Beranda blog Halaman 1922

Grand New Avanza, ‘Mobil Sejuta Umat’ Yang Paling Laris Terjual di Toyota Surya Indah Motor

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Di tepi Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 4, Kudus, terlihat sejumlah kendaraan keluar masuk melintasi showroom. Di dalam ruangan, tampak dua orang pria sedang duduk sambil berbincang dengan calon pembeli. Pria tersebuk tak lain adalah Aditya Guruh Firnando (27), Marketing Toyota Surya Indah Motor. Menurutnya, produk Toyota yang paling laris dibeli konsumen yakni Grand New Avanza.

Toyota Grand New Avanza
Toyota Grand New Avanza, Surya Indah Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani dan menunggu calon konsumen datang membeli, Nando, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com, terkait dengan penjualan mobil di tempatnya bekerja. Dia menjelaskan, khusus penjualn mobil Avanza di diler resmi Toyota CV Surya Indah Motor Kudus, mencapai 50 unit per bulan. Menurutnya, mobil jenis itu merupakan “mobil sejuta umat” karena banyak masyarakat memilikinya.

“Avanza itu kan mobilnya sejuta umat, semua orang pasti juga punya, jadi ya tidak heran kalau banyak orang yang membeli. Terbukti, untuk penjualan mobil Avanza saja dalam satu bulan mobil yang laku terjual sebanyak 50 unit,” ungkap Nando sewaktu ditemui di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, ada berbagai pengaruh mobil jenis tersebut banyak diminati pembeli. Misalnya, harga sparepart yang murah, bagasi luas, cabin filter senyap, muat beberapa penumpang, dan yang paling penting perawatannya mudah. “Kelebihannya pada perawatan mobil, soalnya sangat mudah dan hemat bahan bakar,” ujar Hendra yang sudah selama dua tahun menjabat sebagai Marketing Toyota Surya Indah Motor.

Warga Desa Nganguk ini melanjutkan, terkait dengan harga yang ditawarkan setiap unit mobil berbeda-beda, tergantung tipe dan cara pengoperasian mobil. Misalnya Toyota Avanza Tipe E 1.300 cc non ABS Manual Transmission (M/T) dijual dengan harga Rp 190 juta. Sedangkan masih dengan tipe yang sama tapi menggunakan Automatic Manual (A/T) seharga Rp 201 juta. “Di sini ada enam tipe yang kami jual, dengan harga keseluruhan berkisar Rp 190 juta hingga Rp 240 Juta,” ungkapnya.

Selain Toyota Avanza, dia menambahkan, mobil lain yang paling diminati pembeli saat ini ada banyak. Di antaranya ada All New Innova dengan penjual 40 unit per bulan,  Calya dan Agya Improvement masing-masing sebanyak 25 unit per bulan, Sienta maupun New Rush dengan angka penjualan mencapai 20 unit per bulan untuk masing-masing mobil.

“Kalau pembeli, kebanyakan dari wilayah Kudus, Pati dan Jepara, tapi yang paling dominan memang dari Kudus. Sedangkan kalangan, hampir semua merata, baik dari kalangan anak muda maupun kalangan orang tua,” tambahnya.

- advertisement -

Kades Jati Wetan Heran, Mesin Rumah Pompa Berukuran Besar, Tapi Air yang Disedot Sedikit

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Suara mesin terdengar dari sekitar jembatan Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Suara tersebut berasal dari bangunan permanen warna biru yang letaknya di barat pemukiman warga. Bangunan tersebut merupakan rumah pompa, yang digunakan untuk menyedot air dari pemukiman warga di Desa jati Wetan, ke Sungai Wulan.

Banjir Tanggulangin, Desa Jati Wetan
Banjir Tanggulangin, Desa Jati Wetan. Foto: Imam Arwindra

Menurut Kepala Desa Jati Wetan Suyitno (59), polder atau rumah pompa yang berada di tepi Sungai Wulan dinilai tidak maksimal. Dia memperkirakan, pompa yang menyedot air dari pemukiman warga hanya sedikit. Dirinya mengakui, mesin disel yang berada pada rumah pompa berukuran besar. Namun dirinya, mempertanyakan mengapa air yang keluar terlihat sedikit. “Air yang keluar seharusnya lebih besar. Masa hanya segitu,” tuturnya saat ditemui di Balai Desa Jati Wetan, Selasa (14/2/2017).

Dia menuturkan, jika kapasitas air yang dikeluarkan melalui mesin hanya sedikit, dirinya berharap mesin diganti lebih besar. Menurutnya, saat ini ada tiga dukuh di Desa Jati Wetan yang tergenang air. Ada 290 jiwa yang mengungsi di Balai Desa Jati Wetan, 55 jiwa mengungsi di tempat saudara dan 2.875 yang masih memilih bertahan di rumah. “Alatnya tidak memadai. Kalau misal tidak bisa diganti. bisa ditambah,” jelasnya.

Suyitno melanjutkan, seharusnya pompa air yang digunakan lima atau sepuluh kali lipat dari sekarang. Agar air yang menggenangi rumah warga cepat surut. Diungkapkan, air yang menggenangi rumah warga Senin pagi (13/2/2017) sempat turun empat sentimeter. Namun karena hujan deras terjadi pada malam harinya, ketinggian air meningkat lagi. “Ini tidak untuk saya, melainkan untuk warga saya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengairan Wilayah II Kudus (Undaan, Jati, Kudus Kota) Muhtarom mengungkapkan, di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Wulan hanya ada satu rumah pompa yakni di Dukuh Tanggulangin Desa Jati Wetan. Menurutnya, terdapat dua penyedot air yang dijalankan satu mesin. “Satu penyedot mengalirkan 300 meter kubik per detik air. Kalau dua berarti 600 meter kubik per detik,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com.

Dilihat dari rancangan bangunannya, rumah pompa yang dibangun tahun 2010 dan dioperasikan tahun 2012, menurutnya memiliki tiga penyedot. Namun dirinya tak mengetahui realisasinya hanya ada dua penyedot. “Alat tersebut yang membangun BPESDM bukan Balai Besar (Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana),” jelasnya.

Dia mengakui, alat penyedot genangan air memang kurang. Menurutnya, normalnya air bisa tersedot 1.500 meter kubik per detik. Selain itu, di wilayah kerjanya juga hanya ada satu. Dikatakan, perlu ada dua rumah pompa lagi yang perlu dibuat yakni di dekat Pintu Ketanjung II dan di tanggul depan Balai Desa Undaan Lor. “Polder di Undaan Lor untuk kecamatan Undaan, Ketanjung dan Tanggulangin untuk Jati dan Mejobo. Selanjutnya, Jekulo langsung dialirkan ke sungai Juwana dan Kaliwungu pakai SWD II,” terangnya.

