Beranda blog Halaman 1915

Ini Rahasia Sate Kerbau Khas Kudus Min Jastro yang Melegenda Hingga Tiga Generasi

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Pagi itu satu di antara Ruko Agus Salim Desa Getas pejaten, Kecamatan Jati, Kudus tampak ramai pengunjung. Terlihat beberapa pria dan wanita sedang duduk di bangku panjang, sedangkan sebagian lainnya tampak lahap menyantap hidangan yang disajikan. Di samping gerobak tampak seorang pria duduk memakai peci hitam sedang daging kerbau. Pria itu bernama Sunoto (44), generasi ketiga penerus usaha sate kerbau Min Jastro, yang tetap mempertahankan resep leluhurnya.

Sate kerbau khas Kudus 2017_3_12
Sate kerbau khas Kudus Pak Min Jastro. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya memasak sate kerbau, pria yang akrab disapa Totok itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha peninggalan kakeknya tersebut. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), dia mengaku sudah membantu ayahnya membuat sate kerbau sekaligus bumbunya.

Baca juga: Datang dari Surabaya, Sujono Santap Sate Kerbau Min Jastro di Kudus untuk Bernostalgia

“Karena dulu sering membantu ayahku membuat sate kerbau, aku bisa membuat sate kerbau yang enak. Sama enaknya dengan yang dibuat ayah dan kakeku, empuk dan bumbunya meresap ke dalam daging. Karena itulah banyak pelanggan sejak dulu tetap datang,” ujarnya sambil mengipasi arang pembakaran.

Dia mengungkapkan, sate kerbau Min Jastro itu dibuat secara tradisional, dan serat dagingnya dipisah. Daging kerbau dipukul-pukul dan seratnya direbus agar saat diberi bumbu dan dibakar, bumbu tersebut meresap. Menurutnya, selain bisa membuat bumbu meresap, pukulan bisa membuat sate kerbau Min Jastro empuk dan tidak alot.

Warga Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu mengatakan, dengan mampu menjaga resep dan bisa membuat sate yang sama dengan leluhurnya, Totok mampu menjaga pelanggan agar tetap datang. Dia mengungkapkan, dalam sehari dirinya mampu menjual sate dari 15 kilogram daging kerbau. “Itu saat hari biasa, pada akhir pekan kami bisa menjual hingga dua kali lipatnya,” ungkapnya yang mengaku menjual sate kerbau Rp 4.500 satu tusuk.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, jumlah penjualan tersebut saat tidak pesanan. Dirinya mengaku, setiap hari sering mendapatkan pesanan sate kerbau, dari beberapa perusahaan di Kudus. Perusahaan itu  diantaranya Djarum, Pura, dan lain sebagainya. Biasanya perusahaan-perusahaan di Kudus memesan sate saat ada tamu dari luar kota maupun dari luar negeri. Setiap hari, tak kurang dari 200 tusuk sate dipesan.

Menurutnya, selain pesanan harian tersebut, terkadang sate kerbau Min Jastro juga pernah beberapa kali mendapat pesanan hingga ribuan tusuk. Pernah diundang juga Megawati Soekarno Putri untuk menyajikan 3 ribu tusuk sate di ulang tahun suaminya, almarhum Taufik Kiemas.

“Pernah juga kami mendapat pesanan menyajikan hingga 5 ribu tusuk sate pada reuni akbar sekolah Masehi dari SD, SMP dan SMA. Dan yang terdekat, di acara pendidikan dan latihan Jaksa Agung di Bogor,” ungkap Totok yang mengaku berjualan mulai pukul 7.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB, dan pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

- advertisement -

Tak Disangka Desa Jurang Punya Green Canyon Sebagus Ini, Cocok untuk Arung Jeram

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Sungai dengan air yang jernih mengalir di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Sungai tersebut dihimpit tebing batu setinggi sekira 30 meter. Rumput dan tumbuhan menjalar di tebing batu, menambah keindahan dan eksotisme Daerah Aliran Sungai (DAS) Gelis tersebut. Tak berlebihan, jika Ahmad Kurniawan, pengunjung yang melakukan susur sungai di sana menyebut lokasi itu sebagai green canyon di Kudus yang tersembunyi.

Wisata sungai Jurang Grand Canyon Kudus 2017_3_11
Wisata sungai Jurang ‘Grand Canyon’ tersembunyi Kudus. Foto: Imam Arwindra

Susur sungai di Desa Jurang itu, dilakukan Wawan (sapaan akrab Ahmad Kurniawan) bersama sejumlah temannya, belum lama ini. Sesekali mereka nampak terombang-ambing di atas ban bekas karena derasnya arus sungai. Ada pula yang harus jatuh ke sungai karena ban yang mereka naiki terbalik.

Wawan yang datang bersama tiga temannya, mengaku sengaja membuat kegiatan susur sungai karena merasa ada potensi pariwisata sungai di desanya. Menurutnya, desanya dilalui jalur Sungai Gelis yang dinilai memiliki potensi wisata sungai dan rafting.

Wawan mencoba melakukan susur sungai menggunakan ban yang biasa digunakan penambang pasir Sungai Gelis. Dirinya mengaku terkejut melihat keindaan tebing beberapa meter dari start di Dukuh Sungging, Desa Jurang. Setelah melewati jembatan dukuh setempat, dirinya melihat tebing batu setinggi 30 meter yang berada di kanan kirinya.

“Lebar sungainya hanya sekitar dua meter, aliran air cukup deras. Yang paling berkesan, tebing batu yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan sungai. Kami tak menyangka ada lokasi sebagus ini, seperti Green Canyon” ungkapnya sambil tersenyum.

Dia memberitahukan, saat melakukan susur sungai tersebt sempat terjadi insiden. Diceritakan, saat melewati sungai yang hanya memiliki lebar satu meter, dirinya sempat terbalik karena arus deras dan kondisi bebatuan yang tidak rata.

“Jalur Sungai Gelis yang berada di Desa Jurang memang sangat berpontensi menjadi destinasi wisata baru di Kudus. Tempatnya bagus banget. Ini kalau dikelola dengan baik pasti banyak yang tertarik,” tambahnya.

Sementara itu, ketua Karang Taruna Desa Jurang Wahyul Huda (29) menuturkan, pihaknya sebenarnya sejak tahun 2014 sudah ada ide untuk membuat susur sungai di Desa Jurang. Namun karena ada kendala, akhirnya baru tahun ini dapat merealisasikan. Diakui, memang ada potensi yang sangat bagus yang selama ini tidak diketahui orang, yakni wisata susur sungai atau rafting di jalur aliran Sungai Gelis.

Saat dipetakkan, menurutnya panjang wisata sungai tersebut sekitar empat kilometer. “Nanti dimulai dari Dukuh Sungging hingga Dukuh Karangrejo atau Bendungan Karang Gayam,” tutur ketua Karang Taruna yang menamai dengan nama Karang Taruna Gelora Mahardika.

