Beranda blog Halaman 1932

Helm Bogo, Helm Paling Laris dan Sedang Banyak Diminati Pembeli di Toko WMS Helm Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi selatan Jalan Sunan Kudus, tepatnya di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tampak bangunan ruko lantai tiga. Di dalamnya tampak ratusan helm di dalam etalase. Di dalam bangunan tampak beberapa calon pembeli sedang memilih helm yang ingin mereka beli. Tempat tersebut yakni Widodo Motor Sport (WMS) Helm. 

jual helm
Helm Bogo, helm paling laris di toko WMS Helm, Jalan Sunan Kudus. Foto: Rabu Sipan 

Menurut Sri Setyaningsih (42) pengelola toko tesebut menuturkan, saat ini sedang booming helm Bogo. Penjualan di toko WMS, didominasi helm tersebut. Ada dua helm Bogo yang dijual di tokonya. “Harganya Rp 175 ribu untuk yang Retro dan Rp 325 ribu merek Zeus. Saat ini helm Bogo memang sedang booming, bahkan penjualan kami untuk bentuk helm ini mencapai 50 persen dari total penjualan,” ujarnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Dia menjelaskan, selain helm bentuk tersebut juga menjual berbagai helm merek ternama. Di antaranya merek INK, KYT dan sejumlah merek helm lainnya. Helm merk INK dijual seharga Rp 295 ribu hingga Rp 425 ribu. Untuk merk KYT kami jual seharga Rp 265 ribu hingga Rp 330 ribu.

“Sedangkan merk VOG kami jual seharga Rp 175 ribu hingga Rp 240 ribu. Helm NHK kami banderol antara Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu. Merk GAG dilepas dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Dan helm untuk motor cros di jual mulai harga Rp 440 ribu hingga Rp 500 ribu,” tuturnya.

saat sepi pembeli toko WMS bisa menjual minimal sekitar 20 helm sehari. Dan saat ramai jumlah tersebut bisa bertambah. Selain menjual helm secara ecer, toko WMS juga melayani pembelian secara grosir.

“Pembelian secara grosir mendapatkan harga khusus dengan ketentuan minimal pembelian sekitar 10 helm dengan berbagai macam merk dan jenis. Selain menjual helm, kami juga menjual jas hujan, sarung tangan, stiker, kaus motor cros dan lain sebagainya,” urai Sri.

Dia menceritakan, Toko WMS Helm di Perempatan Jember tersebut mulai buka pada bulan Mei 2016. Namun menurutnya, sejak toko itu beroperasi, tidak berselang lama toko-toko lain milik bosnya yang menjual helm ditutup dan penjualan dijadikan satu di Perempatan Jember.

“Menurut bosku, dengan dijadikan satu di Perempatan Jember penjualan akan bisa fokus pada satu toko. Selain itu pengelolaanya juga lebih mudah dan yang pasti bisa menghemat pengeluaran untuk gaji karyawan,” ujarnya.

Perempuan yang tercatat sebagai warga kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, itu menuturkan sebelum dijadikan satu toko, bosnya mempekerjakan sekitar delapan karyawan untuk berjaga di tiga toko. Tapi sejak tokonya terpusat di Perempatan Jember, karyawan yang bekerja hanya empat orang yang dibagi menjadi dua sift.

- advertisement -

Dr Suparnyo Umbar Senyum Usai Dilantik Kembali Sebagai Rektor UMK

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Tepuk tangan bergemurih saat
dua orang berjas hitam berjalan menuju panggung utama Auditorium Universitas
Muria Kudus (UMK), Senin (28/11/2016). Mereka menuju meja kayu yang diberi
taplak warna biru untuk penandatanganan surat pengangkatan Rektor baru UMK
periode 2016-2020. Mereka yakni Ketua Pengurus Yayasan UMK Djuffan Achmad dan Dr Suparnyo yang akan dilantik.

rektor umk dr suparnyo
Dr Suparnyo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Pengurus Yayasan UMK Djuffan Achmad usai pelantikan. Foto: Imam Arwindra

Dengan menggunakan bolpoin warna kuning keemasan, mereka
bergantian menandatangani kertas putih dengan bingkai warna merah. Saat
menandatangani, Dr Suparnyo tampak serius. Namun saat tanda tangan selesai, dia
tersenyum kepada ketua yayasan yang berada di depannya dan dilanjutkan kepada
seluruh undangan yang hadir. “Senyum itu kan
ibadah,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com selepas acara selesai.
Dia mengaku senang acara pelantikan berjalan dengan lancar. Menurutnya,
dia akan menjalankan tugasnya memimpin UMK periode 2016-2020. “Sebelumnya saya menjadi rektor antar waktu selama dua tahun setengah. Dan ini
saya dilantik lagi menjadi rektor UMK,” tambahnya yang mengenakan peci hitam
dan kaca mata.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, dalam
kepemimpinannya dia ingin meningkatkan produktivitas publikasi jurnal oleh
civitas akademika UMK. Tidak hanya jurnal skala nasional saja, melainkan juga
jurnal-jurnal International. “Dengan jurnal international kita akan semakin berkualitas
dan dikenal,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga ingin UMK semakin dekat dengan
masyarakat Kudus dan sekitar Kabupaten Kudus. Menurutnya, diantaranya dengan
sering melakukan pendampingan dan pengabdian kepada masyarakat. Juga dikatakan,
UMK sudah membuka progam studi baru yakni Pendidikan Matematika. Progam studi yang
dibawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut menurutnya sudah
dibuka pada tahun ajaran 2016/2017. “Ini juga untuk Fakultas Kedokteran sedang
kita persiapkan. Masih ada moratorium,” tambahnya.
Sementara itu, Prof Sugiharto Kordinator Perguruan Tinggi
Swasta (Kopertis) Wilayah VI Jawa Tengah yang hadir dalam pelantikan
mengucapkan terima kasih kepada Yayasan UMK atas dedikasinya menyelenggarakan
lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi. Menurutnya, dengan adanya UMK
perluasan akses sumber daya manusia di daerah akan meningkat. “UMK memberikan
kesempatan untuk menambah jumlah mahasiswa semakin banyak,” tuturnya.
Selain itu dia juga mengungkapkan, UMK mempunyai modal awal
yang bagus untuk menjadikan kampus dengan orientasi bermutu dan unggul, yakni akreditasi
perguruan tinggi B. Dia memberitahukan, jumlah perguruan tinggi swasta di Jawa
Tengah terdapat 249 buah. Dan yang terakreditasi B hanya 20 perguruan tinggi, diantaranya
yakni UMK. “UMK juga potensial untuk menambah progam pasca sarjana (S2). Segera
diusulkan dan disiapkan,” terangnya.

