Beranda blog Halaman 1936

Pria Renta Asal Grobogan Ini 60 Tahun Lebih Berjalan Kaki Menjajakan Dagangannya, Malamnya Tidur di SPBU

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Seorang pria renta berkemeja batik dan bersandal jepit tampak melangkahkan kakinya di tepi jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Dua kardus besar yang dilapisi plastik diangkat di pundaknya menggunakan pikulan. Pria tersebut bernama Nawiyo (86), yang lebih dari 60 tahun berjalan kaki menjual daganganya.

kisah penjual keripik pisang
Nawiyo (86) menyusuri jalan untuk menjual keripik pisang. Foto: Rabu Sipan

Langkah kaki Nawiyo terhenti saat ada seeorang wanita yang memanggil dan kemudian membeli daganganya. Setelah selesai melayani pembelinya, Nawiyo sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku sudah berjualan sejak berusia sekitar 20 tahun dan pada waktu itu Nawiyo masih lajang. Dia mengaku sebelum berumah tangga berjualan apa saja yang laku dijual. Di antara yang dijualnya yakni kerupuk, keripik, dan lain sebagainya.
 “Dulu sewaktu masih lajang aku berjualan apa saja yang sekiranya laku dijual. Namun barang dagangan tersebut aku beli dari orang lain. Lalu setelah menikah aku hanya menjual keripik pisang dan tempe hasil buatan istriku,” kata Nawiyo beberapa waktu lalu.
Pria yang berasal dari Wirosari, Grobogan, mengaku berangkat dari Grobogan naik bus dan turun di lampu merah Proliman Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati. Dia lalu menyusuri jalan berkeliling menawarkan daganganya. Dia mengatakan akan menjual keliling daganganya tersebut di Kudus sampai habis. Meskipun harus bermalam dan menjualnya lagi pada keesokan harinya.
“Aku berharap daganganku bisa terjual habis dalam sehari. Tapi bila tidak habis, aku biasanya bermalam di musala SPBU samping Hypermart Kudus. Terkadang, jika tubuhku tidak begitu lelah aku bermalam di Pasar Bitingan sambil menjual keripik kepada para pedagang di pasar tersebut,” ungkap Nawiyo.
Pria yang dikaruniai delapan putra tersebut mengatakan, pada hari itu dia membawa sekitar 250 bungkus keripik pisang dan keripik tempe. Dia menjualnya keripiknya itu seharga Rp 2500 sebungkus. “Aku akan mendapatkan uang sekitar Rp 625 ribu jika semua daganganku laku terjual,” kalkulasinya.
Nawiyo mengaku sejak usianya tidak lagi muda, dia hanya berjualan dua hari sepekan. Apalagi sejak semua anaknya sudah berkeluarga, beban tanggungan Nawiyo berkurang.
“Lima tahun terakhir aku hanya berjualan dua hari sepekan. Selain ragaku yang sudah renta, delapan anaku pun sudah berkeluarga. Jadi aku hanya berjualan untuk menghidupi diri sendiri serta istriku,” ungkapnya.
- advertisement -

Meski Tak Selaris Dulu, Setiap Hari Ada Saja yang Datang Membeli Kayu Bakar Milik Sri di Sunggingan

0
SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di tepi Jalan KH A Wahid Hasyim, tepatnya di Keluarahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, terlihat tiga orang pria sedang menurunkan kayu bakar dari truk. Tidak jauh dari ketiga pria tersebut, terlihat seorang perempuan mengamati kegiatan ketiga pria tersebut. Perempuan itu bernama Sri Mulyani (60), penjual kayu bakar yang masih tetap berjualan meski banyak masyarakat banyak sudah beralih menggunakan gas elpiji.

jual kayu bakar di kudus
Sejumlah orang menurunkan kayu bakar di Kelurahan Sunggingan, Kota, Kudus. Foto Rabu Sipan
Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang biasa disapa Sri itu sudi menjelaskan tentang usahanya tersebut. Sri mengatakan, usaha menjual kayu bakar itu sebenarnya dirintis oleh ayahnya. Usaha tersebut diteruskan dirinya meski permintaan kayu bakar tak seramai dulu.
“Sebelum ada gas elpiji dan masyarakat masih mengguanakan minyak tanah, penjualan kayu bakar yang dijalankan ayahku ramai pembeli. Namun setelah minyak tanah langka dan mahal, serta masyaraktat beralih ke gas elpiji, penjualan kayu bakar tak selaku dulu. Meski begitu, setiap hari ada saja orang yang datang membeli kayu bakar ke sini,” ujar Sri kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Menurutnya, masyarakat yang membeli kayu bakar miliknya datang dari kalangan ibu rumah tangga yang kehabisan elpiji. Selain itu mereka belum mempunyai uang untuk mengisi ulang tabungnya. Ada pula para pemilik warung makan yang membeli kayu bakarnya. Kata Sri, pemilik warung makan lebih memilih kayu bakar untuk memasak daripada menggunakan gas elpiji, karena menurut pembeli memasak menggunakan kayu bakar lebih hemat.

jual kayu bakar di Kudus 2
Sri Mulyani, penjual kayu bakar di Kelurahan Sunggingan. Foto: Rabu Sipan

Sri mengatakan, kayu bakar tersebut dikirim oleh pedagang kayu bakar dari Jepara. Kayu bakar tersebut dia jual dengan harga Rp 11 ribu per sepuluh ikat untuk jenis kayu karet. Sedangkan kayu jati dia jual Rp 12 ribu untuk sepuluh ikatnya.
“Dengan harga tersebut setiap hari minimal bisa menjual sekitar 50 ikat kayu bakar. Tapi bila sedang beruntung terkadang ada satu di antara pengusaha jenang di Desa Kaliputu (Kecamatan Kota) yang datang dan membeli kayu bakar. Biasanya mereka membeli lebih dari 200 ikat,” ujarnya.
Di sela obrolan, datang seorang perempuan membawa sepeda membeli 10 ikat kayu bakar. Nana (56), nama perempuan warga Desa Demaan, kecamatan Kota, tersebut. Nana mengaku membeli kayu bakar untuk digunakan memasak, juga buat persediaan jika sewaktu elpiji yang dia miliki habis.
“Aku tetap memasak menggunakan kayu bakar meskipun aku juga punya gas elpiji. Karena selain ibu rumah tangga aku juga berjualan nasi kucing. Karena menurutku selain lebih hemat juga untuk mengantisipasi di saat kehabisan elpiji maupun ada kelangkaan yang mengakibatkan harga gas tinggi,” jelas Nana.

