Beranda blog Halaman 1938

Sedulur Sikep (1), Sejarah Keberadaan Penganut Samin Surosentiko di Dukuh Kaliyoso Undaan Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, KARANGROWO – Letak pedukuhan ini sekitar empat
kilometer dari Jalan Raya Kudus-Purwodadi, Kecamatan Undaan, Kudus. Rumah-rumah warga tampak seperti rumah perkampungan di Undaan pada umumnya. Dukuh Kaliyoso, nama perkampungan di Desa Karangrowo ini. Sebagian besar penduduknya merupakan warga Sedulur Sikep, penganut Samin Surosentiko di Kudus. 

sedulur sikep penganut samin di kudus
Wargono (kiri) bersama istri di kediamannya, Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra 

Di perdukuhan Kaliyoso terdapat satu bangunan rumah joglo cukup besar. Di bagian depan terdapat tanaman yang menghiasi beranda rumah tersebut. Rumah itu kediaman Wargono, sesepuh warga Kaliyoso yang ditokohkan Sedulur Sikep.

Kepada Seputarkudus.com, Wargono sudi berbagi cerita tentang kehidupan warga Sikep di kampungnya. Pria yang selalu mengenakan pakaian serba hitam dan dan ikat kepala itu mengatakan, erdapat sekitar 50 kepala keluarga (KK) yang tinggal di daerah yang disebutnya Bangun Sari. 

“Jumlah 50 KK tersebut hasil pendataan awal pemerintahan Bupati Musthofa. Dulu saat awal Pak Musthofa menjabat (Bupati Kudus), kami dibuatkan KK secara gratis,” tutur Wargono menggunakan Bahasa Jawa.

Sedulur Sikep, katanya, bekerja sebagai petani. Sedulur Sikep tidak mengajarkan untuk berdagang. Itu karena menurutnya, banyak praktik ketidakjujuran dalam berdagang. Namun dia tidak melarang warga Sikep jika ada yang ingin berdagang. 

Nak dagang mengko lugune ilang. Nanging nak ono ape seng dagang ya gak opo-opo. Kan yo perlu ono sing ditukoni kanggo kebutuhan (Kalau berdagang nanti kejujurannya hilang. Namun jika ada yang ingin berdagang tidak apa-apa. Kan perlu ada tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Edy Supratno (kiri) saat berkunjung ke rumah sesepuh Sedulur Sikep.
Sejarahwan Kudus Edy Supratno yang saat itu juga di kediaman Wargono, menjabarkan sejarah keberadaan warga Sedulur Sikep di Kaliyono. Dia menceritakan, sebelum Indonesia dijajah, terdapat kerajaan sebagai penguasa. Menurutnya, dalam sistem kerajaan saat itu, kepemilikan tanah hanya milik raja, dan rakyat harus menyetor upeti kepada raja. 

“Namun ada dibeberapa daerah tertentu tidak dikenai pajak. Namanya daerah Perdikan,” tuturnya.

Edy melanjutkan, kerajaan mempunyai pegawai seperti pemerintahan sekarang. Mereka tidak digaji, namun diberi kewenangan untuk mengolah tanah. Mereka tidak mengelola tanah tersebut, namun disewakan kepada penduduk desa. Para penyewa dan pengelola tanah itu disebut Sikep. “Jadi dalam sejarahnya, sikep memang petani,” jelasnya.
Setelah itu, kata Edy, munculah penjajah di Indonesia. Sistem politik berubah, termasuk status kepemilikan tanah. Orang Sikep jelas terusik hal itu, apalagi sejak berlakunya era tanam paksa dan harus membayar pajak kepada penjajah. “Mereka (Sikep) menolak membayar pajak. Tokoh Sikep saat itu Samin Surosentiko,” tuturnya.
Samin Surosentiko, jelas Edy, saat itu dikekang Belanda. Namun pengikutnya tak berkurang justru semakin bertambah karena senasip dan seperjuangan sebagai petani. Akhirnya, gerakan yang dimotori Samin Surosentiko meluas dari Blora menyebar ke Pati dan Kudus. Belanda kemudian membuang Samin Surosentiko ke Sumatra dan meninggal di sana. 

“Banyaknya pengikut Samin karena secara mereka merasa senasib sebagai pengolah lahan di desa-desa. Nah, Pati dan Undaan (Kudus) adalah daerah pertanian mereka,” jelasnya.

- advertisement -

Beli Bakso di Warung Ini dan Berani Bilang Tidak Enak, Tak Usah Bayar!

0
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di tepi selatan Jalan Kudus-Jepara, tepatnya di pertigaan lampu merah Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, tampak sebuah rumah yang pelataranya terdapat dua gerobak bakso. Di bagian atas, terlihat baner bertuliskan Spesial Bakso Urat Jumbo Cuma Rp 15 ribu. Rumah tersebut adalah tempat warung bakso King, yang menggratiskan pelangganya jika tak merasakan enaknya bakso yang disajikan. 

Resa Desiana (30), pemilik warung bakso King mengatakan, aturan itu berlaku bagi semua pembeli bakso di warungnya. Jika pembeli berani mengatakan tidak enak setelah menyantap bakso yang dihidangkan, pembeli tersebut boleh tidak membayar.
“Motto kami, tidak enak tidak usah bayar. Aku akan menggeratiskan untuk para pelangganku yang seusai menyantap bakso King dan mereka bilang tidak enak. Jika pelanggan merasakan bakso yang aku jual tidak enak di lidah mereka, itu merupakan kesalahanku. Demi menebus kesalahan tersebut, pelanggan tidak usah membayar bakso yang dia makan,” kata wanita yang akrab disapa Resa kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Selain promo di atas, untuk menarik para pelanggan, Resa juga memberikan berbagai macam fasilitas. Di antaranya setiap pembelian sepuluh kali, gratis satu porsi bakso urat. Dan bila ada pembeli yang tidak diberi nota, berarti pembeli tersebut sedang beruntung. Karena yang dimakan dan minum tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis.

Baca Juga: Tak Betah Jadi Bidan, Resa Pilih Berjualan Bakso Urat King di Jalan Kudus-Jepara dan Membuka Franchise

Selain itu, katanya, di tempat dirinya berjualan bakso King juga dilengkapi wifi, karaoke, serta ruangan ber-AC. “Aku ingin memanjakan para pelangganku, bagi mereka yang ingin makan bakso sambil ngenet sudah ada wifi gratis. Dan bagi mereka suka bernyanyi bisa berkaraoke sebelum atau sesudah menikmati bakso King” urai wanita berkaca mata tersebut.

