31 C
Kudus
Selasa, Juni 18, 2024

Jejak TNI di Kudus (3, Habis), Kisah Pasukan Teklek, Hanya Pakai Sendal dan Sarung Tapi Sakti

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Seorang pria berkumis tebal mengenakan baju warna biru dengan sederet
pangkat di dadanya, terlihar duduk di Makodim 0722 Kudus, belum lama ini. Bagi sebagian masyarakat Kudus, tentu tak asing lagi dengan mantan bupati ini. Dialah Kolonel Inf (Purn) Soedarsono, yang juga mantan Komandan Kodim 0722 Kudus 1983-1987. Kepada Seputarkudus.com, dia menceritakan kisah Pasukan Teklek.

Makodim 0722 Kudus
Makodim 0722/Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menuturkan, pasukan batalion pertama di Kudus, yakni Batalion 426, dari kumpulan pasukan laskar-laskar yang berjuang sebelum Indonesia
merdeka. Sebagian besar pasukan Batalion 426 datang dari kalangan santri. Menurutnya, Batalion 426 cukup populer dengan sebutan Pasukan Teklek. 

“Disebut
Pasukan Teklek karena banyak pasukannya tidak memakai sepatu, dan ada pula yang
masih membawa sarung,” kata Soedarsono ditemui usai seminar Mengulas
Kembali Sejarah TNI di Kodim 0722 Kudus dalam peringatan Ulang Tahun TNI ke-71.

Dia menjelaskan, Pasukan Teklek Batalion 426 terindikasi mengikuti gerakan Darul
Islam (DI)/ Tentara Islam Indonesia (TII)/Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan
Kartosuwiryo. Karena tidak menyerah, akhirnya pasukan TNI di bawah Komando IV
Diponegoro menggempur markas Batalion 426 yang sekarang menjadi Gedung Jam’iyyatul
Hujjaj Kudus (JHK). “Mereka (pasukan Batalion 426) ekstrimis kanan,” tuturnya.

mantan bupati kudus soedarsono
Mantan Komandan Kodim 0722/Kudus Soedarsono. Foto: Imam Arwindra

Soedarsono mengungkapkan, Pasukan Teklek memiliki kesaktian. Mereka mampu melarikan diri dari sergapan pasukan Diponegoro. Menurutnya, mereka
melarikan diri menuju Merbabu, Sangga Buana Jawa Barat dan di Klaten.
Dia menuturkan, selain keterlibatannya dengan gerakan ekstrimis kanan juga ada
faktor politik dalam kejadian tersebut.
Sejarahwan Kudus Edy Supratno mengungkapkan, Batalion 426
tidak mau menginduk TNI karena merasa sudah besar. Selain itu, mereka juga tidak
mau dipimpin oleh non-Islam. Dia menceritakan, Batalion 426 juga
melakukan perampokan kepada pengusaha non-Islam untuk mencukupi kebutuhan
pasukan. “Mereka bergerak dengan motif kafir,” tuturnya saat ditemui
Seputarkudus.com di kediamannya belum lama ini.

-Advertisement-
sejarawan Kudus Edy Supratno
Sejarawan Kudus Edy Supratno. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, markas Batalion 426 terletak di Gedung Jam’iyyatul
Hujjaj Kudus (JHK) Jalan AKBP R Agil Kusumadya. Dulu tempat tersebut milik Nitisemito yang diberikan kepada Batalion 426 untuk markas pada agresi
militer kedua melawan tentara Belanda.

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
139,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER