Beranda blog Halaman 1934

Yotin Pahabol, Beswan Djarum Asal Papua Sangat Antusias Belajar Membatik di GOR Jati PB Djarum Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI – Ratusan mahasiswa dari sejumlah kampus di Indonesia memasuki GOR Jati PB Djarum Kudus, Senin (14/11/2016) siang. Setelah menikmati makan siang di tribun, mereka bergegas ke lokasi tengah lapangan yang telah tersedia peralatan membatik. Mahasiswa tersebut yakni para penerima beasiswa Djarum Foundation 2016-2017, yang tengah mengikuti acara Membatik Bersama Beswan Djarum.

Beswan Djarum Membatik
Mira (berkebaya) mengajari sejumlah peserta Membatik Bersama Beswan Djarum di GOR Jati Djarum Kudus, Senin (14/11/2015). Foto-foto: Ahmad Rosyidi

Suara gamelan dan lantunan tembang Jawa mulai menggema di dalam GOR, saat semua mahasiswa duduk di depan peralatan membatik. Sejumlah penari muncul dari replika Gapura Bajang Ratu di panggung utama. Para penari itu membawakan Tari Prajurit Majapahit sesuai dengan tema kegiatan tersebut, “Gema Bumi Palapa”.

Satu di antara ratusan beswan yang ikut membatuk, yakni Yotin Pahabol (20). Mahasiswa asal Universitas Papua tersebut terlihat antusias saat acara batik dimulai. Kepada Seputarkudus.com, Yotin, begitu pria asal Manokwari, mengaku sangat senang bisa belajar membatik di acara itu.

“Ini pertama kali saya membatik. Ini sangat menarik. Saya merasa beruntung bisa belajar membatik di acara ini,” ujar Yotin sambil menggoreskan canting berisi lilin cair ke atas kain putih.

Dalam acara tersebut, penyelenggara memilih Batik Majapahit untuk dipraktikkan beswan. Ada dua bentuk pola batik yang di sajikan pada selembar kain putih yang diterima semua peserta. Dua bentuk pola tersebut yakni gambar Gapura Bajang Ratu dan Surya Majapahit. Setelah mencoba membatik dua pola tersebut, Yotin mengaku ingin belajar lagi suatu hari nanti.

“Ini gambar dari Majapahit ya? Suatu saat saya ingin membatik gambar khas daerah saya di Papua. Saya ingin mengembangkan batik di tanah kelahiran saya,” ujarnya.

Di tengah ratusan peserta Membatik Bersama Beswan Djarum, ada seorang perempuan berkebaya memegang mikrofon di tangannya. Dia tak lain pembimbing di acara tersebut. Namanya Miranti Serad, Pembina Batik Kudus, yang akrab disapa Mira. 

Sesekali perempuan tersebut menghampiri peserta yang sedang belajar membatik. Tak hanya mengarahkan peserta, dirinya juga dengan sabar mengajari peserta yang kebanyakan asing dengan seni menggambar di atas kain itu. 

Usai acara digelar, Mira sudi berbagi informasi kepada Seputarkudus.com tentang kegiatan yang diselenggarakan tersebut. Menurutnya, dipilihnya Batik Majapahit untuk memberikan makna dan hakikat kebangsaan dan kebhinekaan, agar Beswan Djarum memetik nilai positif dari  Kerajaan Majapahit, bangga atas budaya bangsanya serta aktif menjadi pelaku  budaya.

“Motif yang dibuat Gapura Bajang Ratu dan Surya Majapahit. Kami berharap mahasiswa bisa mewarisi nilai-nilai kebudayaan dan bangga terhadap warisan leluhur. Kami juga berharap mereka mau menjadi pelaku budaya dengan semangat  personal social responsibility, di manapun mereka berkarya segala kearifan lokalnya,” kata Mira. 

Menurut Mira, kegiatan yang mengangkat kebudayaan Indonesia ini setiap tahun berganti tema dengan mengambil corak ragam budaya di tanah air. Kegiatan ini sudah menginjak tahun ke-5. Sebelumnya,  membatik Papua, Kalimantan, Bali, pesona Ambon Manise, dan sekarang Majapahit. 

Mira menuturkan acara Membatik Bersama Beswan Djarum itu dibuka dengan tarian prajurit Majapahit dan tarian sumpah palapa. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda mewarisi jiwa pemberani dan tidak mudah dipecah belah, tidak mudah menyerah guna membangun Indonesia yang digdaya yang dibutuhkan dalam kondisi bangsa saat ini.

Dalam acara membatik, beswan disediakan canting, gawangan, wajan, kompor dan sejumlah peralatan lainnya. Selain didampingi siswa siswi SMK Raden Umar Said, mereka juga mendapat bimbingan dari Mira.

Mira menjelaskan, jumlah beswan yang mengikuti acara membatik sebanyak 525 mahasiswa. Mereka merupakan mahasiswa terpilih dari setiap kampus yang ada di 88 Universitas seluruh Indonesia. Acara ini merupakan agenda tahunan yang selalu digelar. Setiap tahun pihaknya memilih tema dan batik yang berbeda, namun tetap dalam semangat kebudayaan, kebangsaan dan kebhinekaan.

Acara membatik ini, merupakan bagian dari culture visit yang dilakukan beswan Djarum ke Kudus. Sebelum membatik, mereka telah berkunjung ke sejumlah tempat di Kudus. Di antaranya ke Menara Kudus dan Djarum Oasis Kudus. Acara culture visit merupakan rangkaian acara Nation Building yang diselenggarakan pada 14-15 November.        

Setelah acara tersebut, beswan Djarum akan mengikuti sejumlah kegiatan di Semarang. Pada puncak acara Nation Building, para penerima beasiswa akan mengikuti Malam Dharma Puruhita di Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan (PRPP) Semarang.

- advertisement -

Busiri Ketagihan Ngopi di Warung Pertigaan Kaliputu Karena Bisa Bermain Catur Sepuasnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Papan catur berukuran besar terlihat di tepi jalan Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Papan catur tersebut tepat di samping warung kopi, yang juga menyediakan makanan serta minuman lainnya. Dua orang lelaki tampak asyik duduk berhadapan di depan papan catur tersebut. Satu di antara lalaki itu, Busiri. Dia mengaku betah ngopi sambil main catur di warung tersebut.

warung menyediakan papan catur
Sejumlah orang bermain catur yang disediakan pemilik warung di Kaliputu, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Busiri sehari-hari bekerja sebagai seorang sopir. Saat bermain catur itu dia sedang tidak bekerja. Kepada Seputarkudus.com dia mengatakan, daripada di rumah tak ada kegiatan, dirinya memilih mengisi waktu bermain catur di warung yang letaknya di pertigaan Desa Kaliputu arah Desa Bacin, Kecamatan Bae, tersebut. 