- advertisement -

Mahasiswa dari 14 Negara Merasa Senang Bisa Tampilkan Tari Kretek pada Muria Cultural Program di UMK

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah pria terlihat
berbaris dengan membawa umbul-umbul yang berwarna-warni di lapangan basket Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (29/10/2016). Sementara di sudut yang lain, sejumlah perempuan berpakaian adat Kudus membawa tampah
berjalan menuju panggung utama. Mereka adalah mahasiswa asing dari 14 negara yang menampilkan Tari Kretek. 

mahasiswa asing menampilkan tari kretek
Sejumlah mahasiswa asing menampilkan Tari Kretek di UMK. Foto-foto: Imam Arwindra

Mereka terlihat kaku saat membawakan gerakan Tari Kretek. Tak jarang, gerakan mereka mengundang gelak tawa penonton yang hadir. Satu di antara mahasiswa asing yang tampil membawakan Tari Kretek, yakni Bassem Ismail (27) dari Yordania. Dia banyak gerakan yang belum dihafalnya. 

“Mungkin belum terbiasa,” ungkapnya dengan
Bahasa Inggris saat ditemui usai pentas yang diselenggarakan pada Muria Cultural Program tersebut.

Meski banyak gerakan tari yang belum dia kuasai, Bassem mengaku senang bisa
ikut menampilkan Tari Kretek bersama peserta lainnya. Menurutnya, budaya lokal yang diangkat dalam Muria Cultural Program sangat menarik. “Kemarin saya bertemu anak-anak Omah Dongeng Marwah membaca cerita. Mereka bagus, saya ingin seperti mereka,” tutur Bassem. 

Pria yang sedang menempuh magister Jurusan Akuntansi di Arab Open University itu menceritakan, selama di Kudus dia sudah mencoba berbagai masakan dan rokok. Menurutnya rokok di Indonesia dengan di negaranya berbeda. Di Yordania rokok hanya berbahan tembakau tanpa cengkeh. Selain itu, dia juga sempat mencoba Jenang Mubarok langsung dari tempat produksinya.  “Rasanya (jenang) sama seperti kurma,” tuturnya. 


Senada dengan Bassem, Carolina (28), mahasiswi asal Chile juga mengaku sulit menghafal gerakan Tari Kretek. Hal itu membuat dirinya tak begitu bagus saat membawakan tari khas Kudus tersebut. Meski begitu dia mengaku senang, dan sangat tertarik dengan pakaian adat Kudus yang dia kenakan saat menari.

Menurutnya, kain batik yang terbalut ditubuhnya memiliki motif yang unik dan indak. Topi yang dikenakan berbahan anyaman bambu juga membuatnya kagum. Mahasiswi di Universidad Catolica de Chile itu mengira itu bukan topi, melainkan wadah yang sering digunakan untuk tempat makanan.

Dia menceritakan, selama tiga hari di Kudus sudah
mengunjungi berbagai tempat menarik. Di antaranya Museum Kretek, Jenang Mubarok dan Menara Kudus. Dia Kudus, dia mengaku baru pertama kali melihat cara membuat rokok. “Saya senang di Kudus. Orangnya
bersahabat dan makanannya enak-enak. Ada buah, soto dan lainnya,” jelas Carolina.

Diah Kurniati, Ketua Panitia Muria Cultural Program
mengungkapkan, jumlah keseluruhan peserta 58 mahasiswa. Acara diselenggarakan sejak 27 Oktober dan berakhir hari ini. “Mereka berasal dari 14 negara. Dari Indonesia juga
ada yakni Pontianak, Wamena, Medan,” ungkapnya.

Pada pementasan Tari Kretek, menurutnya ada 25 peserta yang
ikut tampil menari. Mereka hanya berlatih selama dua jam selama dua hari. Selain menari, ada peserta yang bertugas memainkan musik gamelan sebanyak 17 orang. “Dengan
waktu singkat mereka sukses mementaskan Tari Kretek dan memainkan gamelan,”
terangnya.

Diah yang juga Ketua Progam Studi Pendidikan Bahasa
Inggris berharap, kegiatan yang diselenggarakan bisa menjadi agenda tahunan. Menurutnya,
peserta yang akan datang bisa lebih banyak dan bisa datang dari lebih banyak negara. “Semoga bisa menjadi agenda tahunan,” tuturnya.

- advertisement -

Saat Malam Tiba, Penjual Mainan Anak-Anak Asal Jepara Ini Bermalam di Hotel untuk Menikmati Hidup

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus, tampak sejumlah mainan anak-anak dijajakan seorang pria bertopi. Pria asal Jepara tersebut menjual berbagai macam mainan, di antaranya balon, ayunan tali, tenda kecil, bak mandi plastik dan lain sebagainya. Selain di Kudus, dia sering keliling daerah menjual mainan anak-anak. Dia mengaku selalu bermalam di hotel saat berjualan. 

Mas Balon menjajakan sejumlah mainan anak-anak di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Mas Balon ini mendapat keuntungan bersih berjualan mainan anak-anak sekitar Rp 1 juta sepekan. Menurutnya, saat malam tiba, dia bermalam di hotel. Selain untuk menjaga kesehatan, dia juga ingin menikmati hidup.

“Biasanya saya tidur di hotel agar tetap sehat dan sekaligus menikmati hidup. Itu saya lakukan ketika berjualan di daerah yang jauh dari Jepara. Di Kudus saya tidak bermalam, saya pulang ke Jepara karena jaraknya dekat,” ungkap pria tiga anak tersebut, belum lama ini.

Dia mengaku sudak lima tahun berjualan mainan anak-anak. Selama itu pula dirinya tak pernah sepi pembeli, karena produk yang dijual mudah dipasarkan. Menurutnya, dia pernah berjualan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Namun dia lebih sering berjualan di Kudus karena jaraknya dekat dengan tempat tinggalnya di Jepara.

“Biasanya orang Kudus memanggil saya Mas Balon, jika di daerah lain ada juga yang memanggil Pak Ndut. Jualan mainan anak-anak itu paling mudah, tidak perlu sekolah. Siapapun bisa dan pasti ada yang beli.” ungkap pria asli Welahan, Jepara.

Awalnya, dia hanya berjualan balon berkeliling pasar. Seiring berjalannya waktu, dia berinisiatif untuk menjual mainan anak yang lebih mahal agar mendapat keuntungan yang lebih banyak. Karena sering berpindah-pindah kota, Mas Balon mengaku saat ini memiliki banyak kenalan pedagang yang sangat membantu untuk mengembangkan usahanya.

Dia merinci harga barang dagangannya. Harga balon dia jual dengan harga Rp 25 ribu, ayunan Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu, topeng barongsai Rp 55 ribu. Sedangkan pelampung kecil bulat dia jual seharga Rp 175 ribu, pelampung kecil persegi Rp 225 ribu, pelampung ukuran tanggung Rp 325 ribu, pelampung ukuran besar Rp 555 ribu, dan tenda harganya lebih dari Rp 300 ribu.

