Beranda blog Halaman 1919

Wow, Siswa SD Cahaya Nur Bisa Olah Kulit Jeruk Menjadi Permen

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Permen beraneka warna diletakkan di dalam toples dekat sajian kue. Tiga toples itu dibubuhi tulisan “Permen Kesehatan dan Kulit Jeruk Lezatooz” menggunakan kertas warna-warni. Sejumlah siswa SD yang datang beberapa kali terlihat mengambil permen tersebut. Mereka menikmati permen kesehatan hasil inovasi siswa SD Cahaya Nur, Kudus.

Siswa SD Cahaya Nur Kudus ciptakan kulit jeruk menjadi manisan
Siswa SD Cahaya Nur Kudus ciptakan kulit jeruk menjadi manisan. Foto: Imam Arwindra

Yakni Florian Aditama (8), siswa kelas tiga SD Cahaya Nur Kudus, satu di antara sejumlah siswa yang membuat inovasi permen kesehatan tersebut. Permen yang dibuat menurutnya berasal dari kulit jeruk sunkist dan daun katuk atau sirih. “Cara membuatnya sangat mudah, tidak sulit,” ungkapnya saat ditemui di kegiatan Edupro Cahaya Nur yang bertempat di SD Cahaya Nur belum lama ini.

Dia menjelaskan, limbah kulit sunkist dapat dibuat menjadi permen dengan rasa tidak pahit. Selanjutnya, untuk daun sirih dapat menjadi bahan pembuatan permen kesehatan yang baik untuk tubuh. Menurutnya, untuk membuat permen dari kulit jeruk, dirinya hanya butuh kulit jeruk sunkist yang sudah dibersihkan. Lalu dipotong secara memanjang.

“Setelah itu direbus dan ditambah gula hingga mendidih. “Akhirnya nanti dipotong kecil-kecil setelah itu dikeringkan. Rasanya manis dan tidak ada rasa pahit,” ungkap dia yang mengenakan kacamata.

Florian melanjutkan, dalam membuat permen kesehatan dari bahan daun katuk, dirinnya menyediakan bahan daun katuk dan agar-agar Nutrijell. Dijelaskan, setelah daun katuk direbus hingga mendidih, air dari rebusan tersebut dicampur dengan Nutrijell dan gula. Setelah itu, jika sudah menyatu dimasukkan ke dalam loyang hingga mengeras. “Kalau sudah menyeras dipotong kecil-kecil dan dipanaskan di terik matahari langsung,” tambahnya.

Selain permen, dikatakan, anggota kelasnya juga membuat makanan alternatif lainnya. Di antaranya sosis dengan bahan kentang. Menurutnya untuk membuat sosis berbahan kentang, dirinya juga mengaku tidak terlalu kesulitan karena dibimbing langsung oleh guru. “Kalau sosis kentang mudah, paling buatnya cuma sebentar,” ungkapnya sambil pempersilahkan pengunjung mencicipi hasil karya siswa yang disediakan.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kesiswaan SD Cahaya Nur, Petrus Suwarsono menuturkan, dalam kegiatan tahunan Edupro Cahaya Nur 2017, selain menyelenggarakan lomba, panitia juga menampilkan karya siswa dalam sains project. Di antara karya yang ditampilkan alternative food. Menurutnya, ada 10 jenis makanan alternatif yang dibuat sendiri oleh siswa. “Dari kelas satu hingga kelas enam membuat masing-masing. Jumlahnya ada 10 alternative food,” ungkapnya yang datang di lokasi kegiatan.

Contoh makanan alternatif yang dibuat diantaranya sosis, nuget dan donat dari bahan kentang. Selanjutnya juga ada permen kesehatan dari daun sirih dan kulit jeruk. Menurutnya, banyak tanaman-tanaman kesehatan yang bisa diolah menjadi permen.

Dia berharap, dengan diciptakannya makanan alternatif, nasi tidak harus menjadi makan utama setiap hari. Menurutnya, banyak bahan makanan lain bisa menggantikan nasi yang aman dan sehat dikonsumsi. “Kami juga berharap, dengan adanya kegiatan ini muncul peneliti-peneliti muda yang yang berasal dari Cahaya Nur,” terangnya.

- advertisement -

Produk Kerajinan Bambu Milik Moyong Tenggelam Setelah Produk Plastik Membanjiri Pasar

0

SEPUTARKUDUS.COMJEPANG WETAN, Seorang pria berkaus singlet merah hati terlihat sedang berbicara kepada seorang calon pembeli. Secara rinci dia menjelaskan bentuk serta ukuran barang yang akan dibeli. Sesekali dia terlihat memberi usulan dan menunjukan contoh produk terbuat dari bambu kepada calon konsumenya. Pria tersebut bernama Zaenuri Moyong (62), pengrajin bambu di Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo.

Pemesan kerajinan bambu
Kerajinan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Seusai melayani pelanggannya, pria yang akrab disapa Moyong itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, masa kejayaan mendapatkan order dari usahanya tersebut berakhir pada tahun 2004. Pada saat itu, peralatan rumah tangga terbuat dari plastik mulai membanjiri pasar dan berimbas buruk pada usahanya.

“Setelah tahun 2004 pesanan tempat penjemur kerupuk dan sarangan bambu untuk masak adonan kerupuk turun drastis. Biasanya dulu bisa mengirim ratusan pcs setiap pekan, sekarang berkurang menjadi hanya 200 pcs sebulan. Dengan berkurangnya order secara bertahap aku pun mengurangi tenaga kerja. Saat ini tenaga kerjaku hanya tinggal satu orang” ujar Moyong.

Warga Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, itu mengatakan, turunnya jumlah pesanan berbandin lurus dengan omzet yang dia dapat. Menurutnya, sekarang dirinya hanya mampu meraup omzet sekitar Rp 3 juta sebulan. Jumlah tersebut jauh dibanding dengan masa jayanya dulu yang bisa mendapat omzet hingga Rp 10 juta dalam waktu yang sama.

Baca juga: Tekun Membuat Kerajinan Bambu Sejak SD, Moyong Berhasil Tuntaskan Pendidikan 4 Anaknya Hingga Universitas

Dia mengungkapkan, dari beberapa hasil kerajinan bambu itu, yang paling membuatnya untung yakni sarangan bambu untuk masak adonan kerupuk. Karena menurutnya barang tersebut selalu rusak setiap empat bulan sekali. Namun kata dia, sekarang pelanggan lebih memilih yang terbuat dari plastik, karena lebih awet.

“Sekarang yang banyak itu pembuatan tepek tempat jemur kerupuk. Beda dengan sarangan yang punya kembaran terbuat dari plastik, tepek tak ada yang terbuat dari palstik,” ungkapnya.

