Beranda blog Halaman 1940

Astutik dan Miskiana Rela Berpanas-Panas Membuat Bubur Asyura Demi Berkah Kanjeng Sunan Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Perempuan berkerudung ungu terlihat duduk sambil membolak-balik adonan di atas kuali. Sambil menunggu adonan matang, dia menyiapkan adonan lain yang ditaruhnya di atas daun pisang. Sesekali perempuan tersebut mengusap peluh yang keluar dari mukanya. Perempuan bernama Puji Astutik (50) tersebut, sedang memasak puntulan, pelengkap bubur Asyura yang akan dibagikan Pantia Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus, Senin (10/10/2016).

buka luwur sunan kudus
Miskiana (kanan) sedang mengaduk-aduk olahan Bubur Ashura. Foto-foto: Imam Arwindra

Perempuan tersebut bernama Puji Astutik (50), dia mengaku sebagai perewang untuk membuat Bubur Asyura dalam kegiatan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus tahun ini. Dia bertugas membuat puntulan untuk pelengkap bubur Asyuro. Walau terasa dapur terasa panas, dia mengaku senang ikut andil dalam pembuatan Bubur Asyura. 

“Ya panas, tapi tidak apa-apa. Semoga mendapatkan berkah dari Mbah Sunan Kudus,” ungkapnya saat ditemui Komplek Makam Sunan Kudus.

Dia mengaku tidak dibayar panitia. Menurutnya, bisa ikut membantu kegitan Buka Luwur merupakan keberuntungan. Astutik sudah empat kali menjadi perewang dalam kegiatan tahunan tersebut. “Banyak yang ingin menjadi perewang, tapi tidak semuanya bisa. Saya bersyukur bisa ikut membantu selama empat tahun (empat kali) terakhir,” terang warga Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

buka luwur sunan kudus
Puji Astutik sedang menggoreng Puntulan untuk pelengkap Bubur Ashura.
Senada dengan Astutik, Miskiana (45), yang bertugas membuat adonan bubur mengaku tidak masalah jika harus kepanasan saat mengolah adonan. Dia harus mengaduk adonan selama empat jam di depan kuali supaya hingga bubur. 

“Setiap adonannya butuh empat jam. Rencana selesai paling ya malam,” ungkapnya yang duduk dibelakang Puji Astutik.

Miskiana mengaku rela berpanas-panasan karena ingin mendapatkan berkah dari Sunan Kudus. Dia mengaku sudah tujuh kali menjadi perewang dalam kegiatan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus. Menurutnya, untuk menjadi perewang tidak sembarang orang bisa. 

“Saya senang bisa ikut berpartisipasi. Walau tidak dibayar tidak apa-apa. Semoga mendapatkan berkah dari Sunan Kudus,” ungkap Miskiana yang saat itu mengenakan krudung hitam.

Bersama dua orang temannya, dia mengaduk Bubur Asyura yang akan dibagikan masyarakat. Menurutnya, pembagian Bubur Asyura juga menjadi pertanda akan berlangsungnya kegiatan Buka Luwur dan pembagian Nasi Jangkrik. 

“Kalau hari ini Bubur Asyura, berarti besok (hari ini) Buka Luwur dan pembagian Sega Jangkrik (Nasi Jangkrik),” tambahnya.

bubur ashura menara kudus
Bubur Ashura Menara Kudus.
Deni Nur Hakim, Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menuturkan, ada sekitar 1.000 porsi lebih Bubur Asyura yang dibuat. Menurutnya, Bubur tersebut dibagikan kepada masyarakat sekitar Menara Kudus dalam tiga tahap.

Dia menjelaskan, sistem pembagiannya tidak menggunakan antrean. Panitia akan langsung mengantar ke rumah-rumah warga sekitar Menara Kudus. “Sejak dulu untuk pembagian Bubur Asyura tidak menggunakan antrean. Panitia akan langsung mengirim ke rumah-rumah,” terangnya.

- advertisement -

Jauh-jauh Hari Banyak Calon Wisudawan UMK Booking Rumah Fotografi, Takut Tak Kebagian Jadwal

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Seorang pria terlihat sedang menjelaskan berbagai konsep foto kepada tiga orang berkerudung, di Rumah Fotografi, Desa Wergu Wetan RT 2 RW 2, Nomor 336A, Kota, Kudus. Tiga perempuan itu hendak memesan foto wisuda. Menjelang momen wisuda, studio foto tersebut banjir order, bahkan jauh-jauh hari calon wisudawan-wisudawati telah mem-booking.

fotografi kudus
Karyawan Rumah Fotografi menjelaskan konsep foto kepada calon pelanggan yang datang. Foto: Ahmad Rosyidi

Albert Yakuza (34), karyawan di Rumah Fotografi, mengungkapkan, banyak calon wisudawan-wisudawati datang dan memesan untuk foto wisuda bersama keluarga dan teman-teman. Mereka memesan untuk foto wisuda di tempat dia bekerja, karena takut penuh dan tak kebagian jadwal. Selain itu mereka ingin mendapat potongan harga. 

“Kebanyakan wanita yang mem-booking. Selain karena takut penuh, mereka juga ingin mendapat potongan harga jika memesan jauh-jauh hari. Sebenarnya berapapun yang mem-booking kami layani, dan tidak kami batasi. Di sini ada saya dan Mas Wawan yang sudah ahli di bidang fotografi, jadi bisa cepat dan tidak perlu khawatir,” ungkap pria yang pernah sekolah fotografi di Semarang itu.

Albert, begitu dia akrab disapa, juga merinci harga paket foto yang ditawarkan. Untuk harga paket graduation dibanderol harga Rp 140 ribu. Sedangkan paket couple dibanderol Rp 122 ribu, group Rp 150 ribu, family Rp 150 ribu, single Rp 80 ribu, dan baby Rp 130 ribu.

“Kami juga ada paket maternity, harganya Rp 150 ribu. Sedangkan untuk prewidding Rp 320 ribu hingga Rp 4 juta, dan wedding Rp 1,8 juta hingga Rp 10 juga. Satu paket foto dengan satu background sesuai pilihan, dicetak ukuran 5R sejumlah tiga lembar, dan sejumlah file sesuai permintaan ditaruh CD,” tuturnya.

Tak lama, tampak rombongan wanita duduk mengantri. Satu di antaranya Nurul Aini (22), calon wisudawan Universitas Muria Kudus (UMK). Dia mengaku hendak memesan untuk foto wisuda tanggal 19 Oktober 2016. 

