Beranda blog Halaman 1917

Berawal dari Suka Berwisata Kuliner, Tiara Mantab Buka Omah Iga, Kini Ratusan Porsi Ludes Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi selatan Jalan Jenderal Sudirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah ruko berlantai dua. Di dalam tampak beberapa orang sedang menata dan membersihkan beberapa meja serta kursi. Di meja paling ujung utara tampak seorang perempuan berjilbab biru sedang duduk, yang sesekali sibuk dengan handphonenya. Perempuan tersebut yakni Tiara Yanuarista (24), pemilik rumah makan Omah Iga.

Iga Bakar, Omah Iga Kudus
Iga Bakar, Omah Iga Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sembari duduk, santai perempuan yang akrab disapa Tiara itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, dirinya membuka usaha rumah makan Omah Iga sejak delapan bulan yang lalu. Kecintaannya terhadap kuliner itulah yang membuat warga Rendeng ini membuka usaha rumah makan tersebut.

“Aku itu orangnya suka berwisata kuliner, tidak hanya di Kudus tapi juga suka ke daerah lain. Dan saat menyantap menu iga di rumah makan yang berada di luar daerah, rasanya itu enak dan lidahku langsung cocok. Aku pun beinisiatif membuka usaha serupa dengan menu utama dan rasa yang sama,” Tiara.

Dia mengatakan, rumah makannya tersebut ramai dikunjungi pembeli saat memasuki jam makan siang hingga malam hari. Saat ramai, rumah makan Omah Iga dalam sehari bisa menjual sekitar 250 porsi iga bakar maupun tongseng dan rica–rica. Dari penjualan tersebut Tiara mengaku bisa meraup omzet Rp 7 juta sehari.

“Menu spesial di rumah makanku memang aneka masakan iga, mulai iga bakar, rica-rica iga, tong seng iga, serta iga hot plate. Selain rasanya enak, iga yang kami sajikan juga sangat terjangkau. Kami juga memberikan pekat ekonomis seharga Rp 27 ribu, yang terdiri dari nasi, es teh, sup, sambal, iga,” jelasnya.

Selain menu spesial, tuturnya di Omah iga juga menyediakan menu lain di antaranya ayam goreng, ayam bakar, kikil, serta bakso. Tidak hanya itu di rumah makannya itu juga menyediakan roti bakar, bakso bakar, pisang bakar dan lainnya.

“Menu-menu selain iga itu sebagai pelengkap. Jadi saat pelanggan datang bersama keluarga, dan ada anggota keluarga yang tidak suka iga bisa memilih menu lain,” ungkap putri bungsu dari tiga bersaudara tersebut.

Selain menyajikan menu makanan, layaknya rumah makan pada umunya di Omah Iga juga menyediakan aneka jenis minuman. Di antaranya, jus buah dan sayuran, aneka minuman kopi, teh, milkshake dan lain sebagainya. Selain menjual di rumah makan, dirinya juga menerima pesanan dan menyediakan deliveri geratis untuk wilayah Kudus setiap pembelian minimal Rp 100 ribu.

“Aku berharap usaha yang aku rintis sejak delapan bulan yang lalu bisa semakin diminati dan dikenal banyak orang. Dan semoga saja usahaku ini bisa berkembang dan kelak bisa membuka cabang di Kudus maupun daerah lainnya,” harap Tiara.

- advertisement -

Rutin Gunakan Produk Muntira Skin Care, Luka Bakar di Wajah Farah Sembuh dan Tak Berbekas

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Beberapa perempuan duduk di lobi klinik kecantikan Muntira Skin Care, Jalan Sunan Kudus, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat seorang perempuan berkerudung biru tampak berbicara dengan customer service klinik tersebut. Perempuan itu bernama Farah Diana Sari (41). Kulit wajahnya yang terbakar, sembuh setelah dengan menggunakan produk dari Muntira Skin Care.

Farah (dua dari kiri) melakukan perawatan di Muntira Skin Care
Farah (dua dari kiri) melakukan perawatan di Muntira Skin Care. Foto: Rabu Sipan

Seusai  berkonsultasi dengan customer service, perempuan yang akrab disapa Farah itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia mengungkapkan, sudah menjadi member di Muntira Skin care sejak enam tahun yang lalu. Namun pada tahun 2012 kejadian nahas menimpanya, sebagian wajahnya terbakar saat sedang memasak.

Baca jugaMuntira Skin Care, Klinik Kecantikan Asal Kudus yang Memiliki Cabang Franchise Hingga Papua:

“Itu terjadi karena aku gugup saat lupa mematikan kompor saat memasak. Karena panik itulah, aku malah menyiramkan air di kompor hingga api membesar dan membakar sebagian wajahku,” ujar perempuan yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.

Perempuan yang tinggal di Perum Salam Indah itu menuturkan, saat itu wajahnya terbakar mengalami luka. Dia kemudian langsung memeriksakan kulit wajahnya ke Muntira Skin Care. Setelah diobati dan rutin memakai produk Muntira, kini kulitnya normal kembali. “Tidak hanya kembali normal bahkan bekasnya tidak ada sama sekali,” ujarnya sambil mengelus kulit wajahnya.

Sementara itu, Wudda Nailuln Amanah (17) mengaku berlangganan di Muntira Skin Care baru setengah tahun. Menurutnya, awal datang ke Muntira karena ingin menghilangkan jerawat yang memenuhi wajahnya. Dia menuturkan, saat itu memilih Muntira karena mendapat rekomendasi kakak kelasnya yang dulu mengalami masalah serupa di wajahnya.

Siswi MA NU Banat Kudus itu mengungkapkan, kakak kelasnya tersebut meyakinkannya, selain menghilangkan jerawat produk Muntira juga bisa mencerahkan. Dan yang terpenting, kata kakak kelasnya, produk Muntira sangat terjangkau untuk dirinya yang masih pelajar, sekaligus santri di Ponpes putri Darul Manar, Langgar Dalem, Kudus.

“Benar saja setelah aku memakai produk Muntira, sabun cuci muka, krim siang dan krim malam, bedakm, kini wajah ku kembali bersih dan bebas dari jerawat, serta tampak cerah. Harganya juga sangat terjangkau, pokoknya pas untuk aku yang masih pelajar,” ungkap dara Yang berasal dari Demak tersebut.

Menurut Yoshy Kartika Sari (29), satu di antara dokter kecantikan di Muntira Skin Care mengungkapkan, Muntira merupakan Klinik kecantikan yang membuat produk secara mandiri. Bahan yang digunakan berbahan herbal. Perawatan di Muntira ditangani oleh tenaga profesional yang ahli dibidang kecantikan kulit dan berpadu dengan teknologi modern.