Muhtarom menuturkan untuk genangan air yang berada di pemukiman Desa Jati Wetan menurutnya diupayakan disedot menggunakan folder yang sudah ada. Dikatakan, mesin pompa air tersebut akan hidup selama 21 jam dengan waktu istirahat tiga jam. Setiap satu jam, menurutmu memerlukan bahan bakar 30 liter.

Dirinya mengaku tidak berani membuka pintu air yang berada di Dusun Tanggulangin. Menurutnya, pintu tersebut dapat dibuka jika debit sungai Wulan 150 meter kubik per detik. Senin sore (13/2/2017) dikatakan, debit sungai Wulan 171 meter kubik per detik. Namun Selasa paginya debit air naik 305 meter kubik per detik. “Jika sudah pada posisi aman. Tidak usah disuruh, nanti langsung saya buka,” ungkapnya.

- advertisement -

Ria Berbunga-Bunga Dapat Helm Baru dari Polres Kudus di Hari Valentine

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Wajah sejumlah pengendara tampak sempringah saat keluar dari barisan di depan Kantor Bupati Kudus. Satu di antara pengendara, yakni Ria (25). Dia mengaku senang setelah mendapatkan helm gratis dari Polres Kudus yang menyelenggarakan kegiatan bagi-bagi helm dan cokelat pada momen Valentine. Menurutnya, kesempatan yang jarang terjadi ini dimanfaatkannya.

Polres Kudus bagi Helm gratis
Polres Kudus bagi Helm gratis. Foto: Imam Arwindra

“Rasanya seperti berbunga-bunga. Seneng banget,” ungkap Ria usai mendapat helm dan cokelat gratis dari Polres Kudus di depan Kantor Bupati Kudus,  Selasa (14/2/2017).

Wanita yang mengendarai Vario Techno warna hitam itu menuturkan, dirinya mendapatkan helm putih standar yang diberikan pada anaknya, Amel (4). Menurutnya, dia mengaku senang karena mendapatkan helm gratis untuk anaknya yang langsung diberikan anggota Polres Kudus. Ria berpesan, agar polisi sering-sering menyelenggarakan kegiatan bagi helm gratis karena akan banyak bermanfaat bagi pengendara motor.

“Yang sering-sering saja buat kegiatan seperti ini. Pasti masyarakat akan senang sekali,” tambah Ria yang saat itu hendak pergi ke Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus.

Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto menuturkan, kegiatan yang dilakukannya sebagai bentuk kasih sayang polisi kepada masyarakat, khususnya pengendara. Menurutnya, kegiatan yang diadakan tepat pada momen valentine bertajuk Satlantas Polres Kudus Peduli. “Kami membagikan helm, cokelat, bunga dan permen kepada pengendara yang melintas di Simpang Tujuh,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, helm yang dibagi sebanyak 40. Sejumlah 20 helm berukuran kecil dan 20 helm berukuran besar. Selain itu, pihaknya juga membagi sebanyak 50 bungkus cokelat, 50 bunga dan beberapa boks permen. Menurutnya, kegiatan serupa pernah diselengharakan. “Kegiatan seperti ini akan rutin kami lakukan. Selain penindakan penilangan juga ada kegiatan-kegiatan simpatik seperti ini,” jelasnya.

Menurutnya kegiatan simpatik sebagai upaya Satlantas untuk mengingatkan masyarakat supaya selalu tertib dalam berkendara. Dijelaskan, setiap tiga bulan sekali pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan serupa dan setiap bulannya juga akan melakukan operasi ketertiban di Kudus. “Kegiatan ini adalah bentuk kasih sayang Satlantas kepada para pengguna,” tuturnya.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kudus AKBP Andy Rifa’i yang turut serta dalam kegiatan pembagian helm, coklat dan bunga menuturkan, masyarakat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, banyak masyarakat yang melintas berhenti untuk mendapatkan helm, coklat atau bunga dari polisi.

“Selain memberikan helm, coklat dan bunga kami juga mengingatkan masyarakat agar selalu berhati-hati dan patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Kegiatan ini sebagai bentuk kasih sayang kepada masyarakat,” ungkapnya.

- advertisement -

Pemilik Cuci Mobil Habira Kudus Sebel, Banyak Pelanggan Minta Didahulukan

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di tepi selatan Jalan Bakti, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah rumah bercat kuning. Rumah tersebut merupakan tempat cuci mobil. Di pelataran rumah terlihat tiga mobil bersih serta tiga mobil kotor. Di luar pagar tampak ada tiga mobil terparkir menunggu antrean untuk diparkir pelataran dan di cuci. Tempat cuci mobil tersebut bernama Cuci Mobil Hanira, yang saat musim hujan kali ini selalu penuh sesak.

Cuci mobil di Kudus
Tempat Cuci Mobil Hanira Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, pemilik Cuci Mobil Harina Kudus Hari Prakoso (50) selaku pemilik tempat cucian mobil tersebut mengatakan, tempat usahanya selalu penuh mobil untuk dicuci saat musim hujan ini.  Bahkan tak jarang tempatnya yang sudah cukup luas tidak bisa menampung semua mobil milik pelanggan dan sebagian harus diparkir di luar pagar.

“Di musim hujan tempat cucian mobil Hanira setiap hari selalu penuh dengan mobil pelanggan yang akan dicuci. Karena di pelataran rumah hanya muat sekitar enam mobil. Jadi yang lainnya harus diparkir di tepi jalan atau luar pagar. Dan nanti dicuci sesuai nomor antrean,” ujar pria yang akrab disapa Hari kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Pria yang berasal dari Surabaya itu mengatakan, karena ramainya pelanggan yang datang, tak jarang dirinya mendapat komplain dari pelanggan. Karena menurutnya, semua pelanggan ingin mobil mereka yang didahulukan untuk dicuci. Padahal demi pelayanan, Hari mengaku sudah memberikan arahan kepada semua pekerjanya agar mendahulukan mobil yang datang dulu.

“Sebenarnya untuk mempercepat proses pencucian mobil, aku bisa saja menambah tenaga. Namun karena keterbatasan tempat serta hanya memiliki dua hidrolik untuk mengangkat mobil, aku tetap hanya mempekerjakan tiga orang saja. Jadi para pelanggan harus bersabar dan sesuai antrian,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, di musim yang tak menentu sekarang ini cucian mobilnya mampu mencuci sekitar 15 mobil dalam sehari. Namun saat kemarau, jumlah mobil yang dicuci turun hampir 50 persen.