“Saya sering ke sini (warung) saat tidak ada pekerjaan. Daripada di rumah tidak ada kegiatan, saya ke sini untuk bermain catur. Biasanya saya nyetir, ini kebetulan sedang tidak ada job,” ungkap warga Desa Bacin itu.

Di dalam warung itu terlihat seorang perempuan sedang menata nasi bungkus yang dijual. Dia adalah Nurul Hidayah (53), pemilik warung yang menyediakan enam papan catur untuk pelanggannya. Menurutnya, dengan adanya papan catur di warungnya itu, banyak pelanggan setia yang datang ngopi sambil bermain catur.

Hidayah mengungkapkan catur yang dia sediakan di warungnya dipesan suaminya dari Jepara. Ide untuk menempatkan papan catur di warungnya, berawal dari suaminya yang suka bermain catur. Dengan begitu, banyak pelanggan yang datang untuk bermain catur sekaligus membeli minuman dan makanan yang dia jual.

“Suami saya hobi bermain catur, jadi disediakan catur di warung. Ternyata ini cukup efektif menarik pengunjung. Suami saya yang menjadi kepala desa (Kaliputu) juga ke sini membantu saya setelah bekerja. Biasanya, kata Hidayah, pelanggan banyak berdatangan untuk bermain catur sekitar pukul 14.00 WIB hingga 17.30 WIB,” ungkap Hidayah.

Sambil menata dagangannya, Hidayah juga merinci harga makanan yang dijualnya. Nasi bungkus dia jual seharga Rp 2 ribu, gorengan Rp 1.000, kerupuk Rp 500, telur asin Rp 3 ribu, telur puyuh Rp 2.500, susu kedelai Rp 1.500, bolu Rp 1.000 dan brownis Rp 1.000.

“Selain itu juga ada Kopi Jetak, Kopi Lasem, teh botol, dan air mineral. Kebanyakan makanan di sini titipan, saya bikin nasi bungkusnya saja,” jelas ibu tiga anak itu.

Dia juga mengungkapkan hasil berjualan dari warung yang dibukanya mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 200 ribu per hari. Meski kadang masih ada sisa nasi, Hidayah mengaku masih ada keuntungan dari daganannya yang lain. Nasi yang tersisa biasanya diberikan tetangganya di rumahnya.

- advertisement -

Fais Butuh Tujuh Tahun Belajar di Jepara, Sebelum Membuka Usaha Jasa Servis Jok di Getas Pejaten

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi timur jalan di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak bangunan yang di dalamnya terlihat puluhan sarung jok tergantung pada seutas tali. Di bawahnya seorang pria memakai kaus putih sedang membuat jok sepeda motor. Pria tersebut bernama Nor Fais (36), yang sudah menekuni servis jok selama 16 tahun.

servis jok motor di kudus
Nor Fais memperbaiki jok motor dari pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Fais itu sudi berbagi kisah tentang usaha yang ditekuninya. Dia mengatakan memulai usaha servis jok pada tahun 2007. namun dia sebelumnya terlebih dulu ikut pamanya yang mempunyai usaha serupa di Pecangaan, Jepara.
“Setelah lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama) aku tidak melanjutkan sekolah lagi karena tidak ada biaya. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih di Sekolah Dasar (SD). Lalu pamanku mengajakku ke Jepara untuk membantu serta diajari olehnya sebagai tukang servis jok sepeda motor,” kata Fais kepada Seputarkudus.com.
Menurut pria yang tercatat sebagai warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, meskipun membantu dan diajari selama tujuh tahun, dia selalu digaji setiap bulan. Fais pun mengaku selama bekerja ikut pamannya tersebut selalu diberi motivasi agar kelak dia tidak terus ikut pamanya, tetapi bisa mendirikan usaha sendiri.

“Selama ikut paman, selain bisa memberi uang kepada ibu untuk membantu biaya ke tiga adiku yang masih sekolah, aku juga selalu menabung. Itu saya lakukan agar kelak aku bisa membuka usaha sendiri seperti yang selalu dinasihatkan paman terhadapku,” ujarnya.
Setelah tabunganya terkumpul, kata Fais, dia lalu izin kepada pamannya untuk membuka usaha. Pria yang sudah dikaruniai dua putra tersebut mengaku, sebenarnya ingin membuka usaha servis jok di tepi Jalan KHR Asnawi, Kudus. Namun karena di sana tidak mendapat tempat dia memutuskan untuk membuka usaha di Getas Pejaten. 
Pada awal memulai usaha, dia hanya membayar tempat tersebut seikhlasnya. Sekitar enam bulan pertama, setelah dirinya banyak pelanggan, dia menyewa tempat tersebut dengan harga sekitar Rp 1,5 juta setahun.
Fais menjelaskan, dirinya menerima segala jenis servis yang berhubungan dengan jok sepeda motor. Di antaranya, ganti kain jok yang dia hargai antara Rp 35 ribu hingga Rp 60 ribu. Sedangkan untuk ganti busa dan atom plastik, masing-masing dia hargai Rp 85 ribu. Untuk mengganti satu set jok sepeda motor harganya sekitar Rp 200 ribu. 

Dia mengungkapkan,  tempat usahanya buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. “Dengan jam kerja tersebut aku bisa membenahi sekitar lima jok sepeda motor, dan mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 200 ribu sehari. selain servis jok sepeda motor aku juga melayani servis sofa,” ujarnya
  
- advertisement -

Rejenu Tidak Hanya Ada Air Tiga Rasa, Tapi Juga Ada Air Lima Rasa, Air Terjun dan Gua Peninggalan Jepang

0
SEPUTARKUDUS.COM, JAPAN – Sekitar 500 meter dari makam Syekh Hasan Sadzali, Desa Japan, Kecamatan
Dawe, Kudus, terlihat pepohonan besar tumbuh di sepanjang perjalanan menuju air
terjun di Rejenu. Tebing-tebing yang ditumbuhi pepohonan memantulkan cahaya matahari dari arah barat saat sore. Suara gemercik
air menyambut siapa saja ke lokasi air terjun tersebut.

Air terjun rejenu kudus
Pengunjung mengabadikan momen di air terjun Rejenu, tak jauh dari makam Syekh Hasan Sadzali, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Terlihat tebing setinggi
17 meter lebih mengelilingi lokasi air terjun. Saat itu debit air yang jatuh tidak
terlalu deras. Saat sejumlah pengunjung datang, laki-laki berkaus dan berkopyah menyapa mereka. Laki-laki tersebut bernama Sarno. Dia sempat menjelaskan tentang air terjun Rejenu. 

