Beranda blog Halaman 1916

Ricky Berteriak Saat Melihat Jarum Suntik, Setelah Darah Mengalir Dia Justru Merasa Geli

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO –  Suara teriakan terdengar dari ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bae, Kudus, Rabu (8/3/2017), pagi. Di dalam ruangan sejumlah siswa terbaring di atas rangjang. Suara teriakan itu datang dari seorang siswa yang akan ditransfusi dalam kegiatan donor darah. Setelah jarum suntik masuk ke pembuluh darahnya, siswa itu berhenti berteriak. Dia adalah Muhammad Ricky (17), mengaku takut dan berteriak karena melihat jarum transfusi yang berukuran besar.

Donor darah SMA 1 Bae Kudus 2017_3_9
Donor darah SMA 1 Bae Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Ricky, begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalaman pertamanya melakukan donor darah. Meski sempat takut melihat jarum yang besar, dia tidak merasakan sakit. Ricky justru merasa geli setelah jarum menusuk pembuluh darahnya.

“Ini pengalaman pertama saya, karena penasaran jadi saya ikut donor darah. Awalnya tadi takut melihat jarum yang besar, ternyata malah geli. Badan saya menjadi terasa lebih ringan, meski sedikit lemas tapi saya senang sudah pernah donor darah,” terang warga Desa Kaliputu, Kota Kudus itu.

Meski tidak sakit, Ricky mengaku belum ingin donor lagi. Dia cukup tau saja rasanya donor darah untuk memenuhi rasa penasarannya itu. Menurutnya, berat badannya menjadi turun seusai donor darah, karena tubuhnya menjadi terasa lebih ringan.

Di dekat tempat siswa berbaring, nampak seorang perempuan berbaju batik biru dengan jilbab biru sedang mengamati proses donor darah. Dia tak lain adalah Munadhiroh (30), guru pelajaran Biologi SMA 1 Bae Kudus. Dia Mengungkapkan, sebelum kegiatan ada sosialisasi selama satu pekan kepada siswanya.

“Selain melakukan sosialisasi, guru Biologi juga menjelaskan manfaat donor darah untuk kesehatan saat mata pelajaran. Ini kami lakukan agar siswa antusias untuk mendonorkan darah. Ini menjadi kegiatan rutin kami, sekitar tiga hingga enam bulan sekali,” jelas warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu itu.

Dia menjelaskan, kegiatan donor darah yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga 12.00 WIB itu hanya ditujukan pada siswa kelas XII. Ketentuan ini diberlakukan, karena ada syarat untuk donor darah minimal berusia 17 tahun. Munadhiroh juga merasa senang karena antusiasme siswa cukup tinggi. Setiap kegiatan donor darah di SMA 1 Bae, ada sekitar kurang lebih 50 hingga 60 siswa yang berminat untuk mendonorkan darah.

- advertisement -

Hartoyo Senang Bukan Kepalang, Setelah Dilatih Membuat Pakan Ikan Secara Mandiri

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Dua mesin berwarna hijau merek Kubota terlihat dikerumuni puluhan orang. Mereka terlihat serius memerhatikan mesin pembuat pakan ikan yang diperlihatkan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus tersebut. Sesekali mereka memegang hasil pakan ikan yang masih basah. Mereka adalah peserta pelatihan pembuatan pakan ikan yang mengikuti pelatihan peserta

Mesin Pembuat pakan ikan 2017_3_8
Mesin Pembuat pakan ikan di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut peserta pelatihan, Haryoto (40), pakan ikan yang dibuat menggunakan mesin tersebut hasilnya sudah bagus. Namun dari aromanya  bau amis ikan sedikit berkurang dan teksturnya masih basah. Meski begitu, dirinya sangat terbantu dengan adanya pelatihan tersebut. Karena selama ini peternak ikan menemui kendala pada pakan. Hampir 70 persen total keseluruhan biaya budi daya ikan dikeluarkan hanya untuk membeli pakan.

“Ini angin segar bagi pembudi daya ikan, apalagi pemula seperti saya. Pakan bisa buat sendiri. Biaya perawatan bisa ditekan maksimal,” ungkapnya saat ditemui saat pelatihan berlangsung, Selasa (7/3/2017).

Warga Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, menuturkan, dirinya baru membudidaya ikan sekitar tiga bulan terakhir. Dirinya membudi daya ikan lele. Menurutnya, terdapat 8.000 ekor lele yang sekarang berada di kolam permanennya. Sebanyak 5.000 ekor masih kecil dan 3.000 ekor sudah siap panen. Hartoyo memperkirakan, bulan April 2017 nanti dirinya akan melakukan panen pertama. “Harga ikan lele sekarang Rp 16 ribu per kilogram. Harganya naik turun. Normalnya Rp 20 ribu perkilogram,” tambahnya,

Hartoyo menjelaskan, selama tiga bulan membudidaya ikan lele, dirinya sudah habis pakan tujuh zak, yang masing-masing berisi 20 kilogram. Pakan ikan yang dia beli serharga Rp 285 ribu per zak, ada juga yang Rp 160 ribu. “Khusus untuk pakan biayanya banyak. Kalau bisa buat pakan sendiri tentu sangatlah membantu pemula seperti saya,” tuturnya.

Kepala bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Fajar Nugroho menuturkan, pelatihan tersebut untuk mendukung program nasional Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) yang yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menurutnya, melihat harga pakan ikan di pasaran mahal, pihaknya perlu membuat pelatihan produksi pakan ikan, agara para pembudi daya tidak tertekan dengan pakan yang selalu naik.

“Ada 50 orang pembudi daya ikan di Kudus yang di undang untuk diberi pelatihan cara membuat pakan secara mandiri. Saat mereka bisa memproduksi, biaya untuk budi daya tentu bisa ditekan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pakan ikan yang dibuat pabrikan harganya sekitar Rp10.500 per kilogram. Jika pakan dibuat secara mandiri, 50 persen biaya pakan bisa ditekan. Selain membuat pakan, dirinya juga mendorong setiap kolam diberi probiotik. Dijelaskan, probiotik yakni mikroorganisme yang sengaja diberikan melalui pakan yang menguntungkan bagi ikan yang dibudi daya. “Probiotik sifatnya seperti suplemen makanan tambahan,” jelasnya.

Selain memberi pelatihan, pihaknya juga mempraktikkan cara pembuatan bakteri probiotik dan pembuatan pakan. Sebelum kegiatan pembuatan pakan, sehari sebelumnya ada kegiatan pengolahan ikan di tempat yang sama.