Wanita yang tercatat sebagai warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, mengungkapkan para pemegang kartu Priviliege Card dari Prudential bisa mendapatkan potongan 10 persen dari total uang yang dibayarkan.
Resa juga mengungkapkan, selain promo di atas dia juga gencar mempromosikan bakso buatanya tersebut di media sosial Facebook. Selain itu dia juga menawarkan beberapa foto olahan bakso di The Bakulans.
“Selama ini respon teman-teman Facebook bagus. Bahkan semenjak aku gencar promo di media sosial tersebut aku bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 5 juta sehari,” ujar wanita yang dikaruniai enam anak tersebut.
Resa mengatakan bakso yang dia produksi mempunyai rasa yang enak dan halal. Selain itu dia mengklaim bakso buatannya bebas formalin dan bahan pengawet. Resa mengaku membuat sendiri bakso urat dan bakso tahu yang dia jual, dengan urat pilihan yang tanpa lemak.

“Kakakku mempunyai tempat penjagalan sapi, jadi setiap hari aku memilih urat daging tanpa lemak untuk aku jadikan bakso. Begitu juga tahu, aku memiliki usaha pembuatan tahu sendiri yang terletak tepat di belakang rumah,” ungkapnya.
- advertisement -

Wow, Tanduk Rusa yang Ditemukan Warga Gondoarum di Ladang Jagung Ini Berumur Ribuan Tahun

0
SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Tanduk rusa tanduk berwarna kekuningan dengan retakan-retakan, terlihat di antara tulang-tulang besar tergeletak di lantai ruangan. Sepintas tanduk itu tak berbeda dengan tanduk rusa yang dipajang di dinding rumah. Namun, siapa sangka, tanduk itu berumur ribubuan tahun. Tanduk itu merupakan fosil koleksi Museum Situs Patiayam yang baru ditemukan beberapa hari lalu.

fosil situs patiayam
Fosil tanduk rusa koleksi terbaru Museum Situs Patiayam, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Jamin (43), Pengelola Museum Situs Patiayam, fosil itu ditemukan Senin (17/10/2016). Fosil tanduk rusa ditemukan warga Warga Dukuh Asem Doyong, Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo, Supri, saat mencangkul di lahan jagung. 


“Saat musim hujan air mengikis tanah. Saat Pak Supri mencangkul lahannya tiba-tiba menemukan tanduk
rusa,” ungkap Jamin saat ditemui di Museum Situs Patiayam Desa Terban, Kecamatan
Jekulo, Kudus, Rabu (19/10/2016).
Setelah menemukan fosil tersebut, kata Jamin, kemudian dibawa kerumah oleh Supri dan menghubungi pihak Museum Situs Patiayam.
Jamin mengungkapkan, tanduk rusa tersebut diambilnya hari Selasa (18/10/2016). Setelah itu, pihaknya mengkonserfasi fosil tersebut. 

“Ini sedang kami konserfasi. Untuk yang terpisah direkatkan dengan lem, gypsum atau pasir. Selanjutnya,
juga dilapisi dengan cairan kimia supaya kulit luarnya awet,” jelas Jamin yang pada hari itu mengenakan baju batik ungu putih.

Jamin menjelaskan, rusa saat ini dan
zaman purba memiliki ukuran tubuh yang sama. Tidak sertamerta karena zaman purba, memiliki bentuk tanduk yang lebih
besar. Diberitahukan, sebelum tanduk rusa ditemukan, warga juga menemukan kaki
gajah purba dan beberapa pigmen gigi manusia. Jamin belum bisa memastikan jenis
kaki gajah apa dari hasil penemuannya, begitu juga dengan jenis manusia. 

Fosil tersebut, katanya, akan diketahui setelah ada peneliti dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba
Sangiran Sragen datang meneliti. “Belum tahun jenis gajahnya apa. Yang sudah ditemukan di (Pegunungan)
Patiayam yakni jenis gajah Stegodon dan Elephas,” tuturnya.

Dia mengakui, banyak fosil yang ditemukan masyarakat di
Pegunungan Patiayam secara tidak sengaja. Menurutnya, ketika ada masyarakat
yang menemukan fosil pasti akan dilaporkan ke Museum Situs Patiayam untuk disimpan. Bagi penemu fosil, saat ini ada tali asih berupa uang yang akan diberikan, sesuai keunikan dan kelangkaan fosil.


“Contoh untuk satu kaki
gajah yang baru ditemukan ini, mendapatkan tali asih sebesar Rp 800 ribu,”
ungkapnya sambil menunjuk fosil kaki gajah yang sedang di gypsum.

- advertisement -

Kehilangan Uang Rp 50 Juta, Tak Mengurungkan Niat Deni Membuka Usaha Produksi Kertas Gembos

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di bangunan gudang bertembok bata ringan di Desa Pedawang RT 1/RW 2, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tampak sejumlah orang lainnya, tampak menata dan memotong kertas daur ulang yang belum tertata. Sementara tempat berbeda, seorang pria berkaus garis-garis sedang mengecek tumpukan kertas yang sudah terpotong. Dia adalah Deni Riswanto (38), produsen kertas gembos yang kehilangan uang Rp 50 juta sebelum memulai usaha.

produksi kertas daur ulang gembos
Deni mengamati proses penjemuran kertas daur ulang miliknya. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, dia sudi bercerita tentang pengalaman pahit sebelum memulai usahanya itu. Dia menceritakan, sebelum memulai usaha, dirinya memesan mesin pembuat kertas gembos. Namun dirinya harus rela uang Rp 50 juta yang dibuat untuk uang muka melayang, karena sebelum mesinnya jadi, pembuat mesin meninggal dunia.

“Saat itu saaya sudah membayar uang muka sebesar Rp 50 juta untuk pembuatan mesin tersebut. Uang itu hasil dari menjual mobil yang saya miliki. Tapi, sebelum mesin jadi, pembuatnya meninggal dunia. Uang muka yang saya berikan tidak kembali,” tutur Deni saat ditemui beberapa waktu lalu.

Deni mengaku tak putus asa. Dia tetap bertekad medirikan usaha tersebut. Tak berselang lama, akhirnya dia bisa mengumpulkan uang dan membeli mesin yang dia inginkan.

“Awal memulai usaha memang tidak mudah, setiap usaha pasti ada masa-masa sulit. Meski kehilangan uang Rp 50 juta saat itu, tidak mengurungkan niat saya membuka usaha. Saya orang yang berani mengambil risiko, kalau belum terjun pasti belum tahu kendalanya,” ujarnya.

Ide untuk memproduksi kertas daur ulang itu berawal saat dirinya mengambil limbah kertas di sebuah pabrik untuk dijual lagi. Dia berinisiatif untuk memproses limbah itu agar memiliki nilai jual lebih. Dari itulah Deni kemudian memberanikan diri untuk membuka usaha produksi kertas gembos pada 2010.

