Beranda blog Halaman 1918

Operasi Simpatik 2017 Ternyata Hanya Dilakukan di Kecamatan Kota dan Jati, Tidak Ada Tilang

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Sejumlah polisi terlihat berbaris di halaman Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus. Di depan, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kudus AKBP Andy Rifa’i, memberikan arahan saat kegiatan gelar pasukan Operasi Simpatik 2017. Sementara itu, beberapa kendaraan pendukung operasi terlihat terparkir di halaman.

Persiapan Operasi Simpatik 2017 Polres Kudus
Kapolres Kudus (dua dari kiri) mengecek kesiapan anggotanya dalam Operasi Simpatik 2017. Foto: Imam Arwindra

Dalam Operasi Simpatik 2017, Kepala Unit (Kanit) Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Satlantas Polres Kudus Iptu Ngatmin menuturkan, Operasi Simpatik akan dilaksanakan dari tanggal 1 Maret 2017 hingga berakhir 21 Maret 2017. Menurutnya, operasi tahunan tersebut tidak hanya dilaksanakan di Kudus saja, melainkan di seluruh Indonesia. Di Kudus, Polres akan melakukan operasi hanya di Kecamatan Kota dan Jati saja.

Baca juga: Mulai Rabu Besok, Polres Kudus Akan Lakukan Oprasi Simpatik

“Target oprasi tahun ini hanya di (kecamatan) Kota dan Jati saja,” ungkapnya saat ditemui di kantor Sat Lantas Polres Kudus, Rabu (1/3/2017).

Ngatmin menjelaskan, hasil evaluasi tahun 2016, Kecamatan Kota dan Jati menduduki peringkat tertinggi kecelakaan lalu lintas di Kudus. Dengan berpedoman hasil tersebut, pihaknya akan fokus melaksanakan Operasi Simpatik tahun 2017 di Kota dan Jati. Menurutnya, sasaran operasi lebih kepada pengendara motor yang tidak memiliki kelengkapan berkendara. Selain itu, pihaknya juga akan memberikan peringatan kepada pengendara yang melawan jalur searah. “Oprasi ini tidak ada tilang, lebih mengedepankan teguran,” tambahnya.

Meski begitu, katanya, jika nantinya ada anggota polisi lalu lintas yang melakukan penilangan, menurutnya anggota tersebut melakukan fungsi yang berbeda di luar Operasi Simpatik. Dijelaskan, dalam surat perintah tugas Operasi Simpatik terdapat 58 anggota polisi dari unsur Sat Lantas, Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas), Intelijen, Reserse dan Samapta Bhayangkara (Sabhara). Menurutnya, di luar itu akan menjalankan tugas dan fungsi seperti hari-hari biasa.

“Memang benar Operasi Simpatik tidak ada penilangan, lebih mengedepankan simpatik dan teguran. Namun di luar anggota yang tertera dalam surat perintah tugas boleh melakukan penilangan,” terangnya.

Selain melakukan pembinaan di jalan, dalam Operasi Simpatik juga menyasar ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi berkendara yang baik. Selain itu, nanti juga akan diselenggarakan lomba-lomba, di antaranya lomba mewarnai dan lomba senam lantas yang akan dilakukan oleh polisi cilik.

Menurutnya, polisi cilik tersebut berasal dari siswa SD yang ada di Kudus. Setiap SD akan mengirim 10 siswanya untuk menjadi polisi cilik. “Tujuan adanya Operasi Simpatik untuk mengurangi fatalitas laka lantas supaya turun. Atau bahkan tidak ada,” tuturnya.

- advertisement -

Proposalnya Diterima Aqualux, Jumarno Pasok Lemari ke Seluruh Negeri, Omzet Sebulan Rp 60 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANGRolling dor toko terlihat terbuka di tepi Jalan Lingkar Utara, Desa Panjang, Bae, Kudus. Di dalam tampak dua orang sedang merangkai aluminium untuk dijadikan perkakas. Di depan toko terlihat seorang pria berkaus oblong dan bercelana jeans sedang mengobrol dengan seseorang. Toko itu bernama Mandiri Jaya, yang memproduksi perkakas berbahan aluminium. Produk toko ini tidak hanya memiliki pelanggan di Kudus, bahkan hingga pelosok negeri.

Toko Mandiri Jaya Kudus, produsen perkakas aluminium.
Toko Mandiri Jaya Kudus, produsen perkakas aluminium. Foto: Rabu Sipan

Jumarno, pemilik toko Mandiri Jaya, mengungkapkan, toko yang dia dirikan sekitar lima tahun yang lalu itu menerima pesanan aneka perkakas berbahan aluminium dan kaca. Dia menuturkan, tidak lama setelah membuka toko tersebut, dia mengaku disarankan oleh temannya untuk mengajukan proposal menjadi mitra kerja Aqualux, untuk pembuatan lemari depo isi ulang.

Alhamdulillah pengajuan proposalku tersebut diterima. Dan sejak tahun tersebut kami harus menyediakan lemari depo isi ulang sesuai permintaan mereka. Dan hasil produk lemari depo air itu juga dikirim ke seluruh agen CV Aqualux, tidak hanya di Kudus dan pulau Jawa saja, melainkan juga seluruh pelosok Indonesia,” ujar Jumarno kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Gondangmanis, Bae, Kudus itu mengatakan, selama ini pihak Aqualux selalu memesan setidaknya tiga hingga empat unit lemari depo air isi ulang dalam sepekan. Harga tiap unit lemari tersebut sebesar Rp 4 juta. Dari kerjasama tersebut, dia mengaku bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 60 juta sebulan.

Selain membuat lemari depo air isi ulang, di tokonya  juga menerima pesanan membuat barang lainnya berbahan aluminium. Di antaranya etalase yang dijual antara Rp 800 ribu hingga Rp 1.250.000. Rak sepatu dia hargai Rp 750 ribu, jemuran pakaian model kupu-kupu dipatok harga Rp 400 ribu. “Harga tersebut untuk satu unit,” jelasnya.

Jumarno juga mengaku biasa membuat rak piring yang dia banderol dengan harga Rp 1.250.000, lemari gantung dihargai Rp 1,8 juta per unitnya. Selain perabot tersebut, dia mengaku sering mendapatkan order proyek pembuatan jendela serta pintu aluminium.