- advertisement -

Bengkel Dinamo Kudus Ini Telah Dirintis Puluhan Tahun dan Tak Pernah Mendapat Komplain Pelanggan

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Di tepi timur Jalan Johar Keluarahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah kios. Di kios tersebut beberapa orang sedang menggulung tembaga pada sebuah besi. Tempat tersebut merupakan tempat perbaikan dinamo di Kudus. bengkel bernama Dynamo Multi Teknik itu, telah dirintis sejak puluhan tahun lalu dan kini telah memiliki banyak pelanggan di sejumlah daerah di Karesidenan Pati.

Tempat Servis Dinamo di Kudus 2017_3_8
Dynamo Multi Teknik, tempat servis dinamo di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Bahtiar Priambudi (22), anak pemilik bengkel dinamo tersebut sudi berbagi kisah tentang usaha yang dirintis ayahnya. Dia mengatakan, ayahnya merintis usaha bengkel dinamo sudah lebih dari 25 tahun. Ayahnya merintis usaha itu benar-benar merintis dari bawah dan berusaha menarik minat para pelanggan.

“Dengan selalu menjaga kualitas servis, pelanggan ayahku dari tahun ke tahun makin banyak. Bahkan sekarang pelanggan tidak datang dari Kudus saja, melainkan juga dari Demak, Pati juga Jepara. Pokonya pelanggannya itu seluruh Karesidenan Pati” ujar pemuda yang akrab disapa Tiar, beberapa waktu lalu.

Pria warga Kelurahan Wergu Wetan itu mengungkapkan, selain hasil kualitas servis yang selalu dijaga, ayahnya juga memberikan garansi selama sepekan untuk semua barang elektronik yang diservis di bengkel Dinamo Multi Teknik. Menurutnya kerusakan tersebut akan diganti tanpa ongkos, jika kerusakan kedua dinamo pada barang elekronik timbul tidak dari kelalaian pemilik barang.

Dia mengatakan, barang elektronik yang sering diperbaiki di bengkel ayahnya tersebut di antaranya, pompa air, kipas angin, mesin cuci, gerinda mesin tangan, serta mesin cuting off. Menurutnya, biaya servis dari berbagai barang tersebut berbeda, tergantung kerusakannya.

“Untuk servis ringan barang-barang tersebut dikenakan biaya mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu perunit. Sedangkan untuk kerusakan dinamo harga servisnya lebih mahal, karena kami harus menggulung ulang tembaga kuning pada dinamo yang terbakar,” ungkapnya.

Tiar kemudian merinci biaya servis dinamo di tempatnya. Untuk kerusakan dinamo pada pompa air dihargai Rp 125 ribu, pompa air jet pam Rp 300 ribu. Untuk kerusakan dinamo kipas angin biaya servisnya Rp 90 ribu, servis dinamo mesin cuci Rp 150 ribu. Sedangkan biaya perbaikan dinamo gerinda mesin tangan dan cuting off biatanya mulai Rp 90 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Harga servis tersebut lebih murah dari harga servis dinamo di bengkel lain. Untuk perbaikan dinamo, membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Namun untuk servis ringan bisa ditunggu karena lebih cepat pengerjaannya. Kami berusaha teliti, cepat dan tepat serta selalu menjaga kualitas. Dan alhamdulillah selama ini belum ada pelanggan yang komplain,” jelas Tiar.

- advertisement -

Perhitungan 5 Tahun Lalu Tak Meleset, Kini Jumarto Kebanjiran Pesanan Barang Aluminium

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di tepi utara Jalan Lingkar Utara, tepatnya di pojok perempatan lampu merah Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sebuah toko. Di depan toko tersebut terlihat beberapa barang yang terbuat dari aluminium. Di sampingnya tampak seorang pria berkumis tipis sedang mengukur kaca untuk dipotong. Pria tersebut bernama Jumarno (41) pemilik toko Mandiri Jaya, yang menjual aluminium dan kaca.

Toko Mandiri Jaya Kudus, produsen perkakas aluminium dan kaca
Toko Mandiri Jaya Kudus, produsen perkakas aluminium. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, Jumanto sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Sebelum membuka toko, dia mengaku terlebih dulu ikut kerja keponakannya yang lebih dulu mempunyai usaha serupa di Sukoharjo selama setahun. Dia mengungkapkan, ikut bekerja keponakan karena tempat dirinya bekerja selama 15 itu tahun tutup.

“Pada waktu itu aku sudah menikah, daripada aku menganggur setelah tempat kerjaku tutup, jadi aku terima tawaran kerja dari keponakanku. Alhamdulillah setelah bekerja di tempat keponakanku tersebut, aku menemukan ide dan membuka usaha serupa di Kudus,” ujar pria yang kota kelahirannya sama dengan Presiden Jokowi tersebut.

Baca juga:  Proposalnya Diterima Aqualux, Jumarno Pasok Lemari ke Seluruh Negeri, Omzet Sebulan Rp 60 Juta

Pria yang baru dikaruniai dua anak dan sedang menantikan kelahiran anak ketiga tersebut mengungkapkan, membuka toko yang menjual aluminium serta kaca pada tahun 2011. Menurutnya, pada waktu itu tertarik membuka usaha tersebut karena di Kudus masih jarang orang yang membuka usaha serupa. Selain itu, dia mengaku sudah mahir membuat aneka barang yang terbuat dari aluminium.

“Karena belum banyak pesaing dan bekal pengalaman selama kerja ikut keponakanku, aku niat bismillah dan mantab membuka toko aluminium dan kaca di Kudus. Saking mantabnya aku rela merogoh kocek untuk modal hingga Rp 80 juta,” ungkap Jumarno sambil melanjutkan menggaris kaca untuk dipotong.

Pria yang sekarang tercatat sebagai Warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus itu mengungkapkan, uang tersebut selain digunakan belanja kaca dan aluminium, juga untuk menyewa tempat untuk memajang aneka produk yang terbuat dari aluminium pesanan para pelanggan. Selain itu, uang tersebut juga dia gunakan membeli mobil bak terbuka bekas, guna untuk operasional toko.

Dia mengaku bersyukur analisanya untuk membuka usaha penjualan berbagai macam barang yang terbuat dari aluminium tak meleset. Sekarang tokonya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan dan setiap hari ada saja orang yang datang untuk memesan aneka barang yang terbuat dari aluminium.

“Aku menerima semua order pembuatan barang yang berasal dari aluminium. Barang-barang tersebut di antaranya, etalase, lemari gantung, rak sandal dan sepatu. Pokoknya yang terbuat dari aluminium insyaallah aku bisa membuatnya,” jelas Jumarno yang mengaku dari semua order tersebut dia bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta sepekan.