“Dua tahun saya belum merasakan hasil, dan masih belajar tentang mesin produksi kerta gembos,” jelas pria tiga bersaudara itu.

Sebelum membuat kertas daur ulang, dirinya telah memproduksi boks kardus pengemas produk mebel di Jepara. Namun usahanya itu dianggap kurang stabil, karena pembayaran kardus hasil produksinya seret. Akhirnya dia memutuskan untuk menutup usaha pembuatan kardus, dan beralih ke pembuatan kertas gembos. Usaha itu dia jalankan bersama dengan usaha pengepulan kertas limbah pabrik.

Pria yang hanya lulus sekolah menengah atas (SMA) itu mengaku sejak lulus sekolah membantu ayahnya yang biasa mengambil limbah kertas dari pabrik untuk dijual lagi. Sebenarnya Deni sudah pernah mendaftar kuliah di sebuah perguruan tinggi. Namun, karena adiknya masih sekolah dan kakaknya yang belum lulus dari pendidikan militer, dia memutuskan untuk tidak kuliah dan memilih membantu orang tuanya.

“Saya sempat mau masuk kuliah, tetapi setelah saya pikir-pikir lagi akhirnya saya lebih memilih membantu orang tua. Saya lulus SMA tahun 1997. Kemudian membuka usaha membuat boks kardus pada tahun 2000, dan berali usaha produksi kertas gembos pada tahun 2010 hingga sekarang,” tuturnya.

Pria dua anak itu juga mengaku belajar berkomunikasi dan membangun jaringan pasar dari ayahnya. Saat ini baru memiliki dua mesin cetak kertas gembos, satu mesin pres, dan satu mesin potong.

Meski sudah memiliki sejumlah mesin, namun Deni saat ini masih merasa kewalahan memenuhi kebutuhan pelanngannya. Dia memiliki pelanggan tetap dari Kudus, Semarang, dan Surabaya. Dia menjual produk buatanya seharga Rp 70 ribu per pak. Usahanya kini beromzet lebih dari Rp 50 juta per bulan.

 

- advertisement -

Setelah Mendengar Ceramah KH Sya’roni Ahmadi dan KH Maimum Zubair, Very Beranikan Diri Buka Usaha Clothing

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di sebuah rumah Dukuh Pagungan Lor Desa Kajeksan Nomor 156, seorang pria mengenakan kaos putih memakai kaca mata, terlihat sedang duduk di atas sofa ruang tamu sembari memainkan handphone. Pria tersebut bernama Muhammad Fajrin Nadif (25), pemilik usaha clothing Java Original. Dia mantap membuka usaha, berawal dari pesan KH Sya’roni Ahmadi dan KH Maimun Zubair dalam ceramah.

Produk Java Clothing. Foto: Java Clothing

Waktu ditemui di tengah kesibukannya, Very, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni.  Dia menceritakan, memulai pembuatan kaus sejak 2014, hingga kini sudah berlangsung dua tahun. Menjadi wirausahawan, karena ingin menjalankan ajaran Sunan Kudus yang melekat pada masyarakat Kudus, yakni Gusjigang (bagus, ngaji dan dagang).

“Sewaktu mengikuti ceramah Mbah Sya’roni dan Mbah Maimun Zubair, beliau berdua pernah berpesan untuk mengamalkan ilmu dan berdagang. Kalau menjadi kiai hanya mengandalkan upah, khawatirnya saru (tidak baik). Dari pesan itu, saya mulai berfikir untuk membuka usaha,” ungkap Very, pria asal Desa Loram, Kecamatan Jati, Kudus.

Menurut pria lulusan 2013 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus (STAIN) ini, usaha apapun pernah dia lakukan sebelum fokus usaha clothing. Mulai dari usaha membuka angkringan, jual kasur, sandal, sepatu, sampai berjualan pakaian keliling Jawa Tengah dengan kendaraan, juga pernah dia kerjakan bersama dengan temannya.

Muhammad Fajrin Nadif. Foto pribadi

Dia mengatakan, untuk pemasaran dia hanya melalui BBM dan Instagram. selebihnya dia hanya menunggu pelanggan yang datang ke rumah. Untuk bahan pembuatan kaus, dia menggunakan katun combet soft 30 yang dia beli langsung dari Bandung. “Untuk pelanggan kebanyakan dari Kudus, Pati dan Surabaya”, terangnya.

Dia menambahkan, proses produksi semua dia berikan kepada orang lain, penjahit dari Jepara dan Kudus. Sedangkan untuk proses sablon dikerjakan oleh temannya di Kudus. Harga kaus yang ditawarkan Java Original berbeda-beda, untuk pembelian eceran dia jual Rp 35 ribu dan pembelian satu lusin dia jual seharga Rp 30 ribu.

“Penjualan tidak bisa dipastikan, terkadang bisa 100, kadang di bawah 100, kadang juga bisa mencapai 200 hingga 300 dalam satu bulan. Untuk omzet tidak menentu, tergantung banyaknya pesanan, terkadang bisa mencapai Rp 4 juta per bulan kalau sedang ramai pesanan. Sedangkan modal awal membuka usaha, sekitar Rp 7 juta,” tambahnya.

- advertisement -

Mi Ayam Bang Romi, Dirintis Sejak 1989 Menggunakan Gerobak Keliling, Kini 800 Porsi Habis Dalam Sehari

0
SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di sebelah barat tepi Jalan Kudus – Purwodadi tampak beberapa motor terparkir di halaman sebuah bangunan berwarna kuning. Di dalam ruangan tampak beberapa orang sedang menyantap semangkok mi. Tempat tersebut merupakan kedai mi ayam Bang Romi yang cukup dikenal. Namun, siapa sangka, usaha tersebut telah dirintis generasi sebelumnya hingga kini memiliki banyak penggemar.

mi ayam bang romi kudus
Warung Mi Ayam Bang Romi di Jalan Kudus-Purwodadi, Tanjung Karang, Jati. Foto: Rabu Sipan

Pujianto (35), adalah pemilik kedai mi ayam Bang Romi tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dia sudi berbagi cerita tentang perjalanan usaha penjualan mi ayam tersebut. Dia menceritakan, usahanya mulai dirintis ayahnya, Edy Maryoto. Edy keliling dari kampung ke kampung untuk menjajakan mi ayam.

“Usaha ini milik ayah saya. Beliau yang memulai usaha menjual mi ayam. Nama Bang Romi adalah sebutan akrab ayah saya. Beliau sudah meninggal sekitar lima tahun lalu. Dan kini usahanya lanjutkan anak-anaknya, termasuk saya,” kata Pujianto, anak kedua Bang Romi.

