Beranda blog Halaman 1923

Pesan Kaus di Custom Genz Cloth Kudus Bisa Pilih Desain Sesuai Keinginan, Pesan Satu Dilayani

0

SEPUTARKUDUS.COM, DAMARAN – Puluhan kaus dan sweater polos tampak tergantung rapi di di gantungan baju sebuah ruko. Di sudut lain, tampak pula puluhan topi tanpa tulisan dan gambar memenuhi rak kayu panjang yang menempel pada dinding. Di sudut lain terlihat seorang pria dengan menghadap laptop sedang menunjukan desain kaus pada tiga orang siswa. Tempat tersebut yakni Custom Genz Cloth, yang menjual kaus dengan desain sablon custom sesuai keinginan pelanggan.

Genz Cloth Kudus
Genz Cloth Kudus. Foto: Rabu Sipan

Eko Wibowo Putro (30), pengelola Genz Cloth ersebut mengatakan, di tempat kerja itu memang menjual kaus polos beserta desain gambar maupun tulisan yang ingin disematkan para pelanggan. Dia mengungkapkan, para pelanggan boleh mendesain sendiri gambar maupun tulisan yang akan disablon pada baju yang mereka beli. Namun, saat mereka kesusahan mendesain, dia mengaku bersedia membantu.

“Yang penting pakaian yang akan disablon harus beli di Custom Genz Cloth, karena kami tidak menerima order sablon pada baju yang dibeli dari luar. Karena kami belajar dari pengalaman menyablon pakaian milik para pelanggan resikonya terlalu banyak,” ujar pria yang akrab disapa Eko kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Pria asal Desa Gribig, Kecamatan Gebog, itu mengatakan, dulu dirinya pernah menyablon kaus yang dibawa pelanggan, dan apesnya kaus pelangganya tersebut rusak. Dia mengaku, setiap kerusakan memang ditanggung pihaknya, namun saat itu kaus  milik pelanggan tersebut susah dicari yang serupa. Meskipun akhirnya mendapatkan kaus yang mirip, namun Eko mengaku rugi waktu.

Dia mengungkapkan, di tempatnya bekerja tersebut menyediakan beberapa jenis pakaian polos untuk disablon sesuai keinginan pelanggan. Eko lalu merinci pakaian tersebut serta harganya. Kaus lengan pendek dan panjang bersablon dia hargai antara Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu. Sedangkan kaus polosnya saja dibanderol seharga mulai Rp 35 ribu.

Untuk topi yang sudah disablon sesuai permintaan pelanggan dihargai Rp 40 ribu. Dan jaket yang sudah bersablon sesuai pesanan dibanderol Rp 115 ribu. Selain menjual kaus bersablon sesuai desain pelanggan, katanya, Custom Genz Cloth juga menjual kaus, topi, jaket serta tas polos, untuk menyablon barang tersebut di tempat kerjanya, menerima order satuan.

“Menyablon pakaian di Custom Genz Cloth tidak harus pesan dengan jumlah banyak. Karena di tempat kerjaku satu kaus pun dilayani dengan tarif harga yang sudah ditentukan. Namun, jika pemesanan minimal satu lusin pelanggan tersebut dapat potongan harga,” ungkapnya

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, tempat kerjanya itu buka setiap hari mulai pukul 8:00 WIB hingga pukul 20:00 WIB. Selama sebulan dia mengatakan, biasanya menerima order sablon sekitar 40 pcs. Sedangkan pengerjaan pesanan para pelanggan diberi waktu sekitar sepekan.

“Sebelum membuka toko di pojok tenggara lampu merah Perempatan Jember, Desa Damaran, Kota, Kudus, bosku terlebih dulu membuka sablon di rumahnya dengan pengenalan usahanya melalui online. Dan alhamdulillah setelah pindah tempat usaha pelanggan makin banyak,” ungkap Eko.

- advertisement -

Dengar Kabar Kolam Ikan Jebol, Sigit Rela Hujan-Hujan Ajak Anak dan Istrinya Memancing

0

SEPUTARKUDUS.COM, GULANG – Di tepi Jalan Lingkar Selatan, Desa Gulang, kecamatan Mejobo, Kudus, terlihat seorang pria mengenakan topi sedang memancing bersama seorang anak. Seorang perempuan mengenakan jas hujan juga terlihat duduk di sampingnya. Sigit Dwi Purnomo (35), nama pria tersebut. Perempuan dan seorang anak yang bersamanya adalah anak dan istrinya, yang dia ajak memancing karena mendengar kabar ada kolam ikan jebol karena banjir.

Memancing saat banjir
Memancing saat banjir. Foto: Ahmad Rosyidi

Sigit, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang kabar jebolnya kolam tersebut. Dia sudah tiga hari memancing bersama Riski, anak dan Supriyanti, istrinya, karena mendengar ada kolam ikan yang jebol dan banyak ikan pergi dari kolam mengikuti arus banjir.

“Saya mendengar ada kolam jebol, jadi saya ingin ikut memancing. Kebetulan anak saya yang terakhir juga suka memancing, jadi saya ajak sekalian dengan istri saya juga. Tapi hari ini dapat ikannya lebih sedikit jika dibanding kemarin. Mungkin karena ikannya sudah mulai berkurang,” ungkap pria tiga anak itu.

Supriyanti (36), istri Sigit yang turut serta memancing, menambahkan, biasanya mulai memancing pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Saat siang hari dia dan putranya pulang terlebih dahulu mengambilkan makanan untuk suaminya. Dia mengaku ikut memancing karena putra terakhirnya yang masih sekolah di taman kanak-kanak (TK) juga ikut memancing.

“Saya ikut saja karena anak saya yang terakhir memang suka memancing. Saat ini anak saya Riski baru berusia 6,5 tahun, jadi saya masih khawatir kalau tidak saya temani meski ada bapaknya. Tadi juga kehujanan dan kami tidak berteduh, jadi saya dan anak saya pulang dulu ganti baju sekalian mengambil makanan untuk suami saya,” jelas warga Desa Barongan, Kota Kudus itu.

Yanti, begitu dia akrab disapa, menjelaskan bahwa suaminya membawa sekitar 15 pancing. Suaminya menebar pancing di banyak tempat yang berbeda lebih banyak mendapat ikan. Ikan yang didapat di antaranya ikan lele, ikan gabus, ikan mujair, ikan nila.