Dia mengungkapkan,
banyak yang tidak tahu tentang air terjun Rejenu. Menurutnya, saat berkunjung
ke Rejenu pasti yang diketahui air tiga rasa dan Makam Syekh Hasan Sadzali. “Paling
tahunya air tiga rasa dan makam saja (Syekh Hasan Sadzali),” ungkapnya saat ditemui di
perjalanan menuju air terjun Rejenu Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus belum
lama ini.
Sarono yang juga Pengurus Makam Syekh Hasan Sadzali
mengungkapkan, air terjun Rejenu yang jaraknya sekitar 500 meter dari makam Syekh Hasan Sadzali ke arah timur. Dia
juga memberitahukan, ke atas sedikit juga ada air lima rasa, gua Jepang dan air
terjun lagi. “Pasti banyak yang belum tahu,” tuturnya sambil tersenyum.

air terjun rejenu kudus

Selain itu, katanya, pengunjung juga bisa menikmati pecel pakis dan
kopi Japan, kuliner khas daerah sekitar. Menurutnya, untuk menuju air lima rasa,
air terjun dekat dengan gua Jepang, pengunjung masih harus berjalan kaki menuju
ke atas tidak lebih dari satu kilometer. “Di sana juga ada makam Syekh Subakir dan
Ali Murtadho,” tambahnya.
Kepada Seputarkudus.com dia mengungkapkan, kondisi alam di Rejenu masih alami. Menurutnya, tumbuhan-tumbuhan besar di antaranya pohon berkat, meringin dan meranak masih tumbuh subur. Selain itu, ada juga
spesies kera yakni lutung yang juga hidup di kawasan Rejenu. “Jumlahnya
(Lutung) ada 50 lebih, “ imbuhnya.

Dia menambahkan, Rejenu juga merupakan pos pendakian
terakhir Puncak Argowiloso maupun Argojembangan. Di sekitar makam Syekh Sadzali Rejenu juga terdapat beberapa
warung makan. Di dekat warung, terdapat tempat parkir dengan dipenuhi sejumlah
pria memakai rompi ojek sedang menunggui penumpang.

- advertisement -

Bagi Anak-Anak Ini, Mbah Khamsin dan Mbah Rudipah Pembuat Caping Kalo, Pahlawan Masa Kini

0
SEPUTARKUDUS.COM, GULANG – Seorang lelaki tua terlihat dikerubungi anak-anak di rumah tembok yang masih terlihat batu
batanya. Lelaki renta itu tersenyum tipis saat seorang laki-laki berkaus putih
menyerahkan piagam penghargaan yang dibingkai menggunakan kaca. Lelaki renta tersebut yakni Khamsin, pembuat caping kalo pakaian adat Kudus. Dia menerima piagam penghargaan dari Omah Dongeng Marwah karena telah berjasa melestarikan identitas budaya
Kudus.

Khamsin mendapat penghargaan dari Omah Dongeng Marwah karena jasanya melestarikan caping kalo pakaian adat Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Pria berkaus putih yang menyerahkan piagam yakni Edy Supratno, pimpinan di Omah Dongeng Marwah. Dia mengatakan, dirinya bersama anak didik datang ke rumah Khamsin sekaligus memperingati Hari Pahlawan. Menurutnya, Khamsin termasuk pahlawan karena jasanya yang melestarikan caping kalo pakaian adat Kudus. 

“Kami memang memilih tanggal 10 November, karena bagi kami Khamsin seorang pahlawan. Dia telah berjasa melestarikan caping kalo,” ungkapnya
saat ditemui di rumahnya Khamsin, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Rudipah (kiri) menerima penghargaan dari perwakilan Omah Dongeng Marwah. 

Dia menuturkan, selain Khamsin, penghargaan juga diberikan kepada Rudipah.
Menurut Edy, Rudipah juga dianggap pahlawan karena juga melestarikan caping kalo sebagai identitas budaya
Kudus. “Seperti
diketahui caping kalo telah menjadi bagian dari identitas budaya Kudus. Kami
menganggap mbah Khamsin dan mbah Rudipah berjasa dalam hal pelestarian
identitas bidaya itu,” jelasnya.
Selain sebagai penghormatan, katanya, penghargaan juga diberikan sebagai kenangan untuk Khamsin dan Rudipah. Selain memberikan penghargaan, puluhan anak yang ikut juga
mencoba membuat caping kalo. Mereka tampak antusias dan serius melihat setiap gerakan Khamsin saat merangkai bagian-bagian caping kalo.

Satu di antara anak didik Omah Dongeng Marwah yang mengikuti kegiatan tersebut, yakni Evina Dwi Setyaningrum (13). Menurutnya,
pembuatan caping kalo sangat susah. Dia sempat mencoba memasang
ukit-ukir pada bagian caping kalo, tapi dia mengalami kesulitan. “Sulit sekali, perlu
belajar terus,” ungkap dara kelahiran 4 Januari 2003.
Menurutnya, dia mau belajar sampai bisa untuk membuat caping
kalo. Dia beralasan, pembuat caping kalo tidak ada penerusnya. Khamsin
merupakan orang terakhir yang bisa membuat caping kalo. “Tadi katanya mbah Khamsin,
dia orang terakhir pembuat caping kalo. Tidak ada yang meneruskan. Makanya aku
mau belajar,” tuturnya.

Vina memberitahukan, yang terlihat paling susah yakni
membuat atasan caping kalo yang disebut sulo. Bentuknya seperti suwiran bambu tipis
yang dianyam. Namun menurut Vina yang membuat sulo bukan Khamsin, melainkan Rudipah. “Yang paling terlihat sulit membuat sulonya.
Namun ya sebenarnya sulit semua,” jelasnya sambil tertawa.

Kepada Seputarkudus.com, Khamsin mengaku senang karena mendapat kunjungan anak-anak di rumahnya. Dia berharap ada generasi penerus yang dapat membuat caping kalo. “Memang perlu
belajar serius. Karena membuat caping kalo tidak mudah,” ungkapnya yang
menggunakan Bahasa Jawa.

- advertisement -

Bosan Jadi Karyawan, Ratna Nekat Buka Toko Burung dan Pakan Agar Kelak Bisa Kuliah

0
SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di tepi barat Jalan Kyai Telingsing, tepatnya di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, tampak sebuah toko yang halamanya terlihat beberapa sangkar burung tergantung pada sebuah kayu. Di bawahnya terlihat seorang wanita memakai kaus garis-garis duduk di bangku panjang terbuat dari bambu. Wanita tersebut bernama Yuliani Ratna Sari (19), yang nekat berwirausaha membuka toko aneka burung, karena sudah bosan jadi karyawan pabrik.

jual pakan burung di kudus
Ratna menunjukkan sangkar burung di toko miliknya. Foto: Rabu Sipan

