Beranda blog Halaman 1937

Ulang Tahun Sekolah ke-21, Siwsa-Siswi SMA 1 Mejobo Patungan Sembako Dibagi ke Masyarakat Kurang Mampu

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Seorang perempuan renta berjalan
masuk menuju SMA 1 Mejobo Kudus, sambil membawa slendang batik. Setelah masuk, perempuan renta itu mendatangi lokasi pembagian sembako, tak jauh dari lapangan sekolah. Pembagian sembako itu diselenggarakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) SMA 1 Mejobo ke-21.

ulang tahun SMA 1 Mejobo Kudus
Siswi SMA 1 Mejobo membagikan sembako pada ulang tahun sekolah ke-21. Foto: Imam Arwindra

Sejumlah siswi terlihat menyambut perempuan renta itu lalu menanyakan nama dan alamat. Dengan sigap, seorang siswi berseragam putih dengan
ikat leher warna kuning membawakan bingkisan plastik hitam. Chafadhotul Chusna Fitria (16) yang ikut membagikan sembako menuturkan, bingkisan itu berisi beras, gula, mi instan dan minyak goreng. 

“Sembako ini diberikan kepada masyarakat dan siswa SMA 1 Mejobo yang tidak mampu. Sembako ini merupakan hasil iuran siswa. Jumlah sembako yang dibagikan ada 216 bungkus. Pada ulang tahun sekolah ke-21 ini kami
ingin merasakan nikmatnya berbagi,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat berlangsungnya acara, Selasa (25/10/2016).

siswa sma 1 mejobo kudus

Siswi kelas 11 IPA 2 itu melanjutkan, kegiatan ini diselenggarakan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Palang Merah Remaja (PMR). Menurutnya,
dimomen ulang tahun SMA 1 Mejobo ke-21, dirinya ingin mengajak teman-temannya
membiasakan diri berbagi dengan orang yang tidak mampu. Caranya dengan membuat
kegiatan bakti sosial pembagian sembako. 
Humas SMA 1 Mejobo Jamadi mengungkapkan, pelaksanaan bakti sosial ini murni dilaksanakan oleh siswa. Dia menjelaskan, setiap siswa diinformasikan membawa beras, gula dan
minyak seperempat kilogram serta mi instan dua bungkus. Namun ada beberapa siswa
yang membawa dari rumah tidak lengkap. “Biasa siswa ada yang hanya membawa mi
atau gula dan beras saja,” ungkapnya yang mengenakan seragam coklat.

baksos sma 1 mejobo

Dikatakan Jumadi, sembako yang dibungkus plastik hitam tersebut
menurutnya selain diberikan kepada siswa tidak mampu juga untuk masyarakat di Dukuh
Bancak Desa Panyaman dan Desa Jepang. Cara pendistribusiannya dengan cara
diberi kupon, setelah itu datang di sekolah. Selain itu juga ada yang langsung
diberikan ke rumah-rumah warga. “Yang memberikan para siswa, tapi guru juga ikut mendampingi,” tambahnya.

- advertisement -

20 Tahun Membuat Sandal, Produk Warga Singocandi Ini Sudah Menyebar Hampir di Semua Wilayah Jawa Tengah

0

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Puluhan sandal hotel tertumpuk di satu sudut ruangan rumah di Desa Singocandi RT 2 RW2, Kota Kudus. Seorang pria bertopi dan berakus putih tampak menata sandal-sandal tersebut. Pria itu bernama Suburno (43), pemilik rumah yang memproduksi berbagai macam bentuk sandal dengan pasar hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Subur mengemas sandal hasil produksi usahanya di Desa Singocandi, Kecamatan Kota. Foto: Ahmad Rosyidi

Subur, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usahanya, belum lama ini. Dia menjelaskan, usahanya tersebut sudah digelutinya sejak 20 tahun lalu. Dia mengaku terbiasa membantu kakaknya membuat sandal sejak lulus sekolah dasa (SD). 

“Setelah lulus STM (sekolah teknik menengah), saya mulai membuka usaha memproduksi sandal secara mandiri. Sekarang produk yang saya buat sudah menyebar di hampir seluruh wilayah di Jawa Tengah,” ujar Subur.

Karena lama berkecimpung dalam pembuatan sandal, Subur mengaku paham seluk-beluk produksi sandal. Segala bentuk sandal jepit dan selop dia bisa membuat sesuai pesanan pembeli yang datang ke tempatnya.

Untuk produksi, Subur dibantu tiga karyawan. Subur mengungkapkan, hari-hari biasa dia bisa menjual 40-50 kodi sandal per bulan. Namun menjelang Lebaran, dia mampu menjual hingga 100 kodi lebih dalam satu bulan. Menurut pria 11 bersaudara itu, usahanya kini memiliki omzet sekitar Rp 30 juta per bulun. 

“Untuk harga sandal anak-anak biasa saya jual seharga Rp 250 ribu per kodi. Sedangkan untuk sandal orang dewasa biasanya saya jual sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per kodi,” tuturnya.

Kenadala yang sering dihadapi, kata Subur, yakni ketersediaan bahan baku sandal. Dia sering kesulitan mendapa bahan untuk alas sandal dan kulit imitasi untuk fariasi. Saat ada banyak pesanan dan bahan yang dibutuhkan sedang kosong, membuat produksinya terpaksa berhenti sementara.

“Saya biasanya membeli bahan di Kudus. Jika di Kudus tidak ada saya membeli di Semarang. Namun jika toko langganan saya tidak ada, saya biasanya menunggu hingga bahan baku ada, baru bisa melanjutkan proses produksi,” katanya.

- advertisement -

Buruh Tani di Kutuk Ini Hidupi Suami dan Anaknya yang Lumpuh Menahun, Berharap Bantuan Dermawan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KUTUK – Di rumah kecil terbuat kayu dan bambu, seorang wanita berkaus warna orange terlihat duduk termangu. Di sampingnya, suaminya terbaring di atas bangku, dan anaknya duduk di atas kursi roda. Perempuan itu bernama Sukijah (55). Warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, itu seorang buruh tani. Dia harus menghidupi suami dan anaknya yang tak berdaya karena penyakit menahun.

warga kutuk lumpuh butuh bantuan
Sukijah bersama suami dan anaknya yang lumpuh bertahun-tahun. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Kijah, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah hidupnya. Dia memberitahukan, suaminya bernama Sumari (62), sudah sekitar 30 tahun terakhir mengalami kelumpuhan. Sedangkan anaknya, Sulikin (20), sejak berusia lima tahun sudah mengalami penyakit osteoporosis pada kedua kakinya.