Menurutnya, untuk pintu dia membebankan harga Rp 1.050.000 dan jendela Rp 600 ribu per unit.  Sedangkan untuk kusen aluminium, kata dia, harganya Rp 65 ribu per meter. Dan untuk partisi biaya yang dibanderol Rp 100 ribu per meter. “Harga tersebut sudah berikut pemasangan, dan pemesan tinggal terima beres,” ujarnya

Pria yang baru dikaruniai dua anak itu mengatakan, untuk mengerjakan semua pembuatan perabot yang terbuat dari aluminium tersebut, dia dibantu dua orang pekerja yang masih kerabatnya. Namun saat mendapatkan proyek membuat jendela dan pintu atau sekat partisi, dia mengaku biasanya mengambil tenaga kerja borongan, dan jumlahnya disesuaikan kebutuhan.

“Aku bersyukur usaha yang aku rintis sejak lima tahun yang lalu sekarang sudah banyak dikenal orang. Bahkan produk aluminiumku sudah didistribusikan hingga pelosok Indonesia,” ujar Jumarno yang mengaku tokonya tersebut buka mulai hari Senin sampai Sabtu.

- advertisement -

Kudus Ditarget Paling Kecil Penuhi Program Sapi Bunting

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Sa’diyah menyatakan, Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan 250 sapi bunting pada tahun ini. Target ini merupakan bagian dari program swasembada daging melalui program Upaya Khusus (Upsus) Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) yang dicanangkan pemerintah pusat. Jumlah tersebut merupakan target paling kecil dibanding dengan daerah lain.

Peternakan sapi di Kudus.
Peternakan sapi di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Sa’diyah, angka 250 ekor yakni angka paling sedikit dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten di Karisidenan Pati. Dia menjelaskan, jumlah populasi sapi potong di Kudus sebanyak 10.308 ekor. “Angka tersebut yang menjadikan Kudus mendapatkan target 250 ekor di tahun 2017,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, Kamis (9/2/2017).

Menurutnya, nanti masyarakat akan didorong untuk memelihara sapi betina supaya populasi sapi potong di Kudus akan meningkat. Dikatakan, dalam target progam Upsus Siwab, Kudus paling sedikit ketimbang dengan kabupaten-kabupaten di Karesidenan Pati. Disebutkan, jumlah target tertinggi yakni Kabupaten Grobogan sebanyak 79.465 ekor. Selanjutnya Blora dengan target sebanyak 79.432 ekor, Rembang 62.012 ekor, Pati 14.000 ekor, Jepara 8.516 ekor dan Kudus sendiri 250 ekor.

Dia menjelaskan, target yang rendah dikarenakan banyaknya peternak Sapi di Kudus yang memelihara sapi jantan. Selain itu, Kudus termasuk daerah industri yang sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor lain. “Lahan di Kudus sedikit. Warga yang memelihara sapi pun hanya untuk sampingan. Bukan seperti di Pati dan Blora yang memang banyak peternak,” jelasnya.

Dia memberitahukan, progam Upsus Siwab yang dilaksanakan Kementerian Pertanian bertujuan untuk memperbanyak populasi sapi potong di dalam negeri. Menurutnya, dengan adanya program tersebut kebutuhan daging secara nasional akan tercukupi.

Dalam pelaksanaannya, nanti sapi akan diberikan inseminasi buatan (IB) dengan cara disuntik hormon supaya bunting. Menurutnya kebanyakan sapi di Jawa sudah menggunakan inseminasi buatan bukan kawin alami. Sedangkan kawin alami atau intensifikasi kawin alam (Inka) masih banyak dilakukan di luar Jawa. “Bulan November 2016 kami sudah mulai sosialisasi,” tuturnya.

- advertisement -

Tak Ingin Terus Kerja Ikut Orang, Witono Beranikan Diri Jual Ikan Hias dengan Modal Seadanya

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Di tepi utara jalan di Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah bangunan yang dalamnya terlihat beberapa aquarium lengkap dengan ikan di dalamnya. Di antara aquarium tersebut tampak seorang pria berkaus biru sedang mengambil ikan kecil warna merah di satu aquarium, lalu diaberikan kepada pembeli. Pria itu bernama Witono (36) penjual aneka ikan hias.

Witono jual ikan hias di Wergu Wetan, Kudus
Witono jual ikan hias di Wergu Wetan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pembeli, Witono sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai berjualan ikan hias di Kudus sejak tahun 2000. Sebelum membuka usaha tersebut, Witono bekerja ikut kakaknya selama dua tahun.

“Aku ikut kerja kakakku selama dua tahun. Setelah aku menguasai cara merawat ikan hias dan aku juga tak ingin jadi bawahan terus menerus. Lalu aku nekat  berjualan ikan hias sendiri, dengan  modal seadanya,” ujar Witono sambil membersihkan aquarium yang sudah berlumut.

Pria yang berasal dari Banjarnegara itu mengatakan, pada waktu mulai usaha dia menjual ikan hias dengan wadah kantong plastik. Karena pada waktu tersebut kata dia, masih jarang penjual ikan hias dalam aquarium. Hingga pada pada tahun 2005 saat ikan lohan populer, semua penjual ikan hias mulai menggunakan aquarium sebagai wadah ikan yang mereka jual.

Saat ikan lohan populer, menurutnya penghasilannya meningkat meski harus membeli aquarium sebagai tempat ikan yang terkenal dengan jidat jenongnya tersebut. Dia mengaku pada saat itu tidak menjual lohan dengan harga juataan rupiah, namun paling mahal Rp 500 ribu untuk yang paling besar. “Aku memang tak ingin menjual ikan dengan harga yang terlalu tinggi, untung sedikit tak apa yang penting lancar,” ujarnya

Menurutnya hal tersebut tidak hanya berlaku untuk penjualan Lohan, melainkan ikan lainya. Karena itu sejak mulai berjualan, kata Witono sudah memiliki banyak pelanggan. Witono mengaku sampai sekarang juga masih menjual lohan, namun harganya lebih murah yakni antara Rp 50 ribu sampai Rp 250 per ekor.

Selain lohan, dia mengaku menjual ikan jenis lain di antaranya, koi, yang dia jual mulai harga Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu per ekor, tergantung warnanya. Menurutnya semakin bagus warna koi semakin mahal harganya. Sedangkan ikan cupang dia banderol Rp 2 ribu per ekor. Dan ikan paling mahal yang dia jual yakni ikan arwana sampit, yang dia banderol dengan harga Rp 425 ribu per ekor, seukuran korek api gas.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, selain berjualan ikan hias juga menjual aquarium dengan harga mulai Rp 10 ribu ukuran paling kecil dan paling besar dia jual dengan harga Rp 500 ribu. Dia mengaku juga menjual pakan ikan yang dia jual dari harga Rp 3 ribu sampai Rp 20 ribu, harga sesuai ukaran kemasan.

“Aku bersyukur usaha yang aku mulai dengan modal seadanya sekarang sudah memiliki banyak pelanggan. Hingga hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masih ada sisa untuk ditabung, untuk bekal menyekolahkan dua anakku sampai perguruan tinggi,” ujar Witono.

- advertisement -

Sejak SMP Fadil Belajar Berwirausaha, Kini Usaha Aksesoris HP Miliknya Beromzet Rp 200 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Laki-laki itu mengenakan pakaian warna putih dan tangannya memegang handphone. Sesekali dia berbincang dengan seseorang yang duduk di sampingnya. Di sekeliling dia, tampak sejumlah aksesoris handphone tertata rapi menempel di dinding. laki-laki tersebut tak lain Nur Muhammad Fadil (20), pemilik usaha Beselling ACC 2, yang kini setiap bulannya mendapatkan omzet Rp 200 juta.

Toko HP
Besselling ACC 2. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli datang, Fadil, begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang awal kisah dia menjadi wirausaha. Dia menjelaskan, sejak duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dia sudah belajar wirausaha dari saudaranya. Menurutnya, dulu dia  ikut membantu berjualan aksesoris handphone di Semarang selama enam bulan.

“Jujur, awal pertama kali saya ikut saudara berjualan, saya tidak tahu apa-apa masalah aksesoris. Kok lama kelamaan enak ya jadi pengusaha, terus saya buka usaha sendiri di Kudus. Allhamdulilah, dari modal awal sebanyak Rp 50 juta, kini usaha saya setiap bulannya mendapatkan omzet 200 juta per bulan,” ungkap Fadil sewaktu ditemui di Jalan Agus Salim, di ruko nomor 23B, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.

Anak pertama dari tiga saudara, ini mengatakan, usaha yang dia tekuni selama satu setengah tahun melayani berbagai penjualan grosir aksesoris HP. Produk yang dijual meliputi, power bank, headset, flip cover, softcase, screen guard, memory card, kabel on the go (OTG), kabel USB extender, baterai, flashdisk, dan lain sebagainya. “Ruko kami juga melayani pembelian dalam jumlah banyak,” ungkapnya.

Dia memberitahukan, terkait dengan harga yang ditawarkan, beda jenis, beda lagi harga yang dijual. Misalnya, power bank, dia patok dengan kisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 350 ribu, harga baterai mulai Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu, flashdisk dia jual seharga Rp 50 ribu hingga Rp 120 ribu dan kabel USB extender dijual mulai Rp 8 ribu hingga Rp 50 ribu. “Untuk memory card tidak bisa dipastikan harganya, soalnya setiap hari selalu berubah,” ujarnya.

Pria lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), ini menambahkan, khusus pembelian power bank, dia memberikan fasilitas bagi pelanggan berupa garansi satu tahun. Dia mengungkapkan, yang membedakan aksesoris HP yang dia jual dengan usaha lain yang sejenis yakni dari segi harga. Harga yang dia jual, menurutnya, lebih murah dibandingkan dengan tempat usaha lainnya.

“Yang membedakan, dari segi harga dan kualitas. Soalnya saya tahu kondisi pasar di Kudus, jadi harga yang saya jual pasti lebih murah. Ruko saya buka setiap hari, mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Baru Tahu, Rizal Bangga Kudus Memiliki Seniman Sekaliber Aryo Gunawan

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan penonton keluar dari gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) usai acara Forum Apresiasi Seni Dan Budaya Kudus (Fasbuk), Selasa (28/2/2017) malam. Tampak sepasang pria dan wanita berjalan bergandengan tangan, kemudian foto bersama di foto booth yang disediakan panitia. Pria itu yakni Muhammad Rizal Zulianto Hasan (20), meski baru mengetahui sosok Aryo Gunawan, dia mengaku salut dan bangga karena Kudus memiliki seniman dengan segudang karya.

Fasbuk Februari 2017
Fasbuk Februari 2017, mengenang karya Aryo Gunawan. Foto: Ahmad Rosyidi

Rizal, begitu dia akrab disapa, berbagi kesan kepada Seputarkudus.com, tentang acara yang diselenggarakan Fasbuk bulan Februari. Dia mengaku acara ini merupakan yang ketiga kalinya diikuti. Dia merasa beruntung, karena acara Fasbuk dengan tema “Merenda Karya Aryo Gunawan” kali ini, sehingga dirinya bisa mengenal sosok Aryo Gunawan. Meski dirinya tak berkecimpung di dunia seni, Rizal senang dengan pementasan-pementasan seni.

“Saya hanya penikmat seni saja, dan beruntung ikut acara kali ini. Jadi saya bisa tau tentang Aryo Gunawan yang memiliki banyak karya. Saya merasa bangga karena Kudus memiliki seniman besar seperti pak Aryo Gunawan,” ungkap warga Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kudus itu.

Rizal mengaku datang bersama pacarnya, selain ingin menikmati pementasan di acara Fasbuk dia juga ingin foto bareng di foto booth yang disediakan panitia. Sebenarnya Rizal ingin mengikuti kegiatan diskusi hingga selesai. Berhubung dia datang dengan pacar, jadi dia takut terlalu malam saat mengantar pulang.

Sementara itu, penonton lain, Arif Maulana Hasanudin (20), yang datang bersama rekan-rekannya, mengaku tertarik dengan tema Fasbuk kali ini. Sebelumnya dia sudah pernah mendengar nama Aryo Gunawan, tetapi belum tahu sosoknya memiliki banyak karya. “Saya malah baru tahu ternyata pak Aryo Gunawan memiliki karya sebanyak itu,” terang Arif sapaan akrabnya.

