Beranda blog Halaman 1924

Nanang: Gabung Komunitas Hidroponik Kudus, Kami Akan Dampingi Anggota Hingga Panen

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di lorong samping sebuah rumah, tampak seorang pria sedang melihat sejumlah tanaman yang tertata rapi di paralon lengkap dengan pompa air untuk irigasi. Pria itu adalah Nanang Naharudin Ahmad (31), pegiat Komunitas Hidroponik Kudus (KHK). Di komunitasnya itu, setiap dua atau tiga bulan sekali dirinya membuat pelatihan cara menanam dasar untuk anggotanya, dan memberi pendampingan hingga panen.

Sayuran Hidroponik
Ketua KHK Nanang Naharudin Ahmad. Foto: Ahmad Rosyidi

Nanang, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang komunitas yang dia bentuk tersebut. Dia mengatakan, selain berkomunikasi melalui media sosial, KHK juga rutin membuat pelatihan setiap dua atau tiga bulan sekali. Pelatihan itu dibutuhkan guna memantau dan memberi pendampingan hingga panen kepada anggota.

“Biasanya kami membuat pelatihan untuk anggota KHK setiap dua bulan atau tiga sekali. Untuk peserta memang kami batasi skitar 30 hingga 40 orang, menyesuaikan lokasi agar pelatihan bisanya efektif. Dalam pelatihan kami ada beberpa tahap, ada pelatihan teknik dasar menanam, pelatihan pembuatan instalasi, dan pelatihan pembuatan nutrisi,” ujar Nanang yang juga ketua KHK.

Dia juga merinci biaya pelatihan. Untuk pelatihan teknik dasar dikenakan biaya Rp 90 ribu. Selain mendapat perlengkapan awal menanam, juga mendapat pendampingan konsultasi melalui media sosial atau datang keskretariat di Jalan Ganesha Timur RT 5/ RW 7, Purwosari, Kota Kudus. Biaya pelatihan pembuatan instalasi Rp 150 ribu.

“Sedangkan biaya pelatihan pembuatan nutrisi Rp 500 hingga 700 ribu. Memang lebih mahal karena kami sesuaikan dengan tempat dan narasumber yang kami datangkan nantinya,” ungkapnya.

Tanaman yang biasa kembangkan ada beberapa jenis, di antaranya sawi, selada, tomat, melon, cabai, daun mine, okra, seledri, dan thyme. Meski modal awal terbilang cukup mahal, tetapi menanam dengan teknik hidroponik tidak menghabiskan banyak lahan dan lebih kecil resiko terserang hama.

“KHK terbentuk sejak tahun 2015, kami sering komunikasi lewat mendia sosial dan tidak ada kesepakatan pertemuan rutin. KHK lebih tepatnya komunitas di media sosial bagi warga Kudus yang ingin menanam dengan teknik hidroponik. Kalau serius ingin bertani dan orientasinya bisnis nanti bergabungnya dengan Kelompok Hidroponik Kudus (Kephik), yang saat ini baru sekitar 20 anggotanya,” jelas Nanang.

- advertisement -

Marjuki ‘Bentengi’ Kios Buah Miliknya Menggunakan Karung Pasir agar Air Tak Masuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Jalan Kudus – Purwodadi Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus tampak tergenang banjir. Di timur tepi jalan yang tergenang, tampak seorang pria menata puluhan karung berisi pasir di depan kios buah. Pria tersebut bernama Marjuki (57). Dia sibuk membendung  air supaya tak masuk ke dalam kios buah miliknya.

Tanjung Karang tergenang
Tanjung Karang tergenang

Di sela aktivitasnya tersebut, Marjuki sudi bercerita tentang usahanya kepada Seputarkudus.com saat terjadinya banjir beberapa terakhir ini. Dia mengungkapkan, sejak air meluap dan menggenangi jalan di depan kiosnya, dia sebisa mungkin berusaha agar air tak masuk ke dalam kiosnya. Karena dia berharap masih bisa menjajakan buahnya meskipun ketinggian air bisa terus meningkat.

“Aku berharap banjir cepat surut, namun kalau debit air banjir meningkat aku akan berusaha membendung air tersebut agar tidak masuk ke kios buah miliku. Agar aku tetap berjualan dan menghabiskan setok buah yang ada. Karena jika tak terjual kerugianku makin banyak,” ujarnya.

Pria yang rumahnya masih satu desa dengan tempat usahanya itu mengatakan, sebelum banjir saja, omzetnya turun drastis dan dia merugi. Apalagi jika banjir tersebut masuk ke dalam kios, aneka buah yang dia jual tak ada yang laku karena tak ada pembeli datang.

Marjuki berharap debit air tidak lagi bertambah sehingga, air banjir tak masuk ke kiosnya. Namun kalau melihat cuaca, dirinya pesimistis air banjir cepet surut. Dia mengaku menyiapkan alat lebih tinggi lagi untuk membendung banjir saat debit air mulai merangkak naik.

“Intinya aku berusaha sebisa mungkin mencegah banjir agar tak masuk ke kios penjualan buahku. Agar aku tetap bisa berjualan. Tapi kalau memang Tuhan berkehendak lain dan banjir masuk ke kios, aku akan menutup kios untuk sementara, dan siap menanggung rugi,” katanya

Dia mengungkapkan, saat hari sering cerah atau saat musim kemarau, Muslih menuturkan jualan aneka buah tersebut bisa meraup Rp 3,5 juta sehari. Namun beberapa hari belakangan ini sering hujan dan omzet jauh dari harapan. “Jangankan sejuta (Rp 1 juta), mencari omzet Rp 500 ribu sehari saja tidak mampu,” keluhnya.

Pria yang memiliki tiga anak itu mengatakan, di kiosnya tersebut menjual aneka buah lokal maupun impor. Dia lalu merinci berbagai macam buah yang dia jajakan di kiosnya, di antaranya, anggur, apel, pir, pepaya, rambutan, pisang, salak, jeruk, nanas dan lain sebagainya.

“Di kiosku jenis buahnya hampir lengkap. Namun saat intensitas hujan tinggi aku tidak menjual buah semangka dan melon. Karena selain kurang diminati saat musim hujan, buah tersebut juga  kurang bisa bertahan lama,” ungkap Marjuki

Dia menuturkan, sebenarnya jalan di depan kiosnya tersebut sering terendam banjir saat Sungai Wulan meluap ke timur. Dirinya berharap agar jalan tersebut mulai dari lampu merah Proliman Tanjung Karang sampai jalan tepat tikungan Klenteng ditinggikan. “Ya setidaknya ditinggikan sekitar 50 sentimeter lagi lah,” harapnya.