“Setiap hari saya bekerja sebagai buruh tani. Kadang di suruh orang bercocok tanam, kadang ngasak padi saat panen. Di rumah saya beternak ayam. Saya tidak punya sawah, namun harus tetap bekerja sebisanya. Suami dan anakku butuh makan, butuh berobat,” ungkap Kijah waktu ditemui di rumahnya Desa Kutuk RT 4 RW 4.

Wanita yang mengaku dikaruniai lima orang anak yang empat di antaranya telah meninggal ini mengatakan, dulu suami dan anaknya hidup normal seperti orang pada umumnya. Tapi suaminya mengalami kelumpuhan karena tak kuat melihat keempat anaknya yang setiap kali lahir meninggal di usia dini. 

“Suami saya tidak kuat kondisi anak-anak kami. Empat anak kami meninggal saat berusia masih terhitung bulan. Akhirnya, suami saya mengalami kelumpuhan,” terangnya.

Air mata Kijah tak henti menetes saat menceritakan kisah hidupnya. Sambil sesekali mengusap air mata, dia melanjutkan ceritanya. Dia mengatakan, satu-satunya anak yang masih tersisa hidup normal. Dia sempat berharap kelak bisa menjadi tumpuhan keluarganya. Namun, pada usia 5 tahun, Sulikin justru mengalami kelumpuhan, seperti ayahnya. 

Saat itu, kata Kijah, Sulikin sedang bermain hujan-hujanan bersama temannya tak jauh dari Wihara. Sulikin saat itu hendak menangkap ayam, tapi belum tertangkap, dia terjatuh dan mengalami patah kaki.

“Anakku tulangnya rapuh, sedikit-sedikit patah tulang, sudah 37 kali dia patah tulang. Suami lumpuh, ongkos buat berobat juga tidak ada, jadi aku obati sendiri pakai gips. Kadang aku khawatir, misal aku meninggal terus yang merawat mereka siapa, kami tidak punya saudara,” ungkap Kijah dengan air mata yang terus berlinang.

Bekerja sebagai buruh tani, Kijah hanya mendapatkan upah Rp 50 ribu sehari. Uang itu hanya cukup untuk makan dia bersama keluarga. Tak jarang, tetangga sekitar memberi beras karena iba dengan kondisi keluarganya.

“Kami pernah mendapat bantuan kursi roda dari Puskesmas Undaan. Tapi saat ini kursi rodanya sudah rusak. Kami juga pernah mendapat sumbangan dari TKW (tenaga kerja wanita) di Taiwan asal Kendal, sebanyak Rp 15 Juta. Tapi uangnya dihutang orang, sampai sekarang belum dikembalikan dan tidak tahu orang itu pergi kemana,” tambahnya.

Kijah berharap, ada dermawan yang sudi memberikan sumbangan untuk pengobatan suami dan anaknya. Sebagai buruh tani yang penghasilannya tak menentu, dirinya merasa kesulitan untuk membiayai suami dan anaknya. 

- advertisement -

Berhenti Kuliah Karena Tiada Biaya, Yanto Berjualan Buah yang Kini Omzetnya Mecapai Rp 5 Juta Sehari

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Di tepi Jalan KHR Asnawi tampak sebuah mobil bak terbuka berisi jeruk dan buah anggur merahsegar. Di samping mobil tersebut terlihat tumpukan boks berisi buah pir. Di dekatnya tampak seoang pria berkaus hitam sedang mengambil kantong plastik untuk membungkus buah yang sudah dibeli para pelangganya. Pria itu Heriyanto (24), yang berhenti kuliah karena kekurangan biaya. Dia kemudian berjualan buah beromzet Rp 5 juta sehari.

penjual buah di kudus
Yanto (berkaus hitam) sedang membungkus buah untuk pembeli. Foto: Rabu Sipan

Di sela kesibukanya melayani para pembeli yang yang datang, Yanto, begitu dia disapa, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Yanto menceritakan, dirinya masuk kuliah di sebuah universitas swasta di Kudus sekitar tahun 2011. Namun karena orang tuanya kekurangan biaya, dengan terpaksa dia memutuskan drop out (DO) dari kampus tempatnya menuntut ilmu tersabut.
“Setelah DO dari kampus aku bekerja serabutan karena tidak ingin jadi beban kedua orang tuaku. Aku pernah bekerja jadi kuli bangunan, karena terlalu berat dan panas aku pindah kerja ikut teman menjadi pekerja desain interior. Dari bekerja menjadi tenaga desain interior tersebutlah aku bisa mengumpulkan modal untuk berdagang buah bersama saudaraku, “ kata Yanto kepada Seputarkudus.com belum lama ini.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, mengaku sudah sekitar setahun berjualan buah dengan modal patungan bersama saudaranya yang  memiliki mobil bak terbuka. Dengan modal awal sekitar Rp 5 juta, kini dia bersama saudaranya bisa mendapat omzet Rp 5 juta sehari.

Yanto mengatakan, selama setahun berjualan buah dia bersama rekanya selalu berpindah-pindah, terkadang berjualan di Jepara, Demak, Semarang, juga Kudus. “Kami berjualanya tidak menetap di satu tempat. Kami akan menetap jika tempat yang dibuat berjualan tersebut masih banyak pembeli. Dan aku akan mencari tempat lain jika pembeli sudah mulai sepi,” kata Yanto yang mengaku baru dua pekan berjualan di tepi Jalan KHR Asnawi, Kudus.

Menurutnya, berjualan di tempat tersebut lumayan laris, karena selain para warga sekitar, para peziarah ke Makam Sunan Kudus dari luar kota juga banyak yang membeli buah yang dia jual. Yanto merinci buah yang dia jual diantaranya buah anggur, jeruk dan buah pir.
Yanto mengatakan, mendapatkan berbagai macam buah tersebut dari distributor buah di Semarang. Menurutnya di antara buah yang lain, buah anggur merah dari Tiongkok paling diminati para pembeli.  
Dia menjelaskan, setiap hari dia bisa menjual sekitar 70 kilogram buah anggur merah dengan harga Rp 35 ribu per kilogram. Sedangkan jeruk terjual sekitar 50 kilogram dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Dan tak kurang dari tiga karton buah pir terjual setiap hari dengan harga Rp 10 ribu sebungkus yang berisi empat buah.
“Buah anggur memang lebih diminati dari buah lainya karena selain rasa dan warnanya yang menggoda, buah tersebut juga dijual lebih murah dari harga biasanya yang berkisar di atas Rp 50 ribu per kilogram. Karena itulah setiap para pembeli yang menghampiri pasti menanyakan buah tersebut terlebih dahulu,” ungkap Yanto.

