komunitas penggemar HP jadul
Anggota Komunitas Hajaku sedang berkumpul di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu di antara belasan anggota Hajaku yang berkumpul malam itu, yakni Kentis Sulistyo (51). Kepada Seputarkudus.com, dia mengatakan, Hajaku baru terbentuk sekitar satu bulan lalu. Hajaku terbentuk karena anggotanya memiliki minat yang sama, yakni mengoleksi HP jadul. Tiap anggota Hajaku saat ini, minimal memiliki 10 HP keluaran lama.

“Mayoritas yang bergabung di Hajaku memiliki sekitar 10 HP jadul. Selain memiliki HP jadul, mereka juga bisa memperbaiki HP jadul yang rusak atau mati. Tetapi untuk bergabung di komunitasnya tidak diwajibkan memiliki HP jadul, yang terpenting senang dengan HP jadul,” ujar pria yang akrab disapa Kentis tersebut.

Dia mengatakan, anggota Hajaku selalu kumpul bareng setiap malam Minggu. Dia mengaku jarang kumpul di Alun-alun, karena Hajaku memiliki basecamp di rumahnya, di Perumahan Sumber Indah 1, Tenggeles, Mejobo, Kudus. Kentis senang rumahnya bisa di buat basecamp orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengannya.

“Saya senang rumah saya dijadikan basecamp, karena bisa sharing dengan teman yang memiliki hobi sama. Kami kumpul sepekan sekali setiap malam Minggu. Kami sudah seperti keluarga, kadang ada yang bawa anak istri juga. Biasanya sih di rumah saya, karena sedang tidak hujan kami kumpul di Alun-alun seperti saat ini,” ungkap pria tiga anak itu.

Andi Prastyo (30) ketua komunitas Hajaku menambahkan, anggotanya yang aktif baru sekitar 15 orang, tetapi yang tergabung di Facebook sudah 1.000 lebih. Untuk bergabung di komunitas menurutnya sangat mudah, cukup membayar uang kas pertama senilai Rp 20 ribu, dan iuran rutin sepekan sekali Rp 5 ribu.

Menurutnya, selain sharing, di komunitas juga ada yang jual beli HP jadul. Untuk harga biasanya mereka jual kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 2 juta.

“Biasanya kami cari HP jadul yang rusak kemudian kami perbaiki. Kebanyakan HP jadul merek Nokia, Siemens, Samsung, Ericsson, Motorola,” jelas Andi sapaan akrabnya.

Andi menambahkan sebenarnya komunitas Hajaku sudah lama ada, tetapi hanya aktif di sosial media. Andi berencana ingin membuat pameran HP jadul seperti komunitas HP jadul yang ada di Pati dan Semarang.

- advertisement -