“Saya bersama tujuh teman saya mau pesan untuk foto wisuda untuk tanggal 19 Oktober. Saya tau studio foto ini dari teman-teman dan buka di media sosial juga. Pasti kan ramai momen wisuda, jadi saya booking jauh-jauh hari. Harganya juga lebih murah kalau booking dulu,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Kurniawan Lukman (23), pemilik Rumah Fotografi, menjelaskan saat ini dirinya melayani 23 studio indoor, 4 studio outdoor. Saat ini usahanya tersebut masih dalam tahap pengembangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dari kurang lebih sekitar 15 orang pelanggan yang datang per hari, Wawan mengaku bisa mendapat penghasilan bersih sekitar Rp 7 juta per bulan. Itu sudah termasuk membayar dua karyawannya.

“Saya termasuk orang yang berani spekulasi untuk memulai usaha. Sebelumnya saya pernah buka usaha jual jagung bakar di emperan toko, waktu masih kelas dua STM. Buka angkringan, jualan pulsa dan pakaian, usaha studio foto bersama teman-teman juga pernah. Tapi dulu saya kuran fokus, dan kunci usaha itu fokus, kali ini saya coba fokus usaha studio foto lagi,” tambahnya.

- advertisement -

Wow, Dandim Kudus Berikan Nomor Ponselnya ke Masyarakat, Ada SMS Masuk Dia Sendiri yang Membalas

0
SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Identitas pribadinya tertulis jelas di website resmi kodimkudus.blogspot.co.id pada label Profil Pejabat. Tertulis pula nomor
pribadinya di data pokok pribadi dengan nomor 082299027520. Dia yakni Komandan Komando
Distrik Militer (Kodim) 0722 Kudus, Letnan Kolonel Czi Gunawan Yudha Kusuma.

Komandan Kodim 0722 Kudus, Letnan Kolonel Czi Gunawan Yudha Kusuma (kiri) bersama Soedarsono. Foto: Imam Arwindra

Dia mengaku tidak khawatir nomor pribadinya
diketahui masyarakat secara umum. Menurutnya, dengan mengetahui
nomor pribadinya, masyarakay akan semakin dekat dengannya. Dia mengaku
nomor ponselnya hanya ada satu, yang tercantum tersebut, dan selalu dibawa. Jika ada SMS masuk, dia membalas langsung, bukan melalui stafnya. 

“Yang tertulis di website
benar nomor saya, silakan saja dicek,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com
selepas acara Seminar Mengulas Kembali Sejarah TNI di Kodim 0772 Kudus, Selasa
(4/10/2016).

Menurutnya, sebagai komandan, dia sangat terbuka dengan
saran dan kritik dari masyarakat. Selain itu, dia juga siap sewaktu-waktu
TNI dibutuhkan oleh masyarakat. Dia menuturkan, jika ada masyarakat memerlukan bantuan
TNI atau ada kejadian kriminal, dirinya ataupun anggota TNI siap untuk terjun. 

“Kalau
kebetulan didekat rumah saya, saya langsung akan datang. Kalau jauh misal
daerah Undaan, nanti saya akan langsung intruksikan Koramil untuk terjun,”
jelasnya.

Dia menjabat Komandan Kodim
0722 Kudus sejak 2 Mei 2016. Sejauh ini dia melakukan program bedah rumah bagi veteran-veteran di Kudus. Menurutnya sudah ada tiga rumah
veteran yang dibedah. Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan Semen Gresik. “Ini juga kami sedang memperoleh data lagi jumlah
veteran di Kudus yang akan dibedah rumahnya,” tuturnya pria kelahiran Jakarta,
24 Mei 1976.
Selain itu, pihaknya juga rutin melakukan santunan anak yatim
dan bantuan sembako kepada masyarakat. Uang yang digunakan untuk
menjalankan kegiatan tersebut berasal dari gaji anggota TNI. Dia menjelaskan,  setiap bulan gaji anggota TNI dipotong. Anggota antusias dalam kegiatan tersebut. 

“Yang terpenting
wujud kepedulian kami kepada masyarakat. Selain nasionalis juga agamisnya. Dengan
cara bersedekah siapa tahu mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa,” ungkap doanya.

Perwira menengah TNI AD tersebut juga menuturkan, selain tugas
utama menjaga kedaulatan, TNI sekarang juga mempunyai tugas yang lebih fleksibel. Di antaranya
ikut andil membangun pertanian. Selain itu ada
progam TNI Manunggal Membangun Desa (TMDD) yang dilakukan di beberapa daerah di
Indonesia, termasuk di Kudus. 

“Jumlah anggota Kodim 0722 Kudus 245 militer dan 19 PNS. Kalau
keseluruhan sekitar 260. Mereka akan melaksanakan tugas sebagai prajurit sekaligus membangun bangsa,” tambahnya.

- advertisement -

Oncom Sempat Grogi Saat Main Street Soccer Satu Tim Bersama Gonzales di Alun-alun Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Ratusan orang mengelilingi arena street soccer, di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (9/10/2016) pagi. Mereka menunggu aksi Cristian Gonzales, Ferry A Saragih, dan Esteban Viscarra bermain bola. Tak lama setelah pertandingan pembuka, datanglah tiga bintang Arema itu. Gemuruh suara suporter Aremania Kudus menyambut kehadiran mereka. 

street soccer cristian gonzales
Ribuan orang menonton aksi Cristian Gonzales bermain street soccer di Alun-alun, Kudus. Foto-foto: Ahmad Rosyidi

Terlihat seorang pria mengenakan kaus putih berkombinasi merah di pundak di arena tersebut. Dia yakni Kharis Fajar Susilo (23), yang menjadi kiper tim Cristian Gonzales. Oncom, begitu dia akrab disapa, mengaku terkejut dan grogi saat diminta menjadi kiper bermain satu tim dengan Gonzales. 

Meski sudah ada persiapan sebelum acara, tetapi dirinya tidak tau akan main satu tim dengan Gonzales. “Awalnya terkejut dan grogi karena sebelumnya tidak diberi tahu. Tetapi setelah bermain saya mulai bisa menyesuaikan,” ungkap anggota Aremania Kudus itu.