Sambil duduk dan menunggu para pembeli, Ratna itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, baru sekitar sepekan membuka toko yang menjual aneka burung, pakan burung, sangkar beserta aksesorisnya. Sebelum membuka toko, dia pernah bekerja di pabrik rokok setahun, dan bekerja di pabrik kertas selama sebulan.
“Selama setahun aku bekerja di pabrik rokok dan sebulan aku bekerja di pabrik kertas di Kudus, aku merasa hasil uang yang aku dapatkan segitu saja. Aku juga merasakan kejenuhan karena kerja di pabrik itu penuh dengan aturan. Karena alasan tersebutlah aku memutuskan untuk membuka usaha. Dan bila nanti usahaku sudah berjalan aku ingin melanjutkan kuliah,” kata Ratna kepada beberapa waktu lalu.
Wanita yang masih lajang tersebut mengatakan, dirinya membuka toko dengan menjual aneka burung beserta perlengkapanya, karena terinspirasi kakaknya yang terlebih dulu membuka usaha yang sama. Karena melihat kakaknya berhasil dalam usaha tersebut, Ratna mengaku berani mengeluarkan uang sekitar Rp 35 juta untuk modal.
“Karena terinspirasi kakaku yang sudah terlebih dulu sukses, dan sekarang sudah mempunyai tiga tempat penjualan, aku nekat menyewa tempat dengan harga sewa Rp 6,5 juta sebulan. Sedangkan untuk burung, sangkar, dan pakanya aku tetap minta bantuan kakaku yang sudah berpengalaman. Belanja dan kebutuhan toko tetap memakai uangku sendiri,” ujarnya
Anak keempat dari enam bersaudara tersebut merinci semua harga yang dia jual. Antara lain burung parkit dia jual Rp 50 ribu, kenari Rp 200 ribu, jalak oranye Rp 650 ribu, burung poci Rp 700 ribu plus sangkarnya. Selain burung dia juga menjual sangkar. Untuk sangkar labet kotak dia jual Rp 135 ribu, sangkar labet bundar dia hargai Rp 110 ribu. Sedangkan untuk sangkar kayu dia jual Rp 110 ribu.
Selain beberapa barang tersebut dia juga mengatakan menjual aneka pakan burung, di antaranya jangkrik, kroto, dan aneka pur. Selain itu dia juga menjual obat-obatan untuk burung yang sakit. Di toko tersebut juga terlihat puluhan aksesoris sangkar burung yang menggantung pada dinding toko.
Ratna mengatakan, untuk memenuhi permintaan para pekerja bengkel di sebelahnya, Ratna juga menjual kopi, berbagai macam es, rokok, bensin dan lain sebagainya.
Dia mengaku membuka tokonya tersebut setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Dia juga mengungkapkan, dalam dia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 900 ribu.
“Setelah melihat omzet setiap harinya aku semakin optimistis. Dan bila nanti sudah berjalan aku ingin merekrut karyawan yang bisa dipercaya lalu aku akan  melanjutkan kuliah,” harapnya.
- advertisement -

Amir Faisol Lebih Pede Jadi Instruktur Fitnes Usai Terima Sertifikat Resistance Training Specialist

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Sejumlah kendaraan terlihat terparkir di halaman bangunan bercat hijau di depan Balai Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Di dalam bangunan itu terlihat seorang bertubuh kekar mengenakan kaus merah sedang memberi arahan kepada seseorang yang sedang melakukan fitnes. Pria itu adalah Amir Faisol (35), trainer sekaligus pemilik AMR Fitnes.

AMR Fitnes Kudus
Amir Faisol (kiri) memberikan bimbingan member AMR Fitnes. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Amir tersebut mengatakan, setelah mendapat sertifikat resistance training specialist pada 2013, dirinya menjadi lebih percaya diri dalam memberikan arahan. Selain itu, dia juga merasa pelanggannya lebih yakin pada instruktur yang sudah mendapat sertifikat. 

“Ada banyak gerakan yang sebelumnya saya anggap benar, ternyata masih salah. Setelah ikut tes instruktur di Jogja, saya jadi banyak tahu tentang gerakan fitnes yang benar,” ujar Amir beberapa waktu lalu.

Setelah mendapat sertifikat trainer dari Jogja, Amir kemudian mengikuti tes untuk mendapatkan sertifikat yang khusus untuk pengetahuan nutrisi pada 2014. Sertifikat tersebut dikeluarkan RAI Istitute. “Saya merasa sertifikat resmi seperti ini sangat membantu. Selain membuat saya lebih percaya diri, tentu pelanggan saya juga akan lebih yakin,” ungkap warga Desa Ngagok Lor, Kota Kudus itu.

Amir juga menjelaskan, fitnes hanya membantu 20 persen untuk mendapat tubuh yang ideal dan atletis. Selebihnya 80 persen ditentukan nutrisi. Menurutnya, rata-rata orang yang melakukan fitnes, khususnya wanita, ingin menurunkan berat badan. Karena itu di AMR Fitnes, selain sebagai tempat fitnes juga menawarkan beberapa paket nutrisi untuk menurunkan berat badan.

Dia merinci paket fitnes dan harga yang dibanderol di AMR Fitnes. Untuk paket 10 hari dibanderol Rp 664 ribu, paket satu bulan seharga Rp 2.970 ribu, dan paket tiga bulan Rp 7.583 ribu, serta paket enam bulan, harganya Rp 13.424 ribu. 

“Selain mendapat bimbingan fitnes, member juga mendapat susu pengganti sarapan. Untuk paket tiga bulan dan enam bulan dapat bonus tempat minum,” jelas pria satu anak itu.

Amir mengatakan, paket nutrisi di AMR Fitnes terbilang mahal. Itu semata untuk menjaga kepuasan konsumen dengan hasil yang akan didapatkan. 

Dia juga menambahkan, untuk menurunkan berat badan secara cepat bisa saja dilakukan, tetapi ada risiko yang harus ditanggung. Misalnya badan jadi kendur atau risiko lain.  “Untuk menurunkan berat badan dan membakar lemak secara cepat bisa, tetapi hasilnya tentu kurag baik. Idealnya turun 2 kilogram per bulan, agar hasilnya maksimal dan tetap sehat,” tuturnya.

- advertisement -

Sejak SD Karmiyanto Berjualan Gerabah Keliling Kudus, Meski Hasilnya Tak Seberapa Dia Tetap Bersyukur

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Seorang pria berbaju merah melangkahkan kakinya di Jalan Ahmad Yani sambil memikul dua keranjang berisi beberapa kendi, celengan. Sambil berjalan, pria tersebut memainkan rebana kecil untuk menawarkan daganganya. Pria itu bernama Karmiyanto, yang sejak kelas tiga SD berjalan mengelilingi Kudus untuk menjual kendi, celengan dan rebana kecil.

penjual kendi di kudus
Karmiyanto berkeliling Kudus menawarkan produk gerabah. Foto: Rabu Sipan

