![]() |
| Seren berjalan kaki di Jalan Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, menjual kerupuk opak. Foto Rabu Sipan |
Seren, Penjual Opak Berjalan Kaki Keliling Kudus, Berangkat dari Blora Menumpang Truk
Siswi Sekolah di Rahtawu Ini Tak Menyangka Raih Aktris Utama Terbaik Festival Teater Pelajar 2016
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Ratusan peserta dan penonton final Festival Teater Pelajar berkerumun di depan panggung utama menunggu hasil penilaian juri di GOR Djarum Kaliputu, Kota Kudus (20/11/2016) malam. Saat pembawa acara mengumumkan kategori Aktris Utama Terbaik tingkat SMP, terlihat seorang perempuan yang disebut namanya masih terdiam dan melihat ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya teman-teman yang di sampingnya bersorak ketika nama Teater NSA SMP 3 Satu Atap disebut.
![]() |
| Wahyu Ningtyas menerima penghargaan Aktris Utama Terbaik Festival Teater Pelajar 2016. Foto: Ahmad Rosyidi |
Wahyu Ningtyas (15), peraih Akris Utama Terbaik, mengaku tidak menyangka bisa terpilih. Saat pembawa acara menyebut namanya, dia mengaku masih melihat ke kanan dan ke kiri karena sempat tidak percaya namanya disebut. Setelah pemeran dalam lakon Bundo, nama teater dan sekolahnya disebut, baru dia menyadari memang benar dirinya memenangkan kategori itu.
“Saya tidak menyangka bisa terpilih sebagai kategori aktris utama terbaik. Saat disebutkan Ayu Ningtyas, masih saya kira orang lain tadi. Tentu saya sangat bahagia dan bersyukur, semua tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, teman-teman teater juga pastinya,” jelas Wahyu dia akrab disapa.
Wahyu juga menjelaskan, tahun lalu dirinya belum mendapat kategori terbaik, jadi dia mengira tahun ini juga tidak dapat lagi. Ini kali kedua dirinya ikut kegiatan Festival Teater Pelajar Djarum Foundation Bakti Budaya. Selain itu Wahyu juga mengaku sudah pernah tiga kali pentas di lain acara serupa, jadi dirinya sudah terbiasa di atas panggung.
Selain mendapat kategori Aktris Utama Terbaik, Wahyu juga sangat senang karena teater NSA dari SMP 3 Satu Atap, Rahtawu, Gebog, Kudus, mendapat beberapa kategori yang lain. “Saya sangat bersyukur teater NSA bisa dapat kategori sebanyak ini, semoga ini bisa menjadi motivasi untuk kami agar lebih baik lagi kedepannya,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara itu.
Untuk kategori teater terbaik tingkat SMP, terbaik satu dimenangkan Teater Negeri Satu Atap (SNA) dari SMP 3 Satu Atab, terbaik dua dimenangkan Teater Espero dari SMP 2 Kudus, Terbaik Tiga Teater Ukur SMP MTs NU Maslakul Falah. Sutradara Terbaik tingkat SMP dimenangkan oleh Sugiarto dari Teater SNA.
Sedangkan untuk Aktor Utama Terbaik dimenangkan Khoirul Anam Teater SNA, Aktris Utama terbaik dimenangkan Wahyu Ningtyas teater SNA, aktor pembantu terbaik dimenangkan M Reksa Nur Eldin teater Espero, aktris pembantu terbaik dimenangkan Nurul Marisa teater SNA, dan penata artistik terbaik dimenangkan Sugiono S,E dari teater SNA.
Dan Kategori terbaik tingkat SMA, Terbaik Satu dimenangkan teater Apotek dari SMK Duta Karya, terbaik dua dimenangkan teater Studio One dari SMA 1 Kudus, terbaik tiga teater Jangkar Bumi dari MA Qqudsyyah. Sutradara terbaik tingkat SMA dimenangkan oleh Yasir dari teater Studio One, Aktor Utama Terbaik dimenangkan Arjuna Aqnianto W Teater Apotek, Aktris Utama terbaik dimenangkan Bella Kusuma P teater Studio One.