Pria yang dikaruniai empat anak itu mengatakan, sebenarnya para pelangganya tak terlalu banyak menyusut. Namun waktu pemesana yang lebih lama. Untuk menjaga para pelangganya tidak berpaling, dia mengaku menjaga kualitas agar kerajinan yang dia buat tak cepat rusak serta ketepatan waktu pembuatan.

Moyong menambahkan, setiap pesanan 100 tepek diberikan waktu tunggu sekitar 10 hari, meskipun dirinya mengaku sehari mampu membuat 15 tepek. Dia mengungkapkan menjual tepek buatannya tersebut dengan harga Rp 20 ribu per pcs.

- advertisement -

Dibuka 2011, Natasha Skin Clinik Center Kudus Kini Memiliki 30 Ribu Pelanggan Lebih

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi timur Jalan Ahmad Yani Keluarahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak puluhan sepeda motor terparkir di depan sebuah ruko. Di dalamnya terlihat puluhan perempuan sedang duduk di sofa dan bangku yang tersedia. Tempat tersebut yakni Natasha Skin Clinic Center Kudus, tempat perawatan kulit yang sudah mempunyai puluhan ribu member.

Natasha Skin Clinic Center Kudus
Natasha Skin Clinic Center Kudus. Foto: Rabu Sipan

Natasha Skin Clinic Center Kudus Yudha Tyas (34) mengungkapkan, Natasha Skin Clinik Center berdiri sejak tahun 2005. Namun di Kudus baru buka pada tahun 2011. Mulai tahun tersebut hingga sekarang tercatat sudah memiliki lebih dari 30 ribu member. Kata dia, pelanggan tidak hanya berasal dari Kudus saja, melainkan seluruh daerah di Karesidenan Pati, di antaranya, Blora, Demak, Rembang, dan sekitarnya.

“Pihak Natasha Skin Clinik Center Pusat memang memilih Kudus untuk bisa menjangkau calon pelanggannya di Karesidenan Pati. Dan benar saja selain sudah memiliki puluhan ribu member, Natasha Cabang Kudus setiap harinya selalu ramai pengunjung,” kata perempuan yang akrab disapa Tyas kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus, itu mengatakan, saking ramainya setiap hari tak kurang dari 150 pelanggan datang untuk perawatan dan membeli produk di Natasha Skin Clinic Center. “Jumlah tersebut hanya untuk hari biasa, saat akhir pekan pengunjung bisa sampai 200 tiap harinya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, perawatan kulit yang tersedia Natasha antara lain, facial wajah dengan biaya Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu. Selain itu ada juga Jeet Peel, yakni terapi untuk pencerahan serta pengencangan menggunakan oksigen. Biaya yang dikenakan pelanggan untuk perawatan Jeet Peel Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Untuk semua jenis perawatan dan semua pembelian produk Natasha, ditentukan melalui konsultasi dengan dokter kecantikan. Di Natasha setiap hari ada tiga dokter kecantikan,” ujarnya

Diakuinya, selain melayani perawatan, Di Natasha Kudus juga menyediakan produk-produk kecantikan, diantaranya, cream, sabun, toner, tiray dan lain sebagainya. Semua produk tersebut kata dia disesuaikan dengan golongan usia.

Selain perawatan kulit, tuturnya, di Natasha Kudus juga menyediakan perawatan dan produk untuk rambut yang dipatok harga mulai Rp150 ribu sampai Rp 350 ribu. “Semua perawatan serta produk kulit dan rambut tersedia untuk perempuan dan laki-laki,” jelasnya.

Dia menuturkan, klinik kecantikan Natasha skin Clinik Center Kudus buka setiap hari. Menurutnya, di hari tertentu sering diadakan promo serta diskon harga.

- advertisement -

Khoiruddin Pusing, Saat Panen Tiba Harga Ketela Justru Anjlok

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDANA – Beberapa perempuan terlihat menggendong ketela yang diwadahi dalam karung. Ketela tersebut kemudian dimasukkan ke dalam truk yang sudah terparkir di tepi jalan, di depan MTs NU Miftahul Falah Cendana, Dawe, Kudus. Sementara itu, sekitar 100 meter ke dalam kebun ketela, beberapa laki-laki terlihat sibuk mengambil ketela yang tersimpan dalam tanah.

Petani ketela di Desa Cendono
Petani ketela di Desa Cendono. Foto: Imam Arwindra

Menurut penebas ketela Ahmad Khoiruddin (18), ketela yang sudah dipanen nantinya akan dikirim ke Ngempak, Kabupaten Pati. Namun dia menyayangkan, harga ketela yang nanti dijual menurun yakni Rp 800 per kilogram. Dia mengaku gelisah dengan harga ketela yang jatuh tersebut. Hal tersebut disebabkan karena hujan yang berkepanjangan dan harga tepung ketela yang menurun.

“Harga ketela jatuh. Semoga tidak terlalu lama,” ungkapnya saat ditemui saat panen ketela, beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, jatuhnya harga ketela mulai terjadi pada pertengahan tahun 2016. Menurutnya, sebelum itu harga di atas Rp 800. Sempat juga pada akhir tahun 2016, ketela yang digunakan untuk bahan baku tepung anjlok Rp 650 per kilogram. Namun pada awal tahun 2017 kembali lagi Rp 800 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, mau tidak mau dirinya harus bertahan.

“Ya harus bertahan di kondisi apapun, karena dalam bisnis ini banyak yang terlibat,” ungkap dia yang tinggal di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus.

Dalam sekali panen dirinya membawa 10 sampai 13 orang dari Desa Kandangmas. Menurutnya, mereka sudah lama ikut dengannya menjadi buruh panen ketela. Setiap orangnya diberi upah Rp 65 ribu perharinya. Dikatakan, dalam sekali panen dirinya juga menyewa truk Rp 550 ribu per hari. “Untuk hari ini hanya 10 orang yang ikut. Mereka juga dapat jatah makan,” tambahnya.

Khoiruddin sapaan akrabnya, melanjutkan, setiap kebun ketela dengan luas satu kotak dibelinya dengan harga Rp 1.200.000. Untuk satu hektarenya Rp 20 juta. Namun dia juga mempertimbangkan isi ketela yang akan ditebas. Dirinya mengaku sudah mempunyai pembeli tetap di Ngempak.

“Kadang pernah isinya busuk. Karena hujan lebat, memanennya telat akhirnya busuk. Kalau ketela sudah busuk ya dibuang,” terang dia yang sudah berbisnis jual beli ketela selama dua tahun.

- advertisement -

Meski Malu-Malu, Kaliya Tak Merasa Grogi Meski Menari di Depan Banyak Penonton

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Lima anak berbusana batik terlihat menari di atas panggung diiringi suara musik. Mereka juga mengenakan kasesoris bulu warna-warni di atas kepala. Mereka sedang tampil menunjukkan kemampuan menari di depan para juri, pada Birrul Walidain’s Got Tallent 2017 yang digelar di halaman SD Muhammadiyah Birrul Walidain, Kudus.

