Beranda blog Halaman 1933

Seren, Penjual Opak Berjalan Kaki Keliling Kudus, Berangkat dari Blora Menumpang Truk

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Lelaki tua mengenakan caping dan dan bersandal jepit terlihat sedang melangkahkan kakinya di jalan Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Di memikul dua kantong plastik besar berisi ribuan kerupuk opak. Pria tersebut bernama Seren (50), yang menjual kerupuk opak keliling berjalan kaki di Kudus. Dari tempat tinggalnya Blora menuju Kudus, dia menumpang truk. 

penjual kerupuk opak di kudus
Seren berjalan kaki di Jalan Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, menjual kerupuk opak. Foto Rabu Sipan

Setelah jauh melangkah, Seren memutuskan untuk beristirahat. Di sela istirahatnya itu dia sudi berbagi kisah tentang daganganya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan mulai berjualan kerupuk opak sejak sekitar delapan tahun yang lalu. Dan setiap berangkat dari daerah asalnya, Blora, ke daerah tempat tujuan untuk berjualan, termasuk di Kudus, Seren selalu naik truk.
“Aku selalu numpang truk dari pada naik bus untuk menuju daerah yang akan aku jadikan tempat menjajakan kerupuk opakku. Selain lebih murah, bak truk juga luas hingga tidak berdesakan. Selain itu truk tersebut tidak pernah ngetem mencari penumpang lain,” ujar Seren kepada beberapa waktu lalu.
Pria yang sudah dikaruniai dua putra tersebut mengatakan, untuk memberhentikan truk agar mau ditumpangi hingga ke tempat tujuan tidaklah gampang. Butuh kesabaran, karena tidak semua truk yang dia berhentikan mau berhenti. Kalau pun ada yang mau berhenti biasanya arah dan tujuan daerahnya tidak sama. Bahkan di hari tersebut untuk memberhentikan truk yang bersedia ditumpangi ke kudus dia harus menunggu sampai tiga jam.

Pria yang mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah formal tersebut mengatakan, berangkat dari Blora naik truk bersama enam rekanya sesama pedagang. Namun yang berjualan ke Kudus hanya dirinya. Setelah truk sampai di lampu merah Ngembal Rejo, Bae, dia turun.
“Setelah turun dari truk di lampu merah Desa Ngembal, aku lalu berjalan keliling menjual kerupuk opak yang aku bawa. Alhamdulillah selama berjalan menawarkan daganganku dari Ngembal Rejo sampai Pedawang aku sudah mendapatkan sekitar Rp 30 ribu,” ujar Seren.
Dia mengaku membawa sekitar 1.500 kerupuk opak yang dia kemas menjadi 250 bungkus. Setiap kemasan berisi enam kerupuk opak yang dia jual dengan harga Rp 2 ribu per bungkus.
Dia mengungkapkan, selama delapan tahun berjualan kerupuk opak, tidak pernah daganganya tersebut terjual habis dalam sehari. Biasanya untuk menjual habis ratusan bungkus kerupuk opak yang dia jual, Seren membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Bahkan saat malam datang diakunya dia sering menginap di balai desa, atau pun musala.
“Jika nanti kerupuk opak yang aku bawa terjual habis aku bisa mendapatkan uang sekitar Rp 500 ribu. Tapi, karena kerupuk opak milik tetangga kampung yang aku jual ini, biasanya aku hanya menerima uang sisa sekitar Rp 150 ribu,” ujar Senen yang mengaku berangkat berjualan sepekan dua kali saja.
   
- advertisement -

Siswi Sekolah di Rahtawu Ini Tak Menyangka Raih Aktris Utama Terbaik Festival Teater Pelajar 2016

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Ratusan peserta dan penonton final Festival Teater Pelajar berkerumun di depan panggung utama menunggu hasil penilaian juri di GOR Djarum Kaliputu, Kota Kudus (20/11/2016) malam. Saat pembawa acara mengumumkan kategori Aktris Utama Terbaik tingkat SMP, terlihat seorang perempuan yang disebut namanya masih terdiam dan melihat ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya teman-teman yang di sampingnya bersorak ketika nama Teater NSA SMP 3 Satu Atap disebut.

aktris utama terbaik festival teater pelajar
Wahyu Ningtyas menerima penghargaan Aktris Utama Terbaik Festival Teater Pelajar 2016. Foto: Ahmad Rosyidi

Wahyu Ningtyas (15), peraih Akris Utama Terbaik, mengaku tidak menyangka bisa terpilih. Saat pembawa acara menyebut namanya, dia mengaku masih melihat ke kanan dan ke kiri karena sempat tidak percaya namanya disebut. Setelah pemeran dalam lakon Bundo, nama teater dan sekolahnya disebut, baru dia menyadari memang benar dirinya memenangkan kategori itu.

“Saya tidak menyangka bisa terpilih sebagai kategori aktris utama terbaik. Saat disebutkan Ayu Ningtyas, masih saya kira orang lain tadi. Tentu saya sangat bahagia dan bersyukur, semua tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, teman-teman teater juga pastinya,” jelas Wahyu dia akrab disapa.

Wahyu juga menjelaskan, tahun lalu dirinya belum mendapat kategori terbaik, jadi dia mengira tahun ini juga tidak dapat lagi. Ini kali kedua dirinya ikut kegiatan Festival Teater Pelajar Djarum Foundation Bakti Budaya. Selain itu Wahyu juga mengaku sudah pernah tiga kali pentas di lain acara serupa, jadi dirinya sudah terbiasa di atas panggung.

Selain mendapat kategori Aktris Utama Terbaik, Wahyu juga sangat senang karena teater NSA dari SMP 3 Satu Atap, Rahtawu, Gebog, Kudus, mendapat beberapa kategori yang lain. “Saya sangat bersyukur teater NSA bisa dapat kategori sebanyak ini, semoga ini bisa menjadi motivasi untuk kami agar lebih baik lagi kedepannya,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara itu.

Untuk kategori teater terbaik tingkat SMP, terbaik satu dimenangkan Teater Negeri Satu Atap (SNA) dari SMP 3 Satu Atab, terbaik dua dimenangkan Teater Espero dari SMP 2 Kudus, Terbaik Tiga Teater Ukur SMP MTs NU Maslakul Falah. Sutradara Terbaik tingkat SMP dimenangkan oleh Sugiarto dari Teater SNA.

Sedangkan untuk Aktor Utama Terbaik dimenangkan Khoirul Anam Teater SNA, Aktris Utama terbaik dimenangkan Wahyu Ningtyas teater SNA, aktor pembantu terbaik dimenangkan M Reksa Nur Eldin teater Espero, aktris pembantu terbaik dimenangkan Nurul Marisa teater SNA, dan penata artistik terbaik dimenangkan Sugiono S,E dari teater SNA.