- advertisement -

Siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus Iuran untuk Beli Sembako, Lalu Dibagikan pada Pengendara Sepeda di Jalan

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Puluhan siswa bersarung dan berjas warna hijau terlihat berdiri di tepi Jalan Suryokusumo, Mejobo, Kudus, membawa bingkisan plastik warna putih. Merkea lambaikan tangan agar pengendara yang melintas berhenti. Saat pengendara yang kebanyakan bersepeda berhenti, bingkisan itu diberikan. 

smk assa'idiyyah kudus bagi sembako
Siswi SMK Assa’idiyyah 2 Kudus menciup tangan pengendara setelah memberikan sembako. Foto: Imam Arwindra
Mereka yakni siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus yang tengah membagikan sembako kepada pengguna jalan yang melintas tak jauh dari sekolah mereka. Menurut Jennica
Berlian Nisa (16), siswa SMK Assa’diyyah 2 Kudus sedang membagikan sembako, kegiatan itu diselenggarakan untuk memperingati Hari Santri Nasional. Bingkisan sembako tersebut berisi lima mi instan hasil dari iuran siswa dan
guru. 

“Walaupun hanya mi instan, namun ini hasil iuran teman-teman. Ini untuk membiasakan kami bersedekah,” ungkapnya saat ditemui saat kegiatan berlangsung, Sabtu (22/10/2016).

Menurutnya, kegiatan ini pertama kali diselenggaran bersama siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus yang juga santri di Pondok Pesantren Nashrul
Ummah. Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut Jennica bersama temannya
tak bisa tidur sebelum hari pelaksanaan. Dia merasa khawatir kegiatannya tidak berjalan lancar. 

“Ya ini kegiatan pertama kali kami.
Jadi ya khawatir kalau tidak berjalan lancar. Karena dari konsep dan lain-lain
kami (siswa) yang menentukan, guru hanya memantau saja,” jelas dia yang
masih duduk di kelas 11 SMK jurusan Tata Busana.

Jennica yang berasal dari Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, menuturkan, pihak sekolah dan pondok memang membiasakan santrinya untuk
bersedekah. Walau hanya mi, menurutnya tidak masalah. Dia berharap sembako yang diberika memberi bermanfaat
untuk orang lain. 

“Ini kan kami lagi
membiasakan dari kecil. Semoga bisa terbiasa bersedekah,” tambahnya sambil
tersenyum.

Wakil Kepala (Waka) Bidang Keagamaan SMK Assa’idiyyah
Kudus Riyanto (30) menuturkan, kegiatan ini dilakukan siswa melalui Organisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS) secara mandiri. Menurutnya, jumlah sembako
yang dibagikan 100 bungkus lebih. “Kegiatan ini untuk melatih santri supaya
terbiasa bersedekah,” tuturnya.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan, menurutnya untuk
penerima sembako sudah ditentukan, yakni para butuh tani yang biasa lewat di
Jalan Suryokusumo. Menurutnya, buruh tani tersebut sering lewat jalan yang
kebetulan dekat dengan lokasi sekolah dan pondok. “Yang kami kasih yang
bersepeda. Karen juga faktor keamanan,” terangnya.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, pada momentum
peringatan Hari Santri Nasional, santri diharapkan bisa berperan aktif dalam pembangunan
Indonesia, melalui belajar dan mengimplementasikan ilmunya. 

“Nilai-nilai harus dipraktikkan. Semoga santri di SMK Assa’idiyyah dan santri di seluruh Indonesia bisa berperan aktif untuk Indonesia” tambahnya.

- advertisement -

Saking Betahnya di Kudus, Penjual Sup Buah Segar Asal Cirebon Ini Tak Pernah Pulang Sejak Pertama Berjualan

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG –  Di Timur Jalan Kudus – Purwodadi, tepatnya di jalan yang menghubungkan Desa Tanjung Karang dengan Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kudus, tampak dua gerobak. Di gerobak itu terdapat tulisan “Sop (sup) Buah Segar dan Juice Bang Ozy”. Gerobak itu milik Abdul Rokhim (22), pedagang asal Cirebon yang mengaku betah di Kudus karena masyarakatnya ramah. 

Abdur Rokhim menjual sub buah segar di Tanjung Karang, Jati, Kudus. Foto: Stopo Ahmad

Sembari menunggu pelanggan yang datang untuk membeli, Rokhim begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang sup buah dan tahu crispy yang dia jual. Dia menceritakan, berjualan sup buah segar sejak lulus Sekolah Dasar (SD). Di Kudus, dia mulai berjualan sejak Agustus 2015, atau sekitar satu tahun lebih tiga bulan.

“Lulus SD saya sudah ikut orang menjual sup buah ke mana-mana. Mulai dari Cirebon, Tanggerang, Serang, Banten, Bogor dan akhirnya punya modal, membuka usaha sendiri di Kudus. Di sini masyarakatnya baik, ramah-ramah dan bahasanya halus,” ungkap Rokhim saat ditemui saat berjualan di Desa Tanjung karang, Kecamatan Jati.

Menurut anak kedua dari empat bersaudara ini, selama berjualan di Kudus, dia belum pernah sekalipun pulang ke kampung halaman. Dia di Kudus bersama Agus (25), kakaknya yang baru lima hari berjualan tahu crispy di samping tempat dia berjualan. “Nama usaha Sop Buah Maz Ozy, kalau tahu crispy Bang Jack. Biar berkah saja memakai nama keluarga yang berasal dari nama adik dan Bapak,” ujarnya.

sup buah segar
Sup buah segar

Dia mengatakan, menjual sup buah segar sudah menjadi keahlian dia sejak kecil. Setiap hari dia berjualan mulai pukul 8.30 WIB hingga pukul 21.00 WIB, tapi tak jarang hingga pukul 22.00 WIB. Dia membeli sejumlah bahan baku pembuatan sup buah segar dari Pasar Bitingan, Kudus, mengendarai sepeda.

Pria yang mengaku belum memiliki pasangan hidup ini menambahkan, harga satu mangkuk sup buah seharga Rp 7 ribu, sedangkan satu dus tahu crispy milik agus, seharga Rp 5 ribu. Menurutnya, penjualan sup buah segar dalam sehari tidak bisa di tentukan. Terkadang dalam tiga hari berjualan, dia hanya mampu menjual dua mangkuk sup buah segar saat musim penghujan.