- advertisement -

Pria Asal Pati Ini Pilih Buka Butik Pakaian Khusus Perempuan, Ternyata Ini Alasannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Di tepi utara Jalan Nuri Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah ruko lantai dua bercat merah jambu. Di dalam lantai satu tersebut tampak puluhan pakaian terpajang serta tergantung sesuai jenisnya. Di balik meja tampak seorang pria berkaca mata sedang sibuk dengan HP-nya. Pria itu bernama Andi Kurniawan (27), pemilik Love Boutique. Meski laki-laki, dirinya tak malu membuka usaha fesyen untuk perempuan.

Love Boutique Kudus
Andi Kurniawan, pemilik Love Boutique Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut pria yang akrab disapa Andi itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, lebih memilih usaha fashion perempuan dari pada pria, karena kalangan perempuan selalu up to date dengan fashion. Berbeda dengan kalangan laki-laki, kalangana perempuan selalu ingin mengikuti tren terbaru meski sudah memiliki banyak stok baju.

“Dengan menangkap daya pikir kalangan cewek, yang selalu ingin memiliki fashion yang lagi ngetren, aku menangkap peluang bisnis menguntungkan. Dan aku membuka butik yang menjual pakaian khusus cewek, yang aku beri nama Love Boutique,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Pria asal Pati itu mengungkapkan, usaha butiknya yang berada di Kudus itu baru buka sekitar enam bulan lalu. Sebelum membuka di Kudus dia mengaku lebih dulu membuka butik yang sama di daerah asalnya tersebut. Dan menurutnya, pada pertengahan bulan lalu membuka cabang di Jepara.

“Saat ini pelangganku juga sudah lumayan banyak. Untuk cabang Kudus saja meskipun baru buka setengah tahun  yang lalu, aku bisa menjual sekitar 400 pcs pakaian setiap bulannya,” ujar pria lajang tersebut.

Andi mengungkapkan, pakaian yang dia jual di butik miliknya sebagian merupakan pakaian impor yang didatangkan langsung dari Singapura dan Malaysia. Sebagian di antaranya pakaian produk lokal berasal dari Bandung dan Jakarta, yang mempunyai kualitas setara dengan produk impor.

“Selain kualitas pakaian yang aku jual bagus, harga yang kami tawarkan juga lebih murah, karena hampir semua jenis dan model pakaian, aku jual dengan harga di bawah Rp 100 ribu per pcs,” ujar Andi.

Dia lalu merinci pakaian yang dijual di butiknya, beserta harganya. Untuk atasan model Sabrina dia beri harga mulai Rp 75 ribu sampai Rp 85 ribu per pcs. Sedangkan Cardigan dibanderol mulai Rp 45 ribu sampai Rp 75 ribu, dres dihargai mulai Rp 80 ribu per pcs dan jilbab dijual dengan harga Rp 12 ribu pcs.

Menurutnya, di butik miliknya tersebut tersedia sekitar 200 item jenis pakaian untuk kalangan perempuan. “Intinya harganya murah, namun tetap berkualitas karena produk impor,” jelas Andi yang mengaku butiknya tersebut buka setiap hari.

- advertisement -

Blangko KTP El Belum Tersedia, Masyarakat Bisa Gunakan Surat Pengganti untuk Keperluan Perbankan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Sejumlah orang terlihat bergantian diambil gambar di loket pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP El) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kudus. Seraya dibantu petugas, mereka juga meletakkan jari di atas alat finger print guna perekaman sidik jari. Ada pula petugas yang memasang alat pemindai retina pada para pemohon.

Perekaman data KTP Elektronik di Kudus
Perekaman data KTP Elektronik di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Selang beberapa menit, mereka yang telah menyelesaikan perekaman data, mendapat surat keterangan bukti perekaman KTP El pada selembar kertas. Menurut Sekretaris Dinas Dukcapil Kudus Putut Winarno, surat keterangan tersebut menjadi pengganti sementara E-KTP, karena blangko habis.

“Surat Keterangan itu memiliki fungsi sama seperti KTP El. Bisa dipergunakan untuk kepentingan pemilu, pemilukada, pilkades, perbankan, imigrasi, kepolisian, asuransi, BPJS, pernikahan dan kebutuhan lainnya. Misal di untuk buat rekening baru, sekarang kan harus pakai KTP El, bisa menggunakan surat keterangan tersebut,” ungkapnya saat ditemui di ruangannya.

Dia menjelaskan, fungsi surat keterangan sudah diatur dalam surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia nomor 671.13/102.31/Dukcapil tentang Format Surat Keterangan Sebagai Pengganti KTP El. Menurutnya, dalam surat edaran sudah jelas tertulis fungsinya sama seperti KTP-El termasuk membuat rekening baru di bank.

“Saya sudah sosialisasikan kepada perbankan dan perusahaan-perusahan tentang adanya kebijakan ini. Jika dari bank persyaratan harus bawa KK (Kartu Keluarga), mungkin mereka punya kebijakan sendiri. Namun saya pastikan surat keterangan (pengganti KTP El) bisa digunakan,” tambahnya sambil menunjukkan surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri Indonesia.

Dirinya melanjutkan, surat keterangan pengganti tersebut bersifat sementara dengan tercantum masa aktif enam bulan sejak diterbitkan. Jika nantinya blangko belum juga tersedua, masyarakat tinggal menunjukkan surat lama dan akan otomatis diperbaharui.

Menurutnya, jumlah penduduk di Kudus hingga 6 Maret 2017 sebanyak, 830.221 jiwa dengan wajib KTP 612.321 jiwa. Dijelaskan, yang sudah melakukan perekaman sebanyak 594.210 jiwa dan yang belum melakukan perekaman 18.111 jiwa. Dia juga menyebutkan, penduduk yang sudah melakukan perekaman tetapi belum mendapatkan fisik KTP El sebanyak 19.437 jiwa. “Jumlah ini (19.437 jiwa) yang menggunakan surat keterangan,” tuturnya.

Dalam pelaksanaan perekaman KTP El, selain menempatkan petugas di kantor Dukcapil, pihaknya juga melakukan jemput bola ke desa-desa dengan menggunakan mobil khusus. Untuk jadwal dapat dilihat di sosial media milik Dinas Dukcapil Kudus. “Pelayanan keliling lima hari kerja. Ini juga akan dilakukan sampai malam pukul 19.00,” tambahnya.

- advertisement -

Wow, Siswa SMK RUS Kudus Garap Proyek Serial Animasi Unyil

0

SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Sejumlah siswa terlihat sibuk menghadap dua monitor Studio Animasi SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus. Mereka tampak serius mengedit animasi 3D dengan mengatur gerakan tubuh pada objek karakter. Di antara yang diedit yakni karakter anak kecil lengkap dengan peci dan sarung di pundak. Ternyata dia sedang mengerjakan proyek film aminasi Unyil.