Dan Kategori terbaik tingkat SMA, Terbaik Satu dimenangkan teater Apotek dari SMK Duta Karya, terbaik dua dimenangkan teater Studio One dari SMA 1 Kudus, terbaik tiga teater Jangkar Bumi dari MA Qqudsyyah. Sutradara terbaik tingkat SMA dimenangkan oleh Yasir dari teater Studio One, Aktor Utama Terbaik dimenangkan Arjuna Aqnianto W Teater Apotek, Aktris Utama terbaik dimenangkan Bella Kusuma P teater Studio One.

Untuk Aktor Pembantu Terbaik dimenangkan Dwi Aji Leksono teater Apotek, aktris pembantu terbaik dimenangkan Shela Khotijatul Muna teater X-Miffa dari SMK NU Miftahul Falah, dan penata artistik terbaik dimenangkan M Fadli Mubarok teater Apotek.

- advertisement -

Tiga Juri Final Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Sempat Kesulitan Memilih Pemenang

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Gemuruh tepuk tangan dan triakan terdengar saat pembawa acara mengumumkan pemenang sejumlah kategori pada Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Bakti Budaya di GOR Djarum Kaliputu, Kota Kudus, (20/11/2016) malam. Usai pengumuman selesai, sejumlah orang nampak bergerombol dan melakukan selebrasi bersama kelompoknya. 

pemenang festival teater pelajar 2016
Juri bersama pemenang Festival Teater Pelajar 2016 berfoto bersama usai pengumuman. Foto-foto: Ahmad Rosyidi

Di dalam ruangan GOR, terlihat seorang pria yang sedang berdiri menatap tawa gembira anggota kelompok teater yang diumumkan sebagai pemenang. Dia adalah Gunawan Maryanto (40), yang menjadi juri di kegiatan Festival Teater Pelajar 2016.

Gunawan begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait proses penentuan pemenang. Dia bersama Ine Febriyanti dan Agus Syarofuddin yang menjadi juri lainnya, katanya, sempat kesulitan menentukan kategori terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA. Karena semua tampil dengan bagus, sehingga persaingan untuk tingkat SMA menjadi sangat ketat.

“Kami sempat kesulitan untuk menentukan kategori terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA. Semua bagus, energi dan atmosfernya dapat, persaingan menjadi ketat. Karena harus memilih tiga terbaik, akhirnya dengan beberapa pertimbangan kami pilih tiga terbaik meski sebenarnya semua baik,” ungkap warga Sleman, Jogja itu.

juri festival teater pelajar 2016
Juri final Festival Teater Pelajar 2016. 

Baca juga: Berteater Itu Keren Menggema pada Pelaksanaan Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Bakti Budaya

Gunawan juga mengaku banyak pelajaran yang bisa dia ambil dari sembilan pementasan pada babak final Festival Teater Pelajar tahun ini. Dia selalu belajar dari setiap pementasan yang dia lihat, karena setiap pementasan pasti ada kekurangan dan kelebihan yang bisa dia jadikan pelajaran. Gunawan menyukai seni sejak kecil, dia juga sangat suka melihat pertunjukan yang dirasa sangat bermanfaat karena bisa mendapat ilmu baru.

“Saya sejak kecil suka dengan seni, ayah saya seorang seniman, pemain ketoprak. Jadi memang sudah dikenalkan dengan seni oleh ayah saya sejak saya kecil. Tapi untuk serius di teater saya mulai tahun 1992,” ujar Gunawan.

Ine Febriyanti yang juga menjadi juri Festival Teater Pelajar, mengungkapkan, perkembangan teater di Kudus terbilang sangat pesat. Menurutnya sudah jauh lebih baik jika dibandingkan animo masyarakat saat dirinya ke Kudus tahun 2013 pada acara yang sama. Dia juga menyarankan pelaku teater di Kudus untuk terus berlatih, menambah wacana, bisa dari Youtube, bisa juga belajar ke Jogja atau ke Jakarta.

Juri bersama penyelenggara Festival Teater Pelajar 2016.

“Saya berteater mulai usia 21 tahun. Kalau teman-teman sudah berteater sejak SMP atau SMA berarti teman-teman sudah satu langkah lebih maju dari saya. Teman-teman bisa belajar berteater di mana saja, bisa dari diri kita sendiri dan dari budaya kita,” jelasnya.

Agus Syarofuddin menegaskan, berteater bukan soal kalah dan menang. Namun berteater merupakan proses untuk memperbaiki diri. Berteater juga harus kapan harus apa, dia sangat bangga melihat peserta tetap beribadah saat waktunya beribadah, karena teater itu mulia dan memberkahi.

“Saya terharu, tidak pernah terbayang teater di Kudus bisa sebesar ini. Dan harus diingat, berteater bukan soal kalah menang, tetapi untuk proses memperbaiki diri,” tegasnya.

- advertisement -

Etika Tak Tahan Ingin Berselfie di Depan Stand Booth Festival Teater Pelajar 2016 Dajarum Foundation

0
SEPUTARKUDUS.COM – KALIPUTU – Seorang wanita berjilbab coklat terlihat bergaya di depan stand booth bersama seorang pria. Tangan kanan perempuan bernama Etika Rohmah itu memegangi smartphone. Dia sedang mengabadikan momen saat menonton final final Festival Teater Pelajar 2016 GOR Djarum, Desa Kaliputu, Kecapatan Kota.

selfie festival teater pelajar
Penonton final Festival Teater Pelajar 2016 mengabadikan momen di depan stand booth. Foto: Rabu Sipan

Usai berselfie bersama temannya, perempuan yang biasa disapa Etika tersebut sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan datang ke acara  Final Festival Teater Pelajar 2016 pada pukul 13.00 WIB karena diundang seniornya yang menjadi tim juri acara tersebut. Karena acaranya belum dimulai, dia berfoto selfie bersama temannya.
“Dari pada bingung mau ngapain, saya selfie saja. Acara pementasanya belum dimulai, aku mengajak temanku untuk berselfie di stand booth. Booth yang disediakan panitia memang menggoda, saya tak tahan ingin berselfie,” ujar Etika sambil tertawa.
Warga Kalinyamatan, Jepara, itu mengatakan selain mendapatkan undangan dari seniornya sesama pelaku seni teater, dia juga penasaran ingin melihat aksi para pelajar Kudus berteater. Mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang tergabung di Teater Beta tersebut menuturkan, berteater itu tidak hanya sekadar gerak dan melontarkan kata. tetapi harus ada penjiwaan peran yang dijalaninya. Menurutnya tetaer merupakan sebagai media ekspresi dan berkarya.
Perempuan yang sudah menekuni teater sejak masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas (SMA) tersebut berharap, acara serupa sering diadakan. Jangan hanya di Kudus tapi juga di daerah lainya di Jawa Tengah dan diadakan secara bergilir.
“Aku berharap acara Festival Teater Pelajar sering diadakan, agar para pelajar makin tertarik dan semangat untuk berteater, kalau bisa jangan hanya di Kudus tetapi juga daerah lainnya. Karena berteater mengajari kita untuk hidup jujur, bertanggung jawab, menghargai orang lain, membuat kita semakin cerdas, religius, riang serta bahagia, dan yang jelas berteater itu keren,” jelasnya.
Festival Teater Pelajar 2016 yang diadakan oleh Teater Djarum sudah memasuki final yang diadakan dua hari, Sabtu (19 /11/2016) dan Minggu (20/11/2016). Final akan mementaskan lima kelompok teater, antara lain, Teater Ukur dari MTs NU Maslakul Falah, Teater Espero dari SMP 2 Kudus, Teater Negeri Satu Atap dari SMP 3 Satu Atap Gebog, Teater Jangkar Bumi dari Ma Qudsiyyah dan Teater Sate Madu dari MAN 2 Kudus.
Pada final hari kedua akan empat kelompok akan tampil, antara lain Teater Ganesha dari SMA 2 Kudus, Teater Apotek dari SMK Duta Karya, juga ada Teater X – Miffa dari SMK NU Miftahul Falah, dan Teater Studio One dari SMA 1 Kudus.
- advertisement -