“Ada beberapa jenis ikan kali juga. Mungkin ikan-ikan yang besar dari kolam yang jebol. Hasil dari memancing kami buat lauk di rumah untuk makan, tidak kami jual,” terangnya.

- advertisement -

Di Toyota Surya Indah Motor Kudus, Cukup DP 20 Juta Bisa Bawa Pulang Toyota All New Sienta

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Dua unit mobil berwarna abu-abu dan oranye, terlihat terpakir di dalam sebuah diler resmi penjualan mobil Toyota CV Surya Indah Motor, di Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 4, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Tampak di dinding atas ruang utama, terdapat sebuah baner yang bertuliskan All New Sienta. Diler tersebut mengadakan promo, hanya dengan uang muka Rp 20 juta, konsumen bisa membawa pulang mobil tersebut.

Promo Toyota All New Sienta
Promo Toyota All New Sienta. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Aditya Guruh Firnando (27), Marketing Toyota Surya Indah Motor, sudi berbagi penjelasan terkait dengan promo pembelian mobil tersebut. Dia menjelaskan, progam promo dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Promo itu berlaku mulai awal Januari hingga akhir Februari 2017. Sebelum ada progam itu, pembeli yang hendak membeli dengan cara kredit diharuskan mengeluarkan uang muka sebesar Rp 30 juta.

“Biasanya di atas Rp 30 juta, setelah kami memberikan promo, pembeli cukup mengeluarkan DP Rp 20 juta sudah bisa bawa pulang mobil All New Sienta. Selain itu, promo yang berlaku juga ada Agya Improvement dan Grand New Avanza,” ungkap Hendra.

Dia mengatakan, All New Sienta sangat cocok bagi keluarga muda yang baru menikah. Katanya, mobil jenis tersebut itu mempunyai berbagai keunggulan yang sangat nyaman untuk dikendarai. Keunggulan itu di antaranya, dapat ditumpangi 6 hingga 7 orang, sporty, dibekali 6 speed, double disc grid, pintu terbuka otomatis, kabin filter senyap udara serta kursi mudah untuk dilipat. “Jadi bisa dibuat tempat menaruh barang belanjaan maupun barang lain,” ujarnya.

Warga Desa Nganguk RT 3 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus, ini melanjutkan, terkait dengan harga yang ditawarkan setiap unit mobil berbeda-beda, tergantung tipe dan cara pengoperasian mobil. Misalnya All New Sienta tipe 1.5 E Manual Transmission (M/T) dijual dengan harga Rp 237,9 juta, sedangkan Sienta 1.5 E CVT Automatic Manual (A/T) seharga Rp 255,9 juta. “Secara keseluruhan ada tujuh tipe, dengan harga kisaran Rp 237,9 juta hingga Rp 302 juta,” ujarnya.

Sementara itu, terlihat di belakang showroom terdapat sejumlah mobil yang terpakir rapi. Beberapa orang juga tampak memperbaiki satu per satu mobil yang terpakir. Menurutnya, selain menjual mobil, pihaknya juga menyediakan servis kendaraan dan menjual suku cadang pabrikan asal Jepang.

“Khusus bagi pembelian mobil di showroom, kami akan memberikan garansi mesin selama tiga tahun. Selain itu ada servis gratis dan spare part tiga tahun, minimal sudah menempuh jarak 10.000 kilometer,” tambahnya.

- advertisement -

 Ali Maher dan Keluarga Enjoy di Gank Coffee yang Sajikan Menu Bintang Lima Harga Kaki Lima

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di Gank Coffee & Bistro, Sabtu, 11 Februari 2017, suara musik mengiringi banyak pengunjung yang sedang menikmati makanan dan minuman yang disajikan. Terlihat tempat duduk di dalam kafe berlantai dua itu dipenuhi pengunjung. Tampak kalangan remaja dan keluarga, sangat menikmati hidangan yang disajikan. Satu di antara pengunjung bernama Ali Maher, anggota DPR RI yang datang bersama keluarganya. Dia mengaku sangat senang menikmati malam di Gank Coffee.

Ali Maher dan Keluarga di Gank Coffee
Ali Maher dan Keluarga di Gank Coffee. Foto: Rabu Sipan

Di sela menikmati hidangan yang tersaji, pria yang akrab disapa Maher itu sudi berbagi cerita tentang kedatangannya ke kafe di Jalan Patimura nomer 99, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus. Dia mengatakan, datang ke Gank Coffee karena rekomendasi dua putrinya yang pernah beberapa kali datang di kafe tersebut. Dan menurut dua putrinya, menu makanan dan minuman yang disajikan di Gank Coffee sangat enak serta tempatnya juga nyaman.

“Kesan pertama datang ke Gank Coffee, tempatnya sangat enjoy buat nongkrong bersama keluarga. Pelayananya sangat bagus dan ramah, benar juga kata dua putriku makanan dan minumanya sangat enak. Sedangkan istriku, katanya live musiknya keren. Setelah malam ini, lain kali saat datang ke Kudus aku pasti singgah lagi ke Gank Coffe, dan tentu dengan keluarga tercintaku,” ujar Maher.

Senada dengan Maher, Fitri Heni (35) yang datang bersama keluarga mengungkapkan, datang ke Gank Coffee karena diajak suaminya yang pernah tiga kali datang ke tempat tersebut. Menurutnya makananya yang disajikan sangat lezat, dan harganya sangat ekonomis. Pemilik dan pelayanya sangat ramah.

“Itu lihat saja pemiliknya selalu menyambut pengunjung yang datang. Bahkan tadi saat pelayannya kewalahan, bosnya mau melayani kami,” ungkap warga Desa Getas Pejaten tersebut.

Hal yang tak jauh berbeda juga diungkapkan pemuda asal Pati, Hasan Wibowo. Dia datang ke Gank Coffee malam itu bersama dengan pacarnya. Dia bisa dikatakan pelanggan tetap Gank Coffe, karena setidaknya sepekan tiga kali datang untuk menikmati malam bersama sang pujaan hati di Gank Coffe.

Pria yang malam itu memesan minuman Virgin Mogito dan makanan Aussie Beef Steak mengungkapkan, dia bersama kesaksihnya ketagihan datang ke Gank Coffe karena tata ruang yang keren mirip dengan kafe di kota-kota besar, hingga membuat dia bersama sang pacar nyaman. Menu yang sajikan juga enak dan berkelas namun harga tetap ekonomis.

“Jujur makanan dan minuman di Gank Coffee nikmat dan berkelas bintang lima tapi harga tetap kaki lima. Intinya cocok buat nongkrong muda mudi. Pelayananya sangat ramah, owner-nya sangat frendly, dan tak jarang bosnya tersebut terjun langsung untuk melayani para pengunjung. Pokoknya Gank coffee fantastic,” ujar Bowo.

Daniel Sampurno, pemilik Gank Coffe, mengungkapkan, demi kenyamanan para pengunjung tak segan dia terjun langsung untuk melayani saat pelayanya kewalahan. Karena menurutnya pengunjung adalah raja dan dia tidak ingin pengunjung menunggu terlalu lama. Dia juga selalu menyapa para pengunjung yang datang dan mencarikan tempat duduk.

“Aku berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk para pelanggan Gank Coffee. Aku juga berusaha dekat dengan mereka, agar mereka merasa nyaman dan seolah berada di rumah sendiri tapi dengan suasana yang lain. Kami juga selalu menyuguhkan live musik di hari tertentu agar para pengunjung makin terhibur. Aku berharap dengan kenyamanan yang kami tawarkan para pengunjung tidak bosan dan akan datang lagi di Gank Coffee,” katanya.

- advertisement -

Nikmatnya Suasana Malam yang Asyik di Gank Coffee Lengkap dengan Lantunan Live Musik

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di tepi timur Jalan Patimura Nomer 99, Desa Jepang Pakis, Kecamtan Jati, Kudus, tampak sebuah gang. Dari jalan raya masuk gang sekitar 20 meter terlihat puluhan motor dan mobil berjajar rapi di depan dan samping sebuah kafe berlantai dua. Di dalam kafe terlihat seorang pria memakai kaus hitam sedang sibuk memberi arahan kepada beberapa orang. Pria tersebut bernama Daniel Sampurno (27) pemilk kafe Gank Coffee & Bistro.

Gank Kopi Kudus
Gank Coffee & Bistro Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Dani itu sudi berbagi kisah tentang usahaya kepada Seputarkudus.com, Sabtu (11/2/2017) malam. Dia mengatakan, membuka kafe baru sekitar tiga bulan lalu, dengan tujuan ingin menghidupkan suasana malam yang postif di Kudus. Dirinya mengaku merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah, agar keinginan lamanya tersebut dapat terwujut.

“Aku sudah lama berkeinginan mempunyai sebuah kafe yang menjadi tempat favorit masyarakat, khususnya di Kudus, bisa untuk nongkrong dan hang out positif di malam hari. Demi mewujutkan ambisi lamaku tersebut, aku rela mengeluarkan modal hingga Rp 300 juta,” ujar Dani mengaku modal tersebut dia kumpulkan sejak tahun 2005.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengatakan, kafe yang didirikanya itu mengusung konsep industrial dengan perpaduan besi dan kayu. Dengan tempat yang luas berlantai dua dan konsep terbuka dan tidak pengap, dia berkeinginan agar para pengunjung bisa betah dan nyaman menikmati hidangan yang disajikan.

Dia juga berharap saat nongkrong di Gank Coffe, para pengunjung khususnya anak muda bisa terinspirasi untuk melakukan hal dan kegiatan yang positif. Di antaranya mereka bisa diskusi tentang musik, bedah buku, dan membahas hobi mereka. “Intinya aku ingin para pengunjung terinspirasi kepada hal yang positif-positif saja ya,” harapnya.

Selain para remaja, kata Dani, Gank Coffe juga sangat cocok untuk para keluarga yang ingin menikmati malam bersama lantunan lagu dari musisi atau band yang dipertunjukan. Dia mengaku bersyukur kafe yang didirikanya tiga bulan lalu diminati kalangan remaja dan juga mereka yang sudah berkeluarga. Setidaknya antara 70 hingga 80 pengunjung datang setiap malamnya.

Pria bertitel Sarjana Hukum dari Universitas Atma Jaya Jogjakarta itu mengungkapkan, \di Gank Coffee selain tempatnya nyaman, parkirnya juga luas. Tutur dia menu yang disajikan di kafenya selain enak juga berharga sangat ekonomis. Menu yang disajikan tergabung dalam lima Gank sesuai nama kafe.

Dia lalu merincinya, pertama Gank Starter yang menyajikan mulai dari Mendoan Gank sampai Beef Burger. Kedua Gank Pasta, terdiri dari Macaroni Schotel sampai Marinara Pasta. Ketiga Gank Pizza, yang menawarkan Cheese Pizza hingga Beef Pizza. keempat Gank Main Course yang menyajikan menu antara lain nasi putih, Chicken Steak Original, Money Glass Ribs dan lainya.

Kelima Gank Coffee, di antaranya Coffee latin, Capucino, Lungo, Machiato, Red Velvet Iced, dan lainya. Keenam Gank Mocktails (tanpa alkohol) yang terdiri dari pilihan minuman di antaranya, Virgin Mojito, hot tea, Red Afrika, Gragon Fly, Gank Pinky dan lainya.

“Menu yang kami sajikan memang makanan dan minuman bintang lima, namun dengan harga kaki lima. Dengan fasilitas dan menu yang kami sajikan, aku mengajak masyarakat Kudus yang ingin menghidupkan suasana malam yang positif, datanglah ke Gank Coffe,” ungkap pria yang tergabung dalam komunitas Harley Davidson Club Indonesia.

- advertisement -

Mbah Leman Terpaksa Tinggal di Kios Kecil Tempat Berjualan Bensin Karena Tak Punya Rumah

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN – Di atas trotoar Jalan Wahidin Sudirohusodo, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya sebelah barat jembatan Tegal Arum, terlihat kios mini berdinding seng. Menempel kios kecil tersebut sebuah kotak di yang di atasnya beberapa botol berisi bensin tertata rapi. Di samping kotak tersebut tampak seorang pria renta kurus masih memakai sarung duduk di kursi menunggu pembeli. Pria tersebut bernama Suleman (71), penjual bensin ecer setiap malam tidur di kios tersebut karena tidak punya rumah.

