Beranda blog Halaman 1921

Mi Ceker Setan, Menu Andalan Kedai Dchubite Kaliputu yang Punya Rasa Pedas ‘Level Dewa’

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Kedai Dchubite di Jalan Sosrokartono, Kaliputu, Kota, Kudus, siang itu terlihat ramai pengunjung. Tampak seorang perempuan mengenakan jaket dan jilbab biru terlihat bersama temannya sedang menikmati hidangan yang disajikan. Perempuan tersebut bernama Lisa Ernita (21), yang mengaku sering datang ke Kedai Dchubite karena suka rasa pedas yang tersaji dalam menu andalan kedai tersebut.

Pelanggan Keadai Dchubite
Pelanggan Keadai Dchubite. Foto: Rabu Sipan

Di sela menyantap hidangan yang disajikan, perempuan yang akrab disapa Lisa itu sudi berbagi tentang selera makannya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sejak pertama mencicipi menu yang ditawarkan kedai itu, dia mengaku langsung jatuh hati dengan rasa pedasnya. Sejak saat itu, dia sering datang untuk menyantap menu makananan di kedai tersebut. Bahkan saking seringnya, dia mengaku tidak bisa menghitung sudah berapa kali datang ke Kedai Dchubite.

“Selama berkunjung di kedai Dchubite aku sudah memiliki makanan dan minuman favorit yakni mi ceker setan dan es teh jumbo. Menurutku mi ceker setan rasa pedasnya terasa banget. Pokoknya pedasnya mantab, dan berharap aku bisa datang ke kedai Dchubite,” ujar mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kudus.

Senada dengan Lisa, Elsa Manura (15) juga mengaku sangat menggemari masakan yang memiliki rasa sangat pedas. Untuk memenuhi kegemaranya tersebut, siswi kelas 10 MA NU Banat Kudus itu mengaku sering datang ke Kedai Dchubite. Dia juga sangat suka mi ceker setan.

“Sejak pertama kali datang ke kedai Dchubite lidahku langsung cocok dengan menu yang disajikan , terutama mi ceker setan. Karena menurutku mi tersebut memiliki rasa sangat pedas sesuai harapan dan selera makanku,” ujar Elsa yang datang ke bersama empat temannya sesama santriwati Pondok Pesantren Putri AL Muqoddasah, Kudus.

Tak jauh beda dengan Lisa dan Elsa, Mutiara Salim (15) yang datang ke Kedai Dchubite bersama teman-temannya di MA Mu’ allimat NU kudus itu mengungkapkan, sudah sering datang ke kedai tersebut. Dia mengaku ketagihan dengan rasa pedas yang ada di mi ceker setan.

Selain mi ceker setan kata dia, ada beberapa temanya yang pesan menu lain, satu di antaranya mi indo tante yang memiliki rasa yang tak jauh beda pedasnya. Menurutnya rasa pedas yang disajikan diberbagai menu yang ada di kedai Dchubit sangat menantang, mantab dan sedap.

“Pokoknya pedasnya sangat mantap dan menantang deh. Bahkan untuk mengurangi rasa pedasnya kami semua harus memesan es teh manis berukuran gelas jumbo,” ujar perempuan yang akrab disapa Tiara tersebut.

Sementara itu, Stevanus Kristanto (21), orang yang dipercaya mengelola kedai tersebut mengungkapkan, kedainya memang sangat dikenal karena rasa pedasnya. Banyak pelanggan datang karena ketagihan Mi Ceker Setan. Selain melayani pembeli di kedai, pihaknya juga melayani pesanan.

- advertisement -

Meski Tak Paham Bahasanya, Orang Sunda Ini Kagumi Pentas Teater Keset yang Digelar di UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan orang duduk berdesakan di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (18/2/2017) malam. Mereka sedang menyaksikan pentas teater yang ditampilkan Keluarga Segitiga Teater (Keset). Sesekali gelak tawa bergemuruh di dalam ruangan. Satu di antara penonton yang menyaksikan, yakni Muhammad Ramdani (21).

Pentas produksi ke-14 Teater Keset Kudus
Pentas produksi ke-14 Teater Keset Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai pementasan, Ramdan, begitu dirinya biasa disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku tak paham dengan Bahasa Jawa yang dibawakan para pemain. Meski begitu dirinya mengaku kagum pentas yang ditampilkan. Ramdan juga mengatakan mendapat banyak ilmu keaktoran dari pementasan tersebut.

“Saya kurang begitu paham Bahasa Jawa, jadi sulit memahami. Tetapi, terlepas dari itu semua, banyak ilmu keaktoran yang bisa saya dapat,” terang pria asli Tasikmalaya itu.

Ramdan mengaku datang bersama teman-temannya di Teater Beta Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Dia bersama sembilan temannya berangkat pukul 19.00 WIB dan samapai di Kudus pukul 21.00 WIB. Mereka datang karena mendapat undangan dari seniornya. “Kebetulan Ketua Teater Keset Mas Zaki itu senior saya di Teater Beta, angkatan 2003. Karena kami diundang, ya harus datang,” ujarnya.

Pentas teater tersebut merupakan produksi Teater Keset ke-14. Naskah yang dipentaskan berjudul “Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap” karya Akhudiat. Pentas tersebut disutradarai NH Cipo. Usai pementasan, panitia pementasan menggelar acara diskusi. Puluhan penonton tak beranjak dari tempat pementasan, dan ikut serta dalam diskusi tersebut.

Waktu menunjukan pukul 23.45 WIB, usai diskusi terlihat sejumlah orang sigap merapikan properti panggung. Di luar ruangan tampak seorang pria mengenakan kaus putih sedang berbincang-bincang dengan penonton. Dia tak lain Ketua Teater Keset, Ahmad Zaki Yaman (32).

Kepada Seputarkudus.com, Zaki menjelaskan, pementasannya kali ini sebenarnya mundur tiga bulan dari waktu yang direncanakan. Pementasan rencana dilakukan pada Desember 2016. Pementasan mundur karena para pemain merasa persiapan masih kurang.

“Latihan kami rutin, minimal satu kali sepekan. Tetapi karena kesibukan masing-masing dan kebanyakan kami juga sudah bekerja dan berkeluarga, jadi latihan dilakukan malam. Sering tidak genap pemainnya saat latihan,” ungkap Zaki.