Proses pembuatan film animasi Si Unyil di SMK RUS Kudus
Proses pembuatan film animasi Si Unyil di SMK RUS Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, siswi SMK RUS Kudus, Daliatul Umami (17) mengatakan, dirinya sedang mengedit gerakan tokoh Unyil dalam serial film animasi Unyil. Menurutnya, hal paling sulit dalam proses pembuatan animasi tiga dimensi film tersebut yakni proses pemberian gerakan tubuh. Dirinya harus fokus dan menyesuaikan dengan story boarding yang sudah ditentukan.

Baca juga: Kejar Deadline Film Animasi Pasoa dan Sang Pemberani, Wildan Harus Menginap di Sekolah

“Proses ini yang cukup sulit dan rumit. Namun bisa kami kerjakan,” ungkapnya saat ditemui di ruang produksi studio animasi SMK RUS, beberapa waktu lalu.

Siswi kelas XI jurusan Design, Komunikasi dan Visual (DKV) itu menuturkan, film animasi tiga dimensi Unyil yang sedang dikerjakan, lebih dahulu dikenal masyarakat dalam bentuk boneka. Bersama teman-temannya, dirinya menggarap animasi tersebut dibimbing tenaga profesional dan didukung dengan fasilitas berlevel international.

Dalam pengerjaannya, dirinya mengaku mengerjakan sampai malam. Terutama yang laki-laki biasanya sampai pukul 21.00. Menurutnya, untuk para siswi pukul 19.00 sudah pulang. “Kadang yang cowok ada juga yang sampai menginap. Karena dikejar deadline,” tambah siswi dari Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara.

Sementara itu, Ketua jurusan Design, Komunikasi dan Visual SMK Raden Umar Said Mukhamad Rif’an (49) menuturkan, setelah menyelesaikan film animasi Pasoa dan Sang Pemberani, pihaknya ditawari membuat dua film animasi, yakni Jalur Rempah dan Si Unyil. Dijelaskan, Jalur Rempah nanti berbentuk dua dimensi dan Si Unyil berbentuk tiga dimensi.

“Film Unyil yang dikenal masyarakat berbentuk boneka, sekarang kami akan buat berbentuk animasi tiga dimensi,” ungkapnya disela-sela mendampingi muridnya mengerjakan animasi.

Dia menjelaskan, animasi tiga dimensi Unyil proses penggarapannya di bawah naungan BIZ Studio dan telah mendapat izin Produksi Film Negara (PFN). “Nanti untuk penggarapan Jalur Rempah dua dimensi dilakukan kelas sepuluh. Dan Unyil khusus untuk kelas sebelas,” tambahnya.

- advertisement -

Subsidi Listrik 900 VA Dicabut, Namun Hasan Tak Merasa Biaya Listrik di Rumahnya Naik

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN  – Achmad Hasan berjalan menuju arah speedometer yang berada di samping rumahnya. Dengan tangan kanannya, dia menunjukkan daya listrik di rumahnya sebesar 900 Volt Ampere (VA). Hasan yang bertempat tinggal di Dukuh Jetak Kembang, RT 4, RW 5 Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus mengaku tidak mengetahui pencabutan subsidi listrik rumahan yang berdaya 900 VA oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tarif Listrik Kudus 2017_3_5
Supervisor dan Pelayanan Pelanggan PT PLN area Kudus Rodo Hutaga. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, bulanan yang harus dibayar masih seperti biasanya, sekitar Rp 60 ribu per bulan. Jika subsidi di rumahnya dicabut, maka otomatis pembayaran yang dilakukan akan naik. Hasan memberitahukan, pembayaran Januari 2017 yang dilakukannya yakni Rp 59.585 dengan tambahan Rp 2.500 untuk admin. “Sepertinya pembayaran listrik di rumah saya tidak naik. Masih seperti biasanya,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/3/2017).

Dalam bukti transaksi pembayaran rekening bulan Januari 2017 stan meternya tertulis 00716400 – 00725100 atas nama bapaknya. Artinya, dalam bulan Januari 2017 dirinya menggunakan listrik sebesar 8700 kwh. Dijelaskan, penggunaan listrik di rumahnya yakni 15 lampu, mesin cuci, setrika, cas laptop dan handphone saja. Dia tidak menggunakan kulkas dan air conditioner (AC).

“Kalau listrik masih seperti biasa, Februari pun juga sama seperti Januari. Yang kelihatannya naik malah air PDAM. Yang biasanya saya dibawah Rp 90 ribu. Bulan Februari sekitar Rp 120 ribu,” jelasnya.

Sementara itu, Supervisor dan Pelayanan Pelanggan PT PLN area Kudus Rodo Hutaga menuturkan, tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya 900 VA dibagi menjadi dua golongan, yakni bersubsidi dan tidak bersubsidi. Menurutnya, di Indonesia ada 18,7 juta pelanggan listrik 900 VA yang termasuk golongan mampu dan tidak layak disubsidi.

Dari jumlah jumlah tersebut, menurutnya hanya 4,1 juta yang layak diberikan subsidi. Dengan adanya pencabutan subsidi bagi 18,7 juta, maka secara otomatis biaya yang dikenakan akan naik. “Di Kudus ada 71.698 yang menggunakan daya 900 VA. Kami berharap listrik bersubsidi bisa diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” tambahnya.

Pencabutan subsidi yang berakibat naiknya tarif listrik bagi pelanggan listrik 900 VA dilakukan secara bertahap. Dijelaskan, tahap pertama dilakukan pada 1 Januari sampai 28 Februari 2017. Setelah itu tahap kedua 1 Maret hingga 30 April 2017 dan tahap terakhir tanggal 1 Mei 2017. Menurutnya, tarif awal golongan pelanggan 900 VA hingga Desember 2016 yakn Rp 605 per kwh.

“Setelah itu ada penyesuaian tahap pertama naik Rp 791 per kwh, tahap kedua Rp 1.034 per kwh dan tahap terakhir Rp 1.352 per kwh. Selanjutnya akan mengikuti tarif adjustment yang mengikuti inflasi, nilai tukar dan harga minyak dunia,” tambahnya.

Pihaknya juga menerima pengaduan masyarakat yang tidak terima subsidi listriknya dicabut. Jika nanti dalam proses verifikasi membuktikan bahwa mereka berhak menerima subsidi, pemerintah akan mengembalikan hak subsidi kepada mereka. Dalam teknisnya, bagi rumah tangga miskin dan tidak mampu yang belum menerima subsidi atau yang tidak terima subsidinya dicabut, dapat menyampaikan pengaduannya melalui desa atau kelurahan.