Mbah Leman Penjual Bensin
Mbah Leman Penjual Bensin. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu pembeli, pria yang akrab disapa Mbah Leman itu sudi berbagi kisah hidupnya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, berjualan bensin ecer sudah lama, tepatnya saat harga bensin masih sekitar Rp 2500 seliter. Sedangkan mulai tinggal di kiosnya itu, dia mengaku sejak tiga setengah tahun yang lalu.

“Aku dulu sebenarnya punya rumah, namun karen kondisinya sudah rusak parah dan aku tidak punya uang untuk memperbaikinya, terpaksa aku tinggal di kios kecil tempat berjualan bensin ini. Di kios aku berlindung dari panas, hujan dan angin malam,” ujar Mbah Leman sambil memegangi atap kiosnya.

Warga Kelurahan Sunggingan itu mengungkapkan, berjualan bensin hasilnya tak seberapa. Saat ramai, dirinya mampu menjual 10 liter bensin sehari. Namun saat sepi, hanya mampu menjual enam liter saja, bahkan tak jarang bensin yang dia jual tak laku sama sekali. Padahal dia tidak pernah mengambil untung banyak dari setiap liter yang dia jual. Dia mengaku hanya mengambil keuntungan Rp 500 per liter.

“Saat ramai saja aku hanya mendapatkan keuntungan Rp 5 ribu sehari. Namun yang sering aku hanya mendapatkan keuntungan Rp 3 ribu sehari, karena seringnya aku hanya mampu menjual enam liter bensin. Tapi aku tetap bersukur, berarti di hari tersebut aku bisa makan, soalnya terkadang bensin yang aku jual, sehari tidak laku sama sekali,” ungkapnya

Dia mengungkapkan keuntungan Rp 3 ribu tersebut biasanya dia belikan nasi bungkus untuk makan di hari tersebut, untuk sekali makan. Tapi biasanya pemilik warung yang tak jauh dari tempatnya berjualan merasa kasihan dan memberinya nasi untuk bisa dia makan dua kali. Tapi saat bensinya tak ada yang laku, dia tak makan seharian.

“Hasil dari berjualan bensin tidaklah seberapa, jangankan untuk bangun rumah, bisa makan setiap hari dua kali saja aku sudah bersyukur. Aku berharap ada dermawan yang mau meminjami modal agar aku bisa berjualan lebih banyak bensin, rokok, serta minuman dalam kemasan,” harapnya

Di sela obrolan datang seorang pembeli bensin dengan sepeda motor bebeknya, terlihat Mbah Leman menghampiri pembeli dengan membawa sebotol bensin, sesuai pesanannya pembeli yang diketahui bernama Wawan (29). Pria yang mengaku akan berangkat kerja itu sering membeli bensin ecer Mbah Leman karena iba.

“Aku sering beli bensin di tempatnya mbah Leman, karena aku kasihan tapi juga salut dengan perjuangan hidupnya. Setiap membeli bensin dan ada kembalian, biasanya kembalian itu tidak aku minta, meski beliau terkadang enggan menerima, namun aku memaksanya. Menurutku kehidupan yang dijalani Mbah Leman lebih terhormat dari pada mengemis,” ungkapnya.

- advertisement -

Pengungsi Senang RS Mardi Rahayu Kirim 4 TV dan Pura Bantu Pompa Air ke Posko Banjir

0

SEPUTAR KUDUS.COM, JATI WETAN – Televisi LED (Light Emitting Diode) berwarna hitam sedang dipasang di beberapa sudut ruangan Balai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Televisi Polytron dengan layar 34 inch tersebut dipasang untuk para pengungsi banjir Desa Jati Wetan. Menurut Camat Jati Andreas Wahyu, televisi tersebut disediakan untuk hiburan warga yang mengungsi karena banjir.

Pemasangan TV untuk pengungsi
Pemasangan TV untuk pengungsi. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui di Balai Desa Jati Wetan, dia menuturkan televisi yang disediakan berjumlah empat unit. Menurutnya, televisi tersebut bantuan dari Rumah Sakit Mardi Rahayu. Televisi yang ada segera dipasang dan dapat menjadi hiburan warga ya mengungsi. “Ini untuk hiburan warga,” tuturnya, Sabtu (11/2/2017).

Menurutnya, bantuan yang datang untuk pengungsi di Balai Desa Jati Wetan tidak hanya datang dari pemerintah saja, melainkan juga dari swasta. Dicontohkan, Rumah Sakit Mardi Rahayu menyediakan empat televisi, Pura memberikan bahan bakar pompa air dan masih banyak lagi bantuan dari pihak swasta. “Pompa air untuk membuang air yang menggenangi pemukiman. Pompa tersebut hidup 24 jam dengan waktu istirahat sekitar dua jam,” tambahnya.

Dia memberitahukan, logistik untuk pengungsi hari ini sudah cukup. Nantinya jika logistik habis, pihaknya akan mencarikan ke pemerintah dan swasta. Menurutnya banyak pihak swasta yang mau membantu pengungsi. Selain itu menurutnya fasilitas di pengungsian diantaranya musala, kamar mandi, toilet dan dapur sudah tersedia. “Kalau waktunya lama biasanya malah ada organisasi-organisasi yang mengajak bermain dan belajar bersama. Namun saya tidak berharap lama, kalau bisa besok sudah surut dan warga bisa kembali,” terangnya.

Baca juga: Ketinggian Air di Rumahnya Sepaha, Rubaiah Akhirnya Menyerah di Posko Pengungsian

Dari segi kesehatan, terdapat bidan desa yang siap 24 jam. Menurutnya, ada juga petugas puskesmas yang setiap hari datang untuk mengecek kesehatan para pengungsi.

Sementara itu, Suwarti (41) warga Desa Jati Wetan yang memasak di dapur umum menuturkan, ada sekitar 360 nasi bungkus yang dibagikan kepada warga. Menurutnya, 200 bungkus untuk pengungsi yang berada di Balai Desa Jati Wetan dan sisanya untuk warga yang masih bertahan di rumahnya. Pengungsi tersebut diberikan makan tiga kali sehari. “Kalau rumah saya aman. Saya di sini karena ingin bantu-bantu,” ungkap warga yang rumahnya dekat dengan balai desa.