“Hampir semua masalah kulit bisa teratasi di Muntira Skin Care. Klinik kecantikan Muntira juga membantu para pelanggan untuk mendapatkan kulit sehat dan cerah yang diidamkan. Dan jangan khawatir perawatan serta produk Muntira sangat terjangkau dan pastinya berkualitas,” ujar perempuan yang akrab disapa Yoshy tersebut.

- advertisement -

Konveksinya Pernah Berjaya, Lalu Gulung Tikar, dan Kini Muslimah Kembali Sukses Berjualan Kain

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di timur Jalan HM Subchan ZE Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah bangunan berlantai dua. Di lantai satu bangunan tersebut terlihat sebuah toko yang dipenuhi dengan kain. Di dalam toko tampak seorang perempuan berjilbab sedang sibuk menerima telepon. Perempuan itu bernama Muslimah (62) pemilik toko kain Eshabe.

Toko kain Eshabe Kudus
Muslimah, pemilik toko kain Eshabe Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai menelepon, Muslimah sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, sebelum mendirikan toko kain bernama Eshabe, setelah menikah dirinya mendirikan usaha konveksi tepatnya pada tahun 1970. Menurutnya, awal mendirikan usaha tersebut dia mempekerjakan sekitar dua orang penjahit saja.

Baca juga: Usaha Konveksinya Tutup, Muslimah Jual Grosir Kain dan Meraup Omzet Rp 10 Juta Sehari

“Meskipun awal usaha konveksi hanya kecil-kecilan dengan  hanya ada dua penjahit, namun lambat laun usah konveksiku ini bisa berkembang dan mendapatkan banyak pesanan. Bahkan saat itu aku pernah mempekerjakan penjahit sebanyak 50 orang,” ungkap Muslimah yang lupa persisnya tahun kejayaan usaha konveksinya dulu.

Dia mengatakan, pada tahun antara 1970 hingga tahun 1980 usaha konveksi di Kudus masih minim persaingan. Karena itu, kata dia, usaha konveksi yang dia rintis bersama suaminya saat itu cepat berkembang. Menurutnya, saat itu pesanan pembuatan pakaian tidak hanya datang dari Kudus, melainkan juga dari daerah sekitar Kudus.

Selama memiliki usaha konveksi dia selalu mengikuti perkembangan tren bentuk pakaian yang diminati saat itu. Lalu dia membuat contohnya dan ditawarkan kepada para pelanggannya, yang kebanyakan para pedagang pakaian di masing-masing daerah mereka tinggal. Kebanyakan bentuk yang ditawarkannya selalu disetujui para pelanggan dan banyak diminati pembeli.

“Sebagai seorang pemilik usaha konveksi memang harus selalu bisa inovasi dan membacatren bentuk pakaian apa yang akan disukai banyak orang. Jangan hanya menunggu pesanan datang saja, kalau hanya nunggu, ya lama berkembangnya,” tutur Muslimah sambil tersenyum.

Karena selalu berinovasi dan selalu bisa membuat pakaian yang selalu laris di pasaran, dia mengaku bisa menerima pesanan pembuatan pakaian ribuan pcs setiap bulan. Bahkan, kata dia saat masa kampanye pemilu pada masa Orde Baru, hampir semua pembuatan kaus Golkar di wilayah Kudus dibuat dikoveksi miliknya.

Perempuan yang sudah dikaruniai enam anak serta 12 cucu itu mengungkapkan, puncak keemasan usaha konveksi miliknya berangsur-angsur pudar memasuki akhir tahun 1980. Pada tahun tersebut pakaian produksinya kalah bersaing dengan produksi pakaian dari Solo serta Bandung yang memiliki harga lebih murah.

Selain persaingan dengan pakaian produk Solo dan Bandung, kata dia, usaha konveksi di Kudus pada saat itu mulai menjamur yang berdampak pada konveksinya. Pada tahun 1990 dia  memutuskan menutup konveksi dan beralih membuka toko yang menjual kain kiloan yang diberi nama Toko Eshabe.

“Meskipun aku gagal menjaga konsistensi sebagai pengusaha konveksi, namun dari usaha tersebut aku mendapatkan pelajaran dalam menjalani dinamika hidup. Dari usaha konveksi itu juga, aku dan suami mendapatkan ide membuka toko kain dan bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.

- advertisement -

Muntira Skin Care, Klinik Kecantikan Asal Kudus yang Memiliki Cabang Franchise Hingga Papua

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi selatan Jalan Sunan Kudus, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tampak beberapa mobil terparkir di halaman gedung bertingkat. Di lobi gedung tersebut tampak beberapa perempuan sedang duduk. Tempat tersebut yakni Klinik Muntira Skin Care yang sekarang sudah memiliki tiga cabang franchise hingga Papua.

Klinik Kecantikan Muntira Skin Care Kudus 2017_3_4
Klinik Kecantikan Muntira Skin Care Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Staf Marketing Muntira Skin Care, Ergagas Gesang Pasanti (27) mengungkapkan, sejak dibuka pada tahun 2003 dan atas permintaan para pelanggan, Muntira Skin Care melakukan kerjasama franchise di beberapa daerah. Dan menurutnya, Sekarang klinik kecantikan tersebut sudah memiliki tiga cabang franchise, di antaranya di Pati, Semarang dan di Sorong, Papua Barat.

“Selain di tiga daerah tersebut, Muntira Skin Care membuka kerja sama franchise untuk daerah lain. Karena dengan banyak membuka cabang franchise, treatment dan produk Muntira akan makin dikenal sampai pelosok negeri,” ungkap perempuan yang akrab disapa Erga, beberapa hari lalu.

Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, selain sudah memiliki tiga cabang, Muntira juga sudah memiliki banyak member. Berdasarkan data akhir Februari, member di Muntira Skin Care tercatat lebih dari dari 20 ribu orang. Menurutnya, member tersebut tidak hanya dari Kudus, melainkan juga dari daerah sekitar.

Dia mengungkapkan, untuk memanjakan para pelanggannya, Muntira Skin Care selalu rutin memberikan promo-promo menarik setiap bulan, tak terkecuali pada bulan Maret ini. Erga mengatakan pada bulan ini, ada pesta diskon untuk siapa saja yang ingin perawatan maupun membeli produk Muntira.

Layanan dan produk Muntira, kata dia, ada banyak macam. Untuk treatment terdiri dari paket slimming seharga Rp 350 ribu, paket anti aging Rp 800 ribu, paket acne dan paket facial komplit biayanya Rp 200 ribu. Paket tersebut, pelanggan mendapatkan bonus nutrisi cream dan detox.