- advertisement -

Tukiman Relakan Tanaman Padinya untuk Pakan Ternak, Daripada Busuk Terendam Banjir

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Laki-laki berkaus hitam terlihat memanen tanaman padi yang daunnya masih tampak hijau. Dia memotong padi tersebut menggunakan sabit dan dikumpulkan di pematang sawah. Pada padi yang sudah diambil, hanya terlihat beberapa biji padi yang tak berisi. Selain itu, air juga terlihat menggenangi lokasi persawahan tak jauh dari Jalan Lingkar Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, akibat intensitas hujan yang tinggi beberapa hari terakhir ini.

padi puso
Petani Desa Jati Wetan gagal panen. Foto: Imam Arwindra

Tukiman (46), adalah pemilik lahan padi yang memanen tanaman padinya secara dini. Dia mengatakan pada musim tanam pertama (MT 1) gagal panen karena banjir. Agar tidak terlalu merugi, tanaman padi tersebut diambil untuk digunakan pakan sapi. “Lumayan, daripada tidak ada,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, sambil membopong padi yang sudah diikat dinaikkan ke atas becak.

Warga Desa Jati Wetan tersebut menuturkan, banjir di lahan pertanianannya dikarenakan aliran air menuju Sungai Wulan tidak lancar. Jumlah lahan persawahan yang tergenang banjir sekitar 10 hektare. Dikatakan Tukiman, dirinya sebenarnya hanya mempunyai seperempat bahu lahan sawah. Karena gagal panen dia menjual tumbuhan padinya untuk pakan sapi. “10 gulung saya jual Rp 50 ribu. Harga tersebut sudah termasuk biaya pengiriman ke Jati Kulon. Ini saya pakai becak,” ungkap dia yang juga bekerja sebagai tukang becak.

Menurutnya, seperempat bahu sawah padi hanya menghasilkan sekitar 20 ikat. Jadi uang yang didapatnya hanya Rp 100 ribu. Dia membandingkan, jika panen berhasil, dirinya bisanya mendapatkan 15 zak gabah. Satu zak memiliki bobot sekitar 40 kilogram. “Kalau harga gabah satu kilogram Rp 3.200, ya tinggal dikalikan,” terangnya.

Gagalnya panen, katanya, selain banjir juga banyaknya hanya burung dan tikus. Menurutnya, ketika siang burung menyerang dan saat malam tikus merusak tanaman. Tukiman mengatakan, sebenarnya, lahan persawahan di daerah tersebut sudah menjadi langganan banjir. Namun agar lahannya tidak tergarap, setiap musim tanam masyarakat tetap menanam padi. “Di sini hanya dua kali musim tanam. Padi yang ditanam berjenis Ciherang,” tambahnya.

- advertisement -

Nanang Manfaatkan Lahan Sempit Halaman Rumah untuk Menanam Sayur Hidroponik

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Sayur-sayuran hijau tumbuh di tembok halaman rumah di Jalan Ganesha Timur RT 5 RW 7, Desa Purwosari, Kota Kudus. Tampak seorang pria berbaju batik sedang merakit paralon sebagai media tanam metode hidroponik. Nanang Naharudin Ahmad (31), nama pria tersebut. Sejak 2014 dirinya sudah menekuni metode tanam tersebut sebagai cara untuk pemanfaatan lahan sempit di perkotaan.

Komunitas Hydroponik Kudus
Nanang, pegiatan hidroponik. Foto: Ahmad Rosyidi

Nanang, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang aktivitasnya menanam menggunakan metode hidroponik. Dirinya menekuni hidroponik berawal dari keinginannya untuk menanam, tetapi tidak memiliki lahan. Kemudian dia belajar tetntang cara menanam menggunakan metode tersebut. Saat ini Nanang menanam di halaman rumahnya, yang berukuran 4×2 meter. Dia menanam selada, dan setiap pekan bisa memanen sekitar dua hingga tiga kilogram.

“Awalnya saya ingin menanam tapi tidak punya sawah, halaman rumah juga sempit karena dekat jalan raya. Akhirnya saya belajar cara menanam menggunakan hidroponik. Waktu ikut pelatihan ketemu teman-teman yang memiliki hobi menanam menggunakan hidroponik. Kemudian kami membentuk Komunitas Hydroponik Kudus (KHK),” ungkapnya saat ditemui beberapa hari lalu.

Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) itu menerangkan, saat musim hujan seperti sekarang, tanaman yang sebagian banyak sayur menjadi rawan serangan jamur. Menurutnya lebih baik tanaman diberi atap dari plastik trasparan agar tidak terkena hujan, namun masih bisa terkena sinar matahari. Jika jamurnya sedikit, cukup dibersihkan.

“Saat hujan seperti ini tanaman rawan terserang jamur karena terkena air hujan. Jadi lebih baik ditutup menggunakan plastik. Kalau jamurnya sedikit-sedikit masih bisa dibersihkan, tetapi kalau sudah banyak ya harus diobati,” jelas warga Desa Jekulo, Jekulo Kudus itu.

Menurut Nanang, menanam menggunakan metode hidroponik, selain mahal memang cukup rumit. Dia mengatakan perlu belajar irigasi, mulai dari letak kemiringan, ukuran paralon, dan setting pompa airnya. Semua itu perlu diperhatikan, karena kunci terpenting dari tanaman hidroponik adalah aliran air.

“Untuk menanam menggunakan metode hidroponik memang rumit dan cukup mahal. Kunci utamanya adalah air, karena media kita menanam tidak menggunakan tanah. Jadi rumit kalau belum terbiasa, karena perlu mengatur aliran air agar tanaman kita bisa hidup dan subur,” terangnya.

- advertisement -

Putri Senang Tetap Bisa Belajar Meski Tanpa Meja dan Kursi Karena Sekolahnya Tergenang

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah anak nampak serius belajar di lantai dua ruang perpustakaan MI NU Basyirul Anam Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Dengan beralas tikar tanpa meja dan kursi mereka mengikuti pelajaran seperti hari-hari biasanya. Mereka pindah ke ruang perpustakaan, karena kelas yang biasanya digunakan belajar terendam air.