Berteater Itu Keren Menggema pada Pelaksanaan Festival Teater Pelajar 2016 Djarum Foundation Bakti Budaya

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Ratusan orang beriap di depan panggung yang telah ditata lengkap dengan setting lampu di dalam GOR Djarum, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu (19/11/2017). Mereka tengah menunggu penampilan kelompok teater pada Final Festival Teater Pelajar 2016. Kali ini, penyelenggara menggaungkan jargon Berteater Itu Keren dalam acara yang diselenggarakan setiap tahun tersebut.

final festival teater pelajar djarum foundation 2016
Peserta tampil dalam final Festival Teater Pelajar 2016 yang diselenggarakan Djarum Foundation Bakti Budaya di GOR Djarum, Kaliputu, Kota, Kudus. Foto-foto: Ahmad Rosyidi

 Di sela kesibukannya sebagai koordinator juri dalam Festival Teater Pelajar 2016 yang diselenggarakan Djarum Foundation Bakti Budaya, Asa Jatmiko (40) sudi berbagi penjelasan tentang jargon Berteater Itu Keren. Jargon itu diangkat agar pelaku teater di Kudus lebih bersemangat dan dunia teater lebih berkembang lagi.

Kata keren dalam jargon itu, kata Asa, tidak bermaksud kemewahan. Justru sebaliknya, berteater menunjukkan martabat, harga diri, mentalitas, kepribadian, tanggung jawab dan disiplin.

“Kami ingin terus menyerukan Berteater Itu Keren, agar semangat berteater di Kudus lebih berkembang lagi. Karena makna keren berteater bukan keren dalam arti kemewahan,” jelas pria kelahiran Purbalingga itu.

Asa Jatmiko (kanan) berbincang dengan Acong saat final Festival Teater Pelajar 2016. 

Dia merasa sangat senang dengan peningkatan teater di Kudus, khususnya teater pelajar. Oleh karena itu Asa ingin terus mendukung dan memberi lebih banyak ruang untuk mereka berekspresi agar teater di Kudus bisa terus berkembang.

Menurut Asa, perkembangan teater lima tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang terus meningkat. Tentu dia dan pelaku seni teater di Kudus akan terus mendukung. Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun ini peningkatan teater di Kudus terbilang paling pesat. 

“Pada penyelenggaraan Festival Teater Pelajar sebelumnya pada 2015, jumlah peserta festival tingkat SMP ada 5 kelompok dan tingkat SMA ada 23 kelompok. Sedangkan pada tahun ini, peserta tingkat SMP ada 11 kelompok dan SMA ada 26 kelompok,” tuturnya.

Dalam kegiatan Festival Teater Pelajar, Asa menjelaskan tujuan utama bukan pada kompetisi, tapi lebih pada pengalaman, apresiasi, dan motivasi. Selain itu pihaknya ingin terus memberikan pendampingan serta dukungan untuk perkembangan teater yang ada di Kudus.

“Ini juga pertama kali kami menggarap panggung dan lighting secara serius, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kami berharap peserta bisa terkesan dan merasa bangga pernah berada di panggung yang besar untuk mereka berekspresi,” ungkap pria dua anak itu.

Ketua Penyelenggara Fetival Teater Pelajar 2016, Sudarmono (33) mengungkapkan, kegiatan serupa sudah digelar sejak 2008. Tahin ini merupakan yang kesembilan kalinya. Kali ini penyelenggara memilih tema “Cerita Dan Dongen Rakyat Nusantara”. Dengan tema tersebut, dia berharap pelajar di Kudus lebih mengenal dan bangga dengan budaya Indonesia.

Acong, begitu Sudarmono akrab disapa, merinci sembilan kelompok teater pelajar yang lolos masuk ke final. Empak kelompok di antaranya tampil pada final hari pertama (19/11/2016). Empat kelompok itu antara lain Teater Ukur dari MTs NU Maslakul Falah, Teater Espero dari SMP 2 Kudus, Teater Negeri Satu Atap dari SMP 3 Satu Atap Gebog, Teater Jangkar Bumi dari Ma Qudsiyyah dan Teater Sate Madu dari MAN 2 Kudus. 

“Sedangkan pada hari kedua (20/11/2016), ada Teater Ganesha dari SMA 2 Kudus, Teater Apotek dari SMK Duta Karya, Teater X – Miffa dari SMK NU Miftahul Falah, dan Teater Studio One dari SMA 1 Kudus,” kata bapak satu anak tersebut.

Dia menjelaskan, beberapa kategori yang masuk kategori penilaian juri antara lain, penataan artistik terbaik, aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, aktris pembantu terbaik, dan sutradara terbaik. Selain itu, juri juga akan memilih teater terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMP, dan teater terbaik satu, dua dan tiga untuk tingkat SMA.

Untuk penilaian final Festival Teater Pelajar kali ini, katanya, penyelenggara mempercayakan tiga juri untuk menilai tahap final, antara lain Ine Febriyanti, Gunawan Maryanto, dan Agus Syarofuddin. Sedang pada tahap seleksi yang diselenggarakan pada 31 Oktober hingga 9 November 2016, dipercayakan pada Jumari HS, Jesi, dan Warih Bayu, untuk tingkat SMP. Dan untuk tingkat SMA juri dipercayakan pada Kanzunudin, Asa Jatmiko dan Agus Syarofuddin.