Di sela istirahatnya seusai berkeliling, kepada Seputarkudus.com, Karmiyanto sudi berbagi cerita tentang barang yang dia jual. Dia mengatakan setiap hari dia berangkat dari Nalumsari, Jepara pada pukul 7.00 WIB. Dia kemudian naik bus menuju Kudus. Setelah sampai, dia kemudian berkeliling berjalan kaki menjual dagangannya hingga pukul 15.00 WIB.
“Pekerjaan ini sudah aku tekuni sejak aku duduk di kelas tiga SD (sekolah dasar). Meskipun lama aku tekuni, penghasilan dari menjual gerabah ini tidak bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Bahkan untuk melanjutkan sekolah ketiga anakku ke SMP saja aku tidak mampu,” ungkap Karmiyanto belum lama ini.
Pria yang dikaruniai tiga anak tersebut mengatakan, tidak mampu menyekolahkan ketiga anaknya ke SMP karena tidak punya biaya. Dia juga mengaku hasil dari menjual dagangannya tersebut tidak menentu, dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Setiap hari, katanya, dia membawa sekitar delapan kendi, empat celengan, serta sepuluh rebana kecil. Barang yang dia bawa itu selalu tak terjual habis. Seperti saat itu, dia hanya baru menjual dua kendi dan mendapatkan uang Rp 20 ribu.
“Hampir seharian berkeliling menjual dagangan, aku baru mendapatkan uang Rp 20 ribu hasil penjualan dua kendi yang aku jual Rp 10 ribu. Sedangkan untuk celengan yang aku jual dengan harga Rp 10 ribu dan rebana kecil seharga Rp 3 ribu belum ada yang terjual,” kata Karmiyanto.
Dia juga menuturkan, jika hingga pukul 15.00 WIB dia berkeliling dan tidak ada lagi barang yang terjual, uang Rp 20 ribu yang dia dapat hanya bisa untuk ongkos pulang pergi Jepara – Kudus.
Karmiyanto juga tidak memungkiri penjualannya tak setiap hari sepi. Ada kalanya dagangannya tersebut laris dan dia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 70 ribu sehari. Tapi diakuinya sehari mendapatkan uang Rp 70 ribu sehari itu sangat jarang terjadi. Yang sering dia mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu sehari.
Karmiyanto mengungkapkan, barang dagangannya tersebut milik seorang perajin di Jepara. Dia berutang kepada perajin tersebut. Setelah ada yang terjual dia akan membayar keesokan harinya, sekaligus mengambil barang lagi.
“Meski hasil daganganku tidak menentu dan terbilang tidak seberapa, aku tetap bersyukur meskipun hasilnya tidak cukup untuk menyekolahkan ketiga anakku,” ungkap pria yang sudah lama hidup menduda tersebut.
  
  
- advertisement -

Pengunjung Bisa Rasakan Sensasi Menikmati Kopi Japan di Atas Batuan Besar Muara Air Terjun Kedung Gender

0
SEPUTARKUDUS.COM, DUKUHWARINGIN – Ratusan pohon bambu tumbuh di kawasan air terjun Kedung Gender, Desa Dukuhwaringin,
Kecamatan Dawe, Kudus. Jarak lokasi sekitar satu kilometer dari pemberhentian bus
dan pangkalan ojek Makam Sunan Muria. Di tengah rimbunan pohon bambu, air mengalir melaului sela-sela batu besar di sungai. Tampak beberapa orang duduk
bersantai di atas batu-batu besar sambil menikmati segelas kopi dan camilan.

menikmati kopi di air terjun kedung gender kudus
Sejumlah pengunjung air terjun Kedung Gender, Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus, menikmati kompi di bebatuan besar di muara air terjun. Foto: Imam Arwindra

Kebun bambu tersebut, menurut pengelola wisata air terjun
Kedung Gender, Hasanudin (37), milik warga Desa Dukuhwaringin. Pohon bambu dibiarkan tumbuh untuk menambah suasana asri lokasi wisata.
Dia menuturkan, pengunjung dapat bersantai dengan duduk di atas batu sambil
menikmati Kopi Japan dan camilan. 

“Pengunjung dapat bersantai sambil ngopi
di tengah kebun bambu,” ungkapnya saat ditemui di air terjun Kedung Gender,
belum lama ini.

Kepada Seputarkudus.com, dia menjelaskan, pohon bambu di lokasi tersebut berjenis bambu petung
yang berukuran besar dan tinggi. Bambu sengaja dibiarkan tumbuh lebat
untuk menambah keindahan wisata Kedung Gender. Bagi para pengunjung, pengelola
memberikan akses masuk gratis. Pengelola hanya memberikan restribusi parkir Rp
3 ribu yang digunakan untuk pembangunan jalan. “Tapi untuk makan dan minum
bayar sendiri loh ya. Harganya
dibawah Rp 5 ribu semua,” jelas sambil tersenyum.
Menurutnya, restribusi parkir digunakan untuk
membangun akses jalan masuk menuju lokasi air terjun. Pembangunan jalan
dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Desa Dukuhwaringin dan pemuda
yang tergabung dalam Organisasi Pemuda Talang Wesi (Opsi). 

Dia memberitahukan, saat ini pihaknya sedang membangun akses jalan yang lebih dekat untuk
menuju air terjun. Dengan jalan baru ini pengunjung akan bisa memperpendek jarak sekitar 200 meter dibanding akses jalan yang kini tersedia.
“Untuk jalan yang sudah ada memutar. Ini sedang kami buatkan jalan supaya
lebih dekat,” terangnya.

wisata air terjun kedung gender

Wakil Ketua Opsi itu juga menuturkan, selain menikmati
kebun bambu dan air terjun Kedung Gender, pengunjung juga bisa membawa
oleh-oleh berupa kaus. Kaus tersebut
dijualnya dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu. ” Untuk baju ukuran
anak-anak cukup Rp 30 ribu, terangnya.

Menurutnya, objek wisata yang baru dibuka secara umum
mulai 26 Agustus 2016 itu akan terus dikembangkan menjadi tempat wisata
yang nyaman. Dia mengungkapkan, saat ini setiap hari terdapat pemuda Opsi di lokasi
wisata yang siap membantu pengunjung jika memerlukan bantuan. ” Ini upaya
supaya pengunjung benar-benar nyaman,” tambahnya.

- advertisement -

Terinspirasi Mantan Bos Seorang Nasrani, Basuki Pilih Libur pada Hari Jumat untuk Beribadah

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di atas trotoar Jalan KH Noor Hadi, Kudus, tepatnya di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, terlihat sebuah kios kecil terbentang spanduk tertulis “Permak Farah Aulia”. Di dalam kios beratap seng tersebut, tampak seorang wanita berjilbab dan seorang pria sibuk menjahit pakaian. Di belakangnya, sebuah lemari merah terdapat tulisan “Jumat libur”.

permak pakaian di kudus
Basuki (dua dari kiri) mengerjakan permak pakaian milik pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Pria yang tengah menjahit pakaian tersebut bernama Noor Basuki. Kepada Seputarkudus.com, Basuki menjelaskan, tulisan yang tertera di lemari itu sebagai pemberitahuan kepada pelanggannya, bahwa pada Jumat dia tidak melayani pelanggan karena libur. Dipilihnya Jumat sebagai jeda waktu kerja itu terinspirasi dari mantan bosnya yang seorang non-Muslim beragama Nasrani.