Untuk Aktor Pembantu Terbaik dimenangkan Dwi Aji Leksono teater Apotek, aktris pembantu terbaik dimenangkan Shela Khotijatul Muna teater X-Miffa dari SMK NU Miftahul Falah, dan penata artistik terbaik dimenangkan M Fadli Mubarok teater Apotek.
Tiga Juri Final Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Sempat Kesulitan Memilih Pemenang
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Gemuruh tepuk tangan dan triakan terdengar saat pembawa acara mengumumkan pemenang sejumlah kategori pada Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Bakti Budaya di GOR Djarum Kaliputu, Kota Kudus, (20/11/2016) malam. Usai pengumuman selesai, sejumlah orang nampak bergerombol dan melakukan selebrasi bersama kelompoknya.
![]() |
| Juri bersama pemenang Festival Teater Pelajar 2016 berfoto bersama usai pengumuman. Foto-foto: Ahmad Rosyidi |
Di dalam ruangan GOR, terlihat seorang pria yang sedang berdiri menatap tawa gembira anggota kelompok teater yang diumumkan sebagai pemenang. Dia adalah Gunawan Maryanto (40), yang menjadi juri di kegiatan Festival Teater Pelajar 2016.
Gunawan begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait proses penentuan pemenang. Dia bersama Ine Febriyanti dan Agus Syarofuddin yang menjadi juri lainnya, katanya, sempat kesulitan menentukan kategori terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA. Karena semua tampil dengan bagus, sehingga persaingan untuk tingkat SMA menjadi sangat ketat.
“Kami sempat kesulitan untuk menentukan kategori terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA. Semua bagus, energi dan atmosfernya dapat, persaingan menjadi ketat. Karena harus memilih tiga terbaik, akhirnya dengan beberapa pertimbangan kami pilih tiga terbaik meski sebenarnya semua baik,” ungkap warga Sleman, Jogja itu.
![]() |
| Juri final Festival Teater Pelajar 2016. |
Gunawan juga mengaku banyak pelajaran yang bisa dia ambil dari sembilan pementasan pada babak final Festival Teater Pelajar tahun ini. Dia selalu belajar dari setiap pementasan yang dia lihat, karena setiap pementasan pasti ada kekurangan dan kelebihan yang bisa dia jadikan pelajaran. Gunawan menyukai seni sejak kecil, dia juga sangat suka melihat pertunjukan yang dirasa sangat bermanfaat karena bisa mendapat ilmu baru.
“Saya sejak kecil suka dengan seni, ayah saya seorang seniman, pemain ketoprak. Jadi memang sudah dikenalkan dengan seni oleh ayah saya sejak saya kecil. Tapi untuk serius di teater saya mulai tahun 1992,” ujar Gunawan.
Ine Febriyanti yang juga menjadi juri Festival Teater Pelajar, mengungkapkan, perkembangan teater di Kudus terbilang sangat pesat. Menurutnya sudah jauh lebih baik jika dibandingkan animo masyarakat saat dirinya ke Kudus tahun 2013 pada acara yang sama. Dia juga menyarankan pelaku teater di Kudus untuk terus berlatih, menambah wacana, bisa dari Youtube, bisa juga belajar ke Jogja atau ke Jakarta.
![]() |
| Juri bersama penyelenggara Festival Teater Pelajar 2016. |
“Saya berteater mulai usia 21 tahun. Kalau teman-teman sudah berteater sejak SMP atau SMA berarti teman-teman sudah satu langkah lebih maju dari saya. Teman-teman bisa belajar berteater di mana saja, bisa dari diri kita sendiri dan dari budaya kita,” jelasnya.
