Beranda blog Halaman 1920

Tekun Membuat Kerajinan Bambu Sejak SD, Moyong Berhasil Tuntaskan Pendidikan 4 Anaknya Hingga Universitas

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Di tepi selatan Jalan Suryo Kusumo Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak bangunan beratap seng yang dipenuhi kerajinan bambu. Di di dalamnya terlihat dua orang sedang membelah potongan batang bambu. Satu di antara pria tersebut bernama Zaenuri (62), pembuat kerajinan bambu sejak dirinya masih duduk di sekolah dasar (SD).

Kerajinan bambu di Desa Jepang Wetan milik Moyong
Kerajinan bambu di Desa Jepang Wetan milik Moyong. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya membuat kerajinan bambu, pria yang biasa disapa Moyong tersebut, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai menekuni membuat kerajinan bambu sejak kelas empat SD, tepatnya saat dia berumur 10 tahun. Pada waktu itu, seusai pulang sekolah, Moyong selalu membantu ayahnya membuat kerajinan.

“Setelah aku mahir membuat kerajinan bambu, aku bersama ayahku mulai mendapatkan order dalam jumlah banyak. Bahkan pada tahun 1997, aku dan ayahku  kebanjiran order. Saat itu setiap pekan kami membuat ratusan aneka kerajinan bambu,” ujar Moyong sambil menata bilah bambu untuk bahan kerajinan.

Pria yang sudah dikaruniai empat anak itu mengatakan, kerajinan bambu yang dia buat pada waktu itu ada empat jenis. Kerajinan tersebut di antaranya ebek atau tepek yang biasa digunakan untuk mencemur kerupuk mentah, tambir, keranjang untuk berjualan kerupuk, serta sarangan bambu. Menurutnya, pada waktu itu pesanan tidak hanya datang dari Kudus, tapi juga dari Semarang, Demak, Pati, Jepara, bahkan pernah ngirim ke Madiun.

Saking ramainya order, kata Moyong, pada tahun 1997 hingga 2004, dia bisa mengirim barang kerajinan dari bambu setiap tiga hari sekali. Setiap pengiriman dia membawa 100 tepek dan sejumlah kerajinan bambu lainnya. Dengan jumlah pengiriman itu, dia mengaku usaha yang dikelola bersama ayahnya tersebut mampu meraup omzet sekitar Rp 10 juta sebulan.

Karena kebutuhan pengiriman kerajinan, dia membeli mobil bak terbuka. “Mobil tersebut aku gunakan untuk operasional dan pengiriman hasil kerajinan bambu kepada para pelanggan. Pada saat itu meskipun mobil operasional, akulah orang pertama di Desa Jepang yang memiliki kendaraan roda empat,” ungkapnya.

Selain mampu membeli mobil, kata Moyong, pada kurun waktu tersebut dia juga mempunyai modal untuk ternak sapi. Diungkapkan, sapi yang diternak dari modal hasil kerajinan bambu tersebut sebanyak 20 ekor sapi.

“Aku bersyukur dan berterima kasih kepada ayahku yang mengajariku membuat kerajinan dari bambu. Dengan bambu aku dulu pernah merasakan hidup berkecukupan, punya mobil, motor, serta menyekolahkan semua anaku hingga perguruan tinggi,” ujar Moyong.

- advertisement -

Meski Belum Lulus dari UMK, Arinta Datang ke Job Fair di JHK Berharap Mendapat Pekerjaan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Stan-stan perusahaan berjajar rapi di dalam gedung Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK), Jalan AKBP R Agil Kusumadya Kudus, Kamis (23/2/2017). Setiap stan terdapat spanduk profil perusahaan, meja dan kursi untuk para pencari kerja yang datang. Tampak ratusan orang memenuhi gedung JHK pukul 11.00 WIB dalam acara job fair atau bursa kerja tersebut. Mereka ada yang sekadar bertanya, ada pula yang mendaftar di perusahaan untuk menjadi karyawan.

Peserta job fair berfoto di stan booth RS Kumala Siwi Kudus
Arinta (paling kiri), berfoto di stan booth RS Kumala Siwi Kudus. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara peserta yang datang di bursa kerja itu, Arinta Setiyani (21). Wanita berkerudung hitam dengan atasan putih dan bawahan hitam mendatangi stan milik RSU Kumala Siwi Kudus. Dia mengaku datang bersama dua orang temannya, Zeila Dwi Wahyuni (21) dan Putri Sri Lestari (21). Dia datang ke acara tersebut berharap peruntungan mendapat pekerjaan yang diinginkan.

Menurutnya, kegiatan job fair sangatlah membantu, karena mencari pekerjaan cukuplah susah. “Acara ini sangat membantu. Kalau misal belum berhasil sekarang, bisa untuk pengalaman saya,” ungkap Arinta kepada Seputarkudus.com.

Dia temannya mengungkapkan, sebenarnya dia masih kuliah di Universitas Muria Kudus (UMK) Jurusan Akuntansi semester delapan. Kedatangannya di bursa kerja diakuinya serius untuk mencari pekerjaan. Dia berharap, setelah lulus kuliah bisa langsung bekerja. “Ya inginnya di bagian keuangan, sesuai jurusan,” tuturnya.

Zeila menambahkan, dia mengaku baru pertama kali datang di bursa kerja. Menurutnya, dia perlu banyak pengalaman untuk menghadapi dunia kerja. Dirinya mendapat informasi acara tersebut dari brosur-brosur yang ditempel di tempat umum. “Ini kami serius untuk mencari kerja. Karena setelah lulus kuliah saya langsung bisa kerja. Kerjaan sekarang susah,” tambahnya.

Sementara itu, ketua pelaksana bursa kerja, Hartoyo (47) menuturkan, kegiatan job fair diadakan oleh Event Organizer Quantum Mitra Utama. Menurutnya, ada 33 perusahaan ternama yang mengikuti kegiatan selama dua hari tersebut. Dia memperkirakan, di hari kedua sudah ada sekitar 2.500 orang yang datang untuk mencari peruntungan kerja. Menurutnya, nanti 15 persen sampai 20 persen dari jumlah keseluruhan yang datang akan diterima. “Tapi setiap perusahaan mempunyai quota tersendiri, antara 10 sampai 100 orang,” jelasnya.