Saat ditemui Seputarkudus.com usai bermain street soccer, dia mengaku sebelumnya sudah pernah bermain sepak bola jalanan, tetapi kali ini berbeda. Oncom merasa puas bisa main bola bersama pemain-pemain yang hebat, dan bisa menang 7-4, meski awalnya sempat tertinggal terlebih dahulu. Dia memang hobi bermain bola, tetapi lebih sering bermain futsal. Oncom juga pernah beberapa kali menjadi juara futsal antar-Aremania Karisidenan Pati.

steet soccer kudus

Oncom menambahkan, dirinya merupakan satu dari beberapa pendiri Aremania Kudus. Dia mendirikan bersama rekan-rekannya pada tahun 2009, dan masih berjalan hingga saat ini. “Saya juga pendiri Aremania Kudus pada tahun 2009, dan masih aktif sampai saat ini. Saya suka bermain bola, biasanya bermain di posisi bertahan, dan pernah dua kali menjadi juara futsal antar-Aremania Karisidenan Pati,” tambahnya.

Kegiatan I Love Street Soccer dimulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 7.30 WIB. Selain ribuan orang, acara itu juga pengurus Asosiasi Street Soccer Indonesia (ASSI). 

Dedy Irawan (27)koordinator kegiatan I Love Street Soccer di acara Car Free Day tersebut Mengungkapkan, kegiatan street soccer ini bertujuan untuk menyosialisasikan olahraga yang mungkin masih asing di telinga masyarakat. Karena kegiatan kali ini dinilai sukses, Rejeb, begitu dia akrab disapa, berencana akan membuat sosialisasi street soccer di beberapa daerah, dimulai dari Karisidenan Pati.

“Kami cukup puas dengan antusiasme masyarakat Kudus pagi ini. Rencana kami akan membuat kegiatan sosialisasi olahraga street soccer semacam ini, di kota-kota lain. Tentu kami akan coba menggandeng bintang-bintang sepak bola nasional yang lain,” tuturnya.

- advertisement -

Cucun, Panitia I Love Street Soccer, Khawatir Pagi Ini Hujan Turun di Car Free Day Alu-alun Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di sebuah restoran berlantai dua, tepatnya di timur laut Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Garuda Restaurant dan Catering, sejumlah kendaraan terparkir memenuhi halaman. Di hall Eagle Coffee lantai dua, terlihat seorang pria berkacamata sedang menjelaskan sesuatu kepada rekannya. Dia yakni Cucun Sulistyo (40), panitia acara I Love Street Soccer, yang dihadiri Cristian Gonzales, Ferry A Saragih, dan Esteban Viscarra.

Cucun nenjelaskan kegiatan   I Love Soocer Steet. Foto: Ahmad Rosyidi

Cucun, begitu dia akrab disapa, merasa khawatir hujan akan turun, saat acara yang menghadirkan mantan pemain Timnas Indonesia itu digelar pagi ini, di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, saat Car Free Day. Kekhawatirannya diungkapkan dalam acara gathering, Sabtu (8/10/2016) malam. 

“Saya ketar-ketir akan cuaca besok, takut akan turun hujan dan acara tidak berjalan sesuai rencana. Tapi semoga saja tidak (hujan),” ujar Cucun.

Dia mengungkapkan tidak mudah untuk mendatangkan pemain inti Arema Malang itu. Jauh-jauh hari dirinya telah mengagendakan jadwal, karena menyeseaikan waktu pertandingan dan latihan El Loco dan dua rekan setimnya di Arema. Meski sebenarnya mundur dua pekan dari jadwal, dia mengaku senang akhirnya bisa mendatangkan pemain kelahiran Uruguay tersebut.

Crisrian makan malam bersama dengan karyawan Eagle Coffee.

Cucun menjelaskan kegiatan I Love Street Soccer diselenggarakan untuk memberi semangat warga Kudus, khususnya para pecinta sepakbola. Selain itu juga untuk merayakan kemenangan Persiku yang telah menjadi juara Liga Nusantara Jawa Tengah. Dia berharap sepak bola di Kudus akan lebih berkembang dan lebih berprestasi.

“Malam ini kita buat acara gathering, bagian dari rangkaian kegiatan Street Soccer besok (hari ini). Tujuan acara gathering ini agar para suporter bisa bertemu dan melihat bintang tamu yang kami undang. Saya senang malam ini bisa datang dan mengapresiasi kegiatan ini,” ungkap Cucun.

Cucun merinci pihak sponsor yang memberi dukungan terhadap kegiatan yang digelarnya. PR Sukun menjadi sponsor utama. Sedangkan Garuda Restaurant dan Catering, Hotel @Home, Rawat Jaya, Bubble, Isoplus, Glutera, Pacific Sport, Banaran Cafe, Mars Caffee, dan Wizzi, sebagai sponsor pendukung.

“Kegiatan street soccer ini kami konsep secara beda. Tidak hanya menunjukan skiil bermain bola saja, tetapi mereka akan bermain dengan masyarakat kudus. Untuk detailnya langsung datang di acara Car Free Day,” tandasnya.

- advertisement -

Tak Percuma Berjam-Jam Menunggu, Karyawan Eagle Coffee Ini Senang Bisa Selfie Bersama Cristian Gonzales

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di Jalan Jendral Sudirman nomor 1 Kudus, seorang pria berjaket warna merah, terlihat sedang menghampiri mobil. Tak lama, muncul mantan pemain Timnas Indonesia Cristian Gonzales dari mobil. Pria tersebut yakni Edy Nuryanto (31), karyawan Eagle Coffee yang yang mengaku telah menunggu kedatangan El Loco bersama peserta Gathering I Love Sreet Soccer di Kudus.

soccer street cristian gonzales
Karyawan Eagle Coffee berfoto selfie bersama Cristian Gonzales. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Edy, begitu akrab disapa, menceritakan, waktu mengetahui pemain tersebut akan datang ke kafe tempatnya bekerja, dia mengaku datang lebih awal. Itu dilakukannya agar bisa melihat langsung para pemain street soccer, khususnya Cristian. Menurutnya, dia menunggu selama dua setengah jam, mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB.

“Saya merasa senang bisa berfoto selfie bersama pemain idolaku, Cristian Gonzales. Saya sudah lama ngefans dengan dirinya, sejak dia membela Timnas Indonesia. Waktu melihat dia turun dari mobil, saya langsung menghampiri untuk berjabat tangan dan foto selfie,” ungkap Edy.

Pria satu anak ini mengatakan, ketika Gonzales bermain untuk Timnas dan Arema, dia selalu menyempatkan waktu untuk melihat aksi idolanya di televisi. Menurutnya, Gonzales salah satu pemain Indonesia yang memiliki skill bermain bola yang bagus, meski umurnya tidak lagi muda. “Usia boleh tak muda lagi, tapi semangat dan kemampuanya di atas lapangan tidak kalah dengan pemain muda,” terangnya.