Dia menjelaskan, harga jasa cuci mobil sebesar Rp 35 ribu per unit. Harga tersebut merupakan cuci salju, vakum serta semir ban. Selain itu di tempat cuci mobil Hanira, kata dia, juga melayani salon untuk mobil, poles body, jamur kaca dan lainya. Tempat cuci mobilnya tersebut buka setiap hari mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 17:00 WIB

“Aku sadar tidak bisa menyenangkan semua pelangganku, namun dengan mencuci mobil pelanggan sesuai antrean, aku berharap para pelangganku tidak berpaling ke tempat cucian lain. Aku juga berkeinginan usahaku bisa lebih berkembang,” ujar Hari.

- advertisement -

Tak Betah Kerja di Pabrik, Hani Pilih Bekerja di Star Cellular Karena Ada Sift Kerja

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Awan hitam tampak menyelimuti pemukiman di Jalan Pasar Brayung, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus. Tidak jauh dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Mejobo, terlihat seorang wanita mengenakan jaket sedang duduk sambil melihat layar handphone di tangannya. Wanita tersebut yakni Hani (22), karyawan Star Cellular, yang menjual berbagai produk handphone, grosir asesoris dan paket perdana.

Hani, karyawan Star Selular
Hani, karyawan Star Celullar. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli datang, Hani sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya di toko tersebut. Dia mengatakan, bekerja di Star Cellular sudah hampir tiga tahun, lebih tepatnya sejak tahun 2014. Sebelum bekerja di toko itu, dia mengaku sempat menjadi karyawan di sebuah perusahaan di Kudus.

“Sebelum di sini, dulu saya pernah bekerja di pabrik plastik. Tapi tak berlangsung lama, soalnya tidak betah sering berangkat pagi pulang malam. Kalau dibanding dengan pekerjaan saya sekarang dengan yang dulu, jelas lebih enak saat ini. Soalnya di sini jaganya bergantian. Mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB,” ungkap Hani.

Warga Desa Kesambi RT 1 RW 4, Kecamatan Mejobo, Kudus, ini mengatakan, toko ponsel yang dia jaga setiap hari milik tetangganya, Hilal Ahmad. Produk yang dijual berbagai macam, meliputi handphone, aksesoris di antaranya tongsis, flip cover, charger, baterai, flashdisk, USB on the go (OTG) hingga paketan perdana juga tersedia. “Semua ada, tinggal dipilih saja sesuai keinginan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, handphone yang dijual di Star Cellular berbagai macam. Antara lain Advan, Huawei, Lava, Mito, Evercros, Nokia, Samsung, Oppo, Lenovo, Hamer, Nexcom dan lain sebagainya. Sedangkan produk HP yang sering laku terjual yakni Advan. “Yang banyak terjual Advan, kisaran 4 hingga 5 unit. Soalnya, harga murah dan terjangkau untuk semua kalangan,” ungkap dia yang mengaku anak pertama dari dua bersaudara.

Selain itu, dia menambahkan, Harga yang ditawarkan bagi setiap pembeli bermacam-macam, tergantung tipe maupun model HP yang dijual. Misalnya Advan, dijual seharga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta lebih. Untuk merek yang lain dia jual kisaran harga Rp 200 ribu hingga Rp 2,5 Juta. Sedangkan penjualan, kisaran lima hingga sepuluh unit per bulan yang laku terjual.

“Tidak bisa dipastikan, kadang lima, kadang bisa 10 HP yang terjual dalam jangka satu bulan. kalau omzet per bulan saya tidak tahu pastinya, yang lebih tahu hanya pemilik usaha,” tambahnya.

- advertisement -

Apes, Mau Dipanen Kolam Ikan Milik Warga Payaman Kebanjiran, Puluhan Juta Melayang

0

SEPUTARKUDUS.COM, PAYAMAN – Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan beberapa daerah di Kudus terendam banjir. Satu di antaranya Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus. Tak hanya persawahan, banjir juga menggenangi namun juga kolam ikan milik warga setempat. Satu di antara pemilik kolam ikan yakni Suyatno (35), yang harus merugi puluhan juta rupiah akibat ikan peliharaannya terbawa arus banjir.

Kolam ikan tombro
Kolam ikan di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus, terkena banjir. Foto: Rabu Sipan

Saat ditemui di sebuah warung, pria yang akrab disapa Yatno itu sudi berbagi penjelasan tentang usaha ternak ikannya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, hujan yang terus menerus mengguyur Kabapaten Kudus mengakibatkan dua kolam ikan lele, nila maupun ikan tombro miliknya terendam banjir. Karena hal tersebut ikan yang dia pelihara banyak lepas dan dirinya harus mengalami kerugian sekitar Rp 30 juta.

“Akibat banjir menenggelamkan dua kolamku, ikan lele yang aku pelihara dan sudah berusia tiga bulan hilang semua. Tak jauh beda, satu kolamku lainnya juga terendam banjir, namun karena aku pasangi keramba, kolam yang berisi ikan nila dan tombro tersebut masih ada yang tersisa. Tapi paling hanya 30 persenya saja,” keluh Yatno, beberapa hari lalu.

Pria yang sudah menekuni usaha ternak ikan selama empat tahun tersebut mengatakan, ikan lele yang dia peliahara sebenarnya akan segera dia panen. Ikan yang ada di dalam kolam dia perkirakan ada sebanyak 7 ribu ekor. Sedangkan kolam ikan nila dan tombro diberi bibit sebanyak 20 ribu ekor.

Menurutnya, bibit ikan lele tersebut bila dipanen bisa menghasilkan sekitar tujuh kwintal lele, dan dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 10 juta. Sedangkan ikan nila dan tombro saat panen, dia kalkulasi bisa meghasilkan ikan sebanyak satu ton, dan diperkirakan menghasilkan sekitar Rp 20 juta.

“Semua ikan peliharaanku tersebut rencananya akhir Februari bisa dipanen. Karena tengkulakku yang orang Juwana, Pati, sudah menghubungi agar bersiap memanen ikan yang aku pelihara. Selain sudah berumur, harga ikan di pasaran saat ini sedang tinggi. Saat ini sedang ada ombak besar dan banyak nelayan yang tidak melaut,” ungkapnya.