Sebelum menjual mi ayam, katanya, ayahnya dulu seorang buruh bangunan yang merantau ke Jakarta. Selama merantau di Jakarta tersebut, ayahnya kenal dengan seorang penjual mi ayam yang sudi mengajarkan cara membuat mi ayam.
“Sewaktu di Jakarta dulu setiap siang ayahku bekerja jadi buruh bangunan, sedangkan malamnya dia membantu temanya berjualan mi ayam keliling. Beliau juga belajar cara membuat mi ayam,” kata Pujianto saat ditemui dikediamannya belum lama ini.

Pujianto, penerus Warung Mi Ayam Bang Romi. 
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, mengisahkan, setelah mampu membuat mi ayam, ayahnya memutuskan pulang ke Kudus dan berjualan mi ayam berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan gerobak. 

“Ayahku mulai berjualan mi ayam keliling sejak tahun 1989, dengan harga Rp 200 semangkok,” kata Pujianto

Menurutnya di tahun tersebut penjual mie ayam di Kudus masih sangat jarang. Setelah berjualan keliling selama dua tahun, mi ayam yang dijual ayahnya mulai dikenal masyarakat. Karena semakin dikenal, dia memutuskan membuat warung tenda mi ayam di tepi Jalan Kudus – Purwodadi.
“Sejak mempunyai warung tersebut penjualan mi ayam ayahku selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 1994 ayah yang dibantu ibuku bisa menjual sekitar 400 sampai 500 porsi mi ayam sehari,” katanya.
Karena kewalahan melayani pembeli, ayah dan ibunya mempekerjakan dua karyawan untuk membantunya berjualan. Setelah pulang sekolah, empat anaknya juga diminta membantunya berjualan.
Alhamdulillah, mi ayam ayahku makin diminati pembeli. Secara bertahap hasilnya bisa buat membangun rumah yang kami tinggali, bisa membeli beberapa tanah dan rumah, membeli mobil serta mampu menyekolahkan semua anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi,” ujar Pujianto.
Setelah ayahnya meninggal, Pujianto mengatakan, warung mi ayam Bang Romi dikelola bersama oleh keluarga. Kini, mi ayam Bang Romi bisa menjual 800 porsi mi ayam maupun bakso dalam sehari dengan harga Rp 7 ribu seporsi.

“Meskipun ayah sudah meninggal, kami bersukur mi ayam Bang Romi tetap diminati para pembeli. Bahkan sekarang warung mi ayam dan bakso Bang Romi mempunyai empat cabang di Kudus, yang buka setiap hari dari pada pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB dengan mempekerjakan 12 karyawan,” katanya. 

  
- advertisement -

Karno Resah, Uang Receh Bernilai Puluhan Juta Rupiah yang Ditemukan Ditolak Bank

0

SEPUTARKUDUS.COM, BERUGENJANG – Di ruang tamu rumah di Desa Berugenjang RT 1 RW 2,
Kecamatan Undaan, masih ramai sejak ditemukannya tiga karung uang koin dan kertas beberapa hari lalu. Beberapa orang masih terus menghitung uang yang diperkirakan bernilai puluhan juta Rupiah tersebut. Rumah itu milik Sukarno, orang yang menemukan uang receh di dalam satu kamar rumahnya. Hingga kini dirinya mengaku resah, takut bank menolak uang receh tersebut.

Penemuan uang koin
Sukarno menghitunga uang koin yang ditemukan dalam rumahnya. Foto: Rabu Sipan

Karno, begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, selain masih heran dengan penemuan uang tersebut, selama menghitung dirinya diselimuti rasa ragu. Apakah nanti akan ada bank di Kudus yang mau menerima
uang koin receh dalam jumlah yang begitu banyak.
“Selama beberapa hari menghitung dan mengemas uang ini, aku beserta saudaraku dilanda kecemasan. Apakah nanti akan ada satu di antara
bank di Kudus yang sudi menerima semua uang koin receh jika aku berniat menabungnya
di bank. Kami khawatir pihak bank tidak mau repot sehingga menolak uang receh ini,” ungkap Karno kepada Seputarkudus.com, Senin (17/10/2016).
Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, jika
nanti ditolak oleh bank, dirinya tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan uang–uang tersebut.
Karena jika dibelanjakan dalam jumlah yang banyak pasti ditolak, karena akan sangat
merepotkan pemilik toko.

Baca juga: Heboh, Warga Undaan Kudus Temukan 3 Karung Uang Receh Bernilai Puluhan Juta Rupiah

Karno mengatakan, seandainya diterima oleh bank
sebagai tabungan, diapun masih dilingkupi rasa kecemasan. Karena uang yang ditemukan itu ternyata milik kakaknya, Sukesi (60) yang memiliki keterbatasan. ingin uang tersebut di atasnamakan kakaknya. Kakaknya mengumpulkan uang tersebut dari meminta-minta yang disimpan di dalam kamar tanpa dia ketahui. 
“Aku berharap pihak bank mau menerima serta tidak
mempersulit urusan duit koin receh ini, agar semua jadi beres dan pikiranku
beserta saudaraku yang lain jadi lega dan tidak stres. Jujur senjak menemukan empat karung
uang receh milik kakakku, selain terkejut, pikiran kami sekeluarga beberapa hari ini jadi semrawut,” ungkap Karno.

Dia menyampaikan, telah menghubungi Kepala Desa Beeugenjang, Kiswo, untuk mengantar dirinya menyetor uang receh tersebut ke bank. Dia juga berharap kepala desa membantu keluarganya untuk mempermudah urusan administrasi tersebut ke pihak bank di Kudus.

Sementara itu, Kiswo berkeyakinan bank akan menerima uang receh milik keluarga Karno. Menurutnya uang tersebut asli dan sah sebagai alat pembayaran. Sehingga tidak ada alasan bagi bank untuk menolaknya. “Pasti diterima. Pihak keluarga jangan khawatir, uang itu uang asli,” tuturnya.

  
- advertisement -

Pemuda Asal Demak Ini Mengadu Peruntungan di Kudus dengan Berjualan Kepiting dan Kerang di Tepi Jalan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat Jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, seorang pria berkaus hitam terlihat sedang berbincang dengan pelanggan. Tampak di atas terpal biru, sejumlah kepiting dan kerang yang masih hidup tertata rapi. Pria tersebut yakni Ulin Hanafi (24), pria asal Desa Ngemplik RT 1 RW 2, Kecamatan Karanganyar, Demak, yang memberanikan diri berjualan kepiting dan kerang karena gemar dengan makanan seafood.

seafood
Ulin menjual kepiting dan kerang di Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pelanggan yang datang membeli, Ulin begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni. Dia menceritakan, memulai usaha jual kerang dan kepiting sudah berlangsung satu tahun setengah, sejak awal bulan 2015. Di wilayah Kudus, dia mengaku baru sekitar satu tahun berjualan.

