Beranda blog Halaman 1914

Ditanya Penyandang Disabilitas, Ganjar ‘Lempar’ Mikrofon ke Bupati Musthofa

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Deretan kursi peserta Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrembangwil) eks Karisidenan Pati terlihat berjajar menghadap ke utara. Ratusan peserta tersebut berhadap-hadapan dengan kursi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jawa Tengah di aula Pendapa Kabupaten Kudus. Mereka terlihat saling memberi tanggapan tentang kebutuhan masyarakat.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam Musrenbangwil eks Karesidenan Pati
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam Musrenbangwil eks Karesidenan Pati

Di antara peserta yang hadir yakni Indriyati perwakilan dari Himpunan Wanita Distabilitas Indonesia (HWDI) Cabang Kudus. Wanita berkerudung ungu dan mengenakan kaca mata tersebut terlihat berbasa-basi mengusulkan permasalahan para distabilitas di Kudus.

Dirinya menuturkan, selama ini tidak adanya fasilitas khusus untuk para penyandang distabilitas di tempat umum. Selain itu di Kudus juga tidak ada pelatihan untuk penyandang distabilitas memalalui Balai Latihan Kerja (BLK) di Kudus. “Masa kita harus ke Semarang terus?” tuturnya yang duduk di kursi deretan tengah.

Mendengar hal tersebut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sontak memberikan mikrofon yang dipegangnya epada Bupati Kudus Musthofa. Mustofa hanya bilang siap nanti akan diaktifkan. Mendengar pernyataan Musthofa, peserta yang hadir tertawa dan bertepuk tangan.

Selanjutnya Indriyati juga meminta agar para penyandang distabilitas yang kurang mampu diberikan kartu sehat. Mustofa yang masih memegang mikrofon segera menjawab tinggal membawa BPJS atau KTP maupun Surat Keterangan bisa langsung dilayani. Menurutnya hanya dengan stempel jempolnya masyarakat yang tidak mampu bisa mengakses layanan kesehatan gratis.

“Kalau itu kami sudah tahu lama pak. Maksudnya minta bentuk kartunya biar terlihat resmi,” tambah Indriyati yang lagi-lagi mengundang tawa.

Bupati Kudus Musthofa hanya bisa mengiyakan dan segera untuk dipenuhi. Dirinya menuturkan, hanya stempel jarinya saja bisa supaya lebih mudah, mengapa harus dilakukan lebih ribet.

Indriyati juga mengungkapkan Surat Izin Mengemudi (SIM) D yang dibuatnya tidak kunjung jadi. Dikatakan sudah sekitar dua bulan SIM-nya belum diberikan. Dirinya mengaku sudah melakukan tes dan dinyatakan lulus. Namun entah mengapa SIM-nya bersama 25 difabel lainnya belum kunjung jadi. “Sebenarnya sudah ada yang jadi hanya tiga orang,” tambahnya.

Selanjutnya, Indriyati juga meminta agar diberikan bantuan permodalan bagi para para penyandang distabilitas. Menurutnya selama ini pihaknya meminjam nama adiknya untuk meminjam uang di leasing karena merasa kesulitan dalam mengajukan peminjaman modal. Ganjar sontak langsung memanggil pihak Bank Jateng dan disuruh menjelaskan.

Perwakilan Bank Jateng menuturkan, pihaknya bisa meminjamkan modal untuk para penyandang distabilitas. Menurutnya, jika nanti ada yang mengajukan dirinya mempersilakan mengajukan di kantor Bank Jateng pusat maupun kantor cabang yang ada di Kudus.

“Caranya nanti minta surat rekomendasi dari desa tentang usaha yang dilakukan. Nanti dihitung kira-kira butuh modal berapa,” jelasnya.

Ganjar Pranowo juga berpesan kepada Bupati yang hadir dan para pegawai Pemerintah Provinsi agar membuatkan akses khusus bagi para difabel. Menurutnya, pada tahun 2018 pihaknya bersama dengan para bupati di Jawa Tengah bisa membuatkan fasilitas umum bagi para penyandang distabilitas.

“Acara ini memang saya sengaja mengundang para distabilitas dan komunitas anak untuk datang. Karena mereka juga bagian dari konsensus kesepakatan pembangunan di Jawa Tengah,” tambahnya.

- advertisement -

Jual Buah Rugi Rp 100 Juta, Sugi Tak Kapok dan Kini Sukses Jual Ikan Hias dan Akuarium

0

SEPUTARKUDUS.COM, MIJEN – Di tepi Jalan Kudus-Jepara Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak sebuah rumah dengan pagar tertutup aneka gambar ikan. Di dalamnya tampak beberapa orang pengunjung sedang memandangi sejumlah ikan hias di dalam akuarium. Sebagian dari mereka terlihat ada yang membeli ikan hias beserta pakannya. Tempat tersebut merupakan tempat penjualan ikan hias milik Sugianto (36).

Ikan hias koleksi Sugi 2017_3_15
Ikan hias koleksi Sugi

Kepada Seputarkudus.com, Sugi, begitu ia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan tentang usahanya. Dia menceritakan, mulai usaha berjualan ikan hias sejak tahun 2010. Sebenarnya usaha tersebut mulanya untuk sambilan dan kegiatan istrinya. Saat itu Sugiyanto masih bekerja di diler sepeda motor di Kudus. namun karena usaha ikan hiasnya lambat laun semakin laris serta banyak permintaan, istrinya kewalahan melayani pelanggan.

Baca juga: Sukses Jual Ikan Hias Sugi Berinovasi Membuat Aquascape, Pelanggan Bertambah Banyak

“Di sela rutinitas bekerja aku harus membantu istri berjualan ikan hias. Karena lambat laun usaha ikan hias semakin ramai pembeli dan aku tidak bisa membagi waktu antara dua pekerjaan, tahun 2004 aku memutuskan keluar dan fokus ke usaha penjualan ikan hias bersama istriku,” ungkap pria yang akrab disapa Sugi, beberapa waktu lalu.

Pria yang menjadikan rumah sekaligus tempat usaha itu mengatakan, sebenarnya setelah menikah pada tahun 2008, sebelum membuka usaha ikan hias dia bersama istrinya membuka usaha sambilan dengan berjualan aneka buah. Namun buah yang dia jual tidak begitu laku dan jarang pembeli. Hingga dalam tempo satu setengah tahun dia mengaku rugi hingga Rp 100 juta.

“Setelah babak belur berjualan buah, aku mulai buka usaha berjualan ikan hias dan akuarium karena terinspirasi mertuaku yang memiliki usaha serupa dan sangat laris. Dengan sisa-sisa uang yang ada, aku dan istriku nekat mulai berjualan ikan hias dengan harapan bernasib mujur seperti mertuaku,” ungkapnya.

