![]() |
| Nawiyo (86) menyusuri jalan untuk menjual keripik pisang. Foto: Rabu Sipan |
Pria Renta Asal Grobogan Ini 60 Tahun Lebih Berjalan Kaki Menjajakan Dagangannya, Malamnya Tidur di SPBU
Meski Tak Selaris Dulu, Setiap Hari Ada Saja yang Datang Membeli Kayu Bakar Milik Sri di Sunggingan
![]() |
| Sejumlah orang menurunkan kayu bakar di Kelurahan Sunggingan, Kota, Kudus. Foto Rabu Sipan |
![]() |
| Sri Mulyani, penjual kayu bakar di Kelurahan Sunggingan. Foto: Rabu Sipan |
Mahasiswa dari 14 Negara Merasa Senang Bisa Tampilkan Tari Kretek pada Muria Cultural Program di UMK
berbaris dengan membawa umbul-umbul yang berwarna-warni di lapangan basket Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (29/10/2016). Sementara di sudut yang lain, sejumlah perempuan berpakaian adat Kudus membawa tampah
berjalan menuju panggung utama. Mereka adalah mahasiswa asing dari 14 negara yang menampilkan Tari Kretek.
![]() |
| Sejumlah mahasiswa asing menampilkan Tari Kretek di UMK. Foto-foto: Imam Arwindra |
Mereka terlihat kaku saat membawakan gerakan Tari Kretek. Tak jarang, gerakan mereka mengundang gelak tawa penonton yang hadir. Satu di antara mahasiswa asing yang tampil membawakan Tari Kretek, yakni Bassem Ismail (27) dari Yordania. Dia banyak gerakan yang belum dihafalnya.
“Mungkin belum terbiasa,” ungkapnya dengan
Bahasa Inggris saat ditemui usai pentas yang diselenggarakan pada Muria Cultural Program tersebut.
ikut menampilkan Tari Kretek bersama peserta lainnya. Menurutnya, budaya lokal yang diangkat dalam Muria Cultural Program sangat menarik. “Kemarin saya bertemu anak-anak Omah Dongeng Marwah membaca cerita. Mereka bagus, saya ingin seperti mereka,” tutur Bassem.
Pria yang sedang menempuh magister Jurusan Akuntansi di Arab Open University itu menceritakan, selama di Kudus dia sudah mencoba berbagai masakan dan rokok. Menurutnya rokok di Indonesia dengan di negaranya berbeda. Di Yordania rokok hanya berbahan tembakau tanpa cengkeh. Selain itu, dia juga sempat mencoba Jenang Mubarok langsung dari tempat produksinya. “Rasanya (jenang) sama seperti kurma,” tuturnya.
Senada dengan Bassem, Carolina (28), mahasiswi asal Chile juga mengaku sulit menghafal gerakan Tari Kretek. Hal itu membuat dirinya tak begitu bagus saat membawakan tari khas Kudus tersebut. Meski begitu dia mengaku senang, dan sangat tertarik dengan pakaian adat Kudus yang dia kenakan saat menari.
Menurutnya, kain batik yang terbalut ditubuhnya memiliki motif yang unik dan indak. Topi yang dikenakan berbahan anyaman bambu juga membuatnya kagum. Mahasiswi di Universidad Catolica de Chile itu mengira itu bukan topi, melainkan wadah yang sering digunakan untuk tempat makanan.
mengunjungi berbagai tempat menarik. Di antaranya Museum Kretek, Jenang Mubarok dan Menara Kudus. Dia Kudus, dia mengaku baru pertama kali melihat cara membuat rokok. “Saya senang di Kudus. Orangnya
bersahabat dan makanannya enak-enak. Ada buah, soto dan lainnya,” jelas Carolina.
Diah Kurniati, Ketua Panitia Muria Cultural Program
mengungkapkan, jumlah keseluruhan peserta 58 mahasiswa. Acara diselenggarakan sejak 27 Oktober dan berakhir hari ini. “Mereka berasal dari 14 negara. Dari Indonesia juga
ada yakni Pontianak, Wamena, Medan,” ungkapnya.
ikut tampil menari. Mereka hanya berlatih selama dua jam selama dua hari. Selain menari, ada peserta yang bertugas memainkan musik gamelan sebanyak 17 orang. “Dengan
waktu singkat mereka sukses mementaskan Tari Kretek dan memainkan gamelan,”
terangnya.