“Sejak kecil saya suka dengan makanan seafood. Melihat pesaing masih sedikit dan tidak semua tempat jual seafood, saya memberanikan diri menekuni usaha ini. Soalnya banyak pemain laut yang mudah sukses, asalkan benar-benar niat,” ungkap Ulin waktu ditemui pada saat berjualan di tepi Jalan Desa Getas Pejaten belum lama ini.

Menurut pria yang mengaku aktif dalam organisasi Karang Taruna di desanya, hewan laut yang dia jual tidak hanya kepiting dan kerang. Terkadang dia juga menjual udang lobster. Lobster dia dapatkan dari Karimun Jawa dan Lombok, sedangkan kepiting dan kerang dia membeli langsung dari Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Demak. “Selain dari Kudus, pelanggan saya ada yang dari Jakarta dan Surabaya,” ungkapnya.

Ulin menjelaskan, mempunyai pelanggan dari Jakarta dan Surabaya melalui perantara media online, antara lain Facebook, Whatshap, BBM dan Instagram yang dia gunakan dalam pemasaran. Dia berjualan di Kudus hampir setiap hari, mulai pukul 8.00 WIB hingga Pukul 15.00 WIB. Sedangkan, Pukul 17.00 WIB hingga Pukul 1.00 WIB dia gunakan untuk berjualan di Angkringan milknya yang dia beri nama Angkringan Mbah Dul Gembul, Demak.

Dia menambahkan, harga kepiting dia jual seharga Rp 65 ribu per kilogram, kerang Rp 15 ribu per kilogram. Untuk lobster tergantung jenis yang dia jual, lobster mutiara dijual seharga Rp 400 ribu, lobster pasir dan bambu harganya sama, berkisar Rp 270 ribu – Rp 280 ribu per kilogram. Dalam satu hari berjualan, dia mampu menjual 20 kilogram kepiting dan 40 kilogram kerang.

“Kalau penghasilan tidak bisa ditentukan, kadang Rp 250 ribu, Rp 400 ribu, kadang bisa Rp 500 ribu dalam sehari. Untuk modal awal, sebanyak Rp 2,5 juta dalam satu kali pembelian,” tambahnya.

- advertisement -

Omzet Rp 2 Juta Dalam Tiga Hari Masih Terbilang Sepi Bagi Penjual Pisang di Jati Ini

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Sejumlah buah pisang tergantung dan tertata rapi memenuhi lapak di tepi jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Di lapak itu, seorang pria berkaus putih tampak menata pisang yang dijualnya. Pria itu bernama Noor Kamal (64), pemilik lapak tersebut. Saat bulan Muharram seperti ini, penjualannya sepi pembeli. Meski begitu, omzet yang di dapat masih mencapai Rp 2 juta dalam tiga hari.

jual buah pisang
Noor menata buah pisang di lapak depan rumahnya. Foto: Ahmad Rosyidi

Lapak milik Noor, terletak di depan tempat tinggalnya, tepatnya di teras rumah. Setiap hari dirinya membuka lapak dan menunggu pembeli datang. Meski saat ini sepi pembeli, dia tetap membuka lapak miliknya.

“Bulan Sura (Muharram) seperti ini lebih sepi, jarang yang menikah atau menggelar hajatan. Omzet yang saya dapat hanya Rp 2 juta dalam tiga hari. Ini tak seramai bulan Ruwah, atau menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi saya tetap buka dan membeli pisang ke Pati setiap tiga hari sekali,” ungkap pria empat anak itu kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Dia mengaku membeli pisang langsung ke petani di Pati, dan sejak tahun 2003 Noor membeli kendaraan roda tiga untuk mengangkut pisangnya. Sebelumnya dia membawa pisangnya dengan kendaraan umum dari Pati sampai Kudus. 

Sambil minum es yang dibawakan istrinya, Noor merinci harga pisang yang dijual. Untuk pisang susu dijual seharga Rp 20 ribu, pisang ambon Rp 35 ribu, pisang raja Rp 25 ribu, pisang putri Rp 10 ribu dan pisang emas Rp 20 ribu. Semua harga tersebut berdasarkan harga per sisir.

“Selain itu saya juga punya banyak jenis pisang lainnya. Pisang raja uter saya jual seharga Rp 10 ribu, pisang sobo Rp 10 ribu, pisang gember Rp 20 ribu, pisang kidang Rp 20 ribu, pisang hijau Rp 25 ribu, pisang bentul Rp 15 ribu, dan pisang byar Rp 3 ribu perbijinya,” katanya.

Noor sudah berjualan pisang sejak 20 tahun yang lalu, 15 tahun berjualan di pasar dan 5 tahun ini berjualan di lapak depan rumahnya. Dia juga mengungkapkan, dia membuka lapak mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. 

saat merinci harga pisang yang ada, datang seorang perempuan yang sedikit tergesa-gesa, dia adalah Darwati (30) yang hendak membeli pisang untuk acara tujuh hari orang tuanya. Tidak lama dia memilih kemudian dibayar dan pergi.

“Ini untuk acara tujuh hari bapak, saya membeli dua sisir pisang raja. Kemarin sudah beli tapi ini tadi ternyata kurang,” jelasnya sambil tergesa-gesa.

- advertisement -

Kain Luwur Sunan Muria Selalu Listiono Simpang Agar Usahanya Berkah

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Ratusan laki-laki mengenakan sarung
dan peci hitam terlihat duduk di aula Makam Sunan Muria. Mereka membawa
bungkusan tas berwarna hijau yang isinya terdapat nasi kotak, berkat serta kain
putih yang terbungkus plastik. Saat plastik dibuka, kain tersebut
berbentuk persegi dengan ukuran 40×40 sentimeter. Mereka sedang mengikuti
kegiatan Buka Luwur dan Haul Raden Umar Sa’id Kanjeng Sunan Muria ke-392,
Minggu (16/10/2016) pagi.

buka luwur sunan muria
Panitia membawa kain mori pada Buka Luwur Sunan Muria. Foto-foto: Imam Arwindra

Listiono, satu di antara ratusan warga Colo yang datang pada acara tersebut, mengaku, setiap
tahun mendapatkan kain mori Makam Sunan Muria saat Buka Luwur. Dia menjelaskan, mori yang diberikan pernah
digunakan sebagai penutup Makam Sunan Muria selama satu tahun. “Kain tersebut akan saya simpan.
Suatu saat akan terpakai. Semoga hasil bertani dan berdagang lancar,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Menurutnya, orang yang datang bersama dirinya hampir seluruhnya warga Desa Colo, Kecamatan Dawe. Selebihnya yakni tamu undangan dari luar desa. Listiono
mengungkapkan, semua yang hadir mengikuti Buka Luwur Sunan Muria mendapatkan
kain mori serupa. Masyarakat percaya kain mori tersebut menjadi  perantara datangnya berkah. “Masyarakat
masih percaya, kain mori Makam Sunan Muria ini bisa mendatangkan berkah,” tambahnya.