Dia melanjutkan, hasil pemetaan 80 persen diakuinya berhasil. Nanti pihaknya akan segera mengevaluasi daerah mana saja yang dianggap masih berbahaya . Menurutnya, di beberapa tempat masih ada bebatuan terjal yang perlu diratakan.

Wahyul merencanakan, setelah melakukan pemetaan dan uji coba, nanti dilakukan bersih-bersih sungai pada peringatan hari air sedunia. “Selain susur sungai sejauh empat kilometer, di daerah dekat Bendungan Karang Gayam juga bisa dibuat wahana flying fox, melihat dasar sungai yang semakin dalam karena ada penambangan pasir,” tambahnya sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.

- advertisement -

Hampir Tiap Malam Fatah Nongkrong di Terasnya, Tapi Tak Mengira Belakangnya Perpustakaan Tertua

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Ratusan buku terlihat di rak-rak kayu bangunan satu lantai di barat Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Buku yang sudah lusuh tersebut berada di ruangan 5×3 meter. Debu-debu terlihat menempel di koleksi buku dengan sampul yang telah sobek dan isi buku telah menguning. Tumpukan buku juga terlihat di dekat meja daftar pengunjung. Dari luar, bangunan tersebut tampak sepi, hanya ada sejumlah orang keluar masuk di bangunan tersebut.

Perpustakaan tertua di Kudus 2017_3_12
Perpustakaan tertua di Kudus

Tempat tersebut yakni perpusatakaan umum milik Yayasan Perpustakaan Islam dan Penyiaran Ilmu Pengetahuan (YPI PIP), yang diklaim sebagai perpustakaan umum tertua di Kudus. Meski terletak di jatung kota, ternyata sebagian besar masyarakat Kudus banyak yang tidak tahu. Di antaranya Abdul Fatah (21) mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Muria Kudus (UMK) mengaku tidak tahu keberadaan perpustakaan tersebut. Saat ditunjukkan foto bangunan perpustakaan, dirinya tidak mengira kalau bangunan tersebut yakni perpustakaan.

Baca juga: Perpustakaan Umum Pertama di Kudus Riwayatmu Kini . . .

“Setiap malam saya sering nongkrong di alun-alun, namun tidak mengira kalau itu perpustakaan. Yang dekat (Toko) Hasan Putra kan?,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com, Rabu (8/3/2017).

Menurut Fatah, bangunan yang di maksud dianggapnya sudah kosong dan tidak berpenghuni. Selain itu, bangunannya pun tampak seperti rumah biasa.

Hal Senada juga diungkapkan Chusnawati Sa’idah (20) mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UMK semester enam. Dia mengaku pernah mendengar ada perpustakaan dekat Alun-alun, namun dirinya belum pernah berkunjung sama sekali. “Tahunya dari omongan orang-orang. Namun saya belum pernah kesana,” tambahnya yang tinggal di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus.

Dirinya mengaku pernah mau masuk ke dalam, namun karena terlihat sepi akhirnya mengurungkan niatnya. Dia mengetahui perpustakaan tersebut masih aktif, saat lewat pun kadang terbuka. Namun tempat tersebut terkesan seram dan sudah tidak terawat. “Dulu pernah ingin masuk. Pengen lihat-lihat seperti apa perpustakaannya. Namun kelihatannya sudah tidak terawat dan tempatnya suwung,” tuturnya.

Begitu juga Anika Aslah (23), mahasiswa semester enam Jurusan Pendidikan Agama Islam STAIN Kudus mengaku tak mengetahui ada perpustakaan di dekat Alun-alun Kudus. Menurutnya, bangunan di dekat Toko Hasan Putra tampak seperti rumah, namun terlihat tak berpenghuni. “Kalau nongkrong dekat alun-alun jarang. Namun saat kebetulan lewat kayaknya tidak pernah buka,” jelasnya.

Pengurus Yayasan Perpustakaan Islam dan Penyiaran Ilmu Pengetahuan (YPI PIP) Udin (50) menuturkan yayasan yang mengelola perpustakaan dan santunan yatim piatu masih aktif sampai sekarang. Namun banyak yang mengira sudah tidak aktif. Dijelaskan, bangunan seluas 640 meter persegi tersebut berdiri di atas tanah wakaf melalui surat keputusan Bupati Kudus nomor: SDA 4/WKF/1975 tertanggal 15 Mei 1975.

“Perpustakaan ini perpustakaan umum tertua di Kudus. Dulu masih ramai, namun sejak muncul Google, Youtube dan aplikasi digital, perpustakaan mulai ditinggalkan,” tuturnya.

Dia mengakui, memang banyak yang tidak tahu ada perpustakaan di dekat Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Karena selain pengelolaan sekarang ala kadarnya, koleksi buku baru pun tak ada. Perpustakaan buka pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB, hari Jumat atau besar tutup. Di sini ada 3.000 lebih buku, terbitan buku tahun 80-an juga masih ada,” tambahnya.

Disebutkan, buku yang terdapat di perpustakaan didominasi  buku-buku agama Islam. Namun ada juga buku bacaan tentang filsafat, kesehatan, kependudukan, pertanian, ekonomi dan pelajaran umum lainnya. Dulu di Kudus saat hanya ada perpustakaan ini, seharinya sekitar 80 orang yang berkunjung. Namun lambat laun, pengunjung berkurang hingga sangat sepi di tahun 2010. “Paling kalau ada yang datang di suruh dosennya. Biasanya anak STAIN Kudus,” jelasnya.

- advertisement -

Meski Terjatuh dan Kakinya Sakit, Nawa Merasa Puas Bisa Nostalgia dengan Permainan Tradisional

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Ratusan orang tampak berkumpul di sudut lapangan Desa Rendeng, Kota, Kudus. Di tepi lapangan, terlihat seorang perempuan mengenakan kaus biru tua dengan jilbab hitam sedang memegangi kakinya. Sesekali dia teriak memberi semangat kepada temannya yang sedang bertanding permainan Gobak Sodor. Perempuan itu yakni Chusnawati Sa’idah (20), kakinya sakit karena terjatuh saat ikut bermain permainan Satu Langkah Satu Tujuan.

Permainan Gobak Sodor di Kudus 2017_3_11
Permainan Gobak Sodor di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Nawa begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang kakinya yang sakit karena terjatuh. Dia mengatakan, dirinya terjatuh karena permainan Satu Langkah Satu Tujuan. Dalam permainan tersebut dirinya harus menggunakan satu kaki dan butuh kerja tim. Saat itu timnya goyah saat mulai berjalan dan membuat semuanya terjatuh.

“Permainan tadi itu kakinya harus saling terkait, terus lompat-lompat sampai garis finish. Dan tadi tim kami jatuh, jadi kalah,” terang warga Desa Kaliputu, Kota Kudus itu, Jumat (10/3/2017) sore.

Meski kakinya sakit, Nawa mengaku merasa puas bisa bermain permainan tradisional yang sudah lama tidak dia mainkan. Dan terasa lebih istimewa karena dia bermain dengan teman-temannya Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Kudus. Menurutnya, saat ini banyak anak-anak yang tidak mengenal permainan tradisional.

