Beranda blog Halaman 1925

Bambang: Hasil Kopi di Kudus sangat Berpotensi Menjadi Produk yang Diakui Dunia

0

SEPUTARKUDUS.COM, TERNADI – Seorang pria berkumis tipis mengenakan kemeja batik berlengan pendek tampak memberikan pemaparan kepada beberapa orang. Pria tersebut bernama Bambang Gatut Nuriyanto, Kepala Bidang Standarisasi Dan Sertifikasi Profesi di Kementrian Pertanian. Dirinya datang ke Kudus untuk meninjau pembuatan produk Kopi Saqinano. Selain itu dia juga memberi pemaparan tentang sumber daya manusia yang kompeten dan profesional kepada para petani kopi di Desa ternadi, Kecamatan Dawe Kudus.

Kementrian Pertanian
Bambang Gatut Nuriyanto (dua dari kanan). Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya memberikan arahan kepada perwakilan petani di desa setempat yang diwakili Kepala Desa Ternadi dan Polisi Hutan wilayah tersebut, pria yang akrab disapa Bambang itu sudi menjelaskan Seputarkudus.com. Dia mengajak para petani kopi di Kudus khususnya Desa Ternadi menjadi penghasil kopi yang kompeten dan profesional. Dengan begitu mereka mampu meningkatkan hasil kopi dan mampu menghasilkan kopi yang berkualitas.

“Aku menginginkan agar para petani kopi seluruh Indonesia, termasuk di Desa Ternadi. Aku ingin mereka mendapatkan pelatihan pengembangan kompetensi bertani kopi, hingga mampu menghasilkan kopi berkualitas, yang diakui banyak orang. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia internasional, melalui sertifikasi produk kopi. Karena dengan menghasilkan kopi yang berkualitas dan diminati orang hingga manca negara, tangga menuju kesuksesan di depan mata,” ujarnya.

Menurutnya, hasil kopi di Kudus sangat potensial, itu terbukti produk kopi di Kudus yakni kopi rempah Saqinano banyak diminati masyarakat luas, tidak hanya di Kudus tapi juga seluruh Indonesia. Pemilik kopi Saqinano menurutnya, juga terpilih dari satu di antara 13 pelaku usaha kopi seluruh Indonesia untuk penyusunan Standarisasi Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Dengan menggandeng pemilik kopi dan teh rempah Saqinano ikut dalam penyusunan SKKNI dia berharap, ke depanya pemilik usaha kopi rempah Saqinano tersebut selalu memberi pengarahan serta pengawasan kepada para petani kopi di Kudus. Pengarahan meliputi dari pembibitan, pemupukan, perawatan pohon kopi sehingga mampu menghasilkan biji kopi dengan kualitas terbaik,  yang kelak bisa laku untuk diekspor ke luar negeri.

Nono Anik Sulastri (48), pemilik usaha teh dan kopi rempah Saqinano mengaku sangat siap mengemban tugas tersebut. Menurutnya, selama ini dia sudah melakukan hal tersebut. Untuk bisa menghasilkan kopi rempah terbaik, selama ini sudah bekerja sama dengan petani kopi di Desa Ternadi, Dawe, Kudus. Selain itu, selama ini dirinya juga sering berdiskusi dengan para petani untuk mampu meningkatkan hasil dan kualitas kopi yang diharapkan.

Namun, memang diakui perempuan yang akrab disapa Anik itu, untuk memenuhi standarisasi kualitas kopi agar laku diekspor, memang kopi yang dihasilkan harus benar-benar bekualitas hingga bisa lolos saat uji standarisasi untuk pasar internasional. Oleh Karena itu dirinya merasa bangga dan tak melewatkan peluang saat diajak Pak Bambamg selaku Kepala Bidang Standarisasi dan Sertifikasi Profesi dalam penyusunan SKKNI.

“Aku berharap dengan ikut tim penyusunan SKKNI, aku bisa lebih paham secara detail syarat dan ketentuan produk atau barang yang memenuhi standar hingga mampu bersaing di pasar global. Hingga nantinya aku mampu mengarahkan para petani di Kudus, khususnya di Ternadi, agar mampu menghasilkan kopi kualitas ekspor,” ungkapnya

Anik berharap, dengan ikut tim 13 perumusan SKKNI, dia juga kelak mampu membuat  produk kopi dan teh rempah Saqinano lolos uji di dua badan standarisasi internasional, hingga mampu di ekspor ke luar negeri dalam jumlah banyak. “ Sekarang sih sudah ada beberapa peminat dari manca negara, tapi masih sebatas perorangan,” ujar perempuan yang akrab disapa Anik tersebut.

- advertisement -

Ini Strategi Honda Kudus Jaya Tingkatkan Penjualan Mobil

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di tepi Jalan Lingkar Selatan No. 168 Timur Terminal Kudus, tepatnya di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sebuah gedung tertulis Honda Kudus Jaya. Tampak di depan halaman dan ruangan gedung, puluhan varian mobil Honda terpakir dengan rapi.  Gedung tersebut yakni diler resmi penjualan mobil Honda PT Kudus Jaya Motor.

mobil honda mobilio
Produk mobil di Honda Kudus Jaya. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Supervisor Honda Kudus Jaya Andi TW, sudi berbagi penjelasan terkait pemasaran yang dilakukan perusahaannya. Andi, begitu dirinya akrab disapa, menjelaskan, selain menunggu calon pembeli datang, pihaknya juga melakukan moving ke daerah tertentu. Hal ini dilakukan sebagai upaya perusahaan meningkatkan penjualan mobil di Kudus.

“Dalam pemasaran, kami biasanya melakukan moving ke daerah tertentu, kadang juga mengikuti sebuah pameran, ya semacam uji coba kendaraan. Jadi masyarakat bisa belajar mengendarai, bisa tahu kelebihan dari mobil yang dikendarai. Lokasi, kadang di Kudus, Pati, kadang di Jepara,” ungkap Andi, pria yang mengaku hampir empat tahun bekerja di diler tersebut.

Pria yang tercatat sebagai warga di salah satu Desa Besito RT 3 RW 4, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengatakan, Honda Jaya Motor menyediakan berbagai macam kendaraan roda empat. Misalnya seperti Honda Mobilio, New Brio, BR-V, All New Jazz, HRV, All New CRV, All New City, All New Civic, CR-Z, Odyssey 2016. “Sampai New Accord untuk kelas premium juga tersedia di show room ini,” ujarnya.