MI Tanggulangin kebanjiran
MI Tanggulangin kebanjiran. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com di ruang perpustakaan, siswa kelas tiga tersebut sedang menyimak materi yang diajarkan oleh guru. Mereka mengaku senang karena kelas mereka dipindah dan dapat mengikuti pelajaran seperti biasanya. Di antara mereka yang mengikuti pelajaran, Agustio Putri. Dia mengaku senang dapat belajar seperti biasanya. Dirinya juga mengaku tidak masalah harus belajar secara lesehan.

Menurutnya, kelas yang biasa digunakan tidak difungsikan karena tergenang air. Dia berharap, air cepat surut dan kembali ke kelas seperti biasanya. “Tidak apa-apa pindah kelas. Yang penting tetap belajar,” ungkapnya saat ditemui ketika istirahat.

Sementara itu, Kepala MI NU Basyirul Anam, Hayatin Nikmah menuturkan, terdapat tiga kelas yang tergenang air. Yakni kelas tiga MI NU Basyirul Anam dan dua kelas yang ditempati Raudatul Athfal (RA) Muslimat Basyirul Anam. Menurutnya, dua lembaga pendidikan tersebut masih di bawah naungan satu yayasan yakni Yayasan Basyirul Anam. “Hanya ada tiga yang tergenang air. Untuk kelas tiga dipindah di perpustakaan dan RA dipindah di rumah kepala sekolahnya,” ungkapnya.

Sambil membantu siswa mengeluarkan kursi dan meja dari dalam kelas, dia menjelaskan, air tersebut sudah menggenangi kelas selama dua pekan terakhir. Menurutnya, genangan air disebabkan drainase tidak lancar. Letak kelas yang berada di lokasi cekungan membuat air menggenang. Dia memperkirakan, jika hujan tak kunjung reda, dipastikan genangan akan semakin bertambah. “Air bermula dari halaman sekolah. Setelah itu masuk ke dalam kelas,” tuturnya.

Dia menyebutkan, jumlah siswa yang berada di kelas tiga yakni 23 anak. Sedangkan siswa RA 50 anak yang terbagi dua kelas, A dan B. Untuk mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, kelas tiga dipindah di perpustakaan dan RA dipindah di rumah kepala RA. “KBM aktif normal seperti biasa,” tambahnya.

Saat ditemui terpisah, Kepala RA Solikhah saat ditemui di kediamannya yang berjarak sekitar 100 meter dari sekolah menuturkan, dirinya memindahkan kelas ke rumahnya karena sudah tidak adanya lagi tempat. Menurutnya, dirinya menggunakan rumahnya untuk KBM sejak tanggal 25 Januari 2017. Sebelum itu, dirinya pernah menggunakan musala  sekitar sekolah. Namun karena musala juga tergenang, akhirnya diputuskan KBM dilakukan di rumahnya. “Anak-anak nampak nyaman dan senang,” ungkapnya.

Dia berharap, air segera surut agar siswanya bisa belajar dengan baik. Menurutnya, supaya banjir tidak menggenangi kelas lagi, perlu ada peninggian. Air yang sudah ada dilakukan penyedotan. Karena tidak mungkin lagi dibuat drainase, melihat letak sekolah yang berada di cekungan. “Berharap nanti ada yang membantu meninggikan. Supaya banjir tidak terulang kembali,” tuturnya.

- advertisement -

Karang Taruna Jati Wetan Buat Parkir Dadakan Saat Rumah Warga Terendam Banjir

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Puluhan kendaraan roda dua terparkir rapi di jalan masuk Dukuh Barisan dan Perumahan Tanjung Jati Permai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Jalan masuk yang disulap menjadi tempat parkir tersebut berada dekat dengan Tugu Laka Lantas di persimpangan Jalan Lingkar Selatan dan jalur Lingkar Kencing. Tempat parkir dadakan tersebut dibuat karena banjir merendam pemukiman warga di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Parkir dadakan banjir Jati Wetan
Parkir dadakan banjir Jati Wetan. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara warga yang menggunakan parkir dadakan tersebut yakni Sujanah (51). Dia mengatakan, rumahnya di Dukuh Barisan RT 1, RW 3 Desa Jati Wetan terendam banjir. Menurutnya, air sudah masuk ke dalam rumah hingga ketinggian selutut orang dewasa. Karena tidak memungkinkan motornya dibawa ke rumah, Sujananh menitipkan motornya ke pos parkir motor. “Adanya pos tersebut sangat membantu. Motor saya tetap aman karena saya harus keluar untuk bekerja,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com, Kamis (9/2/2017).

Dia mengungkapkan, setiap hari dirinya harus berkerja di Djarum menggunakan motor. Jika motornya dibawa ke rumah, dirinya khawatir motornya mogok karena terendam air. Agar motornya bisa digunakan untuk bekerja, Sujanah memarkir sepeda motornya bersama dengan penduduk lainnya. “Ini motor saya,” tambahnya sambil menunjuk motor Honda Supra ketika diminta menunjukkan lokasi motornya.

Sementara itu, Ketua Rt 1 Rw 3 Dukuh Barisan Desa Jati Wetan Bronto (50) menuturkan, terdapat ratusan motor yang terparkir di pos parkir Dukuh Barisan. Warga yang menitipkan motornya yakni warga yang tinggal di Dukuh Barisan dan Perumahan Tanjung Jati Permai. Pos parkir tersebut dibuat sejak pukul 11.00 Rabu malam (8/2/2017). Diceritakan, sebelum itu warga sudah menaruh motornya di musala. Karena ketinggian air terus naik, akhirnya dibuatkanlah parkir motor di daerah yang lebih tinggi. “Daerah sini langganan banjir. Jadi sudah terbiasa tempat ini digunakan untuk parkir,” ungkapnya.

Baca juga: Hujan Tak Kunjung Reda, Tapi Sayang Pompa Air di Tanggulangin Justru Rusak

Menurutnya, di dukuh Barisan ada sekitar 125 kepala keluarga yang rumahnya terendam. Ketinggian air rata-rata sekitar 60 Sentimenter. Di pos parkir yang disediakan dijamin keamanannya.  Bronto menjelaskan ada sekitar 15-20 pemuda Karang Taruna yang secara bergantian 24 jam menjaga motor-motor tersebut. Di pos parkir tersebut warga tidak dikenakan biaya sama sekali. Namun biasanya warga secara bergantian mengirimkan makanan untuk para pemuda Karang Taruna. “Untuk mobil sudah keluar. Biasanya dititipkan di rumah-rumah saudaranya,” terangnya.

Kepala Desa Jati Wetan Suyitno (56) menuturkan, terdapat dua pos parkir yang ada di Desa Jati Wetan, yakni di jalan masuk Dukuh Barisan dan Gendok. Pos tersebut digunakan warga untuk menitipkan motornya karena rumah mereka terendam air. Warga akan berjaga 24 jam secara bergantian supaya motor tersebut benar-benar aman. “Itu sudah kebiasaan setiap tahun,” tambahnya.

- advertisement -

Bank Jateng Kudus Siapkan Hadiah All New Avanza Bagi Nasbah yang Beruntung

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Satu unit mobil Toyota All New Avanza dan empat Honda Vario, terlihat dipajang di tepi pintu masuk Bank Jateng Kudus, Jalan Jendral Sudirman. Mobil itu tampak masih terbungkus plastik tanpa plat nomor. Warna warni pita terlihat menghiasi lima unit kendaraan itu. Mobil dan sepeda motor merupakan hadiah undian Tabungan BIMA yang nantinya akan diberikan kepada nasabah Bank Jateng Kudus yang beruntung.

Bank Jateng Kudus
Bank Jateng Kudus. Foto: Sutopo Ahmadiap

Kepada Seputarkudus.com, Umi Choiriyah (47), Tim Pemasaran Bank Jateng Kudus, sudi berbagi penjelasan terkait program pemberian hadiah kepada nasabah tersebut. Dia menjelaskan, hadiah itu merupakan wujud apresiasi Bank Jateng Kudus bagi nasabah yang telah setia terhadap produk Tabungan BIMA. Pada periode kedua 2016/2017, hadiah yang diberikan berbagai macam, beberapa di antaranya Toyota Avanza dan Honda Vario.

“Ini periode kedua kami memberikan hadiah. Pertama bulan April hingga September dan yang kedua Oktober hingga Maret. Hadiah pertama, ada satu mobil Avanza, yang kedua empat Vario, ketiga ada empat emas batangan dengan berat 10 gram per batang dan yang terakhir TV LED 32 inch,” ungkapnya saat ditemui di Jalan Jendral Sudirman Nomor 158, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, beberapa hari lalu.

Warga Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, ini melanjutkan, selain hadiah tersebut, dia mengatakan ada satu lagi hadiah utama yang akan diberikan kepada nasabah. Namun hadiah itu tidak pemberian dari Bank Jateng Kudus saja, melainkan pemberian dari lima cabang Bank Jateng sebagai pihak penyelenggara. “Untuk grand prize, nanti ada satu unit mobil Toyota Fortuner,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain dari Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Jepara juga ikut dari bagian tim penyelenggara. Sedangkan waktu pengundian hadiah akan dilakukan pada April di Kabutan Pati. “Sebenarnya seluruh wilayah Jawa Tengah juga ada pengundian hadiah, cuma untuk wilayah Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Jepara dijadikan satu. Masing-masing cabang nanti juga ada undian hadiah,” ungkapnya.

Karyawan yang sudah selama 29 tahun bekerja di Bank jateng Kudus, ini menjelaskan, bagi nasabah yang ingin mendapatkan satu kupon agar memiliki kesempatan mendapat hadiah, minimal harus menabung sebesar Rp 500 ribu. Nasabah berhak mendapatkan  hadiah motor, emas serta TV. Untuk minimal tabungan Rp 5 juta, nasabah berhak hadiah mobil Avanza dan TV. Sedangkan bagi nasabah yang menabung minimal Rp 30 juta berhak mendapatkan hadiah semuanya, termasuk grand prize Toyota Fortuner.

Dia menambahkan, setelah adanya produk Tabungan BIMA, angka nasabah setiap bulan mengalami peningkatan. Dia mencatatat, khusus di Cabang Bank Jateng Kudus pada bulan Januari 2017 sebanyak 11.958 nasabah. “Kalau digabungkan dengan kantor cabang pembantu (KCP) Kudus Plasa dan KCP Pasar Kliwon Kudus sebanyak 22.379 nasabah,” tambahnya.

- advertisement -

Hujan Tak Kunjung Reda, Tapi Sayang Pompa Air di Tanggulangin Justru Rusak

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Air keruh terlihat mengalir deras dari pipa berbentuk bulat menuju Sungai Wulan tak jauh dari jembatan Tanggulangin. Air tersebut berasal dari pemukiman warga Dukuh Tanggulangin Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Pemukiman mereka tergenang banjir karena curah hujan yang tinggi beberapa hari terakhir ini. Menurut, Kepala Desa Jati Wetan Suyitno (56), pipa tersebut berasal dari pompa air yang digunakan untuk menyedot air banjir dari pemukiman warga.

Banjir Desa Jati Wetan Kudus
Banjir Desa Jati Wetan Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Suyitno mengatakan, ada dua pompa air di desanya. Namun satu pompa tak berfungsi karena rusak. Menurutnya, kedua pompa air tersebut sebelumnya masih berfungsi. Saat dirinya datang di pagi hari pukul 06.00 WIB, pompa yang satu pompa mati. “Kemungkinan matinya sejak fajar,” tuturnya saat ditemui di dekat jembatan Tanggulangin, Kamis (9/2/2017).

Dia menjelaskan, sejak Rabu (8/2/2017) malam pukul 11.00 WIB, curah hujan di Kudus sangat tinggi. Karena hal itu tiga dukuh di Desa Jati Wetan terendam banjir. Air hujan yang mengguyur pemukiman di Desa Jati Wetan tidak bisa mengalir ke Sungai Wulan karena posisi tanggul lebih tinggi. Oleh sebab itu, pemukiman terendam hingga mencapai ketinggian pusar orang dewasa. “Ketinggiannya bervariasi. Di Dukuh Barisan tingginya air sampai pusar orang dewasa,” ungkapnya.