“Saya sudah lama sekali tidak bermain permainan seperti ini, terutama Gobak Sodor itu. Saya rasa masih banyak permainan tradisional lain yang perlu kita lestarikan bersama-sama. Selain untuk berinteraksi sosial, itu menjadi warisan yang perlu kita jaga,” jelas anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Tak jauh dari tempat Nawa duduk, terlihat seorang pria mengenakan peci hitam membawa pengeras suara bersorak memberi semangat. Pria itu adalah Saiful Huda (21), Satu di antara 60 panitia kegiatan Festival Permainan Tradisional yang diselenggarakan oleh IPNU dan IPPNU Kudus. Dia menjelaskan kegiatan tersebut adalah bagian dari rangkaian kegiatan hari lahir IPNU dan IPPNU.

“Kegiatan ini adalah rangkaian kegiatan hari lahir IPNU dan IPPNU. Sebelumnya tanggal 20 Februari 2017 hingga 27 Februari 2017, kami ada lomba membuat meme, yang mendapat like paling banyak itu yang menang. Tanggal 27 Februari 2017 kami ziarah ke makam pendiri IPNU dan IPPNU Kudus. Kemudian tanggal 1 Maret 2017 kami melaksanakan tasyukuran dan sarasehan dengan alumni. Dan ini terakhir, Festival Permainan Tradisional,” jelas Huda sapaan akrabnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WIB hingga 18.00 WIB itu diselenggarakan oleh IPNU dan IPPNU Kudus. Peserta dalam kegiatan berjumlah kurang lebih sekitar 300 orang, yang terdiri dari sembilan pengurus anak cabang (PAC) IPNU dan IPPNU tingkat kecamatan. “Tadi ada tiga permaian, Gobak Sodor, Lari Bakiak, dan Satu Langkah Satu Tujuan,” ungkap warga Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus itu.

- advertisement -

Datang dari Surabaya, Sujono Santap Sate Kerbau Min Jastro di Kudus untuk Bernostalgia

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Beberapa mobil terparkir di depan warung sate kerbau Min Jastro yang terletak di Ruko Agus Salim, Getas Pejaten, Jati Kudus.  Di dalam warung terlihat beberapa orang lahap menyantap sate yang dihidangkan. Satu di antaranya Rikiem Sieng (59), yang mengaku menggemari sate kerbau di warung Min Jastro sejak masih SD hingga kini.

Sate kerbau khas Kudus Min Jastro 2017_3_11
Sate kerbau khas Kudus Min Jastro. Foto: Rabu Sipan

Seusai menyantap hidangannya, pria yang akrab disapa Rikiem itu sudi berbagi kesan tentang sate kerbau Min Jastro kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, meskipun sekarang sate Min Jastro dikelola cucu Jastro yang bernama Sunoto, namun rasa enaknya tetap sama. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap dan menyatu dengan daging.

“Karena mampu menjaga cita rasa yang tetap sama sejak dulu, aku masih berlangganan sejak SD sampai kini. Minimal sekali dalam sepekan, aku pasti datang ke warung Min Jastro. Pokonya sate kerbau Min Jastro jos gandos,” ungkapnya.

Hal senada juga diucapkan Sujono (58). Pria yang mengaku datang dari Surabaya ke Kudus khusus untuk bernostalgia dengan lezatnya sate kerbau Min Jastro. Dia mengatakan, menggemari sate kerbau Min Jastro sejak masih duduk di SD. Dulu dia berlangganan saat masih dirintis mendiang Min Jastro.

“Aku itu sebenarnya berasal dari Kudus, namun sejak 25 tahun yang lalu aku hidup di Surabaya. Dan setiap berkunjung di tanah kelahiranku, aku pasti menyempatkan untuk mencicipi sate kerbau Min Jastro. Selain mencicipi di warungnya, aku juga membeli buat oleh-oleh keluargaku yang di Surabaya,” ungkap Sujono yang mengaku membawa sekitar 90 tusuk untuk dibawa pulang ke Surabaya.

Pengunjung lain, Heru Usman (35), yang saat itu datang bersama istri dan anaknya, mengatakan, menyukai sate kerbau Min Jastro sejak beberapa tahun lalu. Sejak saat itu dia sering membeli sate kerbau di warung Min Jastro. Saking seringnya, dia mengaku tak ingat lagi berapa  kali membeli sate kerbau di warung tersebut.

“Selain datang ke warung sate kerbau Min Jastro bersama istri, aku juga terkadang datang bersama keluarga besar kami berdua. Bahkan terkadang juga bungkus untuk oleh-oleh untuk keluarga lain daerah,” ungkap pria yang akrab disapa Heru.

Menurut Sunoto (44), cucu mendiang Jastro, dia merupakan generasi ketiga sate kerbau Min Jastro. Dia mengungkapkan, selain makan di warung, para pelanggannya sering menjadikan sate kerbau miliknya sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan sahabat yang berada di lain daerah. Menurutnya, hal itu karena sate kerbau Min Jastro bisa bertahan hingga dua hari.

“Awetnya itu bukan karena obat kimia, tapi karena pembuatannya secara tradisional. Selain pernah dikirim ke beberapa daerah di Indonesia, sate kerbau Min Jastro pernah dikirim ke Singapura,” ungkap Totok begitu dia disapa.

- advertisement -

Inilah Keunggulan Mitsubishi New Merage, Mobil Perkotaan yang Irit dan Gesit

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Mobil berwarna merah dan wine red pearl, terpakir di antara Mitsubshi All New Pajero Sport serta Outlader Sport. Mobil yang memiliki ukuran panjang 3,5 meter dan lebar dan tinggi lebih 1,5 meter tersebut, tak lain Mitsubshi New Merage. Mobil ini diklaim hemat bahan bakar ketika dikendarai.

Mitsubishi Mirage Kudus 2017_3_11
Mitsubishi Mirage 2017 di diler Sun Star Motor, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Prio Adi Nugroho (31), Supervisor PT Sun Star Motor, sudi berbagi penjelasan tentang keunggulan yang dimiliki mobil tersebut. Dia menjelaskan, mobil yang berlambang tiga berlian itu didukung fitur Electronic Control Injection-Multi Point Injection (ECL-MPL ), sehingga pemakaian bahan bakar tergolong irit. Menurut Prio, dengan satu liter bahan bakar, mobil itu mampu menempuh jarak sejauh 24 kilometer.

“Kelebihannya, mobil ini lincah bermanuver, bumper depan staylish dan modern, tempat bagasi juga luas, suspensi nyaman, desain kursi maupun setir juga tergolong baru, dengan berbalut kulit yang berkualitas. Terlebih pentingnya, mobil ini terkenal irit, sehingga pas dalam mengatasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),” ungkap Prio waktu ditemui di Jalan AKBP Kusumadya 62, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.