- advertisement -

Aksesoris Bros Al Diar Berbahan Alklirik Laris Manis Dibeli Pengunjung Kudus Trade Show 2016

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah stan menyajikan produk-produk unggulan Kabupaten Kudus terlihat di barat, timur dan utara Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (27/11/2016) malam. Tampak dua orang laki-laki sedang berdiri sambil berbincang-bincang dengan pengunjung yang hendak membeli produk berbahan akrilik. Satu di antara dua orang pria tersebut yakni Siswanto (36), seorang karyawan usaha rumahan bernama Al Diar Handmade.

Pengunjung melihat aksesoris bros berbahan akrilik di stan Kudus Trade Show 2016. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Wanto, begitu dia akrab disapa, menjelaskan, kerajinan tangan yang dia jual bersama temannya milik Sudiharti, tak lain merupakan penyelenggara sekaligus Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus. Dia memulai usaha sejak satu tahun lalu, tepatnya pada 2015. Dua hari mengikuti pameran, Wanto mengaku produk berupa asesoris bros banyak dicari pengunjung karena bentuknya yang unik.

“Di antara produk-produk kami, aksesoris bros memang yang paling laris dibeli pengunjung. Buktinya selama dua hari mengikuti stan di Kudus, kami mampu menjual asesoris bros lebih dari 60 bros. Sedangkan produk bunga hiasan rumah, hanya beberapa yang laku terjual. Soalnya bros kami itu unik dan beda dari yang lain,” ungkap Wanto waktu ditemui di stan acara Kudus Trade Show 2016.

Pria yang tercatat sebagai warga di Kelurahan Panjunan RT 7 RW 2 Kecamatan Kota, Kudus ini mengatakan, acara pameran yang terselenggara di Kudus bagian dari road show yang bertajuk Gusjigang. Adapun tujuan dari acara yakni ingin menganggkat produk-produk unggulan yang dimiliki Kota Kudus. “Sebenarnya acara ini itu bagian dari road show, setelah dari Jakarta, Purwokerto dan Yogyakarta, sekarang kami di Kudus,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pemasaran dilakukan Al Diar melalui online serta mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Selebihnya, hanya menunggu pelanggan yang datang ke rumah untuk membeli. “Tempat home industry kami di Desa Rendeng RT 2 RW 4, Kecamatan Kota, Kudus,” ujarnya.

Bahan yang digunakan dalam membut sejumlah kerajinan dia dapatkan dari Jakarta dan Surabaya. Menurutnya, bahan yang dia beli dari sana itu lebih bagus serta dari segi harga jauh lebih murah. Sedangkan harga produk yang di tawarkan Al Diar berbeda-beda, tergantung tingkat kesulitan dan besar kecilnya kerajinan yang dihasilkan.

“Untuk harga aksesoris bros berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 15 ribu, tasbih Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, bunga hiasan rumah antara Rp 20 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung proses pembuatan dan ukuran produk yang dibuat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selama dua hari mengikuti stan, omzet yang didapatkan sekitar Rp 300 ribu, terhitung mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Sekarang, dengan dibantu empat orang karyawan, masing-masing karyawan dalam sehari mampu produksi sekitar 25 bros ukuran kecil, 15 bros ukuran besar. “Selain karyawan tetap, terkadang kami dibantu tiga orang karyawan freelance,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Jauh-Jauh Menanam Cabai Hingga ke Loram, Warga Kutuk Ini Bersyukur Masih Bisa Bertani

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Tanaman cabai yang mulai memerah tampak di area persawahan di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati,  Kabupaten Kudus. Terlihat dua orang wanita mengenakan caping dengan sejumlah tali rafia dan kantong plastik terikat di perutnya sedang mengunduh cabai. Satu di antaranya Nurdiana Rosyidah (37), dia mengaku sedang mengunduh cabai sambil melakukan perawatan pada tanaman cabainya yang mulai siap panen.

panen cabai
Diana sedang memanen cabai sambil melakukan perawatan tanaman bumbu dapur di sawah miliknya. Foto: Ahmad Rosyidi

Diana, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, sambil mengunduh cabai yang mulai memerah dirinya mengikat pohon cabai yang sudah banyak buahnya agar tidak roboh saat terkena hujan dan angin. Selain diikat ke bambu yang ditancapkan di samping pohon, dia juga mengambil cabai yang terkena hama jamur agar tidak menular ke cabai yang lain.

Dia menggunakan tali rafia untuk mengikat pohon dan kantong plastik untuk mengumpulkan cabai yang terkena jamur. Untuk cabai yang sudah memerah siap panen dan tidak terkena jamur dia taruh di ember. Saat ini Diana hanya dibantu oleh satu orang, kemungkinan tiga hari kedepan dia membutuhkan beberapa orang lagi karena lebih banyak cabai yang sudah siap dipanen.

Baca juga: Setelah Molor Dua Bulan Karena Cuaca Tak Menentu, Ruslan Lega Akhirnya Bisa Memanen Cabai yang Ditanam

“Ini saya baru dua orang, mungkin tiga hari ke depan saya butuh beberapa orang lagi untuk membantu memanen. Kalau sudah mulai bisa dipanen seperti ini akan terus bertambah setiap hari,” ujar ibu dua anak itu.

Diana juga mengungkapkan, suaminyalah yang pertama mengawali menanam cabai di Desanya, Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus pada 1993 sebelum menikah dengannya. Waktu itu suaminya tidak hanya menanam cabai, namun juga bawang merah, semangka dan melon. Dari hasil panen Diana mengaku bisa membeli kendaraan baru waktu itu, dan beberapa petani di Desa Kutuk belajar pada suaminya.

Namun, usaha suaminya pernah bangkrut karena ditipu oleh temannya. “Awalnya ada teman yang mau mencalonkan diri menjadi perangkat desa, dan minta dimodali dengan perjanjian separuh tanah bengkoknya untuk dikelola suami saya. Kami menjual sawah, motor, dan tabungan, semua senilai Rp 270 juta. Ternyata malah tidak sesuai perjanjian dan sawah bengkoknya disewakan ke orang lain,” ungkapnya sambil memetik cabai.

Meski begitu dia tetap bersyukur karena suaminya masih bisa menyewa tanah bengkok di Desa Loram Wetan saat ini. Untuk menyewa tanah bengkok seluas 1,5 hektare suaminya dibantu oleh temannya yang asli warga Loram Wetan. Meski sekarang mengelola sawah yang jauh dari rumahnya, dia mengaku tetap bersyukur masih bisa bertani lagi.

“Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 4.30 WIB dan pulang pukul 15.30 WIB. Saya berangkat lebih pagi karena perjalanan dari Desa Kutuk hingga Loram Wetan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Meski begitu saya tetap bersyukur masih bisa bertani lagi,” pungkasnya.

- advertisement -

Rifki, Penjahit Asal Batang yang Andalkan Ponsel untuk Puaskan Para Pelanggannya

0
SEPUTARKUDU.COM, DEMAAN – Seorang pria muda mengenakan kaus,
bertopi warna hitam serta berkalung sebuah meteran tampak sedang mengayuh
gerobaknya di Jalan KH Wachid Hasyim, tepatnya di Desa Demaan, Kecamtan Kota, Kabupaten Kudus.
Di atas gerobak yang dia kayuh terlihat mesin jahit berwarna Oranye. Diketahui
kemudian pria tersebut bernama Rifki Arifaldie (22), penjahit yang menawarkan
jasanya berkeliling.

penjahit keliling
Arifaldie menjahit pesanan dari pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Tidak lama dia menjalankan gerobak jahitnya pria yang akrab
disapa Rifki tersebut berhenti karena ada seorang pria yang minta jasanya memotong
celana jeans. Lalu Rifki mengukur dari pinggang sampai batas telapak kaki pria
tersebut. Kemudian dengan cekatan dia memotong sesuai ukuran dan menjahit
ulang. Setelah selesai tampak dia menerima uang dari pelangganya dan pelangganya tersebut minta nomor ponsel Rifki.
Seusai melakukan aktivitasnya tersebut, Rifki sudi berbagi
kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan pria
yang menggunakan jasa jahitnya tersebut merupakan pelanggan barunya. Karena hampir
semua pelanggan lama dia pasti sudah memiliki nomor ponsel dirinya.
“Setiap orang yang sudah menggunakan jasaku pasti
mereka punya no handpone-ku, karena aku ingin menjadikan mereka langganan tetapku.
Karena dengan memiliki normorku
mereka tidak perlu repot datang ke tempat penjahit jika ada pakainya yang
rusak. Cukup telepon atau SMS ke nomor HP-ku, tidak lama pasti aku mendatanginya,”
ujarnya.

Pria lajang tersebut mengatakan, sudah sekitar dua tahun
menyediakan jasa jahit keliling di Kudus. Dan dalam kurun waktu itu dia mengaku
sudah memiliki ratusan pelanggan di Kecamatan Kota, Kudus. Menurutnya hampir
setiap hari berkeliling dia hanya mendatangi para pelanggan yang sudah menghubunginya
terlebih dulu.
Tapi, kata Rifki, dia tetap akan berkeliling menawarkan jasa
jahitnya meskipun sebelum berangkat tidak ada satu pun pelangganya yang
menghubungi untuk menggunakan jasa jahitnya. “Meskipun sebelumnya tidak ada
orderan, aku tetap berangkat menawarkan jasa jahitku sekaligus mencari
pelanggan baru,” jelas Rifki.
Pria yang mengaku mengontrak bersama teman sesama penjahit di
Kelurahan Mlati lor, Kecamatan Kota, mematok tarif berbeda untuk jasa
jahitnya. Namun dia tidak merinci secara jelas ongkos permak pakaian. Dia hanya
mengatakan ongkos paling murah Rp 2 ribu dan yang paling mahal Rp 30 ribu per pcs. Harga tersebut tergantung jenis kain dan perlu ada yang diganti atau tidak bagian dari pakaian
tersebut.
Pria yang mengaku pernah menjadi santri ponpes di Jawa Timur
tersebut mengatakan, berangkat menawarkan jasanya setiap hari mulai pukul
07.00 WIB sampai adzan Magrib berkumandang. Dan biasanya dia mendapatkan uang
sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu sehari.  
Pria yang berasal dari Batang tersebut mengatakan, menerima
permak semua pakaian dari jenis kain apa pun. Dia mengaku mesin jahitnya
tersebut sudah di setting di bengkel jahit di tempat asalnya agar bisa menjahit
kain tebal misalnya jeans, atau kain tipis yang berasal dari Korea. “ Dan untuk
biaya beli mesin jahit sekaligus menyeting dengan gerobak, aku mengeluarkan
uang sekitar Rp 3 juta,” ujarnya.
   
- advertisement -

Baru Merintis Produksi Gaun Pesta, Amel Ketagihan Ikuti Pameran Serupa Kudus Trade Show 2016

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN – ALUN KUDUS – Puluhan stan usaha
berdiri di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada acara Kudus Trade Show
2016 bertajuk Gusjigang. Di dalam satu di antara puluhan
stan tersebut, terlihat seorang wanita memakai baju warna abu-abu melayani calon pembeli. Perempuan tersebut bernama Amelia
Eka Lestari (33), pemilik Caramells Fashion. Dia mengikuti even tersebut untuk memperkenalkan gaun pesta yang dia buat.

gaun pesta
Amelia melayani calon pembeli di stan miliknya pada acara Kudus Trade Show 2016. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa
Amel itu sudi berbagi penjelasan tentang usahanya kepada Seputarkudus.com.
Dia menuturkan mulai merintis usaha fashion dengan memproduksi gaun pesta
sekitar setahun yang lalu. Dan dia juga mengaku baru sekali ikut pameran yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas
Perdagangan Dan Pengelolaan Pasar.
“Karena usaha ini baru setahun aku rintis dan ini
juga merupakan pertama kalinya aku diberi kesempatan untuk ikut pameran
perdagangan, jadi aku tidak mematok target penjualan. Aku lebih
memperkenalkan aneka model gaun pesta produk Caramells Fashion kepada para
pengunjung di Kudus Trade Show 2016,” ujar Amelia.
Warga Kelurahan Panjunan,
Kecamatan Kota, mengatakan, dirinya membawa sekitar 50 gaun pesta dengan 30
jenis model yang berbeda untuk dipajang dan dipamerkan di acara yang
berlangsung sekitar lima hari tersebut. Acara dimulai pada Kamis (24/11/2016)
dan akan berakhir pada Senin (28/11/2016).

Dia mengaku baru dua hari memamerkan gaun pesta rancanganya
di acara tersebut, dan sudah ada banyak orang pengunjung yang menyambangi stannya.
Bahkan sudah ada beberapa gaun yang laku terjual. Tapi ada juga yang memesan
model gaun pada foto yang dia pajang di sekat stan. 
“Aku memang tidak membawa semua model gaun rancanganku di
acara Kudus Trade Show. Namun setiap model gaun pesta
yang tidak aku bawa, aku menyertakan fotonya untuk aku pasang pada skat stand
agar para pengunjung juga melihat karya rancanganku yang lain,” ujar wanita
lajang tersebut.
Anak pertama dari dua bersaudara tersebut mengatakan, dia
bersyukur desain dan rancangan gaun pesta miliknya banyak diminati para
pengunjung. Menurutnya dia juga sudah menerima puluhan pesanan gaun pesta
sesuai ukuran badan, model serta bahan kain keinginan para pemesan.