Saat pertama berjualan, katanya, di tempatnya tersebut hanya ada beberapa jenis ikan hias dan segelintir akuarium. Menurutnya, hal tersebut berbanding terbalik dengan sekarang, di mana tempat usahanya itu tampak penuh dan sesak berisi akuarium berisi aneka hias.

Dia mengatakan, menjual aneka hias mulai dari ikan koi, koki discus dan lain sebagainya. Untuk ikan koi dia jual mulai Rp 5 ribu per ekor. Sedangkan ikan koki dijual mulai Rp 3 ribu per ekor, discus mulai Rp 65 ribu, louhan mulai Rp 10 ribu per ekor, serta ikan hias lobster red devil mulai Rp 7500 per ekor.

“Selain menjual ikan hias tersebut, aku juga menjual beberapa jenis ikan arwana, di antaranya, arwana brasil, jaridin atau papua, pino, dan red banjar. Aku juga biasanya menjual arwana jenis golden red dan super red. Khusus Untuk dua jenis arwana yang aku sebut terakhir harganya sampai Rp 1,2 juta per ekor,” jelasnya.

Dia menuturkan, selain menjual aneka ikan hias, dirinya juga menjual pakan ikan dengan harga mulai Rp 3 ribu perkemasan. Ada juga rumput sintetis yang dia jual mulai Rp 15 ribu, aneka macam serok ikan berbagai macam ukuran, filter kolam. Dan tentunya akurium yang dia lepas mulai harga Rp 70 ribu. Menurutnya, selain melayani pembelian ecer, dia juga melayani pembelian grosir untuk semua dagangannya.

“Aku bersyukur usaha ikan hias yang mulanya hanya untuk sambilan sekarang lumayan berkembang dan sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan setiap bulan aku bisa menjual sekitar 20 ribu ekor,” ujar Sugi yang mengaku pelanggannya tidak hanya dari Kudus saja melainkan seluruh Karesidan Pati.

- advertisement -

Siswa SMP 1 Kudus Grogi Saat Ganjar Minta Ditunjukkan Aplikasi Sipintar

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Kudus bersiap-siap menyambut rombongan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Mereka telah siap dengan tiga laptop. Terdapat beberapa layar monitor yang dipersiapkan di stan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrembangwil) Se-Eks Karisidenan Pati Tahun 2017, Selasa (14/3/2017), di halaman kantor Bupati Kudus.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bertanya tentang aplikasi Sipintar
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bertanya tentang aplikasi Sipintar. Foto: Imam Arwindra

Saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang didampingi Bupati Kudus Musthofa beserta rombongan sampai di mereka, beberapa siswa tersebut mulai berdiri dan menyapa Ganjar. “Kalau ini apa?,” tanya Ganjar kepada siswa SMPN 1 Kudus di deretan stan paling akhir.

Secara bergantian mereka menjawab pertanyaan dari Gubernur Jawa Tengah. Di antaranya Tiara Annisa Putri (13), dia menjelaskan tentang aplikasi Sistem Informasi Pendidikan Nusantara (Sipintar) yang sudah diterapkan di sekolahnya. Menurutnya, aplikasi tersebut selain bisa digunakan untuk belajar secara online, juga bisa menjadi media absensi murid di sekolah.

“Si Pintar juga terkoneksi juga dengan orang tua. Orang tua bisa tahu, anaknya sampai di sekolah apa tidak,” tambah Radhevio Izza Aghana (14) siswa laki-laki yang berada di dekatnya.

Kepada Seputarkudus.com mereka mengaku sempat gerogi dan tegang saat ditanya orang nomor satu di Jawa Tengah. Menurut Annisa Putri, dia takut salah saat menjawab pertanyaan Ganjar. Begitu juga Putri Maulidianti (14), dirinya perlu berpikir dulu supaya jawaban yang diberikan tidak keliru. “Pokoknya campur antara gerogi dan tegang. Namun hanya sementara. Setelah itu, sudah cair kembali,” jelasnya sambil duduk.

Putri Maulidianti menjelaskan, dirinya ditanya soal penggunakan aplikasi Sipintar buatan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus yang sudah dilaksanakan di sekolahnya. Menurutnya, sebelum ada Sipintar, sistem absensi di SMPN 1 Kudus menggunakan finger print.

Setelah diuji coba, katanya, setiap siswa dibekali kartu yang bisa digunakan untuk absensi. Hasil absensi tersebut bisa dilihat melalui situs atau aplikasi Android yang bisa di download gratis oleh orang tua. “Tapi tadi kami sempat bingung menjawab saat Pak Ganjar tanya jika siswa keluar dari gerbang sekolah bisa diketahui apa tidak. Karena memang untuk persoalan tersebut belum diprogam,” tambah Radhevio Izza Aghana.

Radhevio Izza Aghana melanjutkan, Gebernur Jawa Tengah orangnya ternyata santun dan kecerdasannya juga terlihat. Dirinya mengaku baru pertama kali ketemu Ganjar, begitu juga dengan Putri Maulidianti dan Tiara Annisa Putri.

Ke depan menurut Radhevio Izza Aghana kartu Sipintar rencananya juga akan menjadi kartu jajan siswa SMPN 1 Kudus di kantin sekolah. “Kartunya nanti seperti kartu kredit yang uangnya bisa diisi uang lewat bank,” tambahnya yang mengaku kelas Sembilan.

Saat Ganjar Pranowo selesai berkunjung ke stan dan menuju ke ruang utama Musrembangwil di Pendopo Kabupaten Kudus, dirinya sempat berpesan kepada siswa SMPN 1 Kudus agar terus selalu kreatif. Walau kurang sempurna tidak masalah yang penting sudah berusaha. “Ya tidak apa-apa. Selalu berkarya. Semoga selalu sukses ya,” ungkapnya sambil bemberikan jempol ke arah siswa.

- advertisement -

TK Kemala Bhayangkari 44 Kudus Tak Pernah Lewatkan Lomba Seni, Koleksi Pialanya Menumpuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Puluhan piala nampak tertata rapi menghiasi ruangan di Taman Kanak-kanak (TK) Kemala Bhayangkari 44, di Desa Rendeng, Kota Kudus. Puluhan piala dengan beragam ukuran itu diperoleh dari lomba yang pernah diikuti TK tersebut. Terlihat seorang wanita berambut ikal mengenakan kacamata sedang duduk dikursi sambil memegang telepon genggam. Dia tak lain Christina, Kepala Kemala Bhayangkari 44.

Kesenian TK Kemala Bhayangkari 44 Kudus 2017_3_15
Kesenian TK Kemala Bhayangkari 44 Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Di sela-sela kesibukannya, dia sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang sekolah yang dia pimpin. Dia mengatakan, sekolahnya saat ini lebih mengunggulkan seni. Menurutnya, seni menjadi pendidikan penting untuk menumbuhkan kecerdasan anak agar semakin kreatif. Selain itu juga penting untuk membangun rasa percaya diri serta berani berekspresi.