Dia menceritakan, sebelum memulai usaha penyedia jasa permak pakaian, dirinya pernah bekerja kepada tetangganya yang memiliki usaha pembuatan tas. Dan kebetulan bosnya tersebut seorang Nasrani. Suatu hari ada seorang pemesan tas yang minta tas pesanan tersebut di antarkan hari Minggu. Namun permintaan tersebut ditolak bosnya.

“Pada waktu itu bos menolak mengirim pesanan tas hari Minggu. Padahal pemesan berani mengganti ongkos kirim dua kali lipat. Namun bosku tetap menolaknya. Dia beralasan kepada pemesan, enam hari sudah bekerja untuk menyenangkan pelanggan, dan hari Minggu dibuat untuk beribadah,” ucap Basuki.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Pasuruan Kidul tersebut mengatakan, setelah mendengar percakapan bosnya melalui telepon tersebut, dia berujar dalam hatinya. Bila kelak dirinya bisa memiliki usaha, sehari dalam sepekan dia akan libur pada Jumat untuk digunakan beribadah.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengaku sudah sekitar lima tahun membuka usaha permak pakaian di tepi jalan. Namun dua tahun sebelumnya dia juga sudah menerima jasa jahitan yang dia kerjakan pada malam hari.
“Sebelum membuka usaha di pinggir jalan terlebih dulu aku menerima jahitan yang aku jadikan sampingan dan aku kerjakan pada malam hari. Karena pada waktu itu aku masih bekerja ikut orang lain,” ungkapnya 
Setelah usaha sampingannya berjalan dua tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Basuki lalu memutuskan keluar dari tempatnya bekerha dan membuka usaha mandiri. Karena rumahnya tidak berada di tepi jalan, dia lalu membuka usaha permak pakaian untuk di tepi Jalan KH Noor Hadi. Bila pesanan sedang ramai, dia juga mengerjakan order dari pelanggan di rumahnya pada malam hari.
Pria yang menamai usaha dengan nama kedua anaknya tersebut mengatakan, selain permak pakaian dia juga menerima pembuatan pakaian baru dan harga disesuaikan bahan serta bentuknya. Begitu juga ongkos permak, bila tidak ada yang perlu diganti ongkos permak minimal Rp 5 ribu untuk satu pakaian. Tapi bila ada yang perlu diganti harga disesuaikan barang yang diganti.
Basuki mengaku usahanya tersebut buka pada Sabtu hingga Kamis. Sedangkan setiap Jumat tutup. Dan untuk mengerjakan semua pesanan, dia dibantu sama satu orang penjahit perempuan.
“Usaha permak pakaianku ini melayani pria dan wanita, jadi aku sengaja menambah tenaga seorang penjahit wanita untuk mengukur badan para pelanggan wanita,” ungkap Basuki.

- advertisement -

Setalah Lulus SD A’an Tak Sekolah dan Memilih Membantu Orang Tuanya, Kini Dia Menjadi Penyetel Velg Andal

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi timur Jalan HM Subchan ZE tampak seorang pria memakai berkaus coklat sedang duduk bersila sambil memegangi alat pemutar ruji yang terpasang di velg. Pria tersebut bernama Tas’an. Dia rela tak melanjutkan sekolah demi membantu ayahnya menjadi tenaga setel velg.

stel velg dan ruji di kudus
A’an sedang menyetel velg di bengkel milik ayahnya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya menyetel velg milik pelanggan, pria yang akrab disapa A’an tersebut sudi berbagi kisah tentang pekerjaannya tersebut. Dia mengaku mulai membantu ayahnya menyetel velg sepeda motor sejak lulus sekolah dasar (SD) pada 1995. Dia juga mengatakan hal itu terpaksa dia pilih karena keadaan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan.
“Setelah lulus SD aku terpaksa tidak melanjutkan ke SMP, karena selain tidak punya biaya, kedua orang tuaku juga masih harus menanggung dan membiayai ke tiga adikku. Oleh sebab itu aku memilih ikut membantu ayahku sebagai tenaga penyetel ruji, meskipun hasilnya juga tak menentu” ujar A’an kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, mengungkapkan hasil yang dia dapatkan bersama ayahnya dari menyetel ruji selalu tidak menentu. Bila sedang ramai, kata A’an, dia bisa menyetel ruji sekitar 10 roda. Namun bila sedang sepi paling dia hanya bisa membetulkan sekitar lima roda sehari.

A’an mengungkapkan, untuk menyetel ruji dibutuhkan keahlian khusus serta feeling yang bagus, dan tidak boleh asal.  Itulah sebabnya dia mengaku belajar hingga bertahun-tahun untuk bisa menyetel ruji.
“Menyetel ruji itu membutuhkan feeling yang bagus, agar putaran roda tidak gelombang serta tarikan ruji pada diameter velg juga seimbang. Jika penyetelan dilakukan secara benar, sewaktu roda dipasang kembali pada sepeda motor, kendaraan akan terasa nyaman serta aman bagi pengendaranya,” ungkap A’an.
Dia mengaku untuk menyetel semua ruji pada satu roda dia membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setiap roda yang rujinya disetelkan kepada A’ an, dia kenakan harga antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per roda tergantung tingkat kerumitanya.

 A’ an mengatakan bengkel milik ayahnya tersebut buka setiap hari, dan selain melayani setel, ruji di bengkel tersebut juga melayani tambal ban. “Kami tidak menjual ruji maupun velg sepeda motor, jadi bagi para pelanggan yang ingin menyetel ruji dan ruji – rujinya tersebut ada yang patah ataupun berkarat harap bawa sekalian gantinya agar mempercepat proses pnyetelan,” ujarnya
     
- advertisement -

Tangan Kincup Gemetar Memegang Mikrofon dan Terbata-bata Saat Bertanya pada Pembicara dari Australia

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Seorang mahasiswa duduk di kursi belakang Ruang Seminar Universitas Muria Kudus (UMK) terlihat gemetar saat berdiri dan memegang mikrofon. Dengan sedikit terbata-bata, dia menayakan materi menggunakan Bahasa Inggris. Mahasiswa itu bernama Habiburrohman, Mahasiswa Fakultas Teknik yang mengikti kuliah tamu bertema “Supplay Chain Management For Bussiness Competitiveness” yang menghadirkan Dr. Ferry Jie Ph.D Australia sebagai pembicara.

kuliah tamu di umk
Kincup bertanya dalam kuliah tamu yang menghadirkan pembicara dari Australia. Foto: Ahmad Rosyidi.

Dalam kuliah tamu yang dihadiri sekitar 100 peserta itu, Kincup, begitu dia akrab disapa, mengaku sangat gugup saat ingin bertanya kepada pemateri menggunakan Bahasa Inggris. Karena dia antusias dengan materi yang disampaikan, dan tak satupun peserta yang tunjuk jari untuk mengajukan pertanyaan, dia tetap memberanikan diri untuk bertanya. Meski terbata-bata dan tangannya gemetar memegang mikrofon, dirinya mengaku puas bisa bertanya.