“Ada juga paket spa komplit, terdiri dari lulur, pijat, ratus, berendam, biayanya Rp 300 ribu. Untuk paket ini pelanggan bisa mendapat bonus totok aura. Dan untuk perawatan rambut, ada paket hair growth yang terdiri dari creambath, vitamin, RF rambut biayanya Rp 250 ribu.  Juga ada paket BDR biayanya Rp 300 ribu,” urainya.

Selain paket perawatan, kata dia, pada bulan ini juga ada paket diskon untuk pembelian produk milk, tonerfacial foam, ada juga eye cream, nutrisi cream, dan honey lips. Serta ada body whitening day dan night. Semua paket per tiga produk tersebut kata Erga, harganya Rp 100 ribu.

Menurutnya,  Muntira juga menyediakan produk untuk paket haji dan umroh yang terdiri, sabun mandi, face spray, krim bibir dan sampo seharga Rp 140 ribu. Dia mengungkapkan, selain promo bulanan Muntira Skin Care juga menyediakan diskon 10 persen untuk member yang bertransaksi minimal Rp 150 ribu.

“Ada lagi keuntungan menjadi member Muntira Skin Care, yakni setiap melakuan perawatan di hari ulang tahun, member berhak potongan harga hingga 50 persen,” ujar Erga yang mengaku selain menyediakan produk dan perawatan kulit dewasa, Muntira juga tersedia produk serta perawatan untuk kulit bayi.

- advertisement -

Usaha Konveksinya Tutup, Muslimah Jual Grosir Kain dan Meraup Omzet Rp 10 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Ratusan kain tampak tergulung dan terlipat sesuai jenis bahan di dalam toko di tepi Jalan HM Subchan ZE, Purwosari, Kota, Kudus. Di dalam toko tersebut terlihat beberapa karyawan sedang menata lipatan kain. Sedangkan di bagian kasir tampak seorang pelanggan sedang melakukan transaksi pembayaran. Tempat tersebut yakni toko kain Eshabe, yang memiliki omzet Rp 10 juta sehari.

Toko kaiin Eshabe di Kudus
Pemilik toko kaiin Eshabe di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Pemilik toko Eshabe, Muslimah (62) mengungkapkan, omzet tersebut itu hitungan rata–rata setiap hari. Menurutnya, sama dengan toko lain penjualan kain di tokonya juga mengalami pasang surut. Saat ramai, kata dia omzet bisa lebih dari Rp 20 juta sehari, namun saat sepi pendapatan kotor dari penjualan kain di Toko Eshabe terkadang malah kurang dari Rp 10 juta sehari.

“Omzet Rp 10 juta sehari itu kalkulasi rata-rata saja, soalnya memang pembukuan di tokoku ini kurang begitu rapi. Saat ramai, aku kadang bisa meraup omzet hingga tiga kali lipatnya,” ujar Muslimah kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Purwosari, Kota, Kudus, itu mengungkapkan, dirinya membuka Toko Eshabe setelah usaha konveksinya tutup. Dia mengatakan, memilih membuka toko yang menjual kain kiloan karena sejak tahun 1990 usaha konveksi di Kudus mulai menjamur. Selain itu dirinya tidak perlu berpikir pusing bentuk pakaian yang sedang ngetren seperti usahanya yang terdahulu.

Dikatakan Muslimah, sejak pertama buka Toko Eshabe sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya dari Kudus, ada juga yang berasal dari Pati, Blora, Jepara, hingga sampai Semarang. Para pelanggannya itu merupakan para pemilik usaha konveksi serta para pedagang kain di daerah mereka masing-masing.

“Di toko Eshabe milikku, kain yang kami jual itu harganya sangat bersaing. Meskipun begitu kualitasnya dijamin bagus. Bahkan saking larisnya, antara tahun 1993 hingga 2001 setiap pekannya satu truk kain selalu habis terjual,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikarunaiai 12 cucu itu mengatakan, sejak pertama dibuka Toko Eshabe menjual kain kiloan. Namun sejak suaminya meninggal, tokonya tak lagi hanya menjual kain kiloan, namun juga menjual kain dengan kualitas lebih bagus dan dijual per meter.

Muslimah merinci jenis dan harga kain yang dia jual di tokonya. Untuk kain katun dia jual mulai harga Rp30 ribu per meter dan Rp 120 ribu per kilogram. Kain sprei dia jual dengan harga Rp 31 ribu semeter, serta Rp 100 ribu per kilogram. Untuk kain brokat dia jual mulai harga Rp 175 ribu per kilogram dan kain korea harganya Rp 40 ribu per meter hingga Rp 120 ribu per kilogram.

“Yang aku sebut itu hanya sebagian kecil jenis kain yang aku jual di Toko Eshabe. Di tokoku masih banyak pilihan jenis kain dengan kaulitas bagus yang aku pajang, di antaranya kain krep motif yang aku jual Rp 35 ribu sper meter,” ungkapnya.

Tokonya tersebut, kata Muslimah buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga 16.00 WIB. Di Toko Eshabe melayani pembelian kain ecer maupun grosir. “Alhamdulillah dengan usaha berjualan kain kini aku bisa mewarisi keenam anakku rumah, serta masing-masing satu toko yang menjual kain dan beberapa ada di Pasar Kliwon,” ungkap sukur Muslimah.

- advertisement -

Dulu Arka Takut Polisi Karena Selalu Bawa Pistol: Sekarang Tidak Lagi, Mereka Ramah dan Baik

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Delapan rambu lalu lintas terlihat berada di halaman Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus, Jumat (3/3/2017).  Terdapat 10 pembatas yang diletakkan di atas baner bergambar lintasan jalan raya. Sejumlah sepeda disiapkan tak jauh dari lintasan itu. Sementara sejumlah anak tampak bersiap berkendara dengan bimbingan anggota kepolisian.

Pendidikan safety riding anak-anak di Polres Kudus
Latihan safety riding anak-anak di Polres Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dalam kegiatan Safety Bike Riding dan lomba mewarnai itu, satu di antara banyak peserta, yakni Arkana Fajar Ramadhan (6). Dia siswa di Taman Kanak-kanak (TK) Attazkiya, Dersalam. Arka mengungkapkan senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Selain itudia mengaku senang, dan ternyata polisi ramah. “Aku dulu takut (polisi), tapi sekarang tidak,” ungkap Arka usai mengendarai sepeda dalam Safety Bike Riding.