Agus Syarofuddin menegaskan, berteater bukan soal kalah dan menang. Namun berteater merupakan proses untuk memperbaiki diri. Berteater juga harus kapan harus apa, dia sangat bangga melihat peserta tetap beribadah saat waktunya beribadah, karena teater itu mulia dan memberkahi.
“Saya terharu, tidak pernah terbayang teater di Kudus bisa sebesar ini. Dan harus diingat, berteater bukan soal kalah menang, tetapi untuk proses memperbaiki diri,” tegasnya.
Etika Tak Tahan Ingin Berselfie di Depan Stand Booth Festival Teater Pelajar 2016 Dajarum Foundation
![]() |
| Penonton final Festival Teater Pelajar 2016 mengabadikan momen di depan stand booth. Foto: Rabu Sipan |
Berteater Itu Keren Menggema pada Pelaksanaan Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Bakti Budaya
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Ratusan orang beriap di depan panggung yang telah ditata lengkap dengan setting lampu di dalam GOR Djarum, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu (19/11/2017). Mereka tengah menunggu penampilan kelompok teater pada Final Festival Teater Pelajar 2016. Kali ini, penyelenggara menggaungkan jargon Berteater Itu Keren dalam acara yang diselenggarakan setiap tahun tersebut.
![]() |
| Peserta tampil dalam final Festival Teater Pelajar 2016 yang diselenggarakan Djarum Foundation Bakti Budaya di GOR Djarum, Kaliputu, Kota, Kudus. Foto-foto: Ahmad Rosyidi |
Di sela kesibukannya sebagai koordinator juri dalam Festival Teater Pelajar 2016 yang diselenggarakan Djarum Foundation Bakti Budaya, Asa Jatmiko (40) sudi berbagi penjelasan tentang jargon Berteater Itu Keren. Jargon itu diangkat agar pelaku teater di Kudus lebih bersemangat dan dunia teater lebih berkembang lagi.
Kata keren dalam jargon itu, kata Asa, tidak bermaksud kemewahan. Justru sebaliknya, berteater menunjukkan martabat, harga diri, mentalitas, kepribadian, tanggung jawab dan disiplin.
“Kami ingin terus menyerukan Berteater Itu Keren, agar semangat berteater di Kudus lebih berkembang lagi. Karena makna keren berteater bukan keren dalam arti kemewahan,” jelas pria kelahiran Purbalingga itu.
![]() |
| Asa Jatmiko (kanan) berbincang dengan Acong saat final Festival Teater Pelajar 2016. |
Dia merasa sangat senang dengan peningkatan teater di Kudus, khususnya teater pelajar. Oleh karena itu Asa ingin terus mendukung dan memberi lebih banyak ruang untuk mereka berekspresi agar teater di Kudus bisa terus berkembang.
Menurut Asa, perkembangan teater lima tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang terus meningkat. Tentu dia dan pelaku seni teater di Kudus akan terus mendukung. Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun ini peningkatan teater di Kudus terbilang paling pesat.
“Pada penyelenggaraan Festival Teater Pelajar sebelumnya pada 2015, jumlah peserta festival tingkat SMP ada 5 kelompok dan tingkat SMA ada 23 kelompok. Sedangkan pada tahun ini, peserta tingkat SMP ada 11 kelompok dan SMA ada 26 kelompok,” tuturnya.
Dalam kegiatan Festival Teater Pelajar, Asa menjelaskan tujuan utama bukan pada kompetisi, tapi lebih pada pengalaman, apresiasi, dan motivasi. Selain itu pihaknya ingin terus memberikan pendampingan serta dukungan untuk perkembangan teater yang ada di Kudus.
“Ini juga pertama kali kami menggarap panggung dan lighting secara serius, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kami berharap peserta bisa terkesan dan merasa bangga pernah berada di panggung yang besar untuk mereka berekspresi,” ungkap pria dua anak itu.