“Setiap hari mampu menjual berapa mangkuk sup buah, tidak pernah saya hitung. Biasanya saya mendapatkan mengantongi uang Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu dalam sehari. Saat ramai pembeli terkadang Rp 700 ribu per hari. Modal awal saya dulu Rp 3 juta. Modal itu untuk membeli gerobak Rp 2,5 juta dan bahan baku membeli buah Rp 500 ribu,” tambahnya.

- advertisement -

Panji Terpesona Kecantikan Narasumber Asal Finlandia Ini, Tapi Dia Lebih Terpukau Materi yang Disampaikan

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Wanita berambut pirang terlihat menyampaikan materi di depan ratusan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), Senin (24/10/2016). Dia mengenakan busana batik warna oranye, sepatu hitam dan gelang di tangan kirinya. Sesekali mahasiswa yang mengikuti kegiatan stadium general itu, tertawa saat narasumber dari Finlandia tersebut membuat lelucon.

Wilma Wahigren, native speaker asal Finlandia menyampaikan materi di depan mahasiswa semester satu FKIP BI UMK. Foto: Imam Arwindra 

Satu di antara peserta yang hadir pada acaa yang diselenggarakan Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut, yakni Panji Rahma Aji (18). Mahasiswa semester pertama itu mengatakan, penyampaian native speaker bernama Wilma Wahigren itu, mengasyikkan dan tidak membosankan. 

Menurutnya, Wilma masih muda dan cantik dan memesona. Namun dia mengaku lebih terpukai materi yang disampaikan. “Dia cantik, tapi aku datang ke sini bukan karena ingin melihat kecantikannya loh ya,” tutur Panji.

Menurutnya, Wilma datang untuk berbagi pengalaman tentang pembelajaran efektif dan menyenangkan yang pernah dilakukan di negaranya. Panji mengungkapkan, Bahasa Inggris yang digunakan untuk memaparkan materi, jelas dan mudah dipahami. Menurutnya, progam studi harus sering mendatangkan native speaker agar kemampuan mahasiswa di PBI semakin bagus. 

Saat ditemui usai acara, dosen PBI UMK Mutohhar menuturkan, kegiatan ini merupakan kuliah perdana bertajuk Best Practices of Education: A Sharing About Effective Learning yang diikuti mahasiswa semester satu. Terdapat sekirat 100 mahasiswa yang yang mengikuti acara. Selain Wilma, hadir pula pencetus Kampung Sinaoe Sidoharjo, Ahmad Zamroni sebagai narasumber. 

“Kami memilih Finlandia karena negara tersebut negara dengan pendidikan terbaik di dunia,” ungkapnya.

Dia menerangkan, mahasiswa PBI dapat mencontoh pendidikan Finlandia yang menjadikan proses pembelajaran menyenangkan. Menurutnya, pendidikan di Finlandia tidak mengenal kompetisi, namun kerja sama dalam belajar. “Pendidikan yang menciptakan orang berbahagia,” tambahnya.
Mutohhar berharap, dari kegiatan ini mahasiswa PBI dapat terinspirasi model pendidikan di Firlandia dan termotivasi. Dia juga berharap, mahasiswa terus belajar serta tidak pernah berhenti berusaha seperti yang dilakukan Ahmad Zamroni saat mendirikan Kampung Sanaoe.
“Untuk mendatangkan native speaker sebenarnya di Progam Studi PBI sudah menjadi keharusan. Jadi sudah menjadi kebiasan mendatangkan native speaker karena sesuai jurusannya Pendidikan Bahasa Inggris. Kegiatan ini juga sekaligus mata kuliah Teacher Professional Development bagi mahasiswa semester satu,” tutunya.

- advertisement -

Ageng Keluar dari Perusahaan, Kemudian Membuka Toko Rinjani yang Sesuai Nuraninya Sebagai Petualang

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di tepi sungai Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat berdiri menjulang papan panjat dinding. Di selatan papan tersebut, terdapat toko kecil yang menyediakan jaket, tas, dan perlengkapan yang biasa digunakan pecinta alam. Toko itu bernama Rinjani, milik Ageng Prabowo (44), yang sejak lama suka mendaki gunung.

jual perlengkapan mendaki gunung
Calon pembeli melihat koleksi perlengkapan mendaki gunung di Toko Rinjani, Jalan Sosrokartono, Kaliputu, Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Beberapa orang tampak melihat puluhan tas bergantungan pada dinding toko tersebut. Ada juga yang memilih puluhan jaket dengan kain parasut. Di sudut toko, telihat seorang pria berkaus warna biru memperhatikan aktivitas di dalam toko. Pria tersebut tak lain Ageng. 

Kepada Seputarkudus.com, Ageng mengatakan sudah menyukai mendaki gunung sejak kelas satu SMA. Pada suatu ketika, Ageng kemudian mencoba memulai bisnis namun tetap berhubungan dengan hobinya tersebut. 

“Pada waktu itu aku juga bingung dan selalu berfikir bagaimana hobi yang aku tekuni tersebut bisa menghasilkan uang. Hingga akhirnya aku bertemu beberapa teman sesama pendaki yang berasal dari lain daerah, yang ternyata selain hobi naik gunung mereka juga membuka toko perlengkapan alat mendaki,” ujar Ageng saat ditemui di tokonya belum lama ini.

jual perlengkapan mendaki gunung

Dari obrolannya dengan sesama pendaki tersebut, Ageng terinspirasi untuk membuka toko serupa di Kudus. Namun dia juga tidak langsung membuka toko, karena alasan modal. Niatnya itu tertunda, dan memilih menerima pekerjaan di pabrik kertas di Sumatra, meski bertentangan dengan nuraninya yang seorang petualang.
“Demi mendapatkan modal, aku terpaksa menerima ajakan saudaraku untuk kerja di pabrik kertas di Sumatra. Setelah satu setengah tahun bekerja dan terkumpul modal, aku memutuskan keluar dari pabrik tersebut dan pulang ke Kudus. Padahal waktu itu aku sudah diangkat menjadi karyawan tetap,” ujarnya
Sesampainya di Kudus, pria yang tercatat sebagai warga Desa Kaliputu, itu langsung membuka toko perlengkapan adventure dengan modal kurang dari Rp 10 juta. “Pada awal buka toko Rinjani, isinya belum terlalu lengkap, hanya berisi beberapa tas, jaket, dan tenda serta beberapa alat yang dibutuhkan untuk petualangan,” ungkap Ageng.

