Beranda blog Halaman 1939

Pedagang Pasar Kliwon Terima Bungkusan Mirip Nasi Jangkrik Saat Haul Mbah Gamong

0
SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Ribuan nasi berkat terlihat tertumpuk di mobil boks di kawasan parkir Pasar Kliwon Kudus. Nasi tersebut
diwadahi bakul dibungkus plastik merah. Berkat itu berisi nasi dan daging
kerbau yang terbungkus daun jati. Nasi berkat itu kemudian dibagikan ke pedagang yang ada di
Pasar Kliwon. Nasi berkat yang mirip nasi jangkrik di Menara Kudus itu diberikan saat Buka Luwur Mbah Gamong.

Buka Luwur Mbah Gamong Pasar Kliwon Kudus
Pedagang Pasar Kliwon menerima nasi Buka Luwur Mbah Gamong. Foto: Imam Arwindra

Nasi berkat itu, menurut Sekretaris Himpunan Pedagang Pasar
Kliwon (HPPK) Kudus Andoko (40), dibagikan dalam rangkaian acara Buka Luwur Mbah Gamong. Makam tokoh tersebut berada di
kawasan Pasar Kliwon. “Ini Namanya Nasi Buka Luwur Mbah Gamong, mirip nasi jangkrik saat Buka Luwur Sunan Kudus di Menara,” ungkapnya saat
ditemui disela-sela membagikan nasi kepada pedagang, Kamis (13/10/2016).

Andoko menjelaskan, pembagian Nasi Buka Luwur Mbah Gamong diselenggarakan setiap tahun, dilaksakan setiap 13 Muharram. Menurutnya, tanggal tersebut bertepatan haul Syaikh Mustain, nama asli dari Mbah Gamong. Dia menuturkan, Syaikh Mustain merupakan orang yang babat alas desa sekitar Pasar Kliwon.
Selain pembagian nasi berkat, kata Andoko, rangkaian kegiatan Haul Syaikh Mustain lainnya, yakni santunan anak yatim, pengajian umum, khataman Al-Quran. 

Makam Mbah Gamong Pasar Kliwon Kudus
Makam Mbah Gamong di kawasan Pasar Kliwon Kudus.

Untuk membuat nasi Buka Luwur Mbah Gamong, pihaknya memotong kerbau satu ekor dan memasak beras dua kwintal. Menurutnya, nasi tersebut dimasak secara bergotong royong oleh pedagang Pasar Kliwon. “Jumlah nasi yang dibagikan ada 1.600 bungkus,” sebutnya,” terangnya.
Sementara itu, raut muka gembira ditunjukkan Musdalifah, seorang pedagang baju di Blok C, saat menerima nasi berkat. Dia mengaku senang mendapatkan Nasi Buka Luwur Mbah Gamong. Menurutnya,
selain berharap mendapatkan berkah juga menjadi penglaris dagangannya. “Semoga
bisa tambah laris,” tutur perempuan yang saat itu mengenakan kerudung kuning.
Di sebelah Musdalifah, Ahmad Afandi, juga mengaku gembira menerima nasi tersebut. Menurutnya, adanya
kepercayaan saat memakan nasi tersebut akan mendatangkan berkah dan dagangan
yang dijual laris. “Mbah Gamong kan sesepuh Pasar Kliwon. Makamnya pun berada
di kawasan Pasar Kliwon,” tambahnya.
- advertisement -

Wow, Siswi Banat NU Ini Bisa Beli Honda Jazz dan NMax Hasil Berjualan Hijab di Instagram

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Sebanyak 1182 kiriman gambar memenuhi dinding Instagram akun bernama Meykata. Gambar yang di unggah meliputi jilbab, mukena, tas, sandal dan pakaian Muslimah. Akun tersebut milik Meka Lailatul Fajri (17), siswi kelas tiga Madrasah Aliyah (MA) Nahdhatul Ulama (NU) Banat Kudus. Dia mengunggah jilbab hasil karyanya untuk dijual. Empat tahun menjalankan usahanya, kini dia mendapat hasil satu unit motor NMAX dan mobil Honda Jazz.

jual hijab di instagram
Meka menunjukkan motor Yamaha NMax hasil berjualan jilbab secara online. Foto: Sutopo Ahmad

Di tengah-tengah kesibukan membagi waktu antara belajar dan melayani pelanggan di home store miliknya, Meka begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia tekuni. Dia menceritakan, memulai usaha pada 2012, sejak masih duduk di kelas tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dia membuka usaha dari uang saku sekolah yang dia sisihkan untuk membuat sejumlah kreasi jilbab di rumah.

“Usaha saya sama sekali tanpa campur tangan dari orang tua, benar-benar modal dari nol. Awalnya dulu iseng-iseng saja membuat jilbab. Saya coba tawarkan teman kelas, posting lewat Istagram. Tidak disangka ternyata banyak yang tertarik. Allhamdulilah, sekarang saya bisa membeli motor NMAX dan mobil Honda Jazz sendiri,” ungkap Meka sembari tertawa.

Menurut warga Desa Krandon RT 1 RW 3, Kecamatan Kota, Kudus, media online yang dia gunakan dalam memasarkan produk jilbab, hanya melalu Instagram. Selebihnya, dia hanya menunggu pelanggan yang datang membeli jilbab di home store yang dia beri nama Meykata Hijab. “Home store milikku tidak hanya menjual jilbab, namun ada mukena, tas, pakaian Muslim dan switer,” terangnya.

jual hijab
Meka menunjukkan home store Meykata Hijab, tempat dirinya memajang hasil karyanya.

Dia menjelaskan, selain produk tas, semua produk yang ada di toko miliknya dia sendiri yang mendesain, lalu dibantu para penjahit untuk membuat. Untuk produk jilbab saat ini, yang sering laris terjual jenis daily serut dan khimar. Menurunya, jilbab tersebut simpel, tidak gerah sama sekali dan nyaman dipakai untuk kuliah maupun bepergian.

“Sebenarnya ada banyak jenis jilbab yang saya jual. Tapi untuk daily serut dan khimar baik bentuk motif maupun polos memang sering habis terjual. Kalau nama-nama jilbab saya sendiri yang memberi. Biar orang penasaran saja, seperti apa sih bentuk jilbab yang bernama daily serut dan khimar itu,” ungkapnya.