Ketua Penyelenggara Fetival Teater Pelajar 2016, Sudarmono (33) mengungkapkan, kegiatan serupa sudah digelar sejak 2008. Tahin ini merupakan yang kesembilan kalinya. Kali ini penyelenggara memilih tema “Cerita Dan Dongen Rakyat Nusantara”. Dengan tema tersebut, dia berharap pelajar di Kudus lebih mengenal dan bangga dengan budaya Indonesia.
Acong, begitu Sudarmono akrab disapa, merinci sembilan kelompok teater pelajar yang lolos masuk ke final. Empak kelompok di antaranya tampil pada final hari pertama (19/11/2016). Empat kelompok itu antara lain Teater Ukur dari MTs NU Maslakul Falah, Teater Espero dari SMP 2 Kudus, Teater Negeri Satu Atap dari SMP 3 Satu Atap Gebog, Teater Jangkar Bumi dari Ma Qudsiyyah dan Teater Sate Madu dari MAN 2 Kudus.
“Sedangkan pada hari kedua (20/11/2016), ada Teater Ganesha dari SMA 2 Kudus, Teater Apotek dari SMK Duta Karya, Teater X – Miffa dari SMK NU Miftahul Falah, dan Teater Studio One dari SMA 1 Kudus,” kata bapak satu anak tersebut.
Dia menjelaskan, beberapa kategori yang masuk kategori penilaian juri antara lain, penataan artistik terbaik, aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, aktris pembantu terbaik, dan sutradara terbaik. Selain itu, juri juga akan memilih teater terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMP, dan teater terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA.
Untuk penilaian final Festival Teater Pelajar kali ini, katanya, penyelenggara mempercayakan tiga juri untuk menilai tahap final, antara lain Ine Febriyanti, Gunawan Maryanto, dan Agus Syarofuddin. Sedang pada tahap seleksi yang diselenggarakan pada 31 Oktober hingga 9 November 2016, dipercayakan pada Jumari HS, Jesi, dan Warih Bayu, untuk tingkat SMP. Dan untuk tingkat SMA juri dipercayakan pada Kanzunudin, Asa Jatmiko dan Agus Syarofuddin.
Dulu Sumiah Bisa Menjual 90 Es Balok Sehari, Sekarang Dia Hanya Bisa Menjual 30 Balok Karena Ada Es Kristal
![]() |
| Sumiah sedang memotong es balok untuk pembeli yang datang ke lapaknya. Foto: Rabu Sipan |
Dia menuturkan, setiap pekerjaan pasti ada risikonya, begitu juga dengan usahanya tersebut. Risiko yang sering dia hadapi saat hujan turun. Hampir bisa dipastikan es yang dia jual tidak laku. “Untuk menyiasati hal tersebut biasanya aku mengandalkan ilmu titen untuk membaca cuaca serta menentukan pesanan es balok, agar tidak kebanyakan dan terhindar dari rugi,” ujarnya.
Delapan Tahun Berjualan Kerajinan di Makam Sunan Muria, Sutigo Tetap Bersyukur Meski Dagangannya Tak Laris
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Sejumlah benda kerajinan tampak di sebuah lapak yang tertata rapi di samping tangga menuju Makam Sunan Muria. Terlihat seorang pria memakai kaus merah sedang membersihkan kerajinan yang dijualnya. Sutigo (40), nama pria tersebut. Dia sudah delapan tahun menekuni usahanya berjualan kerajinan berbahan kayu itu. Meski hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya sehari-hari, dia tetap beryukur.
![]() |
| Sugito sedang menata barang kerajinan yang dijualnya di lapak tepi jalan menuju Makam Sunan Muria, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi |
Saat menuggu pembeli datang, Sutigo sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, dirinya belum bisa mengejar keinginannya untuk hidup yang lebih baik. Meski demikian dia merasa lebih menikmati pekerjaannya saat ini jika dibanding pekerjaan sebelumnya merantau ke Jakarta dan jauh dari keluarga.