Diah yang juga Ketua Progam Studi Pendidikan Bahasa
Inggris berharap, kegiatan yang diselenggarakan bisa menjadi agenda tahunan. Menurutnya,
peserta yang akan datang bisa lebih banyak dan bisa datang dari lebih banyak negara. “Semoga bisa menjadi agenda tahunan,” tuturnya.
Saat Malam Tiba, Penjual Mainan Anak-Anak Asal Jepara Ini Bermalam di Hotel untuk Menikmati Hidup
SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus, tampak sejumlah mainan anak-anak dijajakan seorang pria bertopi. Pria asal Jepara tersebut menjual berbagai macam mainan, di antaranya balon, ayunan tali, tenda kecil, bak mandi plastik dan lain sebagainya. Selain di Kudus, dia sering keliling daerah menjual mainan anak-anak. Dia mengaku selalu bermalam di hotel saat berjualan.
![]() |
| Mas Balon menjajakan sejumlah mainan anak-anak di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi |
Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Mas Balon ini mendapat keuntungan bersih berjualan mainan anak-anak sekitar Rp 1 juta sepekan. Menurutnya, saat malam tiba, dia bermalam di hotel. Selain untuk menjaga kesehatan, dia juga ingin menikmati hidup.
“Biasanya saya tidur di hotel agar tetap sehat dan sekaligus menikmati hidup. Itu saya lakukan ketika berjualan di daerah yang jauh dari Jepara. Di Kudus saya tidak bermalam, saya pulang ke Jepara karena jaraknya dekat,” ungkap pria tiga anak tersebut, belum lama ini.
Dia mengaku sudak lima tahun berjualan mainan anak-anak. Selama itu pula dirinya tak pernah sepi pembeli, karena produk yang dijual mudah dipasarkan. Menurutnya, dia pernah berjualan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Namun dia lebih sering berjualan di Kudus karena jaraknya dekat dengan tempat tinggalnya di Jepara.
“Biasanya orang Kudus memanggil saya Mas Balon, jika di daerah lain ada juga yang memanggil Pak Ndut. Jualan mainan anak-anak itu paling mudah, tidak perlu sekolah. Siapapun bisa dan pasti ada yang beli.” ungkap pria asli Welahan, Jepara.
Awalnya, dia hanya berjualan balon berkeliling pasar. Seiring berjalannya waktu, dia berinisiatif untuk menjual mainan anak yang lebih mahal agar mendapat keuntungan yang lebih banyak. Karena sering berpindah-pindah kota, Mas Balon mengaku saat ini memiliki banyak kenalan pedagang yang sangat membantu untuk mengembangkan usahanya.
Dia merinci harga barang dagangannya. Harga balon dia jual dengan harga Rp 25 ribu, ayunan Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu, topeng barongsai Rp 55 ribu. Sedangkan pelampung kecil bulat dia jual seharga Rp 175 ribu, pelampung kecil persegi Rp 225 ribu, pelampung ukuran tanggung Rp 325 ribu, pelampung ukuran besar Rp 555 ribu, dan tenda harganya lebih dari Rp 300 ribu.
Saat asyik berbagi bercerita, datang seorang pria yang hendak membeli ayunan. Andre (39), mengaku membeli ayunan yang harganya Rp 45 ribu untuk anak temannya. “Ini titipan teman, jadi saya yang biasa lewat sini diminta sekalian membelikan. Ini saya beli yang harga Rp 45 ribu,” ungkapnya.
Jangan Lupa, Minggu Besok Akan Ada Donor Darah, Stand Up Comedy dan Musik Akustik di Joglo Sawah
Dia mengatakan, acara akan dimulai pukul 7.00 WIB Hingga pukul 16.00 WIB. “Pukul 7.00 WIB akan dibuka Kudus Runner dengan berlari di sekitaran Kota menuju Joglo Sawah. Acara donor darah dimulai Pukul 9.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB,” ujarnya.