Meski begitu, Zaki merasa senang dengan antusiasme masyarakat Kudus, karena  ramai penonton. Dia mengungkap, pementasan yang digelar dua kali itu ada sekitar 600 penonton. Kurang lebih sekitar 300 penonton saat sore pukul 15.00 WIB dan sisanya malam pukul 19.00 WIB.

“Naskah ini nantinya kami pentaskan di tiga Kabupaten. Antara lain tiga kabupaten tersebut Kudus, Temanggung dan Pati. Pementasan ini juga sekaligus merayakan ulang tahun Keset yang ke delapan, 9 Maret 2017 nanti. Untuk tim inti pementasan kali ini ada sekitar 30 orang, selebihnya teman-teman teater yang ada di Kudus ikut membantu,” jelas pria dua anak itu.

- advertisement -

Wow Indahnya, Bermain Flying Fox di Colo Bisa Lihat Pemandangan Kebun Kopi dari Atas

0

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Seorang perempuan berkrudung kuning tampak tegang terdiam saat dua laki-laki memasangkan harness di tubuhnya. Dia terus memperhatikan secara seksama saat instruktur menjelaskan permainan flying fox, yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Tak lupa helm biru juga dipasangkan di kepalanya. Saat semua perlengakapan sudah siap, dia tampak menarik nafas sebelum meluncur ke bawah.

Flying Fox di Kudus
Flying Fox di kawasan Muria, Desa Colo, Kudus

Haaaaaaaaaaa,” teriak perempuan tersebut saat harness yang dikenakannya meluncur menuju ujung lintasan flying fox. Di bawah jalur peluncuran, pengguna flying fox di Omah Alas Kuncen Desa Colo, bisa melihat keindahan kebun kopi dan pohon-pohon besar.

Imron Awaludin (25) instruktur flying fox tersebut menuturkan, untuk orang yang pertama kali bermain flying fox biasanya takut dan tegang. “Namun nanti kalau sudah meluncur rasayanya plong,” ungkapnya saat di temui di wahana permainan flying fox di kawasan Muria tersebut, belum lama ini.

Ketua Semanggi Outbond Organizer itu menjelaskan, panjang lintasan flying fox di Desa Colo tersebut yakni sepanjang 200 meter. Panjang lintasan tersebut menurutnya terpanjang kedua di Jawa. Flying fox Terpanjang di Jawa yakni di Pacitan, Jawa Timur, yang mencapai 400 meter. Imron menambahkan, flying fox di Desa Colo menempati kawasan hutan lindung Pegunungan Muria, dengan suasana asri pegunungan. “Lokasinya di tengah perkebunan kopi dengan suasana asri pegunungan Muria yang sejuk,” terangnya.

Menurutnya, flying fox yang dikelolanya bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Padhang Bulan dan Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) sudah dibuka secara umum. Pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp 15 ribu untuk sekali meluncur. “Khusus jika ada even hanya Rp 10 ribu saja,” tambah Imron.

Untuk keamanan, kata Imron, sudah menggunakan standar yang ditentukan. Menurutnya, pengunjung nanti akan dilengkapi dengan harness, helm dan flying fox set. Sebelum melakukan peluncuran, pengunjung juga akan diberikan bimbingan dari instruktur tentang cara penggunaan alat flying fox. “Jadi semua terjamin keamanannya,” jelasnya.

Imron menambahkan, untuk jalur lintasan flying fox di tempatnya menggunakan dua tali berbahan baja. Menurutnya, jika suatu ketika ada satu tali yang putus, tali yang satu dapat menjadi pengaman untuk mencapai ujung lintasan. “Sementara ini kami hanya buka Sabtu dan Minggu. Namun jika ada sekitar 20 orang yang ingin bermain hubungi saja nomor ini 085878651355, pasti kami akan layani,” ungkapnya.

- advertisement -

Pupuk Kepedulian, Anggota Harley Davidson Club Ini Ajak Anaknya Beri Bantuan Korban Banjir

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Rombongan sejumlah orang yang mengendarai motor Harley Davidson terlihat mengikuti mobil pikap yang membawa puluhan kardus. Mereka menuju posko banjir di Desa banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka adalah anggota komunitas Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Karesidenan Pati. Sesampainya di posko, satu di antara anggota, terlihat seorang pria yang menggendong anak perempuan. Dia yakni Cahyo Dwi Jayanto (30), yang mengaku mengajak putrinya agar bisa belajar tentang kepedulian sosial.

Anggota HDCI Karesidenan Pati
Anggota HDCI Karesidenan Pati. Foto: Ahmad Rosyidi

Cahyo, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, putrinya yang masih berusia tujuh tahun memang suka motor. Dari hal-hal yang disukai anaknya dia ingin mengajarkan sesuatu yang bermanfaat. Kegiatan-kegiatan yang membangun kecerdasan emosional menurutnya menjadi hal penting yang perlu ditanamkan sejak dini.

“Putri saya kebetulan suka motor, jadi saya ajak. Saya ingin mengajarkan ilmu sosial sejak dini. Hal-hal positif seperti ini penting untuk membangun kecerdasan emosionalnya,” terang Warga Desa Burian, Kota Kudus itu.

Menurut Cahyo, anaknya sangat senang mengikuti kegiatan bakti sosial pembagian bingkisan kepada korban banjir. Dia berharap, anaknya bisa memupuk rasa kepedulian sosial sejak dini.

Baca juga: Heliza Menangis Saat HDCI Karesidenan Pati Bagikan Bingkisan pada Korban Banjir

Di posko pengungsian, tampak seorang pria mengenakan kaus berwarna hitam, celana jeans lengkap dengan rantai dipinggangnya, sedang membagikan makanan dan sandal kepada anak-anak korban banjir. Pria itu yakni ketua HDCI karesidenan Pati, Handy Susetyo (60). Dia menuturkan, kegiatan bakti sosial memang sudah menjadi komitmen bersama seluruh anggotanya. Selain kegiatan touring, mereka juga sering melakukan kegiatan sosial.

“Kerohanian, pengobatan masal, dan donor darah juga. Untuk kegiatan sosial bisa bersifat materiil ataupun nonmateriil. Jadi kami menyesuaikan kebutuhan dan apa yang bisa kami bantu,” ungkap dokter dua anak itu.