- advertisement -

Dulu Sumiah Bisa Menjual 90 Es Balok Sehari, Sekarang Dia Hanya Bisa Menjual 30 Balok Karena Ada Es Kristal

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di tepi utara Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di seberang pintu keluar pusat perbelanjaan Swalayan Ada, terlihat seorang perempuan memakai jilbab sedang memegangi gancu tampak terampil memotong es balok. Di sebelahnya seorang pria berkaus lengan panjang warna hitam sedang menungguinya. Perempuan tersebut bernama Sumiah (55), penjual es balok yang mengaku beberapa tahun terkhir penjualanya menurun karena banyaknya persaingan.   

penjual es balok di kudus
Sumiah sedang memotong es balok untuk pembeli yang datang ke lapaknya. Foto: Rabu Sipan

Setelah  es balok yang terpotong dan dibawa pembeli, Sumiah duduk menunggu pelangganya yang lain. Di sela istirahatnya, Sumiah sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan berjualan es balok mulai tahun 1975. Menurutnya, menjual es balok sekarang tidak selaris dulu. Selain beberapa orang yang membuka usaha serupa, ada lagi saingan lain yakni es kristal dan es yang dibuat di kulkas.
“Sejak banyak persaingan, penghasilan menjual es balok banyak mengalami penurunan, bahkan turunya lebih dari 50 persen. Karena selain usaha serupa ada juga saingan yang lain yakni penjual es batu jenis lain, yakni es kristal dan es batu yang dibuat di kulkas. Bahkan banyak pelanggan tidak lagi membeli es balok ditempatku karena sudah memiliki kulkas sendiri,” ungkap Sumiah kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Perempuan yang tercatat sebagai Warga Kelurahan Purwosari tersebut mengatakan, sebelum banyak persaingan dia bisa menjual sekitar 90 es balok setiap hari. Menurutnya jumlah tersebut naik dua kali lipat pada musim kemarau dan saat tradisi Dandangan digelar.

Tapi sejak banyaknya persaingan, perempuan janda tersebut mengaku hanya mampu menjual es batu sekitar 30 balok pada hari biasa. Dan saat musim kemarau dan saat ada tradisi Dandangan, Sumiah bisa menjual sekitar 80 es balok. “Meskipun hitunganya per balok, aku tetap melayani jika para pelanggan membeli bentuk potongan,” ujarnya
Perempuan yang sudah dikaruniai tujuh anak dan lima cucu tersebut mengatakan, dirinya mendapatkan es balok dari pabrik es Kota Kretek yang berada di depan Rumah Sakit Mardi Rahayu. Es yang dia jual dikirim dari pabrik sekitar pukul 04.00 WIB. Kemudian mulai buka pukul 06.00 WIB, es balok tersebut diantarkan kepada para pelanggan oleh seorang pekerjanya.
“Biasanya pihak pabrik menaruh es balok di lapak sesuai pesananku. Mereka akan datang lagi pada pukul 15.00 WIB di hari yang sama untuk mengambil uang es balok yang dikirim. Meskipun es balok datang fajar dan bayar pada waktu Ashar, aku tetap membayar penuh semua es balok yang dikirim. Entah semua es balok tersebut habis terjual maupun tidak,” ujar Sumiah.

Dia menuturkan, setiap pekerjaan pasti ada risikonya, begitu juga dengan usahanya tersebut. Risiko yang sering dia hadapi saat hujan turun. Hampir bisa dipastikan es yang dia jual tidak laku. “Untuk menyiasati hal tersebut biasanya aku mengandalkan ilmu titen untuk membaca cuaca serta menentukan pesanan es balok, agar tidak kebanyakan dan terhindar dari rugi,” ujarnya.

  

- advertisement -

Delapan Tahun Berjualan Kerajinan di Makam Sunan Muria, Sutigo Tetap Bersyukur Meski Dagangannya Tak Laris

0

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Sejumlah benda kerajinan tampak di sebuah lapak yang tertata rapi di samping tangga menuju Makam Sunan Muria. Terlihat seorang pria memakai kaus merah sedang membersihkan kerajinan yang dijualnya. Sutigo (40), nama pria tersebut. Dia sudah delapan tahun menekuni usahanya berjualan kerajinan berbahan kayu itu. Meski hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya sehari-hari, dia tetap beryukur.

jual kerajinan di makam sunan muria kudus
Sugito sedang menata barang kerajinan yang dijualnya di lapak tepi jalan menuju Makam Sunan Muria, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Saat menuggu pembeli datang, Sutigo sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, dirinya belum bisa mengejar keinginannya untuk hidup yang lebih baik. Meski demikian dia merasa lebih menikmati pekerjaannya saat ini jika dibanding pekerjaan sebelumnya merantau ke Jakarta dan jauh dari keluarga.

“Hasil dari menjual kerajinan seperti ini cuma cukup untuk menghidupi keluarga, tapi saya merasa bersyukur. Saya lebih menikmati pekerjaan saat ini dibanding merantau seperti dulu,” ungkap pria dua anak itu.

Meski sering sepi, Sutigo merasa bersyukur karena lapak yang di depan rumahnya tidak perlu membayar sewa. Dia juga bisa ke rumah dan bertemu keluarga kapanpun dia mau. Hal itu sangat berbeda dengan sembilan tahun lalu saat masih merantau.

Sambil membersihkan dan merapikan dagangannya, dia merinci harga produk yang dia jual. Untuk jam dinding dia jual seharga Rp 175 ribu hingga Rp 190 ribu, tempat minum air mineral gelas Rp 180 ribu, tempat tisu Rp 90 ribu, kotak amal Rp 115 ribu, rekal Rp 85 ribu, tempat HP Rp 65 ribu, guci Rp 260 ribu hingga Rp 600 ribu, lampu kamar Rp 130 ribu, lampu ruang makan Rp 150 ribu.

“Hiasan lafadz sepasang Rp 250 ribu, herley Rp 145 ribu, andong Rp 160 ribu, vespa Rp 65 ribu, nampan Rp 70 ribu hingga 100 ribu, asbak Rp 20 ribu hingga 70 ribu, lumpang Rp 40 ribu, dan untuk pijat Rp 35 ribu. Semua terbuat dari kayu jati, kecuali asbak yang paling murah, lumpang, tongkat dan untuk pijat, terbuat dari kayu mahoni, jadi harganya lebih murah,” jelasnya.

Sutigo membuka lapaknya mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Dia membukanya setiap hari kecuali ada halangan yang mengharuskan dia tutup. Barang dagangan Sutigo diambil dari Bojonegoro, Jawa Timur. Setiap sebulan sekali dirinya didatangi sales. Kecuali saat ramai seperti bulan Syura dan Maulud dia bisa menghubungi sales untuk datang dua kali dalam satu bulan.

- advertisement -

Saat Hujan Turun, Pemilik Lextrie Sticker di Purwosari Ini Tolak Pelanggan yang Datang Memasang Stiker dan Skotlet

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Beberapa kios tampak berjajar di tepi selatan Jalan Kudus – Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Di halaman satu kios tampak seorang pria bertopi hitam tampak cekatan memasang sekotlet pada sepeda motor matik. Pria itu bernama Triaji Husodo (51), pemilik toko Lextrie Sticker yang menjual aneka stiker dan skotlet.