Kepala Desa Jati Wetan Suyitno (59) menuturkan ada sejumlah 44 kepala keluarga dengan jumlah keseluruhan 130 orang yang berada di pengungsian. Dia merinci, jumlah 130 tersebut berasal dari lansia 6 orang, balita 16 orang dan sisanya yakni dewasa. “Warga mulai mengungsi hari kemarin (Jumat) sekitar jam dua siang. Jika air semakin naik, dipastikan pengungsi akan semakin banyak” tambahnya.

- advertisement -

Ketinggian Air di Rumahnya Sepaha, Rubaiah Akhirnya Menyerah di Posko Pengungsian

0

SEPUTAR KUDUS.COM, JATI WETAN – Seorang perempuan duduk di atas tikar terlihat mengobrol dengan sejumlah warga lain di posko pengungsian Balai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Dia juga terlihat bercanda dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain di dekatnya. Perempuan itu bernama Rubaiah (59), warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan. Bersama warga yang lain, dirinya terpaksa mengungsi karena rumahnya terendam banjir.

Pengungsi Banjir Tanjung Karang
Pengungsi Banjir Tanjung Karang. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dia mengungkapkan, dirinya sudah menyerah untuk bertahan di rumahnya, karena air yang masuk ke dalam rumahnya sudah setinggi paha orang dewasa. Menurutnya, untuk memasak dan tidur, dirinya sudah tidak bisa. Air sudah mulai naik pada Jumat (10/2/2017). “Saya ingin bertahan. Karena air semakin naik, akhirnya saya menyerah dan ikut mengungsi,” tuturnya saat ditemui di Balai Desa Jati Wetan, Sabtu (11/2/2017).

Dia mengatakan, kasur, televisi dan beberapa barang-barang lainnya dititipkan ke tetangga yang mempunyai rumah bertingkat. Menurut Rubaiah, banyak dari tetangganya masih bertahan di rumah mereka. Karenakan mereka memiliki rumah bertingkat yang aman dari jangkauan air. “Kalau saya ya harus mengungsi biar tidak kedinginan,” tambah warga RT 4, RW 3, Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan.

Dia memberitahukan, dirinya mengungsi bersama dengan dua anggota keluarganya, suaminya dan anaknya. Menurutnya, selama air belum surut dirinya beserta keluarga akan terus berada di pengungsian. “Alhamdulillah dapat tempat. Di sini (balai desa) fasilitasnya lengkap ada musala, toilet dan kebutuhan makan tercukupi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Wetan Suyitno (59) menuturkan, ada sejumlah 44 kepala keluarga dengan jumlah keseluruhan warga 130 orang yang berada di pengungsian. Menurutnya, mereka mulai mengungsi sejak hari Jumat (10/2/2017) sekitar pukul 14.00 WIB. Diberitahukan, 100 persen pemukiman tiga dusun di RW 3 tergenang banjir. Rata-rata ketinggian air sekitar sepaha orang dewasa. “Yang sudah ada di sini (pengungsian) 44 kepala keluarga dengan keseluruhan 130 orang. Balita 16 orang, lansia 6 orang dan selebihnya dewasa,” terangnya saat berada di Balai Desa Jati Wetan.

Menurutnya masih banyak warga yang bertahan di rumah-rumah. Suyitno menuturkan, dirinya sudah menyiapkan satu perahu karet yang dipinjamkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus untuk memonitor kondisi pemukiman yang tergenang air. “Jika air tidak surut, kemungkinan pengungsi akan bertambah,” tambahnya.

- advertisement -

Juru Kuci Makam: Banyak Jomblo Datang ke Hutan Masin Kandangmas Meminta Jodoh

0

SEPUTARKUDUS.COM, KANDANGMAS – Sejumlah pengunjung terlihat melepas alas kaki untuk masuk ke dalam bangunan makam di Dukuh Masih, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. Mereka melepas alas kaki tepat di depan gerbang berbahan batu hitam bergambar bunga. Tertulis pada sisi atas gerbang “Makam Kramat Masin Raden Ayu Dewi Nawangsih, Raden Bagus Rinangku”. Tak sedikit orang yang datang ke hutan Masin itu untuk mendapat jodoh.

Tempat mencari jodoh Hutan di Hutan Masin
Tempat mencari jodoh Hutan di Hutan Masin. Foto: Imam Arwindra

Anas Liriyanto, juru kunci Makam Kramat Masin mengungkapkan, pengunjung yang datang tidak hanya dari Kudus, banyak juga dari luar Jawa. Menurutnya, mereka datang ke Makam Kramat Masin karena memiliki hajat tertentu untuk dimintakan kepada Tuhan lmelalui wasilah Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Keinginannya biasanya seputar perdangangan, mengkhitankan anak, menikahkan anak, mau membeli sesuatu, dan mencari jodoh. “Biasanya juga ada yang berdoa supaya dapat jodoh,” ungkapnya saat ditemui di Makam Kramat Masin belum lama ini.

Dia menerangkan, selain memiliki hajat tertentu, biasanya yang datang ke Makam Kramat Masin karena mempunyai nadzar atau hanya sekedar sukuran saja. Mereka membawa makanan yang isinya terdapat nasi beserta ingkung (ayam), daging kambing atau kerbau. Menurutnya, pintu Makam Kramat Masin dibuka setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat. “Hari Rabu jam 08.00 pagi sampai jam 05.00 sore. Untuk Kamis sampai jam 09.00 malam dan Jumat sampai 04.00 sore,” jelasnya.

Menurutnya, kebanyakan pengunjung yang datang setiap malam Jumat, terutama Jumat Wage. Dia menjelaskan, di dalam makam berbentuk kucup terdapat jasad Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Raden Ayu Dewi Nawangsih yakni putri Sunan Muria dan Raden Bagus Rinangku keturunan Kerajaan Mataram. “Sebelah barat makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan sebelah timur Raden bagus Rinangku,” ungkap dia yang bertempat tinggal tidak jauh dari Makam Kramat Masin.

Makam Kramat Masin terletak di hutan Masin di kawasan perbukitan Gunung Muria Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe. Sebelum menuju ke makam, terlihat pohon jati dan aren yang tumbuh subur di lahan seluas delapan hektare. Tampak juga pohon jati berukuran besar tergeletak di sisi jalan menuju arah makam.