Suyitno mengatakan, tiga dukuh yang terendam banjir yakni Dukuh Tanggulangin, Dukuh Gendok dan Dukuh Barisan. Di Dukuh Tanggulangin air menggenang pemukiman tiga RT di RW 3. Yakni RT 3 sejumlah 87 kepala keluarga, RT 4, 170 kepala keluarga dan RT 5 sejumlah 153 kepala keluarga. Selanjutnya di Dukuh Gendok terdapat tiga RT di RW 3, yakni RT 2, 90 kepala keluarga, RT 6 sejumlah 90 kepala keluarga dan RT 7, 43 kepala keluarga. Dan Dukuh Barisan hanya satu RT di RW 3, yakni RT 1 sejumlah 125 kepala keluarga. “Air tidak bisa dilewatkan pintu air. Karena lagi-lagi posisi sungai yang lebih tinggi. Jika dibuka nanti malah air sungai masuk ke pemukiman,” terangnya.

Keberadaan pompa pembuangan air yang rusak diungkapkan Suyitno sudah dicek sejumlah pihak terkait. Dia berharap pompa pembuangan air yang rusak segera diperbaiki. “Kalau alat tersebut sebenarnya milik BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana). Alat  tersebut sudah ada dari tahun 2011. Kalau bisa diganti, karena sudah mocat-macet,” tambahnya.

- advertisement -

Aang, Generasi Ketiga Usaha Kerupuk di Purwosari, Beruntung Kakeknya Mewariskan Oven

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di tepi Jalan HM Subchan ZE Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tampak rumah berwarna hijau dengan halaman cukup luas. Di halaman rumah tersebut terlihat ratusan kerupuk mentah (krecek) dijemur dengan alas anyaman bambu. Di dalam bangunan rumah tersebut tampak seorang pria mengecek ribuan krecek yang berada di dalam tungku oven. Pria tersebut bernama Asep Zarkasi (37), pemilik usaha pembuatan kerupuk yang tak pernah khawatir produksi kerupuknya menurun meski tiap hari hujan turun.

Pembuatan kerupuk
Pembuatan kerupuk di Purwosari

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Aang itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia menuturkan, usaha kerupuk tersebut didirikan oleh kakeknya sejak tahun 1958. Dan sejak dulu pula produksi kerupuk yang sekarang Asep kelola, selalu stabil dan tak pernah menurun produksinya meskipun musim hujan. Karena menurut Asep usaha kerupuk miliknya tersebut sudah mempunyai ruangan oven peninggalan kakeknya.

“Dengan ruang oven peninggalan kakekku, aku tak pernah khawatir ribuan kerecek yang diproduksi  tak kering. Karena ruangan oven untuk mengeringkan ribuan kerecek ini dibuat oleh kakekku. Sejak memiliki ruangan oven tersebut, produksi kerupuk tetap stabil meskipun setiap hari turun hujan terus menerus. Karena ruangan oven tersebut setiap hari mampu mengeringkan sekitar 30 ribu kerecek setiap hari,” ujar Aang.

Pria yang menjadikan rumah tinggalnya sekaligus tempat usaha itu mengatakan, 32 ribu kerecek tersebut terdiri dari kerecek bakal kerupuk besar sekitar 12 ribu, dan kerecek untuk kerupuk kecil sekitar 20 ribu. Sedangkan di ruang oven tersebut memiliki sekitar lima tungku untuk mengeringkan semua kerecek yang diproduksi. Aang mengatakan, meskipun tungku buatan kakeknya itu masih manual namun bisa diandalkan dan sangat membantu proses pengeringan kerecek saat cuaca tek menentu.

Baca juga: Video: Pembuatan Kerupuk di Desa Purwosari Ini Dilakukan Secara Tradisional untuk Menjaga Cita Rasa

Aang mngungkapkan, tak tahu persis berapa harga untuk membuat ruangan sekaligus tungku oven tersebut. Namun menurutnya dengan memiliki ruangan oven tersebut para pelangganya selalu kebagian kerupuk. Dia juga mengungkapkan, usaha kerupuk yang didirikan oleh kakeknya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan. Hingga seluruh produksi kerupuknya selalu habis terjual dalam sehari.

“Para pelanggan yang merupakan pedagang kerupuk datang membeli kerupuk saat sore hari. Mereka datang saat kerupuk-kerupuk tersebut baru diangkat dari penggorengan dan masih hangat,” ujarnya.

Aang menuturkan, menjual kerupuknya tersebut kepada para pelanggannya dengan harga Rp 300 per biji. Setiap pembelian seratus biji kerupuk mendapatkan bonus antara 20 sampai 30 kerupuk. Sedangkan untuk harga eceran dia mengaku menjual kerupuk dengan harga Rp 400 pe rbiji.

“Aku memang membedakan antara pelanggan (bakul) dengan pembeli perorangan, meskipun ada orang yang datang membeli kerupuk dalam jumlah ribuan. Namun orang tersebut tidak langganan, maka harganya ikut harga ecer. Karena itu merupakan komitmen dengan para pelanggan, agar aku tak menyamakan harga para pelanggan dengan pembeli sesekali datang” jelasnya.

- advertisement -

Meski Vespa Jadul Tergerus Zaman, Namun Bengkel Milik Soleh Tak Pernah Sepi Pelanggan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di tepi timur Jalan AKBP Agil Kusumadya Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah rumah dengan banyak motor Vespa jadul di depannya. Di dalam rumah terlihat dua orang pria sibuk memperbaiki Vespa. Satu di antaranya sedang melepas ban pada kendaraan skuter tersebut. Pria itu bernama Soleh Efendi (55), pemilik bengkel khusus Vespa di Kudus yang memiliki banyak pelanggan, bahkan hingga Semarang.

Jasseca Bengkel Khusus Vespa di Kudus
Jasseca, bengkel khusus Vespa di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya memperbaiki Vespa, pria yang akrab disapa Soleh itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, usaha bengkelnya tersebut ia dirikan sejak masih remaja, Tepatnya pada tahun 1976. Menurutnya bengkelnya tersebut sampai sekarang masih memiliki pelanggan tetap. Bahkan para pelangganya tersebut menjadi langganan sejak dirinya masih remaja.

“Bengkel Vespaku ini sudah memiliki pelanggan loyal dari sejak dulu. Para pelanggan merupakan teman-temanku di komunitas Vespa yang sudah kenal sekitar 30 tahun lalu. Tidak hanya di Kudus, para pelangganku juga ada yang berasal dari luar daerah, Semarang, Demak, Jepara, Purwodadi, Pati, hingga Rembang,” ujar Soleh yang tergabung dalam komunitas Vespa bernama Jasseka.