Triaji Husodo (51), pemilik toko Lextrie Sticker, di  Jalan Kudus – Jepara, Kelurahan Purwosari. Foto: Rabu Sipan

Seusai memasang skotlet pada motor matik milik pelangganya, sambil duduk di bangku pria yang akrab disapa Tri tersebut sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, saat cuaca sedang panas dia bisa kerepotan melayani para pelanggan yang ingin memasang skotlet di motor mereka. Namun saat hujan turun tak satu pun orang yang datang untuk pemasangan stiker dan soktlet. Kalau pun ada yang datang, dia justru menolak.

“Untuk menjaga kualitas serta agar tidak mengecewakan para pelanggan, aku memang menolak pemasangan skotlet saat para pemilik motor datang dengan kendaraanya tersebut dalam keadaan basah. Soalnya jika dipaksakan hasilnya juga akan jelek, kecuali jika mereka hanya membeli sekotlet atau stiker saja tanpa masang, itu tetap aku layani,” kata Tri kepada Seputarkudus.com
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Prambatan, Kecamatan Kaliwungu tersebut mengatakan, dalam sehari bila cuaca cerah dia bisa ngeblok penuh menggunakan skotlet pada dek atom motor sekitar lima sepeda motor. Menurutnya untuk ongkos pengeblokan disesuaikan dengan body motor para pelanggan.

Dia lalu merinci harga pemasangan stiker dan skotlet di tempatnya. untuk motor matik dan motor sport dia hargai Rp 100 ribu sampai 150 ribu. Kecuali untuk sepeda motor matik berukuran bongsor dia mengenakan tarif Rp 250 ribu. Sedangkan untuk pemasangan skotlet tidak penuh atau untuk stripping dek motor  saja dia tarif dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu per sepeda motor.
“Harga tersebut merupakan harga skotlet maupun ongkos pemasangan sedangkan untuk harga skotletnya saja aku jual per meter. Untuk skotlet biasa dengan ukuran 100 sentimeter kali 45 sentimeter aku jual dengan harga Rp 20 ribu. Sedangkan untuk skotlet yang bisa menyala saat kena cahaya ditempat gelap dengan ukuran sama aku hargai Rp 70 ribu,” ujarnya.
Pria yang sudah dikaruniai dua putra tersebut mengatakan, berbeda dengan skotlet, untuk stiker katanya, para pelanggan biasanya hanya membeli dan memasangnya sendiri. Dia mengaku menjual aneka macam setikernya dengan harga mulai Rp 500 sampai Rp 17.500.
Tri mengatakan, dia berjualan di kiosnya dari Sabtu sampai Kamis mulai pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB. Karena di musim penghujan penjualan dan pemasangan setiker maupun skotlet menurun, kata Tri lalu dia melengkapi kiosnya dengan gantungan kunci, rokok, minuman dalam kemasan botol serta jas hujan.

“Aku sengaja melengkapi kiosku dengan aneka barang di kios. Karena saat cuaca cerah banyak para pelanggan datang untuk membeli setiker maupun pemasangan skotlet  pada motornya. Sedangkan jika saat turun hujan, biasanya jas hujan di kiosku laris terjual. Bahkan sehari aku bisa menjual 10 pcs dengan harga berkisar antara Rp 55 ribu sampai Rp 100 ribu,” jelasnya.

- advertisement -

Meski Ngos-ngosan, Rombongan Peziarah dari Madura Ini Tetap Semangat Menapaki Tangga Makam Sunan Muria

0

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Sejumlah pria berpeci tampak berjalan ngos-ngosan menaiki tangga menuju makam Sunan Muria. Mereka adalah rombongan peziarah dari Madura, dari Pondok Pesantren Ar-Rohmany Al-Ishqy. Satu di antara peziarah itu, yakni Abdullah Ubaid (22). Meski capek menaiki tangga menuju makam, dirinya tetap semangat bersama rombongan dan merasa seru.

Peziarah asal Madura berjalan menapaki tangga menuju Makam Sunan Muria. Foto: Ahmad Rosyidi

Ubaid, begitu dia akrab disapa, mengaku baru pertama kali berziarah ke Kudus. Meski kelelahan dan butuh perjuangan untuk sampai ke Makam Sunan Muria, dia tetap semangat karena tidak ingin kalah dengan rombongan wanita yang sudah berjalan terlebih dahulu. Selain itu Ubaid juga ingin melihat pemandangan dari atas setelah sampai area makam.

“Sangat capek, tapi seru ada tantangan sebelum sampai makam. Meski lelah tapi saya tidak mau kalah dengan rombongan wanita yang sudah berjalan di depan. Saya juga ingin lihat pemandangan dari atas nanti, sepertinya bagus,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Sambil ngos-ngosan, Ubaid merinci beberapa tempat wali yang sudah mereka kunjungi. “Ampel, Kediri, Bonang, Demak, dan Kudus. Sebagian saya lupa, saya sih tinggal iktu saja,” jelasnya.

Tak lama beristirahat, rombongan Ubaid disusul rombongan yang sebelumnya berada di belakangya. Imam Bukhori (23), panitia ziarah mengatakan, rombongan ziarah dari Madura kali ini menggunakan empat bus dan ada sekitar 240 orang yang ikut. Kurang lebih sekitar 150 santri putri dan 90 santri putra.

Selain itu, Imam menjelaskan, rombongannya berencana berziarah ke 11 tempat jika waktu yang ditentukan panitia cukup. “Kami berencana hingga Kamis malam, jika waktunya cukup rencananya kami ke 11 tujuan. Setelah dari Kudus kami ke Sunan Drajat, Jawa Timur,” ungkapnya.

Imam juga mengaku baru pertama kali ziarah ke makam Sunan Muria. Selain pemandangannya bagus, katanya, lingkungan makam udaranya juga sejuk. Tetapi dia belum tau ingin membeli oleh-oleh apa nantinya, karena banyak pedangan Imam merasa bingung, dan belum tau oleh-oleh apa yang khas dari makam sunan muria.

- advertisement -

Penjual Mebel Asal Jepara Ini Selalu Pindah-Pindah Tempat, Saat Melihat Lokasi yang Cocok Langsung Jualan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, seorang pria berkaus merah duduk di deretan kursi. Sejumlah kursi di antaranya masih terbungkus kertas. Saji (48), nama pria tersebut, penjual mebel keliling yang berpindah-pindah kota. Warga Jepara itu telah berjualan di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan Jakarta.

mebel keliling
Saji, penjual mebel keliling di Jalan Lingkar Utara, Peganjaran, Bae, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Saat sedang menunggu pembeli datang, Saji sudi berbagi cerita tentang usahanya itu kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mebel yang dia jual tersebut dibuat di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. Dia berjualan bersama pemilik produk mebel tersebut. Setiap berangkat, dia membawa 15 set kursi dan meja.