Lomba menari Birul Walidain Got Tallent 2017
Lomba menari Birul Walidain Got Tallent 2017. Foto: Imam Arwindra

Lima anak tersebut merupakan siswi TK Aisyiyah Bustanul Athfal XI, Bae. Satu di antara siswa yang tampil, yakni Kaliya Zavina Ardian (6), yang saat menari tak henti-hentinya mengumbar senyum kepada penonton. Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku tak grogi saat tampil di atas panggung meski ditonton banyak orang. “Tidak (grogi),” kata Kaliya malu-malu.

Menurut orang tua Kaliya, Dian Sudarmanto (35), anaknya memang suka bernyanyi dan menari. Hobi tersebut muncul tanpa arahan dari orang tua. Kaliya menurutnya juga anak yang tanggap, sehingga tak terlalu sulit mengajari dalam menari dan bernyanyi. “Sebagai orang tua, saya memberikan yang terbaik untuk perkembangan buah hati saya. Saya akan dukung supaya lebih maju lagi,” ungkapnya.

Dia menceritakan, anaknya juga sering mengikuti perlombaan menari seperti yang diadakan di SD Muhammadiyah Birrul Walidain. Beberapa lomba yang diikuti di antaranya di SD Muhammadiyah pernah juara dan di SMP Muhammadiyah menjadi pemenang ketiga.

Sementara itu, guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal XI Bae Faristina Afiyanti (33) mengungkapkan, untuk penampilannya pada ajang Birrul Walidain’s Got Tallent 2017, pihaknya hanya butuh waktu sepekan untuk persiapan. Pakaian yang dikenakan dengan motif batik dan ada busana biru pada bagian perutnya. Tidak ada tema khusus dalam pertunjukan yang dilakukan kelima anak didiknya. “Ajang seperti ini mengajarkan anak bisa mandiri dan berkreasi,” terangnya.

Sementara itu, ketua panitia Hisyam Amrullah (24) menuturkan, terdapat 30 TK dengan 350 peserta yang mengikuti kegiatan kegiatan Birrul Walidain’s Got Tallent 2017. Kegiatan diadakan selama tiga hari yakni tanggal 11, 12 dan 19 Februari 2017. Selain itu juga ada bazar yang dibuat oleh siswa kelas 4, 5 dan enam SD Muhammadiyah Birrul Walidain.

“Di bazar anak-anak berkreativitas. Nanti hasil dari bazar akan gunakan dan dikelola mandiri masing-masing kelas,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pada 11 Februari 2017 pihaknya menyelenggarakan fashion show, lomba adzan dan lomba dongeng anak. Selanjutnya, 12 Februari futsal dan tahfidz jus 30. Dan hari terakhir yakni lomba gerak dan lagu serta penyerahan trofi pemenang lomba. “Hari terakhir juga ada pementasan pantomim dari siswa SD Muhammadiyah Birrul Walidain sendiri,” tambahnya.

Melihat antusiasme peserta yang tinggi, dia mengatakan kegiatan seperti ini akan rutin diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan yang khusus untuk anak-anak TK tersebut dianggapnya menarik karena terdapat bazar, tropi dan uang pembinaan bagi pemenang. Selain itu, juga bagus untuk mengembangkan bakat pada anak di usia dini. “Semoga kegiatan ini bisa menjadi ajang tahunan,” tuturnya.

- advertisement -

Tarmudzi, Seniman Lukis yang Rela Jadi Tukang Cukur untuk Penuhi Kebutuhan Hidup Keluarganya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Di studio lukis di tepi Jalan Kudus-Colo, Purworejo, Bae, Kudus, tampak beberapa kayu berukir naga, serta ornamen bentuk lain terpajang di tempat tersebut. Di pojok studio terlihat seorang pria berambut gondrong mengenakan kaus oranye sedang memotong rambut. Pria tersebut bernama Tarmudzi (42), seorang seniman lukis di Kudus yang rela mencukur untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Tarmudzi, Seniman Lukis di Kudus mencukur pelanggan
Tarmudzi, Seniman Lukis di Kudus mencukur pelanggan. Foto: Rabu Sipan

Seusai memotong rambut pelangganya, Turmudzi bersedia berbagi kisah hidupnya kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, seorang pelukis senior Kudus bernama Bambang Dalyoko, pelukis Kudus terkadang masih suka “melacur”. Dia menjelaskan, banyak pelukis Kudus yang masih yambi bekerja di bidang lain atau mungkin menerima order selain melukis.

“Satu di antaranya pelukis Kudus yang masih melacur itu ya diriku sendiri. Karena jujur aku bukan seorang idealis yang menggantungkan hidupku hanya pada melukis. Tapi jujur, sebenarnya aku lebih senang melukis daripada mengerjakan order lain. Namun karena prospek pemasaran lukisan masih kurang, aku terpaksa ‘melacur’ dengan menerima order selain melukis,” ungkap Turmudzi.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, selain melukis, saat ini dirinya mencukupi kebutuhan keluarganya melalui banyak pekerjaan, di antaranya mencukur rambut. Dia gunakan studio lukisnya untuk menjalani pekerjaan tersebut.

“Selain melukis, saya juga bisa mencukur. Setiap pelanggan yang datang untuk potong rambut, tidak saya kenakan biaya mahal, cukup Rp 7 ribu saja,” ujarnya.

Dia mengatakan, selama menekuni dunia lukis, dia mengakui juga menerima order lain, yakni mengukir. Hal tersebut terpaksa dilakukannya untuk mendapatkan penghasilan lain, dari sepinya order melukis. Sebenarnya diakui Turmudzi sebelum melukis dia terlebih dulu mengais rezeki dengan mengukir di Jepara.

Namun sejak tahun 2000, dia mengaku order ukiran dia kerjakan di rumahnya di Kudus. Sejak mengukir di rumah setiap ada waktu senggang dia gunakan untuk melukis. “Pokoknya mana yang ada order aku kerjakan, entah itu melukis, ataupun mengukir,” tuturnya

Dia mengungkapkan, ukiran sepesialisasinya yakni Relief Lung. Dia menuturkan, biasanya diberi order untuk mengukir meja, serta hiasan dinding. Kata dia, dari kerjaanya tersebut bisa menerima upah antara Rp 1,2 juta hingga Rp 4 juta.

“Upah tergantung dari kerumitan ukiran dan aku kira-kira dengan lama pengerjaan. Selain harga tersebut aku juga pernah menerima order mengukir dengan upah Rp 15 juta. Saat itu aku diminta mengukir relief lung dengan obyek flora dan fauna. Memang rumit sih tapi upahnya sesuai harapan,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, dua tahun terakhir order ukiran dari Jepara sepi. Dengan sepinya order tersebut dia mengaku menerima order ukir apa saja di antaranya, ukir figura, kepala biola, dan lainnya. Dia mengatakan, menerima order pesanan ukiran jenis apapun, dengan obyek apapun, kecuali gambar dewa. “Bukannya gak bisa ya, tapi aku tidak berani,” jelasnya.

Meski dua tahun terakhir pesanan jasa ukir dan lukisan sepi, namun dirinya berharap ke depan dua hasil karyanya tersebut diminati banyak orang. Sehingga dirinya bisa mewujudkan cita-cita yakni mendirikan museum untuk memajang lukisan dan ukiran karyanya, serta memajang benda seni yang dimiliki, di antaranya koleksi keris.

- advertisement -

Usai Ikut Beauty And Hijab Class, Octavia Sadar Make Up yang Dilakukannya Selama Ini Salah

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Puluhan perempuan berjilbab tampak memadati aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK). Satu di antara perempuan yang sedang mengikuti kegiatan Beauty and Hijab Class itu, Octaviany Eka Wahyuning Tyas (20). Setelah megikuti kegiatan tersebut dirinya merasa make up yang selama ini ini dia lakukan salah.

Beauty and Hijab Class KKES Fakultas Ekonomi
Beauty and Hijab Class KKES Fakultas Ekonomi. Foto: Ahmad Rosyidi

Dalam acara yang diselenggarakan Kelompok Kajian Ekonomi Syariah (KKES) Fakultas Ekonomi UMK bekerjasama dengan produk kecantikan Wardah tersebut, Octavia mengaku mendapat banyak pengetahuan baru tentang tata rias wajah. 

“Saya baru pertama kali ikut kegiatan seperti ini, jadi baru tau ternyata pakai bedak dulu baru eye shadow. Tadi juga belajar cara memakai hijab meski saya tidak berhijab,” terang warga Desa Getas Pejaten, Jati, Kudus itu.

Octavia mengatakan, sejak sekolah menengah pertama (SMP) sudah biasa menjadi foto model. Oleh karena itu dia merasa perlu lebih banyak belajar make up agar bisa mendapat hasil yang maksimal. Selain cara tata rias wajah, dia juga perlu memperhatikan produk kosmetik yang baik dan sudah teruji kualitasnya.

Isti Faizah (25), satu di antara tiga narasumber yang mengisi kegiatan tersebut perwakilan dari Wardah, menjelaskan, ini menjadi kerjasama kedua kalinya bersama KKES FE UMK. Tahun lalu juga pernah membuat kegiatan serupa, mengajarkan cara make up dan berhijab. Menurutnya, antusiasme peserta sangat baik.

“Selain mengajarkan cara make up dan berhijab, kami juga selling produk. Dan yang paling diminati peserta tadi produk terbaru kami yaitu Exclusive Matte Pip Cream yang harganya Rp 59 ribu, laku sekitar 20. Dan eyeliner harganya Rp 75 ribu, laku sekitar 10,” jelasnya usai acara.

Wanita yang akrab disapa Iis itu juga mengungkapkan, meski peserta sudah mendapat vocer belanja Rp 50 ribu, mereka masih merasa kurang. Peserta rata-rata mereka berbelanja produk Wardah sekitar Rp 100 ribu.

Saat asyik menjelaskan produk terbaru dari Wardah, tak lama datang seorang wanita berhijab menghampiri Iis. Dia tak lain adalah Erlina Yulianti (20), ketua kegiatan Beauty And Hijab Class. Dia menjelaskan kegiatan yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB itu diikuti oleh 31 peserta. 15 peserta dari kalangan mahasiswa dan 16 peserta buka dari kalangan mahasiswa.

“Mungkin karena masih libur kuliah jadi peserta dari kalangan mahasiswa cuma 15 orang tadi. Ini jadwal kuliah mundur satu pekan soalnya, jadi di luar perkiraan kami. Tapi alhamdulillah lancar, lumayan banyak peserta dari luar kampus, tadi juga ada beberapa ibu-ibu yang ikut,” jelasnya.

- advertisement -

Peluit Sudah Berbunyi, Felicia Belum Juga Merangkak Saat Ikuti Lomba di SD Cahaya Nur

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Ruang kelas di lantai dua SD Cahaya Nur, Kudus, terlihat seperti arena balap lengkap dengan lintasan. Setiap lintasan dipisah dengan tali dan bendera. Lintasan itu digunakan untuk lomba merangkak pada kegiatan Edupro Cahaya Nur 2017. Nampak puluhan anak di usia di bawah tiga tahun bersama orang tuanya bersiap-siap untuk mengikuti lomba tersebut. Suasana sempa ramai, karena sebagian peserta menangis jelang lomba.

Lomba merangkak di SD Cahaya Nur Kudus
Lomba merangkak di SD Cahaya Nur Kudus. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara peserta yang akan mengikuti lomba, yakni Felicia Cesta (2). peserta dari Kelombok Belajar (KB) Syamsa Auladina Kudus yang mengenakan kerudung oranye ini bersiap-siap. Saat bunyi pluit terdengar, dia terlihat belum mulai merangkak dan masih menoleh ke belakang. Setelah diberi aba-aba gurunya, dirinya langsung merangkak ke titik final.

Menurut guru pendamping Fikmawati (27), Felicia sempat bingung karena dia berada pada tempat dan suasana yang masih baru. “Dia kan baru pertama kali ikut lomba. Jadi memang sempat bingung. Belum terbiasa,” ungkapnya selepas lomba.

Dia menjelaskan, selain itu Felicia juga terlihat capek mengikuti lomba merangkak tersebut. Menurutnya, dalam mengikuti lomba tidak ada persiapan khusus yang dilakukan. Murid yang akan diikutkan lomba hanya sering diajak bermain di sekolah. Pihaknya sengaja mengikuti lomba merangkak karena untuk perkembangan motorik pada anak. “Kami mengirimkan dua anak. Ini Felicia Cesta dan ini Anindita,” tambahnya.

Fikmawati melanjutkan, dalam perlombaan tersebut Felicia menjadi pemenang tiga. Menurutnya, pihaknya akan sering mengikuti lomba-lomba yang baik untuk perkembangan anak didiknya. “Walau sempat bingung, masih dapat peringkat tiga. Nanti hadiahnya akan diberikan saat penutupan,” jelasnya.

Sementara itu, panitia Edupro Cahaya Nur 2017 Yuliana Haryati mengungkapkan, dalam lomba diikuti 19 anak yang umurnya di bawah tiga tahun. Menurutnya, lomba tersebut selalu diadakan setiap setahun sekali. Tahun ini pihaknya memilih tema “Sehati Hijaukan Bumi”. Selain lomba merangkak, untuk kategori di bawah usia tiga tahun juga ada lomba memasukkan bola ke keranjang. Dikatakan dalam lomba memasukkan bola ke keranjang diikuti 22 peserta. ”Kegiatan ini yang menyelenggarakan KB, TK dan SD Cahaya Nur. Ini kegiatan tahunan,” ungkapnya.