Saat asyik berbagi bercerita, datang seorang pria yang hendak membeli ayunan. Andre (39), mengaku membeli ayunan yang harganya Rp 45 ribu untuk anak temannya. “Ini titipan teman, jadi saya yang biasa lewat sini diminta sekalian membelikan. Ini saya beli yang harga Rp 45 ribu,” ungkapnya.

- advertisement -

Jangan Lupa, Minggu Besok Akan Ada Donor Darah, Stand Up Comedy dan Musik Akustik di Joglo Sawah

0
SEPUTARKUDUS.COM, KARANGMALANG – Minggu (30/10/2016) pagi besok, di Jalan Lingkar Utara, tepatnya di Joglo Sawah, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus, akan ada donor darah. Kegiatan itu diselenggarakan Forum Komunikasi Kudus bertajuk Darah Muda Sumpah Pemuda. Acara tersebut diselenggarakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Panitia pelaksana kegiatan Novian Tri Wicaksono (22) mengatakan, tujuan diselenggarakan kegiatan donor darah sebagai sarana interaksi berbagai komunitas di Kudus dengan masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai motivasi sekaligus kontribusi positif dari pemuda Kudus untuk masyarakat Kudus yang lebih baik.
“Acara ini kolaburasi dari 24 komunitas yang ada di Kudus, baik dari kalangan sosial, pendidikan, seni, budaya maupun olahraga. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan meramaikan acara donor darah. Gratis dan terbuka untuk umum,” ungkap novian kepada Seputarkudus.com.
Novian yang tergabung dalam Komunitas Kudus Bergerak menjelaskan, komunitas yang ikut berpartisipasi dan terlibat dalam acara di antaranya Omah Dongeng Marwah, Kudus Runner, Explore Kudus, Kota Reptil, Kresek Kudus, Kudus Mengajar, Koin Pintar, Stand Up Comedy Kudus dan masih banyak yang lainnya. 

Dia mengatakan, acara akan dimulai pukul 7.00 WIB Hingga pukul 16.00 WIB. “Pukul 7.00 WIB akan dibuka Kudus Runner dengan berlari di sekitaran Kota menuju Joglo Sawah. Acara donor darah dimulai Pukul 9.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB,” ujarnya.

Novian, panitia penyelenggara acara.

Dalam acara tersebut, pihaknya menarget 100 kantong donor darah. Selain donor darah, pihaknya juga akan mengisi dengan berbagai agenda. Di antarany akan ada stan komunitas, perform komunitas, workshop kreatif, fundraising, musik akustik, musikalisai puisi dan stand up comedy. “Nanti akan ada 16 stan yang dari masing-masing komunitas,” ungkap Novian, mahasiswa semester sembilan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UMK
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Tanjungrejo RT 3 RW 10, Kecamatan Kota, Kudus, ini menambahkan, untuk agenda musik akustik akan diisi sejumlah band dari Kudus. Di antaranya Candra bakti, Teras Belakang, Bagas & Friends, Sweetdays dan Sick Mayer. 

“Kalau ide membuat acara donor darah, bermula dari diskusi di Forum Komunitas Kudus yang akhirnya mencetuskan acara tersebut,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Sempat Kesetrum Mic, Tim Rebana TBS Es-Salafy Berhasil Juarai Festival Hadroh Nasional di Sleman

0
SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Dalam Festival Hadroh Pekan
Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara, Kamis (27/10/2016), terdapat satu-satunya peserta dari Kudus. Peserta tersebut yakni Es-Salafy, grup rebana Madrasah Aliyyah (MA) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus. Meski satu peserta sempat kesetrum saat tampil, namun mereka berhasil menjadi juara dalam Festival Hadroh tingkat Nasional tersebut.

juara Festival Hadroh Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara
Grup Rebana Es-Salafy Madrasah TBS tampil Festival Hadroh Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara di Sleman, Yogyakarta. Foto: TBS

Kepada Seputarkudus.com, Ketua Es-Salafy Lutfi Awalin mengatakan, acara tersebut diselenggarakan Robithoh Ma’ahid Islamiyah
Nahdlatul Ulama (RMI NU). Es-Salafy merupakan satu-satunya
perwakilan dari Kabupaten Kudus yang tampil dalam acara itu dan berhasil menjadi juara. 

Dia mengatakan tidak
ada persiapan khusus dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya pihaknya
hanya melakukan latihan selama tiga kali. “Tidak ada persiapan khusus. Sebelum
pergi kami sowan dulu dengan masyayikh dna berziarah ke Makam Sunan.
Mungkin itu yang membuat kami berhasil” ungkapnya yang ditemui saat berkumpul
dengan anggota Es-Salafi, Jumat (28/10/2016).
Lutfi menuturkan,
saat bertanding ada hal yang sulit terlupakan, yakni micropone yang digunakan mengeluarkan setrum. Menurutnya, ada kabel yang bocor sehingga membuat dia sempat kaget karena
kesetrum. “Sempat gemetar sebentar, mic-nya nyetrum,”
ungkapnya yang mengundang tawa.