Karena kedua kolamnya tenggelam akibat banjir, Yatno saat ini mengaku bingung. Selama ini usaha ternak ikan yang dia tekuni bermodalkan uang pinjaman bank serta kerabatnya. Dia mengaku pusing, selain gagal panen dia juga harus memutar otak agar dapat pinjaman uang untuk melunasi hutang.

“Meski di musim ini ikanku banyak yang lepas dan aku rugi puluhan juta, aku anggap diriku lagi apes. Saat banjir sudah usai aku akan beternak ikan lagi dengan modal ikan yang masih ada serta minta pinjaman ke bank lagi. Syukur-syukur kalau dapat bantuan dari pemerintah terkait,” harap Yatno.

- advertisement -

Risih Banyak Warga Buang Sampah ke Sungai, Pemuda Getassrabi Bagi 1500 Karung Sampah

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETASSRABI – Suara gergaji terdengar di ruang atas rumah di Dukuh Srabi, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus. Nampak dua orang pemuda yang sedang memotong dan memaku kayu yang dibentuk seperti tempat jemuran. Kusnadi (20) dan Ali Kusmanto (25), kedua orang yang tergabung dalam Karang Taruna desa tersebut. Mereka sedang membuat dudukan tempat sampah yang hendak dibagikan kepada warga awal Maret mendatang.

Karung sampah Karang Taruna
Karung sampah Karang Taruna Getassrabi. Foto: Ahmad Rosyidi

Kusnadi, selaku Ketua Karang Taruna Getassrabi, sudi berbagi penjelasan tentang program pembagian karung sampah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, pembagian tempat sampah itu berawal dari gejolak pemuda yang prihatin melihat kebiasaan warga membuang sampah di sungai. Kemudian muncul gagasan untuk membagikan karung tempat sampah sekaligus dudukannya di setiap rumah warga. Mereka menyiapkan 1500 karung tempat sampah untuk dibagikan ke 500 rumah yang ada di Dukuhnya.

“Kami berencana membagikan tiga karung tempat sampah kepada setiap rumah. Di Dukuh Serabi ada sekitar 500 rumah, jadi kami butuh 150 karung. Untuk dana awal kami menggunakan dana pinjaman, tapi nantinya setiap warga kami kenakan biaya kebersihan minimal Rp 10 ribu tiap bulan,” ungkap anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Dia menjelaskan, nantinya sampah akan dipisahkan menjadi tiga jenis, agar pihaknya tidak perlu membutuhkan banyak waktu untuk memisahkan. Kusnadi juga menjelaskan tiga jenis sampah yang akan di bagi, yang pertama jenis sampah organik, misalnya daun-daunan.

“Kedua sampah jenis nonorganik yang bisa langsung dijual, contohnya kaleng dan botol. Ketiga jenis sampah nonorganik yang masih perlu diolah, contoh sampah plastik. Kami sengaja memberi tiga karung tempat sampah agar kami tidak perlu membuang banyak waktu untuk memisahkan,” jelasnya.

Ali Kusmanto, Koordinator Bidang Lingkungan Karang Taruna Desa Getassrabi menambahkan, saat ini jumlah anggota pengelolaan sampah ada sekitar 45 orang. Terdiri dari perwakilan 10 RT masing-masing tiga orang. Ditambah 15 anggota Karang Taruna.

Tombol, begitu dia akrab disapa, menerangkan bahwa gagasan untuk mengelola sampah tidak lepas dari dukungan pembina. Karena pembina bekerja di Dinas Llingkungan Hidup Kabupaten Jepara. Pihaknya merasa terbantu dengan arahan dan masukan dari orang yang lebih berpengalaman dalam hal menangani samapah.

“Selain diberi masukan dari pembina, kami juga melakukan survei di Desa-desa terdekat yang kami ketahui ada aktivitas pengelolaan samapah. Misalnya di Desa Besito dan Desa Garung Kidul. Setelah kami cari informasi kemudian kami diskusikan dan kami inovasi jika kami rasa masih ada kekurangan,” terangnya.

- advertisement -

Mbah Ngatini Tak Bisa Sembunyikan Rasa Haru Saat Didatangi Komunitas Ketimbang Ngemis

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Sejumlah pemuda membawa kardus, karung berisi beras, dan kantong plastik berjalan melewati lorong menuju rumah dengan halaman yang sempit di Desa Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Rumah tersebut ditinggali Ngatini (70). Pemuda yang tergabung dalam Komunitas Ketimbang Ngemis (KN) itu memberi bantuan dari donatur dan disalurkan penghuni rumah yang dituju. Perempuan renta yang sehari-hari memulung sampah itu tak bisa sembunyikan rasa haru.

Komunitas Timbang Ngemis Kudus
Komunitas Ketimbang Ngemis Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Mbah Ngatini, begitu dirinya biasa disapa, mengaku senang karena telah diberi bantuan oleh Komunitas Ketimbang Ngemis. Ngatini juga mengucapkan banyak terima kasih kepada donatur. Dia mengatakan hanya bisa mendoakan para dermawan semoga selamat, dan mendapat balasan atas kebaikannya.

“Saya senang ada yang membantu, saya cuma bisa mendoakan orang-orang yang sudah memberi donasi. Orang-orang baik yang masih mau membantu, semoga selamat dan mendapat balasan atas kebaikannya. Maaf kaki saya tidak bisa diam, memang gemetar terus seperti ini,” tuturnya sambil memegang kakinya yang terus gemetar.

Kepada Seputarkudus.com Mbah Ngatini sudi berbagi cerita tentang kehidupannya. Dia mengatakan sudah lima tahun memungut sampah. Sampah yang dikumpulkannya dijual setiap satu pekan sekali. Dalam satu pekan mbah Ngatini hanya mendapat uang sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Dia mengaku uang tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Dia bersyukur ada adiknya yang masih membantu untuk mencukupi kebutuhan. Karena semua anaknya sudah meninggal, saat ini Mbah Ngatini tinggal bersama adiknya.

“Kalau tidak hujan saya mencari sampah mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Sampah yang saya kumpulkan saya jual setiap satu pekan sekali. Hasilnya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, jadi masih minta adik saya,” jelasnya.

Sementara itu, Painah (60), seorang pemulung di Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungi, yang juga mendapat bantuan dari dermawan yang diberikan KN Kudus, mengaku senang dan berterimakasih atas bantuan yang diberikan. Gunadi (72) suaminya juga salut dengan pemuda yang masih aktif di komunitas sosial seperti KN Kudus.

Painah mengungkapkan, dirinya menjadi pemulung sejak tahun 2000, tetapi mulai merasa kekurangan sejak suami dan dirinya diPHK pada tahun 2007. Dia mulai berangkat mencari sampah pukul 3.00 WIB hingga pukul 7.00 WIB. Saat sore, dirinya  berangkat lagi pukul 16.00 hingga menjelang Maghrib. Saat ini dia masih membiayai satu anaknya yang masih sekolah menengah atas (SMA) kelas tiga.

“Biasanya saya mencari samapah di sekitar daerah Menara (Menara Kudus), Majapahit, Pengkol, kemudian arah balik ke Prambatan Kidul. Hasil dari mencari sampah yang saya kumpulkan dalam dua pekan hanya mendapat uang Rp 70 ribu,” ungkapnya.

- advertisement -

Di Toko Rahab Kudus 50 Jas Hujan Terjual dalam Sehari, Merek Penguin’s Paling Laris

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Di tepi utara Jalan Jenderal Soedirman, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah toko. Di toko tersebut tampak puluhan jas hujan tergantung di luar maupun dalam. Tak hanya itu, di rak bertingkat terlihat puluhan lipatan jas hujan di tiap tingkatnya lengkap dengan pembungkusnya. Tempat tersebut yakni Toko Rahab, toko menyediakan jas hujan. Musim hujan kali ini, sekitar 50 pcs jas hujan terjual dalam sehari.

Toko Rahab jual jas hujan
Toko Rahab Kudus jual jas hujan. Foto: Rabu Sipan

Lilik Sugeng (44), karyawan Toko Rahab, mengungkapkan, penjualan jas hujan selalu laris saat musim hujan. Musim biasanya terhadi pada bulan Januari dan Februari. Agar mampu melayani setiap pembeli, pihaknya menyetok jas hujan hingga ratusan pcs. Dalam sehari tokonya bisa menjual jas hujan hingga 50 pcs sehari.

“Jumlah tersebut saat hari turun hujan, namun saat cerah bisa menjual lima pcs jas hujan sudah bagus. Apalagi saat musim kemarau jas hujan hampir tak laku sama sekali,” ungkap pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut, kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Kandang Mas, Dawe,  itu mengungkapkan, di toko tempatnya bekerja sudah berjualan jas hujan sekitar 15 tahun. Penjualan jas hujan di Toko Rahab selalu laris saat intensitas hujan tinggi, seperti saat ini.

“Saat turun hujan dan datangnya pembeli tidak bisa ditentukan. Karena khawatir saat datang banyak pembeli kehabisan stok, akhirnya stok jas hujan di toko kami diperbanyak, meskipun lakunya musiman. Toh gak basi dan ketinggalan model kok,” ujar pria yang akrab disapa Lilik kepada Seputarkudus.com, kemarin.

Lilik mengatakan, di Toko Rahab menjual jas hujan dari beberapa merek dan bentuk. Di antaranya, merk Pinguin dia jual antara harga Rp 70 ribu sampai Rp 200 ribu per pcs. Merek Monas dan cap Gajah dihargai Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu per pcs. Sedangkan untuk merk Big Top dia banderol antara harga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per pcs.

“Dari ketiga merek tersebut, di Toko Rahab jas hujan merk Pinguin paling diminati meskipun harganya lebih mahal dari merke lainya. Sedangkan untuk jenis model dari ketiga merk tersebut sama. Semua merk punya model poncho lengan serta model jaket dan celana,” jelasnya

Karena jas hujan lakunya pada saat musim hujan, tutur dia, pemilik toko Rahab juga menjual layangan beserta benang sebagai pelengkapnya untuk musim kemarau. Menurutnya saat musim kemarau penjualan jas hujan seolah terhenti meskipun masih banyak setok. Dikatakanya pada musim kemarau toko Rahab sibuk menjual aneka layangan dan senar gelas sebagai pengikatnya.

Dia mengungkapkan, pada musim kemarau Toko Rahab mampu menjual 5000 pcs layangan sebulan dengan harga layangan sekitar Rp 2 ribu. Sedangkan senar gelas mampu terjual sekitar 200 pcs sebulan dengan harga antara Rp 2 ribu sampai Rp 30 ribu.

“Meskipun yang dijual di Toko Rahab jenis barang musiman namun saling mengisi. Saat musim hujan penjulan fokus pada jas hujan meskipun juga ada beberapa pembeli layangan, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

- advertisement -

Sutrisni Tak Menyangka, Kapolres dan Dandim Kudus Datang di Posko Pengungsian Karangrowo

0

SEPUTAR KUDUS.COM, KARANGROWO – Sejumlah mobil terlihat berhenti di depan Balai Serbaguna Dukuh Krajan, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus. Dari kejauhan, tampak seorang laki-laki berseragam coklat membawa tongkat komando keluar dari mobil Suzuki Grand Vitara. Dia segera bergegas menuju aula Balai Desa untuk bertemu pengungsi yang rumahnya terkena banjir di Desa Karangrowo. Dia yakni AKBP Andy Rifa’i, Kapolres Kudus yang datang untuk memberikan bantuan, Senin (13/2/2017).

Kapolres dan Dandim Kudus datang ke lokasi banjir
Kapolres dan Dandim Kudus datang ke lokasi banjir. Foto: Imam Prasetyo Arwindra

Sementara itu, di dalam aula, ratusan pengungsi mengarahkan pandangannya ke kerumunan tempat Kapolres berada. Sesekali beberapa dari mereka berdiri untuk melihat siapa yang datang. Di antaranya Sutrisni (35), yang mengaku penasaran dengan kedatangan yang membuat pintu masuk aula ramai. Saat ditengok, menurutnya yang datang Kapolres Kudus. “Saya sempat kaget, kok ramai ada apa ya? Tak menyangka ternyata Pak Kapolres. Itu ada juga Pak Dandim (Komandan Kodim 0722 Kudus),” tuturnya.

Perempuan yang mengenakan kaus abu-abu mengaku sudah lama mengetahui Kapolres dan Dandim. Namun baru pertama ini melihatnya secara langsung. “Tahunya dari internet,” tambahnya sambil tersenyum.

Sutrisni menuturkan, dirinya sudah berada di pengungsian sekitar tiga hari. Menurutnya air yang menggenangi rumahnya setinggi paha orang dewasa. Hal tersebut dikarenakan sungai yang dekat desanya meluap dan ditambah intensitas hujan yang tinggi. “Saya di sini empat orang. Saya, suami dan anak dua,” ungkap warga Dukuh Krajan, Desa Karangrowo.