Anas menambahkan, dulu hutan Masin merupakan kawasan yang lebat dan tidak ada manusia yang berani masuk. Menurutnya ada penduduk desa yang bernama Jamasri yang meminta izin pertama kali untuk membangun makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Pada akhirnya, tanggal 8 Juli 1989 tumbuhan sekitar makam dibersihkan dan dibangun makam, musala dan tempat istirahat peziarah. “Saya menjadi juru kunci menggantikan bapak yang sudah meninggal,” tuturnya yang pernah kuliah di Fakultas Hukum tersebut.

- advertisement -

Ageng: Melihat dari Ketinggian dengan Paralayang, Bumi Tampak Kecil tapi Sangat Indah

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di tepi barat Jalan Sosrokartono, Kudus, terlihat rukko bercat kuning. Rinjani Advanturer Shop, nama toko tersebut. Di dalamnya terdapat banyak produk pakaian dan aksesoris khusus pecinta alam. Sementara di dinding toko terdapat foto aksi paralayang yang terbingkai figura. Di foto tersebut tertulis “Sukolilo April 2012”.

Paralayang Kudus
Paralayang Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Ageng Prabowo (44) adalah pemilik toko tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dirinya sudi menjelaskan tentang aksinya yang terabadikan dalam foto tersebut. Olahraga ekstrem itu sudah menjadi hobinya, selain mendaki gunung. Dia juga sudi berbagi pengalaman tentang hobinya pada paralayang. Dia mengaku puas dan mendapatkan sensasi yang luar biasa saat melihat pemandangan yang indah dari ketinggian.

“Saya mendapat sensasi yang berbeda saat paralayang, berbeda dengan mendaki gunung, panjat tebing ataupun arung jeram. Sensasinya luar biasa bisa melihat pemandangan dari ketinggian. Jadi bumi terlihat kecil, dengan pemandangan yang indah,” ungkap pria dua anak itu.

Ageng mengaku mulai ikut paralayang sejak tahun 2012. Awalnya dia mengikuti Komunitas G9 Paralayang Semarang. Setelah satu tahun belajar dari komunitas di Semarang, pada 2013 Ageng dan empat temannya mendirikan komunitas paralayang Kudus (Kompas). Hingga sekarang Kompas belum bertambah anggota, masih beranggotakan lima orang.

Selang beberapa bulan mendirikan Kompas, Ageng diminta untuk mewakili Kudus mengikuti kejuaraan paralayang. Meski belum pernah juara, dia mengaku bangga bisa mewakili Kudus yang sebelumnya selalu absen dalam kejuaraan. Ageng senang bisa terbang di berbagai daerah, di antaranya Lombok, Sumatra, Jawa, dan Bali.

Menurut Ageng, banyak orang yang ingin ikut paralayang, tetapi terkendala modal. Karena untuk membeli alat perlu mengeluarkan uang kurang lebih sekitar Rp 25 juta, itu pun alat bekas. Sedangkan untuk alat baru harganya sekitar Rp 60 juta.

“Sebenarnya banyak yang minat dengang olahraga paralayang, kebanyakan mahasiswa. Tetapi perlu mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli alatnya. Harga bekas saja sekitar Rp 25 juta, harga baru sekitar Rp 60 juta. Saya berharap nantinya Kudus ada generasi muda yang bisa menjadi juara dikejuaraan paralayang, jelasnya.

Saat musim kemarau, Ageng dan anggota Kompas mengajari mahasiswa yang berminat untuk belajar paralayang. Meski banyak yang ikut, menurutnya jarang yang mau sungguh-sungguh belajar. Karena olaraga paralayang cukup rumit, untuk tatacara yang benar memang butuh banyak yang harus dipelajari.

Dia menjelaskan, untuk melakukan olahraga paralayang perlu memiliki surat izin mengemudi (SIM). SIM juga disesuaikan jenis paralayangnya, ada pilot (PL) satu, PL dua, PL tiga, sesuai kecepatan alat paralayangnya. Dan untuk instruktur harus memiliki SIM tandem, ijin untuk paralayang yang boleh dua orang.

“Olahraga ini (paralayang) memang sedikit rumit. Untuk ujian SIM juga perlu mempelajari arah mata angin, memprediksi cuaca dengan melihat awan, mengukur kecepatan angina, dan praktik menggunakan alat-alat keselamatan. Meski rumit tapi itu bermanfaat menurut saya,” terangnya.

 

- advertisement -

Banjir Membawa Berkah, Penjual Alat Pancing di Tanjung Karang Raup Omzet Rp 1 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah kios yang di dalamnya terdapat etalase kaca. Di balik etalase, terlihat seorang perempuan melayani pembeli. Perempuan tersebut bernama Sutamah (40), pemilk toko yang menjual aneka alat pancing. Saat volume air Sungai Wulan di Kudus tinggi seperti saat ini, dirinya mampu meraup omzet Rp 1 juta sehari.

Penjual alat pancing
Penjual alat pancing di Tanjungkarang. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Tamah itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sejak air Sungai Wulan meluap hingga menggenangi jalan di depan tokonya, banyak orang yang memancing di sungai samping rumahnya. Bahkan menurutnya, yang datang memancing tidak hanya tetangganya, melainkan orang luar desa.

“Akibat banjir, banyak orang yang datang memancing ikan di sungai pinggir rumahku. Ini seperti berkah, karena alat pancingku laris terjual. Sejak banjir aku mampu meraup omzet Rp 1 juta sehari, “ ujar Tamah yang mengaku saat tak banjir hanya mampu meraup omzet Rp 200 ribu sehari.

Menurutnya, para pemancing tersebut tidak hanya berasal dari Desa Tanjung Karang, melainkan juga warga desa lain. Begitu juga dengan yang membeli alat pancingnya, selain tetangganya, pembelinya juga berasal dari desa mana saja, bahkan ada yang dari Kecamatan Mejobo.

Perempuan yang menjadikan rumah sekaligus tempat usaha itu mengatakan, aktivitas memancing marak karena banjir. Menurutnya, ada beberapa kolam ikan yang terendam dan ikanya sebagian lepas. Karena mendengar kabar tersebut, masyarakat datang untuk memancing, berharap kailnya disambar ikan yang lepas dari kolam yang terendam.