Dalam menyelenggarakan lomba merangkak, menurutnya membantu perkembangan motorik anak. Selain itu, juga melatik keberanian anak dengan lingkungan yang baru ditemuinya. Merangkak juga menurutnya dalam melatih otot-otot pada anak. Terutama perkembangan anak yang sedang berlatih berbicara dan berjalan. “Ikut lomba ini, berani tanpa menangis saja sudah bagus,” tambahnya.

Yuli sapaan akrabnya mengungkapkan, selain lomba merangkak dan memasukkan bola ke dalam keranjang, pihaknya juga menyelenggarakan lomba fashion show, lomba ranking satu, lomba recycle project, lomba karaoke dan lomba mewarnai poster. Selain itu, juga ada science project dan hasil karya siswa KB, TK dan SD yang dibuat sendiri oleh siswa. “Kegiatan ini dilaksanakan dua hari, hari Jumat (24/2/2017) dan Sabtu (25/2/2017),” ungkapnya.

- advertisement -

Setelah Sukses dengan Bakso Beranak, Resa Buka Cabang Baru Berkonsep Kafe Tapi Harga Tetap Mede

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di timur Jalan HM Subchan ZE Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya depan Toko Roti Ganesha, tampak bangunan bercat kuning. Di dalamnya, nuansa kafe sangat terasa. Para pengunjung akan langsung disambut pelayan dan bisa memilih menu langsung di monitor beserta daftar harganya. Tempat tersebut bukan kedai kopi, melainkan warung bakso bernuansa kafe. Tempat itu merupakan cabang Bakso King, yang diklaim sebagai warung bakso pertama mengusung konsep kafe.

Cabang Baru Bakso King Kudus bernuansa kafe
Cabang Baru Bakso King Kudus bernuansa kafe. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Resa Desiana (31) pemilik Bakso King mengungkapkan, karena kecintaanya terhadap bakso, dia ingin produknya diminati semua kalangan. Setelah sukses dengan produk bakso beranak dia ingin bakso buatannya bisa sejajar dengan hidangan kafe pada umumnya, misalnya steak, salad, dan lain sebagainya.

“Dengan memberikan suasana kafe, aku ingin Bakso King makin diminati masyarakat Kudus dan sekitarnya. Konsep dan suasana di warung ini berubah menjadi luas dan pastinya lebih nyaman. Meskipun suasana kafe namun harga tetap mede (murah),” ujar perempuan yang akrab disapa Resa, beberapa hari lalu.

Warga Kelurahan Panjunan, Kecamtan Kota, Kudus, itu mengungkapkan, selain menu Bakso King dengan varian rasa yang sudah ada, di antaranya, bakso urat, bakso telur asin, serta bakso kakap, di cabang barunya tersebut juga menyediakan menu bakso baru yakni Bakso Mozarella dengan toping keju di dalamnya.

Selain itu, dirinya juga menyajikan bakso dengan varian rasa baru, yakni Bakso Naga. Resa menjelaskan, bakso ini mempunyai rasa yang sangat pedas, karena terbuat dari adonan bakso sapi yang dicampur dengan potongan cabai setan seberat 25 gram. Saat memakan, potongan cabainya bisa langsung digigit. “Seolah makan bakso dengan lalap cabai setan. Penasaran dan ingin merasakan sensasi pedasnya Bakso Naga, datang saja ke Bakso King,” ajaknya.

Dia mengungkapkan, selain menu bakso tersebut ke depannya di Bakso King juga akan ada menu bakso tambahan yakni, Bakso Janda, Bakso Penyet, dan masih banyak menu yang akan disajikan. Selain menu yang tersaji, menurutnya Bakso King juga menerima pesanan bakso jenis apapun. Asalkan untuk menu yang belum tersedia, order harus sepekan sebelumnya.

Resa mengatakan, selain menu tempat yang tersdia di cabang baru yang bernuansa kafe itu sangat luas. Menurutnya, kafe Bakso King terdiri dari tiga nuansa, yakni indor yang tepat berada di depan kasir,  out dor di bagian belakang, serta ruangan ber-AC. Di kafenya tersebut juga dihiasi sejumlah ornamen, lukisan, foto, pernak-pernik yang menambah kenyamanan para pelanggan.

“Pokoknya nongkrong di Kafe Bakso King dijamin enjoy, tersedia layanan wifi gratis, toilet bersih, parkiran juga gratis. Setiap malam Minggu rencananya kami akan selalu sajikan live musik. Serta satu yang perlu diingat, rasa bakso tidak enak tidak usah bayar,” ungkapnya.

Susiyani (25), satu di antara beberapa pengunjung yang datang ke cabang baru Bakso King tersebut, mengatakan, selain rasa baksonya enak, tempat sangat luas dan sangat nyaman. Manurut dia, tempatnya juga bagus dan ornamen di dalamnya cocok buat selfie. “Ini aku dah siap mau foto sama temanku,” ujarnya.

- advertisement -

Setelah Band Pertamanya Bubar, Pepep Bentuk Flow Band, dan Kini Rutin Manggung di Sendang Sani

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah orang tampak bersiap dengan alat peralatan musik di dalam Fariasi Studio Music Desa Jati Wetan, Jati, Kudus. Di sudut ruangan, terlihat seorang berkaca mata melepas simbal drum, setelah dicek kemudian dipasangnya kembali. Pria itu tak lain Riski Bayu Septian (31), pendiri Flow Band. Bersama dengan personel bandnya di studio tersebut, dia melakukan latihan rutin.

Flow Band
Flow Band

Pepep, begitu dia akrab disapa, berbagi cerita tentang band yang dia manajeri itu, kepada Seputarkudus.com. Sebelum membentuk Flow Band, katanya, dirinya bergabung dengan Mario Band. Setelah Mario Band bubar, kemudian dia mengajak teman-temannya yang dulu pernah bermusik bersama untuk membentuk Flow Band pada tahun 2011.

“Dulu saya ikut Mario Band, karena saya suka nongkrong di studio musik Mario, akhirnya pemilik studio bikin Mario Band. Manajernya juga pemilik studio Mario waktu itu. Karena studio Mario sudah tutup jadi Mario Band ikut bubar,” ungkap warga Desa Burian, Kota Kudus itu, beberapa waktu lalu.

Dia juga menerangkan, awalnya belum terpikir untuk membuat band baru. Karena dia diberi job Yamaha untuk pentas di beberapa kota, akhirnya mengajak teman-temannya untuk membentuk Flow Band. Dan nama Flow memiliki makna terbang meraih mimpi.

“Awalnya dari tawaran manggung Yamaha itu, kemudian saya ajak teman-teman yang pernah main musik bareng. Makna dari nama Flow yaitu terbang meraih mimpi. Sebenarnya spontan saja muncul nama itu,” jelas pria anak satu itu.