Dia mengaku menjual gaun pesta rancanganya di acara Kudus
Trade Show 2016 dengan harga mulai Rp 500 ribu. Selama
pameran dia juga menawarkan diskon 20 persen setiap pembelian satu pcs gaun dan
beli dua gratis satu untuk pembelian gaun dengan harga normal.
“Aku berharap ke
depan di beri kesempatan lebih banyak lagi untuk ikut pameran usaha yang
diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Tidak hanya di Kudus tapi juga saat
pameran di daerah lain. Agar produk gaun pesta Caramells Fashion makin
dikenal masyarakat luas sebagai referensi gaun pesta anggun, dan elegan yang
punya ciri khas serta kualitas bagus,” harap Amelia.

- advertisement -

Joko Keluar dari Perusahaan Ternama di Kudus dan Memilih Menekuni Usaha Roti Bersama Istri

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Di tepi Jalan Kaliyetno, tepatnya sebelah utara Komando Rayon Militer (Koramil) Kecamatan Dawe, Kudus, terlihat toko yang di dalamnya terdapat aneka macam olahan roti. Tampak seorang pria mengenakan kemeja abu-abu sedang berdiri sambil melihat beberapa karyawannya membuat roti. Pria tersebut yakni Joko Purnomo (52), pemilik toko Roti Agung yang memilih keluar dari perusahaan ternama di Kudus demi membuka usaha roti bersama istrinya.

jual roti di kudus
Joko memperlihatkan produksi roti di tokonya. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu pelanggan yang datang, Joko begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha miliknya. Dia menjelaskan, usaha yang dia tekuni sudah berlangsung selama 16 tahun, tepatnya sejak tahun 2000. Dia mengaku memilih usaha tersebut karena melihat prospek usaha roti dinilai menguntungkan.

“Awalnya istri yang dulu berjualan roti di pasar. Melihat prospek ke depan baik, saya memilih keluar dari perusahaan dan mulai mengembangkan usaha roti bersama istri saya. Soalnya pada saat itu istri saya kewalahan memenuhi pesanan pelanggan,” ungkap Joko waktu ditemui di toko tempat dia berjualan sekaligus memproduksi roti.

Warga Dukuh Madu, Desa Cendono RT 5 RW 1, Kecamatan Dawe, Kudus, ini mengatakan, sebelum banyak pesaing, dulu dia sempat memiliki lebih dari 35 karyawan. Selain itu, kenaikan harga bahan bakan minyak (BBM) secara terus menerus menjadi pemicu dirinya harus pindah usaha ke Sumatera untuk membuka usaha roti. “Berhubung banyak pesaing, 2013 hingga 2014 saya hijrah ke Sumatera. Dulu saya punya banyak karyawan, sekarang yang tersisa hanya lima orang,” ujarnya.

Pria yang mengaku sudah dikaruniai tiga anak ini menjelaskan, untuk pemasaran, dia hanya menunggu pelanggan yang datang membeli roti di toko miliknya. Selebihnya, dia hanya melayani permintaan dua pelanggan tetap yang setiap hari memesan roti. “Kebanyakan dari wilayah Kudus, ada yang dari Kecamatan Gebog, Dawe dan ada juga yang dari Kecamatan Kota,” ungkapnya.

Dia menambahkan, bahan baku pembuatan sejumlah roti dia dapatkan dari Kudus. Harga yang ditawarkan berbeda-beda, tergantung dengan jenis roti serta besar kecilnya roti yang dibuat. Untuk roti hantaran dia jual seharga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu per dus, bolu dan cake Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu, roti ulang tahun Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu, dan roti ukuran kecil dijual seharga Rp 1.500.

“Toko mulai buka pukul 06.30 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Ramai-ramai pembeli biasanya bulan-bulan Maulud, Ramadan dan Idul Fitri. Tapi kalau bulan-bulan seperti Syura serta Safar, biasanya sepi pelanggan yang datang untuk membeli,” tambahnya.

Sekarang, dengan dibantu lima orang karyawannya, sehari dia mampu memproduksi roti 500 hingga 600 roti. Ketika ramai pembeli, dia mengaku mampu memproduksi sekitar 1.000 roti per hari. Menurutnya, modal awal yang dikeluarkan daam membuka usaha berkisar Rp 50 juta, sedangkan keuntungan yang didapatkan sebesar Rp 3 juta per bulan.

- advertisement -

Setelah Molor Dua Bulan Karena Cuaca Tak Menentu, Ruslan Lega Akhirnya Bisa Memanen Cabai yang Ditanam

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Langit nampak cerah mengiring aktivitas petani di Desa Loram Wetan, Jati, Kudus, beberapa hari lalu. Tampak tiga lelaki sedang mencangkul di sawah yang ditanami cabai, dan dua perempuan sedang memetik cabai yang sudah memerah. Satu di antara lelaku tersebut yakni Ruslan (44), pemilik tanaman cabai itu. Kini dia lega bisa memanen cabai yang ditanam, setelah molor dua bulan sesuai waktu tanam normal.

tanaman cabai di kudus
Ruslan sedang memanen tanaman cabai yang telah memerah di sawahnya. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com Ruslan mengatakan, dirinya butuh lima bulan tanaman cabainya baru bisa dipanen. Waktu normal tanaman cabai siap panen sekitar 85 hari hingga 90 hari. Karena cuaca tidak menentu membuat Ruslan kesulitan merawat tanaman cabainya, sehingga mundur sekitar dua bulan dari waktu panen yang ditargetkan.

“Dalam waktu normal biasanya cabai bisa panen 85 hari hingga 90 hari, tetapi kali ini hingga lima bulan lebih baru bisa panen. Karena cuaca yang tidak menentu, saya hampir gagal panen. Selama dua bulan terakhir ini saya hanya berpikir bagaimana caranya tanaman saya bisa bertahan,” katanya. 

Ruslan juga mengungkapkan, Agustus, September dan Oktober merupakan musim banyak hama menyerang tanaman cabai di dataran rendah. Dia harus mulai perawatan ekstra agar tanamannya bisa bertahan saat hama menyerang. Hampir setiap hari dia melakukan penyemprotan dengan obat daun, karena saat ini cabainya mulai terserang jamur.

Dia lebih memilih menyemprot dengan obat daun organik yang lebih tahan saat musim hujan seperti ini. Satu kali penyemprotan untuk 30 ribu tanaman di lahan 1,5 hektare, Ruslan bisa mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta. Pemberian pestisida dilakukan sesuai kebutuhan dan melihat seberapa parah hama yang menyerang tanaman.