Kapolres Kudus, AKBP Andy Rifa’imengatakan, pihaknya datang bersama Dandim untuk mengirim bantuan ke dua tempat pengungsian akibat banjir. Satu tempat di antaranya di Desa Karangrowo. “Selain ke Karangrowo, kami juga ke posko pengungsian di Desa Jati Wetan. Kami bersama-sama dengan Dandim juga ingin melihat kondisi pengungsi,” ujar Andy.

Sementara itu, Kepala Desa Karangrowo Heri Darwanto (42) menuturkan, ada 356 orang pengungsi di Balai Serbaguna Dukuh Krajan. Menurutnya, mereka berasal dari 115 kepala keluarga. Dia merinci, terdapat 210 pengungsi dewasa, 39 balita, 85 anak-anak dan 22 lansia. “Warga mengungsi Sabtu (11/2/2017) sore. Malamnya pukul 10.00 WIB bertambah tiga orang,” ungkapnya.

Disebutkan, di Desa Karangrowo terdapat tiga dukuh yakni Ngelo, Kaliyoso dan Krajan. Menurutnya, pemukiman yang tergenang air yakni Dukuh Krajan RW 1 dan 2. Dia merinci, di RW 1 air menggenangi RT 7 dan 2. Sedangkan, di RW 2 air menggenangi RT 1, 2 dan 6. “Semoga banjirnya bisa cepat surut,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, logistik untuk kebutuhan para pengungsi sudah sangat cukup. Logistik tersebut didapatkan dari bantuan-bantuan yang berdatangan. Menurutnya, untuk Kapolres dan Dandim yang datang memberikan sembako kepada pengungsi. “Yang bantu banyak. Dari Pemerintah, BPBD, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Bank Jateng Syariah, PDAM dan masih banyak yang lain,” ungkapnya.

Selain itu, banyak warga yang tidak terkena banjir menjadi relawan di pengungsian. Seperti ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) dan pemuda Karang Taruna yang membantu di dapur umum. Untuk tempat memasak dan pembungkusan dipisahkan supaya lebih higienis. “Untuk tempat pembungkusan di dalam ruangan TK Pertiwi,” terangnya.

Heri Darwanto melanjutkan, untuk segi kesehatan tidak ada pengungsi yang sakit. Diungkapkan, pengungsi hanya terkena gatal-gatal yang dapat ditangani langsung oleh petugas puskesmas Ngemplak. Menurutnya kemarin ada warga yang terpatuk ular, namun segera mungkin langsung dibawa ke Rumah Sakit Mardi Rahayu dan sekarang sudah sehat kembali. “Puskesmas Ngemplak sendiri setiap hari ada,” tambahnya.

- advertisement -

Wow, Motor Satria Rajai Penjualan di Suzuki Kliwon Kudus, Sebulan 25 Unit Terjual

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Siang itu, air hujan turun saat sejumlah orang terlihat menaikkan sepeda motor baru ke atas mobil pikab, di tepi Jalan Jendral Sudirman 126 Kudus. Mereka adalah karyawan Suzuki Kliwon Kudus. Di dalam diler tersebt berjajar sebanyak sejumlah unit motor, yang beberapa di antaranya didominasi Suzuki Satria yang banyak digandrungi anak muda. Di diler tersebut motor Suzuki Satria mendominasi penjualan sejak tiga tahun terakhir, tepatnya periode 2014 hingga 2017.

Suzuki Satria, Suzuki Kliwon Kudus
Suzuki Satria, Suzuki Kliwon Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Marketing Manajer Suzuki Kliwon Kudus, Jumron (50), sudi berbagi penjelasan tentang penjualan motor di tempatnya bekerja. Dia mengatakan ada berbagai faktor yang membuat Suzuki Satria tetap eksis dalam hal menarik pelanggan untuk membeli. Satu di antaranya karena pengaruh dari bodi kendaraan yang cocok bagi kalangan anak muda.

“Penjualan paling laris Suzuki Satria, dimulai sejak periode 2014 hingga 2017. Motor ini canggih, sporty, bodi lebih ramping dan cocok untuk anak muda. Kalau kecepatan sudah jelas, memang tidak perlu diragukan lagi,” ungkap Jumron saat ditemui di Diler Suzuki Kliwon Kudus, Desa Nganguk, Kecamatan Kota.

Pria asal Semarang, ini mengatakan, dalam jangka waktu satu bulan, pihaknya mampu menjual sebanyak 15 hingga 25 unit motor Satria. Pembeli biasanya dari wilayah Kudus, Jepara, Pati maupun wilayah Demak. Menurutnya, warna motor Satria yang sering laku terjual di Suzuki Kliwon Motor kebanyakan warna hitam.

Untuk harga yang ditawarkan setiap unit motor Satria, katanya, berbeda-beda, tergantung tipe dari motor yang dijual. Misalnya, Satria F150 MF dia patok harga Rp 22,6 juta, Satria Black Predator MFX seharga Rp 22,9 juta dan Stria FU MFZ dengan harga sekitar Rp 23 juta lebih. “Kalau musim ramai penjualan, biasanya pada saat Ramadan,” ujarnya.

Sementara itu, hujan terlihat semakin deras. Di samping diler, tampak beberapa orang tengah duduk menunggu motor mereka yang sedang diservis. Sejumlah karyawan tampak sigap membenahi kendaraan satu per satu dari pelanggan.

Jumron menambahkan, selain melayani penjualan motor, pihaknya juga menyediakan jasa servis kendaranaan. Pelanggan yang membeli motor baru di Suzuki Kliwon Kudus akan mendapatkan berbagai fasilitas. Fasilitas yang diberikan berupa garansi mesin selama tiga tahun, servis dan penggantian oli motor secara gratis.

“Untuk pembayaran motor, semua bisa dilakukan dengan cara pembayaran tunai maupun kredit. Kredit bisa langsung melalui Adira, bisa juga lewat SFI (Suzuki Finance Indonesia). Baik mau dibayar secara kredit bulanan maupun musiman juga bisa,” tambahnya.

- advertisement -

Sempat Bertahan 4 Hari, Nanik Akhirnya Mengungsi di Gereja Tanjung Karang Karena Banjir

0

SEPUTAR KUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Perempuan berkaus putih tampak mengobrol dengan sejumlah orang di gedung Agape Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjung Karang. Perempuan yang sudah keriput itu juga mengenakan celana pendek selutut berwarna coklat tersebut bernama Nanik (65), warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, yang harus mengungsi karena rumahnya terendam banjir.