Cucun Sulistyo (40), panitia I Love Street Soccer menjelaskan, acara yang digelar di hall Eagle Coffe, bertempat di lantai dua Garuda Restaurant dan Catering, merupakan bagian dari rangkaian acara yang diselenggarakan. Kegiatan I Love Street Soccer akan digelar pada Car free day, Minggu (9/10/2016) di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. 

“Seperti yang dilihat, acara ini dihadiri Cristian Gonzales, Ferry A. Saragih dan Estaban Viscarra. Namun Gonzales datang ke Kudus membawa istri dan dua anaknya,” ungkapnya

Suara gemuruh tepuk tangan terdengar saat ketiga pemain tersebut tampil di atas panggung untuk menyapa penggemar. Gonzales naik di atas panggung didampingi istri, tidak lupa untuk mengucap salam. “Assalamualaikum, kami belum sempat jalan-jalan. Kami sampai ke bandara (Ahmad Yani) langsung ke hotel dan langsung ke sini (Eagle Coffee),” ungkapnya

Dia menambahkan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kudus yang sudah percaya dengan dirinya dan dua orang temannya dari Arema. “Saya dan teman-teman, terima kasih banyak untuk sudah percaya dengan kami datang ke Kudus. Semoga besok (hari ini) kita bisa senang-senang bersama,” tambahnya.

- advertisement -

Saat Banyak Orang Merasa Sulit Mencari Kerja, Warga Loram Wetan Ini Justru Senang Usai Dipecat

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di tepi Jalan Patimura, Desa Loram Wetan, Jati, Kudus, terlihat seorang pria sedang menyolder komponen TV di ruko yang tertulis Bagoes Elektronik. Dia bernama Slamet (47), pemilik tempat servis elektronik tersebut. Dia pernah lima tahun bekerja di perusahaan elektronik, setelah di-PHK dia membuka usaha jasa perbaikan barang-barang elektronik.

servis tv
Selamet sedang memperbaiki TV milik pelanggannnya. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Slamet mengaku senang perusahaan tempat dia bekerja memecatnya.  Menurutnya, lina tahun bekerja, dirinya mendapat banyak ilmu. “Saya merasa senang di-PHK, karena saya memang bercita-cita bisa buka usaha sendiri. Tahun 2000 saya sempat diajak teman untuk masuk perusahaan lagi, tapi saya tolak, saya lebih menikmati usaha saya ini,” tutur Selamet.

Dia menjelaskan, dia diberhentikan sebagai karyawan bersama ribuan orang lainnya pada 1998. Saat itu terjadi krisis moneter, yang membuat perekonomian di Indonesia tidak stabil. Pengalaman kerja di perusahaan elektronik itulah, yang dijadikan Slamet sebagai modal usaha yang Ditekuninya hingga kini.

Kini Slamet merasa sudah bisa mengunduh hasil usahanya yang berlangsung belasan tahun terakhir. Dia mengungkapkan setiap hari pasti ada pelanggan yang datang. Dalam sehari, Slamet bisa mengantongi uang Rp 200 ribu, hasil jasa perbaikan peralatan elektronik. Slamet hanya bekerja mulai pukul 8.00 WIB hingga Pukul 16.00 WIB. Setelah itu dia gunakan untuk istirahat dan bersantai dengan keluarga.

“Saya senang punya usaha sendiri, tidak terikat. tapi saya juga mengatur jam kerja saya,” ungkap pria tiga anak itu. 

Slamet merinci, untuk servis barang elektronik rumah tangga, misalnya setrika, DVD, penanak nasi, dikenakan biaya Rp 25 ribu. Sedangkan servis televisi dikenakan biaya Rp 50 ribu, dan servis sound system sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu, tergantung kerusakan.

Selain membuka jasa perbaikan, Slamet juga menjual peralatan elektronik. Televisi seken 14 inc dia jual seharga kurang lebih Rp 250 ribu, dan yang 21 inc sekitar Rp 500 ribu. Untuk harga antena dijual mulai harga Rp 20 ribu hingga Rp 150 ribu, dan harga sparepart elektronik kisaran harga Rp 200 hingga Rp 150 ribu.

Slamet menambahkan, kebanyakan pelanggan datang ke Bagoes Elektronik untuk memperbaiki televisi. Penjualan televisi seken miliknya juga banyak diminati pelanggan. “Senang pelanggan banyak yang datang. Tapi kadang sulit mencari sparepart-nya,” katanya.

- advertisement -

Meski Awalnya Iseng, Kini Bowo Bisa Biayai Kuliahnya Sendiri dari Usaha Tas Undangan dan Souvenir

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Di ruang tamu sebuah rumah di Desa Hadipolo RT 6 RW 5, Kecamatan Jekulo, Kudus, terlihat sejumlah potongan kain. Seorang pria berkaus biru sedang mengemas tas kecil, yang akan dijadikan undangan. Pria tersebut yakni Muhammad Nur Wibowo (22), Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang membiayai uang kuliah dengan usaha pembuatan tas undangan dan souvenir pernikahan.

tas undangan dan souvenir pernikahan
Bowo sedang mengemas tas undangan dan souvenir pernikahan. Foto: Sutopo Ahmad

Di tengah kesibukannya membuat pesanan dari pelanggan, Bowo, begitu dia disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha miliknya. Dia menceritakan, awal memulai usaha membuat tas undangan pernikahan, hanya iseng-iseng. Menurutnya, saat pertama kali mengenalkan produk yang dia hasilkan ke sosial media, dia tidak menyangka banyak yang berminat.

“Awalnya dulu saya hanya coba-coba, setelah melihat banyaknya orang Kudus yang usaha tas berbahan spunbond. Dari itu saya mulai berfikir bagaimana caranya membuat tas tersebut menjadi tas undangan pernikahan. Allhamdulilah, dari hasil usaha tersebut, mulai masuk kuliah sampai sekarang saya semester lima, saya mampu membiayai kuliah sendiri,” ungkap Bowo waktu ditemui di rumahnya.

Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Sistem Informasi UMK ini menjelaskan, dia memulai usaha sejak tahun 2012. Hingga kini usahanya telah berjalan empat tahun. Menurutnya, dalam proses produksi dia di bantu kakaknya, Nur Khayati. 

“Produk saya berlabel Berlian Souvenir, nama itu saya adopsi dari usaha alat-alat pertukangan bapak saya yang bernama Tiga Berlian,” terangnya.

Menurutnya, dalam memasarkan produk, dia hanya menggunakan media online. Hampir semua media sosial dia gunakan. Bowo mengungkapkan, pelanggan yang sering membeli kebanyakan dari luar Jawa. “Aceh, Papua, Sulawesi, Maluku, Makassar, Denpasar, Jakarta, Banjarmasin juga ada. Tapi pelanggan tetap saya untuk sekarang hanya dua, dari Jakarta dan Banjarmasin,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, Berlian Souvenir telah memiliki berbagai macam produk, mulai dari tas undangan, tas promosi, dompet, souvenir pernikahan, dan lain sebagainya. Menurutnya, pada Bulan Dzulhijjah, dia kebanjiran pesanan dari pelanggan. “Kalau ramai, dalam sebulan saya mampu menjual 6.000 tas. Sedangkan bulan-bulan biasa sebanyak 3.000 tas per bulan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, proses pemotongan kain dilakukannya sendiri. Untuk proses sablon dan menjahit tas dikerjakan orang lain. Menurutnya, harga produk miliknya tergolong murah, berkisar Rp 2.500 hingga Rp 4.500, tergantung ukuran dan motif yang di pesan pelanggan. 

“Dalam penjualan saya selalu mengutamakan kualitas. Modal awal saya dulu Rp 500 ribu. Dalam sebulan kini saya bisa mendapatkan omzet Rp 8 juta,” tambahnya.

- advertisement -

Saat Momen Wisuda dan Pernikahan, Karikatur Timbul Karya Pungky Laris Dipesan untuk Kado

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Di sebuah rumah sederhana di Desa Ngembal Kulon RT 2 RW 4, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak seorang perempuan berjilbab sedang memotong gambar pada kertas untuk dijadikan karikatur timbul. Pungky Octavia Nurul Hidayah (20), nama perempuan tersebut, pembuat karikatur timbul, yang selalu kebanjiran pesanan menjelang momen wisuda dan pernikahan.

sovenir wisuda dan pernikahan
Pungky sedang membuat kado wisuda dan pernikahan. Foto: Ahmad Rosyidi

Dia memimemulai usaha membuat karikatur timbul baru skitar tiga bulan, dan kurang lebih dua bulan ini dia kebanjiran pesanan. Saat momen wisuda dan pernikahan banyak pelanggan yang memesan karikatur timbulnya untuk dijadikan kado.

Dia mengungkapkan, selain karikatur ada juga snack buket yang juga dipesan pelanggan untuk kado wisuda. Sedangkan untuk danbo yang pernah dia buat, saat ini kurang bagus peminatnya. Jadi Pungky saat ini lebih fokus membuat karikatur timbul dan snack buket. 

“Danbo sekarang sudah kurang diminati, beda dengan tahun sebelumnya. Jadi sekarang saya ganti apa yang sedang tren,” ungkapnya.

kado wisuda dan pernikahan

Pungky juga menjelaskan kepada seputarkudus.com, untuk memesan karikatur timbulnya membutuhkan waktu selama sepekan setelah pelanggan mengirim foto. Jika butuh satu atau dua hari jadi juga bisa. Meski tidak dikenakan tambahan biaya, tetapi dia sampaikan kepada pelanggannya hasilnya kurang maksimal karena dikerjakan dalam waktu singkat.

“Saya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk memotong dan menyusun. Tidak lama, tetapi saya masih punya aktivitas lain. Jadi, saya bilang sepekan biar tidak buru-buru,” tuturnya.

Pungky mengatakan, dirinya bekerjasama dengan dua temannya, Himam menggarap bagian desain, dan Tri bagian menggarap pigura. Setelah proses tersebut dikerjakan temannya, dia tinggal menyusun dan finishing

“Kalau belum biasa pasti akan kesulitan mengukur dan memotong gambarnya. Jika tidak pas tidak bisa dimasukan pigura, gambar dan tulisan juga harus teliti memotongnya,” jelas mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) itu.

Dia juga merinci harga karikaturnya, ukuran 20 x 25 sentimeter harganya Rp 85 ribu. Sedangkan untuk satu gambar kepala, ukuran 42 x 29,7 sentimeter harganya Rp 150 ribu. Jika tambah gambar kepala lebih dari satu dikenakan tambahan Rp 10 ribu. 

“Untuk harga snack buket disesuaikan buget pemesan, biasanya kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu,” tuturnya.

Meski baru sekitar tiga bulan Punky membuka usaha karikatur timbul, dia mengaku sudah menerima pesanan hingga di luar Kudus. Dia memasarkan produknya melalui media sosial, jadi banyak pemesan dari luar Kudus. 

“Saya terkendala proses pengiriman untuk keluar Jawa Tengah, takut rusak dijalan kalau beberapa hari pindah-pindah tangan gitu,” tambahnya.

- advertisement -

Jejak TNI di Kudus (3, Habis), Kisah Pasukan Teklek, Hanya Pakai Sendal dan Sarung Tapi Sakti

0
SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Seorang pria berkumis tebal mengenakan baju warna biru dengan sederet
pangkat di dadanya, terlihar duduk di Makodim 0722 Kudus, belum lama ini. Bagi sebagian masyarakat Kudus, tentu tak asing lagi dengan mantan bupati ini. Dialah Kolonel Inf (Purn) Soedarsono, yang juga mantan Komandan Kodim 0722 Kudus 1983-1987. Kepada Seputarkudus.com, dia menceritakan kisah Pasukan Teklek.

Makodim 0722 Kudus
Makodim 0722/Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menuturkan, pasukan batalion pertama di Kudus, yakni Batalion 426, dari kumpulan pasukan laskar-laskar yang berjuang sebelum Indonesia
merdeka. Sebagian besar pasukan Batalion 426 datang dari kalangan santri. Menurutnya, Batalion 426 cukup populer dengan sebutan Pasukan Teklek. 

“Disebut
Pasukan Teklek karena banyak pasukannya tidak memakai sepatu, dan ada pula yang
masih membawa sarung,” kata Soedarsono ditemui usai seminar Mengulas
Kembali Sejarah TNI di Kodim 0722 Kudus dalam peringatan Ulang Tahun TNI ke-71.