Saat ini Ruslan hampir setiap hari memanen cabainya, dan dalam satu hari dia baru bisa memanen sekitar 20 kilogram. Tetapi dalam waktu dekat bisa naik hingga 5 kuintal. Saat mulai masa panen, Ruslan mengatakan hasil panen yang didapat akan terus bertambah. Setelah hasil panen mencapai 5 kuintal, hasilnya menurun kembali hingga pohon tidak produktif dan mati.

“Harga saat ini Rp 45 ribu per kilogram. Tetapi harga cabai kapan saja bisa naik turun,” jelas warga Desa Kutuk, Undaan, Kudus itu.

Ruslan menambahkan, bulan yang baik untuk menanam cabai yakni Maret, April, Mei, Juni, dan Juli. Pada Agustus, September, dan Oktober biasanya musim hama. Pada November biasanya mulai membaik, dan Desember Januari hingga Februari hama mulai menyerang lagi.

“Untuk saat ini hama mulai menurun, tapi Desember biasanya mulai menyerang lagi. Jadi saya butu perawatan ekstra agar panen saya tetap bisa maksimal,” tuturnya.

- advertisement -

Di Tangan Yanto, Klakson Rusak Bisa ‘Disulap’ Menjadi Baru yang Kualitasnya Tak Kalah dengan Buatan Pabrik

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Puluhan klakson aneka
warna tampak terpasang pada rangka besi di depan kios selatan tepi Jalan Pramuka, Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Di dalam Kios seorang pria berkaus motif belang sedang melayani pembelinya.
Pria tersebut bernama Sugiyanto (43), penjual sekaligus servis klakson mobil.

jual klakson mobil dan motor
Sugiyanto sedang menjual klakson di kiosnya, Jalan Pramuka, Mlati Kidul, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, pria yang biasa disapa
Yanto tersebut sudi berbagi penjelasan tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, selain menjual klakson mobil produksi pabrik dia juga menjual
klakson hasil rangkaianya sendiri. Klakson hasil rangkaianya tersebut dia
setting dengan suara setandar. Namun jika pelangganya ingin suaranya lebih nyaring,
atau jenis suara tertentu dia juga bisa membuatkanya.
“Aku mendapatkan beberapa klakson rusak dari mobil para
pelangganku yang klaksonya tidak bisa diperbaiki dan mereka membeli yang
baru. Klakson – klakson tersebut biasanya tidak dibawa pulang. Daripada barang tersebut jadi sampah, aku cek komponen semua kelakson tersebut
lalu aku rangkai hingga bisa mengeluarkan bunyi lagi,” ujar Yanto.
Warga Desa Piji, Kecamatan Dawe, itu mengatakan, suara klakson mobil hasil rangkainya tersebut menghasilkan
bunyi setandar yakni “dhiin dan thoot”. Namun jika para pelangganya ingin suara
lain dan dengan tingkat nyaring tertentu pada klakson yang dia rangkai,  dia bisa membuatkan sesuai pesanan para pelanggan.

Berbeda dengan
kelakson hasil produksi pabrik yang tidak ada garansi, dia mengaku berani
memberi garansi  selama satu bulan kepada
para pelangganya yang membeli kelakson hasil rangkainya. Menurutnya para
pelangganya yang membeli klakson hasil rangkaianya dan rusak dalam satu bulan,
klakson tersebut tidak dia perbaiki melainkan dia ganti dengan klakson hasil
rangkaianya yang baru.
Pria yang mengaku sudah dikaruniai dua anak tersebut
mengatakan, klakson hasil rangkaianya tersebut dia jual dengan harga Rp 425
ribu sepasang. Harga itu sama dengan harga klakson produksi pabrik dengan merk Hella,
Denso, serta Boss. Selain tiga merek tersebut, dia juga menjual klakson merek
Nikko, JO, Seger, yang dia jual lebih murah yakni Rp 155 ribu sepasang.
“Harga tersebut sudah termasuk ongkos pemasangan. Selain
menjual klakson aku juga menerima servis klakson mobil. Untuk servis aku
memasang tarif Rp 75 ribu untuk klakson kecil dan Rp 165 ribu klakson besar.
Harga tersebut untuk satu klakson dan jika sepasang klakson tinggal dikalikan
dua,” ungkap Yanto
Dia mengaku dalam sebulan dia bisa menjual enam hingga 10 klakson
dengan berbagai macam merk dan jenis klakson. Sedangkan untuk servis dalam sebulan Yanto mengaku tidak bisa mengkalkulasinya.
Yanto mengatakan membuka kios tempat menjual dan servis klakson
tersebut setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Dia juga
mengungkapkan, untuk membuka usahanya tersebut, dia mengeluarkan uang
sekitar Rp 8 juta.
“Sebelum berjualan klakson aku terlebih dulu bekerja di
bengkel cat mobil untuk mencari modal. Namun setelah setahun bekerja uang yang
terkumpul masih kurang akhirnya aku meminjam uang istriku agar genap menjadi Rp
8 juta,” ujarnya
.
   

- advertisement -

Anak Penjual Cobek di Makam Sunan Muria Ini Bangga, Meski Memiliki Keterbatasan, Ayahnya Tak Pernah Menyerah

0

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Puluhan cobek tertumpuk di tepi tangga Makam Sunan Muria, depan ruko berisi pakaian. Di dekat cobek itu, terlihat seorang pria mengenakan baju batik dan berpeci, berjalan menggunakan tangannya. Dia adalah Aji Kusumo (57), penjual pakaian sekaligus cobek di lokasi wisata religi tersebut. Penyandang disabilitas itu selalu dibantu putrinya saat berjualan.

Aji Kusumo, penjual pakaian dan cobek di Makam Sunan Muria. Foto: Ahmad Rosyidi

Aji, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, Sudah sekitar dua tahun ini dia berjualan pakaian dan cobek. Meski banyak kesulitan Aji merasa bersyukur karena ada tiga putrinya yang sering membantu. Setiap ada pembeli yang datang dia dibantu putri-putrinya yang juga berjualan di dekat rukonya. 

“Saya memang sudah tidak bisa berjalan sejak lahir. Jadi ya seperti ini. Saya berjualan juga butuh bantuan untuk mengambil pakaian jika ada pembeli yang ingin memilih. Saya bersyukur ada tiga putri saya yang selalu membantu,” tutur warga Colo, Dawe Kudus itu.
Aji juga merinci barang-barang yang dijual beserta harganya. Cobek dia jual seharga Rp 8 ribu hingga Rp 35 ribu. Sedangkan slayer batik dijual Rp 15 ribu, jeriken Rp 10 ribu, dan pakaian dijual mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 75 ribu. 