Ketua Fasbuk, Arfin Akhmad Maulana (23), menjelaskan kegiatan yang di dukung Djarum Fondation Bakti Budaya dan bekerjasama dengan KSR UMK itu dimulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Fasbuk mengangkat sosok Aryo Gunawan karena memang sangat dekat dengan anggota Fasbuk. Aryo Gunawan juga menjadi satu diantara beberapa penggagas berdirinya Fasbuk. Dia merasa sudah seharusnya sosok Aryo Gunawan mendapat apresiasi karena kiprahnya di kesenian yang ada di Kudus.

“Mendiang Bapak Aryo Gunawan memang sudah seharusnya kami apresiasi. Beliau sangat banyak membantu proses berkembangnya kesenian yang ada di Kudus. Beliau juga yang menjadi pelopor berdirinya beberpa teater di Kudus, dan tentu mengajarkan banyak hal kepada kami,” jelasnya.

- advertisement -

Bengkel Penthol Jaya Motor Dikenal Ahli Senter Velg, Musim Hujan Orderan Meningkat Tajam

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi Jalan Jenderal Soedirman, tepatnya di pojok Tenggara Penthol, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah bengkel motor. Terlihat beberapa orang menunggu motor yang diperbaiki sambil mengobrol. Tampak di bengkel tersebut beberapa motor matik yang dilepas velgnya. Terlihat velg-velg tersebut ditaruh di alat pres velg. Bengkel Penthol Jaya Motor Kudus ini memang terkenal sebagai bengkel senter velg.

Bengkel senter velg motor dan mobil di Kudus
Bengkel senter velg motor dan mobil di Kudus. Foto Rabu Sipan

Ahmad Sofyan (37), pemilik Bengkel Penthol Jaya Motor mengatakan, bengkelnya itu sudah terkenal sebagai bengkel senter velg, rangka dan garpu sepeda motor sejak lama. Dia mengungkapkan, tidak hanya masyarakat umum yang datang ke bengkelnya, namun juga para pemilik bengkel dan diler–diler sepeda motor di Kudus.

“Sudah lama bengkelku ini terkenal sebagai bengkel spesialisasi senter velg. Bahkan sudah lama juga aku dipercaya diler-diler di Kudus untuk memperbai velg sepeda motor milik pelanggan mereka. Saat musim hujan, sekarang ini order senter velg naik signifikan. Dalam sebulan tak kurang dari 200 velg yang aku perbaiki,” kata pria yang akrab disapa Ahmad kepada Seputarkudus.com.

Bsaca juga: Lulusan SD Ini Tak Paham Mesin, Tapi Tetap Nekat Buka Bengkel di Penthol Kudus: Yang Penting Yakin

Menurutnya, jumlah tersebut naik dua kali lipat dibanding saat musim kemarau atau saat curah hujan minim. Kenaikan tersebut, kata Ahmad, dipicu banyak jalan yang rusak dan berlubang saat musim hujan. Karena genangan air di jalan berlubang, membuat para pengendara tidak sadar menabrak lubang sehingga membuat velg tak simetris lagi.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu megatakan, untuk senter satu velg dia kenakan biaya Rp 40 ribu. Sedangkan untuk senter velg sepeda motor Honda Vario dia tarif lebih mahal yakni Rp 50 ribu. Menurutnya, untuk melepas dan menyetel velg Vario memakan waktu lebih lama.

“Selain velg sepeda motor aku juga menerima jasa senter velg mobil dengan biaya Rp 60 ribu per velg. Sedangkan untuk setel garpu motor aku tarif antara Rp 40 ribu sampai Rp 80 ribu perunit. Untuk setel rangka, satunya aku kenakan biaya Rp 150 ribu,” ujarnya.

Ahmad mengungkapkan, kebanyakan bengkel dan layanan servis diler motor di Kudus tidak punya alat untuk senter velg. Selain itu, kemungkinan para pemilik bengkel ragu untuk menyenter velg sendiri, karena kata dia, menyetel velg selain membutukan alat pres juga harus punya feeling bagus.

“Pada waktu dulu setelah membuka bengkel, aku ingin dibengkel sepeda motorku juga bisa melayani setel velg. Karena menurutku bengkel yang sekaligus setel velg pada waktu itu masih jarang. Dan untuk mewujudkan keinganan tersebut, aku harus pergi belajar ke tanah Pasundan Sukabumi selama sepekan,” ungkap Ahmad.

- advertisement -

Lulusan SD Ini Tak Paham Mesin, Tapi Tetap Nekat Buka Bengkel di Penthol Kudus: Yang Penting Yakin

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Beberapa orang terlihat sedang duduk di trotoar dekat bengkel Penthol Jaya Motor. Di pelataran bengkel tersebut tampak beberapa motor sedang terparkir. Terlihat dua orang mekanik sedang memperbaiki motor, sedangkan di sudut lain terlihat seorang pria memukul velg menggunakan palu. Pria tersebut bernama Ahmad Sofyan (37), pemilik bengkel tersebut. Dia nekat membuka bengkel, meski awalnya tak paham mesin.

Pemilik Bengkel Pentol Jaya Kudus
Ahmad, pemilik Bengkel Penthol Jaya Motor Kudus.

Di sela aktivitasnya memperbaiki velg tersebut, pria yang akrab disapa Ahmad itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang bengkelnya. Dia mengatakan, mendirikan bengkel pada tahun 2001. Saat itu, dia mengakui tak paham sedikitpun tentang mesin sepeda motor, karena hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Meski tak paham tentang mesin, dia tetap nekat mendirikan bengkel karena ingin punya usaha dan penghasilan.

“Saat itu umurku sudah sekitar 20 tahun. Aku memanfaatkan rumah orang tuaku yang berada di tepi jalan, dan nekat membuka bengkel motor, yang penting yakin. Saat itu aku tak paham tentang mesin sepeda motor. Ketidaktahuan mesin tersebut aku akali dengan mempekerjakan orang yang sudah ahli dibidang mesin sepeda motor,” ujarnya, saat ditemui beberapa hari lalu.

Warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, rumah orang tuanya yang sekarang menjadi miliknya tersebut berada di tepi Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di pojok Tenggara Penthol. Dia mengungkapkan, sebelum dirinya memebuka bengkel, rumah tersebut merupakan penitipan sepeda motor. Namun sejak tahun 2000, bus dari Pati dan Surabaya tidak diperbolehkan lewat Penthol. Sejak saat itu titipan sepeda motornya sepi.

Karena sepi itulah, dia lalu membuka bengkel sepeda motor. Meski tak memiliki keahlian memperbaiki motor, dia merekrut temannya yang sudah mahir. Ahmad tidak ingin hanya berpangku tangan, dia ikut membantu dan sekaligus belajar memperbaiki mesin motor.

“Sebagai pemilik bengkel, aku juga ingin bisa memperbaiki mesin motor, bongkar mesin dan lainya. Sebab itulah aku ikut kerja sekaligus belajar pada temanku. Sehingga saat ada pelanggan aku paham dan tahu tentang keluhan serta bisa memberi masukan kepada para pelanggan. Dan hal tersebut bisa menambah kepercayaan pelanggan pada bengkelku,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu mengungkapkan, setelah dirinya paham dan bisa memperbaiki segala kerusakan pada sepeda motor, berangsur-angsur bengkelnya tersebut punya pelanggan tetap. Bahkan pada tahun 2010 pelanggannya mulai ramai. Hingga sampai sekarang, kata dia, setiap hari tak kurang 20 unit sepeda motor diperbaiki.

Ahmad mengatakan, di bengkel motornya tersebut dirinya menerima servis ringan dan berat. Servis ringan dipatok biaya Rp 25 ribu. Sedangkan untuk servis berat, misalnya turun mesin, dia meminta imbalan Rp 120 ribu per unit. Di bengkelnya tersebut. dia juga melayani tambal ban dengan tarif Rp 8 ribu.

Selain servis, dikatakanya bengkel Penthol Jaya juga menyediakan berbagai macam spare part motor dan juga menjual helm. Bengkelnya tersebut buka mulai pukul 8:00 WIB sampai 16:30. Dan untuk aktivitas bengkel, dia mempekerjakan tiga orang.

“Aku bersyukur bengkel yang aku rintis in sekarang sudah memiliki banyak pelanggan. Dengan menjaga kualitas dalam memperbaiki sepeda motor dan selalu memberikan pelayananan terbaik, aku berharap bengkel Penthol Jaya makin banyak pelanggan,” harapnya.

- advertisement -

Mulai Rabu Besok, Polres Kudus Akan Lakukan Oprasi Simpatik

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Sejumlah kendaraan roda dua dan empat terlihat memasuki Jalan Ahmad Yani, Kudus. Jalan tersebut merupakan jalan satu arah dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus menuju Demak. Tepat sebelum di pertigaan Jalan Kutilang, daerah tersebut sering di jadikan tempat oprasi lalu lintas yang dilakukan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Kepolisian Resor (Polres) Kudus.

Satlantas Polres Kudus melakukan razia lalu lintas si Jalan A Yani Kudus. Ilustrasi

Kepala Urusan Pembinaan Operasi lalu lintas (KBO Sat Lantas) Polres Kudus Iptu Sucipto mengatakan, jalan tersebut akan menjadi satu di antara sejumlah lokasi Operasi Simpatik yang akan dimulai Rabu (1/3/2017) besok. Jalan Ahmad Yani daerah tertib lalu lintas. Selain tempat tersebut, oprasi juga akan digelar di tempat-tempat yang dianggap masih kurang tertib. “Untuk detailnya besok pagi ada gelar pasukan. Target tempatnya belum bisa kami sampaikan,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Sat Lantas Polres Kudus, Selasa (21/3/2017).

Dia menjelaskan, Operasi Simpatik merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan satu tahun sekali. Menurutnya, tahun ini operasi mulai dilakukan besok, dan akan berlangsung selama 21 hari mendatang. Operasi Simpatik lebih mengedepankan teguran daripada penindakan dengan ditilang. Namun jika terbukti sitemukan pengendara kurang tertib, pihaknya tetap akan melakukan penindakan. “Lebih mengedepankan langkah-langkah persuasif. Namun ya tetap nanti ada penilangan,” tegasnya.

Sucipto melanjutkan, Operasi Simpatik dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Menurutnya selain Operasi Simpatik, setiap tahun kepolisian juga melakukan Operasi Patuh dan Operasi Zebra. Selain itu, juga ada Operasi Ketupat dan Operasi Lilin yang biasa dilakukan saat Lebaran dan Natal.,

Menurut Sucipto, wilayah di Kudus yang yang dinilai kurang tertib antra lain di Jember, Pasar Bitingan dan daerah Menara Kudus. Menurutnya, di daerah Menara Kudus banyak tukang becak dan ojek yang masih asal-asalan dalam berkendara. Pihaknya perlu melalukan pembinaan, supaya tukang becak dan ojek dapat tertib berlalu lintas dan tidak membahayakan pengendara yang lain. “Ini semua Kasat dan pimpinan masih ada Rapim (Rapat Pimpinan) di Semarang. Untuk lebih detailnya besok pagi,” tambahnya.

- advertisement -

Sadar Passionnya Bukan di Salon, Nita Banting Setir Buka Butik, Kini Omzetnya Tembus Rp 4 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Di tepi selatan Gor Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah toko dengan kaca depan terlihat transparan. Sejumlah produk pakaian yang dipajang di dalamnya terlihat dari luar. Di dalam toko, puluhan baju tergantung rapi sesuai jenisnya. Di atas rak kaca juga terlihat beberapa koleksi tas serta sepatu. Di balik meja tampak seorang perempuan memakai kaus kuning sedang sibuk mengecek buku catatan. Dia adalah Nita Sari (29), pemilik butik Nita Fashion.

Butik Nita Fashion Kudus
Butik Nita Fashion Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Nita itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, sebelum membuka butik dia membuka usaha salon di Jepara. Namun, karena membuka usaha bukan passion-nya, dia lalu menutup usaha tersebut.

“Padahal waktu itu usaha salon kecantikanku sudah banyak pelanggan. Namun karena aku merasa kurang cocok dan seolah jiwaku tidak untuk usaha salon, lalu aku menutupnya. Aku kemudian membuka usaha fashion yang menjual pakaian untuk pentas,” ujarnya sambil mengecek catatan barang masuk.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, setelah membuka usaha butik di Jepara, tak berselang lama dirinya juga membuka cabang butik di Kudus. Dia mengatakan, usaha butiknya itu sama dengan salonnya yang memiliki banyak pengunjung, produk fashion milik Nita juga banyak diminati. Dia mengungkapkan, dengan berjualan aneka baju untuk kebutuhan pentas penyanyi, dirinya seolah menemukan jati dirinya, yang memang sejak lama suka dengan fashion.

Dia lalu merinci aneka macam busana dan aksesoris yang dijual di Nita Fashion, di antaranya, seksi dress dia jual seharga antara Rp 85 ribu sampai Rp 140 ribu. Hot Pant dia banderol antara harga Rp 95 ribu sampai Rp 110 ribu, rok mini span dia hargai antara Rp 95 ribu hingga Rp 110 ribu. Sedangkan bustier dia jual dengan harga Rp 105 ribu per pcs.

“Semua barang yang aku sediakan di butik kebanyakan barang impor dengan kualitas terbaik. Selain pakaian, aku juga menyediakan sepatu high heels dan cat, wig serta berbagai macam alat dan produk kecantikan,” ungkapnya.

Perempuan yang berasal dari Kalinyamatan Jepara itu mengungkapkan, sejak buka sekitar satu setengah tahun yang lalu, Nita Fashion sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya menjual di butik, dia mengaku juga memasarkan aneka produk koleksinya secara online.

“Dari penjualan di butik serta pejualan online, saat ramai aku bisa meraup omzet sekitar Rp 4 juta sehari. Namun, waktu sepi bisa mendapatkan omzet Rp 1 juta sehari itu sudah bagus. Aku berharap ke depannya koleksi butik ini makin diminati hingga bisa berkembang dan mampu membuka banyak cabang,” harap Nita.

- advertisement -

Keinginan Tarmudzi Jadi Pelukis Andal Tak Terbendung, Dia Nekat ke Jogja Cari Guru untuk Belajar

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Di tepi barat Jalan Kudus -Colo, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak bangunan dengan pintu terbuka berwarna putih. Di dalamnya terlihat puluhan lukisan berbagai macam obyek terpajang di dinding. Di balik meja kaca yang berada di ruangan tersebut terlihat seorang pria berambut gondrong sedang duduk mengamati berbagai lukisan. Dia bernama Turmudzi (42), seninam lukis yang pernah kesulitan mencari guru lukis di Kudus.

Tarmudzi Seniman Lukis Kudus
Tarmudzi Seniman Lukis Kudus. Foto: Rabu Sipan

Dengan duduk santai, Turmudzi sudi berbagi kisahnya kepada Seputarkudus.com tentang kehidupannya sebagai seniman lukis di Kudus. Dia mengaku mulai menyukai seni lukis sejak masih Taman – Taman Kanak (TK). Namun setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), dia bingung mencari guru lukis di Kudus yang bersedia mengajari teknik tentang melukis.

Baca jugaTarmudzi, Seniman Lukis yang Rela Jadi Tukang Cukur untuk Penuhi Kebutuhan Hidup Keluarganya

“Karena saat itu aku belum kenal para pelukis senior di Kudus. Setelah lulus SMA aku memutuskan belajar ukir di Jepara sebagai pelampiasan. Dua tahun mencari pelampiasan di Jepara, keinginanku untuk mendalami lukisan muncul dan aku nekat pergi ke Jogjakarta untuk mencari orang yang mau mengajari melukis,” ujarnya.

Dia yakin di Jogja pasti menemukan orang yang mau mengajarinya, karena di Kota Gudeg banyak seniman lukis. Setelah beberapa hari di Jogja, Tarmudzi mengaku menemukan orang yang mau menagajarinya. Dia belajar selama sebulan dan mengeluarkan biaya Rp 125 ribu.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengatakan, setelah belajar selama sebulan dia memutuskan pulang ke Kudus. Dengan bekal pengetahuan yang dia dapat dari Jogja dia mulai melukis, dan lambat laun mulai kenal beberapa pelukis senior Kudus. Sejumlah seniman yang dia kenal di antaranya, Bambang Dayoko, Mamik Mulyono, Karno dan sejumlah seniman lukis senior lainnya.

“Setelah kenal pelukis senior di Kudus, aku rajin bertamu ke rumah mereka, dan tentunya sambil membawa lukisanku untuk minta masukan dan saran. Dan alhamdulilllah beliau selalu mau memberi saran dan masukan agar lukisan hasil karyaku bisa lebih bagus lagi,” ungkapnya.

Setelah beberapa kali berkunjung, baru pada 2006, dia mengaku mulai percaya diri memajang hasil karya lukisanya di depan rumah. Kebetulan rumahnya tersebut berada ditepi jalan. Sejak saat itu dia juga sudah mulai menerima order berbagai macam lukisan, di antaranya melukis foto.

Selain menerima pesanan lukisan foto, dia juga melukis obyek lain, di antaranya manusia, binatang, dan lainya. Dia menuturkan, hasil karya lukisannya dia jual paling mahal Rp 2 juta. “Itu yang paling mahal ya, ada juga hasil karyaku yang aku hargai Rp 1,5 juta, Rp 1 juta juga ada kok,” ungkapnya.

Turmudzi mengungkapkan, hasil karyanya tersebut selain dibeli orang Kudus, juga pernah dibeli orang untuk dikirim ke Riau, Kalimantan, serta Surabaya. Dia menuturkan, setelah mampu menjual lukisannya dan sudah menghasilkan puluhan lukisan, dia mulai sadar bahwa melukis tidak hanya sekadar teknik.

“Melukis itu bukan sekadar tentang teknik, melainkan tentang olah rasa. Semakin olah rasanya kuat, lukisan yang dihasilkan bisa semakin kuat penyampaian rasa dan menyentuh hati mereka yang melihatnya. Tapi teknik tetap penting, karena tekniklah pendukung penyampaian rasa pada lukisan tersebut,” jelas Turmudzi.

- advertisement -

Iptu Ngatmin: Sosialisasi Sudah, Penindakan Juga Sudah, Siswa Tetap Saja ke Sekolah Naik Motor

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Sejumlah siswa berseragam putih biru terlihat bergerombol melintas di Jalan Kudus – Purwodadi, depan Gang 11 Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus. Mereka terlihat menuju ke perkampungan tempat penitipan motor. Beberapa ada yang mengenakan helm, namun ada pula yang tidak. Mereka yakin siswa SMP yang pulang selepas mengikuti pelajaran di sekolah dan pulang mengendarai sepeda motor meski sudah ada larangan dari sekolah.