“Kami memang lebih mengutamakan seni, dan banyak pelajaran seni di sini. Setiap kali ada lomba kesenian pasti kami ikut. Kami ingin memanfaatkan setiap ruang berekspresi untuk anak, dan memberi pengalaman untuk mereka. Kalah menang nomer sekeian, yang terpenting anak-anak mendapat pengalaman,” terang ibu dua anak itu.

Wanita yang sudah menjadi guru TK sejak tahun 1982 itu, merinci sejumlah mata pelajaran seni yang ada di sana. Untuk hari Rabu para siswa diberi pelajaran tari, Kamis lukis, Jumat rebana, dan Sabtu belajar drum band. Jadwal pelajaran seni sengaja dibuat beberapa hari, agar semua murid dapat mengikuti semua jenis pelajaran seni yang ada. Dari sejumlah pelajaran seni, drum band menjadi kesenian yang paling diunggulkan karena melibatkan banyak murid.

“Gurunya ada delapan orang termasuk saya, tapi masih ada guru ekstra juga 6 orang. Ada lagi bagian penjaga satu, kebersihan satu, bagian Tata Usaha (TU) juga satu. Murid kami saat ini keseluruhan ada 118,” jelas wanita kelahiran Magelang itu.

Sementara itu, di halaman TK Kemala Bhayangkari 44 tampak sejumlah anak sedang bermain usai latihan drum band. Satu diantaranya Hanif Luhur Pratama (6), dia merasa senang bermain drumband sejak masuk sekolah TK, dan sering latihan sendiri saat di rumah. Menurutnya, bermain musik sangat menyenangkan, dia tidak merasa bosan saat latihan drum band setiap Sabtu di sekolah. Saat latihan drum band di sekolah, dia memainkan alat musik Xylophone.

“Bermain musik itu menyenangkan, saya tidak merasa bosan saat latihan. Kalau di rumah saya latihan sendiri. Dirumah juga ada gamelan, alat yang mirip Xylophone,” terang warga Desa Kaliputu, Kota Kudus itu usai berlatih drum band.

- advertisement -

Setiap Bulan Omzet Penjualan Tupperware Capai Puluhan Juta, Debby Diganjar Keliling Asia

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di sebuah kantor Distributor Tupperware, Jalan Bakti nomor 89, Kudus, tepatnya di lantai dua, terlihat sejumlah wanita sedang duduk sambil mendengarkan penjelasan dari produk Tupperware. Tak jauh dari pintu masuk, dua orang wanita sedang sibuk melayani pengisian daftar kehadiran. Satu di antaranya Eko Astutik (36), Manajer PT Tiara Kinarya Sakti, perusahaan resmi penjualan produk-produk tupperware.

Liburan member Tupperware Kudus 2017_3
Liburan member Tupperware Kudus 2017_3

Sembari membalas pesan dari anaknya, Debby begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya menjual produk Tupperware. Kini dirinya sudah mencapai level cukup tinggi pada bisnis penjualan produk tersebut. Bahkan dirinya sering sekali mendapat hadiah liburan ke luar negeri.

Baca juga:  Kisah Sukses Distributor Tupperware Karesidenan Pati, Tiap Tahun Liburan ke Luar Negeri

Menurutnya, hadiah itu merupakan buah dedikasinya dalam penjualan produk Tupperware. “Jelas senang. Siapa yang tidak senang bisa jalan ke luar negeri gratis, makan dan hidup selama di sana tidak dipungut biaya. Allhamdulilah semua berkat Tupperware, kemarin saya baru ke Sanghai dan besok tanggal 18 Maret saya juga akan pergi umrah gratis beserta seluruh manajer Tupperware di Karesidenan Pati,” ungkap Debby.

Debby yang sudah selama dua setengah tahun menggeluti bisnis penjualan produk Tupperware, mengatakan, selain dapat berlibur gratis, dia juga mendapatkan berbagai manfaat. Di antaranya, menambah keuangan keluarga, menambah silaturahmi, dan banyak bertemu dengan teman antar daerah. “Pokoknya senang deh, apalagi bisa menggunakan produk Tupperware sesuka saya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, Tupperware memilki varian produk dengan berbagai fungsi penggunaan. Meliputi alat untuk memasak, tempat makan, botol minuman hingga tempat untuk manaruh sebuah makanan ringan. “Kalau penjualan tidak bisa dipastikan, terkadang sebulan saya bisa mendapatkan omzet Rp 41 juta, kadang juga bisa Rp 46 juta per bulan,” ungkap Warga Kelurahan Purwosari RT 4 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus.

Sementara itu, Heny Iriawati (52), Distributor PT Tiara Kinarya Sakti, menjelaskan, untuk bisa bergabung dengan Tupperware, dia memberikat berbagai persyaratan. Meliputi, mengisi formulir pendaftaran, foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan telah melaksanakan announcement party dengan penjualan minimal Rp 1 juta. Setelah itu, nanti juga akan kami berikan kit bag gratis dan kami beri pelatihan.

“Pelanggan kami menyeluruh hingga area plat K. Kalau total keselurahan yang bergabung sudah banyak, bisa mencapai ribuan. Total keseluruhan saja sudah hampir 28 ribu orang yang bergabung, baik yang masih aktif maupun tidak. Tapi setiap minggunya, pelanggan kami yang aktif kisaran 600 orang hingga 800 orang,” tambah Heni yang mengaku sudah 16 tahun menggeluti penjualan Tupperware.

- advertisement -

Sukses Jual Ikan Hias Sugi Berinovasi Membuat Aquascape, Pelanggan Bertambah Banyak

0

SEPUTARKUDUS.COM, MIJEN – Beberapa sepeda motor tampak terparkir di depan rumah di tepi Jalan Kudus-Jepara Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Di dalamnya terlihat puluhan akuarium berisi ikan hias dan aneka aksesoris memenuhi rumah tersebut. Di samping rumah terlihat seorang pria sedang melayani pembeli. Pria tersebut bernama Sugiyanto (36), pemilik usaha penjualan ikan hias dan akuarium yang berinovasi membuat aquascape.

Jual Aquascape di Kudus 2017_3_15
Jual Aquascape di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani para pembeli pria yang akrab disapa Sugi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengatakan, setelah membuka usaha berjualan ikan hias dan akuarium dan aksesorisnya, pada tahun 2013 dia berinovasi membuat aquascape. Dia menjelaskan aquascape yaitu seni mengatur tanaman, air, batu, kayu, pasir dan pencahayaan di dalam wadah akuarium agar terlihat indah.

