31 C
Kudus
Jumat, Juni 14, 2024

Meski Tak Memiliki Leluhur Pembuat Rebana, Udin Nekat Mencoba Karena Kepincut Temannya

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Di halaman rumah di RT 1/ RW 2, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak bangunan beratap seng. Di dalam bangunan terlihat seorang pria sedang mengoven kulit domba menggunakan lampu bohlam. Di belakang bangunan tersebut terlihat seorang pria berjenggot sedang mengamplas kayu. Dia bernama Saifudin Asrori (39), pemilik usaha pembuatan alat rebana di tempat tersebut. Meskipun tak memiliki leluhur pembuat rebana, dirinya nekat karena kepincut kesuksesan temannya.

Pembuat rebana di kudus
Saifudin Asrori, pembuat rebana di Kajesan, Kota, Kudus. Foto Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya membuat rebana, pria yang akrab disapa Udin itu sudi berbagi cerita tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, usahanya itu baru sekitar delapan bulan. Dia mendirikan usaha tersebut karena kepincut kesuksesan usaha milik temannya di Demak yang selalu kebanjiran pesanan.

-Advertisement-

“Temanku itu sebenarnya melanjutkan usaha orang tuanya. Namun karena melihat usahanya tersebut berkembang, aku kepincut untuk membuka usaha serupa. Saya tidak punya darah leluhur pembuat rebana, nekat saja. Tapi aku tahu dan memahami rebana yang bagus dan tidak. Dengan bekal tersebut aku mantab dan yakin membuka usaha pembuatan alat rebana,” ujarnya.

Pria warga kelurahan Kajekasan, Kota, Kudus itu mengatakan, untuk bisa membuat rebana dirinya mengaku belajar dengan melihat proses pembuatan rebana di tempat usaha temannya di Demak selama dua hari. Dia mengungkapkan selama dua hari itu dirinya hanya melihat serta mengamati tanpa praktik.

“Setelah dua hari aku pulang dan mencoba membuat rebana sendiri. Ternyata membuat rebana tak semudah yang aku bayangkan. Bahkan aku memerlukan percobaan hingga tiga bulan agar mampu membuat rebana dan menghasilkan suara yang aku inginkan,” ungkap Udin yang mengaku proses pembuatan rebana dibantu oleh satu saudaranya.

Menurutnya, yang susah dari proses pembuatan rebana yakni menentukan dan menyetel suara. Dirinya harus paham umur kulit domba yang dibuat untuk alat rebana. Menurutnya, umur, tebal serta tipis  kulit sangat berpengaruh dengan suara yang dihasilkan. “Jadi saat pembuatan harus bisa menentukan kulit dan diperuntukkan untuk jenis alat rebana yang mana?,” jelasnya.

Dia mengunkapkan, kulit sedang sebaiknya digunakan untuk hadroh, sedangkan kulit tebal lebih bagusnya untuk alat rebana bernama gendong. Menurutnya yang paling susah kulit domba tipis, meskipun bisa digunakan untuk hadroh, namun proses penyetelannya memerlukan waktu lebih lama.

Pria yang sudah dikauruniai dua anak itu mengatakan, sejak menekuni usaha pembuatan rebana selam delapan bulan, dirinya mengaku sudah mendapatkan beberapa set pesanan alat rebana. Di antaranya dari Purwodadi dan Palembang. Tapi yang sering memesan, kata dia, agen penjualan rebana yang berada di Jogjakarta.

Untuk satu set alat rebana dia tetapkan harga Rp 2,7 juta, yang terdiri dari empat hadroh, satu bas dan dumbuk serta dua keplak. Selain menjual per set, dia juga menerima pesanan rebana satuan, dan juga melayani servis aneka macam alat rebana. Untuk harga servis tarifnya mulai Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Meskipun saat ini order pembuatan alat rebana masih minim, aku berharap kelak usahaku ini bisa kebanjiran order seperti milik temanku. Agar aku bisa memberikan kerjaan kepada saudara dan para tetangga, “ harap Udin yang juga mempunyai usaha pembuatan tas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
139,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER