BETANEWS.ID, JEPARA – Meski sudah umum dan menjadi pilihan lauk sehari-hari, tahu susu, terutama yang berwarna kuning, masih asing bagi masyarakat Kabupaten Jepara.
Hal itu dialami oleh Indah Mujiati (33), pemilik Produksi Tahu Susu Dinyu, saat mulai merintis usahanya pada 2023 lalu.
Indah mengaku membutuhkan waktu selama satu tahun agar produk tahu susunya yang berwarna kuning bisa diterima masyarakat.
“Dulu awal-awal orang itu bilangnya, tahu kok susu. Apa tahunya dikasih susu? Dulu ada juga yang ngira kalau saya jualannya roti,” beber Indah saat ditemui di rumah produksi tahunya di Desa Ketilengsingolelo RT 2 RW 1, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Sabtu (16/5/2026).
Indah pertama kali memasarkan tahu susu miliknya di Pasar Welahan. Saat itu, ia sampai berkeliling pasar sembari menjajakan tahu buatannya.
Setelah satu tahun berjalan dan mulai memiliki pelanggan, Indah berpindah ke pasar lain. Hal seperti itu ia lakukan berulang kali. Hingga saat ini, tahu buatannya sudah dipasarkan di beberapa pasar tradisional di Jepara, Kudus, dan Demak.
“Sistemnya, kalau di satu tempat sudah ada pelanggan, saya pindah. Yang di tempat lama saya percayakan ke pedagang yang ambil tahu dari saya,” ungkap Indah.
Baca juga : Teksturnya Lembut dan Pakai Pewarna Alami, Tahu Susu Dinyu Buatan Indah Jadi Favorit Warga Jepara
Saat ini, dalam sehari, usaha produksi tahu yang ia geluti bersama suaminya mampu memproduksi rata-rata 1 kuintal kedelai setiap hari.
“Sebenarnya produksi tergantung jumlah pesanan. Tapi rata-rata kalau yang tahu kuning bisa 1 kuintal per hari,” kata Indah.
Tahu susu buatannya dijual dengan harga Rp60 ribu per papan yang berisi 100 potong tahu. Indah juga melayani penjualan dalam jumlah kecil, yakni Rp7 ribu per kemasan berisi 10 potong tahu dan Rp3.500 per kemasan berisi 5 potong tahu.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Indah tidak hanya memproduksi tahu susu, tetapi juga tahu putih biasa. Saat ini terdapat lima orang karyawan yang ia pekerjakan, terdiri atas satu orang bagian memasak, satu orang mencetak tahu, dua orang bagian memotong, dan satu karyawan untuk membantu seluruh pekerjaan.
“Tujuan saya dari awal, pengen bikin usaha yang bisa memberdayakan warga sekitar, terutama ibu-ibu yang sudah sepuh,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