Handy, sapaan akrabnya, menjelaskan kali ini memberikan bantuan alas kaki dan makanan yang tidak basi. Alas kaki diberikan, menurutnya karena dibutuhkan untuk melindungi kaki anak-anak yang rawan terluka. Untuk anggaran mereka menggunakan uang kas komunitas dan iuran anggota.

“Kali ini kami cuma 12 anggota yang ikut. Ada dari Rembang dua orang, dan dari Pati tiga orang, yang lain tidak bisa ikut karena kerja. Kami juga kemana-mana membawa mekanik, untuk berjaga-jaga kalau mogok dijalan. Motornya berat, jadi tidak mungkin didorong,” jelas warga Dukuh Tersono, Desa Garung Lor, Kaliwungu, Kudus itu.

- advertisement -

Tak Kunjung Surut, Koramil Jati Terjunkan 4 Pompa Disel Sedot Banjir di Jati Wetan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Kucuran air nampak keluar dari selang warna biru yang diletakkan di bawah jembatan Tanggulangin. Empat selang tersebut terhubung dengan mesin disel yang menyedot air dari pemukiman di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus menuju Sungai Wulan. Mesin pompa tersebut merupakan bantuan dari Koramil Jati untuk mengurangi genangan banjir di desa setempat.

Koramil Jati terjunkan empat pompa disel sedot banjir
Koramil Jati terjunkan empat pompa disel sedot banjir. Foto: Imam Arwindra

Menurut warga Desa Jati Wetan, Muchsan (51), pompa air tersebut untuk membantu mengurangi volume air yang selama dua pekan terakhir menggenangi pemukiman di tiga dukuh di desanya. Dia mengungkapkan, sebenarnya sudah ada rmah pompa untuk menyedot air. Namun karena dinilai kurang, warga meminjam pompa dari Kodim 0722 Kudus untuk tambahan. “Jumlahnya ada empat. Kemarin yang bawa dari Koramil Jati,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.

Dia menjelaskan, keempat disel tersebut sudah ada sejak hari Kamis (16/2/2017) pukul 17.00 sore. Menurutnya, disel langsung dioperasikan untuk menyedot air yang menggenangi pemukiman. Selama sehari semalam difungsikan, diperkirakan air turun sekitar lima sentimeter. “Warga terus berupaya supaya air (di pemukiman) berkurang. Minimal motor bisa lewat,” tambahnya.

Muchsan yang ikut berjaga disel melanjutkan, sebenarnya jika pintu Kencing 1 dibuka, air yang ada di pemukiman akan cepat surut. Namun melihat debit sungai Wulan yang masih tinggi, akhirnya solusi terakhir yakni menggunakan pompa. “Jadi ini ada empat disel dari Koramil (Jati) dan polder. Sebenarnya masih kurang dua disel lagi,” ungkapnya.

Dikatakannya, keempat disel tersebut diperkirakan dapat menyedot air 40 meter kubik per menit. Untuk bahan bakarnya menggunakan solar yang sementara diperoleh dari pemerintah desa dan kecamatan. Selain itu, ada juga bantuan dari gereja, Rumah Sakit Mardi Rahayu dan Badan Pertanahan Nasional. “Sehari sekitar 20 liter,” tambahnya yang tinggal di Perumahan Tanjung Jati Permai.

Sementara itu, Komandan Koramil Jati Kapten ARh Suprapto menuturkan, disel penyedot air tersebut dipinjamkan dari Kodim 0722 Kudus sebanyak empat buah. Menurutnya, di Kodim terdapat lima buah disel. Empat disel dipergunakan di Jati Wetan dan satunya dipersiapkan jika sewaktu-waktu di kota terdapat banjir. “Alat tersebut dipinjamkan untuk warga supaya bisa mengurangi volume air,” tuturnya.

Menurutnya, alat tersebut beroperasi sehari semalam dengan waktu istirahat pukul 17.00-19.00 WIB dan 04.00-06.00 WIB. Pompa disel dapat dipergunakan warga selama warga inginkannya. Namun dengan catatan harus dirawat dengan baik. “Anggota saya juga sudah saya perintahkan untuk bergantian berjaga,” jelasnya.

- advertisement -

Awalnya Penasaran, Lalu Ketagihan dan Kini Ulfi Terpilih Jadi Brand Ambasador Larissa Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di ruangan tunggu Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center Kudus, tampak dua orang receptionis sedang melayani pengunjung. Di sofa terlihat beberapa perempuan duduk menunggu untuk dipanggil. Satu di antara perempuan tersebut bernama Ulfi Nihayatuzzahro Ardiani Cinta (21). Dia merupakan pelanggan di klinik kecantikan tersebut. Awalnya dia penasaran, kemudian ketagihan dan terpilih menjadi Brand Ambasador dan Sahabat Larissa.

Ulfi, Brand Ambasador Larissa Center Kudus
Ulfi, Brand Ambasador Larissa Center Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela menunggu panggilan perawatan, perempuan yang akrab disapa Ulfi itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, empat tahun lalu saat awal kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dia penasaran dengan klinik kecantikan Larissa Aesthetic Center yang ramai dikunjungi untuk perawatan. Karena rasa penasaran tersebut, dia mengaku mencoba untuk perawatan, dan hasilnya dinilai sangat memuaskan.

“Karena pertama perawatan langsung merasa cocok dan hasilnya memauaskan. Aku memutuskan untuk menjadi member selama empat tahun, yang berarti selama kuliah aku berlangganan di Larissa. Setelah empat tahun, aku ikut audisi menjadi model Brand Ambasador dan Sahabat Larissa 2016. Dan alhamdulillah aku menang,” ujar perempuan bertitel Sarjana Teknik Pertanian itu.

Perempuan warga Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus, itu mengungkapkan, mempercayakan perawatan kulit wajah dan tubuhnya ke Larissa. Karena menurutnya Larissa Aesthetic Center merupakan pusat yang fokus pada perawatan kulit. Menurutnya, kesehatan kulit sangat penting, tidak hanya saat remaja saja, melainkan untuk nanti saat sudah menikah, agar makin disayang suami.

“Karena aku ingin memiliki kulit sehat dan indah untuk jangka panjang jadi harus dirawat secara alami. Dan menurutku perawatan kulit dan rambut yang menggunakan bahan alami ya Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center,” ujar dara yang memiliki Instagram Ulfisinta dan Ulfisintamakeup.

Baca juga: Larissa Aesthetic Center Kudus, Klinik Kecantikan yang Tak Pernah Sepi, 100 Pelanggan Datang Tiap Hari

Dia mengungkapkan, sejak perawatan di Larissa Aesthetic Center kulitnya lebih sehat dan indah. Dia mengaku selama perawatan di Larissa wajahnya tidak pernah jerawatan dan kulitnya tidak pernah iritasi. Padahal kata dia, profesinya sebagai model dan penyanyi Jazi Pop sering memakai kosmetik tebal, meski begitu kulitnya tetap halus, sehat dan indah.

Senada dengan Ulfi, Uli Badriyatunaja (24) itu datang dari Tayu, juga merasa cocok dan hasil perwatan kulitnya di Larissa Aesthetic. Dia mengungkapkan, perawatan di Larissa meliputi kulit seluruh tubuh serta rambut. Dia mengaku menggunakan produk Larissa dari hand body, sabun, sampo, serta body scrub.

Alhamdulillah sejak perawatan kulit dan rambut di klinik kecantikan Larissa Aesthetic Center, kulit dan rambutku makin bagus dan sehat. Perawatan di klinik Larissa juga lebih murah dibanding tempat lain,” ujar perempuan yang akrab disapa Uli.

- advertisement -

Heliza Menangis Saat HDCI Karesidenan Pati Bagikan Bingkisan pada Korban Banjir

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di depan pintu posko pengungsian Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, tampak seorang anak perempuan menangis sambil memeluk ibunya. Heliza Fazira (7), nama anak tersebut. Dia menangis karena terlambat datang saat Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Karesidenan Pati membagikan bingkisan makanan dan sandal untuk korban banjir di desa setempat.

Anak-anak korban bajir menerima bantuan HDC Kudus
Anak-anak korban bajir menerima bantuan HDC Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Sulastri (36) ibu dari Heliza Fazira, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, alasan anaknya menangis. Dia mengatakan, dirinya dan Heliza baru saja pulang ke rumah mengambil buku untuk anak pertamanya. Dan saat pembagian bingkisan, kakak Heliza yang berada di posko tidak ikut mengambil karena menunggu adiknya yang paling kecil sedang tidur. Saat kembali, Heliza menangis karena tak mendapat bingkisan seperti yang didapatkan teman-temannya.

“Tadi saya pulang ke rumah dengan Heliza, mengambilkan buku untuk kakaknya yang besok sekolah. Kakaknya yang masih di posko justru tidak ikut mengambil bingkisan, jadi Heliza tidak kebagian. Tapi tidak apa-apa, namanya juga anak kecil. Saya berterima kasih kepada HDCI Karisidenan Pati, yang sudah membantu kami,” ungkapnya sambil memeluk putri keduanya yang masih menangis.

Seusai menyerahkan bantuan, nampak seorang pria mengenakan rompi foto bersama di depan posko pengungsian. Dia adalah Daniel Samporno (27), anggota HDCI. Dia mengaku merasa terharu saat melihat antusiasme anak-anak yang menyambut mereka dengan riang.

“Saya sempat merasa terharu melihat mereka yang antusias menyambut kami. Mereka tampak riang meski rumahnya terkena banjir. Saya berharap bantuan yang kami berikan bisa bermanfaat, dan banjir segera surut agar anak-anak bisa kembali bersekolah,” harap pemilik Gank Coffee itu.

Dani begitu dia akrab disapa, berterimakasih kepada petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus yang sudah membantu komunitasnya untuk menyalurkan bantuan. Karena mereka kurang tahu lokasi pengungsian, akhirnya menuju BPBD untuk meminta arahan untuk menyalurkan bantuan. Dan mereka diarahkan keposko pengungsian di Desa Jati Wetan, Jati, Kudus.

“Ini tadi agak molor, karena menunggu anggota dari Rembang dan Pati yang ingin ikut. Meski banyak yang bekerja dan tidak bisa ikut tetapi semua berjalan dengan lancar,” terangnya.

- advertisement -

Larissa Aesthetic Center Kudus, Klinik Kecantikan yang Tak Pernah Sepi, 100 Pelanggan Datang Tiap Hari

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Beberapa mobil dan sepeda motor terparkir di pelataran gedung di tepi utara Jalan Diponegoro nomer 18, Desa Barongan, kecamatan Kota, Kudus. Terlihat perempuan keluar dan masuk gedung tersebut. Gedung itu yakni Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center Cabang Kudus. Klinik kecantikan ini tak pernah sepi, sekitar 100 pengunjung datang setiap hari.

Larissa Aesthetic Center Kudus
Larissa Aesthetic Center Kudus. Foto: Rabu Sipan

Ditemui di ruanganya, Andria Riana Justitia (37), Brand Manager Larissa Aesthetic Center Cabang Kudus itu mengatakan, sejak buka di Kudus pada 2013, Larissa sudah mempunyai banyak pelanggan. Para  pelanggan tersebut tidak hanya dari Kudus, melainkan daerah sekitar Kudus, di antaranya Pati dan Jepara.

“Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center itu sudah terkenal dan sudah punya banyak pelanggan. Di Indonnesia, klinik kecantikan yang terkenal menggunakan bahan natural itu sudah memiliki 36 cabang yang tersebar ke berbagai daerah, satu di antaranya Kudus. Di Kudus setiap hari tak kurang dari 100 orang pengunjung datang ke Larissa untuk perawatan dan pembelian produk,” ujar perempuan yang akrab disapa Andria kepada Seputarkudus.com, kemarin.

Perempuan warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, itu mengungkapkan, untuk menarik banyak pelanggan, pihaknya sering menyelenggarakan even setiap bulan sekali, tidak hanya di Kudus melainkan juga di Pati, dan Jepara. Penyelenggaraan even tersebut kata dia, untuk memperkenalkan produk dan perawatan kulit secara keseluruhan.

“Selain untuk memperkenalkan produk perawatan kulit menggunakan bahan natural fruits dan organik. Even tersebut kami gunakan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa Larissa Aesthetic Center ada cabang di Kudus. Karean selama ini yang dikenal masyarakat, Larissa Aesthetic Center adanya di Solo dan Jogja,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengatakan, di Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center, pihaknya menawarkan beberapa perwatan kulit tubuh diantaranya facial dan treatment. Dia mengungkapkan, facial terdiri dari berbagai macam, yakni Organic Facial, Fruits Facial, Anti Acne Facial, Mousturizing Facial, Brightening Facial, dan Whitening Facial. Untuk harga dari berbagai macam facial tersebut kata dia antara Rp 60 ribu hingga Rp 160 ribu.