Prio kelahiran Kebumen yang kini tinggal di Kota Semarang, ini melanjutkan, selian itu, pabrikan mobil asal Jepang tersebut sudah ditunjang sebuah fitur yang lebih lengkap. Seperti kunci mobil yang sudah dibekali fitur keyless operating system, tombol pembuka dan pengunci otomatis, kaca sepion dapat dilipat secara otomatis, serta fitur yang berupa rear parking sensor. Mitsubishi New Mirage juga dibekali sebuah tombol start maupun stop mesin pada saat mengoperasikan kendaraan.

“Semua fitur lengkap, sangat cocok bagi kalangan anak muda yang ingin mengeksplorasi gaya hidup. Terkait dengan varian warna juga banyak, ada warna merah, hitam, abu-abu, dan juga ada warna putih maupun warna merah keunguan yang sekarang banyak diminati customer,” ujar prio yang mengenakan pakaian warna putih berdasi dan celana panjang hitam.

Dia mengatakan, harga yang ditawarkan bagi setiap konsumen sangat beragam, tergatung tipe serta cara pengoperasian mobil. Seperti New Mirage Exceed 1.2 AT (Automatic Transmission) dijual seharga Rp 206,5 juta, GLX 1.2 AT dijual dengan harga Rp 186,5 juta dan untuk GLX 1.2 MT (Manual Transmission) dijual sedikit lebih murah yakni Rp 174 juta. “Untuk mobil tetap mengandalkan tipe mesin DOHC MIVEC berkapasitas 1.193 cc,” ujarnya.

Prio yang hampir satu tahun menjabat sebagai supervisor, menambahkan, pelanggan yang membeli di diler yang akrab disebut Sun Motor Kudus kebanyakan dari wilayah Kudus. Tak jarang pembeli juga ada yang dari wilayah Jepara, Pati, Grobogan, Rembang maupun Demak. “Kalu penjualan, khusus pembelian mobil New Mirage berkisar antara 8 hingga 9 unit mobil per bulan,” tambahnya.

- advertisement -

Perpustakaan Umum Pertama di Kudus Riwayatmu Kini . . .

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Tepat di selatan Masjid Agung Kudus, terdapat bangunan dengan tembok depan berwarna putih berpadu dengan warna hijau. Bangunan ini hanya satu lantai, dengan tiga pintu di sisi depan. Terdapat papan nama putih tertulis Yayasan Perpustakaan Islam dan Penyiaran Ilmu Pengetahuan (YPI PIP) Jalan Simpang Tujuh Nomor 03, Kudus. Tempat tersebut merupakan perpustakaan umum pertama dan tertua di Kudus.

Koleksi buku perpustakaan pertama di Kudus 2017_3_11
Koleksi buku perpustakaan pertama di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat pintu utama sudah terbuka, hingga pukul 12.00 WIB kondisinya masih sepi. Hanya ada beberapa petugas pertamanan yang keluar masuk dari bangunan tersebut. Menurut Pengurus YPI PIP Udin (50), perpustakaan yang dikelolanya adalah perpustakaan tertua di Kudus. Menurutnya, perpustakaan tersebut didirikan tahun 1975 melalui surat keputusan Bupati Kudus nomor: SDA 4/WKF/1975 tertanggal 15 Mei 1975.

“Perpustakaan ini merupakan perpustakaan umum pertama, dan tertua di Kudus. Karena dekat dengan Alun-alun, dulu sangat ramai sekali,” ungkap Udin kepada Seputarkudus.com, saat ditemui di perpustakaan beberapa waktu lalu.

Dia menceritakan, sejak berdiri tahun 1975, dulu setiap hari ada sekitar 80 orang lebih berkunjung ke perpustakaan. Tidak hanya masyarakat umum saja, kalangan mahasiswa dan dosen pun banyak yang membaca koleksi yang hampir berjumlah 3.000 buku. Menurutnya, saat itu  masih ada kampus Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman (Undaris) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus saat masih di Gang Empat.

“Banyak buku-buku tua di sini. Koleksi sebelum tahun 1980 pun masih tersimpan. Bukunya tentang sejarah, agama dan ada juga umum,” tambah Udin sambil duduk di tangga masuk.

Selain untuk perpustakaan, bangunan seluas 640 meter persegi juga menjadi tempat pemberian santunan anak yatim piatu di Kudus. Dia masih ingat, dulu ada sekitar 400 anak yatim yang setiap tahun mendapat santunan dari yayasan perpustakaan ini. Anak-anak yang diberi santunan setingkat SD dan SMP. “Donaturnya sangat banyak. Rata-rata angkatannya Pak Nawawi Jambu Bol,” tambahnya sambil menata topi yang dikenakannya.

Waktu terus berjalan, pengurus yayasan tak bisa menghidari masa senjanya, termasuk dirinya. Udin mengatakan, pengurus pun akhirnya mengelola perpustakaan itu sebisanya. Beberapa bangunan banyak yang lapuk, buku-buku tidak terawat dan santunan anak yatim sudah tiada. Tidak ada lagi donatur yang menyumbang untuk kegiatan santunan anak yatim piatu maupun perawatan perpustakaan.

“Sudah tidak ada buku baru di perpustakaan ini. Dari donatur tidak ada, apa lagi dari pemerintah. Harapan kosong saja,” ungkapnya dengan menghela nafas.

Yayasan yang didirikan oleh Dr Yainuri Koshim, dalam buku pengunjung terakhir tertulis tanggal 20 Desember 2015. Menurut Udin sekitar tahun 2010 pengunjung yang datang sudah mulai berkurang. Menurutnya, hal tersebut disebabkan buku yang ada tidak ada yang baru, dan fasilitas yang kurang terawat. Secara pribadi dirinya mengaku mau merawat perpustakaan karena ada panggilan hati untuk berbagi ilmu.

“Sebisanya saya akan berusaha agar buku-buku yang ada di perpustakaan dapat terjaga dengan baik. Sejak ramainya Google dan Youtube, jarang sekali orang yang datang ke perpustakaan. Karena zaman sekarang lebih enak yang instan,” tuturnya.

Selain menjadi perpustakaan dan santunan anak yatim, tempat yang dibuka pada pukul 08.00 WIB sampai 13.00 WIB dan tutup hari Jumat serta hari besar, menurutnya dulu juga untuk konsultasi skripsi dan kegiatan seminar. Selama ini juga masih ada yang datang, biasanya dari mahasiswa STAIN Kudus. Mereka mau datang karena memang diperintah oleh dosennya.

“Pernah ada yang datang tak tanya, kok tidak cari di Google saja kan lebih lengkap. Jawabnya disuruh dosennya,” tuturnya sambil tertawa.

- advertisement -

Berkat Dorongan Istri, Sutomo Buka Bengkel Cat Duco, 20 Mobil Masuk Bengkel Tiap Hari

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di tepi selatan Jalan Cut Nyak Dien Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus, tampak pagar seng dengan gerbang terbuka. Di dalamnya terlihat 10 unit mobil dengan berbagai bentuk dalam proses pengecetan. Di tempat tersebut tampak pula seorang pria memakai topi, sedang berbicara kepada para pelanggan. Pria itu bernama Sutomo (36), pemilik usaha Bengkel Cat Duco, menerima perbaikan dempul dan cat mobil.