Anak keempat dari enam bersaudara ini menambahkan, dalam sebulan, dia mampu menjual sebanyak 600 pcs jilbab jenis daily serut. Untuk harga jilbab yang ditawarkan berbeda-beda. hijab daily serut seharga Rp 20 ribu per pcs dan khimar Rp 30 ribu per pcs. “Allhamdulilah, penghasilan saya berjualan jilbab dalam sebulan Rp 17 juta, itu sudah bersih,” tambahnya.

- advertisement -

Di Kedai Kopi No. 8 Coffee Shop Kudus, Ada Sajian Kopi Tak Berwarna Pekat Tapi Beraroma Kuat

0
SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Cucuran air kopi mengalir dari
alat berbentuk corong menuju teko saji berbahan kaca. Filter putih tersemat di corong untuk memisah ampas kopi. Seduhan air kopi tersebut kemudian dituangkan ke dalam gelas untuk
diberikan kepada pelanggan di No. 8 Coffee, Jalan Menur, Desa Kramat,
Kecamatan Kota, Kudus.

kopi no. 8 coffee kudus
Barista No. 8 Coffee sedang menyeduh kopi untuk pelanggan. Foto: Imam Arwindra

Menurut barista No 8 Coffee Imam Kurniawan (24), dirinya sedang membuat kopi menggunakan alat V 60. Menyeduh
kopi dengan alat tersebut akan menghasilkan sensasi nikmat kopi seperti minum teh. Dia
menjelaskan, tekstur yang dihasilkan lebih soft ketimbang dibuat tubruk. 

“Kalau
ada yang bilang serasa minum teh, bisa dibilang memang begitu. Karena cairan kopi yang
dihasilkan lebih soft dan clean,” tuturnya saat ditemui di No 8 Coffee,
belum lama ini.

Dia menjelaskan, alat V60 merupakan satu di antara alat
penyeduh kopi dengan metode pour over.
Sekilas kopi yang dihasilkan dari V60 seperti teh pada umumnya, berwarna coklat kehitaman. Dia menuturkan, V60 berbentuk kerucut pada bagian bawahnya.
Berbahan keramik, metal, kaca mapun
plastik. “Kopi
yang dihasilkan tanpa ampas, karena sudah tersaring,” tambahnya.

Imam yang sekaligus pemilik No. 8 Coffee menuturkan, desain
corong dan kertas filter tersebut berfungsi agar ekstraksi yang dikeluarkan
serbuk kopi tidak terlalu banyak. Menurutnya, air hanya akan melewati serbuk kopi dan langsung turun ke gelas.
Dia membandingkan, untuk penyeduhan dengan cara ditubruk
akan menghasilkan air kopi yang kental. Menurutnya, serbuk kopi akan terus
terekstraksi karena berada di dalam air. “Inilah sebabnya mengaoa menyeduh kopi dengan
V60 lebih soft, clean serta aroma dan karakter yang dihasilkan
kuat,” terang dia yang pernah kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo)
Jogjakarta Jurusan Advertising.
Alat V60, katanya, berasal dari Negeri Sakura, Jepang, yang diproduksi Hario. Menurutnya, Hario merupakan perusahaan Jepang
yang berdiri tahun 1921 dengan fokus produksi pembuatan keramik dan kaca tahan
panas untuk perlengkapan labolatorium. Dalam Bahasa Jepang, Hario
berarti raja gelas. “Dari kebiasaan orang Jepang yang terbiasa minum teh,
akhirnya alat V60 ini tercipta,” tambahnya.

Imam menceritakan, No. 8 Coffee didirikan 13 April 2015. Kedai miliknya cukup
terkenal dengan seduhan V60, karena fokus dengan penggunaan alat
tersebut. Dia menyebutkan, harga segelas kopi hasil seduhan V60 di kedainya seharga
Rp 8 ribu hingga Rp 20 ribu. “Untuk jenis kopi semua bisa. V60 hanya alat
seduhnya saja. Di sini kebanyakan pakai arabika,” ungkapnya.

Dia membeberkan, dalam membuat segelas kopi dengan alat V60
berat serbuk kopinya 15 gram dengan air panas 190 mililiter. Air tersebut
dengan suhu panas 85-95 derajat selsius. Tebal serbuk kopi
menurutnya tidak terlalu halus dan tidak belebihi gula putih. 

“Setiap
jenis kopi perlakuannya berbeda-beda. Untuk filternya saya pakai jenis Kono,”
tutur Imam yang bertempat tinggal satu lokasi dengan kedainya.

- advertisement -

Meski Lelah, Mbah Sofi Tetap Berjalan Kaki Keliling Menara untuk Menjual Jajanan Karena Tak Laku di Pasar

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Di atas trotoar Jalan Sunan Kudus terlihat seorang wanita renta berkerudung warna merah jambu berjalan menggendong sebuah antingan berwarna biru. Di dalam antingan terdapat beberapa gorengan, onde-onde, sate hati, dan beberapa bungkus kacang rebus. Di kedua tanganya membawa termos dan antingan lain. Perempuan renta itu bernama Sofiatun (72), penjual jajanan keliling di sekitar Masjid Menara Kudus.

penjual jajanan
Mbah Sofi menyusuri jalan di kawasan Menara Kudus menjual jajanan. Foto: Rabu Sipan

Langkahnya terhenti di satu sudut jalan kawasan Menara Kudus. Dia menurunkan barang dagangannya karena lelah, dan ingin beristirahat. Sambil duduk di atas trotoar, dia sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. 

Dia mengaku sebenarnya berjualan aneka jajanan di pasar bantaran Sungai Gelis. Namun saat aneka jajanan yang dia jual tidak habis, Nbah Sofi menjajakan jajananya dengan berkeliling kawasan Menara Kudus.

“Jajanan yang aku jual belum habis, padahal hampir seharian aku menjualnya di pasar Sungai Gelis. Bahkan saat aku menjajakan di trotoar depan Masjid Menara, belum ada seorang pun yang sudi membeli daganganku. Padahal aku sudah lelah,” keluh Mbah Sofi sambil memegangi pinggangnya.
Perempuan yang berasal dari Desa Nalumsari, Jepara, mengatakan, aneka jajanan yang dia jual di antaranya onde-onde, gorengan tahu, bakwan, sate ati ampela, kacang rebus serta beberapa kerupuk, peyek, dan gula kacang.

“Untuk dagangan yang tidak basi yang tidak laku hari ini, aku titipkan di pedagang lain di pasar Sungai Gelis. Lalu aku jual kembali di keesokan harinya, itupun kalau aku berangkat berjualan. Maklum raga renta yang sewaktu-waktu bisa jatuh sakit,” ujar perempuan lima cucu tersebut.
Di sela obrolan, datang seorang wanita berkerudung putih membeli beberapa bakwan. Kemudian datang juga seorang pria membeli beberapa bungkus kacang rebus. Setelah pria tersebut memberikan uang tampak Mbah Sofi tersenyum. “Alhamdulillah bisa buat nambah ongkos pulang,” gumamnya sambil memasukan uang ke dompet lusuhnya. 

Mbah Sofi mengaku, sebenarnya dilarang anak-anaknya untuk berjualan. Tapi karena dia tidak ingin merepotkan anak-anaknya, dia memilih tetap berjualan. Dia pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari nafkah dan membiayai anak-anaknya. Oleh karena itu, saat raganya sudah renta dia tidak ingin jadi beban tambahan untuk anak-anaknya.

“Apalagi mereka juga mengkuliahkan anak-anak mereka, yang pasti membutuhkan biaya tidak sedikit,” ujar Mbah Sofi.
- advertisement -

Meski Awalnya Iseng Membantu Teman, Perajin Alat Rumah Tangga Berbahan Tali Peti Kemas Kini Banjir Pesanan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PASURUAN KIDUL – Sejumlah tali peti kemas, terlihat berserakan di sebuah teras rumah milik salah warga Desa Pasuruan Kidul, Kecamatan Jati, Kudus. Seorang pria duduk di atas kursi mengenakan kaus rwarna hitam, terlihat terampil mengayam satu persatu tali peti kemas tersebut, menjadi sebuah kerajinan. Pria itu yakni Muhammad Yusuf (22), pengrajin barang rumah tangga bahan limbah peti kemas yang memulai usaha karena iseng ingin membantu teman.

peralatan rumah tangga limbah peti kemas
Yusuf membuat peralatan rumah tangga berbahan limbah peti kemas. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengerjakan sejumlah pesanan dari pelanggan, Yusuf sudi berbagi cerita tentang usahanya. Dia menjelaskan, kerajinan yang dia buat tidaklah begitu mudah. Untuk bisa terampil seperti sekarang, dia membutuhkan waktu selama satu bulan. Menurutnya, waktu pertama kali membuat, dia hanya mencoba-coba membeli kerajinan dari bahan tali peti kemas berupa tempat sampah dan tas. 

“Niatnya dulu saya hanya iseng-iseng membantu teman. Saya mempunyai teman yang setiap hari bekerja sebagai sales kerajinan tali peti kemas. Karena saya ingin membantu, saya membeli satu kerajinan tempat sampah dan satu tas. Kemudian saya membongkarnya lalu saya coba benahi lagi. Tidak disangka ternyata saya juga bisa membuat,” ungkap Arif.

Produk hasil kerajinannya saat ini, antara lain berupa tempat sampah, tas, pengki, dan ada pula kerajinan tombong (keranjang kendaraan roda dua). untuk harga yang ditawarkan tergantung ukuran. Dia merinci, harga tempat sampah antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu, tombong Rp 100 ribu hingga Rp 140 ribu, pengki Rp 15 ribu. Sedangkan tas seharga Rp 11 ribu hingga Rp 16 ribu. Dalam satu bulan, dia mampu menjual 200 tempat sampah dan 60 kerajinan tas.

“Kebanyakan pelanggan memesan berupa kerajinan tempat sampah. Modal awal saya membuka usaha sebanyak Rp 1 juta dengan omzet rata-rata Rp 2 juta per bulan,” tambahnya.

Kepada Seputarkudus.com, dia menceritakan, setiap hari hanya dibantu neneknya membuat kerajinan peralatan rumah tangga. Dia sempat memiliki satu orang karyawan, namun dia berhentikan karena hasil yang didapatkan tidak begitu maksimal. “Kualitas bagi saya nomor satu. Saya sering kewalahan saat mendapat banyak pesanan,” ungkapnya.

peralatan rumah tangga berbahan limbah peti kemas
Peralatan rumah tangga berbahan limbah tali peti kemas. 

Menurut pria lulusan sekolah menengah pertama (SMP) 2 Undaan, Kudus ini, sekarang temannya dari Desa Kaliwungu yang bekerja menjadi sales sudah mengikuti jejaknya, menjadi seorang pengusaha. Dia mengaku, temannya itu belajar membuat kerajinan dari dirinya. Untuk pemasaran, dia hanya menunggu pembeli  datang. Selebihnya dia storkan kepada pelanggan tetap yang berasal dari Kudus.

Yusuf menjelaskan, usaha yang dia tekuni baru berjalan tujuh bulan. Dia membeli sejumlah bahan pembuatan kerajinan dari seorang pengepul di Desa Bacin, Kudus.

- advertisement -

Bosan Mencari Kerja, Novi Pilih Buka Usaha Pembuatan Aksesoris Wanita Bermodal Rp 50 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Berbagai jenis aksesoris pakaian wanita tampak di ruang tamu rumah di Dukuh Gribigan RT 4 RW 6, Kelurahan Purwosari, Kota Kudus. Di sana, terlihat tiga perempuan berkerudung sedang melakukan proses pembuatan aksesoris. Tempat usaha tersebut milik Noviana Tristiyanti (28). Dia membuka usaha itu karena bosan melamar kerja tapi tak kunjung dapat.

Aksesoris wanita hasil produksi tempat usaha milik Novio di Purwosari, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Novi, begitu dirinya akrab disapa, menceritakan awal memulai usaha hanya dengan modal Rp 50 ribu. Dengan modal tersebut, dia kemudian membuat aksesoris wanita sebisanya dan dipasarkan secara daring sekitar dua tahun lalu. Itu dilakukannya setelah tak kunjung mendapat pekerjaan setelah menjadi sarjana.

“Saya memulai usaha ini karena bosan melamar kerja setelah menjadi sarjana. Kalau tidak ditolak ya tidak cocok dengan persyaratannya. Bahkan pernah disuruh buka kerudung jadi saya tidak mau,” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Meski dirinya belum pernah membuat aksesoris wanita sebelumnya, tapi menurutnya hasil buatannya laris dibeli pelanggan. Karena banyak peminat, kemudian dirinya melanjutkan usahanya hingga sekarang.

aksesoris hijab

Saat awal membuka usaha, ujar Novi, sangking banyaknya pesanan dia mengaku sering lembur hingga pukul 2.00 WIB. Novi mulai merasakan ketatnya persaingan pasar online sejak pertengahan 2015. Meski dia sudah memiliki pelanggan, dia sadar perlu berinovasi agar bisa menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat. 

“Selain melalui online, saya juga ingin membuka toko untuk memasarkan produk secara langsung, agar pelanggan bisa langsung melihat ke toko,” tuturnya.

Novi merinci, produk aksesoris yang dibuat antara lain bros, jepit rambut, head pishand buket, tas pesta, tas macrame, dan dasi sekolah jika ada pesanan. Untuk harga aksesoris dia jual mulai harga Rp 2.500 hingga Rp 250 ribu. Sedangkan untuk dasi dijual mulai harga Rp 2500 hingga Rp 5 ribu. Dari hasil penjualan produknya, dia mengaku bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 5 juta per bulan.

Meski saat ini dirinya dibantu empat karyawan. Dua orang karyawannya datang ke tempat usaha, dan dua lainnya mengerjakan aksesoris di rumahnya masing-masing.

Novi juga mengaku mengikuti komunitas penjual aksesoris daring. Di komunitas itu anggota hanya berkomunikasi melalui media sosial. Dengan mengikuti komunitas penjual aksesoris online dia merasa cukup terbantu. Selain bisa untuk rekan berdiskusi dan berbagi informasi, di komunitas itu juga bisa saling jual beli produk dan bahan untuk membuat aksesoris. 

“Selain ikut komunitas penjual aksesoris, saya juga bekerja sama dengan perajin di Loram (Kudus) dan Jepara. Jadi kalau saya kewalahan saat mendapat pesanan, saya minta tolong perajin yang sudah saya kenal untuk membuatnya, dan begitu juga sebaliknya,” tutur Novi.

- advertisement -

Saat Harga Kopi Muria Naik Musim Panen Ini, Hasil Produksi Kopi dari Petani Justru Menurun

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Pohon kopi tumbuh di bawah
pohon-pohon besar kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Bae, Kudus.
Buah kopi telah memerah di batang-batang
pohon. Kopi Muria, siap dipanen musim ini. Namun sayang, hasil panen tahun 2016 menurun jika dibanding tahun sebelumnya.

kopi muria
Bupati Kudus Musthofa menghadiri Wiwit Kopi di Pegunungan Muria. Foto: Imam Arwindra

Menurut petani kopi di lereng gunung Muria Hadi Sukirno (64), hasil panen kopi tahun ini menurun dari
pada tahun lalu. Hal tersebut bisa dilihat dari biji kopi yang terdapat pada
pohon. Padahal, harga kopi tahun ini terbilang tinggi, Rp 530 ribu per kwintal. 

“Tahun ini harga kopi naik, dari Rp 400 ribu per kwintal
menjadi Rp 530 ribu. Itu masih biji kopi basah. Semuanya berwarna merah. Untuk harga biji yang sudah kering sekitar Rp 22 ribu per kilogramnya,”
terangnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Hadi menjelaskan, menurunnya
produksi kopi di antaranya disebabkan faktor musim kemarau panjang beberapa waktu lalu. Bunga-bungan kopi mengering dan rontok. 
Dian Pramujoko
(37), yang juga petani Kopi Muria menuturkan, setiap tahun harga Kopi Muria
mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut tahun ini mungkin juga dipengaruhi hasil produksi biji kopi tidak sebanding dengan
banyaknya permintaan. 

“Dari petani kami
tidak menjual yang sudah jadi bubuk. Biasanya jualnya kopi masih basah dan
kering saja. Kalau kering atau roasting Rp 22 ribu per kilogram. Untuk satu
kwintal kering ya sekitar Rp 2 juta,” jelas Dian.

Menurutnya, petani kopi di Muria hanya menjual jenis kopi
robusta. Untuk jenis arabika kemungkinan ditanam di kawasan Desa Tempur, Jepara. Walau produksi kopi menurun, dirinya tetap bersyukur atas
diberikannya kenikmatan bisa memanen kopi. “Alhamdulillah bisa panen.
Karena tanaman kopi termasuk mata pencarian utama masyarakat Desa Colo,”
tambahnya.
Bupati Kudus Musthofa saat hadir pada acara Wiwit Kopi
mengatakan, turunnya produksi kopi tidak hanya karena musim kemarau. Menurutnya,
mungkin ada hal yang lain menyebabkan produksi kopi menurun. Dia memerintahkan
dinas terkait untuk mendata jumlah hasil panen kopi dan mencari tahu penyebab
menurunnya produksi. 

“Jangan terlalu menyalahkan alam. Alam itu sudah baik. Kalau alam murka kita juga yang repot,” tuturnya.

- advertisement -

Ira Terpaksa Berjualan Mainan Sambil Mengasuh Buah Hatinya di Depan Tempat Praktik dr Josef Setya Budi

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan Mulya, tepatnya di depan tempat praktik dr Josef Setya Budi Sp, A, terlihat gerobak berisi mainan anak-anak. Di samping gerobak, tampak seorang wanita berkerudung kuning duduk di kursi sambil memangku buah hatinya. Wanita tersebut bernama Irma Umma Arroki’ in (28), penjual mainan anak-anak yang berjualan sambil mengasuh anaknya.

mainan anak-anak
Ira berjualan mainan anak-anak sambil mengasuh buah hatinya. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu pembeli, wanita yang akrab disapa Ira itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia menceritakan, setiap kali berjualan menggantikan suaminya, Ira memang selalu membawa putrinya, karena tidak ada orang yang mengasuh buah hatinya itu yang masih balita.

“Sebenarnya yang berjualan itu suamiku. Aku hanya menggantikanya bila dia sedang sakit atau sedang ada kepentingan lain. Seperti hari ini, suamiku tidak bisa berdagang karena dia sedang pergi belanja bahan untuk terompet yang akan dia jual menjelang pergantian tahun nanti,” ujar Ira saat ditemui belum lama ini.
Wanita asal Purwodadi tersebut mengatakan, suaminya sudah delapan tahun berjualan mainan anak-anak di depan tempat praktik dokter spesialis anak tersebut. Dia berharap, setiap anak yang diajak berobat ke tempat dokter itu minta dibelikan satu di antara mainan yang dia jual.
“Orang tua itu biasanya menuruti permintaan anaknya bila si anak tersebut sedang sakit. Orang tua mana yang tega melihat anaknya dalam keadaan sakit dan merengek untuk dibelikan mainan. Karena itulah suamiku memutuskan untuk berjualan di depan rumah dr Josef Setya Budi,” ujar Ira.
Dia mengatakan, mainan balon dengan bentuk hewan dan tokoh kartun lebih diminati anak-anak daripada mainan jenis lainya. Seperti hari ini, ira mendapatkan uang Rp 50 ribu hasil dari penjualan beberapa balon. Sedangkan mainan mobil dan robot belum laku sama sekali.
Ira mengatakan, bila sedang ramai, sehari suaminya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300 ribu. Tapi bila sepi hanya mendapatkan Rp 50 ribu. “Bahkan pernah sehari tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya sambil memegangi mainan yang berada di tangan anaknya agar tak terjatuh.
Wanita yang mengaku mengontrak tak jauh dari tempat dirinya berjualan tersebut, mengungkapkan, hari ini dia berjualan mulai pukul 6.00 WIB dan hanya sampai pukul 9.00 WIB. Setelah itu suaminya akan berangkat berjualan sekitar pukul 17.30 WIB dan pulang sekitar jam 21.00 WIB.
“Karena kami berjualan di depan rumah dokter, jadi waktu berjualan kami juga disesuaikan dengan jam buka praktik dokter,” ungkapnya.
- advertisement -

Big Star, Gitar Elektrik Buatan Kudus yang Namanya Diambil dari Suku Kata Terakhir Desa Si Pembuat

0

SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Seorang pria mengenakan kaus warna ungu sedang menyolder gitar elektrik di satu rumah di Desa Gribig, Kecamtan Kaliwungu, Kudus, belum lama ini. Tampak disamping kanan pria itu, terdapat sejumlah gitar yang sudah tertata rapi. Pria tersebut bernama Arif Tiono (35), pembuat gitar elektrik yang menamai produknya dari suku kata terakhir nama desanya.

pembuat gitar elektrik
Arif sedang mengerjakan gitar elektrik di Desa Gribig, Kecamatan Kaliwungu. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Arif menjelaskan, produk gitar elektrik yang dia buat diberi nama Big Star. Kata big dia ambil dari suku kata terakhir nama desanya, yakni Gribig. Selain itu, arti kata big dalam Bahasa Inggris sekaligus menjadi harapan dirinya agar usahanya berkembang menjadi besar. 

“Nama itu juga mencerminkan harapan saya pada usaha ini. Harapan saya Big Star kelak usaha ini semakin besar, dan produk yang saya buat bisa semakin diminati masyarakat, khususnya pelaku musik,” ujar Arif saat ditemui di workshop miliknya.

Sembari mengerjakan pesanan gitar dari pelanggannya, Arif begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha yang dia tekuni. Dia mengawali usaha sejah tahun 2009, atau hingga saat ini sudah berlangsung sekitar tujuh tahun. Menurutnya, selain membuat gitar elektrik, dia juga melayani jasa service dan penjualan sparepart gitar.

“Awalnya saya hanya sekedar membenahi dan merawat gitar elektrik yang saya miliki. Dari situ, banyak berdatangan  teman-teman saya yang minta bantuan ke saya untuk dibenahi gitarnya yang rusak. Karena saya hobi bermain gitar serta bekerja sebagi tukang kayu, saya mulai berfikir untuk membuka usaha sendiri di rumah,” ungkap Arif.

Saat memulai usahanya itu, Arif mengeluarkan modal sebesar Rp 10 juta. Saat ini omzet yang dia dapat dalam sebulan antara Rp 3 juta hingga Rp 7 juta.

Ayah dua anak ini menjelaskan, sebelum membuat gitar elektrik, dulu dia juga pernah membuat gitar akustik. Menurutnya, pelanggan yang datang memesan, kebanyakan memintanya untuk dibuatkan gitar elektrik dibandingkan gitar akustik,“Pelanggan saya ada dari Pati, Jepara, Kudus, Grobogan, Blora, Rembang, Demak dan bahkan Semarang,” terangnya.

Dalam memasarkan produk, Arif kini hanya menunggu pelanggan datang. “Saya tidak menggunakan media online. Pemasaran saya hanya dari mulut ke mulut, selebihnya saya hanya mengikuti pameran yang diselenggaran Bank Rakyat Indonesia (BRI),” imbuhnya.

Untuk memproduksi pembuatan gitar, dia dibantu dua orang karyawan, adik dan sepupunya. Arif menjelaskan, proses pembuatan satu buah gitar elektrik, dibutuhkan waktu selama dua pekan. Saat sedang ramai pesanan, dalam sebulan dirinya bisa memproduksi empat gitar elektrik. Sedangkan saat sepi, sebulan hanya bisa memproduksi satu gitar.

“Harga gitar elektrik saya jual antara Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung kayu dan sparepart yang digunakan. Biasanya saya diminta membuatkan gitar yang menyerupai buatan Tiongkok, Korea, Amerika, Jepang dan Inggris. Saya hanya mengikuti selera dari pelanggan yang memesan,” ujarnya. 

Menurutnya, selain usaha gitar, dia sering dihubungi seseorang untuk manggung ke berbagai tempat sebagai player music dangdut. Untuk bahan pembuatan gitar, dia selalu menggunakan kayu-kayu import. “Seperti kayu maple, sonokeling, rosewood, alder, mahogany dan ash-wood. Semua kayu dari luar negeri, tapi saya membeli bahan dari Mojokerto, Bandung dan Solo,” ungkap Arif waktu di temui dirumahnya sekaligus sebagai dia jadikan tempat produksi.

- advertisement -

Satu Tahun Lebih Beternak Cacing Tanpa Hasil, Warga Ngembal Kulon Ini Tetap Optimistis Bisa Sukses

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Di samping rumah, nampak seorang pria sedang menyiram tanah yang ditaruh terpal berwarna biru. Pria itu yakni Pungky Alfen Yoga Wibowo (24). Dia sedang membudidayakan cacing di samping rumahnya, sekitar satu tahun terakhir ini, tapi belum mendapat hasil. Dia menemui banyak kendala selama berternak cacing. Meski begitu dirinya tetap sabar dan optimistis melanjutkan usahanya.

ternak cacing
Yoga menyiram bak tempat ternak cacing miliknya di Desa Ngembal Kulon. Foto: Ahmad Rosyidi

Yoga sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang saat ini dia tekuni itu. Dia menceritakan, cacing yang dia ternak sudah pernah dipanen sekitar bulan ke empat, karena cacing biasanya bisa dipanen sekitar tiga atau embat bulan. Tetapi dikembalikan penjual karena besar cacing belum memenuhi standar yang ditentukan. Hingga saat ini pun ukuran cacing belum sesuai standar. 