Baca juga: Inilah Sebabnya Honda Mobilio dan BR-V Paling Banyak Dibeli Kalangan Keluarga di Honda Kudus Jaya

Harga yang ditawarkan Honda Jaya Motor sangat beragam, berkisar antara Rp 130 juta hingga Rp 700 juta. Dia merinci, Honda Mobilio seharga mulai Rp 197 juta, BR-V mulai harga 242, Brio Rp 138 juta, All New Jazz Rp 240 juta, CRV Rp 421 juta, New Accord mulai harga 600 juta dan HRV mulai harga Rp 265 Juta. “Harga menyesuaikan, tergantung type dan cara pengoperasian mobil,” ungkapnya.

Dia menambahkan, diler tempat dia bekerja mulai buka pukul 8.00 WIB hingga 18.00 WIB untuk hari Senin hingga Jumat. Hari Sabtu, mulai buka pukul 8.00 WIB hingga 16.00 WIB, sedangkan hari Minggu buka pukul 9.00 WIB hingga 15.00 WIB. Selain itu, pihaknya juga menyediakan jasa service mobil dan menyediakan suku cadang mobil Honda.

“Kalau penjualan per bulan, Honda Mobilio tetap yang dominan, dengan penjualan 130 unit mobil per bulan. BR-V kisaran 35 unit hingga 50 unit, Brio 25 unit hingga 30 unit, All New Jazz 25 Unit dan CRV 5 Unit mobil per bulan,” tambahnya.

- advertisement -

Kopi dan Teh Rempah Saqinano, Produk Kudus yang Memiliki Peminat Hingga ke Manca Negara

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAKALAN KRAPYAK – Di ruang tamu rumah di RT 7, RW 3 Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kota, Kudus, terlihat tiga orang sedang berbicara. Terlihat seorang pria berkumis tipis sedang berbicara sambil mengamati dan sesekali menghirup rempah yang disodorkan oleh seorang perempuan berjilbab. Perempuan tersebut bernama Nono Anik Sukasni (48), pembuat kopi dan teh rempah merk Saqinano. Produknya tersebut memiliki peminat sampai manca negara.

Kopi dan Teh Rempah
Kopi dan Teh Rempah Saqinano. Foto: Rabu Sipan

Di sela obrolanya bersama tamu, yang diketahui kemudian bernama Bambang Gatut Nuriyanto, Kepala Bidang Standarisasi dan Sertifikasi Kementrian Pertanian Republik Indonesia, perempuan yang akrab disapa Anik itu sudi berbagi penjelasan tentang usahanya. Dia mengatakan, usaha pembuatan kopi dan teh rempah kini sudah banyak diminati masyarakat luas. Tidak hanya di Indonesia, namun juga sudah diminati orang luar negeri.

“Beberapa bulan terakhir ada beberapa kali pemesanan kopi maupun teh rempah untuk dikirim ke luar negeri. Di antaranya, Amerika, Kanada, Dubai, Arab Saudi, Mesir, serta Hungaria. Pemesanan tersebut melalui toko oleh-oleh khusus kopi dan teh rempah Saqinano yang berada di Bali,” ujar Anik kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua orang anak itu menuturkan, di Pulau Dewata terdapat tiga toko oleh-oleh yang menjual kopi dan teh merek Saqinano. Sedengkan di Jakarta, sudah ada puluhan kafe maupun kedai kopi atau teh yang menyediakan kopi Saqinano. Selain di dua kota tersebut, Anik mengaku ada toko dan kafe di beberapa kota besar di Indonesia yang menjual kopi dan teh rempah Saqinano. Dia mengatakan, setiap bulan rutin mendistribusikan kopi dan teh rempah ke toko maupun kafe yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Setiap sebulan sekali bahkan terkadang dua pekan sekali kami rutin mengirimkan kopi dan teh Saqinano ke seluruh pelanggan yang di Indonesia. Namun tak aku pungkiri, pengiriman terbesar tetap ke Kudus, Jakarta serta Bali. Menurut Informasi yang aku dapatkan dari Pulau Dewata, kebanyakan pembeli kopi maupun teh Saqinano di sana kebanyakan para turis asing,” ujarnya.

Menurutnya, sangat wajar para turis asing sangat suka dengan kopi dan teh rempah Saqinano. Karena menurutnya sejak dulu para turis khususnya Eropa sangant menyukai rempah-rempah. Karena alasan tersebut juga negara indonesia dulu dijajah Belanda. Dia mengimbau kepada masyarakat luas untuk tak ragu mengkonsumsi kopi atau teh rempah Saqinano. Karena kopi rempah produksinya aman untuk lambung, tak mengakibatkan dada berdebar, serta tak mengakibatkan susah tidur.

Menurutnya, setiap bulan dia rutin mampu mengirim sekitar 700 paper bag serta 800 boks kopi rempah Saqinano ke luar Kudus. Dia mengungkapkan kopi Saqinano tersebut dia jual dengan dua kemasan, harga Rp 27 ribu untuk kemasan paper bag dan harga Rp 55 ribu untuk kemasan per boks.

“Aku bersyukur usaha kopi rempah yang aku rintis bersama suamiku kini diminati banyak orang, tidak hanya di Indonesia melainkan juga diminati orang manca negara. Ke depanya, aku ingin kopi Saqinano mampu menembus pasar manca negara dan di jual di toko, kafe, maupun kedai dan teh di luar negeri,” harap Anik.

- advertisement -

Derry Belasan Tahun Menjadi Atlet, Kesulitan Mendapat Izin Orang Tua Kini Justru Membanggakan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Sejumlah siswa dengan wajah tegang di depan tiga orang juri Lomba Liong dan Wushu di lapangan olahraga SMP Keluarga Kudus. Satu juri di antaranya Derry Prasetya (22), yang telah 12 tahun menjadi atlet. Dia mengaku menyukai olahraga sejak kecil, sehingga sejak sekolah dasar (SD) dirinya sudah menjadi atlet.

Atlet Wushu
Derry Prasetya, Atlet Liong. Foto: Ahmad Rosyidi

Derry, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebelum dirinya menjadi atlet, dia bersusah payah untuk mendapatkan izin dan dukungan dari orang tuanya. Karena orang tuanya berpikir menjadi atlet tidak punya masa depan.

“SD saya sudah jadi atlet, karena sudah suka olahraga sejak kecil. Awalnya orang tua saya melarang, karena berpikir menjadi atlet tidak punya masa depan. Setelah saya berjuang dengan gigih serta latihan dengan tekun, akhirnya saya bisa membuktikan dan sekarang orang tua sudah mendukung saya”, ungkap warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Derry juga merinci saat ini dirinya menjadi atlet liong, wushu, barongsai tonggak, barongsai halang rintang, barongsai lantai, dan barongsei kecepatan. Sejak 12 tahun yang lalu menjadi atlet. Dia mengaku sudah kurang lebih sekitar 20 kali mengikuti kejuaraan. Dan saat ini dia melatih atlet liong, wushu, dan barongsai di klenteng Hok Hien Bio Kudus.