jual perlengkapan mendaki gunung

Ageng juga mengungkapkan dia membuka tokonya tersebut sekitar tahun 2005. Dia juga mulai menekuni hobi mendaki gunung serta aktif kembali di komunitas pecinta alam Teampala Everest Kudus. Di komunitas yang dia bentuk pada tahun 1999 itu, dia juga memasarkan barang yang ada di toko Rinjani kepada anggota komunitas.
Alhamdulillah setelah aktif lagi di komunitas pecinta alam dan memberitahukan pada teman tentang toko Rinjani, Kini tokoku mulai dikenal masyarakat Kudus. Apalagi beberapa tahun terkahir ada perubahan segmen. Jika pada waktu dulu sandal, jaket, sepatu, tas gunung hanya dipakai para pendaki, sekarang masyarakat umum juga banyak yang memakainya, untuk digunakan sehar-sehari,” jelas Ageng.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengungkapkan, saat ini toko Rinjani menjual berbagai macam barang, di antaranya aneka tas, sepatu, sandal, jaket, tenda, dan beberapa alat camping. Semua barang tersebut menurutnya produk dari merek terkenal, di antaranya Eiger, Consina, Forester, Claw dan lain sebagainya.
“Aku bersukur sesuatu yang aku tanamkan dalam diri sejak dulu, bahwa dari hobi harus bisa menghasilkan kini sudah terwujud. Sekarang toko Rinjani bisa menjual tidak kurang dari 20 barang setiap hari. Dan bila memasuki bulan Muharam, Agustus, dan tahun baru jumlah barang yang terjual bisa dua kali lipat dari hari biasa,” ujarnya.
- advertisement -

Sedulur Sikep (3, Habis), Anak-anak Sedulur Sikep Tak Sekolah Tapi Tetap Belajar di Rumah

0
SEPUTARKUDUS.COM, KARANGROWO – Bangunan rumahnya berbentuk
joglo dengan bahan baku kayu. Atapnya juga terbuat dari kayu dengan ditumpangi
genting tanah liat. Sisi depan rumahnya nampak pohon beringin yang akarnya
terpotong rapi di depan rumah. Di dalam rumah, terlihat beberapa kursi berjajar
menghadap meja yang diantaranya berbahan marmer. Saat menjelang mahrib, bohlam
lampu warna putih tiba-tiba bersinar menyinari seluruh ruangan.

rumah adat jawa sedulur sikep kudus
Ruang tamu kediaman sesepuh Sedulur Sikep Dukuh Kaliyoso. Foto: Imam Arwindra

Rumah joglo itu milik Wargono, sesepuh Sedulur
Sikep yang di Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus.
Selain untuk tempat tinggal, menurut Wargono, rumah tersebut juga sekaligus
menjadi tempat belajar anak-anaknya ketika masih kecil dulu. “Anak-anak saya tidak ada yang sekolah. Tapi mereka tetap belajar di rumah,” ungkapnya
saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Wargono kini memiliki enam anak, 16 cucu dan tiga cicit. Keenam anaknya tersebut di antaranya Gunretno, Gunari, Gunondo, Gunarto, Gunawan dan Gunarlin.
Menurutnya, ketika masih kecil dulu mereka tidak sekolah, namun tetap belajar di rumah. Mereka diajari lima dasar menjalani kehidupan Sedulur Sikep,
yakni dilarang drengki, srei, dahwen, panasten dan kemeren

Baca juga: Sedulur Sikep (2), Wargono: Tikus di Sawah Kok Dijaga

Tur ogak keno bedok, colong, petil, jumput
dan nemu
(dan tidak boleh merampok, mencuri, mengutil, mengambil milik orang
lain, bahkan sampai menemukan barang orang lain),” jelasnya.

Menurutnya, menempuh pendidikan ada maksud dan tujuan. Jika tujuannya menjadi mahasiswa, berarti harus bersekolah hingga kuliah. “Kanggo Sedulur Sikep, prinsipe seneng nyandang, doyan mangan
dilakoni toto gawutho, giyat macul seng gemunung entek e mukthi
. Kudu rukun karo bojo, anak-anak, bapak ibu lan tanggo teparo,” tambahnya.
Kepada Seputarkudus.com, Wargono mengaku tidak mengajari anak-anaknya membaca dan menulis. Menurutnya, seiring berjalannya waktu mereka akan bisa
sendiri. Seperti contoh anak pertamanya, Gunretno. Sewaktu kecil sering diajari menimbang gabah hasil panen. Dia akhirnya mengerti dan paham hitungan kilogram. “Sekarang ya
tamunya Gunretno profesor-profesor,” tuturnya.

Baca Juga: Sedulur Sikep (1), Sejarah Keberadaan Penganut Samin Surosentiko di Dukuh Kaliyoso Undaan Kudus

Wargono menuturkan, dirinya menginginkan keturunannya untuk tidak meninggalkan
garapan sawah. Jika suka membeli pakaian dan doyan makan, harus
bekerja keras dengan menggarap sawah. Dia melarang anaknya
berdagang, karena akan menghilangkan ajaran Samin Surosentiko. “Semua
anak-anak Sedulur Sikep ingin menjadi petani. Tidak ada yang
lainnya,” terangnya. 

- advertisement -

Penjual Es Legen Asal Tuban Ingin Setiap Hari Langit Selalu Cerah, Tapi Dia Sadar Itu Tidak Mungkin

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di atas trotoar tepi jalan di utara Taman Tugu Identitas Kudus, tampak seorang pria tua bertopi oranye dan bercelana biru duduk di dekat beberapa bumbung bambu yang menggantung di alat pikul. Pria tersebut bernama Sukardi (71), penjual es legen yang saat musim hujan ini terkadang hanya mendapatkan uang Rp 10 ribu.

penjual es legen
Sukardi (tengah) menjual es legen tak jauh dari Tugu Identitas. Foto: Rabu Sipan

Di sela menunggu para pembeli datang, Sukardi sudi berbagi cerita tentang penjualan es legen miliknya. Dia mengaku sudah sekitar 10 tahun berjualan es legen di Kudus, dan selama itu pula hasil yang diadapatkan tidak menentu. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang, es legen kurang diminati pembeli.
“Berjualan es legen hasilnya tidak bisa pasti, apalagi di musim hujan. Es legen yang aku jual paling hanya terjual beberapa gelas saja. Bahkan tidak jarang seharian berjualan, aku hanya mendapatkan uang sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu sehari, ” kata Sukardi kepada Seputarkudus.com belum lama ini.
Pria asal Tuban, Jawa Timur, mengatakan, saat cuaca sedang cerah dirinya bisa menjual es legen dalam jumlah yang lebih banyak ketimbang saat turun hujan. Tak jarang bila langit cerah dia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu sehari.