Pepep mengaku Flow Band memang tidak membuat lagu, mereka lebih memilih sebagai band penghibur yang meng-cover lagu artis. Saat ini mereka rutin main di Resto Sendang Sani Pati setiap dua pekan sekali. Dia juga merinci tarif Flow band saat ini, misalnya acara pernnikahan, dia memberikan tarif Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.

“Kalau sekalian sound dan alat musik Rp 4 juta hingga​ Rp 4,5 juta, tapi untuk harga luar kota kami menyesuaikan lokasi. Untuk even biasanya Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta, dan reguler seperti di kafe atau resto Rp 1 juta. Saat ini kami baru manggung sekitar Karesidenan Pati,” terangnya.

Menurutnya, kendala di Flow Band yang paling sering dihadapi yakni molornya jadwal latihan. Meski begitu dia memaklumi karena semua personel bandnya juga bekerja. Mereka rutin latihan satu pekan sekali di Fariasi Studio Music setiap Jumat malam pukul 19.00 WIB.

Pepep mengaku, Flow Band baru satu kali ganti personel, yakni pada posisi gitaris. Saat ini Flow Band memiliki enam personel. “Vokal pria Arief, vokal wanita Ticha, gitaris Joe, bassist Andreas, keybord Anom, drummer dan manajer saya sendiri,” jelasnya.

- advertisement -

Niat Awal Jual Ayam Geprek Hanya Isi Waktu Luang, Tapi Kini Justru Selalu Kebanjiran Pelanggan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Di tepi jalan Lingkar Utara Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, tepatnya di depan kampus Universitas Muria Kudus (UMK), tampak sebuah warung kecil penuh sesak pengunjung. Dan beberapa di antara mereka nengantre untuk mengambil ayam dan cabai mentah untuk digeprek. Di bagian dapur terlihat seorang pria memakai topi hitam sibuk membuat es teh, pria tersebut bernama Sutikno (60), pemilik warung Ayam Geprek Pak Tikno.

Pemilik Ayam Geprek Pak Tikno Kudus
Pemilik Ayam Geprek Pak Tikno Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Sutikno sudi berbagi kisah tentang usahanya usai menyelesaikan pekerjaannya di warung. Dia menceritakan, membuka warung ayam geprek sejak enam bulan yang lalu. Niat awal dirinya membuat warung tersebut hanya untuk mengisi hari tua. Dia tak memiliki kegiatan setelah memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai arsitek di sebuah kantor konsultan di Jakarta.

Baca juga: Jauh-Jauh dari Pati, Ana Penasaran Lezatnya Ayam Geprek Pak Tikno, Setelah Mencoba Jadi Jatuh Cinta

“Sebenarnya awal membuka warung makan ayam goreng geprek hanya untuk mengisi waktu. Namun Alhamdulillah, malah laris dan banyak diminati pembeli. Dan dari penjualan tersebut aku bisa meraup omzet sekitar Rp 3 juta sehari,” ujar pria murah senyum tersebut.

Pria kelahiran Kudus ini mengatakan, omzet tersebut merupakan total penjualan di warung dan pesanan katering. Selain menjual di warung, Tikno mengaku juga menerima pesanan katering. Setiap hari ada pesanan katering tak kurang dari 150 porsi. Dia menuturkan untuk penjualan di warung dia membanderol ayam gepreknya seharga Rp 10 ribu satu paket, nasi, ayam geprek dan es teh.

Untuk memenuhi permintaan para pelanggannya, dia mengaku menghabiskan ayam sekitar 60 hingga 70 kilogram seharinya. Saking larisnya penjualan ayam geprek di warungnya, ayam geprek yang dia jual selalu habis antara pukul 13:00 WIB sampai pukul 14:00 WIB.

“Meskipun ayam goreng geprek yang aku jual selalu habis setengah hari, namun aku tidak pernah punya keinginan menambahi setok ayam. Hal ini karena warungku sempit. Aku berharap suatu saat bisa membuka cabang sesuai permintaan para pelanggan,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak serta dua cucu itu mengungkapkan, selama ini para pelanggannya banyak memberi masukan agar dirinya membuka cabang. Katanya, agar mereka tetap bisa menyantap ayam goreng geprek miliknya saat warung di depan UMK habis.

Terlihat saat ayam geprek milik Tikno sudah habis sekitar pukul 14:00 WIB, banyak pembeli terus berdatangan. Namun mereka kecewa karena keinginan menyantap ayam geprek tak kesampaian.

Satu di antara pelanggan yang tak kebagian ayam geprek, Lia Fiaturohmah (22). Dia mengaku telat datang ke warung Pak Tikno karena ada acara. Dia mengungkapkan, hampir setiap hari pada jam makan siang selalu membeli ayam goreng geprek Pak tikno bersama temannya.

“Aku sudah sering membeli ayam geprek Pak Tikno, bahkan hampir setiap hari. Namun hari ini aku tidak kebagian, agak kecewa sih, tapi gak apalah. Hari ini aku makan siang dengan menu lainya saja,” ungkap perempuan yang akrab disapa Lia tersebut.

- advertisement -

Jauh-Jauh dari Pati, Ana Penasaran Lezatnya Ayam Geprek Pak Tikno, Setelah Mencoba Jadi Jatuh Cinta

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Siang itu, suasana warung di depan Universitas Muria Kudus (UMK), Desa Gondangmanis, Bae, Kudus, ramai pembeli. Sebagian di antara mereka terlihat sedang menyantap hidangan yang tersaji di meja. Dan sebagian lainnya masih mengantre. Warung tersebut yakni Warung Ayam Geprek Pak Tikno. Di dekat pintu masuk, terlihat perempuan berkerudung biru sedang menikmati hidangannya. Perempuan tersebut bernama Ana Faridatus Saidah (22), yang mengaku datang dari Pati karena ingin marasakan lezatnya menu andalan warung tersebut.

Ana Farida, Pengunjung Ayam Geprek Pak Tikno, Kudus
Ana Farida, Pengunjung Ayam Geprek Pak Tikno, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai menyantap hidangannya, perempuan yang akrab disapa Ana itu sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan baru pertama datang ke Warung Ayam Geprek Pak Tikno, yang berada di depan kampusnya dulu. Dia mengaku, penasaran karena banyak temannya di Kudus memberi tahu, bahwa Ayam Geprek Pak Tikno rasanya lezat.

“Untuk mengobati rasa penasaran, saat pergi ke Kudus aku mengajak temanku untuk datang dan mencicipi ayam geprek di warung ini. Dan benar saja, kesan pertama mencicipi, menurutku rasanya enak, renyah, dan pedasnya mantap,” ujar perempuan bertitel Sarjana Pendidikan alumni UMK tersebut.