Baca juga: Febi Kecewa Tampil Tak Maksimal Saat Lomba Liong di SMP Keluarga Kudus, Padahal Latihan Penuh

“Saat ini saya sudah melatih di Klenteng Hok Hien Bio Kudus. Saya senang ada kegiatan lomba liong dan wushu seperti ini, agar teman-teman bisa lebih semangat dan giat berlatih. Karena butuh kerja keras dan disiplin dalam latihan,”ujar Derry.

Dia juga mengapresiasi adik-adiknya yang menjadi peserta Lomba Liong dan Wushu SMP Keluarga yang digelar memperingati Imlek. Menurutnya untuk persiapan yang cukup singkat sekitar dua pekan, penampilan para peserta sekelas SMP sudah cukup bagus. Tetapi masih butuh banyak latihan jika ingin meningkatkan prestasi hingga bisa menjadi atlet.

“Sudah cukup bagus penampilan dari adik-adik SMP Keluarga. Mungkin ada beberapa kekurangan, tapi saya memaklumi karena persiapan latihan hanya dua pekan. Butuh latihan lebih giat lagi, kerja keras, agar bisa jadi atlet nantinya”, jelas alumni SMP Keluarga itu.

- advertisement -

Pengusaha Tempe di Ploso Buka Rahasia Agar Tempe Terasa Enak dan Sedap

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di samping rumah milik warga di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat seorang pria berkaus biru. Dia terlihat memasukan kedelai ke dalam plasik panjang. Di ruangan lain terlihat seorang pria memasukan kedelai ke dalam cetakan kayu berbentuk persegi panjang yang dilapisi daun jati. Tak lama berselang, datang seorang pria memakai kaus berlengan pendek mengecek ratusan tempe yang berada di rak bambu. Tempat tersebut merupakan tempat pembuatan tempe yang mampu menghabiskan 1,9 kwintal kedelai sehari.

Nasruchin
Nasruchin. Foto: Rabu Sipan

Nasruchin, (43) adalah pemilik usaha pembuatan tempe tersebut. Dia mengatakan, produk tempe yang sudah dia rintis sejak tahun 1992 itu diakui memiliki banyak peminat di Kudus. Bahkan menurutnya pelanggannya sudah merambah hingga ke Demak. Kepada Seputarkudus.com, dia sudi membagi rahasianya agar tempe yang dia produksi diminati banyak pelanggan. Dia mengatakan, proses produksi harus memperhatikan kualitas bahan serta proses pembuatannya.

“Untuk menghasilkan tempe yang berkualitas, aku menggunakan kedelai murni. Proses pembuatan juga harus benar-benar mngikuti aturan yang telah aku tentukan. Di antaranya  meliputi lama proses fermentasi, perebusan serta pencucian kedelai harus benar0benar sesuai anjuranku,” ujar Nasruchin kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Pria yang menjadikan rumahnya sekaligus tempat usaha itu mengatakan, tempe yang dia produksi murni menggunakan bahan tempe dan ragi tanpa dia campuri bahan lainya. Dia mengaku memilih kedelai impor, karena kedelai tersebut saat menjadi tempe bisa lebih mengembang daripada tempe yang dibuat dengan menggunakan kedelai lokal.

“Sebenarnya membuat tempe menggunakan kedelai lokal hasilnya lebih bagus, karena kedelai lokal bisa menghsilkan sari lebih banyak. Namun karena saat jadi tempe tidak bisa mengembang. Menurutku, dengan menghasilkan sari yang lebih banyak, kedelai lokal lebih cocok untuk dibuat produksi tahu daripada tempe,” ujarnya.

Baca juga: Warga Ploso Ini Kembangkan Usaha Produksi Tempe dari Nol, Kini Punya Dua Kios di Bitingan

Dia lalu membeberkan rahasia membuat tempe sedap atau gurih hasil produksinya. Dia menuturkan, untuk membuat tempe sedap saat perebusan harus menggunaakan kayu. Karena jika dirembus menggunakan api kompor, tempe yang dihasilkan akan terasa hambar. Setelah direbus hingga setengah matang, kedelai tersebut ditiriskan, lalu direndam menggunakan air bersih baru selama sehari semalam.

Setelah direndam, katanya, kedelai digiling menggunakan alat khusus agar pecah. Lalu kedelai tersebut dicuci menggunakan air bersih sebanyak dua kali bilas. Kemudian dicuci lagi dan direndam menggunakan air bercampur ragi selama satu jam. Menurutnya perendaman tersebut harus satu jam, jika kurang rasa tempe yang dihasilkan bisa asam. Begitu juga dengan perbandingan kedelai dengan ragi harus pas yakni setiap 10 kilogram kedelai diberi ragi sebanyak satu sendok makan

“Itu untuk musim kemarau, saat musim penghujan, misalnya seperti saat ini porsi ragi ditambah dua kali lipatnya. Karena dimusim penghujan pertumbuhan jamur lebih lambat,” Jelas pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Nasruchin melanjutkan, setelah selesai direndam, kedelai ditiriskan kembali lalu dicetak sesuai ukuran. Pembungkus tempe menurutnya juga mempengaruhi rasa. Tempe dicetak menggunakan bungkus daun jati rasa yang dihasilkan lebih sedap daripada tempe yang dicetak menggunakan plastik. Namun tempe yang dicetak menggunakan plastik hasilnya lebih gurih.

“Soal rasa biar konsumen yang memilih. Sebagai pembuat sudah aku sediakan dua tempe dengan dua pilihan. Dan Alhamdulillah dua-duanya laris di pasaran. Sejak tahun 2000 sampai sekarang aku mampu menjual tempe dari 1,9 kwintal kedelai setiap hari. Bahkan saat harga kedelai naik tinggi aku masih bisa meraup untung dan tempeku juga laris dan habis setiap hari,” ujar Nasruchin.

- advertisement -

Sambut Valentine @Hom Kudus Gelar Lovely Dinner, Pasangan Kekasih Dijamin Makin Romantis

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Perempuan berambut sebahu dengan pakaian serba merah, terlihat berjalan dari  lift hotel @Hom Kudus menuju lobi. Dia menyapa sejumlah resepsionis kemudian duduk di satu kursi ruang tersebut. Perempuan tersebut tak lain Tika Encim (24), Marketing Manager Hotel @Home Kudus. Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku tengah menyiapkan program Lovely Dinner menyambut Valentine 14 Februari mendatang.