“Masih kurang besar, jadi menunggu lagi. Ini sudah satu tahun lebih tapi masih belum memenuhi juga,” ungkap warga Ngembal Kulon, Jati, Kudus itu.

Selain lama menunggu, dia juga sering ditegur tetangga karena aroma yang tak sedap dari ternak cacingnya. Aroma makanan cacing yang membusuk memang diakui Yoga cukup mengganggu. Saat ini dia menyiasati dengan memberi pewangi di area tempat cacingnya, dan memasukan kedalam tanah makanan cacingnya agar baunya tidak begitu menyengat sampai ke luar.

Dia memulai usaha ternak cacing bermula dari kisah sukses seorang peternak cacing di Blora. Yoga kemudian tertarik untuk mengikuti jejak orang tersebut sukses beternak cacing. Dia mengeluarkan modal hingga Rp 6 juta untuk membeli bibit 50 kilogram cacing. 

“Untuk ternak cacing modal satu kali bisa untuk selamanya, karena bibit satu kilogram nantinya bisa dikembangkan menjadi 3 kilogram,” jelasnya. 

Yoga juga menjelaskan, harga cacing paling rendah bisa mencapai Rp 15 ribu per kilogram, dan paling tinggi sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Tetapi biasanya harga stabil antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogramnya.

Awalnya Yoga memulai ternak cacing dari tiga kotak ukuran 4×2 meter. Dia mengatakan, ukuran kotak itu lebih besar dari ukuran standar biasanya yang hanya 2×1,5 meter. Karena saat ini cacingnya sudah bertambah besar meski belum memenuhi standar, Yoga menambah 14 kotak kecil berukuran sekitar 50×30 sentimeter, untuk memisahkan cacing yang kecil di taruh tak kecil.

Karena cacing hewan kanibal, Yoga mengupayakan untuk tidak sampai kekurangan makanan. Dia memberi makan satu hari sekali. Biasanya diberi makan ampas tahu, pelapah pisang, sayuran, buah-buahan, dan ampas kelapa. “Biasanya saya mengambil rontokan sayur yang sudah tidak terpakai di pasar,” tambah Yoga.

- advertisement -

Nenek Asal Padurenan Ini Rela Antre Berjam-Jam untuk Mendapatkan Nasi Jangkrik Demi Anak dan Sawahnya

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ratusan perempuan terlihat mengantre di depan Menara Kudus. Dengan bantuan Polisi wanita (Polwan) mereka berjalan masuk ke dalam kawasan Menara Kudus. Mereka rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan nasi jangkrik pada Buka
Luwur Kanjeng Sunan Kudus, Selasa (11/10/2016).

antre nasi jangkrik buka luwur sunan kudus
Sejumlah perempuan mengantre untuk mendapatkan nasi jangkrik. Foto: Imam Arwindra

Mereka berjalan pelan-pelan menyusuri jalur antrean menuju tempat pembagian nasi jangkrik. Satu di antara yang ikut mengantre, Munjaenah (70). Nenek asal Desa Padurenan,
Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengaku berjam-jam ikut mengantre demi mendapatkan nasi jangkrik. “Tahun lalu juga ikut mengantre,” ungkapnya kepada seputarkudus.com.
Usai mendapat nasi jangkrik, dia mengaku akan memberikan nasi tersebut kepada empat anaknya di
rumah. Selain itu, nasi tersebut juga akan ditaburkan di sawah miliknya. “Ya semoga
mendapatkan berkah dari Kanjeng Sunan Kudus,” ungkapnya yang terlihat membawa
empat bungkus nasi jangkrik yang ditaruh di tasnya.
Munjaenah mengaku datang bersama anak laki-lakinya. Menurutnya,
sejak subuh dia sudah datang di Menara Kudus. Selain untuk dimakan,
dia memiliki kepercayaan saat nasi jangkrik ditaburkan
di sawah, hasil padi yang yang dihasilkan akan banyak dan berkah. “Sudah
kebiasaan, saat mendapatkan nasi jangkrik ditaburkan di sawah. Ya supaya
hasilnya banyak dan berkah,” jelasnya.

Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK)
Deni Nur Hakim saat ditemui di ruangannya menuturkan, nasi jangkrik tidak hanya diberikan menggunakan jalur antrean. Nasi juga diberikan melalui jalur sedekah dan berkat salinan. Nasi sedekah dan berkat salinan sudah dilakukan mulai pukul 02.00 WIB, hingga menjelang subuh.
Deni menjelaskan, penerima jalur sedekah, yakni mereka yang memberikan sedekah untuk kebutuhan kegiatan Buka Luwur
Kanjeng Sunan Kudus. Mereka telah mendapatkan kartu yang digunakan
untuk mengambil keranjang yang berisi nasi jangkrik. Sedangkan berkat salinan,
yakni masyarakat membawa nasi dari rumah setelah itu ditukarkan dengan nasi jangkrik. 

“Namun ketika kami sudah menginformasikan tentang hal tersebut masih
banyak yang ingin mengantre. Karena mungkin mendapatkankan (Nasi
Jangkrik) dengan hasil perjuangan ada kepuasan tersendiri,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihaknya membedakan jalur laki-laki dan perempuan pada jalur antrean. Selanjutnya,
pihaknya juga sudah menempatkan tenaga keamanan di beberapa titik. 

- advertisement -

Pengemis Ini Serahkan Sumbangan untuk Korban Bencana Garut, Lalu Menjauh dari Tempat Penggalangan Dana

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Sebuah Lampu Merah di Jalan Lingkar Ngembalrejo, Bae, Kudus, tampak sejumlah mahasiswa dengan mengenakan jas biru membawa kardus. Mereka sedang menggalang dana untuk korban bencana di Garut, Jawa Barat. Di lokasi yang sama, terlihat seorang perempuan berjalan kaki memberikan uang Rp 10 ribu kemudian “menepi”. Dia yakni Sri Rahayu (45), yang biasa mengemis di lokasi lampu merah.

penggalangan dana
Penggalangan 

Saat ditemui seputarkudus.com, Sri mengaku tidak merasa terganggu. Dirinya justru senang ada pemuda yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Meski dia harus “menepi” dan penghasilannya hari itu berkurang, dirinya tak masalah. Dia ingin ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan sebagian uang hasil dari mengemis. 

“Saya malah senang ada yang menggalang dana untuk diberikan korban bencana seperti ini,” jelas perempuan asal Klaten itu.

Sri mengaku mengemis bersama anak-anak panti asuhan di Kudus. Dia mengatakan mulai mengemis mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 16.00. Sudah sekitar tiga tahun ini dia mengemis di Kudus. Karena sulit mencari pekerjaan, dia memilih untuk mengemis. 

Mahasiswa yang melakukan penggalangan dana tersebut tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus. Mereka datang dari berbagai kampus di Kudus, di antaranya mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Cendekia Utama, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. 

Satu di antara mahasiswa yang melakukan penggalangan dana untuk korban banjir bandang tersebut, M Silfatul Listiyan (21). Dia mengungkapkan, kegiatan penggalang dana ini dilakukan karena rasa peduli terhadap korban bencana di Garut Jawa Barat. Dalam pelaksanaan ini melibatkan sekitar 76 mahasiswa.

Tolopok, sapaan akrab M Silfatul Listiyan, merinci enam titik lokasi penggalangan dana. Enam lokasi itu di antaranya di Perempatan Jember, lampu merah Barongan, lampu merah Melati Lor, lampu merah Ploso, lampu merah Ngembalrejo, dan lampu merah Jepang.

Hasil dari penggalang dana yang dilakukan mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB itu terkumpul dana Rp 6.603.500. Dana tersebut akan disalurkan melalui rekening PMII Garut, Jawa Barat. 

“Karena PMII ada di seluruh kampus di Indonesia, jadi untuk penyaluran kita lewat sahabat PMII yang ada di Garut. Harapan kami dana ini bisa bermanfaat untuk warga yang terkena bencana,” katanya.

- advertisement -

Saat Musim Hujan Seperti Sekarang, Ubi Cilembu Khas Sumedang di Jalan Kudus-Pati Banyak Dibeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, TENGGELES – Di Jalan Kudus – Pati, terlihat di utara jalan terdapat tumpukan ubi cilembu sebuah toko. Di dalam toko, terlihat dua orang pria sedang duduk menunggu pembeli datang. Mereka yakni, Setiyo Nugroho (18) dan Muhammad Ari Setiawan (14). Setiap hari bermain dan membantu Tatang berjualan ubi cilembu khas Sumedang. Saat musim hujan seperti ini, ubi cilembu milik toko tersebut banyak di beli wisatawan. 

Kepada Seputarkudus.com, Tyo begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha pria asal Sumedang tersebut. Dia menceritakan, Tatang berjualan ubi cilembu di Kudus selama enam tahun, sejak tahun 2010. Sebelum pindah berjualan di Kudus, dulu dia pernah berjualan ubi cilembu di Demak dan Pati.

“Dalam sehari mampu menjual berapa ubi, saya kurang tahu. Tapi kalau musim hujan seperti saat ini, ubi cilembu selalu ramai dibeli wisatawan yang melintasi Jalan Kudus-Pati. Kan enak, cuaca dingin makan ubi cilembu hangat-hangat di mobil. Bisa juga untukoleh-oleh,” ungkap Tyo yang baru lulus Sekolah menengah atas (SMA) 1 Jekulo, Kudus.

Menurut pria asal Desa Tenggeles RT 4 RW 4, Kecamatan Mejobo, Kudus, selain menjual ubi cilembu, dia juga menjual peuyem dan kripik ubi cilembu. Dia mengatakan, membeli sejumlah bahan untuk dijual dari Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Sumedang. “Itu tempat tinggal Tatang. Di desanya memang terkenal sebagai penghasil ubi cilembu,” terangnya.

Dia menjelaskan, Tatang membuka toko untuk berjualan mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Menurutnya, pelanggan yang sering membeli kebanyakan dari luar kota. “Tapi yang sering membeli biasanya dari Rembang, Pati, Semarang, Surabaya dan Jakarta,” ungkapnya.

Sementara itu, Ari, sepupu Tyo, mengatakan, harga yang ditawarkan berbeda-beda. Untuk ubi cilembu belum matang, dijual seharga Rp 13 ribu per kilogram, ubi matang Rp 17 ribu, peuyeum Rp 13 ribu dan kripik ubi cilembu seharga Rp 15 ribu. “Proses ubi cilembu matang tidak dengan cara dibakar, tapi melalu proses oven selama satu jam,” ungkap Ari, yang masih duduk kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP) 1 Jekulo, Kudus.

Dia menambahkan, dalam sehari, pihaknya bisa memproduksi 40 kilogram ubi cilembu matang. Menurutnya, ubi cilembu rasanya manis dan lembut di lidah. Ubi celembu juga memiliki banyak khasiat yang baik bagi tubuh. Selain itu bisa mengontrol gula darah dan melancarkan pencernaan makanan. 

“Sehari berjualan bisa mendapatkan hasil Rp 600 ribu. Tapi kalau malam Minggu penghasilan bisa dua kali lipat,” tambahnya.

- advertisement -

Siswi SD NU Nawakartika Ini Tetap Senyum Membungkus Nasi Jangkrik, Meski Malam Telah Larut

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Suasana keramaian terlihat di
tempat memasak milik Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Senin (10/10/2016), pukul 22.30 malam. Puluhan orang tampak mempersiapkan nasi jangkrik
yang akan dibagi kepada masyarakat dalam tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan
Kudus. 

membungkus nasi jangkrik buka lurur
Nasa (kanan) membungkus nasi jangkrik bersama ibunya. Foto: Imam Arwindra

Beberapa laki-laki memakai rompi hitam terlihat mondar-mandir memondong
keranjang berisi Nasi Jangkrik. Di sebelah barat, sejumlah perempuan sedang
membungkus nasi beserta daging menggunakan daun jati yang diikat dengan tali. Nampak hanya para perempuan dewasa
yang ikut membungkus Nasi Jangkrik tersebut. 

Sementara itu, di sebelah tenda medis terlihat perempuan
kecil mengenakan kerudung putih sedang ikut membungkus nasi. Dia nampak cekatan
dalam membungkus nasi bersama perempuan dewasa lainnya.

Dia bernama Voleta Jauzaa Nasa (10) bersama ibunya dia
mengikuti kegiatan tahunan tersebut. Walau waktu telah larut, dia mengaku tidak
mengantuk dan masih ingin ikut membantu membungkus nasi jangkrik. “Tidak
ngantuk,” tuturnya saat kepada Seputarkudus.com ditengah aktivitasnya.

Nasa, sapaan akrab Voleta Jauzaa Nasa, mengaku baru pertama kali ikut ibunya membungkus nasi jangkrik. Dia yang masih kelas lima SD NU Nawa Kartika, merasa senang bisa
ikut membantu menyukseskan pelaksanaan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus. “Semoga dapat
berkah (dari Sunan Kudus),” tambahnya sambil berdiri.
Nasrochah (43) ibunda Nasa, mengungkapkan, dia
sengaja mengajak anak keduanya itu karena ingin mengenalkan kebudayaan
di Kudus. Dengan terjun langsung, dia dapat mengajarkan anaknya untuk
belajar tentang tradisi yang selama ini masih terjaga. “Sejak dini memang saya sengaja mengenalkan.
Supaya kelak dia (Nasa) dapat meneruskan tradisi ini,” jelasnya yang tinggal di
Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus.
Menurutnya, sebelum Nasa, anak pertamanya juga pernah dia
ikutkan dalam pembungkusan nasi jangkrik. Dia mengungkapkan, sangat penting
memperkenalkan kebudayaan daerah sejak dini, karena suatu saat generasi mereka
yang akan meneruskan tradisi. 

“Anak saya ada tiga. Yang petama sudah kuliah di
Yogjakarta, ini nomor dua (Nasa) dan yang terakhir di rumah bersama ayahnya. Saya
juga sering mengajak mereka (anak) untuk ziarah,” tambahnya.

Deni Nur Hakim

Deni Nur Hakim Humas YM3SK menuturkan, pihaknya selektif dalam menentukan perewang melalui fotokopi kartu tanda penduduk
(KTP). Jika ada anak kecil yang ikut membantu dalam pembungkusan nasi,
menurutnya diajak oleh orang tuanya.
Dia mengakui, hal tersebut bagus untuk mengenalkan tradisi Buka Luwur Sunan Kudus kepada anak. Mereka dapat dikenalkan secara dini tentang
tradisi dan kebudayaan yang sudah berlangsung di Kudus. “Jumlah perewang ada
1.061 orang ditambah panitia 100 lebih,” tuturnya.
Menurutnya, untuk perewang yang membungkus nasi ada 130 orang yang dibagi dua shift. Shift pertama yakni pukul 06.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Selanjutnya pukul 23.00 WIB hingga menjelang Subuh. “Yang membungkus nasi semuanya dilakukan perempuan,” jelasnya.
Deni menambahkan, pihaknya menyiapkan
68 ribu daun jati yang didapat dari Kudus dan luar Kabupaten Kudus. Selain itu
pihaknya juga menyiapkan 32 ribu tali yang dipesan khusus dari Yogjakarta.
“Tahun kemarin bungkusan nasinya (Nasi Jangkrik) ada 27 ribu. Tahun ini mungkin
30 ribu lebih,” tuturnya.

- advertisement -

Sutris Kenakan Kacamata Renang dan Masker Saat Memasak Nasi Jangkrik dalam Tradisi Buka Luwur

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Sejumlah laki-laki terlihat sibuk
di depan tungku di ruang memasak milik Yayasan Masjid Menara Makam Sunan
Kudus (YM3SK). Selain panas, ruangan tersebut juga berasap, karena mereka memasak menggunakan kayu bakar. Saking banyaknya asap, para pemasak nasi jangkrik dalam tradisi Buka Luwur Sunan Kudus itu harus mengenakan kacamata renang. 

memasak nasi jangkrik
Sejumlah perewang memasak nasi jangkrik dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

.

Dengan mengenakan kacamata renang dan masker, mereka
bergantian memasukkan kayu kedalam tungku. Ada pula yang mengolak-alik nasi di
dalam dandang berkapasitas 84,5 kilogram tersebut. Sutris, perewang yang
bertugas menanak nasi menuturkan, dirinya memakai kacamata renang untuk
melindungi mata dari asap dan panas api.
Menurutnya, kacamata renang mampu menutupi seluruh permukaan mata, asap dan hawa panas api tidak akan langsung mengenakan mata. “Kalau perih masih, tapi lebih aman ketimbang menggunakan kacamata biasa,” ungkapnya saat ditemui
disela aktivitasnya memasak, Senin (10/10/2016).

memasak nasi jangkrik
Perewang menanak nasi jangkrik.

Sutris membandingkan, jika menggunakan kacamata biasa masih
ada rongga-rongga di sekitar mata yang dapat membuat asap dan hawa panas api langsung mengenai mata. Saat menggunakan kacamata renang, rongga-rongga di sekitar
mata akan tertutup rapat. 
Selain menggunakan kacamata renang, dia mengaku juga
menggunakan masker untuk melindungi pernafasan. Menurutnya, hasil pembakaran
kayu dapat menghasilkan asap yang berbahaya untuk pernafasan. “Setiap
tahunnya kami memang menggunakan kacamata renang dan masker,” ungkap Sutris yang
sudah sepuluh kali menjadi perewang dalam kegiatan Buka Luwur Kanjeng Sunan
Kudus.
memasak nasi jangkrik

Deni Nur Hakim Humas YM3SK mengungkapkan, jumlah nasi yang
dimasak yakni 6.760 kilogram beras. Beras tersebut akan dimasak lima angkatan,setiap
angkatannya berjumlah 1.352 kilogram beras. Menurutnya, nasi tersebut diberi daging kambing dan kerbau setelah itu dibungkus daun jati. “Untuk
masak nasi semua dikerjakan oleh perewang laki-laki,” ungkapnya.

Dia menuturkan, nasi yang dimasak menggunakan kayu bakar. Menurutnya,
untuk perewang yang bertugas menanak nasi semua difasilitasi dengan kacamata
renang dan masker. Fasilitas tersebut untuk menjaga dari hawa panas dan asap. “Keseluruhan
perewang ada 1.061 orang, untuk panitia sendiri ada 100 panitia lebih,”
terangnya.

- advertisement -