Dia menuturkan, sebelum mengikuti kegiatan di Mapolres tersebut, dirinya merasa takut karena polisi selalu membawa pistol. Sebelumnya dia menganggap polisi galak. Namun saat lomba menggambar dan Safety Bike Riding ternyata polisi baik dan murah senyum. “Aku takut karena galak dan suka bawa pistol,” ungkapnya yang disambut gelak tawa guru yang berada di dekatnya.

Sementara itu, Kepala TK Attazkiya Dersalam Lilis Rahayu Wardani (43) menuturkan, pihaknya sering mengajak anak didiknya untuk mengikuti kegiatan di Polres Kudus. Menurutnya dengan begitu anak berinteraksi dengan polisi, sehingga rasa takut terhadap polisi akan hilang. Selain itu, anak didiknya juga diberi pemahaman bahwa polisi yakni sahabat anak. “Mereka sudah tidak takut lagi,” tuturnya.

Dalam kegiatan itu, Dirinya datang bersama 34 siswa. Dia mengajak mereka ke kegiatan tersebut agar bisa belajar berdisiplin. Dengan begitu karakter anak didiknya akan terbentuk dan terbawa hingga dewasa. “Memang perlu membimbing anak sejak dini. Dikenalkan dengan polisi, supaya mereka terbiasa disiplin dan terbawa sampai dewasa,” tambahnya.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto menuturkan, dalam kegiatan Safety Bike Riding dan lomba mewarnai  diikuti 130 siswa dari lima TK di Kudus. Menurutnya, lomba yang diadakan dalam rangkaian Oprasi Simpati Candi 2017. Pemenang lomba akan mendapatkan piala, helm dan bingkisan yang berisi peralatan sekolah.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kudus AKBP Andy Rifa’i mengungkapkan kegiatan yang diselenggarakan untuk mengedukasi anak-anak supaya tertib berlalu lintas. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan juga berkaitan dengan Operasi Simpatik yang sedang dijalankan. Khusus untuk kegiatan Safety Bike Riding, pihaknya lebih menekankan pengenalan rambu-rambu lalu lintas.

- advertisement -

Meski Tak Memiliki Leluhur Pembuat Rebana, Udin Nekat Mencoba Karena Kepincut Temannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di halaman rumah di RT 1/ RW 2, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak bangunan beratap seng. Di dalam bangunan terlihat seorang pria sedang mengoven kulit domba menggunakan lampu bohlam. Di belakang bangunan tersebut terlihat seorang pria berjenggot sedang mengamplas kayu. Dia bernama Saifudin Asrori (39), pemilik usaha pembuatan alat rebana di tempat tersebut. Meskipun tak memiliki leluhur pembuat rebana, dirinya nekat karena kepincut kesuksesan temannya.

Pembuat rebana di kudus
Saifudin Asrori, pembuat rebana di Kajesan, Kota, Kudus. Foto Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya membuat rebana, pria yang akrab disapa Udin itu sudi berbagi cerita tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, usahanya itu baru sekitar delapan bulan. Dia mendirikan usaha tersebut karena kepincut kesuksesan usaha milik temannya di Demak yang selalu kebanjiran pesanan.

“Temanku itu sebenarnya melanjutkan usaha orang tuanya. Namun karena melihat usahanya tersebut berkembang, aku kepincut untuk membuka usaha serupa. Saya tidak punya darah leluhur pembuat rebana, nekat saja. Tapi aku tahu dan memahami rebana yang bagus dan tidak. Dengan bekal tersebut aku mantab dan yakin membuka usaha pembuatan alat rebana,” ujarnya.

Pria warga kelurahan Kajekasan, Kota, Kudus itu mengatakan, untuk bisa membuat rebana dirinya mengaku belajar dengan melihat proses pembuatan rebana di tempat usaha temannya di Demak selama dua hari. Dia mengungkapkan selama dua hari itu dirinya hanya melihat serta mengamati tanpa praktik.

“Setelah dua hari aku pulang dan mencoba membuat rebana sendiri. Ternyata membuat rebana tak semudah yang aku bayangkan. Bahkan aku memerlukan percobaan hingga tiga bulan agar mampu membuat rebana dan menghasilkan suara yang aku inginkan,” ungkap Udin yang mengaku proses pembuatan rebana dibantu oleh satu saudaranya.

Menurutnya, yang susah dari proses pembuatan rebana yakni menentukan dan menyetel suara. Dirinya harus paham umur kulit domba yang dibuat untuk alat rebana. Menurutnya, umur, tebal serta tipis  kulit sangat berpengaruh dengan suara yang dihasilkan. “Jadi saat pembuatan harus bisa menentukan kulit dan diperuntukkan untuk jenis alat rebana yang mana?,” jelasnya.

Dia mengunkapkan, kulit sedang sebaiknya digunakan untuk hadroh, sedangkan kulit tebal lebih bagusnya untuk alat rebana bernama gendong. Menurutnya yang paling susah kulit domba tipis, meskipun bisa digunakan untuk hadroh, namun proses penyetelannya memerlukan waktu lebih lama.

Pria yang sudah dikauruniai dua anak itu mengatakan, sejak menekuni usaha pembuatan rebana selam delapan bulan, dirinya mengaku sudah mendapatkan beberapa set pesanan alat rebana. Di antaranya dari Purwodadi dan Palembang. Tapi yang sering memesan, kata dia, agen penjualan rebana yang berada di Jogjakarta.

Untuk satu set alat rebana dia tetapkan harga Rp 2,7 juta, yang terdiri dari empat hadroh, satu bas dan dumbuk serta dua keplak. Selain menjual per set, dia juga menerima pesanan rebana satuan, dan juga melayani servis aneka macam alat rebana. Untuk harga servis tarifnya mulai Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Meskipun saat ini order pembuatan alat rebana masih minim, aku berharap kelak usahaku ini bisa kebanjiran order seperti milik temanku. Agar aku bisa memberikan kerjaan kepada saudara dan para tetangga, “ harap Udin yang juga mempunyai usaha pembuatan tas.

- advertisement -

Demi Terbitkan Buku Ritual Budaya di Muria, Farid dan Anggota Paradigma STAIN Rela Iuran

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN – Empat narasumber duduk di depan puluhan mahasiswa membedah buku “Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria karya Lembaga Pers Mahasiswa” yang diterbitkan (LPM) Paradigma STAIN Kudus. Buku bersampul hitam bergambar tumpeng yang mengungkap sejumlah ritual kebudayaan itu diulas cukup lengkap. Pemimpin Redaksi Paradigma STAIN Kudus Muhammad Farid menjelaskan, dana untuk menerbitkan buku tersebut bersumber dari iuaran anggota LPM Paradigma, dan dana dari kampus.

