Beranda blog Halaman 1935

Lihat Orang Tuanya Sukses Berjualan Buah, Tio ‘Copy Paste’

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi Jalan Raya Besito, sejumlah buah anggur merah, pir dan jeruk terlihat tertata rapi berjajar di atas meja. Tampak seorang laki-laki mengenakan kaus berwarna abu-abu terlihat sedang melayani sejumlah pembeli. Pria benama Ristiono (31), yang memberanikan diri berjualan buah karena kebiasaannya sering ikut orang tua berjualan sejak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP).

penjual buah di kudus
Ristiono menjajakan buah di Peganjaran. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pelanggan dan menunggu pelanggan yang datang, Tio begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha penjualan buah miliknya. Dia mengatakan berjualan buah di tepi jalan sekitar 4 tahun, sejak 2013. Dia mengaku menjual buah sesuai dengan musim panen pada buah yang dihasilkan oleh petani.

“Orang tua saya seorang penjual buah di Tanah Abang, Jakarta. Lulus SMP saya sudah sering ikut mereka berjualan, jadi saya tahu cara berjualan buah itu seperti apa. Berawal dari hal tersebut, saya memberanikan diri menekuni usaha ini. Soalnya berjualan buah itu, kalau sedang rugi ya bisa rugi banyak, kalau untung bisa untung banyak,” ungkap pria lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah Kudus.

Pria yang tercatat sebagai warga di Desa Peganjaran RT 7 RW 3, Kecamatan Bae, Kudus, ini mengungkapkan, buah yang dia jual tidak hanya anggur merah, pir dan jeruk. Tak jarang dia menjual buah duku, kelengkeng, mangga dan lain sebagainya. Dia mendapatkan sejumlah buah untuk dijual dari distributor buah Semarang dan Jepara. “Untuk buah, kebanyakan buah anggur merah yang sedang diminati pembeli,” ujar Tio.

Dia mengatakan, setiap hari berjualan buah di tepi Jalan mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Buah yang dia jual bermacam-macam harga yang ditawarkan, tergantung dengan jenis buah yang dia jual. “Buah anggur merah Rp 45 ribu per kilogram, buah pir Rp 13 ribu per kilogram dan buah jeruk Rp 13 ribu per kilogram,” ungkap Tio.

Pria yang mengaku sudah dikaruniai satu orang anak ini menambahkan, untuk pemasaran dia hanya menunggu pembeli yang datang. Pembeli biasanya ramai berdatangan untuk membeli pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan Senin hingga Jumat, penjualan buahnya tidak begitu banyak seperti pada akhir pekan.

“Penjualan setiap hari tidak bisa ditentukan, terkadang sehari yang terjual sebanyak 2 kilogram buah. Kadang bisa mencapai 35 boks buah yang terjual pada akhir pekan. Modal saya hanya kejujuran, untuk penghasilan setiap hari juga tidak bisa dipastikan. Antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari,” tambahnya.

- advertisement -

Pengatur Lalu Lintas Depan Kantor PLN Kudus Ini Kesal, Mengira Diberi Uang Ternyata Baut

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di warung kopi tepi Jalan Museum Kretek, Desa Getas Pejaten, Jati, Kudus, terlihat beberapa orang sedang duduk santai. Di meja depan tempat duduknya terdapat sejumlah gelas berisi kopi. Satu di antara pria tersebut yakni Kosmijan (45). Selain berjualan es campur, sehari-hari pria itu juga mengatur lalu lintas di jalur lambat Jalan R Agil Kusumadya Kudus bersama sejumlah orang. 

Kosmijan mengatur lalu lintas di jalur lambat Jalan R Agil Kusumadya Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Sembari menghisap rokok kretek, Kosmijan secara terbuka mengakui mendapat sejumlah uang hasil kegiatannya tersebut. Dia bersama sejumlah orang mengatur lalu lintas di depan kantor PLN Kudus itu secara terjadwal. Dalam sehari masing-masing orang yang ikut mengatur lalu lintas mendapat uang sekitar Rp 30 ribu. 

“Uang itu pemberian pengendara. Kebanyakan yang memberi para supir truk, bukan mobil mewah. Pernah ada pengendara yang memberikan sesuatu, saya kira uang ternyata baut, baterai juga pernah,” tutur Kosmijan.

Selain pengendara, kata Kosmijan, kadang dia bersama rekan-rekannya diberi sumbangan dari karyawan PLN, namun dia tak mengenalnya. “Bos PLN, saya tidak kenal. Kadang saat berkumpul masing-masing diberi amplop berisi Rp 20 ribu,” tambahnya. 

Kosmijan juga merinci tujuh orang yang terjadwal bergantian mengatur lalu lintas di sana. Pagi ada tukang becak bernama Dakah mengatur lalu lintas mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 7.30 WIB, dilanjutkan Jamuin yang juga tukang becak pada pukul 7.30 WIB hingga 9.00 WIB, pukul 9.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB Kosmijan, pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB Munadi.

“Pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB ada Purnomo anak tukang becak, pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 Edi, pukul 14.30 WIB hingga 15.30 WIB mbah Nur tukang becak, pukul 15.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB Subkhan yang juga tukang becak, dan pukul 17.00 WIB hingga malam bagian Goliek,” jelas pria warga Loram Kulon itu.

Dia menceritakan, kegiatannya itu berawal dari seringnya terjadi kecelakaan di depan kantor PLN Kudus tersebut. Dia bersama sejumlah orang tergugah untuk mengatur lalu lintas di sana. Dia mengatur lalu lintas bersama tukang becak yang biasa menunggu penumpang tak jauh dari lokasi tersebut.

“Kalau tidak ada yang mengatur lalu lintas banyak yang kebut-kebutan. Kadang saya stop saja masih ada yang nyerobot hampir menyrempet saya,” ungkap Kosmijan sambil mengelus dada.

Kosmijan mengungkapkan, selain mengatur lalu lintas dirinya juga menyiapkan obat merah dan perban memberikan pertolongan jika terjadi kecelakaan. Tak hanya itu, tak jarang dia melerai pengendara yang bersitegang karena terjadi kecelakaan.

Tak lama datang seorang pria yang terlihat lelah dan kepanasan minta dibuatkan kopi, dia adalah Munadi (57) yang baru saja selesai mengatur lalu lintas. Munadi yang bekerja sebagai pemain musik di acara wayang, ketoprak, dan barongan, mengaku baru sekitar enam bulan ikut mengatur lalu lintas.

“Ini warung istri saya. Jadi sambil membantu istri saat sepi job seperti ini saya ikut mengatur lalu listas juga,” Ungkap warga Wergu Wetan itu.

- advertisement -

Dua Hari Berjalan Kaki Rohmat Belum Dapat Pembeli, Padahal Bekal untuk Makan Sudah Habis

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Peluh bercucuran membasahi tubuh Rohmat (74) yang telah renta saat menarik gerobak kusamnya di Jalan HM Subchan, Kudus, tidak jauh dari perempatan lampu merah Jember. Setelah berjalan sekitar 100 meter dia menghentikan gerobaknya dan beristirahat. Setelah duduk, dia meneguk air putih di dalam botol yang dia bawa,kemudian menyalakan sebatang rokok kretek dan menghisapnya.

Rahmat melangkah menyusuri jalanan di Kudus untuk menjual mebel menggunakan gerobak. Foto: Rabu Sipan

Saat istirahat, Rohmat sudi berbagi cerita tentang usahanya menjual mebel dengan berjalan kaki kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu. Rohmat menceritakan, dirinya membawa produk mebel tersebut dari desanya, Tambakromo, Pati. Setiap hari dirinya menarik gerobak berjalan kaki dari kampung ke kampung di Kudus. Sejak beberapa hari lalu, barang dagangan Rohmat belum ada yang laku.
“Aku sejak kemarin berada di Kudus, tapi sampai sekarang barang yang aku jual belum satupun yang terbeli. Jangankan membelinya menawarpun belum ada. Aku berharap hari ini ada pembeli agar aku bisa makan, soalnya uang buat bekal makan sudah habis,” harap Rohmat.
Pria yang memiliki enam anak dan sudah dikaruniai 11 cucu tersebut mengaku, berangkat berjualan dari rumahnya seusai salat Subuh. Dia berjalan kaki menarik gerobak berisi produk mebel dari kampung ke kampung di Kudus. Sampai Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, sekitar pukul 19.00 WIB, belum satupun barang yang dijualnya laku. Di desa itu dia memutuskan berhenti dan bermalam di balai desa.
Rohmat  tidak akan pulang bila semua produk mebel yang dia bawa belum terjual semua. Dia mengaku akan mengelilingi Kudus untuk beberapa hari guna menjual habis dagangannya tersebut. Saat malam menjelang dia akan menginap di balai desa, sekadar bermalam dan mandi.
“Biasanya aku memerlukan waktu delapan sampai sepuluh hari untuk menjual habis ranjang dan empat meja kayu yang aku jual. Dan bila terjual semua aku mendapatkan uang sekitar Rp 1,6 juta hasil dari penjualan ranjang seharga Rp 800 ribu, dan empat meja yang masing – masing seharga Rp 200 ribu. Itu kalau tidak ditawar,” rinci Rohmat
Rohmat mendapatkan barang daganganya dari tetangga di kampungnya yang mempunyai usaha mebel. Sejak usianya tak lagi muda, dia tak lagi bisa membawa produk mebel dalam jumlah banyak. Tenaganya untuk menarik gerobak tak lagi sekuat dulu.
  
“Sebenarnya semua anaku memintaku untuk berhenti berjualan. Tapi karena aku tidak mau merepotkan mereka, aku tetap berjualan untuk kebutuhan makan sehari – hariku dan istriku,” ungkapnya
- advertisement -

Setelah Lulus SMA Mugi Buat Kerajinan Berbahan Ban Bekas Peninggalan Ayahnya, Kini Berkembang Pesat

0
SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Di tepi Jalan Cempaka nomor 9 sebelah barat Pasar Kliwon, tepatnya di Desa Nganguk, Kecamatan, Kota, tampak sebuah kios yang terhubung langsung dengan rumah. Di dalam kios tersebut terlihat beberapa tumpukan ban bekas. Di sudut lain tampak ratusan sandal dan ember tempat air yang juga terbuat dari ban bekas. 

Mugi menunjukkan produk sandal di tempat kerjanya. Foto: Rabu Sipan

Tampak pula di dalam kios, dua orang pria sedang memasang roda pada besi as. Satu di antara pria tersebut yakni bernama Mugiono Kusnan (44), yang tak lain pemilik usaha yang membuat aneka kerajinan dari ban bekas.

Di sela kegiatanya, pria yang akrab disapa Mugi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni itu. Sebenarnya dia hanya meneruskan usaha yang telah lama dirintis oleh ayahnya. Namun sejak ayahnya meninggal pada tahun 1987 dan kebetulan di tahun tersebut dia juga baru lulus SMA jadi dia yang diminta untuk melanjutkan usaha tersebut.
“Saat ayahku meninggal aku diminta ibuku untuk melanjutkan usaha yang sudah lama dirintis ayahku. Padahal saat itu aku baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan berniat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” kata Mugi kepada seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pria yang mengaku belum dikaruniai anak tersebut mengatakan sejak mengurusi usaha itu dia mengaku mulai mengubur dalam – dalam cita – citanya. Dan sejak itu pula dia harus berfikir agar usaha yang dirintis ayahnya tersebut semakin berkembang dan mempunyai banyak kreasi kerajinan dari ban bekas.
“Dulu sewaktu masih dikelola almarhum ayahku produk kerajinan dari ban bekas hanya berupa, sandal karet, ember karet, bak air, tali timba, tempat sampah dan lainya. Sedangkan saat aku kelola produk usaha itu aku perbanyak dengan membuat aneka kalep, ban yang masih bagus aku belikan ban dalam lalu aku jadikan berbagai macam roda, diantaranya gerobak, lori dan lainya,” urai Mugi
Lalu Mugi pun merinci beberapa harga kerajinanya diantaranya, sandal karet dijual dengan harg Rp 200 ribu perkodi, ember karet dia hargai Rp 450 ribu sekodi, untuk lori dia jual satunya Rp 350 ribu sampai Rp 850 ribu, sedangkan untuk rodanya saja dia jual Rp 300 ribu satunya.
Dia pun mengatakan selain menjual secara kodi atau dalam jumlah banyak dia juga melayani pembeli secara ecer. Bila lagi ramai, sebulan kata Mugi, mampu menjual sandal dan ember karet masing – masing 50 kodi sebulan. “Hampir semua hasil kerajinan dari ban bekas bisa terjual 50 kodi sebulan tapi bila sepi paling 10 kodi,” ujarnya
Mugi mengatakan, selain dari Kudus dia juga sudah memiliki beberapa pelanggan pedagang dari daerah tetangga diantaranya, Pati, jepara, Lasem, dan Demak. Dia pun mengaku mendapatkan puluhan bahkan ratusan ban tersebut dari beberapa perusahaan ekspedisi dan otobus di Kudus.
Pria yang selalu mengenakan kaca mata tersebut menuturkan, tempat usahanya tersebut buka setiap hari dan empat pekerja yang siap mengerjakan pesanan maupun membuat setok kerajinan.
“Aku bersukur setelah aku kelola, usaha warisan itu semakin berkembang, namun aku berharap hasil produk kerajinan ku yang terbuat dari ban bekas ini semakin diminati masyarakat Kudus dan sekitarnya. Dan bagi siapa saja yang mencari aneka kerajinan dari ban bekas bisa menghubungiku di nomer 0822 4355 6948,” ungkapnya
- advertisement -

Santri Berprestasi Tapi Tak Punya Biaya, Sekolah Saja di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Sejumlah murid terlihat keluar
masuk kelas di gedung bercat hijau. Gedung-gedung
tersebut berada satu komplek, ada yang sudah dua lantai maupun satu lantai. Gedung
tersebut yakni SMK Assa’idiyyah 2 Kudus dan Pondok Pesantren Nashrul Ummah
milik Yayasan Nusantara Satu Kudus.

Sejumlah santri berjalan di depan gedung Pesantren Nashrul Ummah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Berada di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, yayasan tersebut
menurut Bendahara Yayasan Nusantara Arif Wahyudi, murid yang sedang menimba ilmu di
yayasannya digratiskan. Menurutnya. Beasiswa tersebut diperuntukkan kepada siswa
yang tidak mampu sekolah karena masalah ekonomi. 

“Kami merasa prihatin kepada
anak-anak yang cerdas namun tidak mampu sekolah karena persoalan ekonomi. Atas
alasan tersebut yayasan ini didirikan,” ungkapnya saat ditemui belum lama ini.

Dia menuturkan, siswa yang sekolah di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus
juga difasilitasi dengan tempat tinggal di Pondok Pesantren Nashrul Ummah yang
satu lokasi dengan SMK. Dikatakannya, siswa yang sekolah gratis diwajibkan tinggal
di pondok guna memperdalam ilmu Islam. “Selain memperdalam ilmu agama
juga diajarkan menciptakan kemandirian lewat jurusan yang diambil di SMK,”
tambahnya.
Yudi menerangkan, jurusan yang disediakan di SMK Assa’idiyyah
2 Kudus yakni Tata Busana dan Tata Boga. Menurutnya, sekolah tersebut mulai
beroprasi tahun 2014 yang baru mempunyai dua angkata kelas. Dikatakan, jumlah
keseluruhan santinya yakni 108 anak, 38 laki-laki dan selebihnya perempuan. “Mereka
dididik untuk menciptakan peluang usaha,” jelasnya.
Menurutnya, semua kebutuhan santri ditanggung oleh yayasan. Dia
menuturkan, dalam sebulan setiap anak mendapatkan uang Rp 450 ribu. Selain itu
juga yayasan menerapkan sistem wali asuh untuk santri. “Yang membantu
pengusaha-pengusaha dan jaringan kami yang bersedia membantu” tuturnya.
Menurutnya, dalam pendafataran siswa baru terdapat kuota 55
siswa setiap tahunnya. Selain itu, dapat 17 guru yang siap mendidik murid-murid
sesuai bidangnya. Dalam masuk SMK Assa’idiyah, diberitahukan terdapat seleksi
masuk seputar test baca tulis Al-Quran dan wawasan keislaman. 

“Gedung ini (SMK
dan pondok) juga sering digunakan untuk kegiatan Ansor, IPNU, IPPNU maupun Fatayat. Karena memang sekaligus diperuntukan untuk wadah anak-anak muda NU,”
jelasnya.

Yudi mengungkapkan, Yayasan Nusantara Satu Kudus menaungi
SMK Assa’idiyyah 2 Kudus, Pondok Pesantren Nashrul Ummah, Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) Ainina, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ainina, Lembaga Kursus dan
Pelatihan (LKP) Nusantara satu. “Satu lagi. Juga ada Kopontren,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Terik Matahari Menyengat, Anak Umur 10 Tahun Ini Tetap Semangat Ikuti Demo 4 Novermber di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Teriakan takbir terdengar
keras dari arah Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Puluhan bendera dan
spanduk tampak memenuhi barisan massa pedemo yang sebagian besar mengenakan baju
putih. Terlihat juga anak-anak yang mengenakan baju putih juga ikut bersorak
saat orator meminta mengucapkan takbir pada aksi damai gerakan nasional
mengawal fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat (4/11/2016).

aksi 4 november kudus
Masa pendemo sedang melakukan aksi di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (4/11/2016). Foto-foto: Imam Arwindra

Di antara pedemo yang mengatasnamakan Forum Ummat Islam
Kudus yakni Muhammad Amirudin (10), anak laki-laki yang juga membawa spanduk
bertuliskan “Menistakan Al-Quran, Mengoyak Kebhinekaan” mengaku sengaja ikut demo karena tidak
terima Al-Quran dihina oleh orang lain. Menurutnya, orang yang berani menghina
Al-Quran dan agamanya islam harus diadili. “Iya saya tidak tidak rela,”
ungkapnya saat ditemui ketika aksi demo sedang berlangsung.
Walau kondisi terik matahari yang panas, Amirudin yang masih
duduk kelas 5 SD Muhammadiyah mengaku tidak masalah. Dia tetap semangat mengikuti
kegiatan sampai berakhir. Dikatakan dia mengetahui isu dugaan penistaan agama
dari acara televisi. Menurutnya, dirinya ikut demo juga diajak bapaknya. “Iya
saya diajak bapak. Allahu Akbar,”
tuturnya yang ditutup dengan kalimat takbir.
aksi 4 november kudus
Kordinator aksi Arwani menuturkan, demo yang dilakukannya
setelah solat jumat yakni aksi damai gerakan nasional mengawal fatwa MUI. Menurutnya,
perlu adanya sikap untuk mendukung fatwah MUI untuk menghakimi Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok atas dugaan penistaan agama. “Hukum
Ahok,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Menurutnya, aksi yang dilakukannya tidak ada sangkut pautnya
dengan perpolitikan yang sedang berlangsung di DKI Jakarta. Pihaknya ingin
orang yang diduga melakukan penistaan agama segera diproses secara hukum.
aksi 4 november kudus

Dikatakan, terdapat sekitar 1.000 orang yang mengikuti aksi 4 Novermber 2016 tersebut. Menurutnya, mereka berasal dari 30
organisasi masyarakat yang berada di Kudus. Dari selebaran yang diberikan diantaranya
terdapat organisasi masyarakat DPD Hidayatullah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia, FKAM, Gerakan Pemuda Ka’bah, Pemuda Bulan Bintang, Hizbut Tahrir
Indonesia, Al-Banyan, Himpunan  dan Mahasiswa
Islam (HMI).

Arwani menegaskan, aksi nasional ini lanjutan dari aksi 14
Oktober 2016 lalu. Menurutnya, pihaknya akan melakukan aksi serupa jika
tuntutannya tidak segera direspon oleh lembaga negara yang bersangkutan. “Kami
akan melakukan aksi serupa. Namun mengikuti intruksi dari Jakarta,” tambahnya
yang juga aktif di Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Trio LSM.

- advertisement -

Sebelum Menjualnya di Toko, Tities Menawarkan Wall Sticker di Car Free Day dan Tepi Jalan

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Di sebelah barat Jalan HOS Cokroaminoto, tepatnya di Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, tampak sebuah toko yang di dindingnya bercat kuning. Di dalam toko tersebut bergantungan ratusan stiker dalam ukuran besar atau biasa di sebut wall sticker. Di sudut ruangan tampak seorang wanita berjilbab sedang menunggu pelanggan. Perempuan tersebut bernama Tities Silmiasri (27) yang  sebelum menjual wall sticker di toko, terlebih dahulu dia menjualnya di acara Car Free Day tiap hari Minggu.

jual wall stiker di kudus
Tities menunjukkan wall seticker yang dia jual di tokonya. Foto: Rabu Sipan

Perempuan yang biasa disapa Tities tersebut mengaku berjualan wall sticker mulai bulan Maret. Namun pada awal berjualan, dia tidak langsung menyewa tempat untuk menjual dagangan tersebut melainkan menjualnya di acara Car Free Day di Alun-alun Kudus agar dia tahu minat masyarakat khususnya Kudus terhadap wall sticker.

“Aku memang sengaja sebelum membuka toko, aku mengenalkan dan menjual wall sticker terlebih dulu di acara Car Free Day agar tau minat masyarakat Kudus. Selama dua bulan berjualan stiker di acara tersebut, minat masyarakat terhadap daganganku terbilang bagus. Bahkan selama berjualan di acara yang diadakan tiap Minggu tersebut aku sudah mempunyai beberapa pelanggan,” ungkap Tities kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, itu mengatakan, selama dua bulan, selain berjualan di acara Car Free day, setiap Senin sampai Sabtu suaminya juga menjual wall sticker di beberapa tepi jalan yang berada di Kudus. Dia juga mengatakan sebelumnya juga sering ikut pameran di antaranya, Dandangan, bazar Hari Koperasi di Pati, bazar Hari Kartini di Pantai Kartini Jepara, dan lain sebagainya.

“Setelah dua bulan berjualan di setiap acara Car Free Day dan suaminya secara rutin menjualnya di tepi jalan, aku dan suami memutuskan untuk menjual wall sticker di toko dengan menyewa sebuah kios dengan harga sewa Rp 15 juta setahun. Dan setelah berjualan di toko, para pelanggan yang ingin membeli wall sticker dan belum tahu alamat toko, biasanya mereka menanyakan lewat telpon terlebih dulu,” ujarnya
Perempuan yang baru dikaruniai satu anak tersebut menjelaskan, bahwa wall sticker itu sebuah stiker beukuran besar yang biasa ditempel di dinding. Meskipun biasanya ditempel di dinding, sticker tersebut juga bisa di tempel di meja, lantai maupun lainya yang penting permukaanya tidak lembab.
Tities pun lalu merinci berbagai macam jenis wall sticker yang dia jual diantaranya, wall sticker transparan, tiga dimensi, lima dimensi, juga ada yang enam dimensi. Lalu katanya, ada juga wall sticker yang bisa nyala di saat gelap namanya wall sticker jenis glow in the dark, ada juga jenis diy clock yang merupakan wall sticker sekaligus ada jam dindingnya, dan juga ada stiker jenis rol.

Menurutnya, semua wall stickernya itu dia jual denga harga mulai Rp 15 ribu per pcs, sampai dengan harga Rp 80 ribu per pcs, tergantung dari jenis dan kualitas bahanya. Dia juga mengaku selain menjual secara ecer dia juga melayani penjualan secara grosir. Tities pun mengungkapkan setiap pebelian minimal satu lusin para pembeli bisa mendapatkan potongan harga sampai Rp 5 ribu per pcs nya.
Dari penjualan wall sticker tersebut, kata Tities, mendapatkan omset sekitar Rp 10 juta sebulan. Tities mengatakan tokonya tersebut buka setiap hari mulai pukul 09. 00 WIB sampai pukul 20. 00 WIB. Dia pun mengaku mendapatkan aneka jenis wall sticker tersebut dari Surabaya dan Jakarta.
“Aku berharap usaha penjualan wall sticker ku makin laris dan kelak bisa aku mendapatkan akses untuk bisa membeli langsung dari Tionghoa. Agar cita – citaku untuk menjadi pusat grosir wall sticker di Kudus terwujud,” harap Tities   
- advertisement -

15 Tahun Onang Berjualan Tahu Sumedang di Kudus Demi Keluarganya yang Jauh di Jawa Barat

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAUMAN – Hujan turun cukup lebat saat ratusan orang berjalan kaki tergesa di sekitar lapak di depan Menara Kudus mencari tempat berteduh. Terlihat seorang pria mengenakan celana hitam dan kaus wana hijau memikul dua keranjang kemudian berteduh di emperan toko yang sedang tutup. Dia bernama Onang (40), penjual tahu Sumedang yang sudah 15 tahun berjualan di Kudus.

penjual tahu sumedang di Kudus
Onang membungkus tahu sumedang saat berteduh di emperan toko tak jauh dari Menara Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Sambil membungkusi tahu Sumedang yang dia jual, Onang sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia meceritakan, demi menafkahi keluarganya di Sumedang, Jawa Barat, dirinya rela jauh dari keluarga untuk mencari penghidupan. Dia ikut saudaranya yang memiliki usaha tahu Sumedang di Jepara. Hampir setiap hari dirinya berjualan tahu di Kudus. 

“Saya berangkat dari Jepara pukul 5.00 WIB dan kembali ke Jepara setelah daganganku habis terjual. Terkadang saya kembali hingga malam hari, karena tahu yang saya jual harus habis hari itu juga,” tutur Onang.

Dia mangaku pulang ke Sumedang sekitar sebulan hingga dua bulan sekali. Selain untuk mengirim uang yang didapat hasil menjual tahu, Onang juga ingin melepas rindu dengan anak istrinya di rumah. “Saya ikut saudara yang punya usaha tahu Sumedang di Jepara. Mungkin sudah takdir saya mencari nafkah jauh dari keluarga,” ungkap pria satu anak itu.

Onang mengungkapkan, dirinya jarang berjualan di wilayah sekitar Menara Kudus. Biasanya dia berjualan di sekitar Perumahan Yakis, Desa Gribig, Desa Prambatan, Pasar Jember, dan kemudian berjalan arah Jepara.

Setiap hari, katanya, Onang membawa tahu sekitar 70 hingga 80 bungkus, atau sekitar 700 hingga 800 biji. Kemudian dia bungkus dengan plastik yang isi perbungkusnya 10 biji, dan per bungkusnya dia jual dengan harga Rp 5 ribu.

Dari hasil berjualan tahu Sumedang, Onang mengaku bisa mendapat keuntungan sekitar kurang lebih Rp 75 ribu per hari. Meski harus dia gunakan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, dia harus menyisihkan uang untuk keluarganya di Sumedang.

“Hari ini baru laku setengah dagangan saya, jadi ini harus jalan lagi. Soalnya kalau tidak habis besok sudah tidak bisa saya jual lagi. Jadi setiap hari saya jual sampai habis dulu baru kembali ke Jepara,” jelas Onang sambil merapikan dagangannya.

Melihat hujan yang tak kunjung reda, Onang kembali melangkahkan kaki untuk berkeliling menjual tahu. Dia berjalan dari emperan toko satu ke emperan toko lainnya untuk menghindari hujan. 

- advertisement -

Demi Anak Cucu Nanti, Jamin Tak Pikirkan Soal Upah Mengurus Museum Situs Patiayam

0
SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Seorang laki-laki berpakaian batik tampak tersenyum melihat aktivitas sejumlah orang di Museum Situs Purbakala Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Pria tersebut adalah Jamin (43), petugas museum yang sering memberikan penjelaskan kepada pengunjung tentang koleksi fosil purbakala. Dia merupakan satu dari sembilan orang yang masih bertahan mengelola situs tersebut.

museum situs purbakala patiayam kudus
Jamin menjelaskan fosil koleksi Situs Purbakala Patiayam. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dia menjelaskan, Museum Situs Purbakala Patiayam dikelola Paguyuban
Pelestari Situs Patiayam yang anggotanya hampir keseluruhan warga Desa Terban. Namun
tahun demi tahun menurun hingga tinggal Sembilan orang. Dikatakan, penyebab
menurunnya anggota paguyuban karena tidak adanya gaji untuk para pengurus
museum. 

“Kami bertahan karena fosil ini demi anak cucu kita nanti. Rezeki sudah ada yang mengatur,” tuturnya saat ditemui di Museum Situs Purbakala Patiayam, belum lama ini.

Dia mengungkapkan, jika fosil-fosil purbakala yang ada di museum tidak terurus maka generasi selanjutnya tidak akan pernah tahu bahwa pernah ada
mahluk purbakala yang pernah hidup di Pegunungan Patiayam. Menurutnya, fosil-fosil
yang sudah ditemukan dan yang masih berada di Pegunungan Patiayam merupakan warisan
leluhur yang seharusnya dijaga. 

“Kami sedikit-sedikit ada pendapatan dari
museum. Namun kami tidak terlalu memikirkan itu. Karena Allah sudah
mengaturnya. Yang penting warisan leluhur dijaga,” jelas dia yang masih berdiri
di dekat replika gajah purbakala berjenis Stegodon trigonochepalus.

situs purbakala patiayam

Dia mengungkapkan, Museum Patiayam
aktif dikelola tahun 2010. Menurutnya, pencarian fosil tersebut sudah dilakukan
tahun 1857 oleh Frans Wilhelm Junghuhn dan Raden Saleh. Selanjutnya tahun 1893
oleh De Winter dan 1931 oleh Van Es yang berhasil menemukan Sembilan jenis sisa
vertebrata di Pegunungan Patiayam. Pada 1978 Sartono
menemukan 17 spesies vertevrata dan sisa manusia berupa gigi pra geraham dan
pecahan tengkorak.  
Tahun 1981 sampai 1983
ada peniliti bernama Trauman Simanjutak yang mengamati permukaan tanan di
sepanjang sungai Balong dan Ampo. “Tahun 2005 sampai sekarang dengan Balai
Arkeologi Yogjakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran,”
terang ayah dua anak tersebut.
Dikatakan, Museum Situs Patiayam menyimpan lebih 5.000 lebih
fragmen dari spesies hewan darat, laut dan air tawar. Menurutnya, fosil-fosil
tersebut tersimpan di museum dan di rumah warga Desa Terban. Menurutnya, lokasi
museum yang ada, sudah tidak mampu lagi menampung fosil-fosil. 

“Di Pegunungan Patiayam
dipastikan masih banyak fosil-fosil yang terkubur. Kebanyakan fosil tersebut
ditemukan warga secara tidak sengaja,” tutunya yang asli warga Desa Terban,
Kecamatan Jekulo.

Laki-laki kelahiran 2 Mei 1975 menuturkan, pertama kali
fosil yang ditemukan yakni gading gajah Stegodon Trigonochepalus dengan panjang
2,7 meter. Dia menceritakan, dulu warga menganggapnya hanya balong buto saja. setelah diteliti ternyata gading gajah
purbakala.
Di dalam museum terdapat
beberapa fosil yang dimasukkan kedalam kaca dan diletakkan di luar. Setipa fosil diberi nama, di antaranya Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas (sejenis gajah),
Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus
(buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis rusa), Corvidae
(rusa), Chelonidae (kura-kura), Suidae (babi hutan), Tridacna (kerang laut),
dan Hipopotamidae (kuda nil).

- advertisement -

Mbah Kamsin, Pembuat Caping Kalo untuk Pakaian Adat Kudus yang Masih Tersisa

0
SEPUTARKUDUS.COM, GULANG – Tak jauh dari pintu samping
rumah di Desa Gulang, Kecamtan Mejobo, seorang lelaki renta keriput bertelanjang dada duduk memegang anyaman bambu di tangannya. Dia tampak menjahit anyaman bambu yang akan
dibuat menjadi caping kalo. Caping tersebut bagian dari pakaian adat
Kudus
yang dikenakan di kepala. Lelaki renta itu bernama Kamsin, pembuat caping kalo terakhir yang kini masih tersisa. 

pembuat caping kalo terakhir pakaian adat kudus
Mbah Kamsin, warga Gulang, Kecamatan Mejobo, membuat caping kalo pakaian adat Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Mbah Kamsin, begitu dirinya akrab disapa, mengaku sudah membuat caping kalo sejak kecil. Keterampilannya membuat kerajinan tersebut dia warisi dari ayahnya, Senen. Ayahnya belajar membuat piranti pakaian adat Kudus tersebut dari kakeknya, Surojami.

“Anak saya tidak ada yang mau meneruskan pembuatan caping kalo. Jadi saya ini orang terakhir yang membuat caping kalo,” ujar Mbah Kamsin yang tak lagi ingat berapa usianya saat ini, saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

caping kalo pakaian adat kudus
Caping kalo pakaian adat Kudus.