“Sekali berangkat kami membawa 15 set kursi dan meja menggunakan mobil pikap. Biasanya kami berjualan selama tiga hingga lima hari, dan berpindah-pindah kota,” ujar Saji. 

Dia mengaku pindah dari satu daerah ke daerah lain saat malam hari. Mereka tidak menentukan daerah mana yang akan dituju untuk berjualan. Mereka berhenti dan menggelar dagangan, saat ada tempat yang dinilai cocok untuk berjualan. “Kami tidak tentu berjualan di mana, sesuka hati lah untuk memilih kota mana yang kami tuju,” ungkapnya.

Saji mengaku terkendala saat musim hujan seperti ini. Karena dirinya tidak bisa berjualan saat hujan turun. Selain tidak ada pembeli, dirinya juga khawatir kualitas produk mebel yang dijual tidak bagus karena rusak terkena hujan.

Dia menjelaskan, untuk harga satu set kursi dan meja dijual seharga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Produk mebel yang dijual ada yang berbahan kayu jati, kayu mahoni, dan kayu waru. Selain berjualan keliling, mereka juga menerima pesanan. Harga produk disesuaikan kualitas kayu juga tingkat kesulitan produksi.

“Kami juga menerima pesanan, untuk harga kami sesuaikan kualitas kayu dan tingkat kesulitannya. Jadi harganya beragam, bisa kami sesuaikan budget pemesan.” jelas pria tiga anak itu.

Saat asyik menjelaskan, datang seorang pria yang keluar dari warung di dekat Saji membuka lapak. Pria itu Sukarno, pemilik mebel yang dijual Saji. Dia mengatakan, hanya bisa membawa 15 set meja dan kursi saat berjualan keliling. 

“Kami membawa mobil pikap, jika tidak pandai menata muatannya pasti tidak bisa membawa banyak. Selain itu juga bisa rusak barangnya,” tambah Sukarno sambil menunjukan mobil pikap warna putih miliknya.

- advertisement -

Kecewa Beli Boks Motor Berkualitas Buruk, Rider Asal Sunggingan Ini Temukan Ide Bisnis Menjual Boks Impor

0
SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di tepi timur Jalan Kyai Telingsing, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, tampak toko dengan dinding luar berwarna kuning. Di dalam toko seorang pria berkaus merah sedang menata beberapa boks warna hitam. Pria tersebut bernama Ulil Albab (25), yang setahun terkahir ini berjualan boks untuk aksesoris sepeda motor.

jual boks motor di kudus
Ulil menunjukkan boks motor yang diklaim tahan banting dan tahan lama di tokonya, Jalan Kyai Telingsing, Kudus. Foto: Rabu Sipan 

Di sela aktivitasnya, pria yang biasa disapa Ulil itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sejak lulus SMA hingga masuk perguruan tinggi di Semarang, Ulil mengaku menyukai kegiatan touring menggunaka sepeda motor. Dan sejak itu dia memasangi motornya dengan boks sebagai aksesoris maupun sebagai tempat peralatan mekanik motor dan pakaian selama touring.
“Sejak menyukai touring motoku ku pasangi boks yang saya beli di Kudus. Namun pada saat itu boks yang aku beli tidak ada yang berkualitas bagus. Jangankan setahun, boks yang saya beli biasanya delapan bulan sudah pecah. Karena alasan tersebut lalu aku menjual boks dengan kualitas impor yang kuat dan awet hingga tujuh tahun,” ujarnya.
Pria lajang tersebut mengatakan, boks aksesoris motor yang dia jual merupakan barang impor dengan kualitas bagus, tahan banting dan tidak mudah pecah. Lalu dia pun mengambil satu di antara boks yang sudah lama lalu dia banting, benar saja boks tersebut tidak retak maupun pecah. “Padahal ini boks sudah lama jangankan pecah, retak pun tidak ada sama sekali,” jelasnya sambil memperlihatkan boks ditanganya.

Ulil lalu merinci merk boks yang dia jual, yang menurutnya produk buatan Eropa. Merek boks itu di antaranya Divi, Kappa, dan Shad. Menurutnya dia mendapatkan barang tersebut dari distributor pemilik ketiga merk tersebut di Jakarta. Namun setelah temannya di Solo menjadi reseller, tiga merek tersebut dia diajak kerjasama untuk menjual boks tersebut di Kudus.
Pria yang merupakan anak terakhir dari dua bersaudara tersebut menjual boks aksesoris motor dengan harga Rp 650 ribu sampai Rp 1,5 juta pder boks. Selain boks dia juga menjual besi braket sebagai tempat boks tersebut, yang dia jual dengan harga Rp 170 per braket.
“Setiap pembelian satu paket yang terdiri dari satu boks dan satu braket aku beri potongan harga serta masih aku berikan sarung tangan dan masker. Apalagi bila membeli dalam jumlah banyak, potongan harganya pun lebih besar,” ungkap Ulil.

Pria yang sudah lulus kuliah sejak tahun 2014 itu mengaku tidak memungut biaya pemasangan braket maupun boks yang dibeli darinya. Karena menurutnya itu bagian dari pelayananya untuk para pelanggan. Ulil mengatakan setiap bulan dia bisa menjual antara lima boks sampai 20 boks.
“Dari penjualan boks aksesoris motor, braket, aku bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 2 juta sebulan. Aku berharap pelangganku akan semakin bertambah karena penjualan boks dengan merk Givi, Kappa, dan Shad di Kudus, Demak, Jepara, dan Pati, dipercayakan pada saya,” ungkap Ulil 

- advertisement -

Ide Bisnis Bisa Muncul dari Mana Saja, Seperti Indah yang Mendirikan Genius Baby Rent Karena . . .

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Sejumlah mainan anak terlihat di ruko di tepi Jalan Pramuka, Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak seorang perempuan sedang menulis di meja dekat tangga, dengan sejumlah mainan dan pakain anak terlihat di sampingnya. Perempuan itu adalah Indah Wulandari (33), pemilik Genius Baby Rent, tempat penyewakan perlengkapan bayi dan anak di Kudus.

Indah sapaan akrabnya, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang usaha persewaan perlengkapan bayi dan anak tersebut. Usaha itu bermula dari mainan anaknya yang sering dipinjam teman. Dari itu dirinya menemukan ide untuk membuka usaha yang sudah dijalankannya selama lima tahun terakhir ini. Dia merasa pertumbuhan bayi cukup cepat, dan alat yang digunakan juga akan cepat berganti.

“Saya merasakan sendiri, seperti anak saya yang mudah bosan dengan mainannya. Jadi dari mainan anak saya yang dipinjam teman, saya menemukan ide untuk membuka tempat penyewaan perlengkapan bayi dan mainan anak ini,” tutur ibu tiga anak itu.