Untuk high technology treatment, tuturnya terbagi menjadi lima pilihan yakni Mesotherapy Without Needle 3 in 1, Radio Frequency, Microdermabrasion, Jet Peel, dan Pulse Oxigen Injection. Dari lima pilihan tersebut, dikatakanya berharga mulai Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu. Sedangkan untuk body treatment yakni Body Slimming and Firming ditarif antara Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu.

“Selain perawatan kulit kulit tubuh di Klinik Aesthetic Center juga menawarkan perawatan rambut yang dikenal sebagai hair treatment.Tidak hanya untuk perempuan saja di Klinik Larissa juga melayani hair treatment untuk pria juga,” ungkapnya

Dia menambahkan, hair treatment ada beberapa pilihan yakni Medical Hair Spa, Medical Hair Mask, Waxing. Menurutnya perawatan rambut tersebut ditarif mulai Rp 35 ribu hingga Rp 175 ribu. Selain itu pihaknya juga menyediakan Bio Light Therapy yang dikenakan harga mulai Rp 95 ribu hingga Rp 110 ribu.

“Dari semua perawatan yang ditawarkan Klinik Larissa hampir semua diminati masyarakat. Dan semua perawatan kulit maupun rambut terlebih dulu diperiksa serta dikonsultasikan oleh dokter dan lalu ditentukan progran perawatannya. Kami juga ada dua dotker yang sudah bersertifikat kecantikan,” ujarnya.

- advertisement -

Tukang Permak Jeans Ini Selalu Minta Komplain dari Pelanggan agar Selalu Bisa Meningkatkan Kualitas

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Di tepi timur Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah kios. Di dalam kios tampak dua orang sibuk dengan mesin jahitnya. Terlihat juga ada beberapa orang datang membawa celana lipatan ke tempat tersebut. Dengan ramah penjahit yang mengenakan kaus berwarna putih menanyakan bagian celana tersebut yang perlu diperbaiki. Pria tersebut bernama Taufik Aditya (28), pemilik usaha permak celana jeans.

Permak jeans Kudus
Permak jeans Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya itu pria yang akrab disapa Adi itu sudi berbagi kisah kepada seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai membuka usaha permak jeans di Kudus sejak tahun 2010. Menurutnya usaha yang dirintis enam tahun lalu itu sekarang memiliki banyak pelanggan. Dengan berbekal kualitas hasil reparasi serta mau menerima komplain dari pelanggan, Adi berani bersaing dengan para pemilik usaha jasa permak jeans lainya.

“Untuk bersaing dengan pemilik usaha jasa permak jeans lainya di Kudus, aku memang mengandalkan kualitas hasil reparasi. Selain itu, aku juga menerima komplain dari para pelanggan, jika ada para pelangganku saat mempermak pakainya di tempatku, dan saat pakaian tersebut diambil lalu mereka tidak cocok dengan hasil karyaku, maka aku sanggup memperbaikinya dan tidak aku pungut biaya lagi, alias geratis,” ujar Adi sambil menggunting sisa benang.

Pria yang berasal dari Lampung itu mengatakan, sebelum membuka usaha permak jeans di Kudus, dia mengaku terlebih dulu belajar sekaligus kerja selama tiga tahun di sebuah konveksi di Jakarta. Setelah mahir dan memiliki modal dia mengaku diajak oleh temanya untuk hijrah ke Kudus,. Karena menurut temanya di Kudus pada tahun tersebut persaingan usaha permak jeans tidaklah seketat di Jakarta.

Karena tertarik dengan tawaran temanya tersebut, Adi lalu datang ke Kota kretek dan membuka usaha permak jeans dengan modal Rp 15 juta. Uang tersebut kata dia, untuk mengontrak tempat buat usaha, serta untuk membeli mesin obras. Karena menurutnya, dia dari Jakarta sudah membawa mesin jahit hingga tidak perlu membeli lagi mesin untuk menyulam benang tersebut.

“Aku mendirikan usaha permak jeans di Kudus tanpa merepotkan orang tuaku. Total modal tersebut pyur hasil jerih payahku selama kerja di Jakarta. Modal tersebut sesampai di Kudus, selain aku gunakan menyewa tempat dan membeli mesin obras, sisanya aku gunakan untuk persediaan makan. Karena aku tahu susahnya orang saat lagi merintis usaha,” ujar Adi.

Adi menuturkan, selain permak jeans, dia mengaku juga bisa mereparasi berbagai macam pakaian, diantaranya, kecilin celana jeans, kecilin celana katun, kecilin jaket, kecilin kaus, kecilin baju, kecilin dan besari pinggan celana, dan ganti resleting. Untuk harga dia mematok tarif mulai Rp 10 ribu sampai Rp 40 ribu per pcs.

“Untuk harga menurut orang, ditempatku ini katanya lebih mahal dari tempat lainya. Namun dengan kualitas hasil reparasi serta pelayanan yang aku berikan, kini aku memiliki banyak pelanggan. Bahkan aku bersama adiku tidak pernah sepi order,” ujar Adi yang mengaku usahanya tersebut buka setiap hari dan dia kerja dari pukul 09:00 WIB sampai 21:00 WIB

- advertisement -

Video: Melihat dari Dekat Produksi Mesin Pertanian dan Peternakan Divisi Engineering PT Pura

0

SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Lalu lalang kendaraan terlihat melintasi Jalan Raya Kudus-Pati, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Di tepi jalan itu, tampak sebuah gedung  tertulis PT Pura Group. Di tempat tersebut, berjajar beberapa gedung yang terbagi menjadi lima divisi. Satu divisi itu yakni Engeneering, divisi yang membidangi berbagai pembuatan dan rekayasa mesin, yang di antaranya mesin pertanian, perikanan maupun percetakan.

Produksi mesin pertanian dan percetakan PT Pura Barutama Divisi Engineering
Produksi mesin pertanian dan percetakan PT Pura Barutama Divisi Engineering. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Plant Manager divisi engeneering PT Pura Barutama Bambang Widjanarko (38), sudi berbagi penjelasan tentang divisi yang dinaunginya. Bambang, begitu dirinya akrab disapa, menjelaskan, selain terkenal dengan produksi kertas, Pura juga terkenal dengan teknologi industrinya. Bahkan, kata dia, teknologi tersebut sudah banyak dirasakan mayarakat dari Sabang sampai Merauke.