Menurutnya, para pencari kerja yang datang sebagian besar dari Kabupaten Kudus, Jepara, Pati, Demak, Rembang dan Semarang. Di Kudus, pihaknya sudah sering menyelenggarakan kegiatan job fair. Dalam setahun, dirinya menyelenggarakan kegiatan serupa dua kali. Dalam acara tersebut, pihaknya juga menyediakan tes toefl gratis bagi pengunjung yang datang. “Pengunjung yang datang gratis. Semoga dengan adanya kegiatan ini banyak yang diterima kerja,” tambahnya.

- advertisement -

Penjual Aksesoris HP Asal Semarang Ini Pernah Merasakan Sulitnya Bersaing di Kudus, Kini Dia Memanen Hasilnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di Jalan Agus Salim Kudus, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sejumlah deretan ruko yang menjajakan berbagai aneka usaha. Tampak di satu ruko, seorang pria mengenakan kaus putih, sedang duduk sambil memandangi layar handphone. Pria tersebut yakni Nor Mohammad Fadil (20), pria asal Semarang, sekaligus pemilik usaha Beselling ACC 2, yang melayani penjualan grosir aksesoris handphone.

Toko Aksesoris HP Besseling ACC 2
Toko Aksesoris HP Beselling ACC 2

Sembari menunggu calon pembeli datang, Fadil sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang awal mula membuka usaha di Kudus. Dia mengatakan mulai berjualan sejumlah aksesoris di Kudus lebih dari satu setengah tahun, terhitung sejak pertengahan bulan 2015. Pada saat awal pemasaran, dia sempat merasakan sulitnya mendapat pelanggan, bahkan pembeli.

“Mengawali usaha pasti ada kendala dalam pemasaran. Apalagi saya orang baru, saya harus tahu kondisi pasar di Kudus seperti apa biar bisa bersaing. Pemasaran saya secara langsung, jadi saya menawarkan beberapa produk kepada sejumlah konter.  Awal-awal ya kesulitan, banyak yang menolak dibanding yang bersedia. Tapi kalau sekarang, saya tinggal menunggu pelanggan datang. Kalau tidak ya saya yang mengirimkan barangnya,” ungkap Fadil.

Pria yang mengaku anak pertama dari tiga bersaudara, ini menjelaskan, selain melakukan pemasaran secara langsung, dia juga melakukan pemasaran melalui media online. Dia memasarkan produknya melalui Fecebook, Instagram, situs maupun melalui penjualan di OLX. Kini dia memiliki pelanggan dari Kudus, Pati, Demak, dan ada juga yang dari Jepara. “Tapi yang paling dominan memang dari Kudus dan Jepara,” ujar Fadil.

Dia mengungkapkan, memilih membuka usaha di Kudus karena perkembangan pasar aksesoris handphone sangat bagus. Menurutnya, lokasi Kudus yang strategis dekat dengan wilayah lain, membuat usaha yang dia bidangi banyak diminati konsumen. “Kudus sangat strategis, peminatnya juga banyak, jadi tidak heran kalau perkembangan pasarnya bagus,” ungkap Fadil.

Sejumlah aksesoris yang dia jual, di dapatkan langsung dari distributor yang berada di Jakarta. Untuk aksesoris yang paling banyak terjual, meliputi power bank, memory card (MMC), maupun kabel data. Sedangkan penjualan, dalam jangka waktu satu bulan, dia mengaku mampu menjual tidak kurang dari 500 unit aksesoris per bulan. “Allhamdulilah, tetap disyukuri saja,” tambahnya.

- advertisement -

Korban Banjir Tak Usah Khawatir Air Sumur Kotor, Puskesmas Jati Siapkan Serbuk Penjernih

0

SEPUTAR KUDUS.COM, JATI WETAN – Bubuk putih tersebut terlihat terwadahi di dalam botol plastik yang di labeli kertas warna putih. Ada pula yang ditaruh di dalam toples lengkap dengan informasi cara penggunaan. Bubuk putih tersebut yakni kaporit, yang nantinya akan diberikan warga guna menjernihkan air di dalam sumur paska banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Penjernih air pasca-banjir
Penjernih air pasca-banjir. Foto: Imam Arwindra

Menurut Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) UPT Puskesmas Jati Ahmad Muhammad (38), kaporit tersebut berbentuk serbuk yang fungsinya untuk menjernihkan air dan dan pembunuh bakteri selepas terjadinya banjir. Dia menuturkan, usai banjir, air yang berada di sumur dan tempat penampungan terdapat bakteri akan menyebabkan penyakit kulit, diare dan lainnya.

Menurutnya, banyak sumber air kotor yang terdapat pemukiman usai terjadinya banjir. “Pasca-banjir banyak sumber air kotor. Jadi perlu dijernihkan agar masyarakat terhindar dari penyakit,” ungkapnya saat ditemui di Puskesmas Jati, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, kaporit nantinya akan diberikan warga setelah air di pemukiman benar-benar surut. Menurutnya, di Kecamatan Jati ada lima desa yang terkena dampak banjir, yakni Desa Jati Wetan tiga dukuh, Dukuh Kencing Desa Jati Kulon, Desa Jetis Kapuan, Dukuh Goleng Desa Pasuruan Lor dan Desa Tanjung Karang. Kaporit tersebut akan diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi terkini. Stok sudah kami siapkan. Setelah surut langsung diberikan,” terangnya sambil memegang botol yang berisi kaporit.

Selain berupa bubuk, katanya, kaporit yang akan dibagikan juga ada yang berbentuk cairan, yakni syh chem. Ahmad menuturkan, kaporit cir dikemas dalam sachet dengan isi bersih 10 mililiter. Menurutnya, satu sachet kaporit ini dapat menjernihkan air antara 150-180 liter air. Untuk kaporit bubuk, takarannya satu sendok makan untuk satu meter kubik air. “Nanti yang diberi (kaporit) sumur dan tempat penampungan air bersih. Untuk sumur terutama yang besar-besar,” ungkapnya.

Ahmad menambahkan, selain menyediakan kaporit, pasca-banjir pihaknya juga melakukan pemeriksaan dan pengobatan keliling kepada masyarakat. Selama bencana banjir melanda sebagian besar warga banyak yang terkena penyakit kulit, diare, batuk, pilek dan penyakit menular lainnya. Dari data Puskesmas Jati, selama banjir melanda, pihaknya sudah melakukan pengobatan gratis di lima desa.