Larangan sekolah bawa motor
Larangan sekolah kendarai sepeda motor. Foto: Imam Arwindra

Menyikapi hal tersebut, Kepala Unit (Kanit) Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Satlantas Polres Kudus Iptu Ngatmin menuturkan, berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, usia minimal penggendara motor yakni 17 tahun, dibuktikan dengan kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baca juga: Rizki Kendarai Motor Meski Sekolah Melarang: Orang Tua Saya Sudah Mengizinkan

Dia menuturkan, pelajar SMP tidak memenuhi syarat memiliki SIM, sehingga tidak diperbolehkan mengendarai motor. Menurutnya, hal itu tidak hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan juga tanggung jawab bersama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kudus.

“Sebenarnya kami (Satlantas Polres Kudus) sudah ada MoU (memorandum of understanding) tentang pengintregasian pelajaran lalu lintas di sekolah dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Kudus. Dan itu sudah ditandatangani,” ungkapnya saat ditemui di kantor Satlantas Polres Kudus, Senin (27/2/2017).

Selain itu dikatakan, secara moral, kepala sekolah dan para guru juga perlu melakukan sosialisasi tentang keselamatan dalam berpengendara. Sejauh ini menurutnya, pihaknya sudah melakukan upaya mulai dari melakukan pembinaan saat upacara bendera, hingga adanya program door to door go to school. “Kami juga pernah melakukan penindakan berupa penilangan di sekolah. Namun besoknya kembali lagi,” terangnya yang penuh kesal.

Kendala yang dialami siswa menurutnya transportasi umum yang masih minim menjangkau rumah siswa, terutama di daerah perdesaan. Jarak yang jauh juga menjadikan alasan siswa menggunakan motor untuk transportasi. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak bisa mengantarkan anaknya ke sekolah, pun menjadi alasan selanjutnya. “Siswa inginnya pasti cepat dan tidak telat,” tambahnya.

Iptu Ngatmin berharap, permasalahan ini menjadi tanggung jawab bersama yang perlu diselesaikan. Menurutnya Pemerintah Kabupaten Kudus perlu menyediakan fasilitas angkutan atau bus sekolah yang baik dan bisa menjangkau setiap daerah. Jika perlu diberikan subsidi, agar banyak siswa yang menggunakan fasilitas yang disediakan. “Siswa akan berlomba-lomba naik umum, dan tidak lagi menggunakan sepeda motor,” jelasnya.

- advertisement -

Rizki Nekat Kendarai Motor Meski Sekolah Melarang: Orang Tua Saya Sudah Mengizinkan Kok

0

SEPUTARKUDUS.COM, SAMBUNG – Puluhan anak berseragam putih biru keluar dari Gang 11 Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus. Mereka mengendarai motor saat pulang sekolah di SMP 1 Undaan. Pengendara motor yang masih di bawah umur tersebut, ada yang mengenakan helm, ada pula yang tidak mengenakan. Di antara siswa yang berangkat dan pulang mengendarai motor, Ahmad Rizki (14) dan Ahmad Setiyono (13).

Siswa SMP di Kudus kendarai sepeda motor
Siswa SMP di Kudus kendarai sepeda motor. Foto: Imam Arwindra

Siswa kelas 8A SMP 1 Undaan tersebut mengatakan setiap hari pergi ke sekolah mengendarai motor. Menurutnya, berangkat ke sekolah menggunakan motor lebih cepat. Mereka mengaku sudah diperbolehkan orang tuanya untuk mengendarai motor meski belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM).

“Orang tua tidak bisa mengantar (ke sekolah), jadi ya pakai motor. Lebih cepat, orang tua sudah membolehkan membawa (motor),” ungkap Setiyono saat ditemui ketika istirahat sekolah, Senin (27/2/2017).

Dia menuturkan, rumahnya berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Jarak rumah dan sekolah dinilai cukup jauh. Dirinya mengaku bisa lebih cepat dibandingkan naik bus umum dan sepeda. Dia menyadari belum boleh mengendarai motor karena usianya belum memenuhi syarat mendapatkan SIM. Namun karena faktor kebutuhan, akhirnya dia memilih untuk mengendarai motor. “Ini sebuah terpaksa,” tambahnya.

Begitu juga Ahmad Rizki, warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan itu juga diperbolehkan orang tuanya untuk mengendarai motor. Menurutnya, dia sempat takut terjadi kecelakaan karena teman satu sekolahnya pernah ada yang memgalami. Namun karena ingin lebih cepat, akhirnya dia tetap bersekolah menggunakan motor.

“Saya naik motor tidak kenceang kok. Paling cuma 60 (kilometer per jam). Saya juga pakai helm. Kalau dia ya paling kenceng,” ungkapnya sambil melihat Setiyono.

Setiyono memberitahukan, di kelasnya terdapat 32 siswa, sekitar 75 persennya pergi ke sekolah menggunakan motor. Menurutnya, sebagian besar teman di sekolahnya menggunakan motor. Karena motor yang dibawa tidak boleh diparkir di dalam sekolah, dia menitipkannya di halaman rumah warga. Dia harus membayar Rp 4 ribu sepekan sebagai ongkos parkir.

Sarju, guru di SMP 1 Undaan menuturkan, pihaknya sudah berupaya agar siswanya tidak mengendarai motor ke sekolah karena berbahaya. Namun upaya tersebut masih tidak dihiraukan siswa. Dijelaskan, pernah orang tua siswa dihadirkan ke sekolah agar anaknya tidak naik motor. Namun siswa yang menggunakan motor justru bertambah. “Dulu itu, di parkiran sekolah terlihat banyak sepeda. Namun ini malah sudah sepi,” tuturnya.

Selain mendatangkan orang tua siswa ke sekolah, kata guru IPA tersebut, pihak sekolah juga mengirimkan surat yang diberikan kepada orang tua wali. Sekolah juga membuat kebijakan, motor tidak boleh diparkir di halaman sekolah. Namun para siswa menitipkan motor mereka di rumah-rumah warga. “Kami sudah kewalahan. Masalahnya orang tua mengizinkan,” jelasnya.