![]() |
| Novian, panitia penyelenggara acara. |
“Kalau ide membuat acara donor darah, bermula dari diskusi di Forum Komunitas Kudus yang akhirnya mencetuskan acara tersebut,” tambahnya.
Meski Sempat Kesetrum Mic, Tim Rebana TBS Es-Salafy Berhasil Juarai Festival Hadroh Nasional di Sleman
Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara, Kamis (27/10/2016), terdapat satu-satunya peserta dari Kudus. Peserta tersebut yakni Es-Salafy, grup rebana Madrasah Aliyyah (MA) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus. Meski satu peserta sempat kesetrum saat tampil, namun mereka berhasil menjadi juara dalam Festival Hadroh tingkat Nasional tersebut.
![]() |
| Grup Rebana Es-Salafy Madrasah TBS tampil Festival Hadroh Pekan Kreatifitas Santri Nasional dan Liga Santri Nusantara di Sleman, Yogyakarta. Foto: TBS |
Kepada Seputarkudus.com, Ketua Es-Salafy Lutfi Awalin mengatakan, acara tersebut diselenggarakan Robithoh Ma’ahid Islamiyah
Nahdlatul Ulama (RMI NU). Es-Salafy merupakan satu-satunya
perwakilan dari Kabupaten Kudus yang tampil dalam acara itu dan berhasil menjadi juara.
ada persiapan khusus dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya pihaknya
hanya melakukan latihan selama tiga kali. “Tidak ada persiapan khusus. Sebelum
pergi kami sowan dulu dengan masyayikh dna berziarah ke Makam Sunan.
Mungkin itu yang membuat kami berhasil” ungkapnya yang ditemui saat berkumpul
dengan anggota Es-Salafi, Jumat (28/10/2016).
saat bertanding ada hal yang sulit terlupakan, yakni micropone yang digunakan mengeluarkan setrum. Menurutnya, ada kabel yang bocor sehingga membuat dia sempat kaget karena
kesetrum. “Sempat gemetar sebentar, mic-nya nyetrum,”
ungkapnya yang mengundang tawa.
di depannya ada dua micropone kabel yang tergeletak. Saat akan mulai melantunkan selawat ternyata micropone yang dipegangnya terasa ada yang aneh. Micropone pertama itu tak jadi digunakan dan
diambil micropone kedua. Bermaksud ingin mengerjai teman sesama vokalis,
ternyata micropone kedua yang diambil juga ada setrumnya. “Kadang strumnya tiba-tiba
besar. Kalau kena bibir mak griming.
Gemetaran pokoknya,” jelasnya.
15 orang. Keseluruhan personel masih duduk di kelas 11 dan 12 MA TBS. Saat
bertanding menurutnya melantunkan lagu Ya Lal Wathon dan Sidanan Nabi. “Lagu Ya
Lal Wathon lagu wajib dan Sidanan Nabi pilihan. Dikasih waktu maksimal 13
menit,” tambahnya.
rebana pada umumnya di antaranya terbang, bass, darbuka, tam, tamborin dan icik.
Dia menuturkan, kemenangan yang didapat bukan serta merta karena skill
bermusiknya, melainkan doa dari masyayikh dan dukungan para alumni TBS yang
tergabung dalam Ikatan Siswa Arbituren (Iksab). “Es-Salafy punya lagu andalan
yakni Tashwiquna,” jelasnya.
Liga Santri Nusantara mengungkapkan, menurutnya ada 15 finalis hadroh terbaik
tingkat Nasional yang berlaga pada Festival Hadroh. Menurutnya ada 15 finalis
akan diambil tiga yang terbaik. “Posisi pertama nomor undian 14 dengan nilai
880 oleh TBS Kudus, nomor dua Pondok Pesantren Darul Qur’an Gunung Kidul dengan
nilai 835 dan nomor tiga nomor undian tujuh dari Pondok Pesantren Assalam
Sleman, 815,” ungkapnya melaui aplikasi whatsapp.
Nasional, Es-salafy akan mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai penghibur rentetan
kegiatan dari tanggal 26-30 Oktober 2016 di Stadion Maguwoharjo, Sleman. “Kegiatan
ini diadakan oleh RMI NU sebagai asosiasi pesantren NU bekerja sama dengan
Kementrian Agama,” jelasnya.
publik dalam menyediakan informasi pondok pesantren, RMI NU melalui kordinator
Gerakan Nasional Ayo Mondok melakukan launcing aplikasi ‘Ayo Mondok’ yang dapat
diunduh melalui playstore. Hamid menjelaskan, aplikasi tersebut menyediakan
informasi profil pondok pesantren secara detail yang bisa dipergunakan calon
santri. “Pekan Kreatifitas Santri Nasional ini diharapkan mampu membumikan
khasanah keilmuan dalam pesantren ataupun tradisi dalam dunia pesantren,”
ungkapnya.
Anak-Anak Omah Dongeng Marwah Bangga Saat Mahasiswa Luar Negeri Baca Geguritan Meski Terdengar Lucu
aula tertawa terbahak-bahak melihat mahasiswa asal Sudan membacakan Geguritan
di ruangan aula Omah Dongeng Marwah dalam bingkai Muria Cultural Progam yang
diadakan Universitas Muria Kudus (UMK). Sambil berdiri, lelaki yang berkulit
hitam tersebut terdengar tidak terbiasa membacakan puisi yang ditulis dengan Bahasa Jawa. Alhasil, anak-anak Omah Dongeng Marwah yang duduk di depannya tertawa.
![]() |
| Mahasiswa asal Sudan membaca Geguritan di Omah Dongeng Marwah dalam Muria Cultural Program. Foto: Imam Arwindra |
membacakan cerita serta Geguritan dengan Bahasa Indonesia dan Jawa. Menurutnya,
saat mereka membacakan teks terdengar lucu.
“Itu yang dari Sudan malah
tidak bisa bilang ‘R’ dan bacanya blepotan, lucu. Tapi saya bangga ada orang asing membaca gcerita dan Geguritan,” ungkapnya yang ditemui selesai
kegiatan di Omah Dongeng Marwah Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Kamis
(27/10/2016).
cerita sejarah Kudus dan Geguritan yang sudah dipelajarinya ke luar negeri. “Rasanya ingin pergi keluar negeri, bercerita tentang semua tentang Kudus,” ungkapnya masih sekolah di SMP 1 Bae tersebut.
suguhan makanan khas Kudus, pisang tandung, gayong, parijotho dan jeruk pamelo. Mahasiswa-mahasiswa yang melakukan kunjungan di Omah
Dongeng Marwah, menurut penyelenggara Muria Cultural Progam Diah Kurniati, peserta program tersebut berjumlah
61 orang. Mereka berasal dari Thailand, Finlandia, Malaysia, Sudan, Afganistan,
Chili, Tanzania, Libya, Jordania, dan Urwanda. Selain itu juga ada mahasiswa dari Indonesia.
dari tanggal 27-29 Oktober 2016. Mahasiswa-mahasiswa tersebut akan mempelajari
Tari Kretek dan gamelan yang nanti akan ditampilkan di UMK di hari terakhir.
Selain itu, mereka juga akan mempelajari ajaran Sunan Kudus Gusjigang (ngaji,
bagus, dagang) sebagai modal mereka menjadi entrepreneur.
“Mereka nanti juga
diajak berkeliling Kudus sambil menikmati kuliner khas Kudus,” terang Diah yang juga Kepala Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMK.
hal itu penting supaya budaya lokal yang sudah ada tidak tergerus modernisasi.
“Semoga kegiatan yang baik ini bisa terus berlanjut,” tuturnya.
Berkat Pemasaran Secara Online, Produk Mebel Asal Kudus Ini Tembus Pasar Manca Negara
![]() |
| Lolita menunjukkan produk kursi ayun du tokonya. Foto: Rabu Sipan |
![]() |
| Para pekerja membuat produk furnitur di emar Sakti Furniture, Kudus. |
Eni Mardiyanti: Hingga Agustus Lalu Ada 69 Penderita HIV/AIDS di Kudus, 60% Laki-laki
mengikuti penyampaian materi yang disampaikan perempuan berkacamata yang duduk di atas kursi.
Sesekali dia berdiri saat memberi penjelasan penularan Human Immuno Deficiency Virus (HIV) yang berdampak terkena Acquired
Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).
![]() |
| Eni Mardiyanti menyampaikan materi terkait bahaya HIV/AIDS di aula SMA 1 Mejobo. Foto: Imam Arwindra |
Selain itu juga tentang bahaya penggunaan
narkoba dan seks bebas. Dia juga mengungkapkan jumlah penderita HIV/AIDS di Kudus yang hingga Agustus lalu mencapai 69 penderita. Perempuan tersebut duduk bersama seorang perempuan berkrudung coklat dan laki-laki yang
masih mengenakan pakaian dinas harian.
Dia, yakni Eni Mardiyanti narasumber
penyuluhan HIV/AIDS saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SMA 1 Mejobo ke-21. Dia menjelaskan, perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang terkena HIV/AIDS yakni lebih banyak laki-laki karena mencapai 60 persen. Dalam bulan Januari-Agustus tahun 2016 di Kudus, terdapat 69 penderita HIV/AIDS.
Eni menyebutkan, pada Januari ada 11 orang penderita HIV/AIDS, Februari 2 orang, Maret 11 orang, April 12 orang, Mei 5 orang, Juni 12 orang, Juli 7 orang dan Agustus 9 orang. “Untuk Agustus laki-laki 5 orang dan perempuan 4 orang, HIV 2 orang dan AIDS 7 orang. Untuk September belum saya rekap,” tambahnya.
“Caranya dengan tidak melakukan seks bebas dan menjauhi narkoba terutama yang memakai suntik. Selain itu sering melakukan donor darah supaya setiap saat bisa diketahui kondisi kesehatannya. Kami punya jargon say no to drug, no free sex,” jelasnya yang juga aktif di Kaukus Masyarakat Anti Narkoba (Kauman).
Menurutnya, sudah lama dia konsentrasi pengawalan masyarakat yang terkena
HIV/AIDS di Kudus. Dia mengaku akan terus mengawal orang yang terkena HIV (Odha) karena
tugas kemanusiaan.
“Saya seorang ibu yang mempunyai dua anak. Saya harus peduli
dengan mereka (Odha) karena ini tugas kemanusiaan,” ungkapnya saat ditemui
usai kegiatan di aula SMA 1 Mejobo, Kudus, Selasa (25/10/2016).
Dukungan Sebaya (KDS) menuturkan, orang yang terkena HIV juga ingin hidup
normal seperti manusia pada umumnya. Namun kadang mereka dipandang sebelah mata
karena terjangkit virus tersebut. Menurutnya, penularan HIV hanya bisa melalui hubungan seks, transfusi darah, jarum suntik dan susu ibu yang terjangkit
HIV.
“Virus ini tidak bisa tertular lewat keringat, air ludah, bersin, atau penggunaan
alat makan maupun handuk. Kami juga pendampingan kepada Odha maupun Ohida,
orang yang hidup dengan Odha,” jelasnya.
untuk terus memotivasi dan mengakses layanan terapi. Menurutnya, odha yang dikordinatorinya
tingkat ekonomi menengah kebawah. Selain itu, sumber daya manusia tentang
HIV/IADS masih kurang. “Karena peduli, akhirnya saya terjun mendampingi mereka,”
tambahnya.
Usaha Kerupuk di Pasuruan Lor Ini Bermodal Rp 1 M, Baru Satu Setengah Tahun Omzetnya Rp 100 Juta Sebulan
![]() |
| Karyawan menata kerupuk mentah usai di jemur. Foto: Sutopo Ahmad |
Di tengah kesibukannya memproduksi kerupuk pesanan dari pelanggan, Acong, begitu Aris Susanto akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha yang dia jalankan bersama rekannya. Usahanya tersebut dimulai sejak 2015 lalu, atau sekitar satu setengah tahun. Modal yang dikeluarkan mencapai Rp 1 miliar.
“Modal yang saya kami keluarkan dulu Rp 1 miliar, untuk membeli alat, bahan baku dan membangun tempat. Sedangkan omzet, kami saat ini antara Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per bulan,” ujar Acong kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.
Dia menjelaskan, bahan kerupuk buatannya terdiri dari tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu rahasia. Semua bahan baku pembuatan kerupuk dia beli di Kudus.
Pria yang menyandang gelar Sarjana Psikologi di Universitas terkemuka di Indonesia ini mengatakan, pemasaran kerupuk dilakukan dengan cara tradisional outlet dan modern outlet. Tradisional outlet yakni menawarkan produk ke sejumlah warung makan, sedangkan modern outlet dengan cara promosi langsung ke instansi-instansi maupun perusahaan. “Pelanggan kami kebanyakan dari wilayah Kudus,” ungkapnya.
Dia menambahkan, setiap satu blek kerupuk dia banderol seharga Rp 20 ribu, berisi 50 kerupuk. Untuk satuan, harga kerupuk yang ditawarkan seharga Rp 400. Saat ini, dengan dibantu tujuh karyawan, dalam sehari pihaknya mampu memproduksi kerupuk sebanyak 1.000 biji.
Sementara itu, Alexander Bambang Suryo Jatmiko mengungkapkan, keunggulan kerupuk buatannya terletak pada aroma bawangnya yang khas. Saking khasnya, pelanggannya sering menyamakan rasanya seperti Sarimi, ada juga yang menyebut seperti snack Taro.
“Kadang kalau pelanggan itu datang, kami sering menyapa dia dengan panggilan Pak Sarimi,” ungkap Alex, pria kelahiran Kabupaten Klaten waktu ditemui di tempat produksi.
Alex yang mengaku hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini menceritakan, sebelum menjadi pengusaha kerupuk, dia bekerja sebagai karyawan di Polytron. Dia memilih membuat kerupuk, karena setiap orang butuh makan krupuk, dan produk yang dia buat pasti akan mudah dijual. “Kerupuk itu semua orang butuh, kan makan tanpa kerupuk terasa kurang komplit,” ujarnya.
Mahasiswi Asal Thailand Ini Kunjungi Estu Coffee dan Keget Ada Kerbau Dibuat Sate di Kudus
terlihat duduk menunggu makanan dan minuman yang dipesan di kedai Estu Coffee
Shop, Jalan Sostrokartono, Kudus. Dengan menggunakan Bahasa Inggris mereka saling
berinteraksi satu sama lain. Mereka adalah mahasiswa yang datang dari Thailand dan Malaysia
untuk mengikuti Muria Cultural Progam yang diadakan Universitas Muria Kudus
(UMK).
![]() |
| Sejumlah mahasiswa asal Thailand dan Malaysia menyantap hidangan di |
terlihat girang dan langsung menyantap makanan yang sudah disajikan.
Di antaranya Sareena (21), nasi goreng yang disajikan menurutnya sama seperti
yang pernah dia makan di negaranya, Thailand.
Selain itu, saat dia pernah
berkunjung ke Malaysia pun rasanya hampir sama. “Namun bumbunya lebih terasa di
sini,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com selepas makan, Rabu (26/10/2016)
malam.
pertama kali kerkunjung ke Indonesia. Menurutnya, Kudus merupakan daerah pertama di Indonesia yang
dikunjungi. Dia merasa orang-orang di Kudus sopan dan bersahabat. Setiap
bertemu selalu mengumbar senyum dan menyapa . “Kalau saya
tinggal tinggal di Kudus, mungkin saya betah. Orang-orangnya sangat
bersahabat,” ungkapnya sambil tersenyum.
akan menggunakan Bahasa Inggris dengan didampingi mahasiswa dan dosen UMK. Menurutnya,
dia belum mengunjungi Menara Kudus karena baru saja datang dari Bandara. Dia mengaku mengetahui ikon Kota Kretek tersebut dari Google.
“I was read in Google. It’s very fantastic (Aku pernah
baca tentang Menara Kudus di Google. Menaranya sangat fantastik,” tuturnya yang
suka makanan sea food.
kerbau, soto kerbau dan lentog tanjung, dia mengaku belum mengetahuinya.