Muhammad Farid
Pemimpin Redaksi Paradigma Muhammad Farid. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com Arif menjelaskan, Dia buku berisi 210 halaman tersebut mulai dibuat tahun 2016 dan cetakan pertama pada Januari 2017. Menurutnya, pada cetakan pertama pihaknya mencetak sejumlah 300 buku yang dicetak Parist Paradigm Institute. Biaya cetak buku tersebut bersumber iuran anggota Paradigma. “Jumlah anggota LPM ada 40 orang. Biaya cetak buku dari iuran dan beberapa ada tambahan dari kampus,” terangnya yang masih kuliah di Jurusan Manajemen Syariah STAIN Kudus.

Baca juga: Musthofa Kaget Mahasiswa STAIN Kudus Bisa Susun Buku ‘Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria’

Buku tersebut dibedah pada acara Haflah Ilmiah 3 di GOR Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Kamis (2/3/2017) Empat narasumber yang memberikan tanggapan tentang isi buku tersebut antara lain Dosen STAIN Kudus Nur Said Wakil Ketua I STAIN Kudus Saekan Muchith, sejarahwan Kudus Edy Supratno dan Bupati Kudus Musthofa.

Farid menjelaskan, buku tersebut berisi tentang kebudayaan dan tradisi yang selama ini dilakukan masyarakat di sekitar Pegunungan Muria. Dirinya beralasan, munculnya ide untuk menyusun buku tersebut, berawal dari keinginanan anggota Paradigma membukukan karya dari rubrik budaya di majalah Paradigma.

Selain itu, kata Farid, LPM Paradigma ingin menerbitkan buku karena pihaknya bergerak di jalur literasi. Bagi dirinya dan anggota Paradigma, ada yang kurang jika tidak menerbitkan karya buku. “Kami bergerak di jalur literasi, rasanya ada yang kurang jika tidak menerbitkan buku ini,” ungkapnya saat ditemui saat berlangsungnya kegiatan bedah buku.

Farid menuturkan, buku yang dibuat berisi kumpulan tulisan yang pernah diterbitkan Majalah Paradigma dari tahun 2005 hingga 2016. Menurutnya, kumpulan tulisan tersebut berada pada rubrik budaya. Karena berkaitan erat dengan ritual budaya dan mitos yang masih dilakukan di sekitar Pegunungan Muria, akhirnya dikumpulkanlah tulisan tersebut menjadi sebuah buku supaya tidak hilang. “Ada 34 penulis dalam buku yang diterbitkan ini,” tambahnya.

Dalam buku tersebut, Farid juga menjelaskan, terdapat tiga bagian isi. Bagian pertama tentang mitos dan tradisi di kaki Muria dengan 15 tulisan. Selanjutnya, bagian kedua tentang tokoh, tempat dan benda mistik dengan Sembilan tulisan. Terakhir, nalar dan ekspresi ritual budaya dengan 12 tulisan. Rencananya buku tersebut akan dijual secara umum dengan harga Rp 30 ribu.

“Buku ini semoga mendapat apresiasi dari masyarakat. Ritual yang dirasa menjijikkan, terlebih dengan adanya mitos, masih pantas kita hargai dan tentunya bisa diambil nilai-nilai hikmah dan moralnya,” tuturnya.

- advertisement -

Di Toko Trio Joyo Getas Pejaten, Tukar Tambah Aki Baru dan Bekas Dapat Garansi Dua Bulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN –  Dua orang pria terlihat melepas aki motor bebek, di Toko Trio Joyo, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Setelah terlepas kemudian aki tersebut diganti dengan yang baru. Di toko tersebut tampak puluhan aki terjajar rapi sesuai merk. Di sudut lain tampak aki bekas ditata sedemikian rupa. Di lantai kios tersebut terlihat beberapa aki sedang disetrum. Tempat tersebut tempat tukar tambah aki baru dan bekas yang memberi bergaransi tiga bulan.

Toko Trio Joyo, tukar tambah aki bergaransi
Toko Trio Joyo, tukar tambah aki bergaransi. Foto: Rabu Sipan

Muslih (46), pemilik Toko Trio Joyo menuturkan, setiap orang yang datang membeli aki baru di tokonya tersebut diberi garansi tiga bulan. Dalam jangka waktu tersebut saat terjadi kerusakan, akan dia ganti dengan aki yang baru. Selain aki baru, dia mengaku juga menggaransi pembelian serta tukar tambah aki bekas. Namun untuk garansi aki bekas, hanya diberi garansi dua bulan saja.

“Garansi dua bulan itu aki bekas untuk mobil, sedangkan aki bekas untuk sepeda motor, aku beri garansi selama satu bulan. Dalam masa garansi, jika aki tersebut rusak langsung bawa ke Trio Joyo, serahkan nota garansi, maka akan kami ganti dengan setok aki bekas yang baru,” ujar Muslih kepada Seputarkudus.com.

Pria yang tempat uasahanya berada di Tepi timur Jalan Museum Kretek, Kudus, itu mengatakan, di musim hujan seprti sekarang ini pelangganya meningkat sekitar 25 persen. Menurutnya, saat kemarau sebulan bisa menjual aki bekas dan baru sekitar 100 unit aki. Namun saat hujan dia mengaku, bisa menjual 25 unit lebih banyak.

Dia mengungkapkan, kenaikan tersebut disebabkan saat musim hujan kelistrikan pada motor maupun mobil sering ngadat, dan arus tidak lancar sehingga mengakibatkan aki tekor. Meski menjual aki bekas dan baru, dia maengaku keputusan mengganti aki bekas dan baru, atau hanya servis, para pelanggan yang menentukan.

“Setiap para pelanggan datang biasanya aku tawari aki baru dulu, tapi saat pelanggan ingin beli yang bekas, atau tukar tambah, kami siap melayani. Tak jarang juga aki mereka hanya diservis dan minta agar bisa disetrum kembali. Apapun permintaan pelanggan kami layani dan kami garansi,” jelasnya.

Warga Desa Getas Pejaten itu mengatakan, menjual berbagai jenis dan merek aki. Dari yang bekas hingga yang baru. Tak lupa dia membeberkan harga aki yang Muslih yang dijual antara Rp 135 ribu hingga paling mahal Rp 600 ribu.

“Harga tersebut untuk aki baru. Aki bekas aku jual mulai harga Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu. Sedangkan untuk servis dan tambah setrum aki, aku mengenakan tarif antara Rp 5 ribu sampai Rp 20 ribu per unit,” urai Muslih, yang mengatakian tokonya tersebut buka setiap hari.

- advertisement -

Musthofa Kaget Mahasiswa STAIN Kudus Bisa Susun Buku ‘Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria’

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN – Kain hitam dibentangkan dengan ornamen dedaunan membentuk pulau-pulau menjadi latar pada kegiatan Haflah Ilmiah 3 di GOR Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Kamis (2/3/2017). Satu demi satu narasumber membedah buku “Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria” yang ditulis mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus.

Haflah Ilmiah 3 Bedah Buku STAIN Kudus
Haflah Ilmiah 3 Bedah Buku “Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria” di STAIN Kudus. Foto: Imam Arwindra

Empat narasumber tersebut antara lain Bupati Kudus Musthofa, Sejarawan Kudus Edy Supratno, dosen STAIN Kudus Nur Said dan Wakil Ketua I STAIN Kudus M Saekhan Muchith. Dalam acara tersebut, ratusan mahasiswa dan tamu undangan hadir. Dalam tempat yang sama juga digelar bazar buku.

Musthofa yang saat itu menjadi satu pembedah buku, mengaku kaget mahasiswa STAIN mampu menyusun buku tersebut. Meski dirinya meyakini ada campur tangan dosen yang ikut serta membimping para mahasiswa dalam proses penyusunan, namun bagi dirinya aksi mereka dalam mengembangkan literasi patut diapresiasi.

“Saya sempat kaget. Mengapa saya harus datang ke bedah buku ini, karena yang menulis ini mahasiswa, LPM (Paradigma). Sekalipun ada pengarahan-pengarahan dari dosen, dari para seniornya,” ungkapnya.

Bupati Kudus dua periode ini mengaku kagum setingkat mahasiswa sudah bisa membuat literasi dan inovasi, dengan membuat buku tentang kebudayaan dan tradisi yang selama ini dilakukan masyarakat di sekitar pegunungan Muria. Dia  mengajak berbagai pihak, termasuk sejarawan di Kudus untuk mulai menginventarisir literatur budaya dan tradisi di kaki Pegunungan Muria.

Menurutnya, inventarisasi tersebut sudah diawali Edy Supratno, yang telah menulis buku tentang penemu rokok kretek Djamhari. Selanjutnya, mahasiswa STAIN Kudus dengan buku Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria. “Saya mengusulkan untuk buku ini saat kegiatan Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria, bisa dijadikan sovenir untuk para pengunjung,” tuturnya.

Dengan dibagikannya buku “Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria” untuk para pengunjung, sebagai bentuk dukungan dan apresiasinya sebagai Bupati Kudus bagi penulis. Pengadaan buku untuk sovenir tersebut bisa dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. “Karena ini menarik. Anak-anak lho, junior-junior kita,” tambahnya.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi LPM Paradigma Muhammad Farid menyambut baik usulan tersebut. Pihaknya merasa bangga jika gagasan tersebut bisa direalisasikan. Hal itu setidaknya menunjukkan Pemerintah Kabupaten Kudus turut peduli terhadap kebudayaan di kawasan Muria.

“Masyarakat akan lebih mengenal dengan nilai dan filosofi leluhur budayanya sendiri. Semoga buku tersebut nantinya bisa bermanfaat dan juga bisa dijadikan cermin dan landasan dalam membangun masa depan. Yaitu masa depan yang berbudaya, masa depan yang bijaksana,” tuturnya.

- advertisement -

Sebentar Lagi Kudus Ada Pelayanan SIM Keliling, Lima Menit Langsung Jadi

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Mobil Isuzu ELF terlihat masih terparkir di depan kantor Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Kudus. Di dalam Mobil dengan nomor polisi IX-1602-43 berwarna biru putih itu terlihat kamera digital single lens reflex (DSLR) berdekatan dengan alat finger print untuk perekaman sidik jari. Di sana juga ada satu monitor komputer dengan printer di sampingnya. Mobil itu akan segera difungsikan untuk pelayanan surat izin mengemudi (SIM) keliling di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus.

SIM Keliling Polres Kudus
SIM Keliling Polres Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Bintara Urusan SIM (Baur SIM) Aiptu Rinto, mobil yang di datangkan sejak November 2016 tersebut, akan melayani perpanjangan SIM khusus SIM A dan SIM C saja. Menurutnya, untuk pembuatan SIM baru masih dilakukan di Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus.

“Mobil pelayanan SIM keliling ini hanya untuk memperpanjang SIM C dan A saja. Untuk SIM B, D dan pembuatan SIM baru masih dilakukan di Satpas,” ungkapnya saat ditemui saat melakukan uji coba mobil SIM keliling tersebut, Rabu (1/3/2017).

Dia menjelaskan, mobil SIM keliling sudah diuji coba selama dua kali. Menurutnya, untuk pertama kali dilakukan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus depan KFC saat Car Free Day. Uji coba pertama dikatakan gagal, karena permasalahan sinyal. Setelah itu, uji coba kedua dilakukan di Mapolres Kudus.

Dirinya menuturkan uji coba kedua yang dilakukan berhasil. Nanti pihaknya akan segera melapor ke pimpinan untuk segera dapat segera dipergunakan. “Pelayanan mobil SIM keliling jika normal hanya butuh waktu lima menit saja. Langsung jadi” tambahnya.

Sambil melihat dua petugas yang sedang mengoprasikan sarana prasarana, dirinya menjelaskan, masyarakat yang ingin memperpanjang SIM A dan C hanya membawa SIM lama, E-KTP dan foto kopi KTP. Menurutnya, setiap pelayanan SIM keliling sudah ada petugas dokter dan petugas bank dari BRI untuk pembayaran.

“Biaya memperpanjang SIM A Rp 80 ribu dan SIM C Rp 75 ribu. Rencananya nanti akan dibuatkan jadwal SIM keliling yang akan diinformasikan di setiap kantor kecamatan. Jadwal juga akan diinformasikan di media sosial, media cetak dan juga online. Semoga adanya pelayanan SIM keliling dapat bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

- advertisement -

Empat Karyawannya Keluar dan Membuat Usaha yang Sama, Tapi Muslih Tak Merasa Tersaingi

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan Museum Kretek Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus tampak bangunan kios. Di dalam kios terlihat beberapa aki baru terjajar di dalam etalase. Sebagian terlihat juga ada yang berada di atas etalase, dan tertata rapi di rak yang menempel pada dinding kios tersebut. Di balik etalase terlihat seorang pria berdiri mengawasi dua orang pekerja sedang mengganti aki sepeda motor milik pelanggan. Pria tersebut bernama Muslih (46).