Kamsin memiliki 12 anak yang semuanya tidak bersedia membuat kerajinan caping kalo. Menurut anaknya, jerih payah membuat caping kalo tak sebanding dengan hasil yang didapat. Karena membuat satu caping dibutuhkan waktu hingga dua hari dengan ketelitian dan kesabaran. Dan kini caping tersebut tak banyak dibutuhkan masyarakat.

“Harga satu caping Ro 250 ribu. Caping kalo hanya bisa dijual pada saat-saat tertentu. Misalnya saat Hari Kemerdekaan RI atau saat ada pameran dan acara pemerintah Kudus. Makanya mereka (anak-anak) tidak mau (membuat caping),” ujar Mbah Kamsin. 

Menurutnya, membuat caping kalo dibutuhkan kesabaran. Ada banyak bagian yang harus dibuat secara teliti karena memiliki detil-detil khusus. “Berlatih membuat ini (caping calo) harus sabar. Kalau
tidak sabaran ya pasti tidak bisa,” ungkap Mbah Kamsin. 

Menurutnya dulu ada warga Dawe yang belajar membuat caping
kalo di desanya. Namun mereka hanya bertahan dua pekan karena tidak sabar. Dia mengaku siap untuk mengajari siapa saja yang
ingin berlatih membuat caping kalo di sisa umurnya. 

Di Desanya, kata Mbah Kamsin, dulu banyak yang bisa membuat caping kalo. Kebanyakan warga bisa membuat namun sebagian besar dari mereka kini sudah tiada. Dia hanya mengingat beberapa nama yang masih bisa membuat caping kalo di desanya. Mereka di antaranya Kardi, Sukram, Jaeni dan Rudipah. 

“Jaeni dan Rudipah
masih hidup. Namun Jaeni talinya pakai senar tidak pakai duk (serabut pohon aren). Rudipah dia hanya membuat sulonya (bagian atas caping kalo
berbentuk anyaman bambu tipis),”
jelasnya.

- advertisement -

Berawal dari Kumpul di Pengajian, Ibu-Ibu Ini Membuat Koperasi Wanita Khadijah yang Berbasis Syariah

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di sebuah ruko di tepi Jalan KH Turaikhan Adjuri, Desa Kejaksan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak seorang wanita berjilbab sedang melipat jas hujan. Di bagian depan ruko tersebut terpampang papan nama Koperasi Wanita Khadijah. Wanita itu bernama Lis Faridah (35), pengelola koperasi yang didirikan sejak 2010 bermula dari perkumpulan pengajian. 

Lis Farida mencatat administrasi Koperasi Wanta Khadijah. Foto: Ahmad Rosyidi 

Lis, begitu wanita itu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada seputarkudus.com, terkait pembentukan koperasi tersebut. Dia mengatakan, saat awal didirikan memiliki 32 anggota. Mereka tak lain anggota kelompok pengajian yang kemudian berinisiatif mendirikan lembaga keuangan. 

“Awalnya kami terkendala modal. Akhirnya anggota pengajian menyepakati untuk mengumpulkan iuran minimal Rp 500 ribu per orang. Dari iuran tersebut terkumpul modal Rp 21 juta. Uang tersebut kemudian dibuat untuk menyewa ruko di Jalan KH Turaikhan Adjuri dan membeli perlengkapan kantor,” ujar Lis kepada Seputarkudus.com.

Dia menjelaskan, nama Khadijah dipilih sebagai lambang wanita yang sukses dibidang perekonomian, seperti istri Rasulullah SAW. Koperasi yang dibentuk tersebut berbasis syariah. Lis mengatakan masih banyak masyarakat yang masih belum memahami sistem koperasi syariah. Dengan adanya Koperasi Wanita Khadijah dia berharab bisa mengajak dan mengedukasi masyarakat untuk menggunakan sistem koperasi yang benar.

Koperasi Wanita Khadijah, katanya, hanya dikelola empat orang. Koperasi tersebut buka pukul 8.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Sedangkan untuk Sabtu mulai buka pukul 8.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Pada Minggu, koperasi tersebut tutup.

“Hingga saat ini kami telah memiliki sekitar 500 anggota, dan hanya ada sekitar kurang lebih 70 pria. Untuk meningkatkan keanggotaan, dalam waktu dekat ini akan membuka lowongan kerja bagian marketing,” tutur warga Undaan Lor tersebut.

Dia menjelaskan, karena lembaga keuangan yang dikelola berbentuk koperasi, setiap orang yang hendak berinvestasi harus menjadi anggota. Syaratnya cukup menyerahkan fotokopi KTP, mengisi formulir, membayar simpanan pokok Rp 15 ribu, dan membuka rekening simpanan.

Setiap menabung atau investasi di Koperasi Wanita Khadijah nantinya anggota bisa mendapatkan bagi hasil sesuai tingkat pemasukan koperasi setiap bulan. Untuk pembiayaan atau utang, koperasi harus dilibatkan dalam urusan transaksi, dan bukan hanya utang uang.

“Kami memberikan pinjaman sesuai kebutuhan, dan angsuran sesuai kemampuan. Misal ada yang butuh untuk membayar sekolah anaknya, kami yang akan datang dan mengurus proses pembayaran. Atau beli ruko, setelah pihak pemohon sudah dapat pandangan rukonya, kami yang akan membayar transaksi pembeliannya. Jadi setiap pengajuan pembiayaan kami harus terlibat,” jelas wanita dua anak itu.

- advertisement -

Kemis Melangkah Menyusuri Jalan Tawarkan Pengecekan Tensi Darah dengan Biaya Rp 1.000

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Seorang pria berkemeja dan memakai celana panjang terlihat sedang berjalan di Jalan Johar, Desa Wergu Kulon, Kecamatan Kota, sambil menggendong tas hitam. Di tanganya tampak sebuah benda berbentuk kotak putih lengkap dengan kabel. Pria tersebut bernama Kemisan (52), yang berjalan kaki berkeliling Kudus untuk menawarkan jasa pengecekan tensi darah.

cek tensi darah
Kemisan, jasa tukang cek tensi darah di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Setelah lelah berkeliling menawarkan jasanya, pria yang biasa disapa Kemis tersebut istirahat di samping bangunan rumah warga. Di sela istirahatnya tersebut, Kemis sudi berbagi kisah tentang pekerjaanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan sejak pagi berkeliling menawarkan jasanya dan baru ada lima orang yang memakai jasanya untuk mengecek tensi darah mereka.
“Dari pagi berkeliling menawarkan jasa pengecekan tensi, aku baru mendapatkan uang Rp 5 ribu rupiah dari lima orang yang saya cek tensi darahnya,” ujar pria yang berasal dari Desa Pecangaan Kulon, Jepara, belum lama ini.
Kemis mengatakan, untuk pengecekan tensi darah dia bebani biaya Rp 1 ribu per orang. Selain cek tensi darah, dia juga melayani beberapa pengecekan lain, di antaranya gula darah yang dia tarif Rp 10 ribu sekali tes, cek tensi asam urat dikenakan biaya Rp 15 ribu. Sedangkan untuk cek tensi kolesterol, katanya, dia membani tarif Rp 25 ribu per orang. 