“Secara keseluruhan, PT Pura Barutama terbagi menjadi 27 devisi yang bergerak di bidang printing dan packaging, paper mill, boxindo, hologram, smart card, engeneering dan beberapa unit produksi lainnya. Jadi tidak hanya produksi kertas saja, kami juga produksi berbagai mesin. Contohnya di sini, kami membuat mesin pertanian, perikanan maupun percetakan yang sampai saat ini sudah dipakai seluruh wilayah Indonesia,” Ungkap Bambang sewaktu ditemui di Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 12, Desa Terban, kemarin.

Dia menjelaskan, sebelum diresmikan menjadi divisi yang mandiri, awalnya Divisi Engeneering hanya memproduksi mesin sebagai pendukung unit yang dimiliki perusahaan. Menurutnya, proses produksi mesin dilakukan mulai tahun 1999, namun untuk siap dipasarkan secara masal pada tahun 2001. “Untuk respon masyarakat, sampai saat ini sangat bagus dengan mesin yang kami buat,” ujarnya.

Pria yang sudah hampir empat tahun menjabat sebagai Plant Manager Divisi Engeneering, ini mengatakan, dalam kurun waktu delapan tahun produksi, mesin yang dia buat terdiri dari berbagai macam. Misalnya mesin pertanian, ada mesin pemotong padi yang terkenal dengan nama Combine Harvester, mesin pengering biji-bijian dengan nama lain Dryer, Blower Cleaner, mesin Transplanter (Jarwo) yang berfungsi menanam padi, serta banyak lagi yang lainnya.

“Kalau mesin perikanan, ada Die-ring Pellet Machine yang berfungsi membuat pellet ikan dan ada lagi mesin untuk pendinginan maupun pembuatan es. Selain itu, kami juga produksi berbagai mesin percetakan dengan penjualan sudah sampai luar negeri, seperti Tiongkok dan Iran,” ungkapnya.

Warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, ini menambahkan, untuk pasca-pembelian, pihaknya memberikan berbagai fasilitas bagi pelanggan, tergantung mesin apa yang dibeli. Misalnya, mesin pengering padi, pihaknya memberikan fasilitas pelayanan purna jual dalam jangka waktu dua tahun, free spare part dan free problem solving. “Untuk problem solving, penanganan kami dilakukan 1×24 jam bagi wilayah Jawa, Sumatera 2×24 jam dan Indonesia timur 3×24 jam, terhitung pada saat pelaporan masalah,” tambahnya.

- advertisement -

Sejak Kecil Hari Bercita-cita Jadi Pengacara, Ragu Tak Dapat Klien Dia Pilih Buka Usaha Cuci Mobil

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Tiga orang pekerja tampak sibuk di sebuah tempat cuci mobil bernama Hanira. Di antara mereka terlihat menyiram mobil dengan air bersih, ada juga yang menyemprotkan sabun ke mobil. Di sudut lain tampak seorang pria memakai kaus kuning bergaris sedang mengamati ketiga orang tersebut sambil sesekali memberi arahan. Pria tersebut bernama Hario Prakoso (50). Pemilik usaha cucian mobil yang selalu ramai ini awalnya buka usaha karena ragu menjadi pengacara.

Pemilik Cuci Mobil Hiami
Pemilik Cuci Mobil Hanira, Hario Prakoso: Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Hari itu sudi berbagi kisah tentang usahanya itu kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebenarnya saat masih sekolah hingga kuliah, dirinya berkeinginan menjadi seorang pengacara kondang. Karena alasan tersebut dia mengaku kuliah di Jurusan Hukum di satu Universitas di Surabaya.

“Aku sebenarnya dari kecil becita-cita jadi pengacara. Namun setelah lulus kuliah dan menikah, aku ragu untuk berkarir menjadi pengacara. Takut tidak punya klien dan keluargaku nanti saya kasih makan apa. Ya kalau langsung jadi pengacara kondang dan banyak klien, kalau tidak kan bisa tak punya penghasilan,” ujar pria bertitel Sarjana Hukum tersebut, beberapa hari lalu.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, saat keraguan melanda itulah, dia mengaku membuka usaha cuci mobil, tepatnya pada 2005 dengan memanfaatkan pelataran rumah mertuanya yang cukup luas. Dan bertempat cuci mobil itu memiliki loaski strategis, di Jalan Bakti Desa Barongan, Kota, Kudus tersebut.

Baca jugaPemilik Cuci Mobil Habira Kudus Sebel, Banyak Pelanggan Minta Didahulukan

Namun tuturnya, meskipun berada di tempat strategis usaha tempat cuci mobil miliknya sepi pengunjung. Tidak hanya setahun atau dua tahun, sepinya pelanggan di tempat cuci Hanira berlangsung sampai delapan tahun. Dalam kurun waktu tersebut dia mengaku, menanggung rugi karena hampir setiap hari hanya ada dua mobil yang dicuci.

“Selama delapan tahun aku harus menanggung rugi karena tak punya pelanggan. Namun untungnya saat itu aku masih membantu adikku yang memiliki usaha, jadi hasilnya bisa untuk menutup kerugian di usaha cuci mobil,” ungkapnya.

Hari mengungkapkan, meskipun setiap kalkulasi tahunan selalu rugi, pada waktu itu dirinya mengaku tetap yakin usahanya tersebut kelak bisa memiliki pelanggan tetap. Menurutnya keyakinanya tersebut terwujud tiga tahun kemudian. Tempat usahanya itu kata dia, sudah memiliki pelanggan tetap. Saat ramai pelanggan, cucian Hanira bisa mencuci 300 unit mobil sebulan.

Menurutnya selain cuci mobil di tempat usahanya tersebut juga melayani ganti oli, salon mobil, clean interior, poles body, jamur kaca dan clean engine.  Dikatakan Hari, selain mobil di tempat cucian Hanira juga melayani cuci serta ganti oli untuk sepeda motor.

“Aku bersukur usaha yang aku rintis selama 11 tahun dan dulu selalu rugi kini sudah kelihatan hasilnya. Aku berharap usaha cucian mobil Hanira miliku bisa lebih berkembang dan punya banyak pelanggan. Karena hasilnya akan aku buat membuka usaha variasi mobil,” harapnya.