Diceritakan, vokal dari Es-Salafy ada empat orang. Saat itu
di depannya ada dua micropone kabel yang tergeletak. Saat akan mulai melantunkan selawat ternyata micropone yang dipegangnya terasa ada yang aneh. Micropone pertama itu tak jadi digunakan dan
diambil micropone kedua. Bermaksud ingin mengerjai teman sesama vokalis,
ternyata micropone kedua yang diambil juga ada setrumnya. “Kadang strumnya tiba-tiba
besar. Kalau kena bibir mak griming.
Gemetaran pokoknya,” jelasnya.
Lutfi Awalin memberitahukan, keseluruhan personil Es-Salafy ada
15 orang. Keseluruhan personel masih duduk di kelas 11 dan 12 MA TBS. Saat
bertanding menurutnya melantunkan lagu Ya Lal Wathon dan Sidanan Nabi. “Lagu Ya
Lal Wathon lagu wajib dan Sidanan Nabi pilihan. Dikasih waktu maksimal 13
menit,” tambahnya.
Menurutnya, alat-alat yang dipergunakan sama seperti grup
rebana pada umumnya di antaranya terbang, bass, darbuka, tam, tamborin dan icik.
Dia menuturkan, kemenangan yang didapat bukan serta merta karena skill
bermusiknya, melainkan doa dari masyayikh dan dukungan para alumni TBS yang
tergabung dalam Ikatan Siswa Arbituren (Iksab). “Es-Salafy punya lagu andalan
yakni Tashwiquna,” jelasnya.
Abdulloh Hamid panitia Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan
Liga Santri Nusantara mengungkapkan, menurutnya ada 15 finalis hadroh terbaik
tingkat Nasional yang berlaga pada Festival Hadroh. Menurutnya ada 15 finalis
akan diambil tiga yang terbaik. “Posisi pertama nomor undian 14 dengan nilai
880 oleh TBS Kudus, nomor dua Pondok Pesantren Darul Qur’an Gunung Kidul dengan
nilai 835 dan nomor tiga nomor undian tujuh dari Pondok Pesantren Assalam
Sleman, 815,” ungkapnya melaui aplikasi whatsapp.
Menurutnya, dalam acara penutupan Pekan Kreatifitas Santri
Nasional, Es-salafy akan mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai penghibur rentetan
kegiatan dari tanggal 26-30 Oktober 2016 di Stadion Maguwoharjo, Sleman. “Kegiatan
ini diadakan oleh RMI NU sebagai asosiasi pesantren NU bekerja sama dengan
Kementrian Agama,” jelasnya.
Selain itu dia memberitahukan, guna meningkatkan pelayanan
publik dalam menyediakan informasi pondok pesantren, RMI NU melalui kordinator
Gerakan Nasional Ayo Mondok melakukan launcing aplikasi ‘Ayo Mondok’ yang dapat
diunduh melalui playstore. Hamid menjelaskan, aplikasi tersebut menyediakan
informasi profil pondok pesantren secara detail yang bisa dipergunakan calon
santri. “Pekan Kreatifitas Santri Nasional ini diharapkan mampu membumikan
khasanah keilmuan dalam pesantren ataupun tradisi dalam dunia pesantren,”
ungkapnya.
- advertisement -

Anak-Anak Omah Dongeng Marwah Bangga Saat Mahasiswa Luar Negeri Baca Geguritan Meski Terdengar Lucu

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Anak-anak yang berada di ruang
aula tertawa terbahak-bahak melihat mahasiswa asal Sudan membacakan Geguritan
di ruangan aula Omah Dongeng Marwah dalam bingkai Muria Cultural Progam yang
diadakan Universitas Muria Kudus (UMK). Sambil berdiri, lelaki yang berkulit
hitam tersebut terdengar tidak terbiasa membacakan puisi yang ditulis dengan Bahasa Jawa. Alhasil, anak-anak Omah Dongeng Marwah yang duduk di depannya tertawa.

muria culture program di omah dongeng
Mahasiswa asal Sudan membaca Geguritan di Omah Dongeng Marwah dalam Muria Cultural Program. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara anak Omah Dongeng Marwah yang mengikuti acara tersebut, Tiyo Ardiyanto (13). Dia merasa bangga melihat orang-orang dari Sudan, Finland, dan Thailand
membacakan cerita serta Geguritan dengan Bahasa Indonesia dan Jawa. Menurutnya,
saat mereka membacakan teks terdengar lucu. 

“Itu yang dari Sudan malah
tidak bisa bilang ‘R’ dan bacanya blepotan, lucu. Tapi saya bangga ada orang asing membaca gcerita dan Geguritan,” ungkapnya yang ditemui selesai
kegiatan di Omah Dongeng Marwah Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Kamis
(27/10/2016).

Melihat banyaknya mahasiswa luar negeri yang berkunjung di Omah Dongeng Marwah, membuat Tiyo ingin membacakan
cerita sejarah Kudus dan Geguritan yang sudah dipelajarinya ke luar negeri. “Rasanya ingin pergi keluar negeri, bercerita tentang semua tentang Kudus,” ungkapnya masih sekolah di SMP 1 Bae tersebut.

Setelah acara formal selesai, mereka terlihat menikmati
suguhan makanan khas Kudus, pisang tandung, gayong, parijotho dan jeruk pamelo. Mahasiswa-mahasiswa yang melakukan kunjungan di Omah
Dongeng Marwah, menurut penyelenggara Muria Cultural Progam Diah Kurniati, peserta program tersebut berjumlah
61 orang. Mereka berasal dari Thailand, Finlandia, Malaysia, Sudan, Afganistan,
Chili, Tanzania, Libya, Jordania, dan Urwanda. Selain itu juga ada mahasiswa dari Indonesia. 

Menurutnya, selama tiga hari mereka akan berada di Kudus
dari tanggal 27-29 Oktober 2016. Mahasiswa-mahasiswa tersebut akan mempelajari
Tari Kretek dan gamelan yang nanti akan ditampilkan di UMK di hari terakhir.
Selain itu, mereka juga akan mempelajari ajaran Sunan Kudus Gusjigang (ngaji,
bagus, dagang) sebagai modal mereka menjadi entrepreneur

“Mereka nanti juga
diajak berkeliling Kudus sambil menikmati kuliner khas Kudus,” terang Diah yang juga Kepala Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMK.

Dia menambahkan, setelah menampilkan Tari Kretek di UMK, mereka juga akan mendeklarasikan komitmen untuk menjaga budaya di masing-masing negara. Menurutnya,
hal itu penting supaya budaya lokal yang sudah ada tidak tergerus modernisasi.
“Semoga kegiatan yang baik ini bisa terus berlanjut,” tuturnya.

- advertisement -

Berkat Pemasaran Secara Online, Produk Mebel Asal Kudus Ini Tembus Pasar Manca Negara

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi Selatan Jalan Lingkar Utara terdapat sebuah bangunan dengan pintu rolling door yang selalu terbuka. Di dalam ruangan tersebut tampak beberapa ayunan gantung dengan berbagai pilihan warna dan beberapa futniture yang terbuat dari rotan alam serta rotan sintetis. Diketauhi kemudian, tempat tersebut yakni toko Semar Sakti Furniture yang baru dirintis beberapa bulan, namun sudah menembus pasar luar negeri.

toko furnitur di kudus
Lolita menunjukkan produk kursi ayun du tokonya. Foto: Rabu Sipan

Di sudut ruangan tersebut terlihat seorang perempuan duduk sambil memainkan smartphone. Perempuan tersebut bernama Lolita Yoanda (24), pemilik toko Semar Sakti Furniture. Menurutnya tokonya tersebut baru buka pada bulan April 2016. Selain menjual aneka produk mebel furnitur di toko yang berada di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, dia juga aktif memasarkanya lewat daring (online).
“Sejak pertama buka, produk mebel Semar Sakti Furniture lumayan diminati masyarakat Kudus. Bahkan sejak aku sering menjual aneka produk furnitur rotan sintetis ini secara online, kami sudah mempunyai pelanggan tidak hanya di Kudus, tetapi sudah merambah ke kota–kota besar di Indonesia. Bahkan di tahun ini kami pernah mengirim barang ke Philipina,” kata perempuan yang biasa disapa Lolita kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.
Perempuan yang menetap di Perumahan Graha Kastara itu merinci aneka produk mebelnya yang dia kirim ke Philipina. Produk tersebut di antaranya, sunlounger 30 set, ranjang jati sekitar 10 set, lemari 10 set, serta beberapa set meja kursi dan kitchen set. Dia juga mengatakan, aneka barang tersebut untuk melengkapi bangunan villa di Philipina yang kebetulan menggunakan interior berbahan kayu jati.