Ketua panitia kegiatan Nur Hudlri (50) tak menampik kepercayaan masyarakat Colo tersebut. Menurutnya, kain mori luwur Sunan Muria perantara untuk galap berkah dari orang soleh. Juga ada kepercayaan yang bisa memberikan ketenangan. 

Baca juga: Ratusan Warga Ikut Menyantap Nasi Ambengan di Atas Tampah Saat Buka Luwur Sunan Muria

Nur Hudlri juga memberitahukan, terdapat 600 bingkisan tas berkat yang dibagikan saat Buka Luwur Sunan Muria. Pihaknya mengaku menyediakan 900 bingkisan untuk mengantisipasi
misal  terdapat kekurangan. “Yang kami
undang 600 orang. Namun kami menyediakan 900 biah,” ungkapnya saat ditemui
selepas kegiatan.

Pria yang saat itu mengenakan pakaian serba hitam itu menuturkan, yang
medapatkan bingkisan yang berisi nasi berkat dan kain luwur Sunan Muria yakni
warga Desa Colo dan tamu undangan khusus. 

Nur Khudlri yang juga sekretaris Yayasan Masjid dan Makam
Sunan Muria menjelaskan, jumlah nasi bungkus yang dibagikan kepada peziarah
yakni 5 ribu bungkus. “Saat acara pengajian selesai, nasinya langsung dibagikan. Belum
terlalu lama, 5 ribu bungkus sudah habis. Masih banyak yang belum kebagian,”
ungkapnya.
Dia memberitahukan, isi bungkusan yang dibagikan berisi
nasi putih serta daging kerbau dan kambing yang dibungkus daun jati setelah itu
diwadahi besek. Dalam kegiatan Buka Luwur Sunan Muria terdapat rangkaian kegiatan, di antaranya, manaqiban, Istighosah Asyuro, santunan anak yatim,
khotmil Quran, dan pengajian umum. “Hari ini pelaksanaan salin luwur,
kajatan dan diakhiri ziarah bersama di makam Pangeran Pandak,”
terangnya.

- advertisement -

Duri Tak Malu Jual Produk Kecantikan, Bahkan Tak Risih Menjelaskan Organ Kewanitaan ke Pelanggan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di satu kampus kesehatan di Jalan Lingkar Utara Kudus, tampak seorang pria mengenakan baju batik sedang duduk sambil memegang ponsel. Di depannya, beberapa produk kecantikan dan kesehatan dijajar di atas meja. Dia adalah Duri Asyhari (20), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Cendekia Utama, yang mengaku tak malu menjual produk untuk kalangan wanita.

jual produk kecantikan
Duri, kuliah di Stikes Cenut Kudus sambil menjual produk kecantikan dan kesehatan. Foto: Ahmad Rosyidi 

Duri dia akrab disapa, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com, dirinya tidak pernah merasa malu meski harus menjual produk kecantikan dan kesehatan untuk kalangan wanita. Dia ingin membantu meringankan beban orang tuanya yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. 

“Kenapa harus malu. Demi meringankan beban orang tua, saya saya tidak malu. Selain itu, saya juga bisa belajar hidup mandiri,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara itu, belum lama ini.

Sebelumnya, Duri sudah pernah berjualan produk kecantikan saat masih sekolah di SMK Avicenna, Rembang. Hingga saat ini dia juga masih mengambil produk yang dijualnya dari guru di SMK Avicenna. Kurang lebih sudah sekitar empat tahun ini dia berjualan produk kecantikan dan kesehatan. Dia merasa terbiasa dengan hal itu, dan tidak merasa malu dengan teman-temannya.

“Saya tidak malu karena sudah terbiasa menawarkan produk kecantikan keteman-teman perempuan. Bahkan membahas organ kewanitaan, saya juga biasa saja. Agar tidak menyinggung biasanya saya minta maaf dulu sebelum menjelaskan,” jelas Duri.

Mahasiswa semester tiga yang memilih Jurusan Keperawatan itu juga mengungkapkan, kebanyakan pelanggannya saat ini dari mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus dan teman-temannya di STIKES Cendekia Utama Kudus. Duri menjual produknya secara online dan menawarkan langsung ke teman-temannya.

Duri merinci harga produk yang dia jual. Di antara produk tersebut Melia Biyang, suplemen makanan, yang dijual seharga Rp 150 ribu. Saleb kulit dia jual seharga Rp 25 ribu, sari kurma Rp 25 ribu, MSI fruite serum Rp 80 ribu, masker Rp 5 ribu.

“Ada juga lotion hand body Rp 50 ribu, lulur Rp 45 ribu, habbatussauda Rp 45 ribu, bio spray Rp 60 ribu, madu Rp 150 ribu hingga 210 ribu, dan jilbab Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu,” ujarnya.

Dari hasil menjual produk kecantikan dan kesehatan, Duri mengaku bisa mendapat keuntungan kurang lebih sekitar Rp 1 juta per bulan. Hasil itu cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Tetapi untuk biaya kuliah dia masih dibiayai orang tua, karena merasa belum mampu membayar dengan uang sendiri.

Meski sebelum menjual sebagian produknya, Duri sudah mencobanya sendiri. Tapi tak jarang, masih ada yang komplain karena baru memakai dan ingin langsung ada hasil. “Sebelum saya jual biasanya saya coba sendiri, kecuali untuk obat-obat tertentu. Kadang juga ada yang komplain karena baru memakai sudah ingin mendapat hasil, tetapi setelah memakai rutin sekitar dua pekan mereka mengakui hasilnya,” pungkasnya.

- advertisement -

Meka Sering Berangkat Sekolah Membawa Uang Saku Rp 10 Ribu, Ketika Pulang Membawa Uang Rp 1 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Di sebuah home store bernama Meykata Hijab, seorang wanita mengenakan pakaian abu-abu berjilbab biru tua, terlihat sedang melayani pelanggan. Wanita tersebut yakni Meka Lailatul Fajri (17), pemilik home store tersebut. Siswi kelas tiga Madrasah Aliyah Nahdhatul Ulama’ (MA NU) Banat Kudus itu, yang setiap hari berangkat sekolah membawa uang Rp 10 ribu, dan pulang membawa uang Rp 1 juta.