Banjir, jemaat tetap Kebaktian di GKMI Tanjung Karang
Banjir, jemaat tetap Kebaktian di GKMI Tanjung Karang. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com di kawasan GKMI Tanjung Karang, dia mengaku sudah berada di GKMI sejak hari Sabtu (11/2/2017). Menurutnya, letak rumahnya berada di tanah rendah, sehingga menyebabkan tergenang banjir paling parah. Genangan tersebut dikatakan mencapai setinggi dada orang dewasa. “Kalau di dalam rumah sekitar sepaha,” ungkapnya sambil mencontohkan dengan tangan.

Dia mengaku sudah tidak bisa beraktivitas sama sekali di rumah. Untuk memasak dan tidur pun juga tidak bisa dilakukannya. Menurutnya, sebelum mengungsi di gereja dirinya sempat empat hari tinggal di rumah tetangga yang posisi rumahnya lebih tinggi. Karena air semakin naik, dan rumah tetangga yang ditumpangi juga terendam air, akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di gereja. “Air mulai masuk rumah 6 hari yang lalu. Akhirnya saya mengungsi ketetangga. Dan pindah lagi ke sini (gereja),” terangnya.

Nanik mengungkapkan, dirinya mengungsi bersama dua cucunya. Menurutnya, suaminya dan anaknya sudah meninggal. Selain itu, ibu dari kedua cucunya juga sedang bekerja di Jakarta. Rumahnya berada di Perumahan Tanjung Matra Makmur.

Sementara itu, Sekretaris Majlis GKMI Tanjung Karang Budi K (43) menuturkan, hanya ada tiga orang yang mengungsi di GKMI. Menurut dia, karena rumah Nanik terendam akhirnya mempersilahkan ruangan Agape untuk ditempati. “Ruangan yang ditempati kelas PPA (Pusat Pengembangan Anak). Karena lingkungan gereja banjir, akhirnya sementara diliburkan,” ungkapnya.

Menurutnya, ruang kelas yang digunakan ala kadarnya. Pihaknya juga memberikan sembako bagi pengungsi dan beberapa jemaat gereja yang masih bertahan di rumahnya. Dikatakan, jemaat gereja yang tinggal di Perumahan Tanjung Matra Makmur ada sekitar 20 kepala keluarga. “Termasuk Bu Nanik,” tambahnya.

Ketua Majlis GKMI Tanjung Karang Budi Pujiono yang juga ketua RW 5 Desa Tanjung Karang mengungkapkan, keseluruhan warga yang tinggal di Perumahan Tanjung Matra Makmur tergenang air. Dijelaskan, di RW 5 ada empat RT yang tergenang air, yakni RT 1 sejumlah 30 kepala keluarga, RT 2 sebanyak  103 kepala keluarga, RT 3 27 kepala keluarga dan RT 4 sejumlah 41 kepala keluarga. “Ada yang masih bertahan, ada yang kos dan ada juga yang tinggal di rumah saudaranya,” terangnya.

- advertisement -

Nadiyya Akan Ajak Pacarnya Berfoto Konsep Valentine di Rumah Fotografi Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Seorang laki-laki terlihat memotong kertas warna merah menyerupai pola helai bunga mawar. Pola bunga mawar tersebut selanjutnya disusun menjadi sebuah bunga kertas dengan berbagai ukuran. Bunga-bunga kertas tersebut nantinya akan dirangkai menjadi konsep studio foto khusus momen Valentine di Rumah Fotografi.

Menyiapkan Foto Valentine
Menyiapkan Foto Valentine. Foto: Imam Arwindra

Kurniawan Lukmana (23), pemilik Rumah Fotografi, menuturkan, pada momen Valentine dirinya membuat dua konsep studio khusus. Konsep tersebut akan menggambarkan suasana romantis sesuai dengan makna di hari Valentine. “Nanti akan dua new beground. Yang pertama penuh dengan bunga mawar merah. Dan yang satunya bertema pink,” ungkapnya saat ditemui di Rumah Fotografi Desa Wergu Wetan RT 2 RW 2, Nomor 336A, Kota, Kudus.

 

Dijelaskan, konsep pertama yang penuh dengan bunga, nanti pada studio akan penuh bunga mawar berwarna merah tua. Bunga-bunga tersebut dibuat dengan berbagai ukuran. Dia berharap, foto yang nantinya diambil akan memberikan makna sebuah kasih sayang yang tulus. “Sesuai dengan Valentine, hari kasih sayang,” tuturnya.

Wawan melanjutkan, konsep yang kedua nanti bertemakan pink. Menurutnya, hampir keseluruhan properti berwarna pink. Karena menurutnya wanita menganggap warna pink lucu, dan banyak perempuan yang menyukai warna tersebut. Diungkapkan, nantinya dua studio tersebut akan berada dalam satu ruangan. “Kami berusaha mengikuti perkembangan. Supaya pengunjung yang datang puas,” tambahnya.

Menurutnya, Valentine tidak harus dengan pacar. Melainkan juga dengan orang tua, adik dan sahabat. Dia menuturkan, untuk biaya akan dibuat sistem paket. Perpaketnya akan ada tiga file terbaik yang sudah di cetak beserta frame fotonya. Namun untuk frame fotonya berbahan kertas. Dirinya mengaku akan memberikan harga Rp 100 ribu setiap paketnya.

Dia melanjutkan, target yang ditentukannya yakni satu hari 10 paket. Di Rumah Fotografi sudah ada 22 studio indoor dan beberapa studio outdoor. Menurutnya, dirinya juga sedang merancang studio outdoor yang akan ditempatkan halaman di belakang. “Mari kita abadikan momen dengan orang yang kita sayangi,” ungkapnya.

Sementara itu, Layli Riza Nadiyya (16) yang sedang berfoto dengan teman-teman di Rumah Fotografi mengaku tertarik dengan konsep Valentine yang ditawarkan. Menurutnya, dirinya akan mengajak pacarnya untuk datang mengabadikan momen tersebut. “Nanti juga sama keluarga dan sahabat,” ungkapnya yang menahan malu karena diejek temannya.

Nadiyya mengakui studio-studio di Rumah Fotografi memang bagus. Menurutnya, dia merasa keasyikan dan nyaman dengan konsep yang ditawarkan. Dirinya sampai mengajak teman-temannya untuk berfoto bersama di Rumah Fotografi. “Kami memang sering bersama. Mengadakan ulang tahun bersama, liburan sekolah ke Jogjakarta bersama. Semua bersama. Saya bahagia dengan ini. Intinya bahagia kita sendiri yang ciptakan,” tambahnya yang masih sekolah di SMA.