Pria yang menjadikan rumah sekaligus tempat usahanya tersebut mengatakan, meskipun para pelangganya sudah tua tapi mereka teteap setia dengan kendaraannya. Bahkan mereka juga aktif di komunitasnya. Para pelanggan dari Kudus kebanyakan mereka masih satu komunitas denganya. Namun tak jarang juga, ada yang berasal dari komunitas lain.

Sedangkan para pelanggan dari luar Kudus, menurutnya, bertemu di acara kopdar antar komunitas Vespa se-Jawa Tengah. Tak lupa di momen tersebut, dia jadikan untuk memberitahu kepada siapa saja bahwa dirinya memiliki bengkel khusus Vespa. Sejak saat itu, banyak para pemilik Vespa dari luar daerah datang untuk memperbaiki Vespa mereka.

“Saking percayanya mereka pada hasil perbaikan yang saya lakukan, pernah beberapa kali para pelanggan dari luar Kudus sampai mengangkut Vespa rusaknya memakai mobil. Karena dibengkelku, jangankan cuma rusak, Vespa ringsek setelah ketabrak truk atau kontainer, aku sanggup memperbaikinya,” ujarnya

Pria yang dikaruniai dua anak tersebut mengatakan, untuk perbaikan kerusakan berat pada Vespa dia kenakan biaya paling mahal Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk kerusakan ringan dia minta upah sekitar Rp 1 juta. Ganti oli, membersihkan karburator, serta setel platinum dia kenakan biaya Rp 25 ribu. Sedangkan turun mesin dia menarif Rp 100 ribu. Menurutnya harga tersebut untuk upah tenaga saja, sedangkan untuk ganti onderdil, biaya ditanggung pemilik Vespa.

Dia mengaku bengkelnya itu buka Senin hingga Sabtu, dan untuk aktivitas di bengkel tersebut dia dibantu dua orang pekerja sekaligus teman komunitasnya. “Aku bersyukur meski motor Vespa lama seolah tergerus zaman, namun bengkelku tak pernah sepi pelanggan. Aku bersama para pekerja tak pernah menganggur,” ungkapnya.

- advertisement -

Catatan, Tanggul Sungai Wulan Tiga Kali Jebol Sejak 1991

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Tanggul terbuat dari tanah terlihat membentang di sisi timur Jalan Kudus-Purwodadi. Tanggul itu berada dekat dengan pemukiman warga di Kecamatan Undaan, Kudus. Tanggul berfungsi penahan air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Wulan dengan pemukiman. Sungai Wulan menjadi pemisah dua Kabupaten Kudus dan Demak.

Waduk Wilalung Desa Kalirejo
Waduk Wilalung Desa Kalirejo

Noor Ali, Kordinator Bangunan Pengendali Banjir Wilalung Lama (BPBWL) menjelaskan, tanggul tersebut sangat penting keberadaannya menahan air Sungai Wulan saat debit air meluap ke DAS. Sejak tahun 1991, tercatat tiga kali tanggul jebol yang mengakibatkan banjir besar.

“Dari tahun 1991 pernah ada banjir besar tiga kali di wilayah Kecamatan Undaan. Banjir dikarenakan tanggul jebol,” ungkapnya saat ditemui di kantor BPBWL, Senin (6/2/2017).

Dia menjelaskan, aliran Sungai Wulan melintasi dua pintu Bendungan Wilalung di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Sedangkan sembilan pintu lain bendungan tersebut mengarah ke Sungai Juwana, memiliki hilir di laut Kabupaten Pati (Juwana).

Baca juga: Surikah Waswas Air di Tanggul Undaan Lor Bisa Jebol Jika Air Sungai Wulan Terus Bertambah

Dijelaskan, banjir terparah terjadi pada tahun 1993. Menurutnya kejadian tersebut tepatnya tanggal 31 Januari 1993, tanggul jebol di Sungai Juwana di Desa Kalirejo. Saat itu debit air 1.560 meter kubik per detik. Dikatakan Ali, bermula dari jebolnya tanggul di Desa Kalirejo meluas ke timur. Selain itu tanggul di Desa Medini juga jebol. Air meluas ke utara dan menenggelamkan hampir sebagian besar Kecamatan Undaan. “Itu banjir terbesar. Satu kecamatan tenggelam,” ungkap dia.

Selanjurnya banjir terjadi lagi tahun 2007, tepatnya tanggal 20 Desember 2007. Menurutnya kejadian tersebut di akhir tahun sebelum Natal. Diceritakan, saat itu terdapat lima titik tanggul jebol di tanggul sisi kanan sungai Wulan Desa Medini. Debit air disebutkan 1.100 meter kubik per detik. Kejadian tersebut menjadikan banjir di Desa Medini dan meluas ke desa-desa kecamatan Undaan. “Kalau teringat banjir tersebut membuat (kantor) koramil Undaan hancur,” tambahnya.

Yang terakhirnya menurut Noor Ali tahun 2013, tepatnya 10 April 2013. Namun jebolnya tanggul tersebut tidak berada di daerah Kudus melainkan di sisi kiri tanggul sungai Wulan yakni Kecamatan Mijen, Demak. Saat itu debit air 1000 meter kubik per detik.  Dikatakan, bendungan Wilalung mendapatkan kiriman air dari Sungai Serang (bendung Kedungombo di Kabupaten Grobogan) dan sungai Lusi (Pegunungan kapur Blora dan Grobogan). Setelah itu, akan dialirkan melalui Bendungan Wilalung ke dua pintu menuju sungai Wulan dan Sembilan pintu menuju sungai Juana. “Agar tidak terulang banjir kembali jangka pendek yang dilakukan yakni normalisasi sungai,” tambahnya.

- advertisement -

Video: Pembuatan Kerupuk di Desa Purwosari Ini Dilakukan Secara Tradisional untuk Menjaga Cita Rasa

0

SEPUTAR KUDUS.COM, PURWOSARI – Beberapa orang terlihat menyusun cetakan kerupuk basah di atas anyaman bambu. Setelah tersusun rapi sebagian orang dengan sigap mengangkati anyaman bambu tersebut untuk dijemur di pelataran. Di ruangan lain, terlihat seorang pria memakai kaus warna hitam berbicara dengan satu orang karyawan, sambil mengecek hasil kerecek yang sudah kering tersebut. Pria tersebut bernama Asep Zarkasi (37), generasi ketiga penerus usaha pembuatan kerupuk, yang tetap mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional.