@Home Hotel Kudus
Marketing Manager @Home Kudus Tika Encim. Foto: Sutopo Ahmad

Di tengah kesibukannya menjalankan aktivitas pekerjaannya, Tika, begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi penjelasan terkait Lovely Dinner. Dia mengatakan, acara tersebut akan digelar 14 Februari 2017, tepatnya di Malabar Restaurant. Menurutnya, acara itu akan digelar mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB dan terbuka untuk umum.

“Ini (Lovely Dinner) terbuka untuk umum, jadi tidak hanya bagi pengunjung saja. Untuk yang masih bingung menghabiskan malam Valentine di mana, tenang saja, ajak pasangan ke sini. Dijamin makan malam akan semakin romantis dengan iringan hiburan live musik akustik,” ungkap Tika kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, ini mengatakan, hiburan akan diisi penampilan band lokal Kudus. Sedangkan target peserta, pihaknya menyediakan kuota sebanyak 50 pasang. “Target kami sebanyak 50 pasangan. Biaya, Rp 150 ribu per pasangan,” ujar Tika yang sudah satu setengah tahun menjabat Marketing Manager @Home Kudus.

Paket Lovely Dinner tersebut, kata Tika, setiap pasangan akan medapat hidangan pembuka Potato Chicken Cream Soup, hidangan utama Grill Snapper with Holandez Sauce dan Chicken Snitzel with Mushroom Sauce, serta hidangan penutup Blue Larva Creamy. Setiap pasangan juga akan mendapat Chocolate Prallin secara gratis.

Dia menjelaskan, untuk merealisasikan target yang sudah dia tentukan, pihaknya melakukan berbagai promosi. Misalnya dengan cara menawarkan bagi setiap pengunjung yang datang menginap, promosi melalui media sosial (medsos) dan memberikan lembaran brosur ke kampus dan sekolahan. Publikasi itu telah dilakukan di sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun sekolah menengah atas (SMA) di Kudus.

Sementara itu, Di sisi pintu masuk lift, terdapat dua buah X-banner yang berdiri dengan ukuran 60 x 120 sentimeter. X-benner tersebut memuat tulisan “Stay ‘n Win”. Menurut Tika, benner tersebut publikasi progam yang diselenggarakan bagi pengunjung hotel. “Ya semacam kamar berhadiah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, progam itu dilaksanakan untuk meningkatkan kunjungan tamu yang hendak menginap di hotel. Untuk tipe kamar yang masuk kategori berhadiah, diberlakukan bagi semua tipe kamar yang dipesan. “Progam ini berlaku mulai periode Januari hingga Desember 2017. Hadiah yang diberikan berupa satu unit mobil,” tambahnya.

- advertisement -

Surikah Waswas Air di Tanggul Undaan Lor Bisa Jebol Jika Air Sungai Wulan Terus Bertambah

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Dua orang laki-laki  terlihat mencari ikan di tanggul Sungai Wulan, depan Balai Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Senin (6/2/2017). Di tanggul tersebut terlihat beberapa pohon pisang dan gawang lapangan bola terendam air. Sementara itu, seorang perempuan dan dua orang anak melihat debit air sungai yang terus bertambah. Perempuan tersebut yakni Surikah (53), warga Desa Undaan Lor. Dia mengaku waswas tanggul sungai jebol.

Sungai Wulan
Warga mencari ikan di tanggul sungai. Foto: Imam Arwindra

Di musim hujan saat ini, menurut Surikah, air di Sungai Wulan bertambah hingga tempat yang biasanya untuk bermain bola tergenang. Sebelumnya, aliran Sungai Wulan masih berjarak 200 meter ke arah barat dari pemukiman warga. Namun saat ini, debit air bertambah dan dia khawatir air akan meluap di atas tanggul. “Rasanya waswas jika suatu ketika air meluber di atas tanggul, karena bisa jebol. Posisi tanggul lebih tinggi dari pada rumah warga, jadi kami sangat khawatir” ujar Surikah saat ditemui Seputarkudus.com, kemarin.

Warga Rt 3, Rw 3 Gang 19 Desa Undaan Lor itu menuturkan, debit air bertambah sejak empat hari lalu. Menurutnya, selain lapangan sepak bola juga terdapat ladang milik warga tergenang. Air bertambah lagi pada Minggu malam (5/2/2017). Dia berharap musim hujan tahun ini tidak mengakibatkan banjir sama seperti yang pernah dialaminya tahun 1993 dan 2007. “Semoga airnya cepat surut normal seperti biasanya,” tutur dia yang rumahnya berjarak 50 meter dari tanggul.

Sementara itu, Noor Ali, Kordinator Bangunan Pengendali Banjir Wilalung Lama (BPBWL) menuturkan, debit air di Waduk Wilalung kemarin pada pukul 10.00 WIB 684 meter kubik per detik. Menurutnya debit air tersebut sudah menurun dibanding pada hari Minggu mencapai 813 meter kubik per detik.

“Debit air pada Minggu tercatat tertinggi selama delapan jam pada pukul 09.00 pagi hingga 16.00 sore. Ini sudah turun 684 meter kubik per detik.  Dari Sungai Lusi 62 meter kubik per detik dan dari Sungai Serang 110 meter per detik,” terangnya.

Menurutnya, debit air 684 meter per detik masuk kategori siaga tiga. Disebutkan, siaga satu yakni jika debit air sungai mencapai 400-500 meter kubik per detik. Sedangkan siaga dua 500-550 meter kubik per detik dan siaga tiga lebih dari 550 meter kubik per detik.

Tingginya debit air sungai, katanya, selain karena intensitas hujan tinggi, juga dipengaruhi rob di laut. Dia memperkirakan. Menurutnya kemarin volume air diperkirakan akan menurun. Namun volume air juga bisa meningkat saat terjadi hujan, terutama di daerah hulu. “Kalau untuk Selasa (hari ini) saya kurang tahu. Tinggal nanti sore atau malam ada hujan apa tidak. Kalau memang tidak ada hujan (volume air) akan turun terus,” tuturnya.

- advertisement -

Warga Ploso Ini Kembangkan Usaha Produksi Tempe dari Nol, Kini Punya Dua Kios di Bitingan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di tepi Jalan Tambak Lulang, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat rumah bertembok kuning. Di samping rumah tampak rak bambu berisi tempe yang masih terbungkus plastik transparan dan terbungkus daun jati. Di sebelah rak tersebut terlihat seorang pria sedang memasukan biji kedelai ke dalam plastik. Pria tersebut bernama Nasruchin (43), pemilik usaha pembuatan tempe tersebut.