“Hasil dari menjual kerajinan seperti ini cuma cukup untuk menghidupi keluarga, tapi saya merasa bersyukur. Saya lebih menikmati pekerjaan saat ini dibanding merantau seperti dulu,” ungkap pria dua anak itu.
Meski sering sepi, Sutigo merasa bersyukur karena lapak yang di depan rumahnya tidak perlu membayar sewa. Dia juga bisa ke rumah dan bertemu keluarga kapanpun dia mau. Hal itu sangat berbeda dengan sembilan tahun lalu saat masih merantau.
Sambil membersihkan dan merapikan dagangannya, dia merinci harga produk yang dia jual. Untuk jam dinding dia jual seharga Rp 175 ribu hingga Rp 190 ribu, tempat minum air mineral gelas Rp 180 ribu, tempat tisu Rp 90 ribu, kotak amal Rp 115 ribu, rekal Rp 85 ribu, tempat HP Rp 65 ribu, guci Rp 260 ribu hingga Rp 600 ribu, lampu kamar Rp 130 ribu, lampu ruang makan Rp 150 ribu.
“Hiasan lafadz sepasang Rp 250 ribu, herley Rp 145 ribu, andong Rp 160 ribu, vespa Rp 65 ribu, nampan Rp 70 ribu hingga 100 ribu, asbak Rp 20 ribu hingga 70 ribu, lumpang Rp 40 ribu, dan untuk pijat Rp 35 ribu. Semua terbuat dari kayu jati, kecuali asbak yang paling murah, lumpang, tongkat dan untuk pijat, terbuat dari kayu mahoni, jadi harganya lebih murah,” jelasnya.
Sutigo membuka lapaknya mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Dia membukanya setiap hari kecuali ada halangan yang mengharuskan dia tutup. Barang dagangan Sutigo diambil dari Bojonegoro, Jawa Timur. Setiap sebulan sekali dirinya didatangi sales. Kecuali saat ramai seperti bulan Syura dan Maulud dia bisa menghubungi sales untuk datang dua kali dalam satu bulan.
Saat Hujan Turun, Pemilik Lextrie Sticker di Purwosari Ini Tolak Pelanggan yang Datang Memasang Stiker dan Skotlet
![]() |
| Triaji Husodo (51), pemilik toko Lextrie Sticker, di Jalan Kudus – Jepara, Kelurahan Purwosari. Foto: Rabu Sipan |
Seusai memasang skotlet pada motor matik milik pelangganya, sambil duduk di bangku pria yang akrab disapa Tri tersebut sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, saat cuaca sedang panas dia bisa kerepotan melayani para pelanggan yang ingin memasang skotlet di motor mereka. Namun saat hujan turun tak satu pun orang yang datang untuk pemasangan stiker dan soktlet. Kalau pun ada yang datang, dia justru menolak.
“Aku sengaja melengkapi kiosku dengan aneka barang di kios. Karena saat cuaca cerah banyak para pelanggan datang untuk membeli setiker maupun pemasangan skotlet pada motornya. Sedangkan jika saat turun hujan, biasanya jas hujan di kiosku laris terjual. Bahkan sehari aku bisa menjual 10 pcs dengan harga berkisar antara Rp 55 ribu sampai Rp 100 ribu,” jelasnya.
Meski Ngos-ngosan, Rombongan Peziarah dari Madura Ini Tetap Semangat Menapaki Tangga Makam Sunan Muria
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Sejumlah pria berpeci tampak berjalan ngos-ngosan menaiki tangga menuju makam Sunan Muria. Mereka adalah rombongan peziarah dari Madura, dari Pondok Pesantren Ar-Rohmany Al-Ishqy. Satu di antara peziarah itu, yakni Abdullah Ubaid (22). Meski capek menaiki tangga menuju makam, dirinya tetap semangat bersama rombongan dan merasa seru.