produk furnitur kayu jati
Para pekerja membuat produk furnitur di emar Sakti Furniture, Kudus.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak tersebut menuturkan, selain menyetok barang dia juga melayani pemesanan sesuai permintaan para pelanggan. “Aku hanya menyetok barang dengan model yang lagi jadi tren saat ini. Sedangkan untuk pemesanan, pelanggan menginginkan model serta bahan apapun kami layani, asalkan harganya cocok” ujarnya
Lolita mengatakan, saat ini produk yang diminati para pelanggan dalam negeri yakni ayunan gantung yang terbuat dari rotan sintetis. Dia mengaku sebulan bisa menjual sekitar 20 ayunan. Sedangkan untuk seluruh produk toko Semar Sakti Furniture dia mengaku bisa menjual sekitar 30 set furnitur sebulan.
Dia juga merinci, semua aneka produk mebel yang berada di tokonya tersebut, di antaranya empat ayunan gantung yang terbuat rotan sintetis, tiga set meja kursi yang terbuat dari kayu jati. Serta ada tiga set meja kursi yang terbuat dari rotan sintetis maupun rotan alam, dan dua kursi tudung  yang digunakan duduk Kanjeng Dimas Taat Pribadi.
Lolita mengatakan, selama ini mendapatkan rotan untuk bahan mebelnya tersebut dari beberapa pabrik di Jakarta serta Semarang. Dan untuk mendukung produksi toko mebelnya dia sekarang mempekerjakan sekitar 15 orang.
Alhamdulillah meskipun baru beberapa bulan aku rintis toko yang menjual aneka furnitur itu sudah memiliki beberapa pelanggan. Karena menurut mereka aneka produk mebel yang aku jual kualitas serta modelnya bagus dan harganya lebih murah dari yang lain. Aku juga selain menjual secara per set aku juga melayani penjualan dalam jumlah banyak,” jelas Lolita
- advertisement -

Eni Mardiyanti: Hingga Agustus Lalu Ada 69 Penderita HIV/AIDS di Kudus, 60% Laki-laki

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Ratusan siswa terlihat seksama
mengikuti penyampaian materi yang disampaikan perempuan berkacamata yang duduk di atas kursi.
Sesekali dia berdiri saat memberi penjelasan penularan Human Immuno Deficiency Virus (HIV) yang berdampak terkena Acquired
Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). 

penderita hiv/aids di kudus jawa tengah
Eni Mardiyanti menyampaikan materi terkait bahaya HIV/AIDS di aula SMA 1 Mejobo. Foto: Imam Arwindra

Selain itu juga tentang bahaya penggunaan
narkoba dan seks bebas. Dia juga mengungkapkan jumlah penderita HIV/AIDS di Kudus yang hingga Agustus lalu mencapai 69 penderita. Perempuan tersebut duduk bersama seorang  perempuan berkrudung coklat dan laki-laki yang
masih mengenakan pakaian dinas harian. 

Dia, yakni Eni Mardiyanti narasumber
penyuluhan HIV/AIDS saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SMA 1 Mejobo ke-21. Dia menjelaskan, perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang terkena HIV/AIDS yakni lebih banyak laki-laki karena mencapai 60 persen. Dalam bulan Januari-Agustus tahun 2016 di Kudus, terdapat 69 penderita HIV/AIDS. 


Eni menyebutkan, pada Januari ada 11 orang penderita HIV/AIDS, Februari 2 orang, Maret 11 orang, April 12 orang, Mei 5 orang, Juni 12 orang, Juli 7 orang dan Agustus 9 orang. “Untuk Agustus laki-laki 5 orang dan perempuan 4 orang, HIV 2 orang dan AIDS 7 orang. Untuk September belum saya rekap,” tambahnya.

Menurutnya, orang yang terkena HIV akan mulai terasa sekitar usia 20 tahun. Saat mereka masih berusia 15-16 tahun, badan masih sehat dan belum melemah. Dia menuturkan, ada dua cara supaya virus tersebut tidak menular kepada orang lain. Dua cara itu yakni pencegahan supaya tidak terinveksi dan pencegahan supaya tidak menularkan. 

“Caranya dengan tidak melakukan seks bebas dan menjauhi narkoba terutama yang memakai suntik. Selain itu sering melakukan donor darah supaya setiap saat bisa diketahui kondisi kesehatannya. Kami punya jargon say no to drug, no free sex,” jelasnya yang juga aktif di Kaukus Masyarakat Anti Narkoba (Kauman).

Menurutnya, sudah lama dia konsentrasi pengawalan masyarakat yang terkena
HIV/AIDS di Kudus. Dia mengaku akan terus mengawal orang yang terkena HIV (Odha) karena
tugas kemanusiaan. 

“Saya seorang ibu yang mempunyai dua anak. Saya harus peduli
dengan mereka (Odha) karena ini tugas kemanusiaan,” ungkapnya saat ditemui
usai kegiatan di aula SMA 1 Mejobo, Kudus, Selasa (25/10/2016).

Eni yang juga aktif sebagai kordinator Kelompok
Dukungan Sebaya (KDS) menuturkan, orang yang terkena HIV juga ingin hidup
normal seperti manusia pada umumnya. Namun kadang mereka dipandang sebelah mata
karena terjangkit virus tersebut. Menurutnya, penularan HIV hanya bisa melalui hubungan seks, transfusi darah, jarum suntik dan susu ibu yang terjangkit
HIV. 

“Virus ini tidak bisa tertular lewat keringat, air ludah, bersin, atau penggunaan
alat makan maupun handuk. Kami juga pendampingan kepada Odha maupun Ohida,
orang yang hidup dengan Odha,” jelasnya.