Perempuan asal Gabus, Pati, itu mengatakan, selain rasa, penyajian secara prasmanan membuatnya cocok. Menurutnya, para pengunjung bisa menakar seberapa porsi nasi yang pas untuk disantap. Rasa pedas ayam juga bisa ditentukan Pembeli. Pengunjung mengambil cabai setan dan bawang putih dan diserahkan untuk digeprek bersama ayam goreng.

“Ingin rasa pedas, ambil saja cabai setan yang banyak dan kalau tak suka pedas ambil cabainya sedikit saja. Saat nanti datang lagi ke Kudus, aku pasti mampir lagi ke sini,” ujar perempuan yang sekarang berprofesi sebagai guru tersebut.

Berbeda dengan Ana, Dea Novyana (19) mengaku sudah sering makan di Warung Ayam Geprek Pak Tikno. Menurutnya, sudah tak terhitung berapa kali dia membeli Ayam Goreng Geprek depan kampusnya. Dara asal Kota Ukir itu mengatakan, pertama datang ke warung tersebut, karena ingin mencoba saja. Namun sejak pertama mencicipi dia mengaku jatuh cinta dengan rasa pedas Ayam Geprek Pak Tikno.

“Awalnya memang aku ingin sekedar mencoba, bagaimana sih rasanya ayam geprek di sini. Setelah mencoba aku suka, jatuh cinta dan datang terus. Tidak hanya aku, pacarku juga suka dengan rasa Ayam Geprek Pak Tikno. Ini aku juga beli satu untuk dia,” ungkapnya yang sangat menyukai rasa pedas tersebut.

Sementara itu, Shania Karin Djuliarto (16), pelajar asal Jepara itu mengungkapkan, sebenarnya dirinya dan temannya sering ke Ayam Geprek Pak Tikno. Namun, menurutnya sering tidak kebagian, karena memang selau ramai pengunjung.

“Aku bersama temanku memang datang ke ke sini pulang sekolah, jadi sering kehabisan. Bahkan kalau dihitung-hitung paling sekitar lima kali kebagian. Menurutku Ayam Geprek Pak Tikno rasanya enak, harganya juga sesuai kantong pelajar dan anak kos,” ujar Shania yang tercatat sebagai siswi kelas 10 SMA Masehi Kudus.

Menurut Sutikno (60), pemilik Warung Ayam Goreng Geprek Pak Tikno mengungkapkan, warungnya tersebut memang selalu ramai pembeli. Sebenarnya selain menjual di warung, dia juga melayani pesanan. Menurutnya setiap pesanan minimal 10 porsi akan dia kirim sampai lokasi tanpa biaya pengiriman.

- advertisement -

Tak Hanya Produksi Mesin Pemanen Padi, PT Pura Barutama Juga Ciptakan Mesin Pengering Padi

0

SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Ujung belakang PT Pura Barutama Divisi Engineering, terdapat dua gudang yang di dalamnya terdapat mesin dengan ceobong menjulang. Mesin itu berukuran besar dengan perpaduan warna ungu yang dominan. Kerangka mesin terlihat menggunakan bahan stainless steel dan plat baja mild steel (MS). Mesin tersebut yakni Dryer, alat yang berfungsi sebagai pengering biji-bijian bisa digunakan untuk padi, jagung, serta kedelai.

Mesin pengering padi PT Pura Barutama
Mesin pengering padi PT Pura Barutama. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Bambang Widjanarko (38), Plant Manager Divisi Engineering, sudi berbagi penjelasan terkait dengan kegunanan mesin tersebut. Dia menjelaskan, mesin itu merupakan solusi tepat bagi petani yang hendak menjemur hasil panen pada saat cuaca tidak mendukung. Tingginya curah hujan membuat petani tidak bisa menjemur hasil panennya.

“Khusus di bidang pertanian, kami punya produk andalan berupa alat pengering biji-bijian yang disebut Dryer. Mesin ini solusi tepat bagi petani untuk mengeringkan padi, jagung maupun kedelai saat musim tidak menentu. Jadi, dengan bantuan Dryer, petani tidak perlu lagi bersusah payah menjemur di bawah terik matahari dan lebih hemat efisiensi tenaga kerja,” ungkap Bambang sewaktu ditemui di Jalan Raya Kudus Pati kilometer 12, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Pria yang sudah hampir empat tahun menjabat sebagai Plan Manager, ini mengatakan, proses produksi mesin Dryer dimulai sejak tahun 2001, tepatnya sejak enam tahun yang lalu. Dia memberitahukan, mesin yang diproduksi oleh PT Pura Barutama memiliki berbagai keunggulan. Di antaranya, berkapasitas pengeringan 1 ton hingga 15 ton dengan waktu yang dibutuhkan antara 8 jam hingga 12 jam proses pengeringan.

“Untuk pengoperasian hanya butuh dua orang saja sebagai operator, menyuplai bahan bakar dan mengatur monitor mesin. Sedangkan bahan bakar yang digunakan, ada yang bisa memakai biomas seperti sekam padi dan kayu bakar. Adapula yang menggunakan listrik dan bahan bakar minyak, tergantung jenis maupun tipe mesinnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, harga yang ditawarkan kepada pelanggan ada berbagai pilihan, sesuai kapasitas mesin pengering yang dibeli. Misalnya, Vertical Dryer 10 ton dia patok seharga Rp 633 juta, Vertical  Dryer 3,5 ton harga Rp 500 juta, Vertical Dryer kapasitas 6 ton seharga Rp 533 juta, Bed Dryer kapasitas 1,5 ton – 5 ton seharga Rp 186 juta, dan Bed Dryer Automixing 3 ton seharga Rp 222 juta.

“Sedangkan alat Ailo Aerasi tempat penyimpanan biji-bijian kami jual dengan harga Rp 38 juta untuk kapasitas lima ton. Terkait dengan penjualan, terhitung mulai 2012 hingga 2017, kami sudah menjual sebanyak 1.500 unit mesin Dryer semua ukuran. Untuk pelanggan kami, seluruh Indonesia, Timur Leste juga pernah,” tambahnya.

- advertisement -

Dipecat Perusahaan, Giharto Justru Bersyukur Karena Kini Usaha Servis TV Miliknya Sangat Dikenal

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di Dusun Blender RT 2, RW 3, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sebuah rumah bertingkat yang pelataranya dipenuhi puluhan televisi. Di dalam ruangan rumah terlihat dua orang sedang sibuk memperbaiki televisi rusak. Satu di antara orang tersebut bernama Giharto (49), yang tak lain pemilik tempat servis televisi. Dia mulai membuka jasa perbaikan televisi setelah diberhentikan dari perusahaan elektronik ternama, tempat dirinya bekerja.