Bengkel cat di Kudus 2017_3_10
Bengkel cat dan dempul Cat Duco di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut Sutomo sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, Bengkel Cat Duco tersebut dia rintis sejak 2008. Dia mengatakan, membuka usaha setelah dirinya tidak ada kecocokan dengan bosnya. Karena ketidak cocokan tersebut, dia mengaku selalu di dorong istrinya untuk membuka usaha sendiri.

“Selain mendorong untuk membuka usaha, istriku juga selalu memberi semangat dan pemahaman bahwa hidup itu jangan takut gagal. Istriku juga berkata, kerja juga sudah tidak cocok lagi, mending buka usaha sendiri,” ungkap Sutomo, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Wergu Wetan, Kota, itu mengungkapkan, selain istrinya beberapa pelanggannya yang selalu mempercayakan penegcatan mobil mereka pada Sutomo juga mendorong untuk membuka usaha sendiri. Karena banyak dorongan terutama dari istrinya, Sutomo mengaku nekat membuka usaha dengan modal menjual mobil carry butut.

“Saya jual mobil bututku, dan laku Rp 18 juta. Ditambah tabungan sebesar Rp 4 juta, aku membuka bengkel ini. Namun karena tempatnya terlalu sempit dan tidak muat mobil banyak, lalu aku memutuskan pindah di tempat yang sekarang,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, sejak membuka usaha dengan tempat yang luas, usahanya tersebut langsung ramai pelanggan. Menurutnya, sehari tak kurang dari 20 unit mobil yang selalu menanti untuk perbarui catnya. Meskipun sebenarnya dia bersama rekan pekerjanya hanya mampu menyelesaikan pengecatan empat unit mobil sehari.

“Meskipun sehari hanya mampu menyelesaikan empat unit mobil saja, namun para pelanggan seolah tak mau tahu. Menunggu tidak apa-apa kata mereka, yang penting aku yang mengerjakan pengecatannya. Bahkan saking banyak antrean mobil, aku bersama rekan pekerjaku sampai kewalahan dan jarang istirahat,” tuturnya.

Sutomo menambahkan, selain hasilnya bagus, biaya pengecatan di bengkelnya juga sangat murah. Karena dia berprinsip mendapatkan untung sedikit tidak apa-apa, yang penting lancar. Menurutnya harga pengecatan untuk cat mobil yang lecet mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu, tergantung bahan cat yang digunakan, sedangkan untuk pengecatan ulang seluruh bodi mobil dihargai Rp 1 juta.

Sutomo Mengatakan, bengkelnya tersebut buka Senin sampai Sabtu, mulai pukul 8.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Dia dibantu sekitar tujuh orang untuk menggarap pengecatan. “Untuk lama pengerjaan pengecatan, biasanya aku memberi tenggat waktu dua hari saat ramai pelanggan,” ucapnya.

- advertisement -

Gara-gara Hobinya Main Basket, Ibu Jari Mahasiswi FKIP UMK Ini Pernah Nyaris Diamputasi

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan mahasiswa nampak menyaksikan serunya pertandingan basket di lapangan olahraga Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (9/3/2017) sore. Ditengah lapangan, sejumlah perempuan mengenakan seragam berwarna biru dan merah sedang bertanding. Seorang perempuan berseragam biru terlihat lincah mendribel bola. Meski beberapa kali dijatuhkan lawan dia tetap bangkit lagi.

Pemain basket di Kudus 2017_3_10
Ragelina Indah Setyowati (paling kanan) sesuai menjalani pertandingan basket. Foto: Ahmad Rosyidi

Perempuan itu yakni Ragelia Indah Setyowati (20), mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK. Kepada Seputarkudus.com, dia sudi berbagi kisah tentang pengalamannya mengikuti olahraga basket. Dia mengatakan, ibu jarinya sempat hampir diamputasi karena infeksi. “Waktu itu saya sedang mengikuti pertandingan basket lupa memotong kuku. Diperiksa wasitnya disuruh motong kuku, karena buru-buru jadi ibu jari saya terluka. Kemudian infeksi sampe beberapa bulan,” terangnya usai menjalani laga dalam kejuaraan basket di UMK, kemarin.

Ragel, begitu perempuan itu akrab disapa, mengaku sempat takut karena lukanya tak kunjung sembuh. Dia sudah ke dokter untuk mengobati lukanya, tetapi masih belum sembuh. Kemudian, ibu jari yang sudah bernanah itu dipencet kakaknya, hingga nanahnya keluar. Perlahan, ibu jarinya itu sembuh.

“Tak ada pilihan lain, saya pasrah saja dipencet sekeras-kerasnya oleh kakak saya. Lagi pula bapak saya bilang, bisa diamputasi kalau nanahnya tidak bisa keluar, jadi saya takut. Waktu ibu jari saya masih sakit, karena tim saya kekurangan pemain jadi saya tetap ikut bertanding, tapi akhirnya kalah,” ungkap anak terakhir dari dua persaudara itu sambil tertawa.

Ragel mengikuti olahraga basket sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 2 Kudus. Dia mengikuti ekstrakurikuler olahraga basket karena dia merasa perempuan tomboy. Selain basket, Ragel juga ikut futsal, voli, dan badminton. Dari sejumlah olahraga yang diikuti, basket menjadi olahraga yang paling disukainya. Dia juga pernah mewakili Kudus lomba basket antar pelajar tingkat Karesidenan Pati.

“Saya paling suka basket, alhamdulillah ini tadi tim basket putri FKIP UMK bisa menang dan melaju ke final. Saya tidak memikirkan angka, yang penting saya melakukan yang terbaik dan bermain bagus,” terang warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu usai bertanding.

Tak lama seusai pertandingan, nampak seorang pria membawa kamera ditepi lapangan. Dia adalah Ketua Panitia Pekan Olahraga Mahasiswa UMK, Sugiarto (22). Dia mengungkapkan, kegiatan yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga UMK itu berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 9 Maret 2017 hingga hingga 12 maret 2017. Dia juga merinci sejumlah lomba dalam kegiatan tersebut.

“Ada lomba badminton ganda putra dan putri, basket putra dan putri, futsal putra dan putri, serta voli putra dan putri. Peserta kegiatan ini adalah perwakilan dari setiap Fakultas di UMK. Dan juaranya nanti mendapat piala, piagam, dan sejumlah uang pembinaan,” jelas atlet karate itu.