Pemilik Usaha Meykata
Meka Lailatul Fajri. Foto: Instagram @meykata

Kepada Seputarkudus.com, Meka, begitu akrab disapa, menjelaskan, selain membuka home store, dia juga menjual jilbab ke teman sekelas melalui media daring. Menurutnya, produk yang dia buat banyak disukai siswi dan guru sekolah. Bahkan tidak mau ketinggalan gurunya ikut menjadi reseller jilbab yang dia produksi.

“Saya sering berangkat sekolah bawa uang Rp 10 ribu, pulang bawa uang Rp 1 juta, kadang Rp 700 ribu. Biasanya anak pondok yang memesan, jadi saya sekalian belajar dan jualan jilbab di kelas. Tapi saya tidak pernah melupakan pendidikan, pendidikan tetap nomor satu dan paling utama bagi saya,” ungkap Meka waktu ditemui di rumahnya, di Desa Krandon RT 1 RW 3, Kecamatan Kota, Kudus, Gang Padepokan.

Wanita yang memulai usaha sejak masih duduk di kelas tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs) mengatakan, produk jilbab yang dihasilkan Meykata Hijab bermacam-macam. Di antaranya jilbab khimar, paris, rawis, diego alfa, remple, daily serut dan masih banyak yang lainnya. 

“Harga yang saya tawarkan beragam, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung jenis ukuran dan bahan yang digunakan,” ungkapnya.

Baca Juga: Wow, Siswi Banat NU Ini Bisa Beli Honda Jazz dan NMax Hasil Berjualan Hijab di Instagram

Dia mengungkapkan, bahan jilbabnya dia beli dari Semarang. Sedangkan pelanggan yang sering membeli kebanyakan dari luar kota. Pesanan datang mulai dari Semarang, Kudus, Pati, Lombok, Makassar, Sulawesi, Papua, Kalimantan, hingga Malaysia. Menurutnya, sudah selama satu tahun terakhir Malaysia sering memesan jilbab. “Jilbab yang Malaysia pesan kebanyakan  berupa jilbab remple dan khimar,” terangnya.

Dia menambahkan, model yang digunakan dalam memasarkan produk jilbab yakni dirinya sendiri. Selain itu, dia sering didaulat menjadi endorse jilbab dan mengikuti lomba fashion show busana Muslimah. 

“Acara apa dan di mana saya kurang tahu, yang jelas saya juara satu dulu. Kalau satu bulan produksi, bisa mencapai 300 – 500 pcs jilbab,” tambahnya.

- advertisement -

Heboh, Warga Undaan Kudus Temukan 3 Karung Uang Receh Bernilai Puluhan Juta Rupiah

0
SEPUTARKUDUS.COM, BERUGENJANG – Masyarakat di ujung selatan Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, beberapa hari terakhir ini sedang heboh. Seorang warga menemukan tiga karung uang koin, dan satu karung lembaran uang kertas. Uang tersebut diperkirakan bernilai puluhan juta rupiah. 

penemuan uang koin
Karno dan saudara iparnya menghitung uang koin yang ditemukan. Foto-foto: Rabu Sipan

Senin (17/8/2016) pagi, ruang tamu sebuah rumah di Desa Berugenjang RT 1 RW 2, Kecamatan Undaan, tampak ramai. Beberapa orang terlihat menghitung uang koin di dalam beberapa karung dan ember cat tembok berukuran besar. Tampak pula tumpukan uang kertas yang sudah lusuh.

Rumah tersebut milik Sukarno (37). Kepada Seputarkudus.com, Karno, begitu dia akrab disapa, menceritakan awal mula penemuan uang receh tersebut. Dia mengaku menemukan uang tersebut secara tidak sengaja. 

Pada Jumat (14/10/2016) lalu, katanya, dia bermaksud memindahkan seekor kucing yang beranak di atas kain. Lembaran kain itu menutupi tiga karung beras Bulog di dalam kamar rumahnya. Kamar itu selema ini ditinggali kakaknya, Sukesi (60). Saat mengangkat kain beserta kucing tersebut, dia melihat tumpukan uang koin di dalam karung.

“Saat melihat tiga karung berisi uang koin itu aku sangat terkejut dan secepatnya aku memanggil istriku dan juga sudaraku yang lain. Saat itulah kami mengeluarkan tiga karung berisi uang tersebut ke ruang tamu. Dan saat mengeluarkan ketiga karung tersebut kami menemukan karung lainya yang berisi uang kertas dengan pecahan Rp 2 ribu dan Rp 1 ribu,” jelas Karno

Saat ini, katanya, Karno bersama saudaranya yang lain masih menghitung uang yang dia temukan di kamar kakaknya tersebut. Karena belum menemukan cara menghitung uang koin secara cepat dan tepat, dia beserta saudaranya dengan dibantu beberapa tetangganya, mengumpulkan uang receh tersebut berdasarkan nominalnya.

“Aku bersama keluarga dan dibantu beberapa tetangga sepakat menghitung secara manual. Setiap dua puluh koin receh kami kemas dengan plastik,” ujar pria yang akrab disapa Karno kepada Seputarkudus.com.

Karno mengaku, sejak Jumat malam mulai menghitung uang tersebut, namun sampai saat ini belum selesai. Karena itu dia belum bisa memastikan jumlahnya karena belum selesai menghitung. Sedangkan untuk uang kertas yang ditemukan, berjumlah sekitar Rp 10 juta, berupa pecahan uang Rp 2 ribu dan Rp 1 ribu.
Dia menjelaskan, uang tersebut dikumpulkan kakaknya dari meminta-minta. Sejak kecil, kakaknya memiliki keterbatasan. Uang hasil meminta-minta itu tidak digunakan, tapi hanya ditumpuk di dalam kamar. Uang tersebut diperkirakan dikumpulkan sejak delapan tahun lalu.

“Kami (keluarga) sudah melarang agar dia tidak meminta-minta. Karena segala kebutuhan dia sudah kami penuhi. Saat keluar meminta-minta, biasanya dia meminta izin pergi ke rumah keluarga yang masih satu kampung. Tapi beberapa hari tidak pulang. Mungkin saat itulah dia pergi meminta-minta,” tuturnya.