“Sebenarnya aku berharap setiap hari  cerah, jangan sampai mendung apalagi hujan, agar es legen yang aku jual bisa laku lebih banyak. Tapi itu tidak mungkin saat musim hujan seperti sekarang,” keluh Sukardi.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak serta empat cucu tersebut mengatakan, tidak mematok mahal es legen yang dia jual. Dia mengaku menjual es legen dengan harga Rp 1.500 segelas, dan Rp 2 ribu sebungkus. “Aku memang mematok Rp 500 lebih mahal es legen yang dibungkus daripada diminum di gelas, karena untuk ganti modal plastiknya,” jelasnya
Sukardi menuturkan berjualan setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB, di sebelah utara Taman Tugu Identitas. Setelah itu dia pindah ke depan Toko Sido Dadi, sebelah selatan Alun-alun Kudus hingga pukul 19.00 WIB.
Selama berjualan di Kudus, Sukardi mengontrak ruangan sempit di Desa Nganguk, Kecamatan Kota, dengan harga Rp 120 ribu sebulan. Dia juga mengaku dua pekan sekali pulang ke Tuban untuk menengok istrinya, dengan membawa uang sekitar Rp 200 ribu.
Di sela obrolan, datang seorang perempuan muda berjilbab dan memakai kaca mata, membeli segelas es legen milik Sukardi. Setelah dibuatkan es legen, wanita muda tersebut ikut duduk di atas trotoar sambil menikmati segelas es legen yang disuguhkan oleh Sukardi.
Diketahui kemudian wanita tersebut bernama Nour Ainy Alawiyah (20), warga Desa Temulus, Mejobo. Dia mengaku membeli es legen yang dijual Sukardi karena kebetulan dia haus dan baru sampai di Bank Jateng tidak jauh dari Sukardi berjualan.
“Aku sebenarnya baru sampai di Bank Jateng, karena aku melihat antrean masih panjang. Kebetulan haus, aku membeli es legen dulu,” jelas wanita yang biasa disapa Ainy tersebut.
Seusai menghabiskan segelas es legen, Ainy lalu menanyakan harga dan lantas membayarnya. Terlihat Sukardi menerima uang yang diberikan Ainy kepada dirinya. Sukardi kemudian mengibaskan uang tersebut ke bumbung-bambung tempat Legen sambil berucap, laris, laris, laris. “akhirnya dapat penglaris juga,” ucap sukur Sukardi.    
 
- advertisement -

Meski Letih, Lia Tetap Semangat Nyanyikan Ya Lal Wathan Hingga Tengah Malam pada Peringatan Hari Santri

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Cahaya obor terlihat di Jalan Sunan Muria, Jumat (21/10/2016) malam. Obor tersebut dibawa sejumlah rombongan menuju Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, pada acara Napak Tilas Peringatan Hari Santri. Pada acara yang diselengarakan Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kudus tersebut, ikut pula rombongan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, satu di antaranya Lia Fiaturrahmah. Meski lelah dirinya tetap semangat mengikuti acara hingga tengah malam.

peringatan hari santri kudus
Lia membawa obor pada peringatan Hari Santri di Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Saat berjalan beriringan, terdengar lantunan lagu Yalal Wathan karya KH Wahab Hasbullah. Para peserta, termasuk Lia, masih tampak bersemangat menyanyikan lagu tersebut, meski waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.

Kepada Seputarkudus.com, perempuan berkerudung hitam itu mengaku masih sanggup
berjalan, meski kakinya sudah gemetar karena capek. Menurutnya, letih yang dia rasakan belum seberapa jika dibanding dengan perjuangan para santri terdahulu yang
berjuang untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia. “Tidak apa-apa masih kuat,”
ungkapnya sambil memijat-mijat pergelangan kakinya.

Lia beserta peserta yang lain mulai berjalan dari Lapangan Merdeka, tak jauh dari Gedung Nahdlatul Ulama (NU) menuju
ke Menara Kudus. “Tadi mulai dari Gedung NU menuju ke Taman Makam Pahlawan
Kaliputu. Setelah ini menuju ke Menara melalui Alun-alun Kudus,” jelas mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) Jurusan Akuntansi tersebut.
Dia merasa letih karena sebelum acara belum
makan. Dia mengaku tidak tahu jalur yang dilewati ternyata tak dejat. Namun karena
banyak minuman air putih, membuatnya bisa bertahan mengikuti
hingga akhir. Dikatakan Lia, kegiatan peringatan Hari Santri 22 Oktober kali ini lebih meriah ketimbang tahun lalu. Selain bisa mengikuti
peringatan, dirinya tahu makam pahlawan di Kudus dari
kalangan santri. 

“Setelah acara ini langsung pulang dan tidur, karena paginya ikut apel Hari Santri di Alun-alun Kudus,” tambahnya.

Ketua GP Ansor Kudus Sarmanto Hasyim menuturkan,
kegiatan Napak Tilas Peringatan Hari Santri diikuti 678 peserta dari
banom-banom Nahdlatul Ulama (NU) di Kudus. Menurutnya, Napak Tilas ini guna
memperkenalkan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia dari kalangan santri. 

Dia
memberitahukan, simbol tokoh pejuang santri yakni KHR. Asnawi. “Nanti kita akan
berdoa di makam pahlawan dan di Menara (Kudus),” tuturnya.

Selain itu dia mengajak para santri-santi selalu semangat
Resolusi Jihad NU untuk menjaga kedaulatan NKRI. Dia menuturkan, wajib hukumnya
kader-kader NU untuk menjaga pancasila dan NKRI. Selanjutnya, santri-santri
harus menjadi garda terdepan untuk melawan segala upaya yang berpotensi merong-rong
NKRI.  “Kami konsisten pertahankan NKRI,”
tambahnya.

- advertisement -

Sebelum Gunakan Merek Dua Walet, Zumrotul Gunakan 4 Merek Berbeda untuk Produk Kerupuk Bawangnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANG MANIS – Di teras rumah, di Desa Gondang Manis RT 7 RW 2, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sejumlah camilan dan segelas teh tertata di atas meja. Di depan meja tersebut, duduk seorang perempuan dan anak laki-lakinya. Perempuan itu bernama Zumrotul Khoiroh (37), produsen camilan kerupuk bawang bermerek Dua Walet. Sebelum menggunakan merek tersebut, dia bersama suaminya menggunakan empat merek yang berbeda.

produsen kerupuk bawang
Zumrotun membantu mengemasi kerupuk bawang hasil produksi usahanya. Foto: Ahmad Rosyidi

Zumrotul dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada seputarkudus.com tentang merek yang dia gunakan untuk produknya. Pada awal membuat kerupuk bawang, dia yang menjalankan usaha bersama suaminya itu, menggunakan merek Cap Jempol, Kelinci, Mawar dan Dua Walet. Itu dia lakukan untuk eksperimen.

“Awalnya menggunakan empat merek berbeda, tapi produknya sama, kerupuk bawang. Tujuan saya, ingin mengetahui mana yang paling diminati pembeli. Setelah eksperimen merek tersebut, akhirnya kami tahu, merek Dua Walet tersebut banyak diminati pembeli dan kami menggunakan merek tersebut hingga kini,” ujar Zumrotul di tempat usahanya, beberapa waktu lalu.  

Dia menjelaskan, selain karena hasil eksperimen yang dia dan suaminya lakukan, merek Dua Walet juga kebetulan memiliki arti dua dompet. Dia dan suaminya percaya, dua dompet bisa berarti mendatangkan rezeki yang banyak.

produksi kerupuk bawang dua walet

Zumrotul mengaku awal merintis usaha dari membeli kerupuk bawang yang sudah jadi dari orang lain. Kerupuk tersebut kemudian dibungkus dengan kemasan yang diberi merek yang dia pilih untuk dipasarkan. Setelah sekitar dua tahun berlangsung, akhirnya dia dan suaminya memutuskan untuk memproduksi keripik bawang. Saat ini usahanya terus berkembang, dan dirinya menambah jenis produk camilan, di antaranya stik bawang, kembang goyang, dan keripik singkong gadung.

Tidak lama berkisah, keluar seorang pria dengan celana pendek, dia adalah Fahrudin Jamil (37) suami Zumrotul. Dia ikut menambahkan cerita yang disampaikan suaminya. Awal memulai usaha, dirinya merasa kesulitan memasarkan kerupuk bawang. Banyak toko-toko menolak saat hendak dititipi produknya. Dengan kerja keras dan tanpa kata menyerah, akhirnya Fahrudin menemukan hasil. Saat ini dia sering kewalahan menerima pesanan.

“Penjualan saya lancar baru sekitar tiga tahun ini. Sebelumnya saya sering ditolak saat menitipkan produk. Tetapi sekarang toko yang mengambil ke sini. Saya hanya menyetor di grosir saja, karena waktu saya tidak cukup. Jika dulu saya kesulitan mencari hutangan untuk tambahan modal, sekarang sudah banyak yang menawarkan pinjaman uang,” terangnya.

Fahrudin juga menjelaskan awal memproduksi pada tahun 2009 dia dibantu adiknya. Setelah berjalan sekitar tiga tahun adiknya tidak bisa ikut membantu lagi, karena diterima kerja di perusahaan yang ada di Kudus. Akhirnya dia dan istrinya sepakat mengambil tiga karyawan untuk membantu proses produksi.

- advertisement -

Sedulur Sikep (2), Wargono: Tikus di Sawah Kok Dijaga

0
SEPUTARKUDUS.COM, KARANGROWO – Laki-laki tua mengenakan ikat kepala, terlihat duduk di bangku berukuran besar berbincang dengan sejumlah tamu yang duduk di ruang tamu rumahnya. Pria yang selalu mengenakan pakaian serba hitam itu bernama Wargono, warga Kaliyoso Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus, yang jugsa sesepuh Sedulur Sikep. Mereka mengobrolkan tentang pertanian yang dijalankan warga Sikep, termasuk terkait hama tikus. 

Wargono (tengah), sesepuh warga Sedulur Sikep Kudus. Foto: Imam Arwindra
Dari jejeran tempat duduk sisi kiri Wargono, seorang bertubuh kurus menanyakan tentang cara warga Sikep mengatasi hama tikus. Beda warga Sikep dengan petani padi pada umumnya di Desa Karangrowo, setiap malam tidak pernah menjaga tanaman padi dari serangan tikus. Menurutnya, malam hari digunakannya untuk istirahat setelah seharian beraktivitas. “Tidur dan terjaga harus seimbang,” tutur bapak enam anak, 16 cucu dan tiga buyut tersebut.

Baca juga: Sedulur Sikep (3, Habis), Anak-anak Sedulur Sikep Tak Sekolah Tapi Tetap Belajar di Rumah

Wargono mengaku tidak merasa takut padinya habis dimakan tikus. Menurutnya, menjadi seorang manusia tidak boleh memiliki pikiran sempit. Dia menuturkan setiap panen tiba, dirinya juga bisa panen dengan hasil seperti petani padi pada umumnya. “Lapo tikus kok ditunggoni (kenapa tikus kok dijaga),” ungkap penganut Samin Surosentiko yang mengundang gelak tawa tamu yang hadir.
Agar tanaman padi tidak banyak dimakan tikus, warga Sikep, kata Wargono, menanam padi dengan cara berbeda dengan cara petani pada umumnya di Undaan. Jika petani lain menanam tiga hingga empat bitit dalam satu lubang, dia kurangi menjadi dua bibit. Meski bibit yang ditanam lebih sedikit, hasil yang didapat sama dengan petani yang tiap malam menunggui sawahnya dari serangan hama tikus. “Lahan milik petani (Sedulur Sikep) ada 200 Hektare lebih,” jelasnya.
Wargono menambahkan, untuk mengurangi serangan hama tikus, pihaknya juga mengandalkan predator tikus, yakni burung hantu. Menurutnya, dulu pernah menggunakan setrum listrik, namun mendengar banyak yang meninggal akhirnya menggunakan burung hantu. Warga Dukuh Kaliyoso mengaku sudah membuatkan tempat burung hantu berbahan cor semen. “Burungnya datang sendiri. Akhirnya ditempati dan bertelur di tempat yang disediakan di sawah,” tambahnya.

Bersama petani lain di Desa Karangrowo, warga Sikep juga pernah mengkuti gropyoan tikus. Dia menuturkan, petani menggunakan pompa air yang dimasukkan ke dalam sarang tikus. Setelah air masuk sarang, tikus di dalamnya akan keluar dan kemudian dipukul. 