![]() |
| Peziarah asal Madura berjalan menapaki tangga menuju Makam Sunan Muria. Foto: Ahmad Rosyidi |
Ubaid, begitu dia akrab disapa, mengaku baru pertama kali berziarah ke Kudus. Meski kelelahan dan butuh perjuangan untuk sampai ke Makam Sunan Muria, dia tetap semangat karena tidak ingin kalah dengan rombongan wanita yang sudah berjalan terlebih dahulu. Selain itu Ubaid juga ingin melihat pemandangan dari atas setelah sampai area makam.
“Sangat capek, tapi seru ada tantangan sebelum sampai makam. Meski lelah tapi saya tidak mau kalah dengan rombongan wanita yang sudah berjalan di depan. Saya juga ingin lihat pemandangan dari atas nanti, sepertinya bagus,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Sambil ngos-ngosan, Ubaid merinci beberapa tempat wali yang sudah mereka kunjungi. “Ampel, Kediri, Bonang, Demak, dan Kudus. Sebagian saya lupa, saya sih tinggal iktu saja,” jelasnya.
Tak lama beristirahat, rombongan Ubaid disusul rombongan yang sebelumnya berada di belakangya. Imam Bukhori (23), panitia ziarah mengatakan, rombongan ziarah dari Madura kali ini menggunakan empat bus dan ada sekitar 240 orang yang ikut. Kurang lebih sekitar 150 santri putri dan 90 santri putra.
Selain itu, Imam menjelaskan, rombongannya berencana berziarah ke 11 tempat jika waktu yang ditentukan panitia cukup. “Kami berencana hingga Kamis malam, jika waktunya cukup rencananya kami ke 11 tujuan. Setelah dari Kudus kami ke Sunan Drajat, Jawa Timur,” ungkapnya.
Imam juga mengaku baru pertama kali ziarah ke makam Sunan Muria. Selain pemandangannya bagus, katanya, lingkungan makam udaranya juga sejuk. Tetapi dia belum tau ingin membeli oleh-oleh apa nantinya, karena banyak pedangan Imam merasa bingung, dan belum tau oleh-oleh apa yang khas dari makam sunan muria.
Penjual Mebel Asal Jepara Ini Selalu Pindah-Pindah Tempat, Saat Melihat Lokasi yang Cocok Langsung Jualan
SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, seorang pria berkaus merah duduk di deretan kursi. Sejumlah kursi di antaranya masih terbungkus kertas. Saji (48), nama pria tersebut, penjual mebel keliling yang berpindah-pindah kota. Warga Jepara itu telah berjualan di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan Jakarta.
![]() |
| Saji, penjual mebel keliling di Jalan Lingkar Utara, Peganjaran, Bae, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi |
Saat sedang menunggu pembeli datang, Saji sudi berbagi cerita tentang usahanya itu kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mebel yang dia jual tersebut dibuat di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. Dia berjualan bersama pemilik produk mebel tersebut. Setiap berangkat, dia membawa 15 set kursi dan meja.
“Sekali berangkat kami membawa 15 set kursi dan meja menggunakan mobil pikap. Biasanya kami berjualan selama tiga hingga lima hari, dan berpindah-pindah kota,” ujar Saji.
Dia mengaku pindah dari satu daerah ke daerah lain saat malam hari. Mereka tidak menentukan daerah mana yang akan dituju untuk berjualan. Mereka berhenti dan menggelar dagangan, saat ada tempat yang dinilai cocok untuk berjualan. “Kami tidak tentu berjualan di mana, sesuka hati lah untuk memilih kota mana yang kami tuju,” ungkapnya.
Saji mengaku terkendala saat musim hujan seperti ini. Karena dirinya tidak bisa berjualan saat hujan turun. Selain tidak ada pembeli, dirinya juga khawatir kualitas produk mebel yang dijual tidak bagus karena rusak terkena hujan.
Dia menjelaskan, untuk harga satu set kursi dan meja dijual seharga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Produk mebel yang dijual ada yang berbahan kayu jati, kayu mahoni, dan kayu waru. Selain berjualan keliling, mereka juga menerima pesanan. Harga produk disesuaikan kualitas kayu juga tingkat kesulitan produksi.
“Kami juga menerima pesanan, untuk harga kami sesuaikan kualitas kayu dan tingkat kesulitannya. Jadi harganya beragam, bisa kami sesuaikan budget pemesan.” jelas pria tiga anak itu.
Saat asyik menjelaskan, datang seorang pria yang keluar dari warung di dekat Saji membuka lapak. Pria itu Sukarno, pemilik mebel yang dijual Saji. Dia mengatakan, hanya bisa membawa 15 set meja dan kursi saat berjualan keliling.
“Kami membawa mobil pikap, jika tidak pandai menata muatannya pasti tidak bisa membawa banyak. Selain itu juga bisa rusak barangnya,” tambah Sukarno sambil menunjukan mobil pikap warna putih miliknya.
Kecewa Beli Boks Motor Berkualitas Buruk, Rider Asal Sunggingan Ini Temukan Ide Bisnis Menjual Boks Impor
![]() |
| Ulil menunjukkan boks motor yang diklaim tahan banting dan tahan lama di tokonya, Jalan Kyai Telingsing, Kudus. Foto: Rabu Sipan |
Ide Bisnis Bisa Muncul dari Mana Saja, Seperti Indah yang Mendirikan Genius Baby Rent Karena . . .
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Sejumlah mainan anak terlihat di ruko di tepi Jalan Pramuka, Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak seorang perempuan sedang menulis di meja dekat tangga, dengan sejumlah mainan dan pakain anak terlihat di sampingnya. Perempuan itu adalah Indah Wulandari (33), pemilik Genius Baby Rent, tempat penyewakan perlengkapan bayi dan anak di Kudus.
Indah sapaan akrabnya, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang usaha persewaan perlengkapan bayi dan anak tersebut. Usaha itu bermula dari mainan anaknya yang sering dipinjam teman. Dari itu dirinya menemukan ide untuk membuka usaha yang sudah dijalankannya selama lima tahun terakhir ini. Dia merasa pertumbuhan bayi cukup cepat, dan alat yang digunakan juga akan cepat berganti.
“Saya merasakan sendiri, seperti anak saya yang mudah bosan dengan mainannya. Jadi dari mainan anak saya yang dipinjam teman, saya menemukan ide untuk membuka tempat penyewaan perlengkapan bayi dan mainan anak ini,” tutur ibu tiga anak itu.
Dia juga mengatakan,sekitar enam bulan ini dia membuka persewaan peralatan bayi dan anak di Melati Lor. Sebelumnya Indah membuka usahanya selama kurang lebih lima tahun di Desa Burian, Kota, Kudus. Barang-barang yang disewakannya dia beli dari Jakarta dan Batam. Kadang dia juga mendapat pesanan perosotan untuk mainan anak-anak di taman kanak-kanan (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Sambil menunjukkan mainan anak-anak yang dia sewakan, Indah merinci harga sewa per bulan mainan di Genius Baby Rent. untuk mainan stroller dia sewakan seharga Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu, boks bayi Rp 85 ribu hingga Rp 125 ribu, highchair Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, sepeda roda tiga untuk usia satu hingga tiga tahun disewakan Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu, carseat Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu.
“Ada juga mainan anak-anak untuk balita usia dua hingga lima tahun Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga sewa ini sesuai jenis mainan dan berapa lama sewanya. Karena untuk mainan kami juga menyewakan sepekan dan satu bulan. Kami juga menjual pakaian anak yang harganya sekitar Rp 50 ribu. Tapi ini hanya untuk sampingan, karena fokus saya menyewakan perlengkapan bayi dan anak,” jelas perempuan kelahiran Semarang itu.