Menurutnya, dia baru pertama kali mendengar ada kerbau yang dibuat sate. Setahunya,
hanya ada sate ayam dan kambing. “Is that cow? I am not eat (Kerbau itu
sapi? Aku tidak memakannya,” pungkasnya.
besar masyarakat Thailand memulyakan sapi. Namun, kalau sapi dan kerbau berbeda,
menurutnya dia akan mencoba memakannya. Sareena menuturkan, mahasiswa asal
Thailand yang mengikuti Muria Cultural Progam ada 11 orang.
UMK yang sekaligus menjadi Panita Muria Cultural Progam menuturkan, ada 61
mahasiswa dari luar Jawa dan luar negeri yang mengikuti progam bantuan dari Kementerian
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia tersebut.
Para peserta dari luar negeri yang datang, di antaranya dari Thailand, Malaysia, Afganistan, Chili, Uganda, Afrika. “Yang paling banyak dari Thailand dan yang paling jauh dari Uganda, Afrika,” tuturnya.
Selain
mengeksplor wisata di Kudus, mereka juga akan mempelajari budaya Kudus terutama, Tari Kretek. “Nanti di akhir kegiatan pada hari Sabtu, para peserta akan mementaskan
Tari Kretek beserta tabuhan gamelan di UMK,” ungkapnya.
Kudus yakni Gusjigang (bagus, ngaji, dagang). Menurutnya, ajaran tersebut memiliki nilai entrepreneurship yang tepat untuk para peserta yang didominasi dari
luar negeri.
20 Tahun Tekuni Pembuatan Gebyok, Produk Buatan Malikan Kini Terjual ke Banyak Daerah di Indonesia
SEPUTARKUDUS.COM, JETIS KAPUAN – Di depan bangunan di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Jetis Kapuan RT 3 RW 1, Kecamatan Jati, Kudus, tampak tumpukan kayu jati yang sebagian sudah diukir. Terlihat tiga pria sedang melakukan proses pembuatan gebyok. Tempat produksi gebyok rumah adat Kudus bernama Gong Sekaten itu milik Malikan (50). Sekitar 20 tahun lalu, dia keluar dari tempatnya bekerja dan mengembangkan usaha tersebut.
![]() |
| Malikan membersihkan gebyok hasil produksi usahanya di Jetis Kapuan, Jati, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi |
Kepada Seputarkudus.com, Malikan mengungkapkan, sebelum menekuni usaha pembuatan gebyok, dirinya bekerja sebagai tukang ukir. Sekitar 20 tahun lalu, dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk membuka usaha pembuatan gebyok secara mandiri.
“Setelah memutuskan untuk menekuni usaha secara mandiri, saya tidak langsung membuka usaha pembuatan gebyok. Awalnya saya hanya menerima pesanan ukiran. Setelah memiliki modal cukup, saya baru berani memulai pembuatan gebyok, karena biayanya cukup mahal,” ujar Malikan kepada Seputarkudus.com belum lama ini.
Dia menceritakan, pada awal memulai usaha, dirinya mengaku kesulitan memasarkan produk gebyok rumah adat Kudus. Seiring berjalannya waktu, produk buatan Malikan cukup dikenal. Produk buatannya kini sudah terjual ke sejumlah daerah di Indonesia. Di antara beberapa daerah tersebut, yakni ke Bali, Bandung, Sumatra, Jakarta, Semarang, dan sejumlah daerah lainnya.
Dia juga menjelaskan, produk gebyok yang dia buat kebanyakan berbahan kayu jati lama. Dia membeli kayu tersebut dari bongkaran rumah zaman dulu. Selain itu, dia juga menggunakan jati berumur muda. Namun Malikan memilih kayu jati berumur muda hanya dari Blora, yang kualitas kayunya bagus. Malikan lebih selektif memilih kayu untuk menjaga kualitas produk buatannya.
Untuk menjalankan usahanya saat ini, Malikan mengaku dibantu dua karyawan yang datang Gong Sekaten, dan 10 karyawan bagian ukir yang mengerjakan gebyok di rumah masing-masing. Untuk membuat satu gebyok dibutuhkan waktu cukup lama.
“Misalnya gebyok untuk pintu gapura membutuhkan waktu satu setengah bulan, joglo tiga bulan, gazebo ukuran 2×3 meter membutuhkan waktu dua setengah bulan, dan gebyok ukuran 10 meter membutuhkan waktu sekitar enam bulan,” tutur warga Undaan Kidul, Kecamatan Undaan.