“Aku mendengar kabar ada beberapa kolam ikan lele milik warga Desa Tanjung Karang sebelah timur terendam banjir dan banyak ikan yang lepas. Hal tersebut yang mengundang antusiasme warga untuk berbondong-bondong untuk memancing, dan aku mampu menjual 25 ribu mata pancing sehari,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, selain mata pancing, dia juga menjual gagang kail yang dia jual seharga Rp 8 ribu sebatang. Timah bandul dia hargai antara Rp 100 sampai Rp 1500 per pcs. Sedangkan tali kail dibanderol Rp 1500 hingga Rp 3 ribu.

“Untuk kambangan saya jual paling murah Rp 500 dan yang paling mahal Rp 17.500. Untuk rel tali pancing saya jual Rp 35 ribu, serta serok ikan saya jual Rp 11 ribu. Meski saat banjir aku bisa meraup untung banyak, namun aku tetap berharap genangan air cepat surut,” harap Tamah.

- advertisement -

Melalui Agen Duta di Desa, Nasabah Tak Perlu Lagi Datang ke Bank Jateng untuk Bertransaksi

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Sejumlah orang terlihat sedang duduk sambil menunggu antrean teller di Bank Jateng Kudus. Tidak jauh dari ruangan itu, tampak sejumlah karyawan sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Di sudut ruangan tersebut, berdiri sebuah x-benner dengan ukuran 60×180 sentimeter bertuliskan agen Depot Uang Transaksi Aman (Duta).

Program Bank Jateng Agen Duta
Mahendra Prawira, Pemasaran Bank Jateng Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, pemasaran Bank Jateng Kudus Mahendra Prawira (25), sudi berbagi penjelasan terkait program tersebut. Dia mengatakan, Agen Duta Laku Pandai merupakan progam untuk mendekatkan Bank Jateng dengan nasabah. Dengan adanya agen tersebut, nasabah tidak perlu lagi bersusah payah untuk datang menabung di bank.

“Sebenarnya ini bagian dari cara kami agar lebih dekat dengan nasabah. Agen-agen kami pun lokasinya di Desa. Jadi, bagi masyarakat yang ingin menabung maupun melakukan transaksi, tidak perlu bersusah payah lagi, cukup datang ke agen terdekat maka semua bisa dilayani,” ungkap Hendra sewaktu ditemui di kantor Bank Jateng Kudus, Jalan Jendral Sudirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus.

Hendra mengatakan, khusus Bank Jateng Kudus, layanan itu tergolong masih baru, yakni mulai Januari 2017. Tujuan yang hendak dicapai yakni mempermudah layanan perdesaan untuk menabung di bank. “Kadang kan ada masyarakat yang ingin menabung tapi aksenya jauh. Jadi dengan progam ini masyarakat akan lebih praktis menabung,” ujar Hendra.

Dia menjelaskan, layanan yang bisa dilakukan di agen ini berbagai macam. Meliputi pembukaan rekening, setoran tunai, tarikan tunai, transfer dari rekening Bank Jateng ke rekening lain, pembelian pulsa, pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), pembayaran mahasiswa dan pembayaran lainnya.

Hendra menambahkan, untuk menjadi bagian dari agen DUTA, pihaknya memberikan berbagai syarat yang harus dipenuhi masyarakat. Syarat tersebut di antaranya bertempat tinggal di Kudus, memilki usaha dan membuka rekening untuk deposit transaksi. “Kalau sementara ini, dari data yang sudah kami catat, kami sudah memilki 16 agen di penjuru desa di Kudus. Bagi agen yang mendaftar, nanti juga bisa mendapatkan penghasilan sebagai agen” tambahnya.

- advertisement -

Maskan Yakin Supranya Bisa Taklukkan Banjir, Tapi Sayang Truk Lewat Motornya pun Mlepek

0

SEPUTAR KUDUS.COM, TANJUNGKARANG – Dengan mengenakan jas hujan, seorang laki-laki tua mendorong motor Honda Supra untuk melewati genangan air di Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Beberapa motor lain berhsil melewati genangan air yang mencapai betis orang dewasa. Laki-laki tua tersebut bernama Maskan (42), yang terpaksa medorong motornya karena mlepek (mogok) akibat hempasan air dari truk yang lewat di sampingnya.

Menembus Banjir
Sejumlah kendaraan menembus banjir di Tanjung Karang. Foto: Imam Arwindra

Dia menuturkan, dari Klenteng Hok Tik Bio, dirinya sudah yakin bisa melewati genangan air yang mencapai sekitar 500 meter. Saat berada di tengah genangan, tiba-tiba truk tronton lewat. Gelombang air  yang meninggi akibat truk yang melintas membuat mesin motornya mati. “Dari klenteng (Hok Tik Bio) saya sudah gas motor saya supaya mesinnya stabil. Eh, malah ada truk lewat. Akhirnya ya mlepek,” terangnya sambil membenahi mesin motornya, kemarin.

Menurut Maskan, dirinya akan pergi ke kota untuk bekerja. rumahnya berada di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus. Dia mengatakan, air menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi tersebut sejak dua hari. Menurutnya hari pertama mesin motornya baik-baik saja. Namun untuk hari kedua karena peningkatan volume air, motornya pun mogok. “Jalan ini (Tanjung Karang) perlu ditinggikan, kalau disedot saja hanya bisa sementara,” tuturnya.

Sementara itu, Suryadi (55) warga Desa Tanjung Karang yang rumahnya berada di genangan air menuturkan, air mulai menggenangi Jalan Tanjung Karang sejak hari Kamis (9/2/2017) sekitar pukul 07.00 pagi. Air mulai naik sekitar tiga sentimeter sekitar pukul 21.00 WIB. Menurutnya, air tersebut selain karena intensitas hujan yang tinggi, juga adanya luapan dari sungai Payaman. “Sudah biasa setiap tahun seperti ini. Yang paling parah tahun 2013 tingginya sedada orang dewasa,” ungkap warga RT 2 RW 5 Desa Tanjung Karang.

Menurutnya, air mulai masuk ke rumahnya Kamis pukul 19.00 WIB. Dia khawatir jika air semakin naik barang dagangan di rumahnya akan terendam. Dijelaskan, daerah yang tergenang air merupakan daerah cekungan. Menurutnya, daerah cekungan tersebut panjangnya sekitar satu kilometer lebih.

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Kudus dapat meninggikan jalan tersebut supaya banjir setiap tahun tidak terjadi lagi. “Saya berharap jalan tersebut ditinggikan. Biar daerah langganan banjir tersebut tidak terjadi lagi,” tuturnya.