Berdasarkan data tersebut, katanya, ada 1.160 pasien yang melakukan pengobatan. Jumlah pasien tersebut hasil dari pelayanan keliling petugas ke rumah-rumah warga yang memilih bertahan dan juga masyarakat yang berada di posko pengungsian. “Kami sudah antisipasi dengan memaksimalkan layanan kesehatan. Semoga air bersih terpenuhi. Penyakit pasca banjir dapat terobati,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Minim Persiapan, Rizki Senang Dapat Dua Kali Nilai 100 di Lomba Pesta Siaga Kwarran Kota Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Sebanyak 1320 anak terlihat mengenakan seragam pramuka di lapangan Rendeng, pagi. Tampak seorang anak dengan sepatu berlumur tanah dengan wajah ceria. Dia adalah Rizki Fadilah (10), murid sekolah dasar (SD) 3 Desa Singocandi, Kota, Kudus, yang merasa senang karena regunya mendapatkan dua kali nilai 100 dalam Lomba Pesta Siaga Kwarran Kota.

Pesta Siaga Pramuka Kwarran Kota, Kudus
Pesta Siaga Pramuka Kwarran Kota, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Rizki, begitu dia begitu akrab disapa, berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam lomba tersebut bersama regunya. Dia mengatakan, ini pertama kalinya mengikuti Lomba Pesta Siaga. Mendapat dua kali nilai seratus dalam lomba tersebut.

“Saya merasa senang bisa mendapat dua kali nilai 100, kalau tidak salah tadi kereta bola dan kecerdasan. Kami cuma latihan dua pekan, jadinya kurang maksimal. Ini pertama kalinya saya ikut Pestasiaga, tahun kemarin ikut latihan tetapi tidak ikut lomba,” ungkap anak kelas 4 SD itu, 16 Februari 2017 lalu.

Endang Styowati (32), guru pendamping SD 3 Desa Singocandi, menjelaskan, murid-muridnya memang kurang persiapan. Selain waktunya yang cukup singkat, murid-muridnya juga kadang ada yang tidak berangkat. Meski begitu dia merasa senang muridnya masih semangat dan antusias mengikuti lomba.

“Kami memang kurang maksimal untuk persiapan. Selain murid-murid kadang ada yang tidak berangkat, acara ini juga terbilang maju dari jadwal. Tapi saya senang melihat murid saya masih semangat dan antusias dengan lomba ini,” jelas Endang sapaan akrabnya.

Masyhudi (56) selaku ketua Kwartir Ranting (Kwarran), Kota Kudus, menerangkan, kegiatan Pesta Siaga ini sebagai ajang persaudaraan pramuka siaga di Kwarran Kota, Kudus. Selain itu juga meningkatkan semangat serta mempersiapkan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat Kwarcab Kudus.

“Semua lancar, seluruh sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) yang ada di Kecamatan Kota, Kudus semua antusias. Anak-anak juga terlihat semangat. Pesta Siaga kali ini diikuti kurang lebih sekitar 1320 anak dari 61 sekolah. 50 SD dan 11 MI, masing-masing sekolah mengirimkan dua barung, dan satu barung terdiri dari 10 anak,” terangnya.

- advertisement -

Giharto, Warga Peganjaran Pencipta Regulator TV yang Pernah Berjaya di Tahun 2000

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di dalam sebuah ruangan yang banyak kardus, terlihat tiga orang perempuan sedang sibuk dengan komponen di tangan mereka. Tampak mereka sedang menempelkan benda berwarna kuning pada komponen tersebut. Di sudut lain terlihat seorang perempuan sedang menggulung tembaga pada sebuah besi. Ruangan tersebut merupakan tempat pembuatan regulator televisi, yang keberadanya pernah sangat dikenal, dan mengantarkan pemiliknya hidup berkecukupan.

Produsen regulator televisi
Produsen regulator televisi. Foto: Rabu Sipan

Giharto (49), pemilik usaha pembuatan regulator itu mengatakan, regulator ciptaanya tersebut pernah berjaya antara tahun 2000 sampai 2010. Menurutnya, saking larisnya, permintaan regulator ciptaanya tersebut mencapai 4 ribu pcs sebulan, dengan harga jual Rp 22,500 per pcs. Dan hal tersebut terjadi selama 10 tahun, hingga mampu menaikan ekonomi keluarganya.

“Aku tidak menyangka regulator televisi yang aku ciptakan diminati banyak orang. Tidak hanya di Kudus, melainkan juga seluruh Karesidenan Pati, bahkan sampai Semarang, Surabaya dan merambah sampai Jakarat. Dengan larisnya regulator tersebut pada rentang sepuluh tahun aku mampu beli mobil, naik haji bersama istri, serta beli tanah dan bangun rumah bertingkat,” ujar Giharto yang mengaku rumah yang dia tempati sekarang merupakan hasil dari regulator televisi.

Pria warga Dukuh Brender RT 2, RW 3, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae itu mengungkapkan, dirinya menciptakan regulator televisi tersebut pada tahun 1999. Sebelumnya, Giharto bekerja sebagai tukang servis televisi dan sering membeli regulator. Karena alasan tersebut, lalu menciptakan regulator sendiri.

Dia mengungkapkan, pada waktu itu sangat mudah mendapatkan adaptor sebagai bahan baku regulator. Karena banyak perusahaan elektronik di Kudus yang bangkrut akibat krisis moneter dan stok komponenya dilelang dengan harga yang murah. Karena bahan baku yang murah, tersebut dia mengaku mampu meraup untung lebih banyak.

Pada saat berjaya, dia mengaku mempekerjakan sekitar 10 orang untuk produksi regulator televisi. Dia menuturkan, hal tersebut berbanding terbalik dengan sekarang, dimana regulator sudah sepi peminat seiring hadirnya televisi LED. Menurutnya televisi tabung kelemahan akutnya pada regulator penghantar listrik, berbeda dengan televisi berbentuk yang regulatornya dibuat bagus dan awet.

Menurut Giharto, pelanggannya yang masih membutuhkan regulator televisi buatanya hingga saat ini merupakan orang yang fanatik dan sudah mengetahui kualitas produk buatannya. Dan untuk memenuhi permintaan para pelangganya tersebut, Giharto mengaku hanya mempekerjakan empat orang. Dibanding saat berjaya, jumlah produksinya saat ini menurun 70 persen.

“Meski sekarang sudah lewat masa kejayaan regulator televisi tabung, namun aku tetap bersyukur usaha pembuatan regulatorku masih bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.

- advertisement -

Tadi Malam Nainggolan Tak Lagi Tidur Bersama Kerbau, Banjir Tanggulangin Sudah Surut

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Gelas sisa kopi dan beberapa sampah makanan ringan tampak berserakan di atas meja di bawah jembatan Tanggulangin, Selasa (21/2/2017). Di sekitar meja, terlihat beberapa orang masih tertidur di kursi panjang pukul 7.30 WIB. Di lokasi yang sama juga terdapat kandang kerbau yang terbuat dari bahan kayu.