Malikan merinci harga produk buatannya. Untuk gebyok lurus biasanya dia jual dengan harga Rp 250 juta, gebyok later U Rp 380 juta, joglo Rp 400 juta, pintu gapura Rp 30 juta, dan gazebo ukuran 2×3 meter Rp 40 juta.
“Untuk membuat rumah gebyok adat Kudus memang mahal, satu rumah minimal butuh dana 2,5 miliar. Sekali menjual produk juga untungnya Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Tetapi ya dibagi proses pembuatan yang lama,” terangnya.
Meski Lumpuh Sejak Usia 5 Tahun, Sulikin Tak Pernah Patah Semangat untuk Menjadi Pelukis
SEPUTARKUDUS.COM, KUTUK – Sejumlah lukisan terlihat memenuhi beberapa buku gambar yang berukuran A4 di rumah kecil terbuat dari kayu dan bambu. Lukisan yang dibuat meliputi gambar manusia, naga, dan wayang yang dilukis dengan alat sederhana. Buku gambar tersebut milik Sulikin (20), pria yang sejak usia lima tahun harus duduk di atas kursi roda karena lumpuh. Meski begitu, dia tetap bersemangat mengejar cita-citanya menjadi pelukis.
![]() |
| Sulikin melihatkan lukisan hasil karyanya di rumah sederhana di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan. Foto: Sutopo Ahmad |
Sembari melukis, Likin, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang cita-citanya sejak kecil tersebut. Dia mengaku suka melukis sejak dirinya masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Saat ini banyak tetangganya yang memintanya untuk melukiskan objek. Pesanan itu kebanyakan dari siswa-siswi SD.
“Sejak kecil saya memang suka menggambar, kadang waktu SD saya sering disuruh ikut dalam acara lomba menggambar. Kalau gambar ini, semua pesanan dari teman dan siswa-siswi sekolah. Hitung-hitung mengisi kesibukan dengan menggambar di rumah, sekaligus berusaha meraih cita-cita untuk menjadi pelukis,” ungkap Likin waktu ditemui di rumahnya, Desa Kutuk RT 4 RW 4, Kecamatan Undaan, Kudus.
Baca juga: Buruh Tani di Kutuk Ini Hidupi Suami dan Anaknya yang Lumpuh Menahun, Berharap Bantuan Dermawan
Pria yang mengaku hanya lulusan SD ini mengatakan, sejumlah buku gambar dan alat untuk menggambar dia peroleh dari ibunya, Sukijah (55). Menurutnya, ibunya membeli peralatan tersebut di Pasar Kalirejo, Undaan, Kudus, dengan mengendarai sepeda.
Dia menjelaskan, pesanan yang dia buat tidak pernah dia kasih patokan harga. Dia mengaku menerima berapapun upah yang diperoleh dari para pemesan lukisan yang dia buat. “Terserah mereka mau memberi berapa. Kadang per gambar dihargai Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, kadang juga ada gambar yang sudah diambil tapi tidak dibayar,” ungkapnya.
Dia menambahkan, selain melukis, dia juga beternak ayam di rumah. Selain itu, terkadang teman-temanya yang sering bermain ke rumah meminta tolong pada dirinya untuk memotong rambut. Dia mengaku mempunyai bakat untuk mencukur berawal dari kebiasaan dirinya setiap kali mencukur ayahnya yang sedang sakit menahun.
“Saya tidak pernah malu memiliki kondisi seperti ini, tetap bersyukur menerima apa adanya. Saya tahu, semua ini sudah takdir dari Tuhan. Saya cuma berharap bisa meringankan beban orang tua, itu saja,” tambahnya.
Malas Cuci Kendaraan, Kontak Saja Adus Disek Spa And Beauty yang Sediakan Layanan Antar Jemput
![]() |
| Adus Disek Spa and Beauty penyedia jasa cuci motor dan mobil di Getas Pejaten, Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan |















