Produksi tempe di Ploso
Produksi tempe di Ploso. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya membuat tempe, Nasruchin sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai membuat tempe sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP), tepatnya tahun 1991. Dia mengaku belajar membuat makanan fermentasi kedelai itu di tempat usaha kakaknya, yang lebih dulu merantau ke Kudus. Saat itu kakaknya membuka usaha di Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus.

“Setelah lulus SMP, aku tidak melanjutkan ke. Aku datang ke Kudus menemui kakakku yang memiliki usaha pembuatan tempe. Aku bekerja sekaligus belajar membuat tempe di sana,” cerita Nasruchin saat ditemui di tempat usahanya, beberapa hari lalu.

Pria yang menjadikan rumah tinggal sekaligus tempat usaha itu menuturkan, selama kerja di tempat kakaknya tersebut, dia mengaku tidak meminta bayaran sepeserpun. Dia mengungkapkan, sudah dibolehkan kakaknya belajar membuat tempe saja dirinya mengaku sudah senang. Dan untuk kebutuhan makan, dia mengatakan ditanggung kakaknya.

Karena melihat ketekunan dan keseriusanya bekerja, katanya, tiga bulan kemudian kakaknya menyuruh Nasruchin memproduksi tempe secara mandiri. Padahal pada waktu itu, dirinya mengaku tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli kedelai maupun bahan lain untuk memproduksi tempe. Dengan kebaikan kakaknya, dia memproduksi kedelai dengan bahan serta alat milik kakaknya. Penjualan produk tempe yang dia buat juga pasarkan kakaknya.

“Pada waktu itu aku hanya memproduksi tempe dengan bahan kedelai sebanyak lima kilogram, hal tersebut terjadi selama setahun. Setelah memiliki modal, pada tahun 1992 aku mengontrak tempat untuk memproduksi tempe. Selain itu aku membeli sepeda ontel untuk memasarkanya. Karena  kakakku ingin agar aku benar – benar mandiri,” ujarnya

Pria yang dikaruniai dua anak itu mengatakan, sejak saat itu dia menjual tempenya di Pasar Bitingan, Kudus. Karena tidak punya kios dia mengaku menjual tempe hasil produksinya  dengan cara ikut numpang di kios orang lain. Menurutnya sejak menjual tempenya di Pasar Bitingan tersebut dirinya mulai dikenal. Hingga tempe yang dia produksi menghabiskan 30 sampai 50 kilogram kedelai habis terjual sehari.

Setelah Pasar Bitingan selesai dibangun pada tahun 1997, dia mengaku membeli kios pasar tersebut. Dia menuturkan sejak saat itu pula dia mulai merekrut satu orang khusus untuk membuat tempe. Karena menurutnya sejak memiliki kios penjualan tempenya meningkat, dan mampu menjual tempe dari 1,5 kwintal kedelai sehari.

Nasruchin menambahkan, dengan penjualan yang terus meningkat tersebut dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, dia membeli rumah yang ditempati sampai sekarang. Setelah memiliki rumah setahun kemudian dia mempersunting pujaan hatinya.

Alhamdulillah setelah menikah penjualan tempeku semakin meningkat, dan istriku juga bersedia keluar kerja dan sudi ikut berjualan di pasar namun beda kios. Dengan memiliki dua tempat penjualan, aku mampu menjual habis tempe 1,9 kwintal sehari,” ujar Nasruchin yang memberi nama produk tempenya dengan nama Annas.

- advertisement -

Imam Syafi’I Merasa Lebih Aman Setelah Menginstal Smile Police, Tapi Dirinya Masih Ragu

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLAGAHWARU – Tangan kanannya terlihat memegang smartphone berukuran lima inch. Laki-laki tersebut kemudian membuka aplikasi yang halaman depannya bergambar kartun polisi mengacungkan jempol. Saat dibuka pada halaman utama, muncul foto Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono. Di bawahnya terdapat tulisan Selamat Datang di Smile Police (Sistem Manajemen Informasi Layanan Elektronik) Polda Jateng.

Aplikasi Smile Police Kudus
Aplikasi Smile Police Kudus

Menurut laki-laki bernama Imam Syafi’I (25) tersebut, aplikasi Smile Police sangat berguna dan akan membuat dirinya leih aman. “Kalau aplikasi ini benar-benar berjalan dengan baik, masyarakat akan merasakan lebih aman. Tentunya untuk saya pribadi,” ungkapnya yang tinggal di Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kudus, beberapa hari lalu.

Baca juga: Aplikasi Smile Police, Wakapolres: Tinggal Klik SOS, Selang Beberapa Menit Polisi Datang

Dirinya mengaku belum mencoba penggunaan aplikasi tersebut secara keseluruhan. Dirinya hanya menginstal aplikasi dan mendaftarkan diri pada petunjuk yang disediakan. Imam yang juga guru SMK Assaidiyyah mengaku sangat tertarik dengan panic button dalam aplikasi tersebut. Saat diklik lebih dua kali akan muncul tulisan “Anda Dalam Kondisi Darurat”. “Aplikasi ini terkoneksi dengan GPS. Mungkin itu untuk mengetahui lokasi kejadian,” tanggapnya sambil memperlihatkan bentuk aplikasi pada layar android Xiaomi Redmi 2.

Namun dirinya masih kurang yakin aplikasi tersebut berjalan baik. Karena pasti banyak masyarakat terutama di desa yang tidak tahu. Begitu juga dengan masih banyaknya masyarakat yang kurang mengenal teknologi. Dia berharap, polisi sesering mungkin melakukan sosialisasi. “Jika aplikasi ini berjalan, tentu masyarakat akan termudahkan dalam mengurus SIM dan SKCK, begitu juga dengan kondisi keamanan dan kenyamanan masyarakat,” tambahnya.

Wakil kepala Polres Kudus, Komisaris Polisi (Kompol) M Ridwan yang ditemui Seputarkudus.com di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus mengatakan, dirinya akan meminta bhabinkamtibmas (Bintara pembinanaan dan keamanan ketertiban masyarakat) untuk menyosialisasikan aplikasi Smile Police langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, aplikasi tersebut baru saja di-launcing Sabtu (4/2/2017) secara serentak di seluruh Polres di Jawa Tengah. “Smile Police sudah dilauncing serentak di Polda dan Polres, namun bukan secara nasional. Aplikasi ini hanya ada di wilayah Polda Jateng saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan aplikasi Smile Police yakni aplikasi berbasis Android yang berisi e-learning, e-trust bhabinkamtibmas, e-office, panic button, e-complain, dan public service. Menurutnya, aplikasi tersebut sudah tersedia di Play Store yang dapat diunduh gratis. “Semoga dengan adanya aplikasi Smile Police masyarakat akan terlayani dengan cepat, serta menciptakan suasana keamanan dan ketertiban masyarakat,” tambahnya.