Pintu air Tanggulangin, Kudus
Pintu air Tanggulangin, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Tempat tersebut, menurut Ketua RT 4 RW 7 Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Panungkunan Nainggolan (40), yakni tempat jaga selama banjir melanda tiga dukuh di desanya. Menurutnya, tempat tersebut sangat dekat dengan Pintu Kencing Satu. Fungsi pintu air tersebut mengalirkan genangan air dari pemukiman menuju Sungai Wulan.

Selama pintu kencing satu belum bisa dibuka karena debit Sungai Wulan lebih tinggi, pihaknya mengandalkan polder dan empat disel pinjaman dari Kodim 0722 Kudus untuk menyedot air. “Hampir setiap malam saya bersama warga menginap di sini (tempat jaga). Karena ini sudah terbuka, saya tidak tidur bersama kerbau lagi,” ungkapnya dengan tertawa sambil menunjuk kandang kerbau yang yang masih satu lokasi dengan tempat jaga.

Nainggolan mengatakan, setiap malam dirinya menjaga disel penyedot air sambil meninjau Pintu Kencing Satu, jika sewaktu-waktu bisa dibuka. Menurutnya, air sudah menggenangi pemukiman sekitar dua pekan. Banyak masyarakat yang mengeluh kepadanya karena banjir yang tidak kunjung surut, terutama warga yang mengungsi di Balai Desa Jati Wetan. “Masyarakat intinya ingin cepat pulang,” tuturnya dengan semangat.

Nainggolan menuturkan, Senin (20/2/2017) Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Serang Lusi Juwana dan Kepala UPT Pengairan Wilayah II Kudus (Undaan, Jati, Kudus Kota) sudah datang untuk membuka Pintu Kencing Satu. Namun air dari pemukiman tidak bisa keluar karena di mulut pintu air terdapat sedimentasi lumpur. Akhirnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus bersama warga bergerak cepat untuk mengambil lumpur yang menghalangi lajunya air.

“Sebenarnya Pukul 06.00 sore pintu yang satu sudah bisa terlewati air. Namun yang satunya tidak bisa karena ada lumpur. Semua normal sekitar jam 12.00 malam. Karena lumpurnya sudah diambil,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, dengan terbukanya pintu air, genangan di pemukiman akan cepat surut. Menurutnya, selama bencana banjir melanda, dirinya berterima kasih kepada pemerintah Kabupaten Kudus, Kecamatan Jati dan Desa Jati Wetan, yang telah berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, dia juga berterima kasih kepada Polisi, TNI, BPBD dan semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada masyarakat.

“Oh ya, Pak Muhtarom penjaga pintu dan Haji Ridwan Ketua KONI Kudus yang biasa memberikan makanan. Terima kasih pak,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengairan Wilayah II Kudus (Undaan, Jati, Kudus Kota) Muhtarom menuturkan, keseluruhan pintu air bisa dibuka sejak Senin pukul 24.00 malam. Sebelumnya pukul 18.00 sore hanya satu pintu saja di bagian timur yang bisa.

Menurutnya, diperkirakan air yang keluar dari pemukiman sekitar tujuh meter kubik per detik. Jika tidak ada hujan, diperkirakan Kamis besok air di tiga dukuh Desa Jati Wetan akan surut. “Satu hari satu malam air di pemukiman akan surut. Minimal jalan-jalan sudah bisa dilewati,” tambahnya.

Muhtarom menjelaskan, debit air di sungai Wulan sekarang 144 kubik per detik. Normalnya Pintu Kencing Satu bisa dibuka saat debit air Sungai Wulan 150 meter kubik per detik. “Ini warga sudah banyak yang membersihkan rumahnya,” tuturnya.

- advertisement -

Sepeda Gazelle, Sepeda Antik dengan Harga Selangit, Belnya Saja Dijual Rp 750 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Puluhan sepeda antik tampak tertata berjajar di dalam Toko Setia Kawan, toko yang khusus menjual sepeda ontel antik . Di antara sepeda tersebut ontel itu terlihat ada yang terpisah dari sepeda antik lainya. Sepeda tersebut terlihat masih lengkap aksesorisnya, baik lampu, penutup ban terbuat dari kulit, serta bel. Sepeda antik bermerek Gazelle. Oleh penjualnya, sepeda tersebut dihargai selangit. Tak hanya sepedanya, onderdil sepeda tersebut juga memiliki harga yang mahal karena barangnya langka.

Sepeda Gazelle, sepeda antik di Toko Setia Kawan, Kudus
Sepeda Gazelle, sepeda antik di Toko Setia Kawan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Pasini (77), pemilik Toko Setia Kawan, Jalan Kudus-Jepara, Purwosari, Kota, Kudus, mengatakan, di antara sepeda antik yang paling mahal bermerek Gazelle. Harga satu unit sepeda tersebut bisa mencapai puluhan juta rupiah. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan sepeda Gazelle nyaman dan enak dinaiki,dan sangat langka. Bahkan kata dia, untuk membeli velg orisinilnya saja, kolektor harus mengeluarkan kocek hingga Rp 2 juta. Sepeda tersebut dia datangkan langsung dari Belanda.

“Velg asli sepeda Gazelle di Indonesia sudah sangat langka makanya harganya mahal, onderdil lainya yakni bel orisinil sepeda Gazelle satunya berharga Rp 750 ribu . Sedangkan lampu asli Gazelle, satu unitnya bisa tembus harga Rp 1,5 juta. Bahkan kerangka sepeda Gazelle tanpa velg dan aksesori lainnya masih laku terjual Rp 10 juta ” ungkap Pasini beberapa hari lalu.

Pria warga Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu mengatakan, meskipun harganya mahal, namun banyak orang kepincut dan ingin memiliki sepeda Gazelle. “istilahnya semakin langka semakin banyak dicari,” ujar Pasini.

Saat itu ada seorang kolektor sepeda datang ke toko milik Pasini. Dia bernama Nana Sutikno. Kolektor sepeda antiki tersebut mengaku sudah memiliki tujuh sepeda antik, namun dirinya belum memiliki sepeda Gazelle. Dia datang ke toko tersebut karena berhasrat ingin memiliki sepeda Gazelle.

Baca juga: Warga Karangampel Ini Jual Sepeda Ontel Antik Sejak Setengah Abad Lalu, Pembeli dari Seluruh Indonesia

Pria dari Karang Anyar, Demak, tersebut lalu merinci merek sepeda yang dia punya, di antaranya, Simplex Amsterdam punya tiga unit, dan lainya bermerek Fonger Holland serta The Humber. Dia mengungkapkan, sudah lama ingin sekali punya sepeda merek Gazelle, namun harganya yang masih di atas Rp 10 juta per unit, dia mengurungkan niatnya untuk membeli.

Dia mengungkapkan sering membeli sepeda antik di Toko Setia Kawan. Tidak hanya sepedanya saja namun juga onderdil juga. Karena menurutnya, toko milik Pasini lumayan lengkap. Dia mengaku, masih sering berkunjung ke toko itu, selain membeli onderdil juga untuk melihat stok sepeda antik yang dijual.

“Jujur sampai detik ini aku masih tetap ingin punya sepeda Gazelle. Karena menurutku sepeda enak untuk dinaiki ya Gazelle. Sepeda tersebut semakin tua dan orisinil harganya juga semakin selangit. Aku berharap punya rejzki lebih untuk beli sepeda Gazelle agar melengkapi sepeda antik koleksiku,” ujar pria yang tergabung dalam Komunitas Onta-Onta Tok (OTT) Kudus.

- advertisement -

Meski Dibanderol Cukup Mahal, Penjualan Yamaha Nmax di Harpindo Jaya Kudus Tak Terbendung

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi Jalan Jendral Sudirman 168 Kudus, terlihat sejumlah motor yang masih terbungkus plastik tanpa plat nomor. Di bagian ujung paling depan, tampak terpakir motor jenis matik warna merah berukuran besar. Motor itu yakni Yamaha Nmax, motor yang dijual kisaran harga Rp 26 juta. Meski cukup mahal, penjualan produk Yamaha ini menjadi yang terlaris di Harpindo Jaya.

Yamaha N-Max di Harpindo Jaya Kudus
Yamaha NMax di Harpindo Jaya Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Marketing Harpindo Jaya Kudus Norhadi Suwarto (33) mengatakan, meski harga yang ditawarkan setiap unit tergolong kelas premium, namun hal itu tidak mempengaruhi angka penjualan motor Nmax. Pihaknya mampu menjual lebih dari 40 unit per bulan.

“Secara keseluruhan penjualan penjualan hampir sama, merata, tapi yang paling dominan tetap Nmax, dengan angka penjualan lebih dari 40 unit per bulan. Ini dikarenakan Nmax memiliki fitur, bentuk, dan teknologi bagus, jadi tidak heran kalau banyak orang yang suka,” ungkap Norhadi saat ditemui di Harpindo Jaya, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, harga yang dia tawarkan untuk satu unit motor berbeda-beda, tergantung tipe motor yang hendak beli. Dia merinci, harga Yamaha Nmax non Ati-lock Braking System (ABS) dipatok harga Rp 26,335 juta. Sedangkan Nmax ABS dijual lebih mahal, seharga Rp 30,080 juta. “Bedanya, ABS dengan non-ABS itu pada fitur rem keselamatan saat dikendari, tapi kapasitas mesin tetap sama 155 cc,” ujarnya.

Warga Desa Loram Wetan RT 5 RW, Kecamatan Jati, Kudus, ini melanjutkan, keunggulan yang dimilki Nmax sangat beragam, di antaranya, teknologi mesin yang sudah dibekali blue core sehingga lebih irit bahan bakar. Selain itu, katanya, desain motor sangat nyaman dikendarai baik kalangan anak muda maupun orang tua. “Pembeli kebanyakan dari Kudus, tapi tak jarang Demak, Blora serta Pati juga ada,” ungkap Norhadi.

Selain menunggu calon pembeli datang ke diler, dia menambahkan, kunci sukses penjualan Harpindo Jaya Kudus meningkat karena berbagai faktor. Faktor tersebut meliputi promosi serta kegigihan karyawan Yamaha dalam meperkenalkan produk. Misalnya, melakukan promo di desa, pasar, instansi, sekolahan, menyebar brosur, mobil keliling dengan membawa sempel motor dan melakukan servis motor gratis.

“Hal ini yang membuat penjualan tetap stabil, khususnya penjualan Nmax. Diler kami buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tapi khusus Minggu hanya sampai pukul 14.00 WIB,” tambahnya.

- advertisement -

Warga Karangampel Ini Jual Sepeda Ontel Antik Sejak Setengah Abad Lalu, Pembeli dari Seluruh Indonesia

0

SAPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI –  Di tepi selatan Jalan Kudus-Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus,  tepatnya di depan Pasar Jember, tampak sebuah kios dengan pintu yang terbuka. Di dalam kios terlihat puluhan sepeda antik berjajar rapi sesuai jenis dan mereknya. Di balik meja kayu tampak seorang pria renta duduk menunggu pembeli. Pria tersebut bernama Pasini (77), yang berjualan sepeda ontel antik sejak setengah abad lalu.

Toko Setia Kawan Kudus jual sepeda ontel antik
Toko Setia Kawan Kudus jual sepeda ontel antik. Foto: Rabu Sipan

Saat menunggu pembeli datang, Pasini sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sudah berjualan sepeda ontel sekitar 60 tahun, tepatnya pada tahun 1957. Dia mengungkapkan penjual sepeda antik yang masih bertahan di Kudus hanya dirinya. Bahkan kata dia, pelanggannya tidak hanya dari Kudus maupun Karesidenan Pati, melainkan hampir seluruh Indonesia.

“Selama puluhan tahun berjualan sepeda onta antik, akus sudah berjualan kepada orang di mana saja, tidak hanya di Jawa. Saya pernah mengirim sepeda ke Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra dan Jakarta. Bahkan pelanggan dari Jakarta masih sering pesan sepeda onta antik dari tokoku,” ujar Pasini, pemilik toko sepeda Setia Kawan tersebut, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, itu mengklaim, di tokonya merupakan toko sepeda ontel antik yang terlengkap di Jawa. Saat ini, ada  setok sekitar 37 sepeda onta antik dari berbagai merek dan jenis. Dia lalu merinci merek sepeda yang dia jual, lengkap dengan harganya. Di antaranya merek Gazelle yang dia jual antara harga Rp 14 juta sampai Rp 18 juta per unit.

Sedangkan merek Fongers Holland dia jual antara Rp 5 juta hingga Rp 13 juta. Untuk sepeda merek Simplex Amsterdam dia banderol mulai harga Rp 3 juta sampai Rp 7 juta. Sepeda merk The Ralech dan Humber, dijual mulai Rp 3,5 juta sampai Rp 6 juta. Sedangkan merek Hartog dia lepas dengan harga Rp 1 juta.