Dia menambahkan, pengaduan yang berbentuk pengisian formulir tersebut akan diserahkan ke Kecamatan dan mengisi aplikasi Pengaduan Kepesertaan Subsidi Listrik yang berbasis web. Data pengaduan akan segera ditindaklanjuti petugas Posko Pengaduan Pusat dan selanjutnya akan ada umpan balik pada web subsidi.djk.esdm.go.id berupa jawaban atas pengaduan masyarakat.

Dia melanjutkan, nanti juga akan dibentuk tim Ad-hoc lintas instansi untuk penanganan pengaduan masyarakat yang beranggotakan perwakilan ESDM, Kemendagri, Kementrian Sosial, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)  dan PT PLN.

- advertisement -

Mitsubishi All New Pajero Sport, Mobil Kelas Premium yang Menjadi Tolok Ukur Kesuksesan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di sebuah diler mobil, tepatnya di Jalan AKBP Kusumadya 62 Kudus, terlihat terpakir empat unit mobil Mitsubishi dengan berbagai varian. Di sudut pintu masuk dan keluar mobil, tampak sebuah mobil berukuran besar warna hitam tertuliskan All New Pajero Sport di bagian belakang kendaraan. Selang beberapa waktu, terlihat beberapa orang berdatangan keluar dari ruangan dengan mengenakan pakaian warna hitam dan putih. Salah satu di antara mereka, Prio Adi Nugroho (31), Supervisor PT Sun Star Mitsubishi Kudus.

Mitsubishi_All_New_Pajero_Sport_2017_3_6_1
Mitsubishi All New Pajero Sport di Sun Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli datang, Prio, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mobil kelas premium tersebut. Dia mengatakan, Pajero Sport merupakan mobil yang menjadi andalan di Mitsubishi Motors. Selain itu, katanya, mobil itu sering kali dijadikan tolok ukur kunci kesuksesan. Jadi, orang kalau belum punya Pajero Sport, belum bisa dikatakan sukses.

“Bagaimana ya, Pajero Sport kan mobil gagah, baik dari kalangan pebisnis maupun pejabat pasti punya mobil itu. Bahkan Gibran, putra sulung Presiden Jokowi, mobil impiannya yaitu Pajero Sport. Tidak heran juga kalau Pajero Sport identik dengan tolak ukur sukses. Soalnya orang yang sudah punya mobil itu, pasti  punya jenis mobil lain di rumah,” ungkap Prio waktu ditemui di tempat dirinya bekerja.

Pria kelahiran Kebumen yang kini tinggal di Kota Semarang, ini melanjutkan, Pajero Sport disukai karena memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya, dibekali delapan speed automatic transmission, performa mesin hingga 181 PS, fitur lebih menarik dan lampu pada mobil sudah light-emitting diode (LED). “Mobil Pajero juga terkenal tangguh melewati berbagai medan berat seperti kerikil, banjir, lumpur, pasir maupun batu,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain kelebihan yang di tojolkan dari mobil yang berlambang tiga berlian, Pajero Sport mimiliki berbagai tipe untuk memanjakan pelanggan. Meliputi, Pajero Sport Exceed, GLS, GLX,V6 serta Pajero Sport tipe Dakar yang sekarang banyak diminati pelanggan. “Pelanggan kami menyeluruh, tapi yang paling banyak dari wilayah Karesidenan Pati,” ungkapnya.

Pria yang mengaku hampir satu tahun menjabat sebagai Supervisor, ini menambahkan, terkait dengan harga, pihaknya memberikan berbagai varian harga kepada pelanggan sesuai dengan tipe kendaraan. Dia menjelaskan, Pajero Sport Dakar 4×4 Automatic Transmission (AT) dijual seharga Rp 650 juta, Dakar 4×2 AT seharga Rp 525 juta, Exceed 4×2 dengan harga Rp 475 juta, Exceed 4×2 Manual Transmission (MT) dijual seharga Rp 465 juta dan GLX 4×4 MT dijual seharga Rp 523 juta.

“Untuk warna, ada putih, silver, hitam, deep bronze metalic dan juga ada warna titanium grey metalic. Namun yang banyak disukai sekarang ini warna putih dan hitam. Selain itu, diler kami juga melayani servis kendaraan yang buka mulai pukul 8.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB,” tambahnya.

- advertisement -

All New Pajero Sport Tak Terbendung, 50 Unit Terjual Tiap Bulan dan 22 Pelanggan Inden

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Mobil berwarna hitam terlihat terpakir rapi di sebuah diler resmi Mitsubishi Motors Kudus, tepatnya di Jalan AKBP Kusumadya 62, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Mobil itu berukuran panjang kisaran empat meter, lebar dan tinggi lebih dari satu setengah meter.  Mobil tersebut yakni All New Pajero Sport, mobil yang paling banyak disukai pelanggan.

Mitsubishi All New Pajero Sport 2017_3_6
Mitsubishi All New Pajero Sport 2017

Selepas dari acara breafing, Prio Adi Nugroho (31), Supervisor PT Sun Star Motor, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan mobil yang berlambang tiga berlian tersebut. Dia menjelaskan, diler yang berdiri sejak 27 Oktober 2016 itu menjual berbagai varian kendaraan penumpang. Namun penjualan terbanyak terjadi pada All New Pajero Sport, dengan angka penjualan tidak kurang dari 50 unit per bulan.

“Varian mobil banyak, ada Outlander Sport, New Mirage, All New Pajero Sport, Delicia, XM Concept dan ada juga All New Triton. Tapi yang paling banyak terjual Pajero Sport, antara 40 hingga 50 unit per bulan. Bahkan di diler kami, terhitung sudah ada 22 pelanggan yang inden di Mitsubishi Motors,” Ungkap Prio yang mengenakan pakaian warna putih berdasi dan celana panjang warna hitam.

Pria yang mengaku hampir satu tahun menjabat sebagai Supervisor, ini mengatakan, untuk dapat melakukan inden mobil yang berkapsitas tujuh penumpang itu, pihaknya memberikan berbagai syarat. Di antara syarat tersebut, memberikan uang muka sebanyak Rp 5 juta. “Untuk inden di tempat kami, nominal yang dikeluarkan minimal Rp 5 juta sebagai DP (down payment),” ungkapnya.

Dia memberitahukan, mobil yang dibekali dengan fitur keamanan dan keselamatan ekstra lengkap itu, terkenal mampu melibas segala medan. Mulai dari medan banjir hingga medan lumpur, katanya, dengan mobil itu semua medan dapat dilintasi. Menurutnya, ketinggian banjir maupun kedalaman lumpur yang bisa diterjang maksimal 70 sentimeter.