- advertisement -

Febi Kecewa Tampil Tak Maksimal Saat Lomba Liong di SMP Keluarga Kudus, Padahal Latihan Penuh

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Suara musik dan teriakan terdengar dari lapangan olahraga SMP Keluarga Kudus. Di tempat tersebut sedang diselenggarakan Lomba Liong dan Wushu untuk memeriahkan perayaan Imlek. Seorang siswa keluar lapangan dengan wajah terlihat murung. Dia adalah Febi Mujayanto (15), peserta lomba liong yang baru saja usai tampil bersama kelompoknya. Dia mengaku sedikit kecewa karena kurang kompak dan mendapat potongan nilai dari juri.

Lomba Barongsai SMP Keluarga Kudus
Lomba Barongsai SMP Keluarga Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Febi, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, saat latihan semuanya lancar dan tidak ada kendala. Namun saat tampil dalam perlombaan timnya mengalami masalah koordinasi yang membuat kurang kompak, sehingga mendapat potongan nilai dari juri. Meski begitu dia masih tetap semangat karena acara berjalan dengan lancar, dan timnya sudah melakukan yang terbaik.

“Saya sedikit kecewa dengan hasilnya, karena waktu latihan semuanya lancar tidak ada kendala. Tadi kami kurang kompak saat jurus huruf U dan rolpay tombak, untuk ombak laut, kapal, menara, masuk ekor, pay kotak, dan pindah tangan semuanya lancar. Kami tetap semangat karena sudah menampilkan yang terbaik, meski kurang puas dengan hasilnya”, ungkap Wergu Wetan, Kota Kudus itu.

Dia juga menjelaskan untuk persiapan lomba Liong sekitar dua pekan, dalam pekan kedua Febi mengaku latihan penuh. Menurutnya, mungkin karena kelelahan membuat timnya kurang maksimal saat tampil dalam perlombaan.

“Kami persiapan lomba liong sekitar dua pekan. Pekan pertama hanya hari Kamis. Kemudian pekan kedua kami latihan penuh. Mungkin karena kelelahan jadi ada masalah koordinasi tadi saat lomba. Karena kena potongan nilai kami jadi 6,75”, jelas Febi.

Gisela Sandrina (14). Ketua OSIS SMP Keluarga Kudus mengungkapkan, kegiatan lomba Lion dan Wushu antar-kelas baru pertama kali ini diselenggarakan. Dalam mempersiapkan kegiatan selama tiga hari tersebut, dia mengaku tidak ada kendala. Karena pengurus OSIS dan tim panitia semua kompak, selain itu juga dibantu oleh guru.

“Kegiatan Lomba Liong dan Wushu ini baru pertama kali di sini. Semua berjalan lancar berkat panitia dan OSIS semua kompak. Banyak guru yang mendukung dan membantu. Kami berharap dengan kegiatan ini bisa menambah semangat teman-teman yang ikut ekstra kurikuler liong, barongsai dan wushu agar semakin berprestasi,” ungkapnya.

Gisela menjelaskan kegiatan Lomba Liong dan Wushu digelar memperingati Imlek. Acara dimulai pukul 8.25 WIB, selesai dan ditutup dengan bagi-bagi angpau pukul 12.00 WIB. Jumlah panitia pelaksana kegiatan ada 26 orang, 16 orang anggota OSIS dan panitia pelaksana 10 orang. Untuk peserta lomba liong ada sembilan peserta dari perwakilan kelas masing-masing, dan lomba wushu ada tiga peserta perwakilan dari kelas tujuh.

- advertisement -

Inilah Sebabnya Honda Mobilio dan BR-V Paling Banyak Dibeli Kalangan Keluarga di Honda Kudus Jaya

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah kendaraan roda empat terlihat tertata rapi menghiasi ruangan show room Honda Kudus Jaya. Tampak di depan pintu masuk, terpakir dua unit mobil Honda Mobilio dan Honda BR-V. Dua mobil tersebut merupakan mobil yang paling banyak disukai kalangan keluarga karena hemat bahan bakar.

Showroom Mobil Honda Kudus
Showroom Mobil Honda Kudus Jaya. Foto Sutopo Ahmad

Di tengah-tengah kesibukannya selepas meating, Andi TW, selaku Supervisor Honda Kudus Jaya, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan mobil di tempatnya bekerja. Andi begitu akrab disapa, menjelaskan, Honda mobilio dan BR-V saat ini paling laku dibeli konsumen. Selain hemat bahan bakar, pengaruh spesifikasi dari kedua mobil dan kenyaman menjadi prioritas bagi konsumen dalam membeli.

“Paling laku terjual Honda Mobilio dan BR-V, tapi yang paling dominan Honda Mobilio. Soalnya dari segi kenyamanan, spesifikasi, bahan bakar, ketangguhan, mobil ini cocok untuk kalangan keluarga. Tak jarang juga dari kalangan pebisnis dan anak muda suka dengan model mobil tersebut,” ungkap Andi waktu di temui di Show Room Honda Kudus Jaya, Jalan Lingkar Selatan No. 168, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Pria yang tercatat sebagai warga di Desa Besito RT 3 RW 4, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengatakan, bekerja di Honda Kudus Jaya sudah hampir empat tahun. Sedangkan untuk tahun berdiri Show Room sudah memasuki usia lebih dari empat tahun, terhitung sejak 2012. “Sudah hampir empat tahun saya bekerja, kalau perusahaan berdiri mulai tahun 2012,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam jangka waktu satu bulan, pihaknya mampu menjual Honda Mobilio sebanyak  130 unit per bulan. Untuk BR-V berkisar antara 35 hingga 50 unit mobil yang laku terjual. Menurutnya, warna mobil yang terjual kebanyakan warna putih, hitam serta silver. Masalah konsumen, kebanyakan dari wilayah Kudus, Jepara dan Pati.

“Untuk penjualan tidak ada pengaruh yang signifikan dari bulan ke bulan, artinya setiap bulan masih stabil. Honda Mobilio 130 unit dan BR-V 35 hingga 50 unit yang terjual. Tapi biasanya Lebaran dan akhir tahun banyak pembeli yang datang,” ungkap Andi.

Dia menambahkan, untuk pembelian semua produk di Honda Jaya Motor bisa dilakukan dengan cara tunai maupun kredit. Bagi konsumen yang ingin membeli secara kredit, cukup mengeluarkan uang muka 20 persen dari nominal harga mobil yang dibeli. “Konsumen juga akan mendapatkan pelayanan berupa garansi mesin selama tiga tahun, jaringan service dan spare part,” tambahnya.