Meski tempat usahanya sudah pindah, Indah juga mengaku masih kedatangan pelanggan-pelanggan lamanya. Pada hari-hari biasa Genius Baby Rent yang buka mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Pada hari biasa sekitar kurang lebih lima pelanggan datang untuk menyewa. Berbeda saat weekend, pelanggan yang datang bisa mecapai 15 orang per hari.
“Sedangkan untuk hari-hari besar, Natal, tahun baru, atau Lebaran bisa lebih ramai lagi. Jadi perlu pesan terlebih dahulu sebelum menyewa,” ujarnya.
Dari hasil menyewakan perlengkapan bayi dan anak, omzet Indah dalam satu bulan sekitar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta. Dia juga berencana menambah stroller dan baby box karena lebih sering disewa pelanggan. Selain itu Indah juga ingin menambah mainan anak dan membuka paket sewa mainan untuk ulang tahun yang hitungannya per hari.
Kirana Jaya, Pusat Servis Laptop dan Komputer di Kudus yang Memberikan Layanan Sehari Jadi dan Bergaransi
![]() |
| Dua orang teknisi memeriksa laptop milik pelanggan di pusat servis komputer dan lapto Kirana Jaya. Foto: Rabu Sipan |
Penjual Es Puter Ini Pernah Menolak Tawaran Berjualan di Restoran, dan Memilih Tetap Keliling Menggunakan Gerobak
![]() |
| Narto melayani pembeli es puter di Jl Wachid Hasyim di Kudus. Foto: Rabu Sipan |
Dia mengaku mulai berjualan es puter di Kudus sekitar 30 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1986. Selama berjualan di Kudus dia sudah memiliki banyak pelanggan, itu terbukti dagangan es puternya selalu terjual habis setiap hari. Oleh karena itu dia menolak tawaran untuk berjualan di restoran.
Mohdirono Sarbo, Pemilik Rumah yang Dulu Digunakan Sebagai Markas Pasukan Macan Putih
![]() |
| Edy Supratno (kaos orange) sedang menceritakan sejarah Pasukan Macan Putih Muria di depan Monumen Komando Macan Putih. Foto-foto: Imam Arwindra |
Rumah tersebut, menurutnya juga sebagai tempat merencanakan penyerangan pasukan Belanda. “Untuk kebutuhan makanan mereka (pasukan) disediakan oleh warga sekitar yang mayoritas menjadi petani. Hal tersebut juga tergambar pada relief di Monumen Komando Macan Putih,” ungkapnya sambil menunjuk kearah gambar dua orang petani yang memberikan bungkusan kepada beberapa tentara.
Menurut Edy, Mohdirono Sarbo pemilik rumah sekaligus pewakaf tanah untuk monumen sampai sekarang belum mendapatkan apresiasi dari pemerintah Kabupaten Kudus. Dia berharap, pemerintah Kabupaten Kudus dapat mengapreasiasinya dan menjaga bangunan monumen agar selalu terawat. “Mari kita mendoakan Mohdirono Sarbo dan semangat menghargai jasa para pahlawan,” tuturnya mengajak para peserta untuk berdoa.
![]() |
| Peserta kegiatan Melacak Jejeak Pertempuran Muria. |
Dia menjelaskan, sebelum ke Monumen Komando Macan Putih, dirinya bersama murid Omah Dongeng Marwah juga sempat mengunjungi makam Kapten Ali Mahmudi yang berada di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati. Selain itu juga menonton film Macan Putih Muria yang dibuat murid Omah Dongeng Marwah di SDN 01 Plukaran. “Filmnya tadi bercerita tentang pasukan Macan Putih Muria. Menurut cerita di film, sebelum Pasukan Macan Putih dipimpin oleh Mayor Kusmanto, pasukan tersebut di pimpin oleh Kapten Ali Mahmudi,” jelasnya.

















