Sementara itu, dia menjelaskan, selain mobil Pajero Sport, mobil yang paling disukai pelanggan lainnya yakni New Mirage dan Outlander Sport. Dalam sebulan, katanya, dia mampu menjual sebanyak 12 unit mobil New Mirage dan tiga unit Mitsubshi Outlander Sport per bulan. “Mobil dengan jenis itu disukai karena irit, sporty dan mudah melintasi jalanan yang sempit,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam meningkatkan penjualan, pihaknya sering kali melakukan berbagai ajang promosi. Di antaranya dengan cara ikut serta dalam pameran, memberikan hadiah bagi pelanggan, moving di pemerintahan dan masih banyak yang lainnya. “Kami juga memberikan gratis kaca film dan asesoris mobil, tapi bagi unit mobil tertentu saja,” tambahnya.

- advertisement -

Bordir Hida Kudus Sering Ikuti Pemeran di Luar Daerah, dan Pernah Dapat Pesanan Menteri Sosial

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di sebuah ruangan rumah yang berada di tepi utara Jalan KH Noor Hadi, Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak beberapa orang sedang sibuk dengan di depan mesin jahit. Mereka membentuk gambar menggunakan benang sesuai pola dan membentuk obyek. Tempat tersebut merupakan produksi Bordir Hida yang beberapa kali menjadi langganan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Pemilik Bordir Hida Kudus bersama Menteri Sosial
Pemilik Bordir Hida Kudus bersama Menteri Sosial

Saat ditemui dikediamannya, pemilik Bordir Hida, Hidayah (61), sudi berbagi cerita tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, hasil produksi bordir halus miliknya memang sering mendapatkan order dari para pejabat, tidak hanya dari Kudus, tapi juga daerah lain, satu diantaranya dari Jakarta.

Baca juga: Pernah Sukses dan Bangkrut Karena Ditipu, Hida Kemudian Bangkit Dirikan Usaha Bordir

“Produk bordirku memang sering mendapatkan order dari para pejabat maupun istri pejabat. Bahkan di tahun 2016, tepatnya menjelang Hari Raya Idul Fitri, aku mendapatkan order kebaya yang berhias border dari Menteri Sosial. Di tahun tersebut order dari ibu menteri tidak hanya sekali, tapi dua kali,” ujarnya.

Perempuan yang menjadikan rumah tinggalnya sekaligus toko dan tempat produksi bordir itu mengatakan, pesanan kebaya dari satu diantara Srikandi Kabinet Kerja  pada hari menjelang Hari Raya Idul Fitri sebanyak 200 pcs. Dan yang kedua kali hanya enam pcs. Dia menerka, kemungkinan kebaya 200 pcs tersebut akan dibagikan kepada koleganya.

Dia mengatakan, sejak membuka usaha kembali bordir pada tahun 1990, sering dibantu Pemerintah Kabupaten Kudus, dalam peningkatan kualitas dan pemasaran. Karena menurutnya sejak merintis kembali usaha bordir, dia mengaku sering dibina dan diberi pelatihan agar bisa memproduksi bordir halus, bordir lebih detail dan berkualitas serta memiliki nilai jual lebih.

Sedangkan untuk pemasaran dia menuturkan, selalu diikut sertakan saat pemerintah Kabupaten Kudus mengadakan pameran di Kudus maupun di daerah luar Kudus. Dia pernah mengikuti sejumlah pameran di antaranya, Semarang, Solo, Jogja, dan Jakarta. Selain itu, tak jarang saat Pemerintah Kabupaten Kudus menerima tamu para pejabat pemerintah dari daerah lain, mereka diajak singgah ke Bordir Hida.

“Karena sering diajak pameran tersebut produk bordir Hida milikku mulai dikenal di daerah lain, tak jarang saat ikut pameran aku kebanjiran pesanan dari beberapa orang yang berasal dari daerah tersebut. Termasuk order dari Menteri Sosial itu aku dapatkan saat ikut pameran di Jakarta,” ungkap Hida yang mengaku selain ikut pamera sekarang dia juga memasarkan aneka produknya secara online.

Perempuan yang dikaruniai 13 cucu itu lalu merinci produk border serta harganya. Bordir kebaya dia jual antara Rp 75 ribu sampai Rp 350 ribu per pcs. Bahan gamis berhias bordir dia hargai Rp 125 ribu sampai Rp 300 ribu. Bahan rukuh dia banderol Rp 75 ribu sampai Rp 300 ribu. Sedangkan tas jinjing perempuan dia jual antara harga Rp 50 ribu sampai Rp 120 ribu per pcs.

Menurutnya selain menyediakan bahan kain untuk beberapa pakaian, dia juga menyediakan pakaian jadi yang sudah dihiasi bordir. Namun menurutnya produk pakaian jadi tidak diproduksi banyak, karena kurang begitu diminati para pembeli.

Dia mengungkapkan, dalam kurun satu bulan, bordir Hida setidaknya mendapatkan pesanan sekitar 1.000 pcs bahan untuk semua jenis pakaian berhias bordir. Menurutnya jumlah pesanan tersebut jauh berkurang jika dibandingakn dengan jumlah pesanan antara tahun 1995 sampai tahun 2010. Karena menurutnya sebelum tahun tersebut dia bisa mendapatkan order sampai tiga kali lipatnya.

“Meski order sudah banyak menurun. Aku tetap bersukur karena melalui usaha border yang aku rintis, aku bisa membiayai pendidikan lima putraku hingga mendapatkan gelar sarjana. Dan dengan bekal pendidikanya tersebut semua anaku kini bisa memiliki usaha sendiri,”ujar Hidayah.

- advertisement -

Pernah Sukses dan Bangkrut Karena Ditipu, Hida Kemudian Bangkit Dirikan Usaha Bordir

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi utara Jalan KH Noor Hadi tepatnya di Keluarahan Janggalan, Kecamatan Kota, terlihat toko berdinding kaca. Di dalam toko terlihat ratusan busana berwarna-warni berhias bordir terpajang rapi sesuai bentu. Di ruangan lain tampak seorang perempuan paruh baya sibuk dengan smartphone di tanganya. Perempuan tersebut bernama Hidayah (61), pemilik usaha Bordir Hida Bordir yang sempat jatuh bangun karena ditipu.

Bordir Hida Kudus
Pemilik Bordir Hida Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Hida itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, usaha bordir pakaian dia rintis setelah menikah, dan menurutnya setahun berjalan usahanya tersebut langsung berkembang dan kebanjiran order.