- advertisement -

Cahyadi Pilih Nama KFC untuk Produk Ayam Gorengnya, Karena Kualitasnya Sebanding Produk Serupa Asal Amerika

0
SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi jalan Masjid Agung Kudus, tepatnya di Desa Demaan, Kecamatan Kota, terlihat bangunan berpintu rolling door. Di dalam bangunan itu tampak beberapa orang sedang menikmati hidangan di meja yang sudah disediakan. Bangunan berwarna-warni tersebut merupakan rumah makan Kudus Fried Chicken. Nama itu dipilih, agar singkatanya mirip dengan merk makanan cepat saji asal Amerika Serikat yang sudah sangat dikenal.

kfc kudus
Cahyadi Priyo Pramono, Pemilik KFC. Foto: Rabu Sipan

Cahyadi Priyo Pramono (39), adalah pemilik rumah makan tersebut. Kepada Seputarkudus.com dia sudi berbagi kisah. Sepekan sebelum rumah makan miliknya dibuka, dia menaruh neon boks besar pada dinding depan bertuliskan Kudus Fried Chicken. Maksudnya agar siapa saja yang melintas di depan bangunan melihat jelas akan dibuka rumah makan dengan menu ayam goreng.
“Meskipun belum buka, aku sengaja memasangi neon boks besar agar semua orang yang lewat melihat tahu, sebentar lagi akan dibuka rumah makan ayam goreng crispy. Sebagian orang justru ada yang mengira tempatku akan dibuka rumah makan cepat saji yang berasal dari Amerika. Bahkan beberapa siswa SD dan SMP yang melintas bicara, ‘asyik sebentar lagi ada KFC’,” kata pria yang biasa disapa Cahyadi.
Pria lulusan STIE Jogjakarta tersebut mengisahkan awal dia membuka rumah makan Kudus Fried Chicken pada 2007 silam. Dia membuka usaha itu karena rekomendasi saudaranya yang pernah kerja di rumah makan yang serupa di luar kota. Karena saudaranya tersebut berani mencarikan beberapa orang yang sudah ahli menggoreng ayam crispy, akhirnya dia menyetujui membuka usaha yang diberi nama Kudus Fried Chicken.
“Pada waktu itu Kentucky Fried Chicken yang berada di lantai dasar Ramayana Kudus belum ada, karena baru dibuka sekitar tahun 2008. Karena nyaris tidak adanya saingan serta letaknya yang setrategis dan harganya yang terjangkau pada waktu itu, Kudus Fried Chicken langsung banyak dikenal warga sekitar,” kata pria yang akrab disapa Cahyadi kepada Seputarkudus.com.

Di tahun awal pembukaan rumah makan, pria yang belum dikaruniai anak tersebut mengaku mematok harga sama pada semua menu yakni Rp 5 ribu. Seiring berjalannya waktu, harga tersebut berangsur naik. Sambil membaca buku menu Cahyadi pun merinci menu yang dijual di rumah makan miliknya dengan harga sekarang.
“Selain dijual terpisah menu rumah makan Kudus Fried Chicken juga dijual sepaket. Di antaranya paket satu, nasi dan paha ayam, teh harganya Rp 11 ribu. Sedangkan nasi dan selain paha ayam plus teh harganya Rp 12 ribu. Untuk burger dan teh ditarif Rp 10 ribu, spagheti plus teh harganya Rp 9 ribu, sedangkan untuk pizza  dan teh plus chicken steak plus teh, masing-masing harganya Rp 8 ribu dan Rp 15 ribu,” kata Cahyadi.
Cahyadi mengatakan rumah makan miliknya buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dia memiliki tujuh karyawan yang waktu kerjanya dibagi menjadi dua sift. Dan diapun meyakinkan para pelangganya selain harganya lebih murah, ayam goreng crispy miliknya mempunyai rasa yang sebanding dengan ayam goreng crispy dari luar negeri yang sudah terkenal.
 “Alhamdulillah sejak dibuka usahaku tersebut tiap harinya tidak pernah sepi pembeli, apalagi bila hari Sabtu dan Minggu pasti mengalami peningkatan penjualan. Dan sekarang lokasinya juga sudah aku perluas agar para pelanggan yang singgah untuk makan di Kudus Fried Chicken merasa nyaman, “ ujarnya
- advertisement -

Demi Lima Anaknya yang Masih Sekolah, Warga Jetiskapuan Ini Rela Mengupas Nangka Setiap Hari di Tepi Jalan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan R Agil Kusumadya, tepatnya di depan perusahaan PT Pura Nusa Persada lajur kendaraan roda dua, sejumlah buah nangka dan matoa terlihat menumpuk di atas meja. Tampak dua orang pria mengenakan topi sedang duduk termangu menunggu pembeli datang. Satu pria tersebut, yakni Sutrisno (46), Warga Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, berjualan nangka untuk membiayai kelima anaknya yang masih sekolah.

Sutrisno mengupas nangka di Jalan R Agil Kusumadya, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengupas nangka, Trisno, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni. Dia mengatakan, mulai berjualan nangka sejak tahun 2006, hingga kini sudah berlangsung sekitar 10 tahun. Menurutnya, usaha yang dia jalankan bukan hanya miliknya sendiri, tapi milik juga temannya, Sukirno (45) yang setiap hari membantu berjualan.

“Sebelum berjualan nangka, dulu saya usaha ayam potong. Berhubung harga ayam naik turun serta pesaing banyak, saya mulai beralih berjualan nangka di tepi jalan. Saya harus terus bekerja karena mempunyai lima orang anak yang saat itu masih butuh biaya sekolah,” ungkap Trisno, warga Desa Jetiskapuan RT 2 RW 4, Kecamatan Jati, Kudus.

Sutrisno mengaku dikaruniai enam orang anak, lima anak perempuan dan satu anak laki-laki. Anak pertamanya sudah menikah, anak kedua baru saja lulus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Purwosari, sedangkan anak ketiga hingga keenam masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah dasar (SD). 

penjual nangka
Sutrisno menjajakan nangka di Jalan R Agil Kusumadya, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

“Anak ketiga kelas sepuluh SMA Al-Ma’ruf, keempat MTs NU Assalam kelas delapan, kelima kelas enam SD dan keenam kelas empat SD,” terangnya.

Menurut pria kelahiran Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, dia membeli nangka dari Batang, Jepara dan Kudus. Namun terkadang ada sejumlah pedagang yang datang menawarkan. Untuk memasarkan nangka, dia hanya menunggu pelanggan yang datang untuk membeli. 

“Selain Kudus, pelanggan juga ada dari Demak. Nangka ini saya jual Rp 10 ribu per kilogram, matoa satu kilogram Rp 20 ribu,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain berjualan nangka, terkadang dia berjualan durian, bubur durian dan es durian. Dia mengaku, setiap hari berjualan mulai pukul 7.00 WIB hingga 17.00 WIB dengan penghasilan rata-rata per hari Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu. “Untuk usaha saya beri nama Terminal Nangka Abadi, biar abadi selamanya,” tambahnya.

- advertisement -