SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUHÂ – Deretan kursi peserta Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrembangwil) eks Karisidenan Pati terlihat berjajar menghadap ke utara. Ratusan peserta tersebut berhadap-hadapan dengan kursi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jawa Tengah di aula Pendapa Kabupaten Kudus. Mereka terlihat saling memberi tanggapan tentang kebutuhan masyarakat.

Di antara peserta yang hadir yakni Indriyati perwakilan dari Himpunan Wanita Distabilitas Indonesia (HWDI) Cabang Kudus. Wanita berkerudung ungu dan mengenakan kaca mata tersebut terlihat berbasa-basi mengusulkan permasalahan para distabilitas di Kudus.
Dirinya menuturkan, selama ini tidak adanya fasilitas khusus untuk para penyandang distabilitas di tempat umum. Selain itu di Kudus juga tidak ada pelatihan untuk penyandang distabilitas memalalui Balai Latihan Kerja (BLK) di Kudus. “Masa kita harus ke Semarang terus?” tuturnya yang duduk di kursi deretan tengah.
Mendengar hal tersebut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sontak memberikan mikrofon yang dipegangnya epada Bupati Kudus Musthofa. Mustofa hanya bilang siap nanti akan diaktifkan. Mendengar pernyataan Musthofa, peserta yang hadir tertawa dan bertepuk tangan.
Selanjutnya Indriyati juga meminta agar para penyandang distabilitas yang kurang mampu diberikan kartu sehat. Mustofa yang masih memegang mikrofon segera menjawab tinggal membawa BPJS atau KTP maupun Surat Keterangan bisa langsung dilayani. Menurutnya hanya dengan stempel jempolnya masyarakat yang tidak mampu bisa mengakses layanan kesehatan gratis.
“Kalau itu kami sudah tahu lama pak. Maksudnya minta bentuk kartunya biar terlihat resmi,” tambah Indriyati yang lagi-lagi mengundang tawa.
Bupati Kudus Musthofa hanya bisa mengiyakan dan segera untuk dipenuhi. Dirinya menuturkan, hanya stempel jarinya saja bisa supaya lebih mudah, mengapa harus dilakukan lebih ribet.
Indriyati juga mengungkapkan Surat Izin Mengemudi (SIM) D yang dibuatnya tidak kunjung jadi. Dikatakan sudah sekitar dua bulan SIM-nya belum diberikan. Dirinya mengaku sudah melakukan tes dan dinyatakan lulus. Namun entah mengapa SIM-nya bersama 25 difabel lainnya belum kunjung jadi. “Sebenarnya sudah ada yang jadi hanya tiga orang,” tambahnya.
Selanjutnya, Indriyati juga meminta agar diberikan bantuan permodalan bagi para para penyandang distabilitas. Menurutnya selama ini pihaknya meminjam nama adiknya untuk meminjam uang di leasing karena merasa kesulitan dalam mengajukan peminjaman modal. Ganjar sontak langsung memanggil pihak Bank Jateng dan disuruh menjelaskan.
Perwakilan Bank Jateng menuturkan, pihaknya bisa meminjamkan modal untuk para penyandang distabilitas. Menurutnya, jika nanti ada yang mengajukan dirinya mempersilakan mengajukan di kantor Bank Jateng pusat maupun kantor cabang yang ada di Kudus.
“Caranya nanti minta surat rekomendasi dari desa tentang usaha yang dilakukan. Nanti dihitung kira-kira butuh modal berapa,” jelasnya.
Ganjar Pranowo juga berpesan kepada Bupati yang hadir dan para pegawai Pemerintah Provinsi agar membuatkan akses khusus bagi para difabel. Menurutnya, pada tahun 2018 pihaknya bersama dengan para bupati di Jawa Tengah bisa membuatkan fasilitas umum bagi para penyandang distabilitas.
“Acara ini memang saya sengaja mengundang para distabilitas dan komunitas anak untuk datang. Karena mereka juga bagian dari konsensus kesepakatan pembangunan di Jawa Tengah,” tambahnya.