- advertisement -

Suzuki New Ertiga 2017, Mobil Berbodi Monokok yang Diklaim Mewah dan Nyaman untuk Keluarga

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Enam unit kendaraan roda empat terlihat terpakir rapi di dalam diler resmi Suzuki, Remaja Motor, tepatnya di Jalan Jendral Sudirman, Dersalam, Bae, Kudus. Tiga di antara Suzuki New Ertiga. Tidak jauh dari tempat parkir kendaraan, tampak seorang pria mengenakan pakaian warna biru kombinasi abu-abu sedang duduk sambil berbincang dengan seorang wanita. Pria tersebut tak lain M Khairul Anam (29), Sales Marketing PT Remaja Adidaya Motor.

Suzuki New Ertiga di diler Remaja Motor Kudus
Suzuki New Ertiga di diler Remaja Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Anam sudi berbagi penjelasan tentang penjualan produk Suzuki New Ertiga di diler tempat dirinya bekerja. Dia mengatakan, Ertiga merupakan produk Suzuki yang mendominasi penjualan. Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Anam sudi berbagi penjelasan kepada tentang keunggulan mobil tersebut.

Baca juga: Wow, Beli Carry Pikap di Remaja Motor Bisa Dapat Satria FU

Dia menjelaskan, mobil dengan kapasitas tujuh penumpang itu dibekali keunggulan yang terakomodir dengan slogan aman, mewah, irit, dan nyaman (Amin).

“Khusus kendaraan penumpang, penjualan kebanyakan didominasi Suzuki New Ertiga dengan angka penjualan 25 unit per bulan. Keunggulan yang dimiliki tergabung menjadi satu, yaitu Amin. Aman untuk dikendarai, interior, fitur maupun desain mewah, irit bahan bakar dan nyaman bagi penumpang. Kalau dilihat dari keunggulannya, mobil ini sangat cocok bagi keluarga,” ungkap Anam saat ditemui di diler resmi Suzuki, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, terlihat didalam ruangan kerja seorang pria sedang duduk sambil sesekali tangannya menulis di atas kertas. Dia adalah Sutikno Sijono (57), Branch Manager PT. Remaja Adidaya Motor. Dia memberitahukan, keunggulan lain yang dimiliki New Ertiga terletak pada bagian bodi yang monokok. Menurutnya, dengan bodi monokok getaran kendaraan sewaktu dikendarai menjadi lebih halus.

Dia melanjutkan, untuk meningkatkan penjualan, langkah yang dilakukan pihaknya berbagai cara. Misalnya seperti melakukan pameran di mall, test drive, memberikan program gratis kaca film serta mendapatkan motor Suzuki Satria FU setiap pembelian mobil Ertiga. “Seperti saat ini, setiap pelanggan yang membeli Suzuki New Ertiga, kami beri satu unit motor Satria FU. Promo berlaku sampai akhir Maret 2017,” ujarnya.

Pria berkumis yang mengenakan pakaian warna coklat itu menambahkan, harga yang ditawarkan setiap unit Ertiga berbeda-beda, tergantung tipe dan cara pengoperasian mobil yang dibeli. Dia merinci, Ertiga GL M/T dia jual seharga Rp 206,5 juta, Ertiga GL A/T dengan harga Rp 219,5 juta, Ertiga GX M/T seharga Rp 219 juta, Ertiga GX A/T Rp 231 juta, Ertiga Dreeza GS M/T seharga Rp 240 juta, sedangkan Ertiga Dreeza GS A/T dia jual dengan harga Rp 253 juta.

“Untuk pelanggan kami kebanyakan dari wilayah Karesidenan Pati. Warna yang paling dominan terjual ada putih, silver dan hitam. Terkait dengan sistem pembelian, semua bisa dilakukan dengan cara tunai maupun berupa kredit bulanan. Kami juga menyediakan bengkel yang melayani perbaikan pada mobil,” tambahnya.

- advertisement -

PMI Kudus Menunda 5 Siswa SMA 1 Bae yang Akan Melakukan Donor Darah, Ada Apa?

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMA 1 Bae, Kudus, tampak seorang perempuan mengenakan baju batik sedang sedang mengkur tensi darah siswa, Rabu (8/3/2017) pagi. Selain itu dirinya juga mengetes golongan darah siswa tersebut. Perempuan itu tak lain adalah Kepala Humas Palang Merah Indonesia (PMI) Kudus, Praptiningsih (50). Menurutnya, PMI Kudus telah menunda sekitar lima siswa di sekolah tersebut yang hendak mendonorkan darahnya.

Donor darah untuk menambah stok di Kudus 2017_3_10
Donor darah untuk menambah stok di Kudus. Foto Ahmad Rosyidi

Prapti, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada seputarkudus.com, tentang penundaan tersebut. Penundaan itu dilakukan pada pendonor bergolongan darah AB. Menurutnya, stok golongan darah AB di PMI masih cukup banyak. Prapti memilih menunda karena dia khawatir darah yang didonorkan bisa kedaluwarsa. Karena darah simpan di PMI hanya mampu bertahan selama 35 hari.

Baca jugaRicky Berteriak Saat Melihat Jarum Suntik, Setelah Darah Mengalir Dia Justru Merasa Geli

“Kami lebih memilih menunda pendonor dengan golongan darah AB, karena dalam dua pekan ini jarang dibutuhkan dan persediaan masih cukup banyak. Lebih baik kami tunda, daripada nanti darahnya expired kalau tidak digunakan selama 35 hari. Sekarang kebetulan AB lebih jarang dibutuhkan,” terang ibu empat anak itu.

Meski Prapti menunda sekitar kurang lebih 5 siswa yang golongan darahnya AB, dia mengungkap masih ada 56 siswa sekolah menengah atas (SMA) Bae, Kudus yang bisa ikut mendonorkan darahnya. Kegiatan donor darah yang dilakukan di SMA 1 Bae, Kudus itu menjadi kegiatan rutin PMI Kudus. “Ini kegiatan rutin kami yang bekerjasama dengan pihak sekolah. Biasanya setiap tiga bulan sekali, tetapi kalau ada halangan ya bisa mundur,” ungkap warga Desa Purwosari, Kota Kudus itu.

Darah yang didonorkan, kemudian akan diuji agar diketahui pendonor dalam keadaan sehat atau tidak. Jika ditemukan penyakit misalnya Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, Sifilis atau Malaria, pendonor akan diberi surat tentang hasil uji darahnya. Agar pendonor tahu dan melakukan proses pemeriksaan, serta perawatan lebih lanjut.

Perempuan yang sudah hampir 30 tahun bekerja di PMI Kudus itu juga merinci jumlah setok darah di PMI Kudus yang masih tersedia. “Persediaan yang kami miliki saar ini, untuk golongan darah A ada 210 kantong, B 171 kantong, AB 83 kantong, dan O 210 kantong. Selain itu juga ada darah yang masih dikarantina, ada 33 kantong. Darah karantina yaitu darah yang belum diperiksa,” jelasnya.