Dia menjelaskan, Pasukan Teklek Batalion 426 terindikasi mengikuti gerakan Darul
Islam (DI)/ Tentara Islam Indonesia (TII)/Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan
Kartosuwiryo. Karena tidak menyerah, akhirnya pasukan TNI di bawah Komando IV
Diponegoro menggempur markas Batalion 426 yang sekarang menjadi Gedung Jam’iyyatul
Hujjaj Kudus (JHK). “Mereka (pasukan Batalion 426) ekstrimis kanan,” tuturnya.

mantan bupati kudus soedarsono
Mantan Komandan Kodim 0722/Kudus Soedarsono. Foto: Imam Arwindra

Soedarsono mengungkapkan, Pasukan Teklek memiliki kesaktian. Mereka mampu melarikan diri dari sergapan pasukan Diponegoro. Menurutnya, mereka
melarikan diri menuju Merbabu, Sangga Buana Jawa Barat dan di Klaten.
Dia menuturkan, selain keterlibatannya dengan gerakan ekstrimis kanan juga ada
faktor politik dalam kejadian tersebut.
Sejarahwan Kudus Edy Supratno mengungkapkan, Batalion 426
tidak mau menginduk TNI karena merasa sudah besar. Selain itu, mereka juga tidak
mau dipimpin oleh non-Islam. Dia menceritakan, Batalion 426 juga
melakukan perampokan kepada pengusaha non-Islam untuk mencukupi kebutuhan
pasukan. “Mereka bergerak dengan motif kafir,” tuturnya saat ditemui
Seputarkudus.com di kediamannya belum lama ini.

sejarawan Kudus Edy Supratno
Sejarawan Kudus Edy Supratno. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, markas Batalion 426 terletak di Gedung Jam’iyyatul
Hujjaj Kudus (JHK) Jalan AKBP R Agil Kusumadya. Dulu tempat tersebut milik Nitisemito yang diberikan kepada Batalion 426 untuk markas pada agresi
militer kedua melawan tentara Belanda.

- advertisement -

Berawal Hobi Sejak Kecil, Alumni MA Qudsiyah Ini Beranikan Diri Buka Usaha Pembuatan Pigura dan Kaligrafi

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNGKARANG – Di tepi barat Jalan Sentot Prawirodirjo, Kudus, terlihat sebuah toko berornamen kubah warna hijau berbahan galvalum. Di dalam toko itu, seorang pria berkaos hitam tanpa lengan, tampak memotong potongan pigura di atas meja. Pria itu yakni Ahmad Sururi (35), perajin pigura dan kaligrafi sekaligus pemilik Anugrah Pigura. 

kerajinan pigura dan kaligrafi di kudus
Sururi sedang mengerjakan pigura pesanan dari pelanggannya. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengerjakan sejumlah pesanan dari pelanggan, Sururi begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha pigura milkinya. Dia mengatakan, memulai usaha sejak masih duduk di kelas satu Madrasah Aliyah (MA) Qudsiyah Kudus.

“Usaha pembuatan pigura dan kaligrafi ini sudah saya tekuni selama 15 tahun, sejak tahun 2001. Saat itu saya masih sekolah MA Qudsiyah. Sejak kecil saya memang hobi dengan dunia seni kaligrafi,” ujar Sururi.

Dia menceritakan, saat masih tinggal di Desa Undaan Lor Gang 19, dia sering mendapat pesanan dari tetangga untuk dibuatkan kaligrafi dan tulisan nama kelahiran anak. Waktu itu, Sururi masih duduk di kelas satu MA Qudsiyah. 

“Karena hobi saya membuat seni kaligrafi, saya mulai memberanikan diri untuk membuka usaha yang saya beri nama Anugrah Pigura,” ungkap warga Desa Tanjungkarang RT 1 RW 4, Kecamatan Jati, Kudus.

Pria lulusan MA Qudsiyah pada tahun 2003 ini menceritakan, dalam memasarkan kerajinan yang dia buat, dirinya selalu mengutamakan kualitas, harga dan pelayanan. Menurutnya, agar mampu bersaing di pasaran, pihaknya memberikan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan. “Pelayanan, harga maupun kualitas memang menjadi prioritas bagi saya untuk bisa bersaing,” terangnya.

Menurutnya, selain membuat pigura, dia juga bisa membuat kaligrafi, lukisan kanvas, mahar pernikahan, kubah, dan ornamen kaligrafi masjid. Untuk penjualan, dia hanya menunggu sejumlah pembeli yang datang ke toko miliknya. “Alhamdulilah, kerajinan yang saya buat sampai saat ini sudah sampai ke luar Jawa,” imbuhnya.

Sururi menambahkan, bahan yang dia guanakan bermacam-macam jenis. Di antaranya bahan fiber, styrofoam, kuningan, ukiran kayu dan ada pula bahan alumunium foil. Untuk harga, tergantung bahan yang digunakan, ukuran, sekaligus tingkat kesulitan dalam pembuatan. Menurutnya, dia mendapatkan sejumlah bahan dari Demak. Sedangkan untuk lukisan kanvas dia pesan dari Bandung dan dia kasih pigura.

“Saya buka mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 5.00 WIB, kadang bisa sampai pukul 20.00 WIB. Untuk harga yang saya jual di toko, paling mahal seharga Rp 2 juta, berbentuk ukiran kapal yang terbuat dari kayu,” ujarnya.

Dia menambahkan, biasanya, pada Ramdan dan Rajab selalu ramai pelanggan datang. Pada bulan tersebut banyak pesanan untuk digunakan mahar pernikahan maupun lukis nama kelahiran anak.

- advertisement -

Kerusakan Conector Charge Menjadi Masalah Paling Banyak Pelanggan Flasher Service Handphone

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Sebuah ruko di Jalan Pramuka nomor 2, Kudus, terpampang plang tertulis Flasher Service Handphone. Di ruko yang tepat di belakang Masjid Jami’ Al Hamid Mlati Kidul, terlihat seorang pria sedang mengecek handphone. Agus Budiono (41), nama pria yang juga menjadi satu dari tiga pengelola servis ponsel tersebut. Dari banyaknya pelanggan yang datang ke Flasher Service Handpone, sebagian besar mengalami masalah pada conector charge ponsel. 

servis hp di kudus
Agus sedang memperbaiki ponsel milik pelanggannya. Foto: Ahmad Rosyidi

Agus begitu dia akrab disapa, mengaku telah tujuh tahun mengelola Flasher Service Handpone. Setiap hari selalu ada pelanggan yang datang untuk memperbaiki kerusakan ponselnya. Dan kebanyakan ponsel milik mereka mengalami gangguan pada conector charge

“Setiap hari pasti ada pelanggan yang datang dengan kerusakan handphone yang berbeda-beda. Tapi kebanyakan kerusakan pada conector charge,” jalasnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pria yang memiliki tiga putra itu merinci harga service. Untuk mengganti conector charge dikenakan biaya Rp 50 ribu. Untuk kerusakan komponen lain, jika masih bisa diperbaiki dikenakan biaya Rp 35 ribu hingga 40 ribu, sesuai harga ponsel dan tingkat kesulitan. Untuk mengganti LCD dikenakan biaya mulai Rp 40 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Dia menjelaskan, LCD smartphone tidak bisa diperbaiki, jadi langsung diganti. Berbeda dengan ponsel versi lama yang LCD-nya masih bisa diperbaiki. “Jelas berbeda LCD ponsel zaman sekarang dengan zaman dulu. Kalau ada yang mengganti LCD atau bisa diperbaiki di sini kami memberi garansi sepekan,” tambah pria asli Desa Besito, Gebog, Kudus itu.