- advertisement -

Mantan Kuli Bangunan Ini Bersyukur Diterima Bekerja di Toko Alat Fitnes, Meski Tak Punya Ijazah

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di dalam ruko di tepi Jalan Jendral Ahmad Yani No 11 A, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sejumlah alat fitnes dan sepeda elektrik tertata rapi. Tampak dua orang pria sedang duduk sembari menunggu calon pembeli datang. Satu i antaranya yakni, Anang Sarwono (25), karyawan New Quality Group. Di toko menyediakan berbagai alat fitnes, alat kesehatan serta televisi home shopping tersebut, dirinya menjadi karyawan.

Toko Alat Fitnes di Kudus
Anang Sarwono, karywan New Quality Group Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Jarwo, begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaan ditekuni. Dia menjelaskan, menjadi karyawan di tempat dirinya bekerja sudah lebih dari tiga bulan. Meski tidak memiliki ijazah, pria asal Batang ini bersyukur bisa diterima kerja di New Quality Group.

“Sebelum bekerja di sini, dulu banyak pekerjaan yang sudah saya tekuni. Mulai dari kuli bangunan, buruh tani, tukang kebun, rumah makan di Jakarta, batik di Pekalongan dan yang terakhir membuat batu bata. Terus terang saya tidak punya ijazah, jadi bisa diterima kerja di sini saja saya sudah bersyukur,” ungkap Jarwo sambil tersenyum.

Dia menjelaskan, produk yang dijual di tempatnya bekerja bermacam-macam. Misalnya alat fitnes, ada treadmill elektrik maupun manual, six pack, platinum bike, magnetic, home gym, spinning bike, orbitract plat, stick, dumble dan lain-lain. Sedangkan alat kesehatan meliputi sepeda elektrik maupun manual, steam sauna, slimming suit, bantal pijat, pijat mata dan berbagai produk lainnya.

Pria yang mengaku anak terakhir dari lima saudara ini mengungkapkan, selain menunggu pembeli yang datang ke ruko, pemilik usaha juga melakukan pembelian lewat online. Namun pemasaran dia tidak melalui social media, melainkan melalui pemsaran online seperti OLX, Tokopedia, Bukalapak serta Lazada. “Katanya sih ruko penjualan kami itu besar, jadi harus lewat pasar yang lebih besar,” ujarnya.

Dia menambahkan, sejumlah produk yang di jual dia mengaku membeli langsung dari distributor asal Surabaya. Harga produk yang ditawarkan di New Quality Group sangat beragam, tergantung fungsi penggunaan dan model yang dijual. Misalnya treadmill elektrik dia jual seharga Rp 5,5 juta, treadmill manual dengan harga Rp 3,8 juta, sepeda elektrik Rp 3,8 juta, sepeda magnetic Rp 2,5 juta, platinum bike Rp 4,5 juta, six pack Rp 1,5 juta, ourbitract plat Rp 3,8 juta.

“Slimming suit Rp 550 ribu, smart wheel Rp 4,3 juta, matras jangsu dengan harga Rp 3,8 juta dan dumble per kilogram seharga Rp 35 ribu. Kami buka setiap hari, mulai pukul 7.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, dengan penjualan rata-rata, berkisar 50 produk per bulan,” tambah Jarwo yang mengaku pulang ke kampung halaman selama lima bulan sekali.

- advertisement -

Warga Tionghoa Kudus Lakukan Upacara Ci Swak untuk Mengusir Sial di Tahun Ayam Api

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Sejumlah warga Tionghoa di Kudus terlihat khusuk berdoa di depan patung di Klenteng Hok Hien Bio, Jalan Jendral Ahmad Yani, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, Sabtu (4/2/2014). Dengan memegang dupa, mereka mengikuti semua prosesi Ci Swak dipimpin beberapa orang yang mengenakan jubah hitam. Sesekali para mereka membungkukkan tubuh kedepan, dengan mengucapkan doa.

Upacara Ci Swak di Klenteng Hok Hien Bio
Upacara Ci Swak di Klenteng Hok Hien Bio. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara warga Tionghoa yang mengikuti upara Ci Swak, Saiful Annas (29), mengaku mengikuti upacara karena dirinya memiliki shio jhiong atau tidak hoki di tahun ayam api. Dia mempercayai ketika mengikuti prosesi Ci Swak, di tahun ayam api ini akan mendapatkan hoki dan bertambah berkah. “Semoga mendapatkan hoki ditahun ini,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Annas menjelaskan, shio yang dimilikinya yakni kelinci. Menurutnya shio kelinci akan mendapatkan sial di tahun shio ayam. Untuk membuang sial tersebut perlu dilakukan Ci Swak, supaya tahun ini tetap mendapatkan berkah rezeki dan kesehatan. Menurutnya, dia mengikuti proses berdoa bersama setelah itu memasukkan pecahan uang koin Rp 500 ke dalam wadah yang disediakan. “Saya punya usaha cucian mobil. Semoga semakin hoki,” tambah dia yang berasal dari Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus.

Sementara itu, Pengurus Klenteng Hok Hien Bio Kiswiyanto mengungkapkan, tradisi Ci Swak sudah ada sejak dulu. Menurutnya, tradisi tersebut untuk mengurangi kesialan seseorang yang memiliki shio jhiong di tahun ayam api. Dijelaskan, shio jhiong yakni kelinci, kuda, ayam dan tikus. “Mereka berdoa, supaya di tahun ayam api ini diberikan berkahan dan terhindar dari sial” ungkapnya.

Menurut Kiswiyanto, upacara yang dilakukan yakni berdoa selama sekitar 30 menit dengan dipimpin pemuka agama. Setelah itu, mereka juga menyumbangkan pakaian bekas layak pakai untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Pakaian-pakaian layak pakai tersebut akan disumbangkan kepada yayasan atau seseorang yang membutuhkan. “Untuk yang mengikuti Ci Swak sendiri ada 230 orang. Mereka berasal dari Kudus dan kabupaten sekitar,” terangnya.

Kiswiyanto menambahkan, upacara Ci Swak dilakukan pada awal tahun. Setiap tahun di Klenteng Hok Hien Bio diadakan ritual Ci Swak. Menurutnya, ada juga klenteng yang tidak melakukan Ci Swak, misalnya klenteng di dekat Menara Kudus. Dia mengungkapkan, puncak prosesi Ci Swak dilakukan nanti Sabtu malam pukul 24.00. Menurutnya ada sebuah hiasan yang dibakar untuk persembahan para dewa. “Puncaknya Sabtu malam. Ada hiasan yang dibakar untuk para dewa,” tambahnya.