“Meskipun pada awal pembuatan masih minim peminat, tapi aku yakin prospek penjualan usaha aquascape kedepannya pasti bagus. Dan benar saja, mulai akhir tahun 2013 permintaan aneka jenis aquascape maupun tanaman air meningkat.” ujarnya sambil memperlihatkan satu jenis aquascape.

Warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, itu mengungkapkan, peminat aquascape buatannya tidak hanya dari Kudus saja melainkan dari luar daerah. Untuk memasarkan produk aquascapenya, Sugi memanfaatkan media sosial di antaranya Facebook.

Dia mengungkapkan bisa membuat aneka jenis aquascape diantaranya natural ukuran 40x25x 35 dia jual dengan harga Rp 800 ribu, jenis wajumi batu Siriyu dengan ukuran yang sama dengan jenis natural dia lepas dengan harga Rp 1,5 juta, sedangkan yang menggunakan batu biasa dibanderol Rp 600 ribu per unit.

“Aku juga menjual aquascape jenis forest atau hutan yang aku jual dengan harga Rp 600 ribu komplit. Ada lagi jenis tanaman stem yang aku jual lebih murah. Meskipun murah perawatannya agak susah karena butuh cahaya yang pas, kalau tidak pas tanaman bisa keritng dan mati,” jelas Sugi.

Dia menuturkan, selain menjual aquascape per unit, dia juga menjual secara terpisah. Karena menurutnya, tanaman stem lumayan juga diminati. Bahkan sejak mulai banyak peminat aquascape, dia mengaku, sebulan mampu menjual sekitar seribu pot dengan harga Rp 10 ribu per tiga pot.

Sedangkan untuk tanaman jenis lain yang sudah diproses hingga menjadi lebih bagus, dia mengaku mampu menjual sekitar 200 pot. Namun untuk jenis tanaman yang disebutkan terakhir harganya lebih mahal yakni antara Rp 15 ribu sampai Rp 50 ribu.

“Dari hasil menjual aneka Aquascape dan aneka tanamannya, aku mampu meraup omzet sekitar Rp 10 juta sebulan. Sama dengan usaha ikan hias, aku juga menjual aquascape secara ecer dan grossir ” ungkap Sugi yang mengaku pelanggan aquascapnya tidak hanya orang Kudus saja melainkan dari luar daerah juga.

 

- advertisement -

Khairun Tak Masalah Telat Tanam Padi, Justru Harga Gabah Naik 2 Kali Lipat Saat Panen

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Sebuah traktor terlihat di lahan persawahan Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Lahan yang berada di jalur masuk Gang 12 tersebut terlihat masih banyak yang terendam air. Menurut Khairun (38) petani desa setempat, sebagian besar lahan pertanian di Desa Undaan Lor masih terendam air. Hal itu mengakibatkan masa tanam padi kedua di Desa Undaan Lor telat. Meski begitu, dirinya yakin harga padi hasil panen masa tanam kedua (MT II) ini naik.

MT II Kudus 2017_3_14
Area persawahan Desa Undaan Lor. Foto: Imam Arwindra

Khairun menjelaskan, seharusnya dirinya sudah melakukan pembibitan padi tanggal 1 Maret 2017 lalu. Karena lahan masih tergenang, dirinya berharap bisa mulai pembibitan satu bulan ke depan. Meski telat satu bulan, dirinya memperkirakan panen pada Agustus nanti harga padi akan naik dua kali lipat.

Baca juga: Petani Desa Undaan Lor Pasrah, Hingga Maret Ini Belum Bisa Tanam Padi

Dia memberitahukan, saat ini sejumlah desa di Undaan telah mulai tanam, di antaranya Desa Undaan Tengah, Undaan Kidul, Sambung, Medini, Kalirejo, Glagah Waru, Kutuk dan Berugenjang. Panen raya nanti diperkirakan bulan Juli, sedangkan di Undaan Lor Agustus. Pada Agustus itulah diperkirakan harga padi naik, karena tidak bersamaan dengan panen raya.

Pada MT 1 harga gabah basah menurutnya Rp 3.100 per kilogram. Saat itu, panen padi berlangsung di seluruh Undaan. Setelah dikurangi biaya tanam dan panen, dirinya mendapatkan uang Rp 2.600 per kilogram. “Kalau saya masih sewa (tanah). Saya punya tiga bahu (sekitar 4,5 hektare). Untuk biaya keseluruhan satu bahu kira-kira habis Rp 5 juta,” tambahnya.

Khairun melanjutkan, jika dirinya bisa panen pada Agustus, dan umumnya di Kecamatan Undaan bulan Juli, diperkirakan harga gabah akan naik dua kali lipat diangka Rp 4.500 per kilogram. Namun risiko yang harus dihadapi, dirinya harus menambah biaya perawatan padi.

Menurutnya, di Undaan Lor masa tnam dilakukan tiga kali. MT 1 dan MT 2 untuk padi, dan MT 3 ditanami palawija. “Semoga di MT dua ini pupuk tidak naik,” harapnya.

- advertisement -

Kisah Sukses Distributor Tupperware Karesidenan Pati, Tiap Tahun Liburan ke Luar Negeri

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Sejumlah produk Tupperware terlihat tertata rapi di atas etalase berbahan kaca, kantor distributor produk tersebut, Jalan Bhakti Nomor 89, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak di dalam kantor, beberapa orang sedang menunggu sambil berbincang. Selang beberapa waktu, sebuah mobil sedan warna hitam dengan nomor kendaraan K 1 TW, mulai memakirkan mobil di halaman kantor.

Heny Iriawati, distributor Tupperware Kudus 2017_3_14
Heny Iriawati, distributor Tupperware Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Tak lama kemudian, perempuan berkerudung hijau keluar dari mobil. Dia tak lain Heny Iriawati (52), Distributor PT Tiara Kinarya Sakti yang menjual berbagai produk Tupperware. Sembari mengasuh cucu perempuan yang belum genap berumur satu tahun, Heny begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang kesuksesan yang dia raih.

Dia menjelaskan, mulai terjun sebagai konsultan Tupperware pada tahun 2001 dan di tahun 2004 dia dipercaya sebagai distributor sampai saat ini. Sebelum bertemu dengan Tupperware, dia mengaku sempat memiliki usaha konveksi. Namun usaha dia tidak berkembang seperti yang dia perkirakan karena imbas dari kirisis moneter.

“Saya itu orangnya tidak bisa diam, sejak SMA suka memang kalau disuruh untuk berjualan. Setelah saya menikah, saya mulai membuka usaha konveksi. Tapi ya tidak bertahan lama, persaingan antar perajin juga tinggi, apalagi pada saat itu saya mengalami imbas dari krismon (krisis moneter). Nah, di tahun 2001, saya bertemu dengan yang namanya Tupperware. Alhamdulilah, berkat Tupperware juga saya setiap tahun bisa jalan keluar negeri, bisa beli mobil dan rumah,” ungkap Heny.

Dia mengatakan, Tupperware sangat menginspirasi para wanita untuk bisa hidup yang lebih baik dengan keluarga. Terbukti, banyak orang yang telah bergabung sebagai sales force di tempat dia sekarang meraih sebuah kesuksesan. “Ada yang sudah punya mobil, punya perumahan, berangkat haji, hutang menjadi lunas, jalan keluar negeri gratis dan ada juga yang berpenghasilan hingga Rp 100 juta per bulan,” ujarnya.

Heny yang sekarang tinggal bersama keluarga di Perumahan Bumi Rendeng Baru (BRB), mengungkapkan, kunci sukses dari berjualan produk Tupperware yakni dengan melakukan demo, seperti demo masak. Dengan cara demikian, dia lebih mudah menjelaskan keunggulan dari produk dan konsumen cepat memahami manfaat produk yang ditawarkan. “Selain itu, kunci sukses kami tiga K. kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas,” ungkapnya.

Dia menambahkan, terkait dengan keunggulan yang dimiliki berbagai produk Tupperware sangat banyak. Di antaranya, keamanan produk sudah berstandar internasional, tahan panas hingga 100 derajat C, tahan dingin hingga 0 derajat C, membuat makanan lebih fresh dan adapula yang menjadikan makanan lebih tahan lama.

“Yang paling penting di antara keistimewaan yang dimiliki Tupperware, bergaransi seumur hidup. Jadi, kalau misal membeli di tempat kami barangnya cepat rusak, bisa ditukarkan dengan produk sejenis dan pasti kami ganti dengan produk yang baru,” tambah Heny yang mengenakan pakaian serbau hijau memakai kaca mata.

- advertisement -

Usai Dibisiki Eyangnya, Penjual Tanaman Hias di Getas Pejaten Ini Mendapat ‘Harta Karun’

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di Jalan Museum Kretek, tepatnya di  Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat bidang tanah dikelilingi pagar besi.  Di dalamnya terlihat ankea jenis tanaman hias berjajar rapi memenuhi area tersebut. Tanaman hias berjumlah ribuan itu merupakan pondok bunga Tikno Unggul Joyo, milik Sutikno (55).

Sutikno, penjual tanaman hias di Kudus 2017_3_13
Sutikno, penjual tanaman hias di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Disela aktivitasnya mengamati para pekerjanya, pria yang akrab disapa Sutik itu sudi berbagi cerita kepada seputarkudus.com tentang awal membuka usaha tanaman hias. Dia mengatakan, mendirikan usaha budi daya tanaman hias karena mendapat nasehat neneknya. Dia mengatakan, sebelum membuka usaha, sebelum itu, dirinya memiliki usaha produksi pot sejak 1994.

Baca juga: Gagal Jadi Kepala Desa, Sutik Bangkit Buka Usaha Pembuatan Pot Bunga Modal Utang

“Eyangku pada waktu itu menasehati kurang lebihnya begini, ‘nang usaha potmu kan wis lumayan laris, nek mbok tambahi ambi dodolan kembang tak malah tambah apik’. Saat itu seketika mata dan pemikiranku langsung terbuka. Kok aku tidak kepikiran itu ya, kan pot sama tanaman hias saling berkaitan,” ungkap Sutik, beberapa waktu lalu.

Warga Tanjung Kali, Karang Anyar, Demak itu mengatakan, setelah memiliki dua usaha itu, selain memasarkan pot bunga, dia juga memberitahu para pelanggannya yang tersebar di Karesidenan Pati, dan Semarang, bahwa dirinya juga berjualan tanaman hias. Dia bersyukur, respon para pelanggannya bagus.

Dia mengatakan, saat itu berangsur-angsur penjualan tanaman hias terbilang laris. Para pelanggannya selain minta kiriman pot, tak jarang juga meminta dikirim tanaman hias. Dan pada tahun 2006, dia mengaku seolah mendapatkan harta karun karena booming-nya bunga Jemani dan Gelombang Cinta.

“Pada akhir tahun 2005 aku berangkat haji, dan sepulang haji sekitar awal tahun 2006 Gelombang Cinta dan Jemani booming. Saat itu aku seolah mendapatkan harta karun, karena selain dua jenis bunga tersebut laris manis, harganya pun mahal,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai tiga cucu itu mengatakan, menurutnya saat itu dia bisa menjual Jemani dan Gelombang Cinta sekitar 100 bunga sehari. Selain laris manis, dua bunga tersebut harganya bikin geleng kepala karena harganya selangit.

“Dua bunga tersebut, baru seukuran jari saja harganya sudah ratusan ribu rupiah, dan yang lebih besar harganya mencapai jutaan rupiah. Bahkan aku pernah menjual satu bunga Jemani dengan harga Rp 30 juta. Saat booming dua bunga tersebut, penghasilanku meningkat drastis hingga ratusan juta rupiah sepekan,” ungkap Sutik.

Dia mengatakan, setelah booming dua bunga tersebut berakhir, penjualan tanaman hias kembali seperti semula, tetap laris, meskipun tak selaris saat dua bunga tersebut menggejala.

Dia menuturkan di pondok bunga miliknya menyediakan aneka macan jenis tanaman hias interior dan eksterior. “Jenis tanaman hiasku itu sangat lengkap dari yang mulai harga Rp 1500 sampai jutaan rupiah. Selain menjual ecer aku juga melayani permintaan partai besar. Selain itu, aku juga sering mendapatkan pesanan pembuatan taman dari instansi pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan di Kudus dan daerah sekitar,” ungkapnya.

- advertisement -

All New Grand Livina 2017, Persembahan Nissan untuk Keluarga yang Mencari Arti Kenyamanan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Mobil berwarna putih terpakir di antara Nissan X-Trail dan Nissan March di diler resmi penjualan produk Nissan, Kudus, Jalan R Agil Kusumadya. Mobil berkapasitas seven seater memiliki panjang sekitar 4 meter dan lebar serta tinggi lebih dari 1,5 meter. Mobil tersebut tak lain yakni All New Grand Livina 2017. Sebuah mobil yang diciptakan bagi konsumen yang mencari arti kenyamanan.

Nissan All New Grand Livina 2017 Diler Kudus 2017_3_14
Nissan All New Grand Livina 2017 Diler Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani calon pembeli, Sigit Bayu Surya Topani (35), Sales Head PT Wahana Adidaya Kudus, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mobil yang didesain bagi keluarga tersebut. Dia menjelaskan, fitur yang dimiliki All New Grand Livina ini, dikonsep sedemikian mungkin lanyaknya mobil sedan yang nyaman. Sehingga konsumen tidak akan merasakan lelah saat perjalanan jauh.

Baca juga: Hanya dengan Rp 10 Juta Bisa Bawa Pulang Datsun Go dan Bonus Ful Aksesoris

“Keunggulan All New Grand Livina, suspensi nyaman senyaman sedan, pengaturan kabin fleksibel, bodi mobil medern, hemat bahan bakar, kapasitas tujuh penumpang dan dibekali mesin berkapasitas 1.500 cc. Sehingga mobil ini sangat cocok bagi keluarga yang mencari sebuah arti kenyamanan,” ungkap Bayu sat ditemui beberapa waktu lalu.

Bayu mengatakan, varian warna mobil yang dibekali power maksimum 109 PS/5.600 RPM ini terbagi menjadi enam warna. Varian warna tersebut meliputi, silver, hitam, abu-abu, merah, biru tua dan warna putih yang banyak digandrungi konsumen. “Untuk pelanggan, kebanyakan dari wilayah Kudus, Pati, Rembang, Jepara, Grobogan, Demak serta Blora,” ujarnya.

Terkait dengan harga, pihaknya menawarkan beragam pilihan bagi setiap pembeli, tergantung tipe mobil. Misalnya, tipe New Grand Livina 1.5 SV M/T dijual seharga Rp 213,8 juta, 1.5 SV CVT seharga Rp 225,25 juta, 1.5 XV M/T seharga Rp 231 juta, 1.5 XV CVT seharga Rp 242,5 juta. Sedangkan untuk tipe 1.5 HWS M/T dijual dengan harga Rp Rp 244 juta, 1.5 HWS CVT seharga Rp 255,5 juta dan tipe 1.5 Autech CVT dia jual seharga Rp 269,65 juta.

Dia menambahkan, dalam meningkatkan penjualan, pihaknya melakukan berbagai langkah. Misalnya mengikuti pameran, flyering, memasang baliho, melakukan moving di sekitar perumahan dan pasar, test drive serta memberikan berbagai promo kepada konsumen. Menurutnya, diler yang berlokasi tidak jauh dari Terminal Kudus mulai buka pukul 8.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Namun khusus pada hari Sabtu, diler tutup pukul 15.00 WIB.

“Secara keseluruhan penjualan kami setiap bulan sebanyak 25 unit, 15 di antaranya didominasi All New Grand Livina. Selain menjual, kami juga melayani jasa perbaikan kendaraan dan menyediakan suku cadang mobil Nissan maupun Datsun,” tambahnya.

- advertisement -

Awal Buka Studio Foto untuk Sambilan, Benny Kaget Omzet yang Didapat Tak Terduga

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi barat Jalan Dr Ramlan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak ruko bercat putih. Di dalamnya terlihat ratusan koleksi hasil pemotretan terpampang memenuhi dinding ruang depan. Di ruangan lain terlihat seorang pria berkaus hitam memegang kamera digital single lens reflex (DSLR) bersiap untuk memotret beberapa perempuan yang sedang berpose. Pria tersebut bernama Benny Ariawan (42), pemilik studio foto Kana.

Benny Ariawan, pemilik Studio Foto Kana Kudus
Benny Ariawan, pemilik Studio Foto Kana Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melakukan pemotretan, pria yang akrab disapa Benny itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang studio fotonya tersebut. Dia mengungkapkan, membuka usaha studio sudah hampir dua tahun. Menurutnya, membuka usaha studio foto itu untuk menyalurkan hobinya yang menyukai dunia fotografi sejak tahun 2010.

Baca juga: Agar Terlihat Sempurna Saat Pemotretan di Studio Kana, Ayu dan Temannya Berselfie Dulu

“Sebenarnya sebelum membuka usaha dan sampai saat ini, aku masih bekerja di perusahaan rokok ternama di Kudus. Usaha studio foto hanya sampingan dan hobi, serta untuk mengisi waktu luangku,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Purwosari, Kota, Kudus itu mengatakan, karena tak bisa selalu stand by di studio fotonya karena harus bekerja, dia menyiasati dengan merekrut beberapa orang yang memiliki kemampuan memotret sama dengan dirinya.  Dia mengungkapkan,  selain menerima pemotretan di studio, dia juga menerima pemotretan panggilan.

“Meskipun hanya usaha sambilan, aku serius menekuni usaha studio foto. Selain sudah memiliki banyak pelanggan, usaha sambilanku mampu menghasilkan omzet tak kurang dari Rp 10 juta sebulan. Studio foto buka setiap hari selain hari Senin, mulai pukul 8.00 WIB sampai 20:00 WIB,” ungkap Bennya.

Dia lalu merinci harga jasa pemotretannya, untuk pas foto dihargai Rp 25 ribu, harga tersebut sudah termasuk cetak pas foto dan compact disk (CD). Sedangkan foto studio seasion, di antaranya, foto family, baby/ kids, personal, couple, graduation, serta grup, dia mematok harga mulai dari  Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

“Untuk studio seasion, selain grup, harga tersebut termasuk cetak satu foto 8R, frame, dan CD yang berisi lima foto. Sedangkan grup pelanggan berhak cetak lima foto 5R dan CD yang jumlah isi fotonya sama lima,” jelas Benny.

Selain order pemotretan tersebut dia mengaku juga menerima jasa pemotretan prewedding dan wedding. Diungkapkannya, untuk prewedding harganya Rp 3 juta, harga tersebut termasuk cetak dua foto 40×60, dua frame dan CD 15 foto. Sedangkan weding dia mematok harga Rp 5 juta. Menurutnya, harga tersebut  sudah termasuk album majalah 40×60, CD dan cetak 100 foto 4R.

Benny menuturkan, di studio fotonya juga melayani dokumentasi dengan dua pilihan yakni silver dan gold. Untuk dokumentasi silver, kata dia, harganya Rp 300 ribu yang meliputi cetak 36 foto 4R dan CD 36 foto. Sedangkan gold, dibebankan harga Rp 1,2 juta, termasuk album majalah 20 x 30 dan CD.

- advertisement -

Gagal Jadi Kepala Desa, Sutik Bangkit Buka Usaha Pembuatan Pot Bunga Modal Utang

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat Jalan Museum Kretek Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus ,tampak ratusan pot bunga tersusun rapi. Terlihat beberapa pekerja sedang menata ulang beberapa pot dan hiasan taman. Tak jauh dari lokasi tersebut, tampak seorang pria memakai kaus oblong warna abu-abu dan memakai topi sedang melayani pembeli. Pria tersebut bernama Sutikno (55). Dia nekat membuka usaha penjualan pot tanaman hias, dengan modal pinjaman, setelah kalah dari pencalonan kepala desa.