“Pada waktu itu usaha bordir di Kudus masih jarang dan minim persaingan. Hingga usaha bordirku kebanjiran order. Tidak hanya di Kudus, namun pemesanan sudah merambah daerah sekitar diantaranya, Pati, Jepara, Semarang, dan Solo,” ujar perempuan berkaca mata tersebut, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang sudah dikaruniai lima anak dan 13 cucu itu menuturkan, pada waktu itu bordir yang diproduksi belum sehalus bordiran sekarang. Menurutnya bordir yang dulu dia produksi merupakan bordir untuk hiasan pada kamisol pakaian dalam untuk wanita dewasa, sarung bantal, dan kerudung

Menurutnya saat pertama merintis usaha dia mengaku langsung mempekerjakan empat orang. Namun seiring berjalan dengan banyaknya orderan dia juga menambah jumlah pekerjanya. Bahkan saat itu dia mempunyai sekitar 50 pekerja. Hingga pada tahun 1975 dia mulai menggunakan hasil dari usaha bordir untuk merambah usaha konveksi, jual beli mesin jahit, hingga menjadi juragan becak.

“Pada waktu itu aku semangat sekali untuk membuka usaha, setiap ada peluang aku langsung membuka usaha tersebut. Dari bordir, aku lalu buka konveksi, aku juga membuka usaha jual beli mesin jahit karena usaha bordir dan konveksiku berhubungan dengan mesin tersebut. Aku juga membeli 20 becak untuk aku sewakan pada orang dengan biaya waktu itu Rp 350 sehari,”kenangnya.

Dia menuturkan pada saat itu dia merupakan wanita yang lumayan sibuk. Selain mengurusi anak dan suami dia mengaku mengurusi semua usahanya tersebut seorang diri. Karena pada waktu itu suaminya masih bekerja di pabrik rokok. Hingga musibah menimpa, menurutnya usaha konveksi miliknya mengalami kebangkrutan karena para pemesan tidak membayar barang yang sudah dia kirim.

“Karena kejadian tersebut aku harus menanggung utang di bank. Aku juga dengan terpaksa menutup usaha konveksi serta bordir, untuk mengurangi kesibukan dan bisa fokus membesarkan anak-anakku serta mengelola usaha yang masih ada,” ungkap Hida yang mengaku pada waktu itu para pelangganya membayar dengan cek kosong.

Setelah anaknya sudah beranjak dewasa, pada tahun 1990 Hida mengaku tertarik membuka kembali usaha bordir. Karena menurutnya pada tahun tersebut peminat bordir meningkat, namun berbeda dengan bordir yang dia produksi dulu. Pada tahun tersebut bordir yang diminati bordir halus dan lebih rumit.

“Meski berbeda dengan bordir yang aku produksi dulu, aku merasa tertantang dan ingin membuat bordir yang sesuai permintaan pasar. Dan alhamdulillah dengan ketelitian dan kerja keras usaha bordirku bisa bertahan sampai sekarang dan memiliki banyak pelanggan,”ujar Hidayah yang memberi nama usahanya dengan nama panggilanya Hida Bordir.

- advertisement -

Kejar Deadline Film Animasi Pasoa dan Sang Pemberani, Wildan Harus Menginap di Sekolah

0

SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Tangan kanannya nampak menggerakkan mouse yang tersambung pada komputer di studio animasi SMK Raden Umar Said. Sementara tangan kirinya menyentuh keyboard hitam yang berada di atas meja computer. Di depannya tersedia dua monitor di mana nampak gambar animasi tiga dimensi yang sedang diedit. Yakni Wildan Aufa Yudha (17) siswa kelas sebelas Animasi SMK Raden Umar Said. Dia mengatakan sedang mengerjakan proyek film animasi di sekolahnya.

Kelas Animasi SMK Raden Umar Said Kudus 2017_3_5
Kelas Animasi SMK Raden Umar Said Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, sebelum itu dirinya bersama teman-temannya telah menyelesaikan proyek film animasi Pasoa dan Sang Pemberani yang sudah di-launcing pada Jumat (24/2/2017) lalu di Jakarta. Film animasi pertama yang dibuat siswa SMK Raden Umar Said juga sudah tayang di SCTV pada Sabtu (4/3/2017) sore. Dalam proses pembuatan film animasi Pasoa dan Sang Pemberani, dirinya mengaku terpaksa harus menginap di sekolah karena dikejar deadline.

“Waktu itu, kami dikejar deadline besok harus jadi. Akhirnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk menginap di sekolah,” ungkapnya saat ditemui di Studio Animasi SMK Raden Umar Said, beberapa waktu lalu.

Dalam proses pembuatan animasi Pasoa dan Sang Pemberani, menurutnya yang paling sulit dan memerlukan waktu lama yakni memberikan gerakan tubuh pada karakter animasi. Karena perlu ketelitian dan harus sesuai dengan alur cerita yang sudah ditentukan. Selain alur cerita, dirinya juga harus menyesuaikan dengan karakter tokoh dan atmosfer setiap shot-nya. “Pertama sulit. Karena ada pembimbingnya, akhirnya film animasi ini bisa selesai,” jelasnya.

Wildan mengungkapkan, dia merasa belum puas dengan hasil film animasi Pasoa dan Sang Pemberani. Menurutnya, dirinya perlu belajar lebih banyak lagi untuk menjadi animator yang hebat. Meski begitu, dia mengaku bersyukur bisa sekolah di SMK Raden Umar Said. Karena fasilitas yang disediakan untuk membuat animasi sangat lengkap dan berkelas international.

“Waktu kami menginap, makan dan tidur sudah difasilitasi sekolah,” tambah Wildan yang tinggal di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog.

Alfina Fitria Damayanti (16), kelas XI Animasi menuturkan, sebelum dirinya masuk Jurusan Animasi, dia mengaku tidak bisa menggambar. Karena di Jurusan Animasi ada belajar menggambar, akhirnya kini dia mengaku sudah pandai dalam membuat gambar animasi. Hal tersebut bisa dilakukan, karena fasilitas yang disediakan sangatlah lengkap.

“Saya bisa belajar dengan baik ditambah dengan adanya pembimbing yang professional. Saya juga bersyukur bisa masuk di SMK Raden Umar Said, dan bisa bergabung dalam pembuatan animasi Pasoa dan Sang Pemberani,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Design, Komunikasi dan Visual SMK Raden Umar Said, Mukhamad Rif’an (49) menuturkan, dalam pembuatan Pasoa dan Sang Pemberani pihaknya melibatkan 38 siswa dari kelas XI dan X. Menurutnya, film tersebut menceritakan tentang kearifan lokal budaya Indonesia. Dalam film tersebut, terdapat tokoh Pasoa, hewan mitologi berwujud gabungan berbagai hewan Indonesia yang hadir untuk melindungi kelestarian lingkungan dan kekayaan hayati tanah air.