- advertisement -

Siswa TBS Ini Bangga Memiliki Kaus Desain Hasil Karya Sendiri

0

SEPUTARKUDUS.COM, DAMARAN – Di tepi Jalan KH Aswaniyyah tepatnya di tepi Tenggara Perempatan Jember, Desa Damaran, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat deretan ruko. Satu di antara ruko tersebut yakni tempat pemesanan kaus, Custom Genz Cloth. Di dalamnya ada tiga orang berseragam sekolah sedang mengobrol dengan seorang pria yang sedang menghadap laptop. Satu di antara siswa tersebut bernama Ghani (13), yang mengaku memilih datang ke tempat itu karena ingin punya kaus hasil desainya sendiri.

Siswa TBS
Siswa TBS di Custom Genz Cloth. Foto: Rabu Sipan

Seusai memesan kaus, Ghani bersama dua orang temannya sudi berbagi cerita tentang kaus yang dia pesan kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sudah sejak lama ingin memiliki kaus dengan desain namanya berada di bagian depan. Tulisan nama tersebut tercetak besar dan dibuat melengkung untuk menyesuaikan dan terlihat bagus.

“Aku tadi memesan kaus dengan desain tulisan namaku tertera di bagian depan. Tulisan tersebut aku buat latin agar kelihatan keren. Aku sebenarnya tadi ingin agar tulisan tersebut dibuat huruf kapital semua. Namun karena huruf kapital kalau dibuat latin hasilnya jelek, akhirnya aku putuskan hurufnya biasa saja, yang penting latin,” ujar Ghani yang masih duduk di kelas tujuh tersebut.

Senada dengan Ghani, satu di antara temannya bernama Akbar (13) juga datang ke tempat tersebut agar punya kaus yang tertera namanya di bagian depan. Namun menurutnya, meskipun sama dengan Akbar, bagian kaus belakang kaus berbeda gambar dan jenis.

“Akbar selain nama yang disematkan pada kaus pesanannya, dia juga mendesain bagian belakang kaus dengan mencantumkan nama grup kamar tempat dia mondok. Berbeda dengan aku yang mendesain bagian belakang kaus pesananku dengan memberi katu As,” ujar Ghani yang mengaku selain satu sekolah, mereka bertiga juga satu pondok pesantren.

Sedangkan Wildan (14), siswa TBS yang lain, memilih desain untuk kaus yang dia pesan lebih ke suporter bola. Menurutnya, sudah sejak lama mengidolakan Persib Bandung, jadi sewaktu memesan kaus, Wildan mengaku menyematkan desain yang berkaitan denga Viking, seporter fanatik Persib.

Siswa asal Demak tersebut, selain mendesain bagian depan kaus yang dia pesan sesauai dengan kaus Viking, dia juga tak lupa menyematkan kata-kata kontroversi untuk klub musuh bebuyutan. Kata-kata tersebut dibubuhkan di bagian belakang kaus yang dia pesan.

Mereka bertiga mengungkapkan, mendesain sendiri kaus yang mereka pesan, karena ingin menyaluarkan kreasi. “Intinya kami bangga memiliki dan memakai kaus dengan desain hasil karya sendiri,” ungkap mereka.

- advertisement -

Dosen Bahasa Inggris UMK Ini Biasakan Anaknya Berbahasa Jawa Ngoko Ketimbang Bahasa Indonesia

0

SEPUTAR KUDUS.COM, JAPAN – Sejumlah mainan mobil-mobilan terlihat di ruangan keluarga. Terlihat juga karpet busa warna-warni yang memiliki pola huruf abjad terletak di kasur bermotif bunga. Tampak anak laki-laki dan perempuan bermain. Di sampingnya, seorang laki-laki mengenakan sarung terlihat asyik menemani kedua anak tersebut. Mereka terdengar saling berinteraksi menggunakan Bahasa Jawa ngoko.

Mutohhar, membiasakan anak berbahasa Jawa
Mutohhar, membiasakan anak berbahasa Jawa. Foto: Imam Arwindra

Mutohhar adalah nama laki-laki yang sedang bermain dengan kedua anaknya. Kepada Seputarkudus.com, dirinya mengaku sengaja mengajari anaknya untuk berbahasa Bahasa Jawa. Menurutnya Bahasa Jawa penting untuk interaksi di lingkungan tempat tinggal. “Saya malah mengajarkan Jawa Ngoko, biar mereka bisa berinteraksi lumrahnya orang Jawa,” tuturnya saat ditemui di kediamannya Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus belum lama ini.

Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus (UMK) mengungkapkan, untuk mengajarkan anaknya dalam berbahasa dia tidak mau asal-asalan dengan langsung menggunakan bahasa Indonesia yang dianggap lebih keren. Menurutnya belajar bahasa haruslah bertahap. Dia khawatir ketika masih kecil langsung menggunakan Bahasa Indonesia, anaknya nanti akan kesulitan dalam berbahasa Jawa. “Bahasa ibunya kan Bahasa Jawa. Nanti Bahasa Indonesia akan otomatis diajarkan ketika sudah masuk sekolah formal,” terangnya.

Dikatakan Mutohhar, dirinya mempunyai dua anak yang umurnya masih di bawah lima tahun. Menurutnya anak pertamanya, Muhammad Fusta Ilya Muthohhar, sudah mengikuti sekolah mengaji sore namun sekolah paginya kadang masuk, kadang tidak. Sementara itu anak keduanya, Kania Kaysa Muthohhar, yang masih berusia dua tahun belajar di rumah. “Fuzta seperti anak-anak pada umumnya. Bermain di luar. Bahasa kesehariannya ya Bahasa Jawa,” tambahnya.

Mutohhar berencana, setelah terbiasa dengan Bahasa Jawa ngoko, dia akan mengajari anak-anaknya Bahasa Jawa kromo. Menurutnya mempelajari bahasa bisa dilakukan dengan cara membiasakan. “Memang perlu peran aktif orang tua untuk mendidik anak-anaknya,” tuturnya.

Selain itu, dalam penyebutan nama panggilan orang tua, dirinya mengajarkan dengan panggilan bapak dan ibu. Menurutnya, panggilan orang tua tersebut sudah lumrah digunakan pada umumnya. “Saya tidak pakai ayah atau bunda. Yang biasa saja, bapak ibu,” tambahnya.

- advertisement -