- advertisement -

Jatuh Bangun Merintis Aneka Usaha, Chafi Akhirnya ‘Berjodoh’ Dengan Barang Bekas

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di tepi selatan Jalan Cut Nyak Dien, Desa Jepang Pakis, Kecamatan jati, kudus tampak beberapa barang kusam memenuhi area yang luasnya sekitar 800 meter persegi. Di dalam area tersebut tampak seorang pria memakai baju lengan pendek berwarna hitam sedang mengobrol dengan para calon pembeli. Pria tersebut bernama Chafi (50) pemilik usaha jual beli barang bekas.

Kisah Sukses Chafi membangun usaha barang bekas
Kisah Sukses Chafi membangun usaha barang bekas. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pelanggan Chafi sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, membuka usaha jual beli barang bekas sejak mulai tahun 1997. Pada tahun tersebut dia mengaku mempunyai usaha jual beli onderdil motor di daerah Jember, Kudus. Menurutnya, usahanya tersebut lumayan laris dan menjadi tujuan banyak orang yang memerlukan atau menjual aneka spare part motor.

Baca juga: Tempat Jual Beli Barang Bekas di Jepang Pakis Ini Diklaim Terlengkap di Kudus

“Meskipun usaha jual beli onderdil sepeda motorku ramai pembeli, saat itu aku ingin melebarkan usaha. Pada tahun 1998 aku mewujudkan impianku dengan membuka jual beli dinamo bekas di tepi Sungai Gelis. Dan Alhamdulillah saat itu aku lagi mujur  hingga usahaku itu pun cepat dikenal orang dan banyak pembeli,” ungkapnya.

Pria warga Kelurahan Wergu Kulon, Kota, Kudus itu mengatakan, setelah dua usahanya itu berkembang sesuai keinginannya. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 2000, dia mengaku menangkap peluang usaha pengecatan sepeda motor dan mobil. Dan dipilihlah tepi Jalan Johar dekat dengan pasar Johar Kudus untuk membuka bengkel pengecatan untu dua jenis kendaraan tersebut.

“Usaha pengecatan motor dan mobil sebenarnya muncul karena aku sering melihat para pemilik kendaraan yang suka mengganti warna motor maupun warna cat mobil mereka. Apalagi para anak muda yang selalu ingin terlihat keren,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, usaha bengkelnya tersebut juga mengalami kemajuan dan banyak memiliki pelanggan. Bahkan kata dia, untuk mengerjakan aktifitas pengecatan dirinya mempekerjakan sebanyak delapan orang. Dan dalam sehari di bengkelnya tersebut bisa menyelesaikan pengecatan delapan unit mobil.

Menurutnya, karena memiliki tiga usaha tersebut dia tidak bisa stand by di satu tempat. Dan dirinyapun mempercayakan ke tiga usaha kepada orang  – orang terdekat. Namun justru itulah awal sumber masalah. Karena kurangnya tanggung jawab akhirnya tiga usahanya bangkrut dan tutup semua.

“Mungkin benar kata orang bijak bahwa roda kehidupan itu berputar. Dan mungkin saat itu aku lagi berada di bawah, hingga tiga usaha yang aku rintis bangkrut dan tutup,” tuturnya.

Setelah tiga usahanya tutup, dengan modal yang tersisa, Chafi membuka rumah makan di tempat yang sekarang dibuat usaha jual beli barang bekas. Namun memang dasarnya apes usaha rumah makannya yang dibuka empat tahun yang lalu itu pun bangkrut dan hanya bertahan selama dua tahun saja.

Pada saat itu dia mengaku sudah tak punya apa – apa lagi. Dia juga merasa pusing karena saat itu anaknya juga masih kecil. Akhirnya dengan nekat dan ijin istri, Chafi membuka usaha jual beli barang bekas dengan hanya bermodalkan perabotan rumah makan.

“Aku bersukur dengan modal nekat dan pengalaman di bidang jual beli usaha barang bekas yang pernah aku tekuni dulu, kini usahaku sudah berkembang. Setiap hari selalu ramai pembeli, dan aku juga sudah memiliki banyak pelanggan,” ungkapnya.

 

 

- advertisement -

Tempat Jual Beli Barang Bekas di Jepang Pakis Ini Diklaim Terlengkap di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Beberapa orang tampak memilah barang barang yang berada di tepi Jalan Cut Nyak Dien Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka mengamati secara seksama dan teliti mencari barang yang mereka inginkan. Tempat tersebut yakni tempat jual beli barang bekas Putra Kudus, yang diklaim terlengkap di Kota Kretek.

Tempat jual beli barang bekas terlengkap di Kudus 2017_3_9
Tempat jual beli barang bekas terlengkap di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Chafi (50), pemilik usaha tersebut mengungkapkan, usaha yang dia rintis sejak dua tahun lalu itu memang terbilang lengkap. Meskipun awalnya hanya bermodal perabotan warung makannya yang telah tutup, tapi berkat banyak kenalan dan pengalaman sekarang barang bekas yang dimilikinya hampir memenuhi tanah seluas 800 meter persegi.

“Untuk melengkapi stok barang bekas, aku memang kerjasama dengan beberapa temanku yang berada daerah lain. Mereka percaya padaku dan sudi menaruh barang bekasnya untuk aku jual dengan sistem pembayaran di belakang dan bisa aku angsur. Kalau tidak dibantu mereka mungkin barangku masih sedikit,” ujarnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, dia bersama temannya sesama pelaku usaha barang bekas daerah lain hanya mengandalkan kepercayaan dalam menjalin kerjasama. Menurutnya, tak jarang juga dirinya dan para temannya saling bertukar barang untuk dijual tempat masing-masing.

“Sebenarnya hanya bertukar tempat penjualan saja. Saat barang bekas jenis tertentu tidak begitu laku di Kudus biasanya aku titipkan temanku untuk dijual di daerah lain, begitu juga sebaliknya. Dan saat barangku laku terjual aku juga berhak mendapatkan keuntungan,” jelasnya.

Di tempat penjualan barang bekas tersebut tampak berbagai macam barang dari berbagai jenis, mulai dari perabotan rumah tangga, peralatan proyek, alat elektronik, peralatan berdagang, hingga brankas serta barang antik. “Pokoknya barangnya lengkap dan apa yang dicari pasti ada di lapakku. Kalau tidak ada pesan saja pasti aku menyanggupi untuk mencarikan barang tersebut. Dan tak jamin aku mampu mencarikan barang yang dipesan,” ungkapnya.

Menurutnya selain lengkap, barang bekas yang dijual juga harganya sangat terjangkau. Mulai dari harga Rp 1 ribu termurah dan yang paling mahal hanya kisaran Rp 1 juta. Karena harga yang terjangkau itu, Chafi mengaku sudah memiliki banyak pelanggan, tidak hanya di Kudus, melainkan juga seluruh Karesidenan Pati, bahkan ada yang dari Jakarta.

Dia mengungkapkan, dari penjualan barang bekas tersebut Chafi mengaku bisa mendapatkan omzet tak kurang dari Rp 1 juta sehari. Menurutnya hasil tersebut saat sepi, dan saat ramai bisa lebih banyak lagi. “Apalagi waktu ada pelanggan yang beli barang yang satunya berharga Rp 1 juta, bisa tambah banyak lagi omzetku,” ungkap Chafi yang mengaku tempatnya tersebut buka setiap hari.

- advertisement -

Wow, Beli Carry Pikap di Remaja Motor Bisa Dapat Satria FU

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Deretan mobil terpakir dibelakang diler resmi Suzuki Remaja Motor, Jalan Jendral Sudirman, Dersalam, Bae, Kudus. Mobil itu terlihat terbagi menjadi tiga varian warna, di antaranya putih, silver dan hitam. Mobil yang memiliki ukuran panjang sekitar 3,5 meter itu tak lain Suzuki New Carry Pick Up. Setiap pembelian mobil tersebut, pelanggan berhak menerima hadiah berupa satu unit motor Suzuki Satria FU.

Suzuki New Carry di Remaja Motor Kudus 2017_3_9
Suzuki New Carry Pick Up di Remaja Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari sesekali mengangkat telpon dari calon pembeli, M Khairul Anam (29), Sales Marketing PT Remaja Adidaya Motor, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang hadiah yang diberikan tersebut. Anammenjelaskan, hadiah itu bagian dari langkah meningkatkan penjualan, khususnya pada mobil komersial yang dibekali kapasitas muatan maksimum 1,8 ton tersebut. Menurut dia, pemberian hadiah dilakukan sejak awal Januari dan berlaku hingga akhir Maret 2017.

“Ini untuk mendongkrak penjualan, kami memberikan intensif hadiah berupa satu unit kendaraan roda dua Suzuki Satria FU. Hadiah ini kami berikan bagi setiap pembelian mobil Suzuki New Carry Pick Up, baik tipe Flat Deck maupun Wide Deck. Misal pembeli tidak mau menerima pemberian hadiah yang kami berikan, dia bisa menukarkan dengan cashback,” ungkap Anam waktu ditemui di Jalan Jendral Sudirman, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus.

Pria yang menamatkan pendidikan di Universitas Wahid Hasyim Semarang, ini mengatakan, harga yang ditawarkan bagi setiap pembeli berbeda-beda, tergantung tipe mobil pikap yang dibeli. Untuk Futura PU FD dijual seharga Rp 127 juta, sedangkan Futura PU WD dijual sedikit lebih mahal dengan harga Rp 128 juta. “Perbedaannya, tipe WD kapasitas bak lebih luas dari FD. Info lebih jelasnya bisa langsung menghubungi saya di 085866338871,” ujar Anam yang mengenakan pakaian warna abu-abu kombinasi biru.

Sementara itu, Didik Purnomo (43), Supervisor PT. Remaja Adidaya Motor, memberitahukan, keunggulan yang dimiliki pabrikan asal Jepang tersebut, katanya, sangat banyak. Satu di antaranya kapasitas slinder 1.493 cc dengan mengusung mesin bertipe G15A, multi point injection, tenaga maksimum 78,8 PS dan dibekali torsi 120 Nm. “Yang lebih pentingnya, Harga jual kembali mobil tetap tinggi dan sangat cocok bagi kalangan usaha,” ungkap Didik.

Pria yang bertempat tinggal di perumahan Griya Harapan, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, ini menambahkan, diler tempat dia bekerja buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga 18.00 WIB. Khusus pelayanan bengkel dan suku cadang buka mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, tapi di hari Minggu pelayanan tutup. Menurutnya, selain memberikan hadiah berupa motor, dia juga memberikan promo lain berupa uang muka dan angsuran setiap bulan yang terjangkau.

“Untuk DP dan angsuran kami sangat murah, sebulan Rp 3 juta. Kalau masalah penjualan, setiap bulan kami bisa menjual 80 hingga 90 unit mobil semua varian. Untuk mobil pikap paling kisaran 25 unit per bulan yang terjual,” ungkap Didik yang mengenakan pakaian warna hijau.

- advertisement -

Polres dan Djarum Bangun Taman Lalu Lintas, Di Sana Anak-Anak Bisa Bermain dan Belajar Berlalu Lintas

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Adukan semen terlihat disiapkan di barat tenda putih kawasan Taman Hutan Kota Rendeng Jalan Mayor Kusmanto, Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus. Di depan tenda juga tampak lubang dan beberapa bongkahan batu. Lubang tersebut digunakan untuk peletakan batu pertama pembangunan Taman Lalu Lintas.

eletakan batu pertama Taman Lalu Lintas Kudus
Peletakan batu pertama Taman Lalu Lintas Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di lokasi tersebut, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kudus AKBP Andy Rifa’i dan Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji, terlihat mengobrol. Tampak pula perwakilan Kodim 0722 Kudus dan beberapa pejabat pemerintah Kabupaten Kudus. Selain itu juga ada sejumlah anak dari TK Bhayangkari Kudus.

Selang beberapa saat, Andy Rifa’i mengawali peletakan batu pertama pembangunan Taman Lalu Lintas. Setelah itu secara bergantian FX Supanji dan sejumlah pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memasang batu dan adonan semen.

Menurut Andy, pembangunan Taman Lalu Lintas diprakarsai Polres Kudus bekerja sama dengan Djarum Kudus. Taman tersebut dibangun untuk sarana bermain anak, yang di dalamnya terdapat fasilitas pendidikan lalu lintas.

“Taman hutan kota akan dibuat layaknya jalan raya, lengkap dengan rambu-rambu lalu lintas. Ini sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk belajar berdisiplin lalu lintas,” ungkap Andy kepada wartawan, Rabu (8/3/2017).

Dia melanjutkan, saat anak-anak sudah terbiasa dengan rambu-rambu lalu lintas di taman tersebut, mereka akan lebih mudah memahami fungsinya kelak setelah mereka dewasa. “Harapan kami, pada saat nanti mereka dewasa mereka sudah paham,” tambahnya.

Taman seluas 5.340 meter persegi, menurut ketua pembangunan FX Supanji, idenya muncul dari Kapolres Kudus. Dirinya kemudian menyampaikan ide kepada Victor Rachmat Hartono selaku President Director Djarum Foundation. Ide tersebut mendapat tanggapan positif, dan kemudian direalisasikan.

Menurutnya, nilai edukasi yang ada pada Taman Lalu Lintas akan sangat mengena terhadap anak. Dampak positif selain kedisiplinan yang tertanam pada diri anak, juga akan menjalar pada orang di sekelilingnya. Anak tersebut akan mengingatkan orang tuanya saat melakukan pelanggaran lalu lintas.

Sementara itu, Yuna Arnika (32), orang tua siswa TK Bhayangkari Kudus yang turut hadir dalam acara tersebut, mengaku sangat mendukung dibangunnya Taman Lalu Lintas tersebut. Menurutnya, taman itu bisa memberikan pendidikan berlalu lintas bagi anaknya. “Pasti nanti saya akan ajak anak saya ke sini terus. Karena penting juga untuk pendidikannya,” ungkap warga Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo.

- advertisement -