Menurutnya, tarif berbeda untuk setiap pengecekan itu karena setiap pengecekan tensi penyakit memerlukan alat yang berbeda serta berbeda pula harganya. Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut menuturkan, sudah sekitar sepuluh tahun lalu menjalani pekerjaan sebagai penyedia jasa pengecekan tensi beberapa penyakit. Awalnya dulu dia diajari temanya yang mempunyai pekerjaan serupa, namun temanya tersebut keliling di daerah Jogjakarta.
“Beberapa kali diajari temanku akhirnya aku bisa mengoperasikan alat tensi tersebut. Lalu aku memutuskan keliling sendiri menawarkan jasa pengecekan tensi di Jepara, Demak, Kudus, Pati bahkan sampai Juana dan Semarang,”ungkapnya
Kemis mengatakan setelah setahun dia berkeliling ke berbagai daerah tersebut. Dia mulai membagi dan menentukan hari untuk berkeliling menawarkan jasanya ke berbagai daerah tersebut. “Misal hari Senin aku keliling Jepara, maka Selasa aku keliling Demak, Rabu keliling Kudus dan seterusnya,” jelasnya
Kemis mengatakan, untuk menjadi jasa pengecekan tensi dia harus mengeluarkan modal sekitar Rp 1 juta guna membeli alat perlengkapan cek tensi di sebuah apotek khusus. “Setiap hari berkeliling menawarkan jasa, aku mendapatkan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang hanya mendapatkan Rp 20 ribu sehari, tapi pas lagi lagi ramai bisa mendapatkan uang Rp 100 ribu sehari,” ujarnya
- advertisement -

Warga Sadang yang Hanya Lulusan TK Ini Bisa Beli Mobil dan Motor Hasil Kerajinan Tali Peti Kemas

0

SEPUTARKUDUS.COM, SADANG – Tumpukan kerajinan tali peti kemas terlihat di teras rumah di Desa Sadang, Kecamatan Jekulo. Tampak beberapa orang sedang duduk di atas kursi sembari mengayam satu persatu tali peti kemas menjadi kerajinan. Salah satu di antarannya, Agil Heriyanto (30), pemilik usaha tersebut. Bermodal awal Rp 200 ribu, kini dirinya mampu menghidupi keluarganya dan bisa membeli mobil pikap serta tiga unit motor.

perajin barang tali peti kemas
Agil menunjukkan barang kerajinan berbahan tali peti kemas. Foto: Sutopo Ahmad

Ditengah-tengah kesibukannya membuat sejumlah kerajinan pesanan pelanggan, Agil, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni. Dia menjelaskan, usahanya sudah berlangsung sekitar dua setengah tahun, mulai awal bulan 2014. Sebelum menjadi wirausaha, dia mengaku sempat bekerja sebagai pemborong percetakan besi di PT Adhimix Prices.

“Benar-benar dari nol tanpa saya merintis usaha. Saya masih ingat, waktu itu saya punya uang Rp 200 ribu untuk membeli sejumlah tali dan memulai usaha. Allhamdulilah, dari awalnya tidak punya apa-apa, kini saya punya mobil Mitsubishi T120SS pikap dan tiga motor. Motor Jupiter Z, Vario serta Supra X 125,” ungkap Agil waktu ditemui di rumahnya, Desa Sadang RT 4 RW 1, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Pria yang mengaku sudah dikaruniai dua orang anak yang semuanya perempuan ini menceritakan, selama dia menjadi pemborong, usahanya tidak berjalan seperti apa yang dia harapkan. Usahanya bangkrut dan mengalami kerugian besar. “Biasa, namanya juga sedang di atas, pasti banyak orang yang tidak suka,” terangnya.

Dia memberitahukan, kerajinan yang dia buat bermacam-macam bentuk. Ada kerajinan yang berbentuk tombong (keranjang kendaraan roda dua), tas belanja, tempat sampah dan ada pula yang berbentuk keranjang buah. Untuk bahan baku, dia mengaku mendapatkan sejumlah tali peti kemas serta kayu langsung dari perusahaan PT Delta Dunia Sandang Tekstil, Kecamatan Sayung, Demak.

Pria lulusan taman kanak-kanak (TK) ini mengatakan, untuk pemasaran dia hanya menunggu pesanan dari sejumlah pelanggan yang datang ke rumah. Pesanan kebanyakan dari pelanggan dari dari daerah Kudus dan sekitarnya, serta luar Jawa. “Yang dari luar Jawa di antaranya dari Sumatera dan Palembang. Yang dari wilayah dekat antara lain dari Kudus, Pati, Rembang dan Jepara,” ujarnya.

Saat ini Agil dibantu lima orang karyawan. Satu bulan dia mampu memproduksi sebanyak 200 biji kerajinan jenis tombong. Sedangkan harga yang dia tawarkan berbeda-beda, tergantung ukuran dan jenis kerajinan apa yang di buat.

“Tombong eceran ukuran kecil saya juga Rp 125 ribu, yang berukuran besar Rp 150 ribu. Kalau jualnya per set (isi dua) saya jual Rp 200 ribu. Sedangkan keranjang buah harganya Rp 75 ribu, tas belanja antara Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu dan tempat sampah kecil Rp 25 ribu, besar Rp 30 ribu,” tuturnya. 

Agil tak pernah menghitung omzet yang didapat. Dia selalu membelanjakan uang yang masuk untuk membeli bahan baku dan untuk kebutuhan keluarganya.

- advertisement -

Tempat Penggilingan Daging di Belakang Pasar Bitingan Ini Pertama di Kudus dan Beromzet Lebih dari Rp 10 Juta Sehari

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di pelataran rumah bercat warna kuning terlihat seorang pria berkumis memakai baju putih tampak sedang memasukan bawang merah ke mesin pengiris. Pria itu bernama Sugiyanto (45), pemilik usaha penggilingan daging dan sekaligus menjual aneka bumbu dan adonan campuran bakso. Tempat usaha di belakang Pasar Bitingan Kudus tersebut beromzet omset lebih dari Rp 10 juta sehari.