“Dari ke enam  merek sepeda onta antik tersebut yang paling laris merek Gazelle. Meski harga lebih mahal namun sepeda Gazelle lebih diminati. Kebanyakan orang datang mencari sepeda pasti tanya merek Gazelle,” ujarnya

Menurutnya saat ramai pembeli dia mengaku bisa menjual sekitar 10 unit sepeda Onto dengan berbagi macam merk. Sedangkan saat sepi dikatakanya paling hanya mampu menjual sekitar empat unit sebulan.  “Dari jumlah penjualan tersebut setidaknya aku mampu memasarkan minimal dua unit sepeda Onto antik merk Gazelle sebulam” kata Pasini

Pria yang dikaruniai tujuh anak dam 17 cucu itu mengungkapkan, saat paling laris penjualan sepeda antik mulai tahun 1997 sampai 2010. Kata dia, pada saat itu banyak pengusaha mebel Jepara beli sepeda di toko Setia Kawan. Dalam kurun waktu tersebut, dia mengaku mampu menjual rutin sekitar 10 unit sebulan. Dia menambahkan, selain menjual dririnya juga membeli sepeda, dan melayani jual beli onderdil sepeda antik.

“Meski sekarang penjualan menurun, namun aku tetap bersyukur karena dengan berjualan sepeda antik omo aku bisa naik haji, menikahkan serta membuatkan rumah semua anakku,” ujar Pasini.

- advertisement -

Yamaha Aerox 155 Hadir di Kudus Maret, Tapi Sudah Ada Ratusan Inden di Harpindo Jaya

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Sejumlah kendaraan terlihat terpakir rapi didalam diler resmi penjualan motor Yamaha, PT Harpindo Jaya, Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Tidak jauh dari tempat parkir kendaraan, tampak beberapa orang mengenakan kemeja biru duduk di ruang depan. Satu diantaranya Norhadi Suwarto (33), yang tak lain Marketing Yamaha Harpindo Jaya Kudus. Dia mengatakan, Yamaha memiliki produk motor terbaru. Motor tersebut yakni Yamaha Aerox 155. Meski belum tersedia di diler, namun produk tersebut sudah banyak diinden pembeli.

Yamaha Aerox 155
Yamaha Aerox 155. Sumber: Situs resmi Yamaha

Di tengah-tengah kesibukannya, Norhadi, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan produk terbaru tersebut. Dia mengatakan, Yamaha Aerox 155 baru tersedia di Kudus sekitar Maret 2017. Namun menurutnya, antusiasme masyarakat yang ingin membeli sudah banyak, baik melalui pembelian di deler maupun melalui inden online.

“Ditempat kami, sementara sudah ada enam orang yang memesan secara langsung Yamaha Aerox 155. Tapi untuk inden online sudah banyak yang pesan, hingga saat ini sudah ada 100 lebih pemesan,” ungkap Norhadi sewaktu ditemui di Jalan Jendral Sudirman 168, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, beberapa waktu lalu.

Pria yang mengaku sudah dikaruniai dua orang anak, ini melanjutkan, mesin pada motor Aerox 155 sudah dilengkapi dengan teknologi blue core yang membuat konsusmsi bahan bakar lebih irit. Selain itu, katanya, keunggulan lain yang dimiliki motor itu meliputi lampu depan dan belakang LED, speedometer digital dengan LCD besar 5,8 inch serta pemilihan ban yang menggunakan super wide tubeless tire. “Kelebihannya fitur, model dan teknologi semua baru,” ujarnya.

Dia menjelaskan, harga yang ditawarkan setiap motor Aerox 155 berbeda-beda, tergantung tipe kendaraan yang hendak dibeli. Misalnya Aerox 155 VVA, dipatok harga Rp 22,835 juta, Aerox 155 VVA R-Version seharga Rp 24,735 juta, dan untuk Aerox VVA S-Version dia jual dengan harga Rp 27,135 Juta. “Pembayaran, semua bisa dilakukan dengan cara cash maupun diangsur setiap bulan,” ungkapnya.

Pria yang sudah hampir empat tahun menjabat sebagai Marketing Harpindo Jaya Kudus, ini menambahkan, khusus pembelian motor Yamaha di tempatnya bekerja, pembeli akan mendapatkan berbagai fasilitas. Meliputi, garansi mesin lima tahun dengan catatan rutin melakukan servis ke diler, penggantian oli dan servis gratis, menerima jaket serta helem. “Khusus Yamaha Mio Fino, jaket dan helemnya berbeda dengan kendaraan lain,” tambahnya.

- advertisement -

Warga Tanggulangin Mulai Tinggalkan Pengungsian, Malam Ini Kusmanto Bisa Tidur Nyenyak

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah orang tampak sibuk membersihkan rumah pasca-banjir di Dukuh Tanggulangin Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Dengan menyemprotkan air bersih melalui selang, mereka mengepel lantai rumah yang dua pekan lebih tergenang air. Sejumlah orang tersebut di antaranya Kusmanto (31), warga RT 4, RW 3 Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan. Menurutnya, air yang menggenangi lantai rumahnya setinggi betis orang dewasa mulai surut sejak hari Senin (20/2/2017) pukul 24.00 malam. Dirinya mulai membersihkan rumah pagi harinya.

Warga membersihkan sisa banjir
Warga membersihkan sisa banjir. Foto: Imam Arwindra

“Pagi ini baru dibersihkan, setelah hampir dua pekan lebih tergenang. Alhamdulillah kami bisa kembali tidur nyenyak, ” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/2/2017).

Menurut Tato, sapaan akrab Kusmanto, rumahnya mulai tergenang sejak 9 Februari 2017 lalu. Saat itu intensitas hujan tinggi dan air menggenangi pemukiman yang dia tempati. Selama tergenang, dirinya tidak mengungsi di Balai Desa Jati Wetan, seperti warga pada umumnya. Dirinya memilih bertahan menempati lantai dua rumahnya.

Saat air menggenangi rumahnya dirinya mengaku cukup kesulitan beraktivitas. Namun dirinya sudah terbiasa karena hampir setiap tahun rumahnya terkena banjir. “Ini air sudah surut. Tidur pun lebih nyaman,” tambahnya sambil menyemprot air dari selang warna biru.

Baca jugaTak Kunjung Surut, Koramil Jati Terjunkan 4 Pompa Disel Sedot Banjir di Jati Wetan

Selama bertahan di rumah, katanya, dirinya tidak terkena gangguan kesehatan, penyakit kulit misalnya. Untuk makan dirinya selalu mendapatkan jatah dari posko pengungsian yang ada di balai desa. Dirinya tinggal di rumah bersama ayahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Wetan Suyitno menuturkan sejak Selasa (21/2/2017) pagi pukul 06.00 warga sudah mulai kembali ke rumah dari pengungsian. Menurutnya, saat Pintu Kencing Satu sudah bisa dibuka, air yang menggenangi tiga dukuh di Desa Jati Wetan mulai surut. Karena itu, warga mulai kembali ke rumahnya untuk bersih-bersih. “Ini yang di pengungsian hanya ada tiga kepala keluarga, nanti sore mereka sudah pulang,” ungkapnya.

Menurutnya, data terakhir warga yang mengungsi di Balai Desa Jati Wetan yakni sejumlah 357 jiwa dari 126 kepala keluarga. Selain itu, juga ada 55 jiwa yang mengungsi di rumah saudara dan 2.808 jiwa yang memilih bertahan di rumah masing-masing.

Menurutnya, agar tahun depan banjir tidak terjadi lagi, dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Kudus menambah mesin polder untuk menyedot air dari pemukiman. Dia berharap mesin yang ditambahkan berukuran lebih besar.

Dia menjelaskan, saat curah hujan tinggi dan mengakibatkan banjir, polder seharusnya dapat langsung menyedot genangan air. Dia mencontohkan, saat air sudah di atas mata kaki orang dewasa, air langsung bisa hilang di sedot pompa dari polder. Selain itu, dirinya menginginkan untuk pondasi dan penampung air di sekitar Pintu Kencing Satu lebarkan.

“Pompanya poldernya harus lebih besar atau mesinnya ditambah. Saat air sudah di atas mata kaki, seharusnya di sedot langsung hilang. Untuk Pintu Tanggulangin Satu (kencing satu) pondasi dan penampungan air kalay bisa diperlebar,” tambahnya.

- advertisement -

Ternyata Mesin Pemanen Padi Buatan PT Pura Barutama Kudus Dapat Disewa

0

SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Di sebuah bangunan di tepi Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 12, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, terlihat sejumlah orang sedang sibuk merakit beberapa mesin. Sebagian dari mereka ada yang bertugas mewarnai dan ada pula yang bertugas sebagai operator mesin. Mesin tersebut di antara Combine Harvester, mesin pemanen padi moderen buatan PT Pura Barutama Kudus.

Mesin pemanen padi PT Pura
Mesin pemanen padi PT Pura Barutama. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela-sela kesibukannya, Febian Adtyarso (26), Sales and Marketing Support Engineering Division PT Pura Barutama, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mesin tersebut. Dia menjelaskan, selain diproduksi secara masal untuk dijual, mesin yang identik dengan warna ungu kombinasi putih itu juga disewakan. Terkait dengan biaya, nominal yang dikeluarkan tidaklah mahal, tergantung luas sawah yang dipanen.

“Selain menjual, kami juga menyediakan sewa alat Combine Harvester bagi petani. Biaya cukup murah dibanding dengan cara manual, satu hektare sawah kami patok harga Rp 2,8 juta. Biaya itu sudah sudah termasuk operator, helper sekaligus bahan bakar mesin. Untuk saat ini, baru wilayah Jepara, Demak serta Kudus yang sudah pernah sewa alat pemanen ditempat kami,” ungkap Adit akrab disapa.

Sementara itu, Bambang Widjanarko (38), Palnt Manager Divisi Engineering PT Pura Barutama mengatakan, produksi alat pemanen padi tersebut belumlah genap berusia satu tahu. Tepatnya baru diproduksi dimulai sejak bulan Mei 2016. Sebelum siap untuk didistribusikan, dia mengaku membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk melakukan riset dalam pembuatan mesin.

“Sebenarnya ide pembuatan Combine sudah lama muncul, sekitar tahun 2013. Namun untuk awal produksi masih tergolong baru, yaitu mulai tahun 2016,” ujar Bambang biasa akrab disapa.

Baca juga: Video: Melihat dari Dekat Produksi Mesin Pertanian dan Peternakan Divisi Engineering PT Pura

Warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, ini menjelaskan, mesin yang diproduksi pihaknya terbagi menjadi berbagai varian ukuran maupun tipe. Ada alat Combine Mini yang memilki dimensi 2.690 x 1.950 x 2.300 milimeter, Ada alat Combine Medium dengan dimensi 3.820 x 1.950 x 2.300 milimeter serta ada Combine Besar yang  berdimensi 4.595 x 2.745 x 2.890 milimeter. “Varian Combine banyak, tinggal dipilih sesuai kebutuhan saja,” ungkapnya.

Dia menambahkan, harga yang ditawarkan setiap unit mesin pemanen dan perontok padi, katanya, beda ukuran sudah beda harga yang dijual. Misalnya Combine Mini, dia patok harga dengan nominal Rp 111 jutaan, Combine ukuran medium dengan harga Rp 129 jutaan dan untuk Combine ukuran besar dijual seharga Rp 289 jutaan. Harga yang dijual sudah termasuk pembayaran pajak, namun untuk ongkos kirim mesin ditanggung oleh pembeli.

“Terkait dengan penjualan, kami melakukan berbagi promosi. Salah satunya dengan cara memberikan sosialisasi bagi kelompok tani diberbagai wilayah Indonesia serta memberikan leasing. Untuk penjualan, mulai awal produksi hingga sampai saat ini kami menghitung sudah ada kisaran 220 unit yang terjual, baik ukuran kecil, sedang maupun besar,” tambah Bambang yang mengaku hampir empat tahun menjabat sebagai Plant Manager divisi Enginering PT Pura Group.

- advertisement -

Mi Ceker Setan Super Pedas Ternyata Banyak Digemari, 100 Porsi Ludes Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di tepi timur Jalan sosro kartono, Desa Kaliputu, kecamatan Kota itu tampak beberapa sepeda motor terparkir di depan kedai. Di dalamnya terlihat seorang pria sibuk menyediakan hidangan kepada para pelanggan. Tempat tersebut yakni Kedai Dchubite, yang memiliki menu andalan Mi Ceker Setan dan memiliki rasa sangat pedas. Hampir setiap hari ramai pembeli, dan 100 porsi Mi Ceker Setan terjual sehari.