“Saya sangat antusias dengan acara ini, selain materinya bagus juga banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari acara kuliah tamu ini. Saya jadi ingin belajar ke Australi seperti Mr Jie. Tadi tidak ada yang bertanya, jadi saya memberanikan diri meski gemetar saat menyampaikan pertanyaan menggunakan Bahasa Inggris,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Peserta lain, Triya Adzani Maulida mengatakan, dirinya mengaku senang dan antusias dengan pembicara yang dihadirkan. Meski sedikit kesulitan memahami materi yang disampaikan, dia mangaku cukup paham. “Pembicaranya asyik, lumayan lucu juga, jadi saya menikmati apa yang disampaikan,” jelasnya.

Beberapa kali gemuruh tepuk tangan peserta terdengar, Ferry Jie menyatakan kecintaannya pada Indonesia. Gemuruh tawa peserta juga terdengar meriah saat pembicara meminta maaf karena menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Meski saya warga Australia, tetapi saya tetap cinta Indonesia. Maaf saya menggunakan bahasa gado-gado,” ungkap pria kelahiran Palembang yang sudah pindah kewarganegaraan Australia itu.

Dalam penyampaian materi, Feey Jie mengatakan pentingnya penggunaan data dalam berbisnis. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam kuliah tamu tersebut, dia mengatakan berbisnis dalam dunia yang sudah saling terhubung teknologi, dibutuhkan data sebagai pendukung. 

Panitia kuliah tamu Dimyati Utoyo (21) mengaku puas dengan acara Kuliah Tamu kali ini, dan sudah dia anggap sukses sesuai rencana. Butuh waktu dua pekan untuk mempersiapkan acara kuliah tamu, meski sudah terbiasa membuat kegiatan dan narasumber menjadi urusan dosen. Dia sempat kesulitan memilih moderator, karena dari 21 panitia pelaksana yang ikut Himpunan Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi merasa tidak percaya diri menjadi moderator dengan narasumber dari luar negeri.

Toyo, sapaan akrab Dimyati Utoyo, menambahkan, acara ini merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun. “Yang pertama kuliah perdana, dengan peserta mahasiswa semester satu. Kemudian kuliah tamu, yang pesertanya semester tiga, dan terakhir kuliah umum, pesertanya seluruh mahasiswa Jurusan Sistem Informasi,” tambah mahasiswa asli Pati itu.

- advertisement -

Koko Rela Berangkat ke Sekolah Tak Naik Motor Demi Memenuhi Biaya Pasang Peredam Suara Studio Musiknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di depan pintu masuk studio musik di Dukuh Jatisari, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, seorang pria mengenakan kaus berwarna hitam terlihat sedang membersihkan gitar elektrik. Pria itu bernama Yunus Budi Admoko (28), yang tak lain pemilik studio bernama Sakura tersebut. Studio itu mulai dirintis sejak dirinya duduk di kelas 3 SMA. Bahkan saat awal membuat studio, dia rela ke sekolah tak naik motor hanya untuk membeli peredam suara untuk studio musiknya.

studio musik sakura kudus
Koko sedang mengecek alat musik di Studio Sakura. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Koko, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang studio dan hobinya bermusik. Dia mengatakan, studio tersebut mulai dirintis sejak 2007, saat dia masih duduk di kelas 3 SMA. Demi cita-citanya memiliki studio musik dia rela ke sekolah tak naik motor, hanya karena peredam suara di studionya.

“Saat awal merintis studio, alat musik dan perlengkapan studio belum semuanya terisi. Saat itu saya rela tak naik motor ke sekolah karena butuh biaya untuk membuat peredam suara di studio. Motor saya jual untuk memasang peredam suara,” ungkap Koko belum lama ini.

Setelah lulus SMA, katanya, studio musiknya dibuka setelah perlengkapan musik dan sound system lengkap. Keinginannya membuat persewaan studio musik tercapai dan banyak pemain musik lokal di Kudus menggunakan studionya untuk berlatih.

Koko menceritakan, sejak kecil dia sudah menyukai musik. Dia sudah menyukai musik sejak masih sekolah dasar (SD). Saat kecil Koko sring ikut ngeband pamannya yang juga seorang musisi. Setelah tertarik, dia belajar bermain gitar kepada pamannya. Setelah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas dua, Koko baru memiliki gitar hadiah dari orang tuanya saat ulang tahun.

Setelah itu Koko mulai tekun bermain musik hingga membuat grup band. Sejak mendapat hadiah gitar itu dia baru menekuni belajar musik. Dalam satu hari dia belajar gitar hingga dua jam. Di rumah Koko belajar gitar sambil melihat video-video idolanya, Jonh Petrucci. “Pernah les musik di Yamaha Musik, belum lulus saya keluar, karena yang diajarkan kebanyakan sudah saya pelajari sendiri sebelumnya,” ungkap pemilik Sakura Studio Musik itu.

Koko mengaku saat masih SMP sering manggung bersama grup bandnya. Selain menjadi gitaris dia juga vokal di grup bandnya saat itu. Karena Koko ingin grupnya lebih berkembang, sejak SMP itulah dia sudah memiliki cita-cita untuk membuka studio musik pribadi. 

Tapi setelah lulus SMP dia mengaku grup bandnya bubar, karena ada yang tidak melanjutkan sekolah, dan masing-masing memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Sejak itulah dia mulai jarang bermain musik dengan teman-temannya, meski begitu Koko masih menekuni dunia musik. 

Koko mengungkapkan bahwa dirinya sangat didukung keluarga, terutama ibunya. Saat jenuh bermusik atau sedang ada masalah dalam usaha membuka studio musik, Koko mengaku selalu diberikan nasihat ibunya yang membuat dia tidak menyerah. Dia mengaku banyak kendala dalam usahanya, terutama kendala modal. Karena menurutnya tidak mudah menekuni usaha di bidang musik. Selain masalah perawatan, Koko juga terkendala modal untuk pengembangan usahanya.

“Saya beruntung mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama ibu saya. Karena tidak mudah usaha studio musik, banyak kendala, dua teman saya yang ikut buka studio musik sekarang sudah tutup. Tahun 2013 hingga tahun 2014 buka recording tapi jarang peminat, jadi saya jual alatnya kemudian ganti jasa sewa sound system, genset, lighting, dan kipas air yang masih berjalan hingga sekarang,” katanya.

- advertisement -

36 Tahun Sejak Mendirikan Bengkel Las, Mbah Edy Selalu Bekerja Seorang Diri Tanpa Karyawan

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat Jalan Getas Pejaten Raya tampak berjajar beberapa kios yang tidak jauh dari Gedung Graha Mustika. Di dalam satu kios terlihat seorang pria renta berkaus merah dan memakai topi biru sedang memegangi tuas alat untuk membengkokan besi as. Pria itu bernama Edy Sucipto, pemilik bengkel las di kios tersebut. Selama puluhan tahun mendirikan bengkel las tersebut, dia bekerja seorang diri tanpa pekerja.