Di sela kegiatanya hari itu, Sugiyanto sudi berbagi cerita tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan memulai usaha penggilingan daging serta aneka bumbu dan adonan bakso pada tahun 2000. Usahanya tersebut tepat di belakang Pasar Bitingan, di Desa Ploso, Kecamatan Jati, tak jauh dari rumahnya. Dia mengklaim, usaha penggilingan daging miliknya itu merupakan yang pertama di Kudus. 
“Pada tahun tersebut penggilingan daging miliku tidak ada sainganya. Pertama kali buka para pedagang bakso yang beli daging di Pasar Bitingan langsung menggilingkan dagingnya di tempatku, sekaligus membeli bumbu dan adonanya juga. Dari menjual bumbu serta adonan bakso tersebut aku bisa membuka usaha lainya,” kata pria yang akrab disapa pak To kepada seputarkudus.com
Pak To, begitu dia akrab disapa, mengakui usaha penggilingan daging tidak hanya miliknya pribadi melainkan kerjasama dengan orang Demak. Dengan perjanjian setiap orang yang menggilingkan daging harus sekalian membeli aneka adonan pembuatan bakso kepada dirinya.
Dan setelah disepakati Pak To menyediakan tempat untuk mesin penggilingan daging milik rekananya tersebut, dan dia berhak atas uang penjualan aneka bumbu adonan bakso yang digilingkan. Sedangkan uang pembayaran penggilingan daging jadi milik orang Demak yang punya mesin giling.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengatakan setiap hari tempat penggilingan daging tersebut bisa menggiling sekitar tiga kwintal daging. Dan dia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 7 juta sehari dari menjual tepung untuk adonan bakso.
“Jumlah uang tersebut hanya penghasilan dari penjualan adonan bumbu dan tepung di satu tempat penggilingan yang berada di belakang Pasar Bitingan. Itu belum termasuk di dua tempat yang berada di lantai dua Pasar Bitingan yang lebih ramai para pelanggan yang menggiling daging. Dan otomatis adonan bumbu dan tepungku terjual lebih banyak,” jelasnya
Pak To menjelaskan, penghasilan tersebut untuk hari biasa. Sedangkan sewaktu hari raya dia mengaku bisa mendapatkan dua kali lipatnya dari uang yang dia dapatkan pada hari biasa. Saat ini untuk membantu menjual aneka bumbu dan tepung adonan bakso dia mengaku dibantu lima orang pekerja.
Sejak usahanya tersebut berkembang Pak To lalu berinisiatif membuka kedai bakso sendiri yang bertempat di lantai bawah pusat perbelanjaan Matahari Kudus dan menghadap langsung  Pasar Bitingan Kudus. Dia juga mengaku kedai bakso miliknya itu juga sudah dikenal para pedagang, serta pengunjung di pasar dan karyawan di pusat perbelanjaan tersebut.
Selain itu, kata pak To, setiap kenalan dia maupun teman istrinya di Majlis Ta’lim yang mengadakan hajatan selalu memesan bakso dari miliknya. Biasanya mereka memesan di atas 400 butir bakso. “Selain menjual di warung, kami juga melayani pemesanan, tidak hanya dalam jumlah banyak, pesanan jumlah sedikit kami layani karena kami tidak mau menolak rejeki,” tuturnya
Pak To mengaku menjual baksonya tersebut Rp 10 ribu seporsi. Dia juga mengungkapkan jika ada yang berjualan bakso di bawah harga Rp 8 ribu dipastikan bakso tersebut tidak murni campuran daging Sapi, bisa saja dicampur daging ayam ataupun lainya.
Dia juga mengatakan, sekarang kedai baksonya tersebut juga menjual mie ayam dan bisa menghasilkan omset sekitar Rp 2 juta sehari, dengan mempekerjakan empat karyawan.
“Alhamdulillah bermula dari kerjasama penggilingan daging, aku juga bisa membuka usaha lainya. Dan dari semua usahaku tersebut aku bisa menghasilkan omset  lebih dari Rp 10 juta sehari,” ujarnya. 

   

- advertisement -

Nugroho, Siswa SMA 1 Mejobo Kudus Ngos-ngosan Usai Bermain Gobak Sodor di Lapangan Sekolah

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Sejumlah siswa mencoba
menghidar dari hadangan penjaga garis. Mereka berupaya mengecoh penjaga garis saat bermain Gobak Sodor lapangan serba guna SMA 1 Mejobo Seorang siswa tampak gesit melewati empat penjaga garis menuju garis finish meski bertubuh kecil.

permainan gobak sodor
Sejumlah siswa SMA 1 Mejobo Kudus bermain Gobak Sodor di lapangan. Foto: Imam Arwindra

Dengan tubuh yang penuh keringat, laki-laki bernama Muhammad
Nugroho tersebut mengaku timnya baru saja memenangkan
pertandingan. Menurutnya, ada enam tim yang telah dikalahkannya. “Main Gobak
Sodor seperti berolahraga. Ini keringat saya keluar semua,” ungkap Nugroho sambil ngos-ngosan.
Nugroho memberitahukan,
permainan tradisional yang dimainkannya diadakan untuk memperingati HUT
SMA 1 Mejobo ke-21. Menurutnya, permainan Gobak Sodor sudah semakin hilang
karena tidak ada yang memainkannya. Hal tersebut disebabkan karena era
modernisasi yang memunculkan banyak permainan-permainan digital. “Semoga
permainan ini terus dimainkan agar tidak hilang. Bermain Gobak Sodor sekaligus berolahraga,”
jelasnya.
Dalam permainan tersebut timnya terdapat enam orang dimana
yang bermain 4-5 orang dan satu menjadi cadangan. Dia yang mewakili kelas 11
IPS 2 mengaku ada strategi khusus untuk bisa memenangkan permainan. Menurutnya, tim dalam permainan ini harus kompak dan satu kordinasi agar strategi yang telah
direncanakan bisa berjalan dengan baik. 

Menurutnya permainan yang punyai nama lain Hadang tersebut dimainkan
dua tim sebagai penjaga dan yang berlari atau lawan. Dikatakan menang jika ada
salah satu lawan dapatmencapai garis finish tanpa keluar garis dan tersentuh
oleh penjaga. Namun akan kalah jika salah satu lawan terkena penjaga atau
keluar dari garis. “Ini lapangannya lapangan serba guna yang dibuat dari cor
semen. Garisnya menggunakan lakban. Ada empat orang yang berjaga,” terangnya.

Jamadi Humas SMA 1 Mejobo yang sedang mengawasi muridnya
menuturkan, permainan tradisional tersebut diadakan supaya tidak punah. Menurutnya,
permainan tersebut semakin ditinggalkan anak-anak untuk dimainkan. Menurutnya,
konsep acara tersebut yang menentukan yakni siswa sendiri. “Jadi semua acara
yang mengonsep dan melaksanakan yakni siswa sendiri. Supaya mereka
berkreativitas,” ungkapnya.

- advertisement -