Penggemar Mi Ceker Setan
Penggemar Mi Ceker Setan. Foto: Rabu Sipan

Stevanus Kristanto (21), orang yang dipercaya mengelola kedai tersebut mengatakan, Mi Ceker Setan merupakan menu favorit para pelanggan yang datang ke Kedai Dchubite. Hampir setiap pelanggan yang datang, menurutnya hampir bisa dipastikan menanyakan mi tersebut.

“Sebenarnya saat pertama Kedai Dchubite ditambahi cita rasa pedas, tidak langsung ramai pembeli. Kami membutuhkan waktu sekitar setengah tahun agar berbagai menu Dchubite bisa dikenal masyarakat. Sekarang kedai ini sudah ramai pengunjung. Setiap hari 100 porsi Mi Ceker Setan terjual,” ujar Stevanus kepada Seputarkudus.com

Pria warga Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus itu mengatakan, Kedai Dchubite sebenarnya dulu hanya menjual kue Cubit dan yang awalnya bertempat di depan gang. Namun sejak pindah ke kios yang sekarang ditempati, bosnya menambah menu agar banyak pilihan untuk pelanggan. Dan dipilihlah aneka makanan yang memiliki khas rasa yang sangat pedas.

Dia lalu merinci menu tambahan tersebut, Mi Ceker Setan yang terbagi menjadi beberapa level di antaranya, Setan Indo Tante, Setan Intel, dan Setan Indo Ceker. Menu tersebut dikatakanya dibanderol antara Rp 9 ribu hingga Rp 12 ribu. Selain mi setan, di Kedai Dchubite juga menyediakan aneka nasi goreng, di antaranya, Nasgor Aspal, Ebi, Ikan Asin, Babat, dan Nasgor Ayam.

“Selain menu tersebut, di Kedai Dchubite juga ada menu speisal, di antaranya Soto Ceker Betawi dan Rica-Rica Ceker. Selain Mi Ceker Setan yang paling digemari pelanggan Dchubite, Soto Ceker Betawi juga lumayan diminati,  saat ramai kami bisa menjual sekitar 50 porsi sehari,” ujarnya

Dia mengatakan, selain menu makanan Dchubite juga menyediakan menu minuman. Di antaranya aneka macam minuman teh, aneka minuman kopi serta berbagai jenis minuman dari susu. Menurutnya, sama dengan menu makanan yang ada makanan paling favorit dipesan pelanggan, minuman yang paling banyak dibeli yakni es teh jumbo.

“Dari penjualan aneka menu tersebut, saat ramai kami bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 2 juta sehari. Sedangkan saat sepi hanya mendapatkan separuhnya saja yakni Rp 1 juta sehari. Meskipun aneka menu makanan dan minuman laris dan banyak diminati pembeli, Kedai Dchubite tetap menjual aneka kue cubit. Karena selain masih banyak peminat, kue tersebut merupakan asal muasal nama kedai,” ungkap Stevanus.

- advertisement -

Hati Jesi Bergejolak Saat Perankan Karakter Pemabuk dalam Pentas Teater Keset ke-14

0

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Ratusan penonton terdiam saat pemeran juragan menembak wartawan di akhir cerita pementasan Keluarga Segitiga Teater (Keset), di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), sabtu (18/2/2017) malam. Tampak seorang pria mengenakan kaus berwarna merah dengan celana pendek, berjalan keluar usai pementasan. Pria yang berperan menjadi juragan itu tak lain Muchammad Zaini (31).

Pentas Teater Keset
Pentas Produksi Teater Keset ke-14 di UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Jesi tersebut mengaku hatinya bergejolak saat membawakan karakter juragan dalam naskah berjudul “Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap” karya Akhudiat tersebut. Menurutnya, karakter juragan berlawanan dengan karakter dirinya.

Jesi, mengaku pernah memainkan peran sekitar 50 kali. Tetapi dia merasa kesulitan untuk menjiwai peran dalam pentas itu. Bahkan ini menjadi peran yang dinilai paling sulit selama ini. Selain waktunya yang terbatas untuk latihan karena tuntutan kerja dan untuk keluarga, karter juragan yang suka mabuk-mabukan dan bermain wanita sangat jauh dari kehidupannya.


”Saat memainkan peran sebagai juragan hati saya benar-benar bergejolak. Sebenarnya bukan saya pilihan utamanya. Karena yang memerankan sebelumnya mengundurkan diri, kemudian teman-teman menunjuk saya, dan saya pun sempat menolak. Tidak ada pilihan lain, akhirnya saya coba,” terang warga Desa Lawu, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Baca juga: Meski Tak Paham Bahasanya, Orang Sunda Ini Kagumi Pentas Teater Keset yang Digelar di UMK 

Menurut Jesi, dialog yang tertulis lima halaman dalam naskah itu terasa 150 halaman. Sangat berbeda dengan naskah-naskah yang pernah dia mainkan, 40 halaman terasa lima halaman. Meski sudah tiga bulan latihan, dia masih merasa baru 80 persen menjiwai peran sebagai juragan.

“Saya juga heran, rasanya sangat sulit memainkan karakter ini. Biasanya naskah 40 halaman itu rasanya seperti lima halaman. Tetapi naskah ini berbeda, lima halaman rasanya 150 halaman,” ungkap pria satu anak itu.

Nurhadi (34), sutradara dalam pentas produksi Teater Keset ke-14 tersebut mengungkapkan, naskah yang dipentaskan kali ini termasuk surealis. Setiap orang bisa menangkap makna yang berbeda-beda. Banyak pesan moral yang bisa diambil dari pementasan tersebut, “Jika menjalani profesi wartawan, jangan suka memelintir informasi dan memberitakan yang buruk. Juragan juga hidupnya hancur karena terlena oleh harta, tahta, dan wanita,” ungkap warga Dukuh Lemah Gunung, Desa Krandon, Kota Kudus itu.

Cipo, begitu Nurhadi biasa disapa, menjelaskan, sebelum pementasan dilakukan, dirinya sering melakukan pergantian pemain. Hal itu dilakukan karena saat latihan sering kali ada pemain yang tidak bisa datang. Meski begitu latihan tetap jalan rutin dijalankan setiap malam Rabu dan malam Jumat pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.30 WIB.

“Meski butuhkan waktu tujuh bulan untuk latihan, dan sering bongkar-pasang pemain, bahkan pementasan kurang tiga pekan peran wartawan harus diganti karena pemain mengundurkan diri. Kami memang harus saling memahami, karena kami juga punya pekerjaan dan keluarga. Jadi kadang ada hal yang tiba-tiba harus berubah,” jelas pria dua anak itu.

- advertisement -