Muslih, reparasi aki di Kudus
Muslih, reparasi aki di Kudus

Sambil mengamati para pekerjanya itu, Muslih sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, dulu saat usahanya belum banyak pesaingan, dirinya pernah memiliki banyak pelanggan dan punya empat pekerja. Empat orang tersebut kata dia, ikut kerja kepadanya selama puluhan tahun. Namun saat punya modal dan sudah tahu seluk beluk tentang aki, satu persatu mereka keluar dan mendirikan usaha yang sama.

“Semua mantan karyawanku sekarang sudah punya usaha serupa. Bahkan ada yang lebih maju dari milikku. Meski terlihat seperti pesaing, namun jujur aku sebenarnya bangga kepada mereka. Tak jarang mereka juga terkadang menyempatkan datang ke tokoku. Bahkan kita sering bekerja sama,” ujarnya.

Pria yang rumahnya masih satu desa dengan tempat usahanya itu mengungkapkan, sering mantan karyawannya itu datang mencari aki yang mereka butuhkan saat stok persediaan di toko mereka habis. Begitu juga dengan Muslih, saat tidak ada stok aki baru maupun bekas, dia dengan cekatan menghubungi semua mantan anak buahnya itu menanyakan stok aki yang diinginkan.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, usaha tukar tambah aki bekas dan baru tersebut dia rintis sejak tahun 1992. Kata dia, saat pertama buka karena tidak punya modal, dia mengaku hanya melayani jasa servis aki saja. Karena pada waktu itu belum banyak persaingan, Muslih mengaku mulai dikenal dan memiliki banyak pelanggan.

“Sejak memiliki banyak pelanggan, dengan berangsur-angsur aku mampu menyediakan aki baru untuk para pelangganku. Sejak itu pula saat para pelanggan beli aki baru, aki bekasnya aku beli, lalu aki bekas tersebut aku cek dan perbaiki, kemudian aku jual,” ungkap Muslih yang mengaku mampu menyediakan aki baru pada tahun 1995.

Setelah mampu menyediakan aki baru, dia menuturkan, pelanggan yang datang semakin banyak, bahkan antrean aki yang akan ditukar dan diservis sampai menumpuk. Karean alasan tersebut dia mengaku mulai mengambil pekerja untuk membantu melayani para pelanggan. Bahkan di tahun 2000 pekerjanya ada empat orang.

Di tambahkan Muslih, dulu saat pelanggannya masih ramai, dia mengaku bisa mendapatkan omzet belasan juta rupiah sebulan. Sekarang karena banyak persaingan omzetnya menurun, dan kini hanya Rp 10 juta sebulan.

“Sekarang pemilik usaha serupa sangat banyak, di antaranya para mantan pekerjaku. Namun begitu aku tetap bangga pada mereka, dan tak merasa bersaing dengan mereka. Sekarang untuk menyiasati agar pelangganku tidak banyak berpaling, aku memberi garansi pada mereka yang membeli aki bekas dan baru di tokoku,” ujarnya.

- advertisement -

Terinspirasi Gojek Arif Dirikan Kopdar, Dalam Sebulan Ratusan Order Pesan Antar Masuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di tepi Jalan KH Turaichan Adjuri, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di belakang Angkringan Ndelik, tampak sebuah rumah berwarna putih. Di teras rumah tersebut terlihat seorang pria memakai kaus oblong sedang sibuk dengan smartpone di tangannya. Pria itu bernama Arif Ulin Ni’ am (24), pendiri Kudus Order Pesan dan Antar (Kopdar). Dia mendirikan layanan tersebut karena terinspirasi Gojek dan Tepar di Tegal.

Pengiriman ala Gojek di Kudus
Kopdar, layanan pesan antar yang mirip Gojek. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Arif itu sudi berbgai kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com tentang Kopdar. Dia mengungkapkan, usahanya itu digagas pada Agustus tahun lalu. Gagasan itu mulai direalisasikan September 2016. Dia mengatakan, usahanya itu terinspirasi dari Go Jek serta temannya yang mempunyai usaha serupa di Tegal, yakni Terima Pesan Antar (Tepar).

“Dari usaha temanku itu aku terinspirasi dan mendirikan usaha serupa di Kudus dengan nama Kopdar. Kudus merupakan pusat ekonomi di Karesidenan Pati, dan Kudus belum ada usaha jasa layanan pesan antar. Dan benar saja sejak mulai beroperasional, permintaan jasa pengiriman selalu meningkat,” ujar pria bertitel Sarjana Sastra Indonesia Universitas Diponegoro (Undip).

Warga Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus itu mengungkapkan, data catatan bulanan Kopdar menerima sekitar 290 order antar dan pengiriman selama sebulan. Menurutnya pesanan antar paling banyak yang masuk, mengantarkan makanan maupun jasa pembelian makanan untuk mereka yang sibuk atau saat turun hujan.

Dia menuturkan, Kopdar merupakan jasa layanan delivery yang siap melayani antar pesanan untuk makanan dan barang, tagihan bulanan, belanja bulanan dan lain sebagianya. “Intinya Kopdar adalah cara mendapatkan sesuatu tanpa repot,” jelasnya.

Untuk ongkos kirim, Arif menjelaskan dihitung berdasarkan area serta nominal belanja. Menurutnya belanja di bawah harga Rp 50 ribu ongkosnya Rp 7 ribu. Sedangkan di atas Rp 50 ribu biaya pengirimannya 10 persen ditambah Rp 2 ribu. Sedangkan untuk pengiriman area lebih jauh, lebih dari 10 kilometer, ongkos kirimnya Rp 15 ribu plus 10 persen.

Arif mengungkapkan, saat ini Kopdar baru ada tiga driver yang siap melayani berbagai order para pelanggan. Dia juga mengakui jumlah driver tersebut masih sangat minim, karena dirinya sering menolak order karena ketiadaan pengantar. Dia mengatakan membuka lowongan kerja sebagai driver Kopdar.

“Aku mempersilahkan bagi siapa saja yang ingin bergabung dan minat menjadi driver Kopdar bisa menghubungi admin kami di nomer 082211473460. Sedangkan untuk gaji driver kami menggunakan sistem mitra, 80 persen untuk driver dan sisanya untuk Kopdar,” jelasnya.

Menurutnya, untuk menjadi driver Kopdar harus memenuhi beberapa sarat yang ditentukan, di antaranya, punya sepeda motor dengan surat kendaraan lengkap, punya SIM, jujur, tanggung jawab, dan rajin. “Dan tentu mengetahui jalan dan area wilayah Kudus,” jelas Arif.