Dikatakan Eni, lewat Kelompok Dungan Sebaya, dia mendapingi para odha
untuk terus memotivasi dan mengakses layanan terapi. Menurutnya, odha yang dikordinatorinya
tingkat ekonomi menengah kebawah. Selain itu, sumber daya manusia tentang
HIV/IADS masih kurang. “Karena peduli, akhirnya saya terjun mendampingi mereka,”
tambahnya.
- advertisement -

Murawat Jual Jagung Manis di Kudus Sejak 1987 di Kudus, Tak Pernah Pindah ke Daerah Lain

0
SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Seorang pria bertopi terlihat sedang mengayuh gerobak di Jalan Menur tepat di Desa Nganguk, Kecamatan Kota. Di atas gerobak tampak sebuah dandang dengan puluhan jagung rebus tertata rapi di dalamnya. Pria tersebut bernama Murawat (53) penjual jagung rebus manis yang sejak tahun 1987 berjualan di Kudus dan tak pernah pindah ke daerah lain.

jual jagung manis
Murawat melayani pembeli jagung masnis di Nagnguk. Foto: Rabu Sipan 

Setelah beberapa kayuhan pedal gerobaknya berputar, Murawat berhenti karena ada seorang pria membeli jagung rebus yang dia jual. Seusai melayani pembeli, Murawat sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku mulai berjualan jagung rebus sejak tahun 1983 di Jakarta, namun di ibu kota hanya bertahan tiga tahun karena jagungnya tidak laku.
“Aku pertama berjualan jagung rebus di Jakarta, namun aku hanya bertahan tiga tahun di ibu kota karena di sana banyak saingan hingga jagung rebus yang aku jual jarang habis. Lalu aku pindah ke Surabaya namun di Kota Pahlawan tersebut aku mengalami nasib serupa. Hingga aku memutuskan pulang ke Jepara dan atas saran teman aku berjualan jagung rebus di Kudus,” ujar Murawat
Pria yang mengaku mengontrak di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, mengatakan sejak berjualan di Kudus penjualan jagung manis rebusnya lumayan laris. Menurutnya hampir setiap hari jagung rebus manis maupun jagung rebus biasa yang dia jual habis terjual.
“Aku bersukur selama berjualan di Kudus, 400 jagung rebus yang aku jual selalu habis terjual. Bahkan aku juga sudah mempunyai banyak pelanggan yang hampir setiap hari mereka secara bergantian mendatangi tempat mangkalku untuk membeli jagung rebusku,” jelas Murawat
Pria yang mempunyai tiga anak tersebut mengatakan, selama berjualan di Kudus dia sudah mempunyai tiga tempat untuk mangkal, yang dia datangi setiap hari secara bergantian. Dia lalu merinci, setiap hari pada pukul 10.00 WIB dia mangkal di Pasar Bitingan, pukul 15.00 WIB dia pindah ke Pasar Kliwon, sedangkan pada pukul 19.00 WIB dia menjual jagungnya sampai habis di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.
Dia mengatakan mendapatkan jagung manis dari Pasar Bitingan yang dia beli Rp 4 ribu per kilogram. Sedangkan jagung biasa dia beli Rp 70 ribu per seratus biji. Dia juga mengaku gerobak yang dia gunakan untuk berjualan tersebut pemberian dari bupati Kudus.
“Aku membeli jagung tersebut dalam keadaan mentah. Setelah direbus aku jual dengan harga Rp 2 ribu untuk jagung biasa dan jagung manis aku hargai Rp 2.500. Biasanya bila terjual habis aku bisa mendapatkan uang sekitar Rp 700 ribu sehari,” ujar Murawat
- advertisement -

Usaha Kerupuk di Pasuruan Lor Ini Bermodal Rp 1 M, Baru Satu Setengah Tahun Omzetnya Rp 100 Juta Sebulan

0
SEPUTARKUDUS.COM, PASURUAN LOR – Awan hitam tampak pekat saat sejumlah orang tergesa-gesa mengambil kerupuk mentah di atas anyaman bambu, di depan rumah di Desa Pasuruan Lor RT 2 RW 4, Kecamatan jati, Kudus. Rumah tersebut milik Aris Susanto dan Alexander Bambang Suryo Jatmiko (28), produsen kerupuk merek Koko yang baru satu setengah tahun menjalankan usaha. Dengan modal awal Rp 1 miliar, kini omzet mereka mencapai Rp 100 juta per bulan.

produsen kerupuk di kudus
Karyawan menata kerupuk mentah usai di jemur. Foto: Sutopo Ahmad

Di tengah kesibukannya memproduksi kerupuk pesanan dari pelanggan, Acong, begitu Aris Susanto akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha yang dia jalankan bersama rekannya. Usahanya tersebut dimulai sejak 2015 lalu, atau sekitar satu setengah tahun. Modal yang dikeluarkan mencapai Rp 1 miliar.

“Modal yang saya kami keluarkan dulu Rp 1 miliar, untuk membeli alat, bahan baku dan membangun tempat. Sedangkan omzet, kami saat ini antara Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per bulan,” ujar Acong kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Dia menjelaskan,  bahan kerupuk buatannya terdiri dari tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu rahasia. Semua bahan baku pembuatan kerupuk dia beli di Kudus. 

Pria yang menyandang gelar Sarjana Psikologi di Universitas terkemuka di Indonesia ini mengatakan, pemasaran kerupuk dilakukan dengan cara tradisional outlet dan modern outlet. Tradisional outlet yakni menawarkan produk ke sejumlah warung makan, sedangkan modern outlet dengan cara promosi langsung ke instansi-instansi maupun perusahaan. “Pelanggan kami kebanyakan dari wilayah Kudus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, setiap satu blek kerupuk dia banderol seharga Rp 20 ribu, berisi 50 kerupuk. Untuk satuan, harga kerupuk yang ditawarkan seharga Rp 400. Saat ini, dengan dibantu tujuh karyawan, dalam sehari pihaknya mampu memproduksi kerupuk sebanyak 1.000 biji.

Sementara itu, Alexander Bambang Suryo Jatmiko mengungkapkan, keunggulan kerupuk buatannya terletak pada aroma bawangnya yang khas. Saking khasnya, pelanggannya sering menyamakan rasanya seperti Sarimi, ada juga yang menyebut seperti snack Taro. 

“Kadang kalau pelanggan itu datang, kami sering menyapa dia dengan panggilan Pak Sarimi,” ungkap Alex, pria kelahiran Kabupaten Klaten waktu ditemui di tempat produksi.

Alex yang mengaku hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini menceritakan, sebelum menjadi pengusaha kerupuk, dia bekerja sebagai karyawan di Polytron. Dia memilih membuat kerupuk, karena setiap orang butuh makan krupuk, dan produk yang dia buat pasti akan mudah dijual. “Kerupuk itu semua orang butuh, kan makan tanpa kerupuk terasa kurang komplit,” ujarnya.

- advertisement -

Mahasiswi Asal Thailand Ini Kunjungi Estu Coffee dan Keget Ada Kerbau Dibuat Sate di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Sejumlah perempuan dan laki-laki
terlihat duduk menunggu makanan dan minuman yang dipesan di kedai Estu Coffee
Shop, Jalan Sostrokartono, Kudus. Dengan menggunakan Bahasa Inggris mereka saling
berinteraksi satu sama lain. Mereka adalah mahasiswa yang datang dari Thailand dan Malaysia
untuk mengikuti Muria Cultural Progam yang diadakan Universitas Muria Kudus
(UMK).

peserta muria culture program
Sejumlah mahasiswa asal Thailand dan Malaysia menyantap hidangan di 

Saat nasi goreng dan minuman yang dipesan datang, mereka
terlihat girang dan langsung menyantap makanan yang sudah disajikan.
Di antaranya Sareena (21), nasi goreng yang disajikan menurutnya sama seperti
yang pernah dia makan di negaranya, Thailand. 

Selain itu, saat dia pernah
berkunjung ke Malaysia pun rasanya hampir sama. “Namun bumbunya lebih terasa di
sini,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com selepas makan, Rabu (26/10/2016)
malam.

Sareena yang mengaku baru
pertama kali kerkunjung ke Indonesia. Menurutnya, Kudus merupakan daerah pertama di Indonesia yang
dikunjungi. Dia merasa orang-orang di Kudus sopan dan bersahabat. Setiap
bertemu selalu mengumbar senyum dan menyapa . “Kalau saya
tinggal tinggal di Kudus, mungkin saya betah. Orang-orangnya sangat
bersahabat,” ungkapnya sambil tersenyum.
Mahasiswi di Thaksin University, Thailand ,mengaku belum memahami Bahasa Indonesia. Selama sekitar tiga hari di Kudus dia
akan menggunakan Bahasa Inggris dengan didampingi mahasiswa dan dosen UMK. Menurutnya,
dia belum mengunjungi Menara Kudus karena baru saja datang dari Bandara. Dia mengaku mengetahui ikon Kota Kretek tersebut dari Google. 

I was read in Google. It’s very fantastic (Aku pernah
baca tentang Menara Kudus di Google. Menaranya sangat fantastik,” tuturnya yang
suka makanan sea food.

Saat Seputarkudus.com menuturkan di Kudus ada makanan sate
kerbau, soto kerbau dan lentog tanjung, dia mengaku belum mengetahuinya.
Menurutnya, dia baru pertama kali mendengar ada kerbau yang dibuat sate. Setahunya,
hanya ada sate ayam dan kambing. “Is that cow? I am not eat (Kerbau itu
sapi? Aku tidak memakannya,” pungkasnya.
Dikatakan Sareena tidak memakan daging sapi karena sebagian
besar masyarakat Thailand memulyakan sapi. Namun, kalau sapi dan kerbau berbeda,
menurutnya dia akan mencoba memakannya. Sareena menuturkan, mahasiswa asal
Thailand yang mengikuti Muria Cultural Progam ada 11 orang.
Diah Kurniati, Kepala Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris
UMK yang sekaligus menjadi Panita Muria Cultural Progam menuturkan, ada 61
mahasiswa dari luar Jawa dan luar negeri yang mengikuti progam bantuan dari Kementerian
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia tersebut.

Para peserta dari luar negeri yang datang, di antaranya dari Thailand, Malaysia, Afganistan, Chili, Uganda, Afrika. “Yang paling banyak dari Thailand dan yang paling jauh dari Uganda, Afrika,” tuturnya.

Selain
mengeksplor wisata di Kudus, mereka juga akan mempelajari budaya Kudus terutama, Tari Kretek. “Nanti di akhir kegiatan pada hari Sabtu, para peserta akan mementaskan
Tari Kretek beserta tabuhan gamelan di UMK,” ungkapnya.

Selain itu, peserta juga akan belajar tentang ajaran Sunan
Kudus yakni Gusjigang (bagus, ngaji, dagang). Menurutnya, ajaran tersebut memiliki nilai entrepreneurship yang tepat untuk para peserta yang didominasi dari
luar negeri. 

- advertisement -

20 Tahun Tekuni Pembuatan Gebyok, Produk Buatan Malikan Kini Terjual ke Banyak Daerah di Indonesia

0

SEPUTARKUDUS.COM, JETIS KAPUAN – Di depan bangunan di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Jetis Kapuan RT 3 RW 1, Kecamatan Jati, Kudus, tampak tumpukan kayu jati yang sebagian sudah diukir. Terlihat tiga pria sedang melakukan proses pembuatan gebyok. Tempat produksi gebyok rumah adat Kudus bernama Gong Sekaten itu milik Malikan (50). Sekitar 20 tahun lalu, dia keluar dari tempatnya bekerja dan mengembangkan usaha tersebut.

gebyok kudus
Malikan membersihkan gebyok hasil produksi usahanya di Jetis Kapuan, Jati, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Malikan mengungkapkan, sebelum menekuni usaha pembuatan gebyok, dirinya bekerja sebagai tukang ukir. Sekitar 20 tahun lalu, dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk membuka usaha pembuatan gebyok secara mandiri. 

“Setelah memutuskan untuk menekuni usaha secara mandiri, saya tidak langsung membuka usaha pembuatan gebyok. Awalnya saya hanya menerima pesanan ukiran. Setelah memiliki modal cukup, saya baru berani memulai pembuatan gebyok, karena biayanya cukup mahal,” ujar Malikan kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Dia menceritakan, pada awal memulai usaha, dirinya mengaku kesulitan memasarkan produk gebyok rumah adat Kudus. Seiring berjalannya waktu, produk buatan Malikan cukup dikenal. Produk buatannya kini sudah terjual ke sejumlah daerah di Indonesia. Di antara beberapa daerah tersebut, yakni ke Bali, Bandung, Sumatra, Jakarta, Semarang, dan sejumlah daerah lainnya. 

gebyok kudus

Dia juga menjelaskan, produk gebyok yang dia buat kebanyakan berbahan kayu jati lama. Dia membeli kayu tersebut dari bongkaran rumah zaman dulu. Selain itu, dia juga menggunakan jati berumur muda. Namun Malikan memilih kayu jati berumur muda hanya dari Blora, yang kualitas kayunya bagus. Malikan lebih selektif memilih kayu untuk menjaga kualitas produk buatannya.

Untuk menjalankan usahanya saat ini, Malikan mengaku dibantu dua karyawan yang datang Gong Sekaten, dan 10 karyawan bagian ukir yang mengerjakan gebyok di rumah masing-masing. Untuk membuat satu gebyok dibutuhkan waktu cukup lama. 

“Misalnya gebyok untuk pintu gapura membutuhkan waktu satu setengah bulan, joglo tiga bulan, gazebo ukuran 2×3 meter membutuhkan waktu dua setengah bulan, dan gebyok ukuran 10 meter membutuhkan waktu sekitar enam bulan,” tutur warga Undaan Kidul, Kecamatan Undaan.