Pembuatan kerupuk di Purwosari
Pembuatan kerupuk di Purwosari. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengecek hasil kerja para karyawanya, pria yang akrab disapa Aang itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, untuk mempertahankan cita rasa dan gurihnya kerupuk yang dia produksi, dia tetap mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional, meski sudah punya mesin pembuatan kerupuk. Menurutnya, produksi secara tradisional tersebut hasilnya lebih diminati dari pada kerupuk yang dibuat secara modern atau menggunakan mesin.

“Kerupuk yang dibuat secara tradisional rasanya lebih enak dan lebih diminati para pembeli. Karena alasan tersebut pembuatan kerupuk secara tradisional tetap aku pertahankan, meskipun biaya operasionalnya lebih besar dari pada membuat kerupuk dengan menggunakan mesin,” ujarnya.

Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, untuk memenuhi permintaan kerupuk seluruh pelanggan, dia juga memproduksi sebagian kerupuknya menggunakan mesin. Karena setiap hari permintaan kerupuk mencapai puluhan ribu. Jika pembuatan kerupuk dilakukan secara tradisional, dirinya tidak akan bisa memenuhi permintaan kerupuk para pelangganya.

“Pembuatan kerupuk secara tradisional itu selain lebih lama juga memerlukan tenaga pencetak kerupuk lebih banyak dan tentu yang sudah mahir. Berbeda dengan mesin yang mampu mencetak kerupuk puluhan ribu dalam sehari. Bahkan, kalau aku ingin bisa saja aku membuat kerupuk hanya menggunakan mesin saja, jika aku tak mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional,” ujarnya.

Meski biaya pembuatan kerupuk secara tradisional lebih mahal, Asep megaku menjual kerupuknya dengan harga sama semua yakni Rp 300 per biji untuk pelanggan, dan Rp 400 per biji selain pelanggan. Yang membedakan hanya imbuhan per 100 kerupuk. Untuk kerupuk dibuat tradisional setiap pembelian 100 kerupuk dapat tambahan 30 kerupuk, sedangkan kerupuk dibuat mesin dengan jumlah yang sama, hanya dia tambahi 20 kerupuk.

Sejak usaha pembuatan kerupuk tersebut, Aang mengatakan, selain menjual kerupuk juga menjual kerecek. Hal tersebut dia lakukan untuk memenuhi permintaan pedagang pasar. Menurutnya, para pedagang pasar itu meminta berupa kerecek untuk memenuhi pembelian dari luar Kudus.

Aang menuturkan, permintaan kerecek produksinya lumayan bagus. Permintaan mencapai lima kwintal dalam sepekan, dengan harga Rp 12 ribu per kilogram. Untuk memproduksi kerecek dan kerupuk secara tradisional dan mesin, dia mempekerjakan sekitar 12 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, pekerja harian dan borongan.

“Aku bersyukur usaha kerupuk yang didirikan kakeku bertahan sampai sekarang. Dan aku berharap dengan mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional, kerupuk dan kerecek produksiku makin diminati para pembeli,” harapnya.

- advertisement -

Showroom Motor Bekas di Pedawang Ini Bisa Jual Hingga 30 Unit Tiap Bulan, Jenis Matic Laku Keras

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Sejumlah kendaraan roda dua terlihat tertata rapi di dalam bangunan, tepatnya di Jalan Mayor Kusmanto nomor 550, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Tampak di ruangan itu, dua orang pria sedang duduk sambil melihat layar ponsel. Satu di antara pria tersebut yakni Ragil Woto (32), karyawan showroom motor bekas Ragil Motor. Dia mengungkapkan, motor jenis matic mendominasi penjualan di tempatnya. Menurutnya, dalam satu bulan, pihaknya bisa menjual sekitar 15 hingga 30 unit motor matic per bulan.

Showroom Ragil Motor Pedawang
Showroom Ragil Motor Pedawang. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli datang, Ragil, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com terkait penjualan di motor bekas di showroom-nya. Dia menjelaskan, jenis motor matic yang diminati pembeli kebanyakan didominasi dua merek motor ternama, yakni Honda dan Yamaha. Produk dua motor tersebut, katanya, praktis dikendarai, nyaman serta cocok bagi semua kalangan.

“Penjualan terbanyak didominasi jenis matic, baik dari Honda maupun Yamaha. Alasannya praktis, nyaman dan cocok bagi semua kalangan. Kan tinggal duduk, tinggal tancap gas langsung jalan,” ungkap Ragil yang bertempat tinggal di Desa Pedawang RT 4 RW 3, Kecamatan Bae, Kudus.

Dia menjelaskan, motor matic yang sering laku terjual dari merek Honda meliputi Vario, Beat dan Scoopy. Untuk motor matic Yamaha meliputi Mio Soul, Mio GT, Mio M3 dan Yamaha Fino.

Pria yang sudah dikaruniai satu orang anak ini mengatakan, selain menunggu calon pembeli yang datang, pihaknya juga melakukan promosi melalui media sosial, yakni Facebook. Untuk motor bekas, dia mengaku mendapatkan sejumlah motor dari beberapa orang yang menawarkan motornya di showroom. “Biasanya nanti ada makelar sendiri yang menawarkan maupun menjualkan,” ujarnya.

Menurutnya, pembeli yang datang kebanyakan dari wilayah Kudus, meliputi Desa Gondangmanis, Salam, Ngembal Rejo maupun Margorejo. Tidak jarang dari ilayah Jepara dan Pati datang membeli kendaraan di tempat dia bekerja. “Yang datang dari Jepara dan Pati, itu karena bantuan media sosial,” ungkapnya.

Dia menambahkan, harga yang ditawarkan Ragil Motor bagi setiap unit motor sangat beragam, tergantung jenis motor dan tahun produksi motor yang hendak dibeli. Misalnya seperti matic Honda 2013 dijual mulai harga Rp 10 juta, matic Yamaha Rp 8 juta hingga Rp 9 juta. Sedangkan Vixion 2014 seharga Rp 18 hingga 19 Juta, Supra X 125 mulai harga Rp 10 juta dan Jupiter Z dengan harga Rp 8 juta.

Showroom kami buka pukul 8.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Bagi setiap pembelian, kami memberikan garansi motor satu bulan. Pembayaran juga bisa dilakukan dengan cara tunai maupun kredit, minimal 25 persen uang muka,” tambahnya.