Mbah Edy Bengkel Las di Kudus
Mbah Edy sedang mengerjakan pesanan di bengkel miliknya. Foto: Rabu Sipan
Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Mbah Edy tersebut sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai mendirikan usaha bengkel las  itu pada tahun 1980. Sebelum memulai usahanya itu dia terlebih dulu bekerja di beberapa perusahaan karoseri yang berada di Kudus.
“Setelah punya modal dan sudah bisa mengoperasikan alat las, aku memutuskan keluar dari pekerjaan dan mendirikan bengkel las yang aku beri nama Cipta Karya. Namun sejak aku merintis usahaku ini tidak pernah dapat orderan dalam jumlah banyak. Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah merekrut karyawan karena takut tidak mampu membayarnya” kata Edy kepada Seputarkudus.com.
Warga Desa Getas Pejaten tersebut mengatakan, selain takut tidak mampu membayar karyawan, selama ini order yang dia dapatkan bisa dia kerjakan sendiri. Bengkel lasnya tersebut, kata Mbah Edy menerima pesanan pembuatan barang, di antaranya, teralis, rak besi, jemuran baju dan lain sebagainya.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak dan empat cucu itu menuturkan, selama 20 tahun terakhir dia sudah tidak menerima orderan pembuatan barang yang berat, misalnya teralis atau gerbang pintu. Menurutnya raganya yang sudah renta tidak mampu lagi mengangkat barang material yang akan dijadikan barang tersebut.

“Teralis dan gerbang pintu itu terbuat dari bahan material besi yang berat. Mengangkat materialnya saja aku sudah tidak kuat apalagi kalau sudah jadi teralis ataupun gerbang pintu yang tentu bebanya lebih berat,” ungkapnya
Sejak tidak kuat lagi mengerjakan pesanan teralis dan lainya yang mempunyai beban berat, Edy mengaku hanya menerima pesanan barang yang mempunyai beban ringan. Di antaranya jemuran baju dan rak besi. Edy mengatakan mempunyai toko langganan milik seorang warga Tionghoa yang selalu membeli jemuran buatan Mbah Edy untuk dijual di tokonya yang berada di depan Pasar Kliwon Kudus.
Edy lalu merinci harga jemuran buatanya tersebut, jemuran bercat putih dengan bentuk atas kotak memanjang dia hargai Rp 300 ribu. Sedangkan untuk jemuran dengan atas berbentuk bulat dia jual dengan harga Rp 175 ribu.
“Itu harga untuk yang membeli satuan, tapi jika membeli dalam jumlah banyak atau yang membeli para pedagang yang ingin menjualnya kembali biasanya harga tersebut aku kurangi Rp 50 ribu,” ungkap Mbah Edy.

Bengkel Cipta Karya buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 14. 00 WIB. “Aku sengaja membuka serta bekerja sampai pukul 14. 00 WIB, karena istrinya di rumah sedang sakit lumpuh,” kata Edy
- advertisement -

Asep: Air Terjun Kedung Gender Dukuhwaringin Lebih Indah Ketimbang Montel

0
SEPUTARKUDUS.COM, DUKUHWARINGIN – Suara serangga terdengar
nyaring di aliran sungai Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Aliran
sungai tersebut bersumber dari air terjun Kedung Gender setinggi sekitar
15 meter. Sekilas kondisi air terjun yang baru-baru ini dibuka untuk umum
seperti air terjun Montel yang berada di Desa Colo, debit air besar dan bisa
digunakan untuk berenang.

air terjun kedung gender kudus
Sejumlah pengunjung menikmati pemandangan di lokasi air terjun Karang Gender, Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Namun menurut Asep Sofianto pengunjung asal Kudus yang
ditemui Seputarkudus.com, akhir pekan beberapa waktu lalu, air terjun Montel masih kalah bagus dengan air terjun Kedung Gender.
Dia beralasan, air terjun Kedung Gender kondisinya masih alami dan pemandangan lebih indah. “Ini saja airnya segar sekali,” ungkapnya.
Dia yang datang bersama anak dan istrinya mengaku mengetahui
air terjun Kedung Gender dari temannya yang bertempat tinggal di Desa Colo.
Saat pertama kali datang dia terkagum dengan kondisinya yang indah. Menurutnya,
dia sudah dua kali datang di lokasi yang sama. “Saya tahu ini dari teman
di Colo. Ini anak saya sampai nyebur bermain air,” tuturnya.

Asep juga mengetahui tempat yang dikunjunginya terbilang
masih baru, karena baru dibuka untuk umum. Dia mengusulkan, akses menuju ke lokasi air
terjun dibuat lebih baik dan aman. Selanjutnya, warung-warung yang berada di
kawasan air terjun agar ditata lebih rapi lagi. 

“Sudah bagus. Ini saja
sudah disediakan karung sampah untuk pengunjung. Namun ditata lebih baik lagi
supaya lebih indah,” jelasnya.

Pengelola air terjun Kedung Gender Hasanudin (37)
menuturkan, air terjun yang dikelolanya bersama masyarakat Desa Dukuhwaringin
baru dibuka untuk umum tanggal 26 Agustus 2016. Menurutnya, debit air terjun setinggi sekitar 15 meter tersebut tidak pernah kering.
“Saat musim kemarau di Montel biasanya kering, di sini (air terjun Kedung
Gender) tidak pernah kering walau air yang keluar sedikit,” ungkap dia
yang rumahnya dekat dengan akses masuk air terjun.

Hasanudin menceritakan, air terjun tersebut sebenarnya sudah
lama ada, namun belum diketahui khalayak umum. Dulu, sebelum dibuka untuk umum sering
digunakan untuk bermain anak-anak Desa Dukuhwaringin. Karena melihat
potensi pariwisata yang bagus, akhirnya pemuda desa yang tergabung dalam
Organisasi Pemuda Talang Wesi (Opsi) beserta masyarakat desa Dukuhwaringin
bergotong royong membuat akses jalan menuju lokasi. 

“Pertama
kali yang hadir seingat saya ada 15 orang. Mungkin karena sering difoto dan di-posting di media sosial akhirnya pengunjung semakin bertambah,” terang
dia.

Dia yang juga Wakil Ketua Opsi itu menuturkan, saat ini
pengunjung yang datang lebih dari 100 orang setiap hari. Menurutnya,
jumlah tersebut akan meningkat dua kali lipat saat akhir pekan. “Pengunjung
yang datang tidak dipungut uang, alias gratis. Cuma membayar parkiran Rp 3
ribu. Itu juga untuk biaya pembangun lokasi wisata,” ungkapnya.

- advertisement -