- advertisement -

Tak Ingin Bersaing, Komunitas Vixion Rider Kudus Sambangi V-Jack untuk Jalin Persaudaraan

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Puluhan motor Yamaha Vixion berjajar tak jauh dari di lampu merah Jalan Patimura, Desa Mlati Kidul, Kota Kudus. Mereka adalah Komunitas Vixion Rider (VR) Kudus. Satu di antara sejumlah pengendara Yamaha Vixion tersebut, yakni Ahmad Dupnul Choiri Hasan (21). Dia yang juga Ketua VR Kudus mengungkapkan, saat itu keomunitasnya mendatangi Komunitas V-Jack untuk menjalin rasa persaudaraan.

Komunitas Vixion Rider Kudus
Komunitas Vixion Rider Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Hasan, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada seputarkudus.com. Dia mengatakan, komunitasnya relatif baru terbentuk. Karena merasa komunitas baru, mereka ingin sharing dan menjalin persaudaraan dengan komunitas yang lebih senior. Meski sesama komunitar motor Vixion, dia berharap bisa saling bersinergi tanpa persaingan.

“Karena kami merasa masih baru, jadi kami datang untuk silaturahim menjalin persaudaraan. Kami juga tidak ingin ada kesalahpahaman, sehingga kami tetap bersinergi untuk tujuan yang sama-sama baik. Meki kami komunitas berbeda dengan karakter berbeda, tapi kami tidak ingin ada perselisihan dan persaingan,” ungkap warga Mejobo Kudus itu.

Hasan juga menjelaskan, tujuan VR Kudus dibentuk mencari persaudadaan tanpa batas, dan ingin menjadi pelolor lalu lintas. Menurutnya, Komunitas VR Kudus suka touring, sehingga kendaraan harus lengkap sesuai peraturan yang ada. “Ban tidak boleh kecil, modivikasi diperbolehkan asal tetap sesuai peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama,” ungkap Hasan.

Dia menjelaskan, VR Kudus dinaungi VR Indonesia, sehingga ada komunikasi dengan komunitas di tingkat pusat. Dan saat ini anggota VR Kudus baru 15 orang, lima anggota yang sudah menjadi member, dan 10 anggota yang baru ikut gabung. Meski baru beberapa bulan, mereka sudah ikut touring ke Jogja acara Kopgab Jateng DIY.

“Acara terdekat kami ada kopdar ke Klaten. Untuk syarat gabung dengan kami, menunjukan surat-surat kendaraan harus lengkap, motor wajib Vixion, dan membayar uang kas Rp 5 ribu per pekan. Uang kas biasanya kami gunakan untuk kegiatan bakti sosial,” terang Hasan.

Hasan menambahkan, VR Kudus melakukan pertemuan rutin setiap malam Minggu di depan Gedung Ngasirah Kudus, mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai.

- advertisement -

Karena Nama Virus Dinilai Negatif, Komunitas Yamaha Vixion Kudus Ini Ganti Nama V-Jack

0

SEPUTARKUDUS.COM MLATI KIDUL – Puluhan pemuda berkumpul dengan motor Yamaha Vixion tampak berjajar rapi di dekat lampu merah Jalan Patimura, Desa Mlati Kidul, Kota, Kudus. Sebagian besar motor menggunakan velg jari-jari. Satu di antara pemuda tersebut, yakni Khaniful Abror (23). Dia mengatakan, mereka tergabung dalam Vixion Jari-jari Comunity Kudus (V-Jack). Malam itu mereka baru saja berkeliling Kudus untuk menyapa komunitas motor yang lain.

Komunitas Yamaha Vixion Kudus
Komunitas V-Jack. Foto: Ahmad Rosyidi

Ipung, begitu  Khaniful Abror biasa disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang komunitasnya tersebut. Dia mengatakan, V-Jack selalu rutin melakukan pertemua setiap malam Minggu pukul 21.00 WIB hingga 23.00 WIB. Usai kumpul dan diskusi mereka konvoi keliling Kudus untuk menyapa sesama komunitas motor.

“Biasanya kami kumpul di depan SMPN 3 Kudus, mulai pukul 21.00 WIB hingga 23.00 WIB. Kemudian kami konvoi keliling Kudus untuk menyapa sesama komunitas motor. Karena motor memang kami jadikan alat untuk jembatan persaudaraan,” terang warga Desa Kajar, Trangkil Pati itu.

Dia menjelaskan, komunitas V-Jack terbentuk berawal dari grup di Facebook (FB). Seringnya komunikasi melalui grup maya tersebut, kemudian digagas untuk berkumpul. Nama awal komunitas yang tersebut, Virus. Karena sudah mendapat kesan negatif, kemudian mereka mengganti nama menjadi V-Jack. Setelah berganti nama, kemudian mereka membuat aturan agar tidak terlalu bebas dan terkesan negatif.

“Sebelum ganti nama kami bertemu pengurus klub motor Kudus, Bang Ali, yang dipercaya Polres Kudus untuk membawahi semua klub motor di Kudus. Setelah itu kami diberi masukan untuk mengganti nama, tetapi kami tetap dengan karakter motor Vixion jari-jari yang menjadi ciri khas,” ungkap Ipung.

Nama Virus, kata Ipung, hanya bertahan hingga April 2015. Kemudian mereka menyepakati ulang tahun V-Jack pada bulan tersebut, dan berencana akan membuat perayaan ulang tahun kedua pada bulan April 2017. Ipung mengaku akan membuat even kontes motor dan mengundang klub motor lain.

Dia juga menjelaskan syarat untuk gabung V-Jack, motor harus memakai velg jari-jari yang menjadi ciri khas. Selain itu motor juga harus lengkap, menyerahkan identitas diri KTP, dan iuran rutin Rp 5 ribu setiap pekan. “Kalau motor tidak lengkap saat kumpul akan dikenakan denda Rp 5 ribu,” jelasnya.

Uang kas itu, katanya, nantinya akan mereka gunakan untuk perlengkapan komunitas. Misalnya baner, stick lamp, kegiatan sosial, dan untuk anggota yang terkena musibah. Ipung juga menerangkan bahwa V-Jack saat ini sudah legal dan kini memiliki anggota sekitar 50 orang.