Giharto, Tukang servis televisi tabung di Kudus
Giharto, Tukang servis televisi tabung di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya memperbaiki televisi, Giharto sudi berbagi kisah tentang usahanya itu kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebelum membuka jasa layanan servis televisi, dia bekerja sebagai teknisi di perusahaan elektronik ternama di Kudus. Namun, pada 1998 saat terjadi krisis moneter, tempat dirinya bekerja melakukan pemutusahn hubungan kerja (PHK) masal.

“Aku bersyukur, karena di-PHK akibat krisis moneter melanda Indonesia, aku justru mendapat hikmah dengan mendapatkan mata pencaharian lain, yakni menjadi tukang servis televisi.  Saya mempunyai banyak pelanggan dan hasilnya mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Dia mengisahkan, sebelum terjadi krisis, selama bekerja menjadi teknisi di perusahaan tersebut, dia juga mocok menjadi tenaga servis elektronik di Welahan, Jepara, selama lima tahun. Setelah dipecat, selain masih kerja di Jepara, Giharto juga menjadi tukang servis elektronik panggilan.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, setelah sebulan membuka jasa servis panggilan, dia mengaku mulai dikenal banyak orang dan memiliki banyak pelanggan. Bahkan selang sebulan, dia tidak lagi menerima order servis panggilan. Karena para pelanggannya mengantarkan barang elektronik rusak ke rumah Giharto. Karena saking banyaknya pelanggan, menurtnya, pada waktu itu di rumahnya sampai menumpuk barang elektronik khususnya televisi, menunggu untuk diperbaiki.

Giharto mengungkapkan, sejak saat itu usaha servisnya mulai berkembang sampai sekarang. Pelangganya tidak hanya dari Kudus, tapi juga datang dari Demak, Jepara serta Pati. Bahkan, kata dia, sebagian para pelangganya tersebut merupakan pemilik jasa servis elektronik juga.

“Mereka yang sudah jadi tukang servis elektronik datang ke tempatku karena tidak bisa memperbaiki mesin dan komponen televisi rusak. Biasanya mereka hanya membawa mesin komponenya saja tidak beserta tabung televisi. Di tempatku semua kerusakan televisi separah apapun, aku sanggup memperbaikinya, yang penting aku masih bisa mendapatkan komponen televisi rusak tersebut,” ungkpanya.

Giharto mengungkapkan, saat musim hujan seolah menjadi musim panen bagi tukang servis televisi seperti dirinya. Karena di musim hujan televisi sering terjadi korslet pada flyback, karena pengaruh cuaca lembab dan sering terkena air hujan. Dalam sehari di tempatnya tersebut mampu memperbaiki sekitar 10 televisi, serta bisa memperbaiki mesin komponen televisi sekitar 15 set.

“Untuk servis ringan saya mematok harga dari Rp 40 ribu sampai Rp 70 ribu. Sedangkan ganti tabung televisi biayanya Rp 300 ribu dan biaya perbaikan mesin komponennya saja harganya antara Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu,” terang Giharto.

Dia mengungkapkan, harga tersebut untuk perbaikan televisi jenis tabung, sedangkan untuk harga servis televisi layar datar dia kenakan harga mulai  Rp 200 ribu. Dan untuk televisi plasma biaya servis, bisa mencapai jutaan rupiah. Tempat servis miliknya tersebut juga melayani servis barang elektronik lain di antaranya, setrika, kipas angin, digital versatile disc (DVD).

- advertisement -

Ulfa Terkejut Saat Cicipi Jenang Karomah Langsung dari Tungku: Ternyata Panas

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Belasan siswa mengenakan seragam Pramuka terlihat memasuki tempat produksi Jenang Karomah, di Desa Kaliputu, Kota Kudus. Lima pekerja yang ada di tempat produksi ramah menyambut. Mereka menjelaskan proses pembuatan dan memberi kesempatak kepada para siswa untuk mencoba dan mencicipi. Satu di antara belasan siswa tersebut, Sonia Ulfareza (17). Dia mengaku sangat senang bisa melihat proses pembuatan makanan khas Kudus itu.

Proses pembuatan Jenang Karomah
Proses pembuatan Jenang Karomah. Foto: Ahmad Rosyidi

Ulfa, begitu dia akrab disapa, berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya mengikuti kegiatan Kiat Wisata tersebut. Menurutnya, ini pertama kali dirinya mengikuti kunjungan ketempat pembuatan jenang. Dia merasa senang karena mendapat pengalaman baru, mengikuti proses pengemasan, pembuatan dan berbelanja di Jenang Karomah. Menurutnya, proses pembuatan jenang yang membuatnya sangat terkesan. Dia diberi kesempatan ikut mengaduk jenang.

“Seru, senang, ini pengalaman pertama saya melihat proses pembuatan jenang. Ternyata susah, ngaduk-nya berat dan lama, butuh waktu sekiar 4 jam. Padahal panas tempatnya, saya juga sempat kaget tadi waktu nyobain jenangnya yang masih panas,” ungkap siswa SMA 1 Bae, Kudus itu.

Pendamping Kiat Wisata Nurul Fajriyah Putri (22) mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Temu Karya Penegak ke-10. Dia berterima kasih kepada Jenang Karomah yang sudah menyambut dengan sangat baik. Dia juga baru tahu ternyata Jenang Karomah adalah satu-satunya yang membuat dari bahan baku yang berbeda.

“Ternyata bahan yang dibuat di sini menggunakan bahan asli, bukan perasa. Bahannya ada ketan hitam, jagung, kedelai, kacang hijau yang menjadi cita rasa jenang produk Jenang Karomah,” terang Nurul.

Dia menjelaskan, kegiatan Kiat Wisata mengunjungi tiga lokasi, di antaranya Jenang Karomah, Susu Muria, dan Museum Kretek. Peserta yang mengikuti ada 15 orang, dari beberapa SMA di Karesidenan Pati, Grobogan dan Demak. Kegiatan dimulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Usai melihat proses pengemasan dan pembuatan jenang, mereka menuju toko Jenang Karomah untuk membeli oleh-oleh.

Tak lama setelah belasan peserta tiba di toko Jenang Karomah, tampak seorang pria berbaju biru masuk ke dalam toko. Dia tak lian pemilik Jenang Karomah, Zaenal Arifin (52). Dia merasa senang tempatnya menjadi lokasi Kiat Wisata. Dengan adanya kunjungan itu dia sudah melakukan prosmosi secara geratis, karena pengunjung akan merasa lebih dekat dengan Jenang Karomah saat melihat prosesnya.

“Saya senang saat ada kunjungan seperti ini, secara tidak langsung Jenang Karomah akan mereka kenal. Untuk izin kunjungan cukup mengkonfirmasi agenda kunjungan, meski kadang ada dari pihak dinas tiba-tiba datang ke sini saat ada tamu dari luar kota yang ingin melihat proses pembuatan jenang,” jelas pria tiga anak itu.

- advertisement -