Dia juga mengatakan,sekitar enam bulan ini dia membuka persewaan peralatan bayi dan anak di Melati Lor. Sebelumnya Indah membuka usahanya selama kurang lebih lima tahun di Desa Burian, Kota, Kudus. Barang-barang yang disewakannya dia beli dari Jakarta dan Batam. Kadang dia juga mendapat pesanan perosotan untuk mainan anak-anak di taman kanak-kanan (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Sambil menunjukkan mainan anak-anak yang dia sewakan, Indah merinci harga sewa per bulan mainan di Genius Baby Rent. untuk mainan stroller dia sewakan seharga Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu, boks bayi Rp 85 ribu hingga Rp 125 ribu, highchair Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, sepeda roda tiga untuk usia satu hingga tiga tahun disewakan Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu, carseat Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Ada juga mainan anak-anak untuk balita usia dua hingga lima tahun Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga sewa ini sesuai jenis mainan dan berapa lama sewanya. Karena untuk mainan kami juga menyewakan sepekan dan satu bulan. Kami juga menjual pakaian anak yang harganya sekitar Rp 50 ribu. Tapi ini hanya untuk sampingan, karena fokus saya menyewakan perlengkapan bayi dan anak,” jelas perempuan kelahiran Semarang itu.

Meski tempat usahanya sudah pindah, Indah juga mengaku masih kedatangan pelanggan-pelanggan lamanya. Pada hari-hari biasa Genius Baby Rent yang buka mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Pada hari biasa sekitar kurang lebih lima pelanggan datang untuk menyewa. Berbeda saat weekend, pelanggan yang datang bisa mecapai 15 orang per hari. 

“Sedangkan untuk hari-hari besar, Natal, tahun baru, atau Lebaran bisa lebih ramai lagi. Jadi perlu pesan terlebih dahulu sebelum menyewa,” ujarnya.

Dari hasil menyewakan perlengkapan bayi dan anak, omzet Indah dalam satu bulan sekitar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta. Dia juga berencana menambah stroller dan baby box karena lebih sering disewa pelanggan. Selain itu Indah juga ingin menambah mainan anak dan membuka paket sewa mainan untuk ulang tahun yang hitungannya per hari.

- advertisement -

Kirana Jaya, Pusat Servis Laptop dan Komputer di Kudus yang Memberikan Layanan Sehari Jadi dan Bergaransi

0
SEPUTARKUDUS, GLANTENGAN – Di tepi uatara Jalan Veteran tepatnya di Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tampak beberapa motor terparkir di halaman ruko. Di dalam terlihat dua orang pria sedang mengutak – atik laptop yang berjajar di atas meja. Di belakang kedua pria tersebut tampak beberapa central processing unit (CPU) komputer rusak berjajar di lantai. Tempat tersebut yakni toko Kirana Jaya, pusat servis laptop dan komputer yang memberikan layanan sehari jadi.

servis laptop di kudus
Dua orang teknisi memeriksa laptop milik pelanggan di pusat servis komputer dan lapto Kirana Jaya. Foto: Rabu Sipan

Menurut Rahmat Qubailal Fitri ( 33), penanggung jawab toko Kirana Jaya mengatakan, sejak mulai dibuka toko yang dia kelola menawarkan pembenahan laptop dan komputer dengan waktu secepat mungkin. Namun servis tetap menggunakan ketelitian serta kecermatan agar laptop yang diperbaiki tidak rusak lagi dan tentu tidak mengecewakan pelanggan.
“Meskipun diperbaiki dengan waktu yang relatif cepat, tapi hasil servis di Kirana Jaya bisa diandalkan, serta bergaransi. Untuk perbaikan laptop maupun komputer kami memberikan garansi selama sebulan. Sedangkan untuk garansi spare part yang diganti di sini kami memberikan garansi lebih lama yakni selama setahun,” kata pria yang akrab disapa Fitri kepada Seputarkudus.com
Pria yang tercatat sebagai warga Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota, itu merinci beberapa kerusakan laptop dan komputer yang biasa diperbaiki di Kirana Jaya. Di antaranya, kerusakan program, keyboard, hardisk, LCD,  main board dan lain sebagainya.

Lalu dia pun merinci biaya servis laptop. Untuk kerusakan keyboard biaya servis dibanderol Rp 150 ribu hingga350 ribu, hardisk dan LCD masing – masing Rp 350 ribu hingga Rp 750 ribu. Sedangkan untuk main board Rp 250 ribu sampai RP 900 ribu. “Semua harga tersebut tergantung dari kerusakan serta seri dari masing – masing spare parts,” ujarnya
Pria yang mengaku masih lajang tersebut mengatakan, di toko Kirana Jaya bisa menyervis sekitar 10 laptop maupun komputer setiap hari. Dia juga menuturkan, di tempat kerjanya tersebut memberikan layanan gratis untuk pengecekan laptop maupun komputer, meskipun urung diservis di toko yang dia kelola.
Fitri mengatakan toko Kirana Jaya buka setiap Senin hingga Sabtu. Dia juga mengungkapkan selain menerima servis di tokonya tersebut, Kirana Jaya juga menerima servis laptop maupun komputer panggilan.

Untuk menunjang aktivitas dan pelayanan kepada para pelanggan, Kirana Jaya mempekerjakan lima orang yang dibagi menjadi dua sift. Mereka digaji sesuai keahlihan dan masa kerja selama di toko Kirana Jaya. Serta masih mendapatkan beberapa bonus. “Setiap pekerja di Toko Kirana Jaya selalu mendapatkan bonus setiap bulanya. Bonus diberikan sebagai penyemangat agar pekerjanya semakin giat,” ungkapnya      
    
- advertisement -

Penjual Es Puter Ini Pernah Menolak Tawaran Berjualan di Restoran, dan Memilih Tetap Keliling Menggunakan Gerobak

0
SEPUTARKUDUS, DEMAAN – Seorang lelaki tua mengenakan caping di kepala tampak mengayuh gerobak berwarna hijau di Jalan KH Wachid Hasyim tepatnya di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Di atas gerobak bagian depan terdapat bejana yang selalu tertutup. Pria tersebut bernama Narto Diyono (61), penjual es puter di Kudus. Dia pernah menolak tawaran berjualan di restoran dan memilih tetap berjualan keliling menggunakan gerobak. 

penjual es puter di kudus
Narto melayani pembeli es puter di Jl Wachid Hasyim di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Setelah beberapa kayuhan pedal, pria yang akrab disapa Narto tersebut berhenti karena ada seorang anak perempuan beseragam SD (sekolah dasar) membeli es puter miliknya. Seusai melayani pembeli, Narto sudi berbagi kisah tentang daganganya tersebut. 

Dia mengaku mulai berjualan es puter di Kudus sekitar 30 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1986. Selama berjualan di Kudus dia sudah memiliki banyak pelanggan, itu terbukti dagangan es puternya selalu terjual habis setiap hari. Oleh karena itu dia menolak tawaran untuk berjualan di restoran.