- advertisement -

‘Gatal’ Menganggur, Isni Membuka Salon dan Sering Promo Agar Pelanggannya Tak Berpaling

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi selatan Jalan Bakti, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah salon kecantikan. Di dalamnya terlihat dua orang perempuan sedang melayani para pelanggan. Satu di antara perempuan tersebut terlihat mencuci rambut seorang pria. Perempuan itu bernama Laila Isni (28), pemilik Salon Janet. Dia mendirikan usaha salon, karena tak betah menganggur.

Isni, pemilik Salon Janet
Isni, pemilik Salon Janet. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pelanggan yang datang, perempuan yang akrab disapa Isni itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebelum memiliki usaha, dia terlebih dulu bekerja di salon lain selama tiga tahun. Namun setelah menikah dan hamil, dia memutuskan keluar kerja untuk fokus menjaga kandungan dan persiapan melahirkan.

“Setelah melahirkan dan anaku umur tiga bulan, tanganku sudah gatal ingin bekerja lagi. Namun karena aku punya bayi, akhirnya mertuaku memberi modal agar aku membuka salon sendiri tepatnya pada tahun 2012,” ujar Isni sambil memangku putrinya.

Dirinya mengaku, saat itu langsung mengontrak tempat untuk masa dua tahun. Dan agar salonnya tersebut banyak pelanggan dia menghubungi para pelanggan yang dulu selalu menggunakan jasanya.

Isni mengungkapkan, selain mengabari para pelangganya, juga mempromosikan salonya tersebut di radio. Menurutnya, saat itu untuk melayani para pelangganya dia dibantu adiknya. “Padahal tempat usahaku dulu sangat strategis, dan aku juga sering promo. Namun aku bingung karena usaha salonku pada waktu sepi dan aku merugi,” ujarnya

Perempuan yang baru dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, karena merugi kontrak tempatnya tidak diperpanjang. Dan dia mengaku menganggur lagi. Tapi baru beberapa bulan menganggur, penyakit gatal ingin kerja kambuh lagi. Saat hal tersebut dibicarakan dengan suaminya. Dan suaimnya mendukung agar dirinya membuka salon kembali.

“Dalam kurun waktu tak lama para pelanggan yang dulu pada datang dan menjadi pelanggan tetap di salonku. Dan aku bersyukur sekarang para pelangganku tambah banyak, sebulan aku bisa melayani 100 tretment,” ujar perempuan yang menamai tempat usahanya itu seperti nama putrinya.

Dia mengungkapkan, di salonnya tersebut melayani berbagai macam potong rambut dan perawatanya. Dia lalu merinci, potong dia hargai Rp 12 ribu, cuci blow dry Rp 8 ribu, potong rambut anak Rp 10 ribu, creambath mulai Rp 35 ribu, semir, toning, hair mask, dan bleaching masing – masing harganya Rp 50 ribu.

Sedangkan facial latulip dia hargai Rp 40 ribu, bentuk alis Rp 5 ribu, rebonding mulai Rp 150 ribu, dan smoothing mulai Rp 200 ribu. Agar hasilnya memuaskan para pelanggan, beberapa pelayanan dan tentu atas persetujuan pelanggan dia menuturkan produk terkenal yakni Matrix dan Makarizo.

“Di salonku juga menyediakan smoothing inovasi baru produk Jepang yang sehari langsung bisa dibilas. Dan agar para pelangganku tak berpaling, aku sering mengadakan promo potongan harga dan bonusan, diantaranya facial lima kali geratis sekali,” jelasnya.

- advertisement -

GSX-R 150, Motor Sport Garang Andalan Terbaru Suzuki yang Tak Bisa Dicuri Maling

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Dua unit kendaraan roda dua warna merah hitam terlihat terpakir di sebuah pintu masuk diler Suzuki Kliwon Kudus. Dua motor itu tampak masih terbungkus plastik. Motor tersebut yakni Suzuki GSX-R 150, motor sport asal pabrikan Jepang yang memiliki teknologi kunci remot anti-maling.

Suzuki GSX-R 150
Suzuki GSX-R 150 di Suzuki Kliwon Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Jumron (50), Marketing Manager Suzuki Kliwon Kudus, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang teknologi yang digunakan motor tersebut. Dia menjelaskan, layaknya mobil, dalam bagian kunci motor dilengkapi fitur keyless ignition system. Itu semacam fitur yang berfungsi mengurangi resiko kemalingan pada sepeda motor.

“Kelebihan utama dari motor sport ini pada bagian cara pengoperasiaannya, yang hanya menyalakan dan mematikan motor dengan menggunakan kunci remot. Penggunaannya sangat mudah, pemilik motor tinggal masukin pin di awal, tekan tombol kunci remot, maka motor akan menyala. Motor juga akan otomatis mengunci jika berjarak satu meter dari kunci, jadi tak perlu memasukkan kunci seperti motor pada umumnya,” ungkap Jumron.

Selain itu, dia mengatakan, keunggulan lain yang di miliki GSX-R 150 yakni dari segi performance, power dan kecepatan. Menurutnya, dibanding dengan kompetitor motor sport yang sejenis, harga yang ditawarkan untuk pembeli tergolong lebih murah, kisaran harga Rp 28,9 juta. “Kalau dibanding dengan yang lain, jelas harga kami jauh lebih murah,” ujar dia sewaktu ditemui di Jalan Jendral Sudirman 126, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus.

Untuk pemasaran, pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan sepeda motor itu. Promosi itu meliputi, memasang sejumlah baliho di tepi jalan, mengikuti pameran, memberikan promo penjualan hingga menitipkan kendaraan motor di pusat penjualan motor bekas di Kudus. “Allhamdulilah, antusiasme masyarakat cukup bagus. Terbukti banyak orang yang penasaran dan hingga saat ini sudah terjual tiga unit motor,” ungkapnya.

Pria yang bertempat tinggal di Semarang ini menambahkan, GSX-R 150 hadir dan siap dijual di diler tempatnya bekerja mulai bulan Januari 2017.  Menurutnya, jenis motor tersebut saat ini banyak disukai kalangan anak muda, tak jarang dari kalangan orang tua juga turut andil dalam membeli. “Kalau dilihat dari body-nya, motor ini sangat cocok bagi anak muda. Rencana bulan maret juga akan ada motor baru yang sejenis, yaitu GSX-S 150,” tambahnya.

- advertisement -