- advertisement -

Canon IP2770 dan MP287, Printer Paling Laris di My Print Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Tumpukan kardus printer terlihat tertata rapi di dalam My Print, Jalan Pemuda No. 45, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak di atas etalase terdapat dua unit printer Canon IP2770 dan Canon MP287. Dua seri produk Canon tersebut merupakan merek printer yang paling laris terjual di awal tahun ini, tepatnya bulan Januari hingga awal Februari.

Printer Canon
Printer Canon di My Print Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Makrikoh (26), pengelola My Print Kudus, mengatakan, dibanding bulan-bulan sebelumnya di tahun 2016, penjualan printer di toko tersebut mengalami sedikit penurunan. Namun di bulan Januari hingga awal Februari 2017, produk Canon telah banyak menyumbang angka penjualan, dengan jumlah penjualan sebanyak 28 unit printer.

“Untuk bulan-bulan ini Canon IP2770 dan MP287 paling laris terjual, IP2770 sebanyak 15 unit dan 13 unit MP287. Sedangkan jenis printer lain seperti Epson paling 5 hingga 6 unit saja. Tidak seperti bulan Oktober hingga Desember yang mampu menjual 50 printer per bulan,” ungkap Makrikoh kepada Seputarkudus.com.

Wanita yang tercatat sebagai salah satu warga dukuh Karangsambung di Desa Bae RT 5 RW 4, Kecamatan Bae, Kudus, ini menjelaskan, harga merupakan faktor dua Seri produk Canon di My Print banyak dibeli konsumen. Terkait dengan penurunan penjualan, dikarenakan bulan ini tidak bertepatan dengan kenaikan kelas dan pembuatan skripsi. “Kan pada saat itu banyak orang yang membutuhkan,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain menjual berbagai produk printer, pihaknya juga menyediakan jasa servis printer serta keperluan digital printing. Mulai dari mesin pres kaos, pres mug digital, kertas foto, kertas print, tinta printer, pemotong kertas, pres pin hingga bahan pembuatan pin dari berbagai ukuran juga tersedia di toko. “Semua kebutuhan printer lengkap disini,” katanya.

Dia menambahkan, My Print Kudus buka mulai pukul 8.30 WIB hingga pukul 17.00 WiB. Menurutnya, selain menunggu calon pembeli yang datang, pihaknya juga melakukan pemasaran melalui Facebook. Harga yang ditawarkan oleh My Print juga sangat beragam, tergantung produk yang apa yang hendak dibeli.

Misalnya Canon IP2770, katanya, harga Rp 754 ribu lengkap dengan tintanya. Canon MP287 seharga Rp 1 juta lebih, Epson kisaran harga Rp 1,3 juta hingga Rp 1,8 juta, printer HP kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1,9 juta. Untuk Fujixerox mulai harga Rp 800 ribu hingga Rp 3,7 juta dan Brother J190 seharga Rp 1,9 juta. “Omzet, sedikit, antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per bulan,” tambahnya sembari tersenyum.

- advertisement -

BEM FKIP UMK Akan Tinggal di Telogowungu untuk Memompa Rasa Kepekaan Terhadap Masyarakat

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Di sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK). Seusai rapat, tampak sejumlah mahasiswa sedang mempersiapkan bekal yang hendak mereka bawa ke acara Edukatif Homestay. Muchammad Izzuddin Khoirul Chabiba (21), Gubernur Mahasiswa FKIP, mengaku anggotanya masih semangat meski acara mundur dua pekan.

BEM FKIP UMK
BEM FKIP UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Izzuddin dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada seputarkudus.com. Kegiatan Edukatif Homestay mundur karena bersamaan dengan adanya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tempur, Keling, Jepara. Pihaknya meemutuskan untuk mencari lokasi lain, dan akhirnya diputuskan di Desa Gunungsari, Telogowungu, Pati. Penyelenggaraan acara tersebut mundur dua pekan.

“Rencana kami melaksanakan Edukatif Homestay di Desa Tempur pada tangga 23 Januari 2017. Karena bersamaan dengan adanya KKN di sana, akhirnya kami pindah di Desa Gunungsari, Telogowungu, Pati. Meski acara mundur dua pekan dan ada beberapa yang membatalkan untuk ikut, tetapi masih banyak yang semangat,” ungkap warga Desa Sukosono, Kedung, Jepara itu.

Dia menjelaskan, Edukatif Homestay adalah pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga, yakni pengabdian masyarakat. Tujuannya agar mahasiswa bisa belajar lebih peka terhadap persoalan masyarakan, sehingga menjadi agen perubahan yang kelak bisa menjadi pemimpin masa depan.

Izzuddin juga menerangkan, kegiatan Edukatif Homestay akan dilaksanakan mulai tanggal 8 februari 2017 hingga tanggal 13 Februari 2017. Jumlah peserta ada 28 orang, terdiri dari 20 anggota BEM FKIP, dan 8 orang mahasiswa FKIP. Sebelumnya ada 37 orang yang hendak ikut. Dikarenakan acara mundur dua pekan, akhirnya ada tujuh orang membatalkan ikut dan ada dua orang anggota BEM yang sedang sakit.

“Peserta dari luar anggota BEM memang sengaja kami batasi maksimal 15 orang, takutnya tidak efektif kalau terlalu banyak. Karena mundur dua pekan jadinya ada tujuh orang yang tidak bisa ikut karena ada agenda lain,” jelas anak kedua dari lima bersaudara itu.

Ketua panitia kegiatan Erwin Luky Prasetya (21) menambahkan, untuk persiapan acara Edukatif Homestay membutuhkan waktu dua bulan. Dan nantinya mereka akan mengajar di beberapa sekolah, seperti sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan madrasah tsanawiah (MTS).

Erwin, begitu dia akrab disapa, menuturkan, selain mengajar nantinya juga akan membuat beberapa lomba untuk anak-anak dan bersih-bersih desa. Mereka juga akan membagikan tempat sampah untuk masyarakat setempat.

“Lombanya ada lomba drama, paduan suara, dan cerdas cermat. Nanti peserta yang ikut akan kami bagi beberapa kelompok, dan setiap kelompok akan kami dampingin. Sebenarnya kami juga berencana ada tanam pohon, karena permohonan bantuan pohon belum ada konfirmasi jadi ini masih menunggu,” tambahnya.

- advertisement -