Dia membuka rukanya setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Aji mengaku saat sepi pembeli dirinya memilih untuk tidur, dan dibangunkan putrinya jika ada pembeli yang datang.

penujual pakaian dan cobek di makam sunan muria

Barang-barang yang dijualnya sebagian dia beli dari sales, ada yang membayar langsung da ada yang nitip uang dulu. Cobek misalnya, dia membeli dari sales dari Cirebon. Sedangkan pakaian dia ambil dari Pasar Kliwon dan Pekalongan. Aji juga mengungkapkan, dagangannya sering sepi, meski begitu dia tetap bersyukur sudah cukup untuk membeli makan.

Saat menjelaskan produk yang dijualnya, datang seorang perempuan yang duduk di samping Aji. Dia adalah Evi (27) satu di antara tiga putrinya. Evi mengaku bangga dengan ayahnya. Meski memiliki kekurangan tetapi tidak pernah menyerah dan bisa menjadi ayah yang baik untuk putri-putrinya.

“Saya bangga dengan ayah saya. Meski memiliki kekurangan, tetapi beliau tidak pernah menyerah. Masih semangat untuk menjalani aktivitas, dan menjadi ayah yang baik untuk putri-putrinya,” ungkap perempuan dua anak itu.

- advertisement -

Usai Pensiun dari Tempat Kerjanya, Mbah Supar Tak Betah Menganggur dan Berjualan Leker Keliling Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Seorang pria renta memakai
kaus warna coklat dan bertopi putih tampak mengayuh pedal gerobak yang
dia kendarai di Jalan Patimura tepatnya di Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus. Di balik kaca gerobak, terlihat kaleng susu berwarna coklat, gula, dan sebotol meses. Pria tersebut bernama Supardan (70), penjual kue
leker keliling. Dia tetap berjualan leker karena tak ingin hanya berpangku tangan di usia senjanya.
jual leker di kudus
Supardan melayani pembeli leker di Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan
Setelah beberapa kayuhan pedal gerobaknya berputar, Supardan
menghentikan gerobaknya karena ada seorang wanita membeli leker yang dia
jual. Seusai melayani pembeli, pria yang biasa disapa Supar itu
sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengaku baru sekitar dua
tahun berjualan kue leker setelah setahun menganggur karena diberhentikan dari tempat kerjanya.
“Di sisa umurku, aku tidak ingin hanya berdiam diri. Selagi
diberi kesehatan serta kekuatan aku akan bekerja mencari uang sendiri untuk
menghidupi istriku. Karena aku tidak ingin merepotkan semua anakku
yang sudah berkeluarga,” ujar
Supar kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Pria yang sudah dikaruniai lima anak dan semuanya sudah
berkeluarga tersebut tidak ingin rumah tangga anaknya terjadi masalah karena dirinya. Untuk menghindari hal tersebut, dia
mengaku hanya tinggal berdua bersama istrinya meski letak rumahnya tidak jauh
dari rumah beberapa anaknya.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Jepang Pakis,
Kecamatan Jati, mengatakan sebelum berjualan leker, dulu dia
bekerja di tempat pembuatan mebel yang di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, selama 10 tahun. Karena raganya
tak lagi muda dia harus menerima kebijakan perusahan yang memberhentikanya
bekerja dengan pesangon Rp 10 juta.
“Setelah berhenti bekerja dan mendapat pesangon aku sempat menganggur
selama setahun. Tapi selama menganggur tersebut diriku merasa sangat tidak
nyaman. Dan di pikiranku terlintas kalau aku berdiam diri saja uang pesangon
bisa habis dan aku bersama istriku bisa merepotkan semua anaku,” ujar Supar.
Pria yang mengaku sudah memiliki enam cucu tersebut
mengatakan, karena pemikiran tersebut, dia lalu memutuskan untuk berjualan leker keliling dengan modal awal sekitar Rp 1 juta. Uang tersebut untuk membeli
gerobak serta perlengkapanya. Untuk membuat leker hanya
membutuhkan modal sekitar Rp 100 ribu.
Dia mengaku berangkat berjualan keliling setiap hari mulai
pukul 08.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB. Dia berjualan di depan beberapa sekolah di Kudus, karena menurutnya berjualan di depan sekolah lebih laku dari pada
keliling. Namun banyak pembeli di sekolah hanya saat jam istirahat atau pulang
sekolah.
Supar mengatakan, leker yang dia jual tidak selalu habis
terjual. Jika habis terjual dia mengaku mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu. Tapi
terkadang juga tidak habis, bahkan rugi karena sehari berjualan mendapatkan uang
kurang dari modal yakni Rp 100 ribu.
“Namanya juga berdagang, kadang untung kadang juga rugi itu
sudah biasa. Yang penting ruginya jangan keseringan biar aku tetap bisa
menghidupi diriku dan istriku. Dan jika masih ada lebihnya bisa
memberikan uang saku pada cucu-cucuku,” ujarnya.

- advertisement -

Meski Acara Maju Sepekan, Penampilan Siswa SMA 1 Gebog Bawakan Sendratari Pukau Ratusan Penonton di UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Ratusan penonton terlihat bersiap menyaksikan sendratari di depan panggung lengkap dengan alat musik gamelan dan lighting di Auditorium UMK, Rabu (23/11/2016). Acara yang diselenggarakan Forum Aspirasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) didukung Djarum Foundation itu, akan menampilkan siswa SMAN 1 Gebog, Kudus, membawakan sendratari Katresnan Kang Kacidro. Tari itu diiringi musik gamelan yang juga dimainkan siswa dari sekolah yang sama.

sendratari SMA 1 Gebog Fasbuk
Siswa-siswi SMAN 1 Gebog membawakan Sendratari Katresnan Kang Kacidro di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Musik gamelan menggema di dalam ruang auditorium mengawali penampilan para penari yang muncul di hadapan penonton. Para penari terlihat mengenakan kostum sebagaimana kostum yang sering digunakan dalam pentas wayang orang. Tepuk tangan penonton bergemuruh, mengapresiasi penampilan siswa-siswi SMAN 1 Gebog tersebut.

Ketua Fasbuk Arfin Akhmad Maulana (23), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang pentas sendratari tersebut. Dia mengaku sengaja menyajikan seni musik Jawa dan sendratari karena merasa masih jarang ditampilkan di Kudus. Meski jadwal acara dimajukan sekitar sepekan, namun penampilan siswa-siswi SMAN 1 Gebok dinilai maksimal.