Sarju juga memberitahukan, setiap bulan ada pembinaan dari Polres Undaan dan Koramil Undaan secara bergantian. Pembinaan tersebut terkait bahaya berkendara roda dua pada siswa yang belum cukup umur. Selain itu setiap upacara hari Senin terus diingatkan agar lebih baik menggunakan transportasi umum, naik sepeda atau di antar orang tua. “Jumlah keseluruhan siswa 731 anak. 50 persen lebih ke sekolah menggunakan motor,” tambahnya.

Pihaknya berharap perlu ada kesadaran bersama agar anak yang masih duduk dibangku SMP bisa terhindar dari kecelakaan di jalan. Menurutnya, hal terakhir yang bisa dilakukan pihak sekolah yakni memastikan siswa mengenakan helm, tidak berboncengan dan tidak kebut-kebutan di jalan.

“Sebenarnya mereka bawa motor karena gengsi. Ada temannya yang bawa motor, akhirnya dia kepingin. Ada pula siswa yang tidak mau sekolah sebelum dibelikan motor,” terangnya.

- advertisement -

Dari Juwana Dengan Wajah Iritasi, Kini Kulit Wajah Silvi Kembali Halus Setelah Jadi Member Natasha

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Natasha Skin Clinik Center Kudus di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak ramai pengunjung. Terlihat puluhan perempuan sedang menunggu di lobi, sebagian di antaranya terlihat mendatangi customer servise yang disediakan. Satu di antaranya, perempuan berbaju coklat. Perempuan tersebut bernama Silvi Dwi Anggraeni (19), yang mengaku ke Natasha Skin Clinik Center karena kulit wajahnya dulu pernah iritasi.

Natasha Skin Clinic Center Kudus_2
Silvi, pelanggan Natasha Skin Clinic Center Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu namanya dipanggil ke ruang konsultasi, perempuan yang akrab disapa Silvi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, kulit wajahnya terkena iritasi karena perawatan di salon langganannya di Juwana. Dari temannya, dia mendapat informasi tentang perawatan kulit wajah yang bisa memberikannya solusi. Temannya menyarankan agar dirinya melakukan perawatan di Natasha Skin Clinik Center cabang Kudus.

Baca juga: Dibuka 2011, Natasha Skin Clinik Center Kudus Kini Memiliki 30 Ribu Pelanggan Lebih

“Benar saja, sejak aku perawatan di Natasha Skin Clinik Center Kudus, kulit wajahku yang dulu mudah iritasi sekarang sudah normal kembali. Dan sekarang aku dianjurkan dokter kecantikan di Natasha agar menggunakan produk yang lebih bagus yang membuat kulitku bisa lebih cerah,” ujar Silvi yang mengaku sudah menjadi member Natasha sekitar dua tahun.

Hal yang hampir senada juga diungkapkan Desi Rahmania (22). Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES) semester akhir Jurusan Bahasa Jepang itu mengatakan, sudah menjadi member di Natasha Skin Clinik Center selama empat tahun. Dia mengaku, pertama datang ke Klinik kecantikan tersebut, karena ingin menyembuhkan jerawat.

“Wajahku berjerawat sejak aku masih duduk di bangku SMA. Dan Alhamdulillah sejak melakukan perawatan di Natasha Skin Clinik Center wajahku sekarang terbebas dari jerawat. Dan sekarang aku melanjutkan perawatan untuk proses menghilangkan bekas jerawat,” ungkap perempuan yang akrab disapa Desi tersebut.

Senada dengan Desi, Siti Juwariyah (36) mengungkapkan, pertama kali melakukan perawatan di Natasha Skin Clinic Center karena ingin menyembuhkan jerawat yang selalu menghiasi wajahnya. Dia mengungkapkan, saat di ruang konsultasi dirinya dianjurkan untuk facial dan membeli beberapa produk Natasha di antaranya, sabun cuci muka, krim siang dan krim malam untuk wajah, serta bedak.

“Aku bersyukur sejak melakukan perawatan di Natasha Skin Clink Center Kudus, jerawat yang ada di wajahku sudah hilang. Dan atas hasil yang memuaskan tersebut sejak delapan tahun lalu, aku mempercayakan perawatan kulit wajahku di Klinik Natasha,” jelas perempuan warga Desa Hadipolo, Mejobo, Kudus.

Natasha Skin Clinik Center Merupakan pusat perawatan wajah dan klinik kecantikan kulit yang memadukan teknologi terkini dengan tenaga profesional yang siap membantu anda mewujudkan kulit sehat dan terawat.

- advertisement -

Besok Malam, Fasbuk Gelar Acara ‘Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan’

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) akan menggelar acara bertajuk “Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan”, Selasa (28/2/2017) malam. Acara akan digelar di Auditorium Universitas Muria (UMK) dimulai pukul 19.30 WIB. Acara yang didedikasikan untuk seniman, budayawan dan penyulis di Kudus ini, yang turut mendirikan Fasbuk.

Fasbuk Aryo Gunawan
Poster acara Fasbuk mengeng Aryo Gunawan

Dalam pers rilis yang dikirim ke redaksi Seputarkudus.com, disebutkan, acara ini akan menghadirkan Teater Studio One, Muhtarom dan Kholidia Evening Mutiara. Dalam acara yang didukung Djarum Foundation Bakti Budaya dan KSR PMI, karya-karya Aryo Gunawan akan diangkat dalam sebuah pertunjukan musik sastra yang ditampilkan Teater Studio One.

Selain itu, puisi-puisi karya Aryo Gunawan juga akan dibacakan di atas panggung pada acara rutin bulanan yang diselenggarakan Fasbuk tersebut. Puisi-puisi tersebut akan dibacakan sejumlah seniman dan pegiat sastra. Di antaranya puisi karya Aryo Gunawan akan dibacakan penyair muda perwakilan dari Pena Kampus (Peka) UMK, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus.

Dalam keterangan yang dikirim, dijelaskan, Aryo Gunawan merupakan sosok seniman, budayawan, dan penulis yang ikut mendirikan Fasbuk. Dia juga memiliki banyak karya berupa cerpen, puisi, maupun naskah drama.

- advertisement -