- advertisement -

Geram Banyak Berita Hoax Bertebaran, Puluhan Pelajar di Kudus Ikuti Pelatihan Jurnalistik

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Puluhan sepeda motor nampak terparkir rapi di halaman depan pintu masuk aula Balai Desa Rendeng, Kota Kudus, Minggu (5/3/2017) Siang. Di dalam aula, terlihat puluhan siswa dari sejumlah sekolah di Kudus mengikuti materi kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJ-TD). Satu di antara peserta yang mengikuti acara tersebut Hilman Najib (17). Dia mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan itu karena menilai sangat bermanfaat.

Melawan Hoax, pelajar Kudus ikuti pelatihan jurnalistik
Melawan Hoax, pelajar Kudus ikuti pelatihan jurnalistik. Foto: Ahmad Rosyidi

“Sebenarnya tadi sempat mengantuk, tapi karena materinya menarik dan pemateri cukup interaktif, saya kembali semangat. Acara ini sangat bermanfaat, khususnya bagi kami para pelajar. Banyaknya berita hoax, saya pikir pelatihan ini sangat penting,” ujar Najib, siswa Madrasah Aliyah Qudsiyyah, Kudus, saat jeda acara yang diselenggarakan Forum Kesatuan Mahasiswa Islam (FKMI) Sunan Kudus.

Najib mengaku saat ini aktif di kegitan ektrakurikuler jurnalistik sekolahnya, dan menjadi wakil pemimpin redaksi. Menurutnya, kegiatan yang diselenggarakan FKMI itu sangat menarik, karena dirinya memiliki minat menulis. “Mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Toer, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tak menulis, dia akan hilang dari sejarah,” tuturnya.

Dia berharab kegiatan tersebut tidak berhenti usai pelatihan. Dirinya ingin FKMI membuat kegiatan tindak lanjut agar semangat peserta tidak menurun. “Menurut saya (tindak lanjut) ini sangat penting untuk membangkitkan semangat menulis bagi pemuda,” harap Najib.

Siswa kelas XI tersebut juga mengungkapkan, kelak dirinya ingin menjadi sastrawan. Setiap hari dia membiasakan diri untuk menulis, minimal menulis catatan pribadi. Saat mendapat inspirasi, Najib juga menulis artikel, esai, puisi, dan cerpen. Dia berharab suatu saat karya-karyanya bias menjadi buku, dan dia bias menjadi seorang penulis yang dapat menginspirasi generasi muda.

“Selain ingin menjadi sastrawan, saya juga ingin menjadi polyglot yang menguasai minimal tiga bahasa. Saat ini baru menguasai Bahasa Indonesi, masih tahab belajar Bahasa Inggris dan bahasa Arab. Target saya tiga bahasa itu dulu,” terang siswa kelas dua MA Qudsiyyah Kudus itu.

Abdullah Miftah (23), panitia PJ-TD, mengungkapkan, pada kegiatan ini pihaknya memilih tema “The Power of Action Mine of Writing”. Tema itu dipilih, berawal dari keprihatinan banyaknya informasi yang tidak sesuai dengan fakta, yang saat ini sangat marak.

“Berawal dari gejolak yang kami rasakan banyaknya berita hoax, kami ingin memberi pembelajaran tentang jurnalistik bagi pelajar di Kudus. Kami berharp mereka melek jurnalistik dan tidak mudah terprovokasi,” jelas warga Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara itu.

Dia menambahkan, Kegiatan yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB itu diikuti 36 peserta dari enam sekolah di Kudus. Dalam kegiatan tersebut terdapat tiga materi, antara lain pengantar jurnalistik dasar dan sejarah pers, teknik menulis berita dan future, dan teknik wawancara dan proses penyusunan berita.

- advertisement -

Terpikat Rasa dan Konsep Ruangan, Agung Pilih Omah Iga untuk Rayakan Hari Spesial

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di lantai dua rumah makan Omah Iga di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus terlihat beberapa orang sedang menyantap hidangan. Di satu meja di ruangan tersebut tampak seorang pria berjaket warna hitam bersama temannya terlihat asyik menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan. Pria tersebut bernama Agung Luthfiana (25), yang sengaja datang makan di Omah Iga karena merayakan hari spesial.

Pengunjung Omah Iga Kudus
Pengunjung Omah Iga Kudus

Sembari menyantap hidangan, pria yang akrab disapa Agung itu sudi berbagi kesan tentang menu dan konsep rumah makan Omah Iga kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, sudah beberapa kali datang ke Omah Iga. Menurutnya rasa menu yang disajikannya enak dan lezat. Karena terpikat dengan rasa menu yang disajikan, Agung mengaku beberapa kali merayakan momen spesialnya di rumah makan yang terletak di sebelah timur Pasar Kliwon Kudus itu.

Baca juga: Berawal dari Suka Berwisata Kuliner, Tiara Mantab Buka Omah Iga, Kini Ratusan Porsi Ludes Sehari 

“Saat ini aku juga sedang merayakan hari spesial bersama temanku. Menurutku selain makanannya enak, harga terjangkau, tempatnya juga nyaman. Meskipun rumah makan namun konsepnya kafe. Jadi benar-benar bikin nyaman dan betah,” ujar Agung sambil menyantap tongseng iga yang dia pesan.

Pria asal Rembang itu menungkapkan, teman yang bersamanya juga sangat menyukai suasana dan pernak pernik yang ada di Omah Iga. Menurut temannya, kata Agung di Omah Iga juga tersedia tempat selfie. “Pokoknya makanannya enak serta desain tempatnya bagus, dan cocok buat selfie,” celetuk teman perempuan Agung sambil tersenyum.

Tiara Yanuarista (24) pemilik rumah makan Omah Iga mengakui, seluruh ruangan Omah Iga memang didesain dengan konsep kafe. Dirinya berharap dengan konsep itu,  Omah Iga bisa lebih familiar untuk semua kalangan, tidak hanya mereka yang berkeluarga, namun juga para remaja.

Perempuan yang akrab disapa Tiara itu mangatakan, di Omah Iga juga menyediakan booking room untuk acara ultah, rapat dan lainnya. Dia menuturkan, ruangan yang bisa dipesan hanya di lantai dua dengan harga sewa Rp 100 ribu per dua jam. Menurutnya ruangan tersebut cukup luas dan bisa memuat 50 orang. Ruang tersebut tersedua proyektor, sound system, musala dan kamar mandi.

“Harga sewa selama dua jam tersebut gratis saat jika makanan dan minuman yang dipesan mencapai Rp 2,5 juta. Dan semua ruangan di Omah Iga juga disediakan wifi gratis. Jadi untuk mereka yang butuh tempat nongkrong nyaman dan enjoy berselancar di dunia maya dan gemar selfie, datang saja di rumah makan Omah Iga,” ajak Tiara.

- advertisement -