Sutikno, penjual pot tanaman hias di Kudus
Sutikno, penjual pot tanaman hias di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, pria yang akrab disapa Sutik itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, membuka usaha pembuatan aneka pot bunga setelah gagal mencalonkan diri menjadi kepala desa pada tahun 1994. Menurutnya, setelah gagal dirinya sudah tak memiliki harta benda, bahkan menanggung banyak utang.

“Kegagalan itu membuat uangku saat itu sekitar Rp 100 juta dan beberapa bidang tanah lenyap. Di tengah keresahan karena tak punya apa-apa, dan banyak utang, aku nekat meminjam uang untuk modal usaha pembuatan pot,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Pria yang berasal Karang Anyar, Demak, itu mengatakan, pada waktu itu membuka usaha dengan mempekerjakan beberapa orang untuk membuat pot bunga. Sedangkan dirinya mulai keliling menawarkan pot bunga kepada para pengusaha tanaman di Kudus dan daerah sekitar.

“Aku bersyukur pot bunga hasil produksiku berangsur-angsur mulai diminati banyak orang. Selain perorangan, banyak juga para pengusaha tanaman hias yang menjadi pelangganku. Tidak hanya dari Kudus, dan Karesidenan Pati, namun pemasaran pot bungaku sudah merambah Semarang dan Surabaya,” bebernya.

Dia menuturkan, setelah mempunyai banyak pelanggan, lambat laun usaha pembuatan pot miliknya mulai berkembang. Bahkan saking banyaknya permintaan, dirinya pernah mempekerjakan sekitar 30 orang khusus untuk produksi pot bunga. Menurutnya, saat itu hampir setiap hari bisa mengirim satu truk berisi sekitar 2 ribu pot.

Pria yang sudah dikaruniai tiga cucu itu mengungkapkan, dirinya memproduksi aneka macam pot bunga yang dijual mulai harga Rp 10 ribu sampai Rp 500 ribu. Selain pot, Sutik juga memproduksi kolam taman, tempat lampu dan hiasan dinding.

Dia mengungkapkan, sebenarnya para pelanggannya masih tetap bertahan sampai sekarang. Namun karena keadaan ekonomi nasional yang dinilai lesu dan daya beli masyarakat berkurang, penjualan produksi pot bunganya juga menurun.

“Meski penjualannya sekarang agak menurun tapi itu aku anggap sebuah kewajaran dalam usaha. Dan aku bersyukur dengan usaha pot bunga tersebut aku bisa memulihkan ekonomi keluarga yang pernah terpuruk berkat gagal dari pencalonan kepala desa. Dengan usaha tersebut aku juga mampu membeli beberapa bidang sawah, dan sudah punya mobil operasional sendiri,” ungkapnya.

- advertisement -

Agar Terlihat Sempurna Saat Pemotretan di Studio Kana, Ayu dan Temannya Berselfie Dulu

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Belasan mahasiswa berjilbab kuning tampak bergerombol di ruangan depan Studio Foto Kana, di tepi Jalan Dr Ramlan Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Tak berselang lama setelah beberapa teman prianya datang, mereka terlihat masuk ke area studio pemotretan. Setelah berada di dalam, mereka asyik berselfie.

Selfie sebelum pemotretan di Studio Kana Kudus 2017_3_13
Selfie sebelum pemotretan di Studio Kana Kudus. Foto: Rabu Sipan

Satu di antara mahasiswi tersebut, yakni Ayu Atika (20). Perempuan yang akrab disapa Ayu itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang aksi selfie sebelum pemotretan. Menurutnya, selfie yang dilakukan bersama beberapa temannya itu untuk mengecek penampilan, agar saat dipemotretan yang sebenarnya hasilnya sesuai harapan.

“Dari selfie, kami para perempuan kan jadi tahu mana yang kurang di penampilan kami. Saat hasil selfie ada yang merasa kurang cantik bisa mek up lagi, atau membetulkan pakaian yang kurang rapi dan sebagaianya. Sebagai perempuan, kami kan selalu berusaha untuk terlihat sempurna, termasuk di depan kamera,” ungkap Mahasisiwi Jurusan Sistem Informatika Universitas Muria Kudus (UMK) itu.

Mahasiswi yang berasal dari Dukuh Seti, Pati itu mengungkapkan, mereka berfoto di Studio Kana bersama semua mahasiswa kelas C untuk dokumentasi. Ide tersebut timbul karena selama ini dia bersama teman sekelasnya selalu selfie sendiri atau dengan beberapa orang saja.

Menurutnya, rencananya pemotretan dibagi dalam beberapa sesi. Ada sesi pemotretan bersama satu kelas. Ada juga sesi pemotretan khusus mahasiswi dan mahasiswa. “Itu rencana awal, dan saat pemotretan ada yang perlu dirubah, ya kita rubah,” ungkapnya.

Rina Andriyani (20), satu di antara mahasiswi yang mengikuti sesi pemotretan, mengatakan, ide untuk foto bersama satu kelas itu sudah lama namun baru terealisasi sekarang. Dikatakannya, untuk biaya pemotretan dia bersama teman satu kelasnya iuran untuk sewa studio serta dokumentasinya.

“Kesepakatan teman-teman, kami hanya menyewa Studio Foto Kana. Sedangkan yang memotret dan dokumentasi itu juga kenalan temanku. Jadi, kami di Studio Kana hanya sewa tempat dan aksesoris studio saja, ” ujar perempuan yang akrab disapa Rina tersebut.

Dia mengungkapkan, bersama kawan sekelas memilih Studio Foto Kana, karena studio foto tersebut memiliki dekorasinya bagus dan luas. Selain itu harga sewanya juga sangat terjangkau. “Dan Benar saja saat masuk ruangan pemotretan, menurutku studionya bagus dan luas, cocok untuk foto bersama,” ungkapnya yang mengaku dia bersama temannya total berjumlah 30 orang.

Pemilik Studio Foto Kana, Benny Ariawan mengungkapkan, selain melayani berbagai macam pemotretan, dirinya juga menyewakan studio fotonya tersebut. Di katakannya, studionya tersebut disewakannya dengan tarif Rp 120 ribu per jam.

- advertisement -

Petani Desa Undaan Lor Pasrah, Hingga Maret Ini Belum Bisa Tanam Padi

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Sisa tanaman padi usai panen masih tampak di area persahawan Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus.  Lahan persawahan di desa tersebut masih terendam oleh air. Sejumlah petani terlihat masuk ke area sawah untuk mengecek ke dalaman air. Khairun (38), satu di antara petani yang di maksud. Menurutnya, sejumlah petani di desanya belum bisa memulai tanam karena lahan masih tergenang air.