- advertisement -

Ratusan Warga Ikut Menyantap Nasi Ambengan di Atas Tampah Saat Buka Luwur Sunan Muria

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Puluhan laki-laki membawa ratusan berjalan menuju aula komplek Makam Sunan Muria.
Tampah-tampah tersebut berisi nasi, sayuran dan daging yang akan disantap
bersama selepas prosesi Buka Luwur Kanjeng Sunan Muria. Saat doa usai dibacakan, nasi ambengan tersebut dikeremuni warga yang hadir. Setiap
tampah dinikmati lima orang. Tanpa menggunakan cendok, mereka melahap bersama
nasi yang dilapisi daun jati tesebut, Minggu (16/10/2016).

nasi ambengan prosesi buka luwur sunan muria
Panitia membagikan nasi ambengan saat prosesi Buka Luwur Sunan Muria. Foto-foto: Imam Arwindra 

Satu di antara ratusan warga yang ikut menyantap nasi ambengan, yakni Nur Hudlri (50). Dia juga menjabat ketua panitia kegiatan Buka Luwur dan Haul
Raden Umar Sa’id Kanjeng Sunan Muria ke-392 tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dia menjelaskan, menyantap nasi ambengan bersama-sama merupakan tradisi yang tetap dijalankan sejak zaman Sunan Muria. 

“Dalam ambengan yang kami buat, ada nasi, sayur dan
daging. Untuk sayurnya terdiri dari sembilan macam sayuran,” ungkapnya saat
ditemui Seputarkudus.com selepas acara.

Dia juga menjelaskan, sayuran yang dibuat nasi ambengan tersebut tumbuh di
pegunungan Muria. Di antaranya, daun ketela dan daun papaya. Selain sayuran, ada pula potongan tempe, tahu, daging kerbau dan kambing sebagai lauk. “Juga ada mi dan suwiran telur,” jelasnya.

Menurutnya, nasi ambengan juga menjadi ciri khas makan ala santri. Dia menuturkan, saat ditaruh di ambengan, nasi akan dimakan bersama-sama. Selain itu cara memakannya
juga tidak menggunakan cendok, melainkan langsung menggunakan tangan. “Sekul ambeng sudah menjadi tradisi warga sini (Colo),” tuturnya.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, untuk kebutuhan
pembuatan nasi yang dibagikan kepada warga, pihaknya memasak nasi empat
ton beras. Menurutnya, jumlah tersebut belum keseluruhan, karena belum dilakukan
rekap data. Sedangkan untuk lauk daging kerbau, panitia menyembelih 10 ekor kerbau dan 20 ekor kambing. “Untuk jumlah nasinya sekitar 4 ton. Saya kira bisa lebih, karena
belum dilakukan rekap keseluruhan,” jelasnya.

Nasi-nasi tersebut dibagikan di beberapa rangkaian kegiatan
buka luwur.  Dia mencontohkan, saat
tahlil bersama, siswa di Colo yang hadir saat acara diberikan nasi berkat. Setelah itu, seluruh warga di Desa Colo juga diberi nasi yang sama. Nasi itu dibagikan panitia langsung ke rumah-rumah warga. 
“Setelah
pengajian juga dibagikan 5.000 nasi untuk para peziarah yang datang.
Selanjutnya, berkat yang diberikan saat Buka Luwur. Jumlah undangan ada 600
orang, namun dari panitia menyediakan 900 bungkus,” tambahnya.

- advertisement -

Tak Betah Jadi Bidan, Resa Pilih Berjualan Bakso Urat King di Jalan Kudus-Jepara dan Membuka Franchise

0
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di dalam sebuah kedai bakso terlihat seorang wanita berkaus biru tampak sedang sibuk. Tanganya terlihat cekatan memasukan mi bihun, daun kubis, sawi dan sebutir bakso ke dalam mangkuk. Setelah jadi, bakso itu kemudian diantarkan ke pembeli. wanita tersebut bernama Resa Desiana (30). Dia memutuskan untuk berdagang karena merasa tak kerasan menjadi bidan di sebuah rumah sakit.

bakso urat jumbo
Resa saat berjualan bakso urat di warungnya. Foto: Rabu Sipan

Wanita yang akrab disapa Resa tersebut sudi membagi kisahnya kepada seputarkudus.com, tentang keputusannya untuk berjualan bakso. Resa mengatakan pada 2009 dia diterima bekerja di RSUD Pelabuhan Ratu menjadi bidan. Namun wanita yang lulusan Akbid Widya Husada tersebut merasa tak betah, karena selain bekerja menjadi bidan, dia juga harus merawat ketiga anaknya seorang diri.
“Pada waktu itu aku kerepotan, karena selain bekerja aku juga harus merawat ketiga anaku seorang diri. Suamiku kerja dan tinggal di Jakarta. Karena alasan tersebut aku memutuskan keluar dari rumah sakit dan pulang ke Kudus,” ujar Resa beberapa waktu yang lalu.
Karena dari keluarga pedagang, Resa diajak kakaknya berjualan daging sapi di Pasar Welahan Jepara, dengan upah Rp 100 ribu sehari. Dia mengaku ikut berjualan kakaknya selama dua tahun. Setelah itu dia berjualan daging sapi dan kerbau di Pasar Bitingan bersama suaminya.
“Saat berdagang daging di Pasar Bitingan itulah aku mengalami dinamika hidup. Karena pada waktu itu aku bisa membangun rumah, membeli mobil, dua sepeda motor dan satu kendaraan roda tiga dari hasil berdagang,” ujar Resa menceritakan kisahnya.

Setelah itu, Resa ditipu teman sesama pedagang hingga bangkrut. Cobaan hidupnya belum juga berakhir, karena setelah bangkrut dia bercerai dengan suaminya.

Wanita yang tercatat sebagai warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, setelah bercerai dia tetap berjualan daging. Namun dagangannya tidak pernah habis, bahkan tidak laku. Dia berusaha “memutar otak” agar daging yang dia jual tetap habis meskipun tidak laku. Akhirnya dia memutuskan daging yang tidak habis terjual tersebut diolah menjadi bakso urat.

Resa kemudian menikah lagi. Dia bersama suaminya memutuskan membuat kedai bakso urat yang diberi nama Bakso King yang berada di tepi Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di Pertigaan Rumah Sakit Islam Kudus.
“Aku bersyukur bakso yang aku jual mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB tersebut begitu diminati para pembeli. Pada jam operasional tersebut aku bisa menjual sekitar 300 porsi bakso, dengan harga seporsi Rp 15 ribu untuk bakso urat, dan Rp 25 ribu untuk harga bakso urat tetelan, “ungkapnya
Resa mengatakan, selain menjual dia juga mengajak siapa saja yang berniat franchise dengan Bakso King. “Sekarang pun sudah ada warga Jepara yang franchise dengan kami, dengan harga Rp 30 juta. Dia mendapatkan satu gerobak bakso dan display seratus porsi bakso urat, “ ujarnya.       

- advertisement -