Malikan merinci harga produk buatannya. Untuk gebyok lurus biasanya dia jual dengan harga Rp 250 juta, gebyok later U Rp 380 juta, joglo Rp 400 juta, pintu gapura Rp 30 juta, dan gazebo ukuran 2×3 meter Rp 40 juta. 

“Untuk membuat rumah gebyok adat Kudus memang mahal, satu rumah minimal butuh dana 2,5 miliar. Sekali menjual produk juga untungnya Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Tetapi ya dibagi proses pembuatan yang lama,” terangnya.

- advertisement -

Meski Lumpuh Sejak Usia 5 Tahun, Sulikin Tak Pernah Patah Semangat untuk Menjadi Pelukis

0

SEPUTARKUDUS.COM, KUTUK – Sejumlah lukisan terlihat memenuhi beberapa buku gambar yang berukuran A4 di rumah kecil terbuat dari kayu dan bambu. Lukisan yang dibuat meliputi gambar manusia, naga, dan wayang yang dilukis dengan alat sederhana. Buku gambar tersebut milik Sulikin (20), pria yang sejak usia lima tahun harus duduk di atas kursi roda karena lumpuh. Meski begitu, dia tetap bersemangat mengejar cita-citanya menjadi pelukis.

sulikin warga kutuk lumpuh sejak kecil
Sulikin melihatkan lukisan hasil karyanya di rumah sederhana di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melukis, Likin, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang cita-citanya sejak kecil tersebut. Dia mengaku suka melukis sejak dirinya masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Saat ini banyak tetangganya yang memintanya untuk melukiskan objek. Pesanan itu kebanyakan dari siswa-siswi SD. 

“Sejak kecil saya memang suka menggambar, kadang waktu SD saya sering disuruh ikut dalam acara lomba menggambar. Kalau gambar ini, semua pesanan dari teman dan siswa-siswi sekolah. Hitung-hitung mengisi kesibukan dengan menggambar di rumah, sekaligus berusaha meraih cita-cita untuk menjadi pelukis,” ungkap Likin waktu ditemui di rumahnya, Desa Kutuk RT 4 RW 4, Kecamatan Undaan, Kudus.

Baca juga: Buruh Tani di Kutuk Ini Hidupi Suami dan Anaknya yang Lumpuh Menahun, Berharap Bantuan Dermawan

Pria yang mengaku hanya lulusan SD ini mengatakan, sejumlah buku gambar dan alat untuk menggambar dia peroleh dari ibunya, Sukijah (55). Menurutnya, ibunya membeli peralatan tersebut di Pasar Kalirejo, Undaan, Kudus, dengan mengendarai sepeda.  

Dia menjelaskan, pesanan yang dia buat tidak pernah dia kasih patokan harga. Dia mengaku menerima berapapun upah yang diperoleh dari para pemesan lukisan yang dia buat. “Terserah mereka mau memberi berapa. Kadang per gambar dihargai Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, kadang juga ada gambar yang sudah diambil tapi tidak dibayar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain melukis, dia juga beternak ayam di rumah. Selain itu, terkadang teman-temanya yang sering bermain ke rumah meminta tolong pada dirinya untuk memotong rambut. Dia mengaku mempunyai bakat untuk mencukur berawal dari kebiasaan dirinya setiap kali mencukur ayahnya yang sedang sakit menahun.

“Saya tidak pernah malu memiliki kondisi seperti ini, tetap bersyukur menerima apa adanya. Saya tahu, semua ini sudah takdir dari Tuhan. Saya cuma berharap bisa meringankan beban orang tua, itu saja,” tambahnya.

- advertisement -

Malas Cuci Kendaraan, Kontak Saja Adus Disek Spa And Beauty yang Sediakan Layanan Antar Jemput

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi tikungan jalan Desa Getas Pejaten, terlihat beberapa motor sedang terparkir. Di sudut lain tampak beberapa pria sedang sibuk menyuci motor para pelanggan. Tempat tersebut adalah pencucian motor serta mobil yang bernama Adus Disek Spa and Beauty yang menyediakan jasa cuci motor dengan layanan antar jemput.

cuci motor dan mobil
Adus Disek Spa and Beauty penyedia jasa cuci motor dan mobil di Getas Pejaten, Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Awi Lorita Sari (24), karyawan Adus Disek Spa and Beauty mengatakan, pihaknya sengaja memberikan layanan antar dan jemput kendaraan yang akan dicuci agar semakin menarik para pelanggan. Langkah itu juga sekaligus memberikan fasilitas kepada para pelanggan agar tetap bisa menyuci kendaraanya meskipun mereka sedang sibuk atau malas ke tempat pencucian kendaraan.
“Sekarang masyarakat Kudus tidak perlu khawatir, tidak bisa mencuci kendaraanya karena rutinitas setiap hari atau malas untuk mengantar ke tempat pencucian kendaraan. Tinggal telpon atau sms ke nomer 085642724558 milik  Adus Disek Spa and Beauty kendaraan akan kami jemput. Setelah bersih dicuci kami antar ke rumah atau ke kantor kembali,” kata wanita yang akrab disapa Awi, kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

cuci motor dan mobil di Kudus

Warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus menuturkan, layanan antar jemput tersebut tidak dipungut biaya untuk kendaraan roda dua. Namun untuk kendaraan roda empat para pelanggan dibebankan biaya tambahan sebesar Rp 5 ribu.
Untuk biaya mencuci kendaraan jenis sepeda motor bebek dan matic dikenai biaya Rp 8 ribu, serta Rp 10 ribu untuk sepeda motor sport. “Namun khusus motor Nmax upah mecucinya disamakan dengan harga motor sport, karena body-nya bongsor, “ ujar wanita yang telah dikaruniai seorang anak tersebut.
Sedangkan biaya pencucian mobil para pelanggan dikenai biaya Rp 30 ribu dengan servis di antaranya, vacum, semir ban serta semir body untuk bagian tertentu. Sedankan, bila para pelanggan ingin rangka mobil bawahnya diberi semir anti karat biayanya menjadi Rp 40 ribu.

cuci motor dan mobil di Kudus

Awi mengungkapkan setiap penyucian kendaraan roda dua sebanyak sepuluh kali di Adus Disek Spa and Beuty mendapatkan bonus gratis sekali cuci sepeda motor. Meskipun motor yang dicuci berbeda tidak jadi masalah asalkan dia membawa sepuluh nota pembayaranya.
Wanita berjilbab tersebut mengatakan, Adus Disek Spa and Beuty buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 WIB sampai jam 16.00 WIB. “Di musim hujan sekarang ini Adus Disek Spa and Beauty bisa mencuci sekitar 60 kendaran roda dua maupun roda empat sehari, dengan tenaga kerja sekitar enam orang,” kata Awi.

  
- advertisement -