“Karena es puter daganganku selalu terjual habis dan aku juga sudah memiliki banyak pelanggan di Kudus, aku menolak tawaran itu. Pada tahun 2000 ada seorang warga Tionghoa yang menawari agar aku bersedia menjual es puter di restoran miliknya, di Semarang,” ungkap Narto kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Menurut pria asal Sukoharjo tersebut, selain alasan pelangganya di Kudus, tawaran pemilik restoran itu dinilai tak menguntungkanya. Karena habis atau tidaknya es puter yang dia jual di restoran menjadi tanggunganya sendiri.

“Kalau menjadi tanggunganku sendiri, mendin aku berjualan keliling di Kudus, sudah memiliki pelanggan dan jelas hasilnya. Kecuali jika setiap hari aku diminta untuk mengirim es puter ke restoran tersebut aku bersedia. Setiap es puter yang aku kirim harus dibayar, entah di sana laku apa tidak,” ujarnya.
Narto mengungkapkan membuat sendiri es puter yang dia jual dengan bahan – bahan alami. Di antaranya santan kelapa, gula pasir, dan garam. Menurutnya daganganya tersebut tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan, jadi sangat aman untuk dikonsumsi semua usia.
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak serta dua cucu tersebut mengatakan, menjual es puternya dengan harga Rp 5 ribu seporsi. Dan jika semua daganganya itu habis terjual dia mengaku bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 400 ribu sehari.
Dia menuturkan selama di Kudus dia bersama temanya sesama pedagang mengontrak di Desa Mlati Lor, Kota, dengan harga sekitar Rp 3 juta setahun. Dia berangkat berjualan setelah Dzuhur hingga pukul 21. 00 WIB.
“Aku berangkat berjualan setiap hari, sekitar pukul 12. 30 WIB aku mulai berangkat berjualan keliling sampai 17.00 WIB. Sedangkan selanjutnya sampai pukul 21. 00 WIB aku mangkal di dalam Taman Bojana, tepatnya di ujung bagian timur,” jelasnya
Narto menambahkan, istrinya berjualan jamu gendong di Kudus. Tetapi istrinya tinggal di Kecamatan Dawe, bersama saudaranya. “Meskipun sama – sama di Kudus, aku dan istriku jarang ketemu, paling pas mau pulang ke Sukoharjo,” Kata Narto yang sebulan sekali pulang ke kampung halamanya bersama istrinya.        
  
- advertisement -

Mohdirono Sarbo, Pemilik Rumah yang Dulu Digunakan Sebagai Markas Pasukan Macan Putih

0
SEPUTARKUDUS.COM, GLAGAH KULON – Sejumlah mobil angkutan warna kuning dan motor terlihat terparkir di sisi jalan depan tembok warna hijau, Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus. Di dalamnya terdapat tugu berbentuk gunung dengan tinggi sekitar 245 sentimeter. Pada tugu terdapat relief kepala harimau, pedang dan bambu runcing yang menyilang serta tulisan Markas Komando Daerah Muria.

monumen komando macan putih muria
Edy Supratno (kaos orange) sedang menceritakan sejarah Pasukan Macan Putih Muria di depan Monumen Komando Macan Putih. Foto-foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno, bangunan tersebut dulu rumah Mohdirono Sarbo yang digunakan untuk Markas Komado Milter Daerah Muria. Saat itu pasukan Belanda berhasil menduduki pusat pemerintahan Kabupaten Kudus. “Daerah Muria meliputi (Kabupaten) Kudus, Pati dan Jepara,” ungkapnya saat ditemui pada kegiatan Melacak Jejak Pertempuran Muria yang diadakan oleh Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) dan Omah Dengeng Marwah, Minggu (13/11/2016).
Di depan puluhan anggota Omah Dongeng Marwah dan peserta kegiatan, dia menceritakan, setelah pasukan Belanda mulai menduduki pusat pemerintahan, pasukan yang dijuluki Macan Putih melakukan gerilya dan tinggal di rumah-rumah warga. Menurut Edy, pasukan pimpinan Mayor Kusmanto tinggal di rumah warga Glagah Kulon yang bernama Mohdirono Sarbo. 

Rumah tersebut, menurutnya juga sebagai tempat merencanakan penyerangan pasukan Belanda. “Untuk kebutuhan makanan mereka (pasukan) disediakan oleh warga sekitar yang mayoritas menjadi petani. Hal tersebut juga tergambar pada relief di Monumen Komando Macan Putih,” ungkapnya sambil menunjuk kearah gambar dua orang petani yang memberikan bungkusan kepada beberapa tentara.

monumen komando macan putih muria

Dikatakan Edy, monumen tersebut dibuat sekitar tahun 1970 dan hingga sekarang belum direnovasi. Dari pantaun Seputarkudus.com, pagar tembok yang mengelilingi monumen sudah mulai rusak dan catnya mengelupas. Di bagian tugu juga terlihat retakan-retakan pada sisi samping dan belakang. Di sisi belakang tugu ada ruangan yang dihuni semut dan laba-laba yang menurut Edy, dulu digunakan untuk menaruh arsip. “Arsipnya sudah diambil Kodim,” tambahnya.

Menurut Edy, Mohdirono Sarbo pemilik rumah sekaligus pewakaf tanah untuk monumen sampai sekarang belum mendapatkan apresiasi dari pemerintah Kabupaten Kudus. Dia berharap, pemerintah Kabupaten Kudus dapat mengapreasiasinya dan menjaga bangunan monumen agar selalu terawat. “Mari kita mendoakan Mohdirono Sarbo dan semangat menghargai jasa para pahlawan,” tuturnya mengajak para peserta untuk berdoa.

komandan pasukan muria ali mahmudi
Peserta sedang mengunjungi makam Kapten Ali Mahmudi di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati.

Dalam kegiatan Melacak Jejak Pertempuran Muria, kordinator Jenank Danar Ulil mengungkapnya, dirinya bersama anggota lain mengajak anak muda di Kudus untuk peduli dengan tempat-tempat bersejarah di Kudus. Menurutnya, dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah akan menambah pengetahuan sejarah yang ada di Kudus. “Ini juga sekaligus sebagai cara menjaga tempat-tempat bersejarah di Kudus,” ungkapnya setelah kegiatan selesai.

Jenank dan omah dongeng marwah
Peserta kegiatan Melacak Jejeak Pertempuran Muria.

Dia menjelaskan, sebelum ke Monumen Komando Macan Putih, dirinya bersama murid Omah Dongeng Marwah juga sempat mengunjungi makam Kapten Ali Mahmudi yang berada di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati. Selain itu juga menonton film Macan Putih Muria yang dibuat murid Omah Dongeng Marwah di SDN 01 Plukaran. “Filmnya tadi bercerita tentang pasukan Macan Putih Muria. Menurut cerita di film, sebelum Pasukan Macan Putih dipimpin oleh Mayor Kusmanto, pasukan tersebut di pimpin oleh Kapten Ali Mahmudi,” jelasnya.

- advertisement -