- advertisement -

Setelah Puluhan Tahun Kerja Serabutan, Sulis Akhirnya Punya Toko Kasur Busa yang Diimpikan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PRAMBATAN LOR – Di tepi utara Jalan Kudus-Jepara, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tampak sebuah ruko kecil yang dipenuhi busa. Di dinding ruko tersebut terlihat puluhan gulungan kain sebagai penutup kasur bernahan busa. Di antara busa dan kain tersebut tampak seorang perempuan berbaju hijau sedang mengukur kain untuk dipotong. Perempuan tersebut bernama Sulistiyanti (36), pemilik Toko Menara Busa. Dia berjualan kasur busa dengan modal dari hasil jerih payahnya selama puluhan tahun jadi tenaga serabutan.

Toko kasur berbahan busa di Kudus
Toko kasur berbahan busa di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Sulis itu sudi berbagi kisah tentang jualanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai berjualan baru sekitar enam bulan lalu. Dia mencoba berjualan dan membuat kasur busa karena ingin meningkatkan penghasilan keluarganya. Karena sebelumnya dia mengaku hanya buruh serabutan di Jepara.

“Aku jadi buruh serabutan di tanah kelahiranku sejak masih remaja. Dan hasil dari upah bekerja itu sedikit demi sedikit aku kumpulkan. Karena aku berkeinginan punya usaha sendiri dan berharap usahaku mampu berkembang hingga mampu menaikan ekonomi keluargaku,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, memulai usaha berjualan busa, sekaligus kasur busa dengan modal sekitar Rp 3 juta. Menurutnya, uang tersebut dia gunakan untuk berbelanja busa serta kain penutup kasur. Sedangkan untuk sewa tempat dikatakan Sulis, dibayar dengan cara mencicil saat punya uang.

“Untungnya pemilik rukonya baik dan kasihan kepada keluargaku, hingga mempersilakan rukonya tersebut aku bayar dengan uang seadanya dulu. Dan kekuranganya juga boleh dibayar secara angsur tiap bulan,” ujar Sulis yang mengatakan harga sewa tempat tersebut sebenarnya Rp 7,5 juta setahun.

Dia menjual kasur busa dengan berbagai ukuran, di antaranya kasur ukuran 1×2 meter seharga Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Untuk ukuran 120×200 sentimeter dia jual antara harga Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Sedangkan ukuran 90×200 sentimeter dia jual dengan harga Rp 250 ribu.

“Harga tersebut untuk kasur busa dengan pembungkus kain biasa. Sedangkan untuk pesanan kasur busa dengan pembungkus kain lebih bagus, misalkan kain bluduru, harga yang sudah aku utarakan tadi ditambah Rp 200 ribu,” ujarnya.

Seain menjual kasur jadi, tutur Sulis juga menjual secara terpisah anatara busa, serta kain pelapisnya. Karena menurutnya, busa dan kainnya tersebut sering juga dibeli tukang servis jok, dan sofa. Selain kasur dia juga menjual bantal dengan harga Rp 30 ribu satu. “Aku berharap usaha jualan kasur, busa, serta kain yang aku rintis dengan modal dari kerja serabutan sejak aku remaja ini laris, dan semoga saja bisa berkembang,” harapnya.

- advertisement -

Spontan, Giok Melukis Wayang Sosok Aryo Gunawan di Atas Kanvas

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sorak-sorak penonton terdengar riuh saat tiga perempuan menari di atas panggung di acara Forum Apresiasi Sastra Dan Buraya Kudus, Selasa (28/2/2017) malam. Di sudut kanan panggung, nampak dua orang sedang melukis menggunakan tangan tanpa kuas. Satu di antara dua orang tersebut yakni Waryoto (37) yang biasa disapa Giok. Dia mengaku melukis wayang sosok Aryo Gunawan spontan, tanpa latihan.

Giok (dua dari kanan) dan hasil lukisannya di belakang
Giok (dua dari kanan) dan hasil lukisannya di belakang. Foto: Ahmad Rosyidi

Pria yang akrab disapa Giok itu, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang aksi melukis di atas panggung tersebut. Dia mengatakan tak ada persiapan khusus untuk melukis sosok Aryo Gunawan. Dia hanya menumpahkan gambaran sosok Aryo Gunawan melalui lukisan sesuai imajinasinya. Menututnya, makna wayang dalam bahasa Jawa adalah owah-owahane tiyang, atau perubahannya manusia.

Baca juga: Meski Baru Tahu, Rizal Bangga Kudus Memiliki Seniman Sekaliber Aryo Gunawan

“Saya berharap Pak Aryo Gunawan bisa menjadi tauladan bagi kita semua. Tadi menggambarkan wayang sosok Pak Aryo Gunawan, yang orang Jawa bilang owah-owahane tiyang, bisa diartikan menjadi contoh untuk perubahan manusia. Karena kebaikan beliau patut kami jadikan suri tauladan,” jelas pelatih Teater Studio One SMAN 1 Kudus tersebut, usai acara bertajuk Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan.

Giok melukis wayang bersama satu temannya yang juga mengenal sosok Aryo Gunawan. Tanpa latihan, dia memberi kebebasan berimajinasi untuk saling menuangkan ide ke dalam lukisan. “Kami tidak latihan, mengalir saja menuangkan gambaran sosok pak Aryo Gunawan. Saya juga ingin menyampaikan bahwa melukis itu bisa dilakukan bersama-sama,” terang warga Desa Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

Handoko (41), satu di antara orang yang dekat dengan Aryo Gunawan, membuat puisi secara spontan saat berdiskusi usai pementasan di acara Fasbuk tersebut. Dia mengaku mengidolakan Aryo Gunawan karena tidak memandang orang karena latar belakang apapun. Di mata mendiang Aryo Gunawan, semuanya dirangkul untuk berkarya.

“Saya mengenal pak Aryo Gunawan sejak 20 tahun yang lalu, saat kami merintis Teater 9. Sejak itulah saya mengidolakan beliau. Saya juga banyak belajar teater dan sastra dari beliau,” ungkap Koko, sapaan akrabnya.

Ketua Fasbuk, Arfin Ahmad Maulana (23) memilih untuk mengundang Teater Studio One SMAN 1 Kudus dalam acara tersebut, karena Aryo Gunawanlah yang mendirikan teater tersebut. Mereka juga dekat dengan sosok Aryo Gunawan. Sehingga dia menilai pantas untuk teater tersebut mengisi acara Fasbuk mengenang Aryo Gunawan.

“Untuk persiapan acara kali ini, kami butuh waktu dua pekan untuk mengumpulkan karya-karya beliau. Sangat banyak karya-karya tulisannya, ini saja masih belum terkumpul semua. Yang di media-media cetak masih belum berhasil kami kumpulkan,” ungkap pria yang pernah dilatih membaca puisi Aryo Gunawan saat masih sekolah dasar itu.

- advertisement -