“Fasbuk menggelar acara bernuansa seni rutin setiap bulan. Acara biasa diselenggarakan setiap tanggal 29. Namun, karena yang tampil kali ini merupakan siswa-siswi SMAN 1 Gebog, yang kebetulan tanggal 29 nanti ada ujian, pihak sekolah minta acara ini dimajukan. Meski begitu, penampilan mereka bagus,” ujar Arfin kepada Seputarkudus.com. 

Dia menjelaskan, acara yang diselenggarakan Fasbuk sudah dikonsep beberapa bulan sebelumnya. Jadi acara bertajuk Kindung Katresnan Ati (Kinanti) tersebut tidak menuai kendala meski pelaksanaan dimajukan. 

Arfin merasa puas dengan antusiasme penonton. Meski acara dimulai malam pukul 19.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB, dan ditutup dengan diskusi kurang lebih sekitar 45 menit, penonton masih terlihat semangat.

Panitia pelaksana Kinanti, Laneno mengatakan, pihaknya merasa masih butuh lebih banyak ruang apresiasi untuk kesenian tradisional, di antaranya karawitan. Dia juga berharap kesenian tradisional di Kudus bisa lebih berkembang lagi.

“Kami sengaja menyajikan seni karawitan karena kami merasa ruang apresiasi untuk kesenian tradisional Kudus masih kurang. Sebelumnya kami mau mengundang dari Solo, ternyata di SMA 1 Gebog ada. Jadi kami lebih mengutamakan yang dari Kudus sendiri,” ujar Neno sapaan akrabnya.

Neno menjelaskan, anggota Fasbuk hanya ada emapat orang, yakni Arfin Akhmad Maulana,Amrul, Sandra Entong, dan dirinya. Untuk pelaksanaan kegiatan, menurutnya banyak anggota komunitas seni di Kudus ikut membantu. Pada kegiatan Fasbuk kali ini ada sekitar 70 orang yang ikut membantu.

“Sebenarnya kami hanya berempat. Namun untuk pelaksanaan kami sering dibantu anggota komunitas seni yang ada di Kudus. antusiasme masyarakat juga semakin banyak, jadi kami merasa tidak ada kendala,” jelas pria satu anak itu.

- advertisement -

Sempat Putus Asa Karena Gorengan Tak Laku, Suparti Bangkit Karena Dukungan Suami Hingga Bisa Beli Rumah

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi timur Jalan Sentot Prawirodirjo, di Desa
Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tampak gerobak dengan ratusan gorengan di dalamnnya. Di Samping gerobak dua orang
pria sedang memasukan adonan bakwan ke dalam penggorengan. Di sebelahnya
seorang perempuan berjilbab sedang memasukan puluhan gorengan ke dalam kantong
plastik untuk di berikan kepada pembeli. 

kisah penjual gorengan di kudus
Suparti membuat gorengan di Jalan Setot Prawirodirjo, Sunggingan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Wanita tersebut bernama Suparti (33), penjual gorengan yang hampir putus asa karena selama empat bulan tidak kunjung mendapat keuntungan. Di sela aktivitas melayani pembeli, Suparti sudi berbagi
kisah tentang usahanya itu. Dia mengatakan mulai berjualan gorengan sejak 2010. Pada empat bulan pertama selama berjualan dia mengakui beratnya
merintis usaha. Menurutnya, pada waktu itu gorengan yang dia jual tidak habis, bahkan bisa dikatakan tidak laku.

“Karena kejadian tersebut berulang-ulang selama
empat bulan, aku sempat putusa asa
dan berniat tak melanjutkan menjual gorengan. Tapi suamiku selalu memberi semangat dan menasihati
agar aku tetap berjualan. Dan dia juga sering memberi uang jika aku kehabisan
modal,” ungkap Suparti kepada seputarkudus.com
Perempuan asli Rembang tersebut mengatakan, karena suaminya
selalu mendukung untuk tetap berjualan, dia kemudian bangkit dan tetap berjualan gorengan. Hingga lambat laun gorengan yang dia jual mulai diminati pembeli. Bahkan menurutnya sekarang dia bisa menjual sekitar 3.000 gorengan
sehari.
Dia lalu merinci sepuluh jenis gorengan yang dia jual serta
total penjualan masing-masing gorengan. Dalam sehari dia bisa menjual 240 bakwan, tahu isi 850, tempe goreng 350, bakwan jagung 300, pisang goreng 250, singkong goreng 200, ubi goreng 300,
karamel 250, molen goreng 350, dan tahu petis sebanyak 150. Semua jenis gorengan tersebut dia jual seharga Rp 700.

Perempuan yang mengaku sudah membeli sebuah rumah di Desa
Loram Kulon, Jati, hasil berjualan gorengan. Sekarang rumah itu dia tempati bersama suami dan kedua buah hatinya. 

Dia mengatakan berjualan gorengan setiap hari mulai pukul 10.00
WIB sampai 19.00 WIB. Untuk membantu pekerjaannya, dia mengaku
mempekerjakan empat orang yang semua masih saudaranya.
“Selama berjualan aku dibantu empat pekerja yang semua masih
saudaraku. Yang satu adiku dan yang lainya keponakanku. Aku sengaja
memilih kerabatku untuk membantuku berjualan, karena rasa percaya, aku juga
ingin mengajari mereka berjualan dan bekerja,” ujarnya.    

   
- advertisement -

Demi Bisa Mendirikan Usaha Mixing Color, Bambang Rela Menjual Semua Motornya untuk Modal

0
SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Seorang pria bertopi warna hitam dan memakai kaus merah jmabu sedang memegang plat dia warnai mengunakan airbrush. Aktivitas itu dilakukan di dalam bangunan toko yang terletak di tepi barat Jalan Kyai Telingsing, Desa
Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Pria tersebut bernama Bambang Suwandi (30), pemilik
usaha mixing color yang menjual cat
aneka warna untuk mobil, motor, dan bak truk.

cat mobil dan motor
Suwandi sedang mencampur cat untuk pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Bambang
itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengatakan selama 10 tahun dia bekerja sebagai tenaga mixing color di perusahaan cat ternama yang berada di Semarang. Lima tahun di antaranya dia  bekerja sebagai teknikal suport untuk beberapa toko di Kudus.
Atas saran pelangganya dia mengaku disarankan untuk membuka sendiri usaha serupa, karena menurut mereka lebih enak usaha sendiri.
“Setiap bertemu para pelangganku, mereka selalu bicara
padaku agar aku membuka usaha sendiri. Karena menurut mereka diriku sudah sangat
menguasai mixing color. Untuk apa
kerja terus ikut orang lain. Karena selalu mendapat saran dan kebetulan juga
aku sudah bosan kerja ikut orang lalu aku nekat menjual ketiga motorku sebagai
modal,” ujara Bambang.
Pria yang berasal dari Gunung Pati, Semarang, mengatakan modal pertama dia mengeluarkan uang sekitar Rp 50 juta. Uang itu hasil dari
menjual tiga motor mendapatkan uang Rp 27 juta. Kemudian ditambah dengan
tabungannya sebesar Rp 11 juta, dan THR Rp 2,5 juta, serta pada saat itu kebetulan
dia mendapatkan arisan dua kali yang senilai Rp 12 juta.