- advertisement -

Agus: Murid Saya Perlu Belajar Tentang Loyalitas Persaudaraan dari Komunitas Hijet

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Puluhan mobil hijet berjejer rapi dihalaman Taman Budaya Kudus, (5/2/2017) pagi. Nampak seorang pria mengenakan baju orange yang terlihat berkomunikasi dengan sejumlah anak perempuan yang duduk di depan pintu masuk. Dia adalah Agus Siswanto (35), yang mengajak sembilan muridnya di sekolah Taman Siswa (TS) Kudus di acara ulang tahun Kudus Hijet Independen (KHI). Mereka dilibatkan dalam kegiatan tersebut agar bisa belajar menjadi panitia.

Komunitas Hijet Kudus
Ulang tahun pertama Komunitas Hijet Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Agus, begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Agus mengungkapkan dirinya tak jarang menawarkan murid-muridnya untuk belajar di luar kelas. “Ketika ada momen yang bisa menjadi pembelajaran, saya mengajak murid-murid yang berminat untuk ikut,” ujar Agus yang juga menjadi panitia dalam kegiatan tersebut.

Baca juga: 

Menurutnya, banyak pembelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ulang tahun KHI dan IHM Jawa Tengah bagi muridnya. Selain belajar berinteraksi sosial, kerja tim dalam melaksanakan kegiatan, dan loyalitas persaudaraan di komunitas Hijet yang bisa menjadi pembelajaran penting. Banyak komunitas Hijet dari berbagai daerah yang datang dengan keluarganya, menunjukan kuatnya rasa persaudaraan di komunitas.

“Saya sengaja mengajak anak-anak yang mau ikut untuk belajar di acara ini, dan ada Sembilan anak yang ikut. Karena saya merasa ada banyak yang bisa mereka dapatkan dari kegiatan ini, jadi saya coba mengajak mereka. Menurut saya ilmu sosial menjadi hal penting untuk bekal mereka bermasyarakat”, ungkap warga Nalumsari, Jepara itu.

Agus juga menjelaskan, awalnya panitia kegiatan memilih Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, sebagai tempat pertemuan. Dengan pertimbangan sekaligus memperkenalkan salah satu wisata di Kudus. Karena khawatir terjadi banjir, kemudian memilih di Taman Budaya Kudus, dengan halaman yang luas cukup untuk banyak parkir mobil.

Santoso (50), anggota Polsek Bae yang bertugas dalam acara tersebut, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan yang positif, dan komunitas-komunitas penuh kebersamaan seperti komunitas Hijet. Dia juga berharap kedepanKHI bisa lebih berkembang dan bermanfaat.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi komunitas-komunitas yang positif, tidak hanya komunitas Hijet, tapi semua komunitas yang melakukan kegiatan positif dan bermanfaat. Harapan saya, KHI bisa lebih berkembang, tidak hanya bermanfaat untuk komunitas, melainkan untuk masyarakat pada umumnya,” jelas pria kelahiran Demak itu.

- advertisement -

Datang di Ulang Tahun Komunitas Hijet Kudus, Subianto Boyong Anak Cucu dari Blitar

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Suara musik terdengar dari Taman Budaya Kudus, (5/2/2017) pagi. Terlihat seorang pria berjalan berpindah-pindah tempat menyapa teman-temannya di acara ulang tahun Kudus Hijet Independen (KHI) dan Independen Hijet Mania (IHM) Jawa Tengah . Pria berkumis tebal itu bernama Subianto (57). Dia datang dari Blitar, Jawa Timur, dengan delapan orang keluarganya.

Subianto Komunitas Hijet
Subianto, Komunitas Hijet. Foto Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com Subianto sudi berbagi kisah tentang perjalanan dirinya bersama keluarga ke Kudus demi bertemu sesama penggemar Hijet. Dia mengaku bersama keluarganya berangkat dari Blitar, Jawa Timur pukul 11.00 WIB, sampai di Kudus pukul 00.00 WIB. Mereka datang membawa tiga mobil Hijet. Dia mengaku sering mendatangi acara komunitas mobil hijet di luar daerahnya. Dan saat menghadiri acara dia selalu mengajak keluarga.

“Saya ke sini bersama keluarga, anak, cucu, dan saudara. Kami membawa tiga mobil, kebetulan anak dan saudara saya juga ikut Hijet Bumi Bungkarno (HBB) Blitar Jawa Timur. Kami sering menghadiri acara seperti ini, sekalian jalan-jalan,” ungkap ketua HBB Blitar Jawa Timur itu.

Subianto mengaku sudah sekitar enam tahun ikut komunitas Hijet, banyak hal yang dia dapatkan dari komunitas. Satu di antaranya persaudaraan dari berbagai komunitas Hijet di luar daerahnya. Dia juga merinci daerah yang pernah dia datangi. “Guacemara Jogja, Kuningan, Kutoharjo, Malang, Kudus, dan rencana bulan Mei 2017 ke Bandung,” jelasnya.

Achmad Jamasri (44) ketua panitia kegiatan mengaku tidak ada kendala. Semua anggota KHI kompak dan mendapat bantuan dari sejumlah pihak yang mendukung. “Untuk persiapan kurang lebih dua bulan, karena di komunitas Hijet memang mengutamakan persatuan, jadi kami saling membantu untuk mensukseskan acara,” katanya.

Jamasri, begitu dirinya akrab disapa, mengungkapkan acara yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, dihadiri dari komunitas Hijet di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jogja. Dia juga merasa senang dengan antusiasme anggota komunitas Hijet dari luar Jawa Tenagah yang berkenan hadir. Selain itu juga hadirnya ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Dia juga berharap di ulang tahun yang pertama ini KHI bisa lebih berkembang, lebih kompak, dan terus menjaga persatuan. Saat ini KHI beranggotakan 31 orang, dan sekretariat KHI berada di Desa Karagbener RT 2/RW 1, kecamatan Bae, Kudus. Setiap malam Minggu anggota KHI berkumpul di Tanggulangin, Kudus.

“Saya senang acara kali ini berjalan dengan lancar, antusiasme teman-teman komunitas Hijet dari luar daerah juga luar biasa. Semoga ke depannya KHI bisa lebih berkembang, kompak, dan terus menjaga persatuan. Kami kumpul setiap malam minggu di Tanggulangin, untuk sekretariat sementara dirumah saya,” ungkap pria dua anak itu.

- advertisement -