Terkait dengan sistem kerja di Flasher Service Handpone, Agus menjelaskan, hasil kerja tiga pengelola dibagi dengan pemilik ruko. “Di sini ada tiga orang yang mengelola. Untuk spesialis software di sini ada mas Jhon, dan urusan hardeware bagian saya dan mas Moko. Hasil kerja kami dibagi dengan pemilik ruko, 60 persen untuk kami dan 40 persen untuk yang punya ruko,” tutur pria spesialis hardware itu.

Sumarno (50), pelanggan di Flasher Service Handpone mengaku mengetahui tempat servis ponsel tersebut dari teman-temannya. “Saya tau dari teman-teman saya, katanya di sini bisa memperbaiki segala kerusakan handphone. Barusan dicek, katanya rusak IC powernya, dan bisa diambil dua hari lagi,” terang warga Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus itu.

- advertisement -

Jejak TNI di Kudus (2), Tiga Generasi Batalion Dulu Bermarkas di Lokasi Gedung Ngasirah

0
SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Bangunan gedung di Jalan Jendral Sudirman nomor 291, Kudus, ini tampak lusuh. Di
depan bangunan lantai satu tersebut, berdiri tiang besi yang sudah berkarat
dengan tali yang masih terikat. Gedung tersebut bernama Gedung Ngasirah. Lokasi gedung itu pernah menjadi markas batalion TNI di Kudus. 

gedung ngasirah
Gedung Ngasirah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan di Kudus Eddy Yusuf, lokasi Gedung Ngasirah tercatat pernah ada beberapa generasi
batalion, yakni Batalion 442 dan Batalion 409. Menurutnya, saat itu luas kawasan markas batalion memanjang ke utara sampai di Balai Desa Pedawang. 

“Dulu lokasi markas batalion luas. Lapangan Rendeng yang sekarang
lokasinya dekat dengan asrama polisi, dulu juga dijadikan tempat pendaratan
helikopter TNI,” tuturnya Eddy yang pernah menjadi anggota DPRD Kudus era Reformasi.

Dia menceritakan, sebelum Batalion 442 dan 409, terdapat
Batalion 426 yang merupakan batalion pertama di Kudus. Eddy mengungkapkan, markas
Batalion 426 yang sekarang menjadi gedung Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK) di
Jalan AKBP Agil Kusumadya. Namun pada akhirnya mereka memberontak dan ditumpas
oleh pasukan Diponegoro (tentara teritorial IV Diponegoro). 

Eddy Yusuf. Foto: Imam Arwindra

Baca juga: Jejak TNI di Kudus (1), Lokasi Gedung JHK Saksi Bisu ‘Pasukan Teklek’ Melawan Agresi Belanda

“Terbentuknya
Batalion 426 kumpulan dari laskar-laskar pejuang sebelum kemerdekaan Indonesia.
TNI sendiri terbentuk pada tanggal 5 Oktober 1945,” terangnya.

Setelah itu, kata Eddy, munculah Batalion 442 yang bermarkas di Gedung
Ngasirah, disusul Batalion 409. Menurutnya, pasukan batalion di
Kudus banyak gugur di medan pertempuran saat dikirim ke daerah konflik. Pasukan Batalion 442 dikirim ke Serawak, Kalimantan Utara, menghadapi Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) tahun
1962. 

“Sedangkan pasukan Batalion 409 mengikuti Oprasi Seroja tahun 1975 di
Timor Timur. Banyak tentara batalion yang gugur di medan perang,” tambahnya.

Mantan Komandan Kodim 0722 Kudus Soedarsono. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com usai Seminar Mengulas
Kembali Sejarah TNI di  Komando Distrik
Militer (Kodim) 0722 Kudus dalam peringatan Ulang Tahun TNI ke-71, Selasa (4/10/2016),
mantan Komandan Kodim 0722 Kudus Kolonel Inf (Purn) Soedarsono, menuturkan, sebelum Batalion 442 terdapat Batalion 443. 

Dia menjelaskan, dulu di Kudus ada sub-batalion yang berpusat di Rembang dan Pati. Setelah itu, ada dibentuk batalion
tersendiri yakni Batalion 442. “Di Kudus hanya ada satu kompi saja
(80-225 pasukan, red),” ungkapnya yang pernah memimpin Kodim 0722 Kudus tahun
1983-1987 dengan pangkat Letnan Kolonel Infanteri.

Mengenai tidak adanya batalion di Kudus menurutnya bukan
karena alasan utama banyak yang gugur. Meski begitu dia tak menampik saat pertempuran di
Serawak banyak pasukan yang gugur. Menurutnya,
musuh yang dihadapi saat itu bekas didikan TNI pada masa Presiden Soekarno dengan
nama Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). 

Karena dianggap dekat dengan
komunis, masa Presiden Soeharto akhirnya pasukan tersebut ditangkap. “Mereka
dulu kami (TNI) yang mendidik, kami (TNI) juga yang lawan,” ungkap dia yang
dulu pernah ikut diterjukan dalam oprasi di Serawak.

Soedarsono yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Kudus
periode 1988-1998 menjelaskan, alasan utama tidak adanya batalion karena kebutuhan pengamanan geografis di Kudus sudah mencukupi. Menurutnya, di bagian pantura
timur Jawa Tengah sudah ada Batalion Infanteri 410/ Alugoro di Blora dan juga
mempunyai sub satu Kompi C di Pati. 

“Kudus secara geografis itu kecil. Dari atasan
sudah menentukan untuk dibuat kodim saja. Karena alasan banyak gugur, TNI
tidak seperti itu. Kami ada untuk menjaga kedaulatan negara,” tambahnya.