Pria yang sudah dikaruniai dua putra tersebut mengatakan,
mixing color adalah mencampur dua cat dengan warna untuk menghasilkan warna
tertentu. Karena menurutnya warna cat yang ada di pasaran itu tidak sama dengan
warna cat mobil, sepeda motor keluaran pabrik. “Untuk menghasilkan warna sesuai
pada mobil dan sepeda motor yang warnanya masih murni dari pabrik harus
dilakukan mixing color,” jelasnya.
Menurutnya para pelanggan yang ingin memesan cat hasil mixing color, biasanya mereka membawa
contoh cat pada tutup tangki bensin mobil. Lalu setelah ditentukan berapa
benyak pesanan dan harga, Bambang mengaku langsung melakukan mixing color pada cat dengan jumlah
pesanan dari pelanggan.
Bambang mengatakan menjual cat hasil mixing color dengan harga Rp 45 ribu untuk satu ons dengan warna
standar, di antaranya, silver, hitam,
abu-abu. Sedangkan untuk warna spesial yakni, kuning, merah, purple dan lainya dia hargai Rp 55
ribu per ons.
Dia melayani penjualan cat hasil mixing color secara ecer maupun dalam
jumlah banyak. Dia mengatakan, selain menjual cat hasil mixing color dia juga
menjual bahan pengecatan untuk besi, diantaranya dempul, epoxy, thinner dan
lainya.
Setelah usahanya
berjalan satu tahun dia mengaku mendapatkan omzet sekitar Rp 10 juta sebulan. Bambang mengatakan tokonya tersebut buka pada Senin sampai Sabtu mulai
pukul 08. 00 WIB sampai pukul 16. 00 WIB.
“Karena sudah tidak memiliki kendaraan, aku selalu meminjam motor
orang tuaku sebagai kendaraan dari Semarang- Kudus setiap hari. Aku juga
belum berniat mengambil pekerja, karena selain pembelejaranya yang susah dan
mengandalkan feeling yang bagus, selama ini order yang ada masih bisa aku
handle sendiri,” ungkapnya.  

- advertisement -

Teater Tulang SMAN 6 Solo Kocok Perut Penonton di Acara Festival Teater Pelajar Djarum Foundation

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Sejumlah penonton yang tersebar di area gedung GOR Djarum Kaliputu, Kota, Kudus, terlihat mulai berdatangan mendeket ke depan panggung utama saat mendengar alunan musik. Alunan itu dibawakan Teater Tulang, menjelang pengumuman pemenang dalam Festival Teater Pelajar 2016. Ratusan penonton tertawa menikmati aksi panggung kelompok tetaer dari Solo, yang membawakan naskah “Surat Kepada Tuhan”. Adegan demi adegan kocak terus mengocok perut penonton, gemuruh tepuktangan beserta tawa memeriahkan suasana pementasan.

teater tulang solo
Penampilan Tetaer Tulang SMAN 6 Solo pada Festival TeaterPelajar 2016. Foto: Ahmad Rosyidi

Naskah yang mereka bawakan, menggambarkan petani yang bernyanyi gembira karena tanaman jagungnya tumbuh subur. Namun seketika menjadi sedih saat bencana datang melanda karena gagal panen. Petani yang terlihat sedih itu kemudian menulis surat untuk Tuhan dan dikirim lewat Kantor Pos. Muncullah empat petugas Kantor Pos kocak dan mengundang tawa saat mereka menari hingga battle dance dengan gerakan-gerakan yang mengundang tawa.

Gerakan-gerakan yang lucu disambut dengan teriakan tawa dan tepuktangan penonton. Sampai pada empat petugas yang disuruh satu persatu membaca surat oleh kepala Kantor Pos, dan satu di antara mereka mendapat surat dari petani untuk Tuhan. Surat yang berisi curahan hati petani atas bencana yang melanda itu, dibaca dengan iringan musik. Di dalam surat itu petani meminta uang Rp 10 juta.

Karena terharu, petugas Pos akhirnya mencari sumbangan untuk membantu petani dengan mengatasnamakan balasan dari Tuhan. Petani yang sudah menerima balasan merasa senang dan menghitung uangnya. “Terimakasih Tuhan,” ucap petani. “iya, sama-sama,” jawab petugas Pos.

Berkali-kali dia ucapkan terima kasih dan jawaban petugas Pos “iya, sama-sama”. Hal itu kembali mengundang tawa penonton. Setelah menghitug ternyata hanya Rp 8 juta, kemudian petani kembali mengirimkan surat pada Tuhan untuk meminta kekurangan yang Rp 2 juta, dan meminta Tuhan untuk tidak mengirim lewat Kantor Pos.

Yogi Swara, sutradara pementasan tersebut menjelaskan, naskah yang berjudul “Surat Kepada Tuhan” itu menceritakan, tentang kondisi masyarakat yang tidak percaya terhadap pemerintah. Meski pemerintah sudah bekerja dengan baik, masyarakat masih tetap tidak percaya dan merasa kurang puas dengan kinerjanya.

“Naskah ini menceritakan tentang kondisi masyarakat saat ini yang sudah tidak percaya dengan kinerja pemerintah. Meski pemerintah sudah bekerja baik tetap saja masih kurang dimata masyarakat. Seperti tadi petani itu mengira tukang Pos lah yang mengambil uang Rp 2 juta yang dikirimkan Tuhan,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Yogi sapaan akrabnya, juga menambahkan naskah dan musik yang dipentaskan semua hasil dari karya teater Tulang sendiri. Dia merasa tidak ada kendala dalm persiapan karena naskah itu sudah dipentaskan tiga kali ini.

Asa Jatmiko mewakili penyelenggara, mengaku sengaja mengundang Teater Tulang untuk silaturahim karena pernah kerjasama saat Teater Djarum pentas di Solo. Selain itu dia juga berharap ada pembelajaran yang bisa di dapat teman-teman teater di Kudus dari pementasan Teater Tulang.

“Teater Tulang ini sudah sering juaran di acara festival, jadi sudah kelas juara lah. Sengaja kami undang untuk silaturahim dengan teater-teater di Kudus,” tambahnya.

- advertisement -