- advertisement -

Jembatan Gantung Desa Jurang Akan Diganti yang Baru, Lebih Kuat dan Lebih Aman

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Laki-laki bertopi biru pelan-pelan berjalan di atas jembatan gantung Dukuh Karangrejo, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Dia terlihat memegang kawat baja yang menjadi penghubung antar ujung jembatan. Jembatan di atas Sungai Gelis tersebut menurut kepala dusun (Kadus) Karangrejo, Desa Jurang, Selamet Sutrisno, dibuat tahun 2009 saat terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kepala Desa Jurang
Kepala Desa Jurang, Miftahul Huda. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, jembatan gantung tersebut dibuat secara swasembada oleh masyarakat untuk digunakan para petani. Dia menjelaskan, banyak lahan petani warga Jurang yang letaknya di sebelah timur sungai. Karena letak rumah berada di sisi barat sungai akhrinya dibuatkanlah jembatan untuk menyebrang. “Sebenarnya lahan petani di timur sungai masih ikut Desa Jurang. Adanya jembatan tersebut murni untuk penyebrangan para petani,” tuturnya saat ditemui di kantor Desa Jurang, Kecamatan Gebog.

Selamet melanjutkan, sekarang jembatan gantung tersebut tidak hanya digunakan para petani, melainkan menjadi akses utama warga Desa Jurang serta Desa Samirejo yang ingin ke Desa Jurang melalui jalur cepat. Menurutnya, sekarang sudah ada warga Jurang yang membuat rumah di sisi timur sungai. “Sekarang sudah ada lima rumah. Daerahnya ikut Dusun Karangrejo Rt 2 Rw 5,” terangnya.

Ramainya orang yang datang ke jembatan tersebut sebenarnya membuat Selamet was-was, karena faktor keamanan. Menurutnya, dulu pernah ada jembatan bambu di sisi selatan jembatan gantung tersebut. Diceritakan, Saat itu ada pengunjung yang datang ke jembatan bambu, namun nahas jembatan ambruk dan orang tersebut tercebur ke dalam sungai. “Satu selamat dan yang satunya sampai sekarang belum ditemukan. Entah jasadnya di mana,” ungkapnya.

Baca juga: Meski Takut, Tiyas Tetap Melintasi Jembatan Gantung Desa Jurang yang Heboh di Instagram

Menurutnya, jembatan tersebut berada pada ketinggian 18 meter, arus sungai sangat deras. Jembatan tersebut juga sudah berumur dengan konstruksi tidak sekuat saat pertama kali dibuat. Selamet menuturkan, tali baja yang digunakan untuk jembatan hanya satu saja tidak ada pelapisnya.

“Ini desa sedang membuatkan jembatan baru dengan konstruksi lebih kuat tepat disamping jembatan gantung tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jurang Miftahul Huda yang juga berada di Kantor Kepala Desa Jurang mengungkapkan, jembatan gantung itu rencananya akan dihilangkan dan diganti dengan jembatan baru. Menurutnya, jembatan yang nantinya akan dibangun juga berupa jembatan gantung sama seperti jembatan lama. Namun dengan konstruksinya lebih kuat dan aman. Dia mengaku sudah menganggarkan sekitar Rp 28 juta dan akan langsung diselesaikan tahun 2017. “Tahun 2017 akan jadi,” jelasnya.

- advertisement -

Aplikasi Smile Police, Wakapolres: Tinggal Klik SOS, Selang Beberapa Menit Polisi Datang

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Sejumlah jajaran Polisi Resor (Polres) Kudus berkumpul di ruangan Command Center Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus, Jalan Jendral Sudirman. Mereka terlihat serius mengikuti video conference (vicon) dengan Polisi Daerah (Polda) Jawa Tengah yang tengah me-launcing aplikasi Smile Police (Sistem Manajemen Informasi Layanan Elektronik), Sabtu (4/2/2017).

Aplikasi Smile Police
Aplikasi Smile Police. foto: Imam Arwindra

Wakil Kepala Polres Kudus, Komisaris Polisi (Kompol) M Ridwan menjelaskan, aplikasi Smile Police berbasis Android yang menyuguhkan berbagai macam pelayanan polisi berbasis informasi dan teknologi. Smile Police dibuat oleh Polisi Jawa Tengah yang meliputi e-learning, e-trust bhabinkamtibmas, e-office, panic button, e-complain, dan public service.  Menurutnya, aplikasi Smile Police sudah dapat diunduh secara gratis di Play Store. “Smile Police sudah di-launcing serentak di polda dan polres. Namun bukan secara nasional. Aplikasi ini hanya ada di wilayah Polda Jateng saja,” jelasnya.

Polisi perwira menengah tersebut menjelaskan, e-learning berisi tentang edukasi publik dan peraturan-peraturan, e-trust untuk hubungan antara Bhabinkamtibmas yang ada di desa-desa dengan masyarakat. Disebutkan, jumlah Babinkamtibmas di Kudus ada 132 orang. Selain itu juga ada e-office yang khusus untuk anggota polisi. Untuk masyarakat disediakan panic button, e-complain, dan public service.

Ridwan melanjutkan, public service berisi informasi pembuatan SIM online dan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). E-complain untuk pengaduan masyarakat jika ada anggota polisi yang melakukan pelanggaran di lapangan. Dijelaskan, karena berkaitan dengan profesi akan langsung ditindak oleh Propam (Bidang Profesi dan Pengamanan).

Dan terakhir  yakni panic button, dia menjelaskan, aplikasi ini berfungsi saat masyarakat dalam kondisi darurat atau melihat kejadian kriminal dapat langsung mengeklik SOS pada aplikasi tersebut. Nantinya, polisi yang paling dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP) akan langsung datang. “Tinggal klik SOS, selang beberapa menit nanti akan ada polisi yang datang,” terangnya.

Dikatakan, aplikasi tersebut harus terkoneksi dengan internet karena menggunakan sistem GPS. Menurut Ridwan, saat masyarakat menekan SOS maka otomatis akan masuk pada komputer Polres Command Center. Nantinya petugas yang berada di Polres Command Center akan langsung menugaskan polisi yang berada dekat dengan TKP untuk menuju lokasi. “Caranya mudah. Masuk Play Store, cari Smile Police, instal panic button. Masukkan identitas pribadi sejelas-jelasnya,” tambahnya.

Menurutnya, dalam kurun waktu 24 jam polisi akan selalu siap untuk melayani masyarakat. Dijelaskan, di jajaran Polres Kudus per Januari 2017 terdapat 777 anggota. Menurutnya, tanpa terkecuali polisi yang akan memasuki masa pensiun juga harus siap mengikuti progam tersebut.

- advertisement -