Area persawahan Desa Undaan Lor 2017_3_13
Area persawahan Desa Undaan Lor. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, kedalaman air masih setinggi paha orang dewasa. Dengan kondisi tersebut dirinya mengaku belum bisa melakukan pembibitan padi. “Tanggal 1 Maret 2017 seharusnya saya sudah melakukan pembimbitan. Kalau kondisinya seperti ini ya molor. Saya tidak bisa apa-apa, hanya pasrah,” ungkapnya saat selesai mengecek ke dalaman air, kemarin.

Dia menjelaskan, saat musim hujan sebagian besar lahan persawahan di Desa Undaan Lor terendam air. Hal tersebut dikarenakan drainase irigasi yang menuju Sungai Wulan tersumbat lumpur. Menurutnya, aliran irigasi sawah hanya terhubung Sungai Juwana dan Sungai Wulan. Dan sampai saat ini, air hanya bisa mengalir ke Sungai Juwana saja.

“Air hanya mengalilr ke arah timur saja (Sungai Juwana) dan tidak bisa cepat. Butuh beberapa hari lagi air di dalam persawahan berkurang,” tambahnya yang menggarap sawah beberapa hektare lahan.

Menurutnya, di Desa Glagahwaru, Berugenjang, Medini dan Sambung sudah melakukan pembibitan tanaman padi. Di musim tanam kedua ini mereka tepat waktu dan kemungkinan akan panen di bulan Juni 2017.

Dirinya memperkirakan, air yang menggenangi persawahan akan normal kembali sekitar satu bulan mendatang, atau awal April tahun ini. Untuk pembibitan dan tanam sendirinya dirinya memerlukan waktu satu setengah bulan. Khairun memperkirakan di musim tanam kedua ini dirinya akan panen padi pada pertengahan Agustus.

“Saya berharap lumpur yang berada di mulut saluran irigasi bisa cepat diambil P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) atau Pemerintah Desa, agar petani cepat tanam. Mosok harus telat satu bulan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Ripin Rejo Saikur Riza menuturkan, seharusnya petani bisa melakukan pembibitan padi tanggal 25 Februari 2017. Karena kondisi sawah masih terendam, akhirnya tanam padi molor sekitar satu bulan. Hal tersebut dikarenakan Sungai Patusan yang digunakan saluran irigasi utama tidak bisa membuang air.

“Sungai Patusan pembuangannya ada dua. Di timur ke Sungai Juwana dan barat melalu pintu JU4B menuju Sungai Wulan,” tuturnya.

Untuk pembuangan ke arah Sungai Juwana sudah dilakukannya, namun laju air sangatlah lambat. Perlu beberapa hari sehingga air di sawah dapat normal. Menurutnya, jika jalur ke arah Sungai Wulan lancar, air yang berada di persawahan akan kembali normal dengan cepat.

“Namun di mulut corong ada sedimentasi lumpur. Yang terendam lumpur lebarnya 22 meter, panjangnya 400 meter dan ke dalamannya 15 meter,” jelasnya.

Menurutnya, dengan kondisi lumpur yang tebal, harus menggunakan bantuan alat berat dan dana yang tidak sedikit. Diberitahukan, lumpur yang menutupi pintu JU4B bisa dihilangkan saat musim kemarau saja. Pihaknya hanya bisa mengandalkan pembuangan air menuju Sungai Juwana saja.

“Untuk bibit padi sudah dipersiapkan. Jumlahnya ada 11 ton. Bibit tersebut subsidi dari pemerintah yang bisa dibeli petani Rp 15 ribu per bungkus. Satu bungkusnya isi 5 kilogram,” tambahnya.

- advertisement -

Hanya dengan Rp 10 Juta Bisa Bawa Pulang Datsun Go dan Bonus Ful Aksesoris

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Lima unit kendaraan roda empat terpakir di diler resmi penjualan produk Nissan dan Datsun, di Jalan AKBP Agil Kusumadya kilometer 4, Kudus. Di sudut kanan ruangan tak jauh dari pintu masuk, terdapat dua unit mobil Datsun Go dan Datsun Go+ Panca. Hanya dengan DP Rp 10 juta, konsumen bisa bawa pulang mobil tersebut beserta hadiah ful aksesoris.

Datsun Go 2017 Diler resmi Nissan Kudus 2017_3_13
Datsun Go 2017 Diler resmi Nissan Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Sigit Bayu Surya Topani (35), Sales Head PT Wahana Adidaya Kudus, sudi berbagi penjelasan tentang promo yang diberikan bagi setiap konsumen. Bayu, begitu akrab disapa, menjelaskan, promo itu berlaku khusus pembelian di bulan Maret. Menurutnya, aksesoris pada mobil yang diberikan sangat beragam, satu di antara hadiah itu berupa velg mobil.

“Selain cukup DP Rp 10 juta, kami juga memberikan promo bonus berupa ful asesoris. Meliputi velg mobil, electric mirror, fog lamp, cover jok, hingga voucher belanja bagi konsumen senilai Rp 2 juta. Promo ini hanya berlaku untuk pembelian mobil Datsun Go maupun Datsun Go+ Panca di bulan Maret,” ungkap Bayu waktu ditemui di Desa Jati Wetan, RT 5 RW 2, Kecamatan Jati, Kudus, beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Jawa Barat yang tinggal di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, ini mengatakan, keunggulan yang dimiliki mobil yang berukuran panjang sekitar 3,5 meter itu sangat banyak. Di antaranya, mesin bertenaga 1.200 cc, kabin luas, perawatan hemat, suspensi depan yang superior, harga terjangkau dan lincah. “Poin paling penting dari keunggulan mobil ini terkenal irit bahan bakar,” ujarnya.

Dia mengatakan, mobil yang berkapasitas lima penumpang itu memilki lima varian warna yang didesain untuk memanjakan konsumen. Meliputi silver, hitam, grey, bronze serta warna putih yang sekarang banyak digemari konsumen. “Pelanggan kami menyeluruh, tapi yang paling dominan dari wilayah Karesidenan Pati,” ungkapnya.

Pria yang sesekali harus melayani sejumlah calon pembeli yang datang, ini menambahkan, harga yang ditawarkan setiap pembelian Datsun Go maupun Datsun Go+ berbeda-beda, tergantung tipe kendaraan yang dibeli. Misalnya, Datsun Go tipe T-Option dia jual seharga Rp 114,55 juta, dan T-Active dia jual dengan harga 119,55 juta. Sedangkan untuk Datsun Go+ tipe T Manual Transmission (M/T) dia jual seharga Rp 122,85 juta.

“T-Option seharga Rp 125,85 juta, T-Style seharga Rp 131,45 juta dan tipe T-Option IMG dia jual seharga Rp 137,9 juta. Terkait fasilitas pasca pembelian, kami memberikan free jasa servis selama empat tahun atau maksimal menempuh jarak 500 ribu kilometer. Kami juga memberikan fasilatas free pick up service untuk area Kudus dan sekitarnya,” tambahnya.

- advertisement -