- advertisement -

Yadi Keluar dari Perusahaan Lalu Buka Angkringan, Biar Keren Warungnya Dilabeli Nama Berbahasa Inggris

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMPLAK – Seorang lelaki mengenakan kaos hitam dengan celana pendek, terlihat sedang melayani pembeli yang datang ke angkringan miliknya. Di atas meja, terdapat aneka gorengan yang disajikan untuk para pelanggan. Pria tersebut yakni Suharyadi (23), pemilik angkringan Hidden Coffe, yang membuka warung karena penghasilannya sebagai karyawan di perusahaan kurang.

warung kopi kudus
Hidden Coffee Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pelanggan, Yadi begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang angkringan kopi miliknya. Dia menceritakan, usaha yang dia geluti tergolong masih baru, karena dibuka enam bulan terakhir. Dia mengaku, sebelum memulai usaha, dia bekerja di satu perusahaan elektronik. Menurutnya, selama bekerja sebagai karyawan, dia merasa penghasilan yang didapatkan tidak cukup untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

“Awalnya saya hanya bekerja sebagai karyawan. Saya berpikir kok kurang ya penghasilan saya setiap bulan untuk kebutuhan hidup. Karena nenek saya sudah dari dulu membuka warung, dari situ saya mulai membuka angkringan kopi yang saya namai Hidden Coffee. Biar kelihatan keren menggunakan nama bahasa Inggris,” ungkapnya.

Pria lulusan Madrasah Aliyah (MA) Assalam tahun 2012 ini mengungkapkan, pertama memulai usaha, dia hanya menjual kopi sachet dan kopi lasem. Menurutnya, sekarang usahanya semakin berkembang. Sudah banyak aneka macam hidangan yang disajikan. 

“Untuk gorengan saya yang membuat sendiri. Namun untuk sate tusuk, misalnya telur punyuh, hati anyam, tahu bakso dan bakso bakar ada tetangga yang titip,” imbuhnya.

Menurut pria asal Desa Ngemplak Gang 10 RT 1 RW 3, Kecamatan Undaan, Kudus, dia mengenalkan angkringan miliknya melalui media sosial dan dari mulut ke mulut. Dia mengatakan, untuk memanjakan pelanggan, di angkringan kopi miliknya dia pasang Wifi gratis. 

“Setiap hari saya buka pukul 18.30 WIB hingga pukul 1.00 WIB. Sekarang omzet saya Rp 250 ribu per malam dan hanya bermodalkan Rp 150 ribu untuk memulai usaha,” tambahnya.

- advertisement -

Jejak TNI di Kudus (1), Lokasi Gedung JHK Saksi Bisu ‘Pasukan Teklek’ Melawan Agresi Belanda

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Lalu lalang kendaraan terlihat di depan
gedung yang terletak di Jalan AKBP R Agil Kusumadya, Desa Getas Pejaten, Kecamatan
Jati, Kudus. Gedung berlantai dua bewarna hijau itu memiliki halaman yang
luas. Gedung tersebut yakni Gedung Pengurus Daerah
Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK). Lokasi gedung itu menjadi saksi bisu perlawanan tentara terhadap pasukan Belanda.

gedung jhk kudus
Gedung JHK Kudus, Jalan R Agil Kusumadya, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sejarahwan Kudus Eddy
Yusuf meceritakan, sebelum menjadi Gedung JHK, lokasi itu pernah digunakan sebagai markas tentara Kudus. Sebelum digunakan sebagai markas, lokasi tersebut merupakan pabrik rokok merek Bal Tiga milik Nitisemito, seorang pengusaha rokok kretek Kudus yang melegenda. 

“Dia
(Nitisemito) terkenal dengan julukan Raja Kretek. Dia kaya dan asetnya banyak,”
tuturnya kepada Seputarkudus.com di kediamannya, Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus, belum
lama ini.

Eddy menceritakan, pabrik rokok milik Nitisemito sangat luas. Hampir sebagian besar bangunan di sepanjang Jalan AKBP R Agil Kusumadya
miliknya. “Wah kalau detail di mana saja kurang tahu. Namun untuk Gedung JHK
dulunya Pabrik Rokok Bal Tiga miliknya Nitisemito,” terangnya.

pabrik rokok bal tiga nitisemito
Pabrik rokok kretek merek Bal Tiga milik Nitisemito. Foto: KITLV

Dia melanjutkan, saat terjadi agresi militer Belanda kedua pada tahun 1946-1949, Pabrik Rokok Bal Tiga dijadikan markas tentara untuk melawan
pasukan Belanda. Menurutnya, pascakemerdekaan Indonesia tahun 1945, fasilitas pemerintahan dan militer belum merata,
termasuk Kudus. “Akhirnya Nitisemito memberikan tempat produksi rokoknya untuk
markas tempur dan asrama tentara,” tuturnya.
Berdasarkan apa yang dia ketahui, pabrik rokok Bal Tiga tersebut dijadikan Batalion 426 Kudus. Masyarakat di Kudus lebih akrab menyebut pasukan batalion tersebut dengan sebutan Pasukan Teklek. Sebutan itu diberikan karena pasukan tersebut tidak memakai sepatu, melainkan sandal. 

“Saat
itu belum ada TNI (Tentara Nasional Indonesia). Pasukan tersebut populer dengan nama Pasukan Teklek. Mereka kebanyakan dari kalangan santri,” terangnya.

sejarawan kudus eddy
Eddy Yusuf. Foto: Imam Arwindra

Mantan anggota DPRD Kudus di era reformasi itu menuturkan, Nitisemito banyak membantu proses kemerdekaan Indonesia. Menurut beberapa
sumber, Nitisemito sering membiayai kebutuhan perang pasukan Indonesia. “Presiden
Soekarno pun pernah berkunjung ke rumah Nitisemito. Ada sumber mengatakan, Nitisemito memenuhi semua kebutuhan Soekarno,” jelasnya.

Dari cerita perjalanan Batalion 426 pasca agresi milter kedua di Kudus, menurut Eddy mereka terindikasi mengikuti gerakan Darul Islam (DI)/ Tentara Islam Indonesia (TII)/Negara Islam Indonesia (NII). Selain itu mereka juga merampok saudagar-saudagar untuk kebutuhan pasukan.

“Pada akhirnya Batalion 426 berperang dengan Diponegoro (Tentra teritorial IV Diponegoro). Ada yang gugur ada pula yang kabur ke